BAB II STUDI PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER

BAB II LANDASAN TEORI

Pertemuan IX, X V. Struktur Portal

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

BATANG GANDA DENGAN PLAT KOPEL

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

v dan persamaan di C menjadi : L x L x

KINEMATIKA GERAK DALAM SATU DIMENSI

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisa Struktur Atas Jembatan Kutai Kartanegara Sebelum Mengalami Keruntuhan

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB 2 LANDASAN TEORI

Faradina GERAK LURUS BERATURAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Hitung penurunan pada akhir konsolidasi

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya

FISIKA. Kelas X GLB DAN GLBB K13 A. GERAK LURUS BERATURAN (GLB)

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks)

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus

BAB 2 LANDASAN TEORI

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu

BAB III ANALISIS INTERVENSI. Analisis intervensi dimaksudkan untuk penentuan jenis respons variabel

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) D-108

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI

BAB X GERAK LURUS. Gerak dan Gaya. Buku Pelajaran IPA SMP Kelas VII 131

PERILAKU PENGUJIAN TARIK PADA POLIMER POLISTIREN DAN POLIPROPILEN

ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI)

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA. TKS-4101: Fisika GERAKAN SATU DIMENSI. Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB

IV. METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TEORI DASAR PELAT

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Analisis Sistem Pentanahan Gardu Induk Bagan Batu Dengan Bentuk Konstruksi Grid (Kisi-Kisi)

Jurnal Bidang Teknik ENGINEERING, ISSN , Vol. 6 No. 1 April 2013 Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TEORI DASAR ANTENA

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Permasalahan Nyata Penyebaran Penyakit Tuberculosis

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

Darpublic Nopember 2013

Oleh : Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya /

GERAK LURUS BESARAN-BESARAN FISIKA PADA GERAK KECEPATAN DAN KELAJUAN PERCEPATAN GLB DAN GLBB GERAK VERTIKAL

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

IV. METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB III ANALISA MODEL ROBOT TANGGA. Metode naik tangga yang diterapkan pada model robot tugas akhir ini, yaitu

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK

(T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF

III. METODE PENELITIAN

KINEMATIKA GERAK LURUS

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

IV. METODE PENELITIAN

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES

Analisis Model dan Contoh Numerik

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

ANALISIS SAMBUNGAN SEKRUP PADA KONSTRUKSI RANGKA ATAP BAJA RINGAN MENURUT SNI 7971:2013

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

BAB 2 DASAR TEORI. Studi mengenai aspek teknis dan produksi ini sifatnya sangat strategis, sebab

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

7/1/2008. Δvx. Carilah perpindahan, kecepatan rata rata dan laju rata rata

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

ENERGI LISTRIK Tujuan : Menentukan faktor faktor yang mempengaruhi besar energi listrik

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari

FIsika KTSP & K-13 KINEMATIKA. K e l a s A. VEKTOR POSISI

Pekan #3. Osilasi. F = ma mẍ + kx = 0. (2)

BAB III METODE PENELITIAN

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH)

IR. STEVANUS ARIANTO 1

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

Transkripsi:

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Dalam menganalisa aau mendesain srukur perlu dieapkan krieria ang dapa digunakan sebagai ukuran apakah suau srukur dapa dierima unuk penggunaan ang diinginkan aau unuk maksud desain erenu. Proses perencanaan ower ang ersrukur dan sisemais sanga diperlukan unuk menghasilkan produk perencanaan ang eeki dan eisien. 2.1.1 Kekuaan dan Kekokohan Srukur harus memiliki cukup kekuaan srukural unuk dapa mendukung beban rencana erakor ang bekerja padana. Srukur dan segenap komponenna harus direncanakan sehingga penampangna mempunai kua rencana minimum sama dengan kua perlu ang dihiung berdasarkan kombinasi beban dan gaa erakor ang sesuai. Tabel 2.1 Sia Mekanis Baja Srukural Jenis baja Tegangan puus minimum, u (MPA) Tegangan leleh minimum, (MPA) Peregangan minimum ( % ) BJ 34 340 210 22 BJ 37 370 240 20 BJ 41 410 250 18 BJ 50 500 290 16 BJ 55 550 410 13 Sumber : SNI Baja-2002 II - 1

