4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan dianalisis kandungan gizinya. Analisis kandungan gizi yang dilakukan meliputi kadar air, protein, lemak, abu, kalsium, dan karbohidrat by difference. Hasil analisis kimia tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil analisis kimia tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) Komponen Kadar (%)* Kadar(%)** Kadar Air 8,65±0,07 3,40 Kadar Protein 33,50±0,64 16,90 Kadar Lemak 11,65±0,64 1,40 Kadar Abu 41,60±0,28 63,40 Kalsium 30,38±0,00 25,50 Kadar Karbohidrat 4,75±0,92 14,90 *) Hasil Penelitian **) Mulia (2004) Air merupakan komponen penting yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk berkembangbiak dalam produk pangan. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa di dalam pengolahan pangan, air sering dikeluarkan atau dikurangi dengan cara penguapan atau pengeringan. Kadar air tepung tulang ikan patin yang dihasilkan adalah 8,65±0,07%. Hasil yang diperoleh tersebut ternyata masih lebih tinggi dari kadar air yang dihasilkan dari tepung tulang ikan patin hasil penelitian Mulia (2004). Perbedaan kadar air tersebut dipengaruhi oleh metode pembuatan tepung tulang ikan. Sebelum diperoleh tulang ikan patin, Ikan patin sebelumnya dilakukan proses pengukusan. Hal ini yang mengakibatkan kadar air lebih tinggi dibandingkan dengan kadar air pada penelitian Mulia (2004). Protein yang terdapat di dalam tepung tulang ikan patin adalah protein kolagen yang akan terdenaturasi akibat pemanasan pada saat proses pembuatan tepung. Kadar protein tepung tulang ikan patin sebesar 33,5±0,64%. Hasil kadar protein ini berbeda dengan hasil penelitian Mulia (2004) sebesar 16,90%. Kadar

2 lemak tepung tulang ikan patin sebesar 11,65±0,64%. Hasil kadar lemak ini berbeda dengan hasil penelitian Mulia (2004) sebesar 1,40%. Lemak pada ikan tergantung pada spesies. Lokasi geografis, makanan yang dimakan ikan dan musim. Selain itu, metodologi pembuatan tepung tulang ikan memungkinkan terjadinya perbedaan kadar lemak. Sisa-sisa daging ikan dari tulang ikan menjadi salah satu sumber lemak utama. Kadar lemak sangat berpengaruh terhadap daya awet bahan, apabila kadar lemaknya tinggi maka akan mempercepat ketengikan akibat terjadinya oksidasi lemak. Sedangkan untuk kadar karbohidrat tepung tulang ikan patin sebesar 4,75±0,92%. Perhitungan kadar karbohidrat dilakukan secara by difference. Kandungan abu dari suatu bahan pangan menunjukkan residu bahan anorganik yang tersisa setelah bahan organik dalam makanan didestruksi. Kandungan mineral ditentukan dengan menetapkan kandungan abu dari bahan tersebut. Abu sisa pembakaran itu dianggap sebagai mineral dari bahan pangan (Sulaeman et al 1995). Hasil analisis kadar abu tepung tulang ikan patin yang dihasilkan yaitu 41,6±0,28%. Tepung tulang ikan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber kalsium karena mengandung kalsium sebesar 30,38±0,28%. Tepung tulang yang kaya akan kalsium tentunya tepung tulang yang sudah diolah, terutama bebas hama. Penggunaan suhu, waktu, dan metode yang berbeda akan menghasilkan tepung tulang ikan patin dengan kadar kalsium yang berbeda pula (Kaya 2008). 4.2 Karakteristik Cone Es Krim Karakteristik sensori Karakteristik sensori merupakan faktor penting untuk mengukur penerimaan panelis terhadap suatu produk makanan. Parameter sensori yang diamati meliputi tingkat kesukaan terhadap penampakan, aroma, rasa dan tekstur Penampakan Penampakan merupakan parameter utama yang dilihat oleh konsumen sebelum membeli suatu produk makanan. Penampakan suatu produk merupakan faktor penarik utama sebelum panelis menyukai sifat mutu sensori yang lainnya seperti rasa, aroma, dan tekstur (Soekarto dan Hubeis 2000).

3 Hasil penilaian panelis terhadap cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin berkisar antara 6,46 (agak suka) sampai 7,11 (suka). Berdasarkan uji Kruskal Wallis diperoleh bahwa penambahan tepung tulang ikan pada cone es krim tidak berpengaruh nyata terhadap penampakan cone (p>0,05) (Lampiran 5a). Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap penampakan cone dengan berbagai konsentrasi tepung tulang ikan disajikan pada Gambar 5. Nilai rata-rata penampakan ,89 a 7,07 a 7,07 a 6,46 a 6,82 a 7,11 a 0% 5% 10% 15% 20% 25% Konsentrasi tepung tulang ikan (%) Gambar 5. Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap penampakan cone Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada cone es krim dengan penambahan tepung tulang sebanyak 25% dengan nilai 7,11. Sedangkan tingkat kesukaan terendah terdapat pada cone es krim dengan penambahan tepung tulang sebanyak 15% dengan nilai 6,46. Namun secara keseluruhan penambahan tepung tulang ikan dengan konsentrasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap cone es krim. Hal ini disebabkan karena bentuk dari cone yang dihasilkan seragam sehingga meskipun tingkat penambahan tepung tulang ikan patin semakin besar tidak akan berpengaruh terhadap adonan. Penilaian tingkat kesukaan panelis terhadap parameter penampakan ini juga meliputi warna dan bentuk dari cone es krim yang dihasilkan.

