HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 17. Kandang Pemeliharaan A. atlas

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 17. Kandang Pemeliharaan A. atlas"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Suhu dan Kelembaban Ruangan Rata-rata suhu dan kelembaban ruangan selama penelitian pada pagi hari 22,4 0 C dan 78,6%, siang hari 27,4 0 C dan 55%, sore hari 25 0 C dan 75%. Hasil ini sejalan dengan laporan Awan (2007), bahwa suhu dan kelembaban dalam ruangan yang cocok selama pemeliharaan larva A. atlas maupun pengokonan adalah C dan 68-70%. Namun data kelembaban bervariasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pada pagi hari lebih rendah, pada siang dan sore hari masih termasuk ke dalam kisaran suhu hasil penelitian Awan (2007). Gambar 17. Kandang Pemeliharaan A. atlas Pemeliharaan ulat sutera sangat dipengaruhi oleh iklim di lokasi pemeliharaan antara lain suhu, kelembaban, aliran udara, dan cahaya. Faktor tersebut berkaitan dengan kokon yang dihasilkan. Keadaan ruangan atau kandang yang digunakan dalam pemeliharaan yaitu kandang beratapkan genting, terdapat plafon pada bagian atap di dalam kandang, sebagian besar dinding terbuat dari kawat kasa dan hanya sedikit pada bagian bawah yang terbuat dari tembok. Hal ini dapat membuat sirkulasi udara di dalam kandang lancar (Gambar 17). Bila ventilasi baik maka kisaran suhu dan kelembaban yang stabil menjadi lebih luas. Bobot Kokon Utuh Kokon utuh merupakan kokon yang terdiri dari floss, kulit kokon dan pupa. Penimbangan terhadap bobot kokon utuh dilakukan untuk mengetahui penurunan bobot tubuh larva selama proses mengokon hingga terbentuk kokon sempurna. Berdasarkan data pada Tabel 2, rata-rata bobot kokon utuh (H4 hingga H8) mengalami kenaikan sebesar 0,70 g/kokon. Rataan bobot kokon utuh mulai

2 mengalami penurunan pada H8 hingga H40, terutama setelah H24. Hal ini disebabkan larva sudah mulai mengalami proses organogenesis yaitu sudah mulai terjadi pembentukan organ-organ imago antara lain pembentukan sayap, kaki, kepala dan struktur reproduksi. Perubahan ini dilakukan secara bertahap dimulai dari ekor yang berubah menjadi abdomen imago (ngengat) dan selanjutnya berubah hingga membentuk pupa sempurna. Penurunan bobot kokon utuh yang tinggi terjadi pada H24 hingga H28 yaitu dari 5,74 ± 2,75 g/kokon menjadi 4,53 ± 3,23 g/kokon. Hal ini disebabkan sebagian besar pupa sudah keluar menjadi ngengat pada H24 sehingga dapat mempengaruhi rata-rata bobot kokon utuh. Selanjutnya, bobot kokon utuh terus mengalami penurunan hingga H40 (3,27 ± 2,33 g/kokon). Tabel 2. Bobot Kokon Utuh (BKU) A. atlas Per Empat Hari Hasil Pengokonan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan IPB No. Parameter (g/kokon) Nilai Rataan±SB Min-Max KK g % Bobot Kokon Utuh (BKU) H4 6,37±1,07 4,25-8,02 16,80 2. Bobot Kokon Utuh (BKU) H8 7,07±2,17 3,46-12,38 30,69 3. Bobot Kokon Utuh (BKU) H12 6,59±2,30 2,19-12,12 34,90 4. Bobot Kokon Utuh (BKU) H16 6,31±2,48 1,45-11,94 39,30 5. Bobot Kokon Utuh (BKU) H20 6,01±2,62 1,12-11,76 43,59 6. Bobot Kokon Utuh (BKU) H24 5,74±2,75 1,03-11,47 47,00 7. Bobot Kokon Utuh (BKU) H28 4,53±3,23 1,00-11,19 71,00 8. Bobot Kokon Utuh (BKU) H32 4,01±3,12 0,82-10,86 77,00 9. Bobot Kokon Utuh (BKU) H36 3,63±2,77 0,82-10,39 76, Bobot Kokon Utuh (BKU) H40 3,27±2,33 0,81-8,57 71,25 Keterangan : SB = Simpangan baku, Min-Max = Nilai minimum-maksimum, KK = Koefisien keragaman H4 = Hari ke-4 H24 = Hari ke-24 H8 = Hari ke-8 H28 = Hari ke-28 H12 = Hari ke-12 H32 = Hari ke-32 H16 = Hari ke-16 H36 = Hari ke-36 H20 = Hari ke-20 H40 = Hari ke-40 Selang atau jarak antara nilai minimum dan maksimum bobot kokon utuh pada H4 antara 4,25-8,02 g/kokon, H8 antara 3,46-12,38 g/kokon, H12 antara 2,19-

3 12,12 g/kokon, H16 antara 1,45-11,94 g/kokon, H20 antara 1,12-11,76 g/kokon, H24 antara 1,03-11,47 g/kokon, H28 antara 1,00-11,19 g/kokon, H32 antara 0,82-10,86 g/kokon, H36 antara 0,82-10,39 g/kokon, H40 antara 0,81-8,57 g/kokon. Selang atau jarak minimum terdapat pada H40 sebesar 0,81 g/kokon sedangkan selang atau jarak maksimum terdapat pada H8 sebesar 12,38 g/kokon. Hal ini diasumsikan pada H40 pupa banyak mati (belatungan) ataupun yang masih dalam bentuk larva, sedangkan pada H8 terlihat masih banyak larva yang belum berubah menjadi pupa walaupun sudah membentuk kokon sehingga dapat mempengaruhi bobot kokon utuhnya. Tabel 2 juga menunjukkan nilai keragaman bobot kokon utuh yang tinggi. Hal ini tidak bisa dihindari karena materi yang digunakan berasal dari alam dan belum terdomestikasi sehingga tingkat keragamannya tinggi. Hasil penelitian ini mengacu pada pemeliharaan ulat sutera liar (A. atlas) yang masih dilakukan di alam. Salah satu karakter sutera yang penting untuk penilaian kualitas adalah karakteristik kokon. Bobot kokon merupakan karakteristik yang paling penting bila ditinjau dari aspek komersial karena penjualan kokon di pasaran berdasarkan dari bobot. Semakin berat kulit kokon yang dihasilkan maka semakin bagus kokon karena serat sutera yang dihasilkan akan semakin banyak (Indrawan, 2007). Perilaku larva saat mengokon dapat mengakibatkan penurunan terhadap bobot tubuh larva. Gambar 18 merupakan gambar dari kokon utuh. Gambar 18. Kokon Utuh Hasil pemeriksaan kokon menunjukkan bahwa sebagian besar dari kokon tersebut masih dalam bentuk larva dengan ukuran tubuhnya mengecil, berbentuk pipih, berwarna hitam, dan belum sempat memasuki masa pupa untuk melakukan

4 perubahan bentuk tubuh (Gambar 19). Kemungkinan larva kekurangan oksigen yang diperlukan untuk bernafas sehingga menghambat perubahan menjadi pupa. Energi yang ada telah digunakan untuk proses mengokon dan membuat floss serta kulit kokon, sehingga saat larva ini seharusnya sudah mulai mengalami organogenesis, larva hanya semakin mengecil tetapi tidak merubah bentuk tubuh. Selain itu, ada pengaruh suhu dan kelembaban lingkungan serta stress akibat sering mendapat perlakuan saat penimbangan. Awan (2007) menjelaskan bahwa bobot kokon berisi pupa pada generasi pertama larva A. atlas yang diberi pakan daun teh dengan pemeliharaan dilakukan di dalam ruangan (kisaran suhu C dan kelembaban 68-70%) sebesar 7,00±1,5 g/kokon dimana masa pupasi hari sedangkan ratarata bobot kokon utuh hasil penelitian ini dengan kisaran rata-rata suhu pemeliharan 22,4-27,4 0 C dan rata-rata kelembaban 55-78,6% serta masa pupasi 28 hari diperoleh sebesar 4,53±3,23 g/kokon. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh larva yang digunakan pada penelitian ini berasal dari alam sehingga kualitasnya masih beragam dan larva yang digunakan ini belum dipelihara di dalam ruangan sehingga kondisinya tidak terkontrol, berbeda halnya dengan Awan (2007) yang sudah melakukan pemeliharaan di dalam ruangan mulai dari telur. Gambar 19. Larva yang Tidak Berubah Menjadi Pupa Penurunan bobot terjadi karena pada saat akan mengokon, larva berputarputar terlebih dahulu untuk mencari tempat mengokon yang baik kemudian menetap di tempat yang dipilih dan membuat lapisan kokon tipis atau biasa disebut dengan floss. Tempat untuk mengokon sangat mempengaruhi kenyamanan pengokonan, bentuk dan kekakuan daun, serta kesesuaian tempat mengokon.