2.1.2 Kemampuan Laan ( Serviceabili ) Komponen srukur harus memenuhi kemampuan laanan pada ingka beban kerja aau mampu menjamin ercapaina perilaku srukur ang cukup baik pada sraa beban kerja. 2.1.3 Eisiensi Krieria ini mencakup ujuan desain srukur ang ekonomis. Ukuran dalam krieria ini adalah banakna maerial ang digunakan unuk memikul beban dalam ruang pada kondisi dan kendala ang dienukan. 2.1.4 Konsruksi aau Perakian Tinjauan ini sanga mempengaruhi pemilihan srukur. Krieria ini sanga luas cakupanna, ermasuk di dalamna peralaan, waku, biaa, dan manpower ang diperlukan. 2.1.5 Harga Harga merupakan krieria ang sanga pening dalam pemilihan srukur. Krieria ini idak erlepas dari eisiensi bahan dan kemudahan pelaksanaan. Srukur harus didesain secara ekonomis dan eisien sera mudah dalam pelaksanaan. 2.2. Desain Srukur Desain merupakan perhiungan seelah dilakukan analisis srukur. Srukur bangunan ower erdiri dari dua bagian aiu srukur bangunan aas dan srukur bangunan bawah. Srukur bangunan aas merupakan konsep srukur bangunan ringan dan ahan gempa. Merupakan Srukur Rangka Baja (Truss) seinggi 70 meer. Srukur bangunan bawah berupa pondasi bore pile. Ada beberapa desain perencanaan srukur baja, aiu: Desain Elasis (Elasic Design). II - 2

Pada desain srukur ini beban ang digunakan adalah beban kerja, anpa menggunakan akor beban. Sedangkan desain kekuaan penampang idak boleh melebihi egangan ijin. Prinsip desain ini diadopsi dalam desain ASD (Allowable Sress design). Desain Kekuaan Baas (Ulimae Srengh Design). - Desain Plasis (Plasic Design). Pada desain ini dianggap baja elah mencapai egangan leleh(σ ). Sedangkan beban ang digunakan adalah beban kerja dikalikan koeisien beban. Mekanisme kerunuhan srukur diandai dengan erbenukna Sendi Plasis (Plasic Hinge). - LRFD (Load and Resisance Facor Design). Merupakan desain srukur baja dengan menggunakan akor beban dan akor resisensi. Meode ini mulai diperkenalkan pada ahun 1986 dengan erbina AISC-LRFD. Para ahli berpendapa bahwa desain ini lebih rasional karena menggunakan angka keamanan ang berbeda unuk seiap macam beban, dan kekuaan penampang ang berbeda unuk seiap kondisi pembebanan. Dalam proses perancangan srukural perlu dicari deraja kedekaan anara sisem srukural ang digunakan dengan ujuan desain ( ujuan ang dikaikan dengan masalah ungsional, serviceabili, kemudahan pelaksanaan, dan biaa ). Aspek Fungsional Aspek ini berkaian dengan penenuan inggi ower pada suau daerah ersebu agar berungsi dengan baik dalam memancarkan sinal dari operaor ang bersangkuan. Aspek Realia ( pelaksanaan ) dan Biaa Dalam pelaksanaan suau ower dapa digunakan beberapa sisem srukur ang bisa digunakan, maka akor ekonomi dan ingka kemudahan dalam pelaksanaan pengerjaanna mempengaruhi pemilihan II - 3

