practicum apk industrial engineering 2012
|
|
|
- Surya Hartono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman modern seperti saat ini, sebagai pekerja yang baik harus mampu menciptakan suatu sistem kerja yang baik dalam melakukan pekerjaan agar pekerjaan tersebut dapat menghasilkan produk yang optimal dengan biaya minimum. Selain itu, pekerja bisa mendapatkan sistem kerja yang lebih baik dari sistem kerja yang telah ada sebelumnya atau memilih sistem kerja yang paling optimal dari beberapa sistem kerja yang telah diajukan dengan mempelajari perancangan sistem kerja agar harapanharapan ketika bekerja dapat dicapai. Perancang sistem kerja harus dapat mengatur serta mengenali faktor-faktor yang membentuk suatu sistem kerja, sasarannya adalah diperolehnya rancangan yang efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien (ENASE) sebagai sarana untuk menciptakan sistem kerja yang baik. Pembelajaran studi elemen-elemen gerakan yang berkaitan dengan faktor manusia merupakan salah satu sasaran dalam pengaturan sistem kerja. Oleh sebab itu, telah diuraikan gerakan ke dalam 17 gerakan dasar atau elemen gerakan yang dinamakan elemen Therblig untuk memudahkan sistem penganalisisan terhadap elemen-elemen gerakan yang dipelajari. Elemen Therblig tersebut salah satu diantaranya yaitu elemen gerakan menjangkau (reach), memutar (turn), mengangkut (move), memegang (grasp), melepas ( release), gerakan mata ( eye movement), mengarahkan ( position), lepas rakit (disassemble), dan gerakan-gerakan anggota badan yang lain. Pada praktikum ini akan dilakukan simulasi pekerjaan (merakit steker) guna meneliti gerakan yang dilakukan selama melakukan suatu pekerjaan. Salah satu praktikan berperan sebagai operator, dan praktikan yang lainnya bertugas untuk menghitung waktu perakitan, merekam kerja operator, serta mencatat hasil pengamatan sebagai data untuk dianalisis kemudian diteliti gerakan-gerakan yang dilakukan oleh operator selama proses perakitan steker sehingga didapatkan hasil dari data yang telah diperoleh. Hasil restu, anis, afif Page 1
2 data tersebut kemudian diolah untuk menentukan sistem kerja yang baik agar waktu perakitan lebih efektif. 1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu: 1. Untuk mengidentifikasi elemen-elemen gerakan dalam perakitan steker, 2. Untuk menganalisis elemen-elemen gerakan kerja yang lebih efektif dan elemenelemen gerakan kerja yang kurang efektif dalam perakitan steker, dan 3. Untuk menghitung waktu baku dengan cara mempelajari elemen-elemen gerakan kerja dalam perakitan steker. restu, anis, afif Page 2
3 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Peta Kerja Aat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas dapat diasrtikan sebagai peta kerja. melalui peta kerja ini dapat dilihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja yang dimulai dari masuk ke pabrik (berupa bahan baku), kemudian menggambarkan semua langkah yang dilalui benda kerja, seperti: transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan, dan akhirnya menjadi produk jadi, baik berupa bagian dari suatu produk lengkap maupun langsung berupa produk lengkap. Pekerjaan atau upaya dalam memperbaiki metode kerja suatu proses produksi akan lebih mudah untuk dilaksanakan dengan melakukan studi dengan tepat dan benar mengenai suatu peta kerja. Tujuan utamanya yaitu untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan, dengan demikian, kemudahan dalam perencanan perbaikan kerja akan dirasakan dengan metode peta kerja ini karena peta kerja merupakan alat yang baik untuk menganalisis suatu pekerjaan (Sutalaksana, 2006, hal.17). 2.2 Lambang-lambang yang Digunakan Menurut catatan sejarah, peta-peta kerja yang ada sekarang ini dikembangkan oleh ilberth. Pada saat itu, untuk membuat suatu peta kerja, ilberth mengusulkan 40 buah lambang yang bisa dipakai. Pada tahun berikutnya jumlah lambang tersebut disederhanakan sehingga hanya tinggal 4 macam saja. Namun pada tahun 1947 American Society of Mechanical Engineers (ASME) membuat standar lambanglambang yang terdiri atas 5 macam lambang yang merupakan modifikasi dari yang telah dikembangkan sebelumnya oleh ilberth (Sutalaksana, 2006, hal. 17). Lambang-lambang tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: restu, anis, afif Page 3
4 1. Operasi Suatu kegiatan operasi terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat, baik fisik maupun kimiawi. Mengambil informasi maupun menberikan informasi pada suatu keadaan juga termasuk operasi. Operasi merupakan kegiatan yang paling banyak terjadi dalam suatu mesin atau sistem kerja. Adapun contohnya sebagai berikut: a. Pekerjaan menyerut kayu dengan mesin serut, b. Pekerjaan mengeraskan logam, dan c. Pekerjaan merakit. Dalam prakteknya, lambang ini juga dapat digunakan untuk menyatakan aktivitas administrasi. 2. Pemeriksaan Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas. Lambang ini digunakan jika kita melakukan pemeriksaan terhadap suatu objek atau membandingkan objek tertentu dengan suatu standar. Suatu pemeriksaan tidak menjuruskan bahan kearah menjadi suatu barang jadi. Adapun contohnya sebagai berikut: a. Mengukur dimensi benda, b. Memeriksa warna benda, dan c. Membaca alat ukur tekanan uap pada suatu mesin uap. 3. Transportasi Suatu kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi. Adapun contohnya sebagai berikut: a. Benda kerja diangkut dari mesin bubut ke mesin skrap untuk mengalami operasi berikutnya, dan b. Suatu objek dipindahkan dari lantai atas lewat elevator. 4. Menunggu Proses menunggu terjadi apabila benda kerja, pekerja ataupun perlengkapan tidak mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu (biasanya sebentar). Adapun contohnya sebagai berikut: restu, anis, afif Page 4
5 a. Objek menunggu untuk diproses atau diperiksa. b. Peti menunggu untuk dibongkar. c. Bahan menunggu untuk diangkut ke tempat lain. 5. Penyimpanan Proses penyimpanan terjadi apabila benda kerja di simpan untuk jangka waktu yang cukup lama. Lambang ini digunakan untuk menyatakan suatu objek yang mengalami penyimpanan permanen, yaitu ditahan atau dilindungi terhadap pengeluaran tanpa izin tertentu. Adapun contohnya sebagai berikut: a. Dokumen-dokumen atau catatan-catatan disimpan dalam brankas, dan b. Bahan baku disimpan dalam gudang. 6. Aktivitas ganda Kegiatan ini terjadi apabila antara aktivitas operasi dan pemeriksaan dilakukan bersamaan pada suatu tempat kerja. Adapum lambang-lambang yang digunakan terlihat pada Tabel 2.1 sebagai berikut: Tabel 2.1 Lambang Lambang Peta Kerja Keterangan Operasi Transportasi Inspeksi Menunggu Penyimpanan Aktivitas ganda restu, anis, afif Page 5
6 Sumber: Sutalaksana hal Peta Proses Operasi Peta proses operasi merupakan gambaran mengenai urutan kerja dengan cara membagi pekerjaan tersebut menjadi elemen operasi yang detail secara logis dan sistematis. Untuk pembuatan peta proses operasi ini, simbol-simbol yang digunakan adalah simbol operasi, inspeksi, menunggu, penyimpanan, dan transportasi. Dalam menggambarkan peta operasi yang baik, maka perlu memperhatikan beberapa hal pokok, yaitu (Sutalaksana, 2006, hal 23): 1. Pertama, pada baris paling atas perlu dituliskan jenis peta yaitu "Peta Proses Operasi" dan seterusnya ditulis semua identifikasi kerja lainnya seperti nama obyek, nomor gambar kerja, dan lain-lain. 2. Material yang akan diproses dinyatakan tepat di atas garis horizontal yang sesuai, yang menunjukkan ke dalam urutan-urutan tempat material tersebut kemudian diproses. 3. Lambang-lambang ditempatkan dalam arah vertikal, dari atas ke bawah sesuai urutan-urutan prosesnya. 4. Penomoran terhadap kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai dengan urutan operasi terkait. 5. Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi. 2.4 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Peta tangan kiri dan tangan kanan adalah peta yang menggambarkan seluruh elemenelemen gerakan pada saat bekerja dan waktu menganggur yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan. Selain itu, peta tangan kiri dan tangan kanan juga menunjukkan perbandingan antara tugas yang dibebankan pada tangan kiri dan tangan kanan ketika melakukan pekerjaan. Melalui peta ini dapat melihat semua operasi secara lengkap yang berarti mempermudah perbaikan operasi tersebut. Peta ini sangat praktis untuk memperbaiki suatu pekerjaan manual dimana setiap siklus dari pekerja terjadi dengan cepat dan terus berulang. Oleh sebab itu, dengan menggunakan peta ini dapat melihat restu, anis, afif Page 6
7 dengan jelas pola-pola gerakan yang tidak efisien dan bisa melihat adanya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang terjadi pada saat pekerja manual tersebut sedang berlangsung (Sutalaksana, 2006, hal 51). Pada dasarnya, peta tangan kanan dan tangan kiri berguna untuk memperbaiki sitem kerja. Selain itu, peta ini memiliki kegunaan yang lebih khusus, yaitu sebagai berikut (Sutalaksana, 2006, hal 51): 1. Menyeimbangkan gerakan kedua tangan serta mengurangi kelelahan. Dengan bantuan studi gerakan dan prinsip-prinsip ekonomi gerakan, maka kita bisa menguraikan elemen pekerjaan lengkap menjadi elemen-elemen gerakan yang terperinci. Setiap elemen gerakan dari pekerjaan ini dibebankan ke setiap tangan sedemikian rupa sehingga seimbang dan memenuhi prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang berarti akan mengurangi kelelahan. 2. Menghilangkan atau mengurangi gerakan-gerakan yang tidak efisien dan tidak produktif dan tentunya akan mempersingkat waktu. Keadaan tersebut dapat dicapai dngan bantuan studi gerakan dan prinsip-prinsip ekonomi gerakan. Kemahiran untuk menguraikan suatu pekerjaan menjadi elemen-elemen gerakan dan kemudian memilih elemen-elemen yang efektif dan kurang efektif, tentu akan mempengaruhi produktivitas kerja. Apabila suatu pekerjaan sudah dilaksanakan secara efisien dan produktif, maka secara otomatis waktu penyelesaian pekerjaan tersebut adalah waktu tersingkat pada saat itu. 3. Sebagai alat untuk menganalisis tata letak sistem kerja. Tata letak tempat kerja termasuk hal yang mempengaruhi lamanya waktu penyelesaian. Percobaan dengan mengubah-ubah tata letak peralatan selain dapat menemukan tata letak yang baik, ditinjau dari waktu serta jarak, juga dapat menemukan urutan-urutan pekerjaan yang lebih baik. 4. Sebagai alat untuk melatih pekerja-pekerja yang baru dengan cara kerja yang ideal. Sudah jelaslah bahwa peta tangan kiri dan tangan kanan menunjukkan urutan-urutan pekerjaan yang paling baik untuk saat itu. Jadi, peta ini dapat berfungsi sebagai penuntun terutama bagi pekerja-pekerja baru sehingga akan membuat proses belajar lebih cepat. restu, anis, afif Page 7
8 2.5 Pengolahan Data Agar data hasil percobaan dari peta kerja ini dapat diolah, maka perlu dilakukan beberapa tahap yang akan dijelaskan sebagai berikut: 1. erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi Tahap awal adalah mencari nilai gerakan inefektif yang dapat dikurangi dalam Persamaan 2.1 berikut ini: erakan Pengamatan Awal erakan Usulan... (2.1) 2. Persentase erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi Tahap kedua yang dilakukan adalah penentuan nilai persentase gerakan inefektif yang dapat dikurangi dalam Persamaan 2.2 berikut ini: erakan Inefektif yang dapat dikurang x 100%... (2.2) Total erakan 3. Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi Tahap selanjutnya yaitu mencari lama waktu inefektif yang dapat dikurangi dalam Persamaan 2.3 berikut ini: Total Waktu Pengamatan Total Waktu Pengamatan Usulan... (2.3) 4. Persentase Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi Selanjutnya yaitu mencari presentase waktu inefektif yang dapat dikurangi dengan Persamaan 2.4 berikut ini: T. Waktu Pengamatan Awal T. Waktu Pengamatan Usulan T. Waktu x 100%... (2.4) 5. Uji Keseragaman Data Sebelum melakukan uji keseragaman data, maka perlu dilakukan perhitungan Batas Kontrol Atas (BKA), Batas Kontrol Bawah (BKB), serta Standar Deviasi (SD) yang dapat ditentukan dengan Persamaan 2.5 hingga 2.8 berikut ini: BKA = X + k SD... (2.5) BKB = X - k SD... (2.6) SD = (X - X) 2 n (2.7) restu, anis, afif Page 8
9 X = X 1+X 2 +X 3 +X 4 + +X n n... (2.8) dengan: X = nilai rata-rata BKA = batas kontrol atas BKB = batas kontrol bawah SD = standar deviasi k = tingkat keyakinan n = jumlah data 6. Waktu Normal Untuk menentukan waktu normal dari data yang telah diperoleh, dapat dilakukan dengan menggunakan Persamaan 2.9 berikut: Wn = X RF... (2.9) dengan: Wn = waktu normal = total waktu pengamatan dibagi jumlah perakitan RF = rating factor 7. Waktu Standar Waktu standar adalah waktu penyelesaian yang dibutuhkan secara wajar oleh pekerja normal untuk menyelesaikan. Untuk menentukan waktu standar digunakan Persamaan 2.10 berikut: 100% Ws = WN x... (2.10) 100% - All% dengan: WN = waktu normal All = allowance 8. Uji Kecukupan Data Pengujian kecukupan data dilakukan dengan berpedoman pada konsep statistik, yaitu derajat ketelitian dan tingkat keyakinan/ kepercayaan. N = k/s N X 2 X X 2 dengan: k = tingkat keyakinan k = 95% = (2.12) restu, anis, afif Page 9
