HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar Air dan Aktivitas Air

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar Air dan Aktivitas Air"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Air dan Aktivitas Air Kadar air dendeng hasil penelitian adalah 19,33%-23,82% dengan rataan 21,49±1,17%. Aktivitas air dendeng hasil penelitian sebesar 0,53-0,84 dengan nilai rataan 0,66±0,01. Nilai persentase kadar air dan aktivitas air dendeng masing-masing ditampilkan pada Tabel 13 dan Tabel 14. Tabel 13. Persentase Kadar Air Dendeng Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang A0 20,36 ± 0,99 b 21,89 ± 0,95 a A1 22,53 ± 0,39 a 20,96 ± 1,01 b A2 20,62 ± 0,35 b 21,57 ± 0,64 ab Rataan 21,17 ± 1,17 21,81 ± 1,14 Tabel 14. Aktivitas Air Dendeng Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang A0 0,66 ± 0,03 b 0,78 ± 0,03 a A1 0,56 ± 0,15 c 0,65 ± 0,02 b A2 0,54 ± 0,12 c 0,79 ± 0,05 a Rataan 0,59 ±0,06 0,74 ± 0,07 A0 (pembumbuan daging tanpa penambahan belimbing wuluh), A1 (pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh), A2 (pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh), (tanpa penyimpanan), (penyimpanan suhu ruang selama 4 minggu). Perlakuan penambahan belimbing wuluh dan perlakuan penyimpanan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air dendeng sedangkan interaksinya berpengaruh nyata. Dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh maupun yang bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh tidak menghasilkan rataan nilai kadar air yang lebih baik dibandingkan dengan dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh. Dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh dan tanpa penyimpanan memiliki kualitas yang relatif lebih baik karena kadar air lebih rendah. Kerusakan pangan karena reaksi kimia, reaksi enzimatis dan aktivitas mikroorganisme yang diinisiasi oleh kandungan air cenderung lebih rendah pada pangan dengan kadar air yang lebih rendah (Purnomo, 1995). 30

2 Penambahan belimbing wuluh dan penyimpanan berpengaruh nyata terhadap aktivitas air dendeng demikian juga dengan interaksinya. Kombinasi perlakuan dengan nilai a w yang lebih besar dari 0,67 tidak sesuai sebagai pangan semi basah. Dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh (A1) memiliki nilai aktivitas air yang sesuai sebagai pangan semi basah. Dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh tanpa penyimpanan (A2) memiliki kualitas yang relatif lebih baik karena kadar air lebih kecil sehingga air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme lebih sedikit. Berdasarkan kadar air, dendeng hasil penelitian tidak sesuai dengan kriteria SNI tetapi sesuai dengan kriteria pangan semi basah (intermediate moisture meat product) menurut Huang dan Nip (2001). Dendeng hasil penelitian memiliki kadar air yang jauh lebih besar dari pada kriteria SNI dengan nilai maksimal 12% seperti yang ditampilkan pada Tabel 15. Rataan nilai aktivitas air dendeng hasil penelitian mendekati nilai menurut Bintoro et al. (1987) sebesar 0,54-0,65 dan sesuai dengan nilai menurut Huang dan Nip (2001) sebesar 0,52-0,67. Tabel 15. Nilai Kadar Air dan Aktivitas Air Dendeng Parameter Rataan Hasil Penelitian Bintoro et al. (1987) Huang dan Nip (2001) Purnomo (1995) SNI Kadar air (%) 21,49±1,17 20,9±0,8 26,0 9,9-35,5 maks 12 Aktivitas Air 0,66±0,01 0,54-0,65 0,52-0, Rendemen Dendeng Rendemen dendeng hasil penelitian sebesar 55,60%-68,08% dari berat daging segar dengan nilai rataan 63,02±0,83%. Total kehilangan karena pemasakan (% berat) dendeng pada suhu internal daging 70 C sebesar 35,11% 39,27% dengan nilai rataan 36,98%. Nilai rendemen dan susut masak dendeng ditampilkan pada Tabel 16. Perbedaan perlakuan penambahan belimbing wuluh tidak berpengaruh nyata terhadap rataan nilai rendemen. Dendeng dengan penambahan belimbing wuluh menghasilkan rataan nilai rendemen yang lebih besar. Dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh memiliki susut masak yang lebih rendah sehingga memberikan kualitas dendeng yang relatif lebih baik karena kehilangan nutrisi selama pemasakan relatif lebih sedikit. 31

3 Tabel 16. Persentase Rendemen Dendeng Perlakuan Penambahan Rataan Nilai Rendemen (% Berat) Susut Masak (% Berat) A0 60,74 ± 3,27 39,26 ± 3,27 A1 63,43 ± 3,55 36,57 ± 3,55 A2 64,88 ± 2,90 35,12 ± 2,90 Rataan 63,02 ± 0,83 36,98 ± 0,83 Rataan rendemen dendeng hasil penelitian sebesar 63,02±0,83%. Nilai susut masak tersebut lebih besar dari teori Sanderson dan Vail (1963) yang melaporkan bahwa kehilangan karena pemasakan berbanding lurus dengan peningkatan suhu internal daging (Tabel 9). Total kehilangan karena pemasakan (% berat) pada daging sapi sebesar 28,8% pada suhu internal daging 70 C (Sanderson dan Vail, 1963). Metode pengolahan daging menjadi dendeng (air drying 70 C) menyebabkan kandungan air terikat dan air bebas menurun. Kapasitas mengikat air menurun karena adanya solubilitas protein seiring meningkatnya temperatur (Hamm, 1977). Protein miofibril pada jaringan otot daging mulai mengalami koagulasi pada C dan mengalami denaturasi sempurna pada temperatur 55 C sehingga water holding capacity mengalami penurunan pada pemanasan 60 C (Hamm, 1977). Kadar Lemak dan Oksidasi Lemak Kadar lemak dendeng sapi hasil penelitian sebesar 3,23%-4,49% dengan rataan 3,81%. Analisis kadar lemak dilakukan tanpa ulangan. Laju penurunan kadar lemak selama penyimpanan 4 minggu pada dendeng dengan penambahan belimbing wuluh lebih rendah daripada dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh sesuai Tabel 17. Tabel 17. Persentase Kadar Lemak Dendeng Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang Rataan A0 3,95 3,23 3,59 A1 4,49 4,19 4,34 A2 3,54 3,43 3,49 Rataan 3,99 3,62 A0 (pembumbuan daging tanpa penambahan belimbing wuluh), A1 (pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh), A2 (pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh), (tanpa penyimpanan), (penyimpanan suhu ruang selama 4 minggu). 32

