1.6 RULES OF INFERENCE

dokumen-dokumen yang mirip
1.6 RULES OF INFERENCE

Strategi Pembuktian. Finding proofs can be a challenging business

PERANAN INDUKSI MATEMATIKA DALAM PEMBUKTIAN MATEMATIKA

METODA PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA

METODA PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA

BAB I NOTASI, KONJEKTUR, DAN PRINSIP

METODA PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

METODA PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA

CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION

CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION

2 BILANGAN PRIMA. 2.1 Teorema Fundamental Aritmatika

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012

MODUL PERKULIAHAN EDISI 1 MATEMATIKA DISKRIT

Matematika Industri I

METODA PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA

ATURAN INFERENSI. Dr. Julan HERNADI & (Asrul dan Enggar) Pertemuan 6 FONDASI MATEMATIKA. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unmuh Ponorogo

II. SISTEM BILANGAN RIIL. Handout Analisis Riil I (PAM 351)

1.3 Pembuktian Tautologi dan Kontradiksi. Pernyataan majemuk yang selalu bernilai benar bagaimanapun nilai proposisi

PTI 206 Logika. Semester I 2007/2008. Ratna Wardani

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

Contoh-contoh soal induksi matematika

1 INDUKSI MATEMATIKA

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

BAB I LOGIKA MATEMATIKA

Selamat Datang. MA 2151 Matematika Diskrit. Semester I 2008/2009

LOGIKA MATEMATIKA (Pendalaman Materi SMA)

SISTEM BILANGAN REAL

BILANGAN. Bilangan Satu Bilangan Prima Bilangan Komposit. Bilangan Asli

PEMBAHASAN. Teorema 1. Tidak ada bilangan asli N yang lebih besar dari semua bilangan bulat lainnya.

PENERAPAN INDUKSI MATEMATIKA DALAM PEMBUKTIAN MATEMATIKA

BILANGAN DAN KETERBAGIAN BILANGAN BULAT

MATEMATIKA DISKRIT. Logika

1 SISTEM BILANGAN REAL

Logika Matematika BAGUS PRIAMBODO. Tautologi dan Kontradiksi Argumen 1/Penarikan kesimpulan yang valid: modus ponen, modus tolen.

Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Gadjah Mada 1

TEKNIK BUKTI: I Drs. C. Jacob, M.Pd

Selamat Datang. MA 2151 Matematika Diskrit. Semester I, 2012/2013. Rinovia Simanjuntak & Edy Tri Baskoro

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

1 SISTEM BILANGAN REAL

Contoh : 1..Buktikan bahwa untuk semua bilangan bulat n, jika n adalah bilangan ganjil, maka n 2 adalah bilangan ganjil! Jawab :

Pernyataan adalah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak sekaligus benar dan salah.

BAB 4. TEOREMA FERMAT DAN WILSON

PENDAHULUAN INDUKSI MATEMATIKA Di dalam Matematika, sebuah pernyataan atau argumen dan bahkan sebuah rumus sekalipun tidak hanya sekedar dibaca.

Himpunan dan Fungsi. Modul 1 PENDAHULUAN

PENALARAN DALAM MATEMATIKA

LOGIKA MATEMATIKA. LA - WB (Lembar Aktivitas Warga Belajar) MATEMATIKA PAKET C TINGKAT V DERAJAT MAHIR 1 SETARA KELAS X


PERTEMUAN Logika Matematika

BAB II TAUTOLOGI DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBUKTIAN

PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIK. OLEH: DADANG JUANDI JurDikMat FPMIPA UPI 2008

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

KONSTRUKSI SISTEM BILANGAN

- Mahasiswa memahami dan mampu membuat kalimat, mengevaluasi kalimat dan menentukan validitas suatu kalimat

LOGIKA MATEMATIKA. d. 6 + a > -4 e. 7 adalah faktor dari 63. c. 4 x 6 2. Tentukan variabel dan himpunan penyelesaian dari: a.