4 Aroma Aroma merupakan salah satu parameter yang diamati dalam uji sensori. Dalam banyak hal, kelezatan makanan ditentukan oleh aroma makanan tersebut. Aroma lebih banyak berhubungan dengan panca indera pembau. Bau-bauan baru dapat dikenali, bila berbentuk uap dan molekul-molekul komponen bau tersebut harus sampai menyentuh silia sel olfaktori. Pada umumnya bau yang diterima oleh hidung dan otak lebih banyak merupakan campuran empat bau utama, yaitu harum, asam, tengik, dan hangus (Winarno 1997). Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap aroma cone dengan berbagai konsentrasi tepung tulang ikan disajikan pada Gambar 6. Nilai rata-rata aroma ,5 a 6,39 a 6,54 a 6,28 a 5,96 a 6,57 a 0% 5% 10% 15% 20% 25% Gambar 6. Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap aroma cone Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Hasil uji sensori terhadap aroma cone menunjukkan bahwa nilai rata-rata kesukaan terhadap aroma cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan adalah antara 5,96 (netral) dan 6,57 (agak suka). Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa tepung tulang ikan patin tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada tingkat kesukaan terhadap cone es krim (p>0,05) (Lampiran 5a). Artinya panelis mempunyai tingkat kesukaan yang hampir sama untuk masing-masing cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin yang berbeda. Penambahan tepung tulang ikan patin tidak memberikan bau amis

5 yang berasal dari tulang kepada aroma dari cone yang dihasilkan sehingga cone disukai oleh panelis Rasa Rasa merupakan faktor penentu daya terima konsumen terhadap produk pangan. Rasa lebih banyak dinilai menggunakan indera pengecap atau lidah. Faktor rasa memegang peranan penting dalam pemilihan produk oleh konsumen, karena walaupun kandungan gizinya baik tetapi rasanya tidak dapat diterima oleh konsumen maka target meningkatkan gizi masyarakat tidak dapat tercapai dan produk tidak laku (Winarno 1997). Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap rasa cone dengan berbagai konsentrasi tepung tulang ikan disajikan pada Gambar 7. Nilai rata-rata rasa ,54 ab 6,5 ab 6,71 ab 6,57 ab 6,00 a 7,29 b 0% 5% 10% 15% 20% 25% Konsentrasi tepung tulang ikan (%) Gambar 7. Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap rasa cone Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Rasa sangat menentukan kesukaan panelis terhadap suatu produk. Penambahan tepung tulang ikan pada berbagai konsentrasi memiliki nilai penerimaan yang bervariasi tergantung pada jumlah tepung tulang ikan yang ditambahkan. Dari Gambar 7 dapat dilihat rata-rata penerimaan panelis terhadap rasa cone pada berbagai konsentrasi tepung tulang antara 6,00 (netral) sampai 7,29 (suka). Cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 25% cenderung lebih disukai panelis. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa penambahan tepung tulang ikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada

6 tingkat kesukaan rasa cone yang dihasilkan (p<0,05) (Lampiran 5a). Berdasarkan hasil uji lanjut (Lampiran 5b), cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 20% berbeda nyata dengan cone es krim dengan penambahan teung tulang ikan 25%. Hal ini disebabkan karena kandungan kalsium dari tepung tulang ikan mengakibatkan after taste yaitu sedikit terasa berkapur, namun secara keseluruhan rasa cone yang dihasilkan masih dapat diterima panelis. Berdasarkan hasil sensori tersebut, panelis lebih menyukai cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 25% dibandingkan dengan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 20% Tekstur Tekstur suatu bahan akan mempengaruhi cita rasa yang ditimbulkan oleh bahan pangan tersebut. Dari penelitian-penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa perubahan tekstur bahan dapat mengubah rasa dan bau yang timbul karena dapat mempengaruhi kecepatan timbulnya rangsangan terhadap sel olfaktori dan kelenjar air (Winarno 1997). Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur cone dengan berbagai konsentrasi tepung tulang ikan disajikan pada Gambar 8. Nilai rata-rata tekstur ,54 ab 6,21 ab 6,96 bc 6,71 ab 5,96 a 7,75 c 0% 5% 10% 15% 20% 25% Konsentrasi tepung tulang ikan (%) Gambar 8. Diagram batang rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur cone Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa, penambahan tepung tulang ikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada tingkat kesukaan tekstur

7 cone yang dihasilkan (p<0,05) (Lampiran 5a). Penilaian rata-rata terhadap tekstur cone antara 5,96 (netral) dan 7,75 (suka). Hasil uji lanjut rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur (Lampiran 5c) menunjukkan bahwa cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan berbeda nyata dengan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebesar 25%, namun tidak berbeda nyata dengan penambahan tepung tulang ikan sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20%. Tekstur cone es krim yang paling disukai adalah cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 25% sebesar 7,75, namun tingkat kesukaan panelis terendah pada cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 20%. Penilaian uji sensori ini bersifat subjektif. Adanya peran bahan tambahan seperti soda kue juga dapat memperbaiki tekstur cone, mempengaruhi elastisitas, dan plastisitas adonan. Apabila suhu awal pemanggangan rendah, maka diperoleh volume yang lebih besar. Tetapi apabila kenaikkan suhu kurang cepat, volume yang diperoleh akan kecil. Untuk menghindari hal yang merugikan tersebut sebaiknya digunakan pemanggangan yang rata (Winarno 2000) Karakteristik fisik Karakteristik ketahanan cone menggunakan es krim Ketahanan cone adalah kekuatan seberapa lama cone dapat menahan es krim sampai lembek, bocor, dan akhirnya tidak mampu menopang es. Uji ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sampai cone lembek. Semakin lama waktu yang dibutuhkan sampai cone lembek berarti cone tersebut semakin bagus. Setiap perubahan yang terjadi pada cone diamati dan dicatat (Lampiran 6 dan 7). Pengujian ketahanan cone terhadap es ini menggunakan es krim tradisional dan es krim modern. Tabel 4. Ketahanan cone terhadap es krim modern dan tradisional Konsentrasi Tepung Tulang Es Krim Tradisional Es Krim Modern Ikan Waktu (menit) Waktu (menit)

8 Kemampuan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan lebih mampu menahan es krim lebih lama bila dibandingkan dengan cone es krim dengan penambahan tepung karagenan (Asni 2004). Hasil penelitian Asni (2004), menyebutkan bahwa cone es krim dengan penambahan tepung karageenan hanya mampu menopang es krim selama 11 menit. Cone es krim lebih tahan dengan es krim modern dibandingkan es krim tradisional, diduga karena kemampuan meleleh es krim tradisional lebih besar daripada es krim modern. Pada es krim modern biasanya sudah mengandung zat pengemulsi yang meningkatkan distribusi kristal halus kandungan air dalam es krim sehingga tidak mudah mencair (Winarno 1990). Komposisi es krim modern berbeda dengan komposisi es krim tradisional. Secara umum komposisi es krim modern terdiri dari lemak susu, susu bubuk, pemanis, pengemulsi, dan total padatan, sedangkan pada es krim tradisional tidak mengandung pengemulsi (Prayoga 2008). Es krim dapat terbuat dari produk susu seperti susu bubuk, susu kental, dan susu skim (Evans 1981). Es krim yang mengandung emulsifier lebih padat dibandingkan dengan es krim tanpa menggunakan emulsifier (Rahman et al. 1997). Kemampuan cone es krim untuk menopang es krim lebih dipengaruhi oleh tekstur dari cone yang dihasilkan. Cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 25% memiliki kekerasan yang paling rendah (Gambar 9) dan derajat pengembangan yang paling tinggi (Gambar 10) selain itu adanya kandungan protein yang terkandung dalam cone es krim yang bersifat hidrofobik mengakibatkan cone es krim mampu menopang es lebih lama Karakteristik kekerasan Kekerasan adalah besarnya gaya tekan untuk memecah produk pangan. Semakin kecil angka yang dihasilkan berarti cone semakin tidak keras, dan sebaliknya semakin besar angka yang dihasilkan berarti cone semakin keras. Hasil rata-rata uji kekerasan cone es krim berkisar antara 959, ,375 gf. Diagram batang rata-rata kekerasan terhadap tekstur cone dengan berbagai

