HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum"

Transkripsi

1 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Curah hujan harian di wilayah Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1 dan 2 pada Februari sampai Juni 2009 berkisar mm. Kelembaban udara harian rata-rata kebun tersebut pada pagi, siang, dan sore hari berturut-turut sekitar 92, 76, dan 89% dengan suhu rata-rata sekitar 22.5 o C (Lampiran 1). Percobaan pertama dilakukan pada Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1. Tanaman pepaya yang ada pada kebun tersebut terdiri dari beberapa genotipe koleksi PKBT. Tanaman tersebut berumur sekitar 7 sampai 14 bulan dan terletak pada blok-blok tertentu. Setiap blok memiliki tanaman dengan genotipe yang tidak seragam kecuali blok pepaya genotipe IPB 3. Penutupan bunga pepaya pada tanaman tua dilakukan dengan menggunakan tangga sedangkan pada tanaman muda tidak menggunakan tangga karena memiliki perawakan yang masih pendek. Percobaan kedua pada kegiatan penelitian ini menggunakan tanaman betina genotipe IPB 1 yang ada di blok tanaman pepaya genotipe IPB 1 di Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 2 sebagai induk betina, sedangkan sumber polen diambil dari tanaman di Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1. Kebanyakan tanaman pepaya pada blok tersebut telah mencapai umur dua tahun dan memiliki tinggi lebih dari 2 m. Oleh karena itu, kegiatan penyerbukan polen pada bunga tanaman tersebut dilakukan dengan menggunakan tangga. pepaya hermafrodit genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 memiliki perbedaan bentuk seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Masa berbuah keempat genotipe pepaya yang diamati berbeda-beda. pepaya genotipe IPB 9 muncul terlebih dahulu lalu diikuti genotipe IPB 4, IPB 3, dan IPB 1. Perbedaan masa berbuah ini menyebabkan adanya perbedaan masa pemanenan buah. Tanaman pepaya yang digunakan sempat terserang kutu daun (Myzus persicae) pada saat musim kemarau. Hama ini berkumpul di permukaan daun dan buah. Bagian daun dan buah pepaya yang terserang hama ini mengering. Hama ini dikendalikan dengan mengoleskan air sabun dengan kuas pada permukaan daun

2 dan buah yang terserang. Serangan hama ini berkurang perlahan seiring dengan datangnya musim hujan. 14 IPB 1 IPB 3 IPB 4 IPB 9 IPB 1 IPB 3 IPB 4 IPB 9 Gambar 2. Bunga dan Pepaya Hermafrodit Genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 yang sudah dipanen dan telah mengalami masa penyimpanan ada yang terserang penyakit antraknosa yang disebabkan jamur Colletothricum gloeosporioides. Serangan ini menyebabkan beberapa buah rusak parah sehingga buah tersebut tidak dapat diamati.

3 Percobaan 1. Penyerbukan Terbuka dan Sendiri pada Bunga Hermafrodit Genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 Panjang, Diameter, Tebal Daging, dan Rasio Panjang/Diamater Panjang, diameter, dan rasio panjang/diameter buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 tidak dipengaruhi oleh kedua jenis penyerbukan. Rasio panjang/diameter buah menunjukkan kecenderungan bentuk buah. dengan nilai rasio panjang/diameter mendekati satu berbentuk semakin bulat. Apabila nilai rasio tersebut semakin besar maka bentuk buah akan semakin lonjong (Tabel 1). Tabel 1. Panjang, Diameter, Tebal Daging, dan Rasio Panjang/ Diameter Pepaya Hermafrodit Genotipe Tebal Daging Jumlah Rasio Panjang Diameter P/D Maks Min cm IPB 1 PT PS t hitung IPB 3 PT PS t hitung IPB 4 PT PS t hitung IPB 9 PT PS t hitung Keterangan: Data diolah menggunakan uji t PT : Penyerbukan Terbuka Maks : Maksimum PS : Penyerbukan Sendiri Min : Minimum Bentuk buah pepaya genotipe IPB 9 paling lonjong di antara buah yang diamati karena memiliki rasio panjang/diameter buah paling besar (Tabel 1). Tebal daging buah maksimum dan minimum buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 juga tidak dipengaruhi oleh kedua jenis penyerbukan. pepaya genotipe IPB 9 memiliki tebal daging buah terbesar di antara buah pepaya 15