1. Memahami pengertian proposisi dan predikat. 3. Memahami penggunaan penghubung dan tabel kebenaran

1 SISTEM BILANGAN REAL

LOGIKA SIMBOLIK. Bagian II. September 2005 Pengantar Dasar Matematika 1

KUANTOR. A. Fungsi Pernyataan

Logika Proposisi. Adri Priadana ilkomadri.com

Logika Proposisi 1. Definisi 1. (Proposisi) Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya sekaligus.

5.3 RECURSIVE DEFINITIONS AND STRUCTURAL INDUCTION

APOTEMA: Jurnal Pendidikan Matematika. Volume 2, Nomor 2 Juli 2016 p ISSN BILANGAN SEMPURNA GENAP DAN KEPRIMAAN BI LANGAN MERSENNE

G a a = e = a a. b. Berdasarkan Contoh 1.2 bagian b diperoleh himpunan semua bilangan bulat Z. merupakan grup terhadap penjumlahan bilangan.

Silogisme Hipotesis Ekspresi Jika A maka B. Jika B maka C. Diperoleh, jika A maka C

PENARIKAN KESIMPULAN/ INFERENSI

Selamat Datang. MA 2251 Matematika Diskrit. Semester II, 2016/2017. Rinovia Simanjuntak & Saladin Uttunggadewa

PENGANTAR TOPOLOGI. Dosen Pengampu: Siti Julaeha, M.Si EDISI PERTAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2015

DAFTAR ISI 3 TEORI KONGRUENSI 39 4 TEOREMA FERMAT DAN WILSON 40

PERTEMUAN KE 3 F T T F T F T F

n suku Jadi himpunan bilangan asli dapat disajikan secara eksplisit N = { 1, 2, 3, }. Himpunan bilangan bulat Z didenisikan sebagai

BAB 2 LANDASAN TEORI

PETA PERKULIAHAN MATA KULIAH : LOGIKA MATEMATIKA KODE MATA KULIAH : GD 321. SEMESTER : GANJIL (5) DOSEN : MAULANA, S.Pd., M.Pd.

Logika Matematika Diskret (TKE132107) Program Studi Teknik Elektro, Unsoed

Struktur Diskrit. Catatan kuliah Struktur Diskrit Program Ilmu Komputer. disusun oleh Yusuf Hartono Fitri Maya Puspita

LOGIKA. /Nurain Suryadinata, M.Pd

TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan beberapa definisi teori pendukung dalam proses

MATEMATIKA DISKRIT LOGIKA

B I L A N G A N 1.1 SKEMA DARI HIMPUNAN BILANGAN. Bilangan Kompleks. Bilangan Nyata (Riil) Bilangan Khayal (Imajiner)

Teori Bilangan (Number Theory)

Logika. Arum Handini Primandari, M.Sc. Ayundyah Kesumawati, M.Si.

I. Aljabar Himpunan Handout Analisis Riil I (PAM 351)

BAB 6 LOGIKA MATEMATIKA

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan

Logika Logika merupakan dasar dari semua penalaran (reasoning). Penalaran didasarkan pada hubungan antara proposisi atau pernyataan (statements).

PENGERTIAN. Proposisi Kalimat deklaratif yang bernilai benar (true) atau salah (false), tetapi tidak keduanya. Nama lain proposisi: kalimat terbuka.

Metoda Pembuktian: Induksi Matematika

DASAR-DASAR LOGIKA. Pertemuan 2 Matematika Diskrit

1. Ubahlah pernyataan ke dalam berikut ke dalam bentuk Jika p maka q.

BAB I PENDAHULUAN. a. Apa sajakah hukum-hukum logika dalam matematika? b. Apa itu preposisi bersyarat?

