Unnes Science Education Journal

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK. Oleh: Yoyo Zakaria Ansori

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Hukum Newton pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

PENGARUH PEMBELAJARAN QUANTUM BERBANTUAN PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF IPA SISWA KELAS V

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TERPROGRAM DALAM PEMBENTUKAN MINAT BELAJAR SISWA

Indah Nursuprianah, Darsono

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Studi pada karyawan tetap PT PG Tulangan Sidoarjo)

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

PEMBELAJARAN 5 STATISTIK NON PARAMETRIK

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa

ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK

Eviani Damastuti-Penerapan Strategi KWL untuk..

III. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENINGKATAN KEPUASAN PASIEN FOKUS PADA KUALITAS PELAYANAN

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

IV. METODE PENELITIAN

ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Jurnal EKSPONENSIAL Volume 5, Nomor 2, Nopember 2014 ISSN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Jurusan PGSD. Oleh:

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Penduga Data Hilang Pada Rancangan Bujur Sangkar Latin Dasar

IV. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting

III. METODE PENELITIAN

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI

BAB 2 LANDASAN TEORI

RANK DARI MATRIKS ATAS RING

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH)

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

III. METODE PENELITIAN

DAMPAK KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN BAKAU (MANGROVE) TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT PANTAI DI KECAMATAN SECANGGANG, KABUPATEN LANGKAT

NiKomang Hendri Primayanti,NiNengahMadriAntari,NyomanDantes

Aplikasi Metode Seismik 4D untuk Memantau Injeksi Air pada Lapangan Minyak Erfolg

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

PENJADWALAN PEMBUATAN BOX ALUMININUM UNTUK MEMINIMUMKAN MAKESPAN (Studi Kasus di Perusahaan Karoseri ASN)

BAB 2 LANDASAN TEORI

ABSTRAK. Kata Kunci: Metode Demonstrasi, Metode Tanya Jawab dan Pemahama Materi.

Kadek Bayu Wibawa*, I Ketut Sumerta**, I Made Dharmawan***

KLASIFIKASI DOKUMEN TUGAS AKHIR MENGGUNAKAN ALGORITMA K-MEANS. Wulan Fatin Nasyuha¹, Husaini 2 dan Mursyidah 3 ABSTRAK

III METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

LILIK SULISTYO Fakultas Sains dan Teknologi UNISNU Jepara ABSTRACT

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

Transkripsi:

USEJ 3 (1) (014) Unnes Science Educaion Journal hp://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/usej PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU MENGGUNAKAN LKS BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS VII SMP N 1 DUKUHSETI PATI Nur OkaWiliani, Sri Mulyani E.S, Parmin Prodi Pendidikan IPA, Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam Universias Negeri Semarang, Indonesia Info Arikel SejarahArikel: DierimaJanuari 014 DiseujuiFebruari 014 DipublikasikanApril 014 Keywords: Inegraed Science; Suden workshee; Conexual eaching and learning Absrak Berdasarkan hasil observasi diperoleh faka bahwa pembelajaran IPA di SMP N 1 Dukuhsei, dikeahui masih belum erpadu. Lembar kerja siswa yang digunakan juga belum erpadu, masih erpilah-pilah berdasarkan iga maa pelajaran IPA. Tujuan peneliian ini adalah unuk mendeskripsikan apakah pembelajaran Ilmu Pengeahuan Alam erpadu dengan menggunakan lembar kerja siswa berbasis CTL efekif dierapkan pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dukuhsei. Meode peneliian yang digunakan adalah peneliian eksperimen dengan menggunakan rancangan conrol group pre-es pos-es desain. Berdasarkan uji hipoesis diperoleh hiung > abel aau 5,03 > 1,68 maka Ha (peningkaan hasil belajar seelah diberi pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL) dierima. Kelompok eksperimen sebesar 100% mendapa nilai 70. Siswa yang akif sebesar 80,8% dengan skor raa-raa,36 dengan skor maksimal 8. Simpulan peneliian ini adalah pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL efekif dierapkan pada siswa kelas VII SMP N 1 Dukuhsei. Absrac Based on observaions obained by he fac ha he sudy of naural science in SMP N 1 Dukuhsei, known sill no inegraed. Suden workshees ha are used are also no unified, sill separaed by hree naural science subjecs. The purpose of his sudy was o describe wheher he Naural Sciences learning inegraed by using conexual eaching and learning based suden workshees effecively applied o a class VII suden of SMP Negeri 1 Dukuhsei. The research mehod used was experimenal research design using conrol group pre es pos es design. Based on he hypohesis es obained > able or 5.03> 1.68 hen Ha (improved learning oucomes afer learning be inegraed wih naural science sudens use a spreadshee based conexual eaching and learning) received. 100% of he experimenal group scored 70. Sudens are acive of 80.8% wih an average score of.36 wih a maximum score of 8. Conclusions This sudy is he inegraed naure of learning science peneahuan using conexual eaching and learning based suden workshees effecively applied o sudens of class VII SMP N 1 Dukuhsei. 014UniversiasNegeri Semarang Alamakorespondensi: Prodi Pendidikan IPA FMIPA UniversiasNegeri Semarang Gedung D7 KampusSekaranGunungpai Telp. (04) 70805795 KodePos 509 E-mail: willyocha@yahoo.com ISSN 5-6609 416

