BAB II STUDI PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II STUDI PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Dalam menganalisa aau mendesain srukur perlu dieapkan krieria ang dapa digunakan sebagai ukuran apakah suau srukur dapa dierima unuk penggunaan ang diinginkan aau unuk maksud desain erenu. Proses perencanaan ower ang ersrukur dan sisemais sanga diperlukan unuk menghasilkan produk perencanaan ang eeki dan eisien Kekuaan dan Kekokohan Srukur harus memiliki cukup kekuaan srukural unuk dapa mendukung beban rencana erakor ang bekerja padana. Srukur dan segenap komponenna harus direncanakan sehingga penampangna mempunai kua rencana minimum sama dengan kua perlu ang dihiung berdasarkan kombinasi beban dan gaa erakor ang sesuai. Tabel 2.1 Sia Mekanis Baja Srukural Jenis baja Tegangan puus minimum, u (MPA) Tegangan leleh minimum, (MPA) Peregangan minimum ( % ) BJ BJ BJ BJ BJ Sumber : SNI Baja-2002 II - 1

2 2.1.2 Kemampuan Laan ( Serviceabili ) Komponen srukur harus memenuhi kemampuan laanan pada ingka beban kerja aau mampu menjamin ercapaina perilaku srukur ang cukup baik pada sraa beban kerja Eisiensi Krieria ini mencakup ujuan desain srukur ang ekonomis. Ukuran dalam krieria ini adalah banakna maerial ang digunakan unuk memikul beban dalam ruang pada kondisi dan kendala ang dienukan Konsruksi aau Perakian Tinjauan ini sanga mempengaruhi pemilihan srukur. Krieria ini sanga luas cakupanna, ermasuk di dalamna peralaan, waku, biaa, dan manpower ang diperlukan Harga Harga merupakan krieria ang sanga pening dalam pemilihan srukur. Krieria ini idak erlepas dari eisiensi bahan dan kemudahan pelaksanaan. Srukur harus didesain secara ekonomis dan eisien sera mudah dalam pelaksanaan Desain Srukur Desain merupakan perhiungan seelah dilakukan analisis srukur. Srukur bangunan ower erdiri dari dua bagian aiu srukur bangunan aas dan srukur bangunan bawah. Srukur bangunan aas merupakan konsep srukur bangunan ringan dan ahan gempa. Merupakan Srukur Rangka Baja (Truss) seinggi 70 meer. Srukur bangunan bawah berupa pondasi bore pile. Ada beberapa desain perencanaan srukur baja, aiu: Desain Elasis (Elasic Design). II - 2

3 Pada desain srukur ini beban ang digunakan adalah beban kerja, anpa menggunakan akor beban. Sedangkan desain kekuaan penampang idak boleh melebihi egangan ijin. Prinsip desain ini diadopsi dalam desain ASD (Allowable Sress design). Desain Kekuaan Baas (Ulimae Srengh Design). - Desain Plasis (Plasic Design). Pada desain ini dianggap baja elah mencapai egangan leleh(σ ). Sedangkan beban ang digunakan adalah beban kerja dikalikan koeisien beban. Mekanisme kerunuhan srukur diandai dengan erbenukna Sendi Plasis (Plasic Hinge). - LRFD (Load and Resisance Facor Design). Merupakan desain srukur baja dengan menggunakan akor beban dan akor resisensi. Meode ini mulai diperkenalkan pada ahun 1986 dengan erbina AISC-LRFD. Para ahli berpendapa bahwa desain ini lebih rasional karena menggunakan angka keamanan ang berbeda unuk seiap macam beban, dan kekuaan penampang ang berbeda unuk seiap kondisi pembebanan. Dalam proses perancangan srukural perlu dicari deraja kedekaan anara sisem srukural ang digunakan dengan ujuan desain ( ujuan ang dikaikan dengan masalah ungsional, serviceabili, kemudahan pelaksanaan, dan biaa ). Aspek Fungsional Aspek ini berkaian dengan penenuan inggi ower pada suau daerah ersebu agar berungsi dengan baik dalam memancarkan sinal dari operaor ang bersangkuan. Aspek Realia ( pelaksanaan ) dan Biaa Dalam pelaksanaan suau ower dapa digunakan beberapa sisem srukur ang bisa digunakan, maka akor ekonomi dan ingka kemudahan dalam pelaksanaan pengerjaanna mempengaruhi pemilihan II - 3

4 sisem srukur ang digunakan. Adapun hal hal ang menenukan dalam pemilihan sisem srukur ang akan dilaksanakan adalah : - Mudah dan cepa dilaksanakan sera biaa murah. - Ala dan bahan mudah didapa. - Tidak mengganggu lingkungan (suara / maerial). Aspek Serviceabili (kemampuan laan) Aspek ini berkaian dalam penenuan perpindahan horisonal (swaing) maksimal pada ower agar panel-panel pemancar pada ower eap bekerja dengan baik Pembebanan Beban- beban pada Srukur Suau sisem srukur pada konsruksi sipil direncanakan unuk dapa menahan beban-beban ang bekerja. Oleh karena iu dalam perencanaan dimensi selalu memperhaikan beban-beban ang bekerja pada srukur ang berkaian dengan umur rencana dari srukurn iu, sehingga srukur ersebu akan berungsi sebagai mana ang diharapkan dalam waku ang elah direncanakan. Pada srukur ower ini beban-beban ang bekerja anara lain : Beban Mai ( Dead Load ) Beban Mai adalah beban ang bekerja pada srukur akiba adana gaa graviasi ang eap posisina karena posisina karena bekerjana erus menerus dengan arah ke bumi empa srukur berdiri. Bera srukur dipandang sebagai beban mai, demikian juga semua benda ang eap posisina selama srukur berdiri. Beban Hidup (Live Load ) Beban hidup berasal dari beban pekerja pada ower sebesar 100 kg. Sera beban angga dan pemanja Beban Angin (Wind Load) Beban angin diperhiungkan dengan ormulasi sebagai beriku: q = 1/30 H 0.25 V 2 dimana, q = beban angin ( kg/m 2 ) II - 4

