PENJADWALAN KERETA API MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER DWI SETIANTO

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENJADWALAN KERETA API MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER DWI SETIANTO"

Transkripsi

1 PENJADWALAN KERETA API MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER DWI SETIANTO DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

2 ABSTRAK DWI SETIANTO. Penjadwalan Kereta Api Menggunakan Pemrograman Linear Integer. Dibimbing oleh PRAPTO TRI SUPRIYO dan TEDUH WULANDARI MAS OED Karya ilmiah ini memberikan formulasi masalah penjadwalan kereta api menggunakan model pemrograman linear integer. Penjadwalan kereta api tersebut didasarkan pada jalur tunggal yang menghubungkan antar stasiun. Formulasi yang dibangun bertujuan meminimumkan keterlambatan serta menjamin bahwa tidak ada kereta api yang mengalami tabrakan baik searah maupun berlawanan arah. Input model berupa jadwal keberangkatan kereta api yang direncanakan (aktual), sedangkan outputnya berupa jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api yang faktual. Kata kunci: Kereta api, Penjadwalan, Pemrograman Linear Integer (PLI) i

3 ABSTRACT DWI SETIANTO. Train Scheduling Using Integer Linear Programming. Supervised by PRAPTO TRI SUPRIYO and TEDUH WULANDARI MAS OED This research provides the formulation of train scheduling problems using integer linear programming model. The train scheduling is based on a single track that connects between stations. The formulations is aimed at minimizing delay and is constructed to ensure that no train would crash in either one way or two ways direction. Input model of the train departure schedule is as planned (actual), whereas the output model of scheduled train departure and arrival is factual. Key word: Train, Scheduling, Integer Linear Programming ii

4 PENJADWALAN KERETA API MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER DWI SETIANTO Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 iii

5 Judul Nama NIM : Penjadwalan Kereta Api Menggunakan Pemrograman Linear Integer : Dwi Setianto : G Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Drs. Prapto Tri Supriyo, M.Kom. NIP Teduh Wulandari Mas'oed, M.Si. NIP Mengetahui, Ketua Departemen Matematika Dr. Berlian Setiawaty, M.S. NIP Tanggal Lulus : iv

6 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat dan karunia -NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tema yang dipilih adalah Riset Operasi dengan judul Penjadwalan Kereta Api Menggunakan Pemrograman Linear Integer. Skripsi ini merupakan syarat untuk menyelesaikan studi pada Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Allah SWT atas limpahan Rahmat dan Karunia-NYA 2. Keluarga tercinta: bapak dan ibu atas kasih sayangnya yang tulus dan ikhlas, untuk kakak Purwo Saputro dan Ema yang telah memberikan saran dan nasihat buat penulis. 3. Drs. Prapto Tri Supriyo, M.Kom. selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing penulis. 4. Teduh Wulandari Mas oed, M.Si. selaku dosen pembimbing II yang memberikan arahan dan masukan pada penulisan karya ilmiah ini. 5. Dr. Ir. Amril Aman, M.Sc. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan demi kesempurnaan karya ilmiah ini. 6. Seluruh dosen Departemen Matematika, terima kasih atas segala ilmu yang telah diberikan. 7. Staf Departemen Matematika: Bapak Yono, Bapak Deni, Bapak Hery, Bapak Epul, Bapak Bono, Ibu Susi dan Ibu Ade atas saran dan dedikasinya. 8. Fajar Yuliawan dan Salman Farid, terima kasih atas ilmu, saran, waktu dan segala dukungannya. 9. Sahabat yang selalu memberi inspirasi: Elly, Apri, Slamet Riyadi, Ratna, Adin, Kukuh, Ali, Popo, Angga, Widi, Yanti dan Avi. 10. Semua teman Matematika 42 yang selalu menjadi panutan yang baik. 11. Semua teman Matematika 43 yang telah menjadi bagian keluarga. 12. Semua teman Matematika 44 atas segala dukungannya. 13. Semua pihak yang telah membantu sehingga bisa terselesaikannya karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan khususnya Matematika dan dapat menjadi inspirasi bagi penelitian selanjutnya. Bogor, Oktober 2011 Dwi Setianto v

7 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 27 Desember 1987 sebagai putra kedua dari dua bersaudara dengan ayah Drs. H. Ngatidjan, M.Pd. dan ibu Suratinah. Tahun 2006 penulis lulus dari SMA Negeri 105 Jakarta dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Selama mengikuti perkuliahan, penulis ikut aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, diantaranya pada tahun dengan mengikuti beberapa kepanitiaan yang diselenggarakan oleh GUMATIKA salah satunya adalah Try Out SNMPTN siswa SMA sekotamadya Bogor 2008 sebagai anggota humas. vi

8 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... viii LAMPIRAN... viii I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan... 1 II LANDASAN TEORI 2.1 Pemrograman Linear Pemrograman Linear Integer Metode Branch and Bound... 3 III DESKRIPSI DAN PEMODELAN MASALAH 3.1 Deskripsi Masalah Formulasi Masalah... 6 IV CONTOH KASUS DAN PENYELESAIANNYA... 8 V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii

9 DAFTAR TABEL Halaman 1 Jarak antar stasiun Data perjalanan masing-masing kereta api Jadwal keberangkatan kereta di masing-masing stasiun Rute jalur yang digunakan oleh masing-masing kereta (B k ) min 5 Waktu operasi minimum kereta ( T ) hk ext 6 Waktu perpanjangan kereta ( T ) hk DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Daerah fisibel PLI (2.7) Daerah fisibel untuk Subproblem 2 (x 1 4) dan Subproblem 3 (x 1 3) Seluruh pencabangan pada metode branch and bound untuk menentukan solusi PLI (2.7) Contoh peta jaringan jalur kereta api antara dua stasiun Peta jaringan jalur (rel) kereta api Yogyakarta Solo balapan... 9 LAMPIRAN Halaman 1 Syntax Program LINGO 8.0 untuk menyelesaikan linear programming dengan Metode Branch and Bound Data hipotetik awal untuk implementasi penyelesaian masalah penjadwalan kereta api Syntax Program LINGO 8.0 untuk mencari penjadwalan dan keterlambatan masing - masing kereta api viii

10 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin tingginya mobilitas penduduk di suatu negara terutama di kota besar tentulah memiliki banyak permasalahan, mulai dari kemacetan yang tak terselesaikan hingga moda transportasi yang efisien. Salah satu moda transportasi yang tepat dalam mengurangi kemacetan adalah kereta api, karena kereta api memiliki daya angkut yang besar dibandingkan angkutan kota pada umumnya. Jumlah penumpang kereta api yang meningkat akan membuat frekuensi keberangkatan kereta semakin padat. Hal ini tentunya harus ditopang dengan perencanaan yang baik. Perencanaan yang dimaksud adalah perencanaan jadwal perjalanan kereta api yang tepat dan efisien dengan memperhatikan segala kendala semisal ketersediaan rangkaian kereta maupun jalur di setiap stasiun. Tentu tidak mudah ketika telah mendapatkan jadwal perjalanan kereta api tetapi masih memiliki delay (keterlambatan) kereta yang besar. Dalam karya ilmiah ini, akan dibahas penentuan jadwal kereta api menggunakan PLI (Pemrograman Linear Integer) yang meminimumkan delay. Solusi yang didapat menggunakan bantuan software LINGO 8.0. Karya ilmiah ini merupakan rekonstruksi dari sebagian artikel yang berjudul A Heuristic for the Train Pathing and Timetabling Problem yang ditulis oleh Yusin Lee dan Chuen-Yih Chen tahun Tujuan Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah mencari penyelesaian masalah penjadwalan kereta api yang meminimumkan delay (keterlambatan) menggunakan PLI (Pemrograman Linear Integer). II LANDASAN TEORI Untuk membuat model penjadwalan kereta api diperlukan pemahaman teori Pemrograman Linear (PL) atau Linear Programming (LP), Pemrograman Linear Integer (PLI) atau Integer Linear Programming (ILP), dan metode branch-andbound. Definisi 1 (Fungsi linear) Suatu fungsi f dalam variabel-variabel x1, x2,..., x n adalah suatu fungsi linear jika dan hanya jika untuk suatu himpunan konstanta c1, c2,..., c n, fungsi dapat dituliskan sebagai f ( x, x,..., x ) c x c x... c x. 1 2 n n n (Winston 2004) Sebagai contoh, f ( x1, x2 ) 2x1 3x 2 merupakan fungsi linear, sementara 2 2 f ( x, x ) x x bukan fungsi linear Definisi 2 (Pertidaksamaan dan persamaan linear) Untuk sembarang fungsi linear f x, x,..., x ) dan sembarang bilangan b, ( 1 2 n pertidaksamaan f ( x, x,..., x ) b 1 2 n dan f x x x 1 2 n b adalah pertidaksamaan linear, sedangkan suatu persamaan f x x x 1 2 n b merupakan persamaan linear. (Winston 2004) 2.1 Pemrograman Linear Pemrograman Linear (PL) adalah suatu masalah optimisasi yang memenuhi ketentuan-ketentuan berikut: a) Tujuan masalah tersebut adalah memaksimumkan atau meminimumkan suatu fungsi linear dari sejumlah variabel keputusan. Fungsi yang akan dimaksimumkan atau diminimumkan ini disebut fungsi objektif. b) Nilai variabel-variabel keputusannya harus memenuhi suatu himpunan kendala. Setiap kendala harus berupa persamaan linear atau pertidaksamaan linear. c) Ada pembatasan tanda untuk setiap variabel dalam masalah ini. Untuk sembarang variabel, pembatasan tanda menentukan harus tak-negatif ( ) atau tidak dibatasi tandanya (unrestricted in sign). (Winston 2004)

11 2 Suatu PL mempunyai bentuk standar seperti yang didefinisikan sebagai berikut. Definisi 3 (Bentuk Standar suatu PL) Suatu pemrograman linear dalam bentuk standar didefinisikan sebagai: max z = (atau min) s.t. Dengan mendefinisikan: A =, (2.1) Maka kendala pada (2.1) dapat ditulis dengan sistem persamaan Ax = b (2.2) (Winston 2004) Solusi suatu Pemrograman Linear Suatu masalah PL dapat diselesaikan dalam berbagai teknik, salah satunya adalah metode simpleks. Metode ini dapat menghasilkan suatu solusi optimum bagi masalah PL dan telah dikembangkan oleh Dantzig sejak tahun 1947 (Winston 2004), dan dalam perkembangannya merupakan metode yang paling umum digunakan untuk menyelesaikan PL. Metode ini berupa metode iteratif untuk menyelesaikan PL berbentuk standar. Pada masalah PL (2.2), vektor x yang memenuhi kendala Ax = b disebut sebagai solusi dari PL (2.2). Misalkan matriks A dapat dinyatakan sebagai A = (B N), dengan B adalah matriks taksingular berukuran m m yang elemennya berupa koefisien variabel basis dan N merupakan matriks berukuran m (n m) yang elemennya berupa koefisien variabel nonbasis pada matriks kendala. Dalam hal ini matriks B disebut matriks basis untuk PL (2.2). Misalkan x dinyatakan sebagai vektor x =, dengan x B adalah vektor variabel basis dan x N adalah vektor variabel nonbasis, maka Ax = b dapat dinyatakan sebagai: Ax = = Bx B + Nx N = b (2.3) Karena matriks B adalah matriks tak singular, maka B memiliki invers, sehingga dari (2.3) x B dapat dinyatakan sebagai: x B = B -1 b - B -1 Nx N (2.4) Kemudian, fungsi objektifnya berubah menjadi: min z = (Winston 2004) Definisi 4 (Daerah Fisibel) Daerah fisibel suatu PL adalah himpunan semua titik yang memenuhi semua kendala dan pembatasan tanda pada PL tersebut. (Winston 2004) Definisi 5 (Solusi Basis) Solusi basis adalah solusi pada PL yang didapatkan dengan mengatur variabel n m sama dengan nol dan nilai untuk penyelesaiannya adalah dari sisa variabel m. Hal ini mengasumsikan bahwa mengatur variabel n m sama dengan nol sehingga membuat nilai yang unik untuk sisa variabel m atau sejenisnya, dan kolom-kolom untuk sisa dari variabel m adalah bebas linear. (Winston 2004) Definisi 6 ( Solusi Fisibel Basis) Solusi fisibel basis adalah solusi basis pada PL yang semua variabel-variabelnya taknegatif. (Winston 2004) Definisi 7 (Solusi Optimum) Untuk masalah maksimisasi, solusi optimum suatu PL adalah suatu titik dalam daerah fisibel dengan nilai fungsi objektif terbesar. Untuk masalah minimisasi, solusi optimum suatu PL adalah suatu titik dalam daerah fisibel dengan nilai fungsi objektif terkecil. (Winston 2004) Ilustrasi untuk solusi basis dan solusi fisibel basis diberikan dalam Contoh 1 di bawah ini. Contoh 1 Misalkan diberikan PL berikut: minimumkan z = -2-3 terhadap -x 1 + 2x 2 + x 3 = 10-2x 1 + x 2 + x 4 = 2 2x 1 + x 5 = 3 x 1, x 2, x 3, x 4, x 5 0 (2.5)

