2. TINJAUAN PUSTAKA Komponen utama dalam siklus armada

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "2. TINJAUAN PUSTAKA Komponen utama dalam siklus armada"

Transkripsi

1 . TINJAUAN PUSTAKA Bab n memaparkan dasar eor yang relevan dengan objek penelan n dan hasl penelan sebelumnya yang pernah dlakukan oleh penel lan..1. Komponen uama dalam sklus armada Slklus armada (vehcle cycle) mempunya ga komponen uama, yau : sklus operas (operang cycle), sklus pelayanan (servce cycle), dan sklus ahunan (annual cycle) (Manhem, 1979). Sklus operas dmula dan berakhr pada suau empa bass operas (operaonal base), suau ermnal permanaen aau semenara dmana armada dsrahakan jka dak sedang dalam pelayanan. Slklus armada n melpu waku perjalanan bak keka sedang kosong aaupun s, waku loadng dan unloadng, waku penempaan (posonng me), waku operas pelayanan(operaonng sevces me), waku proses (processng me), dan penundaan jadwal (schedulle slack). Tempa bass operas operas n lebh dkenal sebaga ermnal empa mula dan berakhrnya pelayanan. Sklus pelayanan dmula dan berakhr pada suau empa bass perawaan uama (major manenance base), dmana armada dgaraskan dan dlakukan pemelharaan. Seap sklus pelayanan ersusun aas sau aau lebh sklus operas. Tempa bass perawaan uama (major manenance base) merupakan empa dmana armada dlakukan perawaan, dan armada dgaraskan keka dak sedang operas. Tempa bass perawaan uama n kadang-kadang dsebu dengan pool aau garas. Sklus ahunan erdr dar oal rayekor dar armada dalam sau ahun. Sklus ahunan n melpu sklus pelayanan, dambah waku yang dbuuhkan unuk pemelharaan, dan dambah waku dle. Hubungan anara ga komponen uama ersebu dberkan dalam gambar -1.

2 Sklus ahunan dalam pelayanan s Sklus pelayanan Sklus Operas () VC Sklus Operas () VC Sklus operas Possonng PC In moon MVE Travel T Termnal STA Travel, Loaded TL Travel, Unloaded TUL Load/unload LULD Operaonal Servcng, OS Cruse, CR Decceleraon/, cceleraon, ACD Delay, D Cruse, CR Decceleraon/, cceleraon, ACD Delay, D Perawaan MNT dle dle Sklus Operas () VC Possonng PS Schedule Slack SLK Movemen Processng MP Processng Loaded, MPL Processng unloaded, Gambar -1 : Sklus armada Varabel dan hubungannya

3 10.. Hubungan varabel waku dalam sklus operas Dalam sklus operas dapa ddenfkas menjad : Waku possonng (posonng me, P ), adalah waku yang dbuuhkan unuk bergerak dar empa bass perawaan uama (major manenance base) ke empa bass operas pada dmulanya pelayanan dan/aau waku yang dbuuhkan unuk bergerak dar empa bass operas ke ermnal/sheler perama pada rue dan dar empa ermnal/sheler erakhr kembal ke empa bass perawaan uama (major manenance Base). Kadang-kadang perlu dbedakan anara possonng dalam sklus operas, PS PC, waku, waku possonng dalam sklus pelayanan. Waku perjalanan pada saa mengangku (Travel me whle loaded, TL ), adalah waku yang dbuuhkan unuk suau perjalanan produkf. Sebagamana dunjukkan dalam gambar -1 waku perjalanan n erdr dar waku akseleras/deseleras, dan delay yang dsebabkan oleh kemacean. Waku perjalanan pada saa dak mengangku (Travel me whle unloaded, TUL ), adalah waku yang dbuuhkan unuk bergerak unuk suau perjalanan dak produkf (dar suau k dmana muaan dkosongkan, dan bergerak menuju k baru dmana suau pemuaan baru dlakukan). Dalam sklus operas angkuan koa yang berdasarkan rue, waku perjalanan dak produkf n dak ada. Waku nak/urun (load/unload me, LULD ) adalah waku yang dbuuhkan oleh penumpang unuk nak/urun. Waku operasonal pelayanan (operaonal servcng me, OS adalah waku yang dbuuhkan unuk pengsan BBM, pembershan, perawaan, supla replenshmen, perganan kru, dan lan-lan. Waku hen d ermnal (saon sop me, STA ) adalah waku armada berhen d ermnal unuk dgunakan kegaan-kegaan operasonal pelayanan seper pembershan dan lan-lan, dan kegaan penumpang nak dan urun.

4 11 Waku kemunduran jadwal (schedulle slack, SLK ) unuk operas yang mengku jaadwal (meable), adalah waku dle yang dbuuhkan keka armada dalam operas unuk menjaga keepaan jadwal. Movemen processng me MP, adalah bergerak anara dua k unuk prosesng. Waku oal sklus operas armada (oal vehcle operang-cycle me, VC ) adalah jumlah dar semua komponen : VC... (-1) PC TL TUL SLK MP.3. Hubungan varabel waku dalam sklus pelayanan Dalam suau perode dmana arama keluar dar bass perawaan uama (major manenance base) sampa armada kembal, armada melakukan sejumlah n C sklus operas. Waku oal yang dbuuhkan dar semua sklus operas u, dan dengan waku yang dbuuhkan unuk penempaan armada ke dan dar empa bass perawaan uama (major manenance base) adalah waku dalam pelayanan (n-me servces me, IS : IS PS n C VC 1 ( )... (-) Jka V adalah raa-raa waku sklus operas armada, yau V 1 n C n C VC 1 ( )... (-3) Maka IS n... (-4) PS C V.4. Hubungan varabel waku dalam sklus ahunan Dalam sau ahun armada membuuhkan waku unuk perawaan (manenance me, MNT ). Waku perawaan n bers jadwal perawaan yang mensyarakan

5 1 seap x klomeer erenu harus dlakukan perawaan. Hubungan anara varabel waku dalam sau ahun adalah : (-5) IS MNT IDLE.5. Dagram jejak Hubungan anara poss armada (jarak) dan waku dapa dgambarkan dalam dagram jejak (rajecory dagram). Sebuah conoh dgram jejak yang erdr 5 (lma) kendaraan pada ruas jalan erenu (Ofyar, 003) yang dberkan dalam dagram jejak memberkan penjelasan bagamana hubungan ruang dan waku dar seap armada. Gambar - : Poss 5 (lma) buah kendaraan dalam dagram waku dan ruang Seper erlha pada gambar - ka dapa mengeahu poss seap kendaraan pada ruas jalan ersebu. Dengan memanfaakan dgram jejak ersebu sanga banyak nformas bsa ddapa dan danalss. Informas u anara lan : a. Informas kecepaan sesaa (spo speed)pada seap waku dan poss erenu. b. Informas jarak anara (dsance head way) anar kendaraan

6 13 c. Informas waku anara (me head way) anar kendaraan d. Poss dan waku dmana kendaraan menyalp kendaran ddepannya e. Poss dan waku dmana kendaraan dak bergerak f. Kecepaan saa bergerak seap kendaraan (runnng speed) g. Kecepaan perjalanan unuk seap kendaraan (journey speed).6. Waku sklus armada (cycle me) Waku sklus adalah oal waku sau perjalanan dar ermnal asal sampa ermnal ujuan dan kembal ke ermnal asal dmana sudah ermasuk wakunyang dbuuhkan unuk menakkan dan menurunkan penumpang sera wakun ranss d Termnal (lay over me). Waku sklus jga merupakan fungs dar kecepaan raa kendaraan, seper : a. Jarak pemberhenan bs b. Jumlah penumpang per rp c. Waku nak/urn raa per penumpang d. Keadaan jalan e. Perlaku pengemud f. Kemacean lalulnas g. Dan lan-lan Unuk menghung waku sklus kendaraan dnyaakan dengan model sebaga berku. : CT LOT1 / TT... (-6) B A Dmana : CT adalah waku sklus LOT 1 adalah Lay over me pada ermnal Jombor B / A adalah waku nak/.urun penumpang TT adalah waku empuh anar pemberhenan (sheler)

