BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
|
|
|
- Yuliana Indradjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Akhir BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan data sekunder Sejarah Perusahaan PT Pratama Abadi Industri merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri sepatu olahraga, berlokasi di Jl.Raya serpong KM 7, Desa Pakulonan, Kec. Serpong Tangerang. Banten. Didirikan ŀtugas pada tanggal 12 Juni 1989, Sepatu yang diproduksi oleh PT Pratama Abadi Industri adalah sepatu olahraga dengan merek NIKE. PT Pratama Abadi Industri bukanlah pemegang lisensi dari merek sepatu yang diproduksi, karena hubungan keduanya merupakan hubungan penjual dan pembeli. Dengan jumlah karyawan sebanyak karyawan, dengan karyawan wanita (81,41%) dan karyawan pria (18,59%). Sampai saat ini telah lebih dari 80 negara tujuan ekspor PT Pratama Abadi Industri. Untuk masalah pemasaran sepenuhnya merupakan tugas dan wewenang dari Pembeli pemegang lisensi yang mempunyai kantor perwakilan di Indonesia. Nilai ekspor sepatu olahraga PT Pratama Abadi Industri dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan, hal ini tentunya merupakan prestasi
2 54 54 tersendiri bagi perusahaan karena secara langsung menunjukan bahwa pihak pemegang merek tetap memberikan kepercayaan pada PT.Pratama Abadi Industri untuk memproduksi sepatu olahraga. Untuk menghadapi persaingan dengan pabrik lain baik dalam negeri maupun luar negeri manajemen PT.Pratama Abadi Industri secara terus menerus mengupayakan peningkatan dari berbagai hal. Dengan Visi : CREATE VALUE FOR OUR CUSTOMER dan Misi : (Lean Enterprise, Craftmanship, Competitive price, Respected by Community). Dengan strategi pengembangan dari NOS production system (NIKE Lean System based on Toyota Production System) Enterprise Resource Planning (ERP) System Human Resource Management System Corporate Responsibility (CR) program The other system that will be developed in the next term to deal with competition issues Struktur Organisasi Struktur Organisasi merupakan suatu bentuk kerangka hubungan pekerjaan antara orang-orang atau kelompok didalam menjalankan tugas sesuai dengan bidang masing-masing. Dalam menjalankan aktivitas perusahaan yang dilakukan oleh pusat-pusat yang terlibat, manajemen seringkali menemukan berbagai kesulitan dalam mengatur hubungan antara orang-orang tersebut, karena semakin banyak yang terlibat dan semakin banyak aktivitas yang dilakukan maka akan semakin kompleks pula hubungan yang terjadi. Untuk mengatasi itu semua
3 Ś Tugas Akhir 55 maka diperlukan suatu bagan yang mengatur dan menjelaskan hubungan antara berbagai bagian dan juga mengatur pelimpahan tanggung jawab antar masingmasing bagian. Bagan struktur organisai PT. Prtama Abdi Industri akan penulis lampirkan pada halaman lampiran Proses Produksi di PT. Prtama Abadi Industri Industri sepatu adalah industri yang padat karya dalam melaksanakan proses produksinya. Secara garis besar, proses produksi sepatu olahraga yang dilakukan di PT. Pratama Abadi Industri terbagi dalam 7 (tujuh) tahap proses produksi yaitu: Rubber Mill, Hot Press, Trimming dan Skyving, Stock Fit, Cutting, Stitching, dan Assembling. 1. Proses Rubber Mill Rubber Mill merupakan proses pembuatan bahan baku pembuat outsole sepatu. Bahan baku pembuatan Outsole tersebut dapat berupa karet alam atau karet sintetis sesuai dengan model sepatunya. Pada proses ini setelah karet ditimbang dan ditambahkan dengan bahan kimia yang diperlukan, kemudian diaduk, digiling serta ditipiskan. Keseluruhan proses ini dilakukan dengan bantuan mesin kecuali proses penimbangan bahan baku masih dilakukan dengan cara manual. Untuk pembuatan Spons, karet yang telah diolah tersebut dimasukkan kedalam oven untuk mendapatkan proses kimia yang diinginkan. Untuk pembuatan outsole karet yang telah diolah tersebut selanjutnya ditambahkan dengan zat pewarna sesuai dengan warna
4 56 yang diinginkan, kemudian diaduk dan digiling untuk mendapatkan bahan baku outsole. Bahan baku Outsole ini kemudian diproses lebih lanjut pada bagian Hot press. 2. Proses Hot Press Hot Press adalah proses pencetakan outsole dengan menggunakan panas dan tekanan. Pada bagian ini bahan baku outsole berupa adonan karet alam atau karet sintetis yang telah ditambah zat pewarna dan zat lainnya dicetak dengan cara dimasukkan kedalam mold sesuai dengan model dan ukuran sepatu untuk kemudian di press dengan mesin press yang memiliki suhu tertentu. Mold dapat berasal dari vendor atau dari PT. Pratama Abadi Industri. 3. Trimming dan Skyving Triming adalah proses kelanjutan dari Hot Press dan Rubber mill. Hasil dari proses Hot Press dan Rubber Mill yang berupa spons dan sol luar yang kasar, dirapikan atau permukaannya dikasarkan dengan cara digerinda untuk mempermudah proses Stock Fit. 4. Proses Stock Fit Stock Fit adalah proses pembuatan sol sepatu dengan cara menyatukan Out sole dan Midsole dengan menggunakan bahan perekat. Bila diperlukan maka pada Stock fit juga dilakukan penjahitan untuk memperkuat proses penyatuan sol. Bila proses penyatuan telah selesai maka selanjutnya menunggu hasil proses cutting dan stitching untuk kemudian dibawa ke bagian
5 57 assembling guna proses penyatuan bagian atas (upper) dan bawah sepatu (bottom) sehingga menjadi sebuah sepatu. 5. Cutting Sebelum pekerjaan cutting dilakukan sebelumnya dilakukan pembuatan mold yang dikerjakan dengan menggunakan perangkat komputer. Dari gambar mold ini selanjutnya dibuat mold atau disebut dengan cutting dies sebagai alat bantu proses cutting agar saat melakukan proses pemotongan tidak terjadi kekeliruan dan mempunyai nilai akurasi yang tinggi serta dapat menghindari pemborosan penggunaan bahan baku karena kesalahan pemotongan. Untuk pemotongan material kulit maka pemotongan harus dikelompokkan menjadi beberapa bagian seperti bagian pantat sapi, perut sapi dan bagian kepala sapi. Untuk beberapa model tertentu maka dilakukan juga proses pencetakan simbol (embose), proses ini sebagian masih dilakukan oleh pihak luar karena masih terbatasnya tenaga dan mesin yang ada pada PT. Pratama Abadi Industri. 6. Stitching Potongan-potongan bahan hasil dari proses pemotongan, selanjutnya diproses pada bagian stitching dengan cara dijahit. Penjahitan dilakukan sesuai dengan pola yang telah dibuat dan menggunakan benang sesuai dengan model sepatu yang telah direncanakan. Bersamaan dengan proses penjahitan, bila diperlukan maka dilakukan juga proses pelapisan atau penambahan spond sesuai dengan model yang akan dibuat. Proses penjahitan juga dilakukan secara manual, sedangkan proses pelapisan dengan spond untuk bagian dalam dilakukan dengan cara manual juga yaitu dengan cara direkatkan dengan lem khusus serta
6 ȕ Tugas Akhir 58 dikombinasikan dengan dijahit bila hal ini diperlukan. Berikut adalah proses kerja yang ada di Sewing atau Stiching : Tabel 4.1.Proses-proses kerja pada line sewing No Mesin/Man Nama Proses 1 Manual Lem dan tempel hell reinf 2 Manual Jahit zigzag quarter overlay ke collar 3 Manual Tempel eyestay facing ke collar 4 Manual Jahit quarter lining ke quarter overlay 5 Manual Tempel eyestay top reinf dan tempel eyestay top ke quarter 6 Manual Jahit top eyestay ke collar 7 Manual Jahit swoosh ke quarter 8 Manual Jahit foxing u'lay ke heel 9 Post 2 Jahit foxing to foxing u'lay 10 Flat 1 Gauge top eyestay, foxing underlay, tip underlay 11 Flat 1 Jahit foxing ke collar 12 Flat 1 ZZ Jahit zigzag vamp ke quarter 13 Flat 1 ZZ Lem vamp, Tempel eyestay overlay dan tip u'lay 14 Flat 1 Jahit eyestay overlay ke vamp/quarter dan Jahit tip u'lay ke vamp 15 Flat 1 Jahit tip ke vamp 16 Flat 1 Jahit collar lining ke collar 17 Flat 1 Jahit counter ke upper 18 Flat 1 Lem collar dan tempel collar foam 19 Post 2 Balik collar lining 20 Post 2 Jahit kunci collar lining 21 Manual Upper pounching 22 Manual Triming eyestay lining 23 Manual Jahit tongue ke upper 24 Manual Jahit upper margin 25 Manual Cleaning upper 26 MC Press Pasang tali 27 HM Roll Jahit quarter mesh ke quarter overlay 28 Manual Gauge Eyestay Overlay, Tongue Lining 29 Post 1 Tempel foxing reinf, lem foxing u'lay, tempel foxing u'lay ke heel 30 Post 2 Jahit tongue lebel 31 Post 1 Jahit tongue webing ( Kapasitas 2 line ) 32 Post 1 Jahit tingue ke tongue lining (top area) 33 Post 1 Jahit tingue ke tongue lining (side area), balik tongue dan tempel tongue foam 34 Post 1 Jahit tip ext ke vamp 35 Post 1 Jahit mudguard ke vamp 36 HM Spray Jahit obras tongue lining ke vamp 37 HM Spray Jahit tongue ke vamp dan pinggir collar lining 38 HM Spray Jahit close seam tongue 39 HM Roll Jahit eyestay bottom ke vamp
7 Ś Tugas Akhir Assembly Assembly menerima pasokan bahan untuk dirakit dari gudang upper dan gudang outsole untuk dirakit menjadi sebuah sepatu. Pada bagian ini proses perakitan sepatu bagian kiri dan bagian kanan dilakukan pada jalur yang terpisah. Tahap perakitan dimulai dengan proses lasting yaitu proses pemasangan bagian atas sepatu sesuai dengan nomor sepatu pada mold. Lasting dilakukan secara bertahap mulai dari bagian depan, bagian samping, dan bagian belakang, dengan menggunakan mesin tekan (Press Machine). Setelah proses lasting selanjutnya dipanaskan dengan cara dimasukkan kedalam oven dengan temperatur kurang lebih 40 derajat celcius. Proses ini bertujuan agar bagian atas sepatu benar-benar pas dengan ukuran yang diinginkan serta untuk membakukan bentuk sepatu yang diinginkan. Setelah itu dilakukan proses pengkasaran dari bagian upper sepatu yang akan direkatkan dengan bagian bottom. Proses ini dilakukan dengan mesin dan bertujuan agar lem dapat merekat dengan kuat. Selanjutnya adalah proses merekatkan bagian upper dan bagian bottom dengan menggunakan lem tertentu sesuai dengan jenis bahan sepatu yang digunakan. Pekerjaan penggabungan ini dilakukan dengan mesin (Press Machine). Penekanan dilakukan pada bagian bottom secara bergantian diawali dengan bagian samping, kemudian bagian muka dan selanjutnya bagian belakang. Setelah proses penekanan selesai maka sepatu tersebut dimasukkan kedalam oven yang bertujuan untuk mempercepat pengeringan lem.