5 Pembentukan kokon biasanya dimulai pada sore hari. Larva akan menutup seluruhnya kurang dari 6 jam (Awan, 2007). Larva yang telah tertutup ini masih terus merajut kokon hingga kokon tersebut terbentuk sempurna. Hal ini terlihat pada kokon yang masih tipis. Setelah kokon terbentuk sempurna, larva akan berdiam diri beberapa saat kemudian mempersiapkan metamorfosa dari larva menjadi pupa. Tahap pupa merupakan tahap yang paling penting dalam perkembangan metamorfosis dari larva menjadi imago. Menurut Tazima (1978), pembentukan kokon pada Bombyx mori terjadi selama kurang lebih dua hari setelah larva memulai mengokon dan sekitar 24 jam kemudian larva telah berubah menjadi pupa. Bobot Floss Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bobot floss yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan hasil penelitian Baskoro (2008) yaitu sebesar 0,23±0,09 g/kokon sedangkan hasil penelitian Baskoro (2008) adalah 0,18±0,05 g/kokon. Hal ini kemungkinan disebabkan larva mengalami stress yang tinggi akibat perpindahan tempat dari habibat aslinya, adanya perlakuan penimbangan yang dilakukan setiap empat hari sekali, perbedaan kondisi lingkungan yaitu suhu dan kelembaban. Gambar floss dapat dilihat pada Gambar 20. Menurut Atmosoedarjo et al. (2000), persyaratan utama untuk tempat pengokonan adalah sebagai berikut: kuat, struktur cocok untuk mengokon, mampu mengontrol kelembaban, memberi kemudahan untuk memperlakukan larva pada waktu mengokon. Gambar 20. Floss A. atlas Persentase bobot floss (PBF) terhadap bobot kokon utuh dihitung karena menurut Atmosoedarjo et al. (2000), kualitas atau nilai mutu kokon semakin baik jika persentase bobot floss terhadap bobot kokon utuh semakin kecil. Semakin kecil

6 persentase bobot floss semakin baik kualitas kulit kokonnya karena serat yang terbuang untuk membentuk floss digunakan untuk membentuk kulit kokon yang akan dipintal menjadi benang. Kokon yang baik adalah kokon yang menghasilkan banyak serat sutera. Tabel 3. Sebaran Bobot Floss Berdasarkan Kelas dan Frekuensi (Jumlah Kokon) No Selang Kelas (g) Frekuensi Persentase (%) 1 0,08-0, ,1 2 0,16-0, ,8 3 0,24-0, ,4 4 0,32-0, ,8 5 0,40-0,47 1 1,4 6 0,48-0, ,56-0,63 1 1,4 Bobot floss A. atlas berdasarkan Tabel 3 paling banyak (45,8%) berada pada kisaran antara 0,16-0,23 g sedangkan hasil penelitian Baskoro (2008) memperlihatkan frekuensi bobot floss Attacus atlas, paling tinggi berada pada kisaran antara 0,17-0,20 g adalah 30%. Kisaran bobot floss pada selang kelas yang rendah (no.1) sangat diharapkan karena semakin kecil ukuran floss semakin tinggi kualitas kokon dengan semakin banyak serat sutera yang dihasilkan. Bobot Kulit Kokon Karakteristik kokon hasil pengokonan di laboratorium lapang Fakultas Peternakan IPB dapat dilihat pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa bobot kulit kokon memiliki rataan sebesar 0,62±0,35 g/kokon. Baskoro (2008) yang menggunakan kulit kokon dari perkebunan teh di Purwakarta menyatakan bahwa bobot kulit kokon memiliki rataan sebesar 0,5±0,2 g/kokon. Bobot kulit kokon A. atlas rata-rata yang dipelihara di dalam ruangan dengan pemberian pakan daun teh adalah 1,29±0,3 g/kokon (Awan, 2007). Hal ini menjelaskan bahwa A. atlas yang dipelihara di dalam ruangan memiliki bobot kulit kokon yang lebih besar dibandingkan di alam. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain kualitas pakan,

7 kondisi lingkungan, jenis tanaman inang dan adanya parasit yang menginfeksi larva sehingga dapat mempengaruhi kondisi ulat sutera dan hasil suteranya (Awan, 2007). Tabel 4. Karakteristik Kokon A. atlas Hasil Pengokonan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan IPB No. Parameter Nilai Rataan±SB Min-Max 1. Bobot Kulit Kokon (BKK) (g/kokon) 0,62±0,35 0,10-1,54 2. Persentase Bobot Kulit Kokon (PBKK) (%) 11,95±3,38 4,42-23,27 3. Bobot Floss (BF) (g/kokon) 0,23±0,09 0,08-0,58 4. Persentase Bobot Floss (PBF) (%) 5,82±3,86 1,94-21,71 5. Bobot Pupa (BP) (g/kokon) 3,77±1,99 0,49-8,20 6. Persentase Bobot Pupa (PBP) (%) 71,74±9,42 30,43-89,31 7. Panjang Kokon (PK) (mm) 54,30±5,74 41,04-68,28 8. Diameter 9. Lingkar ¼ bagian posterior (D1) (mm) Medial (D2) (mm) ¼ bagian anterior (D3) (mm) ¼ bagian posterior (L1) (mm) Medial (L2) (mm) ¼ bagian anterior (L3) (mm) Keterangan : SB :Simpangan baku Min-Max : Nilai minimum-maksimum 22,26±2,60 25,65±2,38 22,92±2,45 70,42± 7,48 80,70±10,69 72,19±12,81 16,16-28,05 21,35-31,20 17,34-29,10 57,00-85,00 80,00-97,00 70,00-88,00 Bobot kulit kokon yang diperoleh dari penelitian ini diasumsikan dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban selama pemeliharaan, adanya perlakuan penimbangan yang dilakukan setiap empat hari sekali sehingga dapat menyebabkan larva stress saat mengokon. Hal ini berpengaruh terhadap kinerja hormon sehingga proses pengokonan tidak berlangsung sempurna dan serat sutera yang dihasilkan kurang maksimal. Kulit kokon adalah bagian dalam setelah lapisan terluar (floss)

8 seperti terlihat pada Gambar 21. Kulit kokon merupakan bagian yang biasanya diserat menjadi benang. Semakin berat kulit kokon yang dihasilkan maka akan semakin bagus. Selang atau jarak nilai minimum dan maksimum bobot kulit kokon cukup besar berkisar antara 0,10-1,54 g/kokon. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi awal atau asal larva ulat sutera liar yang beragam karena pengambilan di alam dilakukan secara acak dan hanya menentukan faktor instar yaitu larva yang sudah instar enam. Kondisi larva yang sudah mati sebelum larva tersebut menyelesaikan pembuatan kokon dengan sempurna juga dapat mempengaruhi nilai selang tersebut. Gambar 21. Kulit Kokon A. atlas Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase bobot kulit kokon 11,95%, hasil ini lebih rendah dari hasil penelitian Awan (2007) yakni 18,22%. Menurut Atmosoedarjo et al. (2000), beberapa faktor yang berpengaruh antara lain temperatur dan kelembaban selama pemeliharaan. Faktor yang mempengaruhi hasil persentase bobot kulit kokon pada penelitian ini selain faktor lingkungan (suhu dan kelembaban) adalah faktor penanganan saat dilakukan penimbangan setiap empat hari sekali yang dapat menyebabkan larva mengalami stress sehingga bobot kulit kokon yang dihasilkan kurang maksimal. Gangguan yang terjadi pada saat larva mengokon dapat menyebabkan kegagalan mengokon bahkan dapat menyebabkan kematian pada larva. Pengkelasan bobot kulit kokon (BKK) mengacu pada Walpole (1992), dibagi menjadi tujuh kelas sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.