7 14.7. Jumlah armada Jumlah armada alokas ( AA ) melpu armada yang akf beroperas ( AO ) sera armada cadangan yang dak beroperas. Jumlah armada erka era dengan perkraan kebuuhan permnaannya, jens, kapasas, dan ukurannya. Jumlah armada sebsa mungkn sama sesua dengan jumlah kebuuhannya. Dalam menghung armada alokas dgunakan rumus AA AO.( 1 RF)... (-7) Dmana : AA adalah armada alokas AO adalah armada operas RF adalah reserved facor (%).8. Headway Headway merupakan nerval keberangkaan anara sau armada dengan armada berkunya, dukur dalam sauan waku pada k erenu unuk seap ruenya. Headway merupakan salah sau aspek yang mempengaruh ngka pelayanan angkuan umum. Kebjakan yang menyangku pengauran headway bermplkas pada kemungknan ngka pengsan muaan. Perhungan headwayn dapa drumuskan sebaga berku Dmana : h adalah headway (men) CT adalah waku sklus (men) AO adalah armada operas CT h... (-8) AO.9. Waku unggu Waku unggu adalah selama menunggu penumpang menunggu armada d sheler aau ermnal sampa bs ersebu berangka. Peacnold, Wlson, dan Kullman dalam Manhem (1979) rumus emprs unuk operas bus perkoaan :

8 15 h / unuk 0 h 18,3 wang me... (-9) 5,5 0,h unuk h 18,3 Dmana h adalah headway (men). Baas 18, 3 men mengndkaskan kecenderungan pelaku perjalanan mengeahu jadwal kedaangan pada ssem dengan headway yang panjang. Wang me dapa juga dhung dengan smulas dmana proses kedaangan penumpang drukan melalu program smulas kompuer..10. Meode penenuan nla waku (Value of Tme) Nla waku perjalanan merupakan sau komponen yang penng dalam analss ransporas, eruama dalam aspek ekonom nla waku perjalanan berkaan dengan adanya oppouny cos dar seap waku yang dhabskan dalam menempuh perjalanan maupun dengan jumlah uang yang dkorbankan dalam melakukan perjalanan. Nla waku perjalanan adalah suau fakor konvers dalam melakukan penghemaan waku dalam benuk uang. Salah sau meode penenuan nla waku yang dapa dgunakan adalah meode pendapaan, (Income approach). Meode n ergolong sederhana, karena hanya menggunakan dua fakor yau pendapaan domesk regonal bruo (PDRB) per orang dan jumlah waku kerja dalam seahun dengan mengasumskan bahwa waku yang dgunakan mengahaslkan suau produk dalam benuk pendapaan seseorang. (The Value of Travel Tme; heory and Measuremen, Bruzelus, Nls, 1979 dalam Prhansano, 007). VOT PDRB / orang... (-10) Waku keja ahunan / orang Dmana :,VOT = Nla waku perjalanan 1 PDRB = Pendapaan domesk regonal bruo 1 Dalam eks leraur smbol dgunakan unuk noas nla waku, sedangkan dalam leraur yang lan smbol dgunakan pula unuk noas raa-raa kedaangan. Supaya dak menmbulkan kerancuan, unuk selanjunya dalam ess n smbol eap dgunakan sebaga noas unuk raa-raa kedaangan, sedangkan noas unuk nla waku dgan dengan noas VOT.

9 16 Meode n pengumpulan daanya relaf mudah. Pendekaan n menghaslkan menghaslkan nla waku raa-raa dalam daerah sud. Dalam meode n, pengumpulan daa dbag menjad daa prmer dan daa sekunder. Daa prmer dapa dkerjakan dengan wawancara kepada penumpang bus dengan memberkan peranyaan-peranyaan seper pendapaan, jumlah jam kerja, dan lannsebaganya. Daa sekunder dapa dperoleh dar nsans erka seper Badan Pusa Sask (BPS). Daa yang dgunsksn adalah produk domesk regonal bruo, jumlah penduduk (umur, angkaan kerja) dan lan sebaganya..11. Proses posson Proses kedaangan penumpang dapa ddeka dengan proses posson. Persyaraan suau proses kedaangan dapa ddeka dengan proses posson adalah proses sokask { N ( ), 0} yang memlk karakersk sebaga berku : 1. Jumlah kedaangan pada waku erenu adalah sau.. N( s) N( ) (jumlah kedaangan dalam waku nerval (, s) adalah ndependen pada { N( u), 0 u } 3. Dsrbus dar N( s) N( ) adalah ndependen erhadap unuk semua, s 0 Jka { N ( ), 0} adalah proses posson, maka jumlah kedaangan dalam seap nerval waku s adalah varabel random posson dengan parameer s, dmana dalam adalah blangan real posf (Law and Kelon, 000, hal ). Oleh karena u E[ N( s)] s dan secara khusus, E [N(1)]. Dengan demkan, adalah jumlah kedaangan yang dharapkan dalam seap nerval waku yang panjang nervalnya sama dengan 1. Ka kaakan adalah raa-raa kedaangan dar proses ersebu. k s e s P[ N ( s) N ( ) k] unuk k 0,1,,... dan, s 0... (-11) k! Ka dapa melha bahwa waku anar kedaangan unuk suau proses posson adalah varabel random IID eksponensal. Jka { N( ), 0} adalah proses posson dengan raa-raa, maka hubungannya dengan waku anar kedaangan,

10 17 A1, A,... adalah varabel random IID (Independen and Idencally Dsrbued) eksponensal dengan raa-raa adalah 1 /..1. Proses posson nonsasoner Proses sokask { N ( ), 0} dkaakan sebaga proses posson nonsasoner (nonsaonary posson process) jka 1. Sau kedaangan pada seap suau waku. N( s) N( ) adalah ndependen pada { N( u),0 u } Dengan demkan, unuk proses posson nonsasoner, kedaangan mash harus sau kedaangan pada seap waku erenu. dan jumlah kedaangan dalam suau nerval erenu adalah ndependen. Teap sekarang raa-raa kedaangan (rae) () dperbolehkan sebaga fungs waku. Ambl ( ) E[ N( )] unuk semua 0 adalah dapa ddferesalkan unuk suau nla erenu. Ka defnskan () sebaga d ( ) ( )... (-1) d Secara nus, () akan menjad besar dalam nerval yang jumlah kedaangan yang dharapkan (expeced number of arrval) adalah besar. Ka sebu saja () dan () beruru-uru adalah fungs ekspekas (expecaon funcon) dan fungs raa-raa kedaangan (rae funcon), unuk prosen posson nonsasoner. Teorema berku n menunjukkan bahwa jumlah kedaangan dalam nerval [, s] unuk proses posson nonssoner adalah suau verabel random posson yang mempunya parameer erganung pada dan s. Teorema : Jka { N( ), 0} adalah proses posson non sasoner dengan fungs ekspeas konnyu (), maka e P[ N( s) N( ) k] b(, s) [ b(, s] k! k unuk k 0,1,,.. dan, s 0 (-13)

