IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat pada budidaya konvensional memiliki tanaman yang paling tinggi, hal tersebut dikarenakan umur bibit yang digunakan berbeda. Bibit untuk konvensional berumur 26 hari sedangkan untuk S.R.I. anorganik, organik, dan semi-organik berumur 6 hari. Tabel 3. Pengaruh sistem budidaya padi terhadap tinggi tanaman (cm) Umur Tanaman (MST) Konvensional 30.53c 49.20d 66.48b 82.28c 89.83c S.R.I. Anorganik 27.75b 46.95c 64.98b 80.45c 87.20bc S.R.I. Organik 25.25a 42.55a 58.18a 69.60a 78.43a S.R.I. Semi-organik 26.23a 44.83b 62.90ab 76.60b 83.90b Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Berdasarkan pada Tabel 3 dapat dilihat pada awalnya tinggi tanaman budidaya konvensional selalu lebih tinggi dari perlakuan lainnya dan secara statistik berbeda nyata. Mulai 6 MST tinggi tanaman antara budidaya konvensional dan S.R.I. terutama S.R.I. anorganik secara statistik tidak berbeda nyata dan selisih tinggi tanamannya tidak terlalu jauh. Perlakuan S.R.I. organik selalu memiliki tanaman yang paling rendah, hal tersebut diduga karena pada perlakuan ini menggunakan pupuk organik yang memiliki kadar N, P, dan K yang rendah (Tabel Lampiran 2) dan dosis pupuk yang dipakai kurang sehingga pertumbuhan tanaman sedikit terhambat. Pada perlakuan yang memakai pupuk anorganik unsur hara nitrogen yang dimasukkan ke dalam tanah sebanyak kg N/ha sedangkan jika memakai pupuk organik unsur hara nitrogen yang dimasukkan ke dalam tanah hanya 3.3 kg N/ha. Nitrogen merupakan unsur hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman (Tisdale et.al., 1990) dan menurut De Datta (1981), pertumbuhan tinggi tanaman dipengaruhi

2 15 oleh suplai N ke dalam tanaman. Oleh karena itu, pada budidaya konvensional, S.R.I. anorganik, dan S.R.I. semi-organik pertumbuhannya lebih baik karena menggunakan pupuk anorganik yang memiliki kadar N, P, dan K lebih tinggi sehingga lebih baik dalam penyerapan unsur N pada khususnya yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan tinggi tanaman Jumlah Batang Per 100 m 2 Perbedaan nyata pada jumlah batang per 100 m 2 terlihat sejak awal pengamatan (2 MST). Budidaya konvensional berbeda nyata dengan S.R.I. anorganik, organik, dan semi-organik karena adanya perbedaan jumlah bibit yang ditanam. Budidaya S.R.I. anorganik, organik, dan semi-organik, sesuai dengan prinsip dasar S.R.I. jumlah bibit yang ditanam adalah 1 bibit per lubang tanam, sedangkan pada budidaya konvensional jumlah bibit yang ditanam adalah 8 per lubang tanam. Tabel 4. Pengaruh sistem budidaya padi terhadap jumlah batang per 100 m 2 Umur Tanaman (MST) Konvensional b c c c c S.R.I. anorganik a b b b b S.R.I. organik a a a a a S.R.I. semi-organik a ab ab b ab Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Selain jumlah bibit yang ditanam, jarak tanam yang berbeda antara budidaya konvensional dan S.R.I. juga menyebabkan perbedaan jumlah rumpun per 100 m 2. Budidaya konvensional dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm pada luasan 100 m 2 terdapat 2500 rumpun. Sedangkan pada budidaya S.R.I. dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm pada luasan 100 m 2 terdapat 1111 rumpun. Sehingga walaupun sejak 6 hingga 10 MST pada pengamatan tanaman contoh jumlah batang per rumpun pada budidaya S.R.I. anorganik dan S.R.I. semi-organik lebih tinggi dari konvensional, tetapi karena pada budidaya konvensional jumlah