4 16 yang diamati. Perbedaan antara tebal daging buah maksimum dan minimum yang tinggi akan membentuk rongga pada bagian dalam buah yang lebih besar. Perbedaan tebal daging buah maksimum dan minimum yang terlalu besar dapat membentuk celah yang sempit pada rongga buah sehingga menyulitkan konsumen dalam membuang biji dalam buah pepaya. Menurut Nakasone dan Paull (1998) tebal daging buah pepaya berkisar cm. Nurlan (2009) melaporkan bahwa perlakuan pemupukan 60 g SP-36/tanaman pada tanaman pepaya genotipe IPB 1 menghasilkan buah dengan tebal daging buah minimum terbesar. Kekerasan Kulit dan Daging Kulit dan daging buah akan semakin lunak apabila nilai angka pada skala yang ditunjuk oleh jarum penetrometer semakin besar. Sebaliknya, kulit dan daging buah akan semakin keras apabila nilai angka pada skala yang ditunjuk oleh jarum penetrometer semakin kecil. Kekerasan kulit dan daging buah bagian pangkal, tengah, dan ujung buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 ditunjukkan pada Tabel 2. Penyerbukan terbuka dan sendiri tidak mempengaruhi kekerasan kulit dan daging buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9. Bagian pangkal dan ujung kulit serta daging buah pepaya genotipe IPB 1 dan IPB 4 lebih keras daripada bagian tengah. pepaya genotipe IPB 3 dan IPB 9 memiliki kulit serta daging buah bagian tengah dan ujung yang lebih keras daripada bagian pangkal buah. Perbedaan kecenderungan ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan genotipe. Min et al. (1996) melaporkan bahwa kekerasan buah pepaya dipengaruhi oleh tingkat kematangan buah pada saat panen. Kematangan buah pepaya dapat dilihat dari adanya semburat kuning pada kulit buah pepaya. Kekerasan buah pepaya yang dipanen setelah memiliki semburat kuning sekitar 25-30% dapat dipertahankan selama dua hari dengan perlakuan iradiasi sinar gamma. Hasil penelitian Rohmani (2007) menyatakan bahwa kekerasan kulit buah pepaya genotipe IPB 1 dan IPB 2 tidak dipengaruhi oleh perlakuan empat dosis pemupukan kalium. Nurlan (2009) mengemukakan bahwa kekerasan kulit buah pepaya genotipe IPB 1 dapat dipengaruhi oleh pemupukan fosfor. Pemupukan

5 60 g SP-36/tanaman pada tanaman pepaya menghasilkan buah pepaya dengan kulit buah paling keras di antara empat dosis yang digunakan yaitu 60, 120, 180, dan 240 g SP-36/tanaman. Menurut Widyastuti (2009) kulit buah pepaya pada stadia kematangan 75% lebih keras dibandingkan kulit buah pepaya pada stadia kematangan 100%. Kulit buah pepaya bagian tengah pada stadia kematangan 75% memiliki kekerasan sebesar mm/150 g/5 detik dan pada stadia kematangan 100% memiliki kekerasan sebesar mm/150 g/5 detik. Perkembangan dan pematangan buah menyebabkan perubahan tekstur dan kekerasan daging buah. yang semakin matang akan memiliki jaringan yang semakin lunak (Chan, 1994b). Hidrolisis pektin dan modifikasi hemiselulosa terjadi pada pelunakan buah pepaya (Paull, 1999). Genotipe Tabel 2. Kekerasan Kulit dan Daging Pepaya Hermafrodit Jumlah 17 Kekerasan Kulit Rata- Kekerasan Daging P T U Rata P T U mm/150 g/5 detik Rata- Rata IPB 1 PT PS t hitung IPB 3 PT PS t hitung IPB 4 PT PS t hitung IPB 9 PT PS t hitung Keterangan: Data diolah menggunakan uji t P : Pangkal PT : Penyerbukan Terbuka T : Tengah PS : Penyerbukan Sendiri U : Ujung

6 Utuh, Daging, Kulit, Biji, 100 Biji, dan Persentase Bagian yang Dapat Dimakan (BDD) Penyerbukan terbuka dan sendiri tidak memberikan pengaruh terhadap bobot buah utuh, bobot daging buah, bobot kulit buah, bobot biji, bobot 100 biji, dan BDD buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 (Tabel 3). 100 biji dari buah pepaya genotipe IPB 4 dan IPB 9 relatif besar namun keduanya memiliki bobot biji relatif kecil. 100 biji dari buah pepaya genotipe IPB 1 dan IPB 3 relatif kecil namun bobot biji keduanya besar. Genotipe Tabel 3. Utuh, Daging, Kulit, Biji, 100 Biji, dan Persentase Bagian yang Dapat Dimakan (BDD) Pepaya Hermafrodit Jumlah Utuh Daging Kulit Biji 100 Biji BDD g % IPB 1 PT PS t hitung * IPB 3 PT PS t hitung IPB 4 PT PS t hitung * IPB 9 PT PS t hitung Keterangan: Data diolah menggunakan uji t PT : Penyerbukan Terbuka PS : Penyerbukan Sendiri * : Berbeda nyata pada taraf 5% Nilai pada peubah bobot biji dan bobot 100 biji dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah biji dalam buah tersebut. biji yang semakin besar dengan bobot 100 biji yang semakin kecil akan menyebabkan jumlah biji yang semakin banyak. Jumlah biji pada buah pepaya genotipe IPB 1 dan IPB 3 diperkirakan lebih banyak daripada jumlah biji buah pepaya genotipe IPB 4 dan 18

