OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU"

Transkripsi

1

2

3 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015

4

5 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU ISSN: Ukuran Buku Jumlah Halaman : 10,12 inci x 7,17 inci (B5) : xii + 99 halaman Penasehat: Dr. Ir. Suwandi, M.Si Penyunting: Dr. Ir. Leli Nuryati, M.Sc Dr. Ir. Budi Waryanto, M.Si Ir. Noviati, M.Si Ir. Roch Widaningsih, M.Si Penulis: Titin Agustina, S.Si Design dan Layout: Titin Agustina, S.Si Victor Saulus Bonavia Diterbitkan oleh: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

6

7 OUTLOOK SUSU 2015 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayahnya sehingga buku Outlook Susu 2015 dapat diselesaikan. Buku ini mengulas analisis perkembangan komoditas strategis peternakan khususnya susu yang menyajikan keragaan data series secara nasional dan global selama tahun terakhir serta dilengkapi dengan hasil analisis proyeksi penawaran dan permintaan domestik untuk tahun 2016 sampai dengan tahun Dengan diterbitkannya publikasi ini diharapkan para pembaca dapat memperoleh gambaran tentang keragaan dan proyeksi komoditas susu secara lebih lengkap dan menyeluruh. Kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan publikasi ini, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Kritik dan saran dari segenap pembaca sangat diharapkan guna dijadikan dasar penyempurnaan dan perbaikan untuk penerbit publikasi berikutnya. Jakarta, Desember 2015 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Dr. Ir. Suwandi, M.Si NIP Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i

8 2015 OUTLOOK SUSU ii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

9 OUTLOOK SUSU 2015 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR LAMPIRAN... x RINGKASAN EKSEKUTIF... 1 I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG TUJUAN RUANG LINGKUP... 4 II. METODOLOGI SUMBER DATA DAN INFORMASI METODE ANALISIS ANALISIS DESKRIPTIF ANALISIS PENAWARAN ANALISIS PERMINTAAN KELAYAKAN MODEL... 7 III. KERAGAAN NASIONAL POPULASI DAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH NASIONAL SENTRA POPULASI DAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH NASIONAL KONSUMSI SUSU SAPI NASIONAL HARGA SUSU SAPI NASIONAL EKSPOR DAN IMPOR SUSU SAPI NASIONAL IV. KERAGAAN DUNIA PERKEMBANGAN SUSU CAIR DUNIA POPULASI SAPI PERAH DAN PRODUKSI SUSU CAIR DUNIA 19 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian iii

10 2015 OUTLOOK SUSU NEGARA SENTRA POPULASI DAN PRODUKSI SUSU CAIR DUNIA KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI SUSU CAIR DUNIA EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR SUSU CAIR DUNIA PERKEMBANGAN KEJU DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI KEJU DUNIA KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI KEJU DUNIA EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR KEJU DUNIA PERKEMBANGAN MENTEGA DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI MENTEGA DUNIA KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI MENTEGA DUNIA EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR MENTEGA DUNIA PERKEMBANGAN SUSU BUBUK DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI SUSU BUBUK DUNIA KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI SUSU BUBUK DUNIA EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR SUSU BUBUK DUNIA PERKEMBANGAN SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA iv Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

11 OUTLOOK SUSU 2015 V. ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN PROYEKSI PENAWARAN SUSU INDONESIA PROYEKSI PERMINTAAN SUSU INDONESIA NERACA SUSU VI. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian v

12 2015 OUTLOOK SUSU DAFTAR TABEL Halaman Tabel 5.1. Hasil Analisis Fungsi Respon Produksi Susu Sapi di Indonesia 47 Tabel 5.2. Proyeksi Produksi Susu Sapi di Indonesia, Tabel 5.3. Proyeksi Permintaan atau Konsumsi Susu di Indonesia, Tabel 5.4. Neraca Susu Indonesia, vi Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

13 OUTLOOK SUSU 2015 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.1. Perkembangan Populasi Sapi Perah di Jawa dan Luar Jawa, Gambar 3.2. Perkembangan Produksi Susu Sapi di Jawa dan Luar Jawa, Gambar 3.3. Sentra Populasi Sapi Perah Indonesia, Gambar 3.4. Sentra Produksi Susu Sapi Perah Indonesia, Gambar 3.5. Perkembangan Ketersediaan Susu Indonesia, Gambar 3.6. Perkembangan Konsumsi Susu Murni Indonesia, Gambar 3.7. Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Indonesia, Gambar 3.8. Perkembangan Konsumsi Susu Kental Manis Indonesia, Gambar 3.9. Perkembangan Harga Susu Kental Manis Tingkat Konsumen Indonesia, Gambar Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Susu Sapi Indonesia, Gambar 4.1. Perkembangan Populasi Sapi Perah Dunia, Gambar 4.2. Perkembangan Produksi Susu Cair Dunia, Gambar 4.3. Kontribusi Populasi Sapi Perah Beberapa Negara Dunia, Gambar 4.4. Kontribusi Produksi Susu Sapi Dunia, Gambar 4.5. Kontribusi Produksi Susu Sapi Cair Lainnya Dunia, Gambar 4.6. Tingkat Konsumsi Susu Cair Beberapa Negara di Dunia, Gambar 4.7. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Susu Cair Dunia, Gambar 4.8. Negara Pengekspor Susu Cair Terbesar Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian vii

14 2015 OUTLOOK SUSU Gambar 4.9. Kontribusi Negara Pengimpor Susu Cair Terbesar Dunia, Gambar Perkembangan Produksi Keju Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Sentra Keju Dunia, Gambar Perkembangan Konsumsi Keju Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Konsumen Keju Dunia, Gambar Perkembangan Ekspor dan Impor Keju Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengekspor Keju Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengimpor Keju Dunia, Gambar Perkembangan Produksi Mentega Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Produsen Mentega Dunia, Gambar Perkembangan Konsumsi Mentega Dunia, Gambar Negara Konsumen Mentega Terbesar Dunia, Gambar Perkembangan Ekspor Impor Mentega Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengekspor Mentega Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengimpor Mentega Dunia, Gambar Perkembangan Produksi Susu Bubuk Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Produsen Susu Bubuk Dunia, Gambar Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Konsumen Susu Bubuk Dunia, Gambar Perkembangan Ekspor Impor Susu Bubuk Dunia, Gambar Negara Pengekspor Susu Bubuk Dunia, viii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

15 OUTLOOK SUSU 2015 Gambar Negara Pengimpor Susu Bubuk Dunia, Gambar Perkembangan Produksi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Produsen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Gambar Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Gambar Kontribusi Beberapa Negara Konsumen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Gambar Perkembangan Ekspor Impor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Gambar Negara Pengekspor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Gambar Negara Pengimpor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian ix

16 2015 OUTLOOK SUSU DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Populasi Sapi Perah Indonesia, *) Lampiran 2. Produksi Susu Sapi Indonesia, *) Lampiran 3. Sentra Populasi Sapi Perah Indonesia, *) Lampiran 4. Sentra Produksi Susu Sapi Indonesia, *) Lampiran 5. Ketersediaan Susu Indonesia, **) Lampiran 6. Konsumsi Susu Indonesia, *) Lampiran 7. Harga Susu Kental Manis Tingkat Konsumen, Lampiran 8. Perkembangan Neraca Perdagangan Susu Indonesia, Lampiran 9. Perkembangan Populasi Sapi Perah Dunia, *).. 64 Lampiran 10. Perkembangan Produksi Susu Sapi Dunia, *) Lampiran 11. Kontribusi Populasi Sapi Perah Beberapa Negara di Dunia, *) Lampiran 12. Kontribusi Produksi Susu Sapi Beberapa Negara di Dunia, *) Lampiran 13. Kontribusi Produksi Susu Cair Lainnya Beberapa Negara di Dunia, *) Lampiran 14. Negara dengan Konsumsi Susu Cair Terbesar Dunia, *) Lampiran 15. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Susu Cair Dunia, *) Lampiran 16. Negara Pengekspor Susu Cair Dunia, *) Lampiran 17. Negara Pengimpor Susu Cair Dunia, *) Lampiran 18. Perkembangan Produksi Keju Dunia, *) Lampiran 19. Negara Sentra Produksi Keju Dunia, *) Lampiran 20. Perkembangan Konsumsi Keju Dunia, *) Lampiran 21. Negara Sentra Konsumsi Keju Dunia, *) Lampiran 22. Perkembangan Ekspor Impor Keju Dunia, *) Lampiran 23. Negara Pengekspor Keju Terbesar Dunia, *) x Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

17 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 24. Negara Pengimpor Keju Terbesar Dunia, *) Lampiran 25. Perkembangan Produksi Mentega Dunia, *) Lampiran 26. Negara Produsen Mentega Terbesar Dunia, *).. 77 Lampiran 27. Perkembangan Konsumsi Mentega Dunia, *) Lampiran 28. Negara Konsumen Mentega Terbesar Dunia, *) 79 Lampiran 29. Perkembangan Ekspor dan Impor Mentega Dunia, *) Lampiran 30. Negara Pengekspor Mentega Terbesar Dunia, *) 81 Lampiran 31. Negara Pengimpor Mentega Terbesar Dunia, *) 81 Lampiran 32. Perkembangan Produksi Susu Bubuk Dunia, *).. 82 Lampiran 33. Negara Produsen Susu Bubuk Dunia, *) Lampiran 34. Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Dunia, *) 84 Lampiran 35. Negara Konsumen Susu Bubuk Dunia, *) Lampiran 36. Perkembangan Ekspor dan Impor Susu Bubuk Dunia, *) Lampiran 37. Negara Pengekspor Susu Bubuk Terbesar Dunia, *) Lampiran 38. Negara Pengimpor Susu Bubuk Terbesar Dunia, *) Lampiran 39. Perkembangan Produksi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Lampiran 40. Negara Produsen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Lampiran 41. Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Lampiran 42. Negara Konsumen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Lampiran 43. Perkembangan Ekspor dan Impor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Lampiran 44. Negara Pengekspor Susu Bubuk Tanpa Lemak Terbesar Dunia, *) Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xi

18 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 45. Negara Pengimpor Susu Bubuk Tanpa Lemak Terbesar Dunia, *) Lampiran II. Model dan Hasil Proyeksi Variabel Komoditas Susu a. Model Proyeksi Produksi Susu b. Model Proyeksi Populasi Sapi c. Model Proyeksi Harga Susu Kental Manis d. Model Proyeksi Ketersediaan Susu xii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

19 OUTLOOK SUSU 2015 RINGKASAN EKSEKUTIF Produksi susu sapi tahun 2015 (Angka Sementara) diperkirakan sebesar 805,36 ribu ton, meningkat sebanyak 4,61 ribu ton (0,58%) dibandingkan tahun Peningkatan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan populasi sapi perah yang cukup tinggi sebesar 22,66 ribu ekor (4,51%). Sementara perkiraan populasi sapi perah sebesar 525,17 ribu ekor, relatif besar terdapat di Provinsi Jawa Timur. Adapun perkiraan kenaikan produksi susu sapi tahun 2015 yang relatif besar terdapat di Provinsi Jawa Timur, pada tahun 2011 sampai 2012 rata-rata sebesar 475,10 ribu ton atau sebesar 54,89% dari produksi nasional. Urutan kedua adalah provinsi Jawa Barat dengan rata-rata produksi mencapai 271,88 ribu ton atau 31,41%, kemudian Jawa Tengah pada urutan ketiga dengan rata-rata produksi sebesar 101,06 ribu ton atau 11,68%. Sementara provinsi lainnya atau di luar Pulau Jawa hanya berkontribusi sebesar 2,01%. Prediksi konsumsi susu pada tahun 2015 sebesar 806 ribu ton. Pada tahun , proyeksi permintaan susu untuk konsumsi cenderung meningkat rata-rata 4,13% per tahun, sehingga total kebutuhan susu untuk konsumsi pada tahun 2016 diramalkan sebesar 972,62 ribu ton, 2017 sebesar 1,01 juta ton, 2018 sebesar 1,06 juta ton dan 2019 sebesar 1,1 juta ton. Pada tahun 2015, laju defisit ketersediaan susu mencapai 156,04% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun berikutnya, 2016 defisit semakin meningkat dan diperkirakan terjadi kekurangan suplai susu sebesar 182,97 ribu ton. Pertumbuhan produksi susu dalam negeri sekitar 2 3 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan kebutuhan susu lebih dari 5 persen per tahun. Kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) mencapai 3,3 juta ton per tahun. Angka ini belum mencukupi pasokan bahan baku SSDN yang hanya mencapai 21% atau 690 ribu ton per tahun pada tahun lalu. Sisanya sebanyak 79% masih harus diimpor dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara. Misalnya Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Belgia dan Kanada. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 1