9 Tabel 5. Sebaran Bobot Kulit Kokon Berdasarkan Kelas dan Frekuensi (Jumlah Kokon) No Selang Kelas (g) Frekuensi Persentase (%) 1 0,1-0, ,32-0, ,3 3 0,54-0, ,7 4 0,76-0, ,1 5 0,98-1, ,6 6 1,20-1,41 2 2,7 7 1,42-1,63 1 1,4 Sebaran bobot kulit kokon bervariasi antar kelas dengan frekuensi tertinggi pada selang kelas 0,54-0,75 g (27,7%). Hasil yang diharapkan yaitu bobot kulit kokon berada pada kisaran selang kelas yang besar (no. 7). Hal ini disebabkan permintaan terhadap kulit kokon di pasaran dilihat dari bobotnya karena semakin berat bobot kulit kokon akan menghasilkan serat sutera yang semakin banyak. Bobot Pupa Bobot pupa yang dihasilkan pada penelitian ini sebesar 3,76±1,99 g/kokon dengan persentase 71,74±9,42%. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Mulyani (2008) dalam hal persentase bobot pupa. Hal ini berhubungan dengan jenis pakan yang diberikan, kondisi lingkungan, dan manejemen pemeliharaan yang dilakukan. Bobot kokon utuh A. atlas terdiri dari bobot pupa (78,89-82,19%) dan floss (1,61-1,66%) dari total keseluruhan bobot kokon A. atlas (Mulyani, 2008). Berikut adalah gambar larva yang telah berhasil berubah menjadi pupa, namun pupa ini tidak keluar menjadi ngengat karena pupa telah mati (Gambar 22).

10 Gambar 22. Larva yang Berubah Menjadi Pupa Tabel 6. Sebaran Bobot Pupa Berdasarkan Kelas dan Frekuensi (Jumlah Kokon) No Selang Kelas (g) Frekuensi Persentase (%) 1 0,49-1, ,6 2 1,60-2,70 7 9,7 3 2,80-3, ,1 4 4,00-5, ,8 5 5,20-6, ,40-7,50 5 6,9 7 7,60-8,70 2 2,7 Pengkelasan bobot pupa (BP) dilakukan untuk mengetahui sebaran dari bobot pupa (BP) A. atlas hasil pengokonan di laboratorium lapang Fakultas Peternakan IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot pupa A. atlas paling banyak berada pada kisaran 0,49-1,59 g (23,6%) dan 5,20-6,30 g (25%). Ngengat yang Berhasil Keluar dari Kokon Ketika masa pupasi telah berakhir, ngengat A. atlas akan muncul dari kokon, umumnya pada malam hari. Ngengat keluar dari pangkal/anterior kokon, berwarna coklat kekuning-kuningan dengan gambaran berwarna cokelat muda atau putih pada kedua pasang sayap. Menurut Peigler (1989) ngengat A. atlas memiliki rentangan sayap terbesar diantara anggota Lepidoptera lainnya. Secara keseluruhan ukuran betina lebih besar dari jantan. Ngengat yang muncul dari kokon umurnya pendek dan tidak makan.

11 Pada Gambar 23 terlihat pupa yang berhasil keluar menjadi ngengat berjenis kelamin jantan dan betina. Hal ini diindikasikan oleh bentuk antena pada ngengat jantan lebar seperti sisir dan bentuk sayap ujungnya meruncing sedangkan bentuk antena pada ngengat betina menyirip seperti benang tebal dan memiliki abdomen yang besar berisi telur-telur serta ukuran tubuhnya lebih besar daripada ngengat jantan. Pada saat keluar dari kokon, ngengat hinggap pada kokon sehingga mudah untuk mengembangkan sayapnya. Setelah beberapa saat sayapnya akan mulai mengembang dan mengeras. (a) (b) Gambar 23. Ngengat A. atlas: (a) Jantan dan (b) Betina Jumlah ngengat yang keluar 40 ekor (56%) dari kokon utuh yang diteliti sebanyak 72 buah, sementara sisanya adalah jumlah ngengat yang tidak berhasil keluar dari kokon (44%). Persentase ngengat yang keluar relatif rendah akibat perubahan lingkungan dan tingkah laku dari alam ke dalam ruangan/kandang, pengaruh suhu lingkungan di dalam ruangan/kandang, dan keragaman yang tinggi. Dari jumlah ngengat yang keluar (40 ekor), ngengat berjenis kelamin jantan 15 ekor (37,5%) dan betina 25 ekor (62,5%). Ngengat dengan jenis kelamin jantan memiliki rata-rata bobot kokon 6,15±1,16 g/kokon sedangkan ngengat dengan jenis kelamin betina memiliki rata-rata bobot kokon 7,06±1,66 g/kokon. Observasi terhadap ngengat yang tidak keluar, jumlah mati dalam bentuk ulat 20 ekor (62,5%) dan dalam bentuk pupa 12 ekor (37,5%). Respon terhadap lingkungan selama tahapan pupa perlu dijaga agar tidak terganggu sehingga proses organogenesis berlangsung sempurna. Apabila dalam proses mengokon mengalami gangguan maka akan menyebabkan kegagalan pembentukan organ dan kemungkinan dapat

12 menyebabkan kematian (Awan, 2007). Pupa yang mati dari 12 ekor yang berjenis kelamin jantan sebanyak 1 ekor (8,33%) dan berjenis kelamin betina sebanyak 11 ekor (91,67%). Produksi ngengat berjenis kelamin betina sangat diharapkan untuk proses reproduksi selanjutnya karena rataan jumlah telur yang dihasilkan berkisar antara 100 sampai 362 butir (Awan, 2007). Selain itu, ngengat jantan akan berfungsi membuahi ngengat betina untuk menghasilkan telur yang fertil. Telur yang menetas dan menjadi larva adalah telur yang dibuahi oleh ngengat jantan. Menurut Awan (2007) ngengat betina yang tidak melakukan perkawinan akan menghasilkan telur yang steril yang tidak dapat menetas menjadi larva. Jika telur tidak dapat menetas menjadi larva, maka siklus hidup ulat sutera liar akan terhenti. Oleh sebab itu, kemunculan ngengat baik jantan maupun betina sangat diharapkan agar siklus hidup ulat sutera ini tetap berlangsung dengan baik. Analisis Korelasi dan Regresi Kulit kokon A. atlas yang merupakan hasil pengokonan di laboratorium lapang Fakultas Peternakan IPB memiliki nilai korelasi yang dapat dilihat pada Tabel 7. Korelasi digunakan untuk mengukur hubungan antar peubah (Gaspersz, 1994). Bobot kulit kokon (BKK) memiliki tingkat korelasi dengan bobot floss (BF) dengan nilai sebesar 0,468 yang berarti antara bobot kulit kokon (BKK) dengan bobot floss (BF) memiliki korelasi yang positif sehingga peningkatan bobot kulit kokon (BKK) akan diikuti oleh peningkatan bobot floss (BF). Hal ini dapat disebabkan ulat mengalami gangguan, misalnya stress pada saat proses mengokon. Korelasi antara bobot kulit kokon (BKK) dengan bobot floss (BF) yang baik adalah berkorelasi negatif. Jika bobot kulit kokon (BKK) tinggi maka bobot floss (BF) rendah karena pada kulit kokon yang berat terdapat serat sutera yang banyak sehingga benang yang dihasilkan cukup banyak.