4 Dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh tanpa penyimpanan memiliki kadar lemak lebih tinggi dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya. Kadar lemak dendeng sapi tersebut mendekati hasil penelitian Suharyanto et al. (2008) yang melaporkan bahwa dendeng sapi yang terbuat dari bagian paha (topside dan silverside) pada proses tanpa pencucian mengandung kadar lemak sebesar 5,92±0,10%. Kadar lemak dendeng sapi juga lebih rendah dibandingkan Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI sebesar 9% serta laporan Huang dan Nip (2001) sebesar 10%. Bilangan Peroksida Hasil penelitian menunjukkan bahwa bilangan peroksida dendeng memiliki nilai sebesar 4,20 35,14 meq peroksida/kg lemak. Penambahan belimbing wuluh tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan peroksida sedangkan penyimpanan pada suhu ruang berpengaruh nyata terhadap bilangan peroksida dendeng yang dihasilkan. Bilangan peroksida dendeng hasil penelitian ditampilkan pada Tabel 18. Tabel 18. Bilangan Peroksida Dendeng (meq peroksida/kg lemak) Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang Rataan A0 6,80 ± 2,83 23,41 ± 11,14 15,10 ± 4,76 A1 16,48 ± 2,21 21,70 ± 6,54 19,09 ± 2,13 A2 5,24 ± 0,87 20,62 ± 5,91 12,93 ± 3,77 Rataan 9,51 ± 1,87 b 21,91 ± 2,40 a A0 (pembumbuan daging tanpa penambahan belimbing wuluh), A1 (pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh), A2 (pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh), (tanpa penyimpanan), (penyimpanan suhu ruang selama 4 minggu). Rataan bilangan peroksida dendeng setelah penyimpanan 4 minggu lebih besar daripada dendeng dengan perlakuan tanpa penyimpanan. Nilai tersebut berbanding lurus dengan kadar air dan aktivitas air yang juga cenderung lebih tinggi sesuai Tabel 13 dan Tabel 14. Kandungan air pada bahan pangan dapat menjadi katalisator terjadinya hidrolisis lemak. Lemak dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak oleh kandungan air (Raharjo, 2006). Kandungan air berbanding lurus dengan peluang terjadinya hidrolisis lemak yang terukur melalui besarnya bilangan peroksida pada dendeng yang dihasilkan. 33

5 Bilangan peroksida dari minyak sisa penggorengan dendeng juga diteliti sebagai perbandingan. Minyak sisa penggorengan dari dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh, dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh dan dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh pada perlakuan tanpa penyimpanan memiliki bilangan peroksida sebesar 5,14; 5,41 dan 4,96 meq peroksida /kg minyak. Sampel minyak goreng tersebut menunjukkan bahwa oksidasi lemak nabati mulai terjadi setelah proses pemanasan. Minyak sisa penggorengan dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh memiliki bilangan peroksida lebih rendah dibandingkan perlakuan lain karena selama penggorengan senyawa antioksidan pada dendeng juga ikut menghambat reaksi oksidasi lemak nabati pada minyak goreng. Rataan bilangan peroksida dendeng sebesar 16,46±9,22 meq peroksida /kg lemak. Bilangan peroksida tersebut mendekati hasil penelitian menurut Legowo et al. (2002) yang melaporkan bahwa rataan bilangan peroksida dendeng tanpa perendaman dalam ekstrak daun sirih (penyimpanan 1 bulan) sebesar 11,06 meq peroksida/kg lemak. Dendeng sapi yang terbuat dari bagian paha (topside dan silverside) pada proses tanpa pencucian mengandung bilangan peroksida sebesar 155,64±6,06 meq peroksida/kg lemak (Suharyanto et al., 2008). Bilangan Thio Barbituric Acid (TBA) Bilangan TBA hasil penelitian memiliki nilai sebesar 0,006-0,094 mg MDA/kg sampel dengan rataan 0,042±0,006 mg MDA/kg sampel sesuai Tabel 19. Penambahan belimbing wuluh dan penyimpanan dendeng dalam suhu ruang berpengaruh nyata terhadap bilangan TBA sedangkan interaksinya tidak berpengaruh nyata. Dendeng dengan penambahan belimbing wuluh tidak memiliki bilangan TBA yang lebih rendah dibandingkan dengan dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh. Rataan bilangan TBA dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh lebih besar daripada perlakuan lainnya. Perendaman dalam sari buah belimbing wuluh menyebabkan kadar air pada daging meningkat sebelum pengeringan sehingga daging mengandung lebih banyak air yang bersifat bebas. Rataan bilangan TBA tersebut berbanding lurus dengan kadar air dan aktivitas air yang juga cenderung lebih tinggi sesuai Tabel 13 dan Tabel