9 konsentrasi tepung tulang ikan disajikan pada Gambar 9. Kekerasan (gf) ,375 a 871,875 a 693,75 a 684,375 a 625 a 609,375 a 0% 5% 10% 15% 20% 25% Konsentrasi tepung tulang ikan (%) Gambar 9. Diagram batang rata-rata kekerasan cone es krim pada berbagai konsentrasi tepung tulang ikan patin yang berbeda Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Berdasarkan hasil uji ANOVA (Lampiran 9), penambahan tepung tulang ikan patin tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada tingkat kekerasan cone es krim (p>0,05). Nilai kekerasan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 25% memiliki tingkat kerenyahan tertinggi dibandingkan dengan cone es krim lainnya, sedangkan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 0% memiliki tingkat kerenyahan yang paling rendah. Penambahan tepung tulang ikan yang terlalu sedikit tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kekerasan cone es krim. Kekerasan cone es krim dipengaruhi oleh tepung terigu yang digunakan. Semakin tinggi penambahan tepung tulang ikan, maka semakin sedikit kandungan tepung terigu yang ditambahkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Matz (1978), tingginya kandungan amilosa dari tepung yang digunakan akan menyebabkan tekstur yang keras dan penampakan yang kasar Derajat pengembangan Derajat pengembangan menunjukkan pengembangan cone es krim setelah mengalami proses pemasakan. Cone es krim yang dihasilkan memiliki tingkat pengembangan antara 0,17%-1,13%. Diagram batang derajat pengembangan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 10 dibawah ini.

10 Presentase Pengembangan ,55 b 1,13 d 0,85 c 0,17 a 0,25 a 0,28 a 0% 5% 10% 15% 20% 25% Konsentrasi tepung tulang ikan (%) Gambar 10. Diagram batang derajat pengembangan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Berdasarkan hasil uji ANOVA (Lampiran 11a), menunjukkan hasil bahwa penambahan tepung tulang ikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada derajat pengembangan cone es krim yang dihasilkan (p<0,05). Persentase pengembangan untuk cone dengan penambahan tepung tulang ikan 0% memiliki nilai pengembangan 0,17%, cone dengan penambahan tepung tulang ikan 5% memiliki nilai pengembangan 0,25%, cone dengan penambahan tepung tulang ikan 10% memiliki nilai pengembangan 0,28%, cone dengan penambahan tepung tulang ikan 15% memiliki nilai pengembangan 0,55%, cone dengan penambahan tepung tulang ikan 20% memiliki nilai pengembangan 0,86 %, dan cone dengan penambahan tepung tulang ikan 25% memiliki nilai pengembangan 1,13%. Cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan berbeda nyata dengan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebesar 15%, 20%, dan 25%, tetapi tidak berbeda nyata dengan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 5% dan 10% (Lampiran 11b). Derajat pengembangan cone es krim dipengaruhi oleh adanya kandungan pati pada bahan. Gelatinisasi dipengaruhi oleh waktu dan suhu (Yamamoto et al. 2004). Kandungan amilopektin pada sagu lebih mempengaruhi derajat pengembangan cone dibandingkan dengan amilopektin pada terigu. Adanya kandungan amilosa pada bahan mengakibatkan bahan kurang mengembang. Besarnya kandungan amilosa pada terigu dapat mencapai 26,85% atau lebih (Armstrong et al. 2006). Menurut Zarguili et al.

11 2005 pati pula digunakan di industri makanan untuk berbagai aplikasi seperti thickener, penstabil koloid, dan gelling agent Kalsium Kalsium merupakan unsur kelima dan kation terbanyak di dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari seluruh tubuh. Lebih dari 99% kalsium terdapat di dalam tulang rawan dan gigi, sisanya di dalam cairan tubuh dan jaringan lunak (Nasoetion et al. 1995). Diagram batang kadar kalsium pada cone dapat disajikan pada Gambar 11. Presentase Kadar Kalsium ,99 c 1,035 c 0,432 ab 0,491 ab 0,112 a 0% 5% 10% 15% 20% 25% Konsentrasi tepung tulang ikan (%) Gambar 11. Diagram batang kadar kalsium cone dengan penambahan tepung tulang ikan patin Keterangan : Angka-angka pada diagram batang yang diikuti dengan huruf superscript yang berbeda (a,b) menunjukkaan berbeda nyata Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, kadar kalsium pada cone tepung tulang ikan berkisar antara 0,112-1,035%. Kadar kalsium meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi tepung tulang ikan yang diberikan pada cone es krim. Berdasarkan hasil uji ANOVA (Lampiran 12a), didapatkan pengaruh penambahan tepung tulang ikan patin memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap cone es krim. Berdasarkan hasil uji lanjut (Lampiran 12b), cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebesar 15%, 20%, dan 25%, tetapi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 5% dan 10%. Tingginya kadar kalsium disebabkan karena adanya bahan yang mengandung kalsium yang cukup tinggi. Semakin tinggi penambahan konsentrasi tepung tulang ikan semakin besar pula kadar kalsium yang diamati. Kebutuhan tubuh

