BAB II PENGELOLAAN KASUS

dokumen-dokumen yang mirip
III. RIWAYAT KESEHATANSEKARANG A.

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI KOMUNITAS

I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Jenis Kelamin : Laki - laki. Status Perkawinan : Menikah

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1 FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI KOMUNITAS I. BIODATA IDENTITAS PASIEN

Lampiran 1 FORMAT PENGKAJIAN PASIEN I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Status perkawinan : sudah menikah

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TERAPI MUROTTAL

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT. Tanggal Masuk RS : 09 Desember 2014

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI KOMUNITAS

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

KEBUTUHAN MOBILITAS FISIK

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT UMUM DR.PIRNGADI MEDAN

: Jl. Bajak IV Gg. Hidayah Golongan Darah : o Tanggal Pengkajian : 18 mei 2015 Diagnosa Medis : stroke

PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT. Simalungun

Format Pengkajian Klien di Lingkungan V Kelurahan Harjo Sari II kecamatan Amplas Kota Medan

FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA AKADEMI KEPERAWATAN PANTI WALUYA MALANG

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

Tindakan keperawatan (Implementasi)

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

Status Perkawinan : Menikah : Kristen Protestan Pendidikan :

PENGKAJIAN PNC. kelami

BAB II PENGELOLAAN KASUS

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN MOBILITAS

Lampiran 1 ASUHAN KEPERAWATAN KASUS. 1. Pengkajian I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Status Perkawinan : Kawin

BAB 1 PENDAHULUAN. kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

BAB II PENGELOLAAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. O DENGAN CKD ON HD DI RUANG HEMODIALISA BLUD dr. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA

Alamat : Jl. A. Hakim No. 28

PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN KOMUNITAS

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM RETENSIO PLACENTA

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan. Bab ini penulis akan membahas tentang tindakan keperawatan

BAB II PENGELOLAAN KASUS

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

Lampiran Asuhan Keperawatan Kasus PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USUU BIODATA I. IDENTITIAS PASIEN Nama

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

BAB III TINJAUAN KASUS. Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Jawa, Indonesia

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Pukul Tindakan keperawatan Evaluasi. vital. nyeri, skala nyeri

CATATAN PERKEMBANGAN IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

BAB II RESUME KEPERAWATAN WIB, pasien dirawat dengan Fraktur Femur pada hari ke empat:

nonfarmakologi misalnya, teknik

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

BAB III TINJAUAN KASUS

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

Tujuan Asuhan Keperawatan pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG MELATI 1 RSDM MOEWARDI SURAKARTA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CA SERVIKS DI RUANG MAWAR RS. Dr. H. KOESNADI BONDOWOSO N A M A : RIA ROHMA WATI N I M :

BAB II PENGELOLAAN KASUS Konsep Dasar Perawatan Diri/Personal Hygiene Defenisi Perawatan Diri/Personal Hygiene

CATATAN PERKEMBANGAN

BAB II PENGELOLAAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

22/03/2016 MASYKUR KHAIR

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian keperawatan dilakukan pada tanggal 30 Maret 2011 dengan hasil. Jenis kelamin : Perempuan

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

Universitas Sumatera Utara

Proses Keperawatan pada Bayi dan Anak. mira asmirajanti

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi Keperawatan. Mengevaluasi tingkat mobilitas klien Mendorong partisipasi

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. PADA Sdr.W DENGAN HARGA DIRI RENDAH. DI RUANG X ( KRESNO ) RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. 1. Inisial : Sdr.

BAB III TINJAUAN KASUS

III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA RUMAH SAKIT UMUM KELAS D KOJA Jl. Walang Permai No. 39 Jakarta Utara PANDUAN ASESMEN PASIEN TERMINAL

BAB III TIJAUAN KASUS. Pada bab ini penulis akan membicarakan tentang tinjauan kasus dari pelaksanaan

BAB II PENGOLAHAN KASUS

LAPORAN PENDAHULUAN Konsep kebutuhan mempertahankan suhu tubuh normal I.1 Definisi kebutuhan termoregulasi

BAB II PENGELOLAAN KASUS

BAB II KONSEP DASAR. memelihara kesehatan mereka karena kondisi fisik atau keadan emosi klien

Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Dx. Tindakan dan Evaluasi

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

: Jln. Panca Karya No.81, Kelurahan Harjosari II,

Kebutuhan Personal Higiene. Purnama Anggi AKPER KESDAM IM BANDA ACEH

BAB II PENGELOLAAN KASUS

Data Administrasi diisi oleh Nama: NPM/NIP:

ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL CARE FISIOLOGI PADA Ny J UMUR KEHAMILAN 38 MINGGU 2 HARI DI PUSKESMAS PATTOPAKANG TANGGAL 9 DESEMBER 2013

- Nyeri dapat menyebabkan shock. (nyeri) berhubungan. - Kaji keadaan nyeri yang meliputi : - Untuk mengistirahatkan sendi yang fragmen tulang

BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan menjadi sekitar 11,34%. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menyatakan

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

haluaran urin, diet berlebih haluaran urin, diet berlebih dan retensi cairan beserta natrium ditandai dengan - Pemeriksaan lab :

BAB III TINJAUAN KASUS. Pada bab ini akan penulis paparkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan pada klien

JOB SHEET. : Asuhan Kebidanan Kehamilan Bobot mata kuliah : Bd : DIII Kebidanan. : Siti Latifah Amd, Keb Pertemuan : 3 /18 Pebruari 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien mulai dari pasien yang tidak mampu melakukan aktivitasnya secara

BAB II PENGELOLAAN KASUS

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Hari/tanggal Pukul Tindakan Keperawatan Evaluasi. 2. Mengkaji tandatanda

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny 60 DENGAN PERIODE ANTENATAL G 1 P 1002 UK MINGGU T/H DI PUSKESMAS IV DENPASAR SELATAN TANGGAL 16 MEI 2014

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. nafas dan nutrisi dengan kesenjangan antara teori dan intervensi sesuai evidance base dan

CATATAN PERKEMBANGAN

BAB II Pengelolaan Kasus

FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

LAPORAN NURSING CARE INKONTINENSIA. Blok Urinary System

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan 80% populasi akan mengalami nyeri punggung bawah pada

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN NY. S DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI IGD RS HAJI JAKARTA

BAB III TINJAUAN KASUS

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

Transkripsi:

BAB II PENGELOLAAN KASUS 2.1 Konsep Dasar Mobilisasi 2.1.1 Defenisi Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Setiap orang butuh untuk bergerak. Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan keperawatan. Mobilisasi dibutuhkan untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi diri, harga diri dan citra tubuh (Wahid, 2008). Imobilisasi merupakan suatu kondisi yang relatif. Maksudnya, individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya. Ada beberapa alasan dilakukan imobilisasi : 1. Pembatasan gerak yang ditujukan untuk pengobatan atau terapi. Misalnya pada klien yang menjalani pembedahan atau yang mengalami cedera pada tungkai dan lengan 2. Keharusan (tidak terelakkan). Ini biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan primer, seperti penderita paralisis 3. Pembatasan secara otomatis sampai dengan gaya hidup 4

Mobilisasi fisik penting untuk mempertahankan kesehatan dan kualitas hidup semua individu dan terutama penting bagi lansia. Mobilisasi merupakan aktifitas didalam lingkungan individu (Marlynn, 2000). Mobilitas memungkinkan individu menghindari bahaya, bertindak untuk merasakan pengalaman yang menyenangkan dan mempertahankan homeostasis. Mobilitas, perawatan individu, performa tugas aktif untuk menghadapi lingkungan merupakan perilaku yang mencerminkan kesehatan fungsional. Banyak lansia mendefenisikan setatus kesehatan dan kebugaran fisik terkait mobilitas mereka. Ambulasi merupakan cara mobilitas yang diharapkan, tetapi bagi lansia, penggunaan alat bantu, sepeti kursi roda dapat lebih memfasilitasi mobilitas dari pada ambulasi. Saat lansia dirawat inap,mobilitas fisik dapat terhambat karena penyakit yang dialami dan Karena faktor yang berhubungan dengan lingkungan fisik. Intervenesi preventif dibutuhkan untuk memaksimalkan kemampuan fungsional lansia, yang jumlahnya semakin meningkat dalam populasi (Simonsick, 1991). Jika mobilitas fisik dipandang sebagai aspek kesehatan fungsional, konsekuensi hambatan mobilisasi fisik amat luas, mencakup aspek fisioligi, psikologi, dan sosioekonomi. Konsekuensi ini tidak dapat dielakkan meski berkaitan dengan peningkatan kemungkinan penurunan fisiologi seiring penuaan. Peningkatan kebergantungan fungsi yang menyertai Hambatan Mobilisasi Fisik dan konsekuensinya yang sering kali dapat dihindari, dikoreksi, dan diminimalkan melalui penegakan diagnosis keperawatan dan pelaksanaan managemen keperawatan yang cermat. Hal ini membuat masalah Hambatan Mobilisasi Fisik pada lansia menjadi perioritas utama dalam perawatan. 5