sisem srukur ang digunakan. Adapun hal hal ang menenukan dalam pemilihan sisem srukur ang akan dilaksanakan adalah : - Mudah dan cepa dilaksanakan sera biaa murah. - Ala dan bahan mudah didapa. - Tidak mengganggu lingkungan (suara / maerial). Aspek Serviceabili (kemampuan laan) Aspek ini berkaian dalam penenuan perpindahan horisonal (swaing) maksimal pada ower agar panel-panel pemancar pada ower eap bekerja dengan baik. 2.3. Pembebanan 2.3.1 Beban- beban pada Srukur Suau sisem srukur pada konsruksi sipil direncanakan unuk dapa menahan beban-beban ang bekerja. Oleh karena iu dalam perencanaan dimensi selalu memperhaikan beban-beban ang bekerja pada srukur ang berkaian dengan umur rencana dari srukurn iu, sehingga srukur ersebu akan berungsi sebagai mana ang diharapkan dalam waku ang elah direncanakan. Pada srukur ower ini beban-beban ang bekerja anara lain : Beban Mai ( Dead Load ) Beban Mai adalah beban ang bekerja pada srukur akiba adana gaa graviasi ang eap posisina karena posisina karena bekerjana erus menerus dengan arah ke bumi empa srukur berdiri. Bera srukur dipandang sebagai beban mai, demikian juga semua benda ang eap posisina selama srukur berdiri. Beban Hidup (Live Load ) Beban hidup berasal dari beban pekerja pada ower sebesar 100 kg. Sera beban angga dan pemanja Beban Angin (Wind Load) Beban angin diperhiungkan dengan ormulasi sebagai beriku: q = 1/30 H 0.25 V 2 dimana, q = beban angin ( kg/m 2 ) II - 4

H = reerensi keinggian aksi beban ( m ) V = kecepaan angin (m/s ) Dikeahui bahwa pada semua srukur bangunan inggi akan erjadi perpindahan horisonal (swaing) akiba beban angin. Teapi pada bangunan inggi sisem konvensional erjadi eek kunci erhadap gerakan laeral akiba gaa graviasi ang besar, karena sisem srukur menggunakan maerial ang bera, sehingga pengaruh swaing idak erasa. Inovasi eknologi srukur bangunan inggi dan eknologi bahan cenderung unuk membua maerial ang semakin ringan, maka beban angin pada ower menjadi akor uama ang diperimbangkan. Beban gempa (Earhquake Load ) Beban gempa adalah semua beban saik ekivalen ang bekerja pada bangunan aau bagian bangunan ang menirukan pengaruh dari gerakan anah akiba gempa iu. Keika pengaruh gempa pada srukur bangunan dienukan berdasar suau analisa dinamik, maka ang diarikan dengan beban gempa disini adalah gaa-gaa di dalam srukur ersebu ang erjadi oleh gerakan anah akiba gempa iu. Seiap srukur bangunan, menuru SNI 03-1726-2002, harus direncanakan unuk menahan suau beban geser dasar akiba gempa (V) dalam arah-arah ang dienukan menuru rumus: V C. I. W = R Dimana : C I R W W adalah Koeisien Gempa Dasar adalah Fakor Keuamaan adalah Fakor Reduksi Gempa adalah Kombinasi dari beban mai dan beban hidup = 1,05(BM + 0,3 BH) o Koeisien Gempa Dasar (C) II - 5

Telah disajikan pada SNI 1726 2002, bahwa di Indonesia erdapa 6 daerah gempa. Pembagian daerah gempa ini didasarkan pada rekuensi kejadian dan poensi daa rusak gempa ang erjadi pada daerah ersebu. Daerah gempa I adalah daerah gempa erbesar sedangkan daerah gempa VI adalah daerah gempa paling kecil. Pembagian daerah gempa ersebu adalah seperi pada Gambar 2.1 Gambar 2.1 Pembagian daerah gempa di Indonesia Selanjuna iap-iap daerah gempa akan mempunai spekrum respon sendiri-sendiri, seperi pada Gambar 2.10 spekrum respon dalam hal ini adalah plo anara koeisien gempa dasar C lawan periode gear srukur T. Secara umum dapa dikaakan bahwa koeisien gempa dasar C uamana dipengaruhi oleh daerah gempa, periode gear T dan jenis anah. Unuk seiap respon spekrum disajikan juga pengaruh kondisi anah, aiu spekrum unuk anah keras dan anah lunak. Deinisi anah keras dan anah lunak dapa didekai menuru beberapa krieria. Krieria ang dipakai unuk menenukan jenis anah ini dianarana adalah jenis dan kedalaman anah endapan, nilai N-SPT, nilai undrain shear srengh, cu, aau kecepaan gelombang geser Vs. II - 6