12 akan kalsium dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium lainnya. Konsumsi susu, keju dan produk susu lainnya dikaitkan dengan konsumsi kalsium yang tinggi (Down et al. 2003) Karakteristik total mikroba Penyebab utama kerusakan bahan pangan adalah karena pertumbuhan aktivitas mikroba (bakteri, kapang, dan khamir) serta aktivitas enzim-enzim di dalam bahan pangan. Total Plate Count bertujuan untuk menghitung semua mikroba yang tumbuh dalam produk, tidak hanya saja kapang khamir tetapi juga bakteri. Analisis kuantitatif mikroorganisme pada bahan pangan sangat penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan. Uji total mikroba dilakukan dengan menggunakan metode TPC. Prinsip dari metode hitung cawan adalah jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (Fardiaz 1992). Metode Total Plate Count lebih akurat dibandingkan dengan pengamatan langsung melalui mikroskop. Setiap sel yang hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan merupakan indeks bagi mikroorganisme dalam sampel dapat hidup. Metode hitung cawan juga mempunyai kelemahan-kelemahan, diantaranya hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya karena beberapa berdekatan mungkin membentuk satu koloni (Fardiaz 1992). Total mikroba dalam cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Total mikroba dalam cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin Konsentrasi Tepung Tulang Ikan (%) Jumlah mikroba (koloni/gram) Nilai log mikroba 0 7,7x10 3 3,89 a 5 2,7x10 3 3,44 a 10 1,9x10 3 3,30 a 15 5,0x10 2 2,70 a 20 4,7x10 2 2,68 a 25 3,0x10 2 2,48 a

13 Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa jumlah mikroba antara 7,7 x ,0 x 10 2 koloni/gram. Jumlah mikroba tertinggi pada cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebanyak 0% sebesar 7,7 x 10 3 koloni/gram, sedangkan jumlah mikroba terendah terdapat pada cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebanyak 25% sebesar 3,0 x 10 2 koloni/gram. Berdasarkan hasil perhitungan uji ANOVA (Lampiran 14), menunjukkan hasil bahwa penambahan tepung tulang ikan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada total mikroba cone es krim yang dihasilkan (p>0,05). 4.3 Pemilihan Cone Es Krim Terbaik Berbasis Indeks Kinerja Penentuan cone es krim terbaik dilakukan dengan menggunakan metode Bayes. Metode Bayes digunakan untuk mendapatkan cone es krim terbaik didasarkan pada total nilai tertinggi pada masing-masing perlakuan. Parameter yang dibobot dalam metode ini adalah parameter objektif (kadar kalsium, ketahanan cone terhadap es krim, uji kekerasan, derajat pengembangan, dan analisis mikrobiologi) dan parameter subjektif (uji organoleptik : penampakan, aroma, rasa, dan tekstur). Nilai kepentingan setiap masing-masing parameter didasarkan pada skala 1-3 yaitu 1 mewakili biasa, 2 mewakili penting, dan 3 mewakili sangat penting. Nilai kepentingan parameter objektif cone es krim diberi nilai yang sama yaitu 3 karena dianggap paling penting dan diuji secara objektif. Sedangkan pemberian nilai kepentingan pada parameter subjektif didasarkan pada tingkat penerimaan panelis. Penilaian kepentingan setiap parameter terdapat pada Tabel 6. Bobot dari setiap parameter diperoleh berdasarkan manipulasi matriks. Matriks diperoleh dari perbandingan nilai kepentingan antar parameter kemudian dikuadratkan. Nilai bobot diperoleh dari perbandingan antara hasil penjumlahan setiap baris matriks dengan nilai total hasil penjumlahan baris matriks. Nilai bobot kemudian dikalikan dengan nilai rangking.

14 Tabel 6. Karakteristik dan nilai kepentingan parameter objektif dan subjektif Parameter Analisis Dasar Pertimbangan Nilai Kepentingan A. Objektif Kadar Kalsium Kadar kalsium berhubungan untuk meningkatkan kandungan kalsium bahan pangan 3 Uji Ketahahan Cone Berhubungan dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan terhadap Es Krim cone untuk menopang es krim 3 Uji Kekerasan Uji kekerasan berhubungan dengan tingkat kerenyahan dari produk 3 Derajat pengembangan Berhubungan dengan pengembangan produk 3 Analisis mikrobiologi Total mikroba berhubungan dengan jumlah mikroorganisme pada produk cone es krim 2 B. Subjektif Penampakan Penampakan berhubungan dengan penampilan cone es krim secara keseluruhan 1 Aroma Aroma berhubungan dengan bau dari cone es krim 2 Rasa Rasa merupakan respon lidah terhadap rangsangan yang diberikan 2 Tekstur Tekstur berhubungan dengan pembentukan pada cone es krim 3 Skala nilai rangking pada parameter yang digunakan berkisar antara 1-6 sesuai dengan konsentrasi tepung tulang ikan patin yang digunakan (0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%). Total nilai hasil perkalian antara nilai rangking dengan nilai bobot digunakan untuk menentukan cone es krim terbaik. Total nilai yang tertinggi yang didapatkan merupakan cone es krim terbaik. perhitungan metode Bayes dapat dilihat pada Tabel 7. Parameter Objektif Parameter Subjektif Perlakuan Tabel 7. Hasil perhitungan metode bayes Konsentrasi Tepung Tulang Ikan Nilai Bobot Kadar Kalsium ,1239 Uji Ketahahan Cone terhadap Es Krim ,1239 Uji Kekerasan ,1239 Derajat pengembangan ,1239 Analisis Mikrobiologi ,1089 Penampakan ,054 Aroma ,1089 Rasa ,1089 Tekstur ,1239 Total Nilai 1,9003 2, ,7373 3, ,4713 5,946 Peringkat Hasil

