MATEMATIKA BISNIS DAN
|
|
|
- Susanti Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2 Bandung Arry Sanjoyo dkk MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN SMK JILID 3 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
3 Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN Untuk SMK JILID 3 Penulis Editor : Bandung Arry Sanjoyo Sri Suprapti Nur Asyiah Dian Winda S : Erna Apriliani Ukuran Buku : 7,6 x 5 cm SAN m SANJOYO, Bandung Arry Matematika Bisnis dan Manajemen untuk SMK Jilid 3 /oleh Bandung Arry Sanjoyo, Sri Suprapti, Nur Asyiah, Dian Winda S ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 008. xii, 6 hlm ISBN : ISBN : Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 008
4 KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 008 tanggal 5 Agustus 008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, 7 Agustus 008 Direktur Pembinaan SMK
5 iv
6 KATA PENGANTAR Matematika merupakan suatu alat untuk berkomunikasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan matematika kita dapat mengungkapkan gejala gejala alam, sosial, dan teknik dengan suatu ungkapan rumusan matematika yang tidak memuat makna ganda. Bahkan dengan berbantuan matematika kita dapat menyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi, manajemen, dan teknik dengan penyelesaian yang akurat dan optimal. Fakta menunjukkan bahwa beberapa pemenang nobel untuk bidang ekonomi atau teknik berasal dari matematikawan. Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai matematika dari usia sekolah dasar maupun lanjut merupakan suatu kebutuhan. Buku ini disusun dengan memperhatikan konsep berfikir matematis dan selalu mengaitkannya dalam kehidupan seharihari, khususnya pada permasalahan ekonomi, bisnis, dan manajemen. Pada setiap konsep kecil yang dituangkan dalam suatu sub bab selalu dikaitkan dengan permasalahan sehari hari. Juga pada setiap bab diawali dengan kalimat motivasi, pembuka dan perangsang bagi pembaca untuk mengerti dari awal, kira-kira akan dipakai seperti apa dan dimana. Belajar matematika tidak cukup hanya dengan mengerti konsep saja. Harus disertai dengan banyak latihan olah pikir serupa dengan contoh contoh yang diberikan. Untuk itu, pada setiap akhir sub bab diberikan banyak soal soal sebagai latihan dalam v
7 menguasai konsep dan miningkatkan ketrampilan olah pikir dan penyelesaian permasalahan. Susunan materi di buku ini berpedoman pada silabus dan GBPP yang telah disusun oleh Depdiknas untuk matematika tingkat SMK bidang Bisnis dan Perkantoran. Sehingga rujukan yang dipakai banyak menggunakan buku matematika untuk SMK dan SMA/MA. Namun demikian juga memperhatikan beberapa buku matematika untuk perguruan tinggi maupun buku aplikasi matematika. Dengan harapan bahwa konsep dan aplikasi matematika tidak terabaikan, juga tingkatan penyampaian materi sangat memperhatikan usia sekolah SMK. Banyak kata motivasi dan kalimat definitif diambil dari buku rujukan yang dipakai. Untuk suatu topik gagasan, sering diambil dari gabungan beberapa buku yang kemudian diungkapkan kedalam suatu kalimat yang sekiranya akan mudah dimengerti oleh siswa SMK. Penulis sangat menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran untuk perbaikan sangat diharapkan oleh penulis. Penulis. vi
8 Diunduh dari BSE.Mahoni.com DAFTAR ISI Halaman KATA SAMBUTAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI iii v vii JILID. SISTEM BILANGAN REAL.. BILANGAN REAL DAN OPERATOR PADA REAL... Bilangan Real... Operasi Pada Bilangan Real 4.. Perbandingan, Skala dan Persen... Perbandingan... Skala Persen 7.3. Operasi Pada Bilangan Berpangkat Bulat Pangkat Bilangan Positif Pangkat Bilangan Negatif Penerapan Operasional Bilangan Berpangkat Bilangan Dalam Bentuk Akar (Irrasional) Operasi Aljabar Pada Bilangan Berbentuk Akar Merasionalkan Penyebut 5.4. Bilangan Berpangkat Rasional Logaritma Pengertian Logaritma Menghitung Logaritma Sifat-Sifat Logaritma vii
9 . PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN 83.. Persamaan Linear 84.. Persamaan Kuadrat Menyelesaikan Persamaan Kuadrat Mencari Hubungan Akar-akar Persamaan Kuadrat Hubungan Antara Akar-akar Persamaan Kuadrat Lainnya..4. Menerapkan Persamaan Kuadrat 8.3. Sistem Persamaan Linear Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Peubah Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Tiga Peubah 49.. Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat Dua Peubah 54.. Pertidaksamaan Pertidaksamaan Linear Satu Peubah Pertidaksamaan Kuadrat Pertidaksamaan Pecah Rasional Menerapkan Pertidaksamaan Kuadrat FUNGSI 77.. Fungsi dan Relasi Jenis-jenis Fungsi 83.. Fungsi Linear Menggambar Grafik Fungsi Linear Persamaan Garis Lurus Yang Melalui Sebuah Titik 9 Dengan Gradien Diketahui.7.3. Penentuan Persamaan Garis Lurus Yang Melalui Dua 9 Titik.7.4. Kedudukan Dua Buah Garis Lurus Invers Fungsi Linear 94.. Fungsi Kuadrat Bentuk Umum Parabola 0 viii
10 .8.. Menentukan Puncak Persamaan Sumbu Simetri 03 Dan Koordinat Fokus Suatu Parabola.3. Aplikasi Untuk Ekonomi JILID 4. PROGRAM LINEAR Keramik Pertidaksamaan Linear Dan Daerah 9 Penyelesaiannya 3... Sistem Pertidaksamaan Linear dan Daerah 8 Penyelesaiannya 3.. Nilai Optimum Dari Daerah Penyelesaian Sistem 48 Pertidaksamaan Linear 3.. Penyelesaian Program Linear Dengan Menggunakan Garis Selidik LOGIKA MATEMATIKA Pernyataan dan Kalimat Terbuka Proposisi Kalimat Terbuka Penghubung Atau Konektif (Connective) Negasi Konjungsi Disjungsi Implikasi (Proposisi Bersyarat) Bimplikasi Tabel Kebenaran Kuantor Universal Dan Kuantor Eksistensial Negasi Dari Pesyaratan Berkuantor Hubungan Invers, Konvers, dan Kontraposisi Dua Buah Pernyataan Majemuk Yang Ekuivalen Silogisme, Modus, Ponens, dan Modus Tollens Silogisme 307 ix
11 4.4.. Modus Ponens Modus Tollens 3 6. FUNGSI Fungsi dan Relasi Jenis-Jenis Fungsi Fungsi Liner Menggambar Grafik Fungsi Liner Persamaan Garis Lurus Yang Melalui Sebuah Titik 33 Dengan Gradien Diketahui Penentuan Persamaan Garis Lurus Yang Melalui Dua 33 Titik 6.3. Fungsi Kuadrat Bentuk Umum Parabola Menentukan Puncak, Persamaan Sumbu Simetri dan 343 Koordinat Fokus Suatu Parabola 6.4. Aplikasi Untuk Ekonomi BARISAN DAN DERET Barisan dan Deret Bilangan Notasi Sigma Barisan dan Deret Aritmatika Barisan dan Deret Geometri 386 JILID 3 8. GEOMETRI BIDANG 397 x 8.. Sudut Keliling Bidang Datar Luas Luas Bidang Datar Dibawah Garis Lengkung Transformasi Geometri Komposisi Transformasi 436
12 9. Peluang Pengertian Dasar Kaidah Pencacahan STATISTIKA Pengertian Dasar Penyajian Data Ukuran Statistik Bagi Data 498. MATEMATIKA KEUANGAN.. Bunga Tunggal dan Bunga Majemuk 59.. Diskonto Bunga Majemuk Nilai Tunai, Nilai Akhir, dan Hari Valuta Rente (Rentetan Modal) Anuitas Metode Saldo Menurun 55 xi
13 xii
14 Bab 8 GEOMETRI BIDANG P ada bab ini akan dibahas bentuk-bentuk bidang dalam ruang dimensi dua, keliling serta luasan dari bidang tersebut, bentuk ini banyak kaitannya dengan kegiatan ekonomi (bisnis dan manajemen) terutama menyangkut luasan dari bidang. Selain itu dikenalkan dua besaran sudut yaitu derajat dan radian serta hubungan antara kedua satuan ukuran ini. 8. Sudut Misalkan kita menggambar dua garis lurus AB dan AC yang berpotongan di titik A (lihat gambar 8.), kedua garis ini membentuk sudut dengan titik sudut A dan dinamakan sudut A dilambangkan dengan: BAC atau dapat juga ditulis sebagai CAB. Garis AB dan AC dinamakan kaki sudut dari sudut BAC. Untuk mengukur besarnya BAC digunakan aturan berlawanan dengan arah jarum jam yang putar kanan, berarti sudut bernilai positip jika arah putar sudut kiri dan 397
15 398 Bab 8: Geometri Bidang bernilai negative jika arah putar sudut ke kanan, besar sudut dinyatakan dalam derajat. Jadi besar BAC dinyatakan dengan θ 0. C A θ B Gambar 8.. Garis AB dan garis AC membentuk BAC Ada beberapa nama sudut berdasarkan besar sudut yang dibentuk, pada Gambar 8.. BAC dinamakan sudut lancip karena besar sudut A kurang dari 90 0, jika besar sudut adalah 90 0 maka dinamakan sudut siku-siku dan jika besar sudut lebih dari 90 0 dinamakan sudut tumpul. HUBUNGAN SATUAN PANJANG DENGAN DERAJAT Dua macam satuan yang biasa digunakan untuk menentukan ukuran sudut yaitu radian dan derajad. Pada bagian ini akan dibahas pengertian radian dan hubungan antara derajat dengan radian. Buatlah sebuah lingkaran dengan pusat O dan jari-jari r seperti Gambar 8... Gambar 8.. Besar AOB = radian Misal AB sebuah busur pada lingkaran yang panjangnya sama dengan
16 Bab 8: Geometri Bidang 399 jari-jari lingkaran r. Besar sudut pusat AOB yang menghadap busur AB sebagai satu radian. Karena keliling lingkaran sama dengan π r (nilai π 3,4 ), ini berarti bahwa besar sudut pusat adalah: π radian. Besar sudut lingkaran dengan satu putaran adalah sehingga 0 =. Satuan yang lebih kecil dari derajat adalah menit dan detik, 0 = 60' dan ' = 60". Jadi: radian = π atau π radian =80 0 persamaan tersebut adalah persamaan dasar antara radian dan derajat, oleh karena itu: 80 radian = π '45" 0 = π radian = 0, 0745 radian 80 CONTOH 8.. Berapa besar sudut dalam radian jika diketahui besar sudut dalan derajat adalah 45 0? Jawab. Karena Maka 0 = π radian = 0, 0745 radian, 80 π π 45 0 = 45 radian = radian 0, 7855 radian 80 4
17 400 Bab 8: Geometri Bidang CONTOH 8.. Berapa derajat jika besar sudut:,5 radian? Jawab Karena radian = 57 7'45", π Maka,5radian =,5 7 37'" π CONTOH 8..3 Nyatakan besar sudut: Jawab π 3 dalam derajat! Karena maka radian = 80 0 π, π 3 = = 0 0 CONTOH 8..4 Nyatakan besar sudut Jawab Karena radian = 80 0 π, dalam bentuk π radian Maka = 0 80 π radian = 3π radian
18 Bab 8: Geometri Bidang 40 Latihan Soal 8 -. Konversikan besaran sudut dalam derajat ke dalam radian a c b d Konversikan besaran sudut dalam radian ke dalam derajat a. 6,8 radian c. 9 radian b. 0,34 radian d. radian 3. Ubahlah ke dalam satuan π radian a c b d Ubahlah ke dalam satuan derajat 5 a. π 6 3 b. π 4 c. π 4 7 d. π 3 5. Ubahlah ke dalam satuan π radian a b. -60 o c d
19 40 Bab 8: Geometri Bidang 8. KELILING BIDANG DATAR Keliling suatu bangun datar yang tertutup merupakan jumlah panjang sisi-sisinya, dapat juga dikatakan bahwa keliling suatu bangun datar adalah jarak yang ditempuh bila suatu bangun dikitari sampai kembali ke tempat semula. PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG Bangun datar yang berbentuk persegi panjang adalah bangun datar segi empat dengan sudut siku disetiap sudutnya, dimana mempunyai ukuran panjang dan lebar. Sedangkan persegi adalah keadaan khusus dari persegi panjang yaitu ukuran panjang dan lebar adalah sama. Seperti terlihat pada Gambar p l s s Persegi Panjang Persegi Gambar Persegi dan Persegi Panjang Keliling dari persegi panjang adalah jarak yang ditempuh jika mengitari sisi-sisinya dan kembali pada titik awal. Untuk persegi panjang, kelilingnya (K) adalah dua kali panjang (p) ditambah dua kali lebar (l) dan dinyatakan dengan: ( p l) K = p + l = + Untuk persegi, karena panjang sisi-sisiya sama (s) maka keliling persegi dinyatakan dengan: K = s + s = 4s
20 Bab 8: Geometri Bidang 403 CONTOH Hitung keliling persegi panjang dengan panjang 0 satuan dan lebar 5 satuan! Jawab Keliling persegi panjang tersebut adalah: ( p + l) = ( 0 + 5) satuan K = = 70 CONTOH 8.. Hitung keliling persegi dengan panjang sisi-sisinya 0 satuan! Jawab Keliling persegi tersebut adalah: K = 4 s = 4 0 = 80 satuan JAJARAN GENJANG, LAYANG LAYANG DAN TRAPESIUM Bentuk-bentuk segi empat yang lain adalah: Jajaran genjang, Layanglayang dan Trapesium. Jajaran genjang mempunyai dua pasang sisi yang saling sejajar, layang-layang dua pasang sisinya sama panjang sedangkan trapesium hanya memiliki sepasang sisi yang sejajar. Bentuk bangun datar ini diperlihatkan pada Gambar 8.. l l p l p p p n m l l k Jajaran Genjang Layang - Layang Trapesium
21 404 Bab 8: Geometri Bidang Gambar 8.. Bangun datar Jajaran Genjang, Layang-Layang dan Trapesium Keliling dari bangun segi empat ini dengan menghitung jarak yang ditempuh, jika mengitari bangun segi empat ini dan kembali ke titik asal. Dengan demikian keliling untuk masing masing banun segi empat ini adalah : Jajaran genjang: K = ( p + l) Layang-layang : K = ( p + l) Trapesium : K = k + l + m+ n SEGITIGA Perhatikan Gambar 8..3, terlihat pada gambar bahwa persegi panjang yang ditarik sebuah garis yang melalui salah satu diagonalnya maka akan terbentuk bidang datar yang berbentuk segitiga. S S S 3 Gambar 8..3 Segitiga Keliling segitiga dinyatakan dengan menjumlahkan ketiga sisinya: K = S + + S S 3 Terdapat 3 jenis segitiga yaitu: Segitiga siku-siku: salah satu sudutnya siku-siku Segitiga sama kaki: mempunyai dua sisi yang sama panjang Segitiga sama sisi: ketiga sisinya sama panjang
22 Bab 8: Geometri Bidang 405 LINGKARAN Bentuk-bentuk benda yang berupa lingkaran sering anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan bentuk roda kendaraan, jam tangan yang bulat, medali, uang logam merupakan contoh benda-benda yang berbentuk lingkaran. Bentuk Lingkaran diperoleh dengan menentukan tempat kedudukan atau himpunan semua titik-titik yang berjarak tetap terhadap sebuah titik (Gambar 8..4). Titik tetap (x o, y o) tersebut dikatakan Pusat lingkaran dan jarak r tersebut dikatakan jari-jari lingkaran. Gambar 8..4 Keliling sebuah lingkaran sama dengan dua kali π dikalikan dengan jari-jarinya, atau ditulis: K = π r
23 406 Bab 8: Geometri Bidang Latihan Soal 8-. Tentukan keliling dari bangun datar dibawah ini: a. Persegi Panjang dengan panjang = 6 cm, lebar = 3 cm b. Persegi dengan sisi = 4 cm c. Jajajaran genjang panjang = cm, lebar = 8 cm d. Lingkaran dengan jari-jari = 5 cm. Sebuah jendela berbentuk persegi panjang dengan panjang =,4 m dan lebar,8 m. Diatas jendela diberi lengkungan setengah lingkaran. b. Tentukan keliling jendela c. Jika harga bahan Rp ,-/m dan ongkos pembuatan jendela Rp ,-. Tentukan harga jendela tersebut. 3. Sebuah pagar berbentuk seperti gambar dibawah ini, bagian atas pagar diberi hiasan segi tiga sama sisi. 3 m 0,5 m Jika harga bahan Rp ,-/m, ongkos pembuatan Rp ,- tentukan harga pagar. 4. Sebuah taman berbentuk persegi panjang dengan panjang 5 m dan lebar 0 m, keliling taman diberi pagar seperti pada soal 3. Berapa beaya yang dibutukhan untuk memberi pagar taman tersebut. 5 m
24 Bab 8: Geometri Bidang Luas Luas daerah suatu bangun datar, yang selanjutnya disebut luas adalah ukuran yang menunjukkan besarmya permukaan untuk menutup bangun datar tersebut. Luas suatu bangun datar dinyatakan dengan L, yang mana rumus-rumus luas bangun datar yang sudah pernah kita pelajari kita ulas kembali. PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG Bangun datar yang berbentuk persegi panjang adalah bangun datar segi empat dengan sudut siku disetiap sudutnya, dimana mempunyai ukuran panjang dan lebar. Sedangkan persegi adalah keadaan khusus dari persegi panjang yaitu ukuran panjang dan lebar adalah sama. Seperti terlihat pada Gambar 8... Luas dari persegi panjang adalah banyaknya besaran turunan yang dapat menutupi permukaan persegi panjang. Kalau panjang dari persegi panjang adalah p satuan dan lebar dari persegi panjang adalah l satuan, maka luas persegi panjang tersebut adalah: L = p l Sedangkan luas dari persegi adalah sisi (s) dikalikan dengan sisi (s) dan dinyatakan dengan: L = s s = s CONTOH 8.3. Tentukan luas dari persegi panjang dengan panjang 8 cm & lebar 4 cm Jawab L = p l = 8cm 4cm = 3 cm
25 408 Bab 8: Geometri Bidang CONTOH 8.3. Tentukan luas dari persegi dengan panjang sisi 4 m Jawab L = s s = 4m 4m = 6 m SEGITIGA Perhatikan Gambar Terlihat pada gambar bahwa Luas segi tiga ABC sama dengan ½ luas persegi panjang ADCF ditambah ½ luas persegi panjang DBFC maka luas segi tiga ABC sama dengan ½ luas persegi panjang ADCE dan DBFC. Sehingga luas segitiga dapat dirumuskan sebagai berikut : E C F L = ( AB) ( CD) A D B Gambar 8.3. Jika panjang alas (AB) segi tiga ABC adalah a dan Panjang dari garis tinggi CD adalah t, maka luas segitiga ABC dapat ditulis: L = a t CONTOH Tentukan luas segitiga yang panjang alasnya 8 cm dan tinggi 4 cm Jawab L = a t = 8cm 4cm = 6 cm
26 Bab 8: Geometri Bidang 409 JAJARAN GENJANG Untuk mendapatkan luas jajaran genjang perhatikan Gambar Buat garis tinggi dari sepasang sisi yang sejajar, potong bentuk segitiga sebelah kanan kemudian tempelkan ke segitiga sebelah kiri, bentuk bangun menjadi persegi panjang.misalkan panjang alas jajaran genjang diketahui a dan tingginya t t t a a Gambar 8.3.Jajaran genjang dan Persegi panjang yang dibentuk dari potongan Segitiga Jajaran genjang Jadi luas jajajaran genjang dinyatakan dengan: L = a t CONTOH Tentukan luas jajaran genjang yang panjang alas 8 cm dan tinggi 4 cm Jawab L = a t = 8cm 4cm = 3 cm
27 40 Bab 8: Geometri Bidang LAYANG LAYANG Luas layang-layang dicari dengan membuat garis diagonal-diagonalnya kemudian memotong salah satu diagonalnya. Dari potongan ini terdapat dua segitiga yang panjang alas sama dengan diagonal dan tinggi dari kedua segitiga sama dengan panjang diagonal yang lain seperti terlihat pada Gambar t d d d t Gambar Layang-layang dipotong menjadi dua segitiga Luas segitiga potongan atas adalah : L atas = d Luas segitiga potongan bawah adalah : L bawah = d Luas layang-layang: L atas + L bawah ( d t ) + ( d t ) = = d ( t + t ) Sedangkan d = t + t Jadi luas layang-layang: L = d d
28 Bab 8: Geometri Bidang 4 CONTOH Tentukan luas layang-layang yang panjang diagonalnya 0 cm dan tinggi 6 cm Jawab L = d d = 0 6 = 30 cm TRAPESIUM Perhatikan Gambar Penghitungan luas trapesium dengan membuat dua garis tinggi dari alas trapesium, bidang dipotong mengikuti garis tinggi, dengan demikian ada dua bidang datar berbentuk segitiga dan satu berbentuk persegi panjang. b c t d L L L 3 a Gambar Trapesium dan Tiga Potongan Luas trapesium adalah jumlahan dari L + L + L L = L = L 3 = c t b t d t L trap = c t b + d t + ( t)
29 4 Bab 8: Geometri Bidang trap = t c + b + d = t c + b + d c d, panjang a = c + b + d t a = ( ) L = t ( a + b) c + d, panjang c + d = a b CONTOH Tentukan luas trapesium dengan tinggi 4 cm, alas 6 cm dan 5 cm. Jawab L = t ( a + b) = 4 ( 6 + 5) = cm trap
30 Bab 8: Geometri Bidang 43 Latihan Soal 8-3. Tentukan luas dari bangun datar dibawah ini: a. Persegi dengan sisi 3 cm b. Persegi panjang dengan panjang 5 cm, lebar cm c. Segi tiga dengan alas 8 cm dan tinggi 7 cm d. Lingkaran dengan jari-jari 6 cm. Tentukan luas tanah pada gambar dibawah ini m 3 m 6 m 8 m 3. Paving dengan ukuran 4 x 8 cm digunakan untuk menutup halaman sekolah yang berukuran 8 x 0 m a. Berapa banyak paving yang dibutuhkan b. Jika harga paving Rp..500,-/buah berapa harga paving seluruhnya. c. Ongkos pemasangan paving Rp ,-/m Berapa beaya yang dibutuhkan d. Agar lebih bagus digunakan paving merah sebanyak m dengan harga Rp. 750,-/buah, berapa harga paving seluruhnya 4. Sebuah teras dari cor berbentuk persegi panjang dan diatasnya diberi setengah lingkaran seperti gambar dibawah, dengan ketebalan 5 cm tiap meter persegi membutuhkan semen 6 kg, harga semen yang berisi 50 kg Rp ,- a. Berapa luas teras b. Berapa kg semen yang dibutuhkan c. Berapa biaya untuk membeli semen m m 4m
31 44 Bab 8: Geometri Bidang 8.4 Luas Bidang Datar Dibawah Garis Lengkung Prinsip untuk mendapatkan luas bidang datar dibawah garis lengkung dengan membagi bidang tersebut menjadi potongan-potongan yang berbentuk persegi panjang atau trapesium, hasil yang didapat merupakan pendekatan luas dari bidang datar tersebut. Terdapat dua cara untuk mendapatkan pendekatan luas bidang datar yaitu: Aturan titik tengah Aturan trapesoida ATURAN TITIK TENGAH Perhatikan Gambar 8.4. Luas bidang datar dibawah garis lengkung dari titik A sampai dengan titik B dibagi menjadi n potongan yang berbentuk persegi panjang dengan lebar yang sama. p p 3 p 4 p p n A l l l l l B Gambar 8.4. Luas dibawah garis lengkung dari titik A sampai titik B dipotong sebanyak n persegi panjang Luas potongan persegi panjang adalah panjang kali lebar, dengan demikian luas bidang datar adalah jumlah dari potongan-potongan luas persegi panjang dan ditulis:
32 Bab 8: Geometri Bidang 45 L L + L + L Ln ( p l) + ( p l) + ( p l) ( p n l) n p l ATURAN TRAPESOIDA i i Pendekatan luas dengan aturan trapesoida, potongan dibawah garis lengkung berbentuk trapesium seperti terlihat pada Gambar Lebar potongan merupakan tinggi trapesium, sehingga luas satu potong trapesium adalah: L = l + ( p p ) 3 p p 3 p 4 p 5 p n- p p n L L L 3 L 4 L n- A l l l l l Gambar 8.4. Luas dibawah garis lengkung dari titik A sampai titik B dipotong sebanyak (n-) Trapesium Luas seluruh dataran dibawah garis lengkung adalah: L L + L + L Ln l ( p + p ) + ( p + p ) ( + ) l p n p n 3 l B
33 46 Bab 8: Geometri Bidang L l ( p + p + p ) 3 p n p n L l [( p + p ) + ( p + p p )] n 3. n Perhatikan rumusan luas aturan trapesoida panjang awal ditambah akhir, panjang ditengah dijumlahkan kemudian dikalikan dengan dua. CONTOH 8.4. Tentukan pendekatan luas pada gambar dibawah dengan menggunakan aturan titik tengah dan trapesoida untuk n = 0, panjang AB = 0 cm dan ukuran panjang (dalam cm) P P P 3 P 4 P 5 P 6 P 7 P 8 P 9 P 0 P 7,6 8, 9,8 0 9,6 8,4 8 8, 8,8 8,6 7,4 p p p 3 p 4 p 5 p 6 p 7 p 8 p 9 p 0 p A B Jawab. n = 0, panjang AB = 0 cm, lebar potongan: 0 cm l = = cm 0
34 Bab 8: Geometri Bidang 47 Aturan Titik Tengah Lebih dahulu menentukan panjang rata-rata setiap potongan luasan untuk potongan ke satu panjang rata-rata adalah: p + p 7,6 + 8, p = = = 7, 9cm Dengan cara yang sama didapat rata-rata panjang semua potongan sebagai berikut: p p p p 3 4 p 5 7,9 9 9,9 9,8 9 8, 8, 8,5 8,7 8 p 6 Jadi pendekatan luas bidang datar adalah: L p 7 p 8 p 9 ( 7, ,9 + 9, , + 8, + 8,5 + 8,7 + 8) 87 = 74cm p 0 Aturan Trapesoida Penghitungan pendekatan luas dengan aturan trapesoida adalah sebagai berikut: L 74, = 74, cm ( 7,6 + 7,4 + ( 8, + 9, ,6 + 8, , + 8,8 + 8,6 ) Hasil pendekatan luas sedikit berbeda hal ini disebabkan pendekatan luas dengan aturan titik tengah potongan bidang datar berbentuk persegi panjang, sedangkan bentuk potongan mendekati bentuk trapesium. Jadi pendekatan luas yang paling baik adalah aturan trapesium.