3 16 rumpun per 100 m 2 lebih tinggi sehingga jumlah batang per 100 m 2 juga lebih tinggi. Berdasarkan jumlah batang per 100 m 2 antara S.R.I. anorganik, organik, dan semi-organik, S.R.I. semi-organik memiliki jumlah batang per 100 m 2 lebih tinggi dari S.R.I. organik dan mulai 6 MST menurut uji statistik tidak berbeda nyata dengan S.R.I. anorganik. Perlakuan S.R.I. semi-organik memiliki pertumbuhan yang baik, hal tersebut diakibatkan pada perlakuan ini diberikan pupuk organik hayati (bio-organic fertilizer). Istilah bio-organic fertilizer didefinisikan sebagai persiapan sel hidup atau dorman dari mikrob tanah yang menguntungkan seperti bakteri, fungi, atau alga untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dalam menambah suplai nutrien tanaman seperti nitrogen dan fosfor (Anas, 1997). Pupuk organik hayati yang digunakan pada penelitian ini mengandung Mikrob Pelarut Fosfat (MPF) dan Azotobacter (Tabel Lampiran 3) yang membantu untuk penyediaan unsur hara nitrogen dan fosfor. Berdasarkan dari keseluruhan perlakuan, jumlah batang per 100 m 2 maksimal pada 8 MST dan pada 10 MST mengalami penurunan jumlah batang per 100 m 2, hal tersebut dikarenakan adanya batang yang mati. Budidaya S.R.I. organik selalu memiliki jumlah batang per 100 m 2 yang lebih rendah dari budidaya S.R.I. lainnya. Sama halnya dengan tinggi tanaman, hal tersebut diduga karena pada S.R.I. organik menggunakan pupuk organik yang memiliki kadar N, P, dan K rendah (Tabel Lampiran 2) sehingga pembentukan anakan sedikit terhambat. Nitrogen adalah unsur hara penting yang dibutuhkan untuk pembentukan anakan. Penyediaan cukup N yang dapat diserap selama awal pertunasan menghasilkan lebih banyak anakan (Sanchez, 1993) dan menurut De Datta (1981), jumlah anakan semakin banyak dengan meningkatnya serapan N selama fase vegetatif Komponen Hasil Pengamatan terhadap komponen hasil produksi dilakukan terhadap jumlah batang produktif per 100 m 2, panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot 1000 butir gabah, dan bobot gabah kering panen. Jumlah batang produktif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

4 17 potensi hasil. Batang produktif adalah batang yang menghasilkan organ reproduktif berupa malai. Berdasarkan pengukuran jumlah batang per rumpun dan jumlah anakan produktif, tidak semua anakan mampu menghasilkan malai karena sebagian anakan muncul terlambat dan merupakan anakan yang tidak produktif. Pengaruh perlakuan terhadap jumlah batang produktif per 100 m 2 disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Pengaruh sistem budidaya padi terhadap jumlah batang produktif per 100 m 2 Jumlah Batang Presentase Batang Produktif per 100 m 2 Produktif (%) Konvensional c S.R.I. anorganik b S.R.I. organik a S.R.I. semi-organik ab Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Jumlah batang produktif per 100 m 2 pada budidaya konvensional lebih tinggi dari S.R.I. anorganik, organik, dan semi-organik. Hal tersebut diakibatkan oleh jumlah rumpun per 100 m 2 pada budidaya konvensional yang jauh lebih tinggi dari budidaya S.R.I. Tetapi, pada presentase batang produktif S.R.I. anorganik memiliki hasil yang tertinggi yaitu 79.84% dan hasil terendah pada konvensional yaitu 71.07%. Berdasarkan keseluruhan perlakuan S.R.I., pada S.R.I. organik memiliki jumlah batang produktif per 100 m 2 yang rendah. Hal tersebut diduga disebabkan karena kekurangan unsur nitrogen. Pemberian nitrogen yang cukup akan meningkatkan jumlah batang produktif tanaman, karena nitrogen berperan penting sebagai penyusun protein yang akan digunakan oleh tanaman untuk meningkatkan jumlah malai/rumpun (Siregar, 1981). Pengaruh perlakuan terhadap panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi, dan jumlah gabah hampa disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan rata-rata pengukuran komponen hasil per rumpun pada Tabel 6 terlihat bahwa pengaruh sistem budidaya terhadap semua parameter secara statistik tidak berbeda nyata, kecuali pada panjang malai. Meskipun secara statistik tidak berbeda nyata,

5 18 tetapi pada hampir sebagian besar parameter seluruh perlakuan S.R.I. memiliki hasil yang cenderung lebih tinggi dibandingkan budidaya konvensional. Pengukuran panjang malai dilakukan dengan mengukur dari buku malai yang tampak seperti lapisan putih hingga ujung malai. Panjang malai pada budidaya konvensional secara statistik tidak berbeda nyata dengan S.R.I. anorganik dan berbeda nyata dengan S.R.I. organik dan S.R.I. semi-organik. Budidaya konvensional memiliki panjang malai yang paling tinggi, sedangkan S.R.I. semi-organik memiliki panjang malai yang paling rendah. Tabel 6. Pengaruh sistem budidaya padi terhadap panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi, dan jumlah gabah hampa Panjang Malai Gabah Total Jumlah Gabah Jumlah Gabah (cm) Per Malai Isi Per Malai Hampa Per Malai Konvensional 23.38b a 91.60a 35.50a S.R.I. Anorganik 22.56ab a 94.49a 43.87a S.R.I. Organik 22.01a a 91.85a 32.19a S.R.I. Semi-organik 21.93a a 95.84a 28.73a Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Jumlah gabah per malai pada semua perlakuan tidak berbeda nyata, tetapi S.R.I. anorganik memiliki jumlah gabah per malai yang paling tinggi dan S.R.I. organik memiliki jumlah gabah per malai yang paling rendah. Menurut De Datta (1981), nitrogen dibutuhkan untuk menaikkan jumlah bulir tiap malai pada masa inisiasi juga untuk meningkatkan ukuran bulir padi, fosfor berperan untuk mendorong perkembangan gabah yang baik, dan kalium diperlukan untuk meningkatkan ukuran dan berat gabah. Oleh karena itu pada perlakuan S.R.I. organik memiliki jumlah gabah per malai yang paling rendah karena pada S.R.I. organik menggunakan pupuk organik yang memiliki kadar N, P, dan K rendah sehingga pada masa pembungaan dan pembentukan bulir terganggu. Jumlah gabah isi pada semua perlakuan tidak berbeda nyata, tetapi dapat dilihat pada Tabel 6 S.R.I. semi-organik memiliki jumlah gabah isi yang paling tinggi dan budidaya konvensional memiliki jumlah gabah isi yang paling rendah. Jumlah gabah hampa pada semua perlakuan juga tidak berbeda nyata, tetapi dapat dilihat pada Tabel 6 S.R.I. anorganik memiliki jumlah gabah hampa yang paling

