BIFURKASI PITCHFORK SUPERKRITIKAL PADA SISTEM FLUTTER

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM FLUTTER PADA SAYAP PESAWAT TERBANG

BAB II KAJIAN TEORI. Persamaan diferensial sangat penting dalam pemodelan matematika khususnya

Created By Aristastory.Wordpress.com BAB I PENDAHULUAN. Teori sistem dinamik adalah bidang matematika terapan yang digunakan untuk

T 23 Center Manifold Dari Sistem Persamaan Diferensial Biasa Nonlinear Yang Titik Ekuilibriumnya Mengalami Bifurkasi Contoh Kasus Untuk Bifurkasi Hopf

BAB II LANDASAN TEORI. pada bab pembahasan. Materi-materi yang akan dibahas yaitu pemodelan

BAB II KAJIAN TEORI. dinamik, sistem linear, sistem nonlinear, titik ekuilibrium, analisis kestabilan

BIFURKASI DARI HASIL MODIFIKASI SISTEM PERSAMAAN LORENZ

BIFURKASI HOPF DALAM MODEL EPIDEMI DENGAN WAKTU TUNDAAN DISKRET

Penentuan Kestabilan Sistem Hibrid melalui Trayektorinya pada Bidang. Oleh:

BENTUK NORMAL BIFURKASI HOPF PADA SISTEM UMUM DUA DIMENSI

MODIFIKASI SISTEM PREDATOR-PREY: DINAMIKA MODEL LESLIE-GOWER DENGAN DAYA DUKUNG YANG TUMBUH LOGISTIK

ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR SKRIPSI

Penentuan Bifurkasi Hopf Pada Predator Prey

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS DINAMIK SISTEM PREDATOR-PREY MODEL LESLIE-GOWER DENGAN PEMANENAN SECARA KONSTAN TERHADAP PREDATOR

Abstrak: Makalah ini bertujuan untuk mengkaji model SIR dari penyebaran

ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR Lia Listyana 1, Dr. Hartono 2, dan Kus Prihantoso Krisnawan,M.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada bagian ini, akan dibahas system predator-prey dengan respon fungsi tak

BIFURKASI HOPF PADA SISTEM PREDATOR PREY DENGAN FUNGSI RESPON TIPE II

BIFURKASI TRANSKRITIKAL PADA SISTEM DINAMIK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BIFURKASI PITCHFORK PADA SISTEM DINAMIK DIMENSI-n SKRIPSI

SIFAT-SIFAT DINAMIK DARI MODEL INTERAKSI CINTA DENGAN MEMPERHATIKAN DAYA TARIK PASANGAN

BIFURKASI HOPF PADA MODEL SILKUS BISNIS KALDOR-KALECKI TANPA WAKTU TUNDA

BAB I PENDAHULUAN. hidup lainnya. Interaksi yang terjadi antara individu dalam satu spesies atau

PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN LOKAL PADA PERUBAHAN POPULASI PENDERITA DIABETES MELITUS

Teori Bifurkasi (3 SKS)

BAB II KAJIAN TEORI. representasi pemodelan matematika disebut sebagai model matematika. Interpretasi Solusi. Bandingkan Data

BAB II LANDASAN TEORI. selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung tujuan penulisan. Materi-materi

Karena v merupakan vektor bukan nol, maka A Iλ = 0. Dengan kata lain, Persamaan (2.2) dapat dipenuhi jika dan hanya jika,

BAB I PENDAHULUAN. disebut dengan sistem dinamik kontinu dan sistem dinamik yang. menggunakan waktu diskrit disebut dengan sistem dinamik diskrit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kestabilan model predator-prey tipe Holling II dengan faktor pemanenan.