5 H = reerensi keinggian aksi beban ( m ) V = kecepaan angin (m/s ) Dikeahui bahwa pada semua srukur bangunan inggi akan erjadi perpindahan horisonal (swaing) akiba beban angin. Teapi pada bangunan inggi sisem konvensional erjadi eek kunci erhadap gerakan laeral akiba gaa graviasi ang besar, karena sisem srukur menggunakan maerial ang bera, sehingga pengaruh swaing idak erasa. Inovasi eknologi srukur bangunan inggi dan eknologi bahan cenderung unuk membua maerial ang semakin ringan, maka beban angin pada ower menjadi akor uama ang diperimbangkan. Beban gempa (Earhquake Load ) Beban gempa adalah semua beban saik ekivalen ang bekerja pada bangunan aau bagian bangunan ang menirukan pengaruh dari gerakan anah akiba gempa iu. Keika pengaruh gempa pada srukur bangunan dienukan berdasar suau analisa dinamik, maka ang diarikan dengan beban gempa disini adalah gaa-gaa di dalam srukur ersebu ang erjadi oleh gerakan anah akiba gempa iu. Seiap srukur bangunan, menuru SNI , harus direncanakan unuk menahan suau beban geser dasar akiba gempa (V) dalam arah-arah ang dienukan menuru rumus: V C. I. W = R Dimana : C I R W W adalah Koeisien Gempa Dasar adalah Fakor Keuamaan adalah Fakor Reduksi Gempa adalah Kombinasi dari beban mai dan beban hidup = 1,05(BM + 0,3 BH) o Koeisien Gempa Dasar (C) II - 5

6 Telah disajikan pada SNI , bahwa di Indonesia erdapa 6 daerah gempa. Pembagian daerah gempa ini didasarkan pada rekuensi kejadian dan poensi daa rusak gempa ang erjadi pada daerah ersebu. Daerah gempa I adalah daerah gempa erbesar sedangkan daerah gempa VI adalah daerah gempa paling kecil. Pembagian daerah gempa ersebu adalah seperi pada Gambar 2.1 Gambar 2.1 Pembagian daerah gempa di Indonesia Selanjuna iap-iap daerah gempa akan mempunai spekrum respon sendiri-sendiri, seperi pada Gambar 2.10 spekrum respon dalam hal ini adalah plo anara koeisien gempa dasar C lawan periode gear srukur T. Secara umum dapa dikaakan bahwa koeisien gempa dasar C uamana dipengaruhi oleh daerah gempa, periode gear T dan jenis anah. Unuk seiap respon spekrum disajikan juga pengaruh kondisi anah, aiu spekrum unuk anah keras dan anah lunak. Deinisi anah keras dan anah lunak dapa didekai menuru beberapa krieria. Krieria ang dipakai unuk menenukan jenis anah ini dianarana adalah jenis dan kedalaman anah endapan, nilai N-SPT, nilai undrain shear srengh, cu, aau kecepaan gelombang geser Vs. II - 6

7 Secara umum Spekrum Respons adalah suau diagram ang memberi hubungan anara percepaan respons maksimum suau sisem Sau Deraja Kebebasan (SDK) akiba suau gempa masukan erenu, sebagai ungsi dari akor redaman dan waku gear alami sisem SDK ersebu. Spekrum Respons C-T ang dieapkan unuk masing-masing Wilaah Gempa, adalah suau diagram ang memberi hubungan anara percepaan respons maksimum (= Fakor Respons Gempa) C dan waku gear alami T sisem SDK akiba Gempa Rencana, dimana sisem SDK ersebu dianggap memiliki raksi redaman kriis 5%. Kondisi T = 0 mengandung ari, bahwa sisem SDK ersebu adalah sanga kaku dan karenana mengikui sepenuhna gerakan anah. Dengan demikian, unuk T = 0 percepaan respons maksimum menjadi idenik dengan percepaan puncak muka anah (C = A o ). Benuk spekrum respons ang sesungguhna menunjukkan suau ungsi acak ang unuk T meningka menunjukkan nilai ang mula-mula meningka dulu sampai mencapai suau nilai maksimum, kemudian urun lagi secara asimoik mendekai sumbu-t. Benuk ersebu disandarkan (diidealisasikan) sebagai beriku : unuk 0 T 0,2 deik, C meningka secara linier dari A o sampai A m ; unuk 0,2 deik T T c, C bernilai eap C = A m ; unuk T > T c, C mengikui ungsi hiperbola C = A r /T. Dalam hal ini T c disebu waku gear alami sudu. Idealisasi ungsi hiperbola ini mengandung ari, bahwa unuk T > T c kecepaan respons maksimum ang bersangkuan bernilai eap. Dari berbagai hasil peneliian ernaa, bahwa unuk 0 T 0,2 deik erdapa berbagai keidakpasian, baik dalam karakerisik gerakan anahna sendiri maupun dalam sia-sia dakilias sisem SDK ang bersangkuan. Karena iu unuk 0 T 0,2 deik C dieapkan harus diambil sama dengan A m. Dengan demikian, unuk T T c spekrum respons berkaian dengan II - 7

8 percepaan respons maksimum ang bernilai eap, sedangkan unuk T > T c berkaian dengan kecepaan respons maksimum ang bernilai eap. Berbagai hasil peneliian menunjukkan, bahwa A m berkisar anara 2 A o dan 3 A o, sehingga A m = 2,5 A o merupakan nilai raa-raa ang dianggap laak unuk perencanaan. Selanjuna, dari berbagai hasil peneliian juga ernaa, bahwa sebagai pendekaan ang baik waku gear alami sudu T c unuk jenis-jenis Tanah Keras, Tanah Sedang dan Tanak Lunak dapa diambil sebesar beruru-uru 0,5 deik, 0,6 deik dan 1,0 deik. Gambar 2.2 Spekrum Respon unuk masing-masing daerah gempa II - 8

9 o Periode Gear (T) Periode gear ang mempunai respons srukur erhadap gearan gempa besaranna dipengaruhi oleh masa dan kekakuan srukur. Srukur ang kaku akan mempunai periode gear ang lebih pendek dibandingkan srukur ang lexible. Rumus pendekaan ang digunakan unuk menghiung waku gear alami adalah sebagai beriku: 3 Tempiris = H 4 unuk poral baja 3 Tempiris= 0.06 H 4 unuk poral beon 0.09H Tempiris = unuk srukur lainna B Di mana: H adalah inggi bangunan B adalah panjang bangunan pada arah ang diinjau Kombinasi pembebanan Dalam menenukan beban desain,hal ang pening adalah apakah semua beban ersebu bekerja secara simulan aau idak. Berdasarkan SNI srukur baja harus mampu memikul semua kombinasi pembebanan di bawah ini: 1,4D 1,2D + 1,6 L + 0,5 (La aau H) 1,2D + 1,6 (La aau H) + (γ L L aau 0,8W) 1,2D + 1,3 W + γ L L + 0,5 (La aau H) 1,2D ± 1,0E + γ L L 0,9D ± (1,3W aau 1,0E) Keerangan: D = beban mai ang diakibakan oleh bera konsruksi permanen, ermasuk dinding, lanai, aap, plaon, parisi eap, angga, dan peralaan laan eap II - 9