6 19 tinggi dan perlakuan S.R.I. semi-organik memiliki jumlah gabah hampa yang paling rendah. Tingginya jumlah gabah hampa dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Menurut Siregar (1981), kekurangan air pada waktu tanaman padi mulai berbulir bisa menimbulkan matinya primordia ataupun jika primordia tidak mati, bakal bulir gabah akan banyak mengalami kekurangan makanan (zat hara) yang menyebabkan bulir gabah banyak hampa. Selain itu, tingginya jumlah gabah hampa juga dipengaruhi oleh serangan hama walang sangit pada lahan penelitian saat fase keluar malai sampai matang susu. Pengaruh perlakuan terhadap bobot 1000 butir gabah disajikan pada Tabel 7. Bobot 1000 butir gabah pada budidaya konvensional berbeda nyata dengan S.R.I. organik dan tidak berbeda nyata dengan S.R.I. anorganik dan S.R.I. semiorganik. Budidaya konvensional memiliki bobot 1000 butir gabah yang paling tinggi, dan yang memiliki bobot 1000 butir gabah yang paling rendah adalah S.R.I. organik. Tabel 7. Pengaruh sistem budidaya padi terhadap bobot 1000 butir gabah Bobot 1000 Butir Gabah (gram) Konvensional 29.70b S.R.I. Anorganik 27.48ab S.R.I. Organik 27.29a S.R.I. Semi-organik 28.56ab Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Bobot 1000 butir gabah dipengaruhi oleh suplai hara N, P, dan K bagi tanaman. Menurut De Datta (1981), unsur N pada pertanaman dibutuhkan untuk menaikkan jumlah bulir tiap malai dan meningkatkan bobot gabah. Unsur P berperan dalam suplai dan transfer energi seluruh proses biokimia tanaman padi, salah satunya yaitu mempercepat proses pemasakan dan mendorong perkembangan gabah sehingga memberi nilai yang tinggi terhadap kualitas dan bobot gabah (De Datta, 1981). Unsur K diperlukan untuk pertumbuhan sel, pembentukan gula, zat tepung, dan protein sehingga apabila unsur tersebut

7 20 tersedia secara berimbang pada tanaman akan menghasilkan bobot 1000 butir yang lebih tinggi (Taslim et al., 1993). Pengaruh sistem budidaya padi terhadap bobot gabah kering panen dan gabah kering giling serta perbedaan produksi padi budidaya S.R.I. dibandingkan dengan budidaya konvensional disajikan pada Tabel 8. Hasil produksi padi pada semua perlakuan secara statistik tidak berbeda nyata, tetapi dapat dilihat pada Tabel 8 bobot Gabah Kering Panen (GKP) yang paling tinggi adalah pada S.R.I. anorganik dan yang paling rendah pada budidaya konvensional. Bobot Gabah Kering Giling (GKG) pada semua perlakuan juga tidak berbeda nyata, dapat dilihat pada Tabel 8 bobot GKG yang paling tinggi adalah pada S.R.I. organik dan yang paling rendah pada budidaya konvensional. Perbedaan hasil panen digunakan untuk mengetahui apakah dengan perbedaan pengaruh budidaya padi secara konvensional maupun S.R.I. anorganik, S.R.I. organik, dan S.R.I. semi-organik dapat menghasilkan perbedaan produksi padi. Budidaya padi konvensional dianggap sebagai kontrol. Budidaya S.R.I. dapat meningkatkan produksi padi, masing-masing sebesar 16.16% untuk S.R.I. anorganik, 3.06% untuk S.R.I. organik, dan 8.52% untuk S.R.I. semi-organik. Tabel 8. Pengaruh sistem budidaya padi terhadap bobot gabah kering panen dan gabah kering giling serta perbedaan produksi padi budidaya S.R.I. dibandingkan dengan budidaya konvensional Bobot GKP Bobot GKG* Kenaikan Produksi Padi (ton/ha) (ton/ha) (%) Konvensional 4.58a 3.65a 0.00 S.R.I. Anorganik 5.32a 3.73a S.R.I. Organik 4.72a 3.75a 3.06 S.R.I. Semi-organik 4.97a 3.73a 8.52 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan * : Bobot GKG pada kadar air gabah 14 % Hasil bobot GKP dan GKG pada S.R.I. anorganik, organik, dan semiorganik lebih tinggi dibandingkan dengan konvensional. Hal tersebut berbeda dengan hasil pada jumlah batang per 100 m 2, dimana budidaya konvensional memiliki hasil yang lebih tinggi dari S.R.I. Tetapi pada presentase jumlah batang produktif, jumlah gabah per malai, dan jumlah gabah isi per malai budidaya S.R.I.