BAB II LANDASAN TEORI. eigen dan vektor eigen, persamaan diferensial, sistem persamaan diferensial, titik

MODEL NON LINEAR PENYAKIT DIABETES. Aminah Ekawati 1 dan Lina Aryati 2 ABSTRAK ABSTRACT

BIFURKASI SADDLE-NODE PADA SISTEM INTERAKSI NONLINEAR SEPASANG OSILATOR TANPA PERTURBASI

BAB II LANDASAN TEORI

Penerapan Teknik Serangga Steril Dengan Model Logistik. Dalam Pemberantasan Nyamuk Aedes Aegypti. Nida Sri Utami

Analisis Kestabilan Global Model Epidemik SIRS menggunakan Fungsi Lyapunov

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSPECTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Model Matematika SIV Untuk Penyebaran Virus Tungro Pada Tanaman Padi

ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR

Simulasi Model Mangsa Pemangsa Di Wilayah yang Dilindungi untuk Kasus Pemangsa Tergantung Sebagian pada Mangsa

ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR

BAB II LANDASAN TEORI. dalam penulisan skripsi ini. Teori-teori yang digunakan berupa definisi-definisi serta

Penerapan Metode Multiple Scales untuk Masalah Galloping pada DuaSpans Kabel Transmisi

T 3 Model Dinamika Sel Tumor Dengan Terapi Pengobatan Menggunakan Virus Oncolytic

ANALISIS KESTABILAN SISTEM GERAK PESAWAT TERBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE NILAI EIGEN DAN ROUTH - HURWITZ (*) ABSTRAK

Analisis Kestabilan dan Bifurkasi Solusi Sistem Autoparametrik dengan Osilator Tipe Rayleigh

METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN NILAI BATAS PADA PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL NONLINEAR ABSTRACT

ANALISIS KESTABILAN MODEL DINAMIKA PENYEBARAN PENYAKIT FLU BURUNG

Mursyidah Pratiwi, Yuni Yulida*, Faisal Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat *

OBSERVER UNTUK SISTEM KONTROL LINIER KONTINU

PERBANDINGAN SOLUSI MODEL GERAK ROKET DENGAN METODE RUNGE-KUTTA DAN ADAM- BASHFORD

PEMODELAN MATEMATIKA PENYEBARAN PENYAKIT VIRUS EBOLA DAN ANALISIS PENGARUH PARAMETER LAJU TRANSMISI TERHADAP PERILAKU DINAMISNYA TUGAS AKHIR SKRIPSI

ANALISIS KESTABILAN DAN PROSES MARKOV MODEL PENYEBARAN PENYAKIT EBOLA

BARISAN HINGGA BIFURKASI PERIOD-DOUBLING PADA INTERAKSI NONLINEAR SEPASANG OSILATOR TESIS. Karya Tulis sebagai Salah Satu Syarat

II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh:

ANALISIS STABILITAS SISTEM DINAMIK UNTUK MODEL MATEMATIKA EPIDEMIOLOGI TIPE-SIR (SUSCEPTIBLES, INFECTION, RECOVER)

Bab II Teori Pendukung

Syarat Cukup Osilasi Persamaan Diferensial Linier Homogen Orde Dua Dengan Redaman

MODEL DINAMIKA CINTA DENGAN MEMPERHATIKAN DAYA TARIK PASANGAN

Eksistensi dan Kestabilan Model SIR dengan Nonlinear Insidence Rate

Jurnal Euclid, vol.3, No.2, p.501 MODEL MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI MANUSIA

Analisis Bifurkasi Pitchfork pada Sistem Interaksi Non Linier Sepasang Osilator Melalui Metode Menifold Center

MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI

BAB 3 DINAMIKA STRUKTUR

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI TUGAS AKHIR

ANALISA KESTABILAN PERSAMAAN GERAK ROKET TIGA DIMENSI TIPE RKX- 200 LAPAN DAN SIMULASINYA

BIFURKASI PADA MODEL SUSCEPTIBLE INFECTED RECOVERED (SIR) DENGAN WAKTU TUNDA DAN LAJU PENULARAN BILINEAR SKRIPSI

SOLUSI PERIODIK TUNGGAL SUATU PERSAMAAN RAYLEIGH. Jurusan Matematika FMIPA UT ABSTRAK

PERILAKU TEGANGAN SISTEM EKSITASI GENERATOR DENGAN METODA PENEMPATAN KUTUB DALAM DOMAIN WAKTU

BAB II LANDASAN TEORI

MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL PADA INTERAKSI DUA POPULASI

STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER DENGAN PENEMPATAN NILAI EIGEN

ANALISIS STABILITAS PENYEBARAN VIRUS EBOLA PADA MANUSIA

BAB 4 MODEL DINAMIKA NEURON FITZHUGH-NAGUMO

BAB II KAJIAN TEORI. digunakan pada bab pembahasan. Teori-teori ini digunakan sebagai bahan acuan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Asumsi yang digunakan dalam sistem mangsa-pemangsa. Dimisalkan suatu habitat dimana spesies mangsa dan pemangsa hidup

PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS STABILITAS DARI PENYEBARAN PENYAKIT FLU BURUNG

Oleh Nara Riatul Kasanah Dosen Pembimbing Drs. Sri Suprapti H., M.Si

II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Persamaan Diferensial Definisi 1 [Sistem Persamaan Diferensial Linear (SPDL)]

BIFURKASI HOPF MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA NI NYOMAN SURYANI

Unnes Journal of Mathematics SOLUSI SISTEM OSILASI DUA DERAJAT KEBEBASAN PADA RANGKAIAN PEGAS GANDENG DENGAN PEREDAM DAN GAYA LUAR

Kestabilan Titik Ekuilibrium Model SIS dengan Pertumbuhan Logistik dan Migrasi

BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sistem dinamik adalah sistem yang berubah dari waktu ke waktu (Farlow,et al.,

Simulasi Kestabilan Model Predator Prey Tipe Holling II dengan Faktor Pemanenan

BAB I DASAR-DASAR PEMODELAN MATEMATIKA DENGAN PERSAMAAN DIFERENSIAL

BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU

BIFURKASI HOPF PADA MODIFIKASI MODEL PREDATOR-PREY LESLIE GOWER DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II

MODEL PELATIHAN ULANG (RETRAINING) PEKERJA PADA SUATU PERUSAHAAN BERDASARKAN PENILAIAN REKAN KERJA

BAB 4 MODEL RUANG KEADAAN (STATE SPACE)

Kestabilan Model SIRS dengan Pertumbuhan Logistik dan Non-monotone Incidence Rate

SISTEM DINAMIK LINEAR KOEFISIEN KONSTAN. Caturiyati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

I. PENDAHULUAN. dan kotoran manusia atau kotoran binatang. Semua polutan tersebut masuk. ke dalam sungai dan langsung tercampur dengan air sungai.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ANALISIS MODEL DENYUT JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN TEORI BIFURKASI

Transkripsi:

BIFURKASI PITCHFORK SUPERKRITIKAL PADA SISTEM FLUTTER T - 2 Andini Putri Ariyani 1, Kus Prihantoso Krisnawan 2 Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY 1 e-mail:andiniputri_ariyani@yahoo.com, 2 e-mail: kuspk@uny.ac.id. Abstrak Pada makalah ini dibahas mengenai bifurkasi 1-parameter yang terjadi pada sistem flutter. Flutter merupakan fenomena ketidakstabilan dinamik suatu sistem yang diakibatkan oleh interaksi antara unsur inersia, redaman, dan fleksibilitas struktur, serta beban-beban aerodinamika yang bekerja pada struktur. Sistem flutter berbentuk sistem persamaan diferensial orde 2 dengan dua persamaan. Transformasi dilakukan untuk mereduksi orde sehingga diperoleh empat persamaan diferensial orde pertama. Analisis terhadap sistem flutter hasil transformasi dilakukan dengan melakukan reduksi dimensi sistem menggunakan teorema Manifold Center. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada sistem flutter terjadi bifurkasi pitchfork superkritikal. Hal ini berakibat titik kesetimbangan sistem menjadi tidak stabil ketika dilakukan perubahan terhadap nilai parameter. Kata kunci: sistem flutter, manifold center, bifurkasi pitchfork A. PENDAHULUAN Menurut Novi Andria [6] flutter merupakan fenomena ketidakstabilan dinamik suatu sistem yang diakibatkan oleh interaksi antara unsur inersia, redaman, dan fleksibilitas struktur, serta beban-beban aerodinamika yang bekerja pada struktur. Apabila suatu struktur terkena aliran udara yang besar maka struktur tersebut akan bergetar dengan amplitudo yang meningkat. Getaran ini terjadi terus menerus sehingga struktur mengalami kegagalan. Jika fenomena ini terjadi pada pesawat terbang maka dapat dipastikan pesawat akan jatuh [3] Sebenarnya, fenomena flutter tidak pernah terjadi pada pesawat di masa masa awal diciptakannya pesawat terbang [4 ]. Hal ini dikarenakan, pada masa itu pesawat bergerak dengan kecepatan rendah dan sayap pesawat dibuat rigid, sehingga fenomena flutter tidak banyak diketahui. Namun seiring dengan perkembangan jaman, sayap pesawat dibuat lebih lentur. Hal ini dimaksudkan agar pesawat lebih ringan. Jika pesawat semakin ringan maka gerak pesawatpun menjadi lebih cepat. Namun dengan dibuatnya sayap pesawat yang lentur menyebabkan munculnya fenomena flutter ini. Penelitian terhadap fenomena flutter akan dilakukan secara matematis, yaitu dengan menganalisa model matematika dari sistem flutter pada sayap pesawat terbang. Analisis digunakan dengan menggunakan Teorema Manifold Center. Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap fenomena flutter, diantaranya adalah Yang,1995 [9] dan liu, et, al,2[5]. Yang [9], menunjukkan bahwa pada sistem flutter muncul Osilasi Limit Cycle, sedangkan Liu,et,al [5] melakukan penelitian tentang sistem flutter berdimensi 8 dan memberikan prediksi dan frekuensi dasar dari Osilasi Limit Cycle yang terjadi. Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema Penguatan Peran Matematika dan Pendidikan Matematika untuk Indonesia yang Lebih Baik" pada tanggal 9 November 213 di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Pada penelitian ini, model sistem flutter yang digunakan didasarkan pada model sistem flutter yang dinyatakan oleh Chen dan Liu[2]. Model ini terdiri dari dua persamaan diferensial orde dua. Persamaan tersebut adalah h +.25α +.1h +.2h +.1Qα =.25h +.5α +.1α + (k.4q)α + e α (1) = dengan h adalah plunge displacement of airfoil, α adalah pitch displacement of airfoil, Q adalah kecepatan udara yang tergeneralisasi, k adalah koefisien kekakuan linear, dan e > adalah koefisien kekakuan nonlinier Dalam makalahnya, Chen dan Liu menunjukkan bahwa pada saat parameter k bernilai,819668 terjadi bifurkasi Hopf superkritikal maupun subkritikal. Di dalam makalah ini, ditunjukkan bahwa pada saat k bernilai,819668 terjadi bifurkasi pitchfork superkritikal. B. PEMBAHASAN a. Transformasi Pertama Sistem (1) akan ditransformasi menjadi sistem berdimensi 4 berorde 1 dengan cara mensubstitusikan x = α, x = α, x = h, x = h, dan nilai k =,819668 ke dalam sistem (1). Kemudian dilakukan penskalaan terhadap waktu t, yaitu t = 7τ didapatkan 7 = 4(.26Q 4.819668) 1.6.8.4 16e x + x (2) 7 4(.819668.24Q).4 1.6.8 4e x Ketika nilai Q 2.27417 akan didapatkan satu titik ekuilibrium yaitu u = (,,, ), dan ketika Q > 2.27417 akan didapat tiga titik ekuilibrium yaitu: u = (,,, ), u =....,,.5Q.., dan u =,,.5Q.., Adanya perubahan banyaknya titik ekuilibrium menandakan terjadinya bifurkasi pada saat Q = 2.27417. Selanjutnya, dilakukan translasi terhadap sistem agar bifurkasi terjadi pada saat Q =. Untuk itu dimisalkan Q = Q + 2.27417, kemudian nilai ini disubstitusikan ke persamaan (2) sehingga didapat 7 =.819668 1.6.8.4 1.4Q x + x 16e x (3) 7 1.6219336.4 1.6.8 4e x.96q x b. Nilai Eigen dan Vektor Eigen Matriks Jacobian dari sistem (3) pada titik ekuilibrium (,,, ) pada saat Q = adalah 7 J =.819668 1.6.8.4 7 1.6219336.4 1.6.8 Matriks tersebut mempunyai nilai eigen, 2.37855761,.172119 + 2.56751154i, dan.172119 2.56751154i dengan vektor eigen yang bersesuaian adalah 5.12347538 V =, 5.1937154 1.41732747 V =.48159929, 1.16619971.3962676 Yogyakarta, 9 November 213 MT - 8