2.1.2 Jenis Imobilitas Secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas antara lain: 1. Imobilitas fisik Kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang disebabkan oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut. 2. Imobilitas Intelektual Kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus kerusakan otak. 3. Imobilitas Emosional Kondisi ini dapat terjadi akibat proses pembedahan atau kehilangan seseorang yang dicintai. 4. Imobilitas Sosial Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering terjadi akibat penyakit. 2.1.3 Dampak Fisik dan Psikologi Imobilitas Masalah imobilitas dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dari segi fisik maupun psikologis. Secara psikologis, imobilitas dapat menyebabkan penurunan motivasi, kemunduran kemampuan dalalm memecahkan masalah dan perubahan konsep diri. Sedangkan masalah fisik dapat terjadi adalah sebagai berikut : a. Sistem musculoskeletal 1. Gangguan muscular : menurunnya massa otot sebagai dampak imobilisasi dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung. 2. Gangguan skeletal : akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis. b. Eliminasi urin Masalah yang umum ditemui pada sistem perkemihan akibat imobilisasi adalah stasis urine, batu ginjal, retensi urine, infeksi perkemihan. 6

c. Gastrointestinal Kondisi imobilisasi mempengaruhi tiga sistem pencernaan, yaitu fungsi ingesti, digesti dan eleminasi. d. Respirasi Masalah yang umum ditemui yaitu penurunan gerak pernafasan, penumpukan secret, atelektasis. e. Sistem kardiovaskular Masalah yang umum ditemui yaitu Hipotensi ortostatik, pembentukan thrombus, edema dependen. f. Metabolisme Perubahan metabolisme imobilitas dapat mengakibatkan proses anabolisme menurun dan katabolisme meningkat. Keadaan ini dapat beresiko meningkatkan gangguan metabolisme. g. sistem integument Masalah yang umum ditemui yaitu turgor kulit menurun, kerusakan kulit. h. Sistem neurosensorik Ketidakmampuan mengubah posisi menyebabkan terhambatnya input sensorik, menimbulkan perasaan lelah, iritabel, persepsi tidak realistis, dan mudah bingung. (Wahid, 2008) 2.1.4 Tingkatan Imobilitas Tingkatan imobilitas bervariasi, diantaranya adalah: 1. Imobilitas komplit Imobilitas ini dilakukan pada individu yang mengalami gangguan tingkat kesadaran 2. Imobilitas parsial Imobilitas ini dilakukan pada klien yang mengalami fraktur, misalnya fraktur ekstremitas bawah (kaki) 3. Imobilitas karena alasan pengobatan Imobilitas ini dilakukan pada individu yang menderita gangguan pernafasan (misalkan sesak nafas) atau pada penderita penyakit jantung. 7