13 Tabel 7. Korelasi Peubah yang Diamati Terhadap Kulit Kokon Ulat Sutera Liar (Attacus atlas) Hasil Pengokonan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan IPB BKU BKK BF BP PBKK PBF PBP (g) (g) (g) (g) (%) (%) (%) BKK (g) 0,884 BF (g) 0,568 0,468 BP (g) 0,972 0,828 0,535 PBKK (%) -0,105 0,305-0,053-0,153 PBF (%) -0,768-0,657-0,081-0,738 0,217 PBP (%) 0,076-0,042-0,019 0,288-0,263-0,069 PK (mm) 0,658 0,598 0,624 0,621 0,031-0,350-0,001 Diameter D1 (mm) D2 (mm) D3 (mm) 0,569 0,613 0,626 0,509 0,574 0,622 0,462 0,475 0,408 0,586 0,632 0,635-0,005 0,069 0,103-0,322-0,351-0,378 0,198 0,225 0,183 Lingkar L1 (mm) L2 (mm) L3 (mm) 0,553 0,395 0,210 0,505 0,354 0,223 0,388 0,323 0,205 0,539 0,385 0,205-0,038 0,034 0,106-0,367-0,174-0,006 0,060 0,016 0,010 Peubah yang memiliki korelasi positif yaitu antara bobot kokon utuh (BKU) dengan bobot kulit kokon (BKK), bobot floss (BF), bobot pupa (BP), persentase bobot pupa (PBP), panjang kokon (PK), diameter (D1, D2, D3), dan lingkar (L1, L2, L3); bobot kulit kokon (BKK) dengan bobot floss (BF), bobot pupa (BP), persentase bobot kulit kokon (PBKK), panjang kokon (PK), diameter (D1, D2, D3), dan lingkar (L1, L2, L3); bobot floss (BF) dengan bobot pupa (BP), panjang kokon (PK), diameter (D1, D2, D3), dan lingkar (L1, L2, L3); bobot pupa (BP) dengan persentase

14 BKK (g/kokon) bobot pupa (PBP), panjang kokon (PK), diameter (D1, D2, D3), dan lingkar (L1, L2, L3); persentase bobot kulit kokon (PBKK) dengan persentase bobot floss (PBF), panjang kokon (PK), diameter (D2, D3), dan lingkar (L2, L3); persentase bobot pupa (PBP) dengan diameter (D1, D2, D3) dan lingkar (L1, L2, L3). Peubah-peubah yang memiliki korelasi negatif yaitu antara bobot kokon utuh (BKU) dengan persentase bobot kulit kokon (PBKK) dan persentase bobot floss (PBF); bobot kulit kokon (BKK) dengan persentase bobot floss (PBF) dan persentase bobot pupa (PBP); bobot floss (BF) dengan persentase bobot kulit kokon (PBKK), persentase bobot floss (PBF), dan persentase bobot pupa (PBP); bobot pupa (BP) dengan persentase bobot kulit kokon (PBKK) dan persentase bobot floss (PBF); persentase bobot kulit kokon (PBKK) dengan persentase bobot pupa (PBP), diameter (D1) dan lingkar (L1); persentase bobot floss (PBF) dengan persentase bobot pupa (PBP), panjang kokon (PK), diameter (D1, D2, D3), dan lingkar (L1, L2, L3); persentase bobot pupa (PBP) dengan panjang kokon (PK). Bobot kulit kokon (BKK) memiliki korelasi yang rendah terhadap lingkar tengah (medial) kokon (0,354) dibandingkan dengan diameter tengah (medial) kokon (0,574) ataupun panjang kokon (0,598). Bobot kulit kokon (BKK) memiliki tingkat korelasi yang cukup tinggi dengan bobot kokon utuh (BKU) dengan nilai sebesar 0,884. Model persamaan regresinya yaitu BKK (g) = -0, ,118 BKU (g) yang berarti bahwa setiap kenaikan satu gram BKU akan meningkatkan BKK (g) sebesar 0,118 g. Grafik sebaran data antara BKK terhadap BKU dapat dilihat pada Gambar BKU (g/kokon) Gambar 24. Grafik Sebaran Data BKK terhadap BKU

15 BKK (g/kokon) BKK (g/kokon) Bobot kulit kokon (BKK) memiliki tingkat korelasi dengan panjang kokon (PK) sebesar 0,598. Model Persamaan regresinya yaitu BKK (g) = -1,37 + 0,0366 PK (mm), yang berarti bahwa setiap kenaikan satu mm PK akan meningkatkan BKK (g) sebesar 0,0366 g. Grafik sebaran data antara BKK terhadap PK dapat dilihat pada Gambar PK (mm) Gambar 25. Grafik Sebaran Data BKK terhadap PK Bobot kulit kokon (BKK) memiliki tingkat korelasi dengan diameter medial (tengah) (D2) sebesar 0,574. Model persamaan regresinya yaitu BKK (g) = -1,55 + 0,0845 D2 (mm), yang berarti bahwa setiap kenaikan satu mm D2 akan meningkatkan BKK (g) sebesar 0,0845 (g). Grafik sebaran data antara BKK terhadap D2 dapat dilihat pada Gambar D2 (mm) Gambar 26. Grafik Sebaran Data BKK terhadap D2

16 BKK (g/kokon) Bobot kulit kokon (BKK) memiliki tingkat korelasi dengan lingkar medial (tengah) (L2) sebesar 0,354. Model persamaan regresinya yaitu BKK (g) = -0, ,0116 L2 (mm), yang berarti bahwa setiap kenaikan satu mm L2 akan meningkatkan BKK (g) sebesar 0,0116 (g). Grafik sebaran data antara BKK terhadap L2 dapat dilihat pada Gambar L2 (mm) Gambar 27. Grafik Sebaran Data BKK terhadap L2 Morfometri Berdasarkan data pada Tabel 8, bentuk kulit kokon yang normal dari A. atlas adalah hampir menyerupai elips. Bila kulit kokon utuh A. atlas dibandingkan dengan kulit kokon B. mori, kulit kokon A. atlas memiliki ukuran yang lebih besar. Ukuran kokon A. atlas berpengaruh kecil terhadap budidaya karena untuk melihat jumlah serat yang dihasilkan dilihat dari bobot kokon.

17 Tabel 8. Morfometri Kokon A. atlas Hasil Pengokonan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan IPB dan yang Berasal dari Perkebunan Teh di Daerah Purwakarta No Parameter Nilai Setiorini (2009) Baskoro (2008) Rataan±SD Min-Max Rataan±SD Min-Max 1. Panjang Kokon (PK) (mm) 54,30±5,74 41,04-68,28 53,3±5,2 33,7-68,1 2. Diameter D1 (mm) D2 (mm) D3 (mm) 22,26±2,60 25,65±2,38 16,16-28,05 21,35-31,20 21,7±2,2 26,1±2, ,1 19, ,92±2,45 17,34-29,10 23,0±2, ,8 3. Lingkar L1 (mm) L2 (mm) L3 (mm) 70,42±7,48 80,70±10,69 57,00-85,00 80,00-97,00 64,2±6,2 81,8±7,1 49,2-83,3 49, ,19±12,82 70,00-88,00 68,7±7,3 29,4-88,2 Panjang, diameter medial dan lingkar medial kokon yang diperoleh dari hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan hasil penelitian Baskoro (2008) yang menunjukkan bahwa manajemen budidaya memiliki pengaruh yang kecil terhadap ukuran morfometri kokon. Rata-rata panjang kokon hasil penelitian ini masih termasuk ke dalam kisaran Peigler (1989) yang melaporkan panjang kokon ulat sutera liar (A. atlas) berkisar antara 5-9 cm. Karakteristik kokon yang dihasilkan pada penelitian ini menunjukkan tingkat keragamannya tinggi. Hal ini disebabkan ulat sutera liar (A. atlas) yang digunakan berasal dari alam dan belum terdomestikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot Floss Floss merupakan bagian kokon yang berfungsi sebagai penyangga atau kerangka kokon. Pada saat akan mengokon, ulat sutera akan mencari tempat lalu menetap di tempat tersebut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Ukuran-Ukuran Kulit Kokon C. trifenestrata Rataan, simpangan baku, koefisien keragaman berbagai ukuran kokon panjang kokon, lingkar bagian medial kokon, lingkar ¼ bagian posterior

