Unnes Science Education Journal

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Unnes Science Education Journal"

Transkripsi

1 USEJ 3 (1) (014) Unnes Science Educaion Journal hp://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/usej PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU MENGGUNAKAN LKS BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS VII SMP N 1 DUKUHSETI PATI Nur OkaWiliani, Sri Mulyani E.S, Parmin Prodi Pendidikan IPA, Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam Universias Negeri Semarang, Indonesia Info Arikel SejarahArikel: DierimaJanuari 014 DiseujuiFebruari 014 DipublikasikanApril 014 Keywords: Inegraed Science; Suden workshee; Conexual eaching and learning Absrak Berdasarkan hasil observasi diperoleh faka bahwa pembelajaran IPA di SMP N 1 Dukuhsei, dikeahui masih belum erpadu. Lembar kerja siswa yang digunakan juga belum erpadu, masih erpilah-pilah berdasarkan iga maa pelajaran IPA. Tujuan peneliian ini adalah unuk mendeskripsikan apakah pembelajaran Ilmu Pengeahuan Alam erpadu dengan menggunakan lembar kerja siswa berbasis CTL efekif dierapkan pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dukuhsei. Meode peneliian yang digunakan adalah peneliian eksperimen dengan menggunakan rancangan conrol group pre-es pos-es desain. Berdasarkan uji hipoesis diperoleh hiung > abel aau 5,03 > 1,68 maka Ha (peningkaan hasil belajar seelah diberi pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL) dierima. Kelompok eksperimen sebesar 100% mendapa nilai 70. Siswa yang akif sebesar 80,8% dengan skor raa-raa,36 dengan skor maksimal 8. Simpulan peneliian ini adalah pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL efekif dierapkan pada siswa kelas VII SMP N 1 Dukuhsei. Absrac Based on observaions obained by he fac ha he sudy of naural science in SMP N 1 Dukuhsei, known sill no inegraed. Suden workshees ha are used are also no unified, sill separaed by hree naural science subjecs. The purpose of his sudy was o describe wheher he Naural Sciences learning inegraed by using conexual eaching and learning based suden workshees effecively applied o a class VII suden of SMP Negeri 1 Dukuhsei. The research mehod used was experimenal research design using conrol group pre es pos es design. Based on he hypohesis es obained > able or 5.03> 1.68 hen Ha (improved learning oucomes afer learning be inegraed wih naural science sudens use a spreadshee based conexual eaching and learning) received. 100% of he experimenal group scored 70. Sudens are acive of 80.8% wih an average score of.36 wih a maximum score of 8. Conclusions This sudy is he inegraed naure of learning science peneahuan using conexual eaching and learning based suden workshees effecively applied o sudens of class VII SMP N 1 Dukuhsei. 014UniversiasNegeri Semarang Alamakorespondensi: Prodi Pendidikan IPA FMIPA UniversiasNegeri Semarang Gedung D7 KampusSekaranGunungpai Telp. (04) KodePos [email protected] ISSN

2 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) PENDAHULUAN Kurikulum Tingka Sauan Pendidikan (KTSP) memberikan kebebasan kepada iap-iap sauan pendidikan unuk mengembangkan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan pesera didik, sumber belajar yang ersedia dan kekhasan daerah. Guru berindak sebagai pengembang KTSP dalam kurikulum ini. Sekolah diberi keleluasaan unuk mengembangkan indikaor dengan mengacu sandar kompeensi dan kompeensi dasar yang elah dieapkan. Pengembangan indikaor harus memperhaikan karakerisik dan perkembangan pesera didik, siuasi dan kondisi sekolah, sera kondisi dan kebuuhan daerah. Oleh karena iu, guru diunu unuk lebih kreaif dalam merencanakan pembelajaran unuk mencapai sandar kompeensi dan kompeensi dasar yang elah dieapkan. Ilmu pengeahuan Alam didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam yang melipui makhluk hidup dan makhluk ak hidup aau sains enang kehidupan dan sains enang dunia fisik. Pengeahuan sains diperoleh dan dikembangkan dengan berlandaskan pada serangkaian peneliian yang dikembangkan oleh sainis dalam mencari jawaban peranyaan apa?, mengapa?, dan bagaimana? dari gejala-gejala alam sera penerapannya dalam eknologi dan kehidupan sehari-hari (Rahayu dkk, 01). Sesuai dengan KTSP, bahwa model pembelajaran erpadu merupakan salah sau model implemenasi kurikulum yang dianjurkan unuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan. Sebab, melalui pembelajaran erpadu pesera didik dapa memperoleh pengalaman langsung sehingga dapa menambah kekuaan unuk menerima, menyimpan dan menerapkan konsep yang elah dipelajarinya (Triano, 011). Pembelajaran erpadu sanga menekankan keakifan siswa dalam pembelajaran, baik secara fisik, menal, inelekual, maupun emosional guna ercapainya hasil belajar yang opimal dengan memperimbangkan hasra, mina dan kemampuan siswa sehingga mereka ermoivasi unuk erus-menerus belajar. Pembelajaran IPA di SMP seharusnya diberikan sesuai dengan Permendiknas No. ahun 006 yaiu subsansi maa pelajaran IPA 417 pada SMP/MTs merupakan IPA erpadu. Dengan kaa lain IPA sebagai maa pelajaran hendaknya diajarkan secara uuh aau erpadu, idak dipisahpisahkan anara biologi, fisika, kimia, dan bumi anarariksa. Hal yang demikian iu dimaksudkan agar siswa SMP/MTs dapa mengenalkan kebulaan IPA sebagai Ilmu (Lisyawai, 01). IPA erpadu merupakan IPA yang disajikan sebagai sau kesauan yang idak erpisahkan, arinya siswa idak belajar ilmu fisika, biologi, dan kimia secara erpisah sebagai maa pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan semua diramu dalam kesauan. Maa pelajaran ini lebih epa dinamakan IPA, idak perlu diberi ambahan erpadu di belakangnya, karena dari lahirnya dahulu iulah hakika IPA yang sesungguhnya, arinya IPA lahir bukan dari penyauan fisika, biologi, dan kimia, eapi lahir sebagai IPA. Menuru Fogary (1991) ada 10 macam pola keerpaduan yaiu Fragmened, Conneced, Nesed, Sequenced, Shared, Webbed, Threaded, Inegraed, Immersed, Neworked. Pola yang digunakan penelii adalah pola conneced. Menuru Hidaya (009) pembelajaran erpadu model conneced dapa meningkakan kualias pembelajaran dan hasil belajar siswa dalam maa pelajaran IPA. Model conneced (keerhubungan) merupakan salah sau model yang epa digunakan dalam desain pembelajaran IPA erpadu. Hal ini dikarenakan pada maa pelajaran fisika, biologi, kimia juga memiliki karakerisik ersendiri. Disamping iu penyebaran SK dan KD unuk seiap sauan semeser, maka model conneced ini lebih mudah dierapkan dan lebih banyak kemungkinan memadukannya. Mengacu pada pengerian di aas, maka pembelajaran IPA erpadu model conneced dapa digambarkan seperi gambar 1. KD, INDIKATOR, KONSEP. BIOLOGI KD, INDIKATOR,KONSEP. KIMIA KD, INDIKATOR, KONSEP. FISIKA