10 s = derajat ketelitian N = jumlah data pengamatan N = jumlah data teoritis 9. Faktor Penyesuaian Untuk memperoleh rasio dari faktor penyesuaian dengan menggunakan Persamaan 2.12 sebagai berikut: Faktor Penyesuaian = 1 + WH... (2.13) 2.6 Westing House System s Rating Menurut Westing House Company (1927), ada beberapa faktor yang mempengaruhi performance manusia ketika melakukan suatu pekerjaan yaitu kecakapan (skill), usaha (effort), kondisi kerja ( working condition), dan konsistensi (consistency) dari operator dalam melakukan kerja. Westing House telah berhasil membuat tabel performance rating yang berisikan nilai-nilai angka berdasarkan tingkatan yang ada untuk masingmasing faktor tersebut. Tabel dari performance rating tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.2 di bawah ini: Tabel 2.2 SKILL A1 Superskill A2 B1 Excellent B2 C1 ood C2 D Average E1 Fair E2 F1 Poor F2 CONDITION A Ideal B Excellent C ood D Average E Fair F Poor Westing House System s Rating EFFORT A1 Superskill A2 B1 Excellent B2 C1 ood C2 D Average E1 Fair E2 F1 Poor F2 CONSISTENCY A Ideal B Excellent C ood D Average E Fair F Poor restu, anis, afif Page 10
11 Sumber: Wignjosoebroto, Hal Allowance Dalam suatu operasi waktu normal yang ada belum memperhatikan faktorfaktor kelonggaran (allowance). Waktu normal yang ada hanyalah waktu yang dibutuhkan operator untuk melakukan pekerjaan itu jika dia bekerja pada kecepatan yang normal. Akan tetapi, tidak mungkin bila operator akan bekerja sepanjang hari tanpa gangguan. Operator membutuhkan waktu untuk kebutuhan pribadi, untuk beristirahat atau menghilangkan rasa letih, untuk alasan yang dapat dihindari dan untuk alasan yang di luar kendalinya. Kelonggaran-kelonggaran tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut ini: Tabel 2.3 A. TENAA YAN DIKELUARKAN 1. Dapat diabaikan 2. Sangat ringan 3. Ringan 4. Sedang 5. Berat 6. Sangat berat 7. Luar biasa berat Besar Allowance Berdasarkan Faktor-Faktor yang Berpengaruh FAKTOR CONTOH PEKERJAAN KELONARAN (%) EKIVALEN BEBAN PRIA Bekerja dimeja, duduk Tanpa beban Bekerja dimeja, berdiri kg Menyekop, ringan Mencangkul Mengayun palu yang berat Memanggul beban Memanggul karung berat Diatas 50 kg B. SIKAP KERJA 1. Duduk 2. Berdiri diatas dua kaki 3. Berdiri diatas satu kaki 4. Berbaring 5. Membungkuk C. ERAKAN KERJA 1. Normal 2. Agak terbatas 3. Sulit 4. Pada anggota badan terbatas 5. Seluruh anggota badan terbatas D. KELELAHAN MATA Bekerja duduk, ringan Badan tegak, ditumpu dua kaki Satu kaki mengerjakan alat kontrol Pada bagian sisi, belakang atau depan badan Badan dibungkukkan bertumpu pada dua kaki Ayunan bebas dari bahu Ayunan terbatas dari palu Membawa beban berat dengan satu tangan Bekerja dengan tangan diatas kepala Bekerja dilorong pertambangan yang sempit WANITA PENCAHAYAAN BAIK BURUK restu, anis, afif Page 11
12 1. Pandangan yang terputus-putus 2. Pandangan yang hamper terus-menerus 3. Pandangan terus menerus dengan fokus berubah-ubah 4. Pandangan terus menerus dengan fokus tetap Membawa alat ukur Sumber: Sutalaksana, Hal Pekerjaan-pekerjaan yang teliti Memeriksa cacat-cacat pada kain Pemeriksaan yang sangat teliti Tabel 2.3 E. KEADAAN TEMPERATUR TEMPAT KERJA 1. Beku 2. Rendah 3. Sedang 4. Normal 5. Tinggi 6. Sangat tinggi F. KEADAAN ATMOSFER 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang baik 4. Buruk Besar Allowance Berdasarkan Faktor-Faktor yang Berpengaruh (lanjutan) FAKTOR CONTOH PEKERJAAN KELONARAN (%) KELEMBABAN, NORMAL, BERLEBIHAN TEMPERATUR ( O C ) dibawah diatas 38 Ruang yang berventilasi baik, udara segar Ventilasi kurang baik, ada bau Adanya debu dan bau-bauan beracun. KEADAAN LINKUNAN YAN BAIK 1. Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan rendah 2. Siklus kerja berulang-ulang antara 5 10 detik 3. Siklus kerja berulang-ulang antara 0 5 detik 4. Sangat bising 5. Jika faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kualitas 6. Terasa adanya getaran lantai 7. Keadaan-keadaan yang luar biasa ( bunyi, kebersihan, dll) Diatas Diatas Diatas Diatas 100 restu, anis, afif Page 12
13 Sumber: Sutalaksana, Hal BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pengumpulan Data Hasil pengamatan dari praktikum kali ini tentang peta kerja dalam merakit steker diperoleh catatan waktu perakitan steker yang dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini, yakni sebagai berikut: Tabel 3.1 Data Waktu Perakitan Steker pada Layout Awal dan Layout Susulan Percobaan Waktu (detik) Layout Awal Layout Usulan Layout Usulan Layout Usulan Sumber: Pengumpulan Data Layout Awal restu, anis, afif Page 13
14 Adapun rincian dari layout awal yaitu layout pertama yang diperagakan operator dalam perakitan steker adalah sebagai berikut: 1. Jarak Komponen Pada saat sebelum memulai perakitan steker, maka hal yang terlebih dahulu dilakukan yaitu mengukur jarak antara tangan dengan tempat komponen yang akan diambil yang dapat dilihat pada Tabel 3.2 sebagai berikut: Tabel 3.2 Jarak Tangan ke Tempat Komponen Layout Awal No Jenis Komponen Jarak ke Tempat Komponen (cm) Tangan Kanan Tangan Kiri 1 Tempat obeng Badan putih Bagian hitam Baut panjang Baut pendek Mur Kabel Tempat jadi Sumber: Pengumpulan Data 2. Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat membuat peta tangan kanan dan tangan kiri yang akan dijelaskan pada Tabel 3.3 berikut ini: WS = 83,75 detik/unit Tabel 3.3 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Awal Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Pekerjaan : Merakit steker Departemen : Perakitan No. Peta : 01 Dipetakan oleh : Afif Triyoga Tanggal dipetakan : 26 April dengan: 1. Mur Baut panjang 3. Badan putih OPERATOR 4. Kabel restu, anis, afif Page 14
15 Tangan Kiri Menjangkau bagian hitam Memegang bagian hitam Membawa bagian hitam Memegang rakitan bagian hitam & baut panjang Memasukka n rakitan ke badan putih Memegang rakitan Menjangkau baut pendek Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) 59 RE RE 59 A M Tangan Kanan Menjangkau 2 baut panjang Memegang 2 baut panjang Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam RE 66 Menjangkau kabel Memegang kabel M Membawa kabel 44 RE A Merakit kabel pada rakitan bagian hitam & baut panjang Tangan Kiri Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memegang rakitan Melepas steker Tabel 3.3 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Awal (lanjutan) Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) Tangan Kanan RE 24 Menjangkau obeng M Memegang obeng M Membawa obeng 28 RL P restu, anis, afif Page 15 U P U RL Mengarahkan obeng ke baut panjang 1 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng ke baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 Melepas obeng
16 RE 55 Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 M Membawa badan putih 1 RE 55 Menjangkau badan putih 2 Memegang badan putih 2 M Membawa badan putih 2 RE 71 Menjangkau mur Memegang mur M Membawa mur Memasukkan mur ke dalam rakitan Memegang rakitan RE 24 Menjangkau obeng Memegang obeng Tangan Kiri Tabel 3.3 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Awal (lanjutan) Jarak (cm) Total Waktu 83,75 detik Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) Tangan Kanan M Membawa obeng P Mengarahkan obeng pada baut pendek U Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek RL 24 Melepas obeng Layout Usulan 1 Setelah melakukan pengamatan menggunakan layout awal, selanjutnya adalah melakukan pengamatan dengan layout usulan 1 yang telah ditentukan oleh praktikan. 1. Jarak Komponen restu, anis, afif Page 16
17 Jarak antara tangan dengan tempat komponen yang akan diambil pada layout ini dapat dilihat pada Tabel 3.4 sebagai berikut: Tabel 3.4 Jarak Tangan ke Tempat Komponen Layout Usulan 1 No Jenis Komponen Jarak ke Tempat Komponen (cm) Tangan Kanan Tangan Kiri 1 Tempat obeng Badan putih Bagian hitam Baut panjang Baut pendek Mur Kabel Tempat jadi Sumber: Pengumpulan Data 2. Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Berikut ini adalah peta tangan kanan dan tangan kiri yang menggambarkan gerakangerakan kerja operator pada layout usulan 1 dijelaskan pada Tabel 3.5: WS = 74,5 detik/unit Tabel 3.5 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 1 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Pekerjaan : Merakit steker Departemen : Perakitan No. Peta : 02 Dipetakan oleh : Afif Triyoga Tanggal dipetakan : 26 April OPERATOR 2 8 dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel 5. Baut pendek Tangan Kiri Jarak Waktu Jarak Kode Kode (cm) (menit) (cm) Tangan Kanan Menjangkau Menjangkau 2 28 RE RE 28 bagian hitam baut panjang Memegang Memegang 2 bagian hitam baut panjang restu, anis, afif Page 17
18 Membawa bagian hitam Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam Memegang rakitan Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 M M A RE RE M Membawa badan putih 1 M RE 24 Menjangkau badan putih 2 51 RE Memegang badan putih 2 M Membawa badan putih 2 M P Membawa 2 baut panjang Menjangkau kabel Memegang kabel Membawa kabel Memasang kabel pada rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng pada baut panjang 1 Tabel 3.5 Tangan Kiri Memegang rakitan Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 1 (lanjutan) Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode Melepas steker 28 RL P U U RL Jarak (cm) Tangan Kanan Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng pada baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 Melepas obeng Memegang rakitan Memasang rakitan ke badan putih 1 Memasang badan putih 2 restu, anis, afif Page 18
19 RE 42 M RE 42 M RE 24 M ke rakitan Menjangkau mur Memegang mur Membawa mur Memasukkan mur ke rakitan Menjangkau baut pendek Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memasukkan baut pendek ke rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Tabel 3.5 Tangan Kiri Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 1 (lanjutan) Jarak (cm) Total Waktu 74,5 detik Layout Usulan 2 Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) Tangan Kanan Mengarahkan P obeng pada rakitan Memakai obeng U untuk mengencangkan baut pendek RL 24 Melepas obeng Selanjutnya adalah layout usulan 2 yaitu layout yang sudah ditentukan oleh praktikan setelah operator melakukan perakitan steker dengan dengan layout usulan 1. restu, anis, afif Page 19
20 1. Jarak Komponen Adapun jarak antara masing-masing komponen dengan tangan operator pada layout usulan 2 dapat dilihat pada Tabel 3.6 sebagai berikut: Tabel 3.6 Jarak Tangan ke Tempat Komponen Layout Usulan 2 No Jenis Komponen Jarak ke Tempat Komponen (cm) Tangan Kanan Tangan Kiri 1 Tempat obeng Badan putih Bagian hitam Baut panjang Baut pendek Mur Kabel Tempat jadi Sumber: Pengumpulan Data 2. Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Peta tangan kanan dan tangan kiri dari layout usulan 2 akan dijelaskan pada Tabel 3.7 sebagai berikut: WS = 64,75 detik/unit Tabel 3.7 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 2 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Pekerjaan : Merakit steker Departemen : Perakitan No. Peta : 03 Dipetakan oleh : Afif Triyoga Tanggal dipetakan : 26 April OPERATOR 8 dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel Tangan Jarak Kode Waktu (menit) Kode Jarak Tangan Kanan restu, anis, afif Page 20
21 Kiri (cm) (cm) Menjangkau bagian hitam 38 RE RE 35 Memegang bagian hitam Membawa bagian M hitam Memakai 2 baut panjang ke U RE 57 bagian hitam Memegang rakitan Memegang badan putih M 1 Memegang rakitan U Menjangkau mur Memegang mur Membawa mur 57 RE RE 23 M Menjangkau 2 baut panjang Memegang 2 baut panjang Membawa 2 baut panjang Menjangkau kebel Memegang kabel Membawa kabel Memakai kabel pada rakitan bagian hitam Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Tangan Kiri Memakai mur ke dalam rakitan Melepas steker Tabel 3.7 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 2 (lanjutan) Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode U 23 RL U Jarak (cm) Tangan Kanan restu, anis, afif Page 21 P P U Mengarahkan obeng pada baut panjang 1 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng pada baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan
22 baut panjang 2 RL 23 Melepas obeng RE 50 Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 M Membawa badan putih 1 Memakai badan U putih 1 pada rakitan RE 50 Menjangkau badan putih 2 Memegang badan putih 2 M Membawa badan putih 2 Memakai badan U putih 2 ke rakitan RE 48 Menjangkau mur Memegang mur M Membawa mur U Memakai mur ke rakitan RE 54 Menjangkau baut pendek Memegang baut pendek Tangan Kiri Tabel 3.7 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 2 (lanjutan) Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) Tangan Kanan restu, anis, afif Page 22 U RE 23 M P U Memakai baut pendek ke rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng pada rakitan Memakai obeng