15 Nilai kadar kalsium pada tiap perlakuan diberikan tingkatan rangking sesuai dengan jumlah kalsium yang terkandung dalam cone es krim. Berdasarkan hasi uji statistik, semakin tinggi konsentrasi tepung tulang ikan yang ditambahkan memiliki kadar kalsium yang semakin tinggi. Semakin tinggi kadar kalsium dalam cone diberi tingkatan yang paling tinggi. Nilai ketahanan cone terhadap es krim diberikan tingkatan rangking sesuai dengan cone es krim yang mampu menopang es krim lebih lama. Derajat pengembangan diberi tingkatan rangking sesuai dengan nilai persentase pengembangan cone. Untuk nilai analisis mikroba dilihat dari jumlah mikroba. Semakin kecil jumlah mikroba dari tiap-tiap konsentrasi diberi rangking yang paling besar. Perhitungan metode Bayes dilakukan setelah dilakukan uji statistik dari masing-masing parameter yang diuji. Nilai rangking yang diberikan pada parameter subjektif diberikan berdasarkan tingkat kesukaan panelis dari hasil uji organoleptik. Dengan memperhatikan konsentrasi tepung tulang ikan yang diberikan. Hasil perhitungan terbesar adalah cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan 25% yaitu dengan nilai 5,946 sehingga cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin 25% merupakan cone es krim terbaik dibandingkan dengan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan patin 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. 4.4 Informasi Komposisi Kimia Cone Es Krim Terbaik Cone es krim terbaik yang diperoleh berdasarkan metode Bayes adalah cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebayak 25%. Cone es krim terpilih berdasarkan kadar kalsium, ketahanan cone terhadap es krim, kekerasan, derajat pengembangan, analisis mikrobiologi, dan uji sensori yang dilakukan. Komposisi kimia cone es krim terpilih dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Komposisi kimia cone es krim Komponen Cone es krim 25% Cone es krim 0% Kadar Air 2,57±0,29 3,41±0,47 Kadar Protein 2,42±0,01 0,81±0,97 Kadar Lemak 1,52±0,07 1,57±0,02 Kadar Abu 2,08±0,04 1,09±0,01 Kadar Kalsium 1,03±0,00 0,11±0,00 Kadar Karbohidrat 91,41±0,31 93,09±,.45

16 Pengujian proksimat yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia yang terdapat dalam cone es krim tersebut. Komposisi kimia yang dihitung adalah kadar air, protein, lemak, abu, kalsium dan karbohidrat. Air merupakan komponen yang tidak kalah pentingnya dalam pembuatan adonan karena fungsinya sebagai pelarut bahan-bahan dan pembentuk tekstur produk. Hasil analisis kadar air pada cone es krim terbaik yaitu 2,57±0,29%, sedangkan kadar air pada cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan patin sebesar 3,41±0,47%. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kaya (2008) yaitu penambahan tepung tulang ikan patin ternyata tidak menyebabkan peningkatan kadar air tetapi menyebabkan penurunan kadar air. Hal tersebut mungkin disebabkan karena teung tulang ikan patin merupakan produk kering dengan kadar air yang rendah sehingga pada saat ditambahkan ke dalam adonan tepung tulang ikan patin menyerap air yang ada dalam adonan. Selain itu nilai kadar air dipengaruhi oleh suhu dan lama waktu pemanggangan. Berdasarkan hasil pengujian kadar protein, nilai kadar protein pada cone es krim terbaik sebesar 2,42±0,01%, sedangkan cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan patin sebesar 0,81±0,97%. Kadar protein pada cone es krim dipengaruhi oleh kandungan bahan yang menyusun cone es krim. Peningkatan kadar protein cone es krim disebabkan adanya tambahan protein dari tepung tulang ikan patin. Kadar lemak pada cone es krim terbaik yaitu 25% memiliki kadar lemak sebesar 1,52±0,07%, sedangkan kadar lemak pada cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan sebesar 1,57±0,02%. Kadar lemak pada cone es krim dipengaruhi oleh bahan yang digunakan dalam pembuatan cone es krim. Abu merupakan ukuran dari komponen anorganik yang ada dalam suatu bahan makanan. Hasil analisa kadar abu pada cone es krim terbaik yaitu sebesar 2,08±0,04%, sedangkan kadar abu pada cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan sebesar 1,09±0,01%. Tepung tulang ikan mengandung kadar abu khususnya kalsium yang cukup sehingga memberikan sumbangan bagi peningkatan kadar kalsium pada cone es krim. Kadar kalsium pada cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan sebesar 1,03±0,00%, sedangkan kadar

17 kalsium pada cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan sebesar 0,11±0,00%. Kadar karbohidrat pada cone es krim tanpa penambahan tepung tulang ikan sebesar 93,09±0,45%, sedangkan cone es krim dengan penambahan tepung tulang ikan memiliki kadar karbohidrat sebesar 91,41±0,31%.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tepung Tulang Ikan Tuna 4.1.1 Rendemen Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk atau bahan. Perhitungan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Organoleptik Bakso Ikan Nila Merah Uji organoleptik mutu sensorik yang dilakukan terhadap bakso ikan nila merah yang dikemas dalam komposisi gas yang berbeda selama

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisik (uji lipat), organoleptik (uji hedonik), uji skoring dan analisis kimia (Pb). 1.1 Uji Lipat Uji lipat (folding test) merupakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan melakukan preparasi ikan. Selanjutnya diberi perlakuan penggaraman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pengamatan suhu alat pengering dilakukan empat kali dalam satu hari selama tiga hari dan pada pengamatan ini alat pengering belum berisi ikan (Gambar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Mutu Organoleptik Biskuit Selama Penyimpanan Uji kesukaan dan mutu hedonik merupakan salah satu cara untuk uji sensori suatu produk. Uji kesukaan dan mutu hedonik dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat

I. PENDAHULUAN. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat yang dewasa ini sudah banyak dikenal dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging TDTLA Pedaging HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Pertama Penelitian tahap pertama adalah pembuatan tepung daging-tulang leher ayam yang dilakukan sebanyak satu kali proses pembuatan pada waktu yang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya I PENDAHULUAN Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya dibutuhkan penulisan laporan mengenai penelitian tersebut. Sebuah laporan tugas akhir biasanya berisi beberapa hal yang meliputi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas perairan, dan mempunyai laut serta potensi perikanan yang sangat besar. Oleh

Lebih terperinci

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan Alat

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan Alat 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan April - Oktober 2009. Pembuatan tepung tulang ikan dilaksanakan di Laboratorium Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan, Lantai 3,

Lebih terperinci

5.1 Total Bakteri Probiotik

5.1 Total Bakteri Probiotik V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Total Bakteri Probiotik Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan bakteri L. acidophilus pada perbandingan tepung bonggol pisang batu

Lebih terperinci

Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL

Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Air Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada

Lebih terperinci

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Air Rata-rata kadar air kukis sagu MOCAL dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil uji lanjut DNMRT terhadap kadar air kukis (%) SMO (Tepung sagu 100%, MOCAL 0%) 0,331"

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Air Perasan Jeruk Nipis Terhadap Kadar Protein Analisis protein dilakukan untuk mengetahui kualitas protein tahu putih hasil

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Perbandingan Tepung Tapioka : Tepung Terigu :