6 Tabel 19. Bilangan TBA Dendeng (mg MDA/kg sampel) Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang Rataan A0 0,008±0,002 0,036±0,003 0,022±0,006 c A1 0,028±0,022 0,081±0,012 0,059±0,011 a A2 0,026±0,012 0,060±0,004 0,043±0,008 b Rataan 0,021±0,004 b 0,058±0,006 a Kadar air dan aktivitas air berbanding lurus dengan peluang terjadinya hidrolisis lemak yang terukur melalui besarnya bilangan TBA. Bilangan TBA hasil penelitian tersebut mendekati nilai menurut Febrina (2012) yang menyatakan bahwa dendeng giling tanpa penambahan nanas pada penyimpanan 1 minggu dan 4 minggu memiliki rataan bilangan TBA sebesar 0,04 dan 0,09 mg MDA/kg sampel. Legowo et al. (2002) melaporkan bahwa dendeng yang disimpan pada 0 bulan dan 1 bulan dengan perendaman pra-curing ekstrak daun sirih 10% memiliki rataan bilangan TBA masingmasing sebesar 0,0001 dan 0,001 mg MDA/kg sampel. Aktivitas Antioksidan Dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh maupun pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan pada nilai scavenging activity DPPH dan kandungan total fenolat. Scavenging activity DPPH Aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH memiliki rentang nilai sebesar 24,23%-56,87% dengan nilai rataan 38,23±2,58% seperti pada Tabel 20. Tabel 20. Persentase Scavenging Activity DPPH Dendeng Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang Rataan A0 30,70±1,18 28,58±2,88 29,64±1,47 b A1 49,37±5,57 51,49±1,93 50,43±2,68 a A2 35,17±5,11 34,08±5,45 34,62±3,35 b Rataan 38,41±3,58 38,05±3,92 A0 (pembumbuan daging tanpa penambahan belimbing wuluh), A1 (pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh), A2 (pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh), (tanpa penyimpanan), (penyimpanan suhu ruang selama 4 minggu). 35

7 Perlakuan penambahan belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap % SA DPPH sedangkan perlakuan penyimpanan tidak berpengaruh nyata. Pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh menyebabkan senyawa antioksidan pada belimbing wuluh terserap oleh daging sehingga rataan % SA DPPH lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Senyawa antioksidan pada belimbing wuluh antara lain asam sitrat dan asam oksalat yang banyak terkandung dalam sari buah (Carangal et al., 1961). Dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh memiliki kualitas yang relatif lebih baik. Hal tersebut dikarenakan aktivitas radikal bebas selama pembuatan dendeng dan penyimpanan lebih besar peluangnya untuk dihambat. Sebagai perbandingan, ekstrak metanol bumbu dendeng dan belimbing wuluh memiliki % SA DPPH sebesar 73,20% dan 67,87% (Lampiran 6). Kandungan Total Fenolat Kandungan total fenolat dendeng hasil penelitian memiliki nilai sebesar 136,75-275,31 mg GAE/kg dengan rataan 182,84±9,35 mg GAE/kg seperti pada Tabel 21. Tabel 21. Kandungan Total Fenolat Dendeng (mg GAE/kg sampel) Perlakuan Penambahan Penyimpanan pada Suhu Ruang Rataan A0 176,59±9,48 162,56±9,23 169,57±6,69 b A1 166,40±16,00 154,50±12,70 160,44±9,52 b A2 217,60±29,00 219,40±31,40 218,50±19,12 a Rataan 186,85±12,66 178,82±14,39 A0 (pembumbuan daging tanpa penambahan belimbing wuluh), A1 (pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh), A2 (pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh), (tanpa penyimpanan), (penyimpanan suhu ruang selama 4 minggu). Faktor penyimpanan tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan total fenolat demikian pula dengan interaksinya. Faktor penambahan belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap kandungan total fenolat dendeng yang dihasilkan. Dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh menghasilkan rataan kandungan total fenolat yang lebih tinggi pada kondisi tanpa penyimpanan dan setelah penyimpanan selama empat minggu. Senyawa fenolat pada dendeng berasal dari penggunaan bumbu dan rempah serta penambahan belimbing wuluh. 36

8 Dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh relatif lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya karena kandungan senyawa fenolat yang terekstrak saat analisis pada dendeng tersebut lebih banyak sehingga aktivitas penangkapan radikal bebas pada dendeng tersebut peluangnya lebih tinggi. Dendeng dengan pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh memiliki rataan kandungan total fenolat lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Hal tersebut dimungkinkan oleh kandungan fenolat yang terdapat pada bumbu dan rempah ikut terlarut oleh fraksi air dari sari buah belimbing wuluh dan air bebas pada daging selama perendaman. Sebagai data perbandingan, ekstrak metanol dari bumbu dendeng dan belimbing wuluh memiliki kandungan total fenolat masing-masing sebesar 171,15 dan 179,42 mg GAE/kg sampel. Mutu Organoleptik Penambahan belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap rataan nilai warna dendeng tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rataan nilai aroma dan rasa. Rataan laju penurunan mutu dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lain. Dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh memiliki rataan skala mutu organoleptik yang lebih stabil dan sesuai dengan karakteristik sensori dendeng (Tabel 22). Tabel 22. Hasil Analisis Nonparametrik Kruskal-Wallis Mutu Organoleptik Dendeng Perlakuan Penambahan Parameter Mutu Organoleptik dan Penyimpanan Warna Aroma Rasa Tanpa penambahan, tanpa penyimpanan 4,07±0,17 a 6,03±0,15 5,30±0,27 Tanpa penambahan, penyimpanan 4 minggu 2,37±0,12 cd 5,00±0,16 3,73±0,32 Perendaman dalam sari buah, tanpa penyimpanan 3,07±0,14 bc 5,70±0,15 5,87±0,19 Perendaman dalam sari buah, penyimpanan 4 minggu 2,30±0,12 d 4,83±0,16 5,10±0,16 Bersamaan dengan pembumbuan, tanpa penyimpanan 3,23±0,15 ab 5,00±0,20 3,20±0,29 Bersamaan dengan pembumbuan, simpan 4 minggu 3,57±0,15 ab 4,93±0,17 4,73±0,26 Warna : (1) sangat hitam, (2) hitam, (3) agak hitam, (4) pucat keabuan, (5) agak merah, (6) merah dan (7) sangat merah. Aroma : (1) sangat berbau tengik, (2) berbau tengik, (3) agak berbau tengik, (4) netral, (5) agak berbau daging dan bumbu, (6) berbau daging dan bumbu, (7) sangat berbau daging dan bumbu. Rasa : (1) sangat asam, (2) asam, (3) agak asam, (4) netral, (5) agak manis, (6) manis, (7) sangat manis. 37