10 L = beban hidup ang diimbulkan oleh penggunaan gedung, ermasuk keju, eapi idak ermasuk beban lingkungan seperi angin, hujan, dan lain-lain La = adalah beban hidup di aap ang diimbulkan selama perawaan oleh pekerja, peralaan, dan maerial, aau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak H = adalah beban hujan, idak ermasuk ang diakibakan genangan air W = adalah beban angin E = adalah beban gempa, ang dienukan menuru SNI , aau pengganina dengan, γ L = 0,5 bila L< 5 kpa, dan γ L = 1 bila L 5 kpa. Pada perencanaan ower ini digunakan kombinasi pembebanan sebagai beriku: 1,4D 1,2D + 1,6 L 1,2D + ( L aau 0,8W ) 1,2D + 1,3 W + L 1,2D ± 1,0E + L 0,9D ± (1,3W aau 1,0E) Aksi-aksi lainna Seiap aksi ang dapa mempengaruhi kesabilan, kekuaan, dan kemampuan-laan srukur, ermasuk ang disebukan di bawah ini, harus diperhiungkan: 1) gerakan-gerakan pondasi; 2) perubahan emperaur; 3) deormasi aksial akiba keaksesuaian ukuran; 4) pengaruh-pengaruh dinamis; 5) pembebanan pelaksanaan. II - 10

11 Menuru SNI jika ada pengaruh srukural akiba beban ang diimbulkan oleh luida (F), anah (S), genangan air (P), dan/aau emperaur (T) harus diinjau dalam kombinasi pembebanan di aas dengan menggunakan akor beban: 1,3F, 1,6S, 1,2P, dan 1,2T, sehingga menghasilkan kombinasi pembebanan ang paling berbahaa Analisis Perencanaan Srukur Perencanaan Srukur Aas Srukur aas adalah srukur ower ang secara visual berada di aas anah, aiu srukur rangka baja ( Truss ). Pada perencanaan ini menggunakan dua meode, aiu Allowable Sress Design (ASD) dan Load and Resisance Facor Design (LRFD) Allowable Sress Design (ASD) Pada meode ASD menggunakan keenuan-keenuan anara lain : Beban ang digunakan adalah beban kerja anpa akor beban. Tegangan ijin baja ang dipakai ( σ ijin ) σ σ ijin, F. S T Dan A n dimana σ ijin σ ijin = egangan ijin baja σ = egangan leleh baja F.S = akor keamanan srukur = 1,5 T = gaa baang A n = luas penampang neo = 85% luas penampang bruo Kapasias momen elasis (M E ) M E = W E x σ Dimana, M E = kapasias momen elasis W E = momen ahanan elasis σ = egangan leleh baja II - 11

12 Load and Resisance Facor Design (LRFD) Pada meode LRFD keenuan-keenuan ang digunakan anara lain : Dianggap baja elah mencapai Tegangan Leleh (σ ) Desain menggunakan akor beban dan akor resisensi. Pada Desain LRFD, beban kerja (Q i ) dikalikan dengan akor beban (λi) ang besarna lebih dari 1,0. Sedangkan egangan (σ i ) dikalikan dengan akor kapasias reduksi (Φ) ang besarna kurang dari 1,0. Σ λ i Qi Φσ i Tabel 2.2 Fakor Reduksi (Φ) Unuk Keadaan Baas Kua rencana unuk Fakor reduksi (Φ) Komponen srukur ang memikul lenur: balok 0,90 balok pela berdinding penuh 0,90 pela badan ang memikul geser 0,90 pela badan pada umpuan 0,90 pengaku 0,90 Komponen srukur ang memikul gaa ekan aksial: kua penampang kua komponen srukur 0,85 0,85 Komponen srukur ang memikul gaa arik aksial: erhadap kua arik leleh erhadap kua arik rakur 0,90 0,75 Komponen srukur ang memikul aksi-aksi kombinasi: II - 12

13 kua lenur aau geser kua arik kua ekan 0,90 0,90 0,85 Komponen srukur komposi: kua ekan kua umpu beon kua lenur dengan disribusi egangan plasik kua lenur dengan disribusi egangan elasik 0,85 0,60 0,85 0,90 Sambungan bau: bau ang memikul geser bau ang memikul arik bau ang memikul kombinasi geser dan arik lapis ang memikul umpu 0,75 0,75 0,75 0,75 Sambungan las: las umpul penerasi penuh las sudu dan las umpul penerasi sebagian las pengisi 0,90 0,75 0,75 Sumber : SNI Baja 2002 Pada LRFD dapa dipakai analisis srukur secara: 1. Analisis elasis : jika penampang (elemen srukur) idak kompak. 2. Analisis Plasis ; bila : II - 13

14 - Tegangan leleh baja idak melebihi 450 Mpa. - Proil ang digunakan berpenampang kompak. - Nilai k pada elemen ekan idak boleh lebih dari 1,5. Gambar 2.3 Penampang melinang proil Apabila seluruh penampang dapa mencapai egangan lelehna anpa erjadi local buckling pada badan(web) aau saap(lange) ang erekan, maka disebu sebagai penampang kompak. Penampang kompak harus memenuhi sara sebagai beriku: - saap harus ersambung secara menerus (coninue) dengan badan. - Perbandingan anara lebar dan ebal elemen penampang ang erekan harus kurang aau sama dengan λ p, sesuai dengan abel 2.4 sebagai beriku. II - 14

15 Tabel 2.3 Perbandingan maksimum lebar lebar erhadap ebal unuk elemen erekan ( dalam Mpa, simbol mengacu pada gambar 2.3) Jenis Elemen Pela saap balok-i dan kanal dalam lenur Perbandingan Lebar Terhadap Tebal ( λ ) b Perbandingan Maksimum Lebar Terhadap Tebal λ p (kompak) λ r (akkompak) [c] r [e] Pela saap balok-i hibrida aau balok ersusun ang dilas dalam lenur b 170 [] 420 ( ) k e r [e] Pela saap dari komponenkomponen srukur ersusun b [] k e dalam ekan Saap bebas dari proil siku kembar ang menau pada Elemen anpa Pengaku saap lainna, pela saap dari komponen srukur kanal dalam aksial ekan, proil siku dan pela ang menau dengan b II - 15