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) PENDAHULUAN Kurikulum Tingka Sauan Pendidikan (KTSP) memberikan kebebasan kepada iap-iap sauan pendidikan unuk mengembangkan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan pesera didik, sumber belajar yang ersedia dan kekhasan daerah. Guru berindak sebagai pengembang KTSP dalam kurikulum ini. Sekolah diberi keleluasaan unuk mengembangkan indikaor dengan mengacu sandar kompeensi dan kompeensi dasar yang elah dieapkan. Pengembangan indikaor harus memperhaikan karakerisik dan perkembangan pesera didik, siuasi dan kondisi sekolah, sera kondisi dan kebuuhan daerah. Oleh karena iu, guru diunu unuk lebih kreaif dalam merencanakan pembelajaran unuk mencapai sandar kompeensi dan kompeensi dasar yang elah dieapkan. Ilmu pengeahuan Alam didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam yang melipui makhluk hidup dan makhluk ak hidup aau sains enang kehidupan dan sains enang dunia fisik. Pengeahuan sains diperoleh dan dikembangkan dengan berlandaskan pada serangkaian peneliian yang dikembangkan oleh sainis dalam mencari jawaban peranyaan apa?, mengapa?, dan bagaimana? dari gejala-gejala alam sera penerapannya dalam eknologi dan kehidupan sehari-hari (Rahayu dkk, 01). Sesuai dengan KTSP, bahwa model pembelajaran erpadu merupakan salah sau model implemenasi kurikulum yang dianjurkan unuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan. Sebab, melalui pembelajaran erpadu pesera didik dapa memperoleh pengalaman langsung sehingga dapa menambah kekuaan unuk menerima, menyimpan dan menerapkan konsep yang elah dipelajarinya (Triano, 011). Pembelajaran erpadu sanga menekankan keakifan siswa dalam pembelajaran, baik secara fisik, menal, inelekual, maupun emosional guna ercapainya hasil belajar yang opimal dengan memperimbangkan hasra, mina dan kemampuan siswa sehingga mereka ermoivasi unuk erus-menerus belajar. Pembelajaran IPA di SMP seharusnya diberikan sesuai dengan Permendiknas No. ahun 006 yaiu subsansi maa pelajaran IPA 417 pada SMP/MTs merupakan IPA erpadu. Dengan kaa lain IPA sebagai maa pelajaran hendaknya diajarkan secara uuh aau erpadu, idak dipisahpisahkan anara biologi, fisika, kimia, dan bumi anarariksa. Hal yang demikian iu dimaksudkan agar siswa SMP/MTs dapa mengenalkan kebulaan IPA sebagai Ilmu (Lisyawai, 01). IPA erpadu merupakan IPA yang disajikan sebagai sau kesauan yang idak erpisahkan, arinya siswa idak belajar ilmu fisika, biologi, dan kimia secara erpisah sebagai maa pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan semua diramu dalam kesauan. Maa pelajaran ini lebih epa dinamakan IPA, idak perlu diberi ambahan erpadu di belakangnya, karena dari lahirnya dahulu iulah hakika IPA yang sesungguhnya, arinya IPA lahir bukan dari penyauan fisika, biologi, dan kimia, eapi lahir sebagai IPA. Menuru Fogary (1991) ada 10 macam pola keerpaduan yaiu Fragmened, Conneced, Nesed, Sequenced, Shared, Webbed, Threaded, Inegraed, Immersed, Neworked. Pola yang digunakan penelii adalah pola conneced. Menuru Hidaya (009) pembelajaran erpadu model conneced dapa meningkakan kualias pembelajaran dan hasil belajar siswa dalam maa pelajaran IPA. Model conneced (keerhubungan) merupakan salah sau model yang epa digunakan dalam desain pembelajaran IPA erpadu. Hal ini dikarenakan pada maa pelajaran fisika, biologi, kimia juga memiliki karakerisik ersendiri. Disamping iu penyebaran SK dan KD unuk seiap sauan semeser, maka model conneced ini lebih mudah dierapkan dan lebih banyak kemungkinan memadukannya. Mengacu pada pengerian di aas, maka pembelajaran IPA erpadu model conneced dapa digambarkan seperi gambar 1. KD, INDIKATOR, KONSEP. BIOLOGI KD, INDIKATOR,KONSEP. KIMIA KD, INDIKATOR, KONSEP. FISIKA