35 48 Bab 8: Geometri Bidang Latihan Soal 8-4. Tentukan luas daerah gambar dibawah ini, yang mempunyai data pengukuran seperti pada tabel yang diberikan: l i P i ,5 4,5 6,5 6 5,3 5,5 5, 6. Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh y =, x 5 dan x sumbu x, ambil n = 0. Tentukan luas daerah dengan mengunakan a. Aturan titik tengah b. Aturan trapesoida 3. Gambar dibawah ini adalah sebuah jendela dengan data pengukuran, dipasang kaca dengan harga kaca Rp..000,-/m. Tentukan harga kaca yang dibutuhkan dengan menggunakan a. Aturan titik tengah b. Aturan trapesoida
36 Bab 8: Geometri Bidang 49 Data pengukuran (cm): t h Gambar dibawah ini adalah sebuah jendela mobil dengan data pengukuran, dipasang kaca dengan harga kaca Rp ,-/m. Tentukan harga kaca yang dibutuhkan dengan menggunakan a. Aturan titik tengah b. Aturan trapesoida Data pengukuran (cm): t h Hitung luas daerah dibawah kurva y=x yang dibatasi oleh garis x=0, x= dan sumbu X dengan pendekatan trapezium jika n=0.(sertai gambar)
37 40 Bab 8: Geometri Bidang 8.5 Transformasi Geometri Transformasi geometri adalah pemindahan obyek bidang datar dari tempat asal ketempat yang lain. Terdapat empat bentuk transformasi geometri yaitu: Translasi (pergeseran) Rotasi (putaran) Refleksi (pencerminan) Dilatasi (Perbesaran atau perkecilan) TRANSLASI Translasi atau pergeseran adalah bentuk transformasi untuk memindahkan suatu obyek pada bidang datar dengan jarak dan arah tertentu. Panjang jarak dan arah pada translasi dinyatakan oleh vektor AB atau a pasangan berurutan. b Suatu translasi dari pemetaan: T Titik ( x y) : R R R (ruang dimensi dua) ke a P, ditranslasikan oleh T = b artinya titik P ( x, y) dipetakan ke titik '( x', y ') hubungan: x' = x + a y' = y + b R didefinisikan oleh P sehingga berlaku
38 Bab 8: Geometri Bidang 4 Hubungan ini mengandung pengertian:. Jika a > 0 maka arah pergeseran kekanan dan jika a < 0 arah pergeseran kekiri.. Jika b > 0 maka arah pergeseran keatas dan jika b < 0 arah pergeseran kebawah. Secara geometri diperlihatkan pada Gambar 8.5. y y y + b y ( x y) P, x P ' ( x', y ') x + a x y y + b ( x y) P, x P ' ( x', y ') x + a x a > 0, b > 0 a > 0, b < 0 Gambar 8.5. Translasi Titik P ( x, y ) ke P '( x', y ') CONTOH 8.5. Tentukan bayangan titik P (, 5) dan ( 3,) Jawab Q oleh translasi T 3 Untuk titik P: P (, 5) P '( +, 5 + 3) = P' ( 4, ) Untuk titik Q: Q( 3,) Q '( 3 +,+ 3) = P' (,4)
39 4 Bab 8: Geometri Bidang CONTOH 8.5. Tentukan hasil translasi dari persamaan parabola y = x oleh translasi T, Gambarkan grafik sebelum dan sesudah translasi. 3 Jawab. Persamaan translasi adalah: x ' = x x = x ' + y ' = y + 3 y = y ' 3 Substitusikan persamaan translasi ke persamaan parabola didapat: y = x y ' 3 = ( x ' + ) y ' = ( x ') + x ' y ' = ( x' ) + x ' + 4 Grafik parabola asal dan hasil translasi diperlihatkan pada gambar 8.5. y ( x' ) + ' + 4 y ' = x y = x y = x + x + - x Gambar 8.5. Grafik Parabola dan hasil Translasi
40 Bab 8: Geometri Bidang 43 Pertama kita gambarkan grafik y = x, grafik ini digeser ke-kiri sejauh satu satuan (gambar garis putus-putus), kemudian dilanjutkan digeser ke-atas sejauh tiga satuan (gambar garis tebal). CONTOH Bayangan titik ( a b, a + b) Tentukan bayangan titik (, a + ) oleh translasi b a adalah titik ( 8, ) b oleh translasi yang sama. Jawab. Bentuk translasi sebagai berikut: a b a + b + a 8 = b a b + a = 8 a b = () a + b + b = a + b =.. () Dari persamaan () dan () didapat a = 3 dan b =, Oleh krena itu titik ( b, a + ) = (,4). Bayangan titik (,4) 3 oleh translasi x 3 = + = y 4 3 Jadi, bayangan titik (,4) adalah: a oleh tranlasi = b 3 adalah (,3)
41 44 Bab 8: Geometri Bidang ROTASI Rotasi adalah bentuk transformasi geometri untuk memindahkan obyek dengan cara pemutaran. Untuk melakukan rotasi diperlukan titik pusat, besar sudut dan arah sudut rotasi. Arah putaran sudut positif berlawanan dengan jarum jam, sebaliknya untuk arah sudut yang negatif putaran searah dengan jarum jam. Gambar memperlihatkan bangun segitiga dirotasikan dengan pusat titik O ( 0,0 ), sudut putar sebesar θ searah jarum jam. O θ Gambar Segitiga dirotasi pusat O sebesar θ searah jarum jam Misalkan titik P ( x, y) diputar dengan titik pusat O( 0,0 ) dengan sudut putar sebesar θ berlawanan arah jarum jam, untuk mendapatkan titik hasil rotasi yaitu titik '( x', y ') P perhatikan Gambar y O y y ' P ' ( x', y ') r P ( x, y) θ x ' α r x x Gambar Rotasi titik P ( x, y) ke P '( x', y ')
42 Bab 8: Geometri Bidang 45 OP = OP = r, x = r cosα, y = rsin α x' = r = r XOP = α, POP ' = θ cos( α + θ ) ( cosα cosθ sin α sin θ ) = r cosα cosθ r sin α sin θ = x cosθ ysin θ y' = r = r sin ( α + θ ) ( sin α cosθ + cosα sin θ ) = r sin α cosθ + r cosα sin θ = y cosθ + xsin θ = xsin θ + ycosθ Jadi, x ' = x cosθ y sin θ y ' = x sin θ + y cosθ Dalam bentuk matriks persamaan diatas dapat dinyatakan sebagai berikut: x' cosθ = y ' sin θ sin θ x cosθ y Bentuk matriks cosθ sin θ sin θ cosθ disebut matriks rotasi R [ O,θ ].
43 46 Bab 8: Geometri Bidang CONTOH Diberikan titik-titik A (,4), B( 3,5) dan ( 0, 3) C diputar dengan sudut seperempat putaran berlawanan arah jarum jam, pusat sumbu sumbu putar O. Tentukan bayangannya!. Jawab. Persamaan rotasi dengan θ 0 = 90 dengan pusat sumbu O adalah: 0 0 x' cos90 sin 90 = 0 0 y ' sin 90 cos = = 3 0 Jadi, 3 A '( 4,), B '( 5, 3) dan C ' ( 3,0 ) Sekarang kita bahas jika titik pusat putar bukan O ( 0,0 ), misal ( a b) P,. Penyelesaian masalah ini sama dengan mentranslasikan O ( 0,0 ) ke titik ( a b) x' a = y' b = atau dalam bentuk matriks: P,, sehingga didapat persamaan: ( x a) cosθ ( y b) sin θ ( x a) sin θ + ( y b) cosθ x' a cosθ = y ' b sin θ sin θ x a cosθ y b
44 Bab 8: Geometri Bidang 47 CONTOH Tentukan bayangan dari persamaan parabola sudut putar sebesar Jawab. Pusat rotasi (,0), besar sudut putar persamaan rotasi: x ' = y ' 0 = y = x diputar dengan 0 90 berlawanan arah jarum jam, titik pusat (,0) 0 0 ( x ) cos90 ( y 0) sin ( x ) sin 90 + ( y 0) cos90 x' = + ( x ) 0 ( y) ( x ) ( y)0 y ' = x ' = y y ' = x y = x ' x = y ' berlawanan arah jarum jam, Substitusikan ke persamaan parabola bayangan: y = x didapat persamaan atau ( x ') = ( y ' + ) ( y ') 4 ' x ' = y Jadi bayangan dari persamaan parabola sudut putar sebesar adalah x = y 4y. y = x yang diputar dengan 0 90 berlawanan arah jarum jam, titik pusat (,0)
45 48 Bab 8: Geometri Bidang REFLEKSI (PENCERMINAN) Refleksi (pencerminan) adalah bentuk transformasi geometri yang memindahkan obyek menjadi bayangan seperti di depan cermin. Misal suatu segitiga dicerminkan terhadap garis l, hasil dari pencerminan diperlihatkan pada Gambar l B B ' A A ' C C ' Gambar Segitiga ABC dicerminkan terhadap l Pencerminan titik terhadap sumbu cermin, jarak titik asal ke sumbu cermin sama dengan jarak titik bayangan ke sumbu cermin. Pada koordinat Kartesius, titik ( x y) P, dicerminkan terhadap sumbu x dan sumbu y hasil dari pencerminan diperlihatkan pada Gambar ( x y) P ", y ( x y) P, x Gambar Pencerminan ( x y) P' ( x, y) P, terhadap sumbu koordinat
46 Bab 8: Geometri Bidang 49 Titik P ( x, y) dicerminkan terhadap sumbu x menghasikan P ( x, y) bentuk persamaan hasil pencerminan ini adalah: x ' = x x ' = x + 0 y y ' = y y ' = 0 x y Dinyatakan dalam bentuk persamaan matriks: x' 0 x = y ' 0 y ', 0 Matriks disebut matriks pencerminan terhadap sumbu x. 0 Dengan cara yang sama dapat dicari bentuk-bentuk matriks pencerminan pada sumbu-sumbu cermin yang lain, untuk memudahkan mempelajari pencerminan bentuk-bentuk matriks pencerminan ditulis dalam tabel 8.5. Tabel 8.5. Matriks Transformasi Pencerminan Transformasi Bentuk Matriks Pemetaan Pencerminan terhadap sumbu x Pencerminan terhadap sumbu y Pencerminan terhadap O 0,0 Pusat sumbu ( ) Pencerminan terhadap 0 garis y = x 0 Pencerminan terhadap 0 garis y = x 0 ( x, y) ( x, y) ( x, y) ( x, y) ( x, y) ( x, y) ( x, y) ( y, x) ( x, y) ( y, x)
47 430 Bab 8: Geometri Bidang Selanjutnya, pengembangan pencerminan dengan mengganti sumbu cerminnya. Hasil pencerminan terhadap beberapa sumbu cermin adalah sebagai berikut: Sumbu cermin garis x = h P ( x, y) hasil pencerminan (bayangan) adalah: P '( h x, y) Sumbu cermin garis y = k P ( x, y) hasil pencerminan (bayangan) adalah: P' ( x,k y) Sumbu cermin garis y = mx, bentuk matriks pencerminan: M y = mx = m m + m m m CONTOH Diberikan titik-titik A (,4), B( 3,5) dan ( 0, 3) C. Tentukan bayangannya jika jika dicerminkan terhadap garis y = x Jawab. Matriks pencerminan terhadap garis 0 y = x adalah: 0 Persamaan matriks untuk titik-titik A (,4), B( 3,5) dan C ( 0, 3) x' 0 = y ' = Jadi hasil pencerminan didapat: A '( 4,), B( 5, 3) dan C ( 3,0)
48 Bab 8: Geometri Bidang 43 CONTOH Tentukan bayangan titik ( 3,7 ) jika dicerminkan terhadap garis x y + 3 = 0 Jawab. Ubah persamaan garis x y + 3 = 0 menjadi y = x Garis y = x + 3 diperoleh dari garis y = x ditranslasi oleh T 3 Bayangan ( 3,7 ) dapat dicari dengan langkah-langkah sebagai berikut:. Translasikan titik ( 3,7 ) 0 dengan 3. Tentukan matriks pencerminan garis y = x T diperoleh: ( 3,4 ). = 3 4 M y= x = Cerminkan titik ( 3,4 ) terhadap garis y = x dengan menggunakan matriks pada. diperoleh: x = y Translasikan titik (,0) Jadi hasil refleksi ( 3,7 ) 4 3 = dengan 3 5 ( x, y ) = ( 5,0 ) T diperoleh ( 5,3) terhadap garis y + 3 = 0 x adalah: ( 5,3)
49 43 Bab 8: Geometri Bidang DILATASI Dilatasi adalah bentuk transformasi geometri yang memperbesar atau memperkecil obyek tanpa mengubah bentuk obyek tersebut. Untuk melakukan dilatasi diperlukan pusat dilatasi dan faktor pengali atau skala. Jika skala > maka bentuk obyek diperbesar, sebaliknya jika skal < maka obyek diperkecil. Perhatikan Gambar 8.5.7, suatu titik ( x y) pusat O ( 0,0 ) dengan skala a. P, dilakukan dilatasi dengan y " y y ' y O P ' ( x', y ') x ' ( x y) P, x x " ( x", ") P " y x Gambar Dilatasi titik P ( x, y) a <menghasikan P '( x', y' ), a > menghasikan P "( x", y" ) Persamaan dilatasi dengan pusat O( 0,0 ) dan k skala dinyatakan dalam bentuk: x ' = y ' = k x k y Persamaan matriksnya adalah:
50 Bab 8: Geometri Bidang 433 k Matriks 0 x' k 0 x = y ' 0 k y 0 disebut matriks dilatasi D [ O, k] k Untuk dilatasi dengan pusat ( a b) [ P k] D, bentuk persamaannya adalah: x' = a + k y' = b + k ( x a) ( y b) Persamaan dalam bentuk matriks adalah: x' a k 0 x a = + y ' b 0 k y b P, dengan skala k dan ditulis CONTOH Tentukan bayangan titik ( 6,8) oleh dilatasi: a. D [ O, ] b. Jawab D O, a. Titik ( 6,8) dilatasi D [ O, ] dilatasi didapat: x' 0 6 = = y ' Jadi, hasil dilatasi (,6), gunakan persaman matriks
51 434 Bab 8: Geometri Bidang b. Titik ( 6,8) dilatasi dilatasi didapat: D O,, gunakan persaman matriks x' = y ' = 8 4 Jadi, hasil dilatasi ( 3,4) CONTOH Tentukan bayangan dari persegi ABCD dengan titik sudut A (,), B (,), C (, ) dan (, ) pusat titik C dengan skala Jawab. Bentuk dilatasi adalah: D [ C,] D jika dilakukan dilatasi dengan Persamaan matriks dilatasi untuk titik-titik: A (,), (,) C (, ) dan (, ) D adalah: x' 0 + = + y ' = = Titik-titik hasil dilatasi: A '( 6,6), B '(,6), ' (, ) ( 6, ) D '. B, C dan
52 Bab 8: Geometri Bidang 435 Latihan Soal 8-5. Diberikan koordinat titik segi tiga (0,0), (,0) dan (,3). Tentukan koordinat titik segi tiga jika dikenakan transformasi: a. Translasi: T = 4 3 b. Translasi: T = c. Rotasi titik pusat O dengan d. Rotasi titik pusat O dengan 0 θ = 60 0 θ = 40 e. Refleksi (pencerminan) terhadap titik O, sumbu x dan sumbu y f. Refleksi (pencerminan) terhadap garis y = x, y = -x dan x = g. Dilatasi dengan titik pusat O dan faktor skala: 3 dan / m. Titik A(,-4) dengan translasi T = menjadi A (-,) tentukan n m dan n 3. Diberikan persamaan parabola y = x +, tentukan persamaan yang sesuai dan sket grafik jika ditransformasikan dengan: a. Translasi: T = b. Rotasi titik pusat O dengan c. Rotasi titik pusat P(0,) dengan 0 θ = 90 θ 0 = 80 d. Refleksi (pencerminan) terhadap titik O, sumbu x dan sumbu y 4. Tentukan matriks refleksi terhadap garis x = h dan y = k
53 436 Bab 8: Geometri Bidang 8.6 KOMPOSISI TRANSFORMASI Kita dapat melakukan beberapa transformasi, misal pertama suatu obyek ditranslasi dengan T kemudian dilanjutkan translasi yang kedua dengan T yang dinyatakan dengan ( T o ) ( y) T x,, bentuk ini dinamakan komposisi dua translasi. Bentuk komposisi transformasi yang lain dengan menggabungkan bentuk-bentuk transformasi yang telah dipelajari pada subbab 8.5. KOMPOSISI TRANSLASI Misal diberikan translasi translasi T dan T dinyatakan: a c a + c T o = + = b d b + d ( ) T c a c + a T o = + = d b d + b ( ) T a c T = dan T b =, komposisi dua d Karena jumlah bilangan bersifat komutatif, maka: ( T o T ) = ( T o T ) Catatan ( T o T ) artinya obyek ditranslasi oleh T dilanjutkan dengan T ( T ot ) artinya obyek ditranslasi oleh T dilanjutkan dengan T Walaupun memberi hasil yang sama tetapi penekanan pada urutan pengerjaan translasi.
54 Bab 8: Geometri Bidang 437 KOMPOSISI ROTASI Misalkan titik P ( x, y) dilakukan rotasi oleh [ O,θ ] dilanjutkan dengan [ O ] dengan R dinyatakan: R,θ, komposisi rotasi dari R kemudian R dilanjutkan ( R o R ) ( y) x, = cosθ sin θ cosθ sin θ cosθ sin θ sin θ cosθ x y cosθ cosθ sin θ sin θ cosθ sin θ sin θ cosθ = x sin θ cosθ + cosθ sin θ sin θ sin θ + cosθ cosθ y cos θ = sin θ ( + θ ) sin ( θ + θ ) ( + ) ( + ) θ cos θ θ x y Jadi, merotasikan suatu obyek menggunakan komposisi rotasi berarti merotasikan obyek tersebut dengan jumlah sudut masing-masing rotasi. Secara geometri diperlihatkan pada gambar 8.6. P " θ P ' O θ P Gambar 8.6. Komposisi Rotasi
55 438 Bab 8: Geometri Bidang Titik P dirotasikan pusat O besar sudut θ didapat P ' dilanjutkan rotasi pusat O besar sudut θ didapat P" atau dapat dilakukan dengan pusat O dengan besar sudut rotasi θ + θ. KOMPOSISI REFLEKSI (PENCERMINAN) Misalkan titik ( x y) kemudian dilanjutkan dengan y P, dilakukan refleksi terhadap garis x = k dilanjutkan dengan M dinyatakan: ( M o M ) ( y) x, = M ([ M ]( x, y ) = M ( k x, y) = ( h ( k x), y) = ( ( h k) + x, y) x = h, komposisi refleksi dari M Secara geometri hasil dari komposisi ( M o M ) ( y) x, terhadap garis x = k dilanjutkan dengan x = h diperlihatkan pada gambar ( x y) P, ( k x y) P ', ( ( h k) x y) P " +, x x = k x = h Gambar 8.6. Komposisi Refleksi terhadap dua garis sejajar
56 Bab 8: Geometri Bidang 439 Bagaimana jika titik ( x y) P, direfleksikan terhadap sumbu koordinat, untuk itu perhatikan gambar dibawah ini. Titik P ( x, y) direfleksikan terhadap sumbu y menghasilkan P ( x, y) ' dilanjutkan terhadap sumbu x menghasilkan P "( x, y). Bagaimana jika P ( x, y) direfleksikan terhadap sumbu x dilanjutkan sumbu y, dicoba sendiri sebagai latihan. y ( x y) P ', ( x y) P, x P" ( x, y) Gambar Refleksi terhadap sumbu y dilanjutkan sumbu x KOMPOSISI LEBIH DARI DUA TRANSFORMASI Setelah kita mengerti komposisi dua transformasi, untuk mempelajari komposisi lebih dari dua transformasi sangatlah mudah. Hal penting untuk diingat adalah operasi transformasi mana yang lebih dahulu dikerjakan dan bentuk serta operasi dari matrik transformasi. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh dibawah ini.
