PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
|
|
|
- Sukarno Hermawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X-9 SMA BATIK I SURAKARTA SKRIPSI Oleh: META NUR INDAH SARI K JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit Juli 2012 to user
2 PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini Nama : Meta Nur Indah Sari NIM : K Jurusan/Program Studi : PMIPA/Pendidikan Biologi menyatakan bahwa skripsi saya berjudul PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X-9 SMA BATIK I SURAKARTA ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka. Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya. Surakarta, Juli 2012 Yang membuat pernyataan Meta Nur Indah Sari ii
3 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X-9 SMA BATIK I SURAKARTA Oleh: META NUR INDAH SARI K Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit Juli 2012 to user iii
4 PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembimbing I Pembimbing II Dr. Baskoro Adi Prayitno, S.Pd., M.Pd. Meti Indrowati, S.Si., M.Si. NIP NIP iv
5 PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Hari : Tanggal : Tim Penguji Skripsi Nama Terang Tanda Tangan Ketua : Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D. Sekretaris : Drs. Marjono, M.Si. Anggota I : Dr. Baskoro Adi Prayitno, S.Pd., M.Pd. Anggota II : Meti Indrowati, S.Si., M.Si. Disahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret a.n. Dekan Pembantu Dekan I Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si. NIP v
6 ABSTRAK Meta Nur Indah Sari. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X-9 SMA BATIK I SURAKARTA. Skripsi, Surakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta yang berjumlah 36 siswa. Sumber data berasal dari guru dan siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Validitas data partisipasi menggunakan teknik triangulasi metode. Validitas data kemampuan berpikir tingkat tinggi menggunakan validasi ahli. Analisis data menggunakan teknik analisis statistik deskriptif komparatif dan analisis kritis. Prosedur penelitian adalah model spiral yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dari prasiklus ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. Simpulan penelitian ini adalah penerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran Biologi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta. Kata kunci: Group Investigation, partisipasi, kemampuan berpikir tingkat tinggi vi
7 ABSTRACT Meta Nur Indah Sari. APPLICATION OF GROUP INVESTIGATION TYPE LEARNING MODEL TO INCREASE PARTICIPATION AND HIGHER ORDER THINKING SKILLS OF STUDENT IN CLASS X-9 SMA BATIK I SURAKARTA. Thesis, Surakarta. Faculty of Teacher Training and Education. Universitas Sebelas Maret Surakarta. July This study aims to increase participation and higher order thinking skills of students in class X-9 SMA Batik 1 Surakarta through the implementation of Group Investigation learning model. This is a class act research (PTK). The research was conducted in two cycles, with each cycle consisting of planning, implementation measures, observation, and reflection. Subjects were students in X-9 SMA Batik 1 Surakarta, 36 students. The source data came from the teachers and students. Data collection technique used observation, interviews, questionnaires, and documentation. The validity of the participation data using the method of triangulation techniques. The validity of the higher order thinking skills data using the method of expert validation techniques. Analysis of the data using descriptive statistical analysis techniques of comparative and critical analysis. Spiral model of research procedures are interrelated. The results showed that the application of Group Investigation learning model can increase participation and higher order thinking skills to students from pra cycle to cycle I and from cycle I to cycle II. The conclusion of this study is application the model of the type of Group Investigation can increase participation and higher order thinking skills students in learning biology of class X-9 SMA Batik 1 Surakarta. Key words: Group Investigation, participation, higher-order thinking skills vii
8 MOTTO Jalan yang mulus tidak akan melahirkan sopir yang andal Langit yang terang tidak akan melahirkan pilot yang gesit Dan, laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh Maka, jadilah orang yang kuat dan cerdas dalam menghadapi hambatan (Watik M.) Pada saat sebuah pintu sukses tertutup, pintu sukses yang lain akan segera terbuka. Maka, jangalah terlampau lama terpaku di depan pintu yang tertutup sehingga lupa melihat pintu sukses yang telah terbuka (Watik M.) Belajarlah dari anak-anak, mereka begitu mudah memaafkan orang lain padahal mereka baru saja berkelahi, namun tak berapa lama, mereka sudah bermain kembali dan tegak bersama menjalani hidup (Meta Nur Indah Sari) Carilah sahabat yang mampu membuat keyakinan Anda semakin teguh (Meta Nur Indah Sari) Luangkanlah selalu waktumu untuk keluargamu sebab merekalah orang pertama yang akan siap menerima ide-idemu atau justru menentang ide-idemu (Meta Nur Indah Sari) viii
9 PERSEMBAHAN Teriring syukurku pada-mu, ku persembahkan karya ini untuk: Bapak dan Ibu Doamu yang tiada terputus, kerja keras tiada henti, pengorbanan yang tak terbatas dan kasih sayang tidak terbatas pula. Semuanya membuatku bangga memiliki kalian. Tiada kasih sayang yang seindah dan seabadi kasih sayangmu. Wahyu Pratomo dan Bayu Pamungkas Terima kasih karena senantiasa mendorong langkahku dengan perhatian dan semangat dan selalu ada di sampingku baik di saat kutegar berdiri maupun saat kujatuh dan terluka. Shelli Febriyanti, Devi Purna Eva, dan Dewi Mahayati Terima kasih atas semangat, perjuangan, dan kerjasamanya Teman-teman Prodi Pendidikan Biologi 2008 Terima kasih untuk selalu memberi semangat. Murid-murid kelas X-9 SMA BATIK I Surakarta Terima kasih telah membantu saya dengan tulus. ix
10 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memberi ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Tipe Group Investigation untuk Meningkatkan Partisipasi dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta. Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. 3. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 4. Pembimbing I, yang selalu memberikan motivasi dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Pembimbing II yang selalu memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Kepala SMA Batik 1 Surakarta, yang telah memberi kesempatan dan tempat guna pengambilan data dalam penelitian. 7. Guru mata pelajaran Biologi SMA Batik 1 Surakarta, yang telah memberi bimbingan dan bantuan dalam penelitian. 8. Para siswa SMA Batik 1 Surakarta yang telah bersedia untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini. x
11 9. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. xi
12 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERNYATAAN... ii HALAMAN PENGAJUAN... iii HALAMAN PERSETUJUAN... iv HALAMAN PENGESAHAN... v HALAMAN ABSTRAK... vi HALAMAN MOTTO... vii HALAMAN PERSEMBAHAN... viii KATA PENGANTAR... ix DAFTAR ISI... xi DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 4 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Manfaat Penelitian... 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka... 6 B. Kerangka Berpikir C. Hipotesis Tindakan BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Subjek Penelitian C. Data dan Sumber Data xii
13 D. Pengumpulan Data E. Uji Validitas Data F. Analisis Data G. Indikator Kerja Penelitian H. Prosedur Penelitian BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus C. Perbandingan Hasil Tindakan Antarsiklus D. Pembahasan BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan B. Implikasi C. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiii
14 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Kerangka Berpikir Skema Triangulasi Metode Analisis Miles dan Huberman Grafik Perubahan Persentase Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus, Siklus1, dan Siklus Grafik Peningkatan Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Grafik Perubahan Persentase Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus Grafik Peningkatan Persentase Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa xiv
15 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 2.1 Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional Rancangan Urutan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Waktu Pelaksanaan Tahap Penelitian, dan Penyelesaian Kegiatan Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation Skor Penilaian Angket Indikator Kerja Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Indikator Kerja Partisipasi Siswa Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus Persentase Hasil Angket Partisipasi Siswa Prasiklus Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Siklus Persentase Hasil Angket Partisipasi Siswa Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I Persentase Hasil Observasi Ranah Afektif Siswa Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Angket Partisipasi Siswa Siklus Persentase Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus Persentase Ketuntasan Belajar Siswa untuk Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus Persentase Hasil Observasi Ranah Afektif Siswa Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus commit 2... to user 65 xv
16 4.14 Persentase Capaian Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus 1 dan Siklus Persentase Capaian Indikator Ranah Afektif Siswa Siklus 1dan Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Angket Partisipasi Siswa Prasiklus Persentase Capaian Indikator Hasil Angket Partisipasi Siswa Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Angket Partisipasi Siswa Siklus Persentase Capaian Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus Persentase Ketuntasan Belajar Siswa untuk Tes Evaluasi Siklus I Persentase Capaian Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus xvi
17 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1.1 Silabus Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus Lembar Observasi Penilaian Ranah Psikomotorik Siklus Rubrik Penilaian Ranah Psikomotorik Lembar Penilaian Ranah Afektif Siswa Siklus Rubrik Penilaian Ranah Afekif Lembar Kerja Siswa Lembar Kerja Siswa Lembar Observasi Penilaian Ranah Afektif Rubrik Penilaian Afektif Lembar Observasi Penilaian Ranah Psikomotorik Rubrik Penilaian Ranah Psikomotorik Soal Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siklus Kunci Jawaban Siklus Rubrik Penilaian Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siklus Soal Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siklus Pembagian Kelompok Pelajaran Biologi Kelas X Kisi-Kisi Angket Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran Angket Partisipasi Siswa Kisi-Kisi Lembar Observasi Siswa Lembar Observasi Partisipasi Siswa Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintak GI Pedoman Wawancara Partisipasi Belajar Biologi dengan Siswa Wawancara Partisipasi dengan Guru Pratindakan Wawancara Partisipasi dengan Guru Siklus 1 dan Data Hasil Observasi xvii
18 3.2 Hasil Perhitungan Persentase Angket Partisipasi Siswa Pratindakan Hasil Perhitungan Persentase Angket Partisipasi Siswa Siklus Hasil Perhitungan Persentase Angket Partisipasi Siswa Siklus Hasil Perhitungan Persentase LO Partisipasi Siswa Pratindakan Hasil Perhitungan Persentase LO Partisipasi Siswa Siklus Hasil Perhitungan Persentase LO Partisipasi Siswa Siklus Hasil Perhitungan LO Afektif Siswa Siklus 1 dan Hasil Perhitungan LO Psikomotorik Siswa Siklus 1 dan Hasil Wawancara Partisipasi Siswa Pra Siklus Hasil Wawancara Partisipasi Siswa Siklus Hasil Wawancara Partisipasi Siswa Siklus Hasil LO Keterlaksanaan Sintaks Siklus 1 Group Investigation Hasil LO Keterlaksanaan Sintaks Siklus 2 Group Investigation Dokumenasi Sebelum Tindakan Dokumentasi Siklus Dokumentasi Siklus Sesi Wawancara Hasil Tringulasi Metode xviii
19 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SMA Batik 1 Surakarta yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi 445 Surakarta. Peneliti mengambil subjek penelitian kelas X-9, hal ini didasarkan pada guru bidang studi biologi yang menjelaskan bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung, kelas X-9 termasuk kelas yang susah dikendalikan. Peneliti mengambil data observasi berupa wawancara dengan guru bidang studi biologi, Ibu Umi Afidah, S.Pd tentang situasi kelas, video observasi proses pembelajaran, foto selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil dari nilai mid semester gasal kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta. Observasi dilaksanakan pada tanggal September 2011 di kelas X-9 SMA Batik I Surakarta sebanyak 38 siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa di awal pembelajaran siswa di kelas X-9 tampak semangat dan memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru. Pada saat guru memberikan petunjuk mengenai praktikum, siswa terlihat antusias, begitu pula saat guru memberikan apersepsi. Pada saat Compact Disk (CD) mulai diputar, sekitar 3 siswa laki-laki yang duduk di kursi belakang terdengar gaduh. Selanjutnya saat guru bertanya pada siswa, awalnya banyak yang ikut menjawab sekitar 15 orang. Selanjutnya saat guru memutar kembali CD pembelajaran 4 siswa laki-laki yang duduk di belakang terdengar mengobrol. Siswa yang menjawab pertanyaan-pertanyaan guru pada penjelasan berikutnya semakin sedikit sekitar 3 orang. Guru mengungkapkan saat guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya, tidak ada siswa yang berani bertanya. Sekitar menit ke-40 guru memutar CD tentang materi hari itu, siswa di kelas terlihat pasif, mulai mengantuk dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Ini terlihat dari tidak ada siswa yang bertanya dan semakin sedikit siswa yang berani menjawab pertanyaan guru dengan keras dan jelas. Berdasarkan hasil wawancara, commit baik to user dengan guru biologi maupun dengan 1
20 2 siswa, diperoleh keterangan bahwa permasalahan yang ada di kelas tersebut adalah kurangnya partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran biologi. Dari hasil observasi didapatkan data 64% siswa fokus terhadap materi pelajaran, 69% siswa sorot mata tertuju pada guru saat pelajaran berlangsung, 47% siswa tidak melamun saat pembelajaran berlangsung, 45% siswa siap saat ditunjuk guru untuk menjawab, 25% siswa berani mengajukan pendapat, 22% siswa berpartisipasi dalam persiapan pembelajaran, 6% siswa berusaha kreatif dalam pembelajaran, dan 6% siswa mandiri dalam belajar Observasi hasil belajar tengah semester gasal siswa kelas X-9 menunjukkan bahwa kurang dari 50% siswa di kelas yang mampu mencapai nilai KKM 75, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut mengenai faktor penyebab masalah tersebut. Peneliti menganalisis soal-soal tengah semester gasal kelas X-9 semester gasal. Dari 10 soal terdapat 5 soal yang termasuk ke dalam tipe soal berpikir tingkat tinggi. Soal no 1, dan 4 termasuk ke dalam tingkat soal menganalisis (C4). Soal no 6, dan 10 termasuk ke dalam tingkat soal mengevaluasi (C5). Soal no 9 termasuk ke dalam tingkat soal mencipta (C6). Dari 36 siswa di kelas X % siswa mampu menjawab soal tipe C4, 53.65% siswa mampu menjawab soal tipe C5, dan 39.7% siswa mampu menjawab soal tipe C6 dengan benar. Bila dibandingkan dengan pertanyaan yang memiliki tingkat soal mengingat (C1), memahami (C2), dan mengaplikasikan (C3) didapatkan data 77% siswa dapat menjawab dengan benar dan 23% menjawab pertanyaan dengan kurang tepat. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa mengalami permasalahan dalam memahami dan menjawab soal-soal yang memiliki tingkat berpikir tinggi seperti soal tipe analisis (C4), evaluasi (C5), dan mencipta (C6). Soal tengah semester gasal terlampir pada Lampiran Berdasarkan beberapa permasalahan yang terungkap dari hasil observasi langsung di kelas dan hasil wawancara dengan guru dan siswa, terdapat permasalahan serius yang tidak boleh dibiarkan terus berlanjut karena akan sangat mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Permasalahan tersebut antara lain adalah partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam proses pembelajaran biologi di kelas X-9 commit masih kurang. to user Model pembelajaran yang sesuai
21 3 diperlukan untuk meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Apabila semua siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran maka akan diperoleh suatu pembelajaran yang berhasil dan berkualitas. Model pembelajaran adalah penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat dapat menimbulkan kebosanan, kurang mampu memecahkan masalah, dan monoton sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model pembelajaran yang tepat dan bervariasi. Berkenaan dengan model pembelajaran yang dibutuhkan di atas, model pembelajaran Cooperative Learning tipe Group Investigation yang berbasis konstruktivisme diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Group Investigation (GI) adalah tipe model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Model pembelajaran GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam penentuan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi sehingga akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam pengetahuan mereka. Guru pada pembelajaran kooperatif tipe GI berperan sebagai sebagai fasilitator. Guru tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga memberikan kemudahan belajar kepada semua siswa agar dapat belajar dalam suasana menyenangkan (Mulyasa, 2007). Terdapat enam tahap kegiatan dalam Group Investigation yaitu sebagai berikut. (1) Seleksi topik. Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. (2) Merencanakan kerjasama. Para siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih. (3) Implementasi. Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. (4) Analisis dan sintesis. (5) Penyajian hasil akhir. (6) Evaluasi selanjutnya (Sugiyanto, 2010).
22 4 Group Investigation memiliki 3 konsep utama sebagai berikut. (1) Penelitian (inkuiri) yaitu proses dimana siswa dirangsang dengan dihadapkan pada suatu masalah. Siswa merasa dirinya perlu memberikan reaksi terhadap masalah yang dianggap perlu untuk diselesaikan. Masalah ini didapat dari siswa sendiri atau diberikan oleh guru. (2) Pengetahuan yaitu pengalaman yang tidak dibawa sejak lahir namun diperoleh siswa melalui pengalaman baik secara langsung maupun tidak langsung. (3) Dinamika kelompok, menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok individu yang saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama dengan berbagai ide dan pendapat serta saling tukar-menukar pengalaman dan saling berargumentasi. Siswa bekerja secara berkelompok untuk memecahkan masalah, saling berinteraksi melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melalui proses saling beragumentasi sehingga siswa mampu berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Dalam kegiatan investigasi, siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mengembangkan sikap dan pengetahuannya tentang biologi sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga memberikan hasil belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Tujuan kegiatan investigasi adalah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Dalam tahap investigasi, model pembelajaran GI berbasis konstruktivisme sehingga dapat melatih siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut secara mandiri. Berdasarkan latar belakang dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: Penerapan Model Pembelajaran Tipe Group Investigation untuk Meningkatkan Partisipasi dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas X-9 SMA Batik I Surakarta. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. 1. Apakah model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI dapat meningkatkan partisipasi siswa?
23 2. Apakah model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa? 5 C. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut. 1. Untuk meningkatkan partisipasi siswa melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI. 2. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak sebagai berikut. 1. Bagi Guru a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi guru dalam penerapan model pembelajaran GI sebagai evaluasi guru dan siswa dalam meningkatkan partisipasi siswa. b. Memberikan masukan bagi guru agar lebih memperhatikan masalahmasalah yang terkait dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. 2. Bagi siswa di lokasi penelitian a. Dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan model pembelajaran yang tepat. b. Dapat meningkatkan partisipasi siswa dengan memberikan suasana baru dalam pembelajaran sehingga siswa lebih kooperatif atau bekerjasama dalam pembelajaran. 3. Bagi sekolah dan instansi pendidikan lainnya a. Untuk menyusun program peningkatan proses pembelajaran biologi pada tahap berikutnya.