Secara umum Spekrum Respons adalah suau diagram ang memberi hubungan anara percepaan respons maksimum suau sisem Sau Deraja Kebebasan (SDK) akiba suau gempa masukan erenu, sebagai ungsi dari akor redaman dan waku gear alami sisem SDK ersebu. Spekrum Respons C-T ang dieapkan unuk masing-masing Wilaah Gempa, adalah suau diagram ang memberi hubungan anara percepaan respons maksimum (= Fakor Respons Gempa) C dan waku gear alami T sisem SDK akiba Gempa Rencana, dimana sisem SDK ersebu dianggap memiliki raksi redaman kriis 5%. Kondisi T = 0 mengandung ari, bahwa sisem SDK ersebu adalah sanga kaku dan karenana mengikui sepenuhna gerakan anah. Dengan demikian, unuk T = 0 percepaan respons maksimum menjadi idenik dengan percepaan puncak muka anah (C = A o ). Benuk spekrum respons ang sesungguhna menunjukkan suau ungsi acak ang unuk T meningka menunjukkan nilai ang mula-mula meningka dulu sampai mencapai suau nilai maksimum, kemudian urun lagi secara asimoik mendekai sumbu-t. Benuk ersebu disandarkan (diidealisasikan) sebagai beriku : unuk 0 T 0,2 deik, C meningka secara linier dari A o sampai A m ; unuk 0,2 deik T T c, C bernilai eap C = A m ; unuk T > T c, C mengikui ungsi hiperbola C = A r /T. Dalam hal ini T c disebu waku gear alami sudu. Idealisasi ungsi hiperbola ini mengandung ari, bahwa unuk T > T c kecepaan respons maksimum ang bersangkuan bernilai eap. Dari berbagai hasil peneliian ernaa, bahwa unuk 0 T 0,2 deik erdapa berbagai keidakpasian, baik dalam karakerisik gerakan anahna sendiri maupun dalam sia-sia dakilias sisem SDK ang bersangkuan. Karena iu unuk 0 T 0,2 deik C dieapkan harus diambil sama dengan A m. Dengan demikian, unuk T T c spekrum respons berkaian dengan II - 7

percepaan respons maksimum ang bernilai eap, sedangkan unuk T > T c berkaian dengan kecepaan respons maksimum ang bernilai eap. Berbagai hasil peneliian menunjukkan, bahwa A m berkisar anara 2 A o dan 3 A o, sehingga A m = 2,5 A o merupakan nilai raa-raa ang dianggap laak unuk perencanaan. Selanjuna, dari berbagai hasil peneliian juga ernaa, bahwa sebagai pendekaan ang baik waku gear alami sudu T c unuk jenis-jenis Tanah Keras, Tanah Sedang dan Tanak Lunak dapa diambil sebesar beruru-uru 0,5 deik, 0,6 deik dan 1,0 deik. Gambar 2.2 Spekrum Respon unuk masing-masing daerah gempa II - 8

o Periode Gear (T) Periode gear ang mempunai respons srukur erhadap gearan gempa besaranna dipengaruhi oleh masa dan kekakuan srukur. Srukur ang kaku akan mempunai periode gear ang lebih pendek dibandingkan srukur ang lexible. Rumus pendekaan ang digunakan unuk menghiung waku gear alami adalah sebagai beriku: 3 Tempiris = 0.085 H 4 unuk poral baja 3 Tempiris= 0.06 H 4 unuk poral beon 0.09H Tempiris = unuk srukur lainna B Di mana: H adalah inggi bangunan B adalah panjang bangunan pada arah ang diinjau 2.3.2. Kombinasi pembebanan Dalam menenukan beban desain,hal ang pening adalah apakah semua beban ersebu bekerja secara simulan aau idak. Berdasarkan SNI 03 1729 2002 srukur baja harus mampu memikul semua kombinasi pembebanan di bawah ini: 1,4D 1,2D + 1,6 L + 0,5 (La aau H) 1,2D + 1,6 (La aau H) + (γ L L aau 0,8W) 1,2D + 1,3 W + γ L L + 0,5 (La aau H) 1,2D ± 1,0E + γ L L 0,9D ± (1,3W aau 1,0E) Keerangan: D = beban mai ang diakibakan oleh bera konsruksi permanen, ermasuk dinding, lanai, aap, plaon, parisi eap, angga, dan peralaan laan eap II - 9