11 18 Dmana ). s b (, s) ( s) ( ) ( y) dy. (Law and Kelon, 000, hal..13. Pembangkan varabel random Salah komponen penng dalam smulas kompuer yang melbakan varabelvarabel sokask adalah pembangkan varabel random. Beberapa dsrbus yang serng muncul dalam kejadan sokask dapa dkelompokkan dalam varabel random konnyu dan dskr. Varabel random konnyu serng muncul dalam benuk dsrbus unform, eksponensal, m-erlang, gamma, webul, normal, lognormal, bea, pearson pe P, pearson per VI, rangular dan emprkal dsrbus Dsrbus unform Fungs dsrbus dar suau varabel random U(a, b) dengan mudah dapa dbalkkan dengan pemecahan u F(x) unuk nla x yang akan denukan, unuk 0 u 1, x F 1 ( u) a ( b a) u... (-14) Demkan, ka dapa menggunakan meode nverse-ransform unuk membangkkan varabel random X dengan algorma sebaga berku: 1. Bangkkan U ~ U(0,1). Hung nla X a ( b a) U.13.. Dsrbus eksponensal Pembangkan varabel random dar suau dsrbus eksponensal dengan mean. Fungs densas probablas f (x) :

12 19 Fungs kumulaf dsrbus F (x) : 1 x / e, x 0 f ( x)... (-15) 0 lannya 1 e F ( x) 0 x /, x 0... ( -16) lannya Inverse-ransform dar fungs kumulaf dsrbus eksponensal d aas adalah : X ln( 1U )... ( -17) Algorma unuk membangkkan varabel random dsrbus eksponensal adalah sebaga berku : 1. Bangkkan U ~ U(0,1). Hung nla X lnu Pembangkan varabel random waku anar kedaangan Proses Poson dengan raa-raa kedaangan bersfa bahwa waku anar kedaangan (nerarrval mes) ( A ), dmana (=1, ) adalah varabel 1 random exponensal IID dengan mean 1 /. Dengan demkan ka dapa membangkan nla secara rekurs sebaga berku (Law & Kelon): 1. Bangkkan U ~ U (0,1). Haslkan (1/ ) ln U 1 Algorma n dapa dengan mudah dmodfkas unuk membangkkan beberapa proses kedaangan dmana waku anar kedaangan adalah varabel random IID, meskpun waku anar kedaangannya bukan eksponensal. Algorma d aas proses posson d aas adalah merupakan algorma unuk proses posson sasoner (saonary posson processes) dmana raa-raa kedaangan (rae, ) konsan pada semua nerval waku. Serng kal pada proses kedaangan sesungguhnya, raa-raa kedaangan bervaras pada unuk dar nerval waku sau

13 0 ke nerval waku lannya. Proses kedaangan yang demkan dsebu nonsaonary posson proseses. Beberapa algorma elah dkembangkan unuk menghaslkan varabel random waku anar kedaangan yang merepresenaskan suau proses posson non sasoner (nonsaonary posson proseses ). Salah sau algorma yang dkembangkan unuk menghaslkan varabel random waku kedaangan unuk proses posson non sasoner adalah meode ranformas nvers (nversransform mehod) (Cnlar, 1975 dalam Law and Kelon, 000). Gambar -3 : Pembangkan suau nonsaonary posson process dengan nvers fungs ekspekas (expecaon funcon) Sesua dengan persamaan (-1) : ( ) ( y) dy... ( -18) 0 Fungs ekspekas n akan selalu konnyu sepanjang. Karena fungs ekspeas n merupakan negral dak erenu, () adalah jumlah kedaangan yang dharapkan anara 0 dan. Kemudan proses posson non sasoner dengan ekspekas dapa dbangkan dengan perama-ama dengan membangkkan waku kedaangan posson ' } unuk raa-raa kedaangan 1. Dan dengan {

14 1 mengambl 1 ( ' ), dmana Algorma unuk proses posson non sasoner adalah : 1. Bangkkan U ~ U(0,1). Se ' ' 1ln U 3. Hung 1 ( ' ) 1 adalah nvers dar fungs ekspeas..14. Penenuan benuk dsrbus eors pada daa Penenuan benuk dsrbus eors pada daa secara esensal adalah suau usaha unuk mengdenfkas dsrbus yang mendasar dar daa yang dbangkkan. Penenuan dsrbus erbak yang pas pada daa dapa memlk kompleksas yang cukup ngg dan bukan merupakan lmu eksak. Penenuan dsrbus secara merupakan proses ral and error. Prosedur dasar unuk menenukan erdr dar ga ahapan.: (1) Sau aau lebh dsrbus dplh sebaga dsrbus kandda ; () esmas parameer unuk seap dsrbus ; (3) Goodness of f dlakukan unuk mengeahu dengan pas seberapa bagus dsrbus sesua dengan daa (Harrel e al, 004). Goodness of f es dlakukan unuk mengukur devas dsrbus sampel dar dsrbus eorsnya. Goodness of f es yang basa dgunakan adalah ch-square es, Kolmogorov-Smrnov es, dan Anderson-Darlng es. Dalam Goodness of f es menggunakan Ch-Square, pelaksanaan es dapa durakan dalam semblan langkah: 1. Analss daa dan perkrakan dsrbus yang sesua.. Bua suau dsrbus frekwens dar daa dengan sel yang nervalnya sama dengan nerval dar dsrbus yang dperkrakan 3. Hung frekwens yang dharapkan ( e ).ap sel 4. Sesuakan sel apabla semua frekwens yang dharapkan lebh kecl dar 5 5. Hung Ch-Square es sask dengan rumus 1 n 0 e hung... (-19) e

15 6. Tenukan deraja kebebasan 7. Plh ngka kepercayaan 8. Car nla krs ch-square darb abel ch-square 9. Tolak dsrbus jka nla ch-square melebh nla krs. Dalam Goodness of f es menggunakan Kosmogorov-Smrnov es, penenuan nla krs d n,1 erganung pada bagamana dsrbus hpoess yang dplh. Oleh karena u, K-S es dbedakan dalam beberapa kasus (Law and Kelon, 000), yau : Kasus 1, jka seluruh parameer dar F dkeahu dan dak ada parameer dar F yang desmas dar daa. Ka menolak H 0 jka 0,11 n 0,1 Dn c1 n Dmana c1 dberkan pada TABEL -1. Kasus, jka dsrbus hypoessnya adalah N (, ) dengan dan keduaduanya dak dlkeahu. Ka dapa mengesmas dan dengan X (n) dan S ( n), dan mendefnskan fungs dsrbus N ( X ( n), S ( n)). Ka menolak H 0 jka F menjad dsrbus 0,85 0,01 D c n n n ' 1 Dmana ' c dberkan pada abel TABEL Kasus 3, jka dsrbus hypoessnya adalah exp( ) dengan dak dkeahu. dperkrakan dengan MLE (Maxmun Lkehood Esmaor)-nya, X (n). Dan ka defnskan F menjad fungs dsrbus exp( X ( n)). Ka menolak H 0 jka D n 0, n 0,5 n 0,6 D n n c '' 1

16 3 Dmana '' c dberkan pada abeltabel TABEL -1 Nla krs Kasus Semua paramaer dkeahu N ( X ( n), S ( n)) c 1, ' c 1 Tes sask, dan '' c pada es Kosmogorov-Smrnov 1 1 0,850 0,900 0,950 0,975 0,990 n 0,1 Dn c1 n 1, ,358 1,480 1,68 0,85 ' n 0,01 Dn c 1 n 0,775 0,819 0,895 0,995 1,035 0, 0,5 '' Dn n 0,6 Dn c 1 n n 0,96 0,990 1,094 1,190 1,308 exp( X ( n)).15. Uj Kecukupan daa Uj kecukupan daa n harus djalankan unuk menenukan jumlah daa mnmum yang harus erseda. Jumlah daa mnmum dapa denukan dengan menggunakan persamaan : CV Z N... (-0) E Dmana: Dmana : N adalah jumlah daa mnmum CV adalah koefsen varans E ngka akuras Z nla varans unuk ngka kepercayaan yang dngnkan.16. Dsrbus Uj- Dua sampel ndependen (ndependen o samples es dgunakan unuk membandngkan selsh dua puraa (mean) yang ndependen dengan asums daa erdsrbus normal. Ada ga benuk unuk uj dmana penggunaannya erganung persolan yang akan duj: 1. Benuk uj hpoess sau ss (one-sded aau one aled es) unuk sau ss bawah dengan hpoess

