MODEL MATEMATIKA SISTEM PERMUKAAN ZAT CAIR

dokumen-dokumen yang mirip
SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI

Bab IV. Pemodelan, Pengujian dan Analisa. Sistem Steel Ball Magnetic Levitation

BENTUK GELOMBANG AC SINUSOIDAL

Garis alir pada fluida mengalir terdapat dua jenis, yaitu:

A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan

BAB III PEMODELAN SISTEM DINAMIK PLANT. terbuat dari acrylic tembus pandang. Saluran masukan udara panas ditandai dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGGUNAAN METODE HOMOTOPI PADA MASALAH PERAMBATAN GELOMBANG INTERFACIAL

Hubungan Antara Turunan Parsial dan Kekontinuan Pada Fungsi Dua Peubah

LEMBAR KERJA SISWA 1. : Menggunakan Konsep Limit Fungsi Dan Turunan Dalam Pemecahan Masalah

III HASIL DAN PEMBAHASAN

Turunan Fungsi. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi

I - 1 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

1. Penyearah 1 Fasa Gelombang Penuh Terkontrol Beban R...1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISIS HASIL PENGUKURAN

Getaran adalah gerakan bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu. Getaran berhubungan dengan gerak osilasi benda dan gaya yang berhubungan

MODEL MATEMATIKA WAKTU PENGOSONGAN TANGKI AIR

Simulasi dan Analisis Kinerja Prediktor Smith pada Kontrol Proses yang Disertai Tundaan Waktu

Dinamika 3 TIM FISIKA FTP UB. Fisika-TEP FTP UB 10/16/2013. Contoh PUSAT MASSA. Titik pusat massa / centroid suatu benda ditentukan dengan rumus

GETARAN PEGAS SERI-PARALEL

TERMODINAMIKA TEKNIK II

Gerak Harmonik Sederhana Pada Ayunan

4.1 Konsep Turunan. lim. m PQ Turunan di satu titik. Pendahuluan ( dua masalah dalam satu tema )

MODUL FISIKA SMA IPA Kelas 11

PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

By. Risa Farrid Christianti, S.T.,M.T.

BAB 3 ANALISIS DAN SIMULASI MODEL HODGKIN-HUXLEY

BAHASAN ALGORITME ARITMETIK GF(3 ) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam mengonstruksi field GF(3 )

BAB II Model Aliran Multifasa Dalam Pipa

BAB III ANALISA TEORETIK

Perhitungan Tahanan Kapal dengan Metode Froude

Penyelesaian Model Matematika Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi dan Penafsirannya

BAB IV PERHITUNGAN INSTALASI POMPA HYDRANT. Massa jenis cairan : 1 kg/liter. Kapasitas : liter/menit = (1250 gpm) Kondisi kerja : Tidak kontinyu

4. TURUNAN. MA1114 Kalkulus I 1

GERAK SATU DIMENSI. Sugiyanto, Wahyu Hardyanto, Isa Akhlis

LAMPIRAN B PERHITUNGAN

1 1. POLA RADIASI. P r Dengan : = ½ (1) E = (resultan dari magnitude medan listrik) : komponen medan listrik. : komponen medan listrik

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR

MODUL PERTEMUAN KE 6 MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN

TURUNAN FUNGSI. turun pada interval 1. x, maka nilai ab... 5

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2013 TINGKAT PROPINSI

II LANDASAN TEORI 2.1 Persamaan Dasar Fluida

PEMOTONGAN PADA DUA HARGA TEGANGAN BERBEDA

PENENTUAN e/m Kusnanto Mukti W/ M Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta

ANALISIS ANTRIAN TIPE M/M/c DENGAN SISTEM PELAYANAN FASE CEPAT DAN FASE LAMBAT

Sub Kompetensi. Bab III HIDROLIKA. Analisis Hidraulika. Saluran. Aliran Permukaan Bebas. Aliran Permukaan Tertekan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II METODOLOGI PENELITIAN

SOLUSI NUMERIK PERSAMAAN DIFUSI ANISOTROPIK

Perancangan Sistem Tracking Quadrotor untuk Sebuah Target Bergerak di Darat Menggunakan Sistem Fuzzy

BAB I PENDAHULUAN. segi kuantitas dan kualitasnya. Penambahan jumlah konsumen yang tidak di ikuti

USAHA DAN ENERGI DALAM ELEKTROSTATIKA

Persamaan Schrödinger dalam Matriks dan Uraian Fungsi Basis

Rangkuman Materi dan Soal-soal

Definisi 3.3: RUANG SAMPEL KONTINU Ruang sampel kontinu adalah ruang sampel yang anggotanya merupakan interval pada garis bilangan real.