L = beban hidup ang diimbulkan oleh penggunaan gedung, ermasuk keju, eapi idak ermasuk beban lingkungan seperi angin, hujan, dan lain-lain La = adalah beban hidup di aap ang diimbulkan selama perawaan oleh pekerja, peralaan, dan maerial, aau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak H = adalah beban hujan, idak ermasuk ang diakibakan genangan air W = adalah beban angin E = adalah beban gempa, ang dienukan menuru SNI 03 1726 1989, aau pengganina dengan, γ L = 0,5 bila L< 5 kpa, dan γ L = 1 bila L 5 kpa. Pada perencanaan ower ini digunakan kombinasi pembebanan sebagai beriku: 1,4D 1,2D + 1,6 L 1,2D + ( L aau 0,8W ) 1,2D + 1,3 W + L 1,2D ± 1,0E + L 0,9D ± (1,3W aau 1,0E) 2.3.3. Aksi-aksi lainna Seiap aksi ang dapa mempengaruhi kesabilan, kekuaan, dan kemampuan-laan srukur, ermasuk ang disebukan di bawah ini, harus diperhiungkan: 1) gerakan-gerakan pondasi; 2) perubahan emperaur; 3) deormasi aksial akiba keaksesuaian ukuran; 4) pengaruh-pengaruh dinamis; 5) pembebanan pelaksanaan. II - 10

Menuru SNI 03 1729 2002 jika ada pengaruh srukural akiba beban ang diimbulkan oleh luida (F), anah (S), genangan air (P), dan/aau emperaur (T) harus diinjau dalam kombinasi pembebanan di aas dengan menggunakan akor beban: 1,3F, 1,6S, 1,2P, dan 1,2T, sehingga menghasilkan kombinasi pembebanan ang paling berbahaa. 2.4. Analisis Perencanaan Srukur 2.4.1 Perencanaan Srukur Aas Srukur aas adalah srukur ower ang secara visual berada di aas anah, aiu srukur rangka baja ( Truss ). Pada perencanaan ini menggunakan dua meode, aiu Allowable Sress Design (ASD) dan Load and Resisance Facor Design (LRFD). 2.4.1.1 Allowable Sress Design (ASD) Pada meode ASD menggunakan keenuan-keenuan anara lain : Beban ang digunakan adalah beban kerja anpa akor beban. Tegangan ijin baja ang dipakai ( σ ijin ) σ σ ijin, F. S T Dan A n dimana σ ijin σ ijin = egangan ijin baja σ = egangan leleh baja F.S = akor keamanan srukur = 1,5 T = gaa baang A n = luas penampang neo = 85% luas penampang bruo Kapasias momen elasis (M E ) M E = W E x σ Dimana, M E = kapasias momen elasis W E = momen ahanan elasis σ = egangan leleh baja II - 11

2.4.1.2 Load and Resisance Facor Design (LRFD) Pada meode LRFD keenuan-keenuan ang digunakan anara lain : Dianggap baja elah mencapai Tegangan Leleh (σ ) Desain menggunakan akor beban dan akor resisensi. Pada Desain LRFD, beban kerja (Q i ) dikalikan dengan akor beban (λi) ang besarna lebih dari 1,0. Sedangkan egangan (σ i ) dikalikan dengan akor kapasias reduksi (Φ) ang besarna kurang dari 1,0. Σ λ i Qi Φσ i Tabel 2.2 Fakor Reduksi (Φ) Unuk Keadaan Baas Kua rencana unuk Fakor reduksi (Φ) Komponen srukur ang memikul lenur: balok 0,90 balok pela berdinding penuh 0,90 pela badan ang memikul geser 0,90 pela badan pada umpuan 0,90 pengaku 0,90 Komponen srukur ang memikul gaa ekan aksial: kua penampang kua komponen srukur 0,85 0,85 Komponen srukur ang memikul gaa arik aksial: erhadap kua arik leleh erhadap kua arik rakur 0,90 0,75 Komponen srukur ang memikul aksi-aksi kombinasi: II - 12

kua lenur aau geser kua arik kua ekan 0,90 0,90 0,85 Komponen srukur komposi: kua ekan kua umpu beon kua lenur dengan disribusi egangan plasik kua lenur dengan disribusi egangan elasik 0,85 0,60 0,85 0,90 Sambungan bau: bau ang memikul geser bau ang memikul arik bau ang memikul kombinasi geser dan arik lapis ang memikul umpu 0,75 0,75 0,75 0,75 Sambungan las: las umpul penerasi penuh las sudu dan las umpul penerasi sebagian las pengisi 0,90 0,75 0,75 Sumber : SNI Baja 2002 Pada LRFD dapa dipakai analisis srukur secara: 1. Analisis elasis : jika penampang (elemen srukur) idak kompak. 2. Analisis Plasis ; bila : II - 13