7 IPB 9. Rata-rata bobot buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 pada penelitian ini masing-masing ± 94.42, ± 71.72, ± 69.66, dan ± g. Rusnas (2008) melaporkan rata-rata bobot buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 yaitu masing-masing sebesar 630, 530, 560, dan g. Derajat Kemasaman (ph), Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT), dan Kandungan Vitamin C, dan Rasio PTT/ATT Penyerbukan terbuka dan sendiri mempengaruhi ph buah pepaya genotipe IPB 1 namun tidak mempengaruhi ph buah pepaya genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9. Kedua jenis penyerbukan tersebut mempengaruhi ATT buah pepaya genotipe IPB 1 namun tidak mempengaruhi ATT buah pepaya genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 (Tabel 4). Menurut Woods et al. (2006) peningkatan ph terjadi bersamaaan dengan penurunan asam tertitrasi total selama masa pemasakan blackberry. Tabel 4. Derajat Kemasaman (ph), Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT), Kandungan Vitamin C, dan Rasio PTT/ATT Pepaya Hermafrodit Genotipe Jumlah PTT ATT Vitamin C ph (% Brix) (ml/100g) (mg/100g) PTT/ATT IPB 1 PT PS ** * t hitung IPB 3 PT PS t hitung IPB 4 PT PS t hitung IPB 9 PT PS t hitung Keterangan: Data diolah menggunakan uji t PT : Penyerbukan Terbuka * : Berbeda nyata pada taraf 5% PS : Penyerbukan Sendiri ** : Berbeda sangat nyata pada taraf 5% 19

8 20 Padatan total terlarut buah pepaya genotipe IPB 3 paling tinggi dibandingkan buah pepaya genotipe IPB 1, IPB 4, dan IPB 9. Winarno dan Aman (1981) menyatakan bahwa apabila buah menjadi matang maka kandungan gula meningkat namun kandungan asamnya menurun. DeEll dan Prange (1992) melaporkan bahwa asam tertitrasi total pada apel yang diproduksi secara konvensional tidak memberikan pengaruh yang nyata dengan apel yang diproduksi secara organik. Hasil penelitian Nurlan (2009) menunjukkan bahwa pemupukan fosfor dengan dosis 120 g SP-36/tanaman pada tanaman pepaya menghasilkan buah dengan PTT tertinggi dibandingkan PTT buah dari tanaman yang diberi pupuk fosfor dengan dosis 60, 180, dan 240 g SP-36/tanaman. Penyerbukan terbuka dan sendiri tidak mempengaruhi PTT, kandungan vitamin C, dan rasio PTT/ATT buah pada semua genotipe yang diamati. Menurut Chan (1994b) buah pepaya mengalami penurunan kandungan vitamin C pada awal perkembangannya namun mengalami peningkatan saat siap dipanen. Seung dan Kader (2000) menyatakan bahwa kandungan vitamin C pada buah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perbedaan genotipe, kondisi iklim sebelum buah dipanen, budidaya yang diterapkan, kematangan buah, metode pemanenan, dan cara penanganan pasca panen buah. Widyastuti (2009) melaporkan bahwa kandungan vitamin C buah pepaya tidak dipengaruhi stadia kematangan. Kandungan vitamin C buah pepaya pada stadia kematangan 75% sebesar mg/100 g sedangkan pada stadia kematangan 100% kandungan vitamin C buah pepaya sebesar mg/100 g.

9 Percobaaan 2. Penyerbukan Polen Genotipe IPB 3, IPB 4, da IPB 9 pada Bunga Betina Genotipe IPB 1 Pertumbuhan Pepaya Betina Genotipe IPB 1 Pertumbuhan buah dari bunga pepaya betina IPB 1 yang diserbuki polen genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan buah paling cepat terjadi pada saat buah berumur 6-10 MSP (Minggu Setelah Penyerbukan). 21 a b Gambar 3. Pertumbuhan yang berasal dari Bunga Betina Genotipe IPB 1 yang Diserbuki Polen Genotipe Lain Keterangan: (a) Panjang dan (b) Diameter Analisis Ragam Karakter yang Diamati pada Betina Genotipe IPB 1 Rekapitulasi Uji F peubah yang diamati disajikan pada Tabel 5. Pengaruh perlakuan terdapat pada peubah tebal daging buah minimum, diameter buah, bobot buah utuh, bobot daging buah, bobot kulit buah, bobot biji, dan jumlah biji. Koefisien keragaman pada peubah kekerasan kulit dan buah, ATT, rasio PTT/ATT, dan kandungan vitamin C merupakan yang paling besar di antara semua peubah.

10 Tabel 5. Rekapitulasi Uji F Peubah yang Diamati pada Betina Genotipe IPB 1 No. Peubah F-hitung Pr>F KK (%) 1 Panjang 2.16 tn Diameter 10.90** Rasio Panjang/Diameter 4.00 tn Kekerasan Kulit Pangkal 0.97 tn Kekerasan Kulit Tengah 0.54 tn Kekerasan Kulit Ujung 0.36 tn Kekerasan Daging Pangkal 0.32 tn Kekerasan Daging Tengah 0.14 tn Kekerasan Daging Ujung 0.20 tn Tebal Daging Maksimum 1.27 tn Tebal Daging Minimum 29.75** Utuh 18.19** Daging 14.61** Kulit 15.63** Biji 45.01** biji 7.21* Jumlah Biji 33.48** Bagian Dapat Dimakan (BDD) 1.00 tn PTT 0.59 tn ATT 0.50 tn Rasio PTT/ATT 0.91 tn ph 4.09 tn Kandungan Vitamin C 1.63 tn Keterangan : tn : Tidak berbeda nyata * : Berbeda nyata pada taraf 5% ** : Berbeda nyata pada taraf 1% 22 Panjang, Diameter, Tebal Daging, dan Rasio Panjang/Diameter Penyerbukan polen genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 pada bunga pepaya betina genotipe IPB 1 menyebabkan buah pepaya betina genotipe IPB 1 memiliki diameter buah dan tebal daging buah minimum lebih besar serta rasio panjang/diameter buah lebih kecil dibandingkan buah dari bunga pepaya genotipe IPB 1 betina dari bunga yang penyerbukannya terbuka. dari bunga pepaya genotipe IPB 1 betina yang diserbuki dengan polen genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 cenderung berbentuk lebih bulat dibandingkan buah dari bunga pepaya genotipe IPB 1 betina dari bunga yang penyerbukannya terbuka karena nilai rasio panjang/diameter buah lebih mendekati nilai satu (Tabel 6). Perbedaan sumber polen tidak menyebabkan perbedaan nilai pada diameter buah, tebal daging buah