12 3 Dari PL (2.5) didapatkan: A =, b = Misalkan dipilih = T dan = maka matriks basisnya adalah B =, N =.. Dengan menggunakan matriks basis tersebut diperoleh.. T (2.6) Solusi (2.6) merupakan solusi basis, karena solusi tersebut memenuhi kendala PL (2.5) dan kolom-kolom pada matriks kendala yang berpadanan dengan komponen taknol dari (2.6) yaitu B adalah bebas linear (kolom yang satu bukan merupakan kelipatan dari kolom yang lain). Solusi (2.6) juga merupakan solusi fisibel basis, karena nilai-nilai variabelnya lebih dari atau sama dengan nol. 2.2 Pemrograman Linear Integer Pemrograman linear integer (PLI) adalah suatu model pemrograman linear dengan variabel yang digunakan berupa bilangan bulat (integer). Jika semua variabel harus berupa integer, maka masalah tersebut dinamakan pure integer programming. Jika hanya sebagian yang harus berupa integer, maka disebut mixed integer programming (MIP). PLI dengan semua variabelnya harus bernilai 0 atau 1 disebut 0-1 PLI (Garfinkel & Nemhauser 1972) Definisi 8 (Relaksasi Pemrograman Linear) Relaksasi pemrograman linear atau sering disebut relaksasi-pl merupakan suatu pemrograman linear yang diperoleh dari suatu PLI dengan menghilangkan kendala integer atau kendala 0-1 pada setiap variabelnya. Untuk masalah maksimisasi, nilai optimum fungsi objektif relaksasi-pl lebih besar atau sama dengan nilai optimum fungsi objektif PLI, sedangkan untuk masalah minimisasi, nilai optimum fungsi objektif relaksasi-pl lebih kecil atau sama dengan nilai optimum fungsi objektif PLI. (Winston 2004) 2.3 Metode Branch and Bound Dalam penulisan karya ilmiah ini, untuk memperoleh solusi optimum dari masalah PLI digunakan software LINGO 8.0, yaitu sebuah program yang dirancang untuk menentukan solusi model linear, nonlinear, dan optimisasi integer. Software LINGO 8.0 ini menggunakan metode branch-and-bound untuk menyelesaikan masalah PLI. Prinsip dasar metode branch-and-bound adalah memecah daerah fisibel dari masalah relaksasi-pl dengan membuat subproblemsubproblem. Terdapat dua konsep dasar dalam algoritma branch-and-bound. 1. Branch (Cabang) Branching (pencabangan) adalah proses membagi permasalahan menjadi subproblemsubproblem yang mungkin mengarah ke solusi. 2. Bound (Batas) Bounding (pembatasan) adalah suatu proses untuk mencari atau menghitung batas atas (dalam masalah minimisasi) dan batas bawah (dalam masalah maksimisasi) untuk solusi optimum pada subproblem yang mengarah ke solusi. Metode branch-and-bound diawali dari menyelesaikan relaksasi-pl dari suatu pemrograman linear integer. Jika semua nilai variabel keputusan solusi optimum sudah berupa integer, maka solusi tersebut merupakan solusi optimum PLI. Jika tidak, dilakukan pencabangan dan penambahan batasan pada relaksasi-plnya kemudian diselesaikan. Winston (2004) menyebutkan bahwa untuk masalah maksimisasi nilai fungsi objektif optimum untuk PLI lebih kecil atau sama dengan nilai fungsi objektif optimum untuk relaksasi-pl, sehingga nilai fungsi objektif optimum relaksasi-pl merupakan batas atas bagi nilai fungsi objektif optimum untuk masalah PLI. Diungkapkan pula oleh Winston (2004) untuk masalah maksimisasi bahwa nilai fungsi objektif optimum untuk suatu kandidat solusi merupakan batas bawah nilai fungsi objektif optimum untuk masalah PLI asalnya. Suatu kandidat solusi diperoleh jika solusi dari suatu subproblem sudah memenuhi kendala integer pada masalah PLI,

13 4 artinya fungsi objektif dan semua variabelnya sudah bernilai integer. Sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu pengertian subproblem yang terukur. Menurut Winston (2004), suatu subproblem dikatakan terukur (fathomed) jika salah satu kondisi berikut terpenuhi: a. Subproblem tersebut takfisibel, sehingga tidak dapat menghasilkan solusi optimum bagi PLI. b. Subproblem tersebut menghasilkan suatu solusi optimum dengan semua variabelnya bernilai integer. Jika solusi optimum ini mempunyai nilai fungsi objektif yang lebih baik daripada solusi fisibel yang diperoleh sebelumnya, maka solusi ini menjadi kandidat solusi optimum dan nilai fungsi objektifnya menjadi batas bawah (dalam masalah maksimisasi) dan batas atas (dalam masalah minimisasi) nilai fungsi objektif optimum bagi masalah PLI pada saat itu. Bisa jadi subproblem ini menghasilkan solusi optimum untuk masalah PLI. c. Nilai fungsi objektif optimum untuk subproblem tersebut tidak melebihi batas bawah saat itu (untuk masalah maksimisasi). Suatu subproblem dapat dieliminasi apabila subproblem tersebut takfisibel dan batas bawah kandidat solusi lebih kecil (untuk masalah maksimisasi) dari nilai fungsi objektif optimum untuk subproblem tersebut. Berikut ini adalah langkah-langkah penyelesaian suatu masalah maksimisasi dengan metode branch-and-bound : Langkah 0 Didefinisikan z sebagai batas bawah dari solusi PLI yang optimum. Pada awalnya tetapkan z = dan i = 0. Langkah 1 Subproblem PL (i) dipilih sebagai bagian masalah berikutnya untuk diteliti. Subproblem PL (i) diselesaikan dan diukur dengan kondisi yang sesuai. a) Jika PL (i) terukur, maka batas bawah z dapat diperbarui. Batas bawah z dapat diperbaharui jika solusi PLI yang lebih baik telah ditemukan. Jika tidak, maka bagian masalah (subproblem) baru i dipilih dan langkah 1 diulangi. Jika semua subproblem telah diteliti, maka proses dihentikan. b) Jika PL (i) tidak terukur, lanjutkan ke langkah 2 untuk melakukan pencabangan PL (i). Langkah 2 Pilih satu variabel x j yang nilai optimumnya, yaitu x j *, tidak memenuhi batasan integer dalam solusi PL (i). Singkirkan bidang [x j *] x j [x j *]+1 dengan membuat dua bagian masalah PL yang berkaitan menjadi dua batasan yang tidak dapat dipenuhi secara bersamaan yaitu: x j [x j*] dan x j [x j*]+1, dengan [x j *] didefinisikan sebagai integer terbesar yang kurang dari atau sama dengan x j *. Jika PL (i) masih tidak terukur, maka kembali ke Langkah 1. (Taha 1996) Untuk memudahkan pemahaman mengenai metode branch-and-bound diberikan contoh sebagai berikut: Contoh 2 Misalkan diberikan PLI sebagai berikut: Maksimumkan z = 5 x x 2 terhadap x 1 + x x x 2 x 1, x 2 0 dan integer (2.7) Solusi optimal relaksasi-pl dari masalah PLI (2.7) adalah x 1 =3.75, x 2 =1.25, dan z =23.75 (lihat Lampiran 1). Jadi batas atas nilai optimal fungsi objektif masalah PLI (2.7) adalah z= Daerah fisibel relaksasi-pl masalah (2.7) ditunjukkan pada Gambar 1 (daerah yang diarsir) sedangkan titik-titik merupakan solusi fisibel masalah PLI (2.7). x 2 Daerah fisibel x 1 = 3.75 x 2 = 1.25 Gambar 1 Daerah fisibel PLI (2.7) Langkah berikutnya adalah memartisi daerah fisibel relaksasi-pl menjadi dua bagian berdasarkan variabel yang bernilai pecahan (non-integer). Karena x 1 = 3.75 dan x 2 =1.25 variabel bernilai pecahan maka dipilih x 1

14 5 salah satu variabel, misalkan x 1, sebagai dasar pencabangan. Jika masalah relaksasi-pl dari PLI (2.7) diberi nama Subproblem 1 dan Subproblem 1 dicabangkan atas x 1, maka pencabangan tersebut menghasilkan 2 subproblem, yaitu: Subproblem 2: Subproblem 1 ditambah kendala x 1 4 Subproblem 3: Subproblem 1 ditambah kendala x 1 3. Daerah fisibel untuk kedua subproblem di atas diilustrasikan secara grafis pada Gambar 2. x 2 Subproblem 3 Subproblem 2 Gambar 2 Daerah fisibel untuk Subproblem 2 (x 1 4) dan Subproblem 3 (x 1 3). Setiap titik (solusi) fisibel dari PLI (2.7) termuat dalam daerah fisibel Subproblem 2 atau Subproblem 3. Setiap subproblem ini saling lepas. Sekarang dipilih subproblem yang belum diselesaikan, misalkan dipilih Subproblem 2. Solusi optimal untuk Subproblem 2 ini adalah x 1 = 4, x 2 = dan z = , (lihat Lampiran 1 bagian Subproblem 2). Karena solusi optimal yang dihasilkan Subproblem 2 bukan solusi integer, maka Subproblem 2 dicabangkan atas x 2 sehingga diperoleh dua subproblem lagi, yakni: Subproblem 4: Subproblem 3 ditambah kendala x 2 1; Subproblem 5: Subproblem 3 ditambah kendala x 2 0. x 1 Saat ini subproblem yang belum diselesaikan adalah Subproblem 3, 4 dan 5. Salah satu subproblem dipilih, misalnya dengan aturan LIFO (last in first out). Dengan aturan ini berarti dipilih Subproblem 4 atau Subproblem 5. Subproblem 4 takfisibel (lihat Lampiran 1 bagian Subproblem 4) maka subproblem ini tidak dapat menghasilkan solusi optimal, yang tersisa adalah Subproblem 3 dan Subproblem 5. Karena aturan LIFO, dipilih Subproblem 5, yang kemudian menghasilkan solusi optimal x 1 =4.5, x 2 =0 dan z=22.5 (lihat Lampiran 1 bagian Subproblem 5). Karena x 1 =4.5 bukan integer, maka dilakukan kembali pencabangan atas x 1, sehingga diperoleh: Subproblem 6: Subproblem 5 ditambah kendala x 1 5 ; Subproblem 7: Subproblem 5 ditambah kendala x 1 4. Misalkan dipilih Subproblem 6. Ternyata Subproblem 6 ini juga takfisibel (lihat Lampiran 1 bagian Subproblem 6), sehingga tidak dapat menghasilkan solusi optimal. Dengan demikian subproblem-subproblem yang belum diselesaikan adalah Subproblem 3 dan Subproblem 7. Karena aturan LIFO, dipilih Subproblem 7. Subproblem ini kemudian menghasilkan solusi opimal x 1 =4, x 2 = 0, dan z= 20 (lihat Lampiran 1 bagian Subproblem 7). Dapat dilihat bahwa solusi optimal subproblem ini semuanya berupa integer, sehingga merupakan kandidat solusi untuk PLI (2.7). Nilai z pada kandidat solusi ini merupakan batas bawah bagi nilai optimal PLI. Penyelesaian Subproblem 3 menghasilkan solusi optimal x 1 = 3, x 2 = 2 dan z= 23 (lihat Lampiran 1 bagian Subproblem 3). Batas bawah yang ditetapkan dari solusi optimal Subproblem 7 tidak lebih baik dari nilai solusi optimal yang dihasilkan Subproblem 3. Dengan demikian, nilai solusi optimal Subproblem 3, yakni z = 23 menjadi batas bawah yang baru. Semua solusi optimal telah berupa integer dan tidak perlu dilakukan pencabangan kembali, sehingga solusi optimal dari Subproblem 3 merupakan solusi optimal PLI (2.7), yakni x 1 = 3, x 2 = 2 dan z= 23. Pohon pencabangan yang menunjukkan proses penyelesaian masalah PLI (2.7) secara keseluruhan ditunjukkan pada Gambar 3.

15 6 t = 1 Subproblem 1 x 1 =3.75, x 2 =1.25 dan z = x 1 4 x 1 3 t = 2 Subproblem 2 t = 7 Subproblem 3 x 1 =4, x 2 = dan z = x 2 1 x 2 0 x 1 =3, x 2 =2, dan z = 23 batas bawah bagi IP (2.7) atau Solusi Optimal t = 3 Subproblem 4 t = 4 Subproblem 5 Solusi tak fisibel x 1 =4.5, x 2 =0 dan z = 22.5 x 1 5 x 1 4 Subproblem 6 t = 5 t = 6 Subproblem 7 Solusi tak fisibel x 1 =4, x 2 =0, dan z = 20 Kandidat Solusi Optimal Gambar 3 Seluruh pencabangan pada metode branch and bound untuk menentukan solusi PLI (2.7) III DESKRIPSI DAN PEMODELAN MASALAH 3.1 Deskripsi masalah Untuk mendeskripsikan masalah penjadwalan kereta api di setiap stasiun, hal utama yang harus diketahui adalah banyaknya rangkaian kereta yang ditugaskan di stasiun tersebut. Kemudian dari kereta api yang ditugaskan tadi, seberapa banyak ketersedian jalur yang dapat dilalui. Banyaknya kereta api yang beroperasi juga bergantung pada kebutuhan atau permintaan penumpang. Dalam memenuhi keinginan penumpang, tersedia dua jenis kereta api yaitu kereta api reguler dan kereta api ekspress. Untuk kereta api regular, waktu tunggu di dalam stasiun lebih lama dibandingkan jenis yang kedua yaitu kereta api ekspress. Selain itu kecepatan kereta api jenis reguler lebih rendah dibandingkan kereta api jenis ekspress. Berikut ini adalah gambaran dari suatu penjadwalan kereta api. Misalkan terdapat n buah stasiun yang masing-masing stasiun memiliki dua buah jalur pemberhentian dan dari keseluruhan stasiun tersebut saling dihubungkan oleh jalur tunggal. Stasiun ke-1 dan stasiun ke-n adalah stasiun pemberangkatan, sedangkan stasiun ke-2 hingga stasiun ke (n-1) adalah stasiun pemberhentian. Andaikan dioperasikan p kereta api ekspress dan q kereta api reguler. Kereta api tersebut ada yang diberangkatkan dari stasiun ke-1 dan juga dari stasiun ke-n. Pengelola stasiun dihadapkan pada masalah penjadwalan kereta sedemikian rupa sehingga dapat meminimumkan delay (keterlambatan), dengan memperhatikan kebutuhan pengguna kereta api. 3.2 Formulai masalah Model penjadwalan kereta api bergantung pada ketersedian rangkaian kereta api dan jumlah jalur yang dapat dilalui. Selanjutnya, penjadwalan kereta api dapat diformulasikan dalam bentuk PLI.