2.2 Proses Keperawatan 2.2.1 Pengkajian Saat mengkaji data tentang masalah imobilitas, perawat menggunakan metode pengkajian inspeksi, palpasi dan auskultasi. Selain itu perawat juga memeriksa hasil pemeriksaan penunjang. Karena tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencegah komplikasi imobilitas, maka perawat perlu mengidentifikasi klien yang berisiko mengalami komplikasi. Ini termasuk klien yang mengalami (a) penurunan berat badan, (b) perubahan postur tubuh ; (c) perubahan tingkat kesadaran. (wahid, 2008). Perawat mengkaji klien mobilisasi dengan melakukan pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai keujung kaki. Selain itu pengkajian keperawatan harus berfokus pada area fsikologis, sama seperti aspek psikososial dan perkembangan klien. 2.2.2 Analisa Data Diagnosa keperawatan mengidentifikasi perubahan kesejajaran tubuh dan mobilisasi yang aktual dan potensial berdasarkan pengumpulan data selama pengkajian. Analisa menampilkan kelompok data yang mengidentifikasikan ada atau risiko terjadi masalah. (lihat kotak diagnosa di bawah) Contoh Diagnosa keperawatan NANDA untuk ketidaktepatan Mekanika Tubuh dan Hambatan Mobilisasi Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan : - Kesejajaran tubuh yang buruk - Penurunan mobilisasi Resiko cedera yang berhubungan dengan : - Ketidaktepatan mekanika tubuh - Ketidaktepatan posisi - Ketidaktepatan teknik pemindahan 8

Hambatan mobilisasi fisik yang berhubungan dengan : - Penurunan rentang gerak - Tirah baring - Penurunan kekuatan Gangguan eliminasi urine yang berhubungan dengan : - Resiko infeksi - Keterbatasan mobilisasi Inkontinensia total yang berhubungan dengan : - Perubahan pola eliminasi - Keterbatasan mobilisasi Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan : - Penurunan asupan cairan Ketidakefektifan koping individu yang berhubungan dengan : - Pengurangan tingkat aktivitas - Isolasi sosial Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan : - Keterbatasan mobilisasi - Ketidaknyamanan Kesejajaran tubuh dan mobilisasi saliang berhubungan. Seseorang yang mempuyai kesejajaran tubuh buruk mengurangi mobilisasi. Saat mengidentifikasi diagnosa keperawatan, perawat menyusun strategi keperawatan untuk mengurangi atau mencegah bahaya berhubungan dengan kesejajaran tubuh buruk atau gangguan mobilisasi. Aspek fisiologis sering hanya berfokus pada asuhan keperawatan klien gangguan mobilisasi. Sedangkan aspek psikososial dan perkembangan diabaikan. Padahal aspek psikososial tersebut penting untuk kesehatan. Contoh, selama imobilisasi, interaksi sosial dan stimulus di kurangi. Sehingga klien terisolasi, menarik diri dan bosan. (Potter & Perry, 2006). 9

Jenis kelamin(wanita) Usia Menopouse Absorbsi kalsium Penurunan hormon estrogen karna tubuh tidak lagi memproduksi Ekskresi kalsium urine meningkat Kepadatan tulang berkurang Osteoporosis Produksi kalsium menurun pada tulang Pasien sulit untuk bergerak melakukan aktifitas Keropos tulang Perubahan postur tubuh Nyeri Gangguan mobilitasi fisik Resiko tinggi cedera fraktur Penurunan kerja refleks 10

2.2.3 Rumusan masalah Selain bisa ditetapkan sebagai label diagnosis, masalah mobilisasi bisa pula dijadikan etiologi untuk diagnosis keperawatan yang lain. Menurut NANDA, label diagnosis untuk masalah mobilisasi meliputi Hambatan Mobilitas Fisik atau Risiko Dissuse Syndrome. Sedangkan label diagnosis dengan masalah mobilisasi sebagai etiologi bergantung pada area fungsi atau sistem yang dipengaruhi. (wahid, 2008). 2.2.4 Perencanaan Secara umum, tujuan asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami gangguan mobilisasi bervariasi, bergantung pada diagnosis dan batasan karakteristik masing-masing individu. Menurut (Wilkinson, 2011), beberapa tujuan umum untuk klien yang mengalami, atau berpotensi mengalami, masalah mobilisasi adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan toleransi klien untuk melakukan aktivitas fisik 2. Mengembalikan atau memulihkan kemampuannya untuk bergerak atau berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari 3. Mencegah terjadinya cedera akibat jatuh atau akibat penggunaan mekanika tubuh yang salah 4. Meningkatkan kebugaran fisik 5. Mencegah terjadinya komplikasi akibat imobilitas 6. Meningkatkan kesejahteraan sosial, emosional, dan intelektual. (Wahid, 2008) Perawat membuat perencanaan intervensi terapeutik terhadap klien yang bermasalah pada kesejajaran tubuh dan mobilisasi yang aktual maupun beresiko. Perawat merencanakan terapi sesuai dengan derajat risiko klien, dan perencanaan bersifat individu disesuaikan perkembangan klien, tingkat kesehatan, dan gaya hidup. Lingkungan rumah klien merupakan hal yang penting di pertimbangkan dalam merencanakan terapi dalam mempertahankan atau meningkatkan 11