23 Total Waktu 64,75 detik untuk mengencangkan baut pendek RL 23 Melepas obeng Layout Usulan 3 Usulan layout yang terakhir adalah layout usulan 3 yaitu layout yang sudah ditentukan oleh praktikan setelah perakitan menyelesaikan perakitan steker menggunakan layout usulan Jarak Komponen Adapun jarak antara masing-masing komponen dengan tangan operator pada layout usulan 3 dapat dilihat pada Tabel 3.8 sebagai berikut: Tabel 3.8 Jarak Tangan ke Tempat Komponen Layout Usulan 3 No Jenis Komponen Jarak ke Tempat Komponen (cm) Tangan Kanan Tangan Kiri 1 Tempat obeng Badan putih Bagian hitam Baut panjang Baut pendek Mur Kabel Tempat jadi Sumber: Pengumpulan Data 2. Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Peta tangan kanan dan tangan kiri dari layout usulan 3 akan dijelaskan pada Tabel 3.9 sebagai berikut: WS = 57,5 detik/unit Tabel 3.9 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 3 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Pekerjaan : Merakit steker Departemen : Perakitan No. Peta : 04 Dipetakan oleh : Afif Triyoga Tanggal dipetakan : 26 April 2012 restu, anis, afif Page 23
24 OPERATOR 4 7 dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel Jarak Jarak Tangan Kiri Kode Waktu (menit) Kode (cm) (cm) Menjangkau 30 RE RE 40 bagian hitam Memegang bagian hitam Membawa M M bagian hitam Mengarahkan 2 baut P panjang ke badan putih Memegang RE 47 rakitan Menjangkau 46 RE mur Memegang M mur Membawa mur M A Tangan Kanan Menjangkau 2 baut panjang Memegang 2 baut panjang Membawa 2 baut panjang Memegang badan putih Menjangkau kabel Memegang kabel Membawa kabel Merakit kabel pada rakitan bagian hitam Tangan Kiri Memakai mur pada rakitan Memegang rakitan Melepas steker Tabel 3.9 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 3 (lanjutan) Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) U RE RL M Tangan Kanan Menjangkau obeng restu, anis, afif Page 24 P Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng pada baut panjang 1
25 Memakai obeng U untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan P obeng pada baut panjang 2 Memakai obeng U untuk mengencangkan baut panjang 2 RL 23 Melepas obeng RE 59 Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 M Membawa badan putih 1 Memakai badan U putih 1 pada rakitan RE 59 Menjangkau badan putih 2 Memegang badan putih 2 M Membawa badan putih 2 H Memegang untuk memakai badan putih 2 pada rakitan Memegang rakitan RE 45 Menjangkau baut pendek Tangan Kiri Tabel 3.9 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri Layout Usulan 3 (lanjutan) Jarak (cm) Kode Waktu (menit) Kode Jarak (cm) Tangan Kanan restu, anis, afif Page 25 M U RE 23 Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memakai baut pendek pada rakitan Menjangkau obeng
26 Total Waktu 57,5 detik Memegang obeng M Membawa obeng Mengarahkan P obeng pada rakitan Memakai obeng U untuk mengencangkan baut pendek RL 23 Melepas obeng 3.2 Pengolahan Data Setelah pengumpulan data dilakukan, tahap berikutnya yaitu melakukan pengolahan data sebagai berikut: Layout Awal Pengamatan terhadap kerja operator pada layout awal akan dipaparkan sebagai berikut: 1. ambar Layout Awal Penempatan komponen-komponen steker pada layout awal dapat dilihat pada ambar 3.1 sebagai berikut: OPERATOR 8 restu, anis, afif Page 26
27 ambar 3.1 Susunan Komponen pada Layout Awal dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel 5. Baut pendek 6. Bagian hitam 7. Tempat jadi 8. Tempat obeng 2. erakan Dasar Therblig pada Layout Awal erakan dasar Therblig pada layout awal yang dilakukan oleh operator untuk gerakan tangan kanan dan tangan kiri dapat dilihat pada Tabel 3.10 sebagai berikut: Tabel 3.10 erakan Therblig pada Layout Awal No Tangan Kanan Tangan Kiri 1. Menjangkau 2 baut panjang Menjangkau bagian hitam 2. Memegang 2 baut panjang Memegang bagian hitam 3. Merakit 2 baut panjang ke bagian Membawa bagian hitam hitam 4. Menjangkau kabel Memegang rakitan bagian hitam & baut panjang 5. Memegang kabel Memasukkan rakitan ke badan putih 6. Membawa kabel Memegang rakitan 7. Merakit kabel pada rakitan bagian Menjangkau baut pendek hitam & baut panjang 8. Menjangkau obeng Memegang baut pendek 9. Memegang obeng Membawa baut pendek 10. Membawa obeng Memegang rakitan 11. Mengarahkan obeng ke baut panjang 1 Melepas steker Tabel 3.10 erakan Therblig pada Layout Awal (lanjutan) 12. Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang Mengarahkan obeng ke baut panjang Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang Melepas obeng restu, anis, afif Page 27
28 16. Menjangkau badan putih Memegang badan putih Membawa badan putih Menjangkau badan putih Memegang badan putih Membawa badan putih Memasang badan putih 2 ke rakitan 23. Menjangkau mur 24. Memegang mur 25. Membawa mur 26. Memasukkan mur ke dalam rakitan 27. Memegang rakitan 28. Menjangkau obeng 29. Memegang obeng 30. Membawa obeng 31. Mengarahkan obeng pada baut pendek 32. Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek 33. Melepas obeng 3. erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Awal Berdasarkan peta tangan dan tangan kiri, maka dapat diketahui gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout awal. Adapun gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout awal dapat dilihat pada Tabel 3.11 sebagai berikut: Tabel 3.11 erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Awal No Nama erakan Tangan Kanan Tangan Kiri Efektif Inefektif Efektif Inefektif 1 Menjangkau Memegang Membawa Mengarahkan Memakai Merakit Melepas Layout Usulan 1 Pengamatan terhadap kerja operator pada layout usulan 1 akan dipaparkan sebagai berikut: 1. ambar Layout Usulan 1 restu, anis, afif Page 28
29 Penempatan komponen-komponen steker untuk layout usulan 1 dapat dilihat pada ambar 3.2 sebagai berikut: OPERATOR ambar 3.2 Susunan Komponen pada Layout Usulan 1 dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel 5. Baut pendek 6. Bagian hitam 7. Tempat jadi 8. Tempat obeng 2. erakan dasar Therblig pada layout usulan 1 erakan dasar Therblig pada layout usulan 1 yang dilakukan oleh operator untuk gerakan tangan kanan dan tangan kiri dapat dilihat pada Tabel 3.12 sebagai berikut: Tabel 3.12 erakan Therblig pada Layout Usulan 1 No Tangan Kanan Tangan Kiri 1. Menjangkau 2 baut panjang Menjangkau bagian hitam 2. Memegang 2 baut panjang Memegang bagian hitam 3. Membawa 2 baut panjang Membawa bagian hitam 4. Menjangkau kabel Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam 5. Memegang kabel Memegang rakitan 6. Membawa kabel Menjangkau badan putih 1 7. Memasang kabel pada rakitan Memegang badan putih 1 Tabel 3.12 erakan Therblig pada Layout Usulan 1 (lanjutan) 8. Menjangkau obeng Membawa badan putih 1 9. Memegang obeng Menjangkau badan putih Membawa obeng Memegang badan putih Mengarahkan obeng pada baut Membawa badan putih 2 panjang 1 restu, anis, afif Page 29
30 12. Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang Mengarahkan obeng pada baut panjang Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang Melepas obeng 16. Memegang rakitan 17. Memasang rakitan ke badan putih Memasang badan putih 2 ke rakitan 19. Menjangkau mur 20. Memegang mur 21. Membawa mur 22. Memasukkan mur ke rakitan 23. Menjangkau baut pendek 24. Memegang baut pendek 25. Membawa baut pendek 26. Memasukkan baut pendek ke rakitan 27. Menjangkau obeng 28. Memegang obeng 29. Membawa obeng 30. Mengarahkan obeng pada rakitan 31. Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek 32. Melepas obeng Memegang rakitan Melepas steker 3. erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 1 Berdasarkan peta tangan dan tangan kiri, maka dapat diketahui gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout usulan 1. Adapun gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator dapat dilihat pada Tabel 3.13 sebagai berikut: Tabel 3.13 erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 1 No Nama erakan Tangan Kanan Tangan Kiri Efektif Inefektif Efektif Inefektif 1 Menjangkau Memegang Membawa Mengarahkan - - Tabel 3.13 erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 1 (lanjutan) 5 Memakai Merakit Melepas - - restu, anis, afif Page 30
31 4. Perhitungan-perhitungan Adapun langkah-langkah dalam melakukan perhitungan pada layout usulan 1 adalah sebagai berikut: a. erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi erakan inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakan Persamaan 2.1 sebagai berikut: erakan Inefektif = 7 7 = 0 b. Persentase erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi Persentase gerakan inefektif yang dapat dikurangi dihitung Persamaan 2.2 sebagai berikut: Presentase erakan Inefektif = x 100% = 0% c. Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi menggunakan Waktu inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakan Persamaan 2.3 sebagai berikut: erakan Inefektif = = 37 d. Persentase Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi Persentase waktu inefektif yang dapat dikurangi dihitung Persamaan 2.4 sebagai berikut: menggunakan Presentase erakan Inefektif = 633 = 5,8% 100% Layout Usulan 2 restu, anis, afif Page 31
32 Pengamatan terhadap kerja operator pada layout usulan 2 akan dipaparkan sebagai berikut: 1. ambar Layout Usulan 2 Penempatan komponen-komponen steker pada layout usulan 2 dapat dilihat pada ambar 3.3 sebagai berikut: OPERATOR 8 ambar 3.3 Susunan Komponen pada Layout Usulan 2 dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel 5. Baut pendek 6. Bagian hitam 7. Tempat jadi 8. Tempat obeng 2. erakan Dasar Therblig pada Layout Usulan 2 erakan dasar Therblig pada layout usulan 2 yang dilakukan oleh operator untuk gerakan tangan kanan dan tangan kiri dapat dilihat pada Tabel 3.14 sebagai berikut: Tabel 3.14 erakan Therblig pada Layout Usulan 2 No Tangan Kanan Tangan Kiri 1 Menjangkau 2 baut panjang Menjangkau bagian hitam 2 Memegang 2 baut panjang Memegang bagian hitam 3 Membawa 2 baut panjang Membawa bagian hitam 4 Menjangkau kabel Mengarahkan 2 baut panjang ke badan putih 5 Memegang kabel Memegang rakitan 6 Membawa kabel Menjangkau mur Tabel 3.14 erakan Therblig pada Layout Usulan 2 (lanjutan) restu, anis, afif Page 32
33 7 Merakit kabel pada rakitan bagian hitam Memegang mur 8 Menjangkau obeng Membawa mur 9 Memegang obeng Memakai mur pada rakitan 10 Membawa obeng Memegang rakitan 11 Mengarahkan obeng pada baut panjang 1 Melepas steker 12 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 13 Mengarahkan obeng pada baut panjang 2 14 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 15 Melepas obeng 16 Menjangkau badan putih 1 17 Memegang badan putih 1 18 Membawa badan putih 1 19 Memakai badan putih 1 pada rakitan 20 Menjangkau badan putih 2 21 Memegang badan putih 2 22 Membawa badan putih 2 23 Memakai badan putih 2 pada rakitan 24 Memegang rakitan 25 Menjangkau baut pendek 26 Memegang baut pendek 27 Membawa baut pendek 28 Memakai baut pendek pada rakitan 29 Menjangkau obeng 30 Memegang obeng 31 Membawa obeng 32 Mengarahkan obeng pada rakitan 33 Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek 34 Melepas obeng 3. erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 2 Berdasarkan peta tangan dan tangan kiri, maka dapat diketahui gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout usulan 2. Adapun gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout usulan 2 dapat dilihat pada Tabel 3.15 sebagai berikut: restu, anis, afif Page 33
34 Tabel 3.15 erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 2 No Nama erakan Tangan Kanan Tangan Kiri Efektif Inefektif Efektif Inefektif 1 Menjangkau Memegang Membawa Mengarahkan Memakai Merakit Melepas - - Sumber: PengolahanData 4. Perhitungan-perhitungan Adapun langkah-langkah dalam melakukan perhitungan pada layout usulan 2 adalah sebagai berikut: a. erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi erakan inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakan Persamaan 2.1 sebagai berikut: erakan Inefektif = 7 7 = 0 b. Persentase erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi Persentase gerakan inefektif yang dapat dikurangi dihitung Persamaan 2.2 sebagai berikut: Presentase erakan Inefektif = x 100% = 0% c. Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi menggunakan Waktu inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakan Persamaan 2.3 sebagai berikut: erakan Inefektif = = 76 restu, anis, afif Page 34
35 d. Persentase Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi Persentase waktu inefektif yang dapat dikurangi dihitung Persamaan 2.4 sebagai berikut: menggunakan Presentase erakan Inefektif = 594 = 12,8% 100% Layout Usulan 3 Pengamatan terhadap kerja operator pada layout usulan 3 dapat dipaparkan sebagai berikut: 1. ambar Layout Usulan 3 Penempatan komponen-komponen steker untuk layout usulan 3 dapat dilihat pada ambar 3.4 sebagai berikut: OPERATOR 4 7 ambar 3.4 Susunan Komponen pada Layout Usulan 3 dengan: 1. Mur 2. Baut panjang 3. Badan putih 4. Kabel 5. Baut pendek 6. Bagian hitam 7. Tempat jadi 8. Tempat obeng 2. erakan Dasar Therblig pada Layout Usulan 3 erakan dasar Therblig pada layout usulan 3 yang dilakukan oleh operator untuk gerakan tangan kanan dan tangan kiri dapat dilihat pada Tabel 3.16 sebagai berikut: restu, anis, afif Page 35