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Berkaian dengan hal ersebu, pembelajaran yang disarankan dalam KTSP adalah pembelajaran yang koneksual. Pembelajaran koneksual mendorong siswa unuk membua hubungan anara pengeahuan yang diperoleh dari pembelajaran dengan faka yang ada di lingkungan sehingga pengeahuan yang diperoleh lebih bermanfaa. Pembelajaran yang koneksual memudahkan siswa unuk mengaplikasikan pengeahuan yang diperoleh dari pembelajaran. Pembelajaran menjadi lebih produkif dan mampu menumbuhkan penguaan konsep kepada siswa. Pembelajaran koneksual lebih menunu keakifan siswa, sehingga proses belajar mengajar lebih konkri dan bermakna. Kurikulum yang diberlakukan sekarang menyaakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar idak hanya dienukan oleh hasil akhir saja, akan eapi proses pembelajarannya juga diperhaikan. Dalam penerapan kurikulum KTSP ini guru diunu unuk dapa menyampaikan maeri idak hanya dalam benuk hafalan hafalan melainkan harus menanamkan pemahaman yang mendalam kepada siswa yang pada akhirnya siswa dapa memahami dan mengembangkan apa yang elah diperolehnya. Salah sau meode yang dapa digunakan adalah pendekaan CTL. Sebagaimana menuru Sanjaya (011) pembelajaran Conexual Teaching and Learning adalah suau sraegi pembelajaran yang menekankan kepada proses keerlibaan siswa secara penuh unuk dapa menemukan maeri yang dipelajari dan menghubungkannya dengan siuasi unuk dapa menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dari konsep ersebu ada iga hal yang harus kia pahami. Perama, CTL menekankan kepada proses keerlibaan siswa unuk menemukan maeri. Kedua, CTL mendorong agar siswa menemukan hubungan anara maeri yang dipelajari dengan siuasi kehidupan nyaa. Keiga, CTL mendorong siswa unuk dapa menerapkannya dalam kehidupan. Pembelajaran CTL akan lebih ercapai dengan media pengajaran yang variaif (Buharno, 005). Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP N 1 Dukuhsei Pai dikeahui bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA masih belum erpadu. Hal ini disebabkan karena guru IPA masih kesulian dalam menerapkan pembelajaran erpadu. Sehingga pelaksanaan pembelajaran IPA masih dilakukan secara erpisah. Lembar kerja siswa (LKS) yang digunakan juga belum erpadu, masih erpilah-pilah berdasarkan iga maa pelajaran IPA. Menuru Rohaei dkk (009) LKS merupakan salah sau sumber belajar yang dapa dikembangkan oleh guru sebagai fasilias dalam kegiaan pembelajaran. Hasil peneliian yang dilakukan oleh Sunyono (008) dengan mengembangkan LKS juga menunjukkan adanya peningkaan akivias siswa sera memudahkan siswa dalam melaksanakan kegiaan prakikum. Proses pembelajarannya masih didominasi oleh pembelajaran konvensional arinya pembelajaran yang masih menunu siswa unuk menghafal maeri pelajaran anpa ahu siswa sudah benar-benar paham aau idak, sera ceramah dan anya jawab menjadi andalan guru dalam mengajar karena IPA umumnya merupakan maa pelajaran yang suli unuk dipahami jika siswa idak mengalami sendiri apa yang mereka pelajari. Pembelajaran seperi ini enunya membua hasil belajar dan akivias siswa kurang opimal. Hal ini diperkua dengan adanya daa bahwa masih erdapa sekiar 75% siswa kelas VII yang nilainya masih dibawah krieria keunasan minimal dengan sandar keunasan 70. Senada dengan Winarsih dkk (01) bahwa dengan LKS berbasis CTL siswa mampu menggunakan kemampuan berfikir kriis, erliba penuh dalam mengupayakan proses pembelajaran yang efekif, pembelajaran dikaikan dengan kehidupan nyaa dan siswa erliba akif dalam proses pembelajaran sehingga siswa mudah unuk mempelajarinya maka keefekifan penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis Conexual Teaching and Learning (CTL) pada kelas VII SMP N 1 Dukuhsei perlu dielii. METODE Peneliian ini dilaksanakan di SMP N 1 Dukuhsei. Peneliian ini merupakan peneliian eksperimen dengan menggunakan rancangan conrol group pre-es pos-es desain. Dalam rancangan ini, sekelompok subjek yang diambil dari populasi erenu dikelompokkan menjadi dua kelompok yaiu kelompok eksperimen dan kelompok konrol. 417