24 b. Hasil penelitian yang dipaparkan akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran. 6
25 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KAJIAN PUSTAKA 1. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation a. Model Pembelajaran Kooperatif Salah satu model pembelajaran dalam paradigma konstruktivis adalah belajar kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar secara berkelompok. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah model pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2010). Pembelajaran kooperatif tidak hanya bertujuan memahamkan siswa terhadap materi yang akan dipelajari namun lebih menekankan pada melatih siswa untuk mempunyai kemampuan sosial, yaitu kemampuan untuk saling bekerjasama. Pada pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya dituntut berhasil secara individu namun juga berhasil secara kelompok. Dari pemikiran itulah dalam belajar kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama (Slavin, 1995). Pembelajaran kooperatif membantu siswa dalam proses belajar dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah (Borich, 1996). Menurut Roger dan David Johnson tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong-royong harus diterapkan yaitu sebagai berikut. (1) Saling ketergantungan positif. (2) Tanggung jawab perseorangan. (3) Tatap muka. (4) Komunikasi antar anggota. (5) Evaluasi proses kelompok (Lie, 2007). Perbedaan model pembelajaran kooperatif dan pembelajaran tradisional menurut Sugiyanto (2010) ditunjukkan pada Tabel
26 Tabel 2.1 Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional Kelompok Belajar Kooperatif Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok. Kelompok diberi umpan balik rentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan interverensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai) (Sumber: Sugiyanto, 2010) Kelompok Belajar Tradisional Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok Akuntabilitas sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah satu anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya enakenak saja atas keberhasilan temannya yang dianggap pemborong Kelompok belajar biasanya homogen Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing Keterampilan sosial sering tidak diajarkan secara langsung Pemantauan melalui observasi dan interverensi sering dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok dalam kelompok-kelompok belajar Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas 7
27 8 b. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Group Investigation yang dikembangkan oleh Sholomo dan Sharon di Universitas Tel Aviv (Slavin, 1995) adalah model belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis kelamin, suku, dan agama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Tokoh terkemuka yang paling terkenal dari orientasi pendidikan Group Investigation adalah John Dewey. Dewey memandang bahwa kooperasi di dalam kelas sebagai prasyarat untuk bisa menghadapi berbagai masalah kehidupan yang kompleks dalam masyarakat demokrasi. Group Investigation merupakan suatu model pembelajaran dengan perencanaan pengorganisasian kelas secara umum dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif, diskusi kelompok, dan perencanaan kooperatif dan proyek. Dalam model ini, guru membentuk kelompok siswa yang terdiri dari dua sampai enam anak. Langkah selanjutnya adalah membagi tugas-tugas menjadi tugas individu yang berbeda, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiapkan laporan kelompok. Masingmasing kelompok kemudian mempresentasikan penemuannya di depan kelas (Slavin, 1995). Saat ini dengan pengaruh dari teori konstruktivis yang menekankan partisipasi siswa dalam praktik disiplin terorganisir, penyelidikan ilmiah sering dianjurkan dengan pendekatan belajar kelompok. Group investigation salah satu diantara banyak pendekatan pembelajaran kooperatif yang dapat memberikan siswa pembelajaran dengan pengalaman yang sangat luas dan beragam dengan penyelidikan yang dilakukan secara mandiri oleh siswa (Oh, 2007). Group Investigation tidak akan diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak memperhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran kelas. Komunikasi dan interaksi kooperatif di antara sesama teman sekelas akan mencapai hasil terbaik apabila dilakukan dalam kelompok kecil, dimana pertukaran diantara teman sekelas dan sikap-sikap kooperatif commit dapat terus to user bertahan.
28 9 Peran guru dalam kelas yang melaksanakan projek Group Investigation bertindak sebagai narasumber dan fasilitator. Guru berkeliling di antara kelompok-kelompok yang ada dan untuk melihat bahwa mereka dapat mengelola tugasnya dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan projek pembelajaran. Peran guru pada model pembelajaran Group Investigation yaitu melakukan hal-hal sebagai berikut. (1) Memfasilitasi proses kelompok. (2) Campur tangan dalam proses kelompok dan meneruskan serta mengarahkan energi aktivitas kelompok menuju aktivitas pengajaran yang potensial. (3) Memandu pendidikan tersebut sehingga makna dan pemahaman individu dapat muncul dari pengalaman. c. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Langkah-langkah model pembelajaran Group Investigation menurut Sugiyanto (2010) sebagai berikut. 1) Seleksi Topik Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok bersifat heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik, maupun kemampuan akademik. 2) Merencanakan Kerjasama Para siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih. 3) Implementasi Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. Pembelajaran harus commit melibatkan to user berbagai aktivitas dan keterampilan
29 10 dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terusmenerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. 4) Analisis dan Sintesis Para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh pada langkah sebelumnya dan merencanakan peringkasan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. 5) Penyajian Hasil Akhir Semua kelompok menyajikan presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa terlibat dan mencapai prespektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinasikan guru. 6) Evaluasi Selanjutnya Guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencangkup tiap siswa secara individual atau kelompok atau keduanya. d. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe GI 1) Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe GI Group Investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet sehingga siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru akan tetapi dapat menambah kepercayaan diri. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan commit yang baik to user dalam berkomunikasi maupun dalam
30 11 keterampilan proses kelompok. Group investigation mampu membantu siswa untuk merespon orang lain, dan dapat memberdayakan siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. Group Investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip belajar demokratis. Tipe ini dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran yang akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya. Group Investigation dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata. Model pembelajaran Group Investigation ini membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Dengan model pembelajaran ini minat belajar siswa meningkat dan hasil pembelajarannya diharapkan lebih bermakna bagi siswa. 2) Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe GI Sementara itu kekurangan model pembelajaran Group Investigation adalah sebagai berikut. (1) Dengan leluasanya pembelajaran maka apabila keleluasaan itu tidak optimal maka tujuan dari pembelajaran tidak akan tercapai. (2) Penilaian kelompok akan menjadi subjektif apabila guru tidak jeli dalam pelaksanaannya. (3) Mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan waktu yang panjang. (4) Jika ada salah satu siswa yang tidak aktif dalam kelompoknya maka akan menghambat kerja kelompok dan tercapainya tujuan pembelajaran membutuhkan waktu yang lama.(5) Siswa cenderung ribut.
31 12 2. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi a. Pengertian Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Berpikir adalah suatu kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang telah diperoleh melalui indera dan ditujukan untuk mencapai kebenaran. Berpikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan terarah kepada suatu tujuan. Menurut Vincent Ruggiero (1988) berpikir adalah segala aktivitas mental dalam pencarian sebuah jawaban dan sebuah pencapaian makna (Johnson, 2009). John Chaffe (1944) mengemukakan bahwa berpikir adalah suatu bentuk aktif dan teratur yang digunakan untuk memahami dunia, salah satunya ialah berpikir kritis sebagai bentuk berpikir untuk menyelidiki suatu permasalahan secara sistematis (Johnson, 2009). Berpikir kritis merupakan proses mental yang terorganisir dengan baik dan berperan dalam proses pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan menginterpretasikan data dalam kegiatan yang menghasilkan gagasan, konstruktif, dan menekankan pada aspek intuitif dan rasional. Pemahaman tentang berpikir kritis seperti apa yang digagas oleh John Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah dan merupakan cara untuk membangun pengetahuan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ialah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short term memory. Berpikir tingkat tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi membingungkan. Menurut Sizer (1992) menggunakan kemampuan berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi akan membantu siswa berpikir secara mendalam, hidup dengan cerdas dan seimbang dan dapat bertanggung jawab (Johnson, 2009). b. Indikator Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi lima kelompok yaitu memberikan penjelasan commit to sederhana, user membangun keterampilan
32 13 dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur strategi dan taktik. Kemampuan pada kelima kelompok berpikir tingkat tinggi ini dirinci lagi sebagai berikut. (1) Memberikan penjelasan sederhana terdiri dari keterampilan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan. (2) Membangun keterampilan dasar terdiri dari menyesuaikan dengan sumber, mengamati dan melaporkan hasil observasi. (3) Menyimpulkan terdiri dari keterampilan mempertimbangkan kesimpulan, melakukan generalisasi dan melakukan evaluasi. (4) Membuat penjelasan lanjut contohnya mengartikan istilah dan membuat definisi. (5). Mengatur strategi dan taktik contohnya menentukan suatu tindakan, berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi (Beachboard, 2010). Kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik antara lain dapat dilatih melalui pemberian masalah dalam bentuk soal yang bervariasi. Dalam melaksanakan berpikir tingkat tinggi, terlibat disposisi berpikir yang dicirikan dengan bertanya secara jelas dan beralasan, berusaha memahami dengan baik, menggunakan sumber yang terpercaya, mempertimbangkan situasi secara keseluruhan, berusaha tetap mengacu dan relevan ke masalah pokok, mencari berbagai alternatif, bersikap terbuka, berani mengambil posisi, bertindak cepat, bersikap atau berpandangan bahwa sesuatu adalah bagian dari keseluruhan yang kompleks, memanfaatkan cara berpikir orang lain yang kritis, dan bersikap sensitif terhadap perasaan orang lain. Selain aspek afektif tersebut, dalam berpikir tingkat tinggi juga termuat beberapa kemampuan yaitu memfokuskan diri pada pertanyaan, menganalisis dan mengklarifikasi pertanyaan, jawaban, dan argumen, mempertimbangkan sumber yang terpercaya, mengamati dan menganalisis deduksi, menginduksi dan menganalisis induksi, merumuskan eksplanatori, kesimpulan dan hipotesis, menarik pertimbangan yang bernilai, menetapkan suatu aksi, dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian agar para siswa tidak salah pada waktu membuat keputusan dalam kehidupannya, mereka perlu memiliki kemampuan berpikir yang baik. Dalam berpikir siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan commit gagasan, to user pemecahan masalah, dan mengatasi
33 14 masalah serta kekurangannya. Berpikir tingkat tinggi merupakan disiplin berpikir yang dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang terarah, terencana, mengikuti alur logis sesuai dengan fakta yang diketahui. Dari uraian di atas tampak bahwa berpikir tingkat tinggi berkaitan erat dengan argumen, karena argumen sendiri adalah serangkaian pernyataan yang mengandung pernyataan penarikan kesimpulan. Seperti diketahui kesimpulan biasanya ditarik berdasarkan pernyataan-pernyataan yang diberikan sebelumnya atau yang disebut premis. Dalam argumen yang valid sebuah kesimpulan harus ditarik secara logis dari premis-premis yang ada. c. Unsur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Terdapat enam unsur dasar dalam kemampuan berpikir, yaitu fokus (focus), alasan (reason), kesimpulan (inference), situasi (situation), kejelasan (clarity), dan tinjauan ulang (overview). Dari pendapat ini dapat dijelaskan bahwa tahap-tahap dalam berpikir adalah sebagai berikut. (1) Fokus (focus). Langkah awal adalah mengidentifikasi masalah dengan baik. Permasalahan yang menjadi fokus bisa terdapat dalam kesimpulan sebuah argumen. (2) Alasan (reason). Apakah alasan-alasan yang diberikan logis atau tidak untuk disimpulkan seperti yang tercantum dalam fokus. (3) Kesimpulan (inference). Jika alasannya tepat, apakah alasan itu cukup untuk sampai pada kesimpulan yang diberikan? (4) Situasi (situation). Mencocokkan dengan situasi yang sebenarnya. (5) Kejelasan (clarity). Harus ada kejelasan mengenai istilah-istilah yang dipakai dalam argumen tersebut sehingga tidak terjadi kesalahan dalam membuat kesimpulan. (6) Tinjauan ulang (overview). Artinya kita perlu mengecek apa yang sudah ditemukan, diputuskan, diperhatikan, dipelajari dan disimpulkan. d. Taksonomi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi menurut Bloom Taksonomi pembelajaran yang dikembangkan oleh Bloom menyatakan bahwa kemampuan berpikir terdiri atas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Level berpikir yang sesuai kemampuan
34 berpikir tingkat tinggi dilihat dari ranah kognitif taksonomi Bloom berada pada level analisis, evaluasi dan mencipta (Longman, 2010). 15 1) Menganalisis Menganalisis melibatkan proses memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian kecil dan menentukan bagaimana hubungan antar bagian dan antara setiap bagian dan struktur keseluruhannya. Kategori menganalisis ini meliputi proses-proses kognitif membedakan, mengorganisasi, dan mengatribusikan. 2) Mengevaluasi Mengevaluasi didefinisikan sebagai membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar. Kategori mengevaluasi mencakup proses kognitif memeriksa (keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan kriteria internal) dan mengkritik (keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan kriteria eksternal). 3) Mencipta Mencipta melibakan proses menyusun elemen-elemen menjadi sebuah keseluruhan yang koheren atau fungsional. Tujuannya yaitu meminta siswa membuat produk baru dengan mereorganisasi sejumlah elemen atau bagian jadi suatu pola yang baru. Proses kognitif yang terlibat dalam mencipta umumnya sejalan dengan pengalaman-pengalaman belajar sebelumnya. Proses mencipta dimulai dengan tahap divergen yang di dalamnya siswa memikirkan berbagai solusi ketika berusaha memahami tugas (merumuskan). Tahap selanjutnya adalah berpikir konvergen, yang di dalamnya siswa merencanakan solusi dan mengubahnya menjadi rencana aksi (merencanakan). Tahap terakhir ialah melaksanakan rencana dengan mengkonstruksi solusi (memproduksi). Pada standar kompetensi mata pelajaran biologi dinyatakan pula bahwa pendidikan biologi diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Berdasarkan hal itu, maka sebaiknya soal-soal biologi selain untuk menguji daya ingat dan pemahaman commit dan to penerapan user harus juga dapat menguji
35 16 peserta didik sampai tingkat berpikir tinggi atau menguji proses analisis, evaluasi dan mencipta. Soal-soal ini dapat dirancang dengan melihat kata kerja operasional yang sesuai dengan masing-masing ranah kognitif (Dikmenli, 2009). e. Pemberdayaan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Kemampuan berpikir merupakan proses keterampilan yang bisa dilatihkan, artinya dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif akan merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu maka guru diharapkan untuk mencari model pembelajaran yang dampaknya dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa (Hashemi, 2011). Berpikir adalah salah satu proses aktif pribadi manusia yang mengakibatkan ditemukannya suatu pengetahuan. Sebagai fasilitator dalam proses mengajar, guru memiliki kemampuan mengajukan pertanyaan yang merangsang siswa berpikir. Salah satu tujuan pendidik adalah menjadikan pemikir yang baik bagi siswanya, serta membantu siswa memahami keterbatasannya. Pendidik dapat melatih siswanya dengan cara menunjukkan cara berpikir melalui semua mata pelajaran, memberikan contoh kasus-kasus cara berpikir yang baik, memberikan masalah yang menuntut siswa dapat memanfaatkan proses-proses pemecahan masalah dan menerapkan kemampuan siswa untuk mengambil keputusan (Ornstein, 2007). Higher level questions adalah pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hipotesis, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, dan menunjukkan jawaban tingkat tinggi. Untuk menjawab diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru (Blackwell, 2007). Melatih kemampuan berpikir juga diperlukan latihan-latihan intensif. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir commit yang to user telah dimiliki oleh siswa. Proses
36 17 pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan kemampuan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran sehingga jumlah atau macam kemampuan berpikir siswa meningkat. Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa untuk berpikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa (Sherman, 2009). Pembelajaran yang berbasis hafalan menjadikan siswa jarang dituntut untuk bertanya dan berpikir sehingga kemampuan berpikir kurang terpacu. Berpikir dapat dipacu dengan mengajukan pertanyaan yang ditingkatkan kompleksitasnya. Pembelajaran dalam kelompok kecil juga dapat membuat siswa untuk lebih aktif dalam berpikir (Ramirez, 2008: 25), dengan memberikan materi yang tepat, arahan yang benar dan suasana belajar yang kondusif, anak-anak dari usia berapapun akan berkembang kemampuan berpikirnya. 3. Partisipasi a. Pengertian Partisipasi Keit Davis menyatakan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan (Sastroputro, 1989). George Terry menyatakan bahwa partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangansumbangan pada proses pembuatan keputusan, terutama mengenai persoalan dimana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut (Winardi, 2002). Partisipasi siswa dalam pembelajaran sering juga diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran (Mulyasa, 2004). Jadi partisipasi yang peneliti maksud adalah partisipasi siswa yang merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorong mereka untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang memuaskan.
37 18 b. Jenis-Jenis Partisipasi Jenis-jenis partisipasi menurut Keit Davis adalah sebagai berikut. 1) Partisipasi berupa pikiran (psychological participation) merupakan jenis keikutsertaan secara aktif dengan mengerahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. 2) Partisipasi yang berupa tenaga (physical participation) adalah partisipasi dari individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam suatu aktivitas dengan maksud tertentu. 3) Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical and psychological participation). Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi di samping mengikutsertakan aktivitas secara fisik dan non fisik secara bersamaan. 4) Partisipasi yang berupa keahlian (participation with skill) merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal maupun non formal yang menunjang keahliannya. 5) Partisipasi yang berupa barang (material participation), partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut. 6) Partisipasi yang berupa uang (money participation), partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan. Kemungkinan partisipasi ini terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari kegiatan tersebut. Partisipasi yang berupa uang dan barang sifatnya tersamar, karena dalam hal ini individu atau kelompok tidak kelihatan secara jelas beraktivitas melainkan mengikutsertakan barang atau uangnya (Sastroputro, 1989). c. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Partisipasi Menurut Sudjana partisipasi siswa di dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental dan emosional. Disamping itu, partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain:
38 19 1) Pengetahuan/kognitif, berupa pengetahuan tentang tema, fakta, aturan, dan ketrampilan membuat translasi. 2) Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial. 3) Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan lingkungan. 4) Kebutuhan, meliputi kebutuhan approach (mendekatkan diri), avoid (menghindari), kebutuhan individual. 5) Sikap, meliputi pandangan/perasaan, kesediaan berinteraksi sosial, minat dan perhatian (Hayati, 2001). d. Prasyarat Terjadinya Partisipasi Berdasarkan pendapat Keit Davis dan Newstrom bahwa ada beberapa prasayarat terjadinya partisipasi antara lain: 1) Waktu yang cukup untuk berpartisipasi. Harus ada waktu yang cukup untuk berpartisipasi sebelum diperlukan tindakan, sehingga partisipasi hampir tidak tepat apabila dalam situasi darurat. 2) Keuntungannya lebih besar dari kerugian. Kemungkinan mendapat keuntungan seyogyanya lebih besar daripada kerugian yang diperoleh. 3) Relevan dengan kepentingan siswa. Bidang garapan partisipasi haruslah relevan dan menarik bagi siswa. 4) Kemampuan siswa. Siswa hendaknya mempunyai pengetahuan seperti kecerdasan dan pengetahuan untuk berpartisipasi. 5) Kemampuan berkomunikasi timbal balik. Para siswa haruslah mampu berkomunikasi timbal balik untuk berbicara dengan bahasa yang benar dengan orang lain. 6) Tidak timbul perasaan terancam bagi kedua belah pihak. Masing-masing pihak seharusnya tidak merasa bahwa posisinya terancam oleh partisipasi.. 7) Masih dalam bidang keleluasan. Partisipasi untuk meneruskan arah tindakan dalam pembelajaran yang hanya boleh berlangsung dalam bidang keleluasaan belajar dengan batasan-batasan tertentu untuk menjaga kesatuan bagi keseluruhan (Hayati, 2001).