16 7 Model penjadwalan pada karya ilmiah ini menggunakan dua parameter utama sebagai penyusun jadwal, yaitu: 1. Kereta, yaitu seluruh rangkaian kereta api yang terlibat dalam penjadwalan. 2. Jalur, yaitu jalur yang dapat dilalui oleh kereta api dan yang terlibat dalam penjadwalan. Sebagai contoh, pandang penamaan jalur kereta api antara dua buah stasiun di bawah ini. stasiun A stasiun B Gambar 4 Contoh peta jaringan jalur kereta api antara dua stasiun Variabel-variabel yang digunakan dalam model penjadwalan kereta api ini sebagai berikut: s : indeks stasiun. k,m : indeks kereta. V : himpunan seluruh kereta. h : indeks jalur. B : himpunan semua jalur. B k : himpunan semua jalur yang dilewati oleh kereta k. B s : himpunan jalur yang terletak di dalam stasiun. B k \ B s : himpunan jalur yang terletak di luar stasiun. : lama waktu minimum kereta k menyelesaikan seluruh perjalanannya (menit). : lama waktu minimum kereta k di jalur h (menit). : lama waktu perpanjangan atau maksimum yang diizinkan untuk kereta k di jalur h apabila mengalami delay (menit). : jalur pertama yang digunakan oleh kereta k. : jalur terakhir yang digunakan oleh kereta k. : jalur yang telah digunakan kereta k sebelum memasuki jalur h. : Selisih minimum waktu antara dua kereta menggunakan jalur h secara berurutan (menit). : waktu ketika kereta k memasuki jalur pertama yang digunakannya. Selain itu, diperlukan pula pendefinisian suatu variabel keputusan: delay k : total waktu keterlambatan kereta k (menit) y hk : keterlambatan kereta k di jalur h (menit) a hk : waktu ketika kereta k memasuki jalur h. d hk : waktu ketika kereta k meninggalkan jalur h. d hm : waktu ketika kereta m meninggalkan jalur h. : waktu ketika kereta k meninggalkan jalur terakhir yang digunakannya. : waktu ketika kereta k meninggalkan jalur yang telah digunakannya tepat sebelum memasuki jalur h. Fungsi objektif dari permasalahan ini adalah meminimumkan keterlambatan seluruh kereta api, sehingga dimodelkan sebagai berikut: minimumkan dengan kendala-kendala sebagai berikut: 1) Mengatur waktu kedatangan dan keberangkatan kereta berdasarkan lama waktu operasi minimum kereta. Apabila kereta mengalami delay maka akan diatur di kendala 2. + h, k V 2) Menyatakan bahwa jika panjang waktu kereta yang dijadwalkan melebihi waktu operasi minimumnya, maka kelebihan waktu ini dianggap sebagai keterlambatan yang dijadwalkan. + + h, k V Dari kendala 1 dan 2 didapat persamaan berikut: Misalkan 7:03 7:06, yang artinya adalah waktu kereta k meninggalkan jalur h adalah pukul 7:03 (tanpa delay) sedangkan apabila mengalami delay maka batas waktu maksimumnya adalah sampai pukul 7:06. 3) Kendala berikut menjelaskan aturan penggunaan satu jalur oleh dua kereta pada saat yang bersamaan baik untuk satu arah maupun berlawanan arah. - h \, k,m V

17 8 Perhatikan ilustrasi berikut ini: (contoh berlawanan arah) kereta m stasiun A Kereta m (dari A ke B) dan kereta k (dari B ke A) menggunakan jalur yang sama (h), maka harus ada selisih minimum waktu ( ) agar kedua kereta tersebut tidak bertabrakan. (contoh satu arah) kereta m kereta k stasiun A jalur h (7:00) (7:02) kereta k stasiun B (7:04) (7:06) (7:02) (7:03) (7:04) (7:05) h = 1 h = 2 h = 3 stasiun B Diperlukan selisih minimum waktu (C hmk ) antara kereta k dan m untuk menghindari kemungkinan terjadinya tabrakan. Kereta k mengalami delay terutama di jalur h = 2. 4) Waktu kereta k meninggalkan jalur yang telah digunakannya tepat sebelum memasuki jalur h sama dengan waktu kereta k memasuki jalur h. = h, k V Misal kereta k = 1 melalui jalur h = 1, 2, dan 3 (B k = 1,2,3) Kereta 1 h = 1 h = 2 h = 3 h = 2 maka B 21 = 1 sehingga d 11 = a 21 h = 3 maka B 31 = 2 sehingga d 21 = a 31 5) Lama waktu kereta api yang dibutuhkan mulai dari stasiun awal hingga stasiun tujuan. - = +, k V Kendala ketaknegatifan 0 dan bilangan integer delay k 0 dan delay k bilangan integer IV CONTOH KASUS DAN PENYELESAIANNYA Pada bagian ini akan diberikan contoh kasus dengan data hipotetik seperti penamaan stasiun, rangkaian kereta yang digunakan dan jumlah jalur yang tersedia. Misalkan PT KAI (Kereta Api Indonesia) memiliki tujuh stasiun (s) yang jarak dari stasiun satu ke stasiun berikutnya beragam (Tabel 1). Tabel 1 Jarak antar stasiun Stasiun 1 Stasiun 2 Jarak (m) Yogyakarta Lempuyangan 7200 Lempuyangan Sleman Sleman Kalasan 7200 Kalasan Prambanan Prambanan Klaten 7200 Klaten Solo balapan 7200 Kemudian dari ketujuh stasiun tersebut ada yang memiliki dua maupun tiga jalur kereta api. Sehingga setiap kereta api yang akan melalui jalur (h) tersebut harus sesuai kapasitas masing-masing stasiun. Untuk kereta api sendiri terbagi kedalam dua jenis, yaitu kereta api ekspress dan kereta api reguler. Untuk kereta api ekspress, kecepatan rata-ratanya adalah 144 km/jam dengan waktu tunggu di dalam stasiun dua menit sedangkan untuk kereta api reguler, kecepatan rataratanya adalah 72 km/jam dengan waktu tunggu di dalam stasiun empat menit. Selanjutnya ada 12 perjalanan kereta api (k) yang siap untuk diberangkatkan yang terbagi ke dalam 6 kereta untuk rute Yogyakarta ke Solo balapan dan 6 kereta lagi untuk rute sebaliknya. Tabel 2 memberikan jam keberangkatan yang direncanakan dengan periode waktu menit (0 1440). Jam keberangkatan sesungguhnya akan ditentukan pada hasil perhitungan yang dilakukan oleh model. Dari seluruh kereta api tersebut telah ditentukan urutan jalur atau rute yang akan dilalui oleh masing-masing kereta (B k ) seperti yang tertera pada Tabel 4 (Lampiran 2). Lama waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing kereta untuk melalui jalur antar stasiun (B k \ B s ) tergantung pada kecepatan kereta api tersebut, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5 (lama waktu minimum kereta) dan Tabel 6 (lama waktu perpanjangan kereta) di setiap jalur yang dilaluinya pada Lampiran 2. Dalam

18 9 melakukan penjadwalan kereta api juga diperlukan sketsa peta jaringan rel kereta seperti yang tersaji di Gambar 5. Model penjadwalan kereta api ini menggunakan beberapa asumsi. Asumsi yang digunakan diantaranya adalah: 1. Jalur yang menghubungkan antar stasiun adalah jalur tunggal. 2. Tidak ada prioritas kereta. Tabel 2 Data perjalanan masing-masing kereta api Indeks (k) Kereta Jenis Stasiun asal Stasiun tujuan Jam berangkat (menit ke-) Waktu tunggu (menit) Kec (km/jam) 1 trans jogja 1 ekspress Yogyakarta Solo balapan trans jogja 2 ekspress Yogyakarta Solo balapan trans jogja 3 regular Yogyakarta Solo balapan trans jogja 4 regular Yogyakarta Solo balapan trans jogja 5 ekspress Yogyakarta Solo balapan trans jogja 6 regular Yogyakarta Solo balapan solo jaya 1 regular Solo balapan Yogyakarta solo jaya 2 ekspress Solo balapan Yogyakarta solo jaya 3 regular Solo balapan Yogyakarta solo jaya 4 ekspress Solo balapan Yogyakarta solo jaya 5 ekspress Solo balapan Yogyakarta solo jaya 6 regular Solo balapan Yogyakarta Yogyakarta Lempuyangan Sleman Kalasan Prambanan Klaten Solo balapan Gambar 5 Peta jaringan jalur (rel) kereta api Yogyakarta-Solo balapan Model penjadwalan tersebut selanjutnya dapat diformulasikan ke dalam bentuk PLI dengan fungsi objektif: Minimumkan 12 k 1 delay k Dengan kendala : 1) Waktu kereta k meninggalkan jalur h harus lebih besar atau sama dengan waktu kereta k memasuki jalur h ditambah lama waktu minimum kereta k di jalur h. d hk hk a + T, h B k min hk Sebagai contoh, dengan memperhatikan Tabel 4 (Lampiran 2) untuk kereta k = 3 dan jalur h = 6, diperoleh pertidaksamaan min d 63 a 63 + T 63. Sehingga diperoleh seluruhnya 300 pertidaksamaan. 2) Waktu kereta k meninggalkan jalur h harus lebih kecil atau sama dengan waktu kereta k memasuki jalur h ditambah masa keterlambatan kereta k di jalur h dan lama waktu perpanjangan kereta k di jalur h. ext d hk a hk + y hk + T hk, h B k Sebagai contoh, dengan memperhatikan Tabel 4 (Lampiran 2) untuk kereta k = 1

19 10 dan jalur h = 8, diperoleh pertidaksamaan ext d 81 a 81 + y 81 + T 81. Sehingga diperoleh seluruhnya 300 pertidaksamaan. 3) Waktu kereta k memasuki jalur h dikurangi waktu kereta m meninggalkan jalur h lebih besar atau sama dengan selisih minimum waktu antara kereta m dan k di jalur h. a hk d hm c hmk h B k \ B s atau jalur antar stasiun, yaitu jalur 4, 5, 6, 9, 10, 11, 14, 15, 16, 20, 21, 22, 25, 26, 27, 30, 31, dan 32. Untuk contoh kasus ini diasumsikan nilai c = 1 hmk 4) Waktu kereta k meninggalkan jalur yang telah digunakannya tepat sebelum memasuki jalur h sama dengan waktu kereta k memasuki jalur h. d = a hk, h B k B hk k Sebagai contoh, dengan memperhatikan Tabel 4 (Lampiran 2) untuk kereta k = 1 dan jalur h = 4, diperoleh persamaan d 11 = a 41. Sehingga diperoleh seluruhnya 300 pertidaksamaan. 5) Waktu kereta k meninggalkan jalur terakhir dikurangi waktu kereta k memasuki jalur pertama yang digunakannya sama dengan total waktu keterlambatan kereta k ditambah lama waktu minimum kereta k menyelesaikan perjalanannya. d - k B F k a 0 B k k = delay k + Trip k Sebagai contoh, dengan memperhatikan Tabel 4 (Lampiran 2) untuk kereta k = 1, jalur pertama yang digunakannya ( ) = 1 dan jalur terakhir yang digunakan ( ) = 33, diperoleh persamaan d 331 a 11 = delay 1 + Trip 1. Sehingga diperoleh seluruhnya 12 persamaan. Pada uraian contoh kasus di PT KAI banyak sekali persamaan maupun pertidaksamaan yang harus diselesaikan, hal ini menjadi sulit apabila menggunakan metode branch-and-bound secara manual. Oleh karena itu diperlukan suatu alat bantu yaitu dengan menggunakan software LINGO 8.0. Syntax program dan hasil komputasi dicantumkan pada Lampiran 3. Solusi yang didapat merupakan solusi optimum dengan nilai fungsi objektifnya adalah 8 menit dengan rincian sebagai berikut: Kereta 1 tidak mengalami delay Kereta 2 mengalami delay 4 menit Kereta 3 tidak mengalami delay Kereta 4 tidak mengalami delay Kereta 5 tidak mengalami delay Kereta 6 mengalami delay 2 menit Kereta 7 tidak mengalami delay Kereta 8 mengalami delay 2 menit Kereta 9 tidak mengalami delay Kereta 10 tidak mengalami delay Kereta 11 tidak mengalami delay Kereta 12 tidak mengalami delay Berikut hasil penjadwalan kereta api yang tertera di Tabel 3 yang didapatkan dari software Lingo 8.0.

20 Indeks Yogyakarta Lempuyangan Sleman Kalasan Prambanan Klaten Solo balapan Kereta Rute (k) tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba selesai 1 trans jogja 1 Yogyakarta - Solo balapan trans jogja 2 Yogyakarta - Solo balapan trans jogja 3 Yogyakarta - Solo balapan trans jogja 4 Yogyakarta - Solo balapan trans jogja 5 Yogyakarta - Solo balapan trans jogja 6 Yogyakarta - Solo balapan Indeks Solo balapan Klaten Prambanan Kalasan Sleman Lempuyangan Yogyakarta Kereta Rute (k) tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba berangkat tiba selesai 7 solo jaya 1 Solo balapan - Yogyakarta solo jaya 2 Solo balapan - Yogyakarta solo jaya 3 Solo balapan - Yogyakarta solo jaya 4 Solo balapan - Yogyakarta solo jaya 5 Solo balapan - Yogyakarta solo jaya 6 Solo balapan - Yogyakarta Tabel 3 Jadwal keberangkatan kereta di masing-masing stasiun 11

21 12 V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dalam penulisan karya ilmiah ini telah diperlihatkan penyelesaian dari masalah penjadwalan kereta api yang bertujuan untuk menentukan nilai keterlambatan (delay) yang minimum. Masalah ini dipandang sebagai masalah 0-1 PLI. 5.2 Saran Pada karya ilmiah ini data yang digunakan merupakan data hipotetik, saran untuk penulisan selanjutnya adalah dengan menggunakan data yang asli. Model penjadwalan kereta api ini juga dapat dikembangkan semisal meminimumkan biaya operasional kereta tentunya dengan menambahkan beberapa kendala. DAFTAR PUSTAKA Garfinkel, R.S & G.L. Nemhauser Integer Programming. John Willey & Sons, New York. Lee, Yusin. & Chen, Chuen-Yih A heuristic for the train pathing and timetabling problem. Transportation research part B,43: Taha, H.A Pengantar Riset Operasi. Alih Bahasa:k Drs. Daniel Wirajaya. Binarupa Aksara, Jakarta. Terjemahan dari: Operations Research. Winston, W.L Operations Research Applications and Algorithms 4 th ed. Duxbury, New York.

