BAB V HASIL DAN ANALISA

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS AKHIR ANALISIS PENINGKATAN EFISIENSI LINTASAN PADA LINE PRODUKSI SHORT SIZE V-BELT TIPE A-JGG-B SIZE 60 DI PT.

ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Tugas Akhir Latar Belakang Masalah. Pada produksi yang mempunyai tipe produksi massal, yang melibatkan

ANALISIS KESEIMBANGAN LINI PADA LINTASAN TRANSMISI MF06 DENGAN PENERAPAN METODE RANKED POSITIONAL WEIGHT

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Lingkungan perusahaan bertipe repetitive manufacturing dengan produksi

BAB V ANALISA HASIL Kondisi Keseimbangan Lintasan Produksi Aktual

BAB I PENDAHULUAN. dan juga hasil sampingannya, seperti limbah, informasi, dan sebagainya.

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan budaya dan teknologi akan selalu memberikan dorongan kepada

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISIS HASIL

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Pembuatan Diagram Sebab Akibat. Diagram sebab akibat memperlihatkan hubungan antara permasalahan

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. work center. Waktu yang diijinkan untuk menyelesaikan elemen pekerjaan itu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap perusahaan akan dihadapkan dengan era persaingan pasar global,

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diperoleh dari hasil kerja praktek di industri otomotif sunter yaitu data cycle time

Seminar Nasional IENACO ISSN PENGELOMPOKAN STASIUN KERJA UNTUK MENYEIMBANGKAN BEBAN KERJA DENGAN METODE LINE BALANCING

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan kedalam beberapa pusatpusat

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB VII SIMULASI CONVEYOR

MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Hasil Pengolahan Data Analisa Histogram. Apabila dilihat dari hasil pengolahan data, berdasarkan histogram

UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PADA PLONG MANUAL DAN GLUEING MANUAL DI PT. X

DAFTAR LAMPIRAN. viii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan yang paling pokok

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Volume Penjualan Motor dan Mobil di Indonesia Tahun

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

Line Balancing (Keseimbangan Lini Produksi)

BAB V ANALISA. Value added time Leadtime. = 3,22jam. 30,97 jam x 100% = 10,4%

ERGONOMI & APK - I KULIAH 4: PETA KERJA

BAB I PENDAHULUAN. dalam skala nasional maupun internasional, sektor industri manufaktur dan jasa

TUGAS AKHIR ANALISA KESEIMBANGAN LINI UNTUK TARGET PRODUKSI AIR FILTER. (STUDI KASUS PT. SELAMAT SEMPURNA Tbk)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

METODE REGION APPROACH UNTUK KESEIMBANGAN LINTASAN

BAB I PENDAHULUAN. mesin dalam melakukan kegiatan produksi akan mempengaruhi jumlah produk di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

Analisis Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Dalam Upaya Peningkatan Produktifitas ( Topik Study Kasus pada Perakitan Rangka Kursi Rotan )


III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut

BAB I PENDAHULUAN. internasional semakain meningkat. Hal tersebut menuntut perusahaan-perusahaan

ANALISA PENYEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI MENGGUNAKAN THEORY OF CONSTRAINTS DAN TABU SEARCH

PERANCANGAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE RANKED POSITIONAL WEIGHTS DAN PENDEKATAN SIMULASI

VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM. A. Pengertian Toyota Production System (TPS)

Usulan Perbaikan Performansi Lini Produksi PT. XYZ

BAB V ANALISA DAN HASIL. Dalam bab ini akan dibahas tentang analisis hasil pengamatan proses yang

BAB 1 PENDAHULUAN. rupa sehingga tidak ada waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia sehingga dapat

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini

BAB V HASIL DAN ANALISA DATA

BAB V ANALISA HASIL. mengetahui tingkat efektivitas penggunaan mesin AU L302,dari data hasil. Availability Ratio (%)

TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LINE BALANCING UNTUK MERENCANAKAN KESEIMBANGAN LINE PRODUKSI PADA LINE SEWING 10 PADA PERAKITAN SEPATU NIKE

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB V ANALISA PEMBAHASAN. metode peta kendali P di atas, maka diperoleh hasil dari data yang telah diproses

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. Flow diagram pemecahan masalah

BAB 9 MANAJEMEN OPERASIONAL SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME-JIT)

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

USULAN PERBAIKAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI ALUMINIUM PROFIL 4404 MENGGUNAKAN METODE DMAIC

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... SURAT KETERANGAN PENELITIAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...