ANALISA PENGGUNAAN GENEATOR INDUKSI TIGA FASA PENGUATAN SENDIRI UNTUK SUPLAI SISTEM SATU FASA

AKAR PERSAMAAN Roots of Equations

Matematika ITB Tahun 1975

Analisis Pengaruh Pipa Kapiler yang Dililitkan pada Line Suction Terhadap Performansi Mesin Pendingin 1)

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia

Dinamika 3 TIM FISIKA FTP UB. Fisika-TEP FTP UB 10/23/2013. Contoh PUSAT MASSA. Titik pusat massa / centroid suatu benda ditentukan dengan rumus

Limit Fungsi. Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembekuan

19, 2. didefinisikan sebagai bilangan yang dapat ditulis dengan b

Studi Eksperimen Pengaruh Alur Permukaan Sirip pada Sistem Pendingin Mesin Kendaraan Bermotor

BAB II PENYEARAH DAYA

REVIEW GERAK HARMONIS SEDERHANA

RANCANGAN ALAT SISTEM PEMIPAAN DENGAN CARA TEORITIS UNTUK UJI POMPA SKALA LABORATORIUM. Oleh : Aprizal (1)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dapat dihampiri oleh:

LEMBAR SOAL UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009

MATRIKS DALAM LABORATORIUM oleh : Sugata Pikatan

Diketik ulang oleh : Copyright Bank Soal OLIMPIADE IPA, MATEMATIKA, FISIKA, BIOLOGI, KIMIA, ASTRONOMI, INFORMATIKA, dll UNTUK

MODUL 3 SISTEM KENDALI POSISI

dimana p = massa jenis zat (kg/m 3 ) m= massa zat (kg) V= Volume zat (m 3 ) Satuan massa jenis berdasarkan Sistem Internasional(SI) adalah kg/m 3

SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL (OSN) 2007 Bidang studi : FISIKA Tingkat : SMA Waktu : 4 jam

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap Final Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

PERSAMAAN GARIS SINGGUNG LINGKARAN

STATISTICS WEEK 8. By : Hanung N. Prasetyo POLTECH TELKOM/HANUNG NP

PERHITUNGAN INTEGRAL FUNGSI REAL MENGGUNAKAN TEKNIK RESIDU

MOMENTUM, IMPULS DAN TUMBUKAN

BAB III UJI STATISTIK PORTMANTEAU DALAM VERIFIKASI MODEL RUNTUN WAKTU

PENGENDALIAN MUTU PRODUKSI BERAT SEMEN PT. SEMEN PADANG DENGAN BAGAN KENDALI SHEWHART DAN ROBUST

Water Resources System

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA 2015

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Proses produksi di bidang pertanian secara umum merupakan kegiatan

12 A 13 D 14 D. Dit. h maks =? h maks = h + y maks = 9,2 + 1,8 = 11 m 15 B. A = B P.C Q dimensinya L.T -2 = (L 2.T 1 ) P.(L.

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN, VOLUME DAN KEPADATAN LALU LINTAS RUAS JALAN SILIWANGI SEMARANG

PENGUJIAN KARAKTERISTIK ALIRAN FASA TUNGGAL ALIRAN AIR VERTIKAL KE BAWAH PADA PENUKAR KALOR SALURAN ANNULAR BERCELAH SEMPIT

PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI PROSES PINJAMAN DAN ANGSURAN PINJAMAN ANGGOTA KOPERASI ( STUDI KASUS PADA KOPERASI AMANAH SEJAHTERA SEMARANG )

PENGARUH POSISI BEBAN DAN MOMEN INERSIA TERHADAP PUTARAN KRITIS PADA MODEL POROS MESIN KAPAL

Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer. FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR

PEMETAAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA PEMUKIMAN PENDUDUK DI BAWAH JARINGAN SUTT 150 KV PLN WILAYAH KALIMANTAN BARAT

Differensiasi Numerik

OPTIMISASI SISTEM TRANSPORTASI MINYAK TITIK TUANG TINGGI: STUDI KASUS LAPANGAN X

PREDIKSI DAN ANALISIS KESTABILAN GERAK LONGITUDINAL KAPAL BERSAYAP WING-IN-SURFACE EFFECT

BAB III STRATIFIED CLUSTER SAMPLING

STUDI KARAKTERISTIK PENDINGINAN MODEL SUNGKUP APWR DENGAN LAMINAR SUBCOOLED WATER FILM

Transkripsi:

MODEL MATEMATIKA SISTEM PEMUKAAN ZAT AI PENGANTA Pada bagian ini kita akan enurunkan odel ateatika siste perukaan zat cair. Dengan eperkenalkan prinsip resistansi dan kapasitansi untuk siste perukaan zat cair, eungkinkan kita untuk enggabarkan karakteristik dinaika siste dala bentuk sederana. MODEL MATEMATIKA SISTEM PEMUKAAN ZAT AI Dala analisa siste aliran zat cair, aliran zat cair dibedakan berdasarkan bilangan eynoldnya yaitu aliran lainar dan aliran turbulen. Bila bilangan eynoldnya lebi besar dari 3000 4000 aka siste aliran zat cair terasuk aliran turbulen. Siste aliran turbulen biasanya dinyatakan dengan persaaan differensial tak linier. Aliran dikatakan lainar bila bilangan eynoldnya lebi kecil dari 000. Dala kasus lainar, aliran zat cair terjadi sacara strealines tanpa turbulensi. Siste aliran lainar biasanya dinyatakan dengan persaaan differensial linier. esistansi untuk aliran zat cair dala pipa yang diubungkan pada dua tangki didefinisikan sebagai perubaan dala perbedaan tinggi (perbedaan perukaan zat cair dala dua tangki) yang diperlukan untuk ebuat satu satuan perubaan laju aliran, yang dapat diruuskan : = perubaan perbedaan perukaan, perubaan laju aliran, 3 / det Karena ubungan antara laju aliran dan perbedaan tinggi terjadi untuk aliran lainar dan aliran turbulen, aka besarnya resistansi akan kita tinjau untuk kedua keadaan aliran ini. Untuk siste perukaan zat cair dengan aliran lainar, aka ubungan antara laju aliran pada keadaan tunak dan tinggi perukaan pada keadaan tunak diberikan ole persaaan berikut : = K

Diana adala laju aliran zat cair, 3 /det, K adala koefisien /det, dan adala perukaan zat cair pada keadaan tunak. Peratikan bawa uku untuk aliran lainar analog dengan uku oloub yang enyatakan bawa arus berbanding lurus dengan beda potensial Untuk aliran lainar, besarnya resistansi l adala d l = = d esistansi aliran lainar adala konstan dan analog dengan resistansi listrik. Untuk siste perukaan zat cair dengan aliran turbulen, besarnya laju aliran pada keadaan tunak adala : = K Sedangkan besarnya resistansi turbulen adala : d t = = d Tapak bawa nilai resistansi t aliran turbulen tergantung pada laju aliran dan perukaan zat cair. Nilai t yang kecil dapat dikatakan konstan bila perubaan perukaan zat cair dan laju aliran kecil. Dengan enggunakan resistansi aliran turbulen, aka ubungan antara dan adala = t Dala beberapa kasus, nilai koefisien K yang tergantung pada koefisien aliran dan daera pengabat tidak diketaui. Maka resistansi dapat diketaui dengan ebuat kurva laju aliran versus perukaan zat cair yang didasarkan dari data percobaan dan engukur keiringan kurva pada keadaan operasi. Gabar () enunjukkan kurva laju aliran versus perukaan zat cair. Titik P pada gabar adala titik operasi keadaan tunak. Garing iring kurva di titik P eotong ordinat pada (,0). Jadi kurva eiliki keiringan.

