HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN 15 Keadaan Umum Penelitian ini dilaksanakan di kebun buah naga di Desa Bojongkoneng, Bukit Sentul. udara rata-rata bulanan kawasan permukiman Bukit Sentul berdasarkan hasil pengukuran di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Darmaga pada bulan desember 2009 adalah 26.1 C dengan suhu maksimal sebesar 31.8 C dan minimal 22.9 C serta suhu rata-rata pada Januari 2010 adalah 25.3 C dengan suhu maksimal 30.2 C dan minimal 22.9 C. Lokasi daerah studi terletak pada daerah basah dengan curah hujan tahunan rata-rata mm/tahun. Rata-rata curah hujan bulanannya pada Desember tahun 2009 adalah 334 mm/bulan dan pada Januari 2009 sebesar 351 mm/bulan. Jumlah hari hujan rata-rata 185 hari /tahun. Menurut Kuspitutri (2004) berdasarkan penilaian studi AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan) yang dilakukan Agrowisata Royal Sentul Highland pada tahun 1993, tanah di kawasan permukiman Bukit Sentul dikelompokkan ke dalam lima klasifikasi tanah yaitu Typic Hapludult, Typic Dystropept, Oxic Dystropept, Typic Hemipropept, dan Aquic Dytropept. Tabel 1. Status Kesuburan Tanah di Pemukiman Bukit Sentul No. Klasifikasi KTK KB P 2 O 5 Bahan Organik Kesuburan 1 Typic Hapludult S R SR-R S R 2 Typic Dystropept S SR-R SR-R S R 3 Oxic Dystropept R-S SR-R SR R-S R 4 Typic Hemitpropept R SR SR S-T R 5 Aquic Dytropept S S S S S Keterangan : KTK = Kapasitas Tukar Kation, KB = Kejenuhan Basa, SR = Sangat Rendah, S = Sedang, R = Rendah T = Tinggi Sumber : Studi AMDAL Agrowisata Royal Sentul Highland (1993) Secara umum kelima jenis tanah tersebut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) serta kandungan P dalam tanah yang rendah sampai sangat rendah. Kandungan bahan organik tergolong sedang sampai rendah.

2 16 Kondisi ini menyebabkan tanah di Kawasan Permukiman Bukit Sentul sangat miskin hara, sehingga kesuburan tanahnya rendah. Buah naga super red yang digunakan dalam penelitian ini dipanen pada umur panen yang berbeda yaitu 33 HSA, 35 HSA, dan 37 HSA. Pengamatan awal dilakukan untuk mengetahui kondisi awal buah naga sebelum buah disimpan pada suhu ruang atau suhu. Berikut disajikan kondisi awal buah naga untuk pengamatan fisik dan kimia. Tabel 2. Kondisi Awal Buah Naga Super Red sebelum Penyimpanan Peubah Umur Panen 33 HSA 35 HSA 37 HSA Warna Kulit Buah Merah Merah Merah Warna Jumbai Buah Hijau Hijau Hijau Kesegaran Buah Sangat Sangat Segar Segar Segar Kekerasan Kulit Buah (mm/g/s) Kekerasan Daging Buah (mm/g/s) PTT ( o Brix) ATT (ml/100 g) Keterangan : Nilai kekerasan buah, PTT, dan ATT merupakan rataan dari 6 buah, PTT = Padatan Terlarut Total, ATT = Asam tertitrasi total Warna kulit dan jumbai buah naga pada ketiga umur panen relatif seragam. Kesegaran buah juga masih baik sesaat setelah buah dipanen, walaupun untuk buah yang dipanen pada 37 HSA kesegarannya agak berkurang. Hal ini disebabkan kondisi jumbai buah ada yang sudah mulai menguning (layu) dan ada beberapa buah yang jumbainya tidak sempurna atau sudah rusak. Nilai kekerasan buah menunjukkan bahwa semakin lama umur panen buah naga maka buah semakin lunak baik dari kekerasan kulit buah maupun daging buah, walaupun untuk kekerasan kulit buah nilainya bervariasi. Nilai padatan terlarut total tertinggi pada pengamatan awal adalah pada buah yang dipanen dengan umur 35 HSA. Diduga saat 37 HSA buah sudah melewati matang optimal sehingga nilai padatan terlarut total buah berkurang. Semakin lama umur panen buah naga nilai asam tertitrasi total buah naga semakin tinggi. Diduga masih terjadi peningkatan asam-asam organik di buah naga sebelum dipanen. Namun, Nerd et al. (1999) menyatakan bahwa konsentrasi

3 17 total asam tertirasi selama tahap akhir dari perkembangan buah (H. undatus dan H. polyrhizus) akan menurun dengan semakin lamanya umur panen terutama saat buah sudah berwarna merah penuh. Berdasarkan hasil pengamatan awal buah naga super red terlihat bahwa peubah-peubah antar umur panen tidak menunjukkan perbedaan yang besar terutama untuk peubah warna kulit dan jumbai buah, serta kesegaran buah. Asam tertitrasi total antar umur panen menunjukkan peningkatan dengan semakin lamanya umur panen. Padatan terlarut total tertinggi terdapat pada buah dengan umur panen 35 HSA. Diduga saat 37 HSA buah sudah melewati matang optimal sehingga nilai padatan terlarut total buah menurun. Keterbatasan jumlah buah saat panen dan harga buah yang cukup tinggi menjadi kendala dalam penelitian ini. Penambahan buah contoh yang lebih banyak diperlukan agar data pengamatan yang didapat lebih representatif. Kesegaran Buah Kesegaran buah naga selama penyimpanan sangat mempengaruhi penilaian mutu buah sebelum buah dipasarkan dan sampai ke konsumen. Buah naga segar memiliki kulit dan jumbai buah yang mulus dan tidak layu. Umumnya buah naga yang dipasarkan memiliki warna kulit buah yang merah mengkilap dan jumbai buah berwarna hijau dengan semburat kuning atau hijau dengan semburat merah. (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 4. Kesegaran buah naga menggunakan skoring; a. skala 5, b. skala 4, c. skala 3, d. skala 2, e. skala 1 Penilaian kesegaran buah dilakukan menggunakan skoring dengan skala 1-5 (Gambar 4). Hal ini didasarkan pada penampilan buah secara keseluruhan

4 18 (kulit dan jumbai buah) mulai dari segar (5) sampai busuk (1). Skoring nomor 3 (> % jumbai buah sudah berubah warna (menguning dan layu) dan jumbai serta kulit buah mulai layu) merupakan batas minimal dari kondisi buah yang dapat diterima konsumen. Interaksi antara perlakuan umur panen dan suhu simpan terhadap kesegaran buah naga terdapat pada hari pengamatan ke-3, 9, dan 10 (Tabel 4). Terlihat pada tabel 3 bahwa semakin lama umur panen maka nilai skoring kesegaran semakin kecil (hari ke-9 dan hari ke-10). Interaksi juga berpengaruh terhadap lebih rendahnya nilai kesegaran buah yang disimpan pada suhu ruang dibandingkan pada suhu. Berarti semakin lama umur panen dan semakin tinggi suhu simpan maka nilai skoring kesegaran buah naga juga semakin kecil sehingga umur simpan akan semakin singkat. Tabel 3. Interaksi antara Umur Panen dan Simpan terhadap Kesegaran Buah Naga Hari ke-3 Hari ke-9 Hari ke-10 Perlakuan.Skoring. 33 HSA 4Ba 4Aa 3Ba 3Aa 2Ba 3Aa 35 HSA 3Ab 4Aa 1Bb 3Ab 1Bb 3Aa 37 HSA 4Aa 4Aa 1Bb 3Ac 1Bc 3Aa Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf besar berbeda pada baris yang sama dan hari yang sama dan angka-angka yang diikuti huruf kecil berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 % Hasil analisis statistik (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan suhu simpan sangat berpengaruh terhadap kesegaran buah pada hari penyimpanan ke-5 sampai hari ke-12. simpan memiliki skoring kesegaran buah lebih tinggi (baik) dibandingkan penyimpanan pada suhu ruang. Perlakuan umur panen berpengaruh terhadap kesegaran buah pada hari ke-3, 8, 9, dan 10 penyimpanan. Terlihat bahwa umur panen 33 HSA dan 35 HSA memiliki tingkat skoring kesegaran lebih tinggi (baik) dibandingkan buah dengan umur panen 37 HSA. Analisis data hanya dilakukan sampai hari ke-12 karena buah sudah banyak busuk.