Penelitian Ilmiah R.Bima Sakti b

PETA-PETA KERJA. Kata kunci : Peta-Peta Kerja, Proses Operasi, Kotak Kado

BAB V HASIL ANALISA DATA

BAB I PENDAHULUAN I-1

PETA PETA KERJA. Nurjannah

PENENTUAN KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HELGESON-BIRNIE

BAB I PENDAHULUAN. diatur dengan baik, maka dapat menyebabkan terjadinya penumpukan atau

Analisa Tata Letak Pabrik dan Perhitungan Waktu Baku Pabrik Helmet

Analisis Operasional (Peta Kerja) ANALISA DAN PENGUKURAN KERJA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan industri manufaktur yang begitu pesat menuntut perusahaan

DAFTAR ISI ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN Latar Belakang Penelitian..

BAB I PENDAHULUAN. (Factory) dan tahun 2007 (Workshop) silam. Perusahaan ini memproduksi sepatu untuk

MEMPELAJARI KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN CABIN TIPE SL PADA BAGIAN WELLDING DI PT. KRAMA YUDHA RATU MOTOR

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan bisnis yang semakin kompetitif membuat perusahaan

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS

ANALISIS ASSEMBLY LINE BALANCING PRODUK HEAD LAMP TYPE K59A DENGAN PENDEKATAN METODE HELGESON-BIRNIE Studi Kasus PT. Indonesia Stanley electric

ERGONOMI & APK - I KULIAH 7: PETA KERJA (LANJUTAN)

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

USULAN MEMINIMASI WASTE PADA PROSES PRODUKSI DENGAN KONSEP LEAN MANUFACTURING DI CV.X*

ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI MESIN RING FRAME DENGAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI PT INDORAMA SYNTHETICS Tbk

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

Transkripsi:

BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Hasil Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada pengolahan data pada bab sebelumnya, maka hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 5.1.1 Waktu Baku pada Proses Perakitan V-Belt tipe A-JGG-B size 60 Hasil perhitungan waktu baku pada proses perakitan produk V-Belt tipe A- JGG-B size 60 adalah sebagai berikut: Universitas Mercu Buana 102

Tabel 5.1 Waktu baku proses perakitan V-Belt tipe A-JGG-B size 60 operasi Uraian operasi Waktu Baku (detik) 1 Pemotongan UCR 2 Mengolesi UCR dengan Tuluence 3 4 5 6 7 8 9 Sambung ke dua ujung UCR pada tempat penahan press Membuka pengunci tempat penahan press Mengolesi Slab dengan Zinc Stearate dan pasang pengunci Masukkan Slab ke dalam mesin Mandrel Expand dan mengolesi slab dengan New Mold Pasang dan menggulung slab dengan Cord Slab di siwir-siwir serta pengolesan Toluence dan lem 10.87 10.85 37.86 9.75 29.60 29.36 17.54 163.05 Pemotongan cord dan press roll 41.57 10 Cores di siwir-siwir dan pisahkan mimi cores 11 Menggantungkan cores yang kualitas baik di hanger 12 Pembungkusan cores 13 Mengolesi lem dan menggantungkan cores ke hanger 231.85 17.25 11.72 14.28 Universitas Mercu Buana 103

14 Masukkan dan pasang packing cup cores dengan Ring Mold Pasang bahan, Brand, Sleeve, Upper, 15 Baut dan Lepas Brand dan Sleeve pada ring mold 16 Pemasakan cores pada bak kettle dengan suhu mencapai 165 o C 17 Masuk ring mold ke dalam bak air Cooling 18 Bongkar ring mold satu per satu sambil menaruh hasil cores di hanger 19 Packing cup dan tulis laporan Ʃ 33.62 133.52 151.57 73.87 55.38 21.58 1095.12 (sumber : Pengolahan Data 2012) Universitas Mercu Buana 104

5.1.2 Stasiun Kerja (Lintasan Perakitan) 10.87 10.85 37.86 9.75 1 2 3 4 29.36 17.54 163.05 41.57 SK 1 5 6 7 8 9 29.60 SK 2 231.85 17.25 10 11 19 18 17 16 15 14 13 12 21.58 55.38 73.87 151.57 133.52 33.62 14.28 11.72 SK 4 SK 3 Gambar 5.1 Stasiun kerja V-Belt tipe A-JGG-B pada Kondisi awal Universitas Mercu Buana 105

10.87 10.85 37.86 9.75 1 2 3 4 SK 2 29.36 17.54 163.05 41.57 SK 1 5 6 7 8 9 29.60 17.25 231.85 10 11 SK 3 19 18 17 16 15 14 13 12 21.58 55.38 73.87 151.57 133.52 33.62 14.28 11.72 SK 6 SK 5 SK 4 Gambar 5.2 Usulan perbaikan Stasiun kerja V-Belt tipe A-JGG-B Universitas Mercu Buana 106