20 2015 OUTLOOK SUSU 2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

21 OUTLOOK SUSU 2015 I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis di dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, dan meningkatnya pendapatan sehingga konsumsi pangan meningkat. Peningkatan pembangunan sektor pertanian sejalan dengan Kebijakan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Lebih spesifik adalah peningkatan peran besarnya subsektor peternakan yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru perekonomian Indonesia. Salah satu komponen dari subsektor peternakan yang memiliki banyak manfaat dan berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah agribisnis persusuan. Kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan di beberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan agribisnis persusuan. Selain itu, dari sisi permintaan, produksi susu dalam negeri masih belum mencukupi untuk menutupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Saat ini produksi dalam negeri baru bisa memasok tidak lebih dari 20% dari permintaan nasional, sisanya 80% berasal dari impor. Tingginya impor susu dari luar negeri mengakibatkan timbulnya kerugian langsung pada peternakan sapi perah di Indonesia. Selain itu banyak dari impor susu menyebabkan terkurasnya devisa nasional, hilangnya kesempatan terbaik (opportunity loss) yang berasal dari menganggurnya atau tidak dimanfaatkannya potensi sumberdaya yang ada untuk pengembangan agribisnis persususan, serta hilangnya potensi revenue yang seharusnya diperoleh pemerintah dari pajak apabila agribisnis persusuan dikembangkan secara baik. Mengingat potensi sumberdaya alam Indonesia yang besar bagi pengembangan agribisnis persusuan, adalah ironis jika sebagian besar dari kebutuhan susu Indonesia masih harus diimpor. Dengan demikian, sudah sewajarnyalah bila pemerintah dan stakeholder lainnya perlu berupaya keras Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 3

22 2015 OUTLOOK SUSU meningkatkan pangsa pasar (market share) para pelaku pasar domestik dalam agribisnis persusuan Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut maka disusunlah Outlook Susu 2015 ini TUJUAN Tujuan penyusunan outlook susu adalah melakukan analisis data susu menggunakan metode statistik ekonometrik dan menyediakan bahan dan informasi bagi penyusunan kebijakan dan program pengembangan komoditas peternakan khususnya susu di masa yang akan datang. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) mencoba menyusun Outlook Susu yang berisi keragaman dan proyeksi penawaran serta permintaan susu berdasarkan keragaman dan perkembangan susu selama tahun terakhir RUANG LINGKUP Ruang lingkup Outlook Susu ini meliputi variabel-variabel terpenting dari komponen penawaran dan permintaan komoditi susu yang meliputi produksi, populasi sapi perah, harga konsumen, konsumsi, ekspor dan impor baik dalam lingkup nasional maupun global. Keseimbangan penawaran dan permintaan diprediksi hingga tahun 2019, dengan terlebih dahulu memproyeksi variabel-variabel yang mempengaruhi maupun komponen yang menyusun penawaran dan permintaan susu. 4 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

23 OUTLOOK SUSU 2015 II. METODOLOGI 2.1. SUMBER DATA DAN INFORMASI Outlook Susu tahun 2015 disusun berdasarkan data dan informasi yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder yang bersumber dari daerah, instansi terkait di lingkup Kementerian Pertanian dan instansi di luar Kementerian Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan The United States Department of Agriculture (USDA) METODE ANALISIS Metode yang digunakan dalam penyusunan Outlook Susu adalah sebagai berikut: ANALISIS DESKRIPTIF Metode analisis keragaan atau perkembangan komoditi susu dilakukan berdasarkan ketersediaan data series yang mencakup indikator populasi, produksi, konsumsi, harga serta ekspor dan impor di tingkat produsen maupun di tingkat konsumen dengan analisis deskriptif sederhana ANALISIS PENAWARAN Penawaran suatu komoditi dicerminkan respon atau keputusan produsen terhadap mekanisme pasar dan pengaruh faktor non pasar. Proyeksi penawaran direpresentasikan berdasarkan besaran produksi susu nasional. Analisis penawaran susu dilakukan berdasarkan analisis fungsi produksi. Model analisis yang digunakan adalah model Regresi Berganda (Multivariate Regression). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 5

24 2015 OUTLOOK SUSU Secara teoritis bentuk umum dari model ini adalah: Y b0 b1 X 1 b2 X 2... bn X b 0 n j 1 b j X j dimana: Y = peubah respons/tak bebas X n = peubah penjelas/bebas n = 1, 2, b 0 = nilai konstanta b n = koefisien arah regresi atau parameter model regresi untuk peubah x n = sisaan n Produksi pada periode ke-t merupakan fungsi dari produksi pada periode sebelumnya, harga di tingkat produsen, harga komoditas pesaingnya di tingkat produsen, pengaruh inflasi dan pengaruh krisis moneter. Dengan memperhatikan ketersediaan data, analisis penawaran dilakukan berdasarkan data produksi dalam periode tahunan. Untuk peubahpeubah bebas yang tidak tersedia datanya dalam periode waktu yang bersesuaian maka dilakukan proyeksi terlebih dahulu dengan menggunakan model analisis trend (Trend Analysis) atau model pemulusan eksponensial berganda (Double Exponential Smoothing) ANALISIS PERMINTAAN Analisis permintaan susu merupakan analisis permintaan langsung masyarakat terhadap susu yang dikonsumsi oleh rumah tangga konsumen. Oleh karena adanya keterbatasan data, maka analisis permintaan dilakukan dengan menggunakan model Trend Analysis dari data ketersediaan per kapita per tahun. 6 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

25 OUTLOOK SUSU KELAYAKAN MODEL Ketepatan sebuah model regresi dapat dilihat dari Uji-F, Uji-t, dan koefisien determinasi (R 2 ). Koefisien determinasi diartikan sebagai besarnya keragaman dari peubah tak bebas (Y) yang dapat dijelaskan oleh peubahpeubah bebas (X). Koefisien determinasi dihitung dengan menggunakan persamaan: R 2 SS Regresi SSTotal dimana: SS Regresi = jumlah kuadrat regresi SS Total = jumlah kuadrat total Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 7

26 2015 OUTLOOK SUSU 8 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

27 OUTLOOK SUSU 2015 III. KERAGAAN NASIONAL 3.1. POPULASI DAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH NASIONAL Salah satu unsur penting dalam pengembangan persusuan nasional adalah pengembangan sapi perah baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pada tahun populasi sapi perah Indonesia cenderung meningkat dengan pertumbuhan sebesar 5,37%. Selama lima tahun terakhir populasi sapi perah meningkat rata-rata sebesar 2,99%. Pada tahun 2011, peningkatan populasi sapi perah meningkat cukup tajam, yaitu 22,27% atau 108,76 ribu ekor dari tahun sebelumnya. Pada periode berikutnya pertumbuhan populasi sapi perah masih meningkat, kecuali tahun 2013 terjadi penurunan populasi sapi perah. Pertumbuhan populasi sapi perah di Jawa periode mengalami peningkatan sebesar 3,17% per tahun, sedangkan di luar Pulau Jawa mengalami penurunan 3,25% per tahun. Jika ditelusuri keadaan populasi sapi perah sejak tahun 1980 hingga 2015, populasi di luar Pulau Jawa rata-rata tumbuh lebih tinggi dari pulau Jawa yaitu sebesar 14,42%. Hal ini dapat dilihat dari data tahun 1983, dimana populasi di luar pulau Jawa tercatat meningkat sebesar 26,65 ribu ekor dari tahun sebelumnya atau mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu 649,63%. Kondisi peternakan sapi perah di Indonesia masih didominasi usaha peternakan di Pulau Jawa, hal tersebut ditunjukkan dengan besarnya populasi sapi perah di Pulau Jawa yang mencapai lebih dari 99% dari total populasi sapi perah Indonesia sebanyak 502,52 ribu ekor pada tahun 2014 dan 525,17 ribu ekor pada tahun Dari jumlah tersebut, 497,62 ribu ekor dan 519,90 ribu ekor berada di Pulau Jawa. Sementara itu, tahun 2014 dan 2015 populasi sapi perah di luar pulau Jawa hanya mencapai 4,9 ribu ekor dan 5,27 ribu ekor atau masing-masing kurang dari 1% dari populasi sapi perah di Indonesia (Lampiran 1). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 9

28 OUTLOOK SUSU (Ekor) Jawa Luar Jawa Indonesia Gambar 3.1. Perkembangan Populasi Sapi Perah di Jawa dan Luar Jawa, Produksi susu di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa (Lampiran 2). Pada kurun waktu , pertumbuhan produksi susu di Pulau Jawa sebesar 8,33% per tahun, dengan peningkatan tertinggi pada tahun 2010 sebesar 87,44% atau 420,66 ribu ton dari tahun sebelumnya. Perkembangan 5 tahun terakhir ( ), produksi susu justru menurun dengan rata-rata hasil berkurang 1,98% per tahun atau produksi turun menjadi 858,74 ribu ton. Perkembangan produksi susu di Luar Pulau Jawa kurun waktu menunjukkan peningkatan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 7,11%. Namun pada periode 5 tahun terakhir menunjukkan penurunan sebesar 4,05% per tahun. (Ton) Jawa Luar Jawa Indonesia Gambar 3.2. Perkembangan Produksi Susu Sapi di Jawa dan Luar Jawa, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

29 OUTLOOK SUSU SENTRA POPULASI DAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH NASIONAL Dari sebaran populasi sapi perah yang ada, pusat populasi sapi perah terbesar terdapat di Jawa Timur sekitar 265,44 ribu ekor atau 49,50% dari total populasi sapi perah Indonesia. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi perah cukup besar adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat masing-masing 130,81 ribu ekor atau 24,39% dan 127,67 ribu ekor atau 23,81% dari total populasi sapi perah Indonesia. Beberapa provinsi seperti Kalimantan Tengah, Maluku Utara dan Papua Barat sepanjang 5 tahun terakhir tidak ada populasi sapi perah (Lampiran 3). DI Yogyakarta 0.76% DKI Jakarta 0.51% Provinsi Lainnya 1.03% Jawa Barat 23.81% Jawa Timur 49.50% Jawa Tengah 24.39% Gambar 3.3. Sentra Populasi Sapi Perah Indonesia, Provinsi penghasil susu terbesar juga berasal dari Jawa Timur, pada tahun 2011 sampai 2015 rata-rata produksi dapi perah di Jawa Timur sebesar 475,10 ribu ton atau sebesar 54,89% dari produksi nasional. Urutan kedua adalah provinsi Jawa Barat dengan rata-rata produksi mencapai 271,88 ribu ton atau 31,41%, kemudian Jawa Tengah pada urutan ketiga dengan ratarata produksi sebesar 101,06 ribu ton atau 11,68%. Sementara provinsi lainnya hanya berkontribusi sebesar kurang dari 1% (Lampiran 4). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 11

30 2015 OUTLOOK SUSU Jawa Tengah 11.68% DKI Jakarta 0.62% DI Yogyakarta 0.61% Provinsi Lainnya 0.78% Jawa Barat 31.41% Jawa Timur 54.89% Gambar 3.4. Sentra Produksi Susu Sapi Perah Indonesia, KONSUMSI SUSU SAPI NASIONAL Konsumsi susu di Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Pada tahun 2012 konsumsi susu Indonesia hanya mencapai 11,09 liter/kapita/tahun dan pada tahun 2013 sebesar 14,6 liter/kapita/tahun. Walaupun terjadi peningkatan, tetapi konsumsi susu Indonesia masih tetap rendah dibandingkan negara lainnya. Negara tetangga seperti Malaysia konsumsi susunya mencapai 50,9 liter/kapita/tahun, Singapura mencapai 44,5 liter/kapita/tahun, Filipina mencapai 13,7 liter/kapita/tahun, dan Thailand 33,7 liter/kapita/tahun. Berdasarkan data Neraca Bahan Makanan (NBM), ketersediaan susu untuk konsumsi pada periode tahun terdiri dari dua jenis, yaitu susu lokal dan susu impor. Ketersediaan susu lokal dan susu impor sebesar 14,39 kg/kapita/tahun dengan rata-rata pertumbuhan untuk susu lokal turun 2,99% per tahun atau 2,93 kg/kapita/tahun sementara itu untuk susu impor naik 2,70% per tahun atau sebesar 11,46 kg/kapita/tahun. Ketersediaan susu dalam negeri sebanyak 79,63% dipasok dari susu impor, sementara itu susu lokal hanya memberikan berkontribusi sebesar 20,37% (Lampiran 5). 12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