5 19 Tabel 4. Pengaruh Umur Panen dan Simpan terhadap Kesegaran Buah Naga Super Red Perlakuan Kesegaran Buah pada Hari Pengamatan Skoring Umur Panen P1: 33 HSA 5 5 4a a 3a 3a P2: 35 HSA 5 5 4b ab 2b 2b P3: 37 HSA 4 4 4ab b 2b 2b Simpan T1: 29 ± 0.6 o C b 3b 3b 2b 2b 1b 1b 1b 1 1 T2: 15 ± 0.5 o C a 3a 3a 3a 3a 3a 3a 2a Interaksi tn tn * tn tn tn tn tn ** * tn tn Keterangan: Nilai merupakan rataan dari 12 buah Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 % tn = tidak nyata, * = berbeda nyata pada taraf 5 %, ** = berbeda nyata pada taraf 1 % = Buah sudah busuk 19

6 20 Hasil skoring kesegaran buah naga selama penyimpanan memperlihatkan buah naga yang dipanen saat 35 HSA dan disimpan pada suhu 15 o C mempunyai kesegaran buah lebih lama dibandingkan perlakuan lain sampai pada penyimpanan 12 hari (Lampiran 1). Buah yang disimpan pada suhu ruang untuk semua perlakuan panen hanya dapat disimpan selama 1 minggu sedangkan pada suhu buah naga dapat disimpan hingga minggu ke-2. Buah naga yang busuk memiliki ciri-ciri (1) penurunan bobot buah, (2) jumbai buah mulai kering dan berubah warna menjadi coklat, (3) kulit buah berubah warna menjadi coklat dan terjadi pelunakan sehingga rentan terhadap serangan hama dan patogen, (4) sebelum terjadi kebusukan terdapat bintik-bintik hifa berwarna putih dan atau hitam, (5) busuk basah apabila terserang bakteri. Hal tersebut ditegaskan dengan pernyataan Hoa et al. (2006) bahwa terjadi penurunan kualitas jumbai buah naga selama penyimpanan berupa perubahan warna dan penurunan kualitas seperti dehidrasi, browning, dan curling. Susut Bobot Kumulatif Buah Buah naga merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan air yang tinggi. Hal ini menyebabkan kehilangan bobot selama transportasi dan penyimpanan dapat menjadi faktor ekonomi yang serius karena umumnya buah naga dijual berdasarkan bobotnya. Menurut Nerd et al. (1999) kandungan air daging buah naga matang berkisar antara %. Tabel 5 menunjukkan bahwa umur panen memiliki pengaruh terhadap susut bobot buah pada hari pengamatan ke-2 sampai hari ke-14. Buah dengan umur panen 35 HSA memiliki rataan nilai susut bobot terbesar diikuti dengan umur panen 37 HSA lalu yang terkecil adalah susut bobot buah dengan umur panen 33 HSA. Perlakuan suhu simpan berpengaruh terhadap susut bobot buah pada hari pengamatan ke-9 sampai hari ke-14. Buah yang disimpan pada suhu ruang memiliki nilai susut bobot buah yang lebih besar dibandingkan buah yang disimpan pada suhu. Berdasarkan hasil analisis statistik (Tabel 6) interaksi antara umur panen dan suhu simpan terhadap susut bobot kumulatif buah naga terdapat pada hari pengamatan ke-2, 9, 10, 11, 12, 13, dan 14. Pengaruh interaksi perlakuan umur

7 21 panen dan suhu simpan memberikan respon yang fluktuatif. Buah dengan umur panen 35 HSA memberikan respon (nilai susut bobot) nyata yang lebih besar pada suhu ruang daripada suhu, serta memiliki nilai susut bobot yang paling besar dibandingkan buah dengan umur panen 33 HSA dan 37 HSA. Buah yang memiliki susut bobot terkecil adalah buah dengan umur panen 33 HSA dan buah yang disimpan pada suhu. Analisis statistik dilakukan hanya pada dua minggu pertama pengamatan untuk semua perlakuan umur panen dan suhu simpan. Hal ini disebabkan buah naga yang disimpan pada suhu ruang hanya mampu bertahan hingga minggu tersebut sedangkan buah yang disimpan pada suhu mampu bertahan hingga tiga minggu. Persentase susut bobot kumulatif terbesar terdapat pada buah dengan perlakuan umur panen 35 HSA yang disimpan pada suhu ruang dari hari ke-6 sampai hari ke-11 dengan susut bobot % pada hari ke-11. Hal ini disebabkan buah sudah menuju busuk. Buah yang dipanen pada 33 HSA dan disimpan pada suhu memiliki persentase susut bobot kumulatif terkecil yaitu 6.15 % pada hari ke-14 (Lampiran 3). Nerd et al. (1999) menyatakan bahwa kehilangan bobot sebesar lebih dari 8 % sudah cukup tinggi bagi buah naga. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi buah naga karena secara fisik penampilan buah naga sudah tidak baik (Tabel 4) bahkan saat susut bobot mencapai 5 %, walaupun terdapat buah yang kondisinya masih baik saat susut bobot mencapai 7 % (Tabel 5). Berdasarkan nilai peubah susut bobot kumulatif, buah naga masih dapat dijual sampai hari ke-7 dengan nilai susut bobot kumulatif sebesar 4.16 % apabila disimpan pada suhu ruang untuk semua umur panen, sedangkan buah yang disimpan pada suhu dapat dipertahankan sampai hari ke-14 dengan nilai susut bobot kumulatif sebesar 6.99 %. Walaupun buah masih dapat dikonsumsi sampai minggu ke-2 pada penyimpanan suhu ruang dan minggu ke-3 pada suhu akan tetapi susut bobot buah sudah terlalu besar (> 8 %) dan skoring kesegaran sudah melewati ambang batas penerimaan oleh konsumen (< 3).

8 22 Tabel 5. Susut Bobot Kumulatif (%) Buah Naga Super Red sampai Hari ke-n dari Kondisi Awal pada Perlakuan Umur Panen dan Simpan serta Interaksinya Perlakuan (Susut Bobot Kumulatif pada Hari Pengamatan) %... Umur Panen P1: 33 HSA b 1.55b 2.19b 2.50b 3.00b 3.34b 3.95b 4.32c 4.66b 5.51b 6.16b 6.95b 8.01b P2: 35 HSA a 2.36a 3.11a 3.75a 4.52a 5.03a 6.16a 7.88a 9.15a 10.73a 7.16a 7.81a 7.88a P3: 37 HSA ab 2.07a 2.39ab 2.97b 3.39b 3.98b 4.96b 5.67b 6.34b 6.46b 8.73a 6.41a 6.93a Simpan T1: 29 ± 0.6 o C a 7.99a 9.24a 8.91a 7.96a 9.87a T2: 15 ± 0.5 o C b 5.44b 5.90b 6.38b 6.72b 6.99b Interaksi antara Umur Panen dan Simpan Uji F tn * tn tn tn tn tn tn ** ** ** ** ** ** Keterangan: Nilai merupakan rataan dari 12 buah Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 % tn = tidak nyata, * = berbeda nyata pada taraf 5 %, ** = berbeda nyata pada taraf 1 % = Buah sudah busuk Tabel 6. Interaksi antara Umur Panen dan Simpan terhadap Susut Bobot Kumulatif Buah Naga Perlakuan Hari ke-2 Hari ke-9 Hari ke-10 Hari ke-11 Hari ke-12 Hari ke-13 Hari ke HSA 1.42Aa 0.72Bb 4.22Ab 4.42Aa 4.65Ab 4.67Aa 5.84Ab 5.19Aa 6.70A 5.63Aa 7.96A 5.94Aa 9.87A 6.15Aa 35 HSA 1.69Aa 1.68Aa 9.79Aa 5.90Ba 11.84Aa 6.46Ba 14.64Aa 6.81Ba 7.16a 7.81a 7.88a 37 HSA 1.12Ba 1.51Aa 6.14Ab 5.20Aa 7.49Aab 5.20Aa 7.23Ab 5.69Aa 6.35a 6.41a 6.93a Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf besar berbeda pada baris yang sama dan hari yang sama dan angka-angka yang diikuti huruf kecil berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 %, = Buah sudah busuk 22