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 5. Kandang Pemeliharaan Ulat Sutera Liar A. atlas di Komplek Kandang C

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 5. Kandang Pemeliharaan Ulat Sutera Liar A. atlas di Komplek Kandang C HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi Penelitian Lokasi pemeliharaan larva, pengokonan, dan pengamatan kokon adalah Kandang Pemeliharaan Ulat Sutera Liar A. atlas di Kompleks Kandang Blok C. Lokasi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus Hidup dan Morfologi

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus Hidup dan Morfologi TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Attacus atlas Attacus atlas merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (Chapman, 1969). Klasifikasi A. atlas menurut Peigler (1989) adalah sebagai berikut: Kelas

Lebih terperinci

Morfometri Kokon Attacus atlas Hasil Pemeliharaan di Laboratorium. Cocoon Morphometry Attacus atlas has Grown in the Laboratory

Morfometri Kokon Attacus atlas Hasil Pemeliharaan di Laboratorium. Cocoon Morphometry Attacus atlas has Grown in the Laboratory Jurnal Peternakan Indonesia, Februari 2012 Vol. 14 (1) ISSN 1907-1760 Morfometri Kokon Attacus atlas Hasil Pemeliharaan di Laboratorium Cocoon Morphometry Attacus atlas has Grown in the Laboratory Y.C.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Filamen Sutera Beberapa atribut yang berperan pada penentuan kualitas filamen sutera diantaranya panjang filamen, bobot filamen, tebal filamen, persentase bobot filamen, dan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK KOKON ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) HASIL PENGOKONAN DI LABORATORIUM LAPANG FAKULTAS PETERNAKAN IPB

KARAKTERISTIK KOKON ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) HASIL PENGOKONAN DI LABORATORIUM LAPANG FAKULTAS PETERNAKAN IPB KARAKTERISTIK KOKON ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) HASIL PENGOKONAN DI LABORATORIUM LAPANG FAKULTAS PETERNAKAN IPB SKRIPSI NUNIEK SETIORINI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Aneka Ternak Blok C, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Waktu penelitian dimulai pada bulan Maret-April

Lebih terperinci

PENGAMATAN KELUARNYA NGENGAT Attacus atlas BERDASARKAN BOBOT KOKON PADA BERBAGAI KONDISI LINGKUNGAN

PENGAMATAN KELUARNYA NGENGAT Attacus atlas BERDASARKAN BOBOT KOKON PADA BERBAGAI KONDISI LINGKUNGAN PENGAMATAN KELUARNYA NGENGAT Attacus atlas BERDASARKAN BOBOT KOKON PADA BERBAGAI KONDISI LINGKUNGAN SKRIPSI FITRI KARTIKA SARI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Tabel 11 Hubungan jenis murbei dengan persentase filamen Jenis Murbei

PEMBAHASAN. Tabel 11 Hubungan jenis murbei dengan persentase filamen Jenis Murbei 10 Persentase Filamen Persentase filamen rata-rata paling besar dihasilkan oleh ulat besar yang diberi pakan M. cathayana sedangkan yang terkecil dihasilkan oleh ulat yang diberi pakan M. alba var. kanva-2.

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK KULIT KOKON SEGAR ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) DARI PERKEBUNAN TEH DI DAERAH PURWAKARTA SKRIPSI ARYOKO BASKORO

KARAKTERISTIK KULIT KOKON SEGAR ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) DARI PERKEBUNAN TEH DI DAERAH PURWAKARTA SKRIPSI ARYOKO BASKORO KARAKTERISTIK KULIT KOKON SEGAR ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) DARI PERKEBUNAN TEH DI DAERAH PURWAKARTA SKRIPSI ARYOKO BASKORO PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB IV. Selama proses habituasi dan domestikasi Attacus atlas (F1-F2) dengan pemberian dua

BAB IV. Selama proses habituasi dan domestikasi Attacus atlas (F1-F2) dengan pemberian dua BAB IV Hasil Dari Aspek Biologi Ulat Sutera Liar Attacus atlas (Lepidoptera : Saturniidae) Selama Proses Habituasi dan Domestikasi Pada Pakan Daun Sirsak dan Teh 4.1. Perubahan tingkah laku Selama proses

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Hewan Percobaan Bahan dan Peralatan

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Hewan Percobaan Bahan dan Peralatan MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Blok C Laboratorium Lapang Bagian Produksi Satwa Harapan, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan

Lebih terperinci

Karakteristik Kulit Kokon Segar Ulat Sutera Liar (Attacus atlas) dari Perkebunan Teh di Daerah Purwakarta

Karakteristik Kulit Kokon Segar Ulat Sutera Liar (Attacus atlas) dari Perkebunan Teh di Daerah Purwakarta Jurnal Peternakan Indonesia, Oktober 2011 Vol. 13 (3) ISSN 1907-1760 Karakteristik Kulit Kokon Segar Ulat Sutera Liar (Attacus atlas) dari Perkebunan Teh di Daerah Purwakarta The Characteristics of Fresh

Lebih terperinci

Ulat Sutera Liar (Attacus atlas)

Ulat Sutera Liar (Attacus atlas) TINJAUAN PUSTAKA Sutera Sutera yang telah diolah menjadi bahan tekstil memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan bahan sandang lainnya. Dari karakteristiknya keistimewaan kain sutera antara

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Divisi Persuteraan Alam, Ciomas, Bogor. Waktu penelitian dimulai

Lebih terperinci

Parameter yang Diamati:

Parameter yang Diamati: 3 Selanjutnya, telur dikumpulkan setiap hari dalam satu cawan petri kecil yang berbeda untuk setiap induk betina fertil. Oviposisi dihitung sejak peletakan telur hari pertama hingga hari terakhir bertelur.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Ulat Sutra ( Bombyx mori L. Ras Ulat Sutera

TINJAUAN PUSTAKA Ulat Sutra ( Bombyx mori L. Ras Ulat Sutera TINJAUAN PUSTAKA Ulat Sutra (Bombyx mori L.) Ulat sutera adalah serangga holometabola yang mengalami metamorfosa sempurna, yang berarti bahwa setiap generasi keempat stadia, yaitu telur, larva atau lazim

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun TINJAUAN PUSTAKA 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) 1.1 Biologi Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun seperti atap genting (Gambar 1). Jumlah telur

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 7 HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Distribusi Spasial A. tegalensis pada Tiga Varietas Tebu Secara umum pola penyebaran spesies di dalam ruang terbagi menjadi tiga pola yaitu acak, mengelompok, dan teratur. Sebagian

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Metabolisme Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor mulai bulan Oktober sampai dengan Nopember 2011. Tahapan meliputi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Parasitisasi

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Parasitisasi HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Parasitisasi Acerophagus papayae merupakan endoparasitoid soliter nimfa kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus. Telur, larva dan pupa parasitoid A. papayae berkembang di dalam

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ulat Sutera (Bombyx mori L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Ulat Sutera (Bombyx mori L.) TINJAUAN PUSTAKA Ulat Sutera (Bombyx mori L.) Ulat sutera merupakan serangga yang termasuk ke dalam Ordo Lepidoptera, yang mencakup semua jenis kupu dan ngengat. Ulat sutera adalah serangga holometabola,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biocontrol, Divisi Research and

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biocontrol, Divisi Research and III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biocontrol, Divisi Research and Development, PT Gunung Madu Plantations (PT GMP), Kabupaten Lampung Tengah.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo Sachhariphagus Boj. (Lepidoptera: Crambidae)