8 21 memiliki hasil yang lebih tinggi dari konvensional sehingga bobot GKP dan GKG yang dihasilkan juga lebih tinggi dari konvensional. Tetapi hasil panen pada penelitian ini terutama pada budidaya S.R.I. lebih rendah dari hasil-hasil penelitian lain yang juga menerapkan budidaya S.R.I. Diduga, hasil panen yang kurang baik disebabkan oleh gangguan hama dan penyakit. Sejak masa awal pertanaman, lahan penelitian tidak terlepas dari hama maupun penyakit. Hama yang paling berpengaruh besar terhadap hasil panen adalah walang sangit. Walang sangit menyerang pada saat masa pengisian bulir padi, hama ini merusak dengan cara menghisap bulir padi sehingga menyebabkan bulir padi tidak terisi penuh atau hampa. Berdasarkan penelitian yang sama di Kecamatan Tanjung Sari, rendahnya hasil panen juga disebabkan oleh gangguan hama. Hama menyerang karena masa tanam penelitian terlambat sehingga tidak bersamaan dengan petani sekitar. Urutan hasil panen dari yang tertinggi hingga terendah yaitu S.R.I. anorganik 4.35 ton/ha, S.R.I semi-organik 3.96 ton/ha, konvensional 3.59 ton/ha, dan S.R.I organik 3.55 ton/ha (Agusmiati, tidak dipublikasikan). Hasil panen di Desa Limo, Depok juga rendah karena disebabkan adanya cekaman air. Dampak terbesar penurunan hasil panen akibat cekaman air dialami oleh S.R.I. anorganik, S.R.I. organik, dan S.R.I. semiorganik. Karena pada saat terjadi kekeringan tanaman berusia 64 hari setelah tanam dan itu merupakan fase pembentukan malai, sedangkan untuk budidaya konvensional yang umurnya 20 hari lebih tua dampaknya tidak sebesar yang dialami oleh budidaya S.R.I. Urutan hasil panen dari yang tertinggi hingga terendah yaitu konvensional 3.38 ton/ha, S.R.I. anorganik 2.76 ton/ha, S.R.I. semi-organik 2.41 ton/ha, dan S.R.I. organik 1.83 ton/ha (Nurwitasari, tidak dipublikasikan). Menurut penelitian yang dilakukan Ardi (2009), budidaya S.R.I. nyata meningkatkan produksi padi. Produksi padi tertinggi dari hasil ubinan ada pada perlakuan S.R.I. anorganik sedangkan yang terendah ada pada perlakuan konvensional. Rata-rata produksi padi pada perlakuan S.R.I ton/ha konvensional 8.60 ton/ha gabah kering panen. Perlakuan S.R.I. anorganik dapat meningkatkan produksi padi sebesar % dibanding perlakuan konvensional. Perlakuan S.R.I. organik dapat meningkatkan produksi sebesar 9.30 % dan S.R.I.

9 22 semi-organik 9.77 % dibandingkan konvensional. Secara keseluruhan rata-rata perlakuan S.R.I. dapat meningkatkan produksi padi 15.5 % dibandingkan konvensional. Berdasarkan sebagian besar hasil penelitian, baik dari pertumbuhan tanaman maupun dari komponen hasil perlakuan S.R.I. organik memiliki hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan S.R.I. lainnya. Hal tersebut disebabkan pada perlakuan S.R.I. organik menggunakan pupuk kompos yang memiliki kadar unsur hara N, P, dan K yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kadar unsur hara pada pupuk anorganik. Selain itu pemberian bahan organik pada tanah yang belum pernah sama sekali diaplikasikan pupuk organik akan menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang rendah. Tetapi pada Gabah Kering Panen S.R.I. organik memiliki hasil yang lebih tinggi, hal tersebut diduga disebabkan oleh efisiensi pemanfaatan bahan organik oleh tanah. Terganggunya pertumbuhan tanaman dapat disebabkan karena bahan organik menyediakan unsur hara secara perlahan-lahan, berbeda dengan unsur hara yang terkandung dalam pupuk anorganik lebih cepat tersedia bagi tanaman Kondisi Lahan Sifat Kimia dan Fisik Tanah Berdasarkan analisis kandungan hara tanah sebelum penelitian diketahui bahwa nilai ph adalah 6.20 atau termasuk agak masam, kandungan C-organik tergolong tinggi yaitu 3.04%, N-total tergolong sedang yaitu 0.26%, kandungan P tergolong sangat rendah yaitu 5.0 ppm, K tergolong tinggi yaitu 0.83 me/100 g, Ca tergolong sedang yaitu 6.33 me/100 g, Mg tergolong tinggi yaitu 2.95 me/100 g, Na tergolong sangat tinggi yaitu 1.04 me/100 g, KTK tergolong tinggi yaitu me/100 g dan kejenuhan basa tergolong sedang yaitu 44.05% (PPT, 1983 dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007). Tekstur tanahnya mengandung 8.37% pasir, 47.67% debu, dan liat. Berdasarkan sifat kimia dan fisik tanah, lahan penelitian ini cukup sesuai untuk tanaman padi.