9 Warna Kulit Buah 23 Warna kulit buah merupakan salah satu parameter penentuan kualitas yang dinilai secara visual. Buah dengan umur panen 33 HSA memiliki warna kulit buah naga berbeda-beda walaupun dipetik dengan umur panen yang sama (Gambar 5), sedangkan buah dengan umur panen 35 dan 37 HSA sudah memiliki warna kulit buah yang seragam. Sebagian besar buah naga memiliki kulit buah berwarna merah dengan jumbai buah berwarna hijau kekuningan dan ada juga yang berwarna merah. Hal tersebut menandakan bahwa proses pemasakan buah naga sebelum dipanen terutama dalam perubahan warna kulit buah berbeda-beda dalam satu periode anthesis. Umumnya buah naga dipanen saat buah sudah berwarna merah penuh. Gambar 5. Warna Kulit Buah Naga Bervariasi dalam Satu Umur Panen Warna kulit buah pada buah naga super red di masing-masing umur panen tidak mengalami perubahan yang signifikan selama penyimpanan pada suhu ruang dan karena termasuk buah non-klimakterik. Perubahan warna yang terjadi hanya disebabkan layunya buah dan keadaan buah menuju busuk. Gejala perubahan yang jelas berupa perubahan warna jumbai buah menjadi kuning kemudian cokelat dan mengering, sedangkan kulit buah menjadi berwarna cokelat dan busuk.

10 Tabel 7. Warna Kulit Buah Naga Super red selama Penyimpanan 24 Kondisi Awal Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3 Umur Ulangan Panen 33 HSA 1 5/ / /9.5 6/ / / / / /11 6R 3/11 3 4/14 6R 3/ /14 6R 3/11 35 HSA R 3/ /11.5 4/14 5/ / /11.5 5/11.5 4/ /11.5 5/11.5 5/11.5 4/ /11.5 5/11.5 5/11.5 4/14 37 HSA /16 5/11.5 5/ /11.5 5/11.5 5/ /11.5 5/11.5 5/11.5 5/ /16 4.5/16 4.5/16 5/ Keterangan: R = Red (Merah), = Buah busuk Penilaian warna kulit buah naga menggunakan munshell color chart. Kulit buah naga memiliki warna dengan nilai hue (warna dominan) yaitu (merah) untuk buah dengan umur panen 33 HSA dan 35 HSA. Buah dengan umur panen 37 HSA memiliki warna kulit dengan nilai hue 7. (merah). Nilai value (kecerahan) pada warna kulit buah naga memiliki kisaran nilai antara 4-7 ()

11 25 dan (7.). Nilai chroma (intensitas warna) kulit bervariasi dengan kisaran () dan (7.) pada tiap buah yang diamati (Tabel 7). (a) (b) Gambar 6. Perbandingan munshell color chart dengan warna kulit buah naga super red; a., b. 7. (a) Gambar 7. Perbandingan munshell color chart dengan warna jumbai buah naga super red; a. Jumbai kulit buah naga pada buah di semua umur panen mengalami perubahan nilai hue dari 5 GY (hijau) menuju 7.5 Y (kuning kehijau-hijauan). Perubahan ini menandakan bahwa buah mengalami penurunan kesegaran (menuju busuk). Nilai value jumbai buah naga antara (5 GY) dan (7.5 Y). Nilai chroma sangat bervariasi antara 6-11 (5 GY) dan 6-13 (7.5 Y) (Tabel 8).

12 Tabel 8. Warna Jumbai Buah Naga Super Red selama Penyimpanan 26 Umur Panen Ulangan Kondisi Awal Minggu ke-1 Minggu ke-2 33 HSA 1 7.5Y 8/11 8/11 8.5/9 7.5Y 8/11 8/11 8.5/9 8/ Y 8/11 8/11 8.5/12 8/9 7.5/6 7.5Y 9/6 7.5/6 2. 9/ /6 7.5/6 8/11 7.5Y 9/6 2. 9/6 7.5Y 8/11 7.5/6 9/6 35 HSA 1 7.5Y Y 8/9 7.5/6 8/9 8.5/9 8.5/6 8/11 8/9 7.5Y 9/6 7.5Y 8.5/ /6 8/9 8/9 7.5Y 8.5/9 7.5Y 8.5/9 7.5Y 8.5/6 7.5/6 9/6 8/ /6 8/11 8.5/6 7.5Y 9/6 7.5Y 8.5/9 7.5Y 8/9 8/11 8.5/6 9/6 37 HSA 1 7.5/6 7.5/6 7.5/6 7.5Y 8.5/9 7.5Y 8.5/9 8/11 8/11 7.5Y 7.5/6 7.5Y 7.5/13 2 3/10 8/11 7.5Y 8.5/9 7.5Y 9/ Y 8/11 8/11 8/9 9/6 3 8/11 7.5Y 7.5/6 7.5Y 9/6 7.5/6 7.5Y 9/6 8/9 8/9 7.5Y 9/6 7.5Y 9/6 7.5Y 8.5/9 Keterangan: GY = Green Yellow (Hijau-Kuning), Y = Yellow (Kuning), R = Red (Merah) = Buah busuk Nilai value yang semakin tinggi menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Angka 0 menunjukkan warna gelap (hitam) dan angka 10 menunjukkan terang (putih). Semakin tinggi nilai chroma menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat.

13 27 Pembacaan warna dalam munshell color chart harus secara keseluruhan agar didapat interpretasi yang jelas. Stintzing et al. dan Strack et al. dalam Bellec et al. (2006) menyatakan bahwa warna merah pada kulit maupun daging buah naga (H. costaricensis) disebabkan kandungan betalain, yaitu pigmen pengganti anthosianin di dalam tanaman buah. Betalain merupakan pigmen yang larut dalam air yang mengandung warna merah keunguan (betasianin) dan kuning (betaxantin). Kekerasan Buah Pengukuran kekerasan dibagi menjadi kekerasan kulit buah dan daging buah naga. Nilai kekerasan didapat dari rataan nilai kekerasan (pangkal, tengah, dan ujung) buah. Nilai kekerasan yang semakin tinggi menunjukkan bahwa buah semakin lunak karena tusukan dari jarum penetrometer akan semakin dalam. Hasil analisis statistik (Tabel 9) menunjukkan perlakuan umur panen tidak berpengaruh terhadap peubah kekerasan kulit buah pada semua minggu pengamatan, begitu pula dengan perlakuan suhu simpan. Nilai kekerasan kulit buah bervariasi karena buah yang digunakan tiap minggu pengamatan berbedabeda (pengamatan destruktif). Buah dengan umur panen 37 HSA dan disimpan pada suhu ruang memiliki nilai kekerasan kulit tertinggi (lunak) pada minggu pengamatan ke-1 dan ke-2 (Lampiran 5). Kulit buah naga selama penyimpanan (khususnya pada suhu ) mengalami pengeriputan. Hal ini mengakibatkan kulit buah menjadi lebih liat. Kemudian kulit buah akan melunak dikarenakan buah sudah menuju busuk. Kulit buah yang busuk berubah warna menjadi kecoklatan, berair, ataupun kering. Interaksi antara umur panen dengan suhu simpan terhadap kekerasan kulit buah naga sangat berpengaruh pada minggu pertama pengamatan (Tabel 9). Tabel 10 menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara umur panen dan suhu simpan memberikan respon kekerasan kulit yang bervariasi pada perlakuan umur panen. Nilai kekerasan terendah (keras) terdapat pada buah dengan umur panen 35 HSA. mengakibatkan nilai kekerasan buah lebih tinggi (lunak)