- Tegangan leleh baja idak melebihi 450 Mpa. - Proil ang digunakan berpenampang kompak. - Nilai k pada elemen ekan idak boleh lebih dari 1,5. Gambar 2.3 Penampang melinang proil Apabila seluruh penampang dapa mencapai egangan lelehna anpa erjadi local buckling pada badan(web) aau saap(lange) ang erekan, maka disebu sebagai penampang kompak. Penampang kompak harus memenuhi sara sebagai beriku: - saap harus ersambung secara menerus (coninue) dengan badan. - Perbandingan anara lebar dan ebal elemen penampang ang erekan harus kurang aau sama dengan λ p, sesuai dengan abel 2.4 sebagai beriku. II - 14

Tabel 2.3 Perbandingan maksimum lebar lebar erhadap ebal unuk elemen erekan ( dalam Mpa, simbol mengacu pada gambar 2.3) Jenis Elemen Pela saap balok-i dan kanal dalam lenur Perbandingan Lebar Terhadap Tebal ( λ ) b Perbandingan Maksimum Lebar Terhadap Tebal λ p (kompak) λ r (akkompak) 170 370 [c] r [e] Pela saap balok-i hibrida aau balok ersusun ang dilas dalam lenur b 170 [] 420 ( ) k e r [e] Pela saap dari komponenkomponen srukur ersusun b - 290 [] k e dalam ekan Saap bebas dari proil siku kembar ang menau pada Elemen anpa Pengaku saap lainna, pela saap dari komponen srukur kanal dalam aksial ekan, proil siku dan pela ang menau dengan b - 250 II - 15

balok aau komponen srukur ekan Saap dari proil siku unggal pada penokong, saap dari proil siku ganda dengan pela kopel pada penokong, elemen ang idak diperkaku, aiu ang diumpu pada salah sau sisina Pela badan dari proil T b - d 200 335 - Sumber : SNI Baja 2002 Tabel 2.4 Perbandingan maksimum lebar erhadap ebal unuk elemen erekan ( dalam Mpa, simbol mengacu pada Gambar 2.3) Jenis Elemen Pela saap Elemen dari penampang Perban dingan Lebar Thd Tebal ( λ ) b Perbandingan Maksimum Lebar Terhadap Tebal λ p (kompak) 500 λ r (ak-kompak) 625 II - 16

persegi panjang dan bujursangkar berongga dengan keebalan seragam ang dibebani lenur aau ekan, pela penuup dari pela saap dan pela diaragma ang erleak dianara baubau aau las Bagian lebar ang ak erkekang dari pela penuup berlubang [b] Bagianbagian pela badan dalam ekan akiba lenur [a] Bagianbagian pela badan dalam kombinasi b - h h w w 830 1680 [c] N u Unuk 0, 125[c] φ N b 1680 2,75N 1 φb. N u 2550 [g] 2550 0,74N 1 φb. N [g] u II - 17

ekan lenur dan N u Unuk > 0, 125 [c] φ N b 500 N u 2,33 φ b. N 665 Elemenelemen lainna ang diperkaku dalam ekan murni aiu dikekang sepanjang kedua sisina Penampang bula berongga Pada aksial ekan Pada lenur b h - w D [a] Unuk balok hibrida, gunakan egangan leleh pada saap [d] - 14800 665 22000 62000 [e] r = egangan ekan residual pada pela saap = 70 MPa unuk penampang dirol = 115 MPa unuk penampang dilas sebagai gani. [b] Ambil luas neo pela pada lubang erbesar. [c] Dianggap kapasias roasi inelasis sebesar 3, unuk srukursrukur pada zona gempa inggi [] k e = 4 api, 0,35 ke 0,763 h w [g] adalah egangan leleh minimum. II - 18