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Perbandingan Tepung Tapioka : Tepung Terigu : 28 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Sensoris Pengujian sensoris untuk menentukan formulasi terbaik kerupuk goring dengan berbagai formulasi penambahan tepung pisang kepok kuning dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pada penelitian pendahuluan dilakukan penentuan frekuensi pencucian daging lumat yang tepat (1 kali pencucian, 2 kali pencucian dan 3 kali pencucian) dalam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi, sumber vitamin (A, C,

Lebih terperinci

3.1. Produk Biskuit Brokoli dan Jambu Biji Fresh dan Bubuk B1 B2 B3 B4

3.1. Produk Biskuit Brokoli dan Jambu Biji Fresh dan Bubuk B1 B2 B3 B4 3. HASIL PENELITIAN 3.1. Produk Biskuit Brokoli dan Jambu Biji Fresh dan Bubuk B1 B2 B3 B4 Gambar 2. Biskuit B1 dengan penambahan brokoli dan jambu biji fresh, dan konsentrasi tepung bekatul 3,5%; B2 dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. L Kadar Protein Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan bahwa penambahan gula aren dengan formulasi yang berbeda dalam pembuatan kecap manis air kelapa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tepung terigu yang ditambahkan dengan bahan bahan tambahan lain, seperti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tepung terigu yang ditambahkan dengan bahan bahan tambahan lain, seperti 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biskuit Menurut SNI 2973-2011, biskuit merupakan salah satu produk makanan kering yang dibuat dengan cara memanggang adonan yang terbuat dari bahan dasar tepung terigu atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berarti bagi tubuh. Menurut Dewanti (1997) bahan-bahan pembuat es krim

BAB I PENDAHULUAN. berarti bagi tubuh. Menurut Dewanti (1997) bahan-bahan pembuat es krim BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Es krim adalah sejenis makanan semi padat yang dibuat dengan cara pembekuan tepung es krim atau campuran susu, lemak hewani maupun nabati, gula, dan dengan atau tanpa

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pendahuluan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pendahuluan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.. Hasil 4... Penelitian Pendahuluan Sebelum dilakukan penelitian utama, terlebih dahulu dilakukan penelitian pendahuluan pembuatan permen cokelat dengan penambahan daging ikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan sebanyak dua kali. Penelitian pendahuluan yang pertama dimaksudkan untuk menentukan jenis bahan tambahan pengental yang

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Kadar Air (%) Tempe Dengan Penambahan Tepung Belut dan Variasi Konsentrasi Usar Tempe

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Kadar Air (%) Tempe Dengan Penambahan Tepung Belut dan Variasi Konsentrasi Usar Tempe 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kadar Air (%) Tempe Dengan Penambahan Tepung Belut dan Variasi Purata kadar air (% ± SE) tempe dengan penambahan tepung belut dan variasi usar tempe berkisar antara 60,37 ±

Lebih terperinci

Ulangan 1 Ulangan 2 (%)

Ulangan 1 Ulangan 2 (%) BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA Deskripsi dan analisis data memuat penjelasan tentang hasil penelitian. Hasil yang diperoleh selama proses penelitian meliputi data sifat kimia, sifat fisik dan organoleptik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis

I. PENDAHULUAN. kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Jamur tiram (Pleurotus oestreatus) merupakan jamur konsumsi dari jenis jamur kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf 4.1.1 Daya Ikat Air Meatloaf Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang rawan ayam terhadap daya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisik Daging Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain

Lebih terperinci

PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY

PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY Ella Salamah 1), Anna C Erungan 1) dan Yuni Retnowati 2) Abstrak merupakan salah satu hasil perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Biji nangka merupakan salah satu limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal biji nangka memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi yaitu karbohidrat

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi Masalah, (1.3.) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4.) Manfaat Penelitian, (1.5.) Kerangka Pemikiran, (1.6.) Hipotesis

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Di Indonesia kaya akan berbagai jenis tanaman umbi-umbian, baik

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Di Indonesia kaya akan berbagai jenis tanaman umbi-umbian, baik BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia kaya akan berbagai jenis tanaman umbi-umbian, baik yang dibudidayakan maupun yang hidup liar di hutan. Umbi merupakan tanaman yang banyak mengandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan kelangsungan hidup saja, tetapi seberapa besar kandungan gizi

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan kelangsungan hidup saja, tetapi seberapa besar kandungan gizi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan bahan pangan bagi manusia bukan hanya sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidup saja, tetapi seberapa besar kandungan gizi bahan makanan yang

Lebih terperinci

KUALITAS MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis G.Forst)

KUALITAS MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis G.Forst) KUALITAS MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis G.Forst) Quality of Noodle with Substitution of Kluwih (Artocarpus communis G. Forst) Seed Flour Agustina Arsiawati Alfa Putri

Lebih terperinci

KERUSAKAN BAHAN PANGAN TITIS SARI

KERUSAKAN BAHAN PANGAN TITIS SARI KERUSAKAN BAHAN PANGAN TITIS SARI 1 Sebagian besar dikonsumsi dalam bentuk olahan Pengolahan : Menambah ragam pangan Perpanjang masa simpan bahan pangan Bahan Pangan 2 Komponen Utama Penyusun Bahan Pangan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering Uji pembedaan segitiga dilakukan untuk melihat perbedaan ikan teri hasil perlakuan dengan ikan teri komersial.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengkondisian Grits Jagung Proses pengkondisian grits jagung dilakukan dengan penambahan air dan dengan penambahan Ca(OH) 2. Jenis jagung yang digunakan sebagai bahan

Lebih terperinci

Gambar 12.(a) Persentase Responden yang Memilih Makanan Ringan dan Makanan Berat, (b) Persentase Produk Makanan Ringan

Gambar 12.(a) Persentase Responden yang Memilih Makanan Ringan dan Makanan Berat, (b) Persentase Produk Makanan Ringan 3. HASIL PENGAMATAN 3.1. Survei Berdasarkan survei pemetaan produk yang dilakukan didapatkan hasil bahwa jumlah responden yang memilih makanan ringan sebagai jenis makanan yang akan diaplikasikan beras

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Bahan pangan sumber protein hewani berupa daging ayam mudah diolah, dicerna dan mempunyai citarasa yang enak sehingga disukai banyak orang. Daging ayam juga merupakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam 44 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci Hasil penelitian pengaruh konsentrasi garam terhadap rendemen kerupuk kulit kelinci tercantum pada Tabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mutu gizi makanan seseorang dapat diperbaiki dengan mengkonsumsi