14 28 dibandingkan pada suhu ruang kecuali pada buah dengan umur panen 37 HSA walaupun perlakuan suhu tidak berpengaruh nyata terhadap kekerasan kulit buah. Kondisi tersebut berbeda dengan pernyataan Nerd et al. (1999) bahwa suhu penyimpanan yang tinggi akan mengakibatkan buah naga menjadi lebih lunak. Tabel 9. Kekerasan Kulit Buah Naga Super Red pada Perlakuan Umur Panen dan Simpan serta Interaksinya Perlakuan (Kekerasan Kulit Buah pada Minggu Pengamatan) Awal mm/g/s.... Umur Panen P1: 33 HSA P2: 35 HSA P3: 37 HSA Simpan T1: 29 ± 0.6 C T2: 15 ± 0.5 C Interaksi antara umur panen dan suhu simpan Uji F ** tn Keterangan: Nilai merupakan rataan dari 12 buah; Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 %; ** = berbeda nyata pada taraf 1 %; = Buah sudah busuk Tabel 10. Interaksi antara Umur Panen dan Simpan terhadap Kekerasan Kulit Buah Naga Perlakuan Minggu ke-1 33 HSA 0.013Aab 0.015Aa 35 HSA 0.012Ab 0.014Aab 37 HSA 0.021Aa 0.013Ab Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf besar berbeda pada baris yang sama dan angkaangka yang diikuti huruf kecil berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 % Tabel 11 memperlihatkan nilai kekerasan daging buah naga selama penyimpanan. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya interaksi antara umur panen dan suhu simpan terhadap kekerasan daging buah naga pada semua minggu pengamatan. Hasil pengukuran kekerasan daging buah selama penyimpanan cenderung bervariasi antara mm/g/s.

15 29 Hal ini disebabkan buah yang digunakan untuk tiap pengamatan berbeda-beda (pengamatan destruktif). Tabel 11. Kekerasan Daging Buah Naga Super Red pada Perlakuan Umur Panen dan Simpan Perlakuan (Kekerasan Daging Buah pada Minggu Pengamatan) Awal mm/g/s. Umur Panen P1: 33 HSA P2: 35 HSA P3: 37 HSA Simpan T1: 29 ± 0.6 C T2: 15 ± 0.5 C Interaksi antara umur panen dan suhu simpan Uji F tn tn Keterangan: Nilai merupakan rataan dari 12 buah; Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 %; tn = tidak nyata; = Buah sudah busuk Hasil penelitian Nerd et al. (1999) menyatakan bahwa kekerasan buah (H. polyrhizus) yang disimpan pada suhu 14 C pada minggu penyimpanan ke-1 dan ke-2 masing-masing 1.8 dan 1.5 kg/cm 2. Terlihat bahwa terjadi penurunan kekerasan buah (pelunakan) selama penyimpanan walaupun belum terlalu lunak (< 0.3 kg/cm 2 ). Buah naga dengan tekstur yang lunak umumnya tidak diminati oleh konsumen. Menurut Prasanna, Prabha, and Tharanathan (2007) sebagian besar perubahan tekstur akan mengakibatkan pelunakan dalam buah yang disebabkan enzim yang mengakibatkan perubahan struktur dan komposisi dinding sel sebagian atau keseluruhan yaitu pektin. Degradasi pektin selama pemasakan mengakibatkan pelunakan jaringan.

16 Padatan Terlarut Total 30 Kemanisan merupakan penanda mutu yang penting bagi konsumen buahbuahan. Menurut Kader et al. (1985) kualitas rasa manis dari buah dapat diukur dengan padatan terlarut total karena komponen utama dari padatan terlarut adalah gula. Wu dan Chin (1997) dan Bellec et al. (2006) menambahkan bahwa glukosa, sukrosa, dan fruktosa merupakan gula terlarut utama yang terkandung dalam daging buah naga. Gula yang terkandung dalam padatan terlarut seperti glukosa dan fruktosa merupakan jenis reducing sugar. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat interaksi antara umur panen dan suhu simpan terhadap nilai padatan terlarut total buah naga (Tabel 12). Nilai padatan terlarut total pada buah naga berkisar antara Brix pada awal pengamatan dan antara Brix pada minggu ke-2 penyimpanan (Lampiran 9). Nilai tersebut merupakan rataan dari bagian ujung, tengah, dan pangkal buah. Perlakuan suhu simpan berpengaruh terhadap padatan terlarut total pada minggu pengamatan ke-2 (Tabel 12). Buah yang disimpan pada suhu memiliki nilai padatan terlarut total lebih besar dibandingkan pada suhu ruang sebesar 8.25 Brix pada minggu ke-2. Tabel 12 memperlihatkan tren padatan terlarut total yang bervariasi namun cenderung menurun. Nilai yang bervariasi disebabkan buah yang digunakan setiap minggu pengamatan berbeda-beda (pengamatan destruktif). Nilai padatan terlarut total terbesar terdapat pada buah yang dipanen 37 HSA pada minggu pengamatan ke-1 dan ke-2, walaupun pada pengamatan awal buah yang dipanen saat 35 HSA memiliki nilai lebih besar. Nilai padatan terlarut total terkecil terdapat pada buah yang dipanen 33 HSA pada minggu pengamatan ke-2 dan ke-3. Penurunan nilai padatan terlarut total pada suhu ruang cenderung lebih drastis dibandingkan buah naga yang disimpan pada suhu. Penelitian Nerd et al. (1999) menunjukkan bahwa nilai padatan terlarut H. undatus pada penyimpanan minggu pertama dan kedua berturut-turut 13.3 Brix dan 12.2 Brix, dan H. polyrhizus sebesar 13.4 Brix dan 12.0 Brix.

17 31 Terlihat bahwa nilai padatan terlarut total pada dua jenis buah naga tersebut selama penyimpanan cenderung menurun. Tabel 12. Padatan Terlarut Total Buah Naga Super Red pada Kombinasi Perlakuan Umur Panen dan Simpan serta Interaksinya Perlakuan (PTT pada Minggu Pengamatan) Awal o Brix.... Umur Panen P1: 33 HSA P2: 35 HSA P3: 37 HSA Simpan T1: 29 ± 0.6 C a T2: 15 ± 0.5 C b 8.93 Interaksi antara umur panen dan suhu simpan Uji F tn tn Keterangan: Nilai merupakan rataan dari 12 buah; Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 %; tn = tidak nyata; = Buah sudah busuk Kondisi tersebut berbeda dengan buah non-klimakterik lain. Menurut O Hare (1997) padatan terlarut total pada buah rambutan (cv. Seematjan, Seechompoo, Rongrien, dan Lebakbulus ) meningkat setelah panen, walaupun terdapat pula kultivar rambutan lain yang mengalami penurunan padatan terlarut total selama penyimpanan. Peningkatan nilai padatan terlarut total juga terjadi pada buah nenas, Paull (1997) menyatakan terdapat peningkatan tajam padatan terlarut total pada akhir minggu ke-6 penyimpanan. Penyimpanan buah nenas selama 2 minggu pada suhu 10 C hanya berpengaruh kecil terhadap perubahan padatan terlarut total. Buah naga super red pada semua umur panen memiliki nilai selang brix antara Brix (bagian pangkal buah), Brix (bagian tengah buah), Brix (bagian ujung buah). Menurut Merten (2003) buah naga dengan nilai brix diatas 12 Brix dan 13 Brix memiliki level kadar gula yang dapat diterima oleh sebagian besar konsumen di Amerika Serikat.