3 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Berkaian dengan hal ersebu, pembelajaran yang disarankan dalam KTSP adalah pembelajaran yang koneksual. Pembelajaran koneksual mendorong siswa unuk membua hubungan anara pengeahuan yang diperoleh dari pembelajaran dengan faka yang ada di lingkungan sehingga pengeahuan yang diperoleh lebih bermanfaa. Pembelajaran yang koneksual memudahkan siswa unuk mengaplikasikan pengeahuan yang diperoleh dari pembelajaran. Pembelajaran menjadi lebih produkif dan mampu menumbuhkan penguaan konsep kepada siswa. Pembelajaran koneksual lebih menunu keakifan siswa, sehingga proses belajar mengajar lebih konkri dan bermakna. Kurikulum yang diberlakukan sekarang menyaakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar idak hanya dienukan oleh hasil akhir saja, akan eapi proses pembelajarannya juga diperhaikan. Dalam penerapan kurikulum KTSP ini guru diunu unuk dapa menyampaikan maeri idak hanya dalam benuk hafalan hafalan melainkan harus menanamkan pemahaman yang mendalam kepada siswa yang pada akhirnya siswa dapa memahami dan mengembangkan apa yang elah diperolehnya. Salah sau meode yang dapa digunakan adalah pendekaan CTL. Sebagaimana menuru Sanjaya (011) pembelajaran Conexual Teaching and Learning adalah suau sraegi pembelajaran yang menekankan kepada proses keerlibaan siswa secara penuh unuk dapa menemukan maeri yang dipelajari dan menghubungkannya dengan siuasi unuk dapa menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dari konsep ersebu ada iga hal yang harus kia pahami. Perama, CTL menekankan kepada proses keerlibaan siswa unuk menemukan maeri. Kedua, CTL mendorong agar siswa menemukan hubungan anara maeri yang dipelajari dengan siuasi kehidupan nyaa. Keiga, CTL mendorong siswa unuk dapa menerapkannya dalam kehidupan. Pembelajaran CTL akan lebih ercapai dengan media pengajaran yang variaif (Buharno, 005). Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP N 1 Dukuhsei Pai dikeahui bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA masih belum erpadu. Hal ini disebabkan karena guru IPA masih kesulian dalam menerapkan pembelajaran erpadu. Sehingga pelaksanaan pembelajaran IPA masih dilakukan secara erpisah. Lembar kerja siswa (LKS) yang digunakan juga belum erpadu, masih erpilah-pilah berdasarkan iga maa pelajaran IPA. Menuru Rohaei dkk (009) LKS merupakan salah sau sumber belajar yang dapa dikembangkan oleh guru sebagai fasilias dalam kegiaan pembelajaran. Hasil peneliian yang dilakukan oleh Sunyono (008) dengan mengembangkan LKS juga menunjukkan adanya peningkaan akivias siswa sera memudahkan siswa dalam melaksanakan kegiaan prakikum. Proses pembelajarannya masih didominasi oleh pembelajaran konvensional arinya pembelajaran yang masih menunu siswa unuk menghafal maeri pelajaran anpa ahu siswa sudah benar-benar paham aau idak, sera ceramah dan anya jawab menjadi andalan guru dalam mengajar karena IPA umumnya merupakan maa pelajaran yang suli unuk dipahami jika siswa idak mengalami sendiri apa yang mereka pelajari. Pembelajaran seperi ini enunya membua hasil belajar dan akivias siswa kurang opimal. Hal ini diperkua dengan adanya daa bahwa masih erdapa sekiar 75% siswa kelas VII yang nilainya masih dibawah krieria keunasan minimal dengan sandar keunasan 70. Senada dengan Winarsih dkk (01) bahwa dengan LKS berbasis CTL siswa mampu menggunakan kemampuan berfikir kriis, erliba penuh dalam mengupayakan proses pembelajaran yang efekif, pembelajaran dikaikan dengan kehidupan nyaa dan siswa erliba akif dalam proses pembelajaran sehingga siswa mudah unuk mempelajarinya maka keefekifan penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis Conexual Teaching and Learning (CTL) pada kelas VII SMP N 1 Dukuhsei perlu dielii. METODE Peneliian ini dilaksanakan di SMP N 1 Dukuhsei. Peneliian ini merupakan peneliian eksperimen dengan menggunakan rancangan conrol group pre-es pos-es desain. Dalam rancangan ini, sekelompok subjek yang diambil dari populasi erenu dikelompokkan menjadi dua kelompok yaiu kelompok eksperimen dan kelompok konrol. 417