57 440 Bab 8: Geometri Bidang CONTOH 8.6. P ditranslasikan terhadap T =, dilanjutkan rotasi Titik (,3) dengan titik pusat O dengan terhadap sumbu x. 0 θ = 90, selanjutnya direfleksikan Jawab Urutan dan hasil transformasi adalah: M sumbu x o R 0 [ ] o T (,3), 90 = O [ ] (,3) = M sumbu x o R 0 [, 90 ] ot O [ ] + = M sumbu x o R 0 [ O,90 ] 5 = [ ] [ ] M o R sumbu x 0 O, 90 0 = [ ] M M sumbu x o 5 o = [ ] sumbu x 0 5 = 0 5 = Jadi titik P (,3) hasil dari tiga transformasi berurutan: ( 5, )
58 Bab 8: Geometri Bidang 44 Latihan Soal 8-6. Carilah nilai p dan q dalam masing-masing persamaan berikut ini a. 3 p + = 4 q 6 b. p 4 = 3 q 4 c. p p + = q 3 q. Carilah peta dari titik dan transformasi yang ditentukan dibawah ini a. Titik (, - 4) oleh pencerminan berturutan terhadap garis x = 3 kemudian terhadap garis x = 7 b. Titik (-3, ) oleh pencerminan berturutan terhadap garis y = kemudian terhadap garis y = 5 c. Jika (5, ) (, ) oleh pencerminan berturutan terhadap x = 4, kemudian x = h, carilah h 3. Misalkan refleksi terhadap sumbu x adalah X dan refleksi terhdapa garis y = x adalah M a. Berilah transformasi tunggal yang ekuivalen dengan M o X, dan tulislah peta dari P ( a, b) b. Tulislah matriks A dan yang berkaitan dengan X dan M, dan periksa apakah BA merupakan matriks yang berkaitan dengan M o X c. Periksa apakah AB = BA
59 44 Bab 8: Geometri Bidang 4. Carilah matriks yang berkaitan dengan pencerminan terhadap sumbu y dilanjutkan dengan setengah putaran terhadap pusat. Periksa hasilnya secara geometri Perlihatkan bahwa matriks 4 3 memberikan transformasi yang sama dengan dilatasi [ O,5] dilanjutkan dengan rotasi sebesar suatu sudut lancip θ terhadap pusat, dimana tan θ = 3. Apakah 4 transformasi-transformasi dalam komposisi tersebut bersifat komutatif?. 8.7 PENERAPAN GEOMETRI DIMENSI DUA Penerapan dalam kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan kondisi yang ada di Lapangan, penghitungan yang eksak harus dibulatkan keatas. Contoh pada pemasangan keramik untuk lantai rumah kurang 3 buah, kita tidak bisa membeli keramik hanya 3 buah tetapi harus satu dos, demikian juga dalam perhitungan yang lain. CONTOH 8.7. Perhatikan denah rumah dibawah ini ukuran dalam m, lantai rumah akan dipasang keramik yang berukuran 30 x 30 cm. Satu dos berisi 0 buah keramik, harga satu dos keramik Rp ,-. Ongkos pemasangan Rp ,- per m. Tentukan Beaya yang dibutuhkan!.
60 Bab 8: Geometri Bidang Jawab 0 0 m 4 m = 9m Luas lantai adalah: ( ) ( ) cm 0 = 9000 cm dos keramik luasnya adalah: ( ) 9m Kebutuhan keramik: = 0, dos, dibulatkan 03 dos. 0,9m Beaya yang dibutuhkan:. Pembelian keramik: 03 x Rp ,- = Rp ,-. Ongkos Pemasangan: 9 x Rp ,- = Rp ,- Total beaya yang dibutuhkan = Rp ,- Contoh 8.7. Sebuah taman yang berukuran 5 m x 0 m diberi pagar yang berbentuk seperti gambar dibawah ini. Bahan pagar dibuat dari besi dengan harga Rp ,-/m. Tentukan harga bahan yang dibutuhkan.
61 444 Bab 8: Geometri Bidang 3 m 0,5 m 5 m Panjang besi Vertikal (warna biru) = 3 m x 0 = 30 m Horisontal (warna merah muda) = 5 m x = 0 m Segitiga = 3 x 0,5 m x 9 = 3,5 m Lingkaran = 9 x x 3,4 x 0,5 m = 8, 6 m Jumlah = 8,76 m Ukuran pagar taman = 5 m x 0 m Bahan yang dibutuhkan untuk panjang taman: 3 x 8,76 m = 45,8 m Bahan yang dibutuhkan untuk lebar taman : x 8,76 m = 63,5 m Total bahan yang dibutuhkan = 408,8 m Harga bahan Rp ,- Harga bahan seluruhnya adalah: Rp ,- x 408,8 m = Rp ,-
62 Bab 8: Geometri Bidang 445 Latihan Soal 8-7. Tepi-tepi jalan pada gambar dibawah ini dibangun trotoar terbuat dari paving berukuran 0 cm x 4 cm, harga paving Rp ,-/m, ongkos pemasangan Rp ,-/m. Tentukan total beaya yang dibutuhkan km Trotoar 3 m 0,8 km Trotoar km 3 m. Anggaran yang tersedia untuk pembangunan jaringan pipa air sebesar Rp ,-, pipa yang digunakan berukuran dim dengan panjang 6 m, harga satu lonjor pipa Rp ,-, harga sambungan pipa Rp ,-/buah. Ongkos pemasangan pipa setiap 0 lonjor Rp ,-. Berapa m panjang pipa air yang terpasang. 3. Dinding sebuah hotel dengan luas m dilakukan pengecatan, galon cat berisi 5 kg cukup digunakan untuk mengecat 5 m. Berapa galon cat yang dibutuhkan. 4. Lantai sebuah lobi hotel berukuran 0 m x 8 m akan dipasang keramik berukuran 40 cm x 40 cm, dos keramik berisi 6 keramik, berapa dos keramik yang dibutuhkan.
63 446 Bab 8: Geometri Bidang
64 Bab 9 P ELUANG H itung peluang mula-mula dikenal pada abad ke-7 yang bermula dari permainan sebuah dadu yang dilempar. Peluang (kemungkinan) dari permukaan dadu yang tampak ketika dilempar, diamati dan dihitung, perhitungan inilah yang disebut ilmu hitung peluang yang kemudian sangat barmanfaat bagi ilmu yang lain,misalnya pada matematika melahirkan ilmu statistic. 9. PENGERTIAN DASAR Ruang Sampel adalah himpunan semua kemungkinan hasil suatu percobaan, biasanya dilambangkan dengan S. Kejadian adalah suatu himpunan bagian dari ruang sampel. Kejadian dapat terdiri dari satu titik sampel yang disebut kejadian sederhana, sedangkan kejadian majemuk adalah gabungan beberapa kejadian sederhana. Ruang nol 447
65 448 Bab 9: Peluang adalah himpunan bagian ruang sampel yang tidak mengandung satupun anggota. Titik sampel adalah setiap elemen dari ruang sampel. CONTOH 9.. Pada percobaan pelemparan sebuah dadu, kemungkinan hasil percobaannya adalah: Jika ditinjau dari angka yang muncul maka ruang sampelnya adalah S = {,,3,4,5,6} Jika ditinjau dari keadaan angkanya maka ruang sampelnya adalah S = {genap, gasal} CONTOH 9.. Pada percobaan pengambilan sebuah kartu bridge, kemungkinan hasil percobaannya adalah Jika ditinjau dari jenis kartu maka ruang sampelnya adalah S = {?,?,?,? } Jika ditinjau dari warna kartu maka ruang sampelnya adalah S = {Merah, Hitam} Irisan Dua kejadian ( A I B ) adalah kejadian yang mengandung semua unsur persekutuan kejadian A dan B. Kejadian saling terpisah (saling asing) adalah dua kejadian yang tidak memiliki unsur persekutuan, A I B = φ. Gabungan dua kejadian ( A B) adalah kejadian yang mencakup semua unsur atau anggota A atau B atau keduanya. Komplemen suatu kejadian ( A ') adalah himpunan semua anggota S yang bukan anggota A.
66 Bab 9: Peluang 449 CONTOH 9..3 Percobaan pelemparan buah mata dadu, kemungkinan hasil percobaannya adalah S = {(,),(,),(,3),(,4),(,5),(,6),(,),(,),(,3),(,4),(,5),(,6) (3,),(3,),(3,3),(3,4),(3,5),(3,6),(4,),(4,),(4,3),(4,4),(4,5),(4,6) (5,),(5,),(5,3),(5,4),(5,5),(5,6),(6,),(6,),(6,3),(6,4),(6,5),(6,6)} Jika A adalah kejadian munculnya dadu dengan jumlah mata dadu sama dengan maka A = { }, kejadian mustahil Jika B adalah kejadian munculnya dadu dengan jumlah mata dadu sama dengan 7 maka B = {(,6),(,5),(3,4),(4,3),(5,),(5,)} Jika C adalah kejadian munculnya dadu dengan jumlah mata dadu sama dengan maka C = {(5,6),(6,5)} Jika D adalah kejadian munculnya mata dadu pertama adalah 5 maka D = {(5,), (5,), (5,3), (5,4), (5,5), (5,6)} Irisan kejadian A dan B adalah A B = { } Irisan kejadian B dan C adalah B C = { } Irisan kejadian C dan D adalah C D = { ( 5,6)} Gabungan kejadian A dan B adalah A B = {(,6),(,5),(3,4),(4,3),(5,),(5,)} = B
67 450 Bab 9: Peluang Gabungan kejadian B dan C adalah B C = {(,6),(,5),(3,4),(4,3),(5,),(5,),(5,6),(6,5)} Gabungan kejadian C dan D adalah C D = {(5,6),(6,5), (5,), (5,), (5,3), (5,4), (5,5)} 9. KAIDAH PENCACAHAN Untuk menentukan jumlah titik sampel yang ada dalam ruang sampel diperlukan prinsip dasar menghitung, diantaranya ka idah penggandaan, permutasi dan kombinasi. Ada dua aturan dasar untuk menghitung jumlah anggota dari suatu himpunan,. Aturan penjumlahan, yaitu jika ada n benda yang berbeda dihimpunan pertama dan n benda dihimpunan kedua dan kedua himpunan saling asing (tidak beririsan), maka total anggota dikedua himpunan adalah n +n.. Aturan perkalian, akan dijelaskan dalam dalil dan dalil. CONTOH 9.. : Ekskul Basket SMK mempunyai anggota 65 orang siswa dan Ekskul Karate mempunyai anggota 45 orang siswa, jika tidak ada siswa yang merangkap kedua ekskul, maka jumlah anggota kedua ekskul adalah = FAKTORIAL Hasil kali dari bilangan-bilangan bulat positif dari sampai dengan n, yaitu..3.4 (n-). (n-).n
68 Bab 9: Peluang 45 sering digunakan dalam matematika yang diberi notasi n! (dibaca n faktorial). n! = n.(n-).(n-). 3..! = 0! = CONTOH 9.. 4! = = 4 6! = 6.5! = = PRINSIP DASAR MENGHITUNG DENGAN DIAGRAM POHON Dalam percobaan sederhana, sebuah diagram pohon dapat digunakan dalam perhitungan ruang sampel. Misalnya pada percobaan pelemparan sebuah uang 3 kali. Himpunan hasil yang mungkin dapat diperoleh oleh seluruh garis yang ditunjukkan dalam diagram pohon berikut, Lemparan Lemparan Lemparan Pertama Kedua Ketiga G G G A A G A A G A G A G A
69 45 Bab 9: Peluang Karena dalam setiap percobaan ada kemungkinan hasil suatu percobaan dari 3 kali percobaan, maka dalam ruang sample ada sebanyak 3 = 8 buah titik sampel. Jadi S = {GGG, GGA, GAG, GAA, AGG, AGA, AAG, AAA}. CONTOH 9..4 Jika dari kota A menuju kota B ada 3 jalan yaitu (p,q,r) sedangkan dari kota B ke kota C ada jalan yaitu (a,b) maka dari kota A ke kota C dapat melalui 3 x = 6 jalan yang berbeda, yaitu S = {(p,a),(p,b),(q,a),(q,b),(r,a),(r,b)} DALIL KAIDAH PENGGANDAAN Bila suatu operasi dapat dilakukan dalam n cara dan bila untuk setiap cara tersebut operasi kedua dapat dilakukan dalam n cara maka kedua operasi itu secara bersama-sama dapat dilakukan dalam n.n cara. CONTOH 9..3 Bila sepasang dadu dilemparkan sekali, berapa banyak titik sampel dalam ruang sampelnya? Penyelesaian : Jika sepasang dadu dilemparkan satu kali maka dadu pertama akan muncul 6 cara sedangkan dadu kedua.akan muncul 6 cara juga Dengan demikian, sepasang dadu tersebut dapat terjadi dalam (6)(6) = 36 cara.
70 Bab 9: Peluang 453 DALIL KAIDAH PENGGANDAAN UMUM Bila suatu operasi dapat dilakukan dalam n cara bila untuk setiap cara tersebut operasi kedua dapat dilakukan dalam n cara, bila untuk setiap pasangan dua cara yang pertama dapat dilakukan dalam n 3 cara pada operasi ke tiga, demikian seterusnya, maka k- operasi dalam urutan tersebut dapat dilakukan dalam n n n 3 n k cara. CONTOH 9..5 Berapa macam menu makan siang yang terdiri atas sayur, lauk dan buah yang dapat dipilih dari 4 macam sayur, 3 macam lauk dan 5 macam buah? Penyelesaian : Banyak macam menu makan siang ada sebanyak (4)(3)(5) = 60 macam. CONTOH 9..6 Diketahui empat angka,,5,8, tentukan banyak semua bilangan yang dapat dibuat dari angka tersebut yang terdiri dari a. angka b. angka tetapi tidak boleh ada yang sama. Penyelesaian : a. Untuk mempermudah sediakan dua kotak yang akan diisi jumlah kemungkinan tiap tahap, yaitu letak angka puluhan dan angka satuan 4 4 = 6 Kotak pertama adalah posisi angka puluhan, dimana ada 4 kemungkinan, kotak kedua posisi angka satuan juga ada 4 kemungkinan, jadi jumlah kemungkinannya adalah 4 x 4 = 6.
71 454 Bab 9: Peluang b. Dengan cara yang sama dengan penyelesaian soal a, tetapi karena tidak boleh sama angkanya maka kalau angka puluhan sudah muncul kemungkinan angka satuannya berkurang satu dan jumlah kemungkinannya adalah 4 x 3 = PERMUTASI DEFINISI 9.. Permutasi adalah suatu susunan yang dibentuk oleh keseluruhan atau sebagian dari sekumpulan benda. Susunan pada permutasi memperhatikan urutannya. DALIL 3. Banyaknya permutasi n benda yang berbeda ada n! CONTOH 9..7 Jika ada 3 huruf a, b dan c, ada berapa cara dapat dibuat susunan ketiga huruf tadi secara berbeda. Penyelesaian : Susunan yang dapat dibuat ada sebanyak 3! = 6, yaitu abc, acb, bac, bca, cab dan cba. Permutasi Sebagian adalah bila diantara unsur yang berlainan akan diberikan urutan untuk r unsur (r = n) yang berlainan dinyatakan dalam dalil 4. DALIL 4 :. Banyaknya permutasi akibat pengambilan r benda dari n benda yang berbeda
72 Bab 9: Peluang 455 np r = n! ( n r )! CONTOH 9..8 Dua kupon diambil dari 5 kupon untuk menentukan hadiah pertama dan kedua. Hitung banyak titik sampel dalam ruang sampelnya. Penyelesaian : Jika,,3,4,5 menyatakan no. kupon, (,) adalah hadiah pertama untuk kupon no. dan hadiah kedua untuk kupon no., maka kemungkinan yang mendapat hadiah adalah sebagai berikut :,, 3, 4, 5,,3,3 3, 4, 5,,4,4 3,4 4,3 5,3,5,5 3,5 4,5 5,4 Banyak titik sampel adalah 5! 5 P = = ( 4 )( 5 ) = ( 5 )! 0 CONTOH 9..9 Empat orang masuk kedalam bus dan terdapat 0 tempat duduk. Tentukan banyak semua kemungkinan posisi empat orang tersebut akan duduk. Penyelesaian ; Masalah ini adalah merupakan permutasi empat tempat duduk terisi dari 0 tempat duduk kosong yang tersedia, yaitu sebanyak
73 456 Bab 9: Peluang 0 = = = P 4 = ! ( 0 4 )! (7 )( 8 )( 9 )(0 ) = 0! 6! CONTOH 9..0 Petugas ruang baca sekolah bermaksud untuk mengatur rak buku sehingga buku bahasa yang sama akan berjajar berdekatan. Jika tempat yang tersedia untuk buku untuk 5 buku berbeda dalam bahasa Inggris, 4 buku berbeda dalam bahasa Arab dan 3 buku berbeda dalam bahasa Jepang, tentukan banyak kemungkinan susunan buku tersebut. Penyelesaian : Pertama kali dapat ditentukan bahwa terdapat 3 unsur bahasa, yaitu Inggris, Arab dan jepang. Kemudian, jika susunan bahasa telah ditentukan, masing-masing buku dengan bahasa sama akan berpermutasi antara mereka sendiri. Karena permutasi antar bahasa dan permutasi antar buku saling bebas, maka jumlah permutasi diperoleh dengan mengalikan semuanya. Permutasi bahasa ada 3!, permutasi bahasa Inggris 5!, bahasa Arab 4! Dan bahasa Jepang 3! Maka jumlah semua kemungkinannya adalah : 3! 5! 4! 3! = susunan DALIL 5 :. Banyaknya permutasi n benda yang berbeda yang disusun dalam suatu lingkaran adalah ( n )!
74 Bab 9: Peluang 457 CONTOH 9.. Jika kita mempunyai 4 permata dan ingin dibuat gelang, ada berapa cara kita dapat menempatkan permata tadi dalam gelang yang berbeda. Penyelesaian Banyak cara menempatkan permata adalah ( 4 )! = 3! = 6 DALIL 6 : PERMUTASI UNTUK UNSUR YANG SAMA Banyaknya permutasi yang berbeda dari n benda yang n diantaranya berjenis pertama, n berjenis kedua,... n k berjenis k adalah n! n! n!... n! k CONTOH 9..5 : Berapa banyak susunan yang berbeda bila ingin membuat serangkaian lampu hias untuk pohon natal dari 3 lampu merah, 4 lampu kuning dan lampu biru. Penyelesaian : Banyaknya lampu merah ada 3 n ( M )= 3 Banyaknya lampu kuning ada 4 n ( K )= 4 Banyaknya lampu biru ada n ( B )= Banyaknya semua lampu ada 9 n ( L ) = Jadi Banyak susunan yang berbeda ada n ( L)! 9! = = 60 n( M )! n( K )! n ( B)! 3! 4!!
75 458 Bab 9: Peluang DALIL 7 : Banyaknya cara menyekat sekumpulan n benda ke dalam r sel, dengan n unsur dalam sel pertama, n unsur dalam sel kedua, dan demikian seterusnya, adalah sedangkan n n n n! =... n r n! n!... r n + n n r = n n! CONTOH 9.. Berapa banyak cara 7 orang dapat menginap dalam kamar tripel dan kamar dobel? Penyelesaian : Banyak kemungkinan sekatan ada 7 3,, = 7! 3!!! = KOMBINASI Didalam permutasi urutan dari suatu susunan diperhatikan, misal susunan abc dan bac dipandang berbeda. Didalam kombinasi dua susunan tersebut dipandang sama. Misalkan Anggota Tim Olimpiade Matematika SMK Harapan terdiri dari Rudi, Herman dan Okta sama artinya jika kita menyebutkan Anggota Tim Olimpiade Matematika SMK Harapan terdiri dari Herman, Okta dan Rudi.Susunan Rudi, Herman dan Okta dengan susunan Herman, Okta dan Rudi dipandang sama.
76 Bab 9: Peluang 459 Suatu kombinasi r unsur yang diambil dari n unsur yang berla inan adalah suatu pilihan dari r unsur tanpa memperhatikan urutannya (r = n), dinyatakan dalam dalil 8. DALIL 8. Banyaknya kombinasi r benda dari n benda yang berbeda adalah n r = n! r! ( n r )! CONTOH 9..3 Club Catur Harapan akan mengirimkan orang pemain catur dari 0 pemain caturnya dalam suatu turnamen catur nasional. Berapa banyak kemungkinan susunan orang pemain catur yang dikirim tersebut Penyelesaian : Masalah pemilihan pemain catur termasuk dalam masalah kombinasi, karena tanpa memperhatikan urutan anggotanya, sehingga untuk soal ini adalah kombinasi dari 0 orang, yaitu 0 = 0 = = 45 0!! 8!. 9. 8!.. 8!
77 460 Bab 9: Peluang CONTOH 9..4 Diketahui klub Tenis yang terdiri 5 putra dan 0 putri a. tentukan banyak kemungkinan pengiriman delegasi yang terdiri dari 5 orang b. tentukan banyaknya kemungkinan pengiriman delegasi terdiri dari 3 putra dan putri Penyelesaian : a. Masalah pemilihan delegasi termasuk dalam masalah kombinasi, karena tanpa memperhatikan urutan anggotanya, sehingga untuk soal ini adalah kombinasi 5 dari 5 orang, yaitu 5 5 = = = 5! 5! ! a. Dalam hal ada dua pemilihan putra dan putri, untuk pemilihan putra adalah masalah kombinasi 3 unsur dari 5, yaitu 5 = = = ! 3!. 5! Sedangkan untuk pemilihan putri adalah kombinasi unsur dari 0 unsur, yaitu
78 Bab 9: Peluang 46 0 = 9. 0 =. = 45 0!! 8! Karena keduanya tidak berhubungan, maka kombinasi total adalah merupakan hasil kali antara keduanya, yaitu (455)(45) = SOAL LATIHAN 9- Selesaikan soal-soal latihan dibawah ini.. Diketahui angka,3,5,7,9. Tentukan, a. Banyak bilangan terdiri dari angka yang dapat dibuat dari angka tersebut. b. Banyak bilangan terdiri dari angka yang dapat dibuat dari angka tersebut tetapi tidak mempunyai angka yang sama.. Diketahui angka 0,,,4,5,6,8. Tentukan, a. Banyak bilangan terdiri dari 3 angka yang dapat dibuat dari angka tersebut. b. Banyak bilangan terdiri dari 3 angka yang dapat dibuat dari angka tersebut tetapi tidak mempunyai angka yang sama. c. Banyak bilangan terdiri dari 3 angka yang dapat dibuat dari angka tersebut tetapi bernilai ganjil. d. Banyak bilangan terdiri dari 3 angka yang dapat dibuat dari angka tersebut yang habis dibagi 5.