kesejajaran tubuh dan mobilisasi. Perencanaan perawatan juga termasuk pemahaman kebutuhan klien untuk mempertahankan fungsi motorik dan kemandirian. Perawat dan Klien mempertahankan keterlibatan klien dalam asuhan keperawatan dan mencapai kesejajaran tubuh dan mobilisasi yang optimal. Klien berisiko bahaya dikaitkan ketidaktepatan kesejajaran tubuh dan gangguan mobilisasi, membutuhkan rencana keperawatan langsung melalui pemberian posisi secara aktual atau potensial serta kebutuhan mobilisasi. Rencana keperawatan di dasari oleh satu atau lebih tujuan berikut ini : 1. Mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat 2. Mencapai kembali kesejajaran tubuh yang tepat atau pun pada tingkat optimal 3. Mengurangi cedera pada sistem kulit dan musculoskeletal dari ketidaktepatan mekanika atau kesejajaran 4. Mencapai ROM penuh atau optimal 5. Mencegah kontraktur 6. Mencapai ekspansi paru dan pertukaran gas optimal 7. Mempertahankan pola tidur normal 8. Meningkatkan toleransi aktivitas 9. Mencapai pola eliminasi normal 10. Mencapai sosialisasi 11. Mencapai kemandirian penuh dalam aktivitas perawatan diri Sasaran. Tujuan utama bagi pasien dapat mencakup pemulihan keseimbangan yang normal, berat badan yang normal, pengurangan rasa nyeri serta ketidaknyamanan, mobilisasi fisik yang optimal, kemampuan koping pasien serta keluarga yang adekuat, pengetahuan pasien serta keluarga yang adekuat tentang penanganan osteoporosis pada lansia dan tidak adanya komplikasi. Pencapaian semua tujuan ini memerlukan pendekatan kolaboratif antardisiplin dalam penatalaksanaan pasien. (Suzanne & Smeltzer, 2001). 12

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG A. Provocative/palliative 1. Apa penyebabnya Ny. H mengatakan penyebabnya dikarenakan ngilu pada lutut dan pinggangnya. 2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan Ny. H mengatakan hal yang memperbaiki keadaan adalah istirahat dan bercerita bersama anaknya B. Quantity/quality 1. Bagaimana dirasakan Ny. H mengatakan ngilu pada daerah lutut dan pinggangnya membuat ia merasa kesulitan untuk bergerak bebas 2. Bagaimana dilihat Ny. H terlihat cemas dengan keadaannya dilihat dari raut wajah dan terlihat lemah. C. Region 1. Dimana lokasinya Pada bagian lutut dan pinggang. 2. Apakah menyebar Tidak adanya penyebaran yang dialami. D. Severity Ny. H mengatakan merasa tergangu dengan kondisinya yang sekarang E. Time Saat ingin melakukan pergerakkan / aktivitas 14

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU A. Penyakit yang pernah dialami Demam dan diare B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan Ny. H mengatakan jika sakit Ny. H pergi ke puskesmas di sekitar rumah C. Pernah dirawat / dioperasi Ny. H mengatakan tidak pernah dirawat maupun dioperasi D. Lama dirawat Ny. H mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit E. Alergi Ny. H tidak mengalami riwayat alergi F. Imunisasi - V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA A. Orang Tua Orang tua Ny. H tidak ada mengalami penyakit yg berarti B. Saudara Kandung Saudara kandung Ny. H tidak ada mengalami penyakit yg berarti C. Penyakit keturunan yang ada Tidak ada penyakit keturunan dari keluarga Ny. H D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa Jika ada, hubungan keluarga : tidak ada Gejala : tidak ada Riwayat pengobatan / perawatan : tidak ada E. Anggota keluarga yang meninggal Ayah dan Ibu Ny. H telah meninggal F. Penyebab meninggal Penyebab meninggal karena penyakit tua 15