4 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Sampel dalam peneliian diambil menggunakan eknik cluser random sampling dari kelas yang homogen. Penggunaan eknik cluser random sampling ini unuk memperoleh dua kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas konrol. Variabel dalam peneliian ini adalah: variabel bebas dalam peneliian ini adalah pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis conexual eaching and learning dan variabel erika dalam peneliian ini adalah hasil belajar dan akivias siswa. Prosedur peneliian ini erdiri dari dua ahap yaiu: 1. Persiapan peneliian Pada ahap persiapan ini yang dilakukan adalah sebagai beriku: (1) penelii bersama guru bidang sudi memilih kelas yang digunakan sebagai sampel peneliian, () mempersiapkan perangka pembelajaran: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar kegiaan siswa (LKS), bahan belajar, angke, lembar penilaian laporan prakikum dan lembar observasi, (3) membua insrumen uji coba. Insrumen peneliian dibua berdasarkan kisi-kisi yang elah dibua sebelumnya. Insrumen es dalam peneliian ini berbenuk pilihan ganda, (4) mengadakan uji coba insrumen. Uji coba insrumen peneliian yaiu uji coba ala evaluasi yang berupa soal-soal pilihan ganda, (4) analisis hasil uji coba insrumen peneliian dilakukan menggunakan validias, realibilias, ingka kesukaran, dan daya pembeda.. Tahap Pelaksanaan Pada ahap ini langkah perama yang dilakukan adalah melaksanakan prees unuk mengeahui kemampuan awal siswa pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan sebelum diberikan reamen. Kedua, melaksanakan pembelajaran pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan dengan menerapkan pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL. Keiga, melakukan pengamaan menggunakan lembar observasi unuk mengeahui keerampilan proses siswa selama berlangsungnya kegiaan pembelajaran. Keempa, melaksanakan poses unuk mengeahui hasil belajar siswa pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan seelah diberikan reamen. Kelima, memberikan angke kepada siswa unuk mengeahui anggapan siswa erhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan pada pembelajaran. Sumber daa peneliian ini adalah siswa dan guru. Insrumen peneliian yang digunakan unuk menjaring daa dalam peneliian ini erdiri dari: 1. Lembar observasi, lembar observasi digunakan sebagai ala unuk memperoleh daa keerampilan proses siswa kelas VII SMP N 1 Dukuhsei selama berlangsungnya kegiaan pembelajaran maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan.. Angke, angke dalam peneliian ini berisi enang anggapan siswa erhadap LKS yang digunakan pada proses pembelajaran selama peneliian. Angke ini juga digunakan unuk mengungkap mina aau keerarikan siswa erhadap LKS yang digunakan pada proses pembelajaran. 3. Dokumenasi, dokumenasi digunakan unuk mendapakan dafar nama siswa yang digunakan sebagai sampel peneliian sera foo-foo selama proses pembelajaran sebagai buki oenik. Jenis daa yang didapakan adalah daa kualiaif dan kuaniaif. Daa kualiaif melipui: anggapan siswa dan guru enang pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL yang elah dierapkan di kelas. Sedangkan daa kuaniaif melipui: hasil belajar siswa dan akifias siswa selama proses pembelajaran Unuk mendapakan daa dari variabelvariabel yang dielii digunakan meode pengumpulan daa anara lain sebagai beriku : 1. daa enang hasil belajar diperoleh dari nilai es evaluasi.. daa enang akivias siswa dalam proses pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar observasi akivias siswa selama proses pembelajaran. 3. daa enang akivias dalam kegiaan prakikum diambil dengan menggunakan lembar akivias siswa selama kegiaan prakikum. 4. daa enang anggapan siswa erhadap proses pembelajaran diambil dengan lembar kuisioner anggapan siswa di akhir pembelajaran. 5. daa enang anggapan guru erhadap penerapan pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL diambil 418

5 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) melalui wawancara. Analisis awal sebelum dilakukan perlakuan awal yang berujuan unuk mengeahui apakah kelompok eksperimen dan kelompok konrol ersebu mempunyai kondisi yang sama. Pada analisis awal dilakukan uji, yaiu: 1. Uji Normalias Uji ini digunakan unuk mengeahui apakah daa yang digunakan merupakan daa yang berdisribusi normal aaukah idak. Unuk ini digunakan eknik Chi-Kuadra. Langkah-langkah yang dilakukan unuk menguji normalias daa sebagai beriku: menyusun daa dan mencari nilai eringgi maupun erendah, membua inerval kelas dan menenukan baas kelas, menghiung raa-raa dan simpangan baku, membua abulasi daa ke dalam inerval kelas, menghiung nilai z dari seiap baas kelas Mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal dengan menggunakan able z, menghiung frekuensi harapan, membandingkan harga Chi-kuadra hiung dengan harga Chikuadra abel dengan arif signifikan 5%, menarik kesimpulan, jika x hiung < x able maka daa berdisribusi normal. (Sudjana, 005).. Uji homogenias Uji ini digunakan unuk mengeahui apakah kelompok konrol dan kelompok eksperimen berawal dari populasi yang homogen aau idak. Unuk keperluan uji homogenias digunakan rumus, yaiu: F hiung = V b V k Keerangan: V b : varian yang lebih besar V k : varians yang lebih kecil (Sudjana, 005). Dengan krieria pengujiannya jika F hiung F abel maka dapa dikaakan kedua kelompok memiliki kesamaan varians α= 5%. Daa yang digunakan unuk uji homogenias adalah daa nilai ulangan akhir IPA SMP kelas VII semeser gasal. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil prees kelas eksperimen dan kelas konrol Hasil prees kelas eksperimen dan kelas konrol dapa diliha pada abel 1 beriku ini. 419 Tabel 1. Hasil prees kelas eksperimen dan konrol Komponen Prees Konrol Eksperimen pesera didik 6 5 Reraa 63,46 65,70 Skor eringgi 7,5 80 Skor erendah 4,5 57 Berdasarkan Tabel 1, dikeahui bahwa reraa kelas konrol yaiu 63,46 sedangkan reraa kelas eksperimen yaiu 65,70. Daa hasil pre es digunakan unuk analisis daa awal yaiu analisis daa sebelum siswa diberi perlakuan siswa. Dalam perhiungan uji normalias, saisik yang digunakan adalah chi kuadra. Uji normalias digunakan unuk mengeahui sampel berdisribusi normal aau idak. Hasil perhiungan uji kenormalan dari kelompok eksperimen (kelas VIIA) diperoleh χ hiung = 3,08. Dengan araf nyaa 5% dan deraja kebebasan (dk) = 6 3 = 3, maka diperoleh χ abel = 7,81. Hal ini menunjukkkan 3,08 < 7,81 yang berari bahwa χ hiung < χ abel dan dapa disimpulkan sampel berasal dari populasi yang berdisribusi normal. Hasil perhiungan unuk kelompok konrol (kelas VIID) diperoleh χ hiung = 7,05. Dengan araf nyaa 5% dan deraja kebebasan (dk) = 6 3 = 3, maka diperoleh χ abel = 7,81. Hal ini menunjukkan bahwa 7,05 < 7,81 berari χ hiung < χ abel sehingga dapa disimpulkan sampel berasal dari populasi yang berdisribusi normal. Uji homogenias berguna unuk mengeahui sampel mempunyai varians yang sama aau idak. Hipoesis yang digunakan sebagai beriku: H o : σ 1 = σ arinya kedua sampel mempunyai varians yang sama. H a : σ 1 σ arinya kedua sampel mempunyai varians yang berbeda. Dari hasil perhiungan diperoleh varians unuk kelompok eksperimen = 8,9 dan varians unuk kelompok konrol = 49,04. Hasil perbandingan kedua varians ersebu didapa F hiung = 1,6959. Dengan araf nyaa 5% dan dk pembilang = 6-1 = 5 sera dk penyebu = 5-1 = 4, diperoleh F abel = 1,97. Hal ini menunjukkan 1,6959 < 1,97 yang berari bahwa F hiung < F abel sehingga dapa disimpulkan kedua sampel ersebu mempunyai varians yang sama (homogen).