8 ȕ Tugas Akhir 60 Pada proses selanjutnya yaitu Finishing, dilakukan pembersihan terhadap bagian-bagian sepatu yang kotor terkena sisa lem. Selain itu juga dilakukan pemberian tali sepatu serta insole. Sebelum sepatu dikemas didalam kotak atau yang disebut dengan inner box. Sepatu-sepatu yang telah selesai diproduksi harus dicek terlebih dahulu oleh bagian Quality Control apakah warna yang ada pada sepatu tersebut berubah karena diakibatkan oleh suhu pada oven yang terlalu panas, selain itu juga sepatu-sepatu yang siap dikemas tersebut juga di cek apakah ada bagian yang kurang rata dalam pengelemen sehingga menyebabkan ada bagian sepatu yang tidak menempel sempurna. Bila semuanya telah selesai maka dilakukan proses pengepakan menggunakan kemasan (inner box) yang telah disiapkan sesuai dengan ukuran sepatu dan modelnya. Kemasan-kemasan tersebut selanjutnya dimasukkan kedalam outer box dan selanjutnya sepatu-sepatu tersebut siap untuk di distribusikan sesuai dengan jumlah order yang diminta oleh negara-negara pembeli yang merupakan pangsa pasar dari sepatu-sepatu tersebut seperti Amerika, Jepang, Kanada, Jerman, India dan lain-lain. 4.2 Sistem Produksi Sepatu INPUT PROSES OUTPUT QUALITY CONTROL (QC) Gambar 4.1. Sistem Produksi
9 61 Sistem Produksi Sepatu adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manusia dan mesin untuk mengolah material menjadi sepatu. Proses Pembuatan Sepatu terdiri dari proses pembuatan upper, proses pembuatan bottom, proses perakitan (assembling) dan proses pengemasan sepatu (packaging and labeling). Proses pembuatan upper dimulai dengan pemotongan bahan (cutting), prefit dan proses jahit. Proses pembuatan bottom dimulai dengan proses penyampuran bahan (mixing), pembuatan komponen bottom dan proses stockfit. U p p e r B o tt o m Proses perakitan sepatu (assembling) adalah proses menyatukan upper dengan bottom menjadi sebuah sepatu Sepatu yang sudah jadi dan sudah diperiksa kualitasnya kemudian dikemas di dalam kotak sepatu. Gambar 4.2. Pengemasan sepatu Proses Flow Chart Peta Aliran Proses atau Proses Flow Chart sering disebut PFC atau Spec merupakan kumpulan lembaran yang berisi spesifikasi sepatu, gambar komponenkomponen sepatu dan urutan proses pembuatan sepatu yang harus dijalankan untuk menghasilkan sepasang sepatu NIKE yang berkualitas bagus.
10 62 PFC atau Spec terdiri dari : 1. Cover berisi gambar sepatu, nama sepatu, kode sepatu, size range sepatu, Kode last yang digunakan, kode mold, Key Features dan Key Manufacturing sepatu, serta spesifikasi standard IDS. 2. Material Specification berisi nama komponen, deskripsi material, nomor MCS, warna material, ketebalan/thickness, unit dan proses yang diperlukan material. 3. Cutting berisi nama komponen, gambar komponen, cutting die schedules, jumlah layer dan arah potong material. 4. Spesifikasi proses prefit berisi spesifikasi perforation, spesifikasi logo, proses screen, proses HF welding, proses skiving, proses pre buffing, proses marking, penempatan reinforce, dan jahit komputer. 5. Stitching overview berisi urutan proses jahit komponen upper, jenis mesin, jenis dan ukuran jarum, jenis benang, stitch margin (mimi), stitch length, warna benang atas dan bawah, serta gambar proses jahit. 6. Spesifikasi bottom berisi bottom logo spec, IP spec, PU spec, outsole color schedule, pre form spec, dan outsole pressing process. 7. Sock liner spec, BPFC, Assembling process, Pre-stockfitting, Stock fitting process, Lasting clip, IDS measurement, inner box, foot form, BPM molding chiller, Heel height spec, dan Key Manufacturing Process.
11 63 Gambar 4.3. Lembar PFC Komponen-Komponen Upper Komponen-komponen UPPER dihasilkan dari proses cutting material upper. Secara umum komponen upper terdiri dari 12 bagian utama yaitu : Tabel 4.2.Komponen Sepatu No Gambar Nama Fungsi No Gambar Nama Fungsi 1 Tip Penahan jari-jari kaki 7 Collar Lining Pelindung belakang kaki 2 Vamp Sambungan tip ke quarter 8 Counter Penguat belakang sepatu 3 Quarter Pelindung kaki 9 Backtab Pencekeram bagian tumit
12 64 4 Eye stay Bagian buka tutup sepatu 10 Foxing Penguat belakang sepatu 5 Tongue Pelindung kaki dari ikatan tali sepatu 11 Pull tab Penarik belakang sepatu 6 Mud guard Merangkai tip dengan foxing 12 Logo Swoosh Merk NIKE Proses Pembuatan Upper 1. Jenis material yang paling sering digunakan untuk membuat upper antara lain material kulit (leather), material buatan (synthetic), dan material mesh. 2. Proses pemotongan material upper (cutting) adalah proses memotong material dengan menggunakan mesin cutting sesuai pola komponen upper. Hal-Hal Penting Pada Proses Cutting : a. Arah serat material yang akan dipotong (tercantum dalam PFC). b. Jumlah lapisan / layer pemotongan (tercantum dalam PFC). c. Periksa bentuk cutting dies (cutting dies harus rata dan bentuknya sesuai gauge). d. Pemakaian cutting board sesuai jadwal (untuk material kulit : maksimal cutting board digunakan selama 16 jam) sedangkan (untuk material non kulit : maksimal cutting board digunakan selama 24 jam).
13 65 e. Setting tekanan mesin sesuai dengan ketebalan bahan. 2. Prefit adalah proses-proses yang perlu dilakukan untuk menyiapkan material yang akan dijahit. Proses-proses yang termasuk prefit adalah : Tabel 4.3. Proses-proses pada prefit No 1 2 No GAMBAR GAMBAR NAMA PROSES Proses Skiving adalah proses pengurangan bagian tepi dari material untuk mengurangi gembung, menghindari X-ray dan menghindari ketidaknyamanan pemakai sepatu. Proses Matrix Skiving adalah pengurangan bagian tepi dari material upper. Proses matrix skiving menggunakan jig sesuai pola komponen. NAMA PROSES Proses Pre-buffing adalah proses pengasaran /pengelupasan tepi bawah komponen. Tujuan proses ini adalah untuk mengurangi ketebalan di bawah insole, mempermudah pelipatan pada waktu lasting dan membantu kekuatan bonding. Proses Gauge marking (Geji / sablon) adalah proses pemberian tanda pada komponen dimana komponen lain dapat diletakkan mengikuti tanda tersebut. Proses Edge painting adalah proses mengecat bagian tepi komponen. Biasanya untuk material kulit atau material sintetik yang perbedaan warna permukaan dan tepi materialnya terlalu jauh (menyolok). Proses reinforcement adalah proses melapisi bagian Upper yang lebih membutuhkan kekuatan. Biasanya bagian eyestay, quarter, vamp dan foxing Proses folding/rokomi adalah proses melipat material kemudian menempelkan dan dijahit. Proses ini digunakan bila bagian tepi material tidak ingin ditampilkan pada design. Proses embossing adalah proses pemberian ornamen atau bentuk lekukan pada permukaan material dimana tekanan dan panas diberikan pada permukaan material sehingga bagian tertentu timbul atau menonjol. Proses HF (High Frequency) Welding adalah proses pemberian dekorasi pada Upper dengan mengaplikasikan material lain pada permukaan Upper dengan memakai mesin High Frequency.