22 LAMPIRAN

23 14 Lampiran 1 Syntax Program LINGO 8.0 untuk menyelesaikan linear programming dengan Metode Branch and Bound 1) Mencari solusi LP-relaksasi dari subproblem 1 (masalah 2.7) maksimumkan z = 5 x x 2 terhadap x 1 + x x x 2 x 1,x 2 0 dan integer Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1>=0; x2>=0; Hasil yang diperoleh: Global optimum solution found at iteration: 4 Objective value: Variable Value Reduced Cost X X Row Slack or Surplus Dual Price Karena solusi yang diperoleh belum memenuhi kendala integer maka harus dibuat subproblem baru, yaitu : Subproblem 2, dimana subproblem 1 + kendala (x 1 4) Subproblem 3, dimana subproblem 1 + kendala (x 1 3) 2) Mencari solusi LP dari subproblem 2 Maksimumkan z = 5x 1 + 4x 2 Terhadap x 1 + x x 1 + 6x 2 45 x 1 4 x 1,x 2 0 dan integer Hasil yang diperoleh: Global optimum solution found at iteration: 5 Objective value: Variable Value Reduced Cost X X Row Slack or Surplus Dual Price Karena solusi yang diperoleh belum memenuhi kendala integer maka harus dibuat subproblem baru, yaitu : Subproblem 4, dimana subproblem 3 + kendala ( 1) Subproblem 5, dimana subproblem 3 + kendala ( 0) 3) Mencari solusi LP dari subproblem 4 Maksimumkan z = 5x 1 + 4x 2 Terhadap x 1 + x x 1 + 6x 2 45 x 1 4 x 2 1 x 1,x 2 0 dan integer Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1>=0; x2>=0; x1>=4; x2>=1; Hasil yang diperoleh: Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1>=0; x2>=0; x1>=4;

24 15 4) Mencari solusi LP dari subproblem 5 Maksimumkan z = 5x 1 + 4x 2 Terhadap x 1 + x x 1 + 6x 2 45 x 1 4 x 2 0 x 1,x 2 0 dan integer x2<=0; x1>=0; x2>=0; Hasil yang diperoleh: Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1>=0; x2>=0; x1>=4; x2<=0; Hasil yang diperoleh: Global optimum solution found at iteration: 3 Objective value: Variable Value Reduced Cost X X Row Slack or Surplus Dual Price Karena solusi yang diperoleh belum memenuhi kendala integer maka harus dibuat subproblem baru, yaitu : Subproblem 6, dimana subproblem 5 + kendala ( 5) Subproblem 7, dimana subproblem 5 + kendala ( 4) 5) Mencari solusi LP dari subproblem 6 Maksimumkan z = 5x 1 + 4x 2 Terhadap x 1 + x x 1 + 6x 2 45 x 1 5 x 2 0 x 1,x 2 0 dan integer Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1>=5; 6) Mencari solusi LP dari subproblem 7 Maksimumkan z = 5x 1 + 4x 2 Terhadap x 1 + x x 1 + 6x 2 45 x 1 4 x 2 0 x 1,x 2 0 dan integer Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1<=4; x2<=0; x1>=0; x2>=0; Hasil yang diperoleh: Global optimum solution found at iteration: 2 Objective value: Variable Value Reduced Cost X X Row Slack or Surplus Dual Price ) Mencari solusi LP dari subproblem 3 Maksimumkan z = 5x 1 + 4x 2 Terhadap x 1 + x x 1 + 6x 2 45 x 1 3

25 16 x 1,x 2 0 dan integer Syntax program pada Lingo 8.0 : max=5*x1+4*x2; x1+x2<=5; 10*x1+6*x2<=45; x1>=0; x2>=0; x1<=3; Hasil yang diperoleh: Global optimum solution found at iteration: 3 Objective value: Row Slack or Surplus Dual Price Hasil yang diperoleh telah memenuhi kendala integer maka subproblem 3 akan dijadikan batas bawah. Variable Value Reduced Cost X X

26 17 Lampiran 2 Data hipotetik awal untuk implementasi penyelesaian masalah penjadwalan kereta api Tabel 4 Rute jalur yang digunakan oleh masing-masing kereta (B k ) Indeks (k) Kereta Stasiun asal Stasiun tujuan Jalur (h) 1 trans jogja 1 Yogyakarta Solo balapan trans jogja 2 Yogyakarta Solo balapan trans jogja 3 Yogyakarta Solo balapan trans jogja 4 Yogyakarta Solo balapan trans jogja 5 Yogyakarta Solo balapan trans jogja 6 Yogyakarta Solo balapan solo jaya 1 Solo balapan Yogyakarta solo jaya 2 Solo balapan Yogyakarta solo jaya 3 Solo balapan Yogyakarta solo jaya 4 Solo balapan Yogyakarta solo jaya 5 Solo balapan Yogyakarta solo jaya 6 Solo balapan Yogyakarta Tabel 5 Waktu operasi minimum kereta ( T ) jalur kereta min hk

27 18 Tabel 6 Waktu perpanjangan kereta ( T ) jalur kereta ext hk

28 19 Lampiran 3 Syntax Program LINGO 8.0 untuk mencari panjadwalan dan keterlambatan masing-masing kereta api SETS: jalur/1..35/; kereta/1..12/:delay,trip; variable1(jalur,kereta):d,a,y,tmin,text; variabel2(jalur,kereta,kereta):c; ENDSETS data: trip= KAI.xlsx','d','a')=D,A; Tmin,Text=@OLE('jadwal KAI.xlsx','tmin','text'); C=1; enddata min=@sum(kereta(k):delay(k));!waktu tiba kereta di stasiun awal; a(1,1)=20;a(3,2)=32;a(2,3)=51;a(1,4)=73;a(3,5)=130;a(2,6)=163;a(34,7)=0;a(33,8)=9; h#eq#1#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#8#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#17#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#24#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#28#or#h#eq#30 #or#h#eq#31#or#h#eq#32#or#h#eq#33:@for(kereta(k) k#eq#1:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#3#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#7#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#13#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#17#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#28#or#h#eq#30 #or#h#eq#31#or#h#eq#32#or#h#eq#35:@for(kereta(k) k#eq#2:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#2#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#8#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#19#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#29#or#h#eq#30 #or#h#eq#31#or#h#eq#32#or#h#eq#33:@for(kereta(k) k#eq#3:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#1#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#7#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#18#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#24#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#28#or#h#eq#30 #or#h#eq#31#or#h#eq#32#or#h#eq#34:@for(kereta(k) k#eq#4:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#3#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#8#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#18#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#29#or#h#eq#30 #or#h#eq#31#or#h#eq#32#or#h#eq#33:@for(kereta(k) k#eq#5:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#2#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#7#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#13#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#17#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#29#or#h#eq#30 #or#h#eq#31#or#h#eq#32#or#h#eq#35:@for(kereta(k) k#eq#6:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#34#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#28#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#23#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#19#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#12#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#7#or#h#e q#6#or#h#eq#5#or#h#eq#4#or#h#eq#2:@for(kereta(k) k#eq#7:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#33#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#29#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#24#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#18#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#13#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#8#or#h#e q#6#or#h#eq#5#or#h#eq#4#or#h#eq#3:@for(kereta(k) k#eq#8:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#35#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#29#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#23#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#17#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#13#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#7#or#h#e q#6#or#h#eq#5#or#h#eq#4#or#h#eq#2:@for(kereta(k) k#eq#9:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k))) h#eq#33#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#28#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#24#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#19#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#12#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#8#or#h#e

29 20 k#eq#10:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k)) h#eq#35#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#29#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#24#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#17#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#13#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#8#or#h#e k#eq#11:d(h,k)>=a(h,k)+tmin(h,k)) h#eq#34#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#28#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#23#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#19#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#12#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#7#or#h#e h#eq#1#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#8#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#17#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#24#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#28#or#h#eq#30 k#eq#1:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#3#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#7#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#13#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#17#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#28#or#h#eq#30 k#eq#2:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#2#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#8#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#19#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#29#or#h#eq#30 k#eq#3:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#1#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#7#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#18#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#24#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#28#or#h#eq#30 k#eq#4:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#3#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#8#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#12#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#18#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#29#or#h#eq#30 k#eq#5:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#2#or#h#eq#4#or#h#eq#5#or#h#eq#6#or#h#eq#7#or#h#eq#9#or#h#eq#10# or#h#eq#11#or#h#eq#13#or#h#eq#14#or#h#eq#15#or#h#eq#16#or#h#eq#17#or#h#eq#20#or#h# eq#21#or#h#eq#22#or#h#eq#23#or#h#eq#25#or#h#eq#26#or#h#eq#27#or#h#eq#29#or#h#eq#30 k#eq#6:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#34#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#28#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#23#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#19#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#12#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#7#or#h#e k#eq#7:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#33#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#29#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#24#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#18#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#13#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#8#or#h#e k#eq#8:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#35#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#29#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#23#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#17#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#13#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#7#or#h#e k#eq#9:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+text h#eq#33#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#28#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#24#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#19#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#12#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#8#or#h#e k#eq#10:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+tex h#eq#35#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#29#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#24#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#17#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#13#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#8#or#h#e k#eq#11:d(h,k)<=a(h,k)+y(h,k)+tex h#eq#34#or#h#eq#32#or#h#eq#31#or#h#eq#30#or#h#eq#28#or#h#eq#27#or#h# eq#26#or#h#eq#25#or#h#eq#23#or#h#eq#22#or#h#eq#21#or#h#eq#20#or#h#eq#19#or#h#eq#16 #or#h#eq#15#or#h#eq#14#or#h#eq#12#or#h#eq#11#or#h#eq#10#or#h#eq#9#or#h#eq#7#or#h#e

30 21 m#eq#7:a(h,k)-d(h,m)>= m#eq#8:a(h,k)-d(h,m)>= m#eq#11:a(h,k)-d(h,m)>= C(h,m,k))));!kendala4;!untuk kereta k = 1; d(1,1)=a(4,1);d(4,1)=a(5,1);d(5,1)=a(6,1);d(6,1)=a(8,1);d(8,1)=a(9,1);d(9,1)=a(10, 1);d(10,1)=a(11,1);d(11,1)=a(12,1);d(12,1)=a(14,1);d(14,1)=a(15,1);d(15,1)=a(16,1) ;d(16,1)=a(17,1);d(17,1)=a(20,1);d(20,1)=a(21,1);d(21,1)=a(22,1);d(22,1)=a(24,1);d (24,1)=a(25,1);d(25,1)=a(26,1);d(26,1)=a(27,1);d(27,1)=a(28,1);d(28,1)=a(30,1);d(3 0,1)=a(31,1);d(31,1)=a(32,1);d(32,1)=a(33,1);!untuk kereta k = 2; d(3,2)=a(4,2);d(4,2)=a(5,2);d(5,2)=a(6,2);d(6,2)=a(7,2);d(7,2)=a(9,2);d(9,2)=a(10, 2);d(10,2)=a(11,2);d(11,2)=a(13,2);d(13,2)=a(14,2);d(14,2)=a(15,2);d(15,2)=a(16,2) ;d(16,2)=a(17,2);d(17,2)=a(20,2);d(20,2)=a(21,2);d(21,2)=a(22,2);d(22,2)=a(23,2);d (23,2)=a(25,2);d(25,2)=a(26,2);d(26,2)=a(27,2);d(27,2)=a(28,2);d(28,2)=a(30,2);d(3 0,2)=a(31,2);d(31,2)=a(32,2);d(32,2)=a(35,2);!untuk kereta k = 3; d(2,3)=a(4,3);d(4,3)=a(5,3);d(5,3)=a(6,3);d(6,3)=a(8,3);d(8,3)=a(9,3);d(9,3)=a(10, 3);d(10,3)=a(11,3);d(11,3)=a(12,3);d(12,3)=a(14,3);d(14,3)=a(15,3);d(15,3)=a(16,3) ;d(16,3)=a(19,3);d(19,3)=a(20,3);d(20,3)=a(21,3);d(21,3)=a(22,3);d(22,3)=a(23,3);d (23,3)=a(25,3);d(25,3)=a(26,3);d(26,3)=a(27,3);d(27,3)=a(29,3);d(29,3)=a(30,3);d(3 0,3)=a(31,3);d(31,3)=a(32,3);d(32,3)=a(33,3);!untuk kereta k = 4; d(1,4)=a(4,4);d(4,4)=a(5,4);d(5,4)=a(6,4);d(6,4)=a(7,4);d(7,4)=a(9,4);d(9,4)=a(10, 4);d(10,4)=a(11,4);d(11,4)=a(12,4);d(12,4)=a(14,4);d(14,4)=a(15,4);d(15,4)=a(16,4) ;d(16,4)=a(18,4);d(18,4)=a(20,4);d(20,4)=a(21,4);d(21,4)=a(22,4);d(22,4)=a(24,4);d (24,4)=a(25,4);d(25,4)=a(26,4);d(26,4)=a(27,4);d(27,4)=a(28,4);d(28,4)=a(30,4);d(3 0,4)=a(31,4);d(31,4)=a(32,4);d(32,4)=a(34,4);!untuk kereta k = 5; d(3,5)=a(4,5);d(4,5)=a(5,5);d(5,5)=a(6,5);d(6,5)=a(8,5);d(8,5)=a(9,5);d(9,5)=a(10, 5);d(10,5)=a(11,5);d(11,5)=a(12,5);d(12,5)=a(14,5);d(14,5)=a(15,5);d(15,5)=a(16,5) ;d(16,5)=a(18,5);d(18,5)=a(20,5);d(20,5)=a(21,5);d(21,5)=a(22,5);d(22,5)=a(23,5);d (23,5)=a(25,5);d(25,5)=a(26,5);d(26,5)=a(27,5);d(27,5)=a(29,5);d(29,5)=a(30,5);d(3 0,5)=a(31,5);d(31,5)=a(32,5);d(32,5)=a(33,5);!untuk kereta k = 6; d(2,6)=a(4,6);d(4,6)=a(5,6);d(5,6)=a(6,6);d(6,6)=a(7,6);d(7,6)=a(9,6);d(9,6)=a(10, 6);d(10,6)=a(11,6);d(11,6)=a(13,6);d(13,6)=a(14,6);d(14,6)=a(15,6);d(15,6)=a(16,6) ;d(16,6)=a(17,6);d(17,6)=a(20,6);d(20,6)=a(21,6);d(21,6)=a(22,6);d(22,6)=a(23,6);d (23,6)=a(25,6);d(25,6)=a(26,6);d(26,6)=a(27,6);d(27,6)=a(29,6);d(29,6)=a(30,6);d(3 0,6)=a(31,6);d(31,6)=a(32,6);d(32,6)=a(35,6);!untuk kereta k = 7; d(34,7)=a(32,7);d(32,7)=a(31,7);d(31,7)=a(30,7);d(30,7)=a(28,7);d(28,7)=a(27,7);d( 27,7)=a(26,7);d(26,7)=a(25,7);d(25,7)=a(23,7);d(23,7)=a(22,7);d(22,7)=a(21,7);d(21,7)=a(20,7);d(20,7)=a(19,7);d(19,7)=a(16,7);d(16,7)=a(15,7);d(15,7)=a(14,7);d(14,7 )=a(12,7);d(12,7)=a(11,7);d(11,7)=a(10,7);d(10,7)=a(9,7);d(9,7)=a(7,7);d(7,7)=a(6, 7);d(6,7)=a(5,7);d(5,7)=a(4,7);d(4,7)=a(2,7);!untuk kereta k = 8; d(33,8)=a(32,8);d(32,8)=a(31,8);d(31,8)=a(30,8);d(30,8)=a(29,8);d(29,8)=a(27,8);d( 27,8)=a(26,8);d(26,8)=a(25,8);d(25,8)=a(24,8);d(24,8)=a(22,8);d(22,8)=a(21,8);d(21,8)=a(20,8);d(20,8)=a(18,8);d(18,8)=a(16,8);d(16,8)=a(15,8);d(15,8)=a(14,8);d(14,8 )=a(13,8);d(13,8)=a(11,8);d(11,8)=a(10,8);d(10,8)=a(9,8);d(9,8)=a(8,8);d(8,8)=a(6, 8);d(6,8)=a(5,8);d(5,8)=a(4,8);d(4,8)=a(3,8);!untuk kereta k = 9; d(35,9)=a(32,9);d(32,9)=a(31,9);d(31,9)=a(30,9);d(30,9)=a(29,9);d(29,9)=a(27,9);d( 27,9)=a(26,9);d(26,9)=a(25,9);d(25,9)=a(23,9);d(23,9)=a(22,9);d(22,9)=a(21,9);d(21,9)=a(20,9);d(20,9)=a(17,9);d(17,9)=a(16,9);d(16,9)=a(15,9);d(15,9)=a(14,9);d(14,9