16 balok aau komponen srukur ekan Saap dari proil siku unggal pada penokong, saap dari proil siku ganda dengan pela kopel pada penokong, elemen ang idak diperkaku, aiu ang diumpu pada salah sau sisina Pela badan dari proil T b - d Sumber : SNI Baja 2002 Tabel 2.4 Perbandingan maksimum lebar erhadap ebal unuk elemen erekan ( dalam Mpa, simbol mengacu pada Gambar 2.3) Jenis Elemen Pela saap Elemen dari penampang Perban dingan Lebar Thd Tebal ( λ ) b Perbandingan Maksimum Lebar Terhadap Tebal λ p (kompak) 500 λ r (ak-kompak) 625 II - 16

17 persegi panjang dan bujursangkar berongga dengan keebalan seragam ang dibebani lenur aau ekan, pela penuup dari pela saap dan pela diaragma ang erleak dianara baubau aau las Bagian lebar ang ak erkekang dari pela penuup berlubang [b] Bagianbagian pela badan dalam ekan akiba lenur [a] Bagianbagian pela badan dalam kombinasi b - h h w w [c] N u Unuk 0, 125[c] φ N b ,75N 1 φb. N u 2550 [g] ,74N 1 φb. N [g] u II - 17

18 ekan lenur dan N u Unuk > 0, 125 [c] φ N b 500 N u 2,33 φ b. N 665 Elemenelemen lainna ang diperkaku dalam ekan murni aiu dikekang sepanjang kedua sisina Penampang bula berongga Pada aksial ekan Pada lenur b h - w D [a] Unuk balok hibrida, gunakan egangan leleh pada saap [d] [e] r = egangan ekan residual pada pela saap = 70 MPa unuk penampang dirol = 115 MPa unuk penampang dilas sebagai gani. [b] Ambil luas neo pela pada lubang erbesar. [c] Dianggap kapasias roasi inelasis sebesar 3, unuk srukursrukur pada zona gempa inggi [] k e = 4 api, 0,35 ke 0,763 h w [g] adalah egangan leleh minimum. II - 18

19 diperlukan kapasias roasi ang lebih besar. [d] Unuk perencanaan 9000 plasis gunakan Sumber : SNI Baja Sambungan Menuru Perauran Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) ada beberapa keenuan dalam perencanaan sambungan srukur baja, anara lain : (1) Sambungan-sambungan harus direncanakan sesuai dengan beban-beban kerja pada baang-baang ang disambung. (2) Pada prinsipna sambungan direncanakan hana memakai sau macam ala penambung. (3) Pada sambungan-sambungan ang menghubungkan baang-baang uama, jumlah minimum paku keling, bau aau bau muu inggi adalah dua buah, aau bila menggunakan sambungan las gaa minimum ang direncanakan dalam sambungan ersebu adalah 3 on. (4) Leak pusa iik bera pada sekelompok paku keling, bau, bau muu inggi aau las ang memikul gaa axial harus diusahakan berimpi dengan garis bera dari proil ang disambung. Apabila iik bera ersebu diaas idak berimpi dengan garis bera proil maka perencanaan sambungan sebaikna memperhiungkan juga adana eksenrisias. Keenuan ini idak berlaku unuk proil siku aau dobel siku ang idak mengalami egangan ang bolak-balik (berubah anda). (5) Apabila bekerja iga aau lebih gaa axial ang sebidang pada sambungan ang sama, maka garis kerja gaa-gaa axial harus beremu pada sau iik. II - 19

20 Bila garis kerja gaa-gaa axial ersebu idak beremu dalam sau iik, maka sambungan ersebu sebaikna diperhiungkan erhadap momen akiba eksenrisias. (6) Apabila proil siku aau kanal disambung hana pada sau sisi dengan paela penambung maka pada perncanaan sebaikna diperhiungkan juga erhadap momen akiba eksenrisias. (7) Pada sambungan ang memakai paku keling aau bau dengan menggunakan pela pengisi ang ebalna 6 mm aau lebih, maka jumlah bau aau paku keling harus diambah erhadap jumlah paku keling aau bau ang dibuuhkan. Unuk ini diperlukan perpanjangang dari pela pengisi. Jumlah penambahan bau, aau paku keling dihiung dengan rumus : n N N A p A + A p n N N A p = jumlah penambahan bau aau keling. = gaa ang bekerja pada sambungan = gaa izin pada sebuah keling aau bau = Luas penampang pela pengisi. Apabila pela pengisi da pada kedua sisi pela ang disambung, maka A p = luas penampang pela pengisi ang erebal. A = Luas penampang pela ang disambung. (8) Keenuan pada (7) idak berlaku apabila sambungan menggunakan bau muu inggi. (9) Dalam sau sambungan, pela pengisi idak lebih dari 4 lapis. (10) Pada sambungan las ang menggunakan pela pengisi dengan ebal 6 mm aau lebih perlu ada perpanjangan pela pengisi erhadap epi pela penambung, sehingga sambungan las anara pela pengisi dengan pela penambung. Unuk pela pengisi ang ebalna lebih kecil dari 6 mm maka leak sambungan las ang menghubungkan pela pengisi dengan II - 20

21 pela penambung mungkin sebaris dengan sambungan las ang menghubungkan pela pengisi dengan pela ang disambung. Tebal las sudu dalam hal ini berambah disesuaikan dengan seebal pela pengisi dan pela penambung ang dipakai. (11) Ukuran maksimum dari diameer lubang paku keling aau lubang bau sama dengan diameer paku keling aau diameer bau diambah 1 mm. Unuk bau muu inggi diameer baang bau diambah 2 mm. (12) Tebal pela pada sambungan ang memakai paku keling aau bau idak boleh lebih besar dari 5 kali diameer paku keling aau bau. Apabila panjang leka bau aau paku keling ang diperlukan harus diambah dengan keenuan seiap kelebihan ebal 6 mm diambah 4%. Dimana penambahan paku keling aau bau paling sediki sau buah. Unuk panjang leka ang mempunai kelebihan ebal lebih kecil dari 6 mm maka jumlah bau aau paku keling idak berambah Sambungan Bau Unuk merencanakan sambungan pada ower menggunakan rumus sambungan bau sesuai buku STRUCTURAL STEEL DESIGN Joseph E. Bowles, unuk bau muu inggi ( high srengh bol ) Jumlah bau ang dibuuhkan (N) : V 2 + (0.6P) 2 N (0.6A b F u ) 2 ø = 0.75 Cek kekuaan pela sambung : V 2 + (0.6P) 2 3dF u(pela) ø = 0.64 Dimana : P = Gaa aksial baang (kn) V = Gaa geser baang (kn) N = Jumlah bau ang dibuuhkan A b = Luas area bau F u = Kekuaan baas bau (MPa) Ø = ako reduksi II - 21