ead Tan - f 0 P q Kecepatan aliran Keiringan = = q Tinjau keadaan operasi sekitar titik P. Anggap penyipangan kecil perukaan zat cair pada keadaan tunak sebagai dan perubaan kecil pada laju aliran sebagai q, aka : Keiringan kurva pada titik P = = = q Pendekatan linier ini didasarkan pada kenyataan bawa kurva sesunggunya tidak berbeda jau dari tangen garis jika variasi keadaan operasi tidak terlalu besar. Kapasitansi dari tangki didefinisikan sebagai besar perubaan cairan yang diperlukan untuk ebuat perubaan potensial sebesar satu satuan. (Potensial adala besaran yang enunjukkan tingkat tenaga siste) Besarnya kapasitansi diruuskan sebagai berikut : perubaan cairan yang disipan, = perubaan potensial, 3 t 3

Tinjau siste perukaan zat cair berikut ini : Katup pengontrol + q + Katup beban + q 0 diana, Kapasitansi esistansi q i q o = laju keadaan tunak (sebelu ada perubaan), 3 /det = penyipangan kecil laju aliran asuk pada keadaan tunak, 3 /det = penyipangan kecil laju aliran keluar pada keadaan tunak, 3 /det = tinggi perukaan zat cair (sebelu terjadi perubaan), = penyipangan kecil perukaan zat cair pada keadaan tunak, Jika kita asusikan bawa siste linier atau dilinierkan, aka persaaan differensial siste dapat diperole sebagai berikut : Karena aliran asuk dikurangi aliran keluar selaa selang waktu dt kecil saa dengan jula tabaan air dala tangki, aka : d = ( q q )dt i o Dari definisi resistansi, ubungan antara q o dan adala q o = Seingga persaaan differensial untuk siste ini pada nilai konstan enjadi d + = q i dt Dengan enggunakan transforasi Laplace didapatkan 4

( s ) () s = () s + l i Jika q i dipandang sebagai asukan dan adala keluaran untuk siste perukaan zat cait, aka fungsi ali siste adala i () s = () s s + Sedangkan, jika yang dipandang sebagai keluaran siste adala q o dan sebagai asukan adala q i aka fungsi ali siste adala o i () s = () s s + onto : Tinjau siste perukaan zat cair berikut ini. Siste terdiri dari dua bua tangki yang berinteraksi. + q Tangki Tangki + + + q q Persaaan dinaik siste dala bentuk persaaan differensial dapat diturunkan sebagai berikut : Persaaan untuk tangki : d dt = q q q () = () 5

Persaaan untuk tangki : = q (3) d dt q q = (4) Transforasi Laplace dan diagra blok dari persaaan () (4) adala sebagai berikut : Transforasi Laplace untuk persaaan () : ( s) = (s) + - (s) Transforasi Laplace untuk persaaan () : (s) s = ( s) (s) + - s (s) Transforasi Laplace untuk persaaan (3) : (s) = (s) (s) Transforasi Laplace untuk persaaan (4) : s = (s) + - s (s) (s) Dengan engubungkan sinyal-sinyal sebagaiana estinya, aka diagra blok total siste adala sebagai berikut (s) + - s + - (s) + - s 6

Dengan reduksi diagra blok, diagra blok total siste ini dapat disederanakan enjadi : (s) ( + + ) s + s + (s) Dengan fungsi ali siste adala : = ( s) s + ( + + ) s + LATIAN. Tinjau siste tingkat cairan berikut : + q Tangki Tangki + + + q q Pada kedudukan seibang, laju aliran asuk dan laju aliran keluar keduanya saa dengan dan laju aliran antara tangki-tangki adala nol. Perukaan zat cair dari tangki-tangki dan keduanya saa dengan. Pada t = 0 laju aliran asuk diuba diuba dari enjadi + q, diana q erupakan perubaan kecil laju aliran asuk. asil perubaan v perukaan zat cair ( dan ) dan aliran asuk (q dan q ) dianggap kecil. Kapasitansi tangki dan asing-asing adala dan. esistansi katup diantara tangki-tangki adala dan diantara katup alira keluar adala. Turunkan odel atetika untuk siste ini dala bentuk fungsi ali, jika q adala asukan dan keluaran. 7