36 Tabel 3.16 erakan Therblig pada Layout Usulan 3 No Tangan Kanan Tangan Kiri 1 Menjangkau 2 baut panjang Menjangkau bagian hitam 2 Memegang 2 baut panjang Memegang bagian hitam 3 Membawa 2 baut panjang Membawa bagian hitam 5 Menjangkau kabel Memakai 2 baut panjang ke bagian hitam 6 Memegang kabel Memegang rakitan 7 Membawa kabel Memegang badan putih 1 8 Memakai kabel pada rakitan bagian Memegang rakitan hitam 9 Menjangkau obeng Menjangkau mur 10 Memegang obeng Memegang mur 11 Membawa obeng Membawa mur 12 Mengarahkan obeng pada baut Memakai mur ke dalam rakitan panjang 1 13 Memakai obeng untuk Melepas steker mengencangkan baut panjang 1 14 Mengarahkan obeng pada baut panjang 2 15 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 16 Melepas obeng 17 Menjangkau badan putih 1 18 Memegang badan putih 1 19 Membawa badan putih 1 20 Memakai badan putih 1 pada rakitan 21 Menjangkau badan putih 2 22 Memegang badan putih 2 23 Membawa badan putih 2 24 Memakai badan putih 2 ke rakitan 25 Menjangkau mur 26 Memegang mur 27 Membawa mur 28 Memakai mur ke rakitan 29 Menjangkau baut pendek 30 Memegang baut pendek 31 Membawa baut pendek 32 Memakai baut pendek ke rakitan 33 Menjangkau obeng 34 Memegang obeng 35 Membawa obeng 36 Mengarahkan obeng pada rakitan 37 Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek 38 Melepas obeng restu, anis, afif Page 36
37 3. erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 3 Berdasarkan peta tangan dan tangan kiri, maka dapat diketahui gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout usulan 3. Adapun gerakan efektif dan inefektif dari kerja operator pada layout usulan 3 dapat dilihat pada Tabel 3.17 sebagai berikut: Tabel 3.17 erakan Efektif dan Inefektif pada Layout Usulan 3 No Nama erakan Tangan Kanan Tangan Kiri Efektif Inefektif Efektif Inefektif 1 Menjangkau Memegang Membawa Mengarahkan Memakai Merakit Melepas Perhitungan-perhitungan Adapun langkah-langkah dalam melakukan perhitungan pada layout usulan 3 adalah sebagai berikut: a. erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi erakan inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakan Persamaan 2.1 sebagai berikut: erakan Inefektif = 7 7 = 0 b. Persentase erakan Inefektif yang Dapat Dikurangi Persentase gerakan inefektif yang dapat dikurangi dihitung Persamaan 2.2 sebagai berikut: Presentase erakan Inefektif = x 100% = 0% menggunakan restu, anis, afif Page 37
38 c. Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi Waktu inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakan Persamaan 2.3 sebagai berikut: erakan Inefektif = = 105 d. Persentase Waktu Inefektif yang Dapat Dikurangi Persentase waktu inefektif yang dapat dikurangi dihitung menggunakn Persamaan 2.4 sebagai berikut: Presentase erakan Inefektif = 565 = 18,6 % 100% 3.3 Peta Aliran Proses ambaran dari seluruh aktivitas yang dilakukan oleh praktikan mulai dari awal sampai akhir perakitan dalam praktikum peta kerja ini merupakan peta aliran proses. Dalam peta aliran proses, kegiatan akan dibagi menjadi lima kegiatan utama, yakni kegiatan operasi (operation), pemeriksaan/inspeksi ( inspection), transportasi (transportation), menunggu (delay), dan penyimpanan (storage). Pada tahap ini, akan digambarkan peta aliran proses untuk masing-masing layout komponen steker. restu, anis, afif Page 38
39 3.3.1 Layout Awal Peta aliran proses untuk layout awal perakitan steker dapat dilihat pada Tabel 3.18 sebagai berikut: Kegiatan Operasi Pemeriksaan Transportasi Menunggu Penyimpanan Tabel 3.18 Peta Aliran Proses Layout Awal Ringkasan Pekerjaan : Merakit Steker Sekarang Usulan Beda Nomor peta : 001 Orang : Bahan: 32 Sekarang : Usulan: 0 6 Dipetakan oleh: Afif Triyoga Tanggal: 26 April Jumlah 41 Uraian Kegiatan Menjangkau bagian hitam Menjangkau 2 baut panjang Memegang bagian hitam Memegang 2 baut panjang Membawa bagian hitam Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam Menjangkau kabel Memegang kabel Membawa kabel Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 39
40 Memegang rakitan bagian hitam & baut panjang Uraian Kegiatan Tabel 3.18 Peta Aliran Proses Layout Awal (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki Merakit kabel pada rakitan bagian hitam & baut panjang Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng ke baut panjang 1 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng ke baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 Melepas obeng Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 Memasukkan rakitan ke badan putih Menjangkau badan putih 2 Memegang badan putih 2 Memegang rakitan Menjangkau mur Memegang mur Membawa mur Memasukkan mur ke dalam rakitan restu, anis, afif Page 40
41 Memegang rakitan Menjangkau baut pendek Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memegang rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Tabel 3.18 Uraian Kegiatan Membawa obeng Mengarahkan obeng pada baut pendek Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek Melepas obeng Melepas steker Peta Aliran Proses Layout Awal (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 41
42 3.3.2 Layout Usulan 1 Peta aliran proses untuk layout usulan 1 perakitan steker dapat dilihat pada Tabel 3.19 sebagai berikut: Kegiatan Operasi Pemeriksaan Transportasi Menunggu Penyimpanan Tabel 3.19 Peta Aliran Proses Layout Usulan 1 Ringkasan Pekerjaan : Merakit Steker Sekarang Usulan Beda Nomor peta : 001 Orang : Bahan: 32 Sekarang : Usulan: 0 6 Dipetakan oleh: Afif Triyoga Tanggal: 26 April Jumlah 41 Uraian Kegiatan Menjangkau bagian hitam Menjangkau 2 baut panjang Memegang bagian hitam Memegang 2 baut panjang Membawa bagian hitam Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 42
43 Menjangkau kabel Memegang kabel Membawa kabel Memegang rakitan bagian hitam & baut panjang Uraian Kegiatan Tabel 3.19 Peta Aliran Proses Layout Usulan 1 (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki Merakit kabel pada rakitan bagian hitam & baut panjang Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng ke baut panjang 1 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng ke baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 Melepas obeng Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 Memasukkan rakitan ke badan putih Menjangkau badan putih 2 Memegang badan putih 2 Memegang rakitan Menjangkau mur Memegang mur restu, anis, afif Page 43
44 Membawa mur Memasukkan mur ke dalam rakitan Memegang rakitan Menjangkau baut pendek Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memegang rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Tabel 3.19 Uraian Kegiatan Membawa obeng Mengarahkan obeng pada baut pendek Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek Melepas obeng Melepas steker Peta Aliran Proses Layout Usulan 1 (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 44
45 3.3.3 Layout Usulan 2 Peta aliran proses untuk layout usulan 2 perakitan steker dapat dilihat pada Tabel 3.20 sebagai berikut: Kegiatan Operasi Pemeriksaan Transportasi Menunggu Penyimpanan Tabel 3.20 Peta Aliran Proses Layout Usulan 2 Ringkasan Pekerjaan : Merakit Steker Sekarang Usulan Beda Nomor peta : 001 Orang : Bahan: 32 Sekarang : Usulan: 0 6 Dipetakan oleh: Afif Triyoga Tanggal: 26 April Julmah 41 Uraian Kegiatan Menjangkau bagian hitam Menjangkau 2 baut panjang Memegang bagian hitam Memegang 2 baut Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 45
46 panjang Membawa bagian hitam Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam Menjangkau kabel Memegang kabel Membawa kabel Memegang rakitan bagian hitam & baut panjang Uraian Kegiatan Tabel 3.20 Peta Aliran Proses Layout Usulan 2 (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki Merakit kabel pada rakitan bagian hitam & baut panjang Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng ke baut panjang 1 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng ke baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 Melepas obeng Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 Memasukkan rakitan ke badan putih Menjangkau badan putih 2 Memegang badan putih 2 restu, anis, afif Page 46
47 Memegang rakitan Menjangkau mur Memegang mur Membawa mur Memasukkan mur ke dalam rakitan Memegang rakitan Menjangkau baut pendek Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memegang rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Tabel 3.20 Uraian Kegiatan Membawa obeng Mengarahkan obeng pada baut pendek Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek Melepas obeng Melepas steker Peta Aliran Proses Layout Usulan 2 (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 47
48 3.3.4 Layout Usulan 3 Peta aliran proses untuk layout usulan 3 perakitan steker dapat dilihat pada Tabel 3.21 sebagai berikut: Kegiatan Operasi Pemeriksaan Transportasi Menunggu Penyimpanan Tabel 3.21 Peta Aliran Proses Layout Usulan 3 Ringkasan Pekerjaan : Merakit Steker Sekarang Usulan Beda Nomor peta : 001 Orang : Bahan: 32 Sekarang : Usulan: 0 3 Dipetakan oleh: Afif Triyoga Tanggal: 26 April Jumlah 41 Uraian Kegiatan Menjangkau bagian hitam Menjangkau 2 baut panjang Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki restu, anis, afif Page 48
49 Memegang bagian hitam Memegang 2 baut panjang Membawa bagian hitam Merakit 2 baut panjang ke bagian hitam Menjangkau kabel Memegang kabel Membawa kabel Memegang rakitan bagian hitam & baut panjang Uraian Kegiatan Tabel 3.21 Peta Aliran Proses Layout Usulan 3 (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki Merakit kabel pada rakitan bagian hitam & baut panjang Menjangkau obeng Memegang obeng Membawa obeng Mengarahkan obeng ke baut panjang 1 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 1 Mengarahkan obeng ke baut panjang 2 Memakai obeng untuk mengencangkan baut panjang 2 Melepas obeng Menjangkau badan putih 1 Memegang badan putih 1 Memasukkan rakitan ke badan putih Menjangkau badan restu, anis, afif Page 49
50 putih 2 Memegang badan putih 2 Memegang rakitan Menjangkau mur Memegang mur Membawa mur Memasukkan mur ke dalam rakitan Memegang rakitan Menjangkau baut pendek Memegang baut pendek Membawa baut pendek Memegang rakitan Menjangkau obeng Memegang obeng Tabel 3.21 Uraian Kegiatan Membawa obeng Mengarahkan obeng pada baut pendek Memakai obeng untuk mengencangkan baut pendek Melepas obeng Melepas steker Peta Aliran Proses Layout Usulan 3 (lanjutan) Lambang Jarak Jumlah Waktu Analisa Apa Dimana Kapan Siapa Bagaimana Catatan Ruang abung Ruang abung Tindakan Ubah Urutan Tempat Orang Perbaiki 3.4 Uji Keseragaman Data Uji keseragaman data dilakukan dengan tujuan agar mengetahui ada atau tidak data yang keluar dari batas kontrol. Adapun prosesnya yaitu hasil dari perhitungan waktu kerja operator pada saat melakukan perakitan steker dimasukkan ke dalam peta kontrol, bila ada waktu kerja yang tidak wajar, maka akan dapat diketahui. Jika terdapat data waktu kerja yang dianggap tidak wajar sehingga data menjadi tidak seragam maka akan dilakukan analisis mengenai hal yang menyebabkan ketidakwajaran tersebut. Data dapat restu, anis, afif Page 50
51 dikatakan seragam jika seluruh data waktu kerja operator masuk dalam range antara BKA dan BKB. 1. Data Pengamatan pada Layout Awal Sebelum dilakukannya uji keseragaman data, maka terlebih dahulu dicari nilai ratarata, standar deviasi, dan Batas Kontrol Atas (BKA) serta Batas Kontrol Bawah (BKB) sebagai berikut: a. Rata-rata Nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.8 sebagai berikut: X = 4 = 83,75 b. Standar Deviasi Standar deviasi diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.7 di bawah ini: SD = (87-83,75) 2 + (101-83,75) 2 + (79-83,75) 2 + (68-83,75) = 13,89 c. Batas Kontrol Atas (BKA) Batas kontrol atas diperoleh menggunakan Persamaan 2.5 sebagai berikut: BKA = 83,75 + 2(13,89) = 111,53 d. Batas Kontrol Bawah (BKB) Batas kontrol bawah diperoleh menggunakan Persamaan 2.6 sebagai berikut: BKB = 83,75 2(13,89) = 55,97 e. Tabel Keseragaman Data Hasil perhitungan nilai BKA dan BKB, SD serta nilai rata-rata dapat dilihat pada Tabel 3.22 berikut: Tabel 3.22 Uji Keseragaman Data Layout Awal restu, anis, afif Page 51
52 No Data (waktu) Rata-rata SD BKA BKB ,75 13,89 111,53 55, ,75 13,89 111,53 55, ,75 13,89 111,53 55, ,75 13,89 111,53 55,97 f. rafik Keseragaman Data Berdasarkan batas-batas kontrol yang telah diperoleh, maka dapat dibuat grafik keseragaman data layout awal yang dapat dilihat pada ambar 3.5 di bawah ini: 120 rafik Keseragaman Data Layout Awal N i l a i Data (Waktu) Rata-Rata SD BKA BKB 0 Steker 1 Steker 2 Steker 3 Steker 4 Jumlah Pengamatan ambar 3.5 rafik Keseragaman Data Layout Awal Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa data-data yang diperoleh semuanya berada di antara BKA dan BKB yang berarti semuanya layak dimasukkan ke pengolahan selanjutnya. 2. Data Pengamatan pada Layout Usulan 1 restu, anis, afif Page 52