31 OUTLOOK SUSU 2015 (Kg/Kap/Thn) Susu Lokal Susu Impor Indonesia Gambar 3.5. Perkembangan Ketersediaan Susu Indonesia, Ketersediaan susu di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 1,34% per tahun. Diperkirakan ketersediaan susu pada tahun 2015 akan mengalami penurunan 1,20% per tahun (Gambar 3.5). Konsumsi susu yang disajikan dalam perhitungan ini adalah konsumsi susu murni, susu bubuk dan susu kental manis. Rata-rata pertumbuhan konsumsi susu murni di Indonesia menurut data dari Susenas dari tahun mengalami penurunan yaitu sebesar 2,44 liter/kapita/tahun (Gambar 3.6). Sementara jenis susu bubuk dan kental manis pada periode yang sama cenderung mengalami peningkatan. Hal ini mengindikasikan kalangan industri pengolahan susu dalam negeri lebih suka memproduksi susu bubuk dengan bahan baku impor. Konsumsi susu murni pada tahun 2015 akan mengalami penurunan 3% (Lampiran 6). Perkembangan rata-rata konsumsi susu murni tahun menurun 2,44 liter/kapita/tahun dimana penurunan tertinggi sebesar 50,24% terjadi pada tahun Pola konsumsi susu kental manis jika dibandingkan dengan konsumsi susu bubuk dan susu murni sangat berbeda, susu kental manis lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat dibandingkan susu murni maupun susu bubuk. Rata-rata konsumsi susu kental manis pada periode mencapai 3,50 per kaleng/kapita/tahun (1 kaleng = 397 gram) sedangkan susu bubuk hanya 0,67 kilogram/kapita/tahun dan susu murni 0,13 liter/kapita/tahun. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 13

32 OUTLOOK SUSU Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu cair olahan, perlu ditingkatkan agar terus memaksimalkan serapan produksi susu lokal. Salah satunya dengan mendorong industri untuk meningkatkan produksi produk susu olahan segar dibanding olahan bubuk. Saat ini produksi susu olahan segar cair, baik itu dalam bentuk UHT (Ultra High Temperature) maupun susu pasteurisasi masih sedikit diproduksi. Kalangan industri pengolahan susu dalam negeri masih lebih suka memproduksi susu bubuk yang bahan bakunya lebih banyak dipasok dari impor. Bahan baku susu bubuk olahan lebih banyak dari susu impor karena memang impor susu dalam negeri berupa susu bubuk, bukan susu cair. (Ltr/Kap/Thn) 0,40 0,35 0,30 0,25 0,20 0,15 0,10 0,05 0,00 Susu Murni Gambar 3.6. Perkembangan Konsumsi Susu Murni di Indonesia, Perkembangan konsumsi susu bubuk di Indonesia dari tahun mengalami fluktuasi dengan pertumbuhan 0,5% per tahun (Gambar 3.7). Penurunan konsumsi susu bubuk per kapita yang cukup tajam terjadi di tahun 2012 minus 50% atau turun sebesar 0,37 kilogram/kapita/tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2012 konsumsi kembali mengalami peningkatan sebesar 0,73 kilogram/kapita/tahun atau 100%. 14 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

33 OUTLOOK SUSU 2015 (Kg/Kap/Thn) 0,90 0,80 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 Susu Bubuk Gambar 3.7. Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Indonesia, Perkembangan konsumsi susu kental manis di Indonesia dari tahun mengalami peningkatan sebesar 11,24% (Gambar 3.8). Pada tahun 1993 konsumsi susu kental manis per kapita per tahun adalah 0,57 gram, kemudian pada tahun 2015 diperkirakan mengalami peningkatan menjadi 3,86 gram. Periode pertumbuhannya cukup pesat yaitu sebesar 3,95% per tahun. Data konsumsi susu kental manis di Indonesia, disajikan pada Lampiran 6. (397 Gr/Kap/Thn) 4,00 3,50 3,00 2,50 2,00 1,50 1,00 0,50 0,00 Susu Kental Manis Gambar 3.8. Perkembangan Konsumsi Susu Kental Manis Indonesia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 15

34 OUTLOOK SUSU 3.4. HARGA SUSU SAPI NASIONAL Harga susu sapi di tingkat konsumen diperoleh dari data harga susu kental manis yang bersumber dari Kementerian Perdagangan. Harga susu kental manis tahun terus meningkat, rata-rata sebesar 11,04% per tahun (Lampiran 7 dan Gambar 3.9). Pada periode 5 tahun terakhir ( ), harga susu diperkirakan kembali mengalami peningkatan sebesar 4,82% per tahun, dengan peningkatan tertinggi di tahun 2014 sebesar 14,51% dari tahun sebelumnya atau Rp 8.567/kg menjadi Rp 9.810/kg. Penyebab utama terjadinya lonjakan harga dikarenakan bahan baku industri susu kental manis sebagian besar harus diimpor (Lampiran 8). (Rp/Kg) Gambar 3.9. Perkembangan Harga Susu Kental Manis Tingkat Konsumen Indonesia, EKSPOR DAN IMPOR SUSU SAPI NASIONAL Berdasarkan data Ekspor Impor BPS yang diolah Pusdatin Kementan, yang dimaksud komoditas susu yang diekspor atau diimpor adalah susu dan kepala susu tidak dipekatkan maupun tidak mengandung tambahan gula atau bahan pemanis lainnya, susu, yoghurt, mentega dan keju. Selama satu dekade lebih ( ), realisasi impor susu Indonesia masih jauh di atas realisasi ekspornya (Gambar 3.10), sehingga menyebabkan defisit neraca perdagangan. 16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

35 OUTLOOK SUSU 2015 Hal ini dapat dilihat dari angka rasio ekspor terhadap impor setelah 2010 cenderung menurun antara 20,67% hingga 13,51%. (Ton) Ekspor Impor Gambar Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Susu Sapi Indonesia, Nilai rasio ekspor impor susu Indonesia tahun 2014 sebesar 15,18%, hal ini menandakan bahwa kebutuhan susu nasional lebih dari 80% dipenuhi oleh produksi impor. Pertumbuhan volume ekspor susu sapi terbesar terjadi pada periode yaitu mengalami peningkatan rata-rata sebesar 13,79% per tahun dan nilainya meningkat 56,98% per tahun. Sementara itu volume impor susu juga mengalami peningkatan pada periode sebesar 3,62% per tahun dengan rata-rata peningkatan volume 2,37%. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 17

36 2015 OUTLOOK SUSU 18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

37 OUTLOOK SUSU 2015 IV. KERAGAAN DUNIA 4.1. PERKEMBANGAN SUSU CAIR DUNIA POPULASI SAPI PERAH DAN PRODUKSI SUSU CAIR DUNIA Berdasarkan data yang diperoleh dari The United States Department of Agriculture (USDA), perkembangan populasi sapi perah dunia selama periode cenderung menurun (Gambar 4.1). Selama periode tersebut rata-rata pertumbuhan populasi sapi perah turun sebesar 0,10% per tahun. Populasi sapi dunia pada 5 tahun terakhir rata-rata sebesar 137,47 juta ekor dengan peningkatan pertumbuhan mencapai 1,87% per tahun. Lonjakan yang cukup tinggi terjadi pada tahun 2014 dengan peningkatan 2,09% dibandingkan tahun sebelumnya dan terendah pada tahun 2015 sebesar 1,51% dibandingkan tahun Secara rinci, perkembangan populasi sapi perah di dunia tahun (angka estimasi USDA) disajikan pada Lampiran 9. (000 Ekor) Gambar 4.1. Perkembangan Populasi Sapi Perah Dunia, Produksi susu cair dunia didominasi dari susu segar asal sapi, dimana pertumbuhan susu cair yang berasal dari selain sapi tersebut lebih tinggi daripada susu sapi. Rata-rata pertumbuhan produksi susu cair yang berasal bukan dari sapi sebesar 4,08% per tahun sementara susu sapi sebesar 0,68% per tahun. Produksi susu cair dunia pada lima tahun terakhir yang berasal dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 19

38 OUTLOOK SUSU susu sapi sebesar 84,50% sementara dari susu cair lainnya 15,50% per tahun. Perkembangan produksi susu sapi dan susu cair lainnya di dunia disajikan secara rinci pada Lampiran 10. (000 Ton) Susu Sapi Susu Cair Lainnya Total Susu Gambar 4.2. Perkembangan Produksi Susu Cair Dunia, NEGARA SENTRA POPULASI DAN PRODUKSI SUSU CAIR DUNIA Berdasarkan data yang dipublikasikan USDA, pada lima tahun terakhir ( ) terdapat sepuluh negara yang memberikan kontribusi populasi sapi perah terbesar di dunia. Sepuluh negara tersebut secara total memberikan kontribusi kumulatif sebesar 81,59% terhadap total populasi sapi perah di dunia (Gambar 4.3). India merupakan negara terbesar dengan ratarata populasi sapi perah sebesar 48,51 juta ekor atau berkontribusi sebesar 35,29% dari populasi sapi perah di dunia. Kemudian Brazil dengan rata-rata populasi sapi perah 20,31 juta ekor atau kontribusi dunia 14,77%. Sementara Amerika Serikat menempati urutan ketiga, kemudian disusul Rusia, China, Meksiko, Selandia Baru, Ukraina, Argentina, dan Australia. Data populasi sapi perah dunia secara rinci dapat dilihat pada Lampiran Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

39 OUTLOOK SUSU 2015 Australia 1,21% Argentina 1,47% Ukraina 1,86% Negara Lainnya 18,41% India 35,29% Selandia Baru 3,68% Meksiko 4,63% China 5,95% Rusia 6,01% Amerika Serikat 6,73% Brazil 14,77% Gambar 4.3. Kontribusi Populasi Sapi Perah Beberapa Negara Dunia, Sentra produksi susu sapi di dunia berdasarkan data USDA tahun terdapat di sepuluh negara yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 66,01% terhadap total produksi susu sapi di dunia (Gambar 4.4.). Meskipun India merupakan negara terbesar yang memiliki populasi sapi terbesar di dunia, tetapi India merupakan negara produsen susu sapi di urutan kedua setelah Amerika Serikat dengan rata-rata produksi sebesar 58,10 juta ton per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 12,30% terhadap produksi susu sapi dunia. Sementara Amerika Serikat yang mempunyai populasi sapi pada peringkat ketiga dunia ternyata merupakan negara produsen susu sapi terbesar di dunia dengan rata-rata produksi sebesar 91,89 juta ton per tahun. Negara-negara produsen susu sapi cair lainnya adalah China, Brazil, Rusia, Selandia Baru, Meksiko, Argentina, Ukraina, dan Australia dengan rata-rata produksi masing-masing sebesar sebesar 34,47 juta ton, 32,44 juta ton, 30,81 juta ton, 20,66 juta ton, 11,35 juta ton, 11,29 juta ton, 11,09 juta ton dan 9,66 juta ton. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 12. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21

40 2015 OUTLOOK SUSU Negara Lainnya 33,99% Amerika Serikat 19,46% India 12,30% Australia 2,04% Ukraina 2,35% Argentina 2,39% Meksiko 2,40% Selandia Baru Rusia 4,37% 6,52% Brazil 6,87% China 7,30% Gambar 4.4. Kontribusi Produksi Susu Sapi Dunia, Ukraina 0,360% China 1,739% Meksiko 0,193% Taiwan 0,019% Filipina 0,004% Uni Eropa 5,692% India 91,993% Gambar 4.5. Kontribusi Produksi Susu Cair Lainnya Dunia, KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI SUSU CAIR DUNIA Selama 5 tahun terakhir Amerika Serikat sebagai produsen susu cair terbesar dunia memproduksi susu sebesar 91,89 juta ton. Konsumsi susu negara ini cenderung relatif rendah dibandingkan konsumsi India sebagai negara produsen susu kedua setelah Amerika Serikat, dengan rata-rata konsumsi 5 tahun terakhir ( ) sebesar 28,67 juta ton (Lampiran 14). Besarnya konsumsi susu dunia sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk. India 22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