6 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Seelah iu dilakukan uji erhadap raa-raa nilai prees siswa kelas eksperimen dan konrol, ernyaa idak erdapa perbedaan yang signifikan. Hal ini dapa diliha pada abel. Tabel. Hasil perhiungan uji prees Kelas Raaraa dk hiung abel VIID 63, ,77 1,68 VIIA 65,70 Krieria Tidak berbeda signifikan Akivias siswa kelas eksperimen dan konrol dalam proses pembelajaran Hasil akivias siswa menggambarkan ingka keakifan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan LKS berbasis CTL dikaakan dapa mengakifkan siswa apabila siswa yang erliba akif dalam pembelajaran 75%. Hasil akivias siswa pada pembelajaran pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan dapa diliha pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Hasil akivias siswa kelas eksperimen dan konrol Krieria Kelas Eksperimen Kelas Konrol Peremuan 1 Peremuan Peremuan 1 Peremuan Sanga akif 39,8 % 53,57 % 5 % 14,8 % Akif 35,71% 35,71% 46,15 % 67,85 % Cukup 7,1 % - 17,8 % 10,71 % Kurang akif 7,1% - 7,6 % - Tidak akif Berdasarkan Tabel 3, dikeahui bahwa presenase jumlah siswa yang akif dan sanga akif kelas eksperimen lebih baik dari kelas konrol. Tabel 3 di aas dapa menunjukkan bahwa secara umum akivias siswa selama proses pembelajaran mengalami peningkaan pada seiap peremuan. Berdasarkan hasil analisis akivias siswa dikeahui bahwa secara umum akivias yang paling menonjol adalah akivias melakukan diskusi dalam kelompok, yaiu mencaa informasi yang dianggap pening, beranya dan mengemukakan pendapa. Berdasarkan hasil analisis akivias siswa juga dapa dikeahui bahwa erjadi peningkaan akivias pada masing-masing kelas pada seiap peremuan. Hal ini disebabkan karena pada awal peremuan, siswa masih beradapasi dengan pembelajaran baru yang dierapkan yaiu pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL, sehingga siswa belum begiu akif dalam pembelajaran. Akan eapi pada peremuan selanjunya, siswa sudah mampu menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang dierapkan. Siswa elah merasakan suasana nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran sehingga siswa semakin anusias dan semanga dalam pembelajaran. 40 Tingka keakifan siswa pada kelas konrol lebih rendah dari pada kelas eksperimen. Hal ini disebabkan cara pembelajaran dengan meode diskusi pada kelas konrol hanya dipresenasikan oleh perwakilan dari kelompok ersebu. Sehingga menyebabkan anggung jawab dianara anggoa kelompok siswa berkurang. Kerjasama dianara anggoa kelompok belum erlalu kompak, masih ada siswa yang idak mau berparisipasi unuk menyumbang ide dalam kelompok, karena mereka merasa sudah cukup erwakili lewa perwakilan siswa kelompok yang maju unuk mempresenasikan hasil diskusinya. Alasan ersebu yang membua akivias yang eramai pada kelas konrol lebih rendah bila dibandingkan dengan kelas eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan LKS berbasis CTL merupakan salah sau jenis meode pembelajaran yang sanga bermanfaa karena lebih banyak menunu keerlibaan siswa secara akif dan seiap siswa harus dapa meliha hubungan aau keerkaian apa yang sudah dipelajari di sekolah dengan kehidupan nyaa.

7 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) Hasil akivias siswa selama kegiaan prakikum Hasil akivias siswa selama kegiaan prakikum menggambarkan ingka keakifan siswa dalam kegiaan prakikum. Tabel 4. Rekapiulasi akivias siswa selama kegiaan prakikum No Krieria Peremuan 1 Peremuan siswa (%) siswa (%) 1 akif cukup kurang akif 4 idak akif Berdasarkan abel 4, dikeahui bahwa akivias siswa selama kegiaan prakikum ermasuk kaegori akif, diunjukkan pada peremuan 1 mencapai 9 % dan peremuan mencapai 100 %. Hasil pos es kelas eksperimen dan konrol Pos es dilakukan unuk mengeahui hasil belajar siswa pada maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan seelah diberikan reamen. Hasil pos es kelas eksperimen dan kelas konrol dapa diliha pada abel 5 beriku ini. Tabel 5. Hasil pos es kelas eksperimen dan konrol. Komponen Pos es Konrol Eksperimen pesera didik 6 5 Reraa 7,19 79,36 Skor eringgi Skor erendah Seelah iu dilakukan uji erhadap raa-raa nilai pos es siswa kelas eksperimen dan konrol, ernyaa erdapa perbedaan yang signifikan. Hal ini dapa diliha pada abel 6. Tabel 6. Hasil perhiungan uji pos es Kelas Raaraa dk hiung abel VII D 7,19 49,84 1,68 VII A 79,36 Krieria Berbeda Signifikan Peningkaan nilai prees dan pos es Peningkaan nilai dari prees ke pos es dapa dianalisis secara saisik dengan menggunakan N-gain score dan uji. Pada abel 7 dan 8 disajikan peningkaan nilai pre es ke pos es pada kelas eksperiman dan konrol dengan menggunakan N-gain score. Tabel 7. Hasil peningkaan nilai prees dan pos es kelas eksperimen Komponen Prees Pos es Selisih Indeks gain (g) Kaegori Raa-raa 65,70 79,36 13,66 0,40 sedang Skor eringi Skor erendah 57,5 66 Tabel 8. Hasil peningkaan nilai prees dan pos es kelas konrol Komponen Prees Pos es Selisih Indeks gain (g) Kaegori Raa-raa 63,46 7,19 8,73 0,4 rendah Skor eringi 7,5 86 Skor erendah 4,5 50 Dari Tabel 7 dan 8 dapa diliha bahwa hasil mengalami peningkaan dari 65,70 menjadi 79,36. peningkaan hasil belajar seelah dianalisis Sedangkan hasil belajar pada kelas konrol seelah menggunakan N-gain score pada kelas eksperimen sebesar 0,40 ermasuk kaegori sedang. Reraa nilai dianalisis menggunakan N-gain score sebesar 0,4 ermasuk kaegori rendah. Reraa nilai mengalami peningkaan dari 63,46 menjadi 7,19. Berdasarkan daa ersebu erliha bahwa indeks 41