Jurnal Apotema Vol.2 No. 2 62

kusnawi.s.kom, M.Eng version

Mendeskripsikan Himpunan

Materi-3 PROPOSITION LOGIC. Properties of Sentences Inference Methods Quantifier Sentences

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

SOLUSI OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT PROPINSI TAHUN 2004

LOGIKA MATEMATIKA I. PENDAHULUAN

Materi 4: Logika. I Nyoman Kusuma Wardana. STMIK STIKOM Bali

Teori Dasar Himpunan. Julan HERNADI. December 27, Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah, Ponorogo

Teori Dasar Logika (Lanjutan)

Transkripsi:

1.6 RULES OF INFERENCE 1

Argumen Argumen dalam logika adalah kumpulan sejumlah proposisi. Seluruh proposisi dalam suatu argumen, kecuali proposisi terakhir, disebut premis. Sedangkan proposisi terakhir disebut kesimpulan. Suatu argumen dikatakan valid, apabila kebenaran seluruh premis mengakibatkan kebenaran dari kesimpulan. Untuk mendeduksi proposisi baru dari proposisi yang telah ada sebelumnya, digunakan aturan inferensi untuk membangun argumen yang valid. Aturan inferensi merupakan alat untuk menentukan kebenaran suatu argumen. Selain itu, dapat juga digunakan tabel kebenaran untuk menunjukkan bahwa suatu argumen valid. Namun ini tidak efisien dilakukan untuk argumen yang memuat banyak proposisi. 2

Contoh Argumen Jika Anda memiliki password terkini, maka Anda dapat mengakses jaringan. Anda memiliki password terkini. Maka, Anda dapat mengakses jaringan. Argumen ini berbentuk: p q p q 3

Aturan Inferensi 4

Aturan Inferensi (2) 5

Soal 1 Tunjukkan bahwa premis: Matahari tidak bersinar sore ini dan sore ini lebih dingin dari kemarin, Kita akan berenang hanya jika matahari bersinar, Jika kita tidak berenang, maka kita akan naik perahu, dan Jika kita naik perahu, maka kita akan sampai ke rumah sebelum matahari terbenam akan memberikan kesimpulan: Kita akan sampai ke rumah sebelum matahari terbenam. 6

Soal 2 Tunjukkan bahwa premis Jika Anda mengirim e-mail, maka saya akan menyelesaikan penulisan program, Jika Anda tidak mengirim email, maka saya akan tidur lebih awal, Jika saya tidur lebih awal, maka saya akan bangun dengan segar akan memberikan kesimpulan: Jika saya tidak menyelesaikan penulisan program, maka saya akan bangun dengan segar. 7

Argumen yang Tidak Valid ((p q) q) p bukan merupakan tautologi Contoh 1. Jika Anda mengerjakan setiap soal dalam buku teks, maka Anda akan belajar matematika diskrit. Anda belajar matematika diskrit. Jadi, Anda mengerjakan setiap soal dalam buku teks. 8

Aturan Inferensi untuk Pernyataan Berkuantor x P(x) P(c) P(c) utk setiap c x P(x) x P(x) P(c) utk suatu c P(c) utk suatu c x P(x) Universal instantiation Universal generalization Existential instantiation Existential generalization 9

Soal 3 Tunjukkan bahwa premis: Seorang mahasiswa di kelas ini tidak membaca buku teks dan Semua peserta kelas ini lulus ujian memberikan kesimpulan: Seseorang yang lulus ujian tidak membaca buku teks. 10

Universal Modus Ponens x(p(x) Q(x)) P(a), dengan a suatu anggota dari domain Q(a) Soal 4. Asumsikan bahwa pernyataan Untuk setiap bilangan bulat positif n, jika n>4, maka n 2 <2 n adalah benar. Gunakan universal modus ponens untuk menunjukkan bahwa 100 2 <2 100. 11

1.7 PENGANTAR BUKTI 12

Terminologi Teorema adalah pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya. Teorema yang dianggap kurang penting (kurang berkontribusi) biasanya disebut proposisi. Kebenaran teorema dibuktikan dengan menggunakan bukti. Bukti adalah argumen valid yang menyatakan kebenaran suatu teorema. Peryataan dalam suatu bukti dapat memuat aksioma (atau postulat), yaitu pernyataan yang diasumsikan benar. 13