14 66 No GAMBAR NAMA PROSES Proses jahit komputer adalah proses jahit dengan menggunakan mesin yang dijalankan dengan program komputer. Mesin jahit ini menggunakan jig saat menjahit sehingga hasilnya lebih konsisten. Proses toe box activating adalah proses memanaskan lem pada material toe box sehingga material toe box dapat melekat pada komponen tip secara kuat. 12 Proses size label stamping adalah menempelkan size label pada komponen tongue lining atau komponen collar lining. 13 Proses jahit bordir adalah proses jahit otomatis dengan menggunakan mesin jahit bordir. Proses jahit bordir digunakan untuk memberikan dekorasi pada upper atau untuk membuat logo. 4. Proses Jahit Upper adalah proses menjahit / merangkai komponenkomponen upper menjadi sebuah Upper sepatu. Proses jahit upper dilakukan oleh beberapa operator jahit, urutan proses jahit yang dilakukan harus mengikuti PFC. HAL-HAL PENTING PADA PROSES JAHIT (SEWING) : a. Jenis-jenis jahitan pada proses pembuatan sepatu antara lain : No 1 No 2 GAMBAR GAMBAR Tabel 4.4.Jenis-jenis Jahitan JENIS JAHITAN Jahit Fungsional adalah jahitan yang dipergunakan untuk menyatukan beragam komponen upper. JENIS JAHITAN Jahit Dekorasi adalah jahitan yang dipergunakan untuk bagian kosmetik sepatu. 3 Jahit Sambung adalah jahitan yang mempertemuan dua bagian upper dan disatukan dengan mengunakan bantuan mesin jahit Jahit Sambung Zig-Zag adalah jahitan yang dibentuk ketika ujung dari material saling dipertemukan kemudian dijahit dengan pola ke kiri dan ke kanan (zig zag). Jahitan tidak boleh saling menumpuk atau renggang (ada gap). Jahit Balik dan Lipat adalah meletakan komponen saling berhadapan pada permukaan atas dan kemudian dijahit dengan mesin jahit berjarum satu, Kemudian jahitan tersebut dibalik, lalu dilipat. Jahit Tutup (closed seam) adalah muka material diletakkan berhadapan sebelum dijahit dan kemudian pada bagian belakang dilipat dan diketok (biasanya digunakan lem untuk memegang bagian lipatan)
15 67 Akhir b. Jenis benang dan jarum yang digunakan pada proses jahit harus sesuai dengan PFC. Dibawah ini adalah jenis benang dan jarum yang umum digunakan pada proses jahit sepatu. Tabel 4.5. Jenis-jenis Benang dan jarum c. Pentingnya gauge dan nik. Pada proses jahit upper, operator jahit harus mengikuti gauge (tanda) dan nik yang ada pada komponen upper. Jika proses jahit tidak mengikuti gauge/tanda maka upper yang dihasilkan tidak konsisten. Jika upper tidak konsisten maka sepatu menjadi tidak pas dengan kaki pemakai sepatu. d. Stitch Margin dan Stitch Length. ÏTugas Stitch margin (mimi) jahitan adalah jarak jahitan dengan tepi komponen. Stitch length (SPI) adalah jumlah langkah jahitan per inci. Standard mimi dan stitch length upper setiap model sepatu tercantum pada PFC. e. Jenis-jenis mesin jahit : Tabel 4.6.Jenis-jenis mesin jahit No GAMBAR JENIS MESIN JAHIT Flat Bed Stitching Machine atau mesin jahit flat/mesin jahit pendek adalah tipe mesin yang paling dasar & dapat di modifikasi menggunakan satu jarum/dua jarum dan tipe zigzag. Post Bed Stitching Machine atau mesin jahit postar / mesin jahit tinggi adalah tipe mesin serbaguna karena mampu melakukan beragam operasi. Dapat dimodifikasi menggunakan satu jarum/dua jarum Computer Stitching Machine atau mesin jahit komputer adalah mesin jahit yang dijalankan oleh program komputer. Mesin jahit ini digunakan untuk jahitan dekoratif dan komponen yang bentuknya sukar sehingga hasilnya lebih konsisten. Micro Processor Computerized Stitching Machine atau mesin jahit bordir adalah mesin jahit yang dipergunakan untuk jahitan dekoratif pada bagian upper. Hasil jahitannya konsisten. Strobel Stitching Machine atau mesin jahit strobel adalah mesin jahit yang digunakan untuk menyatukan upper dengan strobel sock. Sehingga bentuk upper menjadi seperti kaos kaki.
16 68 ALIRAN PROSES PEMBUATAN UPPER Aliran Proses Pembuatan Upper secara garis besar adalah sebagai berikut : PERSIAPAN KOMPONEN UPPER PROSES JAHIT KOMPONEN TONGUE PROSES JAHIT KOMPONEN UPPER PROSES JAHIT PINGGIR UPPER MELUBANGI BAGIAN TALI SEPATU JAHIT KOMPONEN TONGUE KE UPPER MEMBERSIHKAN UPPER QC PACKING Gambar 4.4. Aliran Proses Pembuatan Upper Data Downtime Downtime merupakan pemberhentian line yang tidak terjadwal. Data downtime diperoleh berdasarkan hasil pengumpulan waktu pemberhentian line produksi yang tidak terjadwal. Data downtime yang ada di dalam perusahan PT PAI terbagi atas 2 kategori :
17 69 - Downtime Machine yaitu pemberhentian line yang disebabkan karena kerusakan mesin - Downtime Process yaitu pemberhentin line yang disebabkan karena material yang tidak ada atau adanya material cacat ditengah line Berikut merupakan data downtime yang telah dikumpulkan untuk setiap proses dalam satu line. Tabel 4.7. Down Time Status 19 Mei Jun 2011 DownTime Status by Line NO Date Downtime Order Produced Machine( Process Machine Process Quantity Total Menit) (Menit) (Pairs) (Pairs) BTS May-19 1, % May % May % Jun-01 1, % Jun % Jun % Jun-04 1, % Jun % Jun-06 1, % Jun % Jun % Jun-09 1, % Jun-10 1, % Jun-11 1, % Jun % Jun % Jun-14 1, % Jun-15 1, % Jun-16 1, % Jun-17 1, % Rata-rata 80% Untuk dapat melakukan perhitungan jumlah BTS (build to shedule) pada proses produksi assembly dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pengumpulan data hasil downtime proses dan downtime mesin setiap hari dalam satuan menit. 2. Setelah data downtime yang dibutuhkan telah tersedia maka dari data tersebut akan diakumulasikan ke dalam jumlah pasang berdasarkan standar
18 70 waktu yang telah diberikan untuk menghasilkan satu pasang sepatu (Takt Time), untuk diperhitungkan jumlah produk yang terbuang karena adanya pemberhentian proses atau mesin yang tidak terjadwal. Dibawah ini perhitungannya ; 1 Jam = 60 Menit = 144 pasang ( Target produksi) Taktime = Target Produksi = 144 = 2.4 menit Waktu Yang tersedia 60 Downtime Machine/Process = Waktu DownTime X TakTime = 50 X 2.4 = 120 Pasang 3. Hasil produksi yang terbuang didapat karena adanya proses downtime maka dari data diatas akan diperhitungkan untuk menghasilkan besarnya jumlah BTS yang dihasilkan karena adanya Downtime, dan rumus perhitungannya adalah sebagai berikut : BTS = Unit yang dijadwalkan -( Down Time (pasang )) Unit yang dijadwalkan = 1260 (120+96) 1260 = 0.83 = 83 % Data Defect / Cacat Data defect/cacat adalah data yang diperoleh berdasarkan hasil pengumpulan cacat yang dihasilkan oleh proses upper dan sole karena kualitas dari beberapa jumlah produk yang dihasilkan belum memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Berikut adalah detail status defect.