8 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) gain kelas eksperimen lebh inggi dibandingkan indeks gain kelas konrol (0,40 > g > 0,4). Seelah dianalisis dengan menggunakan N-gain score kemudian dianalisis menggunakan uji. Tabel 9. Hasil perhiungan uji peningkaan prees-poses Raaraa hiung abel Kelas dk Krieria VII D 8, ,940 1,68 Berbeda signifikan VII A 13,66 Berdasarkan Tabel 9, dikeahui bahwa raaraa peningkaan nilai dari prees ke poses siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas konrol. Hasil nilai akhir siswa diperoleh dari nilai ugas yang didapa dari LKS dan nilai ulangan yang diperoleh dari nilai pos es. Hasil nilai akhir Hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas konrol merupakan nilai yang diperoleh dari nilai ugas dan nilai ulangan, dapa diliha pada Tabel 10 beriku ini. Tabel 10. Nilai akhir siswa eksperimen dan konrol Variasi Kelas Kelas Eksperimen Konrol Nilai eringgi Nilai erendah 80,5 61,5 Raa-raa 87,8 78,0 siswa 5 6 siswa yang unas 5 6 siswa yang idak unas 0 0 Berdasarkan Tabel 10, dikeahui bahwa reraa nilai akhir siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas konrol. Seelah dilakukan uji erhadap nilai akhir siswa kelas eksperimen dan konrol, menunjukkan hasil bahwa nilai akhir siswa kelas eksperimen dan konrol menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini sesuai dengan abel 11. Tabel 11. Hasil perhiungan uji nilai akhir siswa Kelas Raaraa dk hiung abel VII A 87,8 49 5,05 1,68 krieria Berbeda signifikan VII D 78,0 Dari hasil uji dikeahui bahwa nilai hiung > abel sehingga dikaakan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL berpengaruh posiif erhadap hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan selama proses belajar mengajar, pengelolaan pembelajaran berjalan dengan baik, selain iu akivias siswa melakukan prakikun menjadi akivias dominan didukung dengan LKS berbasis CTL membua pembelajaran lebih berpusa pada siswa, sehingga siswa merasa pembelajara menjadi lebih menyenangkan. Angke Tangapan Siswa Unuk hasil anggapan siswa erhadap pembelajaran dibagikan seelah pembelajaran berakhir. Hasil anggapan siswa menunjukkan bahwa siswa memberikan anggapan yang posiif aau ermasuk kaegori senang erhadap pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL, diunjukkan dengan 96 % merasa senang. Penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL ini membua pembelajaran lebih hidup dan idak egang.. Hal ini sesuai dengan anggapan siswa yang menyaakan bahwa lebih dari 70% siswa senang dan menyukai suasana kelas saa pembelajaran berlangsung dan bahkan seuju apabila pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL dierapkan pada maeri IPA yang lain. Hasil anggapan siswa menyaakan bahwa penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL efekif dalam pembelajaran maeri pengaruh bahan kimia rumah anggga erhadap lingkungan. Selain mampu meningkakan hasil belajar dan akivias siswa pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL dapa meningkakan kerjasama dan ransfer pengeahuan dianara siswa dalam sau kelompok. Siswa yang memiliki pengeahuan akademik yang inggi akan membanu siswa yang masih mengalami kesulian belajar melaui ransfer 4

9 Nur Oka Wiliani dkk./ Unnes Science Educaion Journal 3 (1) (014) pengeahuan yang dimiliki siswa yang berkemampuan akademik inggi ke siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah sehingga kemampuan dianara mereka dalam sau kelompok dapa meraa. Hasil wawancara guru Hasil wawancara anggapan guru erhadap proses belajar mengajar, guru berpendapa bahwa pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL dapa memudahkan siswa unuk memahami maeri pengaruh bahan kimia rumah angga erhadap lingkungan. Selain iu mampu memacu akivias siswa-siswa yang semula kurang akif menjadi akif dan yang sudah akif menjadi ambah akif. Guru mengaakan bahwa, dengan peran akif dan keerlibaan siswa akan membangkikan moivasi siswa, sehingga hasil belajar siswa meningka dan idak erganung pada penjelasan guru. Guru mengakui bahwa dengan model pembelajaran IPA erpadu menggunakan LKS berbasis CTL, dapa meningkakan kualias pembelajaran dibandingkan pembelajaran yang sebelumnya (ceramah dan diskusi). Guru juga menyebukan kesulian jika siswa idak siap dengan sumber belajar misalnya buku pake maupun LKS, maka kegiaan belajar mengajar idak akan berjalan dengan baik. SIMPULAN Berdasarkan hasil peneliian dan pembahasan, maka dapa disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL efekif dierapkan pada siswa kelas VII SMP N 1 Dukuhsei Pai. Saran yang digunakan pada peneliian ini adalah Guru IPA hendaknya menerapan LKS berbasis CTL agar dapa melibakan siswa secara akif dalam pembelajaran dan dapa membanu siswa mengaikan anara maeri pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL perlu dikembangkan unuk meningkakan kualias pembelajaran karena penerapan pembelajaran IPA erpadu dengan menggunakan LKS berbasis CTL erbuki dapa mengopimalkan akivias dan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA Buharno Pendekaan Koneksual Pada Pembelajaran Maemaika. Jurnal Guru. (): hal Fogary The Mindful School: How o inegrae he curricula. Palaine, lllinois: IRI/Skyligh Publising.Inc. Hidaya Pengembangan Pembelajaran Terpadu Model Conneced Unuk Meningkakan Hasil Belajar Siswa Dalam Maa Pelajaran Ilmu Pengeahuan Alam. Inovasi Kurikulum 1 (4): hal Yogjakara. Lisyawai. 01. Pengembangan Perangka Pembelajaran IPA Terpadu di SMP. Journal of innovaive Science Educaion 1 (1): hal Semarang: Universias Negeri Semarang. Rahayu, Mulyani & Miswadi. 01. Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Base Melalui Lesson Sudy. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. 1 (1): hal Semarang: Universias Negeri Semarang. Rohaei, Widjajani, & Padmaningrum Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Maa Pelajaran Sains Kimia unuk SMP. Inovasi Pendidikan. hal Yogjakara: FMIPA Universias Negeri Yogjakara. Sanjaya Sraegi Pembelajaran Berorienasi Sandar Proses Pendidikan. Jakara: Kencana. Sudjana Meode Saisika.Bandung: Tarsio Bandung. Sunyono Developmen of Suden Workshee Base on Environmen o Sains Maerial of Yunior High School in Class VII on semeser I Dalam: Proceeding of he nd Inernaional Seminar of Science Educaion. Bandung: UPI. Susilo, Wiyano, & Suparono. 01. Model Pembelajaran IPA Berbasis Masalah Unuk Meningkakan Moivasi Belajar dan Berpikir Kriis. Unnes Science Educaion Journal. 1(1): hal Semarang: Unnes. Triano Model Pembelajaran Terpadu. Jakara: PT. Bumi Aksara. Winarsih, Shoidah & Rachmadiari. 01. Pengembangan LKS berbasis Conexual Teaching and Learning Maeri Hama dan Penyaki Tumbuhan. BioEdu. 1(3): hal 8-1. Surabaya: Universias Negeri Surabaya. 43

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Peneliian Jenis peneliian kuaniaif ini dengan pendekaan eksperimen, yaiu peneliian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi erhadap objek peneliian sera adanya konrol.