11 minimum, dan rasio panjang/diameter buah. Bentuk buah dan penampang melintang buah dari bunga pepaya betina genotipe IPB 1 ditunjukkan pada Gambar 4. Tabel 6. Panjang, Diameter, Tebal Daging, dan Rasio Panjang/Diameter Pepaya Betina Genotipe IPB 1 Genotipe Panjang Diameter Tebal Daging Rasio P/D Maks Min cm IPB 1 betina b b 1.06a IPB (1x3) a a 1.00b IPB (1x4) a a 0.98b IPB (1x9) a a 1.00b Keterangan: Angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5% Maks: Maksimum Min : Minimum 23 (a) (b) (c) (d) Gambar 4. Penampang Melintang dan Bentuk Pepaya Betina Genotipe IPB 1. Keterangan : (a) IPB 1 Betina Penyerbukan Terbuka, (b) IPB (1x3), (c) IPB (1x4), (d) IPB (1x9) Nilai koefisien korelasi pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa panjang buah berkorelasi negatif dengan diameter buah. Hal ini menandakan buah yang semakin panjang akan memiliki diameter yang semakin kecil. Diameter buah berkorelasi positif dengan tebal daging buah maksimum dan minimum. yang memiliki diameter semakin besar memiliki tebal daging buah maksimum

12 24 dan minimum yang semakin besar pula. Menurut Rohmani (2007) buah betina cenderung berbentuk bulat dengan rasio panjang/diameter buah 1.46 ± Rusnas (2008) melaporkan bahwa tidak ada perbedaan panjang dan diameter antara buah hermafrodit dan betina genotipe IPB 1 serta buah hermafrodit genotipe IPB 1 yang berasal dari bunga pepaya genotipe IPB 1 yang diserbuki polen genotipe IPB 2. Kekerasan Kulit dan Daging Penyerbukan polen genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 tidak mempengaruhi kekerasan kulit dan daging buah pepaya genotipe IPB 1 betina. Hal ini diketahui dengan membandingkan buah yang terbentuk dari bunga yang diserbuki polen ketiga genotipe tersebut dengan buah dari bunga pepaya genotipe IPB 1 yang penyerbukannya terbuka. Kekerasan kulit dan daging buah bagian ujung memiliki nilai yang relatif tinggi (Tabel 7). Hal ini menunjukkan bahwa bagian buah ini relatif lebih lunak dari bagian pangkal dan tengah buah. dari bunga pepaya genotipe IPB 1 betina yang diserbuki polen genotipe IPB 4 memiliki nilai rata-rata kekerasan tertinggi dibandingkan buah dari bunga pepaya genotipe IPB 1 betina yang diserbuki polen genotipe IPB 3 dan IPB 9. Tabel 7. Kekerasan Kulit dan Daging Pepaya Betina Genotipe IPB 1 Genotipe Kekerasan Kulit Rata- Rata Kekerasan Daging P T U P T U Rata- Rata mm/150 g/5 detik IPB 1 betina IPB (1x3) IPB (1x4) IPB (1x9) Keterangan: P : Pangkal T : Tengah U : Ujung Kekerasan daging buah berkaitan dengan adanya perubahan pada dinding sel. Barajas et al. (2009) mengemukakan bahwa perubahan pada dinding sel mengiringi proses pelunakan buah yang terjadi bersamaan dengan pelarutan pektin dan depolimerisasi poliuronat. Poligalakturonase berperan dalam proses

13 pematangan yang berhubungan dengan perubahan tekstur buah dan kesatuan polimer pada pepaya Maradol. 25 Utuh, Daging, Kulit, Biji, 100 Biji, Jumlah Biji, dan Persentase Bagian yang Dapat Dimakan (BDD) Penyerbukan polen genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 pada bunga betina genotipe IPB 1 meningkatkan nilai pada peubah bobot buah utuh, daging buah, kulit buah, biji, 100 biji, persentase BDD, dan jumlah biji (Tabel 8). Perbedaan sumber polen tidak menyebabkan perbedaan nilai pada peubah-peubah tersebut kecuali pada jumlah biji. dari bunga pepaya betina genotipe IPB 1 yang diserbuki polen genotipe IPB 9 memiliki jumlah biji paling banyak sedangkan bobot buah utuhnya tidak berbeda secara statistik dengan buah dari bunga betina genotipe IPB 1 yang diserbuki polen genotipe IPB 3 dan IPB 4. Tabel 8. Utuh, Daging, Kulit, Biji, 100 Biji, Jumlah Biji, dan Persentase Bagian yang Dapat Dimakan (BDD) Pepaya Betina Genotipe IPB 1 Utuh Daging Kulit 100 Biji Jumlah Genotipe Biji Biji BDD g % IPB 1 betina b b 37.25b 54.22b 6.81a c IPB (1x3) a a 49.03a 79.91a 6.24b b IPB (1x4) a a 46.85a 84.17a 6.10b b IPB (1x9) a a 46.56a 82.62a 6.06b a Keterangan: Angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5% Nilai koefisien korelasi pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa bobot biji dan jumlah biji berkorelasi positif dengan bobot buah utuh. Hal ini menggambarkan buah yang memiliki bobot biji dan jumlah biji yang semakin besar akan memiliki bobot buah utuh yang semakin besar. Menurut Harjadi (1989) terdapat korelasi langsung antara ukuran buah dan jumlah biji pada banyak buah. Menurut George et al. (1995) buah kesemek (Diospyros kaki) kultivar Fuyu yang berasal dari bunga yang diserbuki polen dari kultivar Dai Dai Maru menghasilkan peningkatan bobot buah. Mercado et al. (1997) melaporkan adanya peningkatan jumlah biji per buah dan ukuran buah cabai yang terbentuk dari