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Sampel dalam peneliian diambil menggunakan eknik cluser random sampling dari kelas yang homogen. Penggunaan eknik cluser random sampling ini unuk memperoleh dua kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas konrol. Variabel dalam peneliian ini adalah: variabel bebas dalam peneliian ini adalah pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis conexual eaching and learning dan variabel erika dalam peneliian ini adalah hasil belajar dan akivias siswa. Prosedur peneliian ini erdiri dari dua ahap yaiu: 1. Persiapan peneliian Pada ahap persiapan ini yang dilakukan adalah sebagai beriku: (1) penelii bersama guru bidang sudi memilih kelas yang digunakan sebagai sampel peneliian, () mempersiapkan perangka pembelajaran: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar kegiaan siswa (LKS), bahan belajar, angke, lembar penilaian laporan prakikum dan lembar observasi, (3) membua insrumen uji coba. Insrumen peneliian dibua berdasarkan kisi-kisi yang elah dibua sebelumnya. Insrumen es dalam peneliian ini berbenuk pilihan ganda, (4) mengadakan uji coba insrumen. Uji coba insrumen peneliian yaiu uji coba ala evaluasi yang berupa soal-soal pilihan ganda, (4) analisis hasil uji coba insrumen peneliian dilakukan menggunakan validias, realibilias, ingka kesukaran, dan daya pembeda.. Tahap Pelaksanaan Pada ahap ini langkah perama yang dilakukan adalah melaksanakan prees unuk mengeahui kemampuan awal siswa pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan sebelum diberikan reamen. Kedua, melaksanakan pembelajaran pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan dengan menerapkan pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL. Keiga, melakukan pengamaan menggunakan lembar observasi unuk mengeahui keerampilan proses siswa selama berlangsungnya kegiaan pembelajaran. Keempa, melaksanakan poses unuk mengeahui hasil belajar siswa pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan seelah diberikan reamen. Kelima, memberikan angke kepada siswa unuk mengeahui anggapan siswa erhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan pada pembelajaran. Sumber daa peneliian ini adalah siswa dan guru. Insrumen peneliian yang digunakan unuk menjaring daa dalam peneliian ini erdiri dari: 1. Lembar observasi, lembar observasi digunakan sebagai ala unuk memperoleh daa keerampilan proses siswa kelas VII SMP N 1 Dukuhsei selama berlangsungnya kegiaan pembelajaran maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan.. Angke, angke dalam peneliian ini berisi enang anggapan siswa erhadap LKS yang digunakan pada proses pembelajaran selama peneliian. Angke ini juga digunakan unuk mengungkap mina aau keerarikan siswa erhadap LKS yang digunakan pada proses pembelajaran. 3. Dokumenasi, dokumenasi digunakan unuk mendapakan dafar nama siswa yang digunakan sebagai sampel peneliian sera foo-foo selama proses pembelajaran sebagai buki oenik. Jenis daa yang didapakan adalah daa kualiaif dan kuaniaif. Daa kualiaif melipui: anggapan siswa dan guru enang pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL yang elah dierapkan di kelas. Sedangkan daa kuaniaif melipui: hasil belajar siswa dan akifias siswa selama proses pembelajaran Unuk mendapakan daa dari variabelvariabel yang dielii digunakan meode pengumpulan daa anara lain sebagai beriku : 1. daa enang hasil belajar diperoleh dari nilai es evaluasi.. daa enang akivias siswa dalam proses pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar observasi akivias siswa selama proses pembelajaran. 3. daa enang akivias dalam kegiaan prakikum diambil dengan menggunakan lembar akivias siswa selama kegiaan prakikum. 4. daa enang anggapan siswa erhadap proses pembelajaran diambil dengan lembar kuisioner anggapan siswa di akhir pembelajaran. 5. daa enang anggapan guru erhadap penerapan pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL diambil 418