39 20 e. Indikator Partisipasi Indikator partisipasi siswa dalam pembelajaran, sebagaimana dikemukakan oleh Knowles adalah sebagai berikut: 1) Adanya keterlibatan emosional dan mental siswa 2) Adanya kesediaan siswa untuk memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan 3) Dalam kegiatan belajar terdapat hal yang sangat menguntungkan (Mulyasa, 2004). Indikator keberhasilan penelitian didapat dari penjabaran aspek keaktifan berkomunikasi yaitu penyampaian pikiran (Effendy, 1997) menjadi kata kerja yang kemudian disusun menjadi indikator mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat dan menanggapi pendapat (Munadi, 2008). Dari berbagai pendapat para ahli diatas tentang pengertian partisipasi, jenis-jenis partisipasi dan prasyarat terjadinya partisipasi, maka yang menjadi indikator dalam penelitian ini yaitu siswa telah memberikan sumbangan berupa pendapat, saran, tenaga, dan bertanggung jawab dalam pembelajaran serta siswa mempunyai kemampuan bekomunikasi timbal balik. f. Pemberdayaan Partisipasi dalam Pembelajaran Pada hakikatnya belajar merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil belajar yang optimal perlu keterlibatan atau partisipasi yang tinggi dari siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar, siswa dituntut secara aktif untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran. Karena dengan demikian siswalah yang akan membuat suatu pembelajaran dikatakan sukses, efektif dan efesien. Siswa yang aktif dalam pembelajaran akan terlihat pada baik dan buruknya prestasi yang diperoleh. Sudjana mengemukakan syarat kelas yang efektif adalah adanya keterlibatan, tanggung jawab dan umpan balik dari siswa. Keterlibatan siswa merupakan syarat pertama dalam kegiatan belajar di kelas. Untuk terjadinya keterlibatan itu siswa harus memahami commit dan to user memiliki tujuan yang ingin dicapai
40 21 melalui kegiatan belajar atau pembelajaran. Keterlibatan itupun harus memiliki arti penting sebagai bagian dari dirinya dan perlu diarahkan secara baik oleh sumber belajar (Mulyasa, 2004). Untuk mendorong partisipasi siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain memberikan pertanyaan dan menanggapi respon siswa secara positif, menggunakan pengalaman berstruktur, dan menggunakan model yang bevariasi yang lebih melibatkan siswa. Siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam pembelajaran. Sebagai subjek siswa adalah individu yang melakukan proses belajar mengajar. Sebagai objek karena kegiatan pembelajaran diharapkaan dapat mencapai perubahan perilaku pada diri subjek belajar. Untuk itu, dari pihak siswa diperlukan partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Partisipasi subjek belajar dalam proses pembelajaran antara lain dipengaruhi faktor kemampuan yang dimiliki hubungannya dengan materi yang akan dipelajari. g. Manfaat Partisipasi Suryosubroto mengemukakan manfaat prinsipil dari partisipasi sebagai berikut. 1) Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar karena banyak sumbangan pikiran 2) Pengembangan potensi diri dan kreativitas 3) Adanya penerimaan yang lebih besar terhadap perintah yang diberikan dan adanya perasaan diperlukan 4) Melatih untuk bertanggung jawab serta mendorong untuk membangun kepentingan bersama. 5) Mengembangkan potensi diri dan kreativitas siswa, serta dapat melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadap proses dan hasil belajar yang dijalaninya. Kesempatan untuk merespon meningkatkan siswa belajar dengan melibatkan lebih banyak waktu dan mengurangi waktu yang terbuang (Blackwell, 2008: 11)
41 22 h. Hasil Penelitian yang Relevan Setyarini (2009) dalam skripsinya menjelaskan bahwa model pembelajaran Group Investigation mampu meningkatkan partisipasi siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Sintak Group Investigation yang berupa model pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk dapat bekerja secara bersama-sama untuk mencapai keberhasilan secara berkelompok. Yuliana (2011) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa model pembelajaran Group Investigation berperan aktif dalam peningkatan pemahaman dan keterampilan berpikir mahasiswa. Langkah investigasi di dalam sintak Group Investigation mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri apa yang akan ia pelajari, sejak penentuan subtopik hingga mempresentasikan hasil penemuan. Guru hanya berperan sebagai fasilitator. B. Kerangka Berpikir Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran biologi di kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta adalah rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan kurang optimalnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Partisipasi siswa yang dimaksud adalah keaktifan berkomunikasi dalam pembelajaran yang tampak dari kurangnya partisipasi siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, berpendapat dan menanggapi pendapat selama proses pembelajaran berlangsung. Perkiraan yang menyebabkan permasalahan adalah model dan sumber pembelajaran yang digunakan belum mampu melibatkan keaktifan berkomunikasi siswa secara menyeluruh. Terkait dengan permasalahan tersebut, perlu dilakukan inovasi yang dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran. Salah satu cara yang ditempuh adalah penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning tipe Group Investigation. Group Investigation merupakan salah satu model dalam pembelajaran kooperatif, dimana proses pembelajaran lebih menekankan pada partisipasi siswa dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Pelaksanaan model ini menambah keberanian dan kepercayaan diri siswa untuk berinteraksi dengan lingkungannya sehingga dapat meningkatkan keaktifan berkomunikasi dalam
42 23 pembelajaran biologi. Group Investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip belajar demokratis. Tipe ini dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya. Penerapan Group Investigation diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran biologi pada pokok bahasan ekosistem siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta. Bagan kerangka pemikiran divisualisasikan pada Gambar 2.1 sebagai berikut.
43 24 Hasil observasi: - Suasana kelas kurang hidup, pembelajaran masih terpusat pada guru - Tidak ada siswa yang bertanya saat guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya - Cara guru mengajar cukup kreatif yaitu dengan CD pembelajaran interaktif - Dari 38 siswa ketika mengerjakan tes mid semester gasal hanya 13.51% siswa yang dapat menjawab soal berpikir tingkat tinggi dengan benar, 46.49% siswa menjawab kurang tepat dan 20% siswa tidak bisa menjawab pertanyaan. Bila dibandingkan dengan pertanyaan yang Gambar. memiliki Skema tingkat Kerangka soal C1 Berpikir hingga C3 didapatkan data 77% siswa dapat menjawab dengan benar dan 23% menjawab pertanyaan kurang tepat. Permasalahan: - partisipasi siswa kurang - pembelajaran terpusat pada guru - kurangnya interaksi antar siswa untuk memecahkan masalah secara bersama-sama - kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi kurang Akar permasalahan: - partisipasi siswa rendah - kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kurang Solusi: - Suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan partisipasi siswa - Suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Group Investigation Sintak Model Pembelajaran Group Investigation yang mampu meningkatkan aspek partisipasi & kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa - siswa bekerja secara berkelompok untuk memecahkan masalah & guru berperan sebagai sebagai fasilitator sehingga siswa akan ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran - siswa terlibat secara langsung mulai dari pemilihan topik permasalahan hingga penyajian hasil diskusi sehingga akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam pengetahuan mereka - dalam tahap investigasi, pembelajaran GI berbasis konstruktivisme sehingga dapat melatih siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut secara mandiri Target Partisipasi siswa dalam pembelajaran meningkat ³75% dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa meningkat ³60% Gambar commit 2.1 to Kerangka user Berpikir
44 25 C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan tinjauan pustaka dihubungkan dengan permasalahan yang ada pada proses pembelajaran Biologi, maka dirumuskan hipotesis tindakan yaitu penggunaan model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 SMA Batik I Surakarta.
45 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Batik I Surakarta kelas X-9 semester genap tahun ajaran 2011/2012, yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi 445, Surakarta. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan secara bertahap meliputi tahap persiapan, penelitian, dan penyelesaian dengan perincian sebagai berikut. a. Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi observasi, identifikasi masalah, penentuan tindakan, pengajuan judul, penyusunan proposal, penyusunan perangkat pembelajaran berupa silabus, RPP, dan LKS materi ekosistem, penyusunan instrumen penelitian berupa angket, tes, lembar observasi, pedoman wawancara, dan seminar proposal. Perincian kegiatan penelitian seperti pada Tabel 3.1 berikut. Tabel 3.1 Rancangan Urutan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Penelitian No Rencana Kegiatan 1 Persiapan a. Observasi b. Identifikasi Masalah c. Penentuan Tindakan d. Pengajuan Judul e. Penyusunan Proposal f. Penyusunan Instrumen g. Seminar Proposal Tahun Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr 26
46 b. Tahap Penelitian Tahap penelitian meliputi kegiatan yang berlangsung di lapangan yaitu pengajuan izin penelitian, penerapan model, pengambilan data, dan analisis data. Perincian tahap penelitian seperti yang tercantum pada Tabel 3.2. c. Tahap Penyelesaian Tahap penyelesaian meliputi kegiatan pembuatan laporan. Perincian tahap penyelesaian seperti yang tercantum pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Waktu Pelaksanaan Tahap Penelitian & Penyelesaian Kegiatan Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation 27 No Rencana Kegiatan 1 Pelaksanaan a. Pengajuan Izin Penelitian b. Penerapan Strategi c. Pengambilan Data d. Analisa Data 2 Penyusunan Laporan Tahun Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Pembuatan Laporan B. Subjek Penelitian Subjek dari penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2011/ 2012 yang dikenal ramai di kelas saat pembelajaran sehingga suasana kelas kurang kondusif untuk belajar. C. Data dan Sumber Data 1. Data Penelitian Data yang dikumpulkan dalam penelitian penerapan model pembelajaran Group Investigation berupa informasi mengenai partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi dari data hasil observasi, hasil tes kemampuan berpikir tingkat tinggi, lembar observasi, angket dan wawancara dengan guru dan siswa.
47 28 2. Sumber Data Data penelitian penerapan model pembelajaran Group Investigation dikumpulkan dari berbagai sumber sebagai berikut. a. Informasi yang didapat dari guru dan siswa b. Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran c. Dokumentasi atau arsip berupa silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). D. Pengumpulan Data Data pada penelitian penerapan model pembelajaran Group Investigation dikumpulkan melalui tes, observasi, angket, dan wawancara. 1. Observasi Observasi dilaksanakan ketika proses pembelajaran biologi pada topik ekosistem. Observasi dilakukan terhadap siswa beserta proses pembelajaran yang menyertainya. Kegiatan observasi dilakukan dalam rangka mengevaluasi peningkatan partisipasi dengan dilakukannya tindakan pada setiap siklus serta untuk mengetahui keterlaksanaan sintak model pembelajaran Group Investigation. Observasi dilakukan oleh empat observer dan guru untuk menghindari adanya subjektivitas. Rancangan instrumen yang digunakan berupa lembar observasi tertulis. Pengisian dilakukan dengan cara memberi tanda check ( ) pada pilihan yang tepat. Observasi terhadap siswa difokuskan pada partisipasi siswa yang meliputi aspek siswa fokus terhadap materi pelajaran, sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung, siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung, siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah, siswa berani mengajukan pendapat dan mengemukakan permasalahannya, siswa berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar, usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran, serta kemandirian siswa dalam belajar.
48 29 2. Wawancara Wawancara terhadap siswa dan guru meliputi aspek partisipasi siswa dan untuk mendapatkan informasi balikan terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan. Wawancara digunakan sebagai alat penelitian dalam penerapan model pembelajaran Group Investigation dengan tujuan untuk memperbaiki data penelitian yang diperoleh dari hasil observasi dan angket. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara bebas dan dilakukan secara informal kepada siswa dan guru. Wawancara dilakukan bersama guru atas dasar hasil pengamatan di kelas maupun kajian dokumen dalam setiap siklus yang ada. Dalam kegiatan wawancara, peneliti melakukan beberapa hal sebagai berikut: a. Meminta pendapat dari guru dan siswa mengenai pelaksanaan proses pembelajaran di kelas yang meliputi kelebihan, kekurangan, dan hambatan yang terjadi di kelas. b. Mengungkapkan hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. c. Mendiskusikan hal-hal yang ditemukan selama observasi dengan guru, kemudian secara bersama menyamakan persepsi, sehingga apabila ada kekurangan dapat diperbaiki pada siklus berikutnya. 3. Angket Hasil informasi dari angket digunakan untuk mengevaluasi tindakan yang dilakukan yaitu penerapan model pembelajaran Group Investigation terhadap peningkatan partisipasi siswa. Angket yang diberikan untuk siswa disusun berdasarkan indikator partisipasi. Jenis angket yang digunakan adalah angket langsung dengan alternatif jawaban tersedia. Angket disusun dengan terlebih dahulu membuat konsep alat ukur yang mencerminkan isi kajian teori. Konsep alat ukur berisi kisi-kisi angket. Konsep selanjutnya dijabarkan dalam variabel dan indikator yang disesuaikan dengan tujuan penilaian yang hendak dicapai, selanjutnya indikator digunakan sebagai pedoman dalam menyusun itemitem angket.
49 30 Penyusunan item-item angket berdasarkan indikator yang telah ditetapkan sebelumnya. Responden atau siswa hanya dibenarkan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan untuk menjawab pertanyaan. Kriteria penilaian item soal angket seperti pada Tabel 3.3 sebagai berikut. Tabel 3.3 Skor Penilaian Angket Skor untuk Aspek yang Dinilai Skor (+) ( - ) Sangat Setuju (SS) 4 1 Setuju (S) 3 2 Tidak Setuju (TS) 2 3 Sangat Tidak Setuju (STS) Tes Tes digunakan untuk mendapatkan data kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada materi ekosistem dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada setiap indikator pada aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi. Tes ini dilakukan secara individual kepada peserta didik dalam cakupan dan ilmu pengetahuan yang ditentukan oleh pendidik untuk dijawab oleh siswa. Bentuk tes adalah tes tertulis uraian. Tes ini akan digunakan sebagai data yang menunjukkkan peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi. 5. Catatan Anekdot Catatan anekdot digunakan untuk mencatat hal-hal dalam kegiatan pembelajaran yang tidak termuat di dalam instrumen penelitian dan bersifat relevan terhadap permasalahan yang sedang diteliti. E. Uji Validitas Data Validitas data partisipasi menggunakan teknik triangulasi metode. Validitas data kemampuan berpikir tingkat tinggi menggunakan validitas ahli. Menurut Maleong (2007) triangulasi data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi commit sumber to data, user artinya dari data yang sama atau
50 31 sejenis akan lebih mantap kebenarannya bila digali menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda. Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi angket partisipasi siwa, lembar observasi partisipasi siswa yang ditunjukkan melalui sikap dan peran serta siswa dalam kegiatan belajar, wawancara informal dengan siswa dan guru mata pelajaran, serta lembar observasi keterlaksanaan sintak model pembelajaran Group Investigation. Skema triangulasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2. Angket Data Observasi Wawancara Siswa Gambar 3.2 Skema Triangulasi Metode (Sutopo, 2002 : 81) F. Analisis Data Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan deskriptif kualitatif yang mengacu pada model analisis interaktif Miles dan Huberman dalam Sutopo (2002: 91-96) yang dilakukan dalam tiga komponen yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk lebih jelasnya skema model analisis interaktif dapat dilihat pada Gambar 3.3. Pengumpulan Data Reduksi Data Sajian Data Penarikan Kesimpulan Gambar 3.3 Analisis Miles dan Huberman (Sutopo, 2002: 91-96) Reduksi data adalah proses seleksi, pemfokusan, dan penyederhanaan dari data lapangan yang diperoleh dan berlangsung selama kegiatan pelaksaan penelitian. Penyajian data merupakan pemaparan atas semua data yang telah
51 32 diseleksi dan direduksi yang diringkas secara urut dan sistematis. Penarikan kesimpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan, dan penggolongan data. Analisis lapangan data berupa catatan lapangan dari peneliti disajikan dalam narasi informasi untuk mengadakan refleksi yang jelas. G. Indikator Kerja Penelitian Menurut Mulyasa (2006) pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Pada penelitian ini dikatakan berhasil apabila target partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran tercapai dilihat dari based line ketercapaian indikator hasil observasi. Indikator kerja penelitian yang telah ditetapkan diwujudkan dalam beberapa kali kegiatan pembelajaran, setiap pembelajaran yang menyangkut topik ekosistem dilakukan dalam beberapa siklus. Penggunaan model pembelajaran Group Investigation berhenti jika target telah tercapai. Apabila target belum tercapai, maka siklus akan berulang sampai target yang telah ditentukan dapat tercapai. Akan tetapi apabila pada siklus pertama target yang telah ditentukan telah tercapai maka siklus akan dihentikan. Indikator kerja kemampuan berpikir tingkat tinggi ditunjukkan pada Tabel 3.4 dan indikator kerja partisipasi ditunjukkan pada Tabel 3.5 sebagai berikut. Tabel 3.4 Indikator Kerja Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi No Indikator Soal Persentase Observasi Rata-rata Persentase Observasi Rata-rata Persentase Target Cara Mengukur 1. Menganalisis (C4) 32.15% 2. Mengevaluasi (C5) 53.65% 41,83% 65% 3. Mencipta (C6) 39.7% Pengolahan tes yang telah dikerjakan siswa setelah pemberian tindakan.
52 33 Tabel 3.5 Indikator Kerja Partisipasi Siswa No Indikator Persentase Observasi Rata-rata Persentase Observasi Rata-rata Persentase Target Cara Mengukur 1. Fokus terhadap materi pelajaran 2. Sorot mata tertuju pada guru saat pelajaran berlangsung 3. Tidak melamun saat pembelajaran berlangsung 4. Selalu siap saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melaksanakan perintah 64% 69% 47% 45% 35,5% 75% Diamati saat pembelajaran dan dihitung dari jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran, berinteraksi dengan guru, materi, dan siswa lain. 5. Berani mengajukan pendapat 25% 6. Berpartisipasi dalam persiapan, proses dan kelanjutan belajar 22% 7. Berusaha dan kreatif dalam pembelajaran 6% 8. Mandiri dalam belajar 6% Nb: Angka menunjukkan persentase, Jumlah siswa 36. H. Prosedur Penelitian Penelitian tindakan kelas secara umum dilakukan dengan empat tahapan (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflecting) (Arikunto, Suhardjono & Supardi, 2008). 1. Tahap Perencanaan Tahap-tahap yang ada dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut. a. Penyusunan perangkat pembelajaran yang terdiri atas LKS materi ekosistem, silabus siklus I, rencana pelaksanaan commit pembelajaran to user (RPP) siklus I.
53 34 b. Penyusunan instrumen penelitian yang terdiri dari angket, lembar observasi, dan pedoman wawancara partisipasi untuk siswa dan guru, soal tes kemampuan berpikir tingkat tinggi siklus I, lembar observasi keterlaksanaan sintak model pembelajaran kooperatif tipe GI. c. Praktik simulasi model pembelajaran Group Investigation di kelas untuk mengetahui kekurangan apa yang terdapat selama proses pembelajaran. 2. Tahap Pelaksanaan Penerapan model pembelajaran Group Investigation dilaksanakan pada materi ekosistem. Tahap pelaksanaan merupakan implementasi dari semua perencanaan yang telah dipersiapkan serta melalui kolaborasi dengan guru biologi yang bersangkutan. Pelaksana dari tindakan adalah guru dan pengamat jalannya tindakan dalam proses pembelajaran adalah peneliti. 3. Tahap Pengamatan dan Evaluasi Tahap pengamatan dan evaluasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan angket dan lembar observasi serta dokumentasi kegiatan pembelajaran di kelas. Angket dan lembar observasi meliputi angket dan lembar observasi partisipasi siswa, tes kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siklus I serta lembar observasi keterlaksanaan sintak model pembelajaran Group Investigation. 4. Tahap Refleksi Tahap ini meliputi kegiatan yang mengulas perubahan dan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran meliputi partisipasi dan peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa serta keterlaksanaan model pembelajaran Group Investigation pada siklus II.