9 Warna dendeng memiliki rataan skala 2 sampai 4 (hitam, agak hitam dan pucat atau keabu-abuan). Warna dendeng yang cokelat cenderung kehitaman disebabkan oleh reaksi karamelisasi karbohidrat (Maillard) dan metode pemanasan. Penambahan gula sebagai bumbu pada dendeng sebanyak 25% bobot daging sehingga reaksi pencokelatan nonenzimatis lebih mudah terjadi. Pembuatan dendeng melalui proses pemanasan air drying pada suhu C selama 8 jam yang menyebabkan denaturasi mioglobin pada daging terjadi sekitar 70% (Bernofsky et al., 1959) sehingga interior pada daging atau dendeng berwarna cokelat keabuan (Jensen, 1949). Perbedaan kombinasi taraf perlakuan memiliki pengaruh yang nyata terhadap aroma dendeng. Secara umum dendeng yang dihasilkan memiliki rataan skala aroma 5-6 (agak berbau daging dan bumbu serta berbau daging dan bumbu). Proses pemanasan (metode air drying 70 C) mempengaruhi aroma dendeng yang dihasilkan karena adanya komponen bioaktif yang bersifat volatil pada bumbu dan rempah. Komponen volatil yang berasal dari bumbu antara lain alisin pada bawang putih, cuminal dan safranal pada jintan putih, piperin pada lada putih dan galangol pada lengkuas. Daya terima panelis terhadap aroma dendeng cukup baik. Perbedaan kombinasi taraf perlakuan memiliki pengaruh yang nyata terhadap rasa dendeng. Secara umum dendeng yang dihasilkan memiliki rataan skala 3-6 (agak asam, netral, agak manis dan manis). Sensasi rasa yang dominan pada dendeng adalah manis agak asam dari penambahan gula dan belimbing wuluh juga rasa khas dari penambahan bumbu dan rempah. Rasa manis lebih dominan karena jumlah gula yang digunakan sebanyak seperempat berat dari daging sapi. Daya terima panelis terhadap rasa dendeng cukup baik. Aktivitas Pertumbuhan Kapang Kualitas dendeng ditentukan juga oleh adanya aktivitas mikroorganisme selama penyimpanan. Secara khusus penambahan belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap aktivitas pertumbuhan kapang. Dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh (A0) lebih banyak ditumbuhi oleh kapang dibandingkan dengan dendeng yang diberi penambahan belimbing wuluh (A1 dan A2) pada penyimpanan 1 bulan dalam suhu ruang. Aktivitas pertumbuhan kapang pada dendeng dijelaskan pada Gambar

10 Dendeng tanpa penambahan belimbing wuluh (A0) dan dendeng dengan pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh (A2) pada umur simpan 1 bulan memiliki nilai a w masing-masing 0,78±0,03 dan 0,79±0,05 serta memiliki kadar air masing-masing sebesar 21,89%±0,95% dan 21,57%±0,64%. Nilai a w tersebut berada pada rentang nilai pertumbuhan kapang. Grafik aktivitas air (Gambar 2) menjelaskan bahwa aktivitas pertumbuhan kapang mulai mengalami fase eksponensial pada nilai a w sebesar 0,75. Aktivitas pertumbuhan kapang lebih mudah terjadi pada dendeng yang tidak diberi penambahan belimbing wuluh (A0). A0 A0 A1 A1 A2 A2 Keterangan : A0 (pembumbuan daging tanpa penambahan belimbing wuluh), A1 (pembumbuan daging setelah perendaman dalam sari buah belimbing wuluh), A2 (pembumbuan daging bersamaan dengan penambahan belimbing wuluh), (tanpa penyimpanan) dan (penyimpanan suhu ruang 4 minggu). Gambar 10. Aktivitas Pertumbuhan Kapang pada Dendeng 39

General Linear Model: Kadar Air versus Pembumbuan; Penyimpanan Faktor Tipe Level Nilai Penambahan bel. wuluh tetap 3 0; 1; 2 Penyimpanan tetap 2 1; 2

General Linear Model: Kadar Air versus Pembumbuan; Penyimpanan Faktor Tipe Level Nilai Penambahan bel. wuluh tetap 3 0; 1; 2 Penyimpanan tetap 2 1; 2 LAMPIRAN 46 Lampiran 1. Hasil Anova Kadar Air Perlakuan Penambahan Belimbing Wuluh Lama Penyimpanan (Suhu Ruang) B0 B1 0,2043 0,2293 0,2131 0,2192 0,1933 0,2382 0,2218 0,2065 0,2295 0,2014 0,2245 0,2209

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Total Fenolat Senyawa fenolat merupakan metabolit sekunder yang banyak ditemukan pada tumbuh-tumbuhan, termasuk pada rempah-rempah. Kandungan total fenolat dendeng sapi yang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. banyak ditemukan dan dikonsumsi yaitu ikan tongkol. Secara ilmu pengetahuaan,