Terminologi (2) Teorema yang kurang penting, namun membantu dalam membuktikan hasil lain disebut lema. Bukti yang sulit biasanya akan lebih mudah dipahami jika menggunakan sekumpulan lema, yang setiap lemanya dibuktikan tersendiri. Akibat adalah teorema yang dapat dibuktikan secara langsung dari teorema lain. Konjektur adalah pernyataan yang diajukan untuk menjadi pernyataan yang benar, biasanya berdasarkan bukti parsial, argumentasi heuristik atau intuisi seorang ahli. Apabila bukti untuk suatu konjektur ditemukan, maka konjektur akan menjadi teorema. Seringkali konjektur ditunjukkan salah, sehingga tidak menjadi teorema. 14

Kuantifikasi Universal dalam Teorema Banyak teorema yang berlaku untuk seluruh anggota dari suatu domain, seperti bilangan bulat atau bilangan real. Walaupun pernyataan yang demikian memerlukan kuantifikasi universal, dalam teorema seringkali dihilangkan. Contoh 2. Pernyataan Jika x > y, dengan x dan y bilangan real positif, maka x 2 > y 2. Sebenarnya bermakna Untuk setiap bilangan real positif x dan y, jika x > y, maka x 2 > y 2. 15

Bukti Langsung dan Bukti Tak Langsung 1. Bukti Langsung Implikasi p q dapat dibuktikan dengan menunjukkan jika p benar maka q juga harus benar. Soal 5. Berikan bukti langsung dari Jika n bilangan bulat ganjil maka n 2 ganjil. 2. Bukti Tak Langsung (Bukti dengan Kontraposisi) Karena p q ekivalen dengan q p maka p q dapat dibuktikan dengan menunjukkan bhw q p benar. Soal 6. Berikan bukti tak langsung dari Jika n 2 ganjil maka n ganjil. 16

Bukti Kosong dan Bukti Trivial Bukti kosong Jika hipotesis p dari implikasi p q salah, maka p q selalu benar, apapun nilai kebenaran dari q. Soal 7. P(n): Jika n > 1, maka n 2 > 1. Bukti trivial Tunjukkan P(0) benar. Jika konklusi q dari implikasi p q benar, maka p q selalu benar, apapun nilai kebenaran dari p. Soal 8. P(n): Jika a, b integer positif dengan a b, maka a n b n. Tunjukkan P(0) benar. 17

Bukti dengan Kontradiksi Bukti Tak Langsung (Bukti dengan Kontradiksi) Misalkan kita ingin membuktikan bahwa pernyataan p benar. Di samping itu, kita bisa menemukan suatu kontradiksi q sehingga p q benar. Karena q salah, tetapi p q benar, kita dapat menyimpulkan bahwa p salah, yang berarti p benar. Soal 9. 1. Tunjukkan bahwa sedikitnya ada 4 hari yang sama dari pilihan 22 hari sebarang. 2. Buktikan bahwa 2 irasional. 18

Bukti dengan Kontraposisi vs Kontradiksi Bukti dengan kontraposisi dapat dituliskan kembali sebagai bukti dengan kontradiksi. Dalam bukti dari p q dengan kontraposisi, kita mengasumsikan bahwa q benar. Kita kemudian menunjukkan bahwa p juga harus benar. Untuk menuliskan kembali bukti dengan kontraposisi dari p q sebagai bukti dengan kontradiksi, kita misalkan bahwa p dan q keduanya benar. Akibatnya, kita menggunakan langkah dalam bukti dari q p untuk menunjukkan bahwa p benar. Ini akan memberikan kontradiksi p p, yang merupakan akhir dari bukti. Soal 10. Berikan bukti dengan kontradiksi dari Soal 6 Jika n 2 ganjil maka n ganjil. 19