BAB I PENDAHULUAN. Mutu gizi makanan seseorang dapat diperbaiki dengan mengkonsumsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mutu gizi makanan seseorang dapat diperbaiki dengan mengkonsumsi makanan beranekaragam yang dapat memberikan sumbangan zat gizi yang cukup bagi tubuh, dengan adanya

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Tahap Satu Penelitian tahap satu dilakukan untuk menentukan produk tsukuda-ni yang paling disukai panelis dengan perlakuan jenis larutan perendam. Larutan yang digunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bahan alternatif (Aboulfalzli et al., 2015). Es krim merupakan produk olahan susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bahan alternatif (Aboulfalzli et al., 2015). Es krim merupakan produk olahan susu 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Es Krim Es krim merupakan produk susu beku yang banyak dikonsumsi masyarakat karena memiliki gizi tinggi dan banyak dikembangkan dari berbagai bahan alternatif (Aboulfalzli

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Formulasi Tepung Bumbu Ayam Goreng Pada proses pengolahan tepung bumbu ayam goreng, formula dasar diperoleh dari hasil survei dari internet dan buku yang kemudian dimodifikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan palawija sumber karbohidrat yang memegang peranan penting kedua setelah beras.

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan palawija sumber karbohidrat yang memegang peranan penting kedua setelah beras. 2 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan palawija sumber karbohidrat yang memegang peranan penting kedua setelah beras. Jagung juga mengandung unsur gizi lain yang diperlukan manusia yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Beras merah (Oriza sativa) merupakan beras yang hanya dihilangkan kulit bagian luar atau sekamnya, sehingga masih mengandung kulit ari (aleuron) dan inti biji beras

Lebih terperinci

1 I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian.

1 I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian. 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pemanfaatan tepung beras ketan hitam secara langsung pada flake dapat menimbulkan rasa berpati (starchy). Hal tersebut menyebabkan perlunya perlakuan pendahuluan, yaitu pregelatinisasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bekatul Bekatul merupakan hasil samping penggilingan gabah yang berasal dari berbagai varietas padi. Bekatul adalah bagian terluar dari bagian bulir, termasuk sebagian kecil endosperm

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Djoko Poernomo*, Sugeng Heri Suseno*, Agus Wijatmoko**

PENDAHULUAN. Djoko Poernomo*, Sugeng Heri Suseno*, Agus Wijatmoko** Pemanfaatan Asam Cuka, Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) dan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) untuk Mengurangi Bau Amis Petis Ikan Layang (Decapterus spp.) Djoko Poernomo*, Sugeng Heri Suseno*, Agus

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi pati ganyong pada dodol susu kambing mampu meningkatkan kualitas organoleptik, meningkatkan kadar lemak, dan kadar total karbohidrat.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Maksud Penelitian, (5) Manfaat Penelitian, (6) Kerangka Pemikiran,

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Karakteristik tepung yang digunakan akan menentukan karakteristik cookies yang

I PENDAHULUAN. Karakteristik tepung yang digunakan akan menentukan karakteristik cookies yang I PENDAHULUAN Cookies merupakan salah satu produk yang banyak menggunakan tepung. Karakteristik tepung yang digunakan akan menentukan karakteristik cookies yang dihasilkan. Tepung kacang koro dan tepung

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Karakteristik menir segar Karakteristik. pengujian 10,57 0,62 0,60 8,11 80,20 0,50 11,42 18,68.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Karakteristik menir segar Karakteristik. pengujian 10,57 0,62 0,60 8,11 80,20 0,50 11,42 18,68. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK MENIR SEGAR Pengujian karakteristik dilakukan untuk mengetahui apakah bahan baku yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pengolahan tepung menir pragelatinisasi

Lebih terperinci

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Produksi Kopi Biji Salak dengan Penambahan Jahe Merah dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 di Laboratorium Rekayasa Proses dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu

I. PENDAHULUAN. dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman labu kuning adalah tanaman semusim yang banyak ditanam di Indonesia dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu kuning tergolong

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Pertama Tepung Daging-Tulang Leher Ayam Pedaging Penelitian tahap pertama ini adalah pembuatan tepung daging-tulang leher ayam (TDTLA) Pedaging. Rendemen TDTLA Pedaging

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bakso merupakan salah satu produk olahan daging khas Indonesia, yang banyak digemari oleh semua lapisan masyarakat dan mempunyai nilai gizi yang tinggi karena kaya akan

Lebih terperinci

Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Ikan Tuna terhadap Karakteristik Hedonik Kue Bagea Khas Gorontalo

Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Ikan Tuna terhadap Karakteristik Hedonik Kue Bagea Khas Gorontalo Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume, Nomor, September 0 Pengaruh Penambahan Tepung Tulang Ikan Tuna terhadap Karakteristik Hedonik Kue Bagea Khas Gorontalo Didi Indrawan Bunta, Asri Silvana

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik Gelatin Pengujian fisik gelatin meliputi rendemen, kekuatan gel dan viskositas. Pengujian fisik bertujuan untuk mengetahui nilai dari rendemen, kekuatan

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pembuatan Gel Ikan Nila Merah (Oreochromis sp) Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan frekuensi pencucian terbaik pada surimi ikan nila merah. Penelitian

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Bahan utama pembuatan biskuit pada umumnya adalah dengan

Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Bahan utama pembuatan biskuit pada umumnya adalah dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan utama pembuatan biskuit pada umumnya adalah dengan menggunakan tepung terigu, namun tepung terigu adalah produk impor. Untuk mengurangi kuota impor terigu tersebut

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae,

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae, I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi,

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Ubi Kayu Ubi kayu yang sering pula disebut singkong atau ketela pohon merupakan salah satu tanaman penghasil bahan makanan pokok di Indonesia. Tanaman ini tersebar

Lebih terperinci

METODOLOGI Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Tahapan Penelitian Tahap Awal

METODOLOGI Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Tahapan Penelitian Tahap Awal METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Pangan, Laboratorium Organoleptik, dan Laboratorium Analisis Kimia Pangan Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mie merupakan salah satu bahan pangan yang bernilai ekonomis tinggi. Mie

I. PENDAHULUAN. Mie merupakan salah satu bahan pangan yang bernilai ekonomis tinggi. Mie 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mie merupakan salah satu bahan pangan yang bernilai ekonomis tinggi. Mie adalah produk pasta atau ekstruksi yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia (Teknologi Pangan