31 22 )=a(13,9);d(13,9)=a(11,9);d(11,9)=a(10,9);d(10,9)=a(9,9);d(9,9)=a(7,9);d(7,9)=a(6, 9);d(6,9)=a(5,9);d(5,9)=a(4,9);d(4,9)=a(2,9);!untuk kereta k = 10; d(33,10)=a(32,10);d(32,10)=a(31,10);d(31,10)=a(30,10);d(30,10)=a(28,10);d(28,10)=a (27,10);d(27,10)=a(26,10);d(26,10)=a(25,10);d(25,10)=a(24,10);d(24,10)=a(22,10);d( 22,10)=a(21,10);d(21,10)=a(20,10);d(20,10)=a(19,10);d(19,10)=a(16,10);d(16,10)=a(1 5,10);d(15,10)=a(14,10);d(14,10)=a(12,10);d(12,10)=a(11,10);d(11,10)=a(10,10);d(10,10)=a(9,10);d(9,10)=a(8,10);d(8,10)=a(6,10);d(6,10)=a(5,10);d(5,10)=a(4,10);d(4,1 0)=a(1,10);!untuk kereta k = 11; d(35,11)=a(32,11);d(32,11)=a(31,11);d(31,11)=a(30,11);d(30,11)=a(29,11);d(29,11)=a (27,11);d(27,11)=a(26,11);d(26,11)=a(25,11);d(25,11)=a(24,11);d(24,11)=a(22,11);d( 22,11)=a(21,11);d(21,11)=a(20,11);d(20,11)=a(17,11);d(17,11)=a(16,11);d(16,11)=a(1 5,11);d(15,11)=a(14,11);d(14,11)=a(13,11);d(13,11)=a(11,11);d(11,11)=a(10,11);d(10,11)=a(9,11);d(9,11)=a(8,11);d(8,11)=a(6,11);d(6,11)=a(5,11);d(5,11)=a(4,11);d(4,1 1)=a(3,11);!untuk kereta k = 12; d(34,12)=a(32,12);d(32,12)=a(31,12);d(31,12)=a(30,12);d(30,12)=a(28,12);d(28,12)=a (27,12);d(27,12)=a(26,12);d(26,12)=a(25,12);d(25,12)=a(23,12);d(23,12)=a(22,12);d( 22,12)=a(21,12);d(21,12)=a(20,12);d(20,12)=a(19,12);d(19,12)=a(16,12);d(16,12)=a(1 5,12);d(15,12)=a(14,12);d(14,12)=a(12,12);d(12,12)=a(11,12);d(11,12)=a(10,12);d(10,12)=a(9,12);d(9,12)=a(7,12);d(7,12)=a(6,12);d(6,12)=a(5,12);d(5,12)=a(4,12);d(4,1 h#eq#33:@for(jalur(i) i#eq#1:@for(kereta(k) k#eq#1:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#35:@for(jalur(i) i#eq#3:@for(kereta(k) k#eq#2:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#33:@for(jalur(i) i#eq#2:@for(kereta(k) k#eq#3:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#34:@for(jalur(i) i#eq#1:@for(kereta(k) k#eq#4:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#33:@for(jalur(i) i#eq#3:@for(kereta(k) k#eq#5:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#35:@for(jalur(i) i#eq#2:@for(kereta(k) k#eq#6:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#2:@for(jalur(i) i#eq#34:@for(kereta(k) k#eq#7:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#3:@for(jalur(i) i#eq#33:@for(kereta(k) k#eq#8:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#2:@for(jalur(i) i#eq#35:@for(kereta(k) k#eq#9:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#1:@for(jalur(i) i#eq#33:@for(kereta(k) k#eq#10:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#3:@for(jalur(i) i#eq#35:@for(kereta(k) k#eq#11:d(h,k)-a(i,k)= h#eq#2:@for(jalur(i) i#eq#34:@for(kereta(k) end Global optimal solution found at iteration: 17 Objective value: Variable Value Reduced Cost DELAY( 2) DELAY( 6) DELAY( 8) D( 1, 1) D( 1, 4) D( 1, 10) D( 2, 3) D( 2, 6) D( 2, 7) D( 2, 9) D( 2, 12) D( 3, 2) D( 3, 5) D( 3, 8) D( 3, 11) D( 4, 1) D( 4, 2) D( 4, 3) D( 4, 4) D( 4, 5) D( 4, 6)

32 23 D( 4, 7) D( 4, 8) D( 4, 9) D( 4, 10) D( 4, 11) D( 4, 12) D( 5, 1) D( 5, 2) D( 5, 3) D( 5, 4) D( 5, 5) D( 5, 6) D( 5, 7) D( 5, 8) D( 5, 9) D( 5, 10) D( 5, 11) D( 5, 12) D( 6, 1) D( 6, 2) D( 6, 3) D( 6, 4) D( 6, 5) D( 6, 6) D( 6, 7) D( 6, 8) D( 6, 9) D( 6, 10) D( 6, 11) D( 6, 12) D( 7, 2) D( 7, 4) D( 7, 6) D( 7, 7) D( 7, 9) D( 7, 12) D( 8, 1) D( 8, 3) D( 8, 5) D( 8, 8) D( 8, 10) D( 8, 11) D( 9, 1) D( 9, 2) D( 9, 3) D( 9, 4) D( 9, 5) D( 9, 6) D( 9, 7) D( 9, 8) D( 9, 9) D( 9, 10) D( 9, 11) D( 9, 12) D( 10, 1) D( 10, 2) D( 10, 3) D( 10, 4) D( 10, 5) D( 10, 6) D( 10, 7) D( 10, 8) D( 10, 9) D( 10, 10) D( 10, 11) D( 10, 12) D( 11, 1) D( 11, 2) D( 11, 3) D( 11, 4) D( 11, 5) D( 11, 6) D( 11, 7) D( 11, 8) D( 11, 9) D( 11, 10) D( 11, 11) D( 11, 12) D( 12, 1) D( 12, 3) D( 12, 4) D( 12, 5) D( 12, 7) D( 12, 10) D( 12, 12) D( 13, 2) D( 13, 6) D( 13, 8) D( 13, 9) D( 13, 11) D( 14, 1) D( 14, 2) D( 14, 3) D( 14, 4) D( 14, 5) D( 14, 6) D( 14, 7) D( 14, 8) D( 14, 9) D( 14, 10) D( 14, 11) D( 14, 12) D( 15, 1) D( 15, 2) D( 15, 3) D( 15, 4) D( 15, 5) D( 15, 6) D( 15, 7) D( 15, 8) D( 15, 9) D( 15, 10) D( 15, 11) D( 15, 12) D( 16, 1) D( 16, 2) D( 16, 3) D( 16, 4) D( 16, 5) D( 16, 6) D( 16, 7) D( 16, 8) D( 16, 9) D( 16, 10) D( 16, 11) D( 16, 12) D( 17, 1) D( 17, 2) D( 17, 6) D( 17, 9) D( 17, 11) D( 18, 4) D( 18, 5) D( 18, 8) D( 19, 3) D( 19, 7) D( 19, 10) D( 19, 12) D( 20, 1) D( 20, 2) D( 20, 3) D( 20, 4) D( 20, 5) D( 20, 6) D( 20, 7) D( 20, 8) D( 20, 9) D( 20, 10)

33 24 D( 20, 11) D( 20, 12) D( 21, 1) D( 21, 2) D( 21, 3) D( 21, 4) D( 21, 5) D( 21, 6) D( 21, 7) D( 21, 8) D( 21, 9) D( 21, 10) D( 21, 11) D( 21, 12) D( 22, 1) D( 22, 2) D( 22, 3) D( 22, 4) D( 22, 5) D( 22, 6) D( 22, 7) D( 22, 8) D( 22, 9) D( 22, 10) D( 22, 11) D( 22, 12) D( 23, 2) D( 23, 3) D( 23, 5) D( 23, 6) D( 23, 7) D( 23, 9) D( 23, 12) D( 24, 1) D( 24, 4) D( 24, 8) D( 24, 10) D( 24, 11) D( 25, 1) D( 25, 2) D( 25, 3) D( 25, 4) D( 25, 5) D( 25, 6) D( 25, 7) D( 25, 8) D( 25, 9) D( 25, 10) D( 25, 11) D( 25, 12) D( 26, 1) D( 26, 2) D( 26, 3) D( 26, 4) D( 26, 5) D( 26, 6) D( 26, 7) D( 26, 8) D( 26, 9) D( 26, 10) D( 26, 11) D( 26, 12) D( 27, 1) D( 27, 2) D( 27, 3) D( 27, 4) D( 27, 5) D( 27, 6) D( 27, 7) D( 27, 8) D( 27, 9) D( 27, 10) D( 27, 11) D( 27, 12) D( 28, 1) D( 28, 2) D( 28, 4) D( 28, 7) D( 28, 10) D( 28, 12) D( 29, 3) D( 29, 5) D( 29, 6) D( 29, 8) D( 29, 9) D( 29, 11) D( 30, 1) D( 30, 2) D( 30, 3) D( 30, 4) D( 30, 5) D( 30, 6) D( 30, 7) D( 30, 8) D( 30, 9) D( 30, 10) D( 30, 11) D( 30, 12) D( 31, 1) D( 31, 2) D( 31, 3) D( 31, 4) D( 31, 5) D( 31, 6) D( 31, 7) D( 31, 8) D( 31, 9) D( 31, 10) D( 31, 11) D( 31, 12) D( 32, 1) D( 32, 2) D( 32, 3) D( 32, 4) D( 32, 5) D( 32, 6) D( 32, 7) D( 32, 8) D( 32, 9) D( 32, 10) D( 32, 11) D( 32, 12) D( 33, 1) D( 33, 3) D( 33, 5) D( 33, 8) D( 33, 10) D( 34, 4) D( 34, 7) D( 34, 12) D( 35, 2) D( 35, 6) D( 35, 9) D( 35, 11) A( 1, 1) A( 1, 4) A( 1, 10) A( 2, 3) A( 2, 6) A( 2, 7) A( 2, 9) A( 2, 12) A( 3, 2) A( 3, 5) A( 3, 8) A( 3, 11) A( 4, 1) A( 4, 2)