53 Sebelum dilakukannya uji keseragaman data, maka terlebih dahulu dicari nilai ratarata, standar deviasi, dan Batas Kontrol Atas (BKA) serta Batas Kontrol Bawah (BKB) sebagai berikut: a. Rata-rata Nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.8 sebagai berikut: X = 4 = 74,5 b. Standar Deviasi Standar deviasi diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.7 di bawah ini: SD = (78 74,5) 2 + (71 74,5) 2 + (68 74,5) 2 +(81 74,5) = 6,03 c. Batas Kontrol Atas (BKA) Batas kontrol atas diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.5 sebagai berikut: BKA = 74,5 + 2(6,03) = 86,56 d. Batas Kontrol Bawah (BKB) Batas kontrol bawah diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.6 sebagai berikut: BKB = 74,5 2(6,03) = 62,44 e. Tabel Keseragaman Data Hasil perhitungan nilai BKA dan BKB, SD serta nilai rata-rata dapat dilihat pada Tabel 3.23 berikut: Tabel 3.23 Uji Keseragaman Data Layout Usulan 1 No Data (waktu) Rata-rata SD BKA BKB ,5 6,03 86,56 62, ,5 6,03 86,56 62, ,5 6,03 86,56 62, ,5 6,03 86,56 62,44 restu, anis, afif Page 53
54 f. rafik Keseragaman Data Berdasarkan batas-batas kontrol yang telah diperoleh, maka dapat dibuat grafik keseragaman data layout awal yang dapat dilihat pada ambar 3.6 di bawah ini: 100 rafik Keseragaman Data Layout Usulan 1 N i l a i ambar 3.6 rafik Keseragaman Data Layout 1 Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa data-data yang diperoleh semuanya berada di antara BKA dan BKB yang berarti semuanya layak dimasukkan ke pengolahan selanjutnya. 3. Data Pengamatan Layout Usulan 2 Sebelum dilakukannya uji keseragaman data, maka terlebih dahulu dicari nilai ratarata, standar deviasi, dan Batas Kontrol Atas (BKA) serta Batas Kontrol Bawah (BKB) sebagai berikut: a. Rata-rata Nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.8 sebagai berikut: X = = 64,75 b. Standar Deviasi Steker 1 Steker 2 Steker 3 Steker 4 Jumlah Pengamatan 4 Data (Waktu) Rata-Rata SD BKA BKB Standar deviasi diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.7 di bawah ini: SD = (63 64,75) 2 +(68 64,75) 2 +(64 64,75) 2 +(64 64,75) restu, anis, afif Page 54
55 = 2,22 c. Batas Kontrol Atas (BKA) Batas kontrol atas diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.5 sebagai berikut: BKA = 64,75 + 2(2,22) = 69,19 d. Batas Kontrol Bawah (BKB) Batas kontrol bawah diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.6 sebagai berikut: BKB = 64,75 2 (2,22) = 60,31 e. Tabel Keseragaman Data Hasil perhitungan nilai BKA dan BKB, SD serta nilai rata-rata dapat dilihat pada Tabel 3.24 berikut: Tabel 3.24 Uji Keseragaman Data Layout Usulan 2 No Data (waktu) Rata-rata SD BKA BKB ,75 2,22 69,19 60, ,75 2,22 69,19 60, ,75 2,22 69,19 60, ,75 2,22 69,19 60,31 f. rafik Keseragaman Data Berdasarkan batas-batas kontrol yang telah diperoleh, maka dapat dibuat grafik keseragaman data layout usulan 2 yang dapat dilihat pada ambar 3.7 di bawah ini: restu, anis, afif Page 55
56 N i l a i rafik Keseragaman Data Layout Usulan 2 Steker 1 Steker 2 Steker 3 Steker 4 Jumlah Pengamatan Data (Waktu) Rata-Rata SD BKA BKB ambar 3.7 rafik Keseragaman Data Layout Usulan 2 Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa data-data yang diperoleh semuanya berada di antara BKA dan BKB yang berarti semuanya layak dimasukkan ke pengolahan selanjutnya. 4. Data Pengamatan Layout Usulan 3 Sebelum dilakukannya uji keseragaman data, maka terlebih dahulu dicari nilai ratarata, standar deviasi, dan Batas Kontrol Atas (BKA) serta Batas Kontrol Bawah (BKB) sebagai berikut: a. Rata-rata Nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.8 sebagai berikut: X = 4 = 57,5 b. Standar Deviasi Standar deviasi diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.7 di bawah ini: SD = (51 57,5) 2 +(56 57,5) 2 +(61 57,5) 2 +(62 57,5) = 5,07 c. Batas Kontrol Atas (BKA) restu, anis, afif Page 56
57 Batas kontrol atas diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.5 sebagai berikut: BKA = 5,75 + 2(5,07) = 67,64 d. Batas Kontrol Bawah (BKB) Batas kontrol bawah diperoleh dengan menggunakan Persamaan 2.6 sebagai berikut: BKB = 57,5 2(5,07) = 47,36 e. Tabel Keseragaman Data Hasil perhitungan nilai BKA dan BKB, SD serta nilai rata-rata dapat dilihat pada Tabel 3.25 berikut: Tabel 3.25 Uji Keseragaman Data Layout Usulan 3 No Data (waktu) Rata-rata SD BKA BKB ,5 5,07 67,64 47, ,5 5,07 67,64 47, ,5 5,07 67,64 47, ,5 5,07 67,64 47,36 f. rafik Keseragaman Data Berdasarkan batas-batas kontrol yang telah diperoleh, maka dapat dibuat grafik keseragaman data layout usulan 3 yang dapat dilihat pada ambar 3.8 di bawah ini: restu, anis, afif Page 57
58 rafik Keseragaman Data Layout Usulan 3 N i l a i Data (waktu) Rata-rata SD BKA BKB 0 Steker 1 Steker 2 Steker 3 Steker 4 Jumlah Pengamatan ambar 3.8 rafik Keseragaman Data Layout Usulan 3 Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa data-data yang diperoleh semuanya berada di antara BKA dan BKB yang berarti semuanya layak dimasukkan ke pengolahan selanjutnya. 3.5 Uji Kecukupan Data Uji kecukupan data ini dilakukan agar dapat diketahui cukup atau tidak data pengamatan yang telah diambil. Apabila nilai N lebih kecil daripada nilai N, maka data dapat dinyatakan cukup, sedangkan bila nilai N lebih besar daripada nilai N, maka data masih dianggap kurang. 1. Data Pengamatan pada Layout Awal Uji kecukupan data pada layout awal dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 2.11 sebagai berikut: restu, anis, afif Page 58
59 N` = 2 0,05 4(28635) (335) N` = 33 data N > N, maka data dinyatakan tidak cukup 2. Data Pengamatan pada Layout Usulan 1 Uji kecukupan data layout usulan 1 dapat dihitung dengan Persamaan 2.11 sebagai berikut: N` = N` 2 0,05 4(22310) (298) = 7,85 data 8 data N > N, maka data dinyatakan tidak cukup 3. Data Pengamatan pada Layout Usulan 2 2 Uji kecukupan data layout usulan 2 dapat dihitung dengan Persamaan 2.11 sebagai berikut: N` = N` 2 0,05 4(167852) (2594) = 1,41 data 2 data N < N, maka data dinyatakan cukup 4. Data Pengamatan pada Layout Usulan 3 Uji kecukupan data layout usulan 3 dapat dihitung dengan Persamaan 2.11 sebagai berikut: 2 restu, anis, afif Page 59
60 N` = 2 0,05 4(13302) (230) N` = 9,31 data 10 data N > N, maka data dinyatakan tidak cukup 3.6 Faktor Penyesuaian dan Faktor Allowance Faktor kelonggaran ( allowance) terhadap kinerja operator diberikan ketika terjadi ketidakwajaran operator pada saat dilakukan pengukuran yang akan mempengaruhi kecepatan kerja, misalnya terlalu singkat atau terlalu lamanya waktu penyelesaian pekerjaan. Oleh sebab itulah perlu diadakan penyesuaian dan pertimbangan terhadap faktor allowance. 1. Faktor Penyesuaian Adapun penyesuaian yang dilakukan menggunakan metode Westing House yang mencakup empat elemen utama penyesuaian, yakni skill, effort, condition, dan consistency. a. Skill = ood (C2) = +0,03 b. Effort = ood(c1) = +0,07 c. Condition = Average (D) = +0,02 d. Consistency = ood (C) = +0, ,13 Langkah selanjutnya yaitu mendapatkan rasio dari faktor penyesuaian dengan menggunakan Persamaan 3.6 sebagai berikut: Faktor Penyesuaian = 1 + 0,13 = 1,13 1. Faktor Allowance Berikut ini merupakan faktor allowance yang diberikan kepada operator: restu, anis, afif Page 60
61 a. Tenaga yang dikeluarkan = 1,2% b. Sikap kerja = 0,6% c. erakan kerja = 0,7% d. Kelelahan mata = 1,2% e. Temperatur tempat kerja = 0,9% f. Keadaan atmosfer = 0,6% g. Keadaan lingkungan = 0,8% + 6 % Jadi, faktor penyesuaian dan faktor allowance yang dibutuhkan oleh operator pada proses perakitan steker adalah sebesar 1,13% dan 6%. 3.7 Waktu Normal Waktu normal ditentukan dengan menggunakan faktor penyesuaian yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan Persamaan 2.9 sebagai berikut: 1. Waktu Normal Layout Awal Perhitungan waktu normal untuk layout awal adalah sebagai berikut: Wn = 83,75 1,13 = 94,64 detik/unit 2. Waktu Normal Layout Usulan 1 Perhitungan waktu normal untuk layout usulan 1 adalah sebagai berikut: Wn = 74,5 1,13 = 84,19 detik/unit 3. Waktu Normal Layout Usulan 2 Perhitungan waktu normal untuk layout usulan 2 adalah sebagai berikut: Wn = 64,75 1,13 = 73,17 detik/unit 4. Waktu Normal Layout Usulan 3 Perhitungan waktu normal untuk layout usulan 3 adalah sebagai berikut: Wn = 57,5 1,13 = 64,98 detik/unit restu, anis, afif Page 61
62 3.8 Waktu Standar Faktor allowance yang diberikan adalah sebesar 6%, maka waktu standar masingmasing layout dapat diperoleh dengan Persamaan 2.10 dengan penjabaran sebagai berikut: 1. Waktu Standar Layout Awal Waktu standar pada layout awal perakitan steker adalah sebagai berikut: 100% Ws = 94,64 100% - 6% = 100,32 detik/unit 2. Waktu Standar untuk Layout Usulan 1 Waktu standar pada layout usulan 1 perakitan steker adalah sebagai berikut: W s 100% = 84,19 100% - 6% = 89,24 detik/unit 3. Waktu Standar Layout Usulan 2 Waktu standar pada layout usulan 2 perakitan steker adalah sebagai berikut: W s 100% = 73,17 100% - 6% = 77,56 detik/unit 4. Waktu Standar untuk Layout Usulan 3 Waktu standar pada layout usulan perakitan steker adalah sebagai berikut: W s 100% = 64,98 100% - 6% = 68,88 detik/unit restu, anis, afif Page 62
63 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Layout Awal Pada layout awal ini, jarak tangan kanan operator ke tempat jadi 59 cm, ke badan putih 55 cm, ke bagian hitam 38 cm, ke baut panjang 59 cm, ke baut pendek 44 cm, ke mur 71 cm, ke kabel 66 cm dan yang terakhir ke tempat obeng 24 cm. Sedangkan untuk jarak tangan kiri operator ke setiap elemen steker diperoleh jarak tangan kiri ke tempat jadi 28 cm, ke badan putih 71 cm, ke bagian hitam 66 cm, ke baut panjang 59 cm, baut pendek 44 cm, ke mur 55 cm, ke kabel 38 dan yang terakhir ke tempat obeng 61 cm. Pada penggunaan layout awal, operator tidak bekerja dengan baik karena waktu ratarata yang dibutuhkan operator dalam merakit steker adalah 83,75 detik dengan jumlah waktu kerja 335 detik. Dari hasil pengamatan dan analisis tehadap kinerja operator pada penggunaan layout awal dapat disimpulkan bahwa operator mengalami sedikit kesulitan pada penggunaan layout awal ini. Hal ini dikarenakan oleh letak komponen-komponen steker yang sangat sukar dan kurang beraturan sehingga membuat operator sedikit mengalami kesulitan dalam kinerjanya. 4.2 Layout Usulan 1 Pada layout usulan, operator merancang layout yang sesuai menurut operator guna mengurangi gerakan inefektif. Layout usulan yang pertama yaitu layout usulan 1. Pada layout ini dilakukan pemindahan komponen-komponen steker, sehingga dapat menghilangkan gerakan yang tidak efektif. Pada layout usulan 1 jarak tangan kanan ke baut pendek 42 cm, ke mur 42 cm, ke badan putih 51 cm, ke baut panjang 28 cm, ke bagian hitam 43 cm, ke tempat obeng 24 cm, ke kabel 38 dan ke tempat jadi 59 cm. Sedangkan jarak tangan kiri operator ke setiap elemen steker diperoleh jarak tangan kiri ke baut pendek 57 cm, ke mur 57 cm, ke badan putih 51 cm, ke baut panjang 43, ke bagian hitam 28 cm, ke tempat obeng 61 cm, ke kabel 38 dan ke tempat jadi 28 cm. restu, anis, afif Page 63
64 Adapun jumlah waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk merakit empat steker pada layout usulan 1 adalah 298 detik dengan waktu rata-rata 74,5 detik untuk setiap unit. Operator bekerja lebih cepat pada saat menggunakan layout usulan 1 ini dibandingkan dengan penggunaan layout awal. Hal ini dapat dipengaruhi salah satunya oleh letak komponen-komponen penyusun yang memudahkan operator dalam menjangkau serta merakit steker. Namun gerakan inefektif (tidak efektif) yaitu mengarahkan tidak dapat dihilangkan. 4.3 Layout Usulan 2 Selanjutnya adalah layout usulan 2 yaitu dilakukan kembali pemindahan komponenkomponen steker sehingga dapat lebih mengurangi gerakan-gerakan inefektif daripada layout yang sebelumnya. Pada layout usulan 2 jarak tangan kanan operator ke tempat jadi 57 cm, ke badan putih 35 cm, ke bagian hitam 41 cm, ke mur 48 cm, ke baut pendek 31 cm, ke baut panjang 35 cm, ke kabel 57 cm dan ke tempat obeng 23 cm. Adapun jarak tangan kiri operator ke setiap elemen steker diperoleh jarak tangan kiri ke tempat jadi 23 cm, ke bagian hitam 38 cm, ke badan putih 35 cm, ke mur 57 cm, ke baut pendek 54 cm, ke baut panjang 45 cm, ke kabel 54 cm dan ke tempat obeng 62 cm. Saat menggunakan layout usulan 2 dalam merakit steker, operator kembali bekerja lebih cepat daripada layout usulan 1 dan layout awal. Waktu rata-rata yang diperoleh oleh operator adalah 64,75 detik untuk tiap unitnya dengan total waktu 259 detik untuk empat unit steker yang dirakit. Hal ini disebabkan karena bentuk layout pada usulan 2 lebih menunjang kinerja operator dimana komponen-komponennya disusun lebih efektif sehingga operator lebih cepat jika dibandingkan total waktu pada saat penggunaan layout awal maupun layout usulan 1. erakan inefektif (tidak efektif) yaitu mengarahkan dapat dihilangkan. 4.4 Layout Usulan 3 Pada penyusunan layout usulan yang terakhir ( layout usulan 3), operator kembali melakukan pemindahan komponen-komponen steker yang diperkirakan lebih sesuai dan efektif bagi operator dalam merakit steker. Pada layout usulan 3 jarak tangan kanan operator ke baut panjang 40 cm, ke mur 29 cm, ke baut pendek 45 cm, ke badan putih restu, anis, afif Page 64