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) melalui wawancara. Analisis awal sebelum dilakukan perlakuan awal yang berujuan unuk mengeahui apakah kelompok eksperimen dan kelompok konrol ersebu mempunyai kondisi yang sama. Pada analisis awal dilakukan uji, yaiu: 1. Uji Normalias Uji ini digunakan unuk mengeahui apakah daa yang digunakan merupakan daa yang berdisribusi normal aaukah idak. Unuk ini digunakan eknik Chi-Kuadra. Langkah-langkah yang dilakukan unuk menguji normalias daa sebagai beriku: menyusun daa dan mencari nilai eringgi maupun erendah, membua inerval kelas dan menenukan baas kelas, menghiung raa-raa dan simpangan baku, membua abulasi daa ke dalam inerval kelas, menghiung nilai z dari seiap baas kelas Mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal dengan menggunakan able z, menghiung frekuensi harapan, membandingkan harga Chi-kuadra hiung dengan harga Chikuadra abel dengan arif signifikan 5%, menarik kesimpulan, jika x hiung < x able maka daa berdisribusi normal. (Sudjana, 005).. Uji homogenias Uji ini digunakan unuk mengeahui apakah kelompok konrol dan kelompok eksperimen berawal dari populasi yang homogen aau idak. Unuk keperluan uji homogenias digunakan rumus, yaiu: F hiung = V b V k Keerangan: V b : varian yang lebih besar V k : varians yang lebih kecil (Sudjana, 005). Dengan krieria pengujiannya jika F hiung F abel maka dapa dikaakan kedua kelompok memiliki kesamaan varians α= 5%. Daa yang digunakan unuk uji homogenias adalah daa nilai ulangan akhir IPA SMP kelas VII semeser gasal. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil prees kelas eksperimen dan kelas konrol Hasil prees kelas eksperimen dan kelas konrol dapa diliha pada abel 1 beriku ini. 419 Tabel 1. Hasil prees kelas eksperimen dan konrol Komponen Prees Konrol Eksperimen pesera didik 6 5 Reraa 63,46 65,70 Skor eringgi 7,5 80 Skor erendah 4,5 57 Berdasarkan Tabel 1, dikeahui bahwa reraa kelas konrol yaiu 63,46 sedangkan reraa kelas eksperimen yaiu 65,70. Daa hasil pre es digunakan unuk analisis daa awal yaiu analisis daa sebelum siswa diberi perlakuan siswa. Dalam perhiungan uji normalias, saisik yang digunakan adalah chi kuadra. Uji normalias digunakan unuk mengeahui sampel berdisribusi normal aau idak. Hasil perhiungan uji kenormalan dari kelompok eksperimen (kelas VIIA) diperoleh χ hiung = 3,08. Dengan araf nyaa 5% dan deraja kebebasan (dk) = 6 3 = 3, maka diperoleh χ abel = 7,81. Hal ini menunjukkkan 3,08 < 7,81 yang berari bahwa χ hiung < χ abel dan dapa disimpulkan sampel berasal dari populasi yang berdisribusi normal. Hasil perhiungan unuk kelompok konrol (kelas VIID) diperoleh χ hiung = 7,05. Dengan araf nyaa 5% dan deraja kebebasan (dk) = 6 3 = 3, maka diperoleh χ abel = 7,81. Hal ini menunjukkan bahwa 7,05 < 7,81 berari χ hiung < χ abel sehingga dapa disimpulkan sampel berasal dari populasi yang berdisribusi normal. Uji homogenias berguna unuk mengeahui sampel mempunyai varians yang sama aau idak. Hipoesis yang digunakan sebagai beriku: H o : σ 1 = σ arinya kedua sampel mempunyai varians yang sama. H a : σ 1 σ arinya kedua sampel mempunyai varians yang berbeda. Dari hasil perhiungan diperoleh varians unuk kelompok eksperimen = 8,9 dan varians unuk kelompok konrol = 49,04. Hasil perbandingan kedua varians ersebu didapa F hiung = 1,6959. Dengan araf nyaa 5% dan dk pembilang = 6-1 = 5 sera dk penyebu = 5-1 = 4, diperoleh F abel = 1,97. Hal ini menunjukkan 1,6959 < 1,97 yang berari bahwa F hiung < F abel sehingga dapa disimpulkan kedua sampel ersebu mempunyai varians yang sama (homogen).