Bukti dengan Ekivalensi Untuk membuktikan teorema yang menggunakan pernyataan bikondisional, yaitu pernyataan dalam bentuk p q, kita menunjukkan bahwa p q dan q p keduanya benar. Pendekatan ini berdasarkan tautologi (p q) (p q) (q p). Soal 11. Buktikan teorema Jika n bilangan bulat, maka n ganjil jika dan hanya jika n 2 ganjil. 20

Contoh Penyangkal Untuk menunjukkan bahwa suatu pernyataan dalam bentuk x P(x) salah, kita hanya memerlukan satu contoh penyangkal, yaitu, contoh x sehingga P(x) salah. Contoh 3. Tunjukkan bahwa pernyataan setiap bilangan bulat positif adalah hasil tambah dari tiga bilangan kuadrat. adalah salah. Solusi. Pernyataan ini benar untuk beberapa nilai, mis. 1=0 2 +0 2 +1 2 ; 2=0 2 +1 2 +1 2 ; 3=1 2 +1 2 +1 2 ; 4=0 2 +0 2 +2 2 ; 5=0 2 +1 2 +2 2 ; 6=1 2 +1 2 +2 2. Tapi kita tidak dapat mengekspresikan seperti di atas untuk bilangan 7. Jadi bilangan 7 merupakan contoh penyangkal dari pernyataan di atas. 21

Kesalahan dalam Bukti Soal 12. Apa yang salah dalam bukti bahwa 1 = 2 ini? Bukti: Misalkan a dan b bilangan bulat positif. Langkah Alasan 1. a = b Diberikan 2. a 2 = ab Kalikan kedua ruas di (1) dengan a 3. a 2 b 2 = ab b 2 Kurangkan kedua ruas di (2) dengan b 2 4. (a b)(a + b) = b(a b) Faktorkan kedua ruas di (3) 5. a + b = b Bagi kedua ruas di (4) dengan a b 6. 2b = b Ganti a dengan b di (5) dan sederhanakan 7. 2 = 1 Bagi kedua ruas di (6) dengan b 22

1.8 PROOF METHODS AND STRATEGY 23

Pembuktian Finding proofs can be a challenging business Matematikawan bekerja dengan memformulasi konjektur dan kemudian mencoba membuktikan bahwa konjektur tersebut benar atau salah. Ketika dihadapkan dengan pernyataan yang akan dibuktikan: terjemahkan setiap istilah dengan definisinya analisa arti dari hipotesis dan kesimpulan coba membuktikan dengan menggunakan salah satu dari metoda pembuktian Jika pernyataan berupa implikasi; coba buktikan dengan bukti langsung. Bila gagal, coba dengan bukti tak langsung. Bila tidak berhasil juga coba dengan bukti kontradiksi.

Bukti dengan Kasus Kadangkala kita tidak dapat membuktikan teorema dengan menggunakan argumen yang berlaku untuk semua kasus, sehingga digunakan bukti dengan mempertimbangkan kasus yang berbeda secara terpisah. Untuk membuktikan pernyataan dalam bentuk tautologi (p 1 p 2 p n ) q [(p 1 p 2 p n ) q] [(p 1 q) (p 2 q) (p n q)] dapat digunakan sebagai aturan inferensi. Soal 13. Buktikan bahwa jika n adalah bilangan bulat, maka n 2 n. 25

Contoh 4 Buktikan bahwa jika n bulat dan tidak habis dibagi oleh 2 atau 3 maka n 2 1 habis dibagi 24. Solusi. n bilangan bulat dapat dinyatakan sebagai n=6k+j, j {0,1,2,3,4,5}. Karena n tidak habis dibagi oleh 2 atau 3 maka n=6k+1 atau n=6k+5. Jadi ada 2 kasus yg perlu diperhatikan.