18 Asam Tertitrasi Total 32 Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya interaksi antara umur panen dan suhu simpan terhadap asam tertitrasi total buah naga pada semua minggu pengamatan. Perlakuan yang berpengaruh hanya perlakuan umur panen saat minggu ke-1 penyimpanan. Penundaan umur panen menyebabkan rendahnya nilai asam tertitrasi total, terlihat bahwa buah dengan umur panen 37 HSA memiliki nilai asam tertitrasi total lebih kecil dibandingkan buah dengan umur panen yang lain (Tabel 13). Perubahan dalam keasaman selama penyimpanan dapat berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemasakan dan tingginya suhu penyimpanan (Mattoo et al., 1986). Buah yang disimpan pada suhu ruang penurunan asam tertitrasi totalnya lebih drastis dibandingkan dengan buah yang disimpan pada suhu. Hal ini dikarenakan proses respirasi dan kegiatan metabolisme buah lebih dapat ditekan pada suhu rendah. Tabel 13. Asam Tertitrasi Total Buah Naga Super Red pada Perlakuan Umur Panen dan Simpan serta Interaksinya Perlakuan ATT (Minggu ke-) Awal ml/100g. Umur Panen P1: 33 HSA a P2: 35 HSA a P3: 37 HSA b Simpan T1: 29 ± 0.6 C T2: 15 ± 0.5 C Interaksi antara umur panen dan suhu simpan Uji F tn tn Keterangan: Nilai merupakan rataan dari 12 buah; Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada uji tukey taraf 5 %; tn = tidak nyata; = Buah sudah busuk Penyimpanan baik pada suhu ruang maupun suhu mengakibatkan penurunan asam tertitrasi total dalam buah naga, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Kondisi tersebut berbeda dengan buah non-klimakterik lain yang

19 33 mengalami peningkatan total asam selama penyimpanan. Paull (1997) menyatakan bahwa terjadi penurunan ph dari 3.5 ke 3.1 pada buah nenas selama penyimpanan pada suhu 8 C, yang berarti terjadi peningkatan asam tertitrasi. Begitu pula pada buah rambutan seperti pernyataan O Hare (1997) bahwa terjadi sedikit peningkatan asam tertitrasi walaupun perubahannya tidak signifikan. Korelasi antar Peubah Korelasi adalah koefisien yang menggambarkan tingkat keeratan hubungan linier antara dua peubah atau lebih. Besaran dari koefisien korelasi bukan merupakan hubungan sebab akibat antara dua peubah atau lebih akan tetapi menggambarkan keterkaitan linier antar peubah. Koefisien korelasi dinotasikan dengan huruf r dan nilainya berkisar antara -1 dan 1. Nilai r yang mendekati -1 atau 1 menunjukkan semakin erat hubungan linier antara kedua peubah tersebut (Mattjik dan Sumertajaya, 2002). Korelasi antar peubah ditujukan untuk melihat hubungan antara peubah pengamatan untuk pendugaan kualitas buah selama penyimpanan. Misalnya, peubah pengamatan non-destruktif dapat dijadikan sebagai penduga nilai dari peubah pengamatan destruktif tanpa harus merusak buah. Berdasarkan analisis statistik tidak terdapat korelasi antar peubah pengamatan pada buah dengan umur panen 33 HSA. Korelasi terjadi pada buah dengan umur panen 35 dan 37 HSA. Tabel 14. Korelasi antar Peubah pada Perlakuan Umur Panen 37 HSA dan saat Minggu ke-1 Penyimpanan Susut Kekerasan Kekerasan Bobot Kulit Daging PTT TAT Susut Bobot 1 Kekerasan Kulit Kekerasan Daging PTT 0.817* ATT Keterangan : PTT = Padatan Terlarut Total, ATT = Asam tertitrasi total * = berbeda nyata pada taraf 5 %

20 34 Tabel 14 menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara susut bobot dengan padatan terlarut total. Nilai r 2 (koefisien determinasi) antara susut bobot dengan padatan terlarut total pada minggu ke-1 penyimpanan adalah sebesar % [(100)(0.817) 2 = %]. Maksudnya adalah terdapat % keeratan hubungan atau keragaman dalam peubah susut bobot dapat diterangkan oleh peubah padatan terlarut total. Korelasi positif menunjukkan bahwa semakin meningkat persentase susut bobot maka konsentrasi padatan terlarut total juga semakin meningkat. Hal ini diduga semakin besar persentase susut bobot buah maka kandungan air di dalam buah akan menurun. Jumlah padatan terlarut dalam buah relatif konstan sehingga kandungan air yang semakin menurun akan meningkatkan konsentrasi padatan terlarut dalam buah begitu pula sebaliknya. Tabel 15. Korelasi antar Peubah pada Perlakuan Umur Panen 35 HSA dan saat Minggu ke-2 Penyimpanan Susut Kekerasan Kekerasan Bobot Kulit Daging PTT TAT Susut Bobot 1 Kekerasan Kulit Kekerasan Daging PTT ATT * Keterangan : PTT = Padatan Terlarut Total, ATT = Asam Tertitrasi Total * = berbeda nyata pada taraf 5 % Tabel 15 menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara kekerasan kulit buah dengan kandungan asam tertitrasi total. Nilai r 2 dan korelasi antar peubah tersebut adalah % [(100)(0.916) 2 = %]. Korelasi yang terjadi antara kekerasan kulit buah dan asam tertitrasi total adalah positif yang berarti semakin meningkat nilai kekerasan kulit (pelunakan) maka kandungan asam dalam buah juga semakin meningkat. Menurut Kays (1991) setelah panen dan selama penyimpanan konsentrasi total asam organik cenderung menurun, selain itu aktivitas dari enzim pektat (berperan dalam pembongkaran pektin menjadi asam pektat dalam pelunakan buah) juga mengalami peningkatan.

21 35 Tabel 16. Korelasi antar Peubah pada Perlakuan Umur Panen 37 HSA dan saat Minggu ke-2 Penyimpanan Susut Kekerasan Kekerasan Bobot Kulit Daging PTT TAT Susut Bobot 1 Kekerasan Kulit Kekerasan Daging PTT * 1 ATT Keterangan : PTT = Padatan Terlarut Total, ATT = Asam Tertitrasi Total * = berbeda nyata pada taraf 5 % Korelasi yang terjadi pada minggu ke-2 penyimpanan pada perlakuan umur panen 37 HSA dan suhu simpan adalah antara kekerasan daging buah dengan kandungan padatan total terlarut (Tabel 16). Nilai r 2 antara peubah tersebut adalah % [(100)(0.856) 2 = %]. Korelasi yang terjadi antara kekerasan daging buah dan asam tertitrasi total juga positif yang artinya semakin tinggi nilai kekerasan daging buah (pelunakan) maka konsentrasi padatan terlarut dalam buah juga semakin meningkat. Diduga saat pengamatan di minggu ke-2 buah naga yang digunakan (pengamatan destruktif) memiliki nilai padatan terlarut total yang tinggi. Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Nerd et al. (1999) bahwa kandungan padatan terlarut dalam (H. polyrhizus) cenderung menurun selama penyimpanan pada minggu ke-1 dan ke-2 sebesar 13.4 ke 12.0 Brix pada suhu 14 C. Mattoo et al. (1986) menambahkan bahwa dalam proses pematangan buah terjadi perubahan pektin yang menyebabkan kekerasan buah berkurang (lunak). Pembahasan Umum Buah naga termasuk buah non-klimakterik yang sebaiknya dipanen saat kematangan buah optimal sehingga didapatkan kondisi buah yang segar dan memiliki kadar kemanisan serta kandungan asam yang optimal. Hal ini dikuatkan dengan penjelasan Zee et al. (2004) bahwa buah naga termasuk buah nonklimakterik (tidak mengalami pemasakan yang dramatis setelah panen) dan sensitif terhadap chilling injury. Walaupun perubahan pada kandungan gula tidak begitu nyata setelah buah dipanen, penundaan umur panen sampai 50 hari setelah