14 26 bunga cabai yang diserbuki polen dari kultivar lain. Hasil penelitian Damayanti (2007) menyatakan bahwa penyerbukan bunga tomat dengan bantuan serangga dapat menghasilkan peningkatan bobot dan diameter buah tomat masing-masing sebesar dan 10.89%. Rusnas (2008) melaporkan bahwa bobot buah hermafrodit genotipe IPB 1 yang diserbuki polen genotipe lain lebih berat dari buah yang bunganya mengalami pengurangan stigma. Derajat Kemasaman (ph), Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT), dan Kandungan Vitamin C, dan Rasio PTT/ATT Penyerbukan polen genotipe IPB 3, IPB 4, dan IPB 9 pada bunga pepaya betina genotipe IPB 1 tidak mempengaruhi ph, kandungan vitamin C, PTT, ATT, dan rasio PTT/ATT buah pepaya betina genotipe IPB 1 (Tabel 9). Pengaruh penyerbukan polen genotipe lain terjadi pada ph buah dari bunga pepaya betina genotipe IPB 1 yang diserbuki polen genotipe IPB 9 dibandingkan dengan buah dari bunga pepaya betina genotipe IPB 1 yang penyerbukannya terbuka. Selain itu, pengaruh penyerbukan polen genotipe lain terdapat pada kandungan vitamin C buah dari bunga pepaya betina genotipe IPB 1 yang diserbuki polen dari bunga genotipe IPB 3 dibandingkan dengan buah dari bunga pepaya betina genotipe IPB 1 yang diserbuki polen genotipe IPB 9. Menurut Bron dan Jacomino (2006) selama masa pemasakan buah pepaya Golden PTT buah pepaya tidak berubah namun kandungan vitamin C buah pepaya bertambah sebesar 20-30%. Tabel 9. Derajat Kemasaman (ph), Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT), Kandungan Vitamin C, dan Rasio PTT/ATT Pepaya Betina Genotipe IPB 1 Genotipe ph PTT ATT Vitamin C (% Brix) (ml/100g) (mg/100g) PTT/ATT IPB 1 betina 5.36a ab 1.20 IPB (1x3) 5.26ab a 1.04 IPB (1x4) 5.26ab ab 1.12 IPB (1x9) 5.23b b 1.00 Keterangan: Angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%

PENGARUH PENYERBUKAN TERHADAP KUALITAS BUAH PEPAYA BETINA GENOTIPE IPB 1 TRI LESTARI HANDAYANI A

PENGARUH PENYERBUKAN TERHADAP KUALITAS BUAH PEPAYA BETINA GENOTIPE IPB 1 TRI LESTARI HANDAYANI A i PENGARUH PENYERBUKAN TERHADAP KUALITAS BUAH PEPAYA BETINA GENOTIPE IPB 1 TRI LESTARI HANDAYANI A24051509 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010 ii RINGKASAN

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Umur Simpan Penggunaan pembungkus bahan oksidator etilen dapat memperpanjang umur simpan buah pisang dibandingkan kontrol (Lampiran 1). Terdapat perbedaan pengaruh antara P2-P7 dalam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN 38 Pencemaran Getah Kuning Pencemaran getah kuning pada buah manggis dapat dilihat dari pengamatan skoring dan persentase buah bergetah kuning pada aril dan kulit buah, serta persentase

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN UMUM Latar Belakang

I. PENDAHULUAN UMUM Latar Belakang I. PENDAHULUAN UMUM Latar Belakang Pepaya merupakan salah satu komoditi buah penting dalam perekonomian Indonesia. Produksi buah pepaya nasional pada tahun 2006 mencapai 9.76% dari total produksi buah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani 3 TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Pepaya (Carica papaya) merupakan tanaman buah-buahan tropika. Pepaya merupakan tanaman asli Amerika Tengah, tetapi kini telah menyebar ke seluruh dunia

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lahan Kebun salak dalam penelitian ini terletak di Desa Tapansari, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Umur pohon salak yang digunakan sekitar 2 tahun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Pemanenan buah jeruk dilakukan dengan menggunakan gunting. Jeruk yang dipanen berasal dari tanaman sehat yang berumur 7-9 tahun. Pada penelitian ini buah jeruk yang diambil