79 46 Bab 9: Peluang 3. Diketahui ada 5 baju berbeda, 4 celana panjang berbeda dan 3 dasi berbeda. Tentukan banyak kombinasi dalam memakai baju, celana dan dasi. 4. Didalam suatu ruangan terdapat 0 kursi.6 pemuda dan 4 pemudi akan duduk didalam ruangan tersebut.tentukan banyaknya posisi duduk, jika a. duduknya sembarang. b. pemuda dan pemudi duduknya selang-seling. 5. Diketahui ada 4 buku yang berbeda dala m bahasa Jepang, 5 buku berbeda dalam bahasa Inggris dan 3 buku berbeda dalam bahasa Indonesia. a. Tentukan banyak kemungkinan dalam mengambil tiga buku dari bahasa yang semuanya berbeda jika urutan bahasa menjadi tidak penting. b. Tentukan banyak kemungkinan da lam mengambil tiga buku dari bahasa yang sama jika urutan bahasa menjadi tidak penting. c. Tentukan banyak kemungkinan dalam mengambil tiga buku yang terdiri dari dua bahasa jika urutan bahasa menjadi tidak penting. 6. Berapa banyak kemungkinan susunan pengurus OSIS yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara dapat dibentuk, jika ada 50 calon pengurus OSIS. 7. Diketahui bendera yang terdiri dari bendera Indonesia, bendera Amerika dan bendara Jepang. Bendera yang berasal dari Negara yang sama tidak dapat dibedakan. Jika diambil bendera tentukan banyak urutan yang dapat muncul dari pengambilan bendera jika :
80 Bab 9: Peluang 463 a. bendera Indonesia ada 5, bendera Amerika ada 4 dan bendera Jepang ada 3. b. bendera Indonesia ada 3, bendera Amerika ada 3 dan bendera Jepang ada Di Republik BBM, DPR terdiri dari Partai yaitu Partai Bulan dan Partai Matahari. Salah satu anggota komite terdiri 7 orang Partai Bulan dan 5 orang Partai Matahari. Akan dibuat satu delegasi yang diambil dari komite. Tentukan banyak cara menyusun a. delegasi yang terdiri dari 4 orang. b. delegasi terdiri dari 4 orang dengan satu orang dari partai Bulan. c. delegasi terdiri dari 5 orang, dengan ketua dari partai Bulan dan anggota seimbang antara kedua partai. 9. Berapa jumlah 3 tempat pariwisata yang dapat dipilih dari 9 tempat yang ditawarkan. 0. Tentukan banyaknya pembagi (factor) dari bilangan PELUANG SUATU KEJADIAN Misalkan peristiwa A dapat terjadi dalam p cara dari seluruh n cara yang mungkin, n cara ini berkemungkinan sama (equally likely), maka peluang A sama dengan p(a) didefinisikan secara klasik sebagai ( A ) p = p n Peluang suatu kejadian A adalah jumlah peluang semua titik sampel dalam A dimana 0 P ( A)
81 464 Bab 9: Peluang Jika P ( A ) = 0 maka kejadian A tidak mungkin terjadi, sedangkan jika P ( A ) = maka kejadian A pasti terjadi DALIL 9 : Bila suatu percobaan mempunyai N hasil percobaan yang berbeda, dan masing-masing mempunyai kemungkinan yang sama untuk terjadi, dan bila tepat n diantara hasil percobaan itu menyusun kejadian A, maka peluang kejadian A adalah ( A) P = n N CONTOH 9.3. Misalkan kita melakukan percobaan pelemparan satu dadu bersisi enam a. Jika A adalah kejadian muncul sisi bertanda, tentukan peluang dari kejadian A b. Jika B ada lah kejadian muncul sisi bertanda genap, tentukan peluang dari kejadian B Penyelesaian ; a. Muncul satu sisi (bertanda apa saja) dalam percobaan pelemparan dadu merupakan kejadian sederhana. Selanjutnya karena diasumsikan bahwa dadu mempunyai enam sisi yang serupa, maka setiap kejadian sederhana mempunyai peluang sama, yaitu P ( A) = jumlah anggota ruang sampel = 6 b. Kejadian B mempunyai tiga anggota yaitu,4,6, sehingga peluangnya adalah P ( B ) = 3 = 6
82 Bab 9: Peluang 465 CONTOH 9.3. Farhan mempunyai 6 bola putih dan 3 bola merah. Kemudian Farhan mengambil satu bola secara acak (tanpa memilih) a. Tentukan peluang mengambil bola putih b. Tentukan peluang mengambil bola merah Penyelesaian : Ruang sampel dari pengambilan satu bola adalah S = {P,P,P,P,P,P,M,M,M} Dengan P menyatakan bola putih yang terambil dan M menyatakan bola merah yang terambil. a. Kejadian mengambil bola putih mempunyai anggota enam, jadi peluang kejadiannya adalah ( ) 6 P Bolaputih = = 9 b. Kejadian mengambil bola merah mempunyai anggota tiga, jadi peluang kejadiannya adalah CONTOH P ( Bolamerah ) = = 9 3 Irfan mempunyai 6 bola putih dan 3 bola merah. Kemudian Irfan mengambil dua bola secara acak (tanpa memilih) a. Tentukan peluang mengambil semuanya bola putih. b. Tentukan peluang mengambil semuanya bola merah. c. Tentukan peluang mengambil satu bola merah dan satu bola putih. Penyelesaian :
83 466 Bab 9: Peluang Dua bola yang terambil tidak memperhatikan urutannya maka termasuk kombinasi sehingga ruang sampel pengambilan dua bola dari sembilan bola Irfan adalah 9 = 8. 9 =. = 36 9!! 7! a. Banyak anggota kejadian mengambil bola putih adalah 6 = 5. 6 =. = 5 Jadi peluang dari kejadian ini 5 5 P = = 36 6!! 4! b. Banyak anggota kejadian mengambil bola merah adalah = = Jadi peluang dari kejadian ini P = = 3 = 36 3!!! c. Mengambil satu bola putih dan satu bola merah dianggap sama dengan mengambil satu bola merah dan satu bola putih. Sehingga
84 Bab 9: Peluang 467 banyak anggota dari kejadian mengambil satu bola putih dan satu bola merah adalah 6 3 = 6. 3 = 8 Jadi peluang dari kejadian ini 8 P = = 36 = 6!! 5! 3!!! 9.3. PELUANG KOMPLEMEN SUATU KEJADIAN DALIL0. Bila A dan komplemen lainnya maka P A ' dua kejadian yang satu merupakan ( A) + P( A' ) = CONTOH Tentukan peluang mengambil satu kartu dari kartu brigde standard memperoleh bukan as. Penyelesaian : Peluang mengambil satu kartu memperoleh as adalah P ( A ) = 4 5 Dengan demikian peluang mengambil satu kartu memperoleh bukan as adalah P ' ( A ) 4 48 = = 5 5
85 468 Bab 9: Peluang 9.3. PELUANG GABUNGAN DUA KEJADIAN DALIL. Bila A dan B adalah dua kejadian sembarang maka peluang kejadian A B adalah P ( A U B ) = P ( A ) + P ( B ) P ( A I B ) CONTOH Pada percobaan pelemparan dua buah dadu setimbang. Kejadian A adalah kejadian jumlah mata dadu yang muncul adalah 8, dan kejadian B adalah kejadian mata dadu kedua yang muncul adalah 5. Tentukan peluang kejadian jumlah mata dadu sama dengan 8 atau mata dadu kedua yang muncul adalah 5. Penyelesaian : Pada pelemparan dua buah dadu setimbang, banyaknya ruang sample adalah n ( S ) = 36 A = {(, 6), (3, 5), (4, 4), ( 5, 3 ), ( 6, ) } n ( A ) = 5 P ( A ) = n ( A ) n ( S ) = 36 5 B = {(,5),(,5),( 3, 5),(4,5),(5,5),(6,5)} n ( B ) = 6 P ( B ) = n ( B ) n ( S ) 6 = 36 = 6 A B = { (3, 5 ) } n (A B ) = P (A B ) = n ( A B ) = n ( S ) 36
86 Bab 9: Peluang 469 Jadi P ( A U B ) P ( A ) + P ( B ) = P ( A I B = = ) PELUANG GABUNGAN DUA KEJADIAN SALING LEPAS DALIL : Bila A dan B adalah dua kejadian sembarang dimana A B = φ maka kejadian A dan B disebut dua kejadian saling lepas dan peluang kejadian A B adalah ( A U B ) = P ( A ) P ( B ) P + CONTOH.3.6 Pada percobaan pelemparan dua buah dadu setimbang. Kejadian A adalah kejadian jumlah mata dadu yang muncul adalah 3, dan kejadian B adalah kejadian jumlah mata dadu yang muncul adalah 8. Tentukan peluang kejadian jumlah mata dadu sama dengan 3 atau 8. Penyelesaian : Pada pelemparan dua buah dadu setimbang, banyaknya ruang sample adalah n ( S ) = 36 A = { (, ), (, ) } n ( A ) = P ( A ) = n ( A ) n ( S ) = 36 = 8
87 470 Bab 9: Peluang B = {(, 6), (3, 5), (4, 4), ( 5, 3 ), ( 6, ) } n ( B ) = 5 P ( B ) n ( B ) 5 = = n ( S ) 36 A B = φ Kejadian A dan B merupakan kejadian saling lepas sehingga P ( A U B ) = P ( A ) + P ( B ) 5 = = PELUANG DUA KEJADIAN SALING BEBAS Dua kejadian dikatakan saling bebas jika dua kejadian tersebut tidak saling mempengaruhi. Jadi Kejadian A dan kejadian B dikatakan saling bebas jika kejadian A tidak mempengaruhi kejadian B atau sebaliknya. Untuk memahami dua kejadian saling bebas, perhatikan contoh berikut ini : CONTOH Sebuah uang logam dan sebuah dadu dilemparkan bersama-sama. Berapa peluang munculnya sisi angka pada uang logam dan munculnya mata dadu ganjil? Penyelesaian : Kejadian A adalah kejadian munculnya sisi angka pada uang logam Kejadian B adalah kejadian munculnya mata dadu ganjil Terlihat bahwa kejadian A tidak mempengaruhi kejadian B sehingga kejadian A dan B saling bebas. Peluang masing masing kejadian A dan B adalah
88 Bab 9: Peluang 47 P ( A ) = P ( B ) = Sedangkan 3 = 6 Kejadian A dan B adalah kejadian munculnya sisi angka pada uang logam dan munculnya mata dadu ganjil A B = { ( A, ), ( A,), ( A, 3) } 3 P ( A B ) = = 4 Hubungan antara P ( A B ) dan P ( A ).P( B) adalah P ( A B ) = P ( A ).P( B) Dari uraian diatas, peluang dua kejadian bebas dapat dinyatakan sebagai berikut : DALIL 3 Jika kejadian A dan kejadian B merupakan dua kejadian saling bebas maka berlaku P ( A B ) = P ( A ).P( B) FREKUENSI HARAPAN SUATU KEJADIAN Perhatikan kasus berikut ini : Sebuah dadu dilempar sebanyak kali Tentukan berapa kali kemungkinan muncul mata dadu? Untuk menjawab permasalahan diatas, kita dapat melakukan kegiatan dengan cara sebuah dadu kita lempar kali kemudian kita catat
89 47 Bab 9: Peluang banyaknya mata dadu yang muncul, kemudian kita lakukakan lagi dengan melempar dadu sebanyak kali kemudian kita catat banyaknya mata dadu yang muncul. Kegiatan tersebut kita lakukan beberapa kali. Dari hasil cataan terlihat bahwa banyaknya muncul mata dadu mendekati kali. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Peluang munculnya mata dadu pada pelemparan sebuah dadu adalah. Jika dadu dilempar sebanyak kali maka diharapkan mendapatkan 6 mata dadu sebanyak 6. kali = kali. Harapan munculnya mata dadu sebanyak kali disebut frekuensi harapan. DALIL 4 Frekuensi harapan munculnya kejadian A dengan n kali percobaan adalah P ( A) n CONTOH Sebuah uang logam dilempar sebanyak 40 kali. Tentukan frekuensi harapan munculnya sisi gambar pada uang logam tersebut. Penyelesaian : P ( sisi gambar ) =. Jadi frekuensi harapan munculnya sisi gambar pada uang logam adalah x 40 = 0 kali
90 Bab 9: Peluang 473 SOAL LATIHAN 9-3 Selesaikan soal-soal latihan dibawah ini.. Sebuah dadu dilemparkan. Tentukan peluang a. Muncul mata dadu 4. b Muncul mata dadu genap. c. Muncul mata dadu ganjil. d. Muncul mata dadu genap atau ganjil.. Sebuah dadu dan sebuah uang logam dilempar bersamasama.tentukan peluang a. Muncul mata uang angka dan angka dadu 3. b. Muncul mata uang gambar dan angka dadu genap. c. Muncul angka dadu ganjil. d. Muncul mata uang angka dan angka dadu lebih dari.. Dari satu kantong terdiri dari 6 bola merah, 4 bola hitam dan 3 bola hijau diambil satu bola. Tentukan peluang bola yang terambil berwarna a. Merah atau hitam. b. Merah atau hitam atau hijau. c. Bukan hitam. d. Bukan hitam atau bukan merah. 3. Jika sebuah huruf diambil dari kata MATEMATIKA.Tentukan peluang yang terambil a. Huruf M b. Huruf vocal c. Huruf konsonan d Bukan huruf vocal
91 474 Bab 9: Peluang 4. Satu kelompok terdiri dari putera dan 4 puteri. Jika tiga orang diambil dari kelompok tersebut, berapa peluang bahwa ketiganya adalah putera. 5. Farhan mempunyai bola 8 bola merah dan 0 bola biru. Kemudian Farhan mengambil dua bola secara acak. Tentukan peluang bola yang terambil a. Semuanya merah b. Semuanya biru c. Satu bola merah dan satu bola biru 6. Budi mempunyai bola 8 bola merah, 0 bola biru dan 6 bola putih.kemudian Budi mengambil tiga bola secara acak. Tentukan peluang yang terambil a. Tiga bola tersebut berwarna sama b. Dua bola merah dan bola putih c. Satu bola merah dan bola biru d. Paling sedikit bola putih e. Tiga bola tersebut berlainan warna 7. Dua buah dadu dilempar bersama sama.tentukan peluang munculnya a. Jumlah mata dadu 5 atau 0 b. Jumlah mata dadu 0 atau mata dadu pertama adalah 6 a. Mata dadu pertama ganjil atau mata dadu kedua genap 8. Pada permainan bridge, 4 pemain masing-masing memegang 3 kartu dari 5 kartu yang ada. Tentukan peluang seorang pemain tertentu kartunya terdiri dari 7 diamond, club, 3 heart dan spade. 9. Tiga buah dadu dilempar bersama sama. Tentukan peluang munculnya
92 Bab 9: Peluang 475 a. Jumlah mata dadu b. Jumlah mata dadu 0 atau 5 0. Tentukan peluang bahwa sebuah bilangan puluhan adalah kelipatan 3. Peluang tim sepak bola SMK Nusantara untuk memenangkan suatu pertandingan sepak bola adalah 0,6. Jika tim tersebut akan bermain dalam 50 kali pertandingan, Berapa kali tim sepakbola tersebut akan menang?. Peluang tim basket SMK Tunas Harapan untuk memenangkan suatu pertandingan basket adala h 0,8. Jika tim tersebut akan bermain dalam 30 kali pertandingan, Berapa kali tim basket tersebut akan kalah? 3. Dua buah dadu dilempar bersama - sama sebanyak 88 kali. Tentukan frekuensi harapan a. Munculnya jumlah mata dadu 0 b. Munculnya jumlah mata dadu 5 atau c. Munculnya mata dadu pertama 3 dan mata dadu kedua genap d. Munculnya jumlah mata dadu selain 8
93 476 Bab 9: Peluang
94 Bab 0 STATISTIKA Materi tentang statistika sudah diajarkan di SMP, pada tingkat SMK ini akan diulang dan dipelajari lebih mendalam dengan menambahkan distribusi frekwensi dan ukuran penyebaran data. Statistika mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang sosial maupun teknik. Dalam bidang sosial dipakai untuk pengambilan keputusan yang terkait dengan pengalaman masa lalu, untuk keperluan mendatang. Dalam bidang teknik dipakai untuk perancangan eksperimen, prediksi suatu perlakuan mesin, dan semua aktivitas lainnya yang terkait dengan data. 0. PENGERTIAN DASAR Dalam mempelajari statistika, pada dasarnya berkepentingan dengan penyajian dan penafsiran kejadian yang bersifat peluang yang terjadi dalam kehidupan sehari hari, dalam suatu penyelidikan terencana ataupun penelitian ilmiah. Misalnya kita mencatat berapa kali terjadi kecelakaan per bulan dalam suatu persimpangan, untuk mendapatkan 477
95 478 Bab 0 : Statistika alasan perlunya dipasang lampu lalu lintas. Mencatat perkembangan nilai siswa dan jumlah jam tatap muka untuk kemudian mendapatkan alasan perlunya jam tambahan diluar jam yang telah ditetapkan sekolah. Membuat ranking nilai siswa untuk kemudian memilih beberapa siswa yang diharapkan dapat mewakili Sekolah dalam suatu olimpiade tertentu. Mencatat jumlah panjang antrian dalam loket masuk suatu tempat hiburan, untuk memperhitungkan perlunya ditambah loket baru dan lain sebagainya. Jadi statistikawan biasanya bekerja dengan data numerik yang berupa hasil cacahan atau hasil pengukuran, atau mungkin dengan data kategori yang diklasifikasikan menurut kriteria tertentu. 0.. PENGERTIAN STATISTIK Statistika adalah sekumpulan konsep dan metode yang digunakan untuk merencanakan dan mengumpulkan informasi/data, memberi interpretasi dan menganalisis untuk kemudian mengambil kesimpulan dalam situasi dimana ada ketidakpastian dan variasi. Metode-metode tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu Statistika Deskriptif dan Statistika Inferensia. Statistika Deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan, penyederhanaan dan penyajian sekumpulan data sehingga memberikan informasi yang berguna. Statistika Inferensia adalah metode-metode yang berhubungan dengan analisis sebagian data untuk kemudian sampai pada peramalan atau penarikan kesimpulan mengenai keseluruhan data induk.
96 Bab 0 : Statistika 479 Yang akan diajarkan dalam SMK adalah metode-metode yang termasuk dalam statistika deskriptif. 0.. PENGERTIAN POPULASI DAN SAMPEL Populasi adalah keseluruhan yang menjadi perhatian kita / yang kita pelajari, atau gugus dari semua pengukuran yang mungkin dibuat untuk suatu permasalahan tertentu. Sampel adalah himpunan bagian dari populasi atau anak gugus dari pengukuran yang terpilih dari suatu populasi. CONTOH 0.. Untuk mempelajari golongan darah siswa SMK Harapan Bunda, didata golongan darah siswa sebanyak 00 orang dari total semua siswa sebanyak 000 siswa. 000 siswa adalah populasi, sedangkan 00 siswa terpilih adalah sampel MACAM MACAM DATA Setiap informasi yang tercatat, apakah dari hasil mencacah, mengukur atau mengklasifikasi disebut sebagai pengamatan atau data. Jadi data adalah keterangan / informasi yang dijaring dalam bentuk angka (data kuantitatif) atau lambang (data kualitatif) dari pengamatan yang dilakukan seseorang. Data kuantitatif dapat diperoleh dengan mengukur (data kontinu) atau dengan mencacah (data diskrit).
97 480 Bab 0 : Statistika CONTOH 0.. Contoh data diskrit adalah jumlah buku milik mahasiswa, jumlah SMK yang ada di Propinsi tertentu. Dilihat dari sumbernya dapat diklasifikasikan menjadi. Data intern, yaitu catatan intern perusahaan yang dibutuhkan oleh perusahaan itu sendiri. Data ekstern, yaitu data yang diperoleh dari luar perusahaan. CONTOH 0..3 Contoh data intern adalah catatan akademik di sekolah tertentu yang diperlukan oleh sekolah tersebut. Jika untuk keperluan tertentu sekolah membutuhkan data dari luar sekolah maka data tersebut termasuk data ekstern. Dilihat dari penerbitnya data dapat diklasifikasikan. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendir i oleh organisasi yang menerbitkan. Data sekunder, yaitu data yang diterbitkan oleh organisasi yang bukan pengolahnya. Data dapat dikumpulkan dengan beberapa cara, diantaranya dengan :. Wawancara, adalah tanya jawab secara langsung dengan sumber data atau orang-orang yang dianggap mampu memberikan data yang diperlukan.. Kuisioner, adalah tehnik pengumpulan data dengan memberikan serangkaian pertanyaan yang dikirim per pos atau langsung pada responden untuk diisi.
98 Bab 0 : Statistika Pengamatan (Observasi), adalah teknik pengambilan data dengan mengamati baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek. 4. Test & skala obyektif adalah serangkaian test maupun skala yang obyektif, meliputi test kecerdasan dan bakat, test prestasi atau test kepribadian. Berdasarkan skala data, data dapat diklasifikasikan menjadi :. Nominal, membedakan benda / peristiwa satu dengan yang lain berdasarkan jenis / predikat, misal : Laki-laki perempuan, desa kota.. Ordinal, membedakan benda / peristiwa satu dengan yang lain berdasarkan jumlah relatif beberapa karakteristik tertentu yang dimiliki masing-masing benda / peristiwa, misal : pemenang lomba,, Interval, apabila benda atau peristiwa yang kita selidiki dapat dibedakan antara yang satu dengan yang lain kemudian diurutkan. Perbedaan peristiwa yang satu dengan yang lain tidak mempunyai arti, tidak harus ada nol mutlak, misal: derajat C = derajat F. 4. Rasio, rasio antara masing-masing pengukuran mempunyai arti, ada nilai nol mutlak, misal : Tinggi. 0. PENYAJIAN DATA Pada umumnya untuk memudahkan dalam interpretasi data, data berukuran besar disajikan dalam bentuk tabel, diagram dan grafik.
99 48 Bab 0 : Statistika 0.. PENYAJIAN DATA DALAM BENTUK TABEL Penyajian data dalam bentuk tabel dapat berupa tabel statistik atau tabel distribusi frekuensi. TABEL STATISTIK Tabel statistik disajikan dalam baris dan kolom yang berfungsi sebagai gudang keterangan. Bentuk umum tabel statistik adalah sebagai tersebut dalam Gambar 0.. Judul Tabel Judul kolom Judul kolom Judul kolom Judul kolom Judul baris Sel sel Keterangan Sumber data Gambar 0.. Bentuk Umum Tabel Statistik Judul tabel ditulis dibagian paling atas dan dimulai dari sisi paling kiri dengan huruf kapital, Judul tabel memuat apa, macam, klasifikasi, dimana, kapan dan satuan data yang digunakan secara singkat. Judul kolom dan judul baris ditulis dengan singkat. Sel adalah tempat nilai-
100 Bab 0 : Statistika 483 nilai data. Keterangan diisi jika ada yang mau dijelaskan dari tabel yang belum tercantum dalam tabel dan sumber data menjelaskan asal data. CONTOH 0.. Table 0... Jumlah pengunjung masing-masing anjungan tempat wisata Mekar sari tahun berdasarkan jenis pengunjung. Tahun Anjungan Alfa Anjungan Beta Anjungan Gama Dewasa Anakanak Dewasa Anakanak Dewasa Anakanak Jumlah Sumber : data diambil dari loket yang terjual pada masing-masing anjungan TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI Tabel distribusi frekuensi terdiri tabel distribusi frekuensi data tunggal dan tabel distribusi frekuensi data kelompok. Tabel distribusi data tunggal adalah suatu tabel distribusi frekuensi yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat diketahui frekuensi setiap satuan data (datum).
101 484 Bab 0 : Statistika CONTOH 0.. Percobaan melempar sebuah kubus berangka (alat untuk permainan ular tangga) sebanyak 30 kali menghasilkan permukaan yang muncul sebagai berikut : Data tersebut dapat disusun dalam distribusi frekuensi tunggal seperti tersebut dalam Tabel 0.. Tabel 0.. Permukaan yang muncul Angka (X i ) Tally (turus) Frekwensi (f i ) i Jumlah f = 30 Tabel distribusi frekuensi data kelompok adalah suatu bentuk penyusunan yang teratur mengenai suatu rangkaian data dengan
102 Bab 0 : Statistika 485 menggolongkan besar dan kecilnya angka-angka yang bervariasi kedalam kelas-kelas tertentu. Yang harus diperhatikan dalam membuat tabel distribusi data kelompok adalah bahwa tidak ada satu angkapun dari data yang tidak dapat dimasukkan kedalam kelas tertentu dan tidak terdapat keragu-raguan dalam memasukkan angka-angka kedalam kelas-kelas yang sesuai. Sehingga yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :. Penentuan range berdasarkan pembulatan kebawah untuk angka terendah dan pembulatan keatas untuk angka tertinggi. Hindari penggunaan batas kelas secara berulang 3. Batas kelas hendaknya dinyatakan dalam bilangan bulat, bila tidak mungkin penggunaan jumlah desimal harus sesuai dengan kebutuhan saja. Untuk membuat distribusi frekwensi data berkelompok dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :. Menentukan jumlah kelas, jika menggunakan pendekatan HA Sturges maka K = + 3,3 log n dimana K adalah jumlah kelas dan n adalah jumlah data.. Menentukan lebar interval / panjang interval (p) p = range / K dimana Range = nilai datum tertinggi nilai datum terendah 3. Membuat tabel distribusi frekwensi, biasanya secara lengkap terdiri dari 9 kolom, dimana kolom : Nomor kelas, kolom : interval kelas/limit kelas,
103 486 Bab 0 : Statistika Pada interval kelas terdapat batas bawah kelas dan batas atas kelas. Batas bawah kelas adalah nilai ujung bawah suatu kelas sedangkan batas atas kelas adalah nilai ujung atas suatu kelas. kolom 3: tepi kelas tepi bawah = batas bawah 0,5 tepi atas = batas atas + 0, 5 kolom 4: titik tengah kelas (m i ), titik tengah kelas adalah suatu nilai yang dapat dianggap mewakili kelas tersebut dan rumusnya m i = ( batas atas + batas bawah ) kolom 5: tabulasi / tally, kolom 6: frekuensi (f i ), kolom 7: frekuensi kumulatif frekuensi kumulatif kelas ke i ( fkom i ) adalah jumlah frekuensi dari kelas pertama sampai kelas ke -i kolom 8: distribusi relatif distributif relatif kelas ke i (drel i ) adalah proporsi data yang berada pada kelas ke i sehingga frekuensi kelaske i drel i = = banyaknya semua datum kolom 9: distribusi relatif komulatif f i f distribusi relatif komulatif kelas ke-i (drkom i ) adalah jumlah distributive relative dari kelas pertama sampai kelas ke -i i
104 Bab 0 : Statistika Memasukkan angka-angka kedalam kelas-kelas yang sesuai, kemudian menghitung frekuensinya. Proses memasukkan angkaangka dilakukan dengan tally sheet, buat perlimaan. CONTOH 0..3 Skor hasil tes IQ dari 50 siswa SMK Tunas Baru tercatat sebagai berikut : Jumlah kelasnya adalah K = + 3,3 log 50 = 6, Range = jangkauan = 9 80 = 49 Lebar interval kelas = 49 / 6, = 7, Tabel lengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
105 488 Bab 0 : Statistika Tabel Hasil test IQ siswa SMK Tunas Baru No Interval Tepi Kls m i Tally f i fkom i drel i drko m i ,5-87,5 83, ,0 0, ,5-95,5 9,5 7 0,4 0,34 I I ,5-03,5 99,5 I 6 3 0, 0, ,5-,5 07, ,0 0,56 5-9,5-9,5 5, ,0 0, ,5-7,5 3, ,0 0, ,5-35,5 3,5 I I 50 0,04,00 Sumber : SMK Tunas Baru tahun PENYAJIAN DATA DALAM BENTUK DIAGRAM Penyajian data dalam bentuk diagram dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya, diagram garis, diagram kotak / diagram batang, diagram lingkaran, piktogram.