22 36 fruit set pada buah naga di Hawai i dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar kemanisan buah dan penambahan bobot. Selanjutnya Bellec et al. (2006) menambahkan bahwa pemanenan buah naga 5-8 hari setelah buah berwarna penuh akan mengurangi umur simpan, walaupun akan memberi rasa yang lebih manis dan cita rasa blackberry pada buah naga super red (H. costaricensis). Selama penyimpanan dilakukan pengamatan fisik dan kimia pada buah naga. Pengamatan fisik dilakukan terhadap warna kulit dan jumbai buah, kesegaran buah, kekerasan buah, dan susut bobot buah selama penyimpanan. Pengamatan kimia untuk peubah kandungan padatan terlarut total dan asam tertitrasi total. Warna kulit buah naga tidak mengalami perubahan selama penyimpanan. Buah yang masih berwarna hijau kemerahan saat dipanen maka selama penyimpanan buah tersebut akan tetap berwarna hijau kemerahan, karena buah naga sebagai buah non-klimakterik tidak mengalami penguraian pigmen warna pada kulit buah seperti yang umumnya terjadi pada buah klimakterik. Kesegaran buah naga selama penyimpanan dilihat dari penampilan fisik buah sehingga kesegaran buah merupakan indikator utama yang mempengaruhi nilai preferensi konsumen terhadap buah naga. Walaupun buah masih dapat dikonsumsi, akan tetapi apabila penampilan sudah tidak baik maka buah tidak akan dapat dijual. Nilai kesegaran buah terkait dengan kandungan air dalam buah naga super red, buah dengan susut bobot kumulatif lebih dari 5 % umumnya sudah menunjukkan penampilan fisik yang buruk (tidak segar). penyimpanan yang tinggi akan mengakibatkan rendahnya kekerasan buah (pelunakan), kandungan air, keasaman, dan cita rasa. Perubahan-perubahan seperti pelunakan, kesulitan dalam memisahkan kulit dari daging buah, dan perubahan warna serta layunya jumbai buah umumnya muncul secara bersamaan (Nerd et al., 1999). Pernyataan tersebut sesuai dengan kondisi buah naga super red selama penyimpanan. Hal ini terlihat dari kandungan padatan terlarut total dan asam tertitrasi total buah yang berkurang lebih drastis pada suhu ruang dibanding dengan penyimpanan pada suhu. Hal tersebut juga sesuai dengan kandungan air yang diinterpretasikan dalam susut bobot kumulatif yang memiliki nilai lebih tinggi pada penyimpanan suhu ruang. Nilai susut bobot yang tinggi

23 37 menandakan buah menuju kebusukan, umumnya disertai dengan perubahanperubahan seperti yang telah dijelaskan. Perlakuan umur panen tidak berpengaruh pada beberapa peubah yang diamati seperti kekerasan kulit dan daging buah serta padatan terlarut total. Peubah yang dipengaruhi oleh perlakuan umur panen adalah susut bobot kumulatif buah pada sebagian besar hari pengamatan. Nilai susut bobot kumulatif terkecil terdapat pada buah dengan perlakuan umur panen 33 HSA. Perlakuan umur panen juga mempengaruhi nilai asam tertitrasi total pada minggu pertama pengamatan dengan nilai asam tertitrasi total terbesar adalah pada buah dengan umur panen 33 HSA. Perlakuan suhu rendah pada buah naga super red cukup efektif untuk mempertahankan daya simpan buah. Buah yang disimpan pada suhu dapat bertahan hingga minggu ke-2 dibanding suhu ruang yang hanya mampu mempertahankan daya simpan buah selama 1 minggu. Walaupun buah masih dapat dikonsumsi hingga minggu ke-2 untuk buah pada suhu ruang dan minggu ke-3 untuk buah pada suhu, akan tetapi kondisi buah yang sudah tidak segar menjadi pertimbangan bagi produsen atau distributor untuk menjualnya. Penyimpanan buah naga berdasarkan nilai dari peubah-peubah yang diujikan seperti warna kulit buah, kesegaran buah, susut bobot kumulatif buah, kekerasan buah, padatan terlarut total, dan asam tertitrasi total terlihat bahwa buah naga super red dapat disimpan pada suhu ruang selama ± 7 hari dan pada suhu selama ± 14 hari. Menurut Nerd et al. (1999) buah naga yang dipanen mendekati warna penuhnya dapat dijaga kesegarannya pada kualitas pasar selama 3 minggu pada 6 C, 2 minggu pada 14 C atau 1 minggu pada 20 C.

PENGARUH PERBEDAAN UMUR PANEN DAN SUHU SIMPAN TERHADAP UMUR SIMPAN BUAH NAGA SUPER RED (Hylocereus costaricensis) TRI ISTIANINGSIH A

PENGARUH PERBEDAAN UMUR PANEN DAN SUHU SIMPAN TERHADAP UMUR SIMPAN BUAH NAGA SUPER RED (Hylocereus costaricensis) TRI ISTIANINGSIH A PENGARUH PERBEDAAN UMUR PANEN DAN SUHU SIMPAN TERHADAP UMUR SIMPAN BUAH NAGA SUPER RED (Hylocereus costaricensis) TRI ISTIANINGSIH A406078 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

Pengaruh Umur Panen dan Suhu Simpan terhadap Umur Simpan Buah Naga Super Red (Hylocereus costaricensis)

Pengaruh Umur Panen dan Suhu Simpan terhadap Umur Simpan Buah Naga Super Red (Hylocereus costaricensis) Pengaruh Umur Panen dan Suhu Simpan terhadap Umur Simpan Buah Naga Super Red (Hylocereus costaricensis) Effects of Fruit Age and Storage Temperature on Shelf-life of Super Red-Fleshed Dragon Fruit (Hylocereus

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Umur Simpan Penggunaan pembungkus bahan oksidator etilen dapat memperpanjang umur simpan buah pisang dibandingkan kontrol (Lampiran 1). Terdapat perbedaan pengaruh antara P2-P7 dalam

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Buah Naga

TINJAUAN PUSTAKA Botani Buah Naga TINJAUAN PUSTAKA 4 Botani Buah Naga Buah naga termasuk famili Cactaceae dengan biji berkeping dua (dikotil). Famili ini meliputi 120-200 genera yang terdiri atas 1 500-2 000 spesies yang ditemukan khususnya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Susut Bobot Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan penurunan mutu buah. Muchtadi (1992) mengemukakan bahwa kehilangan bobot pada buah-buahan yang disimpan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan mutu yang diamati selama penyimpanan buah manggis meliputi penampakan sepal, susut bobot, tekstur atau kekerasan dan warna. 1. Penampakan Sepal Visual Sepal atau biasa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Curah hujan harian di wilayah Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1 dan 2 pada Februari sampai Juni 2009 berkisar 76-151 mm. Kelembaban udara harian rata-rata kebun tersebut

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. WARNA KULIT BUAH Selama penyimpanan buah pisang cavendish mengalami perubahan warna kulit. Pada awal pengamatan, buah berwarna hijau kekuningan dominan hijau, kemudian berubah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Pemanenan buah jeruk dilakukan dengan menggunakan gunting. Jeruk yang dipanen berasal dari tanaman sehat yang berumur 7-9 tahun. Pada penelitian ini buah jeruk yang diambil

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis LAMPIRAN Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24... (Bar) Suhu 15 0 C 1.64 0.29 0.16 0.32 0.24b 0.32b 0.27b 0.29b 0.39b 0.76b

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN 38 Pencemaran Getah Kuning Pencemaran getah kuning pada buah manggis dapat dilihat dari pengamatan skoring dan persentase buah bergetah kuning pada aril dan kulit buah, serta persentase