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada November 2011 sampai April 2012 dan bertempat di Kebun Manggis Cicantayan-Sukabumi dengan ketinggian tempat sekitar 500-700 m dpl (di atas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Tanaman salak yang digunakan pada penelitian ini adalah salak pondoh yang ditanam di Desa Tapansari Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kualitatif Karakter kualitatif yang diamati pada penelitian ini adalah warna petiol dan penampilan daun. Kedua karakter ini merupakan karakter yang secara kualitatif berbeda

Lebih terperinci

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at:

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Cemaran Getah Kuning pada Aril dan Kulit Buah Manggis Tanaman yang diberi kalsium menghasilkan skor getah kuning aril dan kulit buah yang lebih rendah daripada tanaman yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Fisik Buah Kualitas fisik buah merupakan salah satu kriteria kelayakan ekspor buah manggis. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap kualitas fisik buah meliputi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hubungan viabilitas diperlukan untuk menduga keberhasilan proses fertilisasi atau viabilitas suatu polen yang ditunjukkan oleh diameter polen pepaya, daya berkecambah polen pepaya,

Lebih terperinci

Hasil penelitian menunjukkan tanaman betina menghasilkan bunga betina dan tanaman hermafrodit menghasilkan bunga hermafrodit, dan ekspresi seks

Hasil penelitian menunjukkan tanaman betina menghasilkan bunga betina dan tanaman hermafrodit menghasilkan bunga hermafrodit, dan ekspresi seks V. PEMBAHASAN UMUM Pepaya berpotensi menjadi buah utama Indonesia karena sifatnya yang multi fungsi. Indonesia mempunyai banyak plasma nutfah pepaya yang menjadi kekuatan dan modal dasar untuk pengembangan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman melon sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio:

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman melon sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio: 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Klasifikasi tanaman melon sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Kelas: Dicotyledoneae, Ordo: Cucurbitales, Famili: Cucurbitaceae,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai bulan April 2012 sampai dengan Mei 2012. Bahan dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan dilakukan di Desa Dukuh Asem, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka pada tanggal20 April sampai dengan 2 Juli 2012. Lokasi percobaan terletak

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 15 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang Balai Penelitian Tanaman Sayuran 1250 m dpl mulai Juni 2011 sampai dengan Agustus 2012. Lembang terletak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan pada bulan Mei sampai bulan Desember 2015 di kebun salak Tapansari, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Salak yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Hasil analisis contoh tanah pada lokasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi percobaan, tingkat kemasaman tanah termasuk

Lebih terperinci

KAJIAN KUALITAS BUAH DELAPAN GENOTIPE PEPAYA KOLEKSI PKBT PADA DUA STADIA KEMATANGAN. Wiwit Widyastuti A

KAJIAN KUALITAS BUAH DELAPAN GENOTIPE PEPAYA KOLEKSI PKBT PADA DUA STADIA KEMATANGAN. Wiwit Widyastuti A KAJIAN KUALITAS BUAH DELAPAN GENOTIPE PEPAYA KOLEKSI PKBT PADA DUA STADIA KEMATANGAN Wiwit Widyastuti A34304007 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN

Lebih terperinci

PENGARUH FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUAH PEPAYA. Nadya Nurlan A

PENGARUH FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUAH PEPAYA. Nadya Nurlan A PENGARUH FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUAH PEPAYA Nadya Nurlan A34303053 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PENGARUH FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... I. PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... I. PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... iii iv I. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang dan Masalah... 1 1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 5 1.3 Landasan Teori... 5 1.4 Kerangka Pemikiran...

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kadar Air Berdasarkan analisis varian satu jalur terhadap variabel kadar air biji sorgum yang berasal dari posisi yang berbeda pada malai sorgum disetiap umur panennya menunjukkan

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat Tomat (Lycopersicum esculantum MILL.) berasal dari daerah tropis Meksiko hingga Peru. Semua varietas tomat di Eropa dan Asia pertama kali berasal dari Amerika Latin

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tabel 1. Karakteristik Buah pada Beberapa Kultivar Pisang

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tabel 1. Karakteristik Buah pada Beberapa Kultivar Pisang 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pisang (Musa spp. L) termasuk ke dalam divisi Spermatophyta, subdivisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi penelitian terletak di Kebun Percobaan Leuwikopo. Lahan yang digunakan merupakan lahan yang biasa untuk penanaman cabai, sehingga sebelum dilakukan penanaman,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Stroberi

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Stroberi 3 TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Stroberi Stroberi merupakan tanaman herba tahunan. Batang utama tanaman ini sangat pendek. Daun stroberi merupakan daun majemuk beranak daun tiga (trifoliate) dengan tepi daunnya

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. 21 PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 (dua) tahap, pertama pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. Tahap I. Pengujian Karakter Pertumbuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Syarat Tumbuh Tanaman Jahe 1. Iklim Curah hujan relatif tinggi, 2.500-4.000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 2,5-7 bulan. (Penanaman di tempat yang terbuka shg

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai Cabai merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan. Cabai dikenal di Eropa pada abad ke-16, setelah diintroduksi oleh Colombus saat perjalanan pulang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang 17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar sekunder yang tumbuh dari akar tunggang, serta akar cabang yang