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ISSN 5-73X PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ISIKA SISWA Henok Siagian dan Iran Susano Jurusan isika, MIPA Universias Negeri Medan Jl. Willem Iskandar, Psr V -Medan

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK. Oleh: Yoyo Zakaria Ansori

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK. Oleh: Yoyo Zakaria Ansori MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK Oleh: Yoyo Zakaria Ansori Peneliian ini dilaarbelakangi rendahnya kemampuan memecahkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Peneliian Peneliian ini adalah peneliian Quasi Eksperimenal Design dengan kelas eksperimen dan kelas conrol dengan desain Prees -Poses Conrol Group Design

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Jurnal Lensa Kependidikan Fisika Vol. 1 Nomor 1, Juni 13 ISSN: 338-4417 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 1/13

Lebih terperinci

Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Hukum Newton pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu

Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Hukum Newton pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Hukum Newon pada Siswa X SMA Negeri 4 Palu Nursia, Darsikin, dan Syamsu [email protected] Pend. Fisika, FKIP, Universias

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBELAJARAN QUANTUM BERBANTUAN PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF IPA SISWA KELAS V

PENGARUH PEMBELAJARAN QUANTUM BERBANTUAN PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF IPA SISWA KELAS V Ni Nyoman Niha Samadhi, Puu Nanci Riasini. (17). Pengaruh Pembelajaran Quanum Berbanuan Permainan Dalam Pembelajaran Terhadap Keakifan Dan Hasil Belajar Kogniif IPA Siswa Kelas V. Inernaional Journal of

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN A III METODE PEELITIA Salah sau komponen peneliian yang mempunyai ari pening dalam kaiannya dengan proses sudi secara komprehensif adalah komponen meode peneliian. Meode peneliian menjelaskan bagaimana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekaan Peneliian Jenis peneliian yang digunakan dalam peneliian ini adalah peneliian evaluasi dan pendekaannya menggunakan pendekaan kualiaif non inerakif (non

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TERPROGRAM DALAM PEMBENTUKAN MINAT BELAJAR SISWA

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TERPROGRAM DALAM PEMBENTUKAN MINAT BELAJAR SISWA PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TERPROGRAM DALAM PEMBENTUKAN MINAT BELAJAR SISWA Erlangga Andalas Saki, Maskun, Suparman Arif. FKIP Unila Jl. Prof. Dr. Soemanri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung

Lebih terperinci

Indah Nursuprianah, Darsono

Indah Nursuprianah, Darsono Perbedaan Kemampuan Komunikasi Maemaika Siswa Yang Menggunakan Pendekaan Pembelajaran Realisic Mahemaic Educaion (RME) Dan Pendekaan Konvensional Indah Nursuprianah, Darsono Program Sudi Pendidikan Maemaika,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Studi pada karyawan tetap PT PG Tulangan Sidoarjo)

PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Studi pada karyawan tetap PT PG Tulangan Sidoarjo) PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Sudi pada karyawan eap PT PG Tulangan Sidoarjo) Niken Dwi Okavia Heru Susilo Moehammad Soe`oed Hakam Fakulas Ilmu Adminisrasi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Peneliian Keinginan Kelompok Tani Duma Lori yang erdapa di Desa Konda Maloba dan masyaraka sekiar akan berdirinya penggilingan gabah di daerahnya, elah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Sumber Daya Alam (SDA) yang ersedia merupakan salah sau pelengkap ala kebuuhan manusia, misalnya anah, air, energi lisrik, energi panas. Energi Lisrik merupakan Sumber

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suau dugaan aau perkiraan enang erjadinya suau keadaan di masa depan. Akan eapi dengan menggunakan meodemeode erenu peramalan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Air merupakan kebuuhan pokok bagi seiap makhluk hidup di dunia ini ermasuk manusia. Air juga merupakan komponen lingkungan hidup yang pening bagi kelangsungan hidup

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP Halima Rosida 1, Widha Sunarno 2, Supurwoko 3 Program Sudi Pendidikan Fisika PMIPA FKIP UNS Surakara, 57126, Indonesia

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN 5 STATISTIK NON PARAMETRIK

PEMBELAJARAN 5 STATISTIK NON PARAMETRIK PEMBELAJARAN 5 STATISTIK NON PARAMETRIK Kompeensi Dasar paramerik. Mahasiswa memahami enang beberapa eknik analisis saisik non Indikaor Pencapaian Mahasiswa dapa: a. Menjelaskan, menghiung dan menerapkan

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN EMBAHASAN 4.1 Karakerisik dan Obyek eneliian Secara garis besar profil daa merupakan daa sekunder di peroleh dari pusa daa saisik bursa efek Indonesia yang elah di publikasi, daa di

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies

Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies IJCETS 3 (1) (2014): 39-46 Indonesian Journal of Curriculum and Educaional Technology Sudies hp://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jkp PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGENAI RAGAM BUDAYA

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa BAB 2 TINJAUAN TEORITI 2.1. Pengerian-pengerian Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. edangkan ramalan adalah suau siuasi aau kondisi yang diperkirakan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK

ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK Oleh : Bambang Sarjono Saf Pengajar Jurusan Teknik Elekro Polieknik Negeri Semarang Jl. Prof. Sudaro SH. Tembalang. Semarang 50275 Absrak Analisis

Lebih terperinci

Eviani Damastuti-Penerapan Strategi KWL untuk..