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SUSUT BOBOT Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan mutu tomat. Perubahan terjadi bersamaan dengan lamanya waktu simpan dimana semakin lama tomat disimpan

Lebih terperinci

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at:

Created with Print2PDF. To remove this line, buy a license at: 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Cemaran Getah Kuning pada Aril dan Kulit Buah Manggis Tanaman yang diberi kalsium menghasilkan skor getah kuning aril dan kulit buah yang lebih rendah daripada tanaman yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN PENDAHULUAN Dari penelitian pendahuluan diperoleh bahwa konsentrasi kitosan yang terbaik untuk mempertahankan mutu buah markisa adalah 1.5%. Pada pengamatan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengemasan Buah Nanas Pada penelitian ini dilakukan simulasi transportasi yang setara dengan jarak tempuh dari pengumpul besar ke pasar. Sebelum dilakukan simulasi transportasi,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Spektra Buah Belimbing

HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Spektra Buah Belimbing IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Spektra Buah Belimbing Buah belimbing yang dikenai radiasi NIR dengan panjang gelombang 1000-2500 nm menghasilkan spektra pantulan (reflektan). Secara umum, spektra pantulan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Buah Naga

TINJAUAN PUSTAKA Buah Naga 3 TINJAUAN PUSTAKA Buah Naga Tanaman buah naga termasuk dalam kingdom Plantae, divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Caryophyllales, famili Cactaceae, subfamili Cactoidae, genus Hylocereus Webb.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah melon yang terolah minimal, beberapa senyawa penting

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan diawali dengan melakukan uji terhadap buah salak segar Padangsidimpuan. Buah disortir untuk memperoleh buah dengan kualitas paling

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perubahan Konsentrasi O dan CO dalam Kemasan mempunyai densitas antara.915 hingga.939 g/cm 3 dan sebesar,9 g/cm 3, dimana densitas berpengaruh terhadap laju pertukaran udara

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penilitan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penilitan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Jatibarang, Indramayu dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) TINJAUAN PUSTAKA Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk buah eksotik yang digemari oleh konsumen baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pada semua parameter menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut ini merupakan rata-rata

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Produksi buah pisang di Lampung setiap tahunnya semakin meningkat. Lampung

I. PENDAHULUAN. Produksi buah pisang di Lampung setiap tahunnya semakin meningkat. Lampung I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Produksi buah pisang di Lampung setiap tahunnya semakin meningkat. Lampung mampu memproduksi pisang sebanyak 319.081 ton pada tahun 2003 dan meningkat hingga

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 17 METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fateta-IPB.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Fisik Buah Kualitas fisik buah merupakan salah satu kriteria kelayakan ekspor buah manggis. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap kualitas fisik buah meliputi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Laju Respirasi Respirasi merupakan proses metabolisme oksidatif yang mengakibatkan perubahan-perubahan fisikokimia pada buah yang telah dipanen.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Konsentrasi KMnO 4 Terhadap Susut Berat Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap susut berat cabai merah berbeda nyata

Lebih terperinci

Kriteria Kematangan Pascapanen Pisang Raja Bulu dan Pisang Kepok

Kriteria Kematangan Pascapanen Pisang Raja Bulu dan Pisang Kepok Kriteria Kematangan Pascapanen Pisang Raja Bulu dan Pisang Kepok D. Sutowijoyo, W.D. Widodo Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilakukan pada

Lebih terperinci

PEMATANGAN BUAH INDEKS KEMATANGAN

PEMATANGAN BUAH INDEKS KEMATANGAN PEMATANGAN BUAH & INDEKS KEMATANGAN Pemasakan Tahap akhir fase perkembangan buah,,yang meliputi pembesaran sel, akumulasi fotosintat, dan senyawa aromatik, serta penurunan kadar asam, dan posisi buah masih

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 8 Kardus tipe RSC yang digunakan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 8 Kardus tipe RSC yang digunakan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengemasan Pisang Ambon Kuning Pada simulasi transportasi pisang ambon, kemasan yang digunakan adalah kardus/karton dengan tipe Regular Slotted Container (RSC) double flute

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 12 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Desember 2010 di Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah naga merupakan tanaman sejenis kaktus yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah naga merupakan tanaman sejenis kaktus yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah naga merupakan tanaman sejenis kaktus yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Buah naga mulai masuk ke Indonesia pada awal tahun 2000. Karakter

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Buah mangga yang digunakan untuk bahan penelitian langsung diambil dari salah satu sentra produksi mangga, yaitu di daerah Indramayu, Kecamatan Jatibarang.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pendahuluan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan emulsi lilin dan pelapisan lilin terhadap buah sawo dengan konsentrasi 0%, 2%,4%,6%,8%,10%, dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia, salah satunya

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia, salah satunya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Allah SWT menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia, salah satunya yakni diciptakannya tumbuhan berbuah dengan berbagai jenisnya, yang kesemuanya itu telah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Selama percobaan berlangsung curah hujan rata-rata yaitu sebesar 272.8 mm per bulan dengan jumlah hari hujan rata-rata 21 hari per bulan. Jumlah curah hujan tersebut

Lebih terperinci

PENGARUH PENGEMASAN DAN SUHU TERHADAP DAYA SIMPAN BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) PIPIT PUSPITA A

PENGARUH PENGEMASAN DAN SUHU TERHADAP DAYA SIMPAN BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) PIPIT PUSPITA A 1 PENGARUH PENGEMASAN DAN SUHU TERHADAP DAYA SIMPAN BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) PIPIT PUSPITA A.24060025 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai bulan April 2012 sampai dengan Mei 2012. Bahan dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penentuan Laju Respirasi dengan Perlakuan Persentase Glukomanan Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah sawo yang terolah minimal, beberapa senyawa penting

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Pisang

TINJAUAN PUSTAKA Botani Pisang 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Pisang Pisang adalah salah satu jenis tanaman pangan yang sudah dibudidayakan sejak dahulu. Pisang berasal dari kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, kemudian menyebar luas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pertanaman Tanaman melon selama penelitian berlangsung tumbuh baik, tidak ada tanaman yang mengalami kematian sampai saat panen. Suhu rata-rata harian di dalam rumah kaca

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE TempatdanWaktu

MATERI DAN METODE TempatdanWaktu III. MATERI DAN METODE 3.1. TempatdanWaktu Penelitianinitelahdilaksanakan di LaboratoriumPemuliaandanGenetika, FakultasPertaniandanPeternakanUniversitas Islam Negeri Sultan SyarifKasim Riau Pekanbaru,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 9. Pola penyusunan acak

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 9. Pola penyusunan acak IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Penyusunan Buah Dalam Kemasan Terhadap Perubahan Suhu Penelitian ini menggunakan dua pola penyusunan buah tomat, yaitu pola susunan acak dan pola susunan teratur. Pola

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pati bahan edible coating berpengaruh terhadap kualitas stroberi (Fragaria x

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pati bahan edible coating berpengaruh terhadap kualitas stroberi (Fragaria x 57 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Jenis Pati Bahan Edible Coating terhadap Kualitas Stroberi (Fragaria x ananassa) Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa jenis pati bahan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Karakteristik Tanah di Lahan Percobaan Berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983), karakteristik Latosol Dramaga yang digunakan dalam percobaan disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Benih kedelai dipanen pada dua tingkat kemasakan yang berbeda yaitu tingkat kemasakan 2 dipanen berdasarkan standar masak panen pada deskripsi masing-masing varietas yang berkisar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Suhu ruangan selama pelaksanaan penelitian ini berkisar 18-20 0 C. Kondisi suhu ini baik untuk vase life bunga potong, karena kisaran suhu tersebut dapat memperlambat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Proksimat Fillet Gurami Komponen penting dari komposisi kimia ikan adalah protein dan lemak. Ikan gurami mengandung 75-80% protein dan 6-9% lemak (basis kering) (Tabel 3).