54 BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan Pengamatan dalam kegiatan pratindakan ini dilakukan pada tanggal 23 dan 25 April 2012 dengan materi Kingdom Animalia selama tiga jam pelajaran (3x45 menit) sebanyak dua kali pertemuan. Kegiatan ini difokuskan pada partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan menggunakan instrumen berupa angket, lembar observasi, dan daftar pertanyaan untuk wawancara. Cara pengambilan data dalam kegiatan pratindakan ini melalui penyebaran angket partisipasi siswa, observasi langsung oleh tiga observer dengan lembar observasi (LO) partisipasi siswa, wawancara kepada guru dan beberapa siswa, serta dokumentasi proses pembelajaran menggunakan kamera. Kondisi kegiatan pratindakan menunjukkan proses pembelajaran yang diisi dengan metode ceramah dan tanya jawab. Media yang digunakan guru dalam proses pembelajaran adalah slide power point yang menampilkan gambar-gambar dan tulisan tentang materi Animalia. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa proses pembelajaran ini monoton dan masih berpusat pada guru. Guru lebih banyak menerangkan materi dan siswa hanya mendengarkan. Proses sains untuk memperoleh suatu konsep tidak dilakukan oleh siswa. Siswa banyak yang tidak memperhatikan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran kurang. Hasil dari beberapa cara pengambilan data yang telah dilakukan dalam kegiatan pratindakan ini dijabarkan lebih sebagai berikut. 1. Hasil Observasi Partisipasi Siswa Observasi dilakukan oleh tiga orang observer menggunakan lembar observasi yang meliputi aspek partisipasi siswa. Sebelum observasi dilakukan, peneliti bersama semua observer melakukan penyamaan persepsi mengenai indikator dalam aspek partisipasi siswa agar hasil pengamatan relatif sama. Siswa di kelas X-9 berjumlah 36 orang yang pada saat pengamatan kegiatan pratindakan, tidak ada siswa yang absen. Setiap commit observer to user mengawasi sekitar siswa. 35
55 Instrumen untuk mengobservasi partisipasi siswa di kelas X-9 adalah berupa lembar observasi (LO) berisikan pernyataan ya dan tidak yang pengisiannya didasarkan pada rubrik ketercapaian indikator aspek partisipasi siswa. Pernyataan diberi tanda check (Ö) pada interval yang menunjukkan bahwa indikator yang dimaksud tercapai (teramati dan dilakukan oleh siswa). Setiap indikator dijelaskan secara rinci mengenai indikator ketercapaiannya sehingga memudahkan observer dalam mengisi lembar observasi (LO) tersebut. Hasil dari pengisian lembar observasi (LO) ini selanjutnya dihitung persentasenya dengan program Ms. Excel. Hasil observasi berdasarkan lembar observasi (LO) secara lebih rinci adalah sebagai berikut. Hasil persentase untuk setiap indikator dan rata-rata seluruh indikator dalam partisipasi siswa disajikan dalam Tabel 4.1 berikut ini. Tabel 4.1. Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Prasiklus (%) 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 94,44 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 97,22 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 25,00 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 27,80 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan 63,89 permasalahannya 6 Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. 69,40 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 0,00 8 Kemandirian siswa dalam belajar 8,33 Rata-rata 48, Hasil Angket Partisipasi Siswa Angket digunakan sebagai instrumen yang hasil pengisiannya dilakukan oleh siswa yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi awal partisipasi siswa. Angket diberikan pada seluruh siswa kelas X-9 sebanyak 36 siswa. Angket ini terdiri dari 38 butir pertanyaan mengenai partisipasi siswa. Pembagian dan pengisian angket ini dilakukan commit di akhir to user kegiatan pratindakan. Setiap siswa
56 mengisi angket secara mandiri dengan memberikan tanda checklist (Ö) pada setiap interval yang dikehendakinya, dengan hasil berupa persentase tiap indikator dan rata-ratanya sebagai berikut. Hasil dari pengisian angket ini selanjutnya dihitung persentasenya baik tiap indikator maupun keseluruhannya dengan program Ms. Excel. Hasil persentase untuk setiap indikator dan rata-rata seluruh indikator dalam partisipasi siswa disajikan dalam Tabel 4.2 berikut. Tabel 4.2. Persentase Hasil Angket Partisipasi Siswa Prasiklus No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Prasiklus (%) 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 69,97 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 62,50 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 63,89 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 67,82 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan 65,97 permasalahannya 6 Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. 61,81 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 66,78 8 Kemandirian siswa dalam belajar 64,58 Rata-rata 65, Hasil Wawancara Partisipasi Siswa Wawancara dilakukan kepada guru biologi yang mengajar dan beberapa siswa yang hasilnya digunakan sebagai data pendukung dari data observasi, angket dan dokumentasi. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka. Wawancara kepada guru dan siswa dilakukan di luar jam pelajaran setelah kegiatan pengamatan pratindakan selesai dilakukan. Siswa yang diwawancarai sejumlah tiga orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi, diperoleh informasi bahwa siswa kelas X-9 sering ramai dan banyak yang tidak memperhatikan saat guru menerangkan. Saat diberi pertanyaan, siswa diam dan tidak ada yang berani bertanya. Setelah ditunjuk guru baru siswa mau menjawab pertanyaan. Begitu pula pada saat commit guru to mempersilakan user siswa untuk bertanya,
57 38 tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan. Sebenarnya guru juga ingin menerapkan metode atau model-model pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, tetapi kendala terbesarnya adalah kurangnya waktu dan siswa yang cukup sulit diatur. Diakui guru bahwa interaksi antarsiswa yang terjadi selama pembelajaran masih kurang, siswa kurang dapat menjawab pertanyaan untuk tipe soal yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran. Berdasar hasil wawancara dengan guru, guru menginginkan adanya peningkatan dalam partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Hasil wawancara partisipasi siswa dengan guru terlampir pada Lampiran 3.1. Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga orang siswa, diperoleh informasi bahwa siswa masih beranggapan bahwa biologi itu adalah materi yang sulit dan banyak hafalan sehingga menyebabkan siswa kurang tertarik dalam pembelajaran biologi. Siswa lebih senang apabila dalam pembelajaran banyak diadakan permainan-permainan dan juga pengamatan langsung sehingga pelajaran tidak membosankan dan hanya membahas teori-teori dari buku. Tugas yang diberikan juga jangan terlalu banyak karena semakin banyak tugas yang diberikan, siswa akan semakin malas mengerjakannya. Siswa juga merasa sulit mengerjakan soal-soal sendiri sehingga merasa perlu adanya kelompok-kelompok belajar agar dapat saling bertanya pada teman yang lebih pandai. Guru biologi yang selama ini mengajar, menurut siswa sudah cukup menyenangkan dan selalu membantu siswa yang mengalami kesulitan seperti menjawab pertanyaan siswa, memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendidik dan berusaha untuk mengenal siswa lebih dekat. Guru perlu untuk melakukan variasi dalam pembelajaran agar belajar biologi menjadi lebih menyenangkan. Hasil wawancara dengan siswa mendukung data sebelumnya bahwa partisipasi siswa dalam pembelajaran biologi masih rendah dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang masih kurang. Hasil wawancara dengan siswa terlampir pada Lampiran 3.8
58 39 4. Dokumentasi Dokumentasi berupa video rekaman dan foto-foto selama proses pembelajaran yang menunjukkan hasil bahwa pembelajaran selama tiga jam pelajaran (3x45 menit) sebanyak dua kali pertemuan menunjukkan proses pembelajaran yang menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa bagian depan dan tengah saja yang terlihat fokus dan terus memperhatikan penjelasan guru, sedangkan siswa yang duduk di bagian belakang lebih banyak ramai dan tidak memperhatikan. Data berupa dokumentasi digunakan sebagai data tambahan untuk mendukung data hasil observasi, angket, dan wawancara serta merupakan bukti bahwa peneliti telah melakukan kegiatan pengamatan pratindakan (prasiklus). Hasil dokumentasi pratindakan terlampir pada Lampiran 4. B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus 1. Siklus 1 Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Berikut adalah penjabaran dari pelaksanaan siklus 1. a. Perencanaan Tindakan Dalam penyusunan perencanaan tindakan, peneliti berkolaborasi bersama guru dan dosen pembimbing untuk menetapkan tindakan yang akan diberikan kepada siswa. Perencanaan tindakan meliputi beberapa hal mulai dari merancang instrumen penelitian yang terdiri dari angket, lembar observasi dan daftar pertanyaan wawancara partisipasi siswa, silabus dan RPP, media berupa video dan gambar slide sampai dengan penyediaan alat dan bahan yang diperlukan selama kegiatan berlangsung, serta soal kemampuan berpikir tingkat tinggi yang akan diberikan pada siswa.
59 40 b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan siklus 1 dilakukan sebanyak dua kali pertemuan selama tiga jam pelajaran (3x45 menit) pada 30 April 2 Mei 2012 di kelas X-9 pada submateri komponen-komponen ekosistem, tipe-tipe ekosistem, interaksi dalam ekosistem, dan suksesi. Guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Deskripsi tindakan pada siklus 1 dijabarkan sebagai berikut: 1) Pertemuan Pertama Pertemuan pertama dilaksanakan pada Senin, 30 April 2012 pada jam ke-4 selama satu jam pelajaran (45 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan salam, memberikan motivasi, dan apersepsi. Selanjutnya guru memberikan penjelasan umum tentang mekanisme pembelajaran yang akan diikuti siswa yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Sintaks pembelajaran keseluruhan yang direncanakan dalam siklus ini adalah sebagai berikut: a) Pemberikan apersepsi, mengajak siswa melakukan brain storming, dan memberikan konsep dasar mengenai materi ekosistem. b) Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu masalah ekosistem yang digambarkan lebih dahulu oleh guru. c) Pengelompokkan siswa secara heterogen (kemampuannya), dimana setiap kelompok terdiri dari 6 orang dan menjelaskan aturannya. d) Para siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih. e) Pembagian LKS yang harus dikerjakan dan diselesaikan dalam kelompok. f) Pengamatan langsung terhadap contoh ekosistem yang ada di sekitar sekolah (kebun, taman, selokan, dll) oleh tiap kelompok. g) Guru meminta siswa berdiskusi mencari jawaban atas permasalahan yang ada tidak hanya dengan kelompoknya tetapi juga dengan kelompok lain dengan tema sejenis.
60 41 h) Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. i) Presentasi hasil diskusi di depan kelas, kemudian kelompok lain memberikan tanggapan. j) Review hasil diskusi siswa dan menyimpulkan hasil pembelajaran bersamasama. Sintaks pembelajaran tidak bisa diselesaikan pada pertemuan pertama karena terbatas oleh waktu. Sintaks pada pertemuan pertama ini sampai pada siswa berdiskusi mencari jawaban atas permasalahan yang ada. Sintaks yang belum terlaksana akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. 2) Pertemuan Kedua Pertemuan kedua dilaksanakan pada Rabu, 2 Mei 2012 pada jam ke-3 dan 4 selama dua jam pelajaran (90 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan salam dan memberikan motivasi, kemudian guru mengingatkan siswa pada materi pertemuan sebelumnya. Sintaks pembelajaran yang dilaksanakan guru pada pertemuan kedua adalah sebagai berikut: a) Guru meminta siswa untuk melanjutkan diskusi mencari jawaban atas permasalahan yang ada tidak hanya dengan kelompoknya tetapi juga dengan kelompok lain dengan tema sejenis. b) Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. c) Presentasi hasil diskusi di depan kelas, kemudian kelompok lain memberikan tanggapan. d) Review hasil diskusi siswa dan menyimpulkan hasil pembelajaran bersamasama. Sintaks yang direncanakan dilakukan dengan cukup baik oleh guru dan selesai pada pertemuan kedua. Setelah sintaks selesai, guru memberikan soal tes kemampuan berpikir tingkat tinggi siklus 1 dan dilanjutkan dengan mengisi angket partisipasi siswa.
61 42 c. Observasi dan Evaluasi Tahap observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Tahap ini meliputi pengisian lembar observasi oleh observer, pengisian angket oleh semua siswa kelas X-9, dokumentasi kegiatan pembelajaran (log book dan rekaman video), post test, dan wawancara siswa. Observasi dilakukan oleh tiga orang observer dengan menggunakan lembar observasi partisipasi siswa, keterlaksanaan sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation oleh guru dan siswa, lembar observasi ranah afektif dan psikomotorik sebagai data pendukung. Angket diberikan setelah proses pembelajaran siklus 1 berakhir. Hasil pengambilan data pada siklus 1 secara detail sebagai berikut: 1) Hasil Observasi Partisipasi Siswa Pengamatan terhadap partisipasi siswa berdasarkan delapan indikator yang muncul dan dapat diamati oleh observer pada saat pembelajaran. Seorang observer mengamati 2-3 kelompok yang terdiri dari siswa. Lembar observasi berisikan pernyataan ya dan tidak yang pengisiannya didasarkan pada rubrik ketercapaian indikator aspek partisipasi siswa. Pernyataan diberi tanda check (Ö) pada intervsl yang menunjukkan bahwa indikator yang dimaksud tercapai (teramati dan dilakukan oleh siswa). Hasil persentase capaian tiap indikator partisipasi siswa pada siklus 1 disajikan pada Tabel 4.3 berikut ini. Tabel 4.3. Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Siklus 1 No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Siklus 1 (%) 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 86,11 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 88,89 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 94,44 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 75,00 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan 77,78 permasalahannya 6 Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. 86,10 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 36,11
62 43 No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Siklus 1 (%) 8 Kemandirian siswa dalam belajar 33,30 Rata-rata 72,22 Berdasarkan Tabel 4.3 rata-rata capaian indikator partisipasi siswa untuk lembar observasi siklus 1 sebesar 72,22% dengan besar persentase tiap indikator antara 33,3%-94,44%. Apabila dibandingkan dengan hasil prasiklus, hasil siklus 1 ini meningkat sebesar 23,96%. Peningkatan persentase hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa partisipasi siswa di kelas X-9 lebih meningkat dibandingkan dengan kondisi prasiklus. Semua indikator muncul dan dapat diamati oleh observer saat pemberian tindakan berlangsung. Indikator terendah ada pada kemandirian siswa dalam belajar. Berdasarkan pengamatan, indikator tersebut cukup sulit diamati karena tidak begitu tampak. Kemandirian siswa ditunjukkan dengan siswa berlatih soal-soal materi tanpa menunggu disuruh oleh guru dan mengerjakan tugas dari guru dengan senang, bukan karena rasa takut pada guru. Untuk mengetahui apakah indikator tersebut muncul pada siswa dalam tindakan siklus 1 ini, peneliti menggunakan data lain yaitu melalui angket dan wawancara. Sementara itu, indikator tertinggi ada pada siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung. Berdasar pengamatan, indikator ini muncul dan mudah terlihat oleh observer. Guru terlihat sudah membantu dan membimbing siswa dalam pembelajaran misalnya dengan menjawab pertanyaan dari siswa. Indikator lain yaitu sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung menunjukan persentase yang baik. Indikator tersebut mudah diamati oleh observer. Secara umum siswa tampak lebih bersemangat dan terlibat dalam pembelajaran dibandingkan dengan prasiklus. 2) Hasil Angket Partisipasi Siswa Pengambilan data melalui angket ini dilakukan di akhir siklus 1 dan berguna untuk mengatahui partisipasi siswa X-9 dari sudut pandang siswa. Angket partisipasi siswa berisi 38 commit butir item to user yang berhubungan dengan partisipasi
63 yang terbagi menjadi delapan indikator yaitu siswa fokus terhadap materi pelajaran, sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung, siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung, siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah, keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan permasalahannya, berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar, usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran, kemandirian siswa dalam belajar. Berdasarkan angket yang telah diisi siswa, besar persentase tiap indikator dalam aspek partisipasi kelas tertera dalam Tabel 4.4. Tabel 4.4. Persentase Hasil Angket Partisipasi Siswa Siklus 1 No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Siklus 1 (%) 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 78,82 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 80,56 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 80,56 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 71,64 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan 67,01 permasalahannya 6 Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. 64,24 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 65,16 8 Kemandirian siswa dalam belajar 63,89 Rata-rata 71,48 44 Berdasarkan Tabel 4.4 rata-rata capaian indikator partisipasi siswa untuk angket siklus I adalah 71,48% dengan nilai indikator partisipasi siswa berkisar antara 63,89%-80,56%. Hasil tersebut mengalami kenaikan dari nilai prasiklus sebesar 6,06%, menunjukkan bahwa berdasarkan hasil angket siswa, partisipasi siswa X-9 meningkat menjadi 71,48% dari kondisi sebelum tindakan. Dilihat dari peningkatan tiap indikator partisipasi siswa, siklus 1 dengan model pembelajaran Group Investigation ini dapat meningkatkan ke delapan indikator partisipasi siswa di kelas X-9.