17 4 H o : 1 : aau 1 0 H1 : 1 H1 : 1 0 H o... (-1). Benuk uj hpoess sau ss (one-sded aau one aled es) unuk sau ss aas dengan hpoess H o : 1 : aau 1 0 H1 : 1 H1 : 1 0 H o... (-) 4. Benuk uj hpoess dua ss (wo-sded aau wo aled es) dengan hpoess H o : 1 : aau 1 0 H1 : 1 H1 : 1 0 H o... (-3).17. Valdas Model Ssem Dnams Pada dasarnya, erdapa macam valdas yang harus dpenuh sebuah model yau valdas srukur yang merupakan penlaan erhadap keserupaan srukur model dengan ssem nyaa, sera valdas knerja yang merupakan penlaan erhadap hasl oupu knerja (perlaku) dar suau model. Valdas srukur model berkaan dengan baasan ssem, varabel pembenuk ssem, dan asums mengena neraks yang erjad dalam ssem. Pendekaan model ssem dnams pada dasarnya berorenas pada proses. Konsekuensnya, model dnla vald keka erdapa keserupaan srukur model dengan faka neraks yang erjad ssem nyaa. Valdas srukur dapa dlha dar seg kesesuaan model, konssens model, ulas, dan efekvas srukur model. Valdas perlaku dalam model ssem dnams dukur dar kemampuannya unuk menghaslkan ulang perlaku aau karakersk suau ssem yang menjad referens. Salah sau pengujan model adalah kemampuan unuk menghaslkan ulang pola referens pada hasl keluarannya. Dengan kaa lan, suau model dkaakan vald bla model ersebu dapa menrukan kenyaaan-kenyaaan emprs

18 5 yang ada dan menghaslkan pola-pola kenyaaan yang mungkn erjad. Pengujan yang dapa dlakukan unuk menla valdas perlaku model anara lan (Serman, Pengujan yang dapa dlakukan unuk menla valdas srukur model anara lan: 1. Uj kecukupan baasan Uj kecukupan baasan dgunakan unuk menla : Apakah varabel-varabel penng yang menggambarkan permasalahan yang ngn dpecahkan elah dformulaskan secara endogen? Apakah varabel eksogen dan varabel yang dak dcakup dalam model dapa derma dan dak berenangan dengan pengeahuan ssem nyaa? Dengan pembaasan ersebu, apakah model elah dapa dgunakan unuk memecahkan masalah sesua dengan ujuan pemodelan yang dlakukan?. Uj kesesuaan srukur Uj kesesuaan srukur dlakukan unuk menguj : Apakah srukur model dak berlawanan dengan pengeahuan yang ada enang srukur dar ssem nyaa? Apakah srukur-srukur uama dar ssem nyaa elah dmodelkan? Apakah level agregas dalam pemodelan dapa derma? Tngka kepercayaan aas keepaan srukur model akan menngka jka hasl pengujan menunjukkan bahwa srukur model dak berlawanan dengan pengeahuan enang srukur ssem nyaa dan juga jka srukur-srukur uama dalam ssem nyaa elah dmodelkan. 3. Uj konssens dmens Uj n dlakukan unuk memerksa kesembangan dmens peubah pada kedua ss persamaan. Model harus menjamn kesembangan dmens anara peubah bebas dan peubah erka yang membenuknya.

19 6 Pengujan yang dapa dlakukan unuk menla valdas perlaku anara lan: 1. Uj Reproduks Perlaku Uj reproduks perlaku dgunakan unuk membandngkan perlaku model dengan perlaku ssem nyaa. Unuk menla kesesuaan perlaku model dengan ssem nyaa, dapa dgunakan uj sask, salah sau yang basa dpaka adalah sask Thel Inequaly (Serman, 000). Pengujan sask Thel Inequaly n melbakan beberapa ala pengujan sask seper Mean Square Error (MSE), Mean Absolue Error (MAE), bas (UM), unequal varaon (US), unequal covaraon (UC), sera r (koefsen korelas). Bas erjad jka oupu model dan daa akual memlk raaan yang berbeda, unequal varaon mengndkaskan bahwa varans anara oupu model dengan daa akual berbeda, sedangkan unequal covaraon berar oupu model dan daa akual berkorelas dengan sempurna namun berbeda pada seap k-knya. Formulas sask Thel Inequaly adalah sebaga berku: Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Bas Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Unequal Varaon Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Unequal Covaraon Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Correlaon Coeffcen Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Mean Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Sandard Devaon Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Mean Square Error Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Daa Sze Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Index for Model Oupu Error! Objecs canno be creaed from edng feld codes. : Index for Daa Seres

20 7. Uj Model pada Konds Eksrem Dalam uj n, model dcoba pada konds eksrem. Keka model dcoba pada konds yang eksrem, model harus mampu menunjukkan robusness-nya, dmana perlaku model mengku perlaku alam suau kejadan. 3. Uj Kesalahan Inegras Uj kesalahan negras dgunakan unuk memerksa sensvas model erhadap pemlhan me sep dan meode negras dalam smulas. 4. Uj Predks Perlaku Uj predks perlaku dlakukan dengan es predks kejadan (even predcon es) yang memfokuskan pada dnamka alam suau kejadan. Uj n dgunakan unuk melha respon perlaku model keka dlakukan perubahan secara ba-ba pada suau peubah..18. Jens model Bahasa Smulas Pemograman kompuer mempunya peranan penng dalam smulas karena kemampuan kompuer memlk kecepaan dalam melakukan proses-proses perhungan. Bahasa pemrograman kompuer dbag menjad dua yau bahasa pemrograman umum dan bahasa khusus smulas. Yang ermasuk dalam klasfkas bahasa pemrograman umum adalah bahasa BASIC, FORTRAN, PASCAL, C, dengan masng-masng pengembangannya. Sedangkan dalam klasfkas bahasa khusus smulas adala POWER SIM, STELLA, DYNAMO, PROMODEL, dan sebaganya..19. Penelan erdahulu Pea Penelan erdahulu yang pernah dlakukan berkan pada Tabel -.