34 25 A( 4, 3) A( 4, 4) A( 4, 5) A( 4, 6) A( 4, 7) A( 4, 8) A( 4, 9) A( 4, 10) A( 4, 11) A( 4, 12) A( 5, 1) A( 5, 2) A( 5, 3) A( 5, 4) A( 5, 5) A( 5, 6) A( 5, 7) A( 5, 8) A( 5, 9) A( 5, 10) A( 5, 11) A( 5, 12) A( 6, 1) A( 6, 2) A( 6, 3) A( 6, 4) A( 6, 5) A( 6, 6) A( 6, 7) A( 6, 8) A( 6, 9) A( 6, 10) A( 6, 11) A( 6, 12) A( 7, 2) A( 7, 4) A( 7, 6) A( 7, 7) A( 7, 9) A( 7, 12) A( 8, 1) A( 8, 3) A( 8, 5) A( 8, 8) A( 8, 10) A( 8, 11) A( 9, 1) A( 9, 2) A( 9, 3) A( 9, 4) A( 9, 5) A( 9, 6) A( 9, 7) A( 9, 8) A( 9, 9) A( 9, 10) A( 9, 11) A( 9, 12) A( 10, 1) A( 10, 2) A( 10, 3) A( 10, 4) A( 10, 5) A( 10, 6) A( 10, 7) A( 10, 8) A( 10, 9) A( 10, 10) A( 10, 11) A( 10, 12) A( 11, 1) A( 11, 2) A( 11, 3) A( 11, 4) A( 11, 5) A( 11, 6) A( 11, 7) A( 11, 8) A( 11, 9) A( 11, 10) A( 11, 11) A( 11, 12) A( 12, 1) A( 12, 3) A( 12, 4) A( 12, 5) A( 12, 7) A( 12, 10) A( 12, 12) A( 13, 2) A( 13, 6) A( 13, 8) A( 13, 9) A( 13, 11) A( 14, 1) A( 14, 2) A( 14, 3) A( 14, 4) A( 14, 5) A( 14, 6) A( 14, 7) A( 14, 8) A( 14, 9) A( 14, 10) A( 14, 11) A( 14, 12) A( 15, 1) A( 15, 2) A( 15, 3) A( 15, 4) A( 15, 5) A( 15, 6) A( 15, 7) A( 15, 8) A( 15, 9) A( 15, 10) A( 15, 11) A( 15, 12) A( 16, 1) A( 16, 2) A( 16, 3) A( 16, 4) A( 16, 5) A( 16, 6) A( 16, 7) A( 16, 8) A( 16, 9) A( 16, 10) A( 16, 11) A( 16, 12) A( 17, 1) A( 17, A( 17, 6) A( 17, 9) A( 17, 11) A( 18, 4) A( 18, 5) A( 18, 8) A( 19, 3) A( 19, 7) A( 19, 10) A( 19, 12) A( 20, 1) A( 20, 2) A( 20, 3) A( 20, 4) A( 20, 5) A( 20, 6)

35 26 A( 20, 7) A( 20, 8) A( 20, 9) A( 20, 10) A( 20, 11) A( 20, 12) A( 21, 1) A( 21, 2) A( 21, 3) A( 21, 4) A( 21, 5) A( 21, 6) A( 21, 7) A( 21, 8) A( 21, 9) A( 21, 10) A( 21, 11) A( 21, 12) A( 22, 1) A( 22, 2) A( 22, 3) A( 22, 4) A( 22, 5) A( 22, 6) A( 22, 7) A( 22, 8) A( 22, 9) A( 22, 10) A( 22, 11) A( 22, 12) A( 23, 2) A( 23, 3) A( 23, 5) A( 23, 6) A( 23, 7) A( 23, 9) A( 23, 12) A( 24, 1) A( 24, 4) A( 24, 8) A( 24, 10) A( 24, 11) A( 25, 1) A( 25, 2) A( 25, 3) A( 25, 4) A( 25, 5) A( 25, 6) A( 25, 7) A( 25, 8) A( 25, 9) A( 25, 10) A( 25, 11) A( 25, 12) A( 26, 1) A( 26, 2) A( 26, 3) A( 26, 4) A( 26, 5) A( 26, 6) A( 26, 7) A( 26, 8) A( 26, 9) A( 26, 10) A( 26, 11) A( 26, 12) A( 27, 1) A( 27, 2) A( 27, 3) A( 27, 4) A( 27, 5) A( 27, 6) A( 27, 7) A( 27, 8) A( 27, 9) A( 27, 10) A( 27, 11) A( 27, 12) A( 28, 1) A( 28, 2) A( 28, 4) A( 28, 7) A( 28, 10) A( 28, 12) A( 29, 3) A( 29, 5) A( 29, 6) A( 29, 8) A( 29, 9) A( 29, 11) A( 30, 1) A( 30, 2) A( 30, 3) A( 30, 4) A( 30, 5) A( 30, 6) A( 30, 7) A( 30, 8) A( 30, 9) A( 30, 10) A( 30, 11) A( 30, 12) A( 31, 1) A( 31, 2) A( 31, 3) A( 31, 4) A( 31, 5) A( 31, 6) A( 31, 7) A( 31, 8) A( 31, 9) A( 31, 10) A( 31, 11) A( 31, 12) A( 32, 1) A( 32, 2) A( 32, 3) A( 32, 4) A( 32, 5) A( 32, 6) A( 32, 7) A( 32, 8) A( 32, 9) A( 32, 10) A( 32, 11) A( 32, 12) A( 33, 1) A( 33, 3) A( 33, 5) A( 33, 8) A( 33, 10) A( 34, 4) A( 34, 12) A( 35, 2) A( 35, 6) A( 35, 9) A( 35, 11) Y( 5, 2) Y( 5, 6) Y( 33, 8) Row Slack or Surplus Dual Price

36 27

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin tingginya mobilitas penduduk di suatu negara terutama di kota besar tentulah memiliki banyak permasalahan, mulai dari kemacetan yang tak terselesaikan hingga moda

Lebih terperinci

II LANDASAN TEORI. suatu fungsi dalam variabel-variabel. adalah suatu fungsi linear jika dan hanya jika untuk himpunan konstanta,.

II LANDASAN TEORI. suatu fungsi dalam variabel-variabel. adalah suatu fungsi linear jika dan hanya jika untuk himpunan konstanta,. II LANDASAN TEORI Pada pembuatan model penjadwalan pertandingan sepak bola babak kualifikasi Piala Dunia FIFA 2014 Zona Amerika Selatan, diperlukan pemahaman beberapa teori yang digunakan di dalam penyelesaiannya,

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kamar darurat (Emergency Room/ER) adalah tempat yang sangat penting peranannya pada rumah sakit. Aktivitas yang cukup padat mengharuskan kamar darurat selalu dijaga oleh

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah penentuan rute bus karyawan mendapat perhatian dari para peneliti selama lebih kurang 30 tahun belakangan ini. Masalah optimisasi rute bus karyawan secara matematis

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana alam merupakan interupsi signifikan terhadap kegiatan operasional sehari-hari yang bersifat normal dan berkesinambungan. Interupsi ini dapat menyebabkan entitas

Lebih terperinci

sejumlah variabel keputusan; fungsi yang akan dimaksimumkan atau diminimumkan disebut sebagai fungsi objektif, Ax = b, dengan = dapat

sejumlah variabel keputusan; fungsi yang akan dimaksimumkan atau diminimumkan disebut sebagai fungsi objektif, Ax = b, dengan = dapat sejumlah variabel keputusan; fungsi yang akan dimaksimumkan atau diminimumkan disebut sebagai fungsi objektif nilai variabel-variabel keputusannya memenuhi suatu himpunan kendala yang berupa persamaan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar elakang Sepak bola merupakan olahraga yang populer di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Sepak bola sebenarnya memiliki perangkat-perangkat penting yang harus ada dalam penyelenggaraannya,

Lebih terperinci

PENJADWALAN MATA KULIAH MENGGUNAKAN INTEGER NONLINEAR PROGRAMMING Studi Kasus di Bina Sarana Informatika Bogor ERLIYANA

PENJADWALAN MATA KULIAH MENGGUNAKAN INTEGER NONLINEAR PROGRAMMING Studi Kasus di Bina Sarana Informatika Bogor ERLIYANA PENJADWALAN MATA KULIAH MENGGUNAKAN INTEGER NONLINEAR PROGRAMMING Studi Kasus di Bina Sarana Informatika Bogor ERLIYANA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI 0 I PEDAHULUA. Latar Belakang Peternakan didefinisikan sebagai suatu usaha untuk membudidayakan hewan ternak. Jika dilihat dari enis hewan yang diternakkan, terdapat berbagai enis peternakan, salah satunya

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sukarelawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang secara ikhlas karena panggilan nuraninya memberikan apa yang dimilikinya tanpa mengharapkan imbalan. Sukarelawan

Lebih terperinci

PENJADWALAN DISTRIBUSI BARANG MENGGUNAKAN MIXED INTEGER PROGRAMMING LAISANOPACI

PENJADWALAN DISTRIBUSI BARANG MENGGUNAKAN MIXED INTEGER PROGRAMMING LAISANOPACI PENJADWALAN DISTRIBUSI BARANG MENGGUNAKAN MIXED INTEGER PROGRAMMING LAISANOPACI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN 11 Latar Belakang Manajemen operasi suatu industri penerbangan merupakan suatu permasalahan Operations Research yang kompleks Secara umum, perusahaan dihadapkan pada berbagai persoalan dalam

Lebih terperinci

PEMROGRAMAN INTEGER DENGAN FUNGSI OBJEKTIF LINEAR SEPOTONG - SEPOTONG

PEMROGRAMAN INTEGER DENGAN FUNGSI OBJEKTIF LINEAR SEPOTONG - SEPOTONG PEMROGRAMAN INTEGER DENGAN FUNGSI OBJEKTIF LINEAR SEPOTONG - SEPOTONG Oleh : FEBIANA RESI SAPTA G540037 DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 008

Lebih terperinci

PENJADWALAN OPERASI BEDAH MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING : STUDI KASUS OPTIMASI WAKTU TARGET AHLI BEDAH DI RUMAH SAKIT JAKARTA EYE CENTER

PENJADWALAN OPERASI BEDAH MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING : STUDI KASUS OPTIMASI WAKTU TARGET AHLI BEDAH DI RUMAH SAKIT JAKARTA EYE CENTER 1 PENJADWALAN OPERASI BEDAH MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING : STUDI KASUS OPTIMASI WAKTU TARGET AHLI BEDAH DI RUMAH SAKIT JAKARTA EYE CENTER FENNY RISNITA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan bagian penting dari sumber daya alam yang mempunyai karakteristik unik, karena air bersifat terbarukan dan dinamis. Ini artinya sumber utama air yang berupa

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf Definisi 1 (Graf, Graf Berarah dan Graf Takberarah) 2.2 Linear Programming

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf Definisi 1 (Graf, Graf Berarah dan Graf Takberarah) 2.2 Linear Programming 4 II TINJAUAN PUSTAKA Untuk memahami permasalahan yang berhubungan dengan penentuan rute optimal kendaraan dalam mendistribusikan barang serta menentukan solusinya maka diperlukan beberapa konsep teori

Lebih terperinci

PENJADWALAN DOKTER KAMAR DARURAT DI RSCM MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER RATNA RATU ALIT

PENJADWALAN DOKTER KAMAR DARURAT DI RSCM MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER RATNA RATU ALIT PENJADWALAN DOKTER KAMAR DARURAT DI RSCM MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER RATNA RATU ALIT DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 ABSTRACT

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu observasi yang berguna dalam bidang komputasi di tahun 1970 adalah observasi terhadap permasalahan relaksasi Lagrange. Josep Louis Lagrange merupakan tokoh ahli

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Riset Operasi Masalah pengoptimalan timbul sejak adanya usaha untuk menggunakan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah manajemen suatu organisasi. Sebenarnya kegiatan yang

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PUZZLE SUDOKU MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER MUHAMAD FARDAN WARDHANA

PENYELESAIAN PUZZLE SUDOKU MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER MUHAMAD FARDAN WARDHANA PENYELESAIAN PUZZLE SUDOKU MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER MUHAMAD FARDAN WARDHANA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 ABSTRAK

Lebih terperinci

PENGOPTIMUMAN BERBASIS DUAL MASALAH PENJADWALAN TIGA HARI KERJA DALAM SEMINGGU SECARA SIKLIS NUR HADI

PENGOPTIMUMAN BERBASIS DUAL MASALAH PENJADWALAN TIGA HARI KERJA DALAM SEMINGGU SECARA SIKLIS NUR HADI PENGOPTIMUMAN BERBASIS DUAL MASALAH PENJADWALAN TIGA HARI KERJA DALAM SEMINGGU SECARA SIKLIS NUR HADI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

Oleh: Dwi Agustina Sapriyanti (1) Khusnul Novianingsih (2) Husty Serviana Husain (2) ABSTRAK

Oleh: Dwi Agustina Sapriyanti (1) Khusnul Novianingsih (2) Husty Serviana Husain (2) ABSTRAK MODEL OPTIMASI PENJADWALAN KERETA API (Studi Kasus pada Jadwal Kereta Api di PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 2 Bandung Lintasan Bandung-Cicalengka) Oleh: Dwi Agustina Sapriyanti (1) Khusnul Novianingsih

Lebih terperinci

Lampiran 1 Syntax Program LINGO 11.0 untuk Menyelesaikan Masalah Pemrograman Linear dengan Metode Branch-and-Bound beserta Hasil yang Diperoleh

Lampiran 1 Syntax Program LINGO 11.0 untuk Menyelesaikan Masalah Pemrograman Linear dengan Metode Branch-and-Bound beserta Hasil yang Diperoleh LAMPIRAN 26 27 Lampiran 1 Syntax Program LINGO 11.0 untuk Menyelesaikan Masalah Pemrograman Linear dengan Metode Branch-and-Bound beserta Hasil yang Diperoleh 1) LP-relaksasi masalah (6) Max z = 3x1+ 5x2

Lebih terperinci

PENGOPTIMUMAN MASALAH PENJADWALAN EMPAT HARI KERJA DALAM SEMINGGU SECARA SIKLIS BERBASIS DUAL ARIYANTO PAMUNGKAS

PENGOPTIMUMAN MASALAH PENJADWALAN EMPAT HARI KERJA DALAM SEMINGGU SECARA SIKLIS BERBASIS DUAL ARIYANTO PAMUNGKAS PENGOPTIMUMAN MASALAH PENJADWALAN EMPAT HARI KERJA DALAM SEMINGGU SECARA SIKLIS BERBASIS DUAL ARIYANTO PAMUNGKAS DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