19 71 Tabel 4.8.Defect Status 19 Mei 17 Juni 2011 NO Date Order Defect A Grade BTS Quantity Upper Sole Upper Sole Upper Sole BTS May-19 1, ,260 1, % 99% 99% May % 100% 100% May % 99% 99% Jun-01 1, , % 99% 99% Jun % 99% 96% Jun % 99% 99% Jun-04 1, ,299 1, % 100% 100% Jun ,296 1, % 100% 100% Jun-06 1, ,008 1, % 100% 100% Jun % 100% 100% Jun % 100% 100% Jun-09 1, ,074 1, % 99% 99% Jun-10 1, ,626 1, % 100% 100% Jun-11 1, ,008 1, % 99% 99% Jun % 100% 100% Jun % 99% 99% Jun-14 1, ,080 1, % 99% 99% Jun-15 1, ,080 1, % 99% 99% Jun-16 1, ,362 1, % 99% 99% Jun-17 1, ,362 1, % 100% 100% Rata-rata 99% Berikut adalah prosedur perhitungan jumlah BTS (build to shedule) pada proses produksi berdasarkan data Defect. 1 Pengumpulan data defect atau cacat yang dihasilkan karena upper maupun sole yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan 2 Setelah data defect yang dibutuhkan telah tersedia maka dari data tersebut akan diakumulasikan untuk perhitungan jumlah produk tanpa cacat (A Grade ) yang dihasilkan, dan rumus perhitungannya adalah sebagai berikut; A Grade = Unit yang dijadwalkan ( Cacat) = = Dari data A Grade yang telah didapat dilakukan perhitungan untuk menghasilkan besarnya persentase BTS untuk proses upper & sole yang dihasilkan, dan berikut contohnya;
20 72 BTS Upper = A Grade Unit yang dijadwalkan = 1260 = 1 = 100 % 1260 BTS Sole = A Grade Unit yang dijadwalkan = 1251 = = 99 % 1260 BTS = BTS Upper X BTS Sole = 100 X 99 = 99 % 4.3. Urutan Pembuatan Line Balancing Merupakan langkah-langkah atau urutan perhitungan line balancing sebelum model sepatu tersebut diproduksi secara massal( tahap trial) atau Pre- Determinant line balancing, sampai kemudian sepatu tersebut diproduksi secara massal lalu kemudian membuat aktual line balancing untuk dijadikan dasar melakukan improvement. Berikut Langkah-langkahnya : Pre-Determinant Line Balancing Yaitu dengan sistem perhitungan terkomputerisasi untuk menentukan waktu standar sebuah produksi secara cepat, akurat dan detail. Metode data waktu gerakan atau dalam industri sepatu dikenal dengan nama SATRA data. Tahap-tahap menentukan cycle time (Standard Minutes):
21 73 a. Observasi di lapangan/pfc untuk mengetahui proses kerja. -observasi -Identifikasi Gambar 4.5. Observasi Lapangan b. Analisa urutan elemen proses kerja. c. Menyusun elemen kerja berdasarkan basic movement. d. Melakukan dititiser area (jika diperlukan) Gambar 4.6. Dititiser area e. Input data handling, Batch size, Rest allowance.
22 74 Gambar 4.7. Input data handling
23 75 f. Hasil dari Pre-determinant satra data Tabel 4.9. Tabel Line Balancing
24 76 Cycle Time Waktu untuk mengerjakan satu siklus proses produksi. Didapat dengan menggunakan program dan Trial. Takt Time Waktu standar produksi perpasang sepatu berdasarkan order produksi. Waktu yang ada per shift dibagi dengan jumlah produk yang diminta oleh costumer (target). Contoh : waktu yang ada Target produksi = 1jam = 3600 detik = 72 ps/1 jam 3600 Detik : 72 ps/jam = 50 detik. Kebutuhan Tenaga Kerja Dimana hasil bagi antara Cycle Time dengan takt time. Contoh : Cycle Time = detik Takt time = 50 detik Maka Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah = : 50 = 0.88 orang = 1 orang. Sehingga didapat total kebutuhan operator dalam satu line seperti terlihat pada tabel diatas. Layout proses produksi Merupakan perkiraan layout sebelum dilakukan pengukuran line balancing kembali.
25 77 Kebutuhan Mesin Gambar 4.8. Layout Line Sewing Tabel Kebutuhan Mesin
26 78 Gambar 4.9. Grafik Cycle Time dan Grafik Yamazumi Perhitungan Line Balancing Setelah perhitungan Pre-determinant line balancing selesai dilakukan dan telah diaplikasikan di area produksi, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan line balancing kembali dengan tujuan menyeimbangkan proses produksi agar proses improvement bisa dilakukan dan diperoleh hasil yang optimal dan sumberdaya yang minimal. Berikut adalah perhitunganya :
27 79 Tabel Tabel Line Balancing
28 80 Kebutuhan Tenaga Kerja Dimana hasil bagi antara Cycle Time dengan takt time. Contoh : Cycle Time = detik Takt time = 72 detik Maka Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah = : 72 = 0.96 orang = 1 orang. Sehingga didapat total kebutuhan operator dalam satu line seperti terlihat pada tabel diatas. Output per jam Merupakan hasil produksi yang dihasilkan si operator tersebut yakni per pasang sepatu. Rumus : waktuyangtersedia output = xjumlahoperatorpertama+ cycletime Contoh : jumlahoperatorberikutnya 3600 x 1oprator = 75 prs / jam Layout proses produksi dan Diagram Yamazumi Merupakan aktual layout setelah dilakukan perhitungan perhintungan line balancing. Berikut merupakan layoutnya : Man power yang dibutuhkan: TotalCycleTime ManPowerNeeded = T arg etcycletime
29 ManPowerNeeded = 60 ManPowerNeeded = 40orang Efisiensi : EfisiensiM P= 40 EfisiensiMP= 47 EfisiensiMP= 85% ManPowerNeeded ManPowerActual ȕtugas Akhir 81 MACHINE JUMLAH Flat 1 Nd 7 Zigzag 4 Post 1 Nd 12 Post 2 Nd 2 Computer (cc) 6 Hammering 1 Ponching 1 Hot melt spray 1 Hot melt pen 1 Total 35 gambar 4.10 Grafik Cycle Time dan Yamazumi Gambar Layout Line Balancing
30 82 Dengan hasil line balancing aktual diatas didapat penumpukan komponen atau bottleneck ditengah line, maka dilakukan kembali analisa gerakan dan improve pada jig tersebut yaitu pada prosese jahit quarter lining ke querter overlay, dimana terjadi penumpukan komponen seperti terlihat pada gambar berikut: Computer Stiching Computer stiching merupakan mesin jahit yang otomatis yang sudah diprogram melalui sistem komputerisasi, sehingga operator hanya perlu memasang komponen pada pallet, lalu setelah itu pallet diletakkan pada mesin jahit dan kemudian operator hanya menekan tombol untuk menjalankanya. PALLET Gambar 4.12.Pallet computer Stiching Kondisi aktual mesin jahit tersebut menggunakan satu pallet. Perhitungan Cycle time: Memasang komponen pada pallet = 10 detik Proses jahit Output = 25 detik = (3600:35 detik) x 1 pasang = 102 pasang/jam. Sehingga waktu menganggur adalah detik = 15 detik.