106 Bab 0 : Statistika 489 DIAGRAM GARIS Diagram Garis adalah suatu diagram berupa garis yang biasa dipakai untuk menyajikan data yang diperoleh dari waktu ke waktu secara teratur dalam jangka waktu tertentu. CONTOH 0..4 Dari hasil survey siswa SMK yang membawa sepeda motor didapatkan hasil seperti pada Tabel 0..4 Tabel Jumlah Siswa SMK yang Membawa Sepeda Motor Tahun Jumlah Siswa Diagram garis dari tabel 0..4 ditunjukkan gambar 0..
107 490 Bab 0 : Statistika Jumlah S iswa SMK yang Membawa Sepada Motor Tahun jumlah : tahun Gambar 0.. Contoh Diagram Garis DIAGRAM BATANG Diagram Batang adalah suatu diagram yang terdiri dari batang-batang, dimana tinggi batang merupakan frekwensi atau nilai dari data. CONTOH 0..5 Diagram batang dari tabel 0..4 ditunjukkan gambar 0..3
108 Bab 0 : Statistika Jumlah Siswa SMK yang Membawa Sepeda Motor Tahun Count tahun Gambar Contoh Diagram Batang DIAGRAM LINGKARAN Diagram Lingkaran adalah suatu diagram berupa lingkaran, dimana daerah lingkaran menggambarkan data seluruhnya, sedangkan bagian dari data digambarkan dengan juring atau sector. CONTOH 0..6 Diagram batang dari tabel 0..4 ditunjukkan gambar 0..4
109 49 Bab 0 : Statistika Jumla h S isw a y a ng Me mba wa Se peda M otor Tahun C ategory Gambar Contoh Diagram Lingkaran PIKTOGRAM Piktogram adalah suatu diagram yang disajikan dalam bentuk lambanglambang sesuai dengan objek yang diteliti. CONTOH 0..7 Dari catatan Dinas Pendidikan Kodya Selayang, jumlah siswa diempat SMK dapat dilihat pada Tabel dan penyajian piktogramnya dapat dilihat pada Gambar Tabel Jumlah Siswa SMK di Kodya Selayang SMK Mawar Melati Tulip Anggrek Jumlah Siswa
110 Bab 0 : Statistika 493 Sekolah Jumlah Siswa SMK Mawar 500 SMK Melati 850 SMK Tulip 600 SMK 50 Anggrek Keterangan : sama dengan 50 sama dengan 00 Gambar Contoh Piktogram 0..3 PENYAJIAN DATA DALAM BENTUK GRAFIK Penyajian data dalam bentuk grafik dapat dilakukan dengan membuat Histogram atau dengan membuat Poligon. HISTOGRAM Histogram adalah sebuah bentuk diagram batang tetapi lebar batangnya merupakan lebar interval kelas sedangkan yang membatasi masingmasing batang adalah tepi kelas, sehingga masing-masing batang berimpit satu sama yang lainnya. Lihat contoh 0..8 dan gambar 0..6 POLIGON Jika ujung masing-masing batang dari histogram, pada posisi titik tengah dihubungkan dengan sebuah garis, garis tersebut disebut sebagai polygon frekuensi. Jika polygon frekuensi didekati dengan sebuah kurva mulus, maka kurva tadi disebut sebagai kurva frekuensi yang
111 494 Bab 0 : Statistika diratakan, tetapi jika penghalusan dilakukan pada polygon komulatif, maka kurvanya disebut sebagai ogive. Lihat gambar 0..7 CONTOH 0..8 Dari tabel 0..3 Hasil test IQ siswa SMK Tunas Baru maka histogramnya dapat dilihat dalam Gambar dan polygon frekuensinya dapat dilihat pada Gambar 0..7 Gambar Contoh Histogram
112 Bab 0 : Statistika 495 Gambar Contoh Poligon Frekuensi S0AL LATIHAN 0.. Nilai ujian pelajaran matematika dari 80 siswa SMK Tunas Harapan adalah sebagai berikut :
113 496 Bab 0 : Statistika Buatlah tabel distribusi frekuensi data kelompok dari nilai matematika diatas.. Dari Hasil survey siswa SMK Tunas Harapan yang membawa handphone adalah sebagai berikut : Tabel siswa SMK Tunas Harapan yang membawa handphone Tahun Jumlah siswa Sajikan data diatas dalam diagram garis, diagram batang dan diagram lingkaran. 3. Dari soal no., buatlah histogram dan polygon frekuensi dari nilai ujian pelajaran matematika SMK Tunas Harapan 0.3 UKURAN STATISTIK BAGI DATA Dalam mengumpulkan data, jika objek yang diteliti terlalu banyak atau terlalu luas cakupannya sehingga menjadi cukup besar, maka peneliti seringkali tidak meneliti seluruh objek, melainkan akan menggunakan sebagian saja dari seluruh objek yang diteliti. Keseluruhan yang menjadi perhatian kita / yang kita pelajari disebut sebagai Populasi
114 Bab 0 : Statistika 497 sedangkan himpunan bagian dari populasi hasil dari pengukuran yang terpilih dari suatu populasi disebut sebagai Sample. Parameter adalah sembarang nilai yang menjelaskan ciri sample-suatu Populasi misalkan ( µ, σ dll), sedangkan Parameter sample adalah sembarang nilai yang menjelaskan ciri sample misalkan ( x, s dll). Untuk menyelidiki segugus data kuantitatif akan sangat membantu bila didefinisikan ukuran-ukuran numerik yang menjelaskan ciri-ciri data yang penting. Ukuran yang menunjukkan pusat segugus data disebut sebagai Ukuran Pemusatan. Ukuran yang menyatakan seberapa jauh pengamatan (data) menyebar dari rata -ratanya disebut sebagai Ukuran Keragaman / Penyebaran. Untuk mengetahui sebaran / distribusi segugus data setangkup atau tidak dipakai Ukuran kemiringan UKURAN PEMUSATAN Ukuran yang menunjukkan pusat segugus data disebut sebagai Ukuran Pemusatan. Ukuran pemusatan yang biasa dipakai mean, median dan modus. MEAN / RATA-RATA HITUNG Mean atau rata- rata hitung dari suatu data adalah jumlah seluruh datum dibagi dengan banyak datum. Untuk data tunggal x+ x x x = n n
115 498 Bab 0 : Statistika Dimana x adalah mean atau rata- rata hitung dari suatu data x i adalah nilai datum ke i n adalah banyaknya datum Untuk frekuensi data tunggal x = fx + f x f k xk = n n k i= f i x i Dimana x adalah mean atau rata- rata hitung dari suatu data f i adalah frekuensi dari x i x i adalah nilai datum pada kelas ke i k adalah banyaknya kelas n = f + f + +f k adalah banyaknya semua datum Untuk frekwensi data kelompok fm + f m f kmk x = = n n Dimana : x adalah mean atau rata- rata hitung dari suatu data f i adalah frekuensi dari x i m i adalah nilai tengah data pada kelas ke i k adalah banyaknya kelas n = f + f + +f k adalah banyaknya semua datum k i= f i m i MEDIAN Median dari suatu data yang telah diurutkan datanya dari nilai datum yang terkecil ke nilai datum yang terbesar adalah datum yang membagi suatu data terurut menjadi dua bagian yang sama.
116 Bab 0 : Statistika 499 Untuk data tunggal Jika banyaknya datum n ganjil maka mediannya adalah nilai datum ke n + yaitu Median = x n+ Sedangkan jika banyaknya datum n genap maka mediannya adalah rata rata dari dua nilai datum yang ditengah yaitu Median = ( x ) n + x n + Untuk Data Kelompok Median = L med + n ( f ) fmed med p Dimana L med = tepi bawah kelas yang memuat median n = f + f + +f k adalah banyaknya semua datum ( f )med = jumlah frekuensi sebelum median f med = frekuensi kelas yang memuat median P = panjang interval MODUS Modus dari suatu data adalah nilai datum yang paling sering muncul.
117 500 Bab 0 : Statistika Untuk Data tunggal Modus dari suatu data adalah nilai datum yang paling sering muncul atau nilai datum yang mempunyai frekuensi terbesar. Untuk Data kelompok Dimana Mo = modus dari suatu data L Mo = tepi bawah kelas modus = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya P = panjang interval CONTOH 0.3. Mo = LMo + p + Tentukan mean, median dan modus dari data berikut ini : 00,0,05,0,80,90, 05,5,0,35, 0 Penyelesaian : Data diatas termasuk data tunggal a. Mean dari data tersebut adalah x = =,8 b. Untuk menentukan median, kita urutkan terlebih dahulu datumnya dari yang terkecil yaitu 80,90, 00,05,05,0,0,0,0,, 5,35
118 Bab 0 : Statistika 50 Karena banyaknya datum ada maka median adalah nilai datum ke + = 6. Jadi median = 0 c. Dari data diatas terlihat bahwa datum yang sering muncul adalah 0 maka modusnya = 0 CONTOH 0.3. Tentukan mean, median dan modus dari data nilai matematika SMK nusantara berikut ini : Nilai ( X i ) Banyaknya siswa ( f i ) f i X i Jumlah Penyelesaian : f i xi 53 a. Mean x = = = 6, 35 n 40 b. Karena banyaknya data 40 maka median Median = ( x ) n + x n + = ( x 0 + x ) = ( ) = 6
119 50 Bab 0 : Statistika c. Dari data diatas terlihat bahwa frekuensi terbesar adalah 0 dengan nilai matematika (nilai datum) 5. Jadi modusnya adalah 5 CONTOH Tentukan mean, median modus dari data hasil test IQ siswa SMK Tunas Baru berikut ini : Tabel Hasil test IQ siswa SMK Tunas Baru No Interval Tepi Kls m i f i fkom i ,5-87,5 83, ,5-95,5 9, ,5-03,5 99, ,5-,5 07, ,5-9,5 5, ,5-7,5 3, ,5-35,5 3,5 50 Sumber : SMK Tunas Baru tahun 007 Penyelesaian : a. Mean fm + f m f kmk x = = n n k i= f i m i
120 Bab 0 : Statistika ,5 +. 9, , , , ,5 +. 3,5 = = 50 = 06,06 b. Karena banyaknya data ada 50 maka Median terletak diantara data ke-5 dan ke-6, sehingga berada dalam kelas nomer 4 dimana L med = tepi bawah kelas yang memuat median =03,5 n = jumlah semua data n = f i =50 ( f )med = jumlah frekuensi sebelum median =3 f med = frekuensi kelas yang memuat median = 5 P = panjang interval =,5-03,5 = 8 Jadi median = L med + n ( f ) fmed med p.50 3 Median = 03, = 06,7 c. Dari tabel terlihat bahwa frekuensi terbesar adalah pada kelas ke maka kelas modus = kelas ke- sehingga Jadi L Mo = tepi bawah kelas modus = 87,5 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya = -5 = 7 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya = -6 = 6 P = panjang interval = 95,5-87,5 = 8
121 504 Bab 0 : Statistika Mo = LMo + p + 7 = 87, = 87,5 + 4,3077 = 9, UKURAN PENYEBARAN Ukuran yang menyatakan seberapa jauh pengamatan (data) menyebar dari rata-ratanya disebut sebagai Ukuran Keragaman / Penyebaran. JANGKAUAN / RENTANG Untuk data tunggal Jangkauan dari suatu data adalah selisih antara nilai datum terbesar dengan nilai datum terkecil sehingga Jangkauan = nilai datum terbesar nilai datum terkecil Untuk data kelompok Jangkauan = tepi atas kelas tertinggi tepi bawah kelas terkecil JANGKAUAN SEMI ANTAR KUARTIL Menentukan Kuartil Kuartil adalah suatu nilai yang membagi sekumpulan data menjadi empat bagian sama banyak.
122 Bab 0 : Statistika 505 Untuk data tunggal Untuk data tunggal, data diurutkan terlebih dahulu dari nilai datum yang terkecil ke nilai datum yang terbesar Kuartil I ( Q ) = nilai datum yang memisahkan data bagian 4 berada dibawahnya Kuartil II ( Q ) =: nilai datum yang memisahkan data bagian berada dibawahnya 3 Kuartil III( Q 3 ) =: nilai datum yang memisahkan data bagian 4 berada dibawahnya Dari pengertian diatas,terlihat bahwa kuartil II tidak lain adalah median Untuk data kelompok Nilai kuartil I ( Q ), nilai kuartil II ( Q ) = median dan nilai kuartil III ( Q 3 ) untuk data kelompok dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut : Dimana Q k = L Q Q k = kuartil k0 k k n + 4 f ( f ) Q k Q k p L Q k = tepi bawah kelas yang memuat Q k n = jumlah semua data yaitu n = f i ( f ) Qk, dengan k =,, 3 = jumlah frekuensi sebelum kelas Q k
123 506 Bab 0 : Statistika f Q k = frekuensi kelas yang memuat Q k P = panjang interval Menentukan Jangkauan Semi antar Kuartil Jangkauan Antar Kuartil = Kuartil 3 Kuartil Jangkauan Semi Antar Kuartil = ½ (Kuartil 3 Kuartil ) SIMPANGAN RATA RATA Simpangan rata-rata dari suatu data menyatakan ukuran berapa jauh penyebaran nilai nilai data terhadap nilai rata-rata Untuk data tunggal Simpangan rata-rata dari nilai-nilai data tunggal x, x, x 3, x n adalah SR = n n i= x i x Dimana x = nilai rata-rata dari suatu data Untuk data kelompok SR = n k i= f m x Dimana n = banyaknya datum k = banyaknya kelas f i = frekuensi kelas ke-i m i = nilai tengah kelas ke i x = nilai rata-rata dari suatu data i i
124 Bab 0 : Statistika 507 VARIANSI DAN SIMPANGAN BAKU Untuk data tunggal Ragam atau variansi dari nilai-nilai data tunggal x, x, x 3, x n adalah S = n n ( x i x) i= Sedangkan simpangan bakunya adalah S = var iansi Dimana x = nilai rata-rata dari suatu data Untuk data kelompok S = n k i= f i ( m x) i Sedangkan simpangan bakunya adalah Dimana n = banyaknya datum k = banyaknya kelas f i = frekuensi kelas ke-i S = var iansi m i = nilai tengah kelas ke i x = nilai rata-rata dari suatu data
125 508 Bab 0 : Statistika ANGKA BAKU Angka Baku dari nilai datum x dari suatu data adalah z = x x S Dimana x = nilai rata-rata dari suatu data S = simpangan baku dari suatu data KOEFISIEN VARIASI SAMPEL Koefisien variasi sample adalah penyimpangan data relatif yang umumnya disajikan dalam persen. Koefisien variasi sample ( CV ) dari suatu data adalah S CV = 00% x Dimana x = nilai rata-rata dari suatu data S = simpangan baku dari suatu data CONTOH Dari contoh sebelumnya, Tentukan kuartil, kuartil, kuartil 3, jangkauan antar kuartil dan jangkaun semi antar kuartil, dari data IQ 50 siswa SMK Tunas Baru. Penyelesaian :
126 Bab 0 : Statistika 509 Data terurut adalah Untuk menentukan kuartil, kuartil dan kuartil 3 maka kita tentukan terlebih dahulu kuartil yaitu nilai datum yang membagi data menjadi bagian yang sama. Karena data ada 50 maka kuartil = median adalah rata-rata dari dua nilai datum yang ditengah yaitu Kuartil = [ x + x ] 5 6 = ( ) = 07 Karena data ada 5 datum maka kuartil merupakan nilai tengah dari bagian bawah data atau nilai tengah dari semua datum yang berada sebelum kuartil yaitu Kuarti = x 3 = 9 Sedangkan kuartil 3 merupakan nilai tengah dari semua datum yang berada setelah kuartil yaitu Kuarti 3 = x 5+ 3 = x38 = 9 Jangkauan antar kuartil = kuartil 3 kuartil = 9 9 = 7 Jangkauan semi antar kuartil = ( kuartil 3 kuartil ) = 3,5
127 50 Bab 0 : Statistika CONTOH Dari tabel frekuensi data kelompok IQ 50 siswa SMK Tunas Baru Tentukan Kuartil, kuartil, kuartil 3, simpangan rata-rata dan simpangan baku dari data tersebut ] Penyelesaian : Tabel Hasil test IQ siswa SMK Tunas Baru No Interval Tepi Kls m i f i fkom i ,5-87,5 83, ,5-95,5 9, ,5-03,5 99, ,5-,5 07, ,5-9,5 5, ,5-7,5 3, ,5-35,5 3,5 50 Sumber : SMK Tunas Baru tahun 007 a. Menentukan kuartil Dari contoh soal 0.3.4, kuartil adalah nilai dantum ke-3 sehingga kelas yang memuat kuartil ( Q ) adalah kelas ke- yaitu L Q = tepi bawah kelas yang memuat Q = 87,5 n = jumlah semua data yaitu n = f i = 50
128 Bab 0 : Statistika 5 ( f ) Q = jumlah frekuensi sebelum kelas Q = 5 f Q = frekuensi kelas yang memuat Q = P = panjang interval = 95,5 87,5 = 8 Jadi Kuartil = Q = L b. Menentukan kuartil Q n + 4 f ( f ) = 87, = 87,5 + 5 = 9,5 Q Q p Dari contoh soal 0.3.4, kuartil adalah rata-rata nilai dantum ke- 5 dan nilai dantum ke-6 sehingga kelas yang memuat kuartil ( Q ) adalah kelas ke-4 yaitu L Q = tepi bawah kelas yang memuat Q = 03,5 n = jumlah semua data yaitu n = f i = 50 ( f ) Q = jumlah frekuensi sebelum kelas Q = 3 f Q = frekuensi kelas yang memuat Q = 5 P = panjang interval = 8 Jadi
129 5 Bab 0 : Statistika Kuartil = Q = L c. Menentukan kuartil 3 Q n + 4 f ( f ) Q Q p = 03, = 03, = 06,7 Dari contoh soal 0.3.4, kuartil 3 adalah nilai dantum ke-38 sehingga kelas yang memuat kuartil ( Q 3 ) adalah kelas ke-5 yaitu L Q 3 = tepi bawah kelas yang memuat Q 3 =,5 n = jumlah semua data yaitu n = f i = 50 ( f ) Q3 = jumlah frekuensi sebelum kelas Q 3 = 8 f Q 3 = frekuensi kelas yang memuat Q 3 = 0 P = panjang interval = 8 Jadi Kuartil 3 = Q = L 3 Q3 3 n + 4 f ( f ) Q3 Q3 p 3 =, =,5 + 7,6 = 9,
130 Bab 0 : Statistika 53 d. Dari contoh 0.3.3, diperoleh mean x = 06,06 sehingga m i f i mi x f m x i i 83,5 5,56,8 9,5 4,56 74,7 99,5 6 6,56 39,36 07, ,5 0 9,44 94,4 3,5 0 7,44 74,4 3,5 5,44 50,88 jumlah 653,76 Jadi simpangan rata- ratanya adalah SR = n k i= f m x =. 653,76 50 i i
131 54 Bab 0 : Statistika = 3,075 e. Dari contoh 0.3.3, diperoleh mean x = 06,06 sehingga m i f i x mi ( m x) i f ( m x) i i 83,5 5 -,56 508, ,768 9,5-4,56, ,93 99,5 6-6,56 63, ,06 07,5 5.44,0736 0,368 5,5 0 9,44 89,36 89,36 3,5 0 7,44 304, ,536 3,5 5,44 647,936 94,387 Jumlah 0584,3 Jadi variansi data tersebut adalah S = n k i= f i ( m x) i = 0584, 3 50 =,6864 sehingga simpangan bakunya adalah S = var iansi =,6864 = 4,
132 Bab 0 : Statistika 55 CONTOH Pada ulangan umum matematika dari 50 siswa SMK, rata-rata nilai adalah 78 dengan simpangan baku 8. Dari hasil evaluasi keaktifan siswa dapat dilihat bahwa waktu belajar mereka rata -rata 5 jam per minggu dengan simpangan baku 3 jam per minggu. Mana yang lebih homogin, nilai matematika atau waktu belajar mereka. Jawab S Koefisien Variasi (CV) nilai matematika = 00% x = (8/78) x 00% = 0,56406 % Koefisien Variasi (CV) waktu belajar = (3/5) x 00% = 0 % Karena CV nilai matematika lebih kecil daripada CV waktu belajar maka nilai matematika lebih homogin dibandingkan waktu belajar mereka. CONTOH Pada ulangan umum matematika dari 50 siswa SMK, rata-rata nilai adalah 78 dengan simpangan baku 8. Tetapi nilai ulangan umum Fisika mempunyai rata-rata 73 dengan simpangan baku 7,6. Farhan mendapat nilai 75 pada ulangan matematika dan 7 pada ulangan fisika. Pada ulangan apakah Farhan mendapat nilai lebih baik. Penyelesaian : Angka baku / Nilai standart matematika Farhan adalah
133 56 Bab 0 : Statistika z = x x = S ( 75 78) Nilai standart fisika Farhan adalah z = 8 = 0,375 (7 73) = 0, ,6 Karena nilai standart nilai fisika lebih besar daripada nilai matematika maka nilai fisika Farhan lebih baik dari pada nilai matematikanya. SOAL LATIHAN 0.3 Kerjakan soal-soal berikut. Tentukan mean, median, modus, kuartil, kuartil, kuartil 3, jangkauan semi kuartil, simpangan rata-rata dan simpangan baku dari data berikut ini : a. 35,38,40,30,55,40,40,56,40,44,54, 56,39 b. 0,04,05,80,03,0,35,05,34,35,0,0,0,0. SMK Budi Mulia mempunyai 9 karyawan. Data umur masingmasing karyawan adalah sebagai berikut : 7, 8, 40, 3, 35, 55, 3, 43, 30, 7, 3, 33, 45, 50, 4, 54, 30, 35, dan 55. Tentukan kuartil, kuartil, kuartil 3, jangkauan semi kuartil, simpangan rata-rata dan simpangan baku 3. Tentukan mean, median, modus, kuartil, kuartil, kuartil 3, jangkauan semi kuartil, simpangan rata-rata dan simpangan baku dari data nilai bahasa Inggris SMK Nusantara berikut ini :
134 Bab 0 : Statistika 57 Nilai ( X i ) Banyaknya siswa ( f i ) Jumlah 5 4. Dari tabel distribusi frekuensi data kelompok nilai matematika pada soal latihan sub-bab 0. no, tentukan mean, median, modus kuartil, kuartil, kuartil 3, jangkauan semi kuartil, simpangan rata-rata dan simpangan baku dari data tersebut 5. Diberikan hasil tryout 0 siswa peserta olimpade Siswa Matematika B. Inggris B. Indonesia a. Tentukan rata-rata, median dan modus dari hasil tryout b. Tentukan simpangan baku hasil tryout c. Mana dari ketiga nilai yang menunjukkan kemampuan siswanya lebih homogin.