PENYELESAIAN MASALAH PENJADWALAN PERTANDINGAN SEPAK BOLA DENGAN SISTEM ROUND-ROBIN ABDILLAH

PENYELESAIAN MASALAH PENJADWALAN PERTANDINGAN SEPAK BOLA DENGAN SISTEM ROUND-ROBIN ABDILLAH PENYELESAIAN MASALAH PENJADWALAN PERTANDINGAN SEPAK BOLA DENGAN SISTEM ROUND-ROBIN ABDILLAH DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 PENYELESAIAN

Lebih terperinci

PENJADWALAN PERAWAT KAMAR OPERASI MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN INTEGER: STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT OMNI INTERNASIONAL TANGERANG VIANEY CHRISTINE AMBARITA

PENJADWALAN PERAWAT KAMAR OPERASI MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN INTEGER: STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT OMNI INTERNASIONAL TANGERANG VIANEY CHRISTINE AMBARITA PENJADWALAN PERAWAT KAMAR OPERASI MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN INTEGER: STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT OMNI INTERNASIONAL TANGERANG VIANEY CHRISTINE AMBARITA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

Daerah fisibel untuk masalah IP di atas diberikan pada gambar berikut :

Daerah fisibel untuk masalah IP di atas diberikan pada gambar berikut : L A M P I R A N 3 4 Lampiran Contoh penyelesaian suatu LP dengan metode branch and bound Dari LP pada Contoh Misalkan diberikan integer programming berikut: Maksimumkan z = 7x + 5x () Terhadap : x + x

Lebih terperinci

PENYELESAIAN MASALAH PENGIRIMAN PAKET KILAT UNTUK JENIS NEXT-DAY SERVICE DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PEMBANGKITAN KOLOM. Oleh: WULAN ANGGRAENI G

PENYELESAIAN MASALAH PENGIRIMAN PAKET KILAT UNTUK JENIS NEXT-DAY SERVICE DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PEMBANGKITAN KOLOM. Oleh: WULAN ANGGRAENI G PENYELESAIAN MASALAH PENGIRIMAN PAKET KILAT UNTUK JENIS NEXT-DAY SERVICE DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PEMBANGKITAN KOLOM Oleh: WULAN ANGGRAENI G54101038 PROGRAM STUDI MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

Lebih terperinci

MODEL OPTIMASI PENDISTRIBUSIAN LOGISTIK BENCANA ALAM ELLY ZUNARA

MODEL OPTIMASI PENDISTRIBUSIAN LOGISTIK BENCANA ALAM ELLY ZUNARA MODEL OPTIMASI PENDISTRIBUSIAN LOGISTIK BENCANA ALAM ELLY ZUNARA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2 ABSTRACT ELLY ZUNARA. Optimization

Lebih terperinci

IV STUDI KASUS. sebagai stasiun awal. Rute 5 meliputi stasiun. 3, 9, 13, 14, 15, 16, 17 dengan stasiun 3. 4, 10, 15, 18, 19, 22, 23 dengan stasiun 4

IV STUDI KASUS. sebagai stasiun awal. Rute 5 meliputi stasiun. 3, 9, 13, 14, 15, 16, 17 dengan stasiun 3. 4, 10, 15, 18, 19, 22, 23 dengan stasiun 4 0 IV STUDI KASUS Misalkan pada suatu daerah terdapat jaringan rel kereta. Jaringan rel kereta tersebut memiliki 3 stasiun dengan 3 edge antarstasiun. Gambar jaringan dapat dilihat pada Gambar 6. Angka

Lebih terperinci

MASALAH PENJADWALAN KERETA SECARA PERIODIK DENGAN BIAYA MINIMUM PADA JALUR GANDA MUHAMMAD RIZQY HIDAYATSYAH

MASALAH PENJADWALAN KERETA SECARA PERIODIK DENGAN BIAYA MINIMUM PADA JALUR GANDA MUHAMMAD RIZQY HIDAYATSYAH MASALAH PENJADWALAN KERETA SECARA PERIODIK DENGAN BIAYA MINIMUM PADA JALUR GANDA MUHAMMAD RIZQY HIDAYATSYAH DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN Pada bab ini, akan dijelaskan metode-metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini. Adapun metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Simpleks dan Metode Branch

Lebih terperinci

MASALAH PENGOPTIMUMAN MULTIKRITERIA DALAM PENJADWALAN TENAGA SUKARELAWAN DI DAERAH BENCANA ALBRIAN WEDHASWARA MURTANTO

MASALAH PENGOPTIMUMAN MULTIKRITERIA DALAM PENJADWALAN TENAGA SUKARELAWAN DI DAERAH BENCANA ALBRIAN WEDHASWARA MURTANTO MASALAH PENGOPTIMUMAN MULTIKRITERIA DALAM PENJADWALAN TENAGA SUKARELAWAN DI DAERAH BENCANA ALBRIAN WEDHASWARA MURTANTO DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

OPTIMASI BIAYA OPERASIONAL KERETA API DALAM SISTEM LOOP LINE MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN INTEGER TAKLINEAR NOVARIA YUSRI

OPTIMASI BIAYA OPERASIONAL KERETA API DALAM SISTEM LOOP LINE MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN INTEGER TAKLINEAR NOVARIA YUSRI OPTIMASI BIAYA OPERASIONAL KERETA API DALAM SISTEM LOOP LINE MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN INTEGER TAKLINEAR NOVARIA YUSRI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM PENYELESAIAN MASALAH PADA INTEGER PROGRAMMING

PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM PENYELESAIAN MASALAH PADA INTEGER PROGRAMMING Jurnal Manajemen Informatika dan Teknik Komputer Volume, Nomor, Oktober 05 PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM PENYELESAIAN MASALAH PADA INTEGER PROGRAMMING Havid Syafwan Program Studi Manajemen Informatika

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Linier Program linier merupakan suatu model matematika untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber yang tersedia. Kata linier digunakan untuk menunjukkan

Lebih terperinci

III MODEL PENJADWALAN

III MODEL PENJADWALAN 3 Ax = B N x B x = Bx B + Nx N = b. (5) N Karena matriks B adalah matriks taksingular, maka B memiliki invers, sehingga dari (5) x B dapat dinyatakan sebagai: x B = B 1 b B 1 Nx N. (6) Kemudian fungsi

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE BUS KARYAWAN MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER ZIL ARIFAH

PENENTUAN RUTE BUS KARYAWAN MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER ZIL ARIFAH PENENTUAN RUTE BUS KARYAWAN MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER ZIL ARIFAH DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PENENTUAN RUTE BUS

Lebih terperinci

PERBANDINGAN ANALISIS SENSITIVITAS MENGGUNAKAN PARTISI OPTIMAL DAN BASIS OPTIMAL PADA OPTIMASI LINEAR MIRNA SARI DEWI

PERBANDINGAN ANALISIS SENSITIVITAS MENGGUNAKAN PARTISI OPTIMAL DAN BASIS OPTIMAL PADA OPTIMASI LINEAR MIRNA SARI DEWI PERBANDINGAN ANALISIS SENSITIVITAS MENGGUNAKAN PARTISI OPTIMAL DAN BASIS OPTIMAL PADA OPTIMASI LINEAR MIRNA SARI DEWI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Linier Menurut Aminudin (2005), program linier merupakan suatu model matematika untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber yang tersedia. Kata linier

Lebih terperinci

OPTIMASI RUTE PENERBANGAN MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING: STUDI KASUS DI PT CITILINK ELYSA FITRIYANI

OPTIMASI RUTE PENERBANGAN MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING: STUDI KASUS DI PT CITILINK ELYSA FITRIYANI OPTIMASI RUTE PENERBANGAN MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING: STUDI KASUS DI PT CITILINK ELYSA FITRIYANI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

Bab 2 LANDASAN TEORI

Bab 2 LANDASAN TEORI Bab 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Linear Menurut Sitorus, Parlin (1997), Program Linier merupakan suatu teknik penyelesaian optimal atas suatu problema keputusan dengan cara menentukan terlebih dahulu suatu

Lebih terperinci

kita menggunakan variabel semu untuk memulai pemecahan, dan meninggalkannya setelah misi terpenuhi

kita menggunakan variabel semu untuk memulai pemecahan, dan meninggalkannya setelah misi terpenuhi Lecture 4: (B) Supaya terdapat penyelesaian basis awal yang fisibel, pada kendala berbentuk = dan perlu ditambahkan variabel semu (artificial variable) pada ruas kiri bentuk standarnya, untuk siap ke tabel

Lebih terperinci

OPTIMASI BIAYA ANTISIPASI BENCANA ALAM MEIDINA FITRIANTI

OPTIMASI BIAYA ANTISIPASI BENCANA ALAM MEIDINA FITRIANTI OPTIMASI BIAYA ANTISIPASI BENCANA ALAM MEIDINA FITRIANTI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

Lebih terperinci

MINIMALISASI KETERLAMBATAN KERETA API (STUDI KASUS PADA JADWAL KERETA API DI PT KERETA API INDONESIA DAOP IV SEMARANG)

MINIMALISASI KETERLAMBATAN KERETA API (STUDI KASUS PADA JADWAL KERETA API DI PT KERETA API INDONESIA DAOP IV SEMARANG) Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Terapannya 2016 p-issn : 2550-0384; e-issn : 2550-0392 MINIMALISASI KETERLAMBATAN KERETA API (STUDI KASUS PADA JADWAL KERETA API DI PT KERETA API INDONESIA DAOP

Lebih terperinci

MASALAH PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR: Studi Kasus di Lembaga Bimbingan Belajar BTA Bogor BIMA SAPUTRA

MASALAH PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR: Studi Kasus di Lembaga Bimbingan Belajar BTA Bogor BIMA SAPUTRA MASALAH PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR: Studi Kasus di Lembaga Bimbingan Belajar BTA Bogor BIMA SAPUTRA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

PENJADWALAN MESIN KEMAS IDENTIK PARALEL PADA INDUSTRI YOGHURT MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER SLAMET RIYADI

PENJADWALAN MESIN KEMAS IDENTIK PARALEL PADA INDUSTRI YOGHURT MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER SLAMET RIYADI PENJADWALAN MESIN KEMAS IDENTIK PARALEL PADA INDUSTRI YOGHURT MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER SLAMET RIYADI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

III RELAKSASI LAGRANGE

III RELAKSASI LAGRANGE III RELAKSASI LAGRANGE Relaksasi Lagrange merupakan salah satu metode yang terus dikembangkan dalam aplikasi pemrograman matematik. Sebagian besar konsep teoretis dari banyak aplikasi menggunakan metode

Lebih terperinci

PENJADWALAN SIARAN IKLAN PADA TELEVISI MENGGUNAKAN METODE INTEGER LINEAR PROGRAMMING DAN METODE HEURISTIK DEVINA ANGGRAINI

PENJADWALAN SIARAN IKLAN PADA TELEVISI MENGGUNAKAN METODE INTEGER LINEAR PROGRAMMING DAN METODE HEURISTIK DEVINA ANGGRAINI PENJADWALAN SIARAN IKLAN PADA TELEVISI MENGGUNAKAN METODE INTEGER LINEAR PROGRAMMING DAN METODE HEURISTIK DEVINA ANGGRAINI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 0 BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obek Kaian.. Universitas Terbuka Universitas Terbuka (UT) yang diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 4 September 984 sebagai universitas negeri yang ke-45 dengan Keputusan

Lebih terperinci

PENJADWALAN KARYAWAN MENGGUNAKAN INTEGER LINEAR PROGRAMMING: STUDI KASUS DI TAMAN AIR TIRTAMAS PALEM INDAH JAKARTA PUTRI AGUSTINA EVERIA

PENJADWALAN KARYAWAN MENGGUNAKAN INTEGER LINEAR PROGRAMMING: STUDI KASUS DI TAMAN AIR TIRTAMAS PALEM INDAH JAKARTA PUTRI AGUSTINA EVERIA PENJADWALAN KARYAWAN MENGGUNAKAN INTEGER LINEAR PROGRAMMING: STUDI KASUS DI TAMAN AIR TIRTAMAS PALEM INDAH JAKARTA PUTRI AGUSTINA EVERIA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Linier Program linier adalah suatu cara untuk menyelesaikan persoalan pengalokasian sumber-sumber yang terbatas di antara beberapa aktivitas yang bersaing, dengan cara

Lebih terperinci

PENYELESAIAN MASALAH PENJADWALAN MATA PELAJARAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER MAHNURI

PENYELESAIAN MASALAH PENJADWALAN MATA PELAJARAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER MAHNURI PENYELESAIAN MASALAH PENJADWALAN MATA PELAJARAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER MAHNURI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

PENGOPTIMUMAN PADA MASALAH PEMROGRAMAN LINEAR DENGAN KOEFISIEN INTERVAL ANA FARIDA

PENGOPTIMUMAN PADA MASALAH PEMROGRAMAN LINEAR DENGAN KOEFISIEN INTERVAL ANA FARIDA i PENGOPTIMUMAN PADA MASALAH PEMROGRAMAN LINEAR DENGAN KOEFISIEN INTERVAL ANA FARIDA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 i ABSTRAK ANA

Lebih terperinci

PENJADWALAN MATA KULIAH DENGAN MEMINIMUMKAN BANYAKNYA RUANGAN REGITA FEBRIYANTI SAMANTA

PENJADWALAN MATA KULIAH DENGAN MEMINIMUMKAN BANYAKNYA RUANGAN REGITA FEBRIYANTI SAMANTA PENJADWALAN MATA KULIAH DENGAN MEMINIMUMKAN BANYAKNYA RUANGAN REGITA FEBRIYANTI SAMANTA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN

Lebih terperinci

Metode Simpleks (Simplex Method) Materi Bahasan

Metode Simpleks (Simplex Method) Materi Bahasan Metode Simpleks (Simplex Method) Kuliah 03 TI2231 Penelitian Operasional I 1 Materi Bahasan 1 Rumusan Pemrograman linier dalam bentuk baku 2 Pemecahan sistem persamaan linier 3 Prinsip-prinsip metode simpleks

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syntax Program LINGO 11.0 untuk Menyelesaikan Masalah Pemrograman Linear dengan Metode Branch and Bound beserta Hasil yang Diperoleh

Lampiran 1. Syntax Program LINGO 11.0 untuk Menyelesaikan Masalah Pemrograman Linear dengan Metode Branch and Bound beserta Hasil yang Diperoleh 2 LAMPIRAN 22 Lampiran Syntax Program LINGO. untuk Menyelesaikan Masalah Pemrograman Linear dengan Metode Branch and Bound beserta Hasil yang Diperoleh ) PLrelaksasi dari ILP (8) Maksimumkan z = 6x + x2

Lebih terperinci

Bab 2 LANDASAN TEORI

Bab 2 LANDASAN TEORI Bab 2 LANDASAN TEORI 2.1 Linear Programming Linear Programming (LP) merupakan metode yang digunakan untuk mencapai hasil terbaik (optimal) seperti keuntungan maksimum atau biaya minimum dalam model matematika

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan dari industri atau perusahaan adalah menciptakan laba yang maksimal. Salah satu bentuk usahanya adalah dengan memaksimumkan hasil produksi atau meminimumkan

Lebih terperinci

UJM 3 (2) (2014) UNNES Journal of Mathematics.