31 83 Dengan demikian penambahan satu pallet lagi sangat memungkinkan karena bisa mengurangi waktu menganggur menjadi 5 detik, dan sisa waktu tersebut bisa digunakan untuk pemeriksaan kualitas output oleh operator. Dengan demikian dengan menggunakan 2 pallet didapatkan output 2 kali lipat yaitu menjadi 204 pasang per jam, sehingga tidak terjadi lagi penumpukan pada proses tersebut Pengukuran dan Pengolahan Data Waktu Proses Computer stiching Waktu proses computer stiching dilakukan menggunakan cara pengukuran langsung dengan alat Bantu stopwatch ( jam henti ). Waktu yang diukur adalah waktu siklus proses jahit dengan menggunakan mesin jahit computer, berbagai pola pada setiap komponen yang sudah distandarisasikan di dalam perusahaan. Pengukuran tidak dilakukan untuk tiap elemen gerakan karena waktu siklusnya yang terlalu singkat dan gerakan perpindahan antar elemen kerja yang sulit diamati sehingga sulit untuk mengukur waktu tiap elemen gerakan. Pengumpulan data hanya dibatasi pada proses computer stiching yang jumlahnya sangat banyak untuk sekali proses. Berikut adalah bentuk Pola jahitan pada model Retalite yang sudah distandarisasikan di dalam PT. Pratama Abadi Industri - G2 = Straigh Lines Accurate(stich.webbing to tongue) - G5= Curves, Start and Stop(stich swosh(lateral)) - G7= Deep Curves, Start and Stop(stich tongue to upper) - G8 = Straight, Curve, Corner, Start and Stop(stic. Toe box to vamp lining lateral)
32 84 Gambar 4.13.PFC Komponen Upper Gambar 4.14 Standarisasi bentuk pola
33 85 Data waktu siklus Proses computer stiching dibagai berdasarkan pola jahitan yang telah distandarisasikan dan hasilnya dilihat pada tabel berikut ini. Tabel Waktu Siklus Proses computer stiching NO Waktu Penyelesaian G2 ( menit ) Waktu Penyelesaian G5 ( menit ) Waktu Penyelesaian G7 ( menit ) Waktu Penyelesaian G8 ( menit )
34
35 87 Waktu siklus rata-rata untuk Pola G2 = 1.01 Waktu siklus rata-rata untuk Pola G5 = 0.92 Waktu siklus rata-rata untuk Pola G7 = 1.17 Waktu siklus rata-rata untuk Pola G8 = Pengujian Keseragaman Data a. Penghitungan waktu rata-rata siklus = Xi X = N Dimana: Xi adalah data waktu ke -i N adalah banyaknya data pengukuran waktu = Xi G2 X = = = 1.01 N 60 = Xi = G5 X = = = 0.92 N 60 = Xi = G7 X = = = 1.17 N 60 = Xi = G8 X = = = 1.49 N 60 b. Penghitungan standar deviasi waktu penyelesaian sebenarnya = G2. ( Xi X ) = ( ( )² + ( )² +...+( )² = 7.64 N = 60-1 = 59
36 88 = 2 ( Xj X ) σ = = = 7.64 = 0.35 N 1 59 =G5. ( Xi X ) = (( )² + ( )² +...+( ))² = 5.05 N = 60-1 = 59 σ = ( Xj X ) N 1 = 2 = =0.29 = G7. ( Xi X ) = ( ( )² + ( )² +...+( ))² = 5.42 N = 60-1 = 59 σ = ( Xj X ) N 1 = 2 = = 0.30 = G8. ( Xi X ) = ( ( )² + ( )² +...+( )² = 7.05 N = 60-1 = 59 σ = ( Xj X ) N 1 = 2 = = 0.34 c. Penentuan batas kontrol atas ( BKA ) dan batas kontrol bawah ( BKB ) Tingkat keyakinan 95 % dengan nilai distribusi normal (Z) = 2 BKA = X + Z. σ G2 = ( 0.35 ) = 1.71 G5 = ( 0.29 ) = 1.5 G7 = ( 0.30 ) = 1.77
37 89 G8 = ( 0.34 ) = 2.17 BKB = X - Z. σ G2 = ( 0.35 ) = 0.31 G5 = ( 0.29 ) = 0.34 G7 = ( 0.30 ) = 0.57 G8 = ( 0.34 ) = 0.81 Berdasarkan hasil perhitungan BKA dan BKB dapat dibuat plot peta kendali yang betujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh terletak dalam batas kendali. Peta Kendali G W a k t u Waktu CL BKA BKB Pengamatan Gambar Peta Kendali Proses comput ( Pola G2 )
38 90 Peta Kendali G5 W aktu Pengamatan Waktu CL BKA BKB Gambar Peta Kendali Proses computer stiching ( Pola G5 ) Peta Kendali G W a k t u Waktu CL BKA BKB Pengamatan Gambar Peta Kendali Proses computer stiching ( Pola G7 ) Peta Kendali G8 W a k tu Waktu CL BKA BKB Pengamatan Gambar Peta Kendali Proses 1 computer stiching ( Pola G8 )
39 91 Berdasarkan gambar 4.1, 4.2, 4.3, 4.4 dapat dilihat bahwa sedikit sekali data yang berada di atas BKA dan di bawah BKB (tidak ada data yang berada diluar batas kendali ) sehingga data dapat dinyatakan seragam dan dapat digunakan untuk penghitungan lebih lanjut Pengujian Kecukupan Data Tingkat keyakinan 95 %, koefisien pada distribusi normal = 2 Tingkat ketelitian 10 %, nilai s = 10/100 = 0.10 Xij ² G2 = 1.15²+1.27² ² = Xij ² G5 = 1.20²+1.02² ² = Xij ² G7 = 1.41²+1.00² ² = Xij ² G8 = ² ² = Xij G2 = = = Xij G5 = = Xij G7 = = Xij G8 = = (Xij) ² G2 = (60.06) ² = (Xij) ² G5= (56.36) ² = (Xij) ² G7= (71.68) ² = (Xij) ² G8= (90.17) ² = Banyaknya data yang diperlukan dihitung dengan rumus N = [ Z/s N Xij 2 - ( Xij) 2 ] 2
40 92 Xij N G2 = [ 2/ x ( ) ] 2 = N G5 = [ 2/ x ( )] 2 = N G7 = [ 2/ x ( )] 2 = N G8 = [ 2/ x ( )] 2 = G2 = 60 > 52.4 G5 = 60 > G7 = 60 > G8 = 60 > Maka, N > N yang berarti data telah mencukupi 4.5 Faktor Penyesuaian dan Faktor Kelonggaran Penentuan waktu baku tidak hanya didasarkan pada pengukuran waktu secara langsung tetapi operator yang bekerjapun harus diberi penilaian untuk faktor penyesuaian dan faktor kelonggaran proses kerja computer stiching Penentuan Faktor Penyesuaian Cara Westinghouse Keterampilan operator secara keseluruhan cukup baik (average skill ). Usaha operator tergolong baik dengan waktu menganggur sedikit, kecepatan kerja yang baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari, menerima saran dan petunjuk dengan senang dan percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu (Good Effort ). Kondisi lingkungan kerja cukup. Konsistensi operator dalam
41 93 menyelesaikan pekerjaannya sedikit kurang baik karena sebagian besar waktu penyelesaian selisihnya cukup besar terhadap waktu penyelesaian rata-rata( Fair ). Keterampilan : Good (C2) = Usaha : Good (C1) = Kondisi : Good (C1) = Konsistensi : Fair (E) = Jumlah = Faktor penyesuaian yaitu : p = (1 + 0,08) = Hasil p>1, berarti operator bekerja diatas normal atau di atas waktu sewajarnya karena operator bekerja terlalu cepat ( sekitar 55 % data waktu pengukuran langsung berada di bawah nilai rata-rata siklus ) Penentuan Faktor Kelonggaran Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan hambatan - hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Besarnya nilai faktor kelonggaran dapat dilihat pada tabel standar ( lampiran halaman 77 ) dan pengamatan dilakukan terhadap seorang pekerja wanita. 1) Tenaga yang dikeluarkan : 3 % Dapat diabaikan karena proses jahit dilakukan di meja sambil duduk dan operator tidak menanggung beban 2) Sikap Kerja : 0.5% Bekerja duduk dan ringan
42 94 3) Gerakan Kerja : 0% Proses jahit1 NFB dilakukan pada gerakan kerja normal ( tidak terhalang atau dibatasi oleh suatu penghalang 4) Kelelahan mata : 2 % Proses pengemasan ke dalam dus lipat membutuhkan pandangan yang hampir terus menerus karena pekerjaan cukup teliti memastikan agar hasil jahit rapi dengan keadaan pencahayaan dalam ruangan baik 5) Keadaan temperatur tempat kerja : 5 % Proses jahit dilakukan di ruangan dengan suhu sedang 27º cc 6) Keadaan atmosfer : 0 % Ruangan tempat menjahit memiliki ventilasi yang cukup baik dan berudara segar 7) Keadaan Lingkungan : 1 % Pekerjaan mengemas obat ke dalam duslipat memiliki siklus kerja yang berulang-ulang antara detik 8) Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi : 5 % Operator yang dijadikan obyek penelitian pengukuran waktu standar jahit 1 NFB adalah wanita Jadi, total faktor kelongggaran untuk proses jahit 1 NFB adalah 16,5%
43 Pengukuran Kembali Line Balancing Dengan Menggunakan Metode Analitik Setelah melakukan improvement pada proses yang menggunakan mesin computer stiching melalui penambahan jig dan juga penentuaan waktu baku melalui analisa faktor-faktor kelonggaran. Maka dilakukan kembali pengukuran line balancing berdasarkan metode Analitik. Seperti terlihat pada tabel berikut ini: Hasil pengukuran kembali Line Balancing Tabel Tabel Line Balancing Model : NIKE AIR RETALIATE Target : 72 Prs/Hrs Line : 10-1 Takt time : Sec/ prs Date : 8/20/2011 IE Dept. No Operation Standard waktu ratarata Jumlah data Manpower Rating(%) % tambahan waktu waktu normal JML WKT Requested DIBERIKAN Manpower Standard time Desription 1 Lem dan tempel hell reinf Manual 75 2 Jahit zigzag quarter overlay ke collar F Zigzag ND 92 3 Tempel eyestay facing ke collar Manual 84 4 Jahit quarter lining ke quarter overlay cc Tempel eyestay top reinf dan tempel eyestay top ke quarter Manual 67 6 Jahit top eyestay ke collar Post 1 ND 89 7 Jahit swoosh ke quarter CC Jahit foxing u'lay ke heel Flat 1 ND 90 9 Jahit foxing to foxing u'lay Flat 1 ND Gauge top eyestay, foxing underlay, tip underlay Manual Jahit foxing ke collar Post 1 ND Jahit zigzag vamp ke quarter Post Zigzag ND Lem vamp, Tempel eyestay overlay dan tip u'lay HM Pent Jahit eyestay overlay ke vamp/quarter dan Jahit tip u'lay ke Post 1 ND Jahit tip ke vamp Post 2 ND Jahit collar lining ke collar Post 1 ND Jahit counter ke upper Post 1 ND Lem collar dan tempel collar foam HM Spray Balik collar lining Manual Jahit kunci collar lining Post 1 ND Upper pounching Pouncing m/c 103 Output/h
44 96 22 Triming eyestay lining Manual Jahit tongue ke upper CC Jahit upper margin Flat 1 ND Cleaning upper Manual Pasang tali Manual 75 SUB TOTAL INSIDE LINE OUTSIDE LINE Jahit quarter mesh ke quarter overlay CC Gauge Eyestay Overlay, Tongue Lining Manual Tempel foxing reinf, lem foxing u'lay, tempel foxing u'lay ke Manual 0 30 Jahit tongue lebel Flat 1 ND Jahit tongue webing ( Kapasitas 2 line ) CC Jahit tingue ke tongue lining (top area) Flat 1 ND Jahit tingue ke tongue lining (side area), balik tongue dan tempel tongue foam Flat 1 ND Jahit tip ext ke vamp Flat Zigzag ND Jahit mudguard ke vamp Flat 1 ND Jahit obras tongue lining ke vamp Flat 4 ND Jahit tongue ke vamp dan pinggir collar lining Flat 1 ND Jahit close seam tongue Flat 2 ND Jahit eyestay bottom ke vamp Flat 1 ND 73 SUB TOTAL OUTSIDE LINE TOTAL Direct Labor 48 Staff IE Supervisor IE. Supporting : - Material handler 1 - Bonis 1 - Team leader TOTAL MAN POWER 1 51 Doppon.T Erson Perhitungan untuk line balancing Waktu proses seluruh lintasan Adalah penjumlahan dari seluruh waktu siklus seperti terlihat pada tabel diatas yaitu sebesar 510,36 detik. Kapasitas Produksi Stasiun Kerja atau Takt Time Kapasitas Produksi = Kapasitas waktu yang tersedia Target produksi/jam Untuk memenuhi permintaaan konsumen, dengan berbagai pertimbangan maka perusahaan menetapkan target 72 pasang/jam. Maka line produksi perlu dipertimbangkan kembali agar tidak ada proses yang mengalami bottleneck.