Eviani Damastuti-Penerapan Strategi KWL untuk.. PENERAPAN STRATEGI KWL (KNOW-WANT TO KNOW-LEARNED) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA INTENSIF SISWA BERKESULITAN BELAJAR KELAS III SDN MANAHAN SURAKARTA Eviani Damasui dan Sugini *) [email protected]

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 23 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Lokasi Peneliian dilaksanakan di iga empa berbeda. Unuk mengeahui ingka parisipasi masyaraka penelii mengambil sampel di RT 03/RW 04 Kelurahan Susukan dan RT 05/RW

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju-laju

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah persediaan merupakan masalah yang sanga pening dalam perusahaan. Persediaan mempunyai pengaruh besar erhadap kegiaan produksi. Masalah persediaan dapa diaasi

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEPUASAN PASIEN FOKUS PADA KUALITAS PELAYANAN

PENINGKATAN KEPUASAN PASIEN FOKUS PADA KUALITAS PELAYANAN PENINGKATAN KEPUASAN PASIEN FOKUS PADA KUALITAS PELAYANAN Oong Karyono Teknik Indusri, Fakulas Teknik Universias Majalengka Email : [email protected] ABSTRAK Rumah saki umum daerah (RSUD) Kabupaen

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional. JURNAL ILMIAH RANGGAGADING Volume 7 No. 1, April 7 : 3-9 ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Sudi kasus pada CV Cia Nasional. Oleh Emmy Supariyani* dan M. Adi Nugroho *Dosen

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE Indra Nurhadi Program Sudi Manajemen Ekonomi, Fakulas Ekonomi, Universias Gunadarma Jl. Akses Kelapa Dua Cimanggis,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami 11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Keahanan pangan (food securiy) di negara kia ampaknya cukup rapuh. Sejak awal ahun 1990-an, jumlah produksi pangan eruama beras, cenderung mengalami penurunan sehingga

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Masalah Perekonomian dunia elah menjadi semakin saling erganung pada dua dasawarsa erakhir. Perdagangan inernasional merupakan bagian uama dari perekonomian dunia dewasa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TIJAUA TEORITIS 2.1 Peramalan (Forecasing) 2.1.1 Pengerian Peramalan Peramalan dapa diarikan sebagai beriku: a. Perkiraan aau dugaan mengenai erjadinya suau kejadian aau perisiwa di waku yang akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK

ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK Reno Indriariningias, Nachnul Anshori, dan R.Andi Surya Kusuma Teknik Indusri Universias Trunojoyo Madura Email:

Lebih terperinci

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis JURNAL SAINS DAN NI POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Prin) D-224 Peramalan Penjualan Sepeda Moor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis Desy Musika dan Seiawan Jurusan Saisika,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju perumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Salah sau masalah analisis persediaan adalah kesulian dalam menenukan reorder poin (iik pemesanan kembali). Reorder poin diperlukan unuk mencegah erjadinya kehabisan

Lebih terperinci

Jurnal EKSPONENSIAL Volume 5, Nomor 2, Nopember 2014 ISSN

Jurnal EKSPONENSIAL Volume 5, Nomor 2, Nopember 2014 ISSN Peramalan Dengan Meode Smoohing dan Verifikasi Meode Peramalan Dengan Grafik Pengendali Moving Range () (Sudi Kasus: Produksi Air Bersih di PDAM Tira Kencana Samarinda) Forecasing wih Smoohing and Verificaion

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Sauan Pendidikan : SMA Kelas/Semeser Maa Pelajaran Topik Waku : X / Ganjil : Fisika (Wajib/Mina*) : Gerak Jauh Bebas : 4 45 meni A. Kompeensi Ini KI 1: Menghayai dan mengamalkan

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Jurusan PGSD. Oleh:

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Jurusan PGSD. Oleh: PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBI DENGAN MEDIA AUDIO-VISUAL PADA KEGIATAN MENGENAL BAGIAN TUBUH HEWAN TERHADAP KEMAMPUAN MENDESKRIPSIKAN BAGIAN TUBUH MAKHLUK HIDUP KELAS IV SDN SEMAMPIR SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Tahapan Pemecahan Masalah Tahapan pemecahan masalah berfungsi unuk memudahkan dalam mencari jawaban dalam proses peneliian yang dilakukan agar sesuai dengan arah

Lebih terperinci

Penduga Data Hilang Pada Rancangan Bujur Sangkar Latin Dasar

Penduga Data Hilang Pada Rancangan Bujur Sangkar Latin Dasar Kumpulan Makalah Seminar Semiraa 013 Fakulas MIPA Universias Lampung Penduga Daa Pada Rancangan Bujur Sangkar Lain Dasar Idhia Sriliana Jurusan Maemaika FMIPA UNIB E-mail: [email protected] Absrak.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan di PT Panafil Essenial Oil. Lokasi dipilih dengan perimbangan bahwa perusahaan ini berencana unuk melakukan usaha dibidang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah Dalam sisem perekonomian suau perusahaan, ingka perumbuhan ekonomi sanga mempengaruhi kemajuan perusahaan pada masa yang akan daang. Pendapaan dan invesasi merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Dalam pelaksanaan pembangunan saa ini, ilmu saisik memegang peranan pening baik iu di dalam pekerjaan maupun pada kehidupan sehari-hari. Ilmu saisik sekarang elah melaju

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Poensi sumberdaya perikanan, salah saunya dapa dimanfaakan melalui usaha budidaya ikan mas. Budidaya ikan mas yang erus berkembang di masyaraka, kegiaan budidaya

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES Daa merupakan bagian pening dalam peramalan. Beriku adalah empa krieria yang dapa digunakan sebagai acuan agar daa dapa digunakan dalam peramalan.. Daa harus dapa dipercaya

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. PENGUJIAN HIPOTESIS 1. PENDAHULUAN Hipoesis Saisik : pernyaaan aau dugaan mengenai sau aau lebih populasi. Pengujian hipoesis berhubungan dengan penerimaan aau penolakan suau hipoesis. Kebenaran (benar

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang erjadi pada waku yang akan daang sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan pada waku yang

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI PENGGUNAAN ONSEP FUNGSI CONVEX UNU MENENUAN SENSIIVIAS HARGA OBLIGASI 1 Zelmi Widyanuara, 2 Ei urniai, Dra., M.Si., 3 Icih Sukarsih, S.Si., M.Si. Maemaika, Universias Islam Bandung, Jl. amansari No.1 Bandung

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Ramalan adalah sesuau kegiaan siuasi aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

RANK DARI MATRIKS ATAS RING

RANK DARI MATRIKS ATAS RING Dela-Pi: Jurnal Maemaika dan Pendidikan Maemaika ISSN 089-855X ANK DAI MATIKS ATAS ING Ida Kurnia Waliyani Program Sudi Pendidikan Maemaika Jurusan Pendidikan Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam FKIP Universias