Bukti Exhaustive Beberapa teorema dapat dibuktikan dengan memperhatikan sejumlah kecil contoh. Bukti demikian disebut bukti exhaustive. Bukti exhaustive merupakan salah satu bentuk bukti dengan kasus di mana setiap kasus memeriksa satu contoh tertentu. Secara umum, suatu pernyataan tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan contoh, kecuali jika domain pembicaraan dapat direduksi menjadi contoh yang jumlahnya berhingga dan bukti yang diberikan mempertimbangkan semua contoh tersebut. 27

Contoh 5 Tunjukkan bahwa (n + 1) 3 3 n jika n bilangan bulat positif dengan n 4. Solusi. Digunakan bukti dengan exhaustion. Kita hanya perlu membuktikan (n + 1) 3 3 n untuk n = 1, 2, 3, dan 4. Untuk n = 1, (n + 1) 3 = 2 3 = 8 dan 3 n = 31 = 3; untuk n = 2, (n + 1) 3 = 33 = 27 dan 3 n = 32 = 9; untuk n = 3, (n + 1) 3 = 43 = 64 dan 3 n = 33 = 27; dan untuk n = 4, (n + 1) 3 = 53 = 125 dan 3 n = 34 = 81. Dalam keempat kasus ini, terlihat bahwa (n + 1) 3 3 n. Kita telah menggunakan bukti dengan exhautive bahwa (n + 1) 3 3 n jika n bilangan bulat positif dengan n 4. 28

Contoh 6 Tunjukkan bhw tidak ada solusi bulat x dan y yang memenuhi x 2 + 3y 2 = 8. Solusi. Karena x 2 > 8 bila x 3 dan 3y 2 > 8 bila y 2, maka kasus tersisa yang harus diperiksa adalah untuk x = -2, -1, 0, 1, atau 2 dan y = -1, 0 atau 1. Untuk nilai x demikian didapat x 2 = 0, 1 atau 4, sedangkan 3y 2 = 0 atau 3. Jadi nilai maksimum dari x 2 +3y 2 = 7. Dengan demikian tidak ada x dan y bulat yang memenuhi x 2 +3y 2 =8.

Bukti Eksistensi 1. Bukti Eksistensi Konstruktif Contoh 7. Tunjukkan bahwa ada bilangan bulat positif yang dapat dituliskan sebagai jumlah dua bilangan pangkat 3. Solusi. 1729 = 10 3 + 9 3 = 12 3 + 1 3. 2. Bukti Eksistensi Nonkonstruktif Contoh 8. Tunjukkan bhw ada bilangan irrasional x dan y sehingga x y rasional. Solusi. Kita tahu bahwa 2 irrasional. Pandang 2 2. Jika ia rasional maka terbukti. Jika tidak, perhatikan ( 2 2 ) 2 = 2 2 =2. Jadi terbukti ada pasangan (x= 2, y = 2) atau (x= 2 2 dan y= 2) yg salah satunya memenuhi x y rasional. 30

Bukti Ketunggalan Dua bagian dalam bukti ketunggalan: Eksistensi Menunjukkan bahwa ada elemen x yg memenuhi sifat yg diinginkan. Ketunggalan Menunjukkan bahwa jika y x maka y tidak memenuhi sifat yg diinginkan. Contoh 9. Tunjukkan bahwa setiap bilangan bulat mempunyai invers penjumlahan yang tunggal. Solusi. Jika p bulat maka p+q = 0 ketika q = -p, dan q juga bulat. Untuk menunjukkan ketunggalan, misalkan ada r bulat dengan r q dan p+r=0. Maka p+q = p+r. Dengan mengurangkan kedua ruas dgn p didapat q=r, kontradiksi dgn r q. Jadi ada bilangan bulat q yang tunggal sehingga p+q=0. 31

Proses Maju & Mundur Apa pun metoda yang digunakan, dalam melakukan proses pembuktian diperlukan titik awal. Proses maju: hipotesis aksioma & teorema kesimpulan Namun seringkali, proses maju sukar untuk digunakan dalam pembuktian sesuatu yang tidak sederhana. Sehingga kita harus mengkombinasikan dengan proses mundur.