64 45 Indikator tertinggi sebesar 80,56% ada pada sorot mata siswa tertuju pada guru dan siswa tidak melamun pada saat pelajaran berlangsung dengan materi ekosistem. Ini menunjukkan bahwa siswa senang terlibat aktif dalam pembelajaran. Sedangkan indikator terendah ada pada kemandirian siswa dalam belajar yaitu sebesar 63,89%. Berdasar hasil pengamatan, siswa masih belum terlalu mengerti aturan pembelajaran dengan model pembelajaran Group Investigation sehingga siswa masih menunggu perintah dari guru untuk mengerjakan tugas yang diberikan dan belum dapat belajar secara mandiri dengan maksimal. Data dari angket partisipasi siswa ini akan didukung dengan hasil wawancara beberapa siswa terhadap penerapan model pembelajaran Group Investigation. 3) Hasil Wawancara Wawancara merupakan cara pengambilan data dengan menanyakan narasumber secara langsung. Wawancara ini dilakukan di luar jam pelajaran. Wawancara dilakukan pada kepada dua narasumber yaitu siswa dan guru. Data wawancara ini akan menggambarkan secara umum pendapat guru dan siswa mengenai partisipasi siswa, dan penerapan model pembelajaran Group Investigation. Data ini akan digunakan sebagai data pendukung untuk menunjukkan peningkatan yang terjadi. Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga orang siswa, diperoleh informasi bahwa siswa menyukai pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Group Investigation. ini. Menurut mereka, pembelajaran seperti ini menyenangkan, tidak membuat siswa mengantuk, lebih meningkatkan hubungan antar siswa melalui pembelajaran kolaboratif. Materi ekosistem yang dipelajari terasa lebih mudah karena siswa langsung mengamati ekosistem yang ada di sekitar. Media yang digunakan juga menarik dan memudahkan siswa dalam mencerna materi. Menurut siswa kekurangan pembelajaran seperti ini adalah siswa menjadi kurang terkendali di kelas, ada juga anggota kelompoknya yang belum sadar akan tanggung jawabnya. Selain itu waktu diskusi ataupun presentasi yang disediakan masih kurang sehingga commit to terasa user terburu-buru dan tidak maksimal
65 46 dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Hasil wawancara dengan siswa terlampir pada Lampiran 3.9. Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa pembelajaran seperti ini mendapat respon yang cukup baik dari siswa. Kelas tampak lebih hidup dan tidak ada yang mengantuk karena secara umum semua siswa tampak bekerja walaupun masih ada sebagian yang mengerjakan hal lain. Pembelajaran seperti ini membuat interaksi siswa lebih tampak melalui diskusi-diskusi kelompok dan ketertarikan atau minat siswa dalam pembelajaran juga cukup baik yang tampak dari lebih banyaknya siswa yang berani berpendapat dan tidak mengantuk karena media pembelajaran yang menarik. Kekurangan yang dirasakan guru dalam pembelajaran seperti ini antara lain masih sulitnya guru mengontrol tiap siswa ataupun kelompok, waktu yang sangat terbatas sehingga kinerja guru atau siswa tampak belum maksimal, dan tingkat kepahaman siswa pada materi ekosistem yang masih belum maksimal sehingga guru harus mengulang materi lagi sebelum post test. 4) Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang diukur dari ranah kognitif dikelas X-9 dibagi menjadi 3 indikator tipe soal yaitu C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi) dan C6 (mencipta). Besarnya aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas X-9 ini diketahui melalui pengambilan data berupa tes. Tes digunakan sebagai instrumen yang hasil pengisiannya yang dilakukan oleh siswa dapat digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Tes diberikan pada seluruh siswa kelas X-9 sebanyak 36 siswa. Setiap siswa menjawab tes secara mandiri dengan memberikan jawaban pada tiap soal yang diberikan. Hasil dari pengisian tes ini selanjutnya dihitung persentasenya baik tiap indikator maupun keseluruhannya dengan program Ms. Excel. Pengambilan data melalui tes ini dilakukan di akhir siklus 1 dan berguna untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 dari sudut pandang siswa dan peningkatannya commit dibanding to user dengan hasil observasi sebelum
66 47 siswa diberikan tindakan berupa model pembelajaran kooperatif GI. Tes kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa ini berisi 6 butir item soal yang tersusun atas indikator tipe soal menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Berdasarkan tes yang telah dikerjakan oleh siswa, besar persentase tiap indikator dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa tertera dalam Tabel 4.5 berikut ini. Tabel 4.5 Persentase Capaian Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus 1 No Indikator Tipe Soal Persentase (%) 1 Menganalisis (C4) 66,20 2 Mengevaluasi (C5) 52,43 3 Mencipta (C6) 43,52 Rata-Rata 54,05 Berdasarkan Tabel 4.5 rata-rata capaian indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa untuk angket siklus 1 adalah 54,05% dengan nilai indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa berkisar antara 43,52%-66,20%. Hasil ini masih dibawah target penelitian sebesar 60%. Hal ini menunjukan bahwa berdasarkan hasil tes, kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 pada siklus 1 masih kurang dan perlu ditingkatkan. Indikator tertinggi ada pada tipe soal menganalisis (C4) yaitu sebesar 66,20%. Kemampuan siswa untuk menganalisis soal yang diberikan masih belum optimal. Sedangkan indikator terendah ada pada tipe soal mencipta (C6) yaitu sebesar 43,52%. Perolehan data peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa tersebut menunjukan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas X-9 masih kurang dan perlu dioptimalkan. Besarnya persentase peningkatan belum mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 65%. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 perlu dioptimalkan pada siklus 2.
67 48 5) Data Pendukung a) Hasil Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks Lembar observasi (LO) keterlaksanaan sintaks Group Investigation ini terdiri dari LO keterlaksanaan sintaks oleh guru dan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan tiga observer, guru cukup lancar melaksanakan sintaks ini. Guru sudah melaksanakan sintaks secara urut. Pada pertemuan pertama (Senin, 30 April 2012), guru kurang maksimal dalam memberikan penjelasan dan pengarahan mengenai pembelajaran yang akan dilakukan, akibatnya pada saat kegiatan kegiatan pembelajaran ekosistem masih ada banyak siswa yang masih bertanya tentang apa yang harus dilakukan. Pada pertemuan kedua, guru melakukan langkah pembelajaran lebih baik namun kurang maksimal dalam membimbing jalannya diskusi tiap kelompok yang terlihat dari banyaknya siswa yang mengobrol dengan kelompoknya. Keterlaksanaan sintaks oleh siswa tampak belum maksimal, seperti beberapa siswa yang mengobrol dan bermain laptop saat berdiskusi, hanya sedikit siswa yang bertanya saat kelompok lain presentasi, tidak semua kelompok melakukan presentasi karena keterbatasan waktu dan suasana kelas yang kurang terkendali. Hasil observasi keterlaksanaan sintak model pembelajaran Group Investigation terlampir pada Lampiran b) Dokumentasi Dokumentasi diperlukan sebagai data pendukung untuk mengetahui peningkatan partisipasi siswa di kelas X-9. Dokumentasi pada siklus 1 ini adalah dengan catatan lapangan dalam bentuk log book yang ditulis oleh peneliti selama proses pembelajaran berlangsung. Secara umum hasil catatan ini berisi kejadiankejadian penting yang dilakukan oleh guru dan siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa partisipasi siswa lebih meningkat untuk belajar dibandingkan dengan kondisi prasiklus. Sementara aspek partisipasi siswa yang tampak dalam pembelajaran menunjukan peningkatan daripada kondisi prasiklus. Hasil dokumentasi siklus 1 terlampir pada Lampiran 4.1.
68 49 c) Hasil Evaluasi Hasil evaluasi afektif dan psikomotorik digunakan sebagai data pendukung penelitian dan nantinya akan diberikan pada guru dan sekolah untuk keperluan penilaian. Hasil ranah kognitif (terlampir) berupa nilai LKS dan post tes dengan nilai rata-rata kelas sebesar 73,06. Nilai terendah sebesar 52,50 dan nilai tertinggi sebesar 100. Batas tuntas ranah kognitif untuk pelajaran biologi ini sebesar 75. Tabel 4.6 ini menunjukkan ketuntasan siswa pada siklus 1. Tabel 4.6 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I Kriteria Frekuensi Persentase(%) Tuntas 15 41,67 Belum tuntas 21 58,33 Jumlah Hasil di atas menunjukkan bahwa lebih dari 50% siswa yang belum tuntas karena nilainya masih kurang dari 75. Hal ini disebabkan oleh kurang terbiasanya siswa dengan soal yang memiliki tipe kemampuan berpikir tingkat tinggi. Data nilai dari ranah psikomotorik dan afektif diperoleh melalui observasi pada kelompok-kelompok selama pelajaran berlangsung. Nilai ranah psikomotorik dalam bentuk abjad menunjukkan bahwa seluruh siswa mendapat A. nilai psikomotorik terlampir pada Lampiran. Sedangkan ranah afektif yang terdiri dari 5 indikator dijabarkan dalam Tabel 4.7 berikut ini. Tabel 4.7 Persentase Hasil Observasi Ranah Afektif Siswa No Indikator Ranah Afektif Persentase (%) 1 Tanggung jawab 88,89 2 Teliti 75,70 3 Disiplin 75,70 4 Berani 85,42 5 Bekerjasama 98,61 6 Menghargai pendapat 88,89 Rata-Rata 85,53
69 50 Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa ranah afektif siswa cukup baik namun belum maksimal sesuai yang diharapkan terutama dalam teliti dan disiplin dalam pembelajaran. Bila dikonversikan ke dalam huruf, sebanyak 20 siswa mendapat nilai A dan 16 siswa mendapat B. d. Analisis dan Refleksi Analisis dan refleksi diperlukan guna perbaikan untuk siklus selanjutnya. Tahap ini meliputi kegiatan yang mengulas perubahan dan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran yang meliputi partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa saat pelaksanaan proses pembelajaran siklus 1. Hasil dari analisis dan refleksi ini akan digunakan sebagai bahan perencanaan pada siklus 2. Hasil yang dicapai pada pelaksanaan tindakan siklus 1 secara umum belum mencapai target yang ditentukan peneliti sebelumnya yaitu peningkatan menjadi 75% untuk aspek partisipasi siswa dan 65% untuk kemampuan berpikir tingkat tinggi, sehingga peneliti ingin lebih memaksimalkan proses pembelajaran dan diperlukan perbaikan. Berdasarkan hasil ini, maka dapat diperoleh hasil refleksi sebagai berikut. 1) Partisipasi siswa telah menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan prasiklus. Target masih belum tercapai sehingga peneliti masih ingin memaksimalkan partisipasi siswa di kelas X-9 agar target penelitian dapat tercapai dan hasilnya lebih maksimal. Hal ini karena masih ada beberapa siswa yang belum terlibat dalam pembelajaran, seperti membuat gaduh dengan bermain sendiri, kurang tertib mengikuti prosedur pembelajaran, mengobrol dengan kelompoknya, siswa juga kurang mandiri dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Beberapa indikator dari partisipasi siswa juga masih rendah di bawah target sehingga perlu ditingkatkan pada siklus selanjutnya. 2) Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa belum maksimal, terutama dari hasil tes yang belum memenuhi target yang ditetapkan. Ada beberapa hambatan dalam pembelajaran yang harus diperbaiki peneliti agar tidak terjadi di siklus berikutnya, misalnya penjelasan commit dari to user guru tentang apa yang harus
70 51 dilaksanakan siswa pada model pembelajaran Group Investigation, alokasi pelaksanaan diskusi dan presentasi yang masih kurang sehingga ada kelompok yang belum sempat presentasi. Siklus berikutnya diharapkan hambatan ini tidak terjadi lagi. 3) Keterlaksanaan penerapan model pembelajaran Group Investigation di kelas X-9 pada siklus 1 ini belum berjalan sesuai sintaks yang ada. Hal ini terlihat pada saat observasi dimana guru masih kurang lancar dalam menerapkan pembelajaran ini yang tampak dari adanya langkah pembelajaran yang masih terlewat dan belum dilakukan guru. Pada siklus selanjutnya, dengan koordinasi yang lebih baik lagi antara guru dan peneliti diharapkan kendala ini dapat diperbaiki. Sedangkan keterlaksaan pada siswa pun tampak belum maksimal. Berdasarkan hasil wawancara, siswa merasa waktu yang diberikan kurang sehingga mereka kurang maksimal dan terburu-buru dalam berdiskusi, presentasi dan mengerjakan tugas. Pada siklus berikutnya, dengan bimbingan dari guru yang lebih baik lagi, diharapkan masalah ini dapat teratasi. 2. Siklus 2 Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi seperti halnya pada siklus 1. Pelaksanaan siklus 2 ini adalah perbaikan berdasar refleksi dari siklus 1. Berikut ini adalah penjabaran dari pelaksanaan siklus 2. a. Perencanaan Tindakan Peneliti menemukan adanya kelemahan, masalah, dan hambatan berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. Pada siklus 2 diharapkan pembelajaran berlangsung lebih baik dan menunjukkan peningkatan maksimal. Oleh karena itu, peneliti dan guru melakukan langkah-langkah perbaikan, antara lain sebagai berikut. 1) Hasil refleksi siklus 1 menunjukkan bahwa guru belum optimal dalam melaksanakan sintaks pembelajaran commit sesuai to user apa yang ada dalam RPP. Sebagai
71 52 tindak lanjutnya, peneliti berdiskusi dengan guru untuk membuat perencanaan tindakan bersama dan memperbaiki kekurangan pada siklus sebelumnya. 2) Hasil refleksi siklus 1 menunjukkan bahwa guru masih belum mampu mengelola atau mengatur waktu pembelajaran sehingga dalam hal ini guru terkesan kurang tegas terhadap siswa. Sebagai tindak lanjutnya, guru harus lebih bersikap tegas dan menerapkan peraturan-peraturan saat sesi diskusi untuk memecahkan masalah, sehingga siswa dapat disiplin dalam pembelajaran. 3) Hasil refleksi siklus 1 menunjukkan bahwa partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa masih belum mencapai target yang ditentukan. Sebagai tindak lanjutnya, guru harus lebih memotivasi siswa agar keinginan siswa untuk mempelajari materi ekosistem ini lebih besar melalui pembelajaran yang diterapkan dan media yang digunakan sehingga dapat memaksimalkan hasil dari siklus 2. 4) Hasil refleksi siklus 1 menunjukkan bahwa siswa belum mampu mengikuti prosedur pembelajaran dengan baik. Banyak siswa yang bingung dan belum memahami apa yang harus dilakukannya. Sebagai tindak lanjutnya, guru memperjelas prosedur-prosedur pembelajaran yang harus dilakukan dan meminta siswa untuk melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum melakukan prosedur kegiatan pembelajaran. Peneliti turut serta memberikan pelatihan dan training kepada guru maupun siswa untuk menjelaskan prosedur-prosedur pembelajaran yang benar sesuai sintaksnya. 5) Hasil refleksi siklus 1 menunjukkan bahwa masih ada siswa yang kurang tertib dan bertanggung jawab dalam pembelajaran. Ada beberapa siswa yang membuat gaduh dengan bermain-main, kurang tertib mengikuti prosedur pembelajaran, mengobrol dengan kelompoknya, siswa juga kurang mandiri dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sebagai tindak lanjutnya, guru harus bersikap lebih tegas dengan memberikan hukuman yang mendidik seperti pengurangan nilai. 6) Penyusunan rencana pengajaran (RPP) yang lebih disesuaikan lagi dengan tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran Group
72 53 Investigation. Alokasi waktu ditambah dengan menambah jumlah pertemuan dari dua menjadi tiga kali pertemuan. Dengan ditambahnya waktu diharapkan proses pembelajaran lebih baik. 7) Penyusunan instrumen lain seperti, lembar observasi partisipasi siswa dalam pembelajaran biologi, lembar keterlaksanaan sintaks pembelajaran, angket partisipasi siswa dalam pembelajaran biologi, pedoman wawancara sama seperti yang digunakan pada siklus 1, dan tes kemampuan berpikir tingkat tinggi siklus 2. b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan siklus 2 ini dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan selama empat jam pelajaran (4x45 menit) pada tanggal 7 14 Mei 2012 di kelas X-9 pada submateri aliran energi dan daur biogeokimia. Guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation. Deskripsi tindakan pada siklus 1 ini dijabarkan sebagai berikut: 1) Pertemuan Pertama Pertemuan pertama dilaksanakan pada Senin, 7 Mei 2012 pada jam ke-4 selama satu jam pelajaran (45 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan salam, memberikan motivasi, dan apersepsi. Selanjutnya guru memberikan penjelasan umum tentang mekanisme pembelajaran yang akan diikuti siswa yaitu model pembelajaran Group Investigation dengan lebih lengkap daripada sebelumnya. Sintaks pembelajaran keseluruhan yang direncanakan dalam siklus ini adalah sebagai berikut: a) Guru membuka pelajaran dengan salam b) Guru mengabsen dan menanyakan kabar siswa. c) Guru memberikan motivasi dan apersepsi dengan menanyakan Bagaimanakah cara makhluk hidup mempertahankan hidupnya? Darimana itu semua diperoleh? Jadi, apakah ada hubungan antara kita dengan segala sesuatu di sekeliling kita? d) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa.