22 Menuru Perauran Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) sambungan bau harus memenuhi persaraan sebagai beriku : 1. Banakna bau ang dipasang pada sau baris ang sejajar arah gaa idak boleh lebih dari 5 buah. 2. Jarak anara sumbu bau paling luar ke epi aau ke ujung bagian ang disambung, idak boleh kurang dari 1,2 d dan idak boleh lebih lebih besar dari 3 d aau 6 dimana adalah ebal erkecil bagi. 3. Pada sambungan ang erdiri dari sau baris bau, jarak dari sumbu ke sumbu dari 2 bau ang beruruan idak boleh kurang dari 2,5 d dan idak boleh lebih besar dari 7 d aau Jika sambungan erdiri dari sau baris bau ang idak berseling, maka jarak anara kedua baris bau iu dan jarak sumbu ke sumbu dari 2 bau ang beruruan pada sau baris idak boleh kurang dari 2,5 d dan idak boleh lebih besar dari 7 d aau 14. Jika sambungan erdiri lebih dari sau baris bau ang dipasang berseling, jarak anara baris-baris bau ( u ) idak boleh kurang dari 2,5 d dan idak boleh lebih besar dari 7 d aau 14, sedangkan jarak anara sau bau dengan bau erdeka pada baris lainna ( s 2 ) idak boleh lebih besar dari 7 d 0,5 u aau 14 0,5 u Perencanaan Srukur Bawah Pemilihan ipe dan jenis pondasi pada daerah ang berbeda berdasarkan perimbangan, anara lain sebagai beriku : o Perkiraan beban ang akan dipikul pondasi o Daa dukung anah o Formasi anah keras Jenis pondasi ipikal unuk berbagai kedalaman sraum pendukung (anah keras) adalah sebagai beriku : o Pondasi langsung, 0 sampai 3 meer kedalaman ke lapis pendukung. o Pondasi sumuran, 3 sampai 10 meer ke lapis pendukung. o Pondasi iang beon, 10 sampai 20 m kedalaman ke lapis pendukung. II - 22

23 o Pondasi iang baja, > 10 meer kedalaman ke lapis pendukung Pemilihan Jenis Pondasi Dalam merencanakan suau srukur bawah dari konsruksi bangunan dapa digunakan beberapa macam ipe pondasi, pemilihan ipe pondasi didasarkan pada hal-hal sebagai beriku : o Fungsi bangunan aas o Besarna beban dan bera dari bangunan aas o Keadaan anah dimana bangunan ersebu akan didirikan o Jumlah biaa ang dikeluarkan Daa Dukung Tanah Daa dukung ( Bearing Capaci ) adalah kemampuan anah unuk mendukung beban baik dari segi srukur pondasi maupun bangunan diaasna anpa erjadina kerunuhan geser. Daa dukung baas ( Ulimae Bearing Capaci ) adalah daa dukung erbesar dari anah dan biasana diberi simbol q ul. Daa dukung ini merupakan anah mendukung beban, dan diasumsikan anah mulai erjadi kerunuhan. Besarna daa dukung ang diijinkan sama dengan daa dukung baas dibagi angka keamanan dengan rumus sebagai beriku : q a = q ul / FK Bila hasil daa penelidikan anah sampai dengan kedalaman lebih dari 20 m belum diemui indikasi anah keras harus di gunakan iang pancang grup agar diperoleh daa dukung ang besar. II - 23

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER BERBASIS RESPON AMPLITUDO SEBAGAI KONTROL VIBRASI ARAH HORIZONTAL PADA GEDUNG AKIBAT PENGARUH GERAKAN TANAH Oleh (Asrie Ivo, Ir. Yerri Susaio, M.T) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1. PENDAHULUAN Cold formed seel aau yang lebih akrab disebu baja ringan adalah baja yang dibenuk sedemikian rupa dari sebuah pla dalam keadaan dingin (dalam emperaur amosfir ) menjadi

Lebih terperinci

Pertemuan IX, X V. Struktur Portal

Pertemuan IX, X V. Struktur Portal ahan jar Saika ulai, ST, T Peremuan IX, X Srukur Poral 1 Pendahuluan Pada srukur poral, ang erdiri dari balok dan iang ang dibebani muaan di aasna akan imbul lenuran pada balok saja, dan akan meneruskan

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran POKOK BAHASAN: GERAK LURUS 3-1

Lebih terperinci

BATANG GANDA DENGAN PLAT KOPEL

BATANG GANDA DENGAN PLAT KOPEL BATAG GADA DEGA PLAT KOPEL. Baasan-baasan Pela kopel digunakan jika jarak kosong a sebagai beriku : b a 6b Pla kopel dipasang pada jarak yang sau sama lain sebesar L. Pemasangannya harus seangkup (simeris)

Lebih terperinci

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan BAB 2 KINEMATIKA Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan perbedaan jarak dengan perpindahan, dan kelajuan dengan kecepaan 2. Menyelidiki hubungan posisi, kecepaan, dan percepaan erhadap waku pada gerak lurus

Lebih terperinci

v dan persamaan di C menjadi : L x L x

v dan persamaan di C menjadi : L x L x PERSMN GELOMBNG SSIONER. Pada proses panulan gelombang, erjadi gelombang panul ang mempunai ampliudo dan frekwensi ang sama dengan gelombang daangna, hana saja arah rambaanna ang berlawanan. hasil inerferensi

Lebih terperinci

KINEMATIKA GERAK DALAM SATU DIMENSI

KINEMATIKA GERAK DALAM SATU DIMENSI KINEMATIKA GERAK DALAM SATU DIMENSI PENDAHULUAN Kinemaika adalah bagian dari mekanika ang membahas enang gerak anpa memperhaikan penebab benda iu bergerak. Arina pembahasanna idak meninjau aau idak menghubungkan

Lebih terperinci

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1 PERSAMAAN GERAK Posisi iik maeri dapa dinyaakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suau bidang daar maupun dalam bidang ruang. Vekor yang dipergunakan unuk menenukan posisi disebu VEKTOR POSISI yang diulis

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 engerian Bejana Tekan Bejana ekan adalah abung aau angki yang digunakan unuk menyimpan media yang berekanan. Media yang disimpan dapa berupa za cair, uap, gas aau udara. Jika