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Seelah iu dilakukan uji erhadap raa-raa nilai prees siswa kelas eksperimen dan konrol, ernyaa idak erdapa perbedaan yang signifikan. Hal ini dapa diliha pada abel. Tabel. Hasil perhiungan uji prees Kelas Raaraa dk hiung abel VIID 63,46 49 1,77 1,68 VIIA 65,70 Krieria Tidak berbeda signifikan Akivias siswa kelas eksperimen dan konrol dalam proses pembelajaran Hasil akivias siswa menggambarkan ingka keakifan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan LKS berbasis CTL dikaakan dapa mengakifkan siswa apabila siswa yang erliba akif dalam pembelajaran 75%. Hasil akivias siswa pada pembelajaran pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan dapa diliha pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Hasil akivias siswa kelas eksperimen dan konrol Krieria Kelas Eksperimen Kelas Konrol Peremuan 1 Peremuan Peremuan 1 Peremuan Sanga akif 39,8 % 53,57 % 5 % 14,8 % Akif 35,71% 35,71% 46,15 % 67,85 % Cukup 7,1 % - 17,8 % 10,71 % Kurang akif 7,1% - 7,6 % - Tidak akif - - - - Berdasarkan Tabel 3, dikeahui bahwa presenase jumlah siswa yang akif dan sanga akif kelas eksperimen lebih baik dari kelas konrol. Tabel 3 di aas dapa menunjukkan bahwa secara umum akivias siswa selama proses pembelajaran mengalami peningkaan pada seiap peremuan. Berdasarkan hasil analisis akivias siswa dikeahui bahwa secara umum akivias yang paling menonjol adalah akivias melakukan diskusi dalam kelompok, yaiu mencaa informasi yang dianggap pening, beranya dan mengemukakan pendapa. Berdasarkan hasil analisis akivias siswa juga dapa dikeahui bahwa erjadi peningkaan akivias pada masing-masing kelas pada seiap peremuan. Hal ini disebabkan karena pada awal peremuan, siswa masih beradapasi dengan pembelajaran baru yang dierapkan yaiu pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL, sehingga siswa belum begiu akif dalam pembelajaran. Akan eapi pada peremuan selanjunya, siswa sudah mampu menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang dierapkan. Siswa elah merasakan suasana nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran sehingga siswa semakin anusias dan semanga dalam pembelajaran. 40 Tingka keakifan siswa pada kelas konrol lebih rendah dari pada kelas eksperimen. Hal ini disebabkan cara pembelajaran dengan meode diskusi pada kelas konrol hanya dipresenasikan oleh perwakilan dari kelompok ersebu. Sehingga menyebabkan anggung jawab dianara anggoa kelompok siswa berkurang. Kerjasama dianara anggoa kelompok belum erlalu kompak, masih ada siswa yang idak mau berparisipasi unuk menyumbang ide dalam kelompok, karena mereka merasa sudah cukup erwakili lewa perwakilan siswa kelompok yang maju unuk mempresenasikan hasil diskusinya. Alasan ersebu yang membua akivias yang eramai pada kelas konrol lebih rendah bila dibandingkan dengan kelas eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan LKS berbasis CTL merupakan salah sau jenis meode pembelajaran yang sanga bermanfaa karena lebih banyak menunu keerlibaan siswa secara akif dan seiap siswa harus dapa meliha hubungan aau keerkaian apa yang sudah dipelajari di sekolah dengan kehidupan nyaa.