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Jenis dan Waktu Pemangkasan

PEMBAHASAN Jenis dan Waktu Pemangkasan 47 PEMBAHASAN Pemangkasan merupakan salah satu teknik budidaya yang penting dilakukan dalam pemeliharaan tanaman kakao dengan cara membuang tunastunas liar seperti cabang-cabang yang tidak produktif, cabang

Lebih terperinci

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu 10 METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang dilaksanakan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Unit Usaha Marihat, Provinsi Sumatera Utara selama 4 bulan yang dimulai dari tanggal 1 Maret 2010

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman gandum. Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman gandum meliputi muncul daun ke permukaan (emergence),

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data 17 BAHAN DAN METODE Studi pewarisan ini terdiri dari dua penelitian yang menggunakan galur persilangan berbeda yaitu (1) studi pewarisan persilangan antara cabai besar dengan cabai rawit, (2) studi pewarisan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Darmaga, Bogor. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011. Analisis tanah dan hara

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari 2012 di Jalan Palapa VI, Bandar Lampung. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetatif dan generatif. Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak tanaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetatif dan generatif. Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak tanaman II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stadia Pertumbuhan Kedelai Stadia pertumbuhan kedelai secara garis besar dapat dibedakan atas pertumbuhan vegetatif dan generatif. Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis LAMPIRAN Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24... (Bar) Suhu 15 0 C 1.64 0.29 0.16 0.32 0.24b 0.32b 0.27b 0.29b 0.39b 0.76b

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Hasil analisis kondisi iklim lahan penelitian menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika setempat menunjukkan bahwa kondisi curah hujan, tingkat kelembaban,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Selama percobaan berlangsung curah hujan rata-rata yaitu sebesar 272.8 mm per bulan dengan jumlah hari hujan rata-rata 21 hari per bulan. Jumlah curah hujan tersebut

Lebih terperinci

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya tidak diuji

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 7 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penanaman di lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikabayan Darmaga Bogor. Kebun percobaan memiliki topografi datar dengan curah hujan rata-rata sama dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SUSUT BOBOT Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan mutu tomat. Perubahan terjadi bersamaan dengan lamanya waktu simpan dimana semakin lama tomat disimpan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit TINJAUAN PUSTAKA Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit semula merupakan tanaman yang tumbuh liar di hutan-hutan maupun daerah semak belukar tetapi kemudian dibudidayakan. Sebagai tanaman

Lebih terperinci

PENGARUH APLIKASI DOLOMIT TERHADAP GETAH KUNING PADA BUAH MANGGIS

PENGARUH APLIKASI DOLOMIT TERHADAP GETAH KUNING PADA BUAH MANGGIS Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura PENGARUH APLIKASI DOLOMIT TERHADAP GETAH KUNING PADA BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) The Effect of Dolomite Aplication on Gamboge in Mangosteen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman cabai Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis tanaman hortikultura penting yang dibudidayakan secara komersial, hal ini disebabkan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Kota Bandar Lampung pada bulan Mei hingga Juni 2012. 3.2

Lebih terperinci

BUDIDAYA DURIAN PENDAHULUAN

BUDIDAYA DURIAN PENDAHULUAN BUDIDAYA DURIAN PENDAHULUAN Saat ini, permintaan dan harga durian tergolong tinggi, karena memberikan keuntungan menggiurkan bagi siapa saja yang membudidayakan. Sehingga bertanam durian merupakan sebuah

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Dusun Pabuaran, Kelurahan Cilendek Timur, Kecamatan Cimanggu, Kotamadya Bogor. Adapun penimbangan bobot tongkol dan biji dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. secara faktorial yang terdiri atas dua faktor dan tiga kali ulangan.

BAB III METODE PENELITIAN. secara faktorial yang terdiri atas dua faktor dan tiga kali ulangan. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial yang terdiri atas dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor I: Dosis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) TINJAUAN PUSTAKA Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk buah eksotik yang digemari oleh konsumen baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang

Lebih terperinci

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian 4. HASIL PENELITIAN Hasil pengamatan yang disajikan dalam bab ini diperoleh dari dua sumber data pengamatan, yaitu pengamatan selintas dan pengamatan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung mulai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Paprika Tanaman paprika (Capsicum annum var. grossum L.) termasuk ke dalam kelas Dicotyledonae, ordo Solanales, famili Solanaceae dan genus Capsicum. Tanaman paprika merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keluarga remput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Secara umum, klasifikasi jagung dijelaskan sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keluarga remput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Secara umum, klasifikasi jagung dijelaskan sebagai berikut : 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Jagung Menurut Purwono dan Hartono (2005), jagung termasuk dalam keluarga remput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Secara umum, klasifikasi jagung dijelaskan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering dengan kondisi lahan sebelum pertanaman adalah tidak ditanami tanaman selama beberapa bulan dengan gulma yang dominan sebelum

Lebih terperinci

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9 PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9 Benih Inovasi IPB Teknik Penanaman Benih Pepaya - Sebelum benih disemai, rendam dahulu benih selama 24 jam mengunakan air hangat. - Media tanam untuk pembibitan adalah

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Susut Bobot Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan penurunan mutu buah. Muchtadi (1992) mengemukakan bahwa kehilangan bobot pada buah-buahan yang disimpan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan 14 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gladiol Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan pada bentuk daunnya yang sempit dan panjang seperti pedang. Genus gladiolus terdiri

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik 38 PEMBAHASAN Budidaya Bayam Secara Hidroponik Budidaya bayam secara hidroponik yang dilakukan Kebun Parung dibedakan menjadi dua tahap, yaitu penyemaian dan pembesaran bayam. Sistem hidroponik yang digunakan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman

Lebih terperinci

Lampiran 1. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Melon (Deptan, 2007)

Lampiran 1. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Melon (Deptan, 2007) Lampiran 1. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Melon (Deptan, 2007) No. Karakteristik Deskripsi Notasi Data 1 Kecambah : Panjang Sangat pendek 1 hipokotil (*) Pendek

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 23 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Usaha Tani PT JORO merupakan sebuah perusahaan agribisnis hortikultura yang meliputi budidaya, sarana budidaya, distributor benih, produsen pupuk dan konsultan pertanian..