Contoh 10 Tunjukkan bahwa jika segitiga siku-siku RST dengan sisi tegak r, s, dan sisi miring t mempunyai luas t 2 /4, maka segitiga tersebut sama kaki. Solusi. A: Segitiga RST dengan sisi r, s dan sisi miring t dengan luas t 2 /4. A1: rs/2 = t 2 /4 A2: r 2 +s 2 = t 2 A3: rs/2 = (r 2 +s 2 )/4 A4: (r 2-2rs+s 2 t ) = 0 A5: (r-s) 2 = 0. B2: r-s = 0 B1: r = s B: Segitiga RST sama kaki. r s

Contoh 10 (2) Bukti 1. Dari hipotesis dan rumus luas segitiga siku-siku, Luas RST = rs/2 = t 2 /4. Hukum Pythagoras memberikan r 2 +s 2 =t 2, dan bila r 2 +s 2 disubstitusikan kedalam t 2, dengan sedikit manipulasi aljabar didapat (r-s) 2 =0. Sehingga r=s dan segitiga RST samakaki. Bukti 2. Hipotesis dengan hukum Pythagoras menghasilkan r 2 +s 2 =2rs; sehingga (r-s) = 0. Maka segitiga RST samakaki.

Contoh 11 Tunjukkan bahwa untuk setiap bilangan real positif x dan y yang berbeda berlaku (x+y)/2 > x y. Solusi. B: (x+y)/2 > x y B1: (x+y) 2 /4 > xy B2: (x+y) 2 > 4xy B3: x 2 +2xy+y 2 > 4xy B4: x 2-2xy+y 2 > 0 B5: (x-y) 2 > 0 B6: x y. Bukti. Karena x dan y berbeda maka (xy) 2 > 0. Ini berarti x 2 +2xy+y 2 > 4xy. Sehingga, (x+y) 2 > 4xy yang memberikan (x+y)/2 > x y.

Contoh 12. The Stone Game Dua orang memainkan suatu permainan dengan bergantian mengambil 1, 2, atau 3 batu pada setiap pengambilan dari suatu kotak yg pada awalnya berisi 15 batu. Orang yang mengambil batu terakhir adalah pemenangnya. Tunjukkan bahwa pemain pertama dapat selalu menang, tidak peduli apa yang dilakukan oleh pemain kedua.

The Stone Game - Proses Mundur Pemain 1 Pemain 2 0 1, 2, 3 4 5, 6, 7 8 9, 10, 11 12 13, 14, 15

The Stone Game - Bukti Teorema 1. Pemain pertama selalu dapat memaksakan kemenangan. Bukti. Pemain 1 dapat mengambil 3 batu, meninggalkan 12. Setelah giliran pemain 2, terdapat 11, 10, atau 9 batu yang tinggal. Dalam setiap kasus tersebut, pemain 1 dapat mengurangi jumlah batu yang tertinggal menjadi 8. Maka, pemain 2 dapat mengurangi kembali menjadi 7, 6, atau 5. Akibatnya, pemain 1 dapat meninggalkan sejumlah 4 batu. Sehingga pemain 2 harus meninggalkan 3, 2, atau 1. Pemain 1 kemudian mengambil semua batu yang tersisa dan memenangkan permainan.

Konjektur Buku matematika secara formal hanya menyajikan teorema dan bukti saja. Melalui penyajian seperti ini, kita tidak dapat mengetahui proses pencarian (discovery process) dalam matematika Proses ini meliputi: mengeksplorasi konsep & contoh, merumuskan pertanyaan, memformulasi konjektur, dan usaha menjawab konjektur dengan bukti atau contoh penyangkal.

Formulasi Konjektur Konjektur diformulasikan dengan didasarkan pada beberapa possible evidence: pengamatan beberapa kasus khusus identifikasi pola mengubah hipotesis dan kesimpulan dari teorema yang telah dikenal sebelumnya intuisi dan kepercayaan 40

Contoh 13 Perhatikan fakta berikut ini. 2 4 1 = 15 = 3 5 2 5 1 = 31 prima 2 6 1 = 63 = 7 9 2 8 1 = 255 = 5 51 3 4 1 = 80 = 8 10 Kita tahu bhw x n 1 = (x-1)(x n-1 +x n-2 + + x + 1) Namun, faktorisasi ini bermasalah bila x=2. Konjektur 1. Bilangan a n -1 komposit jika a > 2 atau jika a=2 dan n komposit.