41 OUTLOOK SUSU 2015 selain faktor jumlah penduduknya besar, tingkat kesadaran penduduknya untuk mengkonsumsi susu juga tinggi. Tingkat produksi susu cair India sebesar 67,35 juta ton, dengan konsumsi susu perkapita pertahun penduduk India lebih rendah dari produksinya yaitu 54,92 juta ton. Negara terbesar lainnya adalah Cina, Brazil, dan Rusia dengan rata-rata konsumsi susu cair per tahun sebesar 14,21 juta ton, 12,08 juta ton, dan 10,44 juta ton (Gambar 4.6). Selisih antara produksi dengan konsumsi penduduk beberapa negara tersebut merupakan peluang ekspor ke berbagai belahan dunia. Beberapa negara produsen susu cair seperti Amerika Serikat, China, Brazil, Rusia dan Selandia Baru merupakan pemasok bagi negara lain. Indonesia sudah sejak lama mengimpor bahan baku susu cair dari Selandia Baru. Negara Lainnya 21,65% India 30,83% Australia 1,43% Kanada 1,69% Jepang 2,23% Meksiko 2,33% Ukraina 3,11% Rusia 5,86% Brazil 6,78% China 7,98% Amerika Serikat 16,10% Gambar 4.6. Tingkat Konsumsi Susu Cair Beberapa Negara di Dunia, EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR SUSU CAIR DUNIA Volume ekspor susu cair dunia mengalami peningkatan sebesar 11,92% per tahun. Pada periode yang sama pertumbuhan rata-rata volume impor pun mengalami peningkatan sebesar 18,80% per tahun (Gambar 4.7). Volume ekspor dan impor tahun 2015 diperkirakan akan menurun sebesar 0,34% dan 4,27% dari tahun sebelumnya. Data perkembangan ekspor dan impor susu cair dunia tahun selengkapnya pada Lampiran 15. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 23

42 OUTLOOK SUSU (000 Ton) Ekspor Impor Gambar 4.7. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Susu Cair Dunia, Terdapat 8 negara pengekspor susu cair terbesar yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 42,34% terhadap total volume ekspor susu cair dunia (Gambar 4.8). Selandia Baru merupakan negara pengekspor susu cair terbesar dunia dengan rata-rata volume ekspor dari tahun sebesar 135 ribu ton per tahun atau berkontribusi sebanyak 18,13%. Selanjutnya diikuti oleh Australia dengan rata-rata volume ekspor 100 ribu ton per tahun atau berkontribusi 13,39%. Sementara itu negara pengekspor lainnya seperti China, Rusia, Argentina, Meksiko, Ukraina dan Kanada masingmasing hanya memberikan kontribusi terhadap dunia di bawah 5%. Selandia Baru 18,13% Australia 13,39% Negara Lain 57,66% Kanada 0,56% Ukraina 1,10% Rusia 2,46% Argentina 1,74% Meksiko 1,50% Cina 3,45% Gambar 4.8. Negara Pengekspor Susu Cair Terbesar Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

43 OUTLOOK SUSU 2015 Negara pengimpor susu cair terbesar di dunia terdapat di 5 negara yang secara kumulatif memberikan pangsa sebesar 90,58% terhadap total volume impor susu cair di dunia (Gambar 4.9). Rusia merupakan negara pengimpor susu cair terbesar di dunia dengan rata-rata volume impor dari tahun sebesar 307 ribu ton per tahun atau 43,89% berkontribusi terhadap impor susu cair dunia. Negara pengimpor tertinggi berikutnya adalah China dengan volume impor rata-rata 198 ribu ton per tahun atau 28,27%. Posisi ketiga adalah Filipina dengan volume impor sebesar 47 ribu ton atau 6,71%. Posisi keempat adalah Kanada dengan volume impor 43 ribu ton atau 6,20%. Posisi kelima adalah Meksiko dengan volume impor 39 ribu ton atau 5,51%. Sementara negara lainnya berkontribusi di bawah 5%. Data negara pengimpor susu cair terbesar di dunia secara rinci tersaji pada Lampiran 17. Australia 0,91% Taiwan 3,17% Brazil 1,83% Meksiko 5,51% Kanada 6,20% UkrainaSelandia Baru 0,71% 0,26% Negara Lain 2,54% Rusia 43,89% Filipina 6,71% China 28,27% Gambar 4.9. Kontribusi Negara Pengimpor Susu Cair Terbesar Dunia, PERKEMBANGAN KEJU DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI KEJU DUNIA Perkembangan produksi keju dari tahun mengalami peningkatan (Gambar 4.10). Selama kurun waktu tersebut, produksi telah tumbuh menjadi 13,09 juta ton per tahun atau naik 2,34% per tahun dengan pertumbuhan tertinggi pada tahun 2002 sebesar 18,23% atau produksi sebanyak 15,08 juta ton. Rata-rata pertumbuhan produksi keju dunia lima Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 25

44 OUTLOOK SUSU tahun terakhir sebesar 1,33% per tahun dengan rata-rata produksi sebesar 17,94 juta ton. Jika dibandingkan dengan konsumsinya, maka rata-rata prouksi keju dunia surplus sebesar 439 ribu ton. Perkembangan produksi keju dunia selama tahun dapat dilihat pada Lampiran 18. (000 Ton) Gambar Perkembangan Produksi Keju Dunia, Berdasarkan data USDA pada tahun , terdapat beberapa negara yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 47,72% terhadap total produksi keju di dunia (Gambar 4.11). Amerika Serikat merupakan negara terbesar dengan rata-rata produksi keju sebesar 5,05 juta ton atau 28,15% terhadap produksi keju di dunia. Kemudian pada posisi kedua ditempati Rusia dengan rata-rata produksi 743 ribu ton atau kontribusi 4,14% dan Brazil pada posisi ketiga dengan rata-rata produksi sebesar 718 ribu ton atau 4%. Pertumbuhan negara produsen keju dunia tahun 2015 jika dibandingkan dengan tahun 2014 mengalami peningkatan 0,45% atau sebesar 83 ribu ton. Data selengkapnya pada Lampiran Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

45 OUTLOOK SUSU 2015 Amerika Serikat 28,15% Negara Lainnya 52,28% Rusia 4,14% Brazil 4,00% Jepang 0,27% Ukraina 0,74% Meksiko Selandia Baru 1,52% 1,78% Kanada 2,15% Australia 1,83% Argentina 3,15% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Sentra Keju Dunia, KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI KEJU DUNIA Selama kurun waktu perkembangan produksi keju tumbuh 2,39% per tahun dengan rata-rata produksi 12,78 juta ton. Konsumsi keju dunia pada kurun waktu tersebut lebih kecil dari rata-rata produksinya yaitu sebesar 13,09 juta ton per tahun dengan pertumbuhan 2,34% per tahun. Permintaan atau kebutuhan susu segar maupun produk turunannya diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi, pertumbuhan ekonomi, perbaikan tingkat pendidikan, kesadaran gizi dan perubahan gaya hidup. Seiring dengan perkembangan produksi susu dunia, tingkat konsumsi hasil olahan susu ini juga terus meningkat (Gambar 4.12). Peningkatan konsumsi keju dunia pada 5 tahun terakhir rata-rata 1,20% per tahun atau sebesar 17,5 juta ton per tahun. Data secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 20. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 27

46 OUTLOOK SUSU (000 Ton) Gambar Perkembangan Konsumsi Keju Dunia, Terdapat korelasi antara produksi dan konsumsi keju dunia, dimana Amerika Serikat merupakan negara dengan produksi keju terbesar mempunyai konsumsi keju terbesar pula, rata-rata konsumsi sebesar 4,87 juta ton atau 27,81% terhadap total konsumsi keju dunia. Begitu juga dengan Rusia, Brazil, Argentina dan Kanada yang masing-masing berkontribusi sebesar 6,32%, 4,24%, 2,93% dan 2,30% dari total konsumsi keju dunia. Gambaran negara dengan konsumsi keju dunia terbesar seperti disajikan pada Gambar Amerika Serikat 27,81% Negara Lainnya 50,17% Rusia 6,32% Ukraina 0,55% Korea Selatan 0,64% Australia 1,37% Jepang 1,60% Kanada 2,30% Meksiko 2,07% Brazil 4,24% Argentina 2,93% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Konsumen Keju Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

47 OUTLOOK SUSU EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR KEJU DUNIA Perkembangan volume ekspor dan impor keju dunia pada periode tahun menunjukan kecenderungan meningkat dengan pertumbuhan ekspor 1,79% dan impor 1,41% (Gambar 4.14). Pada tahun 1997 volume ekspor impor menurun drastis disebabkan krisis ekonomi global, namun perlahan-lahan kembali meningkat seiring dengan makin membaiknya situasi perekonomian dunia. Pada kurun waktu 2011 sampai 2015 volume ekspor dan impor keju rata-rata meningkat masing-masing sebesar 3,09% atau 1,63 juta ton dan 0,14% atau 1,19 juta ton. Secara rinci perkembangan ekspor dan impor keju dunia tahun disajikan pada Lampiran 22. (000 Ton) Ekspor Impor Gambar Perkembangan Ekspor dan Impor Keju Dunia, Terdapat 5 negara pengekspor keju terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 52,52% terhadap total volume ekspor keju di dunia (Gambar 4.15). Amerika Serikat merupakan negara pengekspor keju terbesar di dunia dengan rata-rata volume ekspornya sebesar 308 ribu ton atau berkontribusi sebesar 18,84% terhadap total volume ekspor keju dunia. Posisi kedua dengan kontribusi sebesar 17,55% dengan rata-rata produksi sebesar 287 ribu ton adalah Selandia Baru. Sementara Australia, Argentina dan Ukraina memberikan kontribusi masing-masing sebesar 9,85%, 3,39% dan 2,89% terhadap total volume ekspor dunia (Lampiran 23). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 29

48 2015 OUTLOOK SUSU Amerika Serikat 18,84% Negara Lain 44,77% Selandia Baru 17,55% Filipina 0,07% Brazil 0,16% Meksiko Kanada 0,28% 0,54% Rusia 1,65% Ukraina 2,89% Argentina 3,39% Australia 9,85% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengekspor Keju Dunia, Pada tahun terdapat 6 negara pengimpor keju yang secara kumulatif memberikan pangsa dunia sebesar 83,96% terhadap total volume impor keju dunia (Gambar 4.16). Negara pengimpor keju dunia tertinggi adalah Rusia dengan rata-rata volume impor sebesar 390 ribu ton atau 32,57% terhadap volume impor dunia. Negara pengimpor posisi kedua dan ketiga adalah Jepang dan Amerika Serikat dengan rata-rata volume impor masing-masing sebesar 233 ribu ton dan 123 ribu ton (Lampiran 24). Australia 6,31% Negara Lain 16,04% Rusia 32,57% Korea Selatan 7,36% Meksiko 8,00% Amerika Serikat 10,30% Jepang 19,42% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengimpor Keju Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

49 OUTLOOK SUSU PERKEMBANGAN MENTEGA DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI MENTEGA DUNIA Perkembangan produksi mentega dunia pada periode meningkat 3,46% per tahun (Gambar 4.17 dan Lampiran 25). Pada tahun produksi mentega turun 4,01% atau sekitar 5,34 juta ton, namun perlahan-lahanmengalami peningkatan hingga mencapai 9 juta ton. Produksi mentega tahun mengalami peningkatan sebesar 9,17 juta ton atau tumbuh sebesar 3,46%. (000 Ton) Gambar Perkembangan Produksi Mentega Dunia, Terdapat 5 negara produsen mentega terbesar di dunia dengan pangsa 70,86% terhadap total produksi mentega di dunia (Gambar 4.18). Negaranegara tersebut adalah India, Amerika Serikat, Selandia Baru, Rusia, dan Meksiko. India merupakan negara produsen mentega terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 51,28%, sementara 4 negara produsen mentega lainnya hanya berkontribusi kurang dari 10% (Lampiran 26). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 31