Lebih terperinci

Siti Noorrohmah, Sobir, Sriani Sujiprihati 1)

Siti Noorrohmah, Sobir, Sriani Sujiprihati 1) Keragaan Morfologi dan Kualitas Buah Pepaya Di Empat Lokasi di Wilayah Bogor pada Dua Musim (Morphological Performance and Fruit Quality of Papaya on Four Locations at Bogor Areas in Two Seasons) Siti

Lebih terperinci

LAMPIRAN DATA. Lampiran 1. Contoh Lengkap Data Pengamatan Jumlah Daun (helai) Umur 1 MST Ulangan Perlakuan

LAMPIRAN DATA. Lampiran 1. Contoh Lengkap Data Pengamatan Jumlah Daun (helai) Umur 1 MST Ulangan Perlakuan LAMPIRAN DATA Lampiran 1. Contoh Lengkap Data Pengamatan Jumlah Daun (helai) Umur 1 MST Ulangan Total Rataan I II III U 1 F 0 4,000 4,000 3,000 11,000 3,667 U 1 F 1 4,000 4,000 4,000 12,000 4,000 U 1 F

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Menurut Fachruddin (2000) tanaman kacang panjang termasuk famili leguminoceae. Klasifikasi tanaman kacang panjang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut : II. TINJAUAN PUSTAKA.1 Kacang Panjang.1.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Panjang Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus : Plantae : Spermatophyta

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pengamatan Buah per Tandan. Perkembangan ini dapat dilihat dari beberapa indikator seperti jumlah buah,

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pengamatan Buah per Tandan. Perkembangan ini dapat dilihat dari beberapa indikator seperti jumlah buah, 20 IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pengamatan Buah per Tandan Salah satu ciri perkembangan pada buah yang baik yaitu ditentukan bertambahnya volume dan biomassa selama proses tersebut berlangsung.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi Tanaman Pisang. Menurut Cronquist (1981) Klasifikasi tanaman pisang kepok adalah sebagai. berikut: : Plantae

TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi Tanaman Pisang. Menurut Cronquist (1981) Klasifikasi tanaman pisang kepok adalah sebagai. berikut: : Plantae 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Tanaman Pisang Menurut Cronquist (1981) Klasifikasi tanaman pisang kepok adalah sebagai berikut: Regnum Divisio Classis Ordo Familya Genus : Plantae : Magnoliophyta

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada bulan April sampai Juli 2016. Tanah pada lahan penelitian tergolong jenis Grumusol (Vertisol), dan berada pada ketinggian kurang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh 3 TINJAUAN PUSTAKA Syarat Tumbuh Tanah Jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah adalah lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat berpasir. Keasaman (ph) tanah yang optimal untuk

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas. biopestisida berpengaruh nyata terhadap tingkat mortalitas Tribolium castaneum

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas. biopestisida berpengaruh nyata terhadap tingkat mortalitas Tribolium castaneum IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Mortalitas Hasil penelitian menunjukkan pemberian serbuk rumput teki sebagai biopestisida berpengaruh nyata terhadap tingkat mortalitas Tribolium castaneum (lampiran

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari Penanaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari Penanaman III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari 2013. Penanaman dilakukan di Laboratorium Lapangan Terpadu Universitas Lampung. Pengamatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

PENDUGAAN PARAMETER GENETIK DAN KUALITAS BUAH PEPAYA HIBRIDA WULANDARI KUSWAHARIANI A

PENDUGAAN PARAMETER GENETIK DAN KUALITAS BUAH PEPAYA HIBRIDA WULANDARI KUSWAHARIANI A PENDUGAAN PARAMETER GENETIK DAN KUALITAS BUAH PEPAYA HIBRIDA WULANDARI KUSWAHARIANI A24080098 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PENDUGAAN PARAMETER GENETIK

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar

TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar Menurut Sarwono (2005) ubijalar tergolong tanaman palawija. Tanaman ini membentuk umbi di dalam tanah. Umbi itulah yang menjadi produk utamanya. Ubijalar digolongkan ke

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan diawali dengan melakukan uji terhadap buah salak segar Padangsidimpuan. Buah disortir untuk memperoleh buah dengan kualitas paling

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida 20 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1.Tinggi Tanaman Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida pada umur 28 dan 45 HST (lampiran 1), bahwa F-hitung lebih besar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Taksonomi kelapa sawit yang dikutip dari Pahan (2008) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermeae Ordo : Monocotyledonae

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2015 di

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2015 di 22 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2015 di Green House Laboratorium Lapangan Terpadu dan Laboratorium Teknik Sumber Daya Air

Lebih terperinci