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo Sachhariphagus Boj. (Lepidoptera: Crambidae) TINJAUAN PUSTAKA Chilo Sachhariphagus Boj. (Lepidoptera: Crambidae) Biologi Gambar 1. Telur C. sacchariphagus Bentuk telur oval, datar dan mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Biologi Attacus atlas

TINJAUAN PUSTAKA Biologi Attacus atlas TINJAUAN PUSTAKA Biologi Attacus atlas Ulat sutera liar Attacus atlas adalah salah satu serangga yang berukuran besar dan banyak ditemukan di wilayah Asia (Peigler, 1989). A. atlas memiliki tahapan metamorfosis

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Prosedur

MATERI DAN METODE. Prosedur MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Non Ruminansia dan Satwa Harapan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dan

Lebih terperinci

BAB VII PEMBAHASAN UMUM. Dari rangkaian penelitian yang dilakukan, nampak bahwa ulat sutera liar Attacus

BAB VII PEMBAHASAN UMUM. Dari rangkaian penelitian yang dilakukan, nampak bahwa ulat sutera liar Attacus BAB VII PEMBAHASAN UMUM 7. 1. Polyvoltin Dari rangkaian penelitian yang dilakukan, nampak bahwa ulat sutera liar Attacus atlas (Lepidoptera : Saturniidae) adalah serangga polyvoltin yaitu dapat hidup lebih

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Materi Ulat Sutera Bahan-Bahan Alat

MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Materi Ulat Sutera Bahan-Bahan Alat MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi Devisi Persuteraan Alam Ciomas. Waktu penelitian dimulai dari Juni

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Serangan O. furnacalis pada Tanaman Jagung Larva O. furnacalis merusak daun, bunga jantan dan menggerek batang jagung. Gejala serangan larva pada batang adalah ditandai dengan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin Pengamatan perilaku kawin nyamuk diamati dari tiga kandang, kandang pertama berisi seekor nyamuk betina Aedes aegypti dengan seekor nyamuk jantan Aedes aegypti, kandang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut: TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera : Noctuidae :

Lebih terperinci

Lampiran 1. Peta penyebaran A. atlas (Peigler, 1989) Lampiran 2. Tempat Perkawinan dan Pemeliharaan

Lampiran 1. Peta penyebaran A. atlas (Peigler, 1989) Lampiran 2. Tempat Perkawinan dan Pemeliharaan LAMPIRAN Lampiran 1. Peta penyebaran A. atlas (Peigler, 1989) Lampiran 2. Tempat Perkawinan dan Pemeliharaan (a) Tempat Perkawinan (b) Tempat Pemeliharaan 38 Lampiran 3. Analaisis Sidik Ragam Konsumsi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Burung Merpati Balap Tinggian Karakteristik dari burung merpati balap tinggian sangat menentukan kecepatan terbangnya. Bentuk badan mempengaruhi hambatan angin, warna

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi S. inferens adalah sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi S. inferens adalah sebagai berikut: TINJAUAN PUSTAKA Biologi Parasit Lalat S. inferens Towns. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi S. inferens adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Class Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Suhu dan Kelembaban Ulat sutera merupakan poikilotermis yaitu hewan berdarah dingin yang hidupnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Suhu dan kelembaban pemeliharaan ulat berkisar

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords: Graphium agamemnon, Graphium doson, Mechelia champaca, Annona muricata, life cycle, food consumption.

ABSTRACT. Keywords: Graphium agamemnon, Graphium doson, Mechelia champaca, Annona muricata, life cycle, food consumption. ABSTRACT ESWA TRESNAWATI. The Life Cycle and Growth of Graphium agamemnon L. and Graphium doson C&R. Butterflies (Papilionidae: Lepidoptera) Fed by Cempaka (Michelia champaca) and Soursoup (Annona muricata).

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lapang dan di Laboratorium Bioekologi Parasitoid dan Predator Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, pada bulan Mei

Lebih terperinci

Metamorfosis Kecoa. 1. Stadium Telur. 2. Stadium Nimfa

Metamorfosis Kecoa. 1. Stadium Telur. 2. Stadium Nimfa Metamorfosis Kecoa 1. Stadium Telur Proses metamorfosis kecoa diawali dengan stadium telur. Telur kecoa diperoleh dari hasil pembuahan sel telur betina oleh sel spermatozoa kecoa jantan. Induk betina kecoa

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama Spodoptera litura F. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Filum Kelas Ordo Famili Subfamili Genus : Arthropoda : Insecta

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae)

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae) TINJAUAN PUSTAKA Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae) Seekor imago betina dapat meletakkan telur sebanyak 282-376 butir dan diletakkan secara kelompok. Banyaknya telur dalam

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi dan siklus hiduptrichogramma spp. (Hymenoptera : Famili Trichogrammatidae merupakan parasitoid telur yang

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi dan siklus hiduptrichogramma spp. (Hymenoptera : Famili Trichogrammatidae merupakan parasitoid telur yang 5 TINJAUAN PUSTAKA Biologi dan siklus hiduptrichogramma spp. (Hymenoptera : Trichogrammatidae) Famili Trichogrammatidae merupakan parasitoid telur yang bersifatgeneralis. Ciri khas Trichogrammatidae terletak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Kamruton adalah salah satu bagian dari Kecamatan Lebak Wangi,

HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Kamruton adalah salah satu bagian dari Kecamatan Lebak Wangi, 1 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Manajemen Pemeliharaan dan Pakan Desa Kamruton adalah salah satu bagian dari Kecamatan Lebak Wangi, yang berbatasan dengan desa teras bendung di sebelah utara dan desa jeruk

Lebih terperinci

TAHAP TAHAP PERKEMBANGAN TAWON KEMIT (Ropalidia fasciata) YANG MELIBATKAN ULAT GRAYAK (Spodopteraa exigua)

TAHAP TAHAP PERKEMBANGAN TAWON KEMIT (Ropalidia fasciata) YANG MELIBATKAN ULAT GRAYAK (Spodopteraa exigua) TAHAP TAHAP PERKEMBANGAN TAWON KEMIT (Ropalidia fasciata) YANG MELIBATKAN ULAT GRAYAK (Spodopteraa exigua) SKRIPSI Diajukan Untuk Penulisan Skripsi Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Sarjana Pendidikan (S-1)

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Individu betina dan jantan P. marginatus mengalami tahapan perkembangan hidup yang berbeda (Gambar 9). Individu betina mengalami metamorfosis paurometabola (metamorfosis

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS DAN DAYA TETAS TELUR ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) ASAL PURWAKARTA PADA BERBAGAI JENIS KANDANG PENGAWINAN

PRODUKTIVITAS DAN DAYA TETAS TELUR ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) ASAL PURWAKARTA PADA BERBAGAI JENIS KANDANG PENGAWINAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA TETAS TELUR ULAT SUTERA LIAR (Attacus atlas) ASAL PURWAKARTA PADA BERBAGAI JENIS KANDANG PENGAWINAN SKRIPSI RADEN RUVITA DESIANA PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS

Lebih terperinci

PELUANG AGROBISNIS SUTERA ALAM

PELUANG AGROBISNIS SUTERA ALAM PELUANG AGROBISNIS SUTERA ALAM TIM SUTERA BALITBANGHUT KEBUTUHAN SUTERA ALAM NASIONAL BENANG SUTERA 900 TON/THN RENDEMEN 1:8 KOKON 7.200 TON/THN KONDISI 2012 PRODUKSI KOKON 163.119 TON PRODUKSI BENANG

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. enam instar dan berlangsung selama hari (Prayogo et al., 2005). Gambar 1 : telur Spodoptera litura

TINJAUAN PUSTAKA. enam instar dan berlangsung selama hari (Prayogo et al., 2005). Gambar 1 : telur Spodoptera litura S. litura (Lepidoptera: Noctuidae) Biologi TINJAUAN PUSTAKA Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadangkadang tersusun 2 lapis), berwarna coklat kekuning-kuningan diletakkan