VI. RIWAYAT KEADAAN PSIKOLOGI A. Persepsi Pasien tentang penyakitnya Ny. H mengatakan keadaan sekarang adalah akibat penyakit tua. B. Konsep Diri 1. Gambaran diri : pasien mengatakan bahwa dirinya sudah tua 2. Ideal diri : pasien mengatakan berharap lebih baik lagi disaat umur sudah tua 3. Harga diri : pasien tidak merasa malu dengan penyakitnya 4. Peran diri : pasien mengataka perannya sabagai Ibu rumah tangga 5. Identitas : pasien merupakan Ibu dari tiga orang anak C. Keadaan Emosi Keadaan emosi masih dapat terkontrol. D. Hubungan Sosial 1. Orang yang berarti : Ny. H mengatakan orang yang berarti adalah keluarganya 2. Hubungan dengan keluarga : Ny. H menjalin hubungan baik dengan keluarga 3. Hubungan dengan orang lain : Ny. H dapat berinteraksi dengan orang yang ada di sekitarnya 4. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Tidak ada hambatan dalam berhubungan. E. Spiritual 1. Nilai dan keyakinan Ny. H memeluk agama Hindu dan percaya dengan Tuhannya. 2. Kegiatan ibadah Ny. H beribadah sesuai ketentuan agamanya, dan sering melakukan Ibadah bersama dengan anaknya dirumah. 16

VII. STATUS MENTAL 1. Tingkat kesadaran : Compos mentis 2. Penampilan : Rapi 3. Pembicaraan : Sesuai 4. Alam kesadaran : Lesu 5. Afek : Sesuai 6. Interaksi selama wawancara : kooperatif dan kontak mata ada 7. Persepsi : Tidak ada 8. Proses pikir : Sesuai pembicaraan 9. Isi pikir : Pasien tidak menunjukan gejala-gejala diatas 10. Waham : Tidak ada waham 11. Memori : Masih dapat mengingat kejadian dulu dan sekarang VIII. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan umum Baik, nyeri yang di alami masih terasa hilang timbul B. Tanda-tanda vital 1. Suhu tubuh : 36,5 C 2. Tekanan darah : 130/70 mmhg 3. Nadi : 84x/menit 4. Pernafasan : 20x/menit 5. Skala nyeri :4 6. TB : 160 cm 7. BB : 60kg C. Pemeriksaan Head to toe Kepala dan rambut 1. Bentuk : Simetris 2. Ubun-ubun : Simetris 3. Kulit kepala : Bersih 17

Rambut 1. Penebaran dan keadaan rambut : rambut bersih dan rapi 2. Bau : tidak ada bau 3. Warna kulit : hitam Wajah 1. Warna kulit : sawo matang 2. Struktur wajah : lengkap Mata 1. Kelengkapan dan kesimetrisan : lengkap dan simetris 2. Palpebra : normal 3. Konjungtiva dan sclera : konjungtiva tidak pucat dan skelra berwarna 4. Pupil : ukuran pupil kiri / kanan : normal 5. Kornea dan iris : transparan,halus, bersih dan jernih 6. Visus : pasien masih dapat membaca dalam jarak +/- 3 meter 7. Tekanan bola mata : tidak dilakukan pemeriksaan Hidung 1. Tulang hidung : simetris dan tidak ada kelainan 2. Lubang hidung : ukuran normal 3. Cuping hidung : tidak ada tanda kelainan Telinga 1. Bentuk telinga : Normal, simetris 2. Ukuran telinga : Normal 3. Lubang telinga : bersih, tidak ada kotoran 4. Ketajaman pendengaran : normal Mulut dan faring 1. Keadaan bibir : Kering 2. Keadaan gusi dan gigi : Bersih 3. Keadaan lidah : berwarna merah muda 18