73 54 e) Guru menyampaikan mekanisme pembelajaran yang akan diikuti siswa yaitu model pembelajaran Group Investigation. f) Guru memberikan konsep dasar pada siswa mengenai materi aliran energi dan daur biogeokimia. g) Guru mempersilahkan siswa untuk memberikan tanggapan maupun pertanyaan h) Guru meminta siswa segera berkumpul dengan kelompoknya dan mengadakan pembagian tugas (ketua, sekretaris, pengatur waktu dalam kelompok, pemberi pertanyaan dan pencari jawaban). Selanjutnya guru membagikan LKS. i) Guru meminta tiap kelompok melakukan analisis terhadap komponenkomponen suatu ekosistem yang diberikan kemudian membuat contoh rantai dan jaring makanan yang tepat sesuai dengan petunjuk yang ada di LKS. Kelompok 1 bergabung dengan kelompok 2, dst. j) Guru meminta tiap anggota kelompok memainkan peran sebagai komponenkomponen ekosistem tersebut kemudian memperagakan contoh rantai dan jaring makanan yang telah dibuatnya di depan kelas dengan saling bergandengan tangan/ memegang pita. Siswa yang tidak mendapat peran, bertugas untuk menjelaskan rantai dan jaring makanan itu. Kegiatan ini dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Sintaks yang belum terlaksana akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. 2) Pertemuan Kedua Pertemuan kedua dilaksanakan pada Rabu, 9 Mei 2012 pada jam ke-3 dan 4 selama dua jam pelajaran (90 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan salam dan memberikan motivasi, kemudian guru mengingatkan siswa pada materi pertemuan sebelumnya. Sintaks pembelajaran yang dilaksanakan guru pada pertemuan kedua ini adalah sebagai berikut: a) Guru memberikan video daur biogeokimia yaitu daur N, C, Sulfur, dan Air. Daur N untuk kelompok 1 dan 2, daur C untuk kelompok 3 dan 4, daur Sulfur
74 55 untuk kelompok 5 dan 6, dan daur air untuk kelompok 7 dan 8. Kemudian meminta kelompok mengamati, mendiskusikan, dan mengerjakan LKS. b) Guru meminta kelompok mempresentasikan hasil diskusinya tentang daur biogeokimia pada kelompok lainnya. c) Guru mempersilahkan kelompok lain untuk memberikan pertanyaan kepada kelompok yang presentasi Sintaks yang direncanakan ini dilakukan dengan baik oleh guru dimana guru tampak lebih tegas dalam membimbing siswa. Sintaks yang belum terlaksana akan dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya. 3) Pertemuan Ketiga Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Senin, 14 Mei 2012 pada jam ke- 4 selama satu jam pelajaran (45 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan salam dan memberikan motivasi, kemudian guru mengingatkan siswa pada materi pertemuan sebelumnya. Sintaks pembelajaran yang dilaksanakan guru pada pertemuan ketiga ini adalah sebagai berikut: a) Guru memberikan konfirmasi mengenai semua materi, video, dan pertanyaan yang diberikan. b) Guru menuntun siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran c) Guru memberikan evaluasi melalui tes kemampuan berpikir tingkat tinggi. d) Guru memberikan salam penutup Sintaks pada pertemuan ketiga telah dilaksanakan dengan lebih baik oleh guru. Dengan ditambahnya waktu dan jumlah pertemuan, keseluruhan sintaks pembelajaran ini dapat selesai sesuai dengan yang telah direncanakan. c. Observasi dan Evaluasi Seperti halnya pada siklus 1, tahap observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Tahap ini meliputi pengisian lembar observasi oleh observer, pengisian angket oleh semua siswa kelas X-9, dokumentasi kegiatan pembelajaran (log book dan rekaman video), post test, dan wawancara 3-4 siswa kelas X-9. Observasi dilakukan commit oleh tiga to orang user observer dengan menggunakan
75 56 lembar observasi partisipasi siswa, keterlaksanaan sintaks model pembelajaran Group Investigation oleh guru dan siswa, lembar observasi ranah afektif dan psikomotorik sebagai data pendukung. Pada siklus 2, peneliti juga menggunakan angket sebagai sumber data. Angket diberikan setelah proses pembelajaran siklus 2 berakhir. Angket berisi 38 butir item tentang partisipasi siswa dengan model pembelajaran Group Investigation yang harus diisi oleh semua siswa kelas X-9. Hasil perolehan data pada siklus 2 secara detail dijabarkan sebagai berikut. 1) Hasil Observasi Partisipasi Siswa Seperti pada siklus 1, pengamatan terhadap aspek partisipasi siswa berdasarkan delapan indikator partisipasi siswa yang muncul dan dapat diamati oleh observer pada saat pembelajaran. Seorang observer mengamati 2-3 kelompok yang terdiri dari siswa. Lembar observasi berisikan pernyataan ya dan tidak yang pengisiannya didasarkan pada rubrik ketercapaian indikator partisipasi siswa. Melalui proses triangulasi metode (terlampir), besarnya partisipasi siswa terlihat pada saat pengamatan oleh observer melalui lembar observasi (LO). Hasil persentase capaian tiap indikator aspek partisipasi siswa pada siklus 2 disajikan pada Tabel 4.8 berikut ini. Tabel 4.8 Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Siklus 2 No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Siklus 2 (%) 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 86,11 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 83,33 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 97,22 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 77,8 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan 75,00 permasalahannya 6 Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. 83,30 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 44,44
76 57 No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Siklus 2 (%) 8 Kemandirian siswa dalam belajar 72,20 Rata-rata 77,43 Berdasarkan tabel di atas, rata-rata capaian indikator partisipasi siswa untuk lembar observasi siklus 2 sebesar 77,43% dengan besar persentase tiap indikator antara 44,44%-97,22%. Apabila dibandingkan dengan hasil siklus 1, hasil siklus 2 ini meningkat sebesar 5,21%. Peningkatan persentase hasil observasi ini menunjukan bahwa partisipasi siswa di kelas X-9 lebih meningkat dibandingkan dengan kondisi siklus 1. Semua indikator muncul dan dapat lebih diamati oleh observer saat pemberian tindakan berlangsung. Indikator terendah yaitu ada pada usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran, namun meningkat daripada siklus 1 sebesar 8,33%. Berdasarkan pengamatan, indikator sudah cukup tampak oleh observer sehingga bisa diamati. Untuk mendukung peningkatan yang terjadi dalam tindakan siklus 2 peneliti menggunakan data lain yaitu melalui angket dan wawancara. Indikator tertinggi ada pada siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung. Berdasar pengamatan, indikator ini muncul dan mudah terlihat oleh observer indikator ini meningkat sebesar 2,78%. Guru terlihat sudah membantu dan membimbing siswa dalam pembelajaran dengan lebih tegas misalnya dengan menasehati siswa yang ramai dan mengurangi nilai siswa yang tetap tidak mematuhi peraturan pembelajaran. Indikator lain yaitu sorot mata siswa tertuju pada guru saat pembelajaran berlangsung dan siswa ikut berpartisipasi selama proses pembelajaran menunjukan persentase yang lebih baik daripada siklus 1. Kedua indikator tersebut mudah diamati oleh observer. Secara umum siswa tampak lebih kompak dan terlibat dalam pembelajaran dibanding pada siklus 1. Model pembelajaran Group Investigation seperti ini, memfasilitasi siswa untuk saling berinteraksi dalam kelompoknya maupun dengan kelompok lain. Didukung dengan media sehingga interaksi antarsiswa menjadi semakin terlihat. Guru tidak lagi mendominasi kelas (teacher-centered) karena dengan
77 pembelajaran seperti ini guru menjadi fasilitator, pengarah, dan pembimbing siswa. 58 2) Hasil Angket Partisipasi Siswa Pengambilan data melalui angket dilakukan di akhir siklus 2 dan berguna untuk mengatahui partisipasi siswa X-9 dari sudut pandang siswa. Angket partisipasi kelas ini berisi 38 butir item yang berhubungan dengan partisipasi yang terbagi menjadi delapan indikator. Berdasarkan angket yang telah diisi siswa, besar persentase tiap indikator dalam aspek iklim kelas tertera dalam Tabel 4.9 berikut ini. Tabel 4. 9 Persentase Capaian Indikator Hasil Angket Partisipasi Siswa Siklus 2 No Indikator Partisipasi Siswa Persentase Siklus 2 (%) 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 80,38 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 85,76 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 79,51 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 74,77 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan 77,43 permasalahannya 6 Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. 84,03 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 82,41 8 Kemandirian siswa dalam belajar 79,17 Rata-rata 80,43 Hasil angket pada siklus 2 ini memperkuat hasil observasi partisipasi siswa. Hasil persentase angket sebesar 80,43%. Dilihat dari peningkatan tiap indikator partisipasi siswa, siklus 2 dengan model pembelajaran Group Investigation ini dapat meningkatkan indikator partisipasi siswa di kelas X-9. Guru telah menunjukkan kinerja yang lebih baik untuk meningkatkan partisipasi siswa. Pada siklus 2 ini kekompakan, keterlibatan, kepuasan siswa, dan dukungan guru sudah meningkat optimal dan telah mencapai target yang ditentukan. Hasil ini juga diperkuat oleh wawancara.
78 59 3) Wawancara Partisipasi Siswa Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga orang siswa, diperoleh informasi bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran Group Investigation di siklus 2 ini lebih memfasilitasi siswa untuk berdiskusi dan berinteraksi bersama teman-teman. Siswa mudah berinteraksi dengan siswa lain terutama teman sekelompok. Dukungan guru juga lebih baik dari sebelumnya, misalnya dalam memberi konfirmasi dan menjawab pertanyaan siswa. Media yang digunakan juga menarik dan memudahkan siswa dalam mencerna materi. Pada siklus ini siswa merasa lebih puas pada pembelajaran karena guru selalu membantu kesulitan siswa. Wawancara dengan siswa terlampir pada Lampiran Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa model pembelajaran Group Investigation pada siklus 2 dengan materi baru ini mendapat respon yang lebih baik dari siswa. Menurut guru, secara umum proses pembelajaran siklus 2 ini lebih baik dibandingkan siklus 1. Suasana kelas lebih kondusif dari sebelumnya walaupun masih ada siswa yang membuat kegaduhan. Kerjasama antarsiswa dalam kelompok lebih terlihat, apalagi dalam memperagakan peran untuk materi jaring-jaring makanan, mereka tampak kompak dan telah ada pembagian tugas yang jelas dalam tiap kelompok. Keaktifan siswa lebih baik yang ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang memberikan pendapat, bertanya, dan menjawab pertanyaan guru. Berdasarkan hasil observasi, angket, dan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa X-9 pada siklus 2 ini mengalami peningkatan dibanding siklus 1. Peningkatan sudah melebihi target penelitian sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan telah optimal. 4) Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Seperti pada siklus 1, kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang diukur di kelas X-9 ini dibagi menjadi 3 indikator tipe soal. Besarnya aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas X-9 ini diketahui melalui pengambilan data berupa tes. Tes digunakan sebagai instrumen yang pengerjaannya dilakukan oleh siswa dapat digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir commit tingkat to tinggi user siswa. Tes diberikan pada seluruh
79 60 siswa kelas X-9 sebanyak 36 siswa. Setiap siswa menjawab tes secara mandiri dengan memberikan jawaban pada tiap soal yang diberikan. Hasil dari pengisian tes ini selanjutnya dihitung persentasenya baik tiap indikator maupun keseluruhannya dengan program Ms. Excel. Pengambilan data melalui tes ini dilakukan di akhir siklus 2 dan berguna untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 dari sudut pandang siswa. Tes kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa ini berisi 6 butir item soal yang tersusun atas indikator tipe soal C4, C5 dan C6. Berdasarkan tes yang telah dikerjakan oleh siswa, besar persentase tiap indikator dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa tertera dalam Tabel 4.10 berikut ini. Tabel 4.10 Persentase Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus 2 No Indikator Tipe Soal Persentase (%) 1 Menganalisis (C4) 91,28 2 Mengevaluasi (C5) 58,33 3 Mencipta (C6) 56,48 Rata-Rata 68,70 Berdasarkan Tabel 4.10, rata-rata capaian indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa untuk angket siklus 2 adalah 68,70% dengan nilai indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa berkisar antara 56,48%-91,28%. Hasil ini mengalami kenaikan dari nilai siklus 1 sebesar 54,05 %. Hal ini menunjukan bahwa berdasarkan hasil tes, kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 meningkat menjadi 68,70% dari kondisi siklus 1. Indikator tertinggi ada pada tipe soal menganalisis (C4) yaitu sebesar 91,28%. Hasil ini meningkat sebanyak 25,07% dibandingkan siklus 1. Sedangkan indikator terendah ada pada tipe soal mencipta (C6) yaitu sebesar 56,48%. Bila dibandingkan dengan siklus 1, hasil ini meningkat sebesar 12,96%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang lebih besar dalam dirinya untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai kemampuan. Siswa merasa lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan karena yakin bahwa
80 61 dengan melakukan hal tersebut, pengetahuannya akan bertambah dan nilainya bisa lebih baik. Perolehan data peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa tersebut menunjukan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas X-9 meningkat dibandingkan dengan hasil siklus 1. Besarnya persentase peningkatan telah mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 65%. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 telah meningkat secara optimal pada siklus 2. 5) Data Pendukung a) Hasil Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks Lembar observasi (LO) keterlaksanaan sintaks model pembelajaran Group Investiagion ini terdiri dari LO keterlaksanaan sintaks oleh guru dan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan tiga observer, guru jauh lebih lancar melaksanakan sintaks ini dibandingkan dengan siklus 1. Guru sudah melaksanakan sintaks secara urut. Pada pertemuan pertama (Senin, 7 Mei 2012), guru memberikan penjelasan dan pengarahan mengenai pembelajaran yang akan dilakukan dengan lebih baik. Guru sudah tampak lebih tegas dan bersuara lebih lantang. Pada pertemuan kedua, guru melakukan langkah pembelajaran lebih baik, waktu yang diberikan untuk diskusi, penyelesaian tugas, dan presentasi lebih banyak dibanding sebelumnya sehingga kinerja guru maupun siswa terlihat sudah lebih baik. Pada pertemuan ketiga, guru terlihat semakin dapat mengontrol jalannya pembelajaran yang terlihat dari siswa yang lebih fokus pada pembelajaran dan arahan guru. b) Dokumentasi Dokumentasi diperlukan sebagai data pendukung untuk mengetahui peningkatan partisipasi siswa dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas X-9 dan juga sebagai bukti bahwa pembelajaran berlangsung dengan sintaks Group Investigation pada pembelajaran biologi materi ekosistem. Dokumentasi pada siklus 2 ini adalah dengan commit catatan to lapangan user dalam bentuk log book yang
81 62 ditulis oleh peneliti selama proses pembelajaran berlangsung dan juga video pembelajaran yang direkam dengan kamera digital. Secara umum hasil catatan ini berisi kejadian-kejadian penting yang dilakukan oleh guru dan siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa partisipasi siswa lebih meningkat dibanding pada siklus 1. Sementara indikator partisipasi siswa yang tampak, seperti dalam pembelajaran menunjukan peningkatan daripada kondisi siklus 1. Sedangkan hasil video menunjukkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran yang memvisualisasikan sintaks yang ada pada RPP. Dokumentasi siklus 2 terlampir pada Lampiran 4.2. c) Hasil Evaluasi Hasil evaluasi atau hasil belajar siswa kelas X-9 materi ekosistem yang dinilai pada akhir siklus 2, terdiri dari tiga ranah yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil evaluasi psikomotorik dan afektif akan digunakan sebagai data pendukung penelitian dan nantinya akan diberikan pada guru dan sekolah untuk keperluan penilaian dan tidak akan dibahas secara detail dalam laporan ini. Hasil ranah kognitif (terlampir) berupa nilai LKS dan pos tes dengan nilai rata-rata kelas sebesar 77,76. Nilai rata-rata ini meningkat sebanyak 4,70%. Nilai terendah sebesar 61,25 dan nilai tertinggi sebesar 95. Batas tuntas ranah kognitif untuk pelajaran biologi ini sebesar 75. Tabel 4.11 berikut menunjukkan ketuntasan siswa pada siklus 2. Tabel 4.11 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa untuk Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Siklus 2 Kriteria Frekuensi Persentase(%) Tuntas 23 63,89 Belum tuntas 13 36,11 Jumlah Hasil di atas menunjukkan bahwa belum semua siswa telah mencapai batas tuntas. Data nilai dari ranah psikomotorik dan afektif diperoleh melalui observasi pada kelompok-kelompok selama pelajaran berlangsung. Nilai ranah
82 63 psikomotorik dalam bentuk abjad menunjukkan bahwa seluruh siswa mendapat A. Data nilai psikomotorik terlampir pada Lampiran. Sedangkan ranah afektif yang terdiri dari 5 indikator dijabarkan dalam Tabel Tabel Persentase Hasil Observasi Ranah Afektif Siswa No Indikator Ranah Afektif Persentase (%) 1 Tanggungjawab 88,89 2 Teliti 75,69 3 Disiplin 87,50 4 Berani 84,03 5 Bekerjasama 85,42 6 Menghargai pendapat 86,81 Rata-Rata 85,94 Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa ranah afektif siswa sudah baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,41% daripada siklus 1. Semua indikator mengalami peningkatan dan hasilnya lebih dari 50%. Bila dikonversikan ke dalam huruf, sebanyak empat belas siswa mendapat nilai A, dan dua puluh dua lain B. d) Analisis dan Refleksi Analisis dan refleksi diperlukan guna perbaikan untuk siklus selanjutnya ataupun sebagai pertimbangan peneliti dan guru untuk menghentikan atau melanjutkan siklus ke berikutnya. Tahap ini meliputi kegiatan yang mengulas perubahan dan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran yang meliputi partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa saat pelaksanaan proses pembelajaran siklus 2. Hasil yang dicapai pada pelaksanaan tindakan siklus 2 telah mencapai target yang ditentukan peneliti sebelumnya yaitu peningkatan menjadi 75% untuk partisipasi siswa dan 65% untuk kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Hasil siklus 2 pun juga jelas mengalami peningkatan dibandingkan siklus sebelumnya untuk kedua aspek tersebut. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti dan guru memutuskan untuk menghentikan siklus. Ada dua alasan utama kami menghentikan siklus yaitu telah terjadi commit peningkatan to user yang cukup signifikan pada
83 64 dua aspek yang menjadi target peningkatan yaitu partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Peningkatan ini didukung dengan data-data yang telah dijabarkan sebelumnya. Alasan kedua adalah untuk mengutamakan kepentingan sekolah bersangkutan yang akan segera melakukan ujian akhir semester (UAS) yang mengharuskan guru melakukan persiapan sebelum ujian tersebut. Menurut peneliti dan guru, dua alasan ini sudah cukup sebagai bahan pertimbangan untuk menghentikan siklus dalam penenlitian tidakan kelas ini. C. Perbandingan Hasil Tindakan Antarsiklus Bagian ini membahas tentang perbandingan hasil masing-masing aspek yang merupakan target peningkatan yaitu partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada pelajaran biologi materi ekosistem dari prasiklus, siklus 1 dan siklus 2. Perbandingan ini akan diperjelas dengan gambar grafik yang menunjukkan adanya peningkatan antara sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan. 1. Partisipasi Siswa Gambaran peningkatan partisipasi siswa melalui pengamatan oleh observer disajikan pada Gambar 4.1 berikut ini.
84 65 Rata-rata persentase Grafik Perbandingan Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 Keterangan indikator: 1. siswa fokus 2. sorot mata siswa tertuju pada guru 3. siswa tidak melamun 4. siswa selalu siap saat ditunjuk 5. Keberanian 6. berpartisipa si 7. berusaha dan kreatif 8. mandiri Indikator ke- Gambar Grafik Perubahan Persentase Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus, Siklus 1 dan Siklus 2 Berdasarkan Gambar 4.1, terlihat bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi siswa kelas X-9 pada hampir semua indikator. Peningkatan signifikan terlihat pada prasiklus menuju siklus 1. Terlihat bahwa siklus 2 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan siklus 1. Bila ditabulasikan, peningkatan ini akan tampak pada Tabel Tabel Persentase Capaian Indikator Hasil Observasi Partisipasi Siswa Prasiklus, Siklus 1 dan Siklus 2 No Indikator Partisipasi Siswa Capaian Indikator (%) Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 1 Siswa fokus terhadap materi pelajaran 94,44 86,11 86,11 2 Sorot mata siswa tertuju pada guru pada saat pelajaran berlangsung 97,22 88,89 83,33 3 Siswa tidak melamun saat pelajaran berlangsung 25,00 94,44 97,22 4 Siswa selalu siap (tidak terkejut) saat ditunjuk guru untuk menjawab atau melakukan perintah. 5 Keberanian mengajukan pendapat dan mengemukakan permasalahannya 27,80 75,00 77,80 63,89 77,78 75,00
85 No Indikator Partisipasi Siswa Capaian Indikator (%) Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 6 Berpartisipasi dalam kegiatan belajar. 69,40 86,10 83,30 7 Usaha dan kreativitas siswa dalam pembelajaran 0,00 36,11 44,44 8 Kemandirian siswa dalam belajar 8,33 33,30 72,20 Rata-rata 48,26 72,22 77,43 66 Tabel 4.13 menunjukkan bahwa pemberian tindakan berupa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi siswa kelas X- 9. Hasil ini berdasarkan pengamatan observer melalui LO. Target peningkatan yang ditetapkan pun sudah tercapai pada siklus 1 dan hasilnya tampak lebih optimal pada siklus 2. Grafik yang menunjukan peningkatan persentase setiap siklus disajikan pada Gambar 4.2 berikut ini. Grafik Peningkatan Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Kelas X-9 Persentase (%) Siklus ke- nilai rata-rata Gambar 4.2. Grafik Peningkatan Persentase Hasil Observasi Partisipasi Siswa Gambar 4.2 memperlihatkan bahwa partisipasi siswa meningkat pada setiap siklusnya. Peningkatan terbesar terjadi pada siklus 1 yang dibandingkan dengan hasil prasiklus. Peningkatan ini telah mencapai target penelitian namun belum optimal. Peningkatan yang commit optimal to terjadi user pada siklus 2. Siklus dihentikan
86 setelah terjadi peningkatan yang optimal berdasarkan keyakinan dan kesepakatan antara guru dan peneliti Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Gambaran peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa melalui perhitungan tes yang diisi oleh siswa kelas X-9 disajikan pada Gambar 4.3 berikut ini. Grafik Hasil Tes Kemampuan Berpikir TIngkat Tinggi Siswa Pra Siklus, Siklus 1, Siklus 2 Persentase (%) Indikator Tipe Soal Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 Keterangan indikator: 1. Menganalisis (C4) 2. Mengevaluasi (C5) 3. Mencipta (C6) Gambar 4.3. Grafik Perubahan Persentase Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus 2 Berdasarkan Gambar 4.3, terlihat bahwa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 pada hampir semua indikator. Peningkatan signifikan terlihat pada prasiklus menuju siklus 1. Terlihat bahwa siklus 2 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan siklus 1. Bila ditabulasikan, peningkatan ini akan tampak pada Tabel 4.14.