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA II Teori Dasar lasisias Teori lasisias merupakan cabang ang sanga pening dari fisis maemais, ang mengkaji hubungan anara gaa, perpindahan, egangan dan regangan dalam sebuah benda

Lebih terperinci

Analisa Struktur Atas Jembatan Kutai Kartanegara Sebelum Mengalami Keruntuhan

Analisa Struktur Atas Jembatan Kutai Kartanegara Sebelum Mengalami Keruntuhan 1 Analisa Srukur Aas Jembaan Kuai Karanegara Sebelum engalami Kerunuhan Ansadilla Niar Sianggang dan Bambang Piscesa, ST. T Jurusan Teknik Sipil, Fakulas Teknik Sipil, Perencanaan Insiu Teknologi Sepuluh

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

Faradina GERAK LURUS BERATURAN

Faradina GERAK LURUS BERATURAN GERAK LURUS BERATURAN Dalam kehidupan sehari-hari, sering kia jumpai perisiwa yang berkaian dengan gerak lurus berauran, misalnya orang yang berjalan kaki dengan langkah yang relaif konsan, mobil yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju perumbuhan

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju-laju

Lebih terperinci

Hitung penurunan pada akhir konsolidasi

Hitung penurunan pada akhir konsolidasi Konsolidasi Tangkiair diameer 30 m Bera, Q 60.000 kn 30 m Hiung penurunan pada akhir konsolidasi Δσ 7 m r 15 m x0 /r 7/15 0,467 x/r0 I90% Δσ q n I 48.74 x 0,9 43,86 KPa Perlu diperhiungkan ekanan fondasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya Fakulas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universias Brawijaa MOMEN NERSA BDANG () r r a r a a Maka momen inersia erhadap sumbu : a a. r. r a. r a. r Jika luas bidang ang diarsir: a = a = a = Jarak erhadap sumbu

Lebih terperinci

FISIKA. Kelas X GLB DAN GLBB K13 A. GERAK LURUS BERATURAN (GLB)

FISIKA. Kelas X GLB DAN GLBB K13 A. GERAK LURUS BERATURAN (GLB) K3 Kelas X FISIKA GLB DAN GLBB TUJUAN PEMBELAJARAN Seelah mempelajari maeri ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan beriku.. Memahami konsep gerak lurus berauran dan gerak lurus berubah berauran.. Menganalisis

Lebih terperinci

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks)

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks) Polieknik Negeri Banjarmasin 4 MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : ( sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran

Lebih terperinci

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu .4 Persamaan Schrodinger Berganung Waku Mekanika klasik aau mekanika Newon sanga sukses dalam mendeskripsi gerak makroskopis, eapi gagal dalam mendeskripsi gerak mikroskopis. Gerak mikroskopis membuuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TIJAUA TEORITIS 2.1 Peramalan (Forecasing) 2.1.1 Pengerian Peramalan Peramalan dapa diarikan sebagai beriku: a. Perkiraan aau dugaan mengenai erjadinya suau kejadian aau perisiwa di waku yang akan

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus A. GERAK Gerak Lurus o a Secara umum gerak lurus dibagi menjadi 2 : 1. GLB 2. GLBB o 0 a < 0 a = konsan 1. GLB (Gerak Lurus Berauran) S a > 0 a < 0 Teori Singka : Perumusan gerak lurus berauran (GLB) Grafik

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu daisipayung.com 3. Kinemaika sau dimensi Gerak benda sepanjang garis lurus disebu gerak sau dimensi. Kinemaika sau dimensi memiliki asumsi benda dipandang sebagai parikel aau benda iik arinya benuk dan

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS INTERVENSI. Analisis intervensi dimaksudkan untuk penentuan jenis respons variabel

BAB III ANALISIS INTERVENSI. Analisis intervensi dimaksudkan untuk penentuan jenis respons variabel BAB III ANALISIS INTERVENSI 3.1. Pendahuluan Analisis inervensi dimaksudkan unuk penenuan jenis respons variabel ak bebas yang akan muncul akiba perubahan pada variabel bebas. Box dan Tiao (1975) elah

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) D-108

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) D-108 JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (013) ISSN: 337-3539 (301-971 Prin) D-108 Simulasi Peredaman Gearan Mesin Roasi Menggunakan Dynamic Vibraion Absorber () Yudhkarisma Firi, dan Yerri Susaio Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI PERTEMUAN KINEMATIKA SATU DIMENSI RABU 30 SEPTEMBER 05 OLEH: FERDINAND FASSA PERTANYAAN Pernahkah Anda meliha aau mengamai pesawa erbang yang mendara di landasannya? Berapakah jarak empuh hingga pesawa

Lebih terperinci

BAB X GERAK LURUS. Gerak dan Gaya. Buku Pelajaran IPA SMP Kelas VII 131

BAB X GERAK LURUS. Gerak dan Gaya. Buku Pelajaran IPA SMP Kelas VII 131 BAB X GERAK LURUS. Apa perbedaan anara jarak dan perpindahan? 2. Apa perbedaan anara laju dan kecepaan? 3. Apa yang dimaksud dengan percepaan? 4. Apa perbedaan anara gerak lurus berauran dan gerak lurus

Lebih terperinci

PERILAKU PENGUJIAN TARIK PADA POLIMER POLISTIREN DAN POLIPROPILEN

PERILAKU PENGUJIAN TARIK PADA POLIMER POLISTIREN DAN POLIPROPILEN PERILAKU PENGUJIAN TARIK PADA POLIMER POLISTIREN DAN POLIPROPILEN Sumaryono Saf Pengajar Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Oomoif IKIP Veeran Semarang Absraksi Banyak ragam cara unuk mengeahui sifa dan keangguhan

Lebih terperinci

ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI)

ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI) ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI) Abrar Tanjung Jurusan Teknik Elekro Fakulas Teknik Universias Lancang Kuning E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA. TKS-4101: Fisika GERAKAN SATU DIMENSI. Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB

J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA. TKS-4101: Fisika GERAKAN SATU DIMENSI. Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA TKS-4101: Fisika GERAKAN SATU DIMENSI Dsen: Tim Dsen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB 1 Mekanika Kinemaika Mempelajari gerak maeri anpa melibakan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suau dugaan aau perkiraan enang erjadinya suau keadaan di masa depan. Akan eapi dengan menggunakan meodemeode erenu peramalan

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR PELAT

BAB II TEORI DASAR PELAT II Teori Dasar lasisias Linier BAB II TORI DASAR PLAT Teori elasisias merupakan cabang ang sanga pening dari fisika sais, ang mengkaji hubungan anara gaa, perpindahan, egangan dan regangan dalam benda

Lebih terperinci

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi Bab II Dasar Teori Kelayakan Invesasi 2.1 Prinsip Analisis Biaya dan Manfaa (os and Benefi Analysis) Invesasi adalah penanaman modal yang digunakan dalam proses produksi unuk keunungan suau perusahaan.