45 97 Maka Takt time adalahwaktu standar produksi perpasang sepatu berdasarkan order produksi. Waktu yang ada per shift dibagi dengan jumlah produk yang diminta oleh costumer (target). Contoh : waktu yang ada Target produksi = 1jam = 3600 detik = 72 ps/1 jam 3600 Detik : 72 ps/jam = 50 detik. Takt time = Waktu yang ada Target produksi/jam 3600 detik Jumlah Stasn min = 72 pasang/jam = 50 detik. maka didapat Takt time sebesar 50 detik yang artinya seluruh proses yang ada di line sewing tidak boleh dibawah atau diatas takt time agar tidak terjadi bottleneck maupun pengangguran. Waktu normal Waktu normal = waktu rata-rata x Rating. Dimana untuk rating yang dipakai di PT.Pratama adalah: Lambat = 80-99% Normal = 100% Cepat = %
46 98 Jumlah waktu yang diberikan waktunormalx100 jumlahwaktuyangdiberikan= 100 % tambahanwaktu Dimana untuk % tambahan waktu yang merupakan standar dari perusahaan adalah sebagai berikut : Manual = 8%, (43 menit, 9 jam) Mesin = 12%,(65 menit, 9 jam) Layout dan Grafik Yamazumi balancing. Berikut merupakan layoutnya : Man power yang dibutuhkan: TotalCycleTime ManPowerNeeded = T arg etcycletime ManPowerNeeded = 72 ManPowerNeeded = 45orang Efisiensi : EfisiensiM P= 45 EfisiensiMP= 48 EfisiensiMP= 90% ManPowerNeeded ManPowerActual
47 99 Gambar 4.19 Layout Gambar 4.20.Grafik Cycle time danyamazumi Dari grafik cycle time terlihat masih banyak proses yang yang diatas takt time maka harus diseimbangkan seperti terlihat pada grafik yamazumi. Yaitu dengan menjumlahkan proses yang waktu siklusnya tinggi dengan waktu siklusnya rendah kemudian dibagi jumlah tenaga kerja keduanya. Contoh: Proses 4 & 5 = Proses 4 & 5 = Waktu siklus p#4 + waktu siklus#5 Pengabungan tenaga kerja Waktu siklus p#4 + waktu siklus#5 Pengabungan tenaga kerja = = detik
48 100 Begitu selanjutnya untuk proses selanjutnya sehingga didapat keseimbangan lintasan, dan layout yang baru.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan Data Sekunder 4.1.1. Sejarah Perusahaan PT. Chingluh Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan sepatu yang berlokasi
TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LINE BALANCING UNTUK MERENCANAKAN KESEIMBANGAN LINE PRODUKSI PADA LINE SEWING 10 PADA PERAKITAN SEPATU NIKE
TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LINE BALANCING UNTUK MERENCANAKAN KESEIMBANGAN LINE PRODUKSI PADA LINE SEWING 10 PADA PERAKITAN SEPATU NIKE Diajukan guna melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) merupakan ekspansi dari PT. ADIS Dimension Footwear yang berlokasi di
BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. Asia Dwimitra Industri merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang berlokasi di Jl. Legok - Karawaci KM 6,2 Desa Cijantra, Kecamatan
BAB 4 PEMBAHASAN HASIL
BAB 4 PEMBAHASAN HASIL 4.1 Profil Perusahaan 4.1.1 Sejarah Perusahaan PT. Asia Dwimitra Industri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri manufaktur yang berdiri sejak tahun 2008 dan berlokasi
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Gambaran Umum Perusahaan PT. Pratama Abadi Industri merupakan sebuah industri manufaktur yang memproduksi sepatu untuk berlari (running shoes) yang berlokasi
BAB 1 PENDAHULUAN. satunya adalah dunia industri yang secara langsung melibatkan perkembangan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi telah membawa perubahan hampir semua bidang, salah satunya adalah dunia industri yang secara langsung melibatkan perkembangan teknologi dalam
BAB I PENDAHULUAN. (Factory) dan tahun 2007 (Workshop) silam. Perusahaan ini memproduksi sepatu untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Chingluh Indonesia adalah salah satu perusahaan sepatu dari Taiwan didaerah Kabupaten Tangerang tepatnya di Cikupa. Perusahaan ini telah berdiri sejak tahun 2005
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum PT. Parkland Word Mayong Jepara 1. Data Umum PT. Parkland Word Mayong Jepara PT. Parkland Word Mayong Jepara, merupakan suatu perusahaan yang bergerak
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Tinjauan Umum Perusahaan 4.1.1 Profil Umum Perusahaan PT. Asia Dwi Mitra Industri merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufacture, produk yang dihasilkan
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada Line 104 Plant 1 yang memiliki nilai NOS Metrics yang paling signifikan perubahannya dari bulan ke bulan selama tahun 2013. Data Penelitian
DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... SURAT KETERANGAN PENELITIAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... SURAT KETERANGAN PENELITIAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERSEMBAHAN... MOTTO... KATA PENGANTAR..... ABSTRAK.....
BAB 4 HASIL DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL DAN BAHASAN 4.1 Profil Perusahaan. 4.1.1 Gambaran Umum PT. Vigano Cipta Perdana. PT. Vigano Cipta Perdana merupakan perseroan terbatas yang terletak di jalan Kebon Pala No. 67E Jakarta Utara,
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan dan Pengolahan Data. 4.1.1. Profil Perusahaan PT.X merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri sepatu olahraga yang memproduksi untuk perusahaan
LAMPIRAN 1. Struktur Organisasi PT. X L-1
LAMPIRAN 1 Struktur Organisasi P. X L-1 Struktur Organisasi P. X, angerang Banten LAMPIRAN 2 Daftar Wawancara Informan L-2 Wawancara dengan informan A (divisi QIP) Lama bekerja enis Kelamin Umur abatan
BAB 5 SIMPULAN & SARAN
BAB 5 SIMPULAN & SARAN 5.1 Simpulan Dari penelitian, pengolahan data dan analisa yang sudah dilakukan oleh penulis, maka dapat disimpulan sebagai berikut : 1. Jenis kecacatan yang terdapat pada proses
BAB 4 PENGOLAHAN DATA PENELITIAN
44 BAB 4 PENGOLAHAN DATA PENELITIAN 4.1 Sejarah Singkat PT. TMMIN Casting Plant dalam Memproduksi Camshaft Casting plant merupakan pabrik pengecoran logam untuk memproduksi komponen-komponen mobil Toyota.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Penelitian cara kerja atau yang dikenal juga dengan nama methods analysis merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan metode kerja yang akan dipilih untuk melakukan suatu pekerjaan.
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Perusahaan BORSANO merupakan sebuah home-industry yang bergerak di bidang produksi sepatu kulit. Saat ini perusahaan memiliki masalah yaitu waktu baku setiap stasiun kerja tidak diketahui, kinerja
BAB I PENDAHULUAN. juga menuntut setiap perusahaan untuk selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam era globalisasi saat ini, persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik di pasar nasional maupun di pasar internasional. Meningkatnya persaingan bisnis
THE FACTORY ORGANISATION
THE FACTORY ORGANISATION Director IT - Department Finance Shipping Human Resources Marketing Manager Chief Merchandiser Merchandisers Sampling Asst. Merchandiser Production Management Production Orders
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Ekstraksi Hasil Pengumpulan Data 5.1.1 Data Umum Produk Perusahaan menggunakan batch sebagai satuan dalam produksi, dimana 1 batch adalah sebesar : 1. Spon untuk ukuran 9
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Umum Perusahaan 4.1.1 Profil Perusahaan PT. Carvil Abadi adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur pembuatan sepatu dan sandal yang mulai berdiri pada bulan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Semakin hari semakin pesatnya perkembangan industri manufaktur
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin hari semakin pesatnya perkembangan industri manufaktur sehingga membuat produsen harus pandai dalam menghadapi persaingan. Ketatnya persaingan di pasar nasional
BAB III METODOLOGI. Proses produksi pada PT. PIN khususnya proses dari bagian upper (cutting
BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Pikir Proses produksi pada PT. PIN khususnya proses dari bagian upper (cutting dan sewing) sampai pada bagian assembly akan diubah menjadi suatu sistem produksi yang benar-benar
Perbaikan Tata Letak Fasilitas Cell Produksi Dengan Menggunakan Work Cell in Proses Layout Untuk Meningkatkan Effisiensi Cell 8 di PT.