87 Tabel Persentase Capaian Indikator Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus 2 No Indikator Capaian Indikator (%) Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 1 Menganalisis (C4) 32,15 66,2 91,28 2 Mengevaluasi (C5) 53,65 52,43 58,33 3 Mencipta (C6) 39,7 43,52 56,48 Rata-rata 41,83 54,05 68,70 68 Tabel 4.14 menunjukkan bahwa pemberian tindakan berupa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Hasil ini berdasarkan tes yang telah dikerjakan oleh siswa. Target peningkatan yang ditetapkan pun sudah tercapai pada siklus 1 dan hasilnya tampak lebih optimal pada siklus 2. Grafik yang menunjukan peningkatan persentase setiap siklus disajikan pada Gambar 4.4 berikut ini. Grafik Peningkatan Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Pra Siklus, Siklus 1, Siklus 2 Persentase(%) Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 Siklus ke- Series1 Gambar 4.4. Grafik Peningkatan Persentase Hasil Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Gambar 4.4 memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa meningkat pada setiap siklusnya. Peningkatan terbesar terjadi pada siklus 1
88 69 yang dibandingkan dengan hasil prasiklus. Peningkatan ini telah mencapai target penelitian namun belum optimal. Peningkatan yang optimal terjadi pada siklus 2. Siklus dihentikan setelah terjadi peningkatan yang optimal berdasarkan keyakinan dan kesepakatan antara guru dan peneliti. 3. Data Pendukung Data pendukung diperlukan dalam penelitian ini guna mendukung data pokok yang diperoleh sehingga peningkatan yang terjadi lebih terlihat dalam pembelajaran. Penelitian tindakan kelas yang menargetkan peningkatan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa ini menggunakan hasil belajar siswa yang mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Nilai ranah kognitif diperoleh melalui post test yang dilakukan setiap akhir siklus dan nilai LKS yang dikerjakan oleh siswa dalam kelompoknya. Berikut ini adalah Tabel 4.15 yang menunjukkan ketuntasan belajar siswa pada tiap siklus. Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus 1dan Siklus 2 No Indikator Capaian Indikator (%) Siklus 1 Siklus 2 1 Tuntas 41,67 63,89 2 Belum tuntas 58,33 36,11 Jumlah 100% 100% Tabel 4.15 menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa sudah baik pada siklus 1 dan pada siklus 2 meningkat menjadi sangat baik karena semua siswa tuntas dari batas ketuntasan yang ditetapkan sekolah sebesar 75. Sedangkan nilai ranah afektif diperoleh dari observasi pada tiap kelompok yang berkaitan dengan sikapnya selama pembelajaran berlangsung. Hasil observasi ini tertuang dalam tabel berikut: Tabel 4.16 Persentase Capaian Indikator Ranah Afektif Siswa Siklus 1dan Siklus 2 No Indikator Capaian Indikator (%) Siklus 1 Siklus 2 1 Tanggungjawab 88,89 88,89
89 70 No Indikator Capaian Indikator (%) Siklus 1 Siklus 2 2 Teliti 75,69 75,69 3 Disiplin 75,69 87,50 4 Berani 85,42 84,03 5 Bekerjasama 98,61 85,42 6 Menghargai pendapat 88,89 86,06 Rata-Rata 84,53 84,72 Tabel 4.16 tersebut menggambarkan bahwa sikap siswa sudah cukup baik pada siklus 1 dan siklus 2. Hasil observasi ini menunjukkan bahwa sikap siswa yang tampak selama pembelajaran sudah baik dan mencapai target yang telah tercantum pada RPP. Nilai dari ranah psikomotorik juga digunakan peneliti sebagai data pendukung. Nilai ini diperoleh melalui observasi kepada tiap kelompok kolaboratif yang berkaitan dengan aktivitas psikomotorik mereka. Tabel nilai psikomotorik tiap kelompok pada siklus 1 dan siklus 2 terlampir pada Lampiran 3.9 Rata-rata nilai psikomotorik sudah baik pada sikus 1 dan pada siklus 2 nilai ini meningkat menjadi sangat baik. Hasil belajar dari 3 ranah ini semuanya menunjukan hasil yang baik dan terjadi peningkatan pada siklus berikutnya. Hasil belajar yang baik menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang berlangsung juga baik dan berkualitas, dimana motivasi belajar siswa dan iklim kelas yang baik merupakan indikasi baiknya proses pembelajaran. D. Pembahasan Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran Group Investigation mampu meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Semua metode pengambilan data yang digunakan, baik itu pengisian angket, observasi, maupun wawancara, menunjukkan hasil bahwa partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas X-9 mengalami peningkatan setelah diberikan tindakan. Data pendukung seperti hasil belajar dan dokumentasi juga mendukung terjadinya peningkatan ini. Hasil peningkatan commit yang to signifikan user terlihat pada siklus 1 yang
90 71 dibandingkan dengan kondisi prasiklus. Peningkatan juga terjadi pada siklus selanjutnya. Penelitian ini bertujuan mengatasi permasalahan yang muncul di kelas X- 9 dengan memberikan solusi berupa penerapan pembelajaran yang diyakini peneliti dapat mengatasi masalah yang muncul di kelas tersebut setelah melalui kajian berbagai literatur. Permasalahan ini merupakan target penyelesaian dari pemberian solusi. Target dikatakan terselesaikan jika terjadi peningkatan setelah tindakan diberikan. Ada beberapa masalah yang ditemukan saat observasi awal, namun dua masalah yang diutamakan peneliti sebagai target penyelesaian di kelas X-9 adalah partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Target dikatakan tercapai bila terjadi peningkatan kedua aspek tersebut setelah diberi tindakan berupa suatu model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Hasil pelaksanaan tindakan yang dijabarkan melalui perhitungan dan analisis data serta didukung dengan data pendukung, menunjukkan terjadinya peningkatan pada partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Besarnya peningkatan ditunjukkan dengan persentase rata-rata tiap aspek yang telah mencapai target penelitian sebesar 75% untuk partisipasi siswa dan 65% untuk kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibandingkan dengan persentase saat tindakan belum diberikan (prasiklus). Berikut ini adalah pembahasan dari masing-masing aspek. 1. Partisipasi Siswa Partisipasi siswa menurut Mulyasa (2004) adalah keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Setelah diberikan tindakan berupa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation, terjadi peningkatan partisipasi siswa yang sebelumnya kurang terbukti dari persentase yang masih rendah (<75%) menjadi lebih kondusif (³75%) setelah pelaksanaan siklus 1 dan siklus 2. Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar secara berkelompok untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Siswa belajar dalam kelompok kecil yang
91 72 bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama. Pembelajaran berupa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ini dapat meningkatkan partisipasi siswa karena siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Group investigation mampu membantu siswa untuk merespon orang lain, dan dapat memberdayakan. Ini diperkuat oleh hasil penelitian Setyarini (2009) dalam skripsinya menjelaskan bahwa model pembelajaran Group Investigation mampu meningkatkan partisipasi siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Sintak Group Investigation yang berupa model pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk dapat bekerja secara bersama-sama untuk mencapai keberhasilan secara berkelompok. Solusi yang diyakini peneliti bersama guru ini sudah tepat karena didukung teori yang relevan yaitu dapat memperbaiki partisipasi siswa. Keyakinan ini dibuktikan melalui pelaksanaan penerapan solusi ini di kelas X-9. Hasil analisis data menunjukkan terjadi perbaikan partisipasi siswa pada siklus pertama menjadi 72,22%. Sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 77,43%. Hasil ini menjawab permasalahan penelitian bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran biologi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2011/ Hasil ini hanya berlaku di kelas dan siswa yang diberi tindakan saat itu pada materi ekosistem. 2. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Menurut Vincent Ruggiero (1988) berpikir adalah segala aktivitas mental dalam pencarian sebuah jawaban dan sebuah pencapaian makna dalam Johnson (2009). Level berpikir yang sesuai kemampuan berpikir tingkat tinggi dilihat dari ranah kognitif taksonomi commit Bloom to user berada pada level analisis, evaluasi
92 73 dan mencipta (Longman, 2010). Setelah diberikan tindakan berupa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation, terjadi peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang sebelumnya persentasenya masih rendah (< 65%) mengalami peningkatan (> 65%) setelah pelaksanaan siklus 2. Pembelajaran berupa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa karena Dalam tahap investigasi, model pembelajaran GI berbasis konstruktivisme sehingga dapat melatih siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut secara mandiri. Group Investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet sehingga siswa tidak terlalu menggantungkan. Tipe ini dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran yang akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya. Data ini didukung pula oleh Yuliana (2011) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa model pembelajaran Group Investigation berperan aktif dalam peningkatan pemahaman dan keterampilan berpikir mahasiswa. Langkah investigasi di dalam sintak Group Investigation mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri apa yang akan dipelajari, sejak penentuan subtopik hingga mempresentasikan hasil penemuan. Guru hanya berperan sebagai fasilitator. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dalam pembelajaran biologi materi ekosistem ini, model kooperatif GI ini memfasilitasi siswa untuk belajar secara kelompok dan berdiskusi untuk menyelesaikan suatu masalah. Dalam penelitian ini diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe GI karena pendekatan pembelajaran commit ini terbukti to user dapat meningkatkan kemampuan
93 74 berpikir tingkat tinggi siswa sampai mencapai target yang telah ditentukan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ramirez (2008) bahwa dalam pembelajaran yang berbasis hafalan menjadikan siswa jarang dituntut untuk bertanya dan berpikir sehingga kemampuan berpikir kurang terpacu. Berpikir dapat dipacu dengan mengajukan pertanyaan yang ditingkatkan kompleksitasnya. Pembelajaran dalam kelompok kecil juga dapat membuat siswa untuk lebih aktif dalam berpikir. Solusi yang diyakini peneliti bersama guru sudah tepat karena didukung teori yang relevan yaitu dapat memperbaiki kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Keyakinan ini dibuktikan melalui pelaksanaan penerapan solusi di kelas X-9. Hasil analisis data menunjukkan terjadi perbaikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada siklus pertama menjadi 54,05%. Sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 68,70%. Hasil tersebut menjawab permasalahan penelitian bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada pembelajaran biologi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2011/ Hasil ini hanya berlaku di kelas dan siswa yang diberi tindakan saat itu pada materi ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada pembelajaran biologi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2011/ 2012 yang didukung oleh hasil analisis data di lapangan berupa angket, hasil observasi, dan wawancara yang didukung oleh hasil dokumentasi dan nilai hasil belajar siswa. Peningkatan yang terjadi ini juga dikuatkan oleh beberapa teori yang ada dari berbagai kajian pustaka. Hasil juga didukung oleh penelitian yang relevan. Partisipasi siswa merupakan aspek yang cukup mudah ditingkatkan di kelas ini, dengan diberikan tindakan berupa pembelajaran yang menarik, siswa sudah menunjukkan peningkatan dalam hal partisipasi. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada pembelajaran biologi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta commit tahun ajaran to user 2011/ 2012.
94 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, kesimpulan penilitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI dapat meningkatkan partisipasi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2011/ Penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X-9 SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2011/ B. IMPLIKASI Berdasarkan kajian teori serta melihat hasil penelitian ini, akan disampaikan implikasi yang berguna baik secara teoritis maupun secara praktis dalam upaya meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pelajaran biologi beriku ini: 1. Implikasi Teoritis Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk: a. Memperluas wawasan dan pengetahuan bagi pembaca mengenai arti pentingnya penerapan strategi, model, maupun pendekatan pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di SMA Batik 1 Surakarta. b. Sebagai salah satu sumber acuan atau referensi bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian mengenai masalah partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. 75
95 76 2. Implikasi Praktis Hasil penelitian ini secara praktis dapat diterapkan pada proses pembelajaran Biologi di SMA Batik 1 Surakarta, yaitu dengan penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. C. SARAN 1. Kepada siswa kelas X-9 a. Siswa hendaknya mengembangkan kekompakan dan kemandirian untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru sehingga siswa dapat lebih berpartisipasi selama proses pembelajaran biologi berlangsung. b. Siswa hendaknya menjalin interaksi yang baik antarsiswa lainnya, guru dan materi pembelajaran sehingga tercipta yang kondusif untuk belajar. c. Siswa hendaknya menaati peraturan yang diterapkan sekolah maupun yang telah disepakati bersama sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. d. Siswa hendaknya meningkatkan motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk menyadari pentingnya pembelajaran biologi dalam kehidupan. e. Siswa hendaknya meningkatkan keberanian dan kemampuan bertanya atau menyampaikan pendapat sehingga memotivasi siswa lain untuk bersikap serupa sehingga pembelajaran menjadi menarik bagi siswa. 2. Kepada guru biologi kelas X-9 a. Guru hendaknya mempelajari dengan baik langkah-langkah pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan apa yang telah direncanakan. b. Guru hendaknya lebih mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan saat proses pembelajaran. c. Guru hendaknya lebih tegas dalam mengarahkan dan membimbing siswa agar siswa disiplin waktu dalam melaksanakan pembelajaran.
96 77 d. Guru hendaknya memotivasi siswa lebih banyak lagi sehingga siswa memiliki motivasi yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran e. Guru hendaknya mengembangkan suasana kolaboratif dalam pembelajaran dimana siswa dapat saling berbagi pengetahuan melalui interaksi yang terjalin. f. Guru hendaknya menjadi fasilitator dalam pembelajaran dan bukan sebagai sumber pengetahuan (teacher-centered) melainkan menempatkan siswa sebagai aktor utama dalam pembelajaran (sudent-centered) 3. Kepada sekolah a. Perlu adanya optimalisasi penggunaan fasilitas pembelajaran sehingga partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dapat tercapai secara optimal. b. Perlu adanya pelatihan kepada guru untuk menerapkan pembelajaran yang inovatif. 4. Kepada peneliti lain Perlu diadakan penelitian sejenis dengan cakupan materi lain yang lebih luas sehingga dapat diketahui sejauh mana penerapan model model pembelajaran Cooperative Learning Tipe GI dapat meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE GROUP INVESTIGATION
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X-9 SMA BATIK I SURAKARTA SKRIPSI Oleh: META NUR INDAH SARI K4308020
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X MIA 5 SMA BATIK 1 SURAKARTA PADA MATERI EKOSISTEM MELALUI PENERAPAN INKUIRI TERBIMBING
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X MIA 5 SMA BATIK 1 SURAKARTA PADA MATERI EKOSISTEM MELALUI PENERAPAN INKUIRI TERBIMBING SKRIPSI OLEH : ANISA ZAHRA HERMAYANI K4311010 FAKULTAS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP WARNA SEKUNDER PADA ANAK KELOMPOK A TK AISYIYAH BUSTHANUL ATHFAL GULON JEBRES SURAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh: Madu
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBILANG MATEMATIKA DENGAN KARTU BILANGAN TERHADAP SISWA TUNARUNGU KELAS 1 SEMESTER I DI SLB N KENDAL TAHUN 2012/2013
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBILANG MATEMATIKA DENGAN KARTU BILANGAN TERHADAP SISWA TUNARUNGU KELAS 1 SEMESTER I DI SLB N KENDAL TAHUN 2012/2013 SKRIPSI Oleh: MURGIYANTO X5211207 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI METODE INVENTORI MEMBACA INFORMAL BAGI SISWA TUNARUNGU KELAS II PADA SEMESTER 1 SLB N KENDAL TAHUN 2012/2013 SKRIPSI Oleh: SUMINAH X5211211 FAKULTAS KEGURUAN
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI MEDIA GAMBAR SERI PADA SISWA KELAS V SD MUHAMMADIYAH 11 MANGKUYUDAN SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2013/2014
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI MEDIA GAMBAR SERI PADA SISWA KELAS V SD MUHAMMADIYAH 11 MANGKUYUDAN SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh: ZAHRA SALSABILA K7110183 FAKULTAS KEGURUAN
SKRIPSI. Oleh: Rian Ari Utomo K
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Menggunakan Prezi Untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar Kognitif Siswa Kelas X 3 SMA Negeri 1 Cawas Klaten Tahun Pelajaran 2014/2015 SKRIPSI Oleh: Rian Ari
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI MENGGUNAKAN METODE PICTURE AND PICTURE PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 03 BULU SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh: PRIHATIN NURUL ASLAMIN K7109152 FAKULTAS
PENERAPAN MODEL SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI PADA MATERI ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA KELAS X
PENERAPAN MODEL SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI PADA MATERI ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA KELAS X.6 SMA ISLAM TERPADU NUR HIDAYAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PAIR
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PAIR CHECK SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MEKANIKA TEKNIK KELAS X TGB.B SMK NEGERI 2 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016
: RANI PURWATI K
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS XI IPA 2 SMA NEGERI KEBAKKRAMAT TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI Oleh
PENINGKATAN PEMAHAMAN PENGGOLONGAN BENDA MELALUI
PENINGKATAN PEMAHAMAN PENGGOLONGAN BENDA MELALUI METODE DEMONSTRASI BERBANTUAN VIDEO INTERAKTIF PADA ANAK KELOMPOK A TK EKA PURI MANDIRI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh: NOVITA EKA NURJANAH
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KOGNITIF SISWA KELAS X SMAN 1 NGEMPLAK DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KOGNITIF SISWA KELAS X SMAN 1 NGEMPLAK DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI SUHU DAN KALOR SKRIPSI OLEH : FRISKA AMBARWATI K2311029 FAKULTAS
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES PADA SISWA KELAS V SDN TAWANG 02 TAHUN 2013 SKRIPSI
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES PADA SISWA KELAS V SDN TAWANG 02 TAHUN 2013 SKRIPSI Disusun oleh: INDAH WAHYU NINGRUM K7109103 FAKULTAS KEGURUAN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS 4 SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh : HURIL
UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI
UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI MELALUI PENERAPAN TEKNIK SHOW NOT TELL PADA SISWA KELAS V SD NEGERI I JATIPURO TRUCUK KABUPATEN KLATEN SKRIPSI Oleh: Risa Hartati K1206036 FAKULTAS KEGURUAN
UPAYA PENINGKATAN PENGENALAN LAMBANG BILANGAN MELALUI FINGER PAINTING PADA ANAK KELOMPOK A TKIT NUR HIDAYAH SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/ 2015
UPAYA PENINGKATAN PENGENALAN LAMBANG BILANGAN MELALUI FINGER PAINTING PADA ANAK KELOMPOK A TKIT NUR HIDAYAH SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/ 2015 SKRIPSI Oleh: NURIDA YUSRIANI K8111057 FAKULTAS KEGURUAN DAN
LINDA ROSETA RISTIYANI K
PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 2 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016 JURNAL Oleh: LINDA ROSETA RISTIYANI
PENERAPAN QUANTUM LEARNING
PENERAPAN QUANTUM LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM PADA SISWA KELAS IV SDN WATES KECAMATAN SIMO KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014 SKRIPSI Oleh: INDRI
PENINGKATAN PARTISIPASI AKTIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E DI KELAS X SMA KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016
PENINGKATAN PARTISIPASI AKTIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E DI KELAS X SMA KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI Oleh : HARIS NURHUDA K4312027 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MEKANIKA TEKNIK MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION)
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MEKANIKA TEKNIK MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) PADA SISWA KELAS X TGB B SMK NEGERI 2 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2014/2015
PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI SIFAT CAHAYA
PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI SIFAT CAHAYA DENGAN METODE INKUIRI SISWA KELAS V SDN SOOKA 1 KECAMATAN PUNUNG KABUPATEN PACITAN TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012 SKRIPSI Oleh : SINGGIH WINARSO K7108226
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA JULI
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS X7 SMA NEGERI 3 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 o l e h: MIKE DEVY PERMATASARI K8409039