Leher 1. Posisi tracheathyroid : normal, teraba pada kedua sisi 2. Suara : normal 3. Kelenjar limfa : tidak ada pembesaran kelelenjar getah bening 4. Vena jugularis : tampak ketika berbicara 5. Denyut nadi karotis : teraba Pemeriksaan integument 1. Kebersihan : kulit bersih 2. Kehangatan : 36,5 C 3. Warna : sawo matang 4. Turgor : kembali cepat < 2 detik 5. Kelembaban : keadaan kulit lembab 6. Kelainan pada kulit: tidak ada kelainan Pemeriksaan abdomen 1. Inspeksi (bentuk, benjolan) : bentuk normal dan tidak ada terlihat kelaina 2. Auskultasi : peristaltik normal 3. Palpasi (tanda nyeri tekan, benjolan, ascites, hepar, lien) : terdapat lubang anus dan tidak ada kelainan 4. Perkusi (suara abdomen) : suara timpani Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya 1. Genitalia (rambut pubis, lubang uretra) : terdapat rambut pubis dan lubang uretara dan tidak ada kelainan 2. Anus dan perineum (lubang anus, kelainan pada anus, perineum) : normal, terdapat lubang anus dan tidak ada kelainan Pemeriksaan musculoskeletal / ekstermitas 1. Kesimetrisan otot : tidak simetris 2. Pemeriksaan edema : tidak ada edema 3. Kekuatan otot : sudah mengalami kelemah 19

IX. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI I. Pola makan dan minum 1. Frekuensi makan/hari : 3 kali / hari 2. Nafsu/selera makan : pasien mengatakan selera makan seperti biasa 3. Nyeri ulu hati : tidak ada nyeri ulu hati 4. Alergi : tidak ada alergi makanan 5. mual dan muntah : tidak ada mual dan muntah 6. Waktu pemberian makanan : 08.00 WIB, 14.00 WIB, 20.00 WIB 7. Jumlah dan jenis makanan : nasi, sayur, lauk dan buah 8. Waktu pemberian cairan / minuman : pasien banyak minum saat sakit 9. Masalah makan dan minum (kesulitan menelan, mengunyah) : Tidak ada kesulitan untuk makan II. Perawatan diri/personal hygiene 1. Kebersihan tubuh : pasien selama sakit dibantu mandi oleh anak 2. Kebersihan gigi dan mulut : bersih 3. Kebersihan kuku kaki dan tangan : bersih III. Pola kegiatan/aktivitas 1. Uraian aktivitas pasien untuk mandi, makan, eliminasi, ganti pakaian dilakukan secara mandiri, sebahagian atau total : saat ini pasien dalam melakukan kegiatan membutuhkan bantuan 2. Uraian aktivitas ibadah pasien selama sakit : untuk saat ini pasien tidak ada melakukan kegiatan ibadah diluar rumah IV. Pola eliminasi 1. BAB 1. Pola BAB : 1-2 kali / hari 2. Karakter feses : normal 3. Riwayat perdarahan : tidak ada pendarahan 4. BAB terakhir : sore 5. Diare : tidak ada diare 20

2. BAK 1. Pola BAK : 2-3 kali / hari 2. Karakter urine : normal 3. Nyeri / rasa terbakar / kesulitan BAK : tidak ada kesulitan BAK 4. Riwayat penyakit ginjal / kandung kemih : tidak ada 5. Penggunaan diuretic : tidak ada penggunaan diuretik 6. Upaya mengatasi masalah : tidak ada V. Mekanisme koping 1. Adaptif Bicara dengan orang lain Teknik relaksasi 2. Maladaptif - 21

2.3.2 ANALISA DATA No. Data Etiologi Masalah 1 DS: Jenis kelamin ( wanita) Menopause Hambatan - Klien mengatakan mobilitas ngilu dibagian punggung dan lutut Usia 78 thn fisik - Aktivitas terhambat Produksi estrogen DO : - klien menggunakan alat bantu kadar kalsium pada tulang - Klien terlihat lemah Keropos tulang (osteoporosis) - Aktivitas dibantu oleh keluarga Ngilu pada pinggang dan lutut - Klien adalah seorang wanita (78 tahun) yang telah menopouse Menggunakan alat bantu gerak - Hasil BMD (Bone Mineral Density) -3 Keterbatasan gerak Hambatan mobilitas Fisik 2 DS : Penurunan massa tulang Resiko - Pasien mengatakan lemah dan kaku (osteoporosis) jatuh - Pasien mengatakan mengalami keterbatasan gerak Tulang mudah patah dan rapuh Lemah dan kaku DO: - Pasien gunakan alat bantu saat berjalan Keterbatasan gerak - Berhati - hati berjalan Mudah jatuh / kecelakaan - Klien wanita (78 thn) yang telah menopause Resiko jatuh 22