Contoh 13 - Bukti Kasus i) Bila a > 2 maka (a-1) adalah faktor dari a n -1 karena a n 1 = (a-1)(a n-1 +a n-2 + + a + 1) dan 1 < (a-1) < (a n -1). Kasus ii) Bila a=2 dan n komposit maka ada s dan t sehingga n = st dengan 1 < s t < n. Sehingga, 2 s -1 faktor dari 2 n -1 karena 2 n 1 = (2 s -1)(2 s(t-1) +2 s(t-2) + + 2 s + 1). Jadi 2 n 1 komposit. Dengan demikian Konjektur 1 menjadi teorema.

Konjektur dan Contoh Penyangkal Apakah ada fungsi f sehingga f(n) prima untuk semua bilangan bulat positif n? Konjektur 2. f(n) = n 2 n +41. Karena f(1) = 41, f(2) = 43, f(3) = 47, f(4)= 53,. Oopps! Tapi f(41) = 41 2 komposit. Jadi f(n) bukan fungsi penghasil bilangan prima. Konjektur salah.

Bahkan Matematikawan Besar dapat Mengajukan Konjektur yang Salah! Euler memformulasikan conjecture bahwa untuk n>2, jumlah dari n 1 buah pangkat ke-n bilangan bulat positif bukanlah merupakan bilangan pangkat ke-n. Benar untuk semua kasus yang diperiksa selama 200 tahun, namun tidak ada bukti yang ditemukan. Akhirnya, pada tahun 1966, Lander dan Parkin menemukan counter-example untuk n=5 27 5 + 84 5 + 110 5 + 133 5 = 144 5. Counter-example juga ditemukan untuk n=4, tetapi belum ada untuk n>5.

Beberapa Konjektur Terkenal (1) Fermat s Last Theorem (abad ke-17) Persamaan x n + y n = z n tidak mempunyai solusi bulat x, y, dan z dengan xyz 0 dan n > 2.

Beberapa Konjektur Terkenal (2) Goldbach s Conjecture (1742) Dalam suratnya kepada Euler, Goldbach menulis Setiap bilangan ganjil n, dengan n > 5, dapat ditulis sebagai jumlah 3 bilangan prima. Menurut Euler, ini ekivalen dengan Setiap bilangan genap n, dengan n > 2, dapat ditulis sebagai jumlah 2 bilangan prima. Telah dicek dengan komputer bahwa Goldbach s conjecture benar utk semua bilangan 4. 10 14.

Beberapa Konjektur Terkenal (3) The Twin Prime Conjecture Twin prime adalah pasangan bilangan prima dengan selisih 2, seperti 3 dan 5, 5 dan 7, 11 dan 13, 17 dan 19, dan 4967 dan 4969. Twin prime conjecture menyatakan bahwa ada tak hingga banyaknya twin primes. Hasil terkuat yang telah dibuktikan adalah ada tak hingga banyaknya pasangan p dan p + 2, dengan p prima dan p + 2 prima atau hasil kali dari 2 bilangan prima (dibuktikan oleh J. R. Chen pada 1966). Rekor dunia untuk twin primes, sampai pertengahan 2011, adalah 65,516,468,355 2 333,333 1 yang memiliki 100,355 digit desimal.

Beberapa Konjektur Terkenal (4) The 3x+1 Conjecture Collatz problem, Hasse s algorithm, Ulam s problem, Syracuse problem, Kakutani s problem (1950an) Misalkan T suatu transformasi yang memetakan bilangan genap x ke x/2 dan bilangan ganjil x ke 3x + 1. Semua bilangan bulat x, apabila diterapkan transformasi T secara berulang, pada akhirnya akan mencapai 1.