5.1.3 Diagram Batang Yamazumi Pada Stasiun Kerja Hasil pengamatan bab sebelumnya, diagram batang yamazumi pada stasiun kerja kondisi awal dapat dilihat pada gambar 4.8 dan diagram yamazumi pada kondisi usulan perbaikan pada gambar 4.12. Tabel 5.2 Hasil Diagram yamazumi stasiun kerja pada kondisi awal dan usulan perbaikan Waktu Baku (Detik/Unit) Stasiun Kerja 4 Stasiun kerja 6 Stasiun kerja 1 98.93 98.93 2 500.62 240 3 26 200.62 4 469.54 86.62 5 240 6 229.54 5.1.4 Diagram Sebab Akibat (FishBone) Setelah melakukan observasi ke lapangan serta wawancara secara langsung, maka diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Delay pada line Splicer dan Building sehingga mengakibatkan penumpukan material karena menunggu terselesainya pekerjaan pada proses sebelumnya. Dengan menggunakan diagram fishbone atau diagram sebab akibat kita dapat mengetahui penelusuran tersebut. Diagram sebab akibat dapat dilihat dibawah ini. Universitas Mercu Buana 107

Metode Penyeimbangan beban kerja Operator tidak sesuai standar Penjadwalan Produksi tidak seimbang Waktu Menunggu (Delay) Bekerja dengan Cepat Keterampilannya memenuhi standar Manusia Gambar 5.3 Diagram Sebab Akibat Waktu Menunggu (Delay) Adapun penjelasan dari faktor-faktor penyebab terjadinya waktu menunggu (Delay) pada line splicer dan building yaitu: 1. Faktor Metode Tidak seimbangnya beban kerja setiap operator didalam stasiun kerja yang melebihi waktu siklus yang telah ditentukan. Penjadwalan produksi tidak seimbang dikarenakan dalam satu hari memproduksi V-Belt dengan berbagai macam tipe dan ukuran. 2. Faktor Manusia Pada stasiun kerja Slicer operator bekerja dengan cepat sehingga terjadi penumpukan karena menunggu pengerjaan pada stasiun Building belum terselesaikan. Universitas Mercu Buana 108

Operator pada stasiun kerja Splicer memiliki keterampilan yang baik sehingga bekerja dengan cepat. 5.1.5 Efisiensi Stasiun Kerja Pada Kondisi Awal dan pada Usulan Perbaikan Hasil perhitungan efisiensi stasiun kerja pada kondisi awal dan pada usulan perbaikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 5.3 Efisiensi stasiun kerja pada kondisi awal dan usulan perbaikan Efisiensi Stasiun Kerja Stasiun Kerja Kondisi Awal Kondisi Perbaikan 1 41.22% 60.76% 2 20.86% 85.26% 3 10.83% 96.60% 4 19.56% 87.66% 5 93.93% 6 33.32% Total Efisiensi Lintasan 9.25% 76.05% (Sumber : Hasil pengolahan data 2012) 5.1.6 Waktu Menganggur pada Kondisi Awal dan Usulan Perbaikan Hasil perhitungan waktu menganggur pada kondisi awal dan pada usulan perbaikan lintasan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Universitas Mercu Buana 109

Tabel 5.4 Waktu menganggur pada kondisi awal dan usulan perbaikan Waktu Menganggur (Detik) Stasiun Kerja Kondisi Awal Kondisi Perbaikan 1 141.07 94.17 2 260.62 35.38 3 214 8.15 4 229.54 29.61 5 14.56 6 160.04 Total Waktu Menganggur 845.23 344.91 (Sumber : Hasil pengolahan data 2012) 5.2 Analisa Setelah mendapatkan hasil dari pengolahan data maka selanjutnya adalah menganalisa hasil-hasil tersebut. Dan analisa dari hasil diatas adalah sebagai berikut: 5.2.1 Analisa Stasiun Kerja (Lintas Perakitan) Pada lintas perakitan terlihat perubahan, pada kondisi awal stasiun kerja ada 4 sedangkan pada kondisi usulan menjadi 6 stasiun kerja dan terdapat penggabungan beberapa kegiatan elemen proses perakitan ke dalam beberapa stasiun kerja. Penggabungan dan pemisahan beberapa operasi dari stasiun kerja lama ke dalam stasiun baru yang terjadi pada : 1. Operasi 6 (Masukkan Slab ke dalam mesin Mandrel Expand dan mengolesi slab dengan New Mold) dan 7 (Pasang dan menggulung slab dengan Cord) menjadi Universitas Mercu Buana 110