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Daging Lumat Ikan layaran yang akan diolah telah dilakukan uji organoleptik terlebih dahulu untuk melihat tingkat kesegarannya. Uji organoleptik merupakan cara pengujian

Lebih terperinci

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING (Laporan Penelitian) Oleh PUTRI CYNTIA DEWI JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PETANIAN

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK

PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK (Laporan Penelitian) Oleh RIFKY AFRIANANDA JURUSAN TEKNOLOGI HASIL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Protein (KEP). KEP merupakan suatu keadaan seseorang yang kurang gizi

BAB I PENDAHULUAN. Protein (KEP). KEP merupakan suatu keadaan seseorang yang kurang gizi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah gizi yang utama di Indonesia adalah Kurang Energi Protein (KEP). KEP merupakan suatu keadaan seseorang yang kurang gizi disebabkan oleh rendahnya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PROSES PENGOLAHAN BERAS PRATANAK Gabah yang diperoleh dari petani masih bercampur dengan jerami kering, gabah hampa dan kotoran lainnya sehingga perlu dilakukan pembersihan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seperti Indonesia. Salah satu genus umbi-umbian yaitu genus Dioscorea atau

BAB I PENDAHULUAN. seperti Indonesia. Salah satu genus umbi-umbian yaitu genus Dioscorea atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanaman umbi-umbian dapat tumbuh di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Salah satu genus umbi-umbian yaitu genus Dioscorea atau uwi-uwian. Genus Dioscorea

Lebih terperinci

1 I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

1 I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Peneltian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian

Lebih terperinci

LOGO BAKING TITIS SARI

LOGO BAKING TITIS SARI LOGO BAKING TITIS SARI PENGERTIAN UMUM Proses pemanasan kering terhadap bahan pangan yang dilakukan untuk mengubah karakteristik sensorik sehingga lebih diterima konsumen KHUSUS Pemanasan adonan dalam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Proksimat Fillet Gurami Komponen penting dari komposisi kimia ikan adalah protein dan lemak. Ikan gurami mengandung 75-80% protein dan 6-9% lemak (basis kering) (Tabel 3).

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian,

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kentang tumbuk (mashed potato) adalah kentang yang dihaluskan dan diolah lebih lanjut untuk dihidangkan sebagai makanan pendamping. Di Italia mashed potato disajikan

Lebih terperinci

METODE. Waktu dan Tempat

METODE. Waktu dan Tempat 13 METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2012 hingga Mei 2012 bertempat di Laboratorium Analisis makanan, Laboratorium pengolahan pangan, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tempe merupakan produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kacang

I. PENDAHULUAN. Tempe merupakan produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kacang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tempe merupakan produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kacang kedelai (Glycine max) yang diolah melalui proses fermentasi oleh kapang. Secara umum,

Lebih terperinci

Sifat Kimia dan Palatabilitas Nugget Ayam Menggunakan Jenis dan Konsentrasi Bahan Pengisi yang Berbeda

Sifat Kimia dan Palatabilitas Nugget Ayam Menggunakan Jenis dan Konsentrasi Bahan Pengisi yang Berbeda Sifat Kimia dan Palatabilitas Nugget Ayam Menggunakan Jenis dan Konsentrasi Bahan Pengisi yang Berbeda Chemical Properties and Palatability of Chicken Nugget Using Difference Type and Concentration of

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. ekonomi yang masih lemah tersebut tidak terlalu memikirkan akan kebutuhan

PENDAHULUAN. ekonomi yang masih lemah tersebut tidak terlalu memikirkan akan kebutuhan PENDAHULUAN Latar Belakang Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Indonesia ternyata sampai sekarang konsumsi protein kita masih bisa dikatakan kurang, terutama bagi masyarakat yang mempunyai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai: (1.1) Latar belakang, (1.2) Identifikasi

I. PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai: (1.1) Latar belakang, (1.2) Identifikasi 1 I. PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai: (1.1) Latar belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1,6.) Hipotesis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan komoditi perkebunan menempati prioritas yang tinggi dalam

I. PENDAHULUAN. Pengembangan komoditi perkebunan menempati prioritas yang tinggi dalam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pengembangan komoditi perkebunan menempati prioritas yang tinggi dalam pembangunan bidang ekonomi di Provinsi Lampung. Kakao merupakan salah satu komoditas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Tepung Gaplek Menurut Soetanto (2008), umbi ketela atau singkong umumnya dapat dipanen saat tanaman berumur 6-12 bulan setelah tanam. Pada penelitian ini bahan dasar tepung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer di Indonesia. Buah naga mengandung antara lain vitamin C, betakaroten, kalsium,

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW

PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW JURNAL TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 3 No.1 ; Juni 2016 ISSN 2407-4624 PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW *RIZKI AMALIA 1, HAMDAN AULI

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Jenang adalah salah satu hasil olahan dari tepung ketan. Selain tepung ketan, dalam pembuatan jenang diperlukan bahan tambahan berupa gula merah dan santan kelapa. Kedua bahan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Jelly drink rosela-sirsak dibuat dari beberapa bahan, yaitu ekstrak rosela, ekstrak sirsak, gula pasir, karagenan, dan air. Tekstur yang diinginkan pada jelly drink adalah mantap

Lebih terperinci

4.1. Hasil Analisa Kuantitatif spora Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, dan Rhizopus oligosporus serta Rhizopus oryzae (2:1) (2:1)

4.1. Hasil Analisa Kuantitatif spora Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, dan Rhizopus oligosporus serta Rhizopus oryzae (2:1) (2:1) 28 4. HASIL PENELITIAN 4.1. Hasil Analisa Kuantitatif spora Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, dan Rhizopus oligosporus serta Rhizopus oryzae (2:1) Hasil analisa kuantitatif spora Rhizopus oligosporus

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan TINJAUAN PUSTAKA Daging Kerbau Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan mempunyaikebiasaan berendam di sungai dan lumpur. Ternak kerbau merupakan salah satu sarana produksi yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Gorontalo dan analisis

BAB III METODE PENELITIAN. Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Gorontalo dan analisis BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Lokasi tempat penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Gorontalo dan analisis proksimat dilakukan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. hidup dan konsumsinya agar lebih sehat. Dengan demikian, konsumen saat ini

I PENDAHULUAN. hidup dan konsumsinya agar lebih sehat. Dengan demikian, konsumen saat ini I PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis

Lebih terperinci