UJM 3 (2) (2014) UNNES Journal of Mathematics. UJM 3 (2) (2014) UNNES Journal of Mathematics http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujm IMPLEMENTASI ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA 0-1 KNAPSACK PROBLEM UNTUK MENGOPTIMALKAN MUATAN BARANG Arum Pratiwi,

Lebih terperinci

III PEMODELAN MASALAH PENJADWALAN KERETA API DAN APLIKASINYA

III PEMODELAN MASALAH PENJADWALAN KERETA API DAN APLIKASINYA 8 sidding petak jalan petak blok Keterangan: Stasiun Sinyal Crossing Overtaking Gambar 5 Ilustrasi dari istilah perkeretaapian. III PEMODELAN MASALAH PENJADWALAN KERETA API DAN APLIKASINYA 3.1 Model Matematika

Lebih terperinci

METODE SIMPLEKS DALAM PROGRAM LINIER

METODE SIMPLEKS DALAM PROGRAM LINIER METODE SIMPLEKS DALAM PROGRAM LINIER Dian Wirdasari Abstrak Metode simpleks merupakan salah satu teknik penyelesaian dalam program linier yang digunakan sebagai teknik pengambilan keputusan dalam permasalahan

Lebih terperinci

PENJADWALAN MATA PELAJARAN DI SEKOLAH: STUDI KASUS DI SMPIT NURUL FAJAR BOGOR MUHAMMAD IZZUDDIN

PENJADWALAN MATA PELAJARAN DI SEKOLAH: STUDI KASUS DI SMPIT NURUL FAJAR BOGOR MUHAMMAD IZZUDDIN PENJADWALAN MATA PELAJARAN DI SEKOLAH: STUDI KASUS DI SMPIT NURUL FAJAR BOGOR MUHAMMAD IZZUDDIN DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 PERNYATAAN

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Program Linier Penyelesaian program linear dengan algoritma interior point dapat merupakan sebuah penyelesaian persoalan yang kompleks. Permasalahan dalam program linier mungkin

Lebih terperinci

MODEL OPTIMISASI PENGGUNAAN BINATANG BURUAN SECARA KONSUMTIF AHDIANI FEBRIYANTI G

MODEL OPTIMISASI PENGGUNAAN BINATANG BURUAN SECARA KONSUMTIF AHDIANI FEBRIYANTI G MODEL OPTIMISASI PENGGUNAAN BINATANG BURUAN SECARA KONSUMTIF AHDIANI FEBRIYANTI G54104020 DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 2 ABSTRAK

Lebih terperinci

TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN KENDALA TIME WINDOWS ACHMAD KAMILLUDDIN

TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN KENDALA TIME WINDOWS ACHMAD KAMILLUDDIN TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN KENDALA TIME WINDOWS ACHMAD KAMILLUDDIN DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

Lebih terperinci

PENYELESAIAN MASALAH PENUGASAN YANG DIPERUMUM DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA BRANCH-AND-BOUND YANG DIREVISI

PENYELESAIAN MASALAH PENUGASAN YANG DIPERUMUM DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA BRANCH-AND-BOUND YANG DIREVISI PENYELESAIAN MASALAH PENUGASAN YANG DIPERUMUM DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA BRANCH-AND-BOUND YANG DIREVISI Siti Nur Aisyah 1), Khusnul Novianingsih 2), Entit Puspita 3) 1), 2), 3) Departemen Pendidikan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perencanaan Produksi

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perencanaan Produksi BAB 2 LANDASAN TEORI 21 Perencanaan Produksi Produksi yang dalam bahasa inggris disebut production adalah keseluruhan proses yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa Produk yang dihasilkan sebagai

Lebih terperinci

MODEL OPTIMASI JADWAL UJIAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA UNIVERSITAS TERBUKA ASMARA IRIANI TARIGAN

MODEL OPTIMASI JADWAL UJIAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA UNIVERSITAS TERBUKA ASMARA IRIANI TARIGAN MODEL OPTIMASI JADWAL UJIAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA UNIVERSITAS TERBUKA ASMARA IRIANI TARIGAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini akan diuraikan mengenai metode-metode ilmiah dari teori-teori yang digunakan dalam penyelesaian persoalan untuk menentukan model program linier dalam produksi.. 2.1 Teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan Kereta api merupakan salah satu angkutan darat yang banyak diminati masyarakat, hal ini dikarenakan biaya yang relatif murah dan waktu tempuh yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Dalam setiap perusahaan berusaha untuk menghasilkan nilai yang optimal dengan biaya tertentu yang dikeluarkannya. Proses penciptaan nilai yang optimal dapat

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... LEMBAR PERNYATAAN... HALAMAN PERSEMBAHAN... HALAMAN MOTTO... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL...

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... LEMBAR PERNYATAAN... HALAMAN PERSEMBAHAN... HALAMAN MOTTO... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... LEMBAR PERNYATAAN... HALAMAN PERSEMBAHAN... HALAMAN MOTTO... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... INTISARI... ABSTRACT...

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program Integer Program Integer merupakan pengembangan dari Program Linear dimana beberapa atau semua variabel keputusannya harus berupa integer. Jika hanya sebagian variabel

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pemrograman nonlinear, fungsi konveks dan konkaf, pengali lagrange, dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pemrograman nonlinear, fungsi konveks dan konkaf, pengali lagrange, dan BAB II KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka pada bab ini akan membahas tentang pengertian dan penjelasan yang berkaitan dengan fungsi, turunan parsial, pemrograman linear, pemrograman nonlinear, fungsi konveks

Lebih terperinci

MODEL OPTIMASI JADWAL UJIAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA UNIVERSITAS TERBUKA ASMARA IRIANI TARIGAN

MODEL OPTIMASI JADWAL UJIAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA UNIVERSITAS TERBUKA ASMARA IRIANI TARIGAN MODEL OPTIMASI JADWAL UJIAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA UNIVERSITAS TERBUKA ASMARA IRIANI TARIGAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan

Lebih terperinci

MASALAH PENDISTRIBUSIAN BARANG MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER ANGGUN ARYANTI

MASALAH PENDISTRIBUSIAN BARANG MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER ANGGUN ARYANTI MASALAH PENDISTRIBUSIAN BARANG MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER ANGGUN ARYANTI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN

Lebih terperinci

PENJADWALAN BUS TRANSJAKARTA UNTUK MEMINIMUMKAN BIAYA OPERASIONAL NURISMA

PENJADWALAN BUS TRANSJAKARTA UNTUK MEMINIMUMKAN BIAYA OPERASIONAL NURISMA PENJADWALAN BUS TRANSJAKARTA UNTUK MEMINIMUMKAN BIAYA OPERASIONAL NURISMA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ABSTRAK NURISMA. Penjadwalan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Program Linear Program Linear adalah suatu cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah optimasi suatu model linear dengan berbagai kendala yang dihadapinya. Masalah program

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Linear Programming 2.1.1 Model Linier Programming Pemrograman linier adalah sebuah model matematik untuk menjelaskan suatu persoalan optimasi. Istilah linier menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

PENYELESAIAN MAGIC SQUARE SEBAGAI PERMASALAHAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) RISMANTO FERNANDUS SIRINGO-RINGO

PENYELESAIAN MAGIC SQUARE SEBAGAI PERMASALAHAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) RISMANTO FERNANDUS SIRINGO-RINGO PENYELESAIAN MAGIC SQUARE SEBAGAI PERMASALAHAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) RISMANTO FERNANDUS SIRINGO-RINGO DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

PENJADWALAN MATA KULIAH MAYOR-MINOR: STUDI KASUS DI FMIPA IPB NUR APRIANDINI

PENJADWALAN MATA KULIAH MAYOR-MINOR: STUDI KASUS DI FMIPA IPB NUR APRIANDINI PENJADWALAN MATA KULIAH MAYOR-MINOR: STUDI KASUS DI FMIPA IPB NUR APRIANDINI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 2 ABSTRAK NUR APRIANDINI.

Lebih terperinci

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT / 2 SKS]

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT / 2 SKS] MATA KULIAH MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT011215 / 2 SKS] LINIER PROGRAMMING Formulasi Masalah dan Pemodelan Pengertian Linear Programming Linear Programming (LP) adalah salah satu teknik

Lebih terperinci

BAB 3 LINEAR PROGRAMMING

BAB 3 LINEAR PROGRAMMING BAB 3 LINEAR PROGRAMMING Teori-teori yang dijelaskan pada bab ini sebagai landasan berpikir untuk melakukan penelitian ini dan mempermudah pembahasan hasil utama pada bab selanjutnya. 3.1 Linear Programming

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan landasan teori tentang optimasi, fungsi, turunan,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan landasan teori tentang optimasi, fungsi, turunan, BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini akan diberikan landasan teori tentang optimasi, fungsi, turunan, pemrograman linear, metode simpleks, teorema dualitas, pemrograman nonlinear, persyaratan karush kuhn

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program Integer 2.1.1 Definisi Program Integer Program Integer adalah program linier (Linear Programming) di mana variabelvariabelnya bertipe integer(bulat). Program Integerdigunakan

Lebih terperinci

Modul 8. PENELITIAN OPERASIONAL INTEGER PROGRAMMING. Oleh : Eliyani PROGRAM KELAS KARYAWAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

Modul 8. PENELITIAN OPERASIONAL INTEGER PROGRAMMING. Oleh : Eliyani PROGRAM KELAS KARYAWAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI Modul 8. PENELITIAN OPERASIONAL INTEGER PROGRAMMING Oleh : Eliyani PROGRAM KELAS KARYAWAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2007 2 PENDAHULUAN Salah

Lebih terperinci

Optimalisasi Susunan Tempat Duduk Kereta Api Menggunakan Algoritma Greedy dan Program Dinamis

Optimalisasi Susunan Tempat Duduk Kereta Api Menggunakan Algoritma Greedy dan Program Dinamis Optimalisasi Susunan Tempat Duduk Kereta Api Menggunakan Algoritma Greedy dan Program Dinamis Fildah Ananda Amalia - 13515127 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut

Lebih terperinci

KOMBINASI PERSYARATAN KARUSH KUHN TUCKER DAN METODE BRANCH AND BOUND PADA PEMROGRAMAN KUADRATIK KONVEKS BILANGAN BULAT MURNI

KOMBINASI PERSYARATAN KARUSH KUHN TUCKER DAN METODE BRANCH AND BOUND PADA PEMROGRAMAN KUADRATIK KONVEKS BILANGAN BULAT MURNI Jurnal LOG!K@ Jilid 7 No 1 2017 Hal 52-60 ISSN 1978 8568 KOMBINASI PERSYARATAN KARUSH KUHN TUCKER DAN METODE BRANCH AND BOUND PADA PEMROGRAMAN KUADRATIK KONVEKS BILANGAN BULAT MURNI Khoerunisa dan Muhaza

Lebih terperinci

Bab 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pengantar Proses Stokastik

Bab 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pengantar Proses Stokastik Bab 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan diberikan penjelasan singkat mengenai pengantar proses stokastik dan rantai Markov, yang akan digunakan untuk analisis pada bab-bab selanjutnya. 2.1 Pengantar Proses

Lebih terperinci

Teori Dualitas dan Penerapannya (Duality Theory and Its Application)

Teori Dualitas dan Penerapannya (Duality Theory and Its Application) Teori Dualitas dan Penerapannya (Duality Theory and Its Application) Kuliah 6 TI2231 Penelitian Operasional I 1 Materi Bahasan 1 Teori dualitas 2 Metode simpleks dual TI2231 Penelitian Operasional I 2

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Model Matematika Model matematika adalah suatu rumusan matematika (dapat berbentuk persamaan, pertidaksamaan, atau fungsi) yang diperoleh dari hasil penafsiran seseorang ketika

Lebih terperinci

MASALAH GROUND-HOLDING DENGAN DUA TERMINAL DALAM PENGENDALIAN LALU LINTAS UDARA

MASALAH GROUND-HOLDING DENGAN DUA TERMINAL DALAM PENGENDALIAN LALU LINTAS UDARA MASALAH GROUND-HOLDING DENGAN DUA TERMINAL DALAM PENGENDALIAN LALU LINTAS UDARA W. PRASETYO 1, F. HANUM 2, P. T. SUPRIYO 2 Abstrak Setiap maskapai penerbangan memiliki strategi untuk meminimumkan biaya

Lebih terperinci