stasiun kerja 1 pada kondisi Usulan perbaikan, dengan maksud untuk memberikan beban kerja pada stasiun kerja 1 pada kondisi awal agar mendekati dengan waktu siklus karena untuk mengefisiensikan lintasan stasiun kerja dan meminimalkan waktu menganggur. 2. Operasi 8 (Slab di siwir-siwir serta pengolesan Toluence dan lem) dan 9 (Pemotongan cord dan press roll) digabungkan menjadi stasiun kerja 2 pada kondisi usulan perbaikan dikarenakan dapat menyeimbangkan waktu baku dengan memperhatikan waktu siklus agar tidak terjadi over load dan meminimalkan waktu menganggur. 3. Operasi 10 (Cores di siwir-siwir dan pisahkan mimi cores) menjadi stasiun kerja 3 pada kondisi usulan dan dipisahkan dengan operasi 9 (Pemotongan cord dan press roll) karena operasi 10 membutuhkan waktu baku yang lama sehingga mendekati waktu siklus yang ditentukan agar tidak terjadi over load dan bisa meminimalkan waktu menganggur. 4. Operasi 11(Menggantungkan cores yang kualitas baik di hanger), 14 (Masukkan dan pasang packing cup cores dengan Ring Mold) dan 15 (Pasang bahan, Brand, Sleeve, Upper, Baut dan Lepas Brand dan Sleeve pada ring mold) pada kondisi usulan digabungkan dengan operasi 12 (Pembungkusan cores) dan 13 (Mengolesi lem dan menggantungkan cores ke hanger) menjadi stasiun kerja 4 dikarenakan untuk menyeimbangkan waktu baku dengan waktu siklus sehingga mengefisiensikan lintasan stasiun kerja dan meminimalkan waktu menganggur. Universitas Mercu Buana 111

5. Operasi 16 (Pemasakan cores pada bak kettle dengan suhu mencapai 165 o C) dan operasi 17 (Masuk ring mold ke dalam bak air Cooling) digabungkan menjadi stasiun kerja 5 pada kondisi usulan dikarenakan untuk menyeimbangkan waktu baku dengan memperhatikan waktu siklus agar tidak terjadi over load dan meminimalkan waktu menganggur. 6. Operasi 18 (Bongkar ring mold satu per satu sambil menaruh hasil cores di hanger) dan operasi 19 (Packing cup dan tulis laporan) digabungkan menjadi stasiun kerja 6 pada kondisi usulan dimaksud untuk mengefesiensikan lintasan dan mengurangi waktu menganggur. 5.2.2 Analisa Diagram Batang Yamazumi pada Stasiun Kerja Pada kondisi awal hasil diagram yamazumi menunjukkan bahwa stasiun kerja 2 dan 4 memiliki masing-masing waktu baku 500.62 dan 469.54 padahal takt time yang telah ditentukan hanya 240 detik sehingga stasiun kerja ini melebihi batas pengerjaan pada takt time yang ditentukan yang mengakibatkan terjadinya over load. Sedangkan stasiun kerja 1 dan 3 memiliki waktu baku 98.93 dan 26 detik yang membutuhkan beban agar mendekati takt time biar tidak mengakibatkan waktu menunggu. Maka pada saat kondisi usulan, stasiun kerja 2 memberikan beban ke stasiun kerja 3 tambahan agar memenuhi takt time yang ditentukan, tapi setelah diberikan beban kepada stasiun kerja 3 ternyata masih melebihi batas takt time maka stasiun Universitas Mercu Buana 112

kerja 3 memberikan beban ke stasiun kerja 4, pada kondisi awal stasiun kerja 3 memiliki waktu baku 26.0 maka pada usulan stasiun kerja diganti menjadi stasiun kerja 4 dan ditambahkan beban dari stasiun kerja 3. Pada kondisi awal stasiun kerja 4 mengalami over load, dalam kondisi usulan diganti menjadi stasiun 5 dan memberikan beban kepada stasiun kerja tambahan yaitu stasiun kerja 6. 5.2.3 Faktor-faktor Penanggulangan Masalah Langkah langkah yang di ambil untuk penanggulangan masalah adalah dengan menggunakan metode 5W + 1H. Metode ini merupakan langkah-langkah atau tindakkan-tindakkan untuk menghindari terjadinya waktu delay. Berikut ini adalah rencana perbaikan yang ditemukan dalam kegiatan proses produksi pada lintasan Splicer dan Building Machine dapat dilihat pada Tabel 5.4 di bawah ini. Universitas Mercu Buana 113