10 Nilai ph dan Eh Tanah Nilai ph tanah selama masa pertanaman dapat dilihat pada Tabel 9. Pengaruh budidaya padi secara konvensional maupun S.R.I. menyebabkan perbedaan yang nyata untuk nilai ph pada 2 MST dan 10 MST. Setiap pengamatan nilai ph tanah antar perlakuan budidaya padi tidak berbeda jauh. Menurut Sudadi (2001), pengaruh utama penggenangan adalah meningkatkan ph tanah masam dan menurunkan ph tanah sodik dan tanah berbahan induk kapur. Penggenangan akan menyebabkan ph semua tanah kecuali tanah gambut masam dan tanah dengan kadar Fe-aktif rendah terkonvergensi ke nilai 7. Berdasarkan nilai ph yang dapat dilihat pada Tabel 9, pada perlakuan S.R.I. organik memiliki nilai ph yang cenderung lebih rendah. Hal tersebut disebabkan adanya penambahan bahan organik. Menurut Sugito et al. (1995), bahan organik dapat menurunkan ph tanah. Penurunan ph tanah sebagai akibat pemberian bahan organik dapat terjadi karena mineralisasi bahan organik yang banyak menghasilkan asam-asam dominan. Tabel 9. Nilai ph tanah umur 2 10 MST Umur Tanaman (MST) Konvensional 6.43b 6.77a 6.54a 6.58a 5.09a S.R.I. Anorganik 6.11ab 6.42a 6.50a 6.38a 5.40b S.R.I. Organik 5.90a 6.09a 6.18a 6.11a 5.40b S.R.I. Semiorganik 6.29ab 5.71a 6.28a 6.08a 5.49b Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Lain halnya dengan nilai Eh, seperti terlihat pada Tabel 10 perlakuan T0 yang merupakan budidaya konvensional nilai Eh selalu lebih negatif dibandingkan perlakuan S.R.I. Hal tersebut disebabkan karena pada budidaya konvensional lahan selalu digenangi sehingga terjadi penurunan potensial redoks. Nilai Eh dapat menjadi parameter tingkat reduksi-oksidasi (redoks) di dalam tanah untuk mengetahui reaksi yang dominan.

11 24 Tabel 10. Nilai Eh tanah (mv) umur 2 10 MST Umur Tanaman (MST) Konvensional a a a a a S.R.I. Anorganik 81.75b b b b 10.75a S.R.I. Organik 49.25ab b b b 19.25a S.R.I. Semiorganik 19.50ab -9.00b ab b a Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada taraf 0.05 berdasarkan uji Duncan Nilai Eh pada S.R.I. anorganik, organik, dan semi-organik selalu lebih tinggi dari budidaya konvensional karena pada seluruh perlakuan S.R.I. tanah hanya diairi hingga kondisi macak-macak sehingga penurunan potensial redoks tidak terlalu signifikan. Hal tersebut menandakan bahwa pada seluruh budidaya S.R.I. lahan dalam keadaan teroksidasi karena pada S.R.I. tanah cukup dijaga tetap lembab selama tahap vegetatif untuk memungkinkan lebih banyak oksigen bagi pertumbuhan akar. Kondisi tidak tergenang akan menghasilkan lebih banyak udara masuk kedalam tanah dan akar berkembang lebih besar sehingga dapat menyerap nutrisi lebih banyak. Sebaliknya, jika sawah terus digenangi, akar akan sulit tumbuh dan menyebar, serta kekurangan oksigen untuk dapat tumbuh dengan subur (Berkelaar, 2001). Oleh karena itu, pada budidaya S.R.I. tanaman dapat tumbuh lebih baik karena ditunjang oleh perkembangan akar yang lebih baik dari sistem konvensional. Saat awal masa pertanaman nilai Eh pada seluruh perlakuan belum menurun secara drastis, semakin lama lahan diairi nilai Eh semakin menurun. Tetapi pada masa akhir pertanaman, yaitu mulai 10 MST nilai Eh kembali naik karena air pada lahan mulai dikurangi. Tetapi pada perlakuan S.R.I. semi-organik saat 10 MST nilai Eh lebih negatif, hal tersebut disebabkan pada saat pengukuran di lahan banyak terdapat air tergenang akibat hujan sehingga nilai Eh lebih negatif Hama dan Penyakit Tanaman Keong mas adalah hama yang paling awal menyerang pada masa pertanaman. Keong mas menyerang pertanaman pada 0 3 MST, hal ini disebabkan pada umur tersebut batang padi masih muda. Hama ini merusak