I PENDAHULUAN. banyak ditemukan dan dikonsumsi yaitu ikan tongkol. Secara ilmu pengetahuaan, I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Warna Dendeng Sapi Warna merupakan salah satu indikator fisik yang dapat mempengaruhi konsumen terhadap penerimaan suatu produk. Derajat warna menunjukkan tingkat warna

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar belakang, (2) Identifikasi

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar belakang, (2) Identifikasi I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar belakang, (2) Identifikasi masalah,(3) Maksud dan tujuan penelitian, (4) Manfaat penelitian, (5) Kerangka Berpikir, (6) Hipotesa penelitian dan (7)

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi

PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi PENDAHULUAN Latar Belakang Daging merupakan salah satu komoditi pertanian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein, karena daging mengandung protein yang bermutu tinggi, yang mampu menyumbangkan

Lebih terperinci

Karakteristik mutu daging

Karakteristik mutu daging Karakteristik mutu daging Oleh: Elvira Syamsir (Tulisan asli dalam Kulinologi Indonesia edisi Maret 2011) Mutu merupakan gabungan atribut produk yang dinilai secara organoleptik dan digunakan konsumen

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Organoleptik Bakso Ikan Nila Merah Uji organoleptik mutu sensorik yang dilakukan terhadap bakso ikan nila merah yang dikemas dalam komposisi gas yang berbeda selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daging merupakan salah satu hasil dari ternak yang memiliki kandungan gizi lengkap yang disukai oleh masyarakat. Daging yang dikonsumsi oleh manusia dapat berasal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Kelinci Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci fryermerupakan karkas kelinci muda umur 2 bulan, sedangkan karkas kelinci

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada dodol susu kambing mampu meningkatkan kualitas organoleptik, meningkatkan kadar lemak, dan kadar total karbohidrat.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGERINGAN BEKATUL Proses pengeringan bekatul dilakukan dengan pengering rak karena cocok untuk bahan padat, suhu udara dapat dikontrol, dan terdapat sirkulator udara. Kipas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) TINJAUAN PUSTAKA Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Buah belimbing adalah nama Melayu untuk jenis tanaman buah dari keluarga Oxalidaceae, marga Averrhoa. Tanaman belimbing dibagi menjadi dua jenis,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan masyarakat akan pemenuhan gizi pada masa kini. semakin tinggi seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan masyarakat akan pemenuhan gizi pada masa kini. semakin tinggi seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan masyarakat akan pemenuhan gizi pada masa kini semakin tinggi seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi guna menunjang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Nugget Ayam Menurut SNI (2002) nugget merupakan salah satu produk olahan daging

II. TINJAUAN PUSTAKA Nugget Ayam Menurut SNI (2002) nugget merupakan salah satu produk olahan daging II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Menurut SNI (2002) nugget merupakan salah satu produk olahan daging yang dicetak, dimasak dan dibekukan serta terbuat dari campuran daging giling yang diberi bahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Mutu Organoleptik Biskuit Selama Penyimpanan Uji kesukaan dan mutu hedonik merupakan salah satu cara untuk uji sensori suatu produk. Uji kesukaan dan mutu hedonik dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tepung Tulang Ikan Tuna 4.1.1 Rendemen Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk atau bahan. Perhitungan

Lebih terperinci

5.1 Total Bakteri Probiotik

5.1 Total Bakteri Probiotik V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Total Bakteri Probiotik Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan bakteri L. acidophilus pada perbandingan tepung bonggol pisang batu

Lebih terperinci

DAFTAR ISI JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... ii. SURAT PERNYATAAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. UCAPAN TERIMA KASIH... v. ABSTRAK...

DAFTAR ISI JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... ii. SURAT PERNYATAAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. UCAPAN TERIMA KASIH... v. ABSTRAK... DAFTAR ISI JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii SURAT PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv UCAPAN TERIMA KASIH... v ABSTRAK... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. L Kadar Protein Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan bahwa penambahan gula aren dengan formulasi yang berbeda dalam pembuatan kecap manis air kelapa

Lebih terperinci

Karakteristik Dendeng Ayam Broiler Pada Berbagai Suhu dan Lama Pengeringan

Karakteristik Dendeng Ayam Broiler Pada Berbagai Suhu dan Lama Pengeringan Karakteristik Dendeng Ayam Broiler Pada Berbagai Suhu dan Lama Pengeringan Kusmajadi Suradi Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran Pendahuluan Dendeng merupakan produk olahan daging menggunakan kombinasi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pengamatan suhu alat pengering dilakukan empat kali dalam satu hari selama tiga hari dan pada pengamatan ini alat pengering belum berisi ikan (Gambar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering Uji pembedaan segitiga dilakukan untuk melihat perbedaan ikan teri hasil perlakuan dengan ikan teri komersial.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih

II. TINJAUAN PUSTAKA. alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Afkir Daging itik mempunyai kualitas rendah karena bau amis, bertekstur kasar dan alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih

Lebih terperinci

UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA

UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN DAGING PRA KYURING DALAM JUS DAUN SIRIH TERHADAP KETENGIKAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK DENDENG SAPI SELAMA PENYIMPANAN

PENGARUH PERENDAMAN DAGING PRA KYURING DALAM JUS DAUN SIRIH TERHADAP KETENGIKAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK DENDENG SAPI SELAMA PENYIMPANAN Hasil Penelitian Jurnal.Teknol. dan Industri Pangan, Vol. XIII, No. 1 Th. 2002 PENGARUH PERENDAMAN DAGING PRA KYURING DALAM JUS DAUN SIRIH TERHADAP KETENGIKAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK DENDENG SAPI SELAMA