Tabel 5.5 Faktor-faktor penanggulangan masalah Penyebab What Why Who Where When How material Bahan UCR - Menunggu terselesainya Operator Building Oktober- - Sebaiknya setiap mesin menumpuk yang sudah pekerjaan selanjutnya dan mesin Machine November memproduksi V-Belt dengan tipe dipotong - Operator pada bagian 2011 yang sama dan ukuran bisa berbeda pada proses stasiun Splicer bekerja agar tidak terjadi delay karena Splicer menuju proses Building dengan cepat. - Dalam proses produksinya tidak memperlakukan waktu standar yang ditentukan menunggu proses produksi selanjutnya yang masih belum selesai. - Operator bekerja harus memperhatikan waktu standar setiap operasi. Tidak Beban kerja - Tidak seimbangnya Mesin Building Oktober- - Sebaiknya Pembagian setiap beban seimbangnya para operator pembagian beban kerja Dan machine November kerja para operator harus beban kerja tidak bahkan stasiun Building operator dan Curing 2011 dipertimbangkan dengan batas operator seimbang dan Curing melebihi machine kemampuan dan tingkat waktu terutama batas waktu siklus yang siklus yang disesuaikan. stasiun kerja ditentukan. - Memperhatikan jumlah operator Building dan - Minimnya jumlah setiap stasiun kerja terutama curing operator pada stasiun Building dan curing yang building dan curing. membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama. Universitas Mercu Buana 114

5.2.4 Analisa Efisiensi Lintasan Lintasan perakitan produk V-Belt tipe A-JGG-B size 60 pada kondisi awal 4 stasiun kerja memiliki efisiensi yang tidak merata pada masing-masing stasiun kerjanya. Bahkan terdapat beberapa stasiun kerja dengan efisiensi yang sangat kecil, pada stasiun kerja 3 memiliki efisiensi stasiun kerja sebesar 10.83 % dan stasiun kerja 4 sebesar 19.56%. Efisiensi pada masing-masing stasiun kerja pada kondisi awal dapat dilihat pada tabel 5.3 dan dengan total efisiensi lintasan total pada kondisi awal sebesar 9.25%. Setelah dilakukan usulan perbaikan, maka Lintasan perakitan produk V-Belt tipe A-JGG-B size 60 menjadi 6 stasiun kerja dikarenakan untuk mengefesiensikan lintasan dan mengefektifkan waktu baku setiap stasiun kerja agar tidak melebigi batas waktu siklus sebesar 26 detik. Dan total efisiensi lintasan kondisi usulan sebesar 76.05 % pada usulan perbaikan lintasan. Untuk mengetahui efisiensi masing-masing stasiun kerja pada usulan perbaikan lintasan dapat dilihat pada tabel 5.3. 5.2.5 Analisa Waktu Menganggur Operator Pada kondisi awal lintasan perkitan total waktu menganggur adalah sebesar 845.23 detik, dengan kata lain total waktu menganggur pada lintasan tersebut untuk menghasilkan satu unit produk adalah sebesar 845.23 detik. dan setelah dilakukan usulan perbaikan maka total waktu menganggur pada lintasan perakitan menjadi 344.91 detik. Sehingga dengan menggunakan usulan perbaikan lintasan perakitan Universitas Mercu Buana 115

maka total waktu menganggur dapat menurun sebesar 500.32 detik. Dan waktu menganggur setiap stasiun kerja pada kondisi awal maupun kondisi usulan perbaikan dapat dilihat pada tabel 5.4. 5.2.6 Perbandingan Kondisi Lintasan Antara Kondisi Awal dan Usulan Perbaikan Jumlah Stasiun kerja pada kondisi awal ada 4 sedangkan pada kondisi usulan menjadi 6 karena beberapa stasiun kerja ada yang mengalami over load atau melebihi beban kerja pada waktu siklus yang ditentukan maka penulis menugaskan untuk melebihi jumlah stasiun kerja. Efisiensi lintasan total pada kondisi awal sebesar 9.25% dan efisiensi lintasan total kondisi usulan perbaikan sebesar 76.05%, maka akan nampak adanya kenaikan efisiensi sebesar 66.8%. Total waktu menganggur pada kondisi awal perakitan sebesar 845.23 detik dan total waktu menganggur pada usulan perbaikan lintasan adalah sebesar 344.91 detik, sehingga dapat mengurangi waktu menganggur operator sebesar 500.32 detik. Universitas Mercu Buana 116

Universitas Mercu Buana 117

Universitas Mercu Buana 118