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Hasil akivias siswa selama kegiaan prakikum Hasil akivias siswa selama kegiaan prakikum menggambarkan ingka keakifan siswa dalam kegiaan prakikum. Tabel 4. Rekapiulasi akivias siswa selama kegiaan prakikum No Krieria Peremuan 1 Peremuan siswa (%) siswa (%) 1 akif 3 9 5 100 cukup 8 0-3 kurang 0-0 - akif 4 idak akif 0-0 - Berdasarkan abel 4, dikeahui bahwa akivias siswa selama kegiaan prakikum ermasuk kaegori akif, diunjukkan pada peremuan 1 mencapai 9 % dan peremuan mencapai 100 %. Hasil pos es kelas eksperimen dan konrol Pos es dilakukan unuk mengeahui hasil belajar siswa pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan seelah diberikan reamen. Hasil pos es kelas eksperimen dan kelas konrol dapa diliha pada abel 5 beriku ini. Tabel 5. Hasil pos es kelas eksperimen dan konrol. Komponen Pos es Konrol Eksperimen pesera didik 6 5 Reraa 7,19 79,36 Skor eringgi 86 93 Skor erendah 50 66 Seelah iu dilakukan uji erhadap raa-raa nilai pos es siswa kelas eksperimen dan konrol, ernyaa erdapa perbedaan yang signifikan. Hal ini dapa diliha pada abel 6. Tabel 6. Hasil perhiungan uji pos es Kelas Raaraa dk hiung abel VII D 7,19 49,84 1,68 VII A 79,36 Krieria Berbeda Signifikan Peningkaan nilai prees dan pos es Peningkaan nilai dari prees ke pos es dapa dianalisis secara saisik dengan menggunakan N-gain score dan uji. Pada abel 7 dan 8 disajikan peningkaan nilai pre es ke pos es pada kelas eksperiman dan konrol dengan menggunakan N-gain score. Tabel 7. Hasil peningkaan nilai prees dan pos es kelas eksperimen Komponen Prees Pos es Selisih Indeks gain (g) Kaegori Raa-raa 65,70 79,36 13,66 0,40 sedang Skor eringi 80 93 Skor erendah 57,5 66 Tabel 8. Hasil peningkaan nilai prees dan pos es kelas konrol Komponen Prees Pos es Selisih Indeks gain (g) Kaegori Raa-raa 63,46 7,19 8,73 0,4 rendah Skor eringi 7,5 86 Skor erendah 4,5 50 Dari Tabel 7 dan 8 dapa diliha bahwa hasil mengalami peningkaan dari 65,70 menjadi 79,36. peningkaan hasil belajar seelah dianalisis Sedangkan hasil belajar pada kelas konrol seelah menggunakan N-gain score pada kelas eksperimen sebesar 0,40 ermasuk kaegori sedang. Reraa nilai dianalisis menggunakan N-gain score sebesar 0,4 ermasuk kaegori rendah. Reraa nilai mengalami peningkaan dari 63,46 menjadi 7,19. Berdasarkan daa ersebu erliha bahwa indeks 41

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) gain kelas eksperimen lebh inggi dibandingkan indeks gain kelas konrol (0,40 > g > 0,4). Seelah dianalisis dengan menggunakan N-gain score kemudian dianalisis menggunakan uji. Tabel 9. Hasil perhiungan uji peningkaan prees-poses Raaraa hiung abel Kelas dk Krieria VII D 8,73 49 1,940 1,68 Berbeda signifikan VII A 13,66 Berdasarkan Tabel 9, dikeahui bahwa raaraa peningkaan nilai dari prees ke poses siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas konrol. Hasil nilai akhir siswa diperoleh dari nilai ugas yang didapa dari LKS dan nilai ulangan yang diperoleh dari nilai pos es. Hasil nilai akhir Hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas konrol merupakan nilai yang diperoleh dari nilai ugas dan nilai ulangan, dapa diliha pada Tabel 10 beriku ini. Tabel 10. Nilai akhir siswa eksperimen dan konrol Variasi Kelas Kelas Eksperimen Konrol Nilai eringgi 96 93 Nilai erendah 80,5 61,5 Raa-raa 87,8 78,0 siswa 5 6 siswa yang unas 5 6 siswa yang idak unas 0 0 Berdasarkan Tabel 10, dikeahui bahwa reraa nilai akhir siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas konrol. Seelah dilakukan uji erhadap nilai akhir siswa kelas eksperimen dan konrol, menunjukkan hasil bahwa nilai akhir siswa kelas eksperimen dan konrol menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini sesuai dengan abel 11. Tabel 11. Hasil perhiungan uji nilai akhir siswa Kelas Raaraa dk hiung abel VII A 87,8 49 5,05 1,68 krieria Berbeda signifikan VII D 78,0 Dari hasil uji dikeahui bahwa nilai hiung > abel sehingga dikaakan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL berpengaruh posiif erhadap hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan selama proses belajar mengajar, pengelolaan pembelajaran berjalan dengan baik, selain iu akivias siswa melakukan prakikun menjadi akivias dominan didukung dengan LKS berbasis CTL membua pembelajaran lebih berpusa pada siswa, sehingga siswa merasa pembelajara menjadi lebih menyenangkan. Angke Tangapan Siswa Unuk hasil anggapan siswa erhadap pembelajaran dibagikan seelah pembelajaran berakhir. Hasil anggapan siswa menunjukkan bahwa siswa memberikan anggapan yang posiif aau ermasuk kaegori senang erhadap pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL, diunjukkan dengan 96 % merasa senang. Penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL ini membua pembelajaran lebih hidup dan idak egang.. Hal ini sesuai dengan anggapan siswa yang menyaakan bahwa lebih dari 70% siswa senang dan menyukai suasana kelas saa pembelajaran berlangsung dan bahkan seuju apabila pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL dierapkan pada maeri IPA yang lain. Hasil anggapan siswa menyaakan bahwa penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL efekif dalam pembelajaran maeri pengaruh bahan kimia rumah anggga erhadap lingkungan. Selain mampu meningkakan hasil belajar dan akivias siswa pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL dapa meningkakan kerjasama dan ransfer pengeahuan dianara siswa dalam sau kelompok. Siswa yang memiliki pengeahuan akademik yang inggi akan membanu siswa yang masih mengalami kesulian belajar melaui ransfer 4

Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) pengeahuan yang dimiliki siswa yang berkemampuan akademik inggi ke siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah sehingga kemampuan dianara mereka dalam sau kelompok dapa meraa. Hasil wawancara guru Hasil wawancara anggapan guru erhadap proses belajar mengajar, guru berpendapa bahwa pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL dapa memudahkan siswa unuk memahami maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan. Selain iu mampu memacu akivias siswa-siswa yang semula kurang akif menjadi akif dan yang sudah akif menjadi ambah akif. Guru mengaakan bahwa, dengan peran akif dan keerlibaan siswa akan membangkikan moivasi siswa, sehingga hasil belajar siswa meningka dan idak erganung pada penjelasan guru. Guru mengakui bahwa dengan model pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL, dapa meningkakan kualias pembelajaran dibandingkan pembelajaran yang sebelumnya (ceramah dan diskusi). Guru juga menyebukan kesulian jika siswa idak siap dengan sumber belajar misalnya buku pake maupun LKS, maka kegiaan belajar mengajar idak akan berjalan dengan baik. SIMPULAN Berdasarkan hasil peneliian dan pembahasan, maka dapa disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL efekif dierapkan pada siswa kelas VII SMP N 1 Dukuhsei Pai. Saran yang digunakan pada peneliian ini adalah Guru IPA hendaknya menerapan LKS berbasis CTL agar dapa melibakan siswa secara akif dalam pembelajaran dan dapa membanu siswa mengaikan anara maeri pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL perlu dikembangkan unuk meningkakan kualias pembelajaran karena penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL erbuki dapa mengopimalkan akivias dan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA Buharno. 005. Pendekaan Koneksual Pada Pembelajaran Maemaika. Jurnal Guru. (): hal 65-75. Fogary. 1991. The Mindful School: How o inegrae he curricula. Palaine, lllinois: IRI/Skyligh Publising.Inc. Hidaya. 009. Pengembangan Pembelajaran Terpadu Model Conneced Unuk Meningkakan Hasil Belajar Siswa Dalam Maa Pelajaran Ilmu Pengeahuan Alam. Inovasi Kurikulum 1 (4): hal 15-9. Yogjakara. Lisyawai. 01. Pengembangan Perangka Pembelajaran IPA Terpadu di SMP. Journal of innovaive Science Educaion 1 (1): hal 6-69. Semarang: Universias Negeri Semarang. Rahayu, Mulyani & Miswadi. 01. Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Base Melalui Lesson Sudy. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. 1 (1): hal 63-70. Semarang: Universias Negeri Semarang. Rohaei, Widjajani, & Padmaningrum. 009. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Maa Pelajaran Sains Kimia unuk SMP. Inovasi Pendidikan. hal 1-11. Yogjakara: FMIPA Universias Negeri Yogjakara. Sanjaya. 011. Sraegi Pembelajaran Berorienasi Sandar Proses Pendidikan. Jakara: Kencana. Sudjana. 005. Meode Saisika.Bandung: Tarsio Bandung. Sunyono. 008. Developmen of Suden Workshee Base on Environmen o Sains Maerial of Yunior High School in Class VII on semeser I Dalam: Proceeding of he nd Inernaional Seminar of Science Educaion. Bandung: UPI. Susilo, Wiyano, & Suparono. 01. Model Pembelajaran IPA Berbasis Masalah Unuk Meningkakan Moivasi Belajar dan Berpikir Kriis. Unnes Science Educaion Journal. 1(1): hal 13-0. Semarang: Unnes. Triano. 011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakara: PT. Bumi Aksara. Winarsih, Shoidah & Rachmadiari. 01. Pengembangan LKS berbasis Conexual Teaching and Learning Maeri Hama dan Penyaki Tumbuhan. BioEdu. 1(3): hal 8-1. Surabaya: Universias Negeri Surabaya. 43