PROSIDING ISBN : 978 979 16353 9 4.36674143.762139i V =.285418.1333494i, dan 1.5627994 + 1.1258989i.41341179 +.57149864i.36674143 +.762139i V =.285418 +.1333494i 1.5627994 1.1258989i.41341179.57149864i c. Transformasi Kedua Berdasarkan vektor eigen yang telah diperoleh, dibentuk matriks P yang didefinisikan sebagai berikut 5.123475386 1.417327478.76213982.3667414335 P =.4815992967.133349438.28541847 5.19371543 1.16619971 1.12589898 1.56279941.396267624.5714986458.4134117957 Selanjutnya dimisalkan x = Pu, dan dilakukan substitusi ke persamaan (3) sehingga diperoleh u = 2.3785576198 u + P.17211868 2.567511539 f(pu, Q ) (4) 2.567511539.17211868 d. Penentuan Manifold Center Definisi (Wiggins [8]) Sebuah manifold invariant dikatakan manifold center jika x = Ax + f(x, y) y = By + g(x, y) (5) Dengan (x, y) R R jika memenuhi persamaan W () = {(x, y) R R y = h(x), x < δ, h() =, Dh() = } untuk δ cukup kecil Teorema (Wiggins [8]) Terdapat sebuah manifold center C untuk system (5). Keadaan dinamik dari system (5) dapat didekati oleh manifold center berikut u = Au + fu, h(u), u R (6) Untuk u cukup kecil yang diberikan oleh vektor lapangan berdimensi-c Bukti dapat dilihat pada Carr [1] Akibat selanjutnya menyatakan secara tidak langsung bahwa keadaan dinamik dari persamaan (6) mendekati u = menentukan keadaan dinamik dari system (5) mendekati (x, y) = (,) Teorema (Wiggins[8]) i. Andaikan solisi nol dari (6) adalah stabil (stabil asimtotis)(takstabil); maka solusi nol dari system (5) juga stabil (stabil asimtotis)(takstabil). ii. Andaikan solusi nol dari persamaan (6) adalah stabil. Maka, jika x(t), y(t) adalah solusi dari system (5) terdapat solusi u(t) dari persamaan (5) sedemikian sehingga untuk t x(t) = u(t) + O(e ), y(t) = hu(t) + O(e ), dengan y adalah suatu konstanta. Bukti dapat dilihat pada Carr [1] Secara lokal ( untuk u cukup kecil), manifold center dari sistem (4) mempunyai bentuk Yogyakarta, 9 November 213 MT - 9

W () = {(u, u, u, u, Q ): u = h (u, Q ), u = h (u, Q ), u = h (u, Q ), h (,) =, h (,) =, h (,) = h (,) =, h (,) =, h (,) = u u u Sehingga u = u u = u u = u Jika dimisalkan h (u, Q ) = a u + a u Q + a Q + O u Q h (u, Q ) = b u + b u Q + b Q + O u Q h (u, Q ) = c u + c u Q + c Q + O u Q Dengan mensubstitusikan h, h, h ke persamaan (7a), (7b), (7c). selanjutnya koefisien koefisien dari Q, Q u, dan u disamakan dengan koefisien koefisien dari u, u, u pada persamaan (4) maka i. untuk koefisien Q didapatkan 2.37855762a =.17211868b + 2.567511539c = 2.567511539b +.17211868c = ii. untuk koefisien Q u didapatkan 2.37855762a + 9.671727487 =.256631831 +.17211868b + 2.567511539c = 2.27258388 2.567511539b +.17211868c = iii. untuk koefisien u didapatkan 2.37855762a =.17211868b + 2.567511539c = 2.567511539b +.17211868c = Berdasarkan hasil diatas, didapat a = a = b = b = c = c =, a = 4.66215342, b =.8853281551, dan c =.9624549328 Subtitusikan nilai nilai tersebut ke dalam persamaan h, h, h sehingga didapat u = h (u, Q ) = 4.66215342u Q + O u Q u = h (u, Q ) =.8853281551u Q + O u Q u = h (u, Q ) = 4.66215342u Q + O u Q Selanjutnya mensubstitusikan persamaan (8a), (8b), (8c) ke dalam bentuk u pada persamaan (4) didapat u = μ (Q )u μ (Q )u dengan μ (Q ) =.5465443Q (5.123475386 5.5324234Q ) μ (Q ) = 13.662613e (5.123475386 5.532523Q ) (7a) (7b) (7b) (8a) (8b) (8c) Yogyakarta, 9 November 213 MT - 1