12 25 tanaman dengan memotong bagian pangkal batang dan memakannya, sehingga menyebabkan bibit hilang di pertanaman. Untuk mengatasi bibit yang dimakan keong maka dilakukan penyulaman dari bibit yang umurnya sama. Usaha yang dilakukan untuk menanggulangi keong mas adalah dengan mengurangi air pada lahan terutama pada perlakuan konvensional karena menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2007), keong mas bersifat aktif pada air yang menggenang. Selain dengan mengurangi air, untuk menanggulangi keong mas dilakukan dengan menaruh daun pepaya dan daun singkong di lahan sebagai pengalih perhatian keong mas serta dengan pengambilan secara manual telur dan keong mas dari petakan. Saat tanaman berumur 4 MST, tanaman memperlihatkan ciri-ciri daun tanaman berwarna kuning hingga jingga dimulai dari pucuk ke pangkalnya, jumlah batang per rumpun berkurang, dan tanaman tidak bertambah tinggi. Gejala tersebut merupakan gejala penyakit tungro yang penyebarannya terjadi melalui hama wereng hijau dan wereng coklat. Penyakit ini menyerang ± 40% tanaman, kondisi tersebut dikarenakan daerah lokasi penelitian ini yaitu Kabupaten Sukabumi termasuk daerah endemik tungro. Usaha yang dilakukan untuk menanggulangi tungro adalah dengan menggunakan obat yang biasa digunakan oleh petani setempat yaitu P 2 O. Obat ini termasuk organik dan diaplikasikan dengan cara disemprot. Penyemprotan dilakukan tiga kali yaitu saat 4 MST, 6 MST, dan 8 MST. Hama lain yang menyerang tanaman yaitu hama penggerek batang. Hama ini menyebabkan batang padi kosong dan pada saat masa reproduksi tidak akan menghasilkan malai. Serangan hama ini terjadi saat 6 8 MST, namun serangan hama ini cukup sedikit. Tanaman yang telah mengalami masa pembungaan dan menuju pada tahap masak susu diserang oleh hama walang sangit. Walang sangit merupakan hama yang umum menyerang pada fase pemasakan bulir padi. Hama ini merusak dengan menghisap bulir padi dan kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan gabah hampa dan berwarna coklat. Pada saat yang bersamaan lahan percobaan juga diserang oleh belalang. Hama ini merusak tanaman dengan cara memakan daun.

13 26 Tikus menyerang mulai 10 MST, saat padi telah mengeluarkan malai. Hama ini merusak tanaman dengan menggigiti batang tanaman sehingga batang tanaman putus dan rebah. Untuk menanggulangi tikus digunakan racun tikus berupa cairan yang disiramkan di sekitar lahan percobaan untuk mencegah tikus datang. Saat malai mulai masak hama yang menyerang adalah burung. Hama ini merusak tanaman dengan memakan bulir padi secara langsung. Cara pengendalian burung dilakukan secara manual yaitu dengan mengusir burung. Banyaknya serangan hama pada lahan percobaan karena penelitian ini terlambat ditanam sehingga tidak bersamaan dengan petani sekitar. Serangan hama dan penyakit yang terjadi pada penelitian ini merupakan faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi dan menyebabkan hasil produksi kurang sesuai dengan apa yang diharapkan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fauna Tanah 4.1.1. Populasi Total Fauna Tanah Secara umum populasi total fauna tanah yaitu mesofauna dan makrofauna tanah pada petak dengan jarak pematang sempit (4 m)

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Lahan 4. 1. 1. Sifat Kimia Tanah yang digunakan Tanah pada lahan penelitian termasuk jenis tanah Latosol pada sistem PPT sedangkan pada sistem Taksonomi, Tanah tersebut

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dimulai dari April 2009 sampai Agustus 2009. Penelitian lapang dilakukan di lahan sawah Desa Tanjung Rasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Dekomposisi Jerami Padi pada Plot dengan Jarak Pematang 4 meter dan 8 meter Laju dekomposisi jerami padi pada plot dengan jarak pematang 4 m dan 8 m disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Tanaman padi saat berumur 1-3 MST diserang oleh hama keong mas (Pomacea caanaliculata). Hama ini menyerang dengan memakan bagian batang dan daun tanaman yang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Padi Tanaman padi merupakan tanaman tropis, secara morfologi bentuk vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun berbentuk pita dan berbunga

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 KAJIAN TEORITIS 2.1.1 Karakteristik Lahan Sawah Bukaan Baru Pada dasarnya lahan sawah membutuhkan pengolahan yang khusus dan sangat berbeda dengan lahan usaha tani pada lahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur terhadap Sifat Kimia Tanah Pengaplikasian Electric furnace slag (EF) slag pada tanah gambut yang berasal dari Jambi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Contoh Tanah Hasil analisa sudah diketahui pada Tabel 4.1 dapat dikatakan bahwa tanah sawah yang digunakan untuk penelitian ini memiliki tingkat kesuburan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di lahan sawah Desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan jenis tanah latosol. Lokasi sawah berada pada ketinggian tempat 230 meter