Lebih terperinci

Analisis Sistem Pentanahan Gardu Induk Bagan Batu Dengan Bentuk Konstruksi Grid (Kisi-Kisi)

Analisis Sistem Pentanahan Gardu Induk Bagan Batu Dengan Bentuk Konstruksi Grid (Kisi-Kisi) Analisis Sisem Penanahan Gardu Induk Bagan Bau Dengan Benuk Konsruksi Grid (Kisi-Kisi) Abrar Tanjung Jurusan Teknik Elekro Fakulas Teknik, Universias Lancang Kuning E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

Jurnal Bidang Teknik ENGINEERING, ISSN , Vol. 6 No. 1 April 2013 Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal

Jurnal Bidang Teknik ENGINEERING, ISSN , Vol. 6 No. 1 April 2013 Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA OMBAK LATERAL DAN TENAGA ANGIN PUTARAN RENDAH Soebyako, Ahmad Farid Dosen [email protected], [email protected] Absrak Sisem pembangki lisrik enaga ombak laeral dan enaga

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR ANTENA

BAB II TEORI DASAR ANTENA BAB II TEORI DASAR ANTENA.1. endahuluan Anena didefinisikan oleh kamus Webser sebagai ala yang biasanya erbua dari meal (sebagai iang aau kabel) unuk meradiasikan aau menerima gelombang radio. Definisi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami 11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Keahanan pangan (food securiy) di negara kia ampaknya cukup rapuh. Sejak awal ahun 1990-an, jumlah produksi pangan eruama beras, cenderung mengalami penurunan sehingga

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Mobil Robo Mobil robo adalah robo yang memiliki kemampuan unuk berpindah empa mobiliy, mobil robo yang bergerak dari posisi awal ke posisi yang diinginkan, suau sisem

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Permasalahan Nyata Penyebaran Penyakit Tuberculosis

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Permasalahan Nyata Penyebaran Penyakit Tuberculosis BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. Permasalahan Nyaa Penyebaran Penyaki Tuberculosis Tuberculosis merupakan salah sau penyaki menular yang disebabkan oleh bakeri Mycobacerium Tuberculosis. Penularan penyaki

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN EMBAHASAN 4.1 Karakerisik dan Obyek eneliian Secara garis besar profil daa merupakan daa sekunder di peroleh dari pusa daa saisik bursa efek Indonesia yang elah di publikasi, daa di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah persediaan merupakan masalah yang sanga pening dalam perusahaan. Persediaan mempunyai pengaruh besar erhadap kegiaan produksi. Masalah persediaan dapa diaasi

Lebih terperinci

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR A. KALOR (PANAS) Tanpa disadari, konsep kalor sering kia alami dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kia mencampur yang erlalu panas dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Peneliian Jenis peneliian kuaniaif ini dengan pendekaan eksperimen, yaiu peneliian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi erhadap objek peneliian sera adanya konrol.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Air merupakan kebuuhan pokok bagi seiap makhluk hidup di dunia ini ermasuk manusia. Air juga merupakan komponen lingkungan hidup yang pening bagi kelangsungan hidup

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR Karakerisik gerak pada bidang melibakan analisis vekor dua dimensi, dimana vekor posisi, perpindahan, kecepaan, dan percepaan dinyaakan dalam suau vekor sauan i (sumbu

Lebih terperinci

Darpublic Nopember 2013

Darpublic Nopember 2013 Darpublic Nopember 01 www.darpublic.com 4.1. Pengerian 4. Persamaan Diferensial (Orde Sau) Sudarano Sudirham Persamaan diferensial adalah suau persamaan di mana erdapa sau aau lebih urunan fungsi. Persamaan

Lebih terperinci

Oleh : Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya /

Oleh : Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya   / 4 Oleh : Debrina Puspia Andriani Teknik Indusri Universias Brawijaya e-mail : [email protected] / [email protected] www.debrina.lecure.ub.ac.id O. Dasar perhiungan depresiasi 2. Meode-meode depresiasi.

Lebih terperinci

GERAK LURUS BESARAN-BESARAN FISIKA PADA GERAK KECEPATAN DAN KELAJUAN PERCEPATAN GLB DAN GLBB GERAK VERTIKAL

GERAK LURUS BESARAN-BESARAN FISIKA PADA GERAK KECEPATAN DAN KELAJUAN PERCEPATAN GLB DAN GLBB GERAK VERTIKAL Suau benda dikaakan bergerak manakalah kedudukan benda iu berubah erhadap benda lain yang dijadikan sebagai iik acuan. Benda dikaakan diam (idak bergerak) manakalah kedudukan benda iu idak berubah erhadap

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani. III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Usahaani belimbing karangsari adalah kegiaan menanam dan mengelola anaman belimbing karangsari unuk menghasilkan produksi, sebagai sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan di PT Panafil Essenial Oil. Lokasi dipilih dengan perimbangan bahwa perusahaan ini berencana unuk melakukan usaha dibidang

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Tahapan Pemecahan Masalah Tahapan pemecahan masalah berfungsi unuk memudahkan dalam mencari jawaban dalam proses peneliian yang dilakukan agar sesuai dengan arah

Lebih terperinci

BAB III ANALISA MODEL ROBOT TANGGA. Metode naik tangga yang diterapkan pada model robot tugas akhir ini, yaitu

BAB III ANALISA MODEL ROBOT TANGGA. Metode naik tangga yang diterapkan pada model robot tugas akhir ini, yaitu BAB III ANALISA MODEL ROBOT TANGGA 3.1 Gambaran Umum Robo Meode naik angga yang dierapkan pada model robo ugas akhir ini, yaiu meode karol dan rasio diameer roda-inggi anak angga/undakan. Gambar 3.1 Ilusrasi

Lebih terperinci

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK Frandy Ferdian, Amelia Makmur, S.T., M.T. Binus Universiy, Jl.