50 OUTLOOK SUSU Negara Lainnya 29,14% Meksiko 2,08% India 51,28% Rusia 2,48% Selandia Baru 5,87% Amerika Serikat 9,15% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Produsen Mentega Dunia, KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI MENTEGA DUNIA Perkembangan konsumsi mentega dunia pada periode meningkat 1,32% per tahun (Gambar 4.19 dan Lampiran 27). Konsumsi mentega periode adalah sebesar 8,67 juta ton atau tumbuh sebesar 3,20%. Secara umum, konsumsi mentega lebih rendah daripada produksinya, hal ini terlihat mulai tahun 1997 dimana konsumsi mentega berada di bawah produksinya. (000 Ton) Gambar Perkembangan Konsumsi Mentega Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

51 OUTLOOK SUSU 2015 Negara dengan tingkat konsumsi mentega cukup tinggi yaitu India, Amerika Serikat, Rusia, Meksiko, dan Kanada. India yang merupakan negara dengan tingkat konsumsi mentega terbesar rata-rata 4,69 juta ton per tahun. Sementara itu Amerika Serikat dengan tingkat konsumsi sebesar 790 ribu ton per tahun menempati posisi kedua, sedangkan Rusia sebesar 349 ribu ton per tahun, Meksiko 226 ribu ton per tahun dan Kanada 100 ribu ton per tahun (Gambar 4.20). Negara Lainnya 25,58% Kanada 1,21% Meksiko 2,73% Rusia 4,22% Amerika Serikat 9,54% India 56,72% Gambar Negara Konsumen Mentega Terbesar Dunia, EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR MENTEGA DUNIA Secara umum perkembangan volume ekspor mentega di dunia pada periode mengalami penurunan 0,59% per tahun, demikian pula volume impornya menurun 1,66% per tahun (Lampiran 29). Pada tahun 1997 volume ekspor dan impor menurun drastis sebesar 33,78% dan 48,24% disebabkan karena krisis ekonomi. Volume ekspor mentega periode diperkirakan naik sebesar 2,47% sementara impornya diperkirakan menurun 0,07% per tahun. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 33

52 OUTLOOK SUSU (000 Ton) Ekspor Impor Gambar Perkembangan Ekspor Impor Mentega Dunia, India 1,20% Negara Lain 18,79% Argentina 2,32% Australia 5,77% Amerika Serikat 7,87% Selandia Baru 64,04% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengekspor Mentega Dunia, Menurut data USDA, Selandia Baru merupakan negara pengekspor mentega terbesar dunia dengan rata-rata volume ekspor sebesar 513 ribu ton per tahun atau kontribusi 64,04% terhadap total volume ekspor dunia. Sementara itu 4 negara pengekspor terbesar lainnya hanya di bawah 10%. India merupakan negara produsen terbesar mentega namun persentase ekspornya hanya sebesar 1,20% atau berada di bawah Argentina yang berkontribusi sebesar 2,32% terhadap total volume ekspor mentega dunia. Negara-negara pengekspor mentega terbesar di dunia secara rinci tersaji pada Lampiran Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

53 OUTLOOK SUSU 2015 Negara Lain 26,94% Rusia 40,12% Amerika Serikat 6,20% Australia 6,78% Taiwan 7,04% Meksiko 12,92% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Pengimpor Mentega Dunia, Negara pengimpor mentega terbesar meliputi 5 negara, yaitu Rusia merupakan negara pengimpor mentega terbesar dengan rata-rata volume impor 124 ribu ton per tahun atau kontribusi terhadap dunia sebesar 40,12%. Kemudian pada posisi kedua ditempati Meksiko dengan rata-rata volume impor sebesar 40 ribu ton per tahun atau 12,92%. Sementara 3 negara terbesar lainnya hanya memberikan kontribusi di bawah 10% terhadap total volume impor mentega dunia (Lampiran 31 dan Gambar 4.23) PERKEMBANGAN SUSU BUBUK DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI SUSU BUBUK DUNIA Susu bubuk berasal dari susu segar, baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kandungan nilai gizi yang terdapat dalam susu bubuk lebih rendah dari susu cair segar. Sebagai usaha untuk mengembalikan kadar nilai gizinya agar menyamai gizi susu cair segar, seringkali susu bubuk diberikan tambahan dengan bahan-bahan lain, misalnya vitamin. Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly skim Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 35

54 OUTLOOK SUSU milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk powder) (SNI ). Susu bubuk pertama kali dibuat pada tahun 1802 oleh seorang dokter yang berasal dari Rusia yaitu Osip Krichevsky. Susu bubuk banyak sekali ditemukan di negara berkembang karena biaya transportasi dan penyimpanannya sangat murah. Seperti makanan kering lainnya, susu bubuk dianggap tidak mudah rusak disebabkan sedikitnya kandungan air (bakteri sangat cepat berkembang biak pada makanan yang basah atau minuman) dan disukai oleh banyak orang untuk memenuhi asupan gizi dalam tubuh. Perkembangan produksi susu bubuk dunia pada periode meningkat 22,55% per tahun (Gambar 4.24 dan Lampiran 32). Pada tahun produksi susu bubuk turun 22,81% atau sekitar 2,94 juta ton, namun perlahan-lahan meningkat hingga mencapai hampir 5 juta ton. Periode produksi mentega sebesar 4,59 juta ton atau tumbuh sebesar 3,60%. (000 Ton) Gambar Perkembangan Produksi Susu Bubuk Dunia, Produsen susu bubuk dunia terbesar pada tahun adalah Selandia Baru sebesar 1,3 juta ton, negara berikutnya China produksi sebesar 1,24 juta ton dan urutan ketiga Brazil sebesar 561 ribu ton. Indonesia berada di urutan ke delapan dunia dengan volume produksi sebesar 71 ribu ton (Gambar 4.25). Kontribusi ketiga negara produsen terhadap produksi dunia 36 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

55 OUTLOOK SUSU 2015 mencapai 67,78%. Secara rinci keadaan produksi susu bubuk dunia dapat dilihat pada Lampiran 33. Indonesia 1,54% Chili 1,72% Australia 2,68% Rusia 1,21% Amerika Serikat 0,81% Negara Lainnya 15,02% Selandia Baru 28,59% Meksiko 3,36% Argentina 5,88% Brazil 12,23% China 26,96% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Produsen Susu Bubuk Dunia, KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI SUSU BUBUK DUNIA Perkembangan konsumsi susu bubuk dunia pada periode meningkat 12,98% per tahun (Gambar 4.26 dan Lampiran 34). Konsumsi susu bubuk dunia periode adalah sebesar 3,47 juta ton atau tumbuh sebesar 4,79%. (000 Ton) Gambar Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 37

56 2015 OUTLOOK SUSU Negara dengan tingkat konsumsi susu bubuk cukup tinggi yaitu China, Brazil, Algeria, Meksiko dan Indonesia. China dan Brazil menyumbang sebesar 66,63% konsumsi susu bubuk dunia dengan tingkat konsumsi rata-rata 1,71 juta ton dan 603 ribu ton per tahun. Sementara itu Algeria dan Meksiko berada di posisi ketiga dan keempat dengan tingkat konsumsi rata-rata 186 ribu ton dan 161 ribu ton. Indonesia berada di posisi kelima dengan rata-rata konsumsi susu bubuk sebesar 125 ribu ton atau sebesar 3,59% (Gambar 4.27). Rusia 2,50% Australia 1,19% Chile 1,82% Taiwan 0,95% Negara Lainnya 10,53% Argentina 2,80% Indonesia 3,59% Meksiko 4,65% China 49,28% Algeria 5,35% Brazil 17,35% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Konsumen Susu Bubuk Dunia, EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR SUSU BUBUK DUNIA Secara umum perkembangan volume ekspor susu bubuk di dunia pada periode mengalami peningkatan 0,73% per tahun, demikian pula volume impornya meningkat 1,71% per tahun. Pada tahun 1989 volume ekspor dan impor menurun drastis sebesar 20,29% dan 16,03% disebabkan karena krisis ekonomi. Tahun-tahun berikutnya pergerakan ekspor dan impor mengalami fluktuasi. Volume ekspor susu bubuk periode diperkirakan naik sebesar 3,15% sementara impornya diperkirakan juga meningkat sebesar 4,44% per tahun. Perkembangan ekspor dan impor susu bubuk dapat dilihat pada Lampiran Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

57 OUTLOOK SUSU 2015 (000 Ton) Ekspor Impor Gambar Perkembangan Ekspor Impor Susu Bubuk Dunia, Berdasarkan data USDA, negara yang memproduksi susu bubuk dan sebagian besar untuk memenuhi konsumsi dalam negerinya yaitu China, dengan kapasitas produksi susu bubuk sebesar 1,24 juta ton sedangkan ekspornya hanya sebesar 7 ribu ton. Indonesia merupakan negara dengan produksi susu bubuk tanpa ekspor ke negara lain. Sementara itu susu bubuk hasil produksinya di Selandia Baru sebagian besar (98,09%) diperuntukan sebagai komoditi ekspor. Posisi pertama negara pengekspor susu bubuk dunia yaitu Selandia Baru dengan total volume produksi 1,29 juta ton. Negara pengekspor terbesar kedua adalah Argentina, dimana volume ekspornya sebesar 171 ribu ton. Australia menempati posisi ketiga, dengan volume ekspor 94 ribu ton (Lampiran 37). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 39

58 2015 OUTLOOK SUSU China 0,33% Brazil 0,64% Meksiko 0,29% Rusia 0,07% Negara Lain 18,85% Amerika Serikat 0,73% Filipina 0,74% Chili 0,93% Australia 4,71% Argentina 8,51% Selandia Baru 64,21% Gambar Negara Pengekspor Susu Bubuk Dunia, Berdasarkan data USDA, diperkirakan impor susu bubuk dunia pada tahun didominasi negara China yang menempati peringkat pertama impor susu bubuk sebesar 483,2 ribu ton, Algeria di urutan kedua dengan volume impor 189,6 ribu ton dan ketiga adalah Indonesia dengan volume impor 54,2 ribu ton, serta Brazil berada di urutan keempat dengan volume impor 54 ribu ton (Lampiran 38 dan Gambar 4.30). Negara-negara pengimpor susu seperti Indonesia dan beberapa negara produsen susu bubuk lainnya seperti China, Algeria dan Brazil melakukan impor susu bubuk karena produksi lokal tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Meksiko 1,42% Rusia 3,59% Filipina 3,04% Taiwan 3,61% Australia 1,09% Amerika Serikat 0,90% Negara Lain 0,98% Brazil 5,90% Indonesia 5,92% Algeria 20,73% China 52,82% Gambar Negara Pengimpor Susu Bubuk Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

59 OUTLOOK SUSU PERKEMBANGAN SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA PRODUKSI DAN NEGARA SENTRA PRODUKSI SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA Perkembangan produksi susu bubuk tanpa lemak dunia pada periode meningkat 2,34% per tahun (Gambar 4.31 dan Lampiran 39). Periode produksi susu bubuk tanpa lemak sebesar 17,94 juta ton atau tumbuh sebesar 1,33%. (000 Ton) Gambar Perkembangan Produksi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Terdapat 5 negara produsen susu bubuk tanpa lemak terbesar di dunia dengan pangsa 54,38% terhadap total produksi susu bubuk tanpa lemak di dunia (Gambar 4.32). Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, India, Selandia Baru, Australisa dan Brazil. Amerika Serikat dan India merupakan negara produsen susu bubuk tanpa lemak terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 24% dan 11,86, sementara negara produsen susu bubuk tanpa lemak lainnya hanya berkontribusi kurang dari 10% (Lampiran 40). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 41

60 OUTLOOK SUSU Amerika Serikat 24,00% Negara Lainnya 36,34% India 11,86% Ukraina 1,25% China 1,30% Rusia 1,61% Kanada 1,91% Jepang 3,21% Brazil 3,59% Australia 5,39% Selandia Baru 9,54% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Produsen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, KONSUMSI DAN NEGARA SENTRA KONSUMSI SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA Perkembangan konsumsi susu bubuk tanpa lemak dunia pada periode meningkat 2,39% per tahun (Gambar 4.33 dan Lampiran 41). Periode konsumsi susu bubuk tanpa lemak adalah sebesar 17,5 juta ton atau tumbuh sebesar 1,20%. Secara umum di seluruh negara, konsumsi susu bubuk tanpa lemak lebih rendah daripada produksinya. (000 Ton) Gambar Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