135 58 Bab 0 : Statistika
136 Bab MATEMATIKA KEUANGAN Dalam urusan bisnis dan keuangan tidak akan lepas juga dari perhitungan matematika. Seorang pengusaha yang dalam kehidupannya harus berurusan dengan bank ataupun pemilik modal dalam menjalankan bisnisnya perlu menghitung berapa keuntungan atau kerugian yang mungkin dihadapinya. Untuk itu perlu matematika keuangan yang sangat bermanfaat bagi pengusaha dalam menjalankan bisnisnya... BUNGA TUNGGAL DAN BUNGA MAJEMUK. Dalam keseharian, sering ditemui bahwa seseorang membeli mobil secara angsuran dengan bunga 0 % pertahun atau seseorang 59
137 50 Bab : Matematika Keuangan meminjam uang di bank dengan bunga % per bulan. Jadi kata bunga bukanlah kata asing di telinga masyarakat Indonesia.? Pengertian Bunga Secara umum bunga dapat diartikan sebagai jasa yang berbentuk uang yang diberikan oleh seorang peminjam kepada orang yang meminjamkan modal atas persetujuan bersama. Jika seseorang meminjam uang ke bank sebesar M rupiah dengan perjanjian bahwa setelah satu bulan dari waktu peminjaman, harus mengembalikan pinjaman tersebut sebesar ( M + B) rupiah, maka orang tersebut telah memberikan jasa terhadap bank sebesar B rupiah selama satu bulan. Jasa sebesar B rupiah disebut dengan bunga, sedangkan M rupiah merupakan besarnya pinjaman yang disebut dengan modal. Jila pinjaman tersebut dihitung prosentase bunga terhadap besarnya modal, diperoleh : B 00 % M disebut suku bunga. Besar suku bunga berlaku pada lama waktu perjanjian antara peminjam dengan yang diberi pinjaman. Secara umum, pengertian suku bunga dapat dituliskan sebagai berikut : Jika besar modal pinjaman adalah M 0 dan besar bunga adalah B, maka besar suku bunga persatuan waktu dituliskan dengan b, didefinisikan sebagai b = B M 0 00 %
138 Bab : Matematika Keuangan 5 Jika pembayaran dilakukan sesuai dengan waktu perjanjian, maka bunga yang berkaitan disebut bunga tunggal. Hubungan antara besar modal, besar suku bunga, dan besar pengembalian dinyatakan dengan : p M = M 0 + M 0 00 Atau p M = M dengan: M menyatakan besarnya pengembalian M 0 menyatakan besar pinjaman (modal) dan p menyatakan besar suku bunga dalam % Contoh..: Diketahui suatu modal sebesar Rp ,- dengan suku bunga 5% pertahun. Tentukan besarnya bunga tunggal tersebut. a. untuk jangka waktu 8 bulan b. untuk jangka waktu 0 bulan Penyelesaian: Karena besarnya suku bunga pertahun adalah 5%, maka besarnya bunga tunggal pertahun adalah : B = 5/00 x Rp ,- = Rp ,- Sehingga diperoleh: a. Besarnya bunga tunggal untuk jangka waktu 8 bulan adalah 8/ x Rp ,- = Rp ,- b. Besarnya bunga tunggal untuk jangka waktu 0 bulan adalah 0/ x Rp ,- = Rp ,-
139 5 Bab : Matematika Keuangan Contoh..: Pak Didik meminjam modal di bank sebesar Rp ,- yang harus dilunasi dalam jangka waktu satu tahun dengan besar pengembalian 5/4 dari besarnya pinjaman. Tentukan besarnya bunga pertiga bulan. Penyelesaian: Besar pinjaman Besarnya pengembalian M 0 = Rp, , M = ( 5 / 4) Rp , = Rp , Besarnya bunga dalam satu tahun adalah B = M M 0 = Rp , Rp , = Rp , Besarnya suku bunga pertahun adalah b = x 00% = 5% Jadi besarnya suku bunga pertigabulan adalah x 5% = 6,5% Contoh..3: Jika suatu modal sebesar Rp ,- dibungakan dengan bunga tunggal dengan suku bunga sebesar,% perbulan. Dalam waktu berapa bulan, agar modal tersebut menjadi dua kali dari modal semula? Penyelesaian: Besar bunga untuk satu bulan adalah B, = x Rp ,- 00 = Besar bunga selama n bulan adalah Rp ,-
140 Bab : Matematika Keuangan 53 B n = n Rp80.000, Besar modal setelah n bulan adalah M = Rp , + n B n [ n ] = Rp , + Rp, Setelah n bulan, modal menjadi dua kali modal semula. Jadi Akibatnya Atau Sehingga M n = Rp , = Rp , [ n ] Rp , = Rp , + Rp, [ n ] Rp , = Rp, Rp ,- n = = 88,33 Rp ,- Jadi waktu yang diperlukan agar modal menjadi dua kali modal semula adalah 88,33 bulan. Didalam bungan tunggal ini dikenal dua jenis bunga tunggal, yaitu:. bunga tunggal eksak. bunga tunggal biasa. Bunga tunggal eksak adalah bunga tunggal yang dihitung berdasarkan jumlah hari dalam satu tahun secara tepat (satu tahun ada 365 hari), sedangkan untuk tahun kabisat, yaitu suatu tahun yang habis dibagi empat, satu tahun ada 366 hari. Bunga tunggal biasa adalah bunga tunggal yang dihitung untuk setiap bulannya terdapat 30 hari (satu tahun ada 360 hari).
141 54 Bab : Matematika Keuangan Contoh..4: Suatu modal sebesar Rp ,- dengan suku bunga 0% pertahun, jika akan dipinjamkan selama 50 hari. Tentukan besarnya bunga tunggal eksak dan bunga tunggal biasa, jika peminjaman dilakukan: a. Pada tahun 004 b. Pada tahun 007. Penyelesaian: a. Peminjaman dilakukan pada tahun 004 Besarnya bunga tunggal biasa adalah : 50 0 x x Rp ,- = Rp , Besarnya bunga tunggal eksak adalah : (Karena 004 habis dibagi empat, maka banyaknya hari dalam tahun 004 adalah 366) b. Peminjaman dilakukan pada tahun 007 Besarnya bunga tunggal biasa adalah : 50 0 x x Rp ,- = Rp , x x Rp ,- = Rp , Besarnya bunga tunggal eksak adalah : 50 0 x x Rp , = Rp ,99 Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa besar bunga tunggal biasa tidak tergantung pada tahun waktu peminjaman dilakukan (setiap tahun ada
142 Bab : Matematika Keuangan hari). Sedang besar bunga tunggal eksak samgat tergantung pada tahun, dimana waktu peminjaman dilakukan (tahun kabisat atau bukan kabisat). Untuk menentukan banyaknya hari dalam peminjaman, dikenal dua metode perhitungan, yaitu waktu rata-rata dan waktu eksak yang didefinisikan sebagai berikut : Waktu rata-rata adalah waktu yang dihitung berdasarkan banyaknya hari dalam satu bulan terdapat 30 hari. Sedangkan Waktu eksak adalah waktu yang dihitung berdasarkan banyaknya hari dalam satu bulan yang dijalani secara tepat. Menentukan waktu rata-rata Cara menentukan waktu rata-rata adalah:. Menghitung banyaknya hari pada saat bulan peminjaman, yaitu 30 dikurangi tanggal peminjaman. Menghitung banyaknya hari pada bulan-bulan berikutnya dengan menggunakan ketentuan bahwa satu bulan ada 30 hari. 3. Menghitung banyaknya hari pada bulan terakhir dari batas tanggal peminjaman. 4. Banyaknya hari peminjaman adalah jumlahan dari ketiga langkah di atas. Contoh..5: Hitung waktu rata-rata dari tanggal 7 Maret 004 sampai Pebruari 007. Penyelesaian: Banyaknya hari pada saat peminjaman adalah 30-7=3
143 56 Bab : Matematika Keuangan Banyaknya hari pada bulan berikutnya pada tahun yang sama saat peminjaman adalah 9x30=70 Banyaknya hari pada tahun berikutnya setelah tahun peminjaman adalah x360=70 Banyaknya hari pada tahun akhir peminjaman adalah 30+=5 Jadi waktu rata-rata = = 065 Jadi waktu rata-rata dari tanggal 7 Maret 004 sampai tanggal Pebruari 007 adalah 065 hari. Contoh..6: Hitung waktu rata-rata dari tanggal 7 Agustus 007 sampai Desember 007. Penyelesaian: Waktu rata-rata = (30-7) + 3(30) + = = 3 Jadi waktu rata-rata dari tanggal 7 Agustus 007 sampai tanggal Desember 007 adalah 3 hari.? Menentukan waktu eksak Ada dua cara menentukan waktu eksak, yaitu:. Dengan menggunakan tabel.. Dengan menghitung banyaknya hari yang dijalani. Dalam buku ini hanya dibahas cara kedua, yaitu menghitung hari pada bulan yang dijalani secara tepat.
144 Bab : Matematika Keuangan 57 Contoh..7: Hitung waktu eksak dari tanggal 5 Januari 007 sampai 5 April 007. Penyelesaian: Waktu eksak = (3-5) + (8 + 3) + 5 = = 0 Jadi waktu eksak dari tanggal 5 Januari 007 sampai tanggal 5 April 007 adalah 0 hari... DISKONTO Selain bunga tunggal yang telah dibahas, ada juga pinjaman dengan besar bunga tunggal yang dibayarkan pada awal peminjaman modal. Masalah seperti ini disebut dengan diskonto. Besar suku bunganya disebut dengan besar diskonto. Contoh..: Ibu Alif meminjam uang di bank sebesar Rp ,- dengan besar diskonto 0% dalam jangka satu tahun. Tentukan besar uang pinjaman saat diterima Ibu Alif. Penyelesaian: Besar diskonto 0% pertahun. Jadi besar bunga dalam satu tahun adalah 0 x Rp ,- = Rp ,- 00 Besar uang yang diterima Ibu Alif adalah Rp , Rp , = Rp ,
145 58 Bab : Matematika Keuangan Contoh..: Pak Imron menerima pinjaman dari Bank dengan besar diskonto,5% pertahun. Jika uang pinjaman pada saat diterima Pak Imron sebesar Rp ,-. Tentukan besar pinjaman Pak Imron sebelum dipotong dengan besarnya bunga yang telah ditentukan. Penyelesaian: Misal M = besarnya pinjaman Pak Imron B = besarnya bunga diskonto selama satu tahun maka,5 B = x M = M 00 8 Besar pinjaman Pak Imron = besar uang yang diterima + besarnya bunga M = Rp , + (/8) M Akibatnya : M ( / 8) M = Rp , ( 7 / 8) M = Rp , Jadi besar pinjaman Pak Imron sebelum dipotong besarnya bunga 8 adalah M = Rp , = Rp , BUNGA MAJEMUK Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas mengenai bunga tunggal, dengan cara bunga yang dibayarkan pada akhir periode peminjaman, dan cara diskonto, yaitu pembayaran bunga dilakukan pada awal periode peminjaman. Pada bagian ini akan dibahas cara pembayaran bunga yang dilakukan pada setiap akhir periode tertentu, dan besar bunga ditambahkan
146 Bab : Matematika Keuangan 59 (digabung) dengan modal awal, bunga pada periode berikutnya dihitung dari besar modal yang sudah digabung dengan bunga. Pada periode-periode berikutnya bunga dihitung analog. Pembayaran bunga semacam ini dinamakan sebagai bunga majemuk. Cara penggabungan bunga dapat dilakukan secara bulanan, kuartalan, triwulanan, semesteran, atau tahunan. Beberapa istilah yang terkait dengan masalah bunga majemuk antara lain adalah frekuensi penggabungan, periode bunga, dan banyaknya periode bunga. Pengertian dari masing-masing istilah tersebut adalah sebagai berikut: a. Frekuensi penggabungan adalah banyaknya penggabungan bunga dengan modal dalam waktu satu tahun. b. Periode bunga adalah lamanya waktu antara dua penggabungan bunga terhadap modal yang berurutan. Hubungan antara modal awal dengan modal setelah n periode yang dibungakan secara majemuk dinyatakan dalam rumus berikut. Jika suatu modal sebesar M dibungakan dengan bunga majemuk dengan suku bunga b = p% b untuk setiap periode bunga, maka besar modal setelah n periode adalah Mn dengan rumus : M = M ( + b) n n Contoh.3.: Suatu modal sebesar M dipinjamkan dengan bunga majemuk, suku bunga ditetapkan sebesar % pertahun. Jika penggabungan bunganya dilakukan triwulan. Tentukan selama 5 tahun a. Periode bunga b. Frekuensi penggabungan
147 530 Bab : Matematika Keuangan c. Besar suku bunga untuk setiap periode d. Banyaknya periode bunga Penyelesaian: a. Karena triwulan = 3 bulan, maka periode bunga adalah 3 bulan. b. Frekuensi penggabungan = /3 = 4 c. Besar suku bunga untuk setiap periode adalah b = (%)/4 = 3 % d. Banyaknya periode bunga = 5 x 4 = 0. Contoh.3.: Suatu modal sebesar M dibungakan selama tahun dengan bunga majemuk % pertahun, dan penggabungan bunga dilakukan perkuartal. Tentukan: a. Periode bunga b. Frekuensi penggabungan c. Besar suku bunga untuk setiap periode d. Banyaknya periode bunga Penyelesaian: a. Karena kuartal = 4 bulan, maka periode bunga adalah 4 bulan. b. Frekuensi penggabungan = /4 = 3 c. Besar suku bunga untuk setiap periode adalah b = (% )/ 3 = 4% d. Banyaknya periode bunga = x 3 = NILAI TUNAI, NILAI AKHIR, dan HARI VALUTA Dalam dunia perbankan, selain kata tabungan juga dikenal kata deposito, yaitu cara penyimpanan uang di bank dengan ketentuan
148 Bab : Matematika Keuangan 53 bahwa penyimpan uang dapat diambil simpanannya pada waktu yang telah ditentukan, jika diambil pada saat belum jatuh tempo maka dikenai pinalti (denda) sesuai ketentuan yang telah disepakati. Beberapa istilah yang terkait dengan deposito, antara lain adalah: nilai akhir, nilai tunai, dan hari valuta. Pada istilah-istilah tersebut dimaksudkan sebagai berikut. Pada deposito, besarnya uang yang disimpan pertama kali disebut nilai tunai, sedang besarnya uang pada saat pengembalian disebut nilai akhir, dan saat pengambilan disebut valuta. Contoh.4.: Sejumlah uang sebesar M didepositokan selama tahun dengan suku bunga majemuk 0% pertahun. Jika pada hari valuta, uang tersebut menjadi Rp ,-. Tentukan besar uang yang telah didepositokan. Penyelesaian: Dalam masalah ini, akan dicari nilai tunai, dengan rumus : atau dengan: M = M ( + b) M n = n = M n ( + b) n M = Rp , b = 0% = 0, n
149 53 Bab : Matematika Keuangan M = M ( + 0,) Rp ,- = = Rp ,37, Jadi besar uang yang didepositokan adalah M = Rp ,37. Contoh.4.: Modal sebesar Rp ,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk dengan bunga 5% pertahun. Tentukan besar modal setelah dibungakan selama 3 tahun. Penyelesaian: Dengan rumus : M = M ( + b) dimana : M = Rp ,- b = 5% = 0,05 n = 3 diperoleh M n 3 3 = Rp , ( ) = Rp , (.5765) = Rp , Jadi besar modal selama 3 tahun adalah Rp ,- n Contoh.4.3: Modal sebesar Rp ,- dipinjamkan dengan bunga majemuk. Penggabungan bunga dilakukan persemester dan besar bunga adalah
150 Bab : Matematika Keuangan 533 % pertahun. Tentukan lama modal tersebut dipinjamkan setelah modal menjadi Rp ,- Penyelesaian: Karena semester = 6 bulan, maka periode bunga adalah 6 bulan. Jadi frekuensi penggabungan = /6 = Suku bunga setiap periode adalah % : = 6%. M n Berdasarkan rumus M =, diperoleh : ( ) ( ) n n = M ( + b) n n / M Rp , = , =.504 Dengan rumus logaritma, diperoleh n = 7. Jadi lama modal tersebut dipinjamkan adalah 7 semester atau 3,5 tahun. Pada pembahasan di atas, periode bunga adalah bulat. Selanjutnya jika periode bunga berupa pecahan, maka untuk cara mencari nilai akhir adalah sebagai berikut:. Tentukan nilai akhir dengan bunga majemuk untuk periode bunga bulat.. Tambahkan nilai akhir bunga tunggal untuk periode bunga pecahan. Contoh.4.4: Modal sebesar Rp ,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk dengan bunga 4% pertahun. Tentukan besar modal setelah dibungakan selama 5 tahun 6 bulan. Penyelesaian: Dalam hal ini : M = Rp ,-
151 534 Bab : Matematika Keuangan diperoleh : b = 4% = 0,04 n = 5,5 (karena 6 bulan sama dengan 0,5 tahun) M 5,5 = Rp (,04) + 5 = Rp (,04) + ( 0,04) = Rp ,- (,66590)(,0) (0,04)Rp (,04) = Rp ,64 Jadi besar modal setelah 5 tahun 6 bulan adalah adalah M 5,5 = Rp , RENTE ( RENTETAN MODAL ). Rente Terbatas adalah rente dengan banyaknya angsuran atau Penambahan uang oleh pihak bank untuk tabungan maupun produk bank yang lain menggunakan sistem bunga majemuk yaitu setiap akhir periode bunganya langsung menjadi modal yang dibungakan lagi atau dikenal dengan bunga berbunga. Didalam sistem bunga majemuk dikenal istilah rente yaitu rentetan modal yang dibayarkan setiap periode yang tetap. Pembayaran yang menggunakan rente antara lain:. Pembayaran barang secara kredit. Pembayaran asuransi 3. Tabungan berjangka atau deposito Berdasarkan banyaknya angsuran rente dibedakan menjadi, yaitu : periode terbatas, misal kali angsuran, 4 kali angsuran, atau dengan k kali angsuran dengan k : bilangan asli dan berhingga.