Lebih terperinci

Gambar 3. Kondisi Kandang yang Digunakan pada Pemeliharaan Puyuh

Gambar 3. Kondisi Kandang yang Digunakan pada Pemeliharaan Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Lingkungan Tempat Penelitian Pemeliharaan puyuh dilakukan pada kandang battery koloni yang terdiri dari sembilan petak dengan ukuran panjang 62 cm, lebar 50 cm, dan tinggi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Itik Magelang Bangsa itik jinak yang ada sekarang berasal dari itik liar yang merupakan species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi (Susilorini

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 9 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Ikan contoh diambil dari TPI Kali Baru mulai dari bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan November 2010 yang merupakan hasil tangkapan nelayan di

Lebih terperinci

HASIL A. Teknik Penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus

HASIL A. Teknik Penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus HASIL A. Teknik Penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus Langkah awal yang harus dilakukan pada penangkaran kupu-kupu adalah penyiapan sarana pemeliharaan dari stadia telur sampai imago. Bahan, alat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Morfologi

TINJAUAN PUSTAKA. Morfologi TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Ulat Sutera Liar (Attacus Atlas) Ulat sutera liar Attacus atlas adalah serangga yang memiliki ukuran tubuh besar dan banyak ditemukan di hutan-hutan tropis dan subtropis seperti

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakteristik dan Klasifikasi Kupu-Kupu Klasifikasi kupu-kupu menurut Scobel (1995) adalah sebagai berikut :

TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakteristik dan Klasifikasi Kupu-Kupu Klasifikasi kupu-kupu menurut Scobel (1995) adalah sebagai berikut : II. TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik dan Klasifikasi Kupu-Kupu Klasifikasi kupu-kupu menurut Scobel (1995) adalah sebagai berikut : Kerajaan Filum Kelas Bangsa : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 16 3. METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Pola reproduksi ikan swanggi (Priacanthus tayenus) pada penelitian ini adalah tinjauan mengenai sebagian aspek reproduksi yaitu pendugaan ukuran pertama

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 15 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT Kupu-Kupu Taman Lestari dengan alamat Jalan Batu Karu, Sandan Lebah, Sesandan Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Daerah Penyebaran C. trifenestrata di Indonesia Sumber: Nassig et al. (1996)

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Daerah Penyebaran C. trifenestrata di Indonesia Sumber: Nassig et al. (1996) TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Penyebaran Ulat Sutera Emas (C. trifenestrata) Ulat sutera emas C. trifenestrata merupakan salah satu jenis ngengat nokturnal (aktif pada malam hari). C. trifenestrata diklasifikasikan

Lebih terperinci

Attacus atlas SKRIPSI

Attacus atlas SKRIPSI PENGARUH PENYIMPANAN DAN HARI OVIPOSISI TERHADAP WAKTU PENETASAN DAN DAYAA TETAS TELUR Attacus atlas SKRIPSI ANGGISTHIA DEWI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan kembung perempuan (R. brachysoma)

METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan kembung perempuan (R. brachysoma) 11 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Ikan contoh diambil dari TPI Kalibaru mulai dari bulan Agustus sampai dengan bulan November 2010 yang merupakan hasil tangkapan nelayan Teluk Jakarta

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo saccharipaghus Bojer (Lepidoptera: Pyralidae) mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam sebelum

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo saccharipaghus Bojer (Lepidoptera: Pyralidae) mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam sebelum TINJAUAN PUSTAKA Chilo saccharipaghus Bojer (Lepidoptera: Pyralidae) Biologi Telur diletakkan pada permukaan daun, berbentuk oval, datar dan mengkilap. Telur berwarna putih dan akan berubah menjadi hitam

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Bojer. (Lepidoptera: Crambidae) Imago betina meletakkan telur secara berkelompok pada dua baris secara

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Bojer. (Lepidoptera: Crambidae) Imago betina meletakkan telur secara berkelompok pada dua baris secara TINJAUAN PUSTAKA 1. Chilo sacchariphagus Bojer. (Lepidoptera: Crambidae) 1.1 Biologi Imago betina meletakkan telur secara berkelompok pada dua baris secara parallel pada permukaan daun yang hijau. Telur

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Ciri Morfologi Parasitoid B. lasus

HASIL DAN PEMBAHASAN. Ciri Morfologi Parasitoid B. lasus 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Morfologi Parasitoid B. lasus Telur Telur parasitoid B. lasus berbentuk agak lonjong dan melengkung seperti bulan sabit dengan ujung-ujung yang tumpul, transparan dan berwarna

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan.

BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan. 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika dan kolam percobaan pada Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Jl. Raya 2 Sukamandi,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Data Suhu Lingkungan Kandang pada Saat Pengambilan Data Tingkah Laku Suhu (ºC) Minggu

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Data Suhu Lingkungan Kandang pada Saat Pengambilan Data Tingkah Laku Suhu (ºC) Minggu HASIL DAN PEMBAHASAN Manajemen Pemeliharaan Komponen utama dalam beternak puyuh baik yang bertujuan produksi hasil maupun pembibitan terdiri atas bibit, pakan serta manajemen. Penelitian ini menggunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Kandang Penelitian Rataan suhu kandang pada pagi, siang, dan sore hari selama penelitian secara berturut-turut adalah 25,53; 30,41; dan 27,67 C. Suhu kandang

Lebih terperinci

Manfaat Penelitian TINJAUAN PUSTAKA

Manfaat Penelitian TINJAUAN PUSTAKA 2 Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai bakteri yang bersifat sebagai flora normal atau berperan sebagai patogen yang terdapat pada saluran reproduksi imago betina

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian produksi telur ayam Arab dilaksanakan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Blok B), sedangkan penelitian kualitas internal

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai TINJAUAN PUSTAKA Biologi Ulat Api (Setothosea asigna van Eecke) berikut: Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai Kingdom Pilum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia :

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Rancabolang, Bandung. Tempat pemotongan milik Bapak Saepudin ini

HASIL DAN PEMBAHASAN. Rancabolang, Bandung. Tempat pemotongan milik Bapak Saepudin ini IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Assolihin Aqiqah bertempat di Jl. Gedebage Selatan, Kampung Rancabolang, Bandung. Tempat pemotongan milik Bapak Saepudin ini lokasinya mudah ditemukan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup S. litura berkisar antara hari (lama stadium telur 2 4

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup S. litura berkisar antara hari (lama stadium telur 2 4 TINJAUAN PUSTAKA Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) Biologi Siklus hidup S. litura berkisar antara 30 60 hari (lama stadium telur 2 4 hari, larva yang terdiri dari 6 instar : 20 26 hari, pupa 8

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Persiapan tanaman uji, tanaman G. pictum (kiri) dan tanaman A. gangetica (kanan)

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Persiapan tanaman uji, tanaman G. pictum (kiri) dan tanaman A. gangetica (kanan) BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Kelompok Peneliti Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor. Penelitian dimulai dari bulan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. miring. Sycanus betina meletakkan tiga kelompok telur selama masa hidupnya.