61 OUTLOOK SUSU 2015 Negara dengan tingkat konsumsi susu bubuk tanpa lemak cukup tinggi yaitu Amerika Serikat, India, Meksiko, China dan Indonesia. Amerika Serikat yang merupakan negara dengan tingkat konsumsi susu bubuk tanpa lemak terbesar rata-rata 466 ribu ton per tahun. Sementara itu India dengan tingkat konsumsi sebesar 434 ribu ton per tahun menempati posisi kedua, sedangkan Meksiko sebesar 261 ribu ton per tahun, China 250 ribu ton per tahun dan Indonesia 211 ribu ton per tahun (Gambar 4.34). Amerika Serikat 7,33% India 6,82% Meksiko 4,11% China 3,93% Indonesia 3,32% Jepang 2,72% Brazil 2,76% Negara Lainnya 63,03% Filipina 1,50% Algeria 1,93% Rusia 2,54% Gambar Kontribusi Beberapa Negara Konsumen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, EKSPOR IMPOR DAN NEGARA EKSPORTIR IMPORTIR SUSU BUBUK TANPA LEMAK DUNIA Secara umum perkembangan volume ekspor dan impor susu bubuk tanpa lemak di dunia pada periode berfluktuasi. Pertumbuhan ekspor mengalami peningkatan 1,46% per tahun demikian pula volume impornya meningkat 0,80% per tahun (Lampiran 43 dan Gambar 4.35). Pada tahun 1996 volume ekspor menurun drastis sebesar 24,29% sementara impor menurun drastis padatahun 1997 sebesar 38,94% disebabkan karena krisis ekonomi. Tahun-tahun berikutnya pergerakan ekspor dan impor mengalami fluktuasi. Volume ekspor susu bubuk tanpa lemak periode diperkirakan naik sebesar 8,59% begitu pula impornya diperkirakan meningkat 5,52% per tahun. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 43

62 OUTLOOK SUSU (000 Ton) Ekspor Impor Gambar Perkembangan Ekspor Impor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Amerika Serikat merupakan negara pengekspor terbesar susu bubuk tanpa lemak dunia dengan volume ekspor mencapai 513 ribu ton (Lampiran 44). Negara pengekspor kedua terbesar adalah Selandia Baru sebesar 386 ribu ton dan ketiga Australia sebesar 148 ribu ton (Gambar 4.36). Indonesia menjadi negara pengekspor kesebelas dunia, dengan volume ekspor rata-rata ton. Dalam hal ini Indonesia diduga melakukan praktek reekspor susu bubuk tanpa lemak karena Indonesia tidak memproduksi susu bubuk jenis ini. Susu bubuk tanpa lemak dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar susu atau keju tanpa lemak sehingga dapat berguna untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Negara Lain 32,61% Amerika Serikat 29,60% Filipina 0,48% Kanada 0,66% Argentina 1,21% Ukraina 1,38% India 3,24% Australia 8,54% Selandia Baru 22,28% Gambar Negara Pengekspor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

63 OUTLOOK SUSU 2015 Brazil 2,33% Taiwan 1,92% Korea Selatan 1,90% Negara Lain 12,02% Indonesia 17,54% Jepang 3,07% Rusia 8,08% Meksiko 17,54% Filipina 8,51% Algeria 10,79% China 16,30% Gambar Negara Pengimpor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, Indonesia dan Meksiko merupakan negara pengimpor susu bubuk tanpa lemak terbesar di dunia, dengan rata-rata impor tahun sebesar 212 ribu ton (Gambar 4.37). Meskipun Cina dan Jepang memproduksi susu bubuk tanpa lemak, namun produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan sehingga harus melakukan impor. Impor produk susu yang dilakukan oleh negara produsen dilandasi oleh dua faktor, pertama menjaga hubungan diplomatik bilateral antara negara (pengimpor dan pengekspor), dan kedua adalah untuk kepentingan stabilisasi harga produk itu sendiri yang disebabkan kekurangan pasokan dari dalam negeri. Beberapa negara melakukan reekspor produk susu bubuk tanpa lemak seperti Filipina, negara ini menyerupai Indonesia tidak memproduksi susu bubuk tanpa lemak sendiri. Pada tahun 2015 tingkat konsumsi susu dalam negeri diitargetkan mencapai 15 kilogram per kapita per tahun. Namun realisasinya saat ini baru mencapai 13,4 kilogram per kapita per tahun. Salah satu faktor utama belum tercapainya realisasi adalah budaya masyarakat yang lebih memilih konsumsi susu bubuk dan susu olahan yang masih menggunakan bahan impor, selain itu rendahnya produksi susu di sisi lain juga disebabkan tingkat populasi sapi perah yang masih rendah serta skala kepemilikan sapi per kepala keluarga hanya 2-3 ekor. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 45

64 2015 OUTLOOK SUSU 46 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

65 OUTLOOK SUSU 2015 V. ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN 5.1. PROYEKSI PENAWARAN SUSU INDONESIA Analisis sisi penawaran susu sapi di Indonesia dicerminkan oleh besaran produksi susu nasional. Untuk menduga penawaran susu sapi dilakukan dengan melakukan analisis dengan model-model statistik. Berdasarkan kajian beberapa model fungsi respon produksi susu, maka diperoleh model yang signifikan untuk menerangkan dinamika produksi susu, yaitu produksi susu dipengaruhi oleh peubah populasi sapi perah satu tahun berjalan dan peubah harga susu kental manis tahun sebelumnya dengan koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 92,3% (Tabel 5.1). Besaran koefisien determinasi menjelaskan bahwa 92,3% keragaman produksi susu dapat diterangkan oleh keragaman peubah populasi sapi perah dan harga susu kental manis tahun sebelumnya, hanya 7,7% yang dipengaruhi oleh peubah lain. Tabel 5.1. Hasil Analisis Fungsi Respon Produksi Susu Sapi di Indonesia Peubah Koefisien p_value Ln populasi sapi perah tahun berjalan 0,92 0,00 Ln harga riil susu kental manis periode sebelumnya 0,17 0,00 Intercept -0,12 0,95 R 2 = 92,3% Tabel 5.1. di atas menerangkan bahwa produksi susu sapi secara nyata dipengaruhi oleh besarnya populasi sapi perah tahun berjalan dengan koefisien regresi sebesar 0,92 (p_value = 0,00 < α = 5%), dan peubah harga riil susu kental manis tahun sebelumnya dengan koefisien regresi 0,17 (p_value = 0,00 < α = 5%). Persamaan tersebut menjelaskan bahwa setiap kenaikan populasi sapi perah sebanyak satu ekor akan meningkatkan produksi susu sapi sebesar 0,92 ton dan setiap kenaikan harga susu kental manis satu rupiah tahun sebelumnya akan meningkatkan produksi susu sapi sebesar 0,17 ton. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 47

66 2015 OUTLOOK SUSU Berdasarkan model produksi yang dihasilkan di atas selanjutnya dilakukan proyeksi terhadap produksi susu sapi untuk tahun 2016 hingga tahun 2019 seperti tersaji pada Tabel 5.2. Tabel 5.2. Proyeksi Penawaran Susu Sapi di Indonesia, Tahun Penawaran (Ton) Pertumbuhan (%) *) , **) , **) , **) , **) ,56 Rata-Rata ,15 Keterangan: *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin Pada tahun 2015 produksi susu Indonesia diperkirakan mencapai 805,36 ribu ton atau meningkat 0,58% dibandingkan produksi satu tahun sebelumnya. Pada tahun 2016, diperkirakan menurun sebesar 15,72 ribu ton atau 1,95% dari tahun sebelumnya. Tahun 2017, 2018 dan 2019 diproyeksikan produksi susu akan kembali meningkat menjadi 805,21 ribu ton, 826,27 ribu ton dan 847, 43 ribu ton atau tumbuh masing-masing sebesar 1,97%, 2,62% dan 2,56% dari tahun sebelumnya PROYEKSI PERMINTAAN SUSU INDONESIA Total permintaan susu sapi di Indonesia dicerminkan oleh besaran konsumsi susu nasional. Berdasarkan hasil perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM), komponen pemakaian dalam negeri atau konsumsi untuk susu terdiri dari pakan, tercecer dan bahan makanan. Komponen bahan makanan ini jika dibagi dengan jumlah penduduk merupakan ketersediaan per kapita dalam satu tahun. Asumsi proyeksi pemakaian dalam negeri atau konsumsi susu adalah: 48 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

67 OUTLOOK SUSU Proyeksi pemakaian dalam negeri atau konsumsi untuk pakan, tercecer dan bahan makanan berdasarkan data NBM dengan menggunakan Trend Analysis Quadratic. 2. Proyeksi jumlah penduduk berdasarkan data BPS dengan tingkat pertumbuhan 1,2% per tahun. Tabel 5.3. Proyeksi Permintaan atau Konsumsi Susu di Indonesia, Tahun Permintaan (Ton) Pakan Tercecer Bahan Makanan Total Pertumbuhan 2014*) , **) , , **) , , **) , , **) , , **) , ,49 Pertumbuhan (%/tahun) Keterangan: *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin (%) Jumlah Penduduk (000 Orang) Ketersediaan Susu (kg/kap/thn) 6,74 1,22 5,67 Pada kurun waktu , permintaan susu diproyeksikan mengalami pertumbuhan rata-rata 0,62% per tahun. Sementara, 4 tahun ke depan, diperkirakan meningkat rata-rata 8,26% atau sebesar 1,03 ribu ton per tahun. Laju pertumbuhan penduduk pada periode tersebut diproyeksikan juga naik rata-rata 1,2% per tahun. Berdasarkan hasil proyeksi, total ketersediaan per kapita susu mengalami peningkatan sebesar 5,67% per tahun. Pada tahun 2014, konsumsi domestik susu Indonesia sebesar 801 ribu ton, tahun berikutnya naik menjadi 806 ribu ton. Tahun 2016 diprediksi kembali meningkat 20,67% sebesar 972,62 ribu ton, tahun 2017 naik menjadi 1,03 juta ton, tahun 2018 dan 2019 diprediksi meningkat menjadi 1,06 juta ton dan 1,09 juta ton. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 49

68 2015 OUTLOOK SUSU 5.3. NERACA SUSU Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan susu, diperkirakan 4 tahun kedepan Indonesia akan terus mengalami defisit susu (Tabel 5.4). Pada tahun 2015, laju defisit ketersediaan susu mencapai 156,04% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun berikutnya, 2016 defisit meningkat hingga lebih 182 ribu ton. Tahun 2017 hingga 2019 defisit mencapai 200 hingga 250 ribu ton. Konsumsi susu yang terus meningkat di tanah air ternyata belum bisa diimbangi dengan kemampuan peternak sapi nasional untuk menyediakan produksi susu yang berkualitas. Tabel 5.4. Neraca Susu Indonesia, Tahun Penawaran (Ton) Permintaan (Ton) Selisih (Ton) 2014*) **) **) **) **) **) Keterangan: *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin Pertumbuhan produksi susu dalam negeri pada kisaran 2 3 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan kebutuhan susu lebih dari 5 persen per tahun. Kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) mencapai 3,3 juta ton per tahun. Angka ini belum mencukupi pasokan bahan baku SSDN yang hanya mencapai 21% atau 690 ribu ton per tahun pada tahun lalu. Sisanya sebanyak 79% masih harus diimpor dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara. Misalnya, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Keterbatasan produksi susu dari dalam negeri ini disebebkan oleh masih belum maksimalnya produksi susu dari sapi perah yang dimiliki oleh peternak di Indonesia. Selain itu disebabkan pula karena masih sedikitnya 50 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

69 OUTLOOK SUSU 2015 sentra peternakan sapi perah di Indonesia, di mana hampir 95% hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Apabila produksi dalam negeri tidak dapat mengejar ketinggalan pasokan tersebut, maka kondisi defisit akan terus terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kekurangan persediaan susu ini akan membuka kran impor susu dari negara-negara produsen seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, dan Eropa. Kekurangan pasokan dapat diinterpretasikan bahwa peluang usaha budidaya sapi perah di Indonesia masih terbuka lebar, terutama di beberapa daerah/wilayah potensi. Upaya pembinaan untuk memperbaiki manajemen peternakan sapi serta peningkatan kualitas dan kuantitas dari produksi susu perlu dilakukan sehingga setiap sapi perah mampu memproduksi susu sampai 20 liter per hari per ekor. Kerjasama antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta PT. Perkebunan Nasional juga diperlukan guna pemanfaatan lahan yang tidak terpakai untuk tanam pakan ternak. Dengan begitu diharapkan skala ekonomi peternak mampu diperbaiki menjadi lebih baik. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 51