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Salah sau ujuan didirikannya perusahaan adalah dalam rangka memaksimalkan firm of value. Salah sau cara unuk mengukur seberapa besar perusahaan mencipakan

Lebih terperinci

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH)

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH) Journal Indusrial Servicess Vol. No. Okober 0 MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH) Abdul Gopar ) Program Sudi Teknik Indusri Universias

Lebih terperinci

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF Pada bab ini akan dibahas mengenai sifa-sifa dari model runun waku musiman muliplikaif dan pemakaian model ersebu menggunakan meode Box- Jenkins beberapa ahap

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penilaian perkembangan kinerja keuangan PT. Goodyear Indonesia Tbk dilakukan dengan maksud unuk mengeahui sejauh mana perkembangan usaha perusahan yang

Lebih terperinci

DAMPAK KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN BAKAU (MANGROVE) TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT PANTAI DI KECAMATAN SECANGGANG, KABUPATEN LANGKAT

DAMPAK KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN BAKAU (MANGROVE) TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT PANTAI DI KECAMATAN SECANGGANG, KABUPATEN LANGKAT DAMPAK KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN BAKAU (MANGROVE) TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT PANTAI DI KECAMATAN SECANGGANG, KABUPATEN LANGKAT Agus Purwoko Absrak Peneliian ini berujuan unuk unuk mengkaji dampak yang

Lebih terperinci

NiKomang Hendri Primayanti,NiNengahMadriAntari,NyomanDantes

NiKomang Hendri Primayanti,NiNengahMadriAntari,NyomanDantes PENERAPAN KONSELING EKSISTENSIAL HUMANISTIK MELALUI KONSELING KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB BELAJAR SISWAKELAS VIII BSMP NEGERI 3 SINGARAJA NiKomang Hendri Primayani,NiNengahMadriAnari,NyomanDanes

Lebih terperinci

Aplikasi Metode Seismik 4D untuk Memantau Injeksi Air pada Lapangan Minyak Erfolg

Aplikasi Metode Seismik 4D untuk Memantau Injeksi Air pada Lapangan Minyak Erfolg Aplikasi Meode Seismik 4D unuk Memanau Injeksi Air pada Lapangan Minyak Erfolg Prillia Aufa Adriani, Gusriyansyah Mishar, Supriyano Absrak Lapangan minyak Erfolg elah dieksploiasi sejak ahun 1990 dan sekarang

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE CRIPT DALAM MENINGKATKAN PRETAI BELAJAR IWA Yuli Trilarasai, Iskandar yah dan Muhammad Basri FKIP Unila Jalan Prof. Dr. oemanri Brojonegoro No. Bandar Lampung 3545

Lebih terperinci

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND Noeryani 1, Ely Okafiani 2, Fera Andriyani 3 1,2,3) Jurusan maemaika, Fakulas Sains Terapan, Insiu Sains & Teknologi

Lebih terperinci

PENJADWALAN PEMBUATAN BOX ALUMININUM UNTUK MEMINIMUMKAN MAKESPAN (Studi Kasus di Perusahaan Karoseri ASN)

PENJADWALAN PEMBUATAN BOX ALUMININUM UNTUK MEMINIMUMKAN MAKESPAN (Studi Kasus di Perusahaan Karoseri ASN) B PENJADWALAN PEMBUATAN BOX ALUMININUM UNTUK MEMINIMUMKAN MAKESPAN (Sudi Kasus di Perusahaan Karoseri ASN) Firiya Gemala Dewi, Bobby O.P. Soepangka, Nurhadi Siswano Program Pasca Sarjana Magiser Manajemen

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci: Metode Demonstrasi, Metode Tanya Jawab dan Pemahama Materi.

ABSTRAK. Kata Kunci: Metode Demonstrasi, Metode Tanya Jawab dan Pemahama Materi. ABSTRAK Skripsi dengan judul Pengaruh Meode Demonsrasi Dan Meode Tanya Jawab Terhadap Peningkaan Pemahama Maeri PAI Kelas X di SMK SORE Tulungagung, ini diulis oleh Sulikhah Khoirul Nikmah, NIM. 2811133252.

Lebih terperinci

Kadek Bayu Wibawa*, I Ketut Sumerta**, I Made Dharmawan***

Kadek Bayu Wibawa*, I Ketut Sumerta**, I Made Dharmawan*** PELATIHAN MENITI PAPAN JARAK 4 METER 5 REPETISI 2 SET DAN 2 REPETISI 5 SET TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 MENGWI TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Kadek Bayu Wibawa*, I Keu Sumera**,

Lebih terperinci

KLASIFIKASI DOKUMEN TUGAS AKHIR MENGGUNAKAN ALGORITMA K-MEANS. Wulan Fatin Nasyuha¹, Husaini 2 dan Mursyidah 3 ABSTRAK

KLASIFIKASI DOKUMEN TUGAS AKHIR MENGGUNAKAN ALGORITMA K-MEANS. Wulan Fatin Nasyuha¹, Husaini 2 dan Mursyidah 3 ABSTRAK KLASIFIKASI DOKUMEN TUGAS AKHIR MENGGUNAKAN ALGORITMA K-MEANS Wulan Fain Nasyuha¹, Husaini 2 dan Mursyidah 3 1,2,3 Teknologi Informasi dan Kompuer, Polieknik Negeri Lhokseumawe, Jalan banda Aceh-Medan

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN III METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Tempa Peneliian Peneliian mengenai konribusi pengelolaan huan rakya erhadap pendapaan rumah angga dilaksanakan di Desa Babakanreuma, Kecamaan Sindangagung, Kabupaen Kuningan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Pengangguran Pengangguran aau una karya merupakan isilah unuk orang yang idak mau bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani. III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Usahaani belimbing karangsari adalah kegiaan menanam dan mengelola anaman belimbing karangsari unuk menghasilkan produksi, sebagai sumber

Lebih terperinci

LILIK SULISTYO Fakultas Sains dan Teknologi UNISNU Jepara ABSTRACT

LILIK SULISTYO Fakultas Sains dan Teknologi UNISNU Jepara ABSTRACT Vol. 5, No., Januari 04 EFEKTIFITAS STRATEGI PAKET BERBASIS MULTIMEDIA DALAM KEMASAN CD INTERAKTIF PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI GEOMETRI SISWA KELAS VII LILIK SULISTYO Fakulas Sains dan Teknologi

Lebih terperinci

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI Yusep Suparman Universias Padjadjaran [email protected] ABSTRAK.

Lebih terperinci