Lebih terperinci

(T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF

(T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF Seminar Nasional Saisika 12 November 2011 Vol 2, November 2011 (T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF Gumgum Darmawan, Sri Mulyani S Saf Pengajar Jurusan Saisika FMIPA UNPAD

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Poensi sumberdaya perikanan, salah saunya dapa dimanfaakan melalui usaha budidaya ikan mas. Budidaya ikan mas yang erus berkembang di masyaraka, kegiaan budidaya

Lebih terperinci

KINEMATIKA GERAK LURUS

KINEMATIKA GERAK LURUS Kinemaika Gerak Lurus 45 B A B B A B 3 KINEMATIKA GERAK LURUS Sumber : penerbi cv adi perkasa Maeri fisika sanga kenal sekali dengan gerak benda. Pada pokok bahasan enang gerak dapa imbul dua peranyaan

Lebih terperinci

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND Noeryani 1, Ely Okafiani 2, Fera Andriyani 3 1,2,3) Jurusan maemaika, Fakulas Sains Terapan, Insiu Sains & Teknologi

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES Daa merupakan bagian pening dalam peramalan. Beriku adalah empa krieria yang dapa digunakan sebagai acuan agar daa dapa digunakan dalam peramalan.. Daa harus dapa dipercaya

Lebih terperinci

Analisis Model dan Contoh Numerik

Analisis Model dan Contoh Numerik Bab V Analisis Model dan Conoh Numerik Bab V ini membahas analisis model dan conoh numerik. Sub bab V.1 menyajikan analisis model yang erdiri dari analisis model kerusakan produk dan model ongkos garansi.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian Demografi Keadaan penduduk sanga era kaiannya dengan demografi. Kaa demografi berasal dari bahasa Yunani yang berari Demos adalah rakya aau penduduk,dan Grafein adalah

Lebih terperinci

ANALISIS SAMBUNGAN SEKRUP PADA KONSTRUKSI RANGKA ATAP BAJA RINGAN MENURUT SNI 7971:2013

ANALISIS SAMBUNGAN SEKRUP PADA KONSTRUKSI RANGKA ATAP BAJA RINGAN MENURUT SNI 7971:2013 Jurnal Teknik Sipil Siklus, Vol., o. 2, Okober 2017 AALISIS SAMBUGA SEKRUP PADA KOSTRUKSI RAGKA ATAP BAJA RIGA MEURUT SI 7971:201 Widya Apriani Program Sudi Teknik Sipil Universias Lancang Kuning Jalan

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. PENGUJIAN HIPOTESIS 1. PENDAHULUAN Hipoesis Saisik : pernyaaan aau dugaan mengenai sau aau lebih populasi. Pengujian hipoesis berhubungan dengan penerimaan aau penolakan suau hipoesis. Kebenaran (benar

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI. Studi mengenai aspek teknis dan produksi ini sifatnya sangat strategis, sebab

BAB 2 DASAR TEORI. Studi mengenai aspek teknis dan produksi ini sifatnya sangat strategis, sebab 13 BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Aspek Teknis Sudi mengenai aspek eknis dan produksi ini sifanya sanga sraegis, sebab berkaian dengan kapasias proyek, lokasi, aa leak ala produksi, kajian aas bahan dan sumbernya,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang erjadi pada waku yang akan daang sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan pada waku yang

Lebih terperinci

7/1/2008. Δvx. Carilah perpindahan, kecepatan rata rata dan laju rata rata

7/1/2008. Δvx. Carilah perpindahan, kecepatan rata rata dan laju rata rata 7//8 Mengunakan deekor ulrasonic Mengukur jarak suau objek dengan gelombang ulrasonic Bagaimana cara kerjana? Sensor memancarkan pulsa ulrasonic Mengukur waku anara dipancarkan dan dierima Mengukur jarak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah Dalam sisem perekonomian suau perusahaan, ingka perumbuhan ekonomi sanga mempengaruhi kemajuan perusahaan pada masa yang akan daang. Pendapaan dan invesasi merupakan

Lebih terperinci

ENERGI LISTRIK Tujuan : Menentukan faktor faktor yang mempengaruhi besar energi listrik

ENERGI LISTRIK Tujuan : Menentukan faktor faktor yang mempengaruhi besar energi listrik ENEGI LISTIK Tujuan : Menenukan fakor fakor yang mempengaruhi besar energi lisrik Ala dan bahan : 1. ower Suplay. Amperemeer 3. olmeer 4. Hambaan geser 5. Termomeer 6. Sopwach 7. Saif 8. Kawa nikelin 1

Lebih terperinci

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari 2014 LAORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Luvia, Imroaul Maghfiroh, Rana Dewi Kumalasari Laboraorium Fisika Maerial Jurusan Fisika, Deparemen Fisika

Lebih terperinci

FIsika KTSP & K-13 KINEMATIKA. K e l a s A. VEKTOR POSISI

FIsika KTSP & K-13 KINEMATIKA. K e l a s A. VEKTOR POSISI KTSP & K-13 FIsika K e l a s XI KINEMATIKA Tujuan Pembelajaran Seelah mempelajari maeri ini, kamu diharapkan mampu menjelaskan hubungan anara vekor posisi, vekor kecepaan, dan vekor percepaan unuk gerak

Lebih terperinci

Pekan #3. Osilasi. F = ma mẍ + kx = 0. (2)

Pekan #3. Osilasi. F = ma mẍ + kx = 0. (2) FI Mekanika B Sem. 7- Pekan #3 Osilasi Persamaan diferensial linear Misal kia memiliki sebuah fungsi berganung waku (. Persamaan diferensial linear dalam adalah persamaan yang mengandung variabel dan urunannya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekaan Peneliian Jenis peneliian yang digunakan dalam peneliian ini adalah peneliian evaluasi dan pendekaannya menggunakan pendekaan kualiaif non inerakif (non

Lebih terperinci

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH)

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH) Journal Indusrial Servicess Vol. No. Okober 0 MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH) Abdul Gopar ) Program Sudi Teknik Indusri Universias

Lebih terperinci

IR. STEVANUS ARIANTO 1

IR. STEVANUS ARIANTO 1 GERAK TRANSLASI GERAK PELURU GERAK ROTASI DEFINISI POSISI PERPINDAHAN MEMADU GERAK D E F I N I S I PANJANG LINTASAN KECEPATAN RATA-RATA KELAJUAN RATA-RATA KECEPATAN SESAAT KELAJUAN SESAAT PERCEPATAN RATA-RATA

Lebih terperinci

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF Pada bab ini akan dibahas mengenai sifa-sifa dari model runun waku musiman muliplikaif dan pemakaian model ersebu menggunakan meode Box- Jenkins beberapa ahap

Lebih terperinci