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lahan Kebun salak dalam penelitian ini terletak di Desa Tapansari, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Umur pohon salak yang digunakan sekitar 2 tahun

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga Maret 2010 di kebun percobaan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB, Tajur dengan elevasi 250-300 m dpl

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Suhu Suhu merupakan faktor yang sangat penting untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme menjadi lambat sehingga

Lebih terperinci

Buah-buahan dan Sayur-sayuran

Buah-buahan dan Sayur-sayuran Buah-buahan dan Sayur-sayuran Pasca panen adalah suatu kegiatan yang dimulai dari bahan setelah dipanen sampai siap untuk dipasarkan atau digunakan konsumen dalam bentuk segar atau siap diolah lebih lanjut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga yang digunakan dalam percobaan ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Kimia

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah,

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan dan Maksud Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan

Lebih terperinci

PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR. Cara-cara penyimpanan meliputi : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI)

PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR. Cara-cara penyimpanan meliputi : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI) PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI) Cara-cara penyimpanan meliputi : 1. penyimpanan pada suhu rendah 2. penyimpanan dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Buah jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu produk hortikultura.

I. PENDAHULUAN. Buah jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu produk hortikultura. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Buah (Psidium guajava L.) merupakan salah satu produk hortikultura. Buah mudah sekali mengalami kerusakan yang disebabkan oleh faktor keadaan fisik buah yang

Lebih terperinci

PENANGANAN PASCA PANEN MANGGIS. Nafi Ananda Utama. Disampaikan dalam siaran Radio Republik Indonesia 20 Januari 2017

PENANGANAN PASCA PANEN MANGGIS. Nafi Ananda Utama. Disampaikan dalam siaran Radio Republik Indonesia 20 Januari 2017 7 PENANGANAN PASCA PANEN MANGGIS Nafi Ananda Utama Disampaikan dalam siaran Radio Republik Indonesia 20 Januari 2017 Pengantar Manggis merupakan salah satu komoditas buah tropika eksotik yang mempunyai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian PENDAHULUAN Latar Belakang Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian besar diolah menjadi berbagai bentuk dan jenis makanan. Pengolahan buahbuahan bertujuan selain untuk memperpanjang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dimulai bulan November 2009 sampai dengan bulan Mei 2010. Kondisi curah hujan selama penelitian berlangsung berada pada interval 42.9 mm sampai dengan 460.7

Lebih terperinci

Tabel 1. Pola Respirasi Buah Klimakterik dan Non Klimakterik Jeruk (blanko: 24,5 ml) Warna Hijau kekuningan (+) Hijau kekuningan (++)

Tabel 1. Pola Respirasi Buah Klimakterik dan Non Klimakterik Jeruk (blanko: 24,5 ml) Warna Hijau kekuningan (+) Hijau kekuningan (++) V. HASIL PENGAMATAN Tabel 1. Pola Buah Klimakterik dan Non Klimakterik Jeruk (blanko: 24,5 ml) Warna (++) Aroma Khas jeruk Khas jeruk Khas jeruk - - (++) Tekstur (++) Berat (gram) 490 460 451 465,1 450

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) TK 2 (b) TK 3 (c) TK 4 Gambar 5. Manggis dengan tingkat kematangan berbeda

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) TK 2 (b) TK 3 (c) TK 4 Gambar 5. Manggis dengan tingkat kematangan berbeda IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tingkat Kematangan Buah Manggis Tingkat kematangan manggis yang dianalisis dalam tahap ini ada 3 yaitu tingkat kematangan 2, 3, dan 4. Tingkat kematangan 2 terlihat dari warna

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Spektra NIR Buah Mangga Varietas Gedong Selama Penyimpanan Pengukuran spektra menggunakan perangkat NIRFlex Fiber Optic Solids N-500 menghasilkan data pengukuran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kuning atau merah (Prajnanta, 2003).

I. PENDAHULUAN. kuning atau merah (Prajnanta, 2003). I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semangka (Citrullus vulgaris Schard.) merupakan buah yang digemari masyarakat Indonesia karena rasanya manis, renyah, dan kandungan airnya banyak, kulitnya keras dapat

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tahap 1. Pengomposan Awal. Pengomposan awal diamati setiap tiga hari sekali selama dua minggu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tahap 1. Pengomposan Awal. Pengomposan awal diamati setiap tiga hari sekali selama dua minggu. Suhu o C IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tahap 1. Pengomposan Awal Pengomposan awal bertujuan untuk melayukan tongkol jagung, ampas tebu dan sabut kelapa. Selain itu pengomposan awal bertujuan agar larva kumbang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kadar Air Berdasarkan analisis varian satu jalur terhadap variabel kadar air biji sorgum yang berasal dari posisi yang berbeda pada malai sorgum disetiap umur panennya menunjukkan

Lebih terperinci

Beberapa ciri yang membedakan antara bahan baku agroindustri dengan bahan baku industri lain antara lain : bahan baku agroindustri bersifat musiman,

Beberapa ciri yang membedakan antara bahan baku agroindustri dengan bahan baku industri lain antara lain : bahan baku agroindustri bersifat musiman, Beberapa ciri yang membedakan antara bahan baku agroindustri dengan bahan baku industri lain antara lain : bahan baku agroindustri bersifat musiman, bulky/voluminous/menghabiskan banyak tempat, sangat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selatan. Buah naga sudah banyak di budidayakan di Negara Asia, salah satunya di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selatan. Buah naga sudah banyak di budidayakan di Negara Asia, salah satunya di 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Buah Naga Buah naga atau dragon fruit merupakan buah yang termasuk kedalam kelompok tanaman kaktus. Buah naga berasal dari Negara Mexico, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka. Penelitian, (6) Hipotesis, dan (7) Tempat Penelitian.

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka. Penelitian, (6) Hipotesis, dan (7) Tempat Penelitian. 12 I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis, dan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. WAKTU DAN TEMPAT Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP), Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. L Kadar Protein Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan bahwa penambahan gula aren dengan formulasi yang berbeda dalam pembuatan kecap manis air kelapa

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Susut Bobot Susut bobot selama penyimpanan merupakan salah satu parameter mutu yang mencerminkan tingkat kesegaran buah, semakin tinggi susut bobot maka buah tersebut semakin

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia Latosol Darmaga Latosol (Inceptisol) merupakan salah satu macam tanah pada lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kadar Air Kulit Manggis Kadar air merupakan salah satu parameter penting yang menentukan mutu dari suatu produk hortikultura. Buah manggis merupakan salah satu buah yang mempunyai

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

KAJIAN PERUBAHAN MUTU BUAH MANGGA GEDONG GINCU SELAMA PENYIMPANAN DAN PEMATANGAN BUATAN OLEH : NUR RATIH PARAMITHA F

KAJIAN PERUBAHAN MUTU BUAH MANGGA GEDONG GINCU SELAMA PENYIMPANAN DAN PEMATANGAN BUATAN OLEH : NUR RATIH PARAMITHA F KAJIAN PERUBAHAN MUTU BUAH MANGGA GEDONG GINCU SELAMA PENYIMPANAN DAN PEMATANGAN BUATAN OLEH : NUR RATIH PARAMITHA F145981 29 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Suhu pada Respirasi Brokoli Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa brokoli mempunyai respirasi yang tinggi. Namun pada suhu yang rendah, hasil pengamatan menunjukkan

Lebih terperinci

PROSIDING SEMINAR NASIONAL DUKUNGAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM AKSELERASI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN. Malang, 13 Desember 2005

PROSIDING SEMINAR NASIONAL DUKUNGAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM AKSELERASI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN. Malang, 13 Desember 2005 PROSIDING SEMINAR NASIONAL DUKUNGAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM AKSELERASI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN Malang, 13 Desember 2005 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN BALAI BESAR PENGKAJIAN

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika,

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika, III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Lebih terperinci