152 Bab : Matematika Keuangan 535. Rente Kekal (abadi) adalah rente dengan banyaknya angsuran yang tidak terbatas, misal k kali angsuran dengan k tak hingga. Berdasarkan waktu pembayarannya rente dibedakan menjadi, yaitu :. Rente Pranumerando adalah suatu rente dengan waktu pembayarannya dilakukan setiap awal periode, misal tanggal setiap bulan, tanggal Januari setiap tahun.. Rente Postnumerando adalah suatu rente dengan waktu pembayarannya dilakukan setiap akhir periode, misal tanggal 30 setiap bulan, tanggal 30 Desember setiap tahun.? Rente Pranumerando. Penghitungan Nilai Akhir Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun, dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai akhir dari angsuran itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut. Angsuran dibayar pada awal periode yaitu tanggal Januari dan nilai akhir dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal 3 Desember tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut. Tahun Pertama Januari M( + i) Tahun Kedua Januari M( + i) Tahun Ketiga Januari M( + i) 3 : Tahun ke (n-) Januari M( + i) n- Tahun ke n Januari M( + i) n + 3 Desember = k k n 0 M( + i) k Jadi Nilai Akhir dari Rente Pranumerando adalah
153 536 Bab : Matematika Keuangan N N a a = k= n k = = M k= k = k ( + i) M n ( ) k + i Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat Na = M ( + i) + M ( + i) + + M ( + i) n Geometri dengan a = M ( + i) dan r = ( + i) merupakan deret N = M (+ i) N = M (+ i) n (+ i) + (+ i) - (+ i) i n + Contoh.5.: Setiap awal tahun disetorkan sejumlah uang ke bank sebanyak Rp ,-. Jika besar bunga 4 % pertahun, maka tentukan nilai akhir rente pada tahun ke 3. Penyelesaian: M = Rp ,- n = 3 i = 4 % N a = k = n k= M ( + i) k
154 Bab : Matematika Keuangan 537 = Rp , 3 k= ( ) = Rp , ( ) = Rp , ( ) = Rp , k. Penghitungan Nilai Tunai Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun, dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai tunai dari angsuran itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut. Angsuran dibayar pada awal periode yaitu tanggal Januari dan nilai tunai dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal Januari tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut : Tahun Pertama Januari M Tahun Kedua Januari M/ ( + i) Tahun Ketiga Januari M/ ( + i) : Tahun ke (n-) Januari M/ ( + i) n- Tahun ke n Januari M/ ( + i) n- + k = n- M + M = (+ i) Jadi Nilai Tunai dari Rente Pranumerando adalah N t = M + M = M(+ k= n- k= k= n- k= ( + i) k ( + i) ) k k k
155 538 Bab : Matematika Keuangan Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat suatu deret geometri dengan a = M, dan r = / (+i), maka : N t = M n ( + i) ( + i) i Contoh.5.: Setiap awal tahun disetorkan sejumlah uang ke bank sebanyak Rp ,-. Jika besar bunga 4 % pertahun, maka tentukan nilai tunai rente pada tahun ke 3. Penyelesaian: M = Rp ,- n = 3 i = 4 % 3 ( + 0,04) ( + 0,04) Nt = Rp ,- 0,04-0, = Rp , (,04) 0,04 = Rp (, ) = Rp ,67? Rente Postnumerando. Penghitungan Nilai Akhir Tahun Pertama 3 Desember M(+i) n- Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun, dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai akhir N a dari angsuran itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut :
156 Bab : Matematika Keuangan 539 Angsuran dibayar pada akhir periode yaitu tanggal 3 Desember dan nilai akhir dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal 3 Desember tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut : Tahun Kedua 3 Desember M(+i) n- Tahun Ketiga 3 Desember M(+i) n-3 : Tahun ke (n-) 3 Desember M(+i) Tahun ke n 3 Desember M + M + n- k= M( + i) Jadi Nilai Akhir dari Rente Pranumerando adalah n = + k Na M ( + i) k= Atau jika dihitung menggunakan deret geometri, didapat N M = i n [( + i) ] a + k Contoh.5.3: Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp ,- ke bank. Bunga bank 5% pertahun. Pada tahun ke-3, tentukan nilai akhir rente. Penyelesaian: M = Rp ,- n = 3 i = 5%
157 540 Bab : Matematika Keuangan N a = Rp ,- + 0,05 = Rp ,- (,5765) = Rp ,- 3 ( + ). Penghitungan Nilai Tunai Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun, dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai tunai N t dari angsuran itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut : Angsuran dibayar pada awal periode yaitu tanggal Januari dan nilai tunai dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal Januari tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut: M Tahun Pertama Januari ( + i) Tahun Kedua Tahun Ketiga : : Tahun ke (n-) Tahun ke n Januari Januari Januari Januari M ( + i) M ( + i) 3 M ( + i) n- M ( + i) n k = n M k k= ( + i) Jadi Nilai Tunai dari Rente Postnumerando adalah
158 Bab : Matematika Keuangan 54 k = n N t = M k k = ( + i) Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat : M N [( i) ] n t = + i Contoh.5.4: Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp ,- ke bank. Bunga bank 5% pertahun. Pada tahun ke 3, tentukan harga tunai rente? Penyelesaian: M = Rp ,- n = 3 i = 5% N N t 3 = M n ( i) k = + k = Rp , ,05 ( + 0,05) ( + 0,05) 3 = Rp ,- ( 0, , , ) = Rp ,-(,734809)=Rp ,? Rente Kekal Rente kekal atau rente abadi adalah rente dengan banyaknya angsuran tidak terbatas (n = ~). Maka dari hanya nilai tunainya saja yang dapat dihitung, sedangkan nilai akhirnya tidak dapat dihitung jumlahnya.. Rente Kekal Pranumerando
159 54 Bab : Matematika Keuangan Rente kekal pranumerando jika dijabarkan nilai tunai untuk tiap priode merupakan deret geometri tak hingga dengan a = M, dan r =, maka nilai tunai rente pranumerando kekal adalah : + i M M N t = + i i ( + i) = M Contoh.5.5: Setiap awal tahun disetorkan sejumlah uang ke bank sebanyak Rp ,-. Jika besar bunga 5 % pertahun, maka tentukan harga tunai rente kekal pada tahun ke 3. Penyelesaian: M = Rp ,- n = 3 i = 5 % N 3 M = ( + i) i Rp ,- = 0,05 = Rp ,- ( + 0,05). Rente Kekal Postnumerando Sama dengan rente kekal pranumerando, rente kekal postnumerando nilai tunainya jika dijabarkan akan berbentuk deret geometri tak hingga dengan : M a = dan r = ( + i) ( i) +, sehingga M N t = i
160 Bab : Matematika Keuangan 543 Contoh.5.6: Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp ,- ke bank. Bunga bank 5% pertahun. Pada tahun ke 4, tentukan harga tunai rente kekal. Penyelesaian: M = Rp ,- n = 4 i = 5% Rp ,- N 4 = = Rp ,- 0,05 Jadi harga tunai rente kekal adalah Rp ,-..6. ANUITAS Anuitas adalah suatu pembayaran atau penerimaan uang secara periodik dalam jumlah tetap dan dalam jangka waktu yang tetap pula. Jumlah pembayaran anuitas terdiri dari dua bagian, yaitu: - Angsuran pelunasan pinjaman - Pembayaran bunga.? Menentukan Besarnya Anuitas Untuk menentukan besarnya anuitas dapat digunakan rumus : A = M n ( ) k k = + i
161 544 Bab : Matematika Keuangan Atau A = im dengan A = besarnya anuitas M = besarnya pinjaman i = suku bunga n = banyaknya anuitas n ( + i) ( + i) n Contoh.6.: Suatu pinjaman sebesar Rp ,- akan dilunasi dengan 3 angsuran dengan suku bunga % pertahun. Tentukan besar anuitasnya. Penyelesaian: M = Rp ,- i = % = 0, n = 3 a. Diselesaikan dengan Rumus A = M n ( ) k k = + i, diperoleh besarnya (,) (,) anuitas A = Rp ,- = Rp , n ( + i) b. Diselesaikan dengan Rumus A = im ( + i) n Besarnya anuitas adalah A = 0, Rp ,- 3,40498 = Rp = Rp ,98 0,
162 Bab : Matematika Keuangan 545? Menyusun Rencana Angsuran Untuk mengetahui bahwa perhitungan anuitas sudah benar, sebaiknya disusun rencana angsuran. Pada anuitas terakhir, besar angsuran utang harus nol. Contoh.6.: Ibu Rini meminjam uang di Bank sebesar Rp ,-. Pinjaman harus dilunasi dengan anuitas selama setahun dengan pembayaran tiap tiga bulan. Suku bunga 3% per tiga bulan. Buatlah rencana angsurannya, dan buatkan tabel rencana angsuran itu. Penyelesaian: M = Rp ,- i = 3% n = 4 (sebab angsuran dilakukan setiap 3 bulan. Jadi n = : 3 = 4) Besar anuitas tiap 3 bulan adalah A = M 4 k = ( + 0,03) = Rp ,5 Membuat rencana angsuran: k = Rp , 3, Karena anuitas terdiri dari besar angsuran dan bunga, maka angsuran ke n, yaitu An, adalah An = A - Bn dengan Bn adalah bunga pada angsuran ke n. Oleh karena itu diperoleh: - Bunga pada akhir tiga bulan pertama
163 546 Bab : Matematika Keuangan B = 3% x Rp ,- = 3 Rp ,- = Rp ,- 00 Angsuran pertama adalah A = A - B = Rp ,5 - Rp ,- = Rp ,5 Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kedua adalah M = Rp ,- - Rp ,5 = Rp ,5. - Bunga pada akhir tiga bulan kedua 3 B = Rp ,5 = Rp.8.9,88 00 Angsuran kedua adalah A = A - B = Rp ,5 - Rp 8.9,88 = Rp ,6 Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan ketiga adalah M = Rp ,5 - Rp ,6= Rp ,88. - Bunga pada akhir tiga bulan ketiga adalah 3 B 3 = Rp ,88 = Rp.54.43,5 00 Angsuran ketiga adalah A3 = A - B3 = Rp ,5 - Rp 54.43,5 = Rp ,98 Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan keempat adalah M3 = Rp ,88. - Rp ,98 = Rp.6.9,9 - Bunga pada akhir tiga bulan keempat adalah 3 B 4 = Rp..6.9,9 = Rp ,87 00 A4 = A - B4 = Rp 69.07,05 - Rp ,87 = Rp.6.93,3 Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kelima adalah Angsuran keempat adalah
164 Bab : Matematika Keuangan 547 Rp 0,- M4 = Rp.6.9,9- Rp.6.93,3= Rp -0,0 = Tabel rencana angsurannya adalah sebagai berikut: Angsuran Tabel Rencana Angsuran ke n Utang ( Rp. ) Suku bunga 3% Anuitas Angsuran Utang Sisa Utang , , , , ,5 8.9, , , , , ,98.6.9, , , ,3 0,-? Anuitas dengan Pembulatan Biasanya besar anuitas yang dibayarkan (diterima) berupa pecahan. Untuk mempermudahkan atau menyederhanakan pembayaran, biasanya besar anuitas dibulatkan ke atas atau ke bawah. Jika besar anuitas dibulatkan ke bawah, maka besarnya pembayaran terakhir adalah besarnya anuitas ditambah kekurangannya, dan jika besar anuitas dibulat kan ke atas, maka besarnya pembayaran terakhir adalah besarnya anuitas dikurangi kelebihan pembayaran. Contoh.6.3: Pak Abu meminjam uang di Bank sebesar Rp ,-. Pinjaman harus dilunasi dengan anuitas selama setahun dengan pembayaran tiap triwulan.suku bunga 3% per triwulan. Tentukan: a. Besar anuitas dengan pembulatan ribuan ke atas b. Besarnya pembulatan jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas c. Tabel rencana angsuran jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas
165 548 Bab : Matematika Keuangan d. Angsuran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas e. Pembayaran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas f. Besar anuitas dengan pembulatan ribuan ke bawah g. Besarnya pembulatan jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah h. Tabel rencana angsuran jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah i. Angsuran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah j. Pembayaran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah Penyelesaian: M = Rp ,- i = 3% n = 4 (sebab angsuran dilakukan setiap triwulan. Jadi n = : 3 = 4) Besar anuitas tiap triwulan adalah A = M n ( i) k= + k = Rp , /,03 + /, /, /,55088 = Rp , 3, = Rp ,45 Dengan pembulatan ribuan ke atas, diperoleh a. Besar anuitas adalah Rp ,- b. Besar pembulatan adalah Rp Rp ,45 = Rp 9.79,55 c. Untuk membuat tabel rencana angsuran, terlebih dahulu dihitung rencana angsurannya sebagai berikut. Dengan mengingat An = A Bn, dan Bn adalah bunga pada angsuran ke n, diperoleh:
166 Bab : Matematika Keuangan Bunga pada akhir triwulan pertama, B = 3% x Rp ,- = Rp ,- Angsuran pertama adalah A = A - B = Rp ,- -Rp ,- = Rp ,- Pinjaman (sisa utang) pada awal triwulan kedua adalah M = Rp ,00 - Rp ,-= Rp ,- - Bunga pada akhir tiga bulan kedua 3 B = Rp ,- = Rp.8.000,- 00 Angsuran kedua adalah A = A - B = Rp ,-- Rp.8.000= Rp ,- Pinjaman (sisa utang) pada awal triwulan ketiga adalah M = Rp ,- - Rp ,-= Rp ,-. - Bunga pada akhir triwulan ketiga adalah 3 B3 = 3% x Rp ,-. = Rp ,- = Rp ,- 00 Angsuran ketiga adalah A3 = A - B3 = Rp ,- - Rp ,- = Rp ,- Pinjaman (sisa utang) pada awal triwulan keempat adalah M3 = Rp ,-. - Rp ,- = Rp ,- - Bunga pada akhir triwulan keempat adalah 3 B4 = 3% x Rp ,-. = Rp ,- = Rp , 00 Angsuran keempat adalah A4 = A - B4 = Rp ,- - Rp , = Rp.6.544,8
167 550 Bab : Matematika Keuangan Pinjaman (sisa utang) pada akhir triwulan keempat adalah M4 = Rp ,- - Rp.6.544,8 = Rp ,8 Dengan adanya pembulatan ribuan ke atas, ada kelebihan angsuran sebesar Rp ,8. Jadi tabel rencana angsurannya adalah sebagai berikut: Angsuran ke n Utang ( Rp. ) Suku bunga 3% Anuitas Angsuran Utang Sisa Utang , , , , , , , , , , , , , , , ,8 d. Angsuran terakhir adalah A4 - Rp ,8 = Rp.6.544,8 - Rp 4.070,48 = Rp.6.544,8 e. Pembayaran terakhir adalah Angsuran terakhir + Bunga terakhir = Rp.6.544,8+ Rp , = Rp ,- Dengan pembulatan ribuan ke bawah diperoleh: a. Besar anuitas adalah Rp ,- b. Besar pembulatan adalah Rp , 45 - Rp ,- = Rp 70,45 c. Untuk membuat tabel rencana angsuran, terlebih dahulu dihitung rencana angsurannya sebagai berikut : Dengan mengingat An = A Bn dimana Bn adalah bunga pada angsuran ke n, diperoleh: - Bunga pada akhir tiga bulan pertama
168 Bab : Matematika Keuangan 55 B = 3% x Rp ,- = 3 Rp ,- = Rp ,- 00 Angsuran pertama adalah A = A - B = Rp ,- - Rp ,- = Rp ,- Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kedua adalah M = Rp ,- - Rp ,- = Rp ,- - Bunga pada akhir tiga bulan kedua 3 B = 3% x Rp ,- = Rp. 7,60.000,- = Rp ,- 00 Angsuran kedua adalah A = A - B = Rp ,- - Rp 8.300,- = Rp ,- Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan ketiga adalah M = Rp ,- - Rp ,- = Rp ,-. - Bunga pada akhir tiga bulan ketiga adalah B3 = 3% x Rp ,- = 3 Rp ,- = Rp ,90 00 Angsuran ketiga adalah A3 = A - B3 = Rp ,- - Rp 5.444,90 = Rp ,- Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan keempat adalah M3 = Rp ,- - Rp ,- = Rp.6.749,- - Bunga pada akhir tiga bulan keempat adalah 3 B4 = 3% Rp.6.749,- = Rp ,- = Rp ,47 00 Angsuran keempat adalah A4 = A - B4 = Rp ,- - Rp 78.38,47
169 55 Bab : Matematika Keuangan = Rp.6.67,53 Pinjaman (sisa utang) pada akhir tiga bulan keempat adalah M4 = Rp.6.749,-- Rp.6.67,53 = Rp.3,47 Angsuran ke n Utang ( Rp. ) Suku bunga 3% Anuitas Angsuran Utang Sisa Utang , , , , , , , , , , , , , ,53.3,47 i. Dengan adanya pembulatan ribuan ke bawah, ada kekurangan angsuran sebesar Rp.3,47. Jadi angsuran terakhir adalah A4 + Rp.3,47 = Rp.6.67,53 + Rp.3.47 = Rp.6.749,- j. Pembayaran terakhir adalah angsuran terakhir + bunga terakhir = Rp Rp 78.38,47,- = Rp.69.3,47.7. METODE SALDO MENURUN Dengan metode garis lurus, besarnya penyusutan setiap tahun dianggap sama, tetapi dalam metode saldo menurun, besar penyusutan mula-mula besar dan semakin lama besar penyusutan penurun sebanding lurus dengan menurunnya nilai buku ativa (harta) tetap. Perhitungan penyusutan dengan metode saldo turun ada dua cara, yaitu: metode angka persen tetap atau metode tarif tetap ata s nilai buku, dan metode menurun berganda.? Perhitungan dengan metode angka persen tetap mempunyai rumus
170 Bab : Matematika Keuangan 553 Dimana : S T = - n A T = persen penyusutan dari nilai buku S = nilai residu (sisa) aktiva tetap A = nilai perolehan aktiva tetap n = perkiraan umur ekonomi aktiva tetap Contoh.7.: Diketahui bahwa biaya perolehan suatu aktiva adalah Rp ,-. Taksiran nilai sisa adalah Rp ,- dengan umur manfaat 3 tahun. Dengan metode saldo menurun angka persen tetap, a. Persentase penyusutan setiap periode b. Buatkan tabel yang berisikan harga perolehan, penyusutan, akumulasi penyusutan, dan harga buku. Penyelesaian: S = Rp ,- A = Rp ,- n = 3 S n a. Persentase penyusutan setiap periode adalah T = - = A = 0, = 0, = 53,6% b. Penyusutan periode = 53,6% x Rp ,- = Rp ,- Penyusutan periode = 53,6% x Rp ,- = Rp ,-
171 554 Bab : Matematika Keuangan Penyusutan periode 3 = 53,6% x Rp.5.960,- = Rp ,56 Tabelnya adalah sebagai berikut : Periode/ta hun Harga Perolehan ( Rp.) Penyusutan (Rp.) Akumulasi Penyusuta n Nilai Buku , , , , , ,- Pada penyusutan metode saldo menurun berganda, besar persentase penyusutan pertahun ditetapkan sebesar dua kali dari penyusutan garis lurus. Contoh.7.: Diketahui bahwa biaya perolehan suatu aktiva adalah Rp ,-. Taksiran nilai sisa adalah Rp ,- dengan umur manfaat 4 tahun. Dengan metode saldo menurun berganda, a. Persentase penyusutan setiap periode b. Hitunglah penyusutan selama 4 tahun Penyelesaian: a. Persentase penyusutan setiap periode (setiap tahun) adalah 00% () = 50 % 4 b. Besar penyusutan tahu ke = 50% x Rp ,- = Rp ,-
172 Bab : Matematika Keuangan 555 Nilai Buku awal tahun ke = Rp ,- - Rp ,- = Rp ,- Besar penyusutan tahu ke = 50% x Rp ,- = Rp ,- Nilai Buku awal tahun ke 3 = Rp ,- - Rp ,- = Rp ,- Besar penyusutan tahu ke 3 = 50% x Rp ,- = Rp ,- S0AL LATIHAN bab. Jika terdapat suatu modal sebesar Rp ,- dengan suku bunga 5% pertahun tentukan besar bunga tunggal untuk jangka waktu a. 9 bulan b. 0 bulan. Ibu Ani meminjam modal sebesar Rp ,- jika ibu Ani harus mengembalikan dalam jangka waktu tahun dengan pengembalian sebesar 8/5 dari modal pinjaman. Tentukan besar bunga pertahun 3. jika terdapat modal sebesar Rp ,- dibungakan dengan bunga tunggal suku bunga % perbulan dalam waktu berapa agar modal menjadi 5/3 dari modal semula. 4. Jika modal sebesar Rp ,-dipinjamkan selama 3 bulan dengan suku bunga,5% pertahun. Tentukan besar bunga tunggal eksak dan biasa, jika dilakukan pada tahun a. 007 b. 008
173 556 Bab : Matematika Keuangan 5. Tentukan waktu rata-rata dan waktu eksak dari tanggal Pebruari 000 sampai 7 Mei Ali meminjam modal sebesar Rp ,-dengan cara diskonto, suku bunga yang disepakati 5% pertahun. Tentukan besar modal pinjaman yang diterima Ali setelah dpotong bunga. 7. Bakri menerima pinjaman setelah dipotong bunga Rp ,- dengan cara diskonto, suku bunga 6% pertahun. Tentukan besar pinjaman Bakri. 8. Jika suatu modal sebesar M dibungakan selama 5 tahun dengan bunga majemuk sebesar % pertahun, dan penggabungan bunga dilakukan perkuartal. Tentukan a. Frekuensi penggabungan b. Banyaknya periode bunga 9. Jika modal sebesar Rp ,- dibungakan dengan bunga majemuk, suku bunga,% perbulan. Berapa besar modal setelah a. 0 bulan b. 3 tahun 0. Jika modal sebesar ,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk dengan bunga 8% pertahun. Tentukan besar modal selama 5 tahun 9 bulan.. Jika pada awal tahun disetor sejumlah uang ke Bank sebanyak Rp ,- besar bunga 6% pertahun, maka tentukan nilai akhir rente pada akhir tahun ke-8. Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp ,- ke bank bunga yang ditawarkan 0% pertahun. Pada tahun ke-6, tentukanharga tunai rente 3. Pak karta meminjam uang di Bank sebesarrp ,- dan harus dilunasi dengan anuitas selama 3 tahun dengan pembayaran
174 Bab : Matematika Keuangan 557 tiap semester, suku bunga yang ditawarkan adalah 5% persemester. Tentukan a. Besar anuitas dengan pembulatan ribuan ke atas b. Besarnya pembulatan jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas c. Tabel rencana angsuran jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas d. Angsuran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas e. Pembayaran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas f. Besar anuitas dengan pembulatan ribuan ke bawah. g. Besarnya pembulatan jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah. h. Tabel rencana angsuran jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah. i. Angsuran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah. j. Pembayaran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah.
175 558 Bab : Matematika Keuangan
176 Diunduh dari BSE.Mahoni.com
HUBUNGAN SATUAN PANJANG DENGAN DERAJAT
GEOMETRI BIDANG Pada bab ini akan dibahas bentuk-bentuk bidang dalam ruang dimensi dua, keliling serta luasan dari bidang tersebut, bentuk ini banyak kaitannya dengan kegiatan ekonomi (bisnis dan manajemen)
MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN JILID 3
Bandung Arry Sanjoyo, dkk. MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN JILID 3 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
DURASI PEMELAJARAN KURIKULUM SMK EDISI 2004
DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : MATEMATIKA : Melatih berfikir dan bernalar secara logis dan kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide/gagasan
SILABUS ALOKASI WAKTU T M P S P D SUMBER BELAJAR MATERI PEMBELAJARAN KOMPETENSI DASAR INDIKATOR MODEL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
SILABUS KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil KODE : D.9 : 44 x 45 menit 1. Menerapkan operasi pada bilangan riil Dua atau lebih bilangan bulat
DESKRIPSI PEMELAJARAN
DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT : Matematika TUJUAN : Melatih berfikir dan bernalar secara logis dan kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide/gagasan
Matematika Semester IV
F U N G S I KOMPETENSI DASAR Mendeskripsikan perbedaan konsep relasi dan fungsi Menerapkan konsep fungsi linear Menggambar fungsi kuadrat Menerapkan konsep fungsi kuadrat Menerapkan konsep fungsi trigonometri
DESKRIPSI PEMELAJARAN - MATEMATIKA
DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT : MATEMATIKA TUJUAN : Melatih berfikir dan bernalar secara logis dan kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide/gagasan
SILABUS KEGIATAN PEMBELAJARAN
SILABUS NAMA SEKOLAH : SMK NEGERI 1 SURABAYA MATA PELAJARAN : MATEMATIKA BISMEN KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil KODE : D.9 : 36 x 45
Silabus. Kegiatan Pembelajaran Instrumen
NAMA SEKOLAH : MATA PELAJARAN : Matematika KELAS : XI STANDAR KOMPETENSI : Menerapkan logika matematka dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor KODE KOMPETENSI
KISI-KISI SOAL UJIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
0 KISI-KISI UJIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS : XII KELOMPOK : TEKNOLOGI, PERTANIAN DAN KESEHATAN BENTUK & JMl : PILIHAN GANDA = 35 DAN URAIAN = 5 WAKTU :
SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA
SILABUS MATEMATIKA SMK PROGRAM KEAHLIAN BISNIS MANAGEMEN SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENEGAH KEJURUAN SMK WIJAYA PUTRA Program Keahlian : Akuntansi, Multimedia, Teknik Kendaraan Ringan STATUS
KISI KISI LOMBA KOMPETENSI SISWA SMK TINGKAT PROVINSI JAWA TIMUR 2014
LKS SMK 214 Bidang : Matematika Teknologi KISI KISI LOMBA KOMPETENSI SISWA SMK TINGKAT PROVINSI JAWA TIMUR 214 1 Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep aljabar memaham, mengaplikasikan, menganalisai
DURASI PEMELAJARAN KURIKULUM SMK EDISI 2004
DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : MATEMATIKA : Melatih berfikir dan bernalar secara logis dan kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide/gagasan
MATEMATIKA BISNIS DAN
Bandung Arry Sanjoyo dkk MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN SMK JILID 1 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
22. MATEMATIKA SMA/MA (PROGRAM IPA)
22. MATEMATIKA SMA/MA (PROGRAM IPA) NO. 1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkarannya, menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk serta menggunakan prinsip logika matematika dalam pemecahan
DURASI PEMELAJARAN KURIKULUM SMK EDISI 2004
DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : MATEMATIKA : Melatih berfikir dan bernalar secara logis dan kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide/gagasan
BIDANG MATEMATIKA TEKNOLOGI DAN MATEMATIKA NON-TEKNOLOGI
BIDANG MATEMATIKA TEKNOLOGI DAN MATEMATIKA NON-TEKNOLOGI JENIS SOAL TULIS KOMPUTER JENIS SOAL : TULIS PILIHAN GANDA 20 S0AL ISIAN SINGKAT 10 SOAL ESSAY 10 SOAL SESI 1 120 MENIT SESI 2 90 MENIT JENIS SOAL
DURASI PEMELAJARAN KURIKULUM SMK EDISI 2004
DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : MATEMATIKA : Melatih berfikir dan bernalar secara logis dan kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide/gagasan
MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN
Bandung Arry Sanjoyo dkk MATEMATIKA BISNIS DAN MANAJEMEN SMK JILID Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DKI JAKARTA MATA PELAJARAN : MATEMATIKA
KISI-KISI PENLISAN JIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH KEJRAN (SMK) MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS : XII KELOMPOK : TEKLOGI, PERTANIAN DAN KESEHATAN KRIKLM : KTSP & JML : PILIHAN GANDA = 40, RAIAN = 5 BTIR
SILABUS ALOKASI WAKTU TM PS PI SUMBER BELAJAR KOMPETENSI DASAR INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN
SILABUS KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil KODE : D.20 : 40 x 45 menit 1. Menerapkan operasi pada bilangan riil PEMAN KEGIATAN PEMAN Mengoperasikan
B. Tujuan Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
49. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Seni, Pariwisata, Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Teknologi Kerumahtanggaan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A. Latar Belakang
51. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A.
51. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang
MATERI PELAJARAN MATEMATIKA SMA KELAS X BAB I: BENTUK PANGKAT, AKAR, DAN LOGARITMA. 1.1 Pangkat Bulat. A. Pangkat Bulat Positif
MATERI PELAJARAN MATEMATIKA SMA KELAS X BAB I: BENTUK PANGKAT, AKAR, DAN LOGARITMA 1.1 Pangkat Bulat A. Pangkat Bulat Positif B. Pangkat Bulat Negatif dan Nol C. Notasi Ilmiah D. Sifat-Sifat Bilangan Berpangkat
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 007/008 PANDUAN MATERI MATEMATIKA Kelompok Teknologi, Kesehatan, dan Pertanian PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan BALITBANG
50. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Akuntansi dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A.
50. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Akuntansi dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari
F/751/WKS1/ SMK NEGERI 2 WONOGIRI KISI-KISI PEMBUATAN SOAL UJIAN SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SMK NEGERI 2 WONOGIRI KISI-KISI PEMBUATAN SOAL UJIAN SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012 F/751/WKS1/6 01 07-07-2010 Mata Pelajaran/ Kompetensi : Matematika Tingkat : 3 Program Studi Keahlian : Semua
MATEMATIKA 2 Untuk SMK/MAK Kelas XI
i Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang Hak Cipta Buku ini telah dibeli oleh Departemen Pendidikan Nasional dari Penerbit PT Galaxy Puspa Mega MAHIR MATEMATIKA 2 Untuk
ISTIYANTO.COM. memenuhi persamaan itu adalah B. 4 4 C. 4 1 PERBANDINGAN KISI-KISI UN 2009 DAN 2010 SMA IPA
PERBANDINGAN KISI-KISI UN 009 DAN 00 SMA IPA Materi Logika Matematika Kemampuan yang diuji UN 009 UN 00 Menentukan negasi pernyataan yang diperoleh dari penarikan kesimpulan Menentukan negasi pernyataan
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 006/007 PANDUAN MATERI SMA DAN MA M A T E M A T I K A PROGRAM STUDI IPA PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS KATA PENGANTAR Dalam rangka sosialisasi kebijakan dan
Soal UN 2009 Materi KISI UN 2010 Prediksi UN 2010
PREDIKSI UN 00 SMA IPA BAG. (Berdasar buku terbitan Istiyanto: Bank Soal Matematika-Gagas Media) Logika Matematika Soal UN 009 Materi KISI UN 00 Prediksi UN 00 Menentukan negasi pernyataan yang diperoleh
1. BARISAN ARITMATIKA
MATEMATIKA DASAR ARITMATIKA BARISAN ARITMATIKA 1. BARISAN ARITMATIKA Sering disebut barisan hitung, adalah barisan bilangan yang setiap sukunya diperoleh dari suku sebelumnya dengan menambah atau mengurangi
SILABUS INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN KHARAKTER
SILABUS NAMA SEKOLAH : SMK Negeri 1 Surabaya MATA PELAJARAN : MATEMATIKA (Kelompok Teknologi Informasi) KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil
BANK SOAL MATEMATIKA IPS
BANK SOAL MATEMATIKA IPS Tim Guru Matematika SMAN 1 Kendari KENDARI 2013 1. Bentuk sederhana dari adalah... A. B. E. Jawaban : E Bentuk sederhana dari : 2. Nilai x yang memenuhi persamaan adalah... A.
Sumber:
Transformasi angun Datar Geometri transformasi adalah teori ang menunjukkan bagaimana bangun-bangun berubah kedudukan dan ukuranna menurut aturan tertentu. Contoh transformasi matematis ang paling umum
ANALISIS KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) SMK DIPONEGORO LEBAKSIU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Kompetensi Keahlian : TKR dan Farmasi Kelas : X Semester : 1 ANALISIS KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL () SMK DIPONEGORO LEBAKSIU TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Memecahkan
SILABUS ALOKASI WAKTU T M P S P I SUMBER BELAJAR MATERI PEMBELAJARAN KOMPETENSI DASAR INDIKATOR. Kuis Tes lisan Tes tertulis Pengamatan Penugasan
SILABUS KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil KODE : D.1 : 57 x 45 menit 1. Menerapkan operasi pada bilangan riil Dua atau lebih bilangan bulat
PENGEMBANGAN SILABUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013
PENGEMBANGAN SILABUS TAHUN PELAJARAN 01/013 NAMA SEKOLAH : SMK DIPONEGORO LEBAKSIU MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR KOMPETENSI : MEMECAHKAN MASALAH BERKAITAN DENGAN KONSEP OPERASI
BAB 21 TRANSFORMASI GEOMETRI 1. TRANSLASI ( PERGESERAN) Contoh : Latihan 1.
TRANSFORMASI GEOMETRI BAB Suatu transformasi bidang adalah suatu pemetaan dari bidang Kartesius ke bidang yang lain atau T : R R (x,y) ( x', y') Jenis-jenis transformasi antara lain : Transformasi Isometri
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 007/008 PANDUAN MATERI SMA DAN MA M A T E M A T I K A PROGRAM STUDI IPA PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS KATA PENGANTAR Dalam rangka sosialisasi kebijakan dan
Silabus. Kegiatan Pembelajaran Instrume n. - Menentukan nilai. Tugas individu. (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan
Silabus Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Program Semester : SMK : MATEMATIKA : XI / TEKNOLOGI, KESEHATAN, DAN PERTANIAN : GANJIL Standar Kompetensi:7. Menerapkan perbandingan, fungsi,, dan identitas
KISI-KISI SOAL UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2014/2015
KISI-KISI SOAL UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 120 menit Kelas : XII IPA Penyusun Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Materi No Soal Menggunakan
GAMBARAN UMUM SMA/MA. Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan BALITBANG DEPDIKNAS 1
GAMBARAN UMUM Pada ujian nasional tahun pelajaran 006/007, bentuk tes Matematika tingkat berupa tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda, sebanyak 0 soal dengan alokasi waktu 0 menit. Acuan yang digunakan
SILABUS. Menyimak pemahaman tentang bentuk pangkat, akar dan logaritma beserta keterkaitannya
SILABUS Nama Sekolah : SMA Mata Pelajaran : MATEMATIKA Kelas/Program : X Semester : 1 STANDAR KOMPETENSI: 1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar, dan logaritma. KOMPETENSI DASAR
KISI - KISI SOAL UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2010/2011
YAYASAN INSAN INDONESIA MANDIRI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SMK WIJAYA PUTRA Kompetensi Keahlian : Akuntansi, Multimedia, Teknik Kendaraan Ringan STATUS : TERAKREDITASI A Jalan Raya Benowo 1-3, (031) 7413061,
Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional Tahun 1986 Matematika
Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional Tahun 986 Matematika EBTANAS-SMP-86-0 Himpunan faktor persekutuan dari dan 0 {,,, 6} {,, 6} {, } {6} EBTANAS-SMP-86-0 Bilangan 0,0000 jika ditulis dalam bentuk baku.0
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelas / Semester : X / 1 Pertemuan Ke : 1-5 Alokasi : 10 x 45 Menit Standar Kompetensi : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan real Kompetensi Dasar : Menerapkan operasi pada bilangan
MATEMATIKA EBTANAS TAHUN 1992
MATEMATIKA EBTANAS TAHUN 99 EBT-SMP-9-0 Diketahui: A = {m, a, d, i, u, n} dan B = {m, a, n, a, d, o} Diagram Venn dari kedua himpunan di atas A. m a d o a m o i e e I d u a a u n e m i d o m i d a u n
1. Sebuah kawat yang panjangnya 10 meter akan dibuat bangun yang berbentuk 3 persegi panjang kongruen seperti pada gambar di bawah.
1. Sebuah kawat yang panjangnya 10 meter akan dibuat bangun yang berbentuk 3 persegi panjang kongruen seperti pada gambar di bawah. Luas maksimum daerah yang dibatasi oleh kawat tersebut adalah... 3,00
KARTU SOAL UJIAN NASIONAL MADRASAH ALIYAH NEGERI PANGKALPINANG
Jumlah 50 Bentuk Pilihan Ganda Standar Kompetensi : Menggunakan logika matematika dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor Kompetensi Dasar : Menggunakan
Ringkasan Materi Soal-soal dan Pembahasan MATEMATIKA. SD Kelas 4, 5, 6
Ringkasan Materi Soal-soal dan Pembahasan MATEMATIKA SD Kelas 4, 5, 6 1 Matematika A. Operasi Hitung Bilangan... 3 B. Bilangan Ribuan... 5 C. Perkalian dan Pembagian Bilangan... 6 D. Kelipatan dan Faktor
KISI KISI US Diberikan pernyataan majemuk berkuantor, ingkaran dari pernyataan tersebut majemuk atau pernyataan majemuk berkuantor
KISI KISI US 2014 NO BAB INDIKATOR JENIS SOAL Menentukan penarikan Diketahui buah premis (ada bentuk ekuivalen) menarik kesimpulan dari buah 1 kesimpulan dari beberapa premis premis Menentukan ingkaran
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007 PANDUAN MATERI MATEMATIKA Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Akuntansi (Bisnis dan Manajemen) PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS Hak Cipta
Kelompok : SMK Tingkat : XII ( Duabelas ) Bidang Keahlian : Ti, Kes, Sos Hari/Tanggal : Prog. Keahlian : Ti, Kes, Sos W a k t u : 0
Kelompok : SMK Tingkat : XII ( Duabelas ) Bidang Keahlian : Ti, Kes, Sos Hari/Tanggal : Prog. Keahlian : Ti, Kes, Sos W a k t u : 0 PETUNJUK UMUM :. Isikan identitas Anda ke dalam Lembar Jawaban Komputer
MATEMATIKA. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelas XI. To ali. Kelompok Penjualan dan Akuntansi. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
i MATEMATIKA Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelas XI Kelompok Penjualan dan Akuntansi To ali Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional ii Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi
Soal-soal dan Pembahasan UN Matematika SMP/MTs Tahun Pelajaran 2005/2006
Soal-soal dan Pembahasan UN Matematika SMP/MTs Tahun Pelajaran 2005/2006 1. Pada acara bakti sosial, Ani mendapat tugas membagikan 30 kg gula pasir secara merata kepada kelompok masyarakat yang tertimpa
Soal-soal dan Pembahasan UN Matematika SMP/MTs Tahun Pelajaran 2004/2005
Soal-soal dan Pembahasan UN Matematika SMP/MTs Tahun Pelajaran 2004/2005 1. Perhatikan himpunan di bawah ini! A = {bilangan prima kurang dari 11} B = { 1 < 11, bilangan ganjil} C = {semua faktor dari 12}
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Siswanto MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) for Grade X of Senior High School and Islamic Senior High School Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas
8. Nilai x yang memenuhi 2 log 2 (4x -
1. Agar F(x) = (p - 2) x² - 2 (2p - 3) x + 5p - 6 bernilai positif untuk semua x, maka batas-batas nilai p p > l 2 < p < 3 p > 3 1 < p < 2 p < 1 atau p > 2 2. Fungsi kuadrat yang mempunyai nilai maksimum
PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 MATEMATIKA PROGRAM STUDI IPA
PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 009/00 MATEMATIKA PROGRAM STUDI IPA PEMBAHAS :. Sigit Tri Guntoro, M.Si.. Jakim Wiyoto, S.Si. 3. Marfuah, M.T. 4. Rohmitawati, S.Si. PPPPTK MATEMATIKA 00 . Perhatikan
PREDIKSI UN 2012 MATEMATIKA SMP
Dibuat untuk persiapan menghadapi UN 2012 PREDIKSI UN 2012 MATEMATIKA SMP Lengkap dengan kisi-kisi dan pembahasan Mungkin (tidak) JITU 12 1. Menghitung hasil operasi tambah, kurang, kali dan bagi pada
Tabel 1. Rata-rata Nilai Ujian Nasional Secara Nasional
Rekap Nilai Ujian Nasional tahun 2011 Pada tahun 2011 rata-rata nilai matematika 7.31, nilai terendah 0.25, nilai tertinggi 10, dengan standar deviasi sebesar 1.57. Secara rinci perolehan nilai Ujian Nasional
Silabus. Tugas individu, tugas kelompok, kuis.
Silabus Nama Sekolah : SMK Mata Pelajaran : MATEMATIKA Kelas / Program : X / TEKNOLOGI, KESEHATAN, DAN PERTANIAN Semester : GANJIL Sandar Kompetensi: 1. Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi
C. 9 orang B. 7 orang
1. Dari 42 siswa kelas IA, 24 siswa mengikuti ekstra kurikuler pramuka, 17 siswa mengikuti ekstrakurikuler PMR, dan 8 siswa tidak mengikuti kedua ekstrakurikuler tersebut. Banyak siswa yang mengikuti kedua
Aktif Menggunakan Matematika
i Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang Hak Cipta Buku ini dibeli oleh Departemen Pendidikan Nasional dari Penerbit PT. Visindo Media Persada Aktif Menggunakan Matematika
LATIHAN SOAL PROFESIONAL
LATIHAN SOAL PROFESIONAL 1. Jika 7 x = 8; maka 7 +x =. A. 686 B. 512 C. 4 D. 256 E. 178 7 x = 2 (7 x ) = 2 7 x = 2 7 x+ = 7. 7 x = 7. 2 = 4. 2 = 686 2. Panjang sisi miring segitiga siku-siku sama kaki
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PERANGKAT PEMBELAJARAN PROGRAM TAHUNAN ( PROTA ) Mata Pelajaran : Matematika Program : Umum Satuan Pendidikan : SMA / MA Kelas/Semester : X / 1 Nama Guru NIP/NIK
SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 0/0. Akar-akar persamaan kuadrat x +ax - 40 adalah p dan q. Jika p - pq + q 8a, maka nilai a... A. -8 B. -4 C. 4 D. 6 E. 8 BAB III Persamaan
Bilangan Real. Modul 1 PENDAHULUAN
Modul 1 Bilangan Real S PENDAHULUAN Drs. Soemoenar emesta pembicaraan Kalkulus adalah himpunan bilangan real. Jadi jika akan belajar kalkulus harus paham terlebih dahulu tentang bilangan real. Bagaimanakah
STANDAR KOMPETENSI. 5. Menggunakan konsep matriks, vektor, dan transformasi dalam pemecahan masalah KOMPETENSI DASAR
STANDAR KOMPETENSI 5. Menggunakan konsep matriks, vektor, dan transformasi dalam pemecahan masalah KOMPETENSI DASAR 5.1 Menggunakan sifat-sifat dan operasi matriks untuk menunjukkan bahwa suatu matriks
OSN Guru Matematika SMA (Olimpiade Sains Nasional)
ocsz Pembahasan Soal OSN Guru 2012 OLIMPIADE SAINS NASIONAL KHUSUS GURU MATEMATIKA SMA OSN Guru Matematika SMA (Olimpiade Sains Nasional) Disusun oleh: Pak Anang Halaman 2 dari 26 PEMBAHASAN SOAL OLIMPIADE
PROGRAM PEMBELAJARAN KELAS VII SEMESTER I. Mata Pelajaran : Matematika
PROGRAM PEMBELAJARAN KELAS VII SEMESTER I Mata Pelajaran : Matematika 191 PROGRAM SEMESTER TAHUN PELAJARAN 20 / 20 Nama Sekolah : Kelas/ Semester : VII/1 Mata Pelajaran : Matematika Aspek : BILANGAN Standar
Dari gambar jaring-jaring kubus di atas bujur sangkar nomor 6 sebagai alas, yang menjadi tutup kubus adalah bujur sangkar... A. 1
1. Diketahui : A = { m, a, d, i, u, n } dan B = { m, e, n, a, d, o } Diagram Venn dari kedua himpunan di atas adalah... D. A B = {m, n, a, d} 2. Jika P = bilangan prima yang kurang dari Q = bilangan ganjil
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008
UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 PANDUAN MATERI MATEMATIKA Program Keahlian Akuntansi dan Penjualan PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan BALITBANG
Jika persegi panjang ABCD di atas diketahui OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... A. 78 cm. C. 26 cm B. 52 cm. D. 13 cm Kunci : C Penyelesaian :
1. Jika persegi panjang ABCD di atas diketahui OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... A. 78 cm C. 26 cm B. 52 cm D. 13 cm 2. Gambar disamping adalah persegi panjang. Salah satu sifat persegi panjang adalah
BAB II PERSAMAAN KUADRAT DAN FUNGSI KUADRAT
BAB II PERSAMAAN KUADRAT DAN FUNGSI KUADRAT 1. Menentukan koefisien persamaan kuadrat 2. Jenis-jenis akar persamaan kuadrat 3. Menyusun persamaan kuadrat yang akarnya diketahui 4. Fungsi kuadrat dan grafiknya
MODUL MATEMATIKA SMA IPA Kelas 11
SMA IPA Kelas DEFINISI Transformasi merupakan pemetaan titik, garis atau bidang ke titik, garis atau bidang lain pada bidang yang sama. Misalkan transformasi T memetakan titik P (, y) ke titik P(, y) dan
Pembahasan Soal UN Matematika SMP Tahun Ajaran 2010/2011 Paket 12
Pembahasan Soal UN Matematika SMP Tahun Ajaran 2010/2011 Paket 12 Tim Pembahas : Th. Widyantini Untung Trisna Suwaji Wiworo Choirul Listiani Estina Ekawati Nur Amini Mustajab PPPPTK Matematika Yogyakarta
MATEMATIKA. Sesi TRANSFORMASI 2 CONTOH SOAL A. ROTASI
MATEMATIKA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 14 Sesi NGAN TRANSFORMASI A. ROTASI Rotasi adalah memindahkan posisi suatu titik (, y) dengan cara dirotasikan pada titik tertentu sebesar sudut tertentu.
PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 MATEMATIKA PROGRAM STUDY IPA
PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 009/010 MATEMATIKA PROGRAM STUDY IPA PEMBAHAS : 1. Sigit Tri Guntoro, M.Si.. Jakim Wiyoto, S.Si. 3. Marfuah, M.T. 4. Rohmitawati, S.Si. PPPPTK MATEMATIKA 010 1. Perhatikan
SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2007/2008
SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 7/8. Diketahui premis premis : () Jika Badu rajin belajar dan patuh pada orang tua, maka Ayah membelikan bola basket () Ayah tidak membelikan
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PERANGKAT PEMBELAJARAN PROGRAM SEMESTER Mata Pelajaran : Matematika Satuan Pendidikan : SMA / MA Kelas/Semester : X / 1 Nama Guru NIP/NIK Sekolah : : : 275 PROGRAM
MATEMATIKA DASAR 16. Jika maka Jawab : E 17. Diketahui premis-premis sebagai berikut : 1) Jika maka 2) atau Jika adalah peubah pada himpunan bilangan real, nilai yang memenuhi agar kesimpulan dari kedua
MATEMATIKA DASAR TAHUN 1987
MATEMATIKA DASAR TAHUN 987 MD-87-0 Garis singgung pada kurva y di titik potong nya dengan sumbu yang absisnya positif mempunyai gradien 0 MD-87-0 Titik potong garis y + dengan parabola y + ialah P (5,
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN PERSIAPAN UN 2014
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN PERSIAPAN UN 04 DISUSUN OLEH AHMAD THOHIR MA FUTUHIYAH JEKETRO GUBUG GROBOGAN JATENG KATA PENGANTAR Tulisan yang sangat sederhana ini berisi kisi-kisi UN 0 disertai contoh soal
C34 MATEMATIKA. Pak Anang. Rabu, 18 April 2012 ( ) Pembahasan soal oleh
DOKUMEN NEGARA C MATEMATIKA SMA/MA IPA MATEMATIKA SMA/MA IPA Pak Anang http://pakhttp://pak-anang.blogspot.com MATEMATIKA Rabu, 8 April 0 (08.00 0.00) A-MAT-ZD-M9-0/0 Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan-BALITBANG-KEMDIKBUD
D46 MATEMATIKA. Pak Anang MATEMATIKA SMA/MA IPA. Rabu, 18 April 2012 ( )
SANGAT RAHASIA D Pembahasan soal oleh http://pak-anang.blogspot.com Pak Anang http://pak-anang.blogspot.com MATEMATIKA Rabu, 8 April 0 (08.00 0.00) A-MAT-ZD-M0-0/0 SANGAT RAHASIA Pembahasan soal oleh http://pak-anang.blogspot.com
KUMPULAN SOAL SOAL. SOAL PILIHAN GANDA A. Berilah tanda silang (X) paad huruf a, b, c, d, e sesuai dengan pilihan jawaban yang paling tepat!
KUMPULAN SOAL SOAL APROKSIMASI KESALAHAN SOAL PILIHAN GANDA A. Berilah tanda silang (X) paad huruf a, b, c, d, e sesuai dengan pilihan jawaban ang paling tepat!. Banakna angka sinifikan dari bilangan,
Matematika Proyek Perintis I Tahun 1979
Matematika Proyek Perintis I Tahun 979 MA-79-0 Irisan himpunan : A = { x x < } dan himpunan B = { x < x < 8 } ialah himpunan A. { x x < 8 } { x x < } { x < x < 8 } { x < x < } { x < x } MA-79-0 Apabila
TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA
DOKUMEN SEKOLAH MATEMATIKA SMA/MA IPA PAKET NAMA : NO.PESERTA : TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH TAHUN UN PELAJARAN 0/0 SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA PUSPENDIK SMAYANI SMA ISLAM AHMAD YANI BATANG 0 TRY
TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA
DOKUMEN SEKOLAH MATEMATIKA SMA/MA IPA PAKET NAMA : NO.PESERTA : TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH TAHUN UN PELAJARAN 0/0 SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA PUSPENDIK SMAYANI SMA ISLAM AHMAD YANI BATANG 0 TRY
SMA / MA IPA Mata Pelajaran : Matematika
Latihan Soal UN 00 Paket Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah IPA SMA / MA IPA Mata Pelajaran : Matematika Dalam UN berlaku Petunjuk Umum seperti ini :. Isikan identitas Anda ke dalam Lembar Jawaban
DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI TAHUN PELAJARAN 2013/2014 LEMBAR SOAL
DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI TAHUN PELAJARAN 0/0 LEMBAR SOAL Mata Pelajaran : Matematika Jenjang : SMA/MA Program Studi : IPA Hari/Tanggal : Jam : PETUNJUK UMUM. Isilah lembar jawaban tes uji coba Ujian
KISI-KISI LOGIC WAR. SK KD Indikator. Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor
KISI-KISI LOGIC WAR SK KD Indikator Menentukan nilai kebenaran dari suatu berkuantor membedakan mana pernyataan dan yang bukan pernyataan Menggunakan prinsip logika matematika yang berkaitan dengan berkuantor
Lingkaran. A. Persamaan Lingkaran B. Persamaan Garis Singgung Lingkaran
Bab Sumber: www.panebiancod.com Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu merumuskan persamaan lingkaran dan menggunakannya dalam pemecahan masalah; menentukan persamaan garis singgung pada lingkaran
E59 MATEMATIKA. Pak Anang. Rabu, 18 April 2012 ( ) Pembahasan soal oleh
DOKUMEN NEGARA SANGAT RAHASIA Pembahasan soal oleh http://pak-anang.blogspot.com E9 MATEMATIKA SMA/MA IPA MATEMATIKA SMA/MA IPA Pak Anang http://pakhttp://pak-anang.blogspot.com MATEMATIKA Rabu, 8 April
C. y = 2x - 10 D. y = 2x + 10
1. Diantara himpunan berikut yang merupakan himpunan kosong adalah... A. { bilangan cacah antara 19 dan 20 } B. { bilangan genap yang habis dibagi bilangan ganjil } C. { bilangan kelipatan 3 yang bukan
02. Jika. 0, maka nilai x + y =... 3 = A. 14 B. 16 C. 18 D. 20 E. 21. ; a dan b bilangan bulat, maka a + b =... A. 3 B. 2 C. 2 D. 3 E.
PILIHLAH JAWABAN YANG PALING TEPAT 0. Diketahui : Premis : Jika laut berombak besar, maka nelayan tidak berlayar Premis : Jika nelayan tidak berlayar, maka tidak ada ikan di pasar. Negasi dari kesimpulan
SOAL UN DAN PENYELESAIANNYA 2008
1. Ingkaran dari pernyataan, "Beberapa bilangan prima adalah bilangan genap." adalah... Semua bilangan prima adalah bilangan genap Semua bilangan prima bukan bilangan genap Beberapa bilangan prima bukan
Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008
Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008. Diketahui premis premis : () Jika hari hujan, maka udara dingin. (2) Jika udara dingin, maka ibu memakai baju hangat. (3) Ibu tidak memakai baju hangat