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. dapat diperoleh di pasar atau di toko-toko yang menjual bahan pangan. Abon dapat

I PENDAHULUAN. dapat diperoleh di pasar atau di toko-toko yang menjual bahan pangan. Abon dapat I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian,

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu

I. PENDAHULUAN. dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman labu kuning adalah tanaman semusim yang banyak ditanam di Indonesia dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu kuning tergolong

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf 4.1.1 Daya Ikat Air Meatloaf Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang rawan ayam terhadap daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. goreng segar, 15% pada daging ayam/ikan berbumbu, 15-20% pada daging

BAB I PENDAHULUAN. goreng segar, 15% pada daging ayam/ikan berbumbu, 15-20% pada daging BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Produk pangan yang digoreng menyerap lemak atau minyak goreng dalam jumlah yang bervariasi, yaitu 5% pada kentang goreng beku, 10% pada kentang goreng segar, 15% pada

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Jenis makanan basah ataupun kering memiliki perbedaan dalam hal umur simpan

1. PENDAHULUAN. Jenis makanan basah ataupun kering memiliki perbedaan dalam hal umur simpan 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Parameter sensori sangat penting pada tahap penelitian dan pengembangan produk pangan baru. Produk baru yang dihasilkan harus memiliki penanganan yang tepat agar

Lebih terperinci

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus Populasi Kultur Starter HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan Perhitungan populasi dilakukan untuk mendapatkan kultur starter yang terbaik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Pada tahap pendahulan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisik Daging Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack

Lebih terperinci

UJI KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK DAGING SAPI REBUS YANG DILUNAKKAN DENGAN SARI BUAH NANAS (Ananas comosus) NASKAH PUBLIKASI

UJI KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK DAGING SAPI REBUS YANG DILUNAKKAN DENGAN SARI BUAH NANAS (Ananas comosus) NASKAH PUBLIKASI UJI KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK DAGING SAPI REBUS YANG DILUNAKKAN DENGAN SARI BUAH NANAS (Ananas comosus) NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: DIAN WIJAYANTI A 420 100 074 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang diambil termasuk jenis eksperimen dalam ruang lingkup teknologi pangan yang ditunjang dengan studi literatur. B. Tempat dan Waktu Tempat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Bahan pangan sumber protein hewani berupa daging ayam mudah diolah, dicerna dan mempunyai citarasa yang enak sehingga disukai banyak orang. Daging ayam juga merupakan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2)

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2) I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang

Lebih terperinci

PEMANFAATAN BIJI TURI SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM BAHAN BAKU PEMBUATAN KECAP SECARA HIDROLISIS DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK PEPAYA DAN NANAS

PEMANFAATAN BIJI TURI SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM BAHAN BAKU PEMBUATAN KECAP SECARA HIDROLISIS DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK PEPAYA DAN NANAS PEMANFAATAN BIJI TURI SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM BAHAN BAKU PEMBUATAN KECAP SECARA HIDROLISIS DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK PEPAYA DAN NANAS NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: VANDA FIKOERITRINA WIDYA PRIMERIKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat digunakan sebagai pangan, pakan, maupun bahan baku industri.

BAB I PENDAHULUAN. dapat digunakan sebagai pangan, pakan, maupun bahan baku industri. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kacang kedelai merupakan salah satu tanaman multiguna, karena dapat digunakan sebagai pangan, pakan, maupun bahan baku industri. Kedelai adalah salah satu tanaman jenis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan TINJAUAN PUSTAKA Daging Kerbau Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan mempunyaikebiasaan berendam di sungai dan lumpur. Ternak kerbau merupakan salah satu sarana produksi yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Telur

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Telur Kedalaman Kantung Udara HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Telur Pembesaran kantung udara telur ayam ras dengan pengolesan minyak kelapa dapat ditekan sampai umur simpan 35 hari (Tabel 6). Kedalaman kantung

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Jenang adalah salah satu hasil olahan dari tepung ketan. Selain tepung ketan, dalam pembuatan jenang diperlukan bahan tambahan berupa gula merah dan santan kelapa. Kedua bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang cukup baik, diantaranya adalah belimbing wuluh. Pemanfaatan belimbing wuluh dijadikan sebagai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam 44 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci Hasil penelitian pengaruh konsentrasi garam terhadap rendemen kerupuk kulit kelinci tercantum pada Tabel

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menghasilkan bau, sebagai zat harus bersifat menguap. Dua zat atau. atau saling menutupi (Setyaningsih, dkk., 2010).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menghasilkan bau, sebagai zat harus bersifat menguap. Dua zat atau. atau saling menutupi (Setyaningsih, dkk., 2010). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Organoleptik 1. Aroma Bau atau aroma merupakan sifat sensori yang paling sulit untuk diklasifikasikan dan dijelaskan karena ragamnya yang begitu besar, agar menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kelor merupakan salah satu tanaman sayuran yang multiguna. Hampir semua bagian dari tanaman kelor ini dapat dijadikan sumber makanan karena mengandung senyawa aktif

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Modified Cassava Flour (MOCAF) yang dibeli dari BBPP Pascapanen Pertanian Bogor, tepung terigu merek Kunci

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas perairan, dan mempunyai laut serta potensi perikanan yang sangat besar. Oleh

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cincau hijau Premna oblongifolia disebut juga cincau hijau perdu atau cincau hijau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cincau hijau Premna oblongifolia disebut juga cincau hijau perdu atau cincau hijau 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Cincau Hijau Cincau hijau (Premna oblongifolia) merupakan bahan makanan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat dan digunakan sebagai isi minuman segar. Cincau hijau

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini terbagi atas dua tahap yaitu di Aceh Besar yang dilakukan pada bulan Maret Juli 2006 dan di Laboratorium Pengolahan, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa

Lebih terperinci

Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura

Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura Hak cipta dilindungi Undang-Undang Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura ISBN: 978-602-97552-1-2 Deskripsi halaman sampul : Gambar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dari pada daging domba dan sapi sehingga tingkat konsumsi daging itik di

TINJAUAN PUSTAKA. dari pada daging domba dan sapi sehingga tingkat konsumsi daging itik di TINJAUAN PUSTAKA Daging Itik Itik manila (entog) merupakan unggas air yang banyak tersedia dipasar setia budi. Selama ini entok masih dimanfaatkankan sebagai penghasil telur dan sebagai sarana pengeram

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Astawan (2008), jambu biji merupakan buah yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Astawan (2008), jambu biji merupakan buah yang sangat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Astawan (2008), jambu biji merupakan buah yang sangat istimewa karena memiliki kadar zat gizi yang baik seperti vitamin C, kalsium dan zat besi. Jambu

Lebih terperinci

III. TINJAUAN PUSTAKA

III. TINJAUAN PUSTAKA III. TINJAUAN PUSTAKA A. SUSU BUBUK Menurut Chandan (1997), susu segar secara alamiah mengandung 87.4% air dan sisanya berupa padatan susu sebanyak (12.6%). Padatan susu terdiri dari lemak susu (3.6%)

Lebih terperinci

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri Penggolongan minyak Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri Definisi Lemak adalah campuran trigliserida yang terdiri atas satu molekul gliserol yang berkaitan dengan tiga molekul asam lemak.

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Daging merupakan produk utama dari ternak unggas. Daging sebagai

PENGANTAR. Latar Belakang. Daging merupakan produk utama dari ternak unggas. Daging sebagai PENGANTAR Latar Belakang Daging merupakan produk utama dari ternak unggas. Daging sebagai sumber protein hewani banyak mengandung gizi yang dibutuhkan oleh manusia. Seiring dengan semakin meningkatnya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Formulasi Tepung Bumbu Ayam Goreng Pada proses pengolahan tepung bumbu ayam goreng, formula dasar diperoleh dari hasil survei dari internet dan buku yang kemudian dimodifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dadih adalah produk olahan susu khas Minangkabau fermentasi anaerob terbuat dari susu kerbau pada bambu dengan daun pisang sebagai penutup. Dadih mimiliki cita rasa,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah rempah basah (bawang putih, bawang merah, lengkuas, kunyit, dan jahe) serta rempah kering (kemiri, merica,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Pengolahan Bumbu Pasta Ayam Goreng Proses pengolahan bumbu pasta ayam goreng meliputi tahapan sortasi, penggilingan, penumisan, dan pengentalan serta pengemasan. Sortasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot dan Persentase Komponen Karkas Komponen karkas terdiri dari daging, tulang, dan lemak. Bobot komponen karkas dapat berubah seiring dengan laju pertumbuhan. Definisi pertumbuhan

Lebih terperinci

1 I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi. Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian.

1 I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi. Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian. 1 I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tempe merupakan produk pangan khas Indonesia berbahan kedelai yang diolah melalui fermentasi kapang Rhizopus oligosporus. Tempe sangat familiar dikalangan masyarakat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Gorontalo. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU SENTRIFUGASI KRIM SANTAN TERHADAP KUALITAS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) (Susanti, N. M. P., Widjaja, I N. K., dan Dewi, N. M. A. P.

PENGARUH WAKTU SENTRIFUGASI KRIM SANTAN TERHADAP KUALITAS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) (Susanti, N. M. P., Widjaja, I N. K., dan Dewi, N. M. A. P. PENGARUH WAKTU SENTRIFUGASI KRIM SANTAN TERHADAP KUALITAS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) Susanti, N. M. P. 1, Widjaja, I N. K. 1, dan Dewi, N. M. A. P. 1 1 Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

PERUBAHAN KARAKTERISTIK MIOFIBRIL KERING IKAN KUNIRAN (Upeneus sp.) YANG DIEKSTRAK DENGAN ENZIM PAPAIN SELAMA PENYIMPANAN

PERUBAHAN KARAKTERISTIK MIOFIBRIL KERING IKAN KUNIRAN (Upeneus sp.) YANG DIEKSTRAK DENGAN ENZIM PAPAIN SELAMA PENYIMPANAN PERUBAHAN KARAKTERISTIK MIOFIBRIL KERING IKAN KUNIRAN (Upeneus sp.) YANG DIEKSTRAK DENGAN ENZIM PAPAIN SELAMA PENYIMPANAN KARYA ILMIAH TERTULIS (SKRIPSI) Oleh : ADI RAHMANDAR 011710101008 JURUSAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan melakukan preparasi ikan. Selanjutnya diberi perlakuan penggaraman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahan dalam pembuatan selai adalah buah yang belum cukup matang dan

BAB I PENDAHULUAN. bahan dalam pembuatan selai adalah buah yang belum cukup matang dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi pangan semakin maju seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai inovasi pangan dilakukan oleh beberapa industry pengolahan pangan dalam menciptakan

Lebih terperinci

KADAR PROTEIN DAN BETAKAROTEN BAKSO IKAN TUNA YANG DIPERKAYA JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) DAN UMBI WORTEL NASKAH PUBLIKASI

KADAR PROTEIN DAN BETAKAROTEN BAKSO IKAN TUNA YANG DIPERKAYA JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) DAN UMBI WORTEL NASKAH PUBLIKASI KADAR PROTEIN DAN BETAKAROTEN BAKSO IKAN TUNA YANG DIPERKAYA JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) DAN UMBI WORTEL NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : DESTI TRISNANINGSIH A 420 100 128 FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN GULA PASIR DAN GULA MERAH TERHADAP TINGKAT KESUKAAN DODOL NANAS