diperlukan kapasias roasi ang lebih besar. [d] Unuk perencanaan 9000 plasis gunakan Sumber : SNI Baja 2002 2.4.1.3 Sambungan Menuru Perauran Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) ada beberapa keenuan dalam perencanaan sambungan srukur baja, anara lain : (1) Sambungan-sambungan harus direncanakan sesuai dengan beban-beban kerja pada baang-baang ang disambung. (2) Pada prinsipna sambungan direncanakan hana memakai sau macam ala penambung. (3) Pada sambungan-sambungan ang menghubungkan baang-baang uama, jumlah minimum paku keling, bau aau bau muu inggi adalah dua buah, aau bila menggunakan sambungan las gaa minimum ang direncanakan dalam sambungan ersebu adalah 3 on. (4) Leak pusa iik bera pada sekelompok paku keling, bau, bau muu inggi aau las ang memikul gaa axial harus diusahakan berimpi dengan garis bera dari proil ang disambung. Apabila iik bera ersebu diaas idak berimpi dengan garis bera proil maka perencanaan sambungan sebaikna memperhiungkan juga adana eksenrisias. Keenuan ini idak berlaku unuk proil siku aau dobel siku ang idak mengalami egangan ang bolak-balik (berubah anda). (5) Apabila bekerja iga aau lebih gaa axial ang sebidang pada sambungan ang sama, maka garis kerja gaa-gaa axial harus beremu pada sau iik. II - 19

Bila garis kerja gaa-gaa axial ersebu idak beremu dalam sau iik, maka sambungan ersebu sebaikna diperhiungkan erhadap momen akiba eksenrisias. (6) Apabila proil siku aau kanal disambung hana pada sau sisi dengan paela penambung maka pada perncanaan sebaikna diperhiungkan juga erhadap momen akiba eksenrisias. (7) Pada sambungan ang memakai paku keling aau bau dengan menggunakan pela pengisi ang ebalna 6 mm aau lebih, maka jumlah bau aau paku keling harus diambah erhadap jumlah paku keling aau bau ang dibuuhkan. Unuk ini diperlukan perpanjangang dari pela pengisi. Jumlah penambahan bau, aau paku keling dihiung dengan rumus : n N N A p A + A p n N N A p = jumlah penambahan bau aau keling. = gaa ang bekerja pada sambungan = gaa izin pada sebuah keling aau bau = Luas penampang pela pengisi. Apabila pela pengisi da pada kedua sisi pela ang disambung, maka A p = luas penampang pela pengisi ang erebal. A = Luas penampang pela ang disambung. (8) Keenuan pada (7) idak berlaku apabila sambungan menggunakan bau muu inggi. (9) Dalam sau sambungan, pela pengisi idak lebih dari 4 lapis. (10) Pada sambungan las ang menggunakan pela pengisi dengan ebal 6 mm aau lebih perlu ada perpanjangan pela pengisi erhadap epi pela penambung, sehingga sambungan las anara pela pengisi dengan pela penambung. Unuk pela pengisi ang ebalna lebih kecil dari 6 mm maka leak sambungan las ang menghubungkan pela pengisi dengan II - 20

pela penambung mungkin sebaris dengan sambungan las ang menghubungkan pela pengisi dengan pela ang disambung. Tebal las sudu dalam hal ini berambah disesuaikan dengan seebal pela pengisi dan pela penambung ang dipakai. (11) Ukuran maksimum dari diameer lubang paku keling aau lubang bau sama dengan diameer paku keling aau diameer bau diambah 1 mm. Unuk bau muu inggi diameer baang bau diambah 2 mm. (12) Tebal pela pada sambungan ang memakai paku keling aau bau idak boleh lebih besar dari 5 kali diameer paku keling aau bau. Apabila panjang leka bau aau paku keling ang diperlukan harus diambah dengan keenuan seiap kelebihan ebal 6 mm diambah 4%. Dimana penambahan paku keling aau bau paling sediki sau buah. Unuk panjang leka ang mempunai kelebihan ebal lebih kecil dari 6 mm maka jumlah bau aau paku keling idak berambah. 2.4.1.3.1 Sambungan Bau Unuk merencanakan sambungan pada ower menggunakan rumus sambungan bau sesuai buku STRUCTURAL STEEL DESIGN Joseph E. Bowles, unuk bau muu inggi ( high srengh bol ) Jumlah bau ang dibuuhkan (N) : V 2 + (0.6P) 2 N (0.6A b F u ) 2 ø = 0.75 Cek kekuaan pela sambung : V 2 + (0.6P) 2 3dF u(pela) ø = 0.64 Dimana : P = Gaa aksial baang (kn) V = Gaa geser baang (kn) N = Jumlah bau ang dibuuhkan A b = Luas area bau F u = Kekuaan baas bau (MPa) Ø = ako reduksi II - 21