Lebih terperinci

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul)

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) PENDAHULUAN Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian untuk:

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2009, yang merupakan bulan basah. Berdasarkan data iklim dari Badan Meteorologi dan Geofisika, Dramaga,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Curah hujan selama penelitian dari bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010 tergolong tinggi sampai sangat tinggi yaitu berkisar antara 242.1-415.8 mm/bulan dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Blast Furnace Slag dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 4.1.1. ph Tanah dan Basa-Basa dapat Dipertukarkan Berdasarkan Tabel 3 dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Unit

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di lahan sawah Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dan di Laboratorium Ekofisiologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan 4 TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Padi sawah dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu : padi sawah (lahan yang cukup memperoleh air, digenangi waktu-waktu tertentu terutama musim tanam sampai

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Analisis Tanah Awal Karakteristik Latosol Cimulang yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 2 dengan kriteria ditentukan menurut acuan Pusat Peneltian Tanah

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Juli 2010. Penelitian terdiri dari percobaan lapangan dan analisis tanah dan tanaman

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari 3 golongan ecogeographic yaitu Indica, Japonica, dan Javanica.

TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari 3 golongan ecogeographic yaitu Indica, Japonica, dan Javanica. 6 TINJAUAN PUSTAKA Padi Sawah Padi (Oryza sativa L.) berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumput-rumputan (Gramineae) yang ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Tumbuhan padi bersifat

Lebih terperinci

HASIL. Gambar 4 Fluks CH 4 dari beberapa perlakuan selama satu musim tanam pada sawah lahan gambut

HASIL. Gambar 4 Fluks CH 4 dari beberapa perlakuan selama satu musim tanam pada sawah lahan gambut 4 perbedaan antar perlakuan digunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Analisis regresi digunakan untuk melihat hubungan antara parameter yang diamati dengan emisi CH 4. HASIL a. Fluks CH 4 selama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat peningkatan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Tanah Analisis tanah merupakan salah satu pengamatan selintas untuk mengetahui karakteristik tanah sebelum maupun setelah dilakukan penelitian. Analisis tanah

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Karakteristik Tanah di Lahan Percobaan Berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983), karakteristik Latosol Dramaga yang digunakan dalam percobaan disajikan

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA

PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA HUSIN KADERI Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru Jl. Kebun Karet, Loktabat Banjarbaru RINGKASAN Percobaan

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Tanah Awal Podsolik Jasinga Hasil analisis kimia dan fisik Podsolik Jasinga disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan kriteria PPT (1983), Podsolik Jasinga

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia Latosol Darmaga Latosol (Inceptisol) merupakan salah satu macam tanah pada lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan 4 TINJAUAN PUSTAKA Pupuk dan Pemupukan Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman (Hadisuwito, 2008). Tindakan mempertahankan dan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010. Penelitian dilakukan di lahan percobaan NOSC (Nagrak Organic S.R.I. Center) Desa Cijujung,

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Bahan Humat terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi 4.1.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman pada saat tanaman berumur 4 MST dan 8 MST masingmasing perlakuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teoritis 2.1.1. Lahan Sawah Tadah Hujan Sawah tadah hujan adalah lahan sawah yang sangat tergantung pada curah hujan sebagai sumber air untuk berproduksi. Jenis sawah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang disajikan dalam bab ini diperoleh dari dua sumber data pengamatan, yaitu pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas dilakukan untuk

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Benih Induk Hortikultura Pekanbaru yang dibawahi oleh Dinas Tanaman Pangan Provinsi Riau. Penelitian ini dimulai pada

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Hasil Analisis Tanah yang digunakan dalam Penelitian Hasil analisis karakteristik tanah yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 5. Dari hasil analisis

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Preparasi Serbuk Simplisia CAF dan RSR Sampel bionutrien yang digunakan adalah simplisia CAF dan RSR. Sampel terlebih dahulu dibersihkan dari pengotor seperti debu dan tanah.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut. Penelitian

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A34104064 PROGRAM STUDI AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Hasil analisis contoh tanah pada lokasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi percobaan, tingkat kemasaman tanah termasuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Ragam Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter-karakter yang diamati. Hasil rekapitulasi analisis ragam (Tabel 2), menunjukkan adanya

Lebih terperinci

KK : 2.4% Ket: ** ( sangat nyata) tn (tidak nyata) Universitas Sumatera Utara

KK : 2.4% Ket: ** ( sangat nyata) tn (tidak nyata) Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Data pengamatan tinggi tanaman padi (cm) pada umur 3 MST pada P0V1 60.90 60.33 59.33 180.57 60.19 P0V2 53.33 59.00 58.33 170.67 56.89 P0V3 62.97 61.33 60.97 185.27 61.76 P1V1 61.57 60.03 59.33

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Desa Situ Gede Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2009 Februari 2010. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil,

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil, PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil, umur masak, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta rasa nasi. Umumnya konsumen beras di Indonesia menyukai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Kajian Teoritis 2.1.1. Sawah Tadah Hujan Lahan sawah tadah hujan merupakan lahan sawah yang dalam setahunnya minimal ditanami satu kali tanaman padi dengan pengairannya sangat

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dimulai dari bulan Juni sampai

MATERI DAN METODE. Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dimulai dari bulan Juni sampai III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H. R. Soebrantas KM.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Tanaman Klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut: Divisi Sub divisi Kelas Keluarga Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monotyledonae : Gramineae (Poaceae)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... DAFTAR ISI PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii KATA PENGANTAR... iv UCAPAN TERIMA KASIH... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang...