65 59 cm, ke bagian hitam 50 cm, ke tempat jadi 54 cm, ke kabel 47 cm dan ke tempet obeng 23 cm. Adapun jarak tangan kiri operator ke setiap komponen-komponen steker yaitu jarak tangan kiri ke baut panjang 44 cm, ke mur 46 cm, baut pendek 34 cm, ke badan putih 49 cm, ke bagian hitam 30 cm, ke tempat jadi 23 cm, ke kabel 61 cm dan ke tempat obeng 62 cm. Pada layout usulan 3, operator menempuh waktu rata-rata perakitan untuk setiap unit steker dengan waktu 57,5 detik dan waktu totalnya adalah 230 detik. Penyusunan layout usulan 3 membuat operator bekerja lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dibandingkan dengan layout sebelum-sebelumnya yaitu layout awal, layout usulan 1, serta layout usulan 2. erakan inefektif (tidak efektif) yaitu mengarahkan juga dapat dihilangkan. 4.5 Perbedaan Layout Awal dengan Layout Usulan 1, 2, dan 3 Ada beberapa perbedaan antara layout awal, layout usulan 1, 2, dan 3 selain dari letak pada susunan dan jarak tempat komponen-komponen steker dengan tangan operator. Adapun beberapa perbedaan tersebut akan dijelaskan pada Tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Perbedaan Layout Awal dan Layout Usulan 1, 2, dan 3 No Layout Awal Layout Usulan 1 Layout Usulan 2 Layout Usulan 3 1 Waktu siklus sebesar 83,75 detik/unit Waktu siklus sebesar 74,5 detik/unit Waktu siklus sebesar 64,75 detik/unit Waktu siklus sebesar 57,5 detik/unit Layout awal terdiri dari 7 elemen Therblig Jarak antar komponenkomponen steker cukup jauh sehingga sulit dijangkau oleh operator Operator cukup mengalami kesulitan dengan tata letak komponen steker yang bersilangsilang Layout usulan 1 terdiri dari 7 elemen Therblig Jarak antar komponenkomponen steker tidak terlalu jauh sehingga mudah dijangkau oleh operator Operator tidak mengalami kesulitan dengan tata letak komponen steker yang cukup dekat Layout usulan 2 terdiri dari 7 elemen Therblig Jarak antar komponenkomponen steker cukup dekat sehingga mudah dijangkau oleh operator Operator tidak terlalu mengalami kesulitan dengan tata letak tempat komponen steker yang berurutan dan berdekatan Layout usulan 1 terdiri dari 7 elemen Therblig Jarak antar komponenkomponen steker lebih dekat sehingga mudah dijangkau oleh operator Operator tidak mengalami kesulitan dengan tata letak tempat komponen steker yang cukup berdekatan dan sesuai dengan restu, anis, afif Page 65
66 operator 4.6 erakan Therblig Pada layout awal dalam merakit steker, operator melakukan gerakan sebanyak 28 gerakan. erakan Therblig yang dilakukan sebanyak tujuh gerakan, dimana enam dari tujuh gerakan tersebut merupakan gerakan efektif yaitu gerakan menjangkau, memegang, merakit, menggunakan, dan melepas; serta satu gerakan inefektif yaitu mengarahkan. Pada layout usulan 1 dalam merakit steker, operator melakukan gerakan sebanyak 28 gerakan. erakan Therblig yang dilakukan sebanyak tujuh gerakan, dimana enam dari tujuh gerakan tersebut merupakan gerakan efektif yaitu gerakan menjangkau, memegang, merakit, menggunakan, dan melepas; serta satu gerakan inefektif yaitu mengarahkan. Pada layout usulan 2 dalam merakit steker, operator melakukan gerakan sebanyak 28 gerakan. erakan Therblig yang diperoleh adalah sebanyak tujuh gerakan, dengan tujuh gerakan tersebut adalah gerakan efektif. Pada layout usulan 3 dalam merakit steker, operator melakukan gerakan sebanyak 28 gerakan. erakan Therblig yang diperoleh adalah sebanyak tujuh gerakan, dan semua gerakan tersebut merupakan gerakan yang efektif. 4.7 Faktor Pengaruh Keefekifan erakan Faktor ketelitian, penggunaan pengelihatan, jarak, dan berat beban merupakan faktorfaktor yang mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Faktor ketelitian dimaksudkan untuk menyatakan besarnya penggunaan otot untuk mengendalikan suatu gerakan (muscular control). Dalam memasukkan sehelai benang pada sebuah lubang jarum yang kecil misalnya, bila diameter lubangnya restu, anis, afif Page 66
67 hanya sedikit lebih besar dari diameter paku, pelaksanaannya jauh lebih sulit daripada memasukkannya pada lubang yang diameternya jauh lebih besar dari diameter benang. Ketelitian lebih diperlukan ketika operator mengambil bendabenda yang sangat kecil dibandingkan dengan pengambilan benda yang besar. 2. Penggunaan indra penglihatan yaitu mata sebagai kontrol suatu gerakan mempengaruhi waktu gerak, tergantung indra penglihatan digunakan. Indra pengelihatan dapat dikatan sebagai pengatur arah gerakan (visually directed motion). Mata dapat digunakan secara optimal dengan cara memfokuskan pandangan karena apabila pandangan mata tidak dapat dipusatkan pada titik berhenti sebelum gerakan dimulai, gerakannya menjadi lebih lambat sehingga waktu yang dibutuhkannya menjadi lebih lama. 3. Seperti yang telah dikatehui, jarak sangat menentukan gerakan operator karena semakin jauh jarak yang harus ditempuh oleh suatu gerakan, maka semakin lama waktu yang dibutuhkan. Tabel-tabel pada pembahasan sebelumnya untuk setiap elemen gerak menunjukkan waktu untuk melakukan gerakan yang dihubungkan dengan jarak. 4. Berat beban juga mempengaruhi lambat atau cepatnya suatu gerak. Dengan kata lain, berat beban yang dibawa atau gaya yang menahan dan harus diatasi. Ada tiga macam berat beban yang dijumpai biasanya yaitu berat karena beban yang dibawa, gaya untuk mengencangkan atau mengendurkan sesuatu, serta untuk mengangkut atau menggeser sebuah benda yang cukup berat. 4.8 Pembahasan Perhitungan Pembahasan mengenai perhitungan pada pengolahan data pada masing-masing layout akan dibahas lebih lanjut di bawah ini: 1. Uji Keseragaman Data Berikut adalah pembahasan uji keseragaman data pada tiap-tiap layout adalah: a. Layout Awal Pada layout awal, diperoleh nilai Batas Kontrol Atas (BKA) sebesar 111,53 Batas Kontrol Bawah (BKB) sebesar 55,97 dan Standar Deviasi ( SD) sebesar 13,89 dengan waktu rata-rata perakitan steker per unit pada layout ini yaitu restu, anis, afif Page 67
68 83,75 detik. Dari hasil yang diperoleh dari nilai-nilai dan grafik pada pembahasan sebelumnya dapat dilihat bahwa data yang diperoleh pada layout awal ini masih dalam range batas kontrol. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat data yang harus yang harus dibuang karena berada di luar batas kontrol keseragaman data. b. Layout Usulan 1 Pada layout usulan 1, diperoleh nilai Batas Kontrol Atas (BKA) sebesar 86,56 Batas Kontrol Bawah (BKB) sebesar 62,44 dan Standar Deviasi ( SD) sebesar 6,03 dengan waktu rata-rata perakitan steker per unit pada layout ini yaitu 74,5 detik. Dari hasil yang diperoleh dari nilai-nilai dan grafik pada pembahasan sebelumnya dapat dilihat bahwa data yang diperoleh pada layout usulan 1 masih dalam batas range kontrol. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat data yang harus yang harus dibuang karena berada di luar batas kontrol keseragaman data. c. Layout Usulan 2 Pada layout usulan 2, diperoleh nilai Batas Kontrol Atas (BKA) sebesar 69,19 Batas Kontrol Bawah (BKB) sebesar 60,31 dan Standar Deviasi ( SD) sebesar 2,22 dengan waktu rata-rata perakitan steker per unit pada layout ini yaitu 64,75 detik. Dari hasil yang diperoleh dari nilai-nilai dan grafik pada pembahasan sebelumnya dapat dilihat bahwa data yang diperoleh pada layout usulan 2 masih dalam batas range kontrol. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat data yang harus yang harus dibuang karena berada di luar batas kontrol keseragaman data. d. Layout Usulan 3 Pada layout usulan 3, diperoleh nilai Batas Kontrol Atas (BKA) sebesar 67,64 Batas Kontrol Bawah (BKB) sebesar 47,36 dan Standar Deviasi ( SD) sebesar 5,07 dengan waktu rata-rata perakitan steker per unit pada layout ini yaitu 57,5 detik. Dari hasil yang diperoleh dari nilai-nilai dan grafik pada pembahasan sebelumnya dapat dilihat bahwa data yang diperoleh pada layout usulan 3 masih dalam range batas-batas kontrol. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan restu, anis, afif Page 68
69 bahwa tidak terdapat data yang harus dibuang karena berada di luar batas kontrol keseragaman data. 2. Uji Kecukupan Data Adapun pembahasan perhitungan mengenai uji kecukupan data untuk masingmasing layout akan dibahas lebih lanjut di bawah ini: a. Layout Awal Setelah dilakukan uji kecukupan data untuk layout awal, data yang diperoleh dinyatakan tidak cukup karena N yang diperoleh sebesar 33 data sehingga perlu dilakukan pengulangan data. b. Layout Usulan 1 Setelah dilakukan uji kecukupan data untuk layout usulan 1, data yang diperoleh dinyatakan tidak cukup karena N yang diperoleh sebesar 7,86 data 8 data sehingga perlu dilakukan pengulangan data. c. Layout Usulan 2 Setelah dilakukan uji kecukupan data untuk layout usulan 2, data yang diperoleh dinyatakan cukup karena N yang diperoleh sebesar 1,41 data 2 data, sehingga tidak perlu dilakukan pengulangan data. d. Layout Usulan 3 Setelah dilakukan tes kecukupan data maka untuk layout awal, data yang diperoleh dinyatakan tidak cukup karena N yang diperoleh sebesar 9,32 data 10 data sehingga perlu dilakukan pengulangan data. 3. Waktu Normal Waktu normal ditetapkan dari elemen-elemen gerakan kerja yang dilakukan oleh operator. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada pembahasan sebelumnya, maka waktu normal yang diperoleh untuk layout awal sebesar 94,64 detik/unit, layout usulan 1 sebesar 84,19 detik/unit, layout usulan 2 sebesar 73,17 restu, anis, afif Page 69
70 detik/unit dan terakhir yaitu untuk layout usulan 3 adalah 64,98 detik/unit. Dari keempat waktu normal yang diperoleh dari seluruh layout terlihat bahwa waktu normal yang tercepat adalah layout usulan Waktu Standar Waktu standar ditetapkan tergantung dari waktu normal dan nilai allowance berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh waktu standar untuk layout awal yaitu 100,32 detik/unit, layout usulan 1 sebesar 89,24 detik/unit, layout usulan 2 sebesar 77,56 detik/unit dan yang terakhir yaitu layout usulan 3 sebesar 68,88 detik/unit. Sama halnya dengan waktu normal, waktu standar paling singkat yang dihasilkan juga berada pada layout usulan Faktor Penyesuaian dan Faktor Allowance Berdasarkan hasil dari pengamatan dan pengolahan data dengan cara Westing House System serta faktor allowance, maka didapatkan data-data sebagai berikut: 1. Westing House System didasarkan pada empat tolak ukur yaitu skill, effort, condition, dan consistency. Faktor penyesuaian dengan Westing House System tersebut dipaparkan sebagai berikut: a. Skill = +0,03 Nilai ini ditetapkan karena operator memiliki kemampuan yang cukup baik dalam merakit steker. b. Effort = +0,07 Nilai ini ditetapkan karena operator memiliki usaha yang baik untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam merakit steker. c. Condition = +0,02 Nilai ini ditetapkan berdasarkan kondisi operator yang cukup baik. d. Consistency = +0,01 Nilai ini ditetapkan karena konsistensi kerja operator yang tidak terlalu tinggi yang dapat dilihat dari perbedaan hasil yang cukup berbeda. Faktor penyesuaian secara Westing House System digunakan untuk menghitung nilai waktu normal dari operator perakit steker. Nilai faktor penyesuaian yang diperoleh adalah sebesar 0,13. restu, anis, afif Page 70
71 2. Faktor Allowance Selain menetapkan faktor penyesuaian dengan Westing House System, untuk memperoleh nilai waktu standar juga diperlukan nilai kelonggaran (allowance) yang didasarkan pada faktor-faktor yang berpengaruh. Kelonggaran ( allowance) pada operator yang diberikan adalah sebesar 6% dengan rincian sebagai berikut: a. Sikap kerja = 0,6% Kelonggaran sebesar 0,6% pada sikap kerja disebabkan posisi kerja operator yang duduk sehingga memudahkan operator untuk bekerja. b. erakan kerja = 0,7% erakan kerja yang dilakukan operator sangat normal. c. Kelelahan mata = 1,2% Operator mengalami kelelahan mata pada saat melakukan perakitan komponenkomponen steker. d. Tenaga yang dikeluarkan = 1,2% Dalam melakukan pekerjaannya yaitu merakit steker, operator membutuhkan tenaga yang cukup ringan namun menguras tenaga karena membutuhkan konsentrasi yang cukup. e. Temperatur tempat kerja = 0,9% Ketika operator melakukan pekerjaan yaitu merakit steker, temperatur tempat kerja normal yaitu antara 22 0 C-28 0 C. f. Keadaan atmosfer = 0,6 % Operator melakukan pekerjaan yaitu merakit steker di dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang cukup baik, tidak berdebu, serta tidak ada gas-gas beracun yang berbahaya. g. Keadaan lingkungan = 0,8 % Operator melakukan pekerjaan yaitu merakit steker pada lingkungan yang tidak terlalu bising dan siklus kerja yang berulang-ulang. restu, anis, afif Page 71