Menuru Perauran Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) sambungan bau harus memenuhi persaraan sebagai beriku : 1. Banakna bau ang dipasang pada sau baris ang sejajar arah gaa idak boleh lebih dari 5 buah. 2. Jarak anara sumbu bau paling luar ke epi aau ke ujung bagian ang disambung, idak boleh kurang dari 1,2 d dan idak boleh lebih lebih besar dari 3 d aau 6 dimana adalah ebal erkecil bagi. 3. Pada sambungan ang erdiri dari sau baris bau, jarak dari sumbu ke sumbu dari 2 bau ang beruruan idak boleh kurang dari 2,5 d dan idak boleh lebih besar dari 7 d aau 14. 4. Jika sambungan erdiri dari sau baris bau ang idak berseling, maka jarak anara kedua baris bau iu dan jarak sumbu ke sumbu dari 2 bau ang beruruan pada sau baris idak boleh kurang dari 2,5 d dan idak boleh lebih besar dari 7 d aau 14. Jika sambungan erdiri lebih dari sau baris bau ang dipasang berseling, jarak anara baris-baris bau ( u ) idak boleh kurang dari 2,5 d dan idak boleh lebih besar dari 7 d aau 14, sedangkan jarak anara sau bau dengan bau erdeka pada baris lainna ( s 2 ) idak boleh lebih besar dari 7 d 0,5 u aau 14 0,5 u. 2.4.2 Perencanaan Srukur Bawah Pemilihan ipe dan jenis pondasi pada daerah ang berbeda berdasarkan perimbangan, anara lain sebagai beriku : o Perkiraan beban ang akan dipikul pondasi o Daa dukung anah o Formasi anah keras Jenis pondasi ipikal unuk berbagai kedalaman sraum pendukung (anah keras) adalah sebagai beriku : o Pondasi langsung, 0 sampai 3 meer kedalaman ke lapis pendukung. o Pondasi sumuran, 3 sampai 10 meer ke lapis pendukung. o Pondasi iang beon, 10 sampai 20 m kedalaman ke lapis pendukung. II - 22

o Pondasi iang baja, > 10 meer kedalaman ke lapis pendukung. 2.4.2.1 Pemilihan Jenis Pondasi Dalam merencanakan suau srukur bawah dari konsruksi bangunan dapa digunakan beberapa macam ipe pondasi, pemilihan ipe pondasi didasarkan pada hal-hal sebagai beriku : o Fungsi bangunan aas o Besarna beban dan bera dari bangunan aas o Keadaan anah dimana bangunan ersebu akan didirikan o Jumlah biaa ang dikeluarkan 2.4.2.2 Daa Dukung Tanah Daa dukung ( Bearing Capaci ) adalah kemampuan anah unuk mendukung beban baik dari segi srukur pondasi maupun bangunan diaasna anpa erjadina kerunuhan geser. Daa dukung baas ( Ulimae Bearing Capaci ) adalah daa dukung erbesar dari anah dan biasana diberi simbol q ul. Daa dukung ini merupakan anah mendukung beban, dan diasumsikan anah mulai erjadi kerunuhan. Besarna daa dukung ang diijinkan sama dengan daa dukung baas dibagi angka keamanan dengan rumus sebagai beriku : q a = q ul / FK Bila hasil daa penelidikan anah sampai dengan kedalaman lebih dari 20 m belum diemui indikasi anah keras harus di gunakan iang pancang grup agar diperoleh daa dukung ang besar. II - 23