Perbaikan Tata Letak Fasilitas Cell Produksi Dengan Menggunakan Work Cell in Proses Layout Untuk Meningkatkan Effisiensi Cell 8 di PT. Shyang Yao Fung Nelfiyanti 1), Ribut Sulasmini 2) Fakultas Teknik
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Setiap pekerjaan pasti memiliki suatu sistem kerja tertentu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sistem kerja memiliki peranan penting dalam menyelesaikan pekerjaan.
III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN
III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN Pabrik roti seperti PT Nippon Indosari Corpindo merupakan salah satu contoh industri pangan yang memproduksi produk berdasarkan nilai permintaan, dengan ciri produk
BAB 2 LANDASAN TEORI
23 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi mengenai Kualitas Saat kata kualitas digunakan, kita mengartikannya sebagai suatu produk atau jasa yang baik yang dapat memenuhi keinginan kita. Menurut ANSI/ASQC Standard
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Jurnal dan referensi diperlukan untuk menunjang penelitian dalam pemahaman konsep penelitian. Jurnal dan referensi yang diacu tidak hanya dalam negeri namun juga
BAB IV PEMBAHASAN. PT. Shyang Yao Fung adalah perusahaan industri manufaktur yang
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan PT. Shyang Yao Fung adalah perusahaan industri manufaktur yang bergerak di bidang sepatu olahraga yang bermerek Adidas yang memproduksi sepatu untuk pria, wanita,
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengaturan Jam Kerja Berikut adalah kebijakan jam kerja di PT. XX Tabel 4.1 Jam Kerja Reguler Reguler Hari Jam Kerja Istirahat Total Waktu Kerja Senin - Kamis
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Pengumpulan data 4.1.1 Produk Gutter Complete R/L Perusahaan PT. Inti Pantja Press Industri dipercayakan untuk memproduksi sebagian produk kendaraan
LAMPIRAN SOP Setting Mesin 2. SOP Langkah Kerja 3. SOP Pemeriksaan 4. Flowchart Prosedur Usulan di Lantai Produksi
DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 1. SOP Setting Mesin 2. SOP Langkah Kerja 3. SOP Pemeriksaan 4. Flowchart Prosedur Usulan di Lantai Produksi Tujuan : Untuk mempermudah dalam melakukan setting mesin. Dan memastikan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Studi Gerak dan Waktu ( Barnes h.257 ) Studi Gerak dan Waktu merupakan suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan
BAB IV. KONSEP PERANCANGAN
BAB IV. KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Menurut ASEAN DNA, sebuah situs untuk mempromosikan pemahaman yang berkaitan dengan karakteristik ASEAN menyebutkan bahwa rata-rata tinggi badan
BAB 2 LANDASAN TEORI
20 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Teknik Pengukuran Data Waktu Jam Henti Di dalam penelitian ini, pengukuran waktu setiap proses operasi sangat dibutuhkan dalam penentuan waktu baku setiap
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. 4.1.1
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. CV Aneka Konveksi merupakan sebuah perusahaan konveksi yang
48 BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Perusahaan CV Aneka Konveksi merupakan sebuah perusahaan konveksi yang didirikan pada tahun 1996 dan mempunyai 40 mesin dan 30 tenaga kerja pada
Analisis Efisiensi Operator Pemanis CTP dengan Westing House System s Rating
Petunjuk Sitasi: Cahyawati, A. N., & Pratiwi, D. A. (2017). Analisis Efisiensi Operator Pemanis CTP dengan Westing House System s Rating. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp. B211-216). Malang: Jurusan
DAFTAR LAMPIRAN. LAMPIRAN 1. Flow Process Chart. 2. Nilai Rating Factor. 3. Nilai Allowance. 4. Form Tugas Akhir. 5.
DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1. Flow Process Chart 2. Nilai Rating Factor 3. Nilai Allowance 4. Form Tugas Akhir 5. Surat Penjajakan 6. Surat Balasan Perusahaan 7. Surat Keputusan Tugas Akhir 8. Lembar Asistensi
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam penelitian ini adalah dengan melakukan studi kepustakaan dan studi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data dan informasi dilakukan di PT. Bella Agung Citra Mandiri Kota Sidoarjo. Metode pengumpulan data dan informasi yang digunakan dalam penelitian
Pengukuran Kerja Langsung (Direct Work Measurement)
Pengukuran Kerja Langsung (Direct Work Measurement) Pengukuran Kerja (Studi Waktu / Time Study) Perbaikan postur Perbaikan proses Perbaikan tata letak Perbaikan metode /cara kerja Data harus baik, representasi
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data gerakan kerja dilakukan dengan cara merekam proses perakitan resleting polyester dengan handycam / kamera video. Setelah itu data
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Model Diagram Metodologi Gambar 4.1 Metodologi Penelitian 47 Gambar 4.2 Metodologi Penelitian (lanjutan) 48 4.2 Penelitian Pendahuluan Penelitian dilakukan di PT. Refconindo
Evaluasi Efisiensi Proses Produksi Sepatu Ardiles Kolonel : A Case Study
Evaluasi Efisiensi Proses Produksi Sepatu Ardiles Kolonel : A Case Study Rivaldo Pratama 1, Debora Anne Y.A. 2 Abstract: PT. X produces Ardiles Kolonel school shoes for kids. Total order for Ardiles Kolonel
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pembebanan Pembebanan (loading) dapat diartikan pekerjaan yang diberikan kepada mesin atau operator. Pembebanan menyangkut jadwal waktu kerja operator dalam kurun waktu satu hari
UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PADA PLONG MANUAL DAN GLUEING MANUAL DI PT. X
Geovano / Upaya Peningkatan Kapasitas Produksi pada dan di PT. X / Jurnal Titra, Vol. 5, No. 2, Juli 2017, UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PADA PLONG MANUAL DAN GLUEING MANUAL DI PT. X Antonius Geovano
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian dan tujuan rancang fasilitas Wignjosoebroto (2009; p. 67) menjelaskan, Tata letak pabrik adalah suatu landasan utama dalam dunia industri. Perancangan tata letak pabrik
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Aktual Jumlah Frekuensi Cacat PT. X
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur yang memproduksi sepatu. Sebagai salah satu perusahaan yang menghasilkan produk kelas dunia, maka kualitas
BAB V HASIL DAN ANALISIS
BAB V HASIL DAN ANALISIS 5.1 Temuan Utama dan Hasil Pengolahan dan analisis data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, dapat dinyatakan bahwa temuan utama dalam penelitian ini adalah terjadinya pemborosan
BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam kegiatan industri khususnya industri otomotif, ujung tombak yang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kegiatan industri khususnya industri otomotif, ujung tombak yang sangat berperan dalam memberikan input yang signifikan terhadap perusahaan adalah bagian produksi.
BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan dunia industri dari waktu ke waktu dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pesatnya perkembangan dunia industri dari waktu ke waktu dan persaingan yang ketat antar perusahaan di tuntut untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang
BAB 3 METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Flowchart Metode Penelitian Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai Studi Pendahuluan: Pengamatan flow process produksi Assembly
BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN.. Sejarah Perusahaan PT. Pratama Abadi Industri didirikan pada tanggal 2 Juni 989. Perusahaan ini merupakan sebuah industri padat karya yang bergerak
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Pengamatan dan penelitian yang di lakukan di Pilot Line di Plant 2, menunjukkan data sebagaimana terlampir di bawah ini. Data tahun 2014 belum
BAB V ANALISA. 5.1 Analisa Tahapan Define
5.1 Analisa Tahapan Define BAB V ANALISA 5.1.1 Analisa Diagram SIPOC(Supplier Input Process Output Customer) Dari hasil penggambaran Diagram SIPOC, terlihat informasi elemenelemen yang terlibat langsung
BAB 6 USULAN DAN ANALISIS
BAB 6 USULAN DAN ANALISIS 6.1 Stasiun Kerja Usulan Berikut merupakan nama-nama stasiun kerja usulan yang digunakan untuk memproduksi toy Nxxxx. Pada usulan ini terdapat 27 stasiun kerja, berikut merupakan
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Pemanfaatan bahan kulit asli yang dihasilkan dari kulit hewan bisa mempengaruhi kesinambungan kehidupan hewan. Oleh karena itu diharapkan bisa
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Produksi dan Proses Produksi 2.1.1 Pengertian Produksi Dari beberapa ahli mendifinisikan tentang produksi, antara lain 1. Pengertian produksi adalah suatu proses pengubahan
B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1
B A B 5 1 VSM adalah suatu teknik / alat dari Lean berupa gambar yg digunakan untuk menganalisa aliran material dan informasi yg disiapkan untuk membawa barang dan jasa kepada konsumen. VSM ditemukan pada
BAB V HASIL DAN ANALISA
BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Analisa Hasil Perhitungan Data Berdasarkan hasil dari pengumpulan serta pengolahan data yang sudah dilakukan menggunakan peta kendali p sebelumnya maka diperoleh hasil dari
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN dan ANALISIS DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN dan ANALISIS DATA 4.1 Sejarah Perusahaan PT. SRI adalah perusahaan joint venture dengan PMA (Pemilik Modal Asing) didirikan untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
39 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini mengemukakan tentang pengumpulan data dan pengolahan data. Pengumpulan data yang aktual berfungsi untuk memberikan masukan data bagi model-model pemecahan masalah
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Latar Belakang Masalah. Perumusan Masalah. Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini secara sistematis mengenai tahapan yang dilakukan dalam membuat penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan dapat digambarkan dengan sebuah flowchart pada gambar
PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI DI PT. X DENGAN MEMPERHATIKAN LINTASAN PERAKITAN DAN TATA LETAK FASILITAS
78 Purnomo: PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI DI PT. X DENGAN MEMPERHATIKAN LINTASAN... PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI DI PT. X DENGAN MEMPERHATIKAN LINTASAN PERAKITAN DAN TATA LETAK FASILITAS Helmi Indra Purnomo ),
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Sejarah Perusahaan (Sumber: Company Profil PT.IGP) Gambar 4.1 Layout IGP Group IGP Group dimulai dengan berdirinya PT.GKD pada tahun 1980 dengan frame
Bab I Pendahuluan. Support. Webbing QC Sewing. Gambar I.1 Skema alur proses produksi tas di PT. Eksonindo Multi Product Industry
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang PT. Eksonindo Multi Product Industry (EMPI) merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi tas. Proses produksi tas di PT. EMPI dilakukan melalui beberapa tahap,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Jika dalam suatu organisasi atau perusahan telah diterapkan sistem kerja yang baik dengan diperhatikannya faktor-faktor kerja serta segi-segi ergonomis,tentunya perusahaan tersebut
LAMPIRAN 1. Pembagian dan Tugas Tanggung Jawab.
LAMPIRAN 1. Pembagian dan Tugas Tanggung Jawab. 1. Plant Manager Plant Manager sebagai pimpinan tertinggi dalam perusahaan mempunyai wewenang dan tanggung jawab sebagai berikut: a. Tugas Manager bertugas
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN, DAN ANALISIS DATA
23 BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN, DAN ANALISIS DATA 4.1 Sejarah Perusahaan Pertama berdirinya PT. Tri Tunggal Bangun Sejahtera di Tangerang adalah melalui tahapan yang begitu kecil. Dalam awal pendiriannya
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Just In Time System pada PT. Primarindo Asia Infrastructure Penerapan Just In Time pada PT. Primarindo Asia Infrastructure baru mulai dilakukan pada awal
BAB II LANDASAN TEORI
8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Keseimbangan Lini (Line Balancing) Keseimbangan lini adalah pengelompokan elemen pekerjaan ke dalam stasiun-stasiun kerja yang bertujuan membuat seimbang jumlah pekerja yang
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Perancangan Sistem Kerja Perancangan sistem kerja adalah suatu ilmu yang terdiri dari teknik - teknik dan prinsip - prinsip untuk mendapatkan rancangan terbaik dari sistem
Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan
Uji Keseragaman Data Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan Pengamatan (Menit) No Kegiatan Rata rata sigma (Xirata)^2 S BKA BKB Keterangan 1 Plat MS di ukur, digambar dan
BAB 1 PENDAHULUAN. Gerakan tangan yang dilakukan operator dalam pekerjaan sangat berkaitan dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gerakan tangan yang dilakukan operator dalam pekerjaan sangat berkaitan dalam keahliannya dalam mengubah/merakit suatu bahan baku menjadi bahan jadi (perakitan suatu
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. PT. Citra Tunas Baru Gramindo adalah perusahaan yang bergerak di industry
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan PT. Citra Tunas Baru Gramindo adalah perusahaan yang bergerak di industry garmen, dimana perusahaan memproduksi kemeja pria dewasa. Bahan dasar untuk produksi
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas mengenai analisa produktivitas yang berlangsung di PT. Schott Igar Glass (SIG), mulai dari menganalisa perbedaan-perbedaan yang ada antara mesin
BAB III OBJEK PENELITIAN. Perusahaan PT Abdy Sentra Kreasi adalah sebuah pabrik pengolahan dan
BAB III OBJEK PENELITIAN III.1 Sejarah Singkat Perusahaan Perusahaan PT Abdy Sentra Kreasi adalah sebuah pabrik pengolahan dan pembuatan celana jeans yang ditujukan untuk pasaran lokal. Lokasi pabrik tersebut
Lampiran 1: Tugas dan Tanggung Jawab Karyawan
Lampiran : Tugas dan Tanggung Jawab Karyawan Pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan dalam PT. Bintang Persada Satelit secara garis besar adalah sebagai berikut:. Direktur Direktur
BAB V HASIL DAN ANALISA
BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Hasil Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada pengolahan data pada bab sebelumnya, maka hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 5.1.1 Waktu
KESEIMBANGAN LINI PRODUKSI PADA PT PAI
KESEIMBANGAN LINI PRODUKSI PADA PT PAI Citra Palada Staf Produksi Industri Manufaktur, PT ASTRA DAIHATSU MOTOR HEAD OFFICE Jln. Gaya Motor III No. 5, Sunter II, Jakarta 14350 [email protected] ABSTRACT
BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. PT.Ricky Putra Globalindo merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang
20 BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Pengumpulan Data 2.1.1 Sejarah Umum Perusahaan PT.Ricky Putra Globalindo merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan pakaian dalam. Pakaian dalam yang
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA 4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 Sejarah Perusahaan PT. Multikarya Sinardinamika berdiri pada Desember 1990 dan mulai beroperasi pada Januari 1991. Perusahaan
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 Sejarah Perusahaan PT Ameya Living Style Indonesia, merupakan sebuah perusahaan garmen yang berskala internasional yang ternama
ERGONOMI & APK - I KULIAH 8: PENGUKURAN WAKTU KERJA
ERGONOMI & APK - I KULIAH 8: PENGUKURAN WAKTU KERJA By: Rini Halila Nasution, ST, MT PENGUKURAN WAKTU KERJA Pengukuran kerja atau pengukuran waktu kerja (time study) adalah suatu aktivitas untuk menentukan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1, Objek Penelitian Objek penelitian untuk tugas akhir ini adalah Process Cycle Efficiency pada proses produksi Blank Cilynder Head Type KPH di PT. X melalui pemetaan produk
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 Tabel Rating Factor Westinghouse Faktor Kelas Lambang Penyesuaian Superskill A1 + 0,15 A2 + 0,13 Excellent B1 + 0,11 B2 + 0,08 C1 + 0,06 Good Keterampilan C2 + 0,03 Average D 0,00 Fair
ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER
ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER Disusun oleh: Nama : Eka Kurnia Npm : 32412408 Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : I. Ir.
B A B I I LANDASAN TEORI
B A B I I LANDASAN TEORI 2.1 Proses Manufaktur Manufaktur merupakan suatu aktivitas manusia yang mencakup semua fase dalam kehidupan. Computer Aided Manufacturing International (CAM-I) mendefinisikan manufaktur
MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT)
MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT) 1.1. TUJUAN PRAKTIKUM Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas
BAB I PENDAHAHULUAN I.1
BAB I PENDAHAHULUAN I.1 Latar Belakang Setiap perusahaan tentunya ingin selalu meningkatkan kepuasan pelanggan dengan meningkatkan hasil produksinya. Produk yang berkualitas merupakan produk yang memenuhi
3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bagian ketiga dari laporan skripsi ini menggambarkan langkah-langkah yang akan dijalankan dalam penelitian ini. Metodologi penelitian dibuat agar proses pengerjaan penelitian
BAB 4. PENGUMPULAN, PENGOLAHAN dan ANALISA DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN dan ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Waktu siklus Stasiun Kerja Stik (Jahit) Tabel 4.1 Data Waktu Siklus Stasiun Kerja Stik (Jahit) Per 1 pasang Pengamatan Waktu
INTEGRATED CASE MANAGEMENT ACCOUNTING CV. TRANSIT
Sejarah Singkat CV Transit CV Transit adalah suatu badan usaha yang bergerak dibidang industri pembuatan sepeda. CV Transit didirikan pada tanggal 20 Juni 1995. Produk utama penjualan CV Transit ini adalah
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Produksi Botol Kemasan Sabun Lifebuoy Bahan baku utama untuk pembuatan botol kemasan sabun lifebuoy adalah biji plastik berwarna putih yang sudah memenuhi standar
LAMPIRAN 1. (Tabel Pengujian Kenormalan Data)
LAMPIRAN 1 (Tabel Pengujian Kenormalan Data) Tabel Pengujian Kenormalan Data Stasiun Forming A Tabel Pengujian Kenormalan Data Stasiun Forming B Tabel Pengujian Kenormalan Data Stasiun Machining Pengujian
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Time and Motion Study Time and motion study adalah suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator (yang memiliki skill rata-rata dan terlatih) baik
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Ivana Mery Lestari Matras merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur yang memproduksi spring bed. Perusahaan ini berdiri pada tahun