70 2015 OUTLOOK SUSU 52 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

71 OUTLOOK SUSU 2015 VI. KESIMPULAN Perkembangan populasi sapi perah secara nominal terjadi pertumbuhan yang signifikan, periode rata-rata sebesar 536,22 ribu ekor atau 2,99% per tahun. Produksi susu dominan terdapat di Pulau Jawa dengan kontribusi susu dari Pulau Jawa 99,23% sementara Luar Jawa 0,77%. Produksi susu 5 tahun terakhir menurun rata-rata 2,01% per tahun atau ratarata sebesar 865,48 ribu ton. Pada tahun 2016 hingga 2019, Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit susu sebesar 182 ribu hingga 250 ribu ton. Permintaan/kebutuhan susu segar maupun produk turunannya diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi, pertumbuhan ekonomi, perbaikan tingkat pendidikan, kesadaran gizi dan perubahan gaya hidup. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 53

72 2015 OUTLOOK SUSU 54 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

73 OUTLOOK SUSU 2015 DAFTAR PUSTAKA Anonim pada tanggal 22 September Anonim Konsumsi Susu Masih 11,09 Liter per Kapita. Diakses dari 11,09-Liter-per-Kapita pada tanggal 4 November Anonim pada tanggal 2 November Hariyanti, Dini , Industri Susu Tak Akan Tambah Kapasitas Produksi. Diakses dari pada tanggal 6 November Kementerian Pertanian Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun Jakarta. Salma Indria Rahman Permintaan Susu Naik Lima Persen per Tahun. Diakses dari pada tanggal 6 November Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 55

74 2015 OUTLOOK SUSU 56 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

75 OUTLOOK SUSU 2015 LAMPIRAN Lampiran 1. Populasi Sapi Perah Indonesia, *) Tahun Jawa (Ekor) Pertumbuhan (%) Luar Jawa (Ekor) Pertumbuhan (%) Indonesia (Ekor) Pertumbuhan , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) , , ,51 Rata-rata per Tahun Populasi Sapi Perah *) , , , *) , , ,99 Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara (%) Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 57

76 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 2. Produksi Susu Sapi Indonesia, *) Tahun Jawa (Ton) Pertumbuhan (%) Luar Jawa (Ton) Pertumbuhan (%) Indonesia (Ton) Pertumbuhan , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) , , ,58 Rata-rata per Tahun Produksi Susu Sapi *) , , , *) , , ,01 Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara (%) 58 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

77 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 3. Sentra Populasi Sapi Perah Indonesia, *) No. Negara *) Kumulatif Kontribusi (%) 1 Jawa Timur ,50 49,50 2 Jawa Tengah ,39 73,90 3 Jawa Barat ,81 97,70 4 DI Yogyakarta ,76 98,46 5 DKI Jakarta ,51 98,97 6 Provinsi Lainnya ,03 100,76 Indonesia Populasi Sapi Perah (Ekor) Rata-rata (Ekor) Kontribusi ,00 100,00 Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara (%) Lampiran 4. Sentra Produksi Susu Sapi Indonesia, *) No. Negara *) 1 Jawa Timur ,89 54,89 2 Jawa Barat ,41 86,31 3 Jawa Tengah ,68 97,99 4 DKI Jakarta ,62 98,60 5 DI Yogyakarta ,61 99,22 6 Provinsi Lainnya ,78 100,63 Indonesia Produksi Susu Sapi (Ton) Rata-rata (Ton) Kontribusi ,00 100,00 (%) Kumulatif Kontribusi (%) Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 59

78 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 5. Ketersediaan Susu Indonesia, **) Tahun Indonesia (Kg/Kap/Thn) Pertumbuhan (%) Susu Lokal (Kg/Kap/Thn) Pertumbuhan (%) Susu Impor (Kg/Kap/Thn) Pertumbuhan (%) Susu Lokal (%) Susu Impor ,49 1,70 1,79 48,71 51, ,48 28,37 1,76 3,53 2,72 51,96 39,29 60, ,31-3,79 1,66-5,68 2,65-2,57 38,52 61, ,18-3,02 1,80 8,43 2,38-10,19 43,06 56, ,58 9,57 1,78-1,11 2,80 17,65 38,86 61, ,94 51,53 1,90 6,74 5,04 80,00 27,38 72, ,65-18,59 1,89-0,53 3,76-25,40 33,45 66, ,26-6,90 1,79-5,29 3,47-7,71 34,03 65, ,13-21,48 1,56-12,85 2,57-25,94 37,77 62, ,08 23,00 1,78 14,10 3,30 28,40 35,04 64, ,42 26,38 2,03 14,04 4,39 33,03 31,62 68, ,79-9,81 2,04 0,49 3,75-14,58 35,23 64, ,08 22,28 1,97-3,43 5,11 36,27 27,82 72, ,69-5,51 2,18 10,66 4,51-11,74 32,59 67, ,47 41,55 2,14-1,83 7,33 62,53 22,60 77, ,29-1,90 2,06-3,74 7,23-1,36 22,17 77, ,95 17,87 2,34 13,59 8,61 19,09 21,37 78, ,84 8,13 2,12-9,40 9,72 12,89 17,91 82, ,51-19,68 2,39 12,74 7,12-26,75 25,13 74, ,58 21,77 3,01 25,94 8,57 20,37 25,99 74, ,12 13,30 3,16 4,98 9,96 16,22 24,09 75, ,26 8,69 3,35 6,01 10,91 9,54 23,49 76, ,77 3,58 3,30-1,49 11,47 5,13 22,34 77, ,86 0,61 2,67-19,09 12,19 6,28 17,97 82, *) 14,12-4,98 2,68 0,37 11,44-6,15 18,98 81, **) 13,95-1,20 2,66-0,75 11,29-1,31 19,07 80,93 Rata-rata Ketersediaan Susu Persentase terhadap Total **) 8,53 7,19 2,22 2,26 6,31 10,63 29,40 70, **) 14,39 1,34 2,93-2,99 11,46 2,70 20,37 79,63 Sumber : Neraca Bahan Makanan Kementerian Pertanian, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Prediksi (%) 60 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

79 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 6. Konsumsi Susu Indonesia, *) Tahun Susu Murni (Ltr/Kap/Thn) Pertumbuhan (%) Susu Bubuk (Kg/Kap/Thn) Pertumbuhan (%) Susu Kental Manis (397 Gr/Kap/Thn) Pertumbuhan (%) ,31 0,26 0, ,30-5,75 0,30 13,03 1,11 93, ,28-5,76 0,33 11,86 1,65 48, ,26-6,12 0,37 10,61 2,19 32, ,24-6,90 0,33-9,59 1,96-10, ,23-7,00 0,30-10,61 1,74-11, ,21-7,52 0,26-11,53 1,51-13, ,21 0,00 0,31 19,92 1,77 17, ,21 0,00 0,37 16,61 2,03 14, ,21 0,00 0,42 14,25 2,29 12, ,16-25,36 0,37-12,47 2,45 6, ,16 0,00 0,42 14,25 2,50 2, ,10-33,33 0,42 0,00 2,76 10, ,16 50,00 0,47 12,47 2,76 0, ,21 33,97 0,89 88,91 3,55 28, ,21 0,00 0,78-11,74 3,18-10, ,10-50,24 0,73-6,65 3,02-4, ,10 0,27 0,78 7,14 3,34 10, ,16 50,00 0,73-6,66 3,29-1, ,16 0,00 0,37-50,00 3,61 9, ,15-2,83 0,73 100,00 3,71 2, ,10-34,21 0,75 2,48 3,05-17, *) 0,10-3,00 0,77 2,93 3,86 26,46 Rata-rata *) 0,19-2,44 0,50 8,87 2,52 11, *) 0,13 1,99 0,67 9,75 3,50 3,95 Sumber : Susenas BPS, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Estimasi Pusdatin Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 61

80 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 7. Harga Susu Kental Manis Tingkat Konsumen, Tahun Harga (Rp/Kg) Pertumbuhan (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,69 Rata-rata , ,82 Sumber : Kementerian Perdagangan, diolah Pusdatin Keterangan : Data per Juli Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

81 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 8. Perkembangan Neraca Perdagangan Susu Indonesia, Tahun Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai (Ton) (000 US$) (Ton) (000 US$) (Ton) (000 US$) Pertumbuhan Rata-rata per Tahun ,79 56,98 2,37 3,62 2,33 3, ,27 4,53-0,50 1,15-0,75 0,91 Sumber Ekspor Impor Neraca : BPS, diolah Pusdatin Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 63

82 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 9. Perkembangan Populasi Sapi Perah Dunia, *) Tahun Populasi Sapi Pertumbuhan (000 Ekor) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,51 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,87 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 64 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

83 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 10. Perkembangan Produksi Susu Dunia, *) Tahun Susu Cair Produksi Susu Susu Sapi Susu Cair Lainnya Susu Sapi Pertumbuhan Pertumbuhan Pertumbuhan Lainnya Total terhadap Total terhadap Total (000 Ton) (%) (%) (%) (000 Ton) (000 Ton) (%) (%) , , ,16 94,30 5, , , ,69 93,77 6, , , ,94 93,77 6, , , ,03 93,49 6, , , ,64 93,23 6, , , ,04 93,10 6, , , ,25 92,82 7, , , ,42 92,56 7, , , ,04 93,00 7, , , ,47 93,32 6, , , ,11 92,54 7, , , ,69 92,20 7, , , ,38 91,45 8, , , ,95 90,92 9, , , ,64 90,79 9, , , ,30 90,33 9, , , ,86 89,72 10, , , ,09 89,60 10, , , ,74 89,42 10, , , ,55 88,80 11, , , ,54 88,50 11, , , ,66 88,09 11, , , ,62 87,70 12, , , ,96 87,10 12, , , ,42 86,73 13, , , ,14 86,84 13, , , ,21 86,49 13, , , ,41 86,60 13, , , ,19 86,23 13, , , ,95 85,92 14, , , ,98 85,66 14, , , ,82 85,30 14, , , ,31 84,84 15, , , ,65 84,83 15, *) , , ,35 84,50 15,50 Rata-rata per Tahun *) , , ,00 89,56 10, , , ,03 92,43 7, *) , , ,91 86,84 13, *) , , ,42 85,02 14,98 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 65

84 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 11. Kontribusi Populasi Sapi Perah Beberapa Negara di Dunia, *) No *) Kontribusi 1 India ,29 35,29 2 Brazil ,77 50,06 3 Amerika Serikat ,73 56,79 4 Rusia ,01 62,79 5 China ,95 68,74 6 Meksiko ,63 73,37 7 Selandia Baru ,68 77,05 8 Ukraina ,86 78,91 9 Argentina ,47 80,38 10 Australia ,21 81,59 11 Negara Lainnya ,41 100,00 Dunia Negara Populasi Sapi Perah (000 Ekor) Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Rata-rata (000 Ekor) ,00 100,00 (%) Kumulatif Kontribusi (%) Lampiran 12. Kontribusi Produksi Susu Sapi Beberapa Negara di Dunia, *) No *) Kumulatif Kontribusi (%) 1 Amerika Serikat ,46 19,46 2 India ,30 31,76 3 China ,30 39,06 4 Brazil ,87 45,93 5 Rusia ,52 52,45 6 Selandia Baru ,37 56,83 7 Meksiko ,40 59,23 8 Argentina ,39 61,62 9 Ukraina ,35 63,97 10 Australia ,04 66,01 11 Negara Lainnya ,99 100,00 Dunia Negara Produksi Susu Sapi (000 Ton) Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Rata-rata (000 Ton) Kontribusi ,00 100,00 (%) 66 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