72 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan dari kegiatan praktikum ini mengenai peta kerja yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Elemen-elemen gerakan yang dilakukan terhadap beberapa gerakan bagian tubuh dalam perakitan steker ada tujuh macam yaitu gerakan menjangkau, memegang, merakit, menggunakan, melepas, serta mengarahkan. 2. Pada semua layout terdapat 7 gerakan Therblig. Pada layout awal dan layout usulan 1 dalam perakitan steker terdapat enam dari tujuh gerakan tersebut merupakan gerakan efektif yaitu gerakan menjangkau, memegang, merakit, menggunakan, dan melepas; serta satu gerakan inefektif yaitu mengarahkan. Pada layout usulan 2 dan layout usulan 3 dalam merakit steker, semua gerakan tersebut adalah gerakan efektif. 3. Dalam perakitan steker kali ini terdapat 4 layout yaitu layout awal serta layout usulan 1,2 dan 3. Pada layout awal, waktu normal dan waktu standar yang diperoleh operator adalah 94,64 detik/unit dan 100,32 detik/unit. Pada layout usulan 1, waktu normal dan waktu standar yang diperoleh operator adalah 84,19 detik/unit dan 89,24 detik/unit. Pada layout usulan 2, waktu normal dan waktu standar yang diperoleh restu, anis, afif Page 72
73 operator adalah 73,17 detik/unit dan 77,56 detik/unit. Pada layout yang terakhir yaitu pada layout usulan 3, waktu normal dan waktu standar yang diperoleh operator adalah 64,98 detik/unit dan 68,88 detik/unit. 5.2 Saran Setelah melaksanakan kegiatan praktikum mengenai peta kerja kali ini, kami memberikan beberapa saran, yaitu: 1. Diharapkan dalam pelaksanan praktikum disediakan kabel lebih banyak dikarenakan kabel yang telah dirangkai sukar untuk digunakan kembali. 2. Diharapkan dalam pelaksanaan praktikum disediakan fasilitas yang sesuai dengan modul praktikum seperti meja kerja dan sebagainya. restu, anis, afif Page 73
Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan
Uji Keseragaman Data Tabel Uji Keseragaman Data Pada Work Center Pengukuran dan Pemotongan Pengamatan (Menit) No Kegiatan Rata rata sigma (Xirata)^2 S BKA BKB Keterangan 1 Plat MS di ukur, digambar dan
LAMPIRAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 Tabel Rating Factor Westinghouse Faktor Kelas Lambang Penyesuaian Superskill A1 + 0,15 A + 0,13 Excellent B1 + 0,11 B + 0,08 C1 + 0,06 Good Keterampilan C + 0,03 Average D 0,00 Fair
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN Rating Factor Kriteria rating factor, keterampilan dibagi menjadi enam kelas dengan ciri-ciri setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini : Super Skill: 1. Bekerja dengan sempurna 2. Tampak
Lampiran A. Tabel Westinghouse, Kelonggaran dan MTM
121 Lampiran A Tabel Westinghouse, Kelonggaran dan MTM 122 Tabel Penyesuaian Metode Westinghouse Faktor Kelas Lambang Penyesuaian Ketrampilan Superskil A1 +0,15 A2 +0,13 Excelent B1 +0,11 B2 +0,08 Good
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati pekerja dan mencatat waktu kerjanya baik setiap elemen maupun siklus dengan menggunakan alat-alat yang diperlukan.
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 1 Pemilihan Operator Normal pada Work Centre Pemotongan Plat, Gerinda, dan Polish 1. Pemilihan Operator Normal pada Work Centre Pemotongan Plat Work centre
BAB III LANDASAN TEORI. pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik.
20 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengukuran Waktu Kerja Menurut Sutalaksana dkk. (2006), Pengukuran waktu kerja ditujukan untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian suatu pekerjaan, yaitu waktu yang dibutuhkan
practicum apk industrial engineering 2012
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kurang diperhatikannya produktivitas pekerja pada suatu proyek konstruksi dapat menghambat pekerjaan konstruksi tersebut. Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 Tabel Rating Factor Westinghouse Faktor Kelas Lambang Penyesuaian Superskill A1 + 0,15 A2 + 0,13 Excellent B1 + 0,11 B2 + 0,08 C1 + 0,06 Good Keterampilan C2 + 0,03 Average D 0,00 Fair
ERGONOMI & APK - I KULIAH 4: PETA KERJA
ERGONOMI & APK - I KULIAH 4: PETA KERJA By: Rini Halila Nasution, ST, MT DEFINISI Peta kerja merupakan salah satu alat yang sistematis dan jelas untuk berkomunikasi secara luas dan sekaligus melalui petapeta
practicum apk industrial engineering 2012
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengukuran kerja atau work measurement adalah proses menentukan waktu yang diperlukan seorang operator dengan kualifikasi tertentu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS DAN PENGUKURAN KERJA SAMPLING PEKERJAAN (WORK SAMPLING)
Times New Roman, 16, Bold, Centre LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS DAN PENGUKURAN KERJA SAMPLING PEKERJAAN (WORK SAMPLING) Times New Roman, 12, Centre Disusun Oleh : Nama / NPM : 1.. / NPM 2.. / NPM Kelompok
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 PENDAHULUAN Penentuan waktu standar akan mempunyai peranan yang cukup penting didalam pelaksanaan proses produksi dari suatu perusahaan. Penentuan waktu standar yang tepat dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Studi Gerak dan Waktu Studi gerak dan waktu terdiri atas dua elemen penting, yaitu studi waktu dan studi gerakan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Gerak dan Waktu Studi gerak dan waktu terdiri atas dua elemen penting, yaitu studi waktu dan studi gerakan. 2.1.1. Studi Waktu Menurut Wignjosoebroto (2008), pengukuran
Kelonggaran (%) Faktor Contoh pekerjaan. A. Tenaga yang dikeluarkan Ekivalen beban Pria Wanita
Faktor Contoh pekerjaan Kelonggaran (%) A. Tenaga yang dikeluarkan Ekivalen beban Pria Wanita 1Dapat diabaikan Bekerja di meja, duduk tanpa beban 0,0-6,0 0,0-6,0 2 Sangat ringan Bekerja di meja, berdiri
ERGONOMI & APK - I KULIAH 8: PENGUKURAN WAKTU KERJA
ERGONOMI & APK - I KULIAH 8: PENGUKURAN WAKTU KERJA By: Rini Halila Nasution, ST, MT PENGUKURAN WAKTU KERJA Pengukuran kerja atau pengukuran waktu kerja (time study) adalah suatu aktivitas untuk menentukan
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data gerakan kerja dilakukan dengan cara merekam proses perakitan resleting polyester dengan handycam / kamera video. Setelah itu data
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Peta Kerja Peta kerja ( Peta Proses process chart ) merupaka alat komunikasi yang sistematis dan logis guna menganalisa proses kerja dari tahap awal sampai akhir (Sritomo,
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI OLEH: Marianus T. Dengi 122080139 LABORATORIUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA & ERGONOMI JURUSAN
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kerja Studi kerja adalah penelaahan secara sistematik terhadap pekerjaan, dengan maksud untuk : (Barnes, 1980, Halaman 6) 1. Mengembangkan sistem dan metode kerja yang lebih
LAMPIRAN 1 STRUKTUR ORGANISASI PT. KARYA DELI STEELINDO
LAMPIRAN 1 STRUKTUR ORGANISASI PT. KARYA DELI STEELINDO LAMPIRAN 2 URAIAN TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB UNTUK MASING-MASING JABATAN DI PT. KARYA DELI STEELINDO MEDAN. 1. Direktur Direktur merupakan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Penelitian cara kerja atau yang dikenal juga dengan nama methods analysis merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan metode kerja yang akan dipilih untuk melakukan suatu pekerjaan.
STUDI WAKTU DAN PROSES PEMBUATAN TERALIS JENDELA DI PT X
STUDI WAKTU DAN PROSES PEMBUATAN TERALIS JENDELA DI PT X I Wayan Sukania 1), Oktaviangel 2), Julita 3) Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara 1) Program
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Penelitian Terdahulu Manusia merupakan salah satu elemen utama pada sistem industri dalam menjalankan aktivitas. Tanpa adanya campur
PETA PETA KERJA. Nurjannah
PETA PETA KERJA Nurjannah Peta Kerja Peta kerja merupakan suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (Sutalaksana, 2006) Peta kerja merupakan alat komunikasi yang sistematis
MODUL PRAKTIKUM ANALISIS DAN PENGUKURAN KERJA
MODUL PRAKTIKUM ANALISIS DAN PENGUKURAN KERJA LABORATORIUM MENENGAH TEKNIK INDUSTRI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK/KALIMALANG 05 Modul Peta Peta Kerja (Work
Analisis Efisiensi Operator Pemanis CTP dengan Westing House System s Rating
Petunjuk Sitasi: Cahyawati, A. N., & Pratiwi, D. A. (2017). Analisis Efisiensi Operator Pemanis CTP dengan Westing House System s Rating. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp. B211-216). Malang: Jurusan
Perhitungan Waktu Baku Menggunakan Motion And Time Study
Perhitungan Waktu Baku Menggunakan Motion And Time Study ABIKUSNO DHARSUKY Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Untuk memperoleh prestasi kerja dan hasil kerja yang optimum diperlukan
L A M P I R A N. Universitas Sumatera Utara
L A M P I R A N Tabel Besarnya Kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh Faktor Contoh pekerjaan Kelonggaran ( % ) A. Tenaga yang dikeluarkan 1. Dapat diabaikan 2. Sangat ringan 3. Ringan
Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN 1 Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Adapun uraian tugas dan tanggung jawab setiap bagian pada PT. Tjipta Rimba Djaja dapat dilihat sebagai berikut: 1. Direktur a. Memberikan garis besar kebijaksanaan
III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN
III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN Pabrik roti seperti PT Nippon Indosari Corpindo merupakan salah satu contoh industri pangan yang memproduksi produk berdasarkan nilai permintaan, dengan ciri produk
FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA. tutorial 7. work sampling
FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA tutorial 7 work sampling Prodi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Tahun Ajaran 2016/2017 www.labdske-uii.com Pengukuran Kerja: Metode
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Produksi dan Proses Produksi 2.1.1 Pengertian Produksi Dari beberapa ahli mendifinisikan tentang produksi, antara lain 1. Pengertian produksi adalah suatu proses pengubahan
III. TINJAUAN PUSTAKA
III. TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas tenaga kerja merupakan salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan suatu proyek dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Hal
PETA-PETA KERJA. Kata kunci : Peta-Peta Kerja, Proses Operasi, Kotak Kado
PETA-PETA KERJA Oke Sofyan,Ita Novita Sari Mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Universitas Gunadarma, Jakarta Kampus J Universitas Gunadarma Jl. KH. Noer Ali, kalimalang, Bekasi Telp: (021) 94122603 Email:
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perancangan Sistem Kerja Suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan rancangan terbaik dari sistem kerja yang bersangkutan. Teknikteknik dan
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1 Deskripsi Produk Produk yang telah dibuat dalam peta-peta kerja ini adalah meja lipat. Komponennya terdiri dari alas yang berukuran 50 cm x 33 cm, kaki meja yang berukuran
TEKNIK TATA CARA KERJA MODUL PERANCANGAN DAN PERBAIKAN METODE KERJA
TEKNIK TATA CARA KERJA MODUL PERANCANGAN DAN PERBAIKAN METODE KERJA OLEH WAHYU PURWANTO LABOTARIUM SISTEM PRODUKSI JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNWERSITAS GADJAH MADA
ABSTRAK Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar. Semakin tinggi permintaan dari pasar, maka perusahaan harus dapat memenuhi permintaan tersebut, tetapi dalam suatu perusahaan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Dalam penulisan ini, diperlukan teori teori yang mendukung, yang didapat dari mata kuliah yang pernah diajarkan dan dari referensi referensi sebagai bahan pendukung. Untuk mencapai
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN LAMPIRAN-. URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB Uraian tugas dari masing-masing jabatan pada PD Aneka Industri dan Jasa Sumatera Utara adalah sebagai berikut :. Direktur Direktur PD. Aneka Industri
ERGONOMI & APK - I KULIAH 3: STUDI & EKONOMI GERAKAN
ERGONOMI & APK - I KULIAH 3: STUDI & EKONOMI GERAKAN By: Rini Halila Nasution, ST, MT STUDI GERAKAN Studi gerakan atau yang biasanya disebut dengan motion study adalah suatu studi tentang gerakan-gerakan
PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN
PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN I Wayan Sukania, Oktaviangel 2, Julita 2. Staf pengajar Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Untar 2. Mahasiswa Teknik
PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN
Jurnal Teknik dan Ilmu Komputer PERBAIKAN METODE PERAKITAN STEKER MELALUI PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN (Improving The Plug Assembling Method Through The Left and Right Hand Motions) I Wayan Sukania*,
MODUL II WORK MEASUREMENT
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waktu merupakan salah satu kriteria dari suatu alternatif beberapa metode kerja yang paling sering digunakan sebab kriteria ini memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan
Lampiran Perhitungan Uji Keseragaman dan Kecukupan Data