PENGARUH PENAMBAHAN GULA PASIR DAN GULA MERAH TERHADAP TINGKAT KESUKAAN DODOL NANAS PENGARUH PENAMBAHAN GULA PASIR DAN GULA MERAH TERHADAP TINGKAT KESUKAAN DODOL NANAS Aniswatul Khamidah 1 dan Eliartati 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur 2 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu. Menurut definisi dari Wikipedia, gulai adalah sejenis makanan berbahan

I. PENDAHULUAN. (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu. Menurut definisi dari Wikipedia, gulai adalah sejenis makanan berbahan I. PENDAHULUAN Bab ini akan menjelaskan tentang : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7)

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW

PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW JURNAL TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 3 No.1 ; Juni 2016 ISSN 2407-4624 PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW *RIZKI AMALIA 1, HAMDAN AULI

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN FORMULASI SANTAN Minuman santan yang dibuat di dalam penelitian ini adalah minuman santan yang mendekati sampel produk komersil dengan menggunakan parameter kadar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian PENDAHULUAN Latar Belakang Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian besar diolah menjadi berbagai bentuk dan jenis makanan. Pengolahan buahbuahan bertujuan selain untuk memperpanjang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. yang bermanfaat bagi kesehatan manusia dan aman dikonsumsi. meningkat, hal ini ditandai dengan bermunculannya produk

PENDAHULUAN. yang bermanfaat bagi kesehatan manusia dan aman dikonsumsi. meningkat, hal ini ditandai dengan bermunculannya produk I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging sapi merupakan salah satu pangan bergizi tinggi yang banyak diminati masyarakat dan dapat diolah menjadi berbagai macam pangan melalui pengolahan baik secara tradisional

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum 4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo merupakan kota yang semua supermarket menjual berbagai jenis minyak goreng

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: Latar belakang, Identifikasi masalah,

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: Latar belakang, Identifikasi masalah, I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: Latar belakang, Identifikasi masalah, Maksud dan tujuan penelitian, Manfaat penelitian, Kerangka Berpikir, Hipotesa penelitian dan Waktu dan tempat penelitian.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Snack merupakan suatu jenis produk pangan sebagai makanan selingan yang umumnya dikonsumsi dalam jumlah kecil dan umumnya dikonsumsi di antara waktu makan pagi, siang,

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. macam belimbing yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola) dan

BAB I PENDAHULUAN. macam belimbing yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola) dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belimbing merupakan buah yang banyak mengandung air. Ada dua macam belimbing yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Belimbing

Lebih terperinci

Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar

Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar LAMPIRAN 61 62 Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar Nama Panelis : Tanggal pengujian : Instruksi : Cantumkan kode contoh pada kolom yang tersedia sebelum melakukan pengujian. Berilah

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Tahap Satu Penelitian tahap satu dilakukan untuk menentukan produk tsukuda-ni yang paling disukai panelis dengan perlakuan jenis larutan perendam. Larutan yang digunakan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai Latar Belakang (1.1.), Identifikasi

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai Latar Belakang (1.1.), Identifikasi 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai Latar Belakang (1.1.), Identifikasi Masalah (1.2.), Maksud dan Tujuan Penelitian (1.3.), Manfaat Penelitian (1.4.), Kerangka Pemikiran (1.5.), Hipotesis Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan pengawet berbahaya dalam bahan makanan seperti ikan dan daging menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pemerintah. Penggunaan bahan pengawet

Lebih terperinci

YUWIDA KUSUMAWATI A

YUWIDA KUSUMAWATI A PEMANFAATAN BIJI KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus) SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM PEMBUATAN KECAP DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK NANAS DAN EKSTRAK PEPAYA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebanyak 22%, industri horeka (hotel, restoran dan katering) 27%, dan UKM

BAB I PENDAHULUAN. sebanyak 22%, industri horeka (hotel, restoran dan katering) 27%, dan UKM BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Produksi daging sapi di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 523.927 ton, hasil tersebut meningkat dibandingkan produksi daging sapi pada tahun 2014 yang mencapai 497.670

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tempe merupakan makanan tradisional khas Indonesia, sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. Tempe merupakan makanan tradisional khas Indonesia, sebagian besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tempe merupakan makanan tradisional khas Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan tempe sebagai lauk pauk pendamping makanan pokok. Menurut data dari

Lebih terperinci

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Produksi Kopi Biji Salak dengan Penambahan Jahe Merah dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 di Laboratorium Rekayasa Proses dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis

I. PENDAHULUAN. kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Jamur tiram (Pleurotus oestreatus) merupakan jamur konsumsi dari jenis jamur kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung 83-87,5 g air; 3,3 4,9 g protein dan; 4 7,3 g lemak. Susu kambing

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung 83-87,5 g air; 3,3 4,9 g protein dan; 4 7,3 g lemak. Susu kambing 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Susu Kambing Susu kambing menurut hasil penelitian dalam Sodiq dan Abidin (2008) mengandung 83-87,5 g air; 3,3 4,9 g protein dan; 4 7,3 g lemak. Susu kambing dapat dikonsumsi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 52 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Kadar Logam Berat Timbal (Pb) Pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) Setelah Perendaman dalam Larutan Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia Swingle.) dan Belimbing Wuluh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik Gelatin Pengujian fisik gelatin meliputi rendemen, kekuatan gel dan viskositas. Pengujian fisik bertujuan untuk mengetahui nilai dari rendemen, kekuatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. daratan Malaya. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) banyak ditemui

I. PENDAHULUAN. daratan Malaya. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) banyak ditemui I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belimbing wuluh merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia dan daratan Malaya. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) banyak ditemui sebagai tanaman pekarangan

Lebih terperinci