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Metode Penelitian Pembuatan Pupuk Hayati

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Metode Penelitian Pembuatan Pupuk Hayati BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, serta di kebun percobaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di desa Kleseleon, kecamatan Weliman, kabupaten Malaka, proinsi Nusa Tenggara Timur pada lahan sawah bukaan baru yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena harganya terjangkau dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pisang adalah buah yang

Lebih terperinci

TATA CARA PENELTIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas

TATA CARA PENELTIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas III. TATA CARA PENELTIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian telah dilaksanakan pada Bulan Juli 2016 November

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 12. Dinamika unsur N pada berbagai sistem pengelolaan padi sawah tanah Inseptisol, Jakenan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 12. Dinamika unsur N pada berbagai sistem pengelolaan padi sawah tanah Inseptisol, Jakenan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Dinamika Unsur Hara pada Berbagai Sistem Pengelolaan Padi Sawah 4.1.1. Dinamika unsur N Gambar 12 menunjukkan dinamika unsur nitrogen di dalam tanah pada berbagai sistem pengelolaan

Lebih terperinci

Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3. Nomor persilangan : BP3448E-4-2. Anakan produktif : 17 anakan

Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3. Nomor persilangan : BP3448E-4-2. Anakan produktif : 17 anakan Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3 Nomor persilangan : BP3448E-4-2 Asal persilangan : Digul/BPT164-C-68-7-2 Golongan : Cere Umur tanaman : 110 hari Bentuk tanaman : Sedang Tinggi tanaman : 95

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. Produk tanaman tersebut dapat

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang

Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang Nama Varietas : Ciherang Kelompok : Padi Sawah Nomor Seleksi : S3383-1d-Pn-41 3-1 Asal Persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/IR19661-131-3-1//IR19661-131- 3-1///IR64

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah

Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah LAMPIRAN 62 63 Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah Jenis Analisa Satuan Hasil Kriteria ph H 2 O (1:2,5) - 6,2 Agak masam ph KCl (1:2,5) - 5,1 - C-Organik % 1,25 Rendah N-Total % 0,14 Rendah C/N - 12 Sedang

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara 8. KTK (me/100 g) 30,40 Tinggi - 9. C-organik (%) 12,42 Sangat Tinggi - 10. N-Total (%) 0,95 Sangat Tinggi - 11. P-tersedia (ppm) 34,14 Tinggi - 12. C/N 13,07 Sedang - * Dianalisis di Laboratorium Kimia

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Pelaksanaan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Percobaan dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan, dari bulan April sampai Agustus 2010. Bahan

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A34104064 PROGRAM STUDI AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

BUDIDAYA TANAMAN PADI menggunakan S R I (System of Rice Intensification)

BUDIDAYA TANAMAN PADI menggunakan S R I (System of Rice Intensification) BUDIDAYA TANAMAN PADI menggunakan S R I (System of Rice Intensification) PRINSIP S R I Oleh : Isnawan BP3K Nglegok Tanaman padi diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya Semua unsur potensi

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dari bulan Juni sampai bulan Oktober 2011. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang di analisis adalah tekstur tanah, bulk density, porositas, air tersedia, serta permeabilitas. Berikut adalah nilai masing-masing

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah biasanya dijadikan sebagai penciri kesuburan tanah. Tanah yang subur mampu menyediakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE

PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE PENDAHULUAN Tebu ialah tanaman yang memerlukan hara dalam jumlah yang tinggi untuk dapat tumbuh secara optimum. Di dalam ton hasil panen tebu terdapat,95 kg N; 0,30 0,82 kg P 2 O 5 dan,7 6,0 kg K 2 O yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran. 28 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengamatan 4.1.1 Tinggi Tanaman Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis dan dosis amelioran tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi ciherang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Latosol (Oxic Distrudept) Darmaga Berdasarkan kriteria sifat kimia tanah menurut PPT (1983) (Lampiran 2), karakteristik Latosol (Oxic Distrudept) Darmaga (Tabel 2) termasuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya serta sebagian kecil di pulau

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetatif dan generatif. Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak tanaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetatif dan generatif. Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak tanaman II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stadia Pertumbuhan Kedelai Stadia pertumbuhan kedelai secara garis besar dapat dibedakan atas pertumbuhan vegetatif dan generatif. Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak

Lebih terperinci