Untuk Q =, didapat μ (Q ) = dan μ (Q ), berarti ada daerah Q R yang cukup kecil yaitu Q < δ. dengan δ adalah bilangan positif kecil sedemikian sehingga μ (Q ) Q ( δ, δ) Misal θ = μ (Q )τ = μ (Q ) dengan Q cukup kecil, maka u = du dθ dθ dτ = μ (Q ) du dθ Untuk Q cukup kecil, jika Q < maka μ (Q ) < dan μ (Q ) >. Jika Q > maka μ (Q ) > dan μ (Q ) <, dan untuk Q = didapatkan μ () = dan μ () sehingga dengan μ = ( ) = μu u (9) dan μ() = Persamaan (9) merupakan bentuk normal dari sebuah sistem yang mengalami bifurkasi pitchfork (dapat dilihat di Perko[7]). u μ Diagram Bifurkasi Pitchfork e. Interpretasi Hasil Pada sistem flutter sayap pesawat ini, variabel k adalah tingkat kekakuan linier sayap pesawat, sedangkan Q adalah kecepatan angin yang tergeneralisasi (kecepatan angin ditambah kecepatan pesawat). Untuk nilai paramater k =,819668, titik ekuilibrium u = menalami bifurkasi pitchfork superkritikal terjadi pada saat Q = 2.27417. Titik ekuilibrium u = diartikan sebagai posisi normal sayap pesawat pada saat diam. Pada saat Q < 2.27417 ( kecepatan angin ditambah dengan kecepatan pesawat kurang dari 2.27417 satuan kecepatan angin), titik ekuilibrium u = stabil sehingga dapat dimaksudkan sayap pesawat stabil ( dapat kembali ke posisi normal walaupun ada gangguan). Sedangkan jika Q > 2.27417 ( kecepatan angin ditambah dengan kecepatan pesawat lebih dari 2.27417 satuan kecepatan angin), titik ekuilibrium u = tidak stabil atau posisi sayap pesawat bukan lagi merupakan titik yang stabil. Hal ini dimaksudkan setiap kali pesawat kembali ke posisi normal akan kembali terdorong lagi menjauhi posisi normal. Hal ini akan terjadi terus menerus dan geraknya akan semakin cepat. Kondisi seperti ini yang menyebabkan sayap pesawat patah. C. SIMPULAN Berdasarkan pengaruh parameter Q menunjukkan bahwa bifurkasi pitchfork superkritikal terjadi pada sistem flutter di titik ekuilibrium u = (,,, ) yang merupakan titik asal pada saat parameter kecepatan udara tergeneralisasi (Q) bernilai 2.27417 Yogyakarta, 9 November 213 MT - 11

D. DAFTAR PUSTAKA Carr, J. 1981. Application of Center Manifold Theory. Springer-Verlag: New York, Heidelberg,Berlin. Chen, Y.M dan Liu, J.K. Supercritical as well as subcritical Hopf bifurcationin nonlinear flutter system. Jurnal Applied Mathematics and Mechanics-Engl. Ed., 28, 29(2):199126 DOI 1.17/s1483-8-27-x. FariduzzamanFluttw2d : A Software Tool For Flutter Prediction On Airplane Wings. Artikel 221 LITBANG,. (22). Hlm. 147-158. Hollmann, M.1991. Modern Aerodinamic Flutter Analisis. Building S Monterey: California. Liu L., Wong, Y.S, dan Lee, B.H.K. Application of the center manifoldtheory in nonlinear aeroelasticity. J Sound Vib, 2.234(4):641659 Novi Andria. Analisis flutter sirip roket balistik rx-42 dengan Melibatkan modus gerak kaku struktur roket. Jurnal Universitas Indonesia, 211. Hlm. 17-114. Perko, Lawrence. 2. Differential Equations and Dynamical Sistem. Springer-Verlag: New York. Wiggins, S.199. Intoduction to Applied Nonlinear Dynamical System and Chaos. Springer-Verlag: New York. Yang, Y.R. KBM method of analyzing limit cycle flutter of a wing an external store and comparison with wind tunnel test. J Sound Vib, 1995, 187(2)27128. Yogyakarta, 9 November 213 MT - 12