21 8 Tabel - : Pea penelan erdahulu Penel Judul Meode Analss Varabel Farham Ifan Tanjung (1988) Analsa Pengoperasan Bus DAMRI Lnas Blok M Bandara Udara Sukarno Haa Model W. Vckrey and H Mohrng Kuncoro Supad Wguno (1997) Joko Sapo Aj (003) Pradhana Wahyu Narendra (006) Haryono (009) Analsa Kebuuhan Angkuan Umum Perkoaan Pada Lnas Kranggan-Pulowau Analsa Kebuuhan Angkuan Umum Perkoaan Pada Lnas Kranggan-Pulowau Opmas Jumlah Armada Berdasarkan Baya Mnmum Pengguna Jasa (Sud Kasus: Trans Jakara Korodor 1) Opmas Jumlah Armada Bus Paas Paas Trans Jogya Jalur A Berdasarkan Baya Mnmum Pengguna Jasa dengan Smulas Kompuer Kesembangan knerja Operaor dan Pengguna Jasa Model W. Vckrey and H. Mohrng Toal Baya mnmum pengguna jasa Model smulas kompuer oal baya mnmum pengguna jasa - Baya kepengusahaan (baya operaor) - Baya Sosal (baya user) - Load Facor hasl pengamaan - Load Facor Break even pon - Jumlah kendaraan (ekssng) - Baya kepengusahaan (baya operaor) - Baya Sosal (baya user) - Baya yang dkeluarkan pengguna jasa akba pembebanan baya opers - Baya waku unggu - Baya yang dkeluarkan pengguna jasa akba pembebanan baya operas - Baya waku perjalanan - Sebaran asal ujuan perjalanan - Waku empuh anar sheler - Waku hen d sheler

BAB IV METODA RUNGE-KUTTA ORDE 4 PADA MODEL ALIRAN FLUIDA YANG TERGANGGU

BAB IV METODA RUNGE-KUTTA ORDE 4 PADA MODEL ALIRAN FLUIDA YANG TERGANGGU BAB IV METODA RUNGE-KUTTA ORDE 4 PADA MODEL ALIRAN FLUIDA YANG TERGANGGU Pada bab III, ka elah melakukan penguan erhadap meoda Runge-Kua orde 4 pada persamaan panas. Haslnya, solus analk persamaan panas

Lebih terperinci

BAB 8 PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA

BAB 8 PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Maa kulah KOMPUTASI ELEKTRO BAB 8 PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Persamaan dferensal dapa dbedakan menjad dua macam erganung pada jumlah varabel bebas. Apabla persamaan ersebu mengandung hana sau varabel

Lebih terperinci

BAB 5 ENTROPI PADA MATRIKS EMISI MODEL MARKOV TERSEMBUNYI

BAB 5 ENTROPI PADA MATRIKS EMISI MODEL MARKOV TERSEMBUNYI BAB ETROPI PADA MATRIKS EMISI MODEL MARKOV TERSEMBUYI Model Markov Tersembuny (Hdden Markov Model, MMT) elah banyak daplkaskan dalam berbaga bdang seper pelafalan bahasa (speeh reognon) dan klasfkas (luserng).

Lebih terperinci

Jumlah kasus penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Surabaya tahun

Jumlah kasus penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Surabaya tahun Baasan Masalah Jumlah kasus pendera penyak Demam Berdarah Dengue (DBD d Koa Surabaya ahun - Varabel Explanaory (Varabel penjelas yang dgunakan dalam penelan adalah varabel Iklm (Curah hujan, Suhu, Kelembaban

Lebih terperinci

Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version)

Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version) Creaed by Smpo PDF Creaor Pro (unregsered verson) hp://www.smpopdf.com Sask Bsns : BAB 8 VIII. ANALISIS DATA DERET BERKALA (TIME SERIES) 8.1 Pendahuluan Daa Berkala (Daa Dere waku) adalah daa yang dkumpulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN FASILKOM-UDINUS T.SUTOJO RANGKAIAN LISTRIK HAL 1

BAB I PENDAHULUAN FASILKOM-UDINUS T.SUTOJO RANGKAIAN LISTRIK HAL 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Defns Rangkaan Lsrk Rangkaan Lsrk adalah sambungan dar beberapa elemen lsrk ( ressor, kapasor, ndukor, sumber arus, sumber egangan) yang membenuk mnmal sau lnasan eruup yang dapa

Lebih terperinci

PERENCANAAN PERSEDIAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PABRIK PRODUK BETON PT WIJAYA KARYA BETON, BOGOR

PERENCANAAN PERSEDIAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PABRIK PRODUK BETON PT WIJAYA KARYA BETON, BOGOR B-5-1 PERENCANAAN PERSEDIAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PABRIK PRODUK BETON PT WIJAYA KARYA BETON, BOGOR Wsnu Bud Sunaryo, Haryono ITS Surabaya ABSTRAK Dalam duna konsruks saa n pemakaan produk beon

Lebih terperinci

Kresnanto NC. Model Sebaran Pergerakan

Kresnanto NC. Model Sebaran Pergerakan Kresnano C Moel Sebaran Pergerakan Kresnano C Tujuan Uama: Mengeahu pola pergerakan alam ssem ransporas serng jelaskan alam benuk arus pergerakan (kenaraan, penumpang, an barang) yang bergerak ar zona

Lebih terperinci

ANaLISIS - TRANSIEN. A B A B A B A B V s V s V s V s. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Proses pemuatan kapasitor

ANaLISIS - TRANSIEN. A B A B A B A B V s V s V s V s. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Proses pemuatan kapasitor ANaISIS - TANSIEN. Kapasor dalam angkaan D Sebuah kapasor akan ermua bla erhubung ke sumber egangan dc seper yang dperlhakan pada Gambar. Pada Gambar (a), kapasor dak bermuaan yau pla A dan pla B mempunya

Lebih terperinci

( ) STUDI KASUS. ò (, ) ( ) ( ) Rataan posteriornya adalah = Rataan posteriornya adalah (32)

( ) STUDI KASUS. ò (, ) ( ) ( ) Rataan posteriornya adalah = Rataan posteriornya adalah (32) 8 Raaan poserornya adalah E m x ò (, ) f ( x) m f x m f f m ddm (32) Dalam obseras basanya dgunakan banyak daa klam. Msalkan saja erdr dar grup daa klam dengan masng-masng grup ke unuk seap, 2,..., yang

Lebih terperinci

BAB III THREE STAGE LEAST SQUARE. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode

BAB III THREE STAGE LEAST SQUARE. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode BAB III THREE STAGE LEAST SQUARE Sebagamana elah dsnggung pada bab sebelumnya, salah sau meode penaksran parameer pada persamaan smulan yau meode Three Sage Leas Square (3SLS. Sebelum djelaskan lebh lanju

Lebih terperinci

Peramalan Penjualan Sepeda Motor Tiap Jenis di Wilayah Surabaya dan Blitar dengan Model ARIMA Box-Jenkins dan Vector Autoregressive (VAR)

Peramalan Penjualan Sepeda Motor Tiap Jenis di Wilayah Surabaya dan Blitar dengan Model ARIMA Box-Jenkins dan Vector Autoregressive (VAR) JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No., (04) 337-350 (30-98X Prn) D-36 Peramalan Penjualan eda Moor Tap Jens d Wlayah Surabaya dan Blar dengan Model ARIMA Box-Jenkns dan Vecor Auoregressve (VAR) Ade

Lebih terperinci

Line Transmisi. Oleh: Aris Heri Andriawan ( )

Line Transmisi. Oleh: Aris Heri Andriawan ( ) ANALISIS APLIKASI PENJADWALAN UNIT-UNIT PEMBANGKIT PADA SISTEM KELISTRIKAN JAWA-BALI DENGAN MENGGUNAKAN UNIT COMMITMENT, UNIT DECOMMITMENT DAN MODIFIED UNIT DECOMMITMENT Oleh: Ars Her Andrawan (07000)

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI MINUMAN MARIMAS

PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI MINUMAN MARIMAS PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI MINUMAN MARIMAS Mra Puspasar, Snggh Sapad, Dana Puspasar Absraks PT Ulam Tba Halm merupakan salah sau ndusr mnuman serbuk d Indonesa, dmana

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Model Persediaan Model Deterministik

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Model Persediaan Model Deterministik 6 BAB LANDASAN TEORI. Model Persedaan.. Model Deermnsk Model Deermnsk adalah model yang menganggap nla-nla parameer elah dkeahu dengan pas. Model n dbedakan menjad dua: a. Deermnsk Sas. D dalam model n

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDAAN TEORI. Tnjauan Pusaka.. Uj Keseragaman Daa Tujuan uama pengukuran uj keseragaman daa adalah unuk mendapakan da yang seragam. Kedak seragaman daa dapa daang anpa dsadar, maka dperlukan suau