TINJAUAN PUSTAKA. miring. Sycanus betina meletakkan tiga kelompok telur selama masa hidupnya. TINJAUAN PUSTAKA Biologi Sycanus sp. (Hemiptera: Reduviidae) Telur Kelompok telur berwarna coklat dan biasanya tersusun dalam pola baris miring. Sycanus betina meletakkan tiga kelompok telur selama masa

Lebih terperinci

Preservasi Imago Jantan Ulat Sutera Liar Attacus Atlas (Lepidoptera: Saturniidae)

Preservasi Imago Jantan Ulat Sutera Liar Attacus Atlas (Lepidoptera: Saturniidae) Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), Desember 2014 Vol. 19 (3): 174 178 ISSN 0853 4217 Preservasi Imago Jantan Ulat Sutera Liar Attacus Atlas (Lepidoptera: Saturniidae) (Preservation Of Male Imago Of

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS ULAT SUTERA (Bombyx mori L) BS-09 SOPPENG DAN CANDIROTO DENGAN JENIS DAUN MURBEI BERBEDA YUNINDA ESTETIKA

PRODUKTIVITAS ULAT SUTERA (Bombyx mori L) BS-09 SOPPENG DAN CANDIROTO DENGAN JENIS DAUN MURBEI BERBEDA YUNINDA ESTETIKA PRODUKTIVITAS ULAT SUTERA (Bombyx mori L) BS-09 SOPPENG DAN CANDIROTO DENGAN JENIS DAUN MURBEI BERBEDA YUNINDA ESTETIKA DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan 9 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian evaluasi pengaruh frekuensi dan periode pemberian pakan yang berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember

Lebih terperinci

Penyiapan Mesin Tetas

Penyiapan Mesin Tetas Dian Maharso Yuwono Pemeliharaan unggas secara intensif memerlukan bibit dalam jumlah yang relatif banyak, sehingga penetasan dengan mesin semakin diperlukan. Penetasan telur unggas (ayam, itik, puyuh,

Lebih terperinci

3.3. Pr 3.3. P os r ed e u d r u r Pe P n e e n l e iltiitan

3.3. Pr 3.3. P os r ed e u d r u r Pe P n e e n l e iltiitan 12 digital dengan sensifitas 0,0001 gram digunakan untuk menimbang bobot total dan berat gonad ikan, kantong plastik digunakan untuk membungkus ikan yang telah ditangkap dan dimasukan kedalam cool box,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), adapun sistematika dari hama ini adalah

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), adapun sistematika dari hama ini adalah TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama Menurut Kalshoven (1981), adapun sistematika dari hama ini adalah Kingdom Filum Class Ordo Famili Genus : Animalia : Arthopoda : Insekta : Lepidoptera : Plutellidae : Plutella

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan semakin meningkat pula. Pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat jenisnya beragam, salah satunya pemenuhan

Lebih terperinci

KONDISI PEMELIHARAAN SUTERA DI INDONESIA

KONDISI PEMELIHARAAN SUTERA DI INDONESIA ULAT SUTERA UNGGULAN LITBANG TIM SUTERA PUSPROHUT BALITBANGHUT KONDISI PEMELIHARAAN SUTERA DI INDONESIA Penggunaan salah satu bibit untuk kondisi pemeliharaan yang beragam (C301), BS09 jarang produksi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. antara telur dan tertutup dengan selaput. Telur mempunyai ukuran

TINJAUAN PUSTAKA. antara telur dan tertutup dengan selaput. Telur mempunyai ukuran TINJAUAN PUSTAKA Ulat kantong Metisa plana Walker Biologi Hama Menurut Borror (1996), adapun klasifikasi ulat kantong adalah sebagai berikut: Kingdom Phyllum Class Ordo Family Genus Species : Animalia

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. dan pengembangan perbibitan ternak domba di Jawa Barat. Eksistensi UPTD

HASIL DAN PEMBAHASAN. dan pengembangan perbibitan ternak domba di Jawa Barat. Eksistensi UPTD IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Keadaan Umum Balai Pengembangan Ternak Domba Margawati merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas di lingkungan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat yang mempunyai tugas

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Pengadaan dan Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Pengadaan dan Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti 14 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama tujuh bulan mulai dari bulan Juli 2011 hingga Februari 2012, penelitian dilakukan di Insektarium Bagian Parasitologi

Lebih terperinci

Gambar 1. Gejala serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif (sundep)

Gambar 1. Gejala serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif (sundep) HAMA PENGGEREK BATANG PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA Status Penggerek batang padi merupakan salah satu hama utama pada pertanaman padi di Indonesia. Berdasarkan luas serangan pada tahun 2006, hama penggerek

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh Puyuh yang digunakan dalam penilitian ini adalah Coturnix-coturnix japonica betina periode bertelur. Konsumsi pakan per hari, bobot

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) diletakkan secara berkelompok dalam 2-3 baris (Gambar 1). Bentuk telur jorong

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) diletakkan secara berkelompok dalam 2-3 baris (Gambar 1). Bentuk telur jorong TINJAUAN PUSTAKA Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) Biologi Ngengat meletakkan telur di atas permukaan daun dan jarang meletakkan di bawah permukaan daun. Jumlah telur yang diletakkan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di peternakan merpati di area Komplek Alam Sinar Sari, Desa Sinarsari, Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini berlangsung selama bulan

Lebih terperinci

Gambar 4. Peta lokasi pengambilan ikan contoh

Gambar 4. Peta lokasi pengambilan ikan contoh 14 Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2009. Lokasi pengambilan ikan contoh adalah tempat pendaratan ikan (TPI) Palabuhanratu. Analisis contoh dilakukan di Laboratorium Ekobiologi,

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK FILAMEN SUTERA (Attacus atlas) PADA USIA KOKON YANG BERBEDA SKRIPSI YULIANA FAJAR

KARAKTERISTIK FILAMEN SUTERA (Attacus atlas) PADA USIA KOKON YANG BERBEDA SKRIPSI YULIANA FAJAR KARAKTERISTIK FILAMEN SUTERA (Attacus atlas) PADA USIA KOKON YANG BERBEDA SKRIPSI YULIANA FAJAR DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 KARAKTERISTIK

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. sangat berpengaruh terhadap kehidupan ayam. Ayam merupakan ternak

HASIL DAN PEMBAHASAN. sangat berpengaruh terhadap kehidupan ayam. Ayam merupakan ternak 22 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Lingkungan Mikro Suhu dan kelembaban udara merupakan suatu unsur lingkungan mikro yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan ayam. Ayam merupakan ternak homeothermic,

Lebih terperinci

HAMA Cricula trifenestrata PADA JAMBU METE DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

HAMA Cricula trifenestrata PADA JAMBU METE DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA HAMA Cricula trifenestrata PADA JAMBU METE DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut portugal ke India

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat 7 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hayati, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. a b c Gambar 2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu; b) Alas Kandang Sekam; c) Alas Kandang Kawat

MATERI DAN METODE. a b c Gambar 2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu; b) Alas Kandang Sekam; c) Alas Kandang Kawat MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Namun, untuk menghasilkan pertumbuhan yang sehat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. energi pada kumunitasnya. Kedua, predator telah berulang-ulang dipilih sebagai

TINJAUAN PUSTAKA. energi pada kumunitasnya. Kedua, predator telah berulang-ulang dipilih sebagai TINJAUAN PUSTAKA Pentingnya predasi sebagai strategi eksploitasi dapat diringkas dalam empat kategori utama. Pertama, predator memainkan peran penting dalam aliran energi pada kumunitasnya. Kedua, predator

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6484.1-2000 Standar Nasional Indonesia Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock) Daftar Isi Halaman Prakata... 1 Pendahuluan... 1 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Ayam Broiler Awal Penelitian DOC yang dipelihara pada penelitian ini sebanyak 1000 ekor. DOC memiliki bobot badan yang seragam dengan rataan 37 g/ekor. Kondisi DOC sehat dengan

Lebih terperinci

untuk meneliti tingkat predasi cecopet terhadap larva dan imago Semoga penelitian ini nantinya dapat bermanfaat bagi pihak pihak yang

untuk meneliti tingkat predasi cecopet terhadap larva dan imago Semoga penelitian ini nantinya dapat bermanfaat bagi pihak pihak yang untuk meneliti tingkat predasi cecopet terhadap larva dan imago Brontispa sp di laboratorium. Semoga penelitian ini nantinya dapat bermanfaat bagi pihak pihak yang membutuhkan. Tujuan Penelitian Untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Itik Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub family Anatinae, tribus Anatini dan genus Anas (Srigandono,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODA. Ketinggian kebun Bah Birung Ulu berkisar m dpl pada bulan

BAHAN DAN METODA. Ketinggian kebun Bah Birung Ulu berkisar m dpl pada bulan 12 BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara IV Bah Birung Ulu dan Laboratorium Entomologis Hama dan Penyakit Tanaman

Lebih terperinci