96 Lampiran Perhitungan Uji Keseragaman dan Kecukupan Data Uji keseragaman data 1. waktu setup bagian pencetakan Subgroup No (i) Waktu (detik) (detik) (detik) BKA BKB 1 712 2 564 1 3 534 603,4 4 602 5
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Permasalahan Umum PT. Multi Makmur Indah Industri adalah perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur, khususnya pembuatan kaleng kemasan produk. Dalam perkembangan teknologi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Jurnal dan referensi diperlukan untuk menunjang penelitian dalam pemahaman konsep penelitian. Jurnal dan referensi yang diacu tidak hanya dalam negeri namun juga
CONTOH OPC DAN FPC. Peta Proses Operasi (Operation Process Chart) TUGAS PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI AYU DINI R
TUGAS PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI AYU DINI R. 0810670002 CONTOH OPC DAN FPC Peta Proses Operasi (OPC) dan Peta Aliran Proses (FPC) merupakan dua jenis peta kerja digunakan untuk mengetahui secara jelas proses
BAB II KERANGKA TEORITIS
BAB II KERANGKA TEORITIS 2.1. Peta Aliran Proses (Flow Process Chart) 1 Setelah mempunyai gambaran tentang keadaan umum dari proses yang terjadi seperti yang diperlihatkan dalam peta proses operasi, langkah
PETA KERJA UNTUK ANALISA KERJA KESELURUHAN
PETA KERJA UNTUK ANALISA KERJA KESELURUHAN TEKNIK TATA CARA KERJA PROGRAM KEAHLIAN PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI MANUFAKTUR/JASA PETA KERJA Peta Kerja : alat yg menggambarkan kegiatan kerja secara
WORK SAMPLING. Modul Work Sampling Praktikum Genap 2011/2012 I. TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikum Genap 2011/2012 1 WORK SAMPLING I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Memperkenalkan kepada praktikan tentang metode sampling kerja sebagai alat yang efektif menentukan kelonggaran (allowance time) diperlukan
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Ekstrasi Hasil Pengumpulan Data Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly adalah digunakan untuk pengukuran waktu dimana pengukuran waktu
MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT)
MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT) 1.1. TUJUAN PRAKTIKUM Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas
DEFINISI. Peta kerja untuk kegiatan setempat digunakan untuk menganalisa suatu stasiun kerja. Peta pekerja & mesin Peta tangan kanan dan tangan kiri
DEFINISI Peta kerja untuk kegiatan setempat digunakan untuk menganalisa suatu stasiun kerja MACAM Peta pekerja & mesin Peta tangan kanan dan tangan kiri Peta Pekerja dan Mesin : Menggambarkan Koordinasi
BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Manajemen Operasi 2.1.1.1 Pengertian Manajemen operasi telah mengalami perubahan yang cukup drastis sejalan dengan perkembangan inovasi
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Menentukan Waktu Siklus Tiap Proses. 4.1.1 Proses Pemasangan Komponen (Setting Part) 4.1.1.1 Elemen operasi pada proses ini adalah : 1. Setting holder magnet ke rotor dan
PERENCANAAN JUMLAH OPERATOR PRODUKSI DENGAN METODE STUDI WAKTU (STUDI KASUS PADA INDUSTRI PENGOLAHAN PRODUK LAUT)
PERENCANAAN JUMLAH OPERATOR PRODUKSI DENGAN METODE STUDI WAKTU (STUDI KASUS PADA INDUSTRI PENGOLAHAN PRODUK LAUT) Kelvin Teknik Industri, Sekolah Tinggi Teknik Surabaya [email protected] ABSTRAK Aliran produksi
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Model Diagram Metodologi Gambar 4.1 Metodologi Penelitian 47 Gambar 4.2 Metodologi Penelitian (lanjutan) 48 4.2 Penelitian Pendahuluan Penelitian dilakukan di PT. Refconindo
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. UMKM 2.1.1. Definisi UMKM Menurut Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Indonesia, Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan
Menganggur Independent Kerja Kombinasi
PETA KERJA SETEMPAT PETA PEKERJA-MESIN Menganggur Independent Kerja Kombinasi Contoh Kasus Berapakah jumlah mesin yang seharusnya bisa dilayani oleh seorang operator bilamana diketahui data sebagai berikut
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Interaksi Manusia dan Mesin Dalam bukunya, Wignjosoebroto (2003: 58) menjelaskan bahwa kata Mesin dapat diartikan lebih luas yaitu menyangkut semua obyek fisik berupa peralatan,
Dalam menjalankan proses ini permasalahan yang dihadapi adalah tidak adanya informasi tentang prediksi kebutuhan material yang diperlukan oleh produks
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Permasalahan Umum PT. Sinar Inti Electrindo Raya adalah perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur, pemasaran panel Tegangan Menengah (TM) dan panel Tegangan Rendah (TR).Dalam
PENGUKURAN WAKTU. Nurjannah
PENGUKURAN WAKTU Nurjannah Pengukuran waktu (time study) ialah suatu usaha untuk menentukan lama kerja yang dibutuhkan seorang operator (terlatih dan qualified) dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang
Pengukuran Kerja Langsung (Direct Work Measurement)
Pengukuran Kerja Langsung (Direct Work Measurement) Pengukuran Kerja (Studi Waktu / Time Study) Perbaikan postur Perbaikan proses Perbaikan tata letak Perbaikan metode /cara kerja Data harus baik, representasi
PENGUKURAN WAKTU KERJA
PENGUKURAN WAKTU KERJA Usaha untuk menentukan lama kerja yg dibutuhkan seorang Operator (terlatih dan qualified ) dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yg spesifik pada tingkat kecepatan kerja yg NORMAL
Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN
ANALISIS WAKTU SIKLUS DENGAN MENGGUNAKAN PETA KERJA TANGAN KANAN TANGAN KIRI PADA PROSES TIRE ASSY ALL WELL BTU DI PT SURYARAYA RUBBERINDO INDUSTRIES Nia Budi Puspitasari 1*, Nadira Apsari 2 1,2 Program
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari tugas akhir ini antara lain : 1. Pada penjadwalan awal departemen machining mengalami keterlambatan sebanyak 11 item pada periode
Lampiran-1: Tabel Westinghouse System's Rating A1 Superskill 0.13 A A B1 Excellent 0.08 B B C1 Good 0.03 C2 0.
Lampiran-1: Tabel Westinghouse System's Rating. SKILL EFFORT 0.15 A1 0.13 A1 Superskill 0.13 A2 0.12 A2 Superskill 0.11 B1 0.1 B1 Excellent 0.08 B2 0.08 B2 Excellent 0.06 C1 0.05 C1 Good 0.03 C2 0.02 C2
BAB 6 USULAN DAN ANALISIS
BAB 6 USULAN DAN ANALISIS 6.1 Stasiun Kerja Usulan Berikut merupakan nama-nama stasiun kerja usulan yang digunakan untuk memproduksi toy Nxxxx. Pada usulan ini terdapat 27 stasiun kerja, berikut merupakan
PENYESUAIAN DAN KELONGGARAN TEKNIK TATA CARA KERJA II
PENYESUAIAN DAN KELONGGARAN TEKNIK TATA CARA KERJA II PENYESUAIAN Maksud melakukan penyesuaian : menormalkan waktu siklus karena kecepatan tidak wajar oleh operator Konsep wajar : seorang operator yang
BAB II OPC, APC, STRUKTUR PRODUK, DAN BOM
II-13 BAB II OPC, APC, STRUKTUR PRODUK, DAN BOM 2.1 Landasan Teori Peta proses operasi adalah peta kerja yang yang mencoba menggambarkan urutan kerja dengan jalan membagi pekerjaan tersebut menjadi elemen-elemen
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
66 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data Dari seluruh data yang telah dikumpulkan, dilakukan pengolahan data yang dapat dilihat secara keseluruhan pada lampiran. 4.2 Analisis Data 4.2.1 OPC (Operation
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Menurut Suryabrata (1983), metode deskriptif dilakukan dengan membuat deskripsi secara sistematis,
Lampiran-1. Perhitungan Kapasitas Normal
Lampiran-1. Perhitungan Kapasitas Normal Untuk menghitung kapasitas normal dari proses yang menggunakan manusia, maka terlebih dahulu harus diketahui lama waktu baku proses yang dikerjakan dan kemudian
By: Amalia, S.T., M.T. PENGUKURAN KERJA: FAKTOR PENYESUAIAN DAN ALLOWANCE
By: Amalia, S.T., M.T. PENGUKURAN KERJA: FAKTOR PENYESUAIAN DAN ALLOWANCE PENYESUAIAN Maksud melakukan penyesuaian : menormalkan waktu siklus karena kecepatan tidak wajar oleh operator Konsep wajar : seorang
ANALISIS PENGUKURAN KERJA
ANALISIS PENGUKURAN KERJA Disusun oleh: Subodro (135060700111043) Siti Astrid Meidiani (135060700111044) Armelynda Beverly S (135060701111056) Andini Sulviana (135060701111065) Dzaky Falakhi (135060701111082)
BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL
BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL 2.1 Landasan Teori Operation Process Chart (OPC) adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku yang meliputi urutan proses
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Perancangan Sistem Kerja Perancangan sistem kerja adalah suatu ilmu yang terdiri dari teknik - teknik dan prinsip - prinsip untuk mendapatkan rancangan terbaik dari sistem
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Pengumpulan data 4.1.1 Produk Gutter Complete R/L Perusahaan PT. Inti Pantja Press Industri dipercayakan untuk memproduksi sebagian produk kendaraan
Lampiran 1: Pembagian Tugas dan Tanggungjawab. Direktur merupakan jabatan tertinggi dari struktur organisasi PT. Bintang
LAMPIRAN Lampiran 1: Pembagian Tugas dan Tanggungjawab Berikut adalah pembagian tugas dan tanggungjawab dari setiap bagian dan jabatan pada PT.Bintang Persada Satelit: 1. Direktur Direktur merupakan jabatan
BAB II LANDASAN TEORI. Toyota Production System atau yang biasa disingkat menjadi TPS. TPS adalah
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Toyota Production System Toyota Production System atau yang biasa disingkat menjadi TPS. TPS adalah aktivitas pada tingkat keseluruhan perusahaan berdasarkan pada kesadaran untuk
Predetermined Motion Time System (PMTS)
Teknik Industri Predetermined Motion Time System (PMTS) Analisis dan Pengukuran Kerja Authors Farah Tsanyna ila (135060707111024) Yussy Fatma Rosyita (135060701111051) Mita Puspitasari 135060701111128
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Peringkat Kinerja Operator (Performance Rating) Perancangan sistem kerja menghasilkan beberapa alternatif sehingga harus dipilih alternatif terbaik. Pemilihan alternatif rancangan
STUDI DAN EKONOMI GERAKAN. Amalia, S.T., M.T.
STUDI DAN EKONOMI GERAKAN Amalia, S.T., M.T. Learning Outcomes Pada akhir semester mahasiswa dapat menganalisa dan merancang sistem kerja yang efisien dan efektif dengan melakukan pengukuran kerja. Learning
Rating Factor Masing-masing Stasiun Kerja
Lampiran 1 Rating Factor Masing-masing Stasiun Kerja WC 1 (Laminating) Faktor Kelas Lambang Penyesuaian Sub Total Keterampilan Good C2 +0.03 Usaha Good C2 +0.02 Kondisi Fair E -0.03 Konsistensi Average
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Studi Gerak dan Waktu ( Barnes h.257 ) Studi Gerak dan Waktu merupakan suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu kerja Pengukuran waktu kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Berikut adalah
Lamp n (menit) x/n
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Data Hasil Pengukuran Waktu Dibawah ini merupakan hasil pengukuran langsung (menggunakan stopwatch) waktu rakit panel. Box n (menit) x/n 1 2 3 4 5 1 11.9 12.5
ABSTRAK. iv Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK CV.Motekar merupakan salah satu perusahaan home industry yang memproduksi berbagai jenis boneka. Perusahaan ingin mengetahui apakah sistem kerja yang diterapkan dalam perusahaan ini sudah baik
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Perkembangan ekonomi nasional saat ini tak terlepas dari adanya peningkatan teknologi dan globalisasi yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perindustrian dalam negeri, baik itu industri
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1 Pembahasan Pekerjaan yang diamati pada praktikum kali ini adalah produktifitas kasir hypermart oleh dua operator. Proses kinerja kasir tersebut adalah kasir tersebut
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN
Bab 7 Kesimpulan Dan Saran 7-1 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penyusun di PT. Surya Alam Rekananda pada proses pengeringan jagung, maka diperoleh kesimpulan
Perbaikan Metode Kerja Menggunakan Peta Kerja pada Proses Produksi Trafo
Petunjuk Sitasi: Maryani, A., Handayani, F. D., & Prasetyawan, Y. (2017). Perbaikan Metode Kerja Menggunakan Peta Kerja pada Proses Produksi Trafo. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp. B335-341). Malang:
BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk
Laporan Tugas Akhir BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suati pekerjaan.
BAB 3 METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Flowchart Metode Penelitian Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai Studi Pendahuluan: Pengamatan flow process produksi Assembly
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1. Pembahasan Proses pembuatan magnet kimono ini, praktikan mencari Waktu Aktual, Performance Rating, Performance Estimasi, dan %Error. Pembahasan yang dijelaskan pada
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Proses pengumpulan dilakukan untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan dalam perancangan Stasiun penyemiran sepatu. Meliputi data antro pometri