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

Analisis Jalur / Path Analysis

Analisis Jalur / Path Analysis Analss Jalur / Pah Analyss Analss jalur adalah salah sau benuk model SEM yang dak mengandung varable laen. Tenu saja model n lebh sederhana dbandngkan dengan model SEM lengka. Analss jalur sebenarnya meruakan

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Latar belakang Metode Numerik Ilustrasi masalah numerik Angka signifikan Akurasi dan Presisi Pendekatan dan Kesalahan

KONSEP DASAR. Latar belakang Metode Numerik Ilustrasi masalah numerik Angka signifikan Akurasi dan Presisi Pendekatan dan Kesalahan KONSEP DASAR Laar belakang Meode Numerk Ilusras masalah numerk Angka sgnfkan Akuras dan Press Pendekaan dan Kesalahan Laar Belakang Meode Numerk Tdak semua permasalahan maemas dapa dselesakan dengan mudah,

Lebih terperinci

Kajian Model Markov Waktu Diskrit Untuk Penyebaran Penyakit Menular Pada Model Epidemik SIR

Kajian Model Markov Waktu Diskrit Untuk Penyebaran Penyakit Menular Pada Model Epidemik SIR JURAL TEKK POT Vol, o, (0) -6 Kajan odel arkov Waku Dskr Unuk Penyebaran Penyak enular Pada odel Epdemk R Rafqaul Hasanah, Laksm Pra Wardhan, uhud Wahyud Jurusan aemaka, Fakulas PA, nsu Teknolog epuluh

Lebih terperinci

PENENTUAN EOQ TERHADAP PRODUK AVTUR DI LANUD HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG

PENENTUAN EOQ TERHADAP PRODUK AVTUR DI LANUD HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG INDEPT, Vol., No. 3, Okober 01 ISSN 087 945 PENENTUAN EOQ TERHADAP PRODUK AVTUR DI LANUD HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG Samsul Budaro, ST., MT Dosen Teap Teknk Indusr, Wakl Dekan III akulas Teknk, Unversas

Lebih terperinci

BAB 2 RESPONS FUNGSI STEP PADA RANGKAIAN RL DAN RC. Ir. A.Rachman Hasibuan dan Naemah Mubarakah, ST

BAB 2 RESPONS FUNGSI STEP PADA RANGKAIAN RL DAN RC. Ir. A.Rachman Hasibuan dan Naemah Mubarakah, ST BAB ESPONS FUNGSI STEP PADA ANGKAIAN DAN C Oleh : Ir. A.achman Hasbuan dan Naemah Mubarakah, ST . Persamaan Dferensal Orde Sau Adapun benuk yang sederhana dar suau persamaan dferensal orde sau adalah:

Lebih terperinci

! BUPATI PACriAN j PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 18 TAHUN 2013

! BUPATI PACriAN j PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 18 TAHUN 2013 ! BUPAT PACrAN j PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN DEWAN PENGAWAS BADAN LAYANAN UMUM DAERAH PADA RUMAH SAKT UMUM DAERAH KABUPATEN PACTAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Hidden Markov Model. Oleh : Firdaniza, Nurul Gusriani dan Akmal

Hidden Markov Model. Oleh : Firdaniza, Nurul Gusriani dan Akmal Hdden Markov Model Oleh : Frdanza, urul Gusran dan Akmal Dosen Jurusan Maemaka FMIPA Unversas Padjadjaran Jl. Raya Bandung Sumedang Km 2, Janangor, Jawa Bara elp. / Fax : 022 7794696 Absrak Hdden Markov

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL GSTAR(1,1) UNTUK DATA CURAH HUJAN

PENERAPAN MODEL GSTAR(1,1) UNTUK DATA CURAH HUJAN Bulen Ilmah Mah. Sa. dan Terapannya (Bmaser) Volume 6, o. 03 (017), hal 159 166. PEERAPA MODEL GSTAR(1,1) UTUK DATA CURAH HUJA Ism Adam, Dadan Kusnandar, Hendra Perdana ITISARI Model Generalzed Space Tme

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDAAN EORI. njauan Pusaka.. Peramalan Peramalan (forecasng) merupakan ala banu yang penng dalam perencanaan yang efekf dan efsen khususnya dalam bdang ekonom. Dalam organsas modern mengeahu keadaan

Lebih terperinci

BAB III MINIMUM COVARIANCE DETERMINANT. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode

BAB III MINIMUM COVARIANCE DETERMINANT. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode BAB III MINIMUM COVARIANCE DETERMINANT Sebagamana elah dsnggung pada bab sebelumnya, salah sau meode robus unuk mendeeks penclan (ouler) dalam analss komponen uama robus yau meode Mnmum Covarance Deermnan

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham. Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu

Sudaryatno Sudirham. Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu Sudaryano Sudrham nalss Rangkaan Lsrk D Kawasan Waku BB 12 nalss Transen d Kawasan Waku Rangkaan Orde Perama Yang dmaksud dengan analss ransen adalah analss rangkaan yang sedang dalam keadaan peralhan

Lebih terperinci

Penggunaan Metode Modified Unit Decommitment (MUD) untuk Penjadwalan Unit-Unit Pembangkit Pada Sistem Kelistrikan Jawa - Bali

Penggunaan Metode Modified Unit Decommitment (MUD) untuk Penjadwalan Unit-Unit Pembangkit Pada Sistem Kelistrikan Jawa - Bali Penggunaan Meode Modfed Un Decommmen (MUD) unuk Penjadwalan Un-Un Pembangk Pada Ssem Kelsrkan Jawa - Bal Ars Her Andrawan,2, Onoseno Penangsang ) Jurusan Teknk Elekro TS, Surabaya 60, ndonesa 2) Jurusan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode BAB III METODE PENELITIAN 3. Meode Penelan Meode penelan yang dgunakan dalam penelan n adalah meode deskrpf anals. Wnarno Surakhmad (990:40) mengemukakan bahwa meode deskrpf mempunya cr-cr sebaga berku:.

Lebih terperinci

Pengenalan Aksara Pallawa dengan Model Hidden Markov

Pengenalan Aksara Pallawa dengan Model Hidden Markov Pengenalan Aksara Pallawa dengan Model Hdden Markov Wwen Wdyasu Teknk Elekro, Fakulas Sans dan Teknolog, Unversas Sanaa Dharma Emal: [email protected] Absrak Aksara Pallawa aau kadangkala duls sebaga Pallava

Lebih terperinci

\ DANA ALOKASI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

\ DANA ALOKASI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA y BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN : NOMOR 55" TAHUN 20 ; TENTANG \ DANA ALOKAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPAT PACTAN, Menmbang : a. bahwa dalam rangka penngkaan penyelenggaraan pemernahan,

Lebih terperinci

PERBAIKAN ASUMSI KLASIK

PERBAIKAN ASUMSI KLASIK BAHAN AJAR EKONOMETRI AGUS TRI BASUKI UNIVERSITAS MUHAMMADIAH OGAAKARTA PERBAIKAN ASUMSI KLASIK 6.. Mulkolnearas Jka model ka mengandung mulkolneras yang serus yakn korelas yang ngg anar varabel ndependen,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

PENGGUNAAN METODE MODIFIED UNIT DECOMMITMENT (MUD) UNTUK PENJADWALAN UNIT-UNIT PEMBANGKIT PADA SISTEM KELISTRIKAN JAWA - BALI