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP GLOBALISASI (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SD Negeri Joho 04 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten
UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI DIAGNOSIS JARINGAN
UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI DIAGNOSIS JARINGAN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN METODE SIMULASI MENGGUNAKAN SOFTWARE PACKET TRACER PADA SISWA KELAS XI DI SMK N 1 SAWIT
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA MATA PELAJARAN MEKANIKA TEKNIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X TGB B SMK NEGERI 2 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI Oleh:
SKRIPSI. Oleh : AZIDZAT RODHI ARDHANA K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA November 2012
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SERVIS ATAS BOLAVOLI MELALUI PENERAPAN MEDIA AUDIO VISUAL SISWA KELAS VII B SMP NEGERI 2 MONDOKAN SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh : AZIDZAT RODHI ARDHANA
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SENTRA PADA ANAK KELOMPOK B TK AISYIYAH PUNGGAWAN TAHUN AJARAN
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SENTRA PADA ANAK KELOMPOK B TK AISYIYAH PUNGGAWAN TAHUN AJARAN 2013-2014 SKRIPSI Disusun oleh: Ratri Alaytika Unggal K8110043 FAKULTAS
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PASSING
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PASSING PADA PERMAINAN SEPAKBOLA MELALUI PENERAPAN MEDIA ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS X KAYU SMK NEGERI 9 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014 / 2015 SKRIPSI Oleh : Adip Purnomo
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X-2 SMA MUHAMMADIYAH 1 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh : FITRI ASTUTI WAHYU UTAMI K4310029
SKRIPSI : NENIE PRASTYANINGRUM K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI KELAS X-1 SMA MUHAMMADIYAH 2 KLATEN DI DELANGGU TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI Oleh : NENIE PRASTYANINGRUM
Skripsi. Oleh: Dwi Listiawan X
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VIII D SMP NEGERI 22 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi Oleh: Dwi Listiawan X4306022 FAKULTAS
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATERI EKOSISTEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X IPA SMA
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATERI EKOSISTEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X IPA SMA SKRIPSI Oleh: BHIAN ANANDA JAVANICA RUBIYANTO K4312011 FAKULTAS KEGURUAN
PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING
PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING PADA MATERI PENCEMARAN DAN DAUR ULANG LIMBAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS X IPS 1 SMA N 2 BOYOLALI SKRIPSI Oleh : GILANG AKBAR NUGROHO K4313034
IMPLEMENTASI MODEL EXPERIENTIAL LEARNING
IMPLEMENTASI MODEL EXPERIENTIAL LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 2 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh : Elisa Dewi Yuliarti K4310026
SKRIPSI. Oleh: KUKUH FAJAR TRAWOCO (K ) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2016 commit to user
PENINGKATAN SIKAP DAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI MELALUI PENERAPAN MODEL EXAMPLE NON-EXAMPLE PADA SISWA KELAS XI KP SMK MURNI 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI Oleh: KUKUH FAJAR TRAWOCO
PENINGKATAN KEMAMPUAN METAKOGNISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA SISWA KELAS X-MIA 2 SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN
PENINGKATAN KEMAMPUAN METAKOGNISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA SISWA KELAS X-MIA 2 SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI Oleh: ANGGRAENI ROSITA DAMAYANTI K4311009
PENERAPAN READING WORKSHOP
PENERAPAN READING WORKSHOP UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN CERITA ANAK PADA SISWA KELAS V SDN TUNGGULSARI I NO. 72 LAWEYAN SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI OLEH : FAIQOH DAMAYANTI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE EXPLICIT INTSRUCTION DENGAN VIDEO PEMBELAJARAN PADA MATA PELAJARAN PKK SISWA KELAS XI TKK
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE EXPLICIT INTSRUCTION DENGAN VIDEO PEMBELAJARAN PADA MATA PELAJARAN PKK SISWA KELAS XI TKK SMK N 5 SURAKARTA 2014/2015 SKRIPSI Oleh: ERLITHA OKTAVIE K1511012
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LONCAT HARIMAU DALAM SENAM LANTAI MELALUI ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS X MESIN 1 SMK PGRI 1 SURAKARTA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LONCAT HARIMAU DALAM SENAM LANTAI MELALUI ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS X MESIN 1 SMK PGRI 1 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI Oleh : SANDHI KUSUMA W K 4610081
IMPLEMENTASI METODE MIND MAP
IMPLEMENTASI METODE MIND MAP UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP LEMBAGA PEMERINTAHAN PUSAT (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta Didik Kelas IV SD Negeri 01 Plosorejo, Matesih, Karanganyar Tahun Ajaran
: DADANG ISWARA HERDIANTO K
PENERAPAN MODEL PENDEKATAN BERMAIN DENGAN ALAT MODIFIKASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA ORTODOKS PADA SISWA KELAS XI-IS 3 SMA BATIK 1 SURAKARTA TAHUN 2015 /2016 SKRIPSI Oleh : DADANG
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA TENTANG STRUKTUR BUMI PADA SISWA
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA TENTANG STRUKTUR BUMI PADA SISWA SDN NGADIROYO 2012/2013 SKRIPSI Oleh: HARYANI K7109090 FAKULTAS KEGURUAN
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN AFEKTIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 16 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2010/2011 Skripsi OLEH:
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA SISWA KELAS I SD NEGERI KEMASAN I KECAMATAN SERENGAN KOTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh : SITI RASYIDAH
PENGGUNAAN MEDIA VIDEO UNTUK MENINGKATKAN
i PENGGUNAAN MEDIA VIDEO UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA PESERTA DIDIK KELAS II SD NEGERI PAJANG IV LAWEYAN SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI Disusun oleh: ARI AGUSTIANI K7111020
SKRIPSI. Oleh : SUTARMI K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA September 2016.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MISSOURI MATHEMATICS PROJECT UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 2 MOJOLABAN PADA MATERI SEGITIGA DAN SEGIEMPAT TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI
PENERAPAN GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERARGUMENTASI LISAN SISWA KELAS X-4 SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2014/2015
PENERAPAN GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERARGUMENTASI LISAN SISWA KELAS X-4 SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Oleh: RESTU FITRIAN ARISTAMA K4311057 Skripsi diajukan untuk
Skripsi. Oleh : Nur Oktavia K
UPAYA PENINGKATAN KERJASAMA SISWA KELAS X SMA ISLAM 1 SURAKARTA PADA MATERI LISTRIK DINAMIS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE Skripsi Oleh : Nur Oktavia K2312052 FAKULTAS KEGURUAN
SKRIPSI. Oleh : APRILIA PUSPITASARI K
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBILANG MELALUI PENERAPAN METODE DEMONSTRASI BERSUMBER PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR PADA ANAK KELOMPOK A TK ATRAKTIF WIDYA PUTRA DWP UNS KARANGANYAR TAHUN AJARAN 2013/2014
PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF TEKNIK MAKE A MATCH
PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF TEKNIK MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN SOAL CERITA DALAM MATEMATIKA KELAS III SDN MOJOREJO 1 KARANGMALANG SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS XII SMA MELALUI PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI BIOTEKNOLOGI
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS XII SMA MELALUI PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI BIOTEKNOLOGI SKRIPSI Oleh : GAZANIA PRADITANINGTYAS K4313033 FAKULTAS KEGURUAN
SKRIPSI. Oleh : WULAN IKA ASHARI K
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PERJUANGAN BANGSA INDONESIA MELAWAN PENJAJAHAN JEPANG DENGAN MENERAPKAN PENDEKATAN SAVI (SOMATIC, AUDITORY, VISUAL, AND INTELLECTUAL) (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta
PENGGUNAAN MEDIA BONEKA TANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN BASA KRAMA ALUS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI I PURWOSARI WONOGIRI
PENGGUNAAN MEDIA BONEKA TANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN BASA KRAMA ALUS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI I PURWOSARI WONOGIRI TAHUN AJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh: TRI WIRATNA K7109190
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH PERBANDINGAN DAN SKALA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH PERBANDINGAN DAN SKALA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DENGAN METODE PERMAINAN TREASURE HUNT (Penelitian Tindakan Kelas
SKRIPSI. Oleh: RIAS ANJANI K
PENGGUNAAN METODE SOSIODRAMA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMAHAMI ISI CERITA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI PESANTREN BANYUMAS TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh: RIAS ANJANI K7110138 FAKULTAS KEGURUAN
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR GERAK DASAR LOMPAT
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR GERAK DASAR LOMPAT MELALUI PENDEKATAN BERMAIN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI BEDUG 03 KECAMATAN PANGKAH KABUPATEN TEGAL TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014 SKRIPSI Oleh: TRIO SASONGKO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENERAPAN METODE DRILL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGGAMBAR BENTUK PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS VIIA DI SMP ABDI NEGARA 2 PADAMARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Mohamad Irwan NIM. X3211013
XI MIA 2 SMA NEGERI 2 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PREDICT-OBSERVE-EXPLAIN (POE) DENGAN METODE PRAKTIKUM UNTUK MENINGKATKAN RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR KIMIA SISWA PADA MATERI POKOK KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
SKRIPSI. Oleh DALIMIN X FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Nopember 2013.
PENGGUNAAN ALAT PERAGA SEMPOA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN KELAS IV TUNAGRAHITA SEDANG DI SDLB DAWE KUDUS SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh DALIMIN
: MARINDA MEGA NURFITRIANI K
KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN AJARAN 2013/2014 DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY DISERTAI MIND MAP SKRIPSI Oleh : MARINDA MEGA
UPAYA PENINGKATAN INTERAKSI SOSIAL DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
UPAYA PENINGKATAN INTERAKSI SOSIAL DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) BERBANTUAN MODUL PADA MATERI STOIKIOMETRI SISWA KELAS X-2 SMA ISLAM AHMAD YANI BATANG
SKRIPSI. Oleh : BAYU DWI CAHYO K PENJASKESREK
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PASSING BAWAH SEPAK BOLA MELALUI PENDEKATAN BERMAIN PADA SISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 2 KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh : BAYU DWI CAHYO K4609022 PENJASKESREK
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN Septri Wahyuningrum 1), Retno Winarni 2), Matsuri 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jalan Slamet
PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG WAKTU PADA JAM
PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG WAKTU PADA JAM DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI SIMULASI PADA SISWA TUNAGRAHITA RINGAN KELAS IV SEMESTER I SLB NEGERI KENDAL TAHUN 2012/2013 SKRIPSI Oleh: SUNARYO NIM
PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH DENGAN PENDEKATAN RECIPROCAL TEACHING
PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH DENGAN PENDEKATAN RECIPROCAL TEACHING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN PARTISIPASI SISWA KELAS VIII.I SMP NEGERI 3 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013
PENGGUNAAN MEDIA BONEKA JARI UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK DONGENG PADA SISWA KELAS I SDN PURWOTOMO SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016
PENGGUNAAN MEDIA BONEKA JARI UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK DONGENG PADA SISWA KELAS I SDN PURWOTOMO SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI Oleh : DINI PUSPASARI K7112063 FAKULTAS KEGURUAN DAN
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CONCEPT SENTENCE PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 SIDOWAYAH TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI Oleh: SITI FATIMAH K7111191 FAKULTAS
Oleh : ADITYA WEGA PRIMANDIKA NIM. K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
PENERAPAN MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SERVIS ATAS BOLAVOLI PADA SISWA KELAS XI IPS 4SMA NEGERI 1 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013 Oleh : ADITYA WEGA PRIMANDIKA
PENERAPAN PENDEKATAN TAKTIS UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR PERMAINAN SEPAKBOLA
PENERAPAN PENDEKATAN TAKTIS UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR PERMAINAN SEPAKBOLA PADA SISWA KELAS XI MIPA 2 SMA NEGERI 6 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI OLEH : AHMAD RUSLI ROSYADI YUSUP K4612009
: BERNADETA BEKA FITRI APRIANTI K
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF BERMAIN JAWABAN UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IIS 2 SMA NEGERI 1 BRINGIN KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2014-2015 SKRIPSI Oleh
SKRIPSI. Oleh : GIRI WIARTO K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Juni 2013.
PENINGKATAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA MENGGANTUNG MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT PADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh : GIRI WIARTO
PENINGKATAN PARTISIPASI AKTIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E DI KELAS X SMA KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016
PENINGKATAN PARTISIPASI AKTIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E DI KELAS X SMA KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI Oleh : HARIS NURHUDA K4312027 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
IMANUEL DALAPANG K
HALAMAN JUDUL UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PENGELASAN LAS LISTRIK MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN PAIKEM PADA SISWA KELAS X TPM II SMK PANCASILA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN
SKRIPSI. Oleh: DWIHARSO LISTIAWAN K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
PENERAPAN GAYA MENGAJAR INKLUSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FREE THROW BOLABASKET PADA SISWA KELAS VIII-H SMP NEGERI 8 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh: DWIHARSO LISTIAWAN K4610036 FAKULTAS
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI SISTEM SARAF DAN SISTEM INDRA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI SISTEM SARAF DAN SISTEM INDRA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI IPA 2 SMA BATIK 1 SURAKARTA SKRIPSI Disusun oleh: DESY
PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC
PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA SISWA KELAS VA SD NEGERI PETORAN SURAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI OLEH:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TIPE EVERYONE IS A
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TIPE EVERYONE IS A TEACHER HERE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 PEJAGOAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI
SKRIPSI. Oleh: EVY NURYANI K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
PENERAPAN MIND MAPPING BERBASIS PENDEKATAN SCIENTIFIC UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SUMBER DAYA ALAM (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SD N Setono No. 95 Kecamatan Laweyan Tahun Pelajaran
PENERAPAN MODEL KONTEKSTUAL (CTL) PADA PEMBELAJARAN IPS
PENERAPAN MODEL KONTEKSTUAL (CTL) PADA PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN NILAI KARAKTER BANGSA SISWA KELAS V SD NEGERI GUNUNGSIMPING 02 CILACAP TENGAH, CILACAP TAHUN AJARAN 2012/2013 SKRIPSI Oleh : RISA
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 MOJOLABAN TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI OLEH:
PENGGUNAAN MEDIA FILM ANIMASI UNTUK MENINGKATKAN
SKRIPSI PENGGUNAAN MEDIA FILM ANIMASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI CERITA PENDEK PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS V DI SLB-ABC PUTRA MANUNGGAL TAHUN AJARAN
UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAHAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION
UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAHAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION Aldila Kurniati 1), Retno Winarni 2), MG. Dwijiastuti 3) PGSD
PENERAPAN PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION
PENERAPAN PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION BERBANTUAN MEDIA PRESENTASI POWER POINT DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS IV SDLB BINA PUTRA SALATIGA SEMESTER II TAHUN
SKRIPSI. Oleh : ATEIN RESPATI NINGRUM K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MENGGAMBAR MELALUI METODE BERCERITA PADA ANAK KELOMPOK A DI TK WIDYA PUTRA DWP UNS JATEN KARANGANYAR TAHUN AJARAN 2013/ 2014 SKRIPSI Oleh : ATEIN RESPATI NINGRUM K8110007
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN REKA CERITA GAMBAR
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN REKA CERITA GAMBAR (Penelitian Tindakan Kelas pada siswa kelas III SD Negeri 03 Tunggulrejo Kecamatan Jumantono kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2010/2011)
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARANACTIVE KNOWLEDGE SHARINGUNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERTANYA BIOLOGISISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 1 NGEMPLAKTAHUN
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARANACTIVE KNOWLEDGE SHARINGUNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERTANYA BIOLOGISISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 1 NGEMPLAKTAHUN PELAJARAN 2011/ 2012 Skripsi Oleh: EvitaRosiliaDewi X
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR GERAK DASAR PASSING
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR GERAK DASAR PASSING ATAS BOLAVOLI MINI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN ALAT BANTU MEDIA VIDEO DAN LCD PROYEKTOR PADA SISWA KELAS V SDN MOJOSONGO II
PENINGKATAN HASIL PRESTASI BELAJAR TEKNIK BATIK IKAT
PENINGKATAN HASIL PRESTASI BELAJAR TEKNIK BATIK IKAT CELUP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION PADA SISWA KELAS VIII B SMP N 1 KALIMANAH SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013 SKRIPSI Oleh
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGASI PADA MATERI GEOMETRI
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGASI PADA MATERI GEOMETRI Dwi Avita Nurhidayah Universitas Muhammadiyah Ponorogo Email : [email protected] Abstrak
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CONCEPT SENTENCE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERITA KEMBALI
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CONCEPT SENTENCE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERITA KEMBALI (PTK pada Peserta Didik Kelas IV SD Negeri Gumpang 3 Sukoharjo Tahun Ajaran 2015/2016)
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN ANALISIS SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATON
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN ANALISIS SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATON (GI) PADA MATERI HIDROLISIS KELAS XI MIA 1 SEMESTER GENAP SMA NEGERI 2 SUKOHARJO TAHUN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI DENGAN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI DENGAN MEDIA ANIMASI POWTOON UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN AKUNTANSI KEUANGAN SISWA KELAS XI AK 2 SMK NEGERI I SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SERVIS BAWAH
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SERVIS BAWAH DALAM PERMAINAN BOLAVOLI MINI MELALUI METODE PEMBELAJARAN BAGIAN-KESELURUHAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SURUHKALANG 02 JATEN KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA KELAS XI IPA 1 SMA ISLAM 1 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN
PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN BRAINSTORMING
PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PANTUN PADA SISWA KELAS IV SDIT NUR HIDAYAH SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI OLEH : KATRIN PRIMADYANINGSIH
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TRANSFORMATIF
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TRANSFORMATIF MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME PADA MATERI GERAK HARMONIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI SMA N 1 BOYOLALI Skripsi
PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PARTISIPASI SISWA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI PENERAPAN INKUIRI TERBIMBING DI KELAS X
PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PARTISIPASI SISWA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI PENERAPAN INKUIRI TERBIMBING DI KELAS X.1 SMA NEGERI 1 SUKOHARJO SKRIPSI Oleh: WARYANTO K4308061 FAKULTAS KEGURUAN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MENGELOLA SISTEM KEARSIPAN KELAS XI ADMINISTRASI PERKANTORAN