2.3.3 RUMUSAN MASALAH MASALAH KEPERAWATAN 1. Hambatan mobilitas fisik 2. Resiko jatuh DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS) 1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kakunya sendi ditandai dengan bagian lutut dan pinggang terasa ngilu 2. Resiko jatuh berhubungan dengan usia 65 tahun atau lebih yang ditandai dengan penggunaan alat bantu seperti walker pada saat berjalan 23

2.3.4 PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL Hari/ tanggal Jumat 16 Juni 2017 No. Dx 1. Perencanaan tindakan Tujuan dan kriteria hasil: 1. Mencapai mobilisasi 2. Mendemonstrasikan mobilitas 3. Menunjukan tekhnik / perilaku yang memampukan melakukan aktivitas 4. Mempertahankan posisi fungsi di buktikan oleh tidak adanya kontraktur 2. 1. Klien terbebas dari cedera 2. Mencegah injury / cedera / fraktur 3. Mampu memodifikasi gaya hidup untuk Mencegah injury / cedera 4. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada 5. Mampu mengenali perubahan status kesehatan No. Rencana tindakan Rasional Dx 1. 1. Pengaturan posisi 1. Mengatur penempatan bagian tubuh pasien secara hati-hati untuk meningkatkan kesejahteraan 24

2. Memberi dukungan dan bantuan keluarga / orang terdekat pada pelatihan rentang gerak 2.Mengajak orang terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien dan memberikaan terapi lebih konstan / konsisten 3. Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif kemudian aktif 3.Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut dan kontraktur, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot / sendi dan menurunkan kehilangan kalsium dari tulang 4. Dorong partisipasi pasien dalam semua aktifitas sesuai kemampuan individual 2. 1. Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya 4.Meningkatkan kemandirian, Meningkatkan harga diri, dan membantu proses perbaikan 1.Menciptakan lingkungan yang aman mengurangi resiko terjadinya kecelakaan 2. Anjurkan klien tidak beraktifitas lebih 2.Ajarkan pada klien untuk berhenti secara perlahan,tidak naik tangga dan mengangkat beban berat 3. Support kebutuhan ambulasi klien 3.Beri support untuk kebutuhan ambulasi seperti menggunakan alat bantu jalan atau tongkat. Cegah klien dari pukulan tidak sengaja 25

4. Hindari benturan keras 4.Benturan keras menyebabkan patah tulang, karena tulang sudah rapuh dan kehilangan kalsium 5. Diet tinggi kalsium 5.Ajarkan klien tentang pentingnya diet tinggi kalsium dan vitamin D dalam mencegah osteoporosis lebih lanjut. Diet kalsium memelihara tingkat kalsium dalam serum, mencegah kehilangan kalsium ekstra dalam tulang 26

2.3.5 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Hari/ No. Implementasi keperawatan Evaluasi tanggal Dx (SOAP) Senin 1. - Mempertahankan posisi tubuh S: Klien mengatakan sulit bila 19 Juni dengan tepat khususnya pada dilakukan pergerakan 2017 lutut dan pinggang yang ngilu O : Klien terlihat lemah dan - Melakukan latihan rentang semua kebutuhan dibantu gerak secara konsisten di oleh keluarga awali dengan pasif kemudian A : Masalah belum teratasi aktif. - Klien masih merasakan - Mendorong parsitisipasi ngilu bila melakukan dalam semua aktivitas sesuai pergerakan kemampuan P : intervensi dilanjutkan - Mendorong dukungan dan - Kaji kemampuan mobilitas bantuan keluarga pada latihan fisik rentang gerak - Lakukan latihan gerak pasif 2. Menciptakan lingkungan yang S: Klien mengatakan berhati- nyaman : hati dalam beraktivitas - Memberikan penerangan yang O: dapat menghindari cukup aktivitas yang mengakibatkan - Tempat tidur klien rendah cidera - Memastikan lantai tidak licin A: masalah teratasi sebagian - Tempatkan klien pada P: intervensi dilanjutkan ruangan yang mudah diobservasi - Ambulasi sesuai dengan kebutuhan - Mengkaji kebutuhan untuk berjalan 27