PENGGUNAAN METODE MODIFIED UNIT DECOMMITMENT (MUD) UNTUK PENJADWALAN UNIT-UNIT PEMBANGKIT PADA SISTEM KELISTRIKAN JAWA - BALI Prosdng Semnar Nasonal Manajemen Teknolog X Program Sud MMT-TS, Surabaya 6 Pebruar 2010 PENGGUNAAN METODE MODFED UNT DECOMMTMENT (MUD) UNTUK PENJADWALAN UNT-UNT PEMBANGKT PADA SSTEM KELSTRKAN JAWA - BAL

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju perumbuhan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI Landasan Teor 6 BAB II LADASA TEORI. PERAMALA PERMITAA Peramalan adalah suau proses dalam menggunakan daa hsores yang elah dmlk unuk dproyekskan ke dalam suau model dan menggunakan model n unuk memperkrakan

Lebih terperinci

APLIKASI STRUKTUR GRUP YANG TERKAIT DENGAN KOMPOSISI TRANSFORMASI PADA BANGUN GEOMETRI. Mujiasih a

APLIKASI STRUKTUR GRUP YANG TERKAIT DENGAN KOMPOSISI TRANSFORMASI PADA BANGUN GEOMETRI. Mujiasih a APLIKASI STRUKTUR GRUP ANG TERKAIT DENGAN KOMPOSISI TRANSFORMASI PADA BANGUN GEOMETRI Mujash a a Program Sud Maemaka Jurusan Tadrs Fakulas Tarbah IAIN Walsongo Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus II Ngalan Semarang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TIJAUA TEORITIS 2.1 Peramalan (Forecasing) 2.1.1 Pengerian Peramalan Peramalan dapa diarikan sebagai beriku: a. Perkiraan aau dugaan mengenai erjadinya suau kejadian aau perisiwa di waku yang akan

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Masalah Knerja pembangunan ekonom Indonesa bsa dkaakan sanga membanggakan dengan ngka perumbuhan ekonom selama beberapa dekade erakhr n sangalah ngg, walaupun mengalam

Lebih terperinci

Peramalan Jumlah Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi Kertajaya Menggunakan ARIMA dan ANFIS

Peramalan Jumlah Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi Kertajaya Menggunakan ARIMA dan ANFIS JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4 No. (05) 33-350 (30-9X Prn) D-3 Peramalan Jumlah Penumpang Kerea Ap Kelas Ekonom Keraaya Menggunakan ARIMA dan ANFIS Ilaf Andala dan Irhamah Jurusan Saska Fakulas Maemaka

Lebih terperinci

PENDUGAAN STATISTIK AREA KECIL DENGAN METODE EMPIRICAL CONSTRAINED BAYES 1

PENDUGAAN STATISTIK AREA KECIL DENGAN METODE EMPIRICAL CONSTRAINED BAYES 1 PENDUGAAN SAISIK AREA KECIL DENGAN MEODE EMPIRICAL CONSRAINED AYES Ksmann Jurusan Penddkan Maemaka FMIPA Unversas Neger Yogyakara Absrak Meode emprcal ayes (E merupakan meode yang lebh aplkaf pada pendugaan

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN. i PERATURAN BUPATI PACITAN ; NOMOR 5" TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI PACITAN. i PERATURAN BUPATI PACITAN ; NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN ; NOMOR 5" TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERA KABUPATEN PACTAN NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAAN PERUSAHAAN DAERAH AR MNUM j KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

Penerapan Statistika Nonparametrik dengan Metode Brown-Mood pada Regresi Linier Berganda

Penerapan Statistika Nonparametrik dengan Metode Brown-Mood pada Regresi Linier Berganda Jurnal EKSPONENSIAL Volume 7, Nomor, Me 6 ISSN 85-789 Penerapan Saska Nonparamerk dengan Meode Brown-Mood pada Regres Lner Berganda Applcaon of Nonparamerc Sascs, wh Brown-Mood Mehod on Mulple Lnear Regresson

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju-laju

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Jens dan Sumber Daa Daa ang dgunakan dalam penelan n merupakan daa sekunder ang berasal dar berbaga nsans pemernah eruama Badan Pusa Sask. Daa ang dgunakan anara lan angka kemsknan,

Lebih terperinci

MODEL GENERALIZED SPACE TIME AUTOREGRESSIVE-X (GSTAR-X) DALAM MERAMALKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT

MODEL GENERALIZED SPACE TIME AUTOREGRESSIVE-X (GSTAR-X) DALAM MERAMALKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT Bulen Ilmah Mah. Sa. dan Terapannya (Bmaser) Volume 07, No. (018), hal 85 9. MODEL GENERALIZED SPACE TIME AUTOREGRESSIVE-X (GSTAR-X) DALAM MERAMALKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT Felca Kurna Kusuma Wra Pur, Dadan

Lebih terperinci

PENERAPAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING UNTUK MENENTUKAN PEMBERIAN BEASISWA

PENERAPAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING UNTUK MENENTUKAN PEMBERIAN BEASISWA Semnar Nasonal Teknolog Informas dan Mulmeda 2015 STMIK AMIKOM Yogyakara, 6-8 Februar 2015 PENERAPAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING UNTUK MENENTUKAN PEMBERIAN BEASISWA Yeffransjah Salm STMIK Indonesa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas analisis deret waktu, diagram kontrol Shewhart, Average Run Length

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas analisis deret waktu, diagram kontrol Shewhart, Average Run Length BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pendahuluan Dalam enulsan maer okok dar skrs n derlukan beberaa eor-eor yang mendukung, yang menjad uraan okok ada bab n Uraan dmula dengan membahas analss dere waku, dagram konrol

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

BAB III MENENTUKAN JADWAL OPTIMUM PERAWATAN OVERHAUL. MESIN OKK Gill BCG1-P2 PADA BAGIAN DRAWING PT VONEX INDONESIA

BAB III MENENTUKAN JADWAL OPTIMUM PERAWATAN OVERHAUL. MESIN OKK Gill BCG1-P2 PADA BAGIAN DRAWING PT VONEX INDONESIA BAB III MENENTUKAN JADWAL OPTIMUM PERAWATAN OVERHAUL MESIN OKK Gll BCG1-P PADA BAGIAN DRAWING PT VONEX INDONESIA 3.1 Pedahulua Pada Bab II elah djelaska megea eor eor yag dbuuhka uuk meeuka jadwal opmum

Lebih terperinci

Reliabilitas. A. Pengertian

Reliabilitas. A. Pengertian Relablas A. Pengean Relablas adalah sejauh mana hasl ujan sswa eap aau konssen da posedu penlaan (Nko, 007:66). Menuu Ellen, suau es dkaakan elabel jka sko obsevas nla awal behubungan dengan sko yang sebenanya.

Lebih terperinci

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI oleh: RILA DWI RAHMAWATI NIM: 0350050 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengerian dan peunjuk yang digunakan unuk menggambarkan kejadian, keadaan, kelompok, aau

Lebih terperinci

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1 PERSAMAAN GERAK Posisi iik maeri dapa dinyaakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suau bidang daar maupun dalam bidang ruang. Vekor yang dipergunakan unuk menenukan posisi disebu VEKTOR POSISI yang diulis

Lebih terperinci

Muthmainnah PROGRAM STUDI MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007 M/1428 H

Muthmainnah PROGRAM STUDI MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007 M/1428 H PERBANDINGAN MODEL COX PROPORTIONAL HAZARD DAN MODEL PARAMETRIK BERDASARKAN ANALISIS RESIDUAL (Sud Kasus pada Daa Kanker Paru-Paru yang Dperoleh dar Conoh Daa pada Sofware S-Plus 2000 dan Smulas unuk Dsrbus

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

Fisika Modern. Persamaan Schroodinger dan Fingsi Gelombang

Fisika Modern. Persamaan Schroodinger dan Fingsi Gelombang Fska Modern Persaaan Schroodnger dan Fngs Gelobang Apa Persaaan unuk Gelobang Maer? De Brogle eberkan posula bahwa seap parkel elk hubungan: h/ p Golobang aer ala n dkonfras oleh percobaan dfraks elekron,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Sumber Daya Alam (SDA) yang ersedia merupakan salah sau pelengkap ala kebuuhan manusia, misalnya anah, air, energi lisrik, energi panas. Energi Lisrik merupakan Sumber

Lebih terperinci

Optimasi Model Inventory Deterministik untuk Permintaan Menaik dan Biaya Pemesanan Konstan

Optimasi Model Inventory Deterministik untuk Permintaan Menaik dan Biaya Pemesanan Konstan Opma Model Invenory Deermnk unuk Permnaan Menak dan Baya Pemeanan Konan Dana Purwaar, Rully Soelaman, Fr Qona Fakula Teknolog Informa, Inu Teknolog Sepulu Nopember, Surabaya E-mal : [email protected] Abrak

Lebih terperinci

Modifikasi Penaksir Robust dalam Pelabelan Outlier Multivariat

Modifikasi Penaksir Robust dalam Pelabelan Outlier Multivariat Vol. 14, No. 1, 46-53, Jul 2017 Modfkas Penaksr Robus dalam Pelabelan Ouler Mulvara Erna Tr Herdan Absrak Ouler adalah suau observas yang polanya dak mengku mayoras daa. Ouler dalam kasus mulvara sanga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah persediaan merupakan masalah yang sanga pening dalam perusahaan. Persediaan mempunyai pengaruh besar erhadap kegiaan produksi. Masalah persediaan dapa diaasi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Teori Risiko Produksi Dalam eori risiko produksi erlebih dahulu dijelaskan mengenai dasar eori produksi. Menuru Lipsey e al. (1995) produksi adalah suau kegiaan yang mengubah

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN IV. METODOLOGI PENELITIN 4.. Obek Penelan Obek penelan adalah Provns Sulawes Tengah, yang ddasarkan aas beberapa permbangan. Perama, Provns Sulawes Tengah memlk sumberdaya sekor peranan dan ndusr pengolahan

Lebih terperinci

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN III.1 Hpotess Berdasarkan kerangka pemkran sebelumnya, maka dapat drumuskan hpotess sebaga berkut : H1 : ada beda sgnfkan antara sebelum dan setelah penerbtan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN 1 NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN 1 NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG BERTA DAERAH KABUPATEN PACTAN TAHUN 200 NOMOR 7 PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 6 TAHUN 200 TENTANG PERUBAHAN KETGA ATAS PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 28 TAUN 2009 TENTANG PENJABARAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN

Lebih terperinci

Pemodelan Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri di Indonesia Dengan Pendekatan Regresi Data Panel Dinamis

Pemodelan Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri di Indonesia Dengan Pendekatan Regresi Data Panel Dinamis JURAL SAIS DA SEI ITS Vol. 5 o. 2 (2016) 2337-3520 (2301-928X Prn) D-217 Pemodelan Penyerapan Tenaga Kerja Sekor Indusr d Indonesa Dengan Pendekaan Regres Daa Panel Dnams Avolla Terza Damalana dan Seawan

Lebih terperinci

BAB.3 METODOLOGI PENELITIN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini di laksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) N. 1 Gorontalo pada kelas

BAB.3 METODOLOGI PENELITIN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini di laksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) N. 1 Gorontalo pada kelas 9 BAB.3 METODOLOGI PENELITIN 3. Lokas dan Waktu Peneltan Peneltan n d laksanakan d Sekolah Menengah Pertama (SMP) N. Gorontalo pada kelas VIII. Waktu peneltan dlaksanakan pada semester ganjl, tahun ajaran

Lebih terperinci

ANALISIS ANTRIAN ANGKUTAN UMUM BUS ANTAR KOTA REGULER DI TERMINAL ARJOSARI

ANALISIS ANTRIAN ANGKUTAN UMUM BUS ANTAR KOTA REGULER DI TERMINAL ARJOSARI Achmadi, Analisis Anrian Angkuan Umum Bus Anar Koa Reguler di Terminal ANALISIS ANTRIAN ANGKUTAN UMUM BUS ANTAR KOTA REGULER DI TERMINAL ARJOSARI Seno Achmadi Absrak : Seiring dengan berkembangnya aku,

Lebih terperinci

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi Bab II Dasar Teori Kelayakan Invesasi 2.1 Prinsip Analisis Biaya dan Manfaa (os and Benefi Analysis) Invesasi adalah penanaman modal yang digunakan dalam proses produksi unuk keunungan suau perusahaan.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN : NOMOR 18 TAHUN 2001

PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN : NOMOR 18 TAHUN 2001 I I PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN : NOMOR 18 TAHUN 2001 \ TENTANG PEMBERDAYAAN, PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN ADAT ISTIADAT DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TAHUN YANG MAHA

Lebih terperinci

(Cormen 2002) III PEMBAHASAN. yt : pendapatan rumah tangga pada periode t, dengan yt 0.

(Cormen 2002) III PEMBAHASAN. yt : pendapatan rumah tangga pada periode t, dengan yt 0. 5 Vaabel s dsebu vaabel slak enambahan vaabel slak beujuan unuk mengubah peaksamaan yang mengandung anda menjad sebuah pesamaan eaksamaan () bena jka dan hanya jka pesamaan (2) dan peaksamaan (3) bena

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suau dugaan aau perkiraan enang erjadinya suau keadaan di masa depan. Akan eapi dengan menggunakan meodemeode erenu peramalan

Lebih terperinci

Jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) (2)

Jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) (2) JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.1, (016) 337-350 (301-98X Prn) D-17 Analss Kurva Survval Kaplan Meer pada Pasen HIV/AIDS dengan Anrerovral Therapy (ART) d RSUD Prof. Dr. Soekandar Kabupaen Mojokero

Lebih terperinci

PERENCANAAN RUTE ANGKUTAN UMUM DI KOTA SIBOLGA. Nama Mahasiswa : Olga Kristama. S NRP :

PERENCANAAN RUTE ANGKUTAN UMUM DI KOTA SIBOLGA. Nama Mahasiswa : Olga Kristama. S NRP : PERENCANAAN RUE ANGKUAN UMUM DI KOA SIBOLGA Absrak Nama Mahasswa : Olga Krsama. S NRP : 3104 100 024 Jurusan : eknk Spl Dosen Pembmbng I : Caur Arf Prasyano, S.MSc Koa Sbolga aalah salah sau koa Sumaera

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. SMK Negeri I Gorontalo. Penetapan lokasi tersebut berdasarkan pada

BAB III METODE PENELITIAN. SMK Negeri I Gorontalo. Penetapan lokasi tersebut berdasarkan pada 3 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat Dan Waktu Peneltan 3.1.1 Tempat Peneltan Peneltan yang dlakukan oleh penelt berlokas d Kelas Ak 6, SMK Neger I Gorontalo. Penetapan lokas tersebut berdasarkan pada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Propinsi Sumaera Uara merupakan salah sau propinsi yang mempunyai perkembangan yang pesa di bidang ransporasi, khususnya perkembangan kendaraan bermoor. Hal ini dapa

Lebih terperinci

Perencanaan Waktu Replenishment pada Continuous Material Requirement Planning dengan Kendala Laju Produksi Level

Perencanaan Waktu Replenishment pada Continuous Material Requirement Planning dengan Kendala Laju Produksi Level Perencanaan Waku Replenshmen pada Connuous Maeral Requremen Plannng dengan Kendala Laju Produks Arf Rahman Jurusan Teknk Indusr, Fakulas Teknk, Unversas Brawjaya Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Indonesa

Lebih terperinci