85 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 13. Kontribusi Produksi Susu Cair Lainnya Beberapa Negara di Dunia, *) No. Negara Produksi Susu Cair Lainnya (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 India ,99 91,99 2 China ,74 93,73 3 Ukraina ,36 94,09 4 Meksiko ,19 94,28 5 Taiwan ,02 94,30 6 Filipina ,004 94,31 7 Uni Eropa ,69 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Lampiran 14. Negara dengan Konsumsi Susu Cair Terbesar Dunia, *) No. Negara Konsumsi Susu Cair (000 Ton) *) Rata-rata (000 Ton) Kontribusi Kumulatif Kontribusi (%) 1 India ,83 30,83 2 Amerika Serikat ,10 46,93 3 China ,98 54,91 4 Brazil ,78 61,69 5 Rusia ,86 67,55 6 Ukraina ,11 70,66 7 Meksiko ,33 73,00 8 Jepang ,23 75,23 9 Kanada ,69 76,92 10 Australia ,43 78,35 11 Negara Lainnya ,65 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA (%) Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 67

86 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 15. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Susu Cair Dunia, *) Tahun Ekspor Pertumbuhan Impor Pertumbuhan (000 Ton) (%) (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,27 Rata-rata *) , , , , *) , , *) , ,80 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 68 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

87 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 16. Negara Pengekspor Susu Cair Dunia, *) No. Negara Ekspor Susu Cair (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Selandia Baru ,13 18,13 2 Australia ,39 31,52 3 Cina ,45 34,98 4 Rusia ,46 37,44 5 Argentina ,74 39,18 6 Meksiko ,50 40,68 7 Ukraina ,10 41,78 8 Kanada ,56 42,34 9 Negara Lain ,66 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Lampiran 17. Negara Pengimpor Susu Cair Dunia, *) No. Negara Impor Susu Cair (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Rusia ,89 43,89 2 China ,27 72,16 3 Filipina ,71 78,87 4 Kanada ,20 85,07 5 Meksiko ,51 90,58 6 Taiwan ,17 93,75 7 Brazil ,83 95,57 8 Australia ,91 96,49 9 Ukraina ,71 97,20 10 Selandia Baru ,26 97,46 11 Negara Lain ,54 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 69

88 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 18. Perkembangan Produksi Keju Dunia, *) Tahun Produksi Keju Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,45 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,33 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 70 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

89 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 19. Negara Sentra Produksi Keju Dunia, *) No. Negara Produksi Keju (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Amerika Serikat ,15 28,15 2 Rusia ,14 32,29 3 Brazil ,00 36,29 4 Argentina ,15 39,45 5 Kanada ,15 41,60 6 Australia ,83 43,43 7 Selandia Baru ,78 45,20 8 Meksiko ,52 46,72 9 Ukraina ,74 47,45 10 Jepang ,27 47,72 11 Negara Lainnya ,28 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 71

90 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 20. Perkembangan Konsumsi Keju Dunia, *) Tahun Konsumsi Keju Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,94 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,20 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 72 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

91 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 21. Negara Sentra Konsumsi Keju Dunia, *) No. Negara Konsumsi Keju (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Amerika Serikat ,81 27,81 2 Rusia ,32 34,13 3 Brazil ,24 38,38 4 Argentina ,93 41,30 5 Kanada ,30 43,60 6 Meksiko ,07 45,68 7 Jepang ,60 47,28 8 Australia ,37 48,65 9 Korea Selatan ,64 49,29 10 Ukraina ,55 49,83 11 Negara Lainnya ,17 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 73

92 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 22. Perkembangan Ekspor Impor Keju Dunia, *) Tahun Ekspor Pertumbuhan Impor Pertumbuhan (000 Ton) (%) (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) , ,31 Rata-rata *) , , , , *) , , *) , ,14 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 74 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

93 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 23. Negara Pengekspor Keju Terbesar Dunia, *) No. Negara Ekspor Keju (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Amerika Serikat ,84 18,84 2 Selandia Baru ,55 36,39 3 Australia ,85 46,24 4 Argentina ,39 49,63 5 Ukraina ,89 52,52 6 Rusia ,65 54,17 7 Kanada ,54 54,71 8 Meksiko ,28 54,99 9 Brazil ,16 55,15 10 Filipina ,07 55,23 11 Negara Lain ,77 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Lampiran 24. Negara Pengimpor Keju Terbesar Dunia, *) No. Negara Impor Keju (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Rusia ,57 32,57 2 Jepang ,42 51,99 3 Amerika Serikat ,30 62,29 4 Meksiko ,00 70,28 5 Korea Selatan ,36 77,65 6 Australia ,31 83,96 7 Negara Lain ,04 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 75

94 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 25. Perkembangan Produksi Mentega Dunia, *) Tahun Produksi Mentega Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,72 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,46 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 76 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

95 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 26. Negara Produsen Mentega Terbesar Dunia, *) No. Negara Produksi Mentega (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 India ,28 51,28 2 Amerika Serikat ,15 60,43 3 Selandia Baru ,87 66,30 4 Rusia ,48 68,78 5 Meksiko ,08 70,86 6 Negara Lainnya ,14 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 77

96 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 27. Perkembangan Konsumsi Mentega Dunia, *) Tahun Konsumsi Mentega Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,30 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,20 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 78 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

97 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 28. Negara Konsumen Mentega Terbesar Dunia, *) No. Negara Konsumsi Mentega (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 India ,19 54,19 2 Amerika Serikat ,12 63,31 3 Rusia ,03 67,34 4 Meksiko ,61 69,95 5 Kanada ,15 71,10 6 Negara Lainnya ,44 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 79

98 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 29. Perkembangan Ekspor dan Impor Mentega Dunia, *) Tahun Ekspor Pertumbuhan Impor Pertumbuhan (000 Ton) (%) (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) 825-5, ,18 Rata-rata *) , , , , *) 778 0, , *) 800 2, ,07 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 80 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

99 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 30. Negara Pengekspor Mentega Terbesar Dunia, *) No. Negara Ekspor Mentega (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Selandia Baru ,04 64,04 2 Amerika Serikat ,87 71,91 3 Australia ,77 77,69 4 Argentina ,32 80,01 5 India ,20 81,21 6 Negara Lain ,79 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Lampiran 31. Negara Pengimpor Mentega Terbesar Dunia, *) Impor Mentega (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif No. Negara *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Rusia ,12 40,12 2 Meksiko ,92 53,04 3 Taiwan ,04 60,08 4 Australia ,78 66,86 5 Amerika Serikat ,20 73,06 6 Negara Lain ,94 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 81

100 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 32. Perkembangan Produksi Susu Bubuk Dunia, *) Tahun Produksi Susu Bubuk Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,67 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,60 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 82 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

101 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 33. Negara Produsen Susu Bubuk Dunia, *) No. Negara Produksi Susu Bubuk (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Selandia Baru ,59 28,59 2 China ,96 55,55 3 Brazil ,23 67,78 4 Argentina ,88 73,66 5 Meksiko ,36 77,02 6 Australia ,68 79,70 7 Chili ,72 81,42 8 Indonesia ,54 82,96 9 Rusia ,21 84,17 10 Amerika Serikat ,81 84,98 11 Negara Lainnya ,02 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 83

102 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 34. Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Dunia, *) Tahun Konsumsi Susu Bubuk Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,87 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,79 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 84 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

103 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 35. Negara Konsumen Susu Bubuk Dunia, *) No. Negara Konsumsi Susu Bubuk (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 China ,28 49,28 2 Brazil ,35 66,63 3 Algeria ,35 71,98 4 Meksiko ,65 76,63 5 Indonesia ,59 80,22 6 Argentina ,80 83,01 7 Rusia ,50 85,52 8 Chile ,82 87,34 9 Australia ,19 88,52 10 Taiwan ,95 89,47 11 Negara Lainnya ,53 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 85

104 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 36. Perkembangan Ekspor dan Impor Susu Bubuk Dunia, *) Tahun Ekspor (000 Ton) Pertumbuhan (%) Impor (000 Ton) Pertumbuhan , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) , ,11 Rata-rata *) , , , , *) , , *) , ,44 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA (%) 86 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

105 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 37. Negara Pengekspor Susu Bubuk Terbesar Dunia, *) No. Negara Ekspor Susu Bubuk (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Selandia Baru ,21 64,21 2 Argentina ,51 72,72 3 Australia ,71 77,43 4 Chili ,93 78,36 5 Filipina ,74 79,10 6 Amerika Serikat ,73 79,82 7 Brazil ,64 80,46 8 China ,33 80,79 9 Meksiko ,29 81,08 10 Rusia ,07 81,15 11 Negara Lain ,85 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Lampiran 38. Negara Pengimpor Susu Bubuk Terbesar Dunia, *) Impor Susu Bubuk (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif No. Negara *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 China ,2 52,82 52,82 2 Algeria ,6 20,73 73,55 3 Indonesia ,2 5,92 79,47 4 Brazil ,0 5,90 85,37 5 Taiwan ,0 3,61 88,98 6 Rusia ,8 3,59 92,57 7 Filipina ,8 3,04 95,61 8 Meksiko ,0 1,42 97,03 9 Australia ,0 1,09 98,12 10 Amerika Serikat ,2 0,90 99,02 11 Negara Lain ,0 0,98 100,00 Dunia ,8 100,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 87

106 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 39. Perkembangan Produksi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Tahun Produksi Susu Bubuk Tanpa Lemak Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,45 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,33 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 88 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

107 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 40. Negara Produsen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) No. Negara Produksi Susu Bubuk Tanpa Lemak (000 Ton) Rata-rata Kontribusi Kumulatif *) (000 Ton) (%) Kontribusi (%) 1 Amerika Serikat ,00 24,00 2 India ,86 35,86 3 Selandia Baru ,54 45,40 4 Australia ,39 50,80 5 Brazil ,59 54,38 6 Jepang ,21 57,59 7 Kanada ,91 59,50 8 Rusia ,61 61,11 9 China ,30 62,41 10 Ukraina ,25 63,66 11 Negara Lainnya ,34 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 89

108 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 41. Perkembangan Konsumsi Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Tahun Konsumsi Susu Bubuk Tanpa Lemak Pertumbuhan (000 Ton) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) ,94 Rata-rata per Tahun *) , , *) , *) ,20 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA 90 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

109 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 42. Negara Konsumen Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) No. Negara *) 1 Amerika Serikat ,33 7,33 2 India ,82 14,16 3 Meksiko ,11 18,27 4 China ,93 22,20 5 Indonesia ,32 25,52 6 Brazil ,76 28,27 7 Jepang ,72 31,00 8 Rusia ,54 33,54 9 Algeria ,93 35,47 10 Filipina ,50 36,97 11 Negara Lainnya ,03 100,00 Dunia Konsumsi Susu Bubuk Tanpa Lemak (000 Ton) Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA Rata-rata (000 Ton) Kontribusi ,00 100,00 (%) Kumulatif Kontribusi (%) Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 91

110 2015 OUTLOOK SUSU Lampiran 43. Perkembangan Ekspor dan Impor Susu Bubuk Tanpa Lemak Dunia, *) Tahun Ekspor (000 Ton) Pertumbuhan (%) Impor (000 Ton) Pertumbuhan , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , *) , ,13 Rata-rata *) , , , , *) , , *) , ,22 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA (%) 92 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

111 OUTLOOK SUSU 2015 Lampiran 44. Negara Pengekspor Susu Bubuk Tanpa Lemak Terbesar Dunia, *) No. Negara Ekspor Susu Bubuk Tanpa Lemak (000 Ton) *) Rata-rata (000 Ton) Kontribusi 1 Amerika Serikat ,60 29,60 2 Selandia Baru ,28 51,87 3 Australia ,54 60,42 4 India ,24 63,66 5 Ukraina ,38 65,04 6 Argentina ,21 66,25 7 Kanada ,66 66,91 8 Filipina ,48 67,39 9 Negara Lain ,61 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA (%) Kumulatif Kontribusi (%) Lampiran 45. Negara Pengimpor Susu Bubuk Tanpa Lemak Terbesar Dunia, *) No. Negara Impor Susu Bubuk Tanpa Lemak (000 Ton) *) Rata-rata (000 Ton) Kontribusi 1 Indonesia ,32 19,32 2 Meksiko ,32 38,64 3 China ,95 56,59 4 Algeria ,89 68,48 5 Filipina ,38 77,86 6 Rusia ,90 86,76 7 Jepang ,39 90,15 8 Brazil ,57 92,72 9 Taiwan ,11 94,83 10 Korea Selatan ,09 96,92 7 Negara Lain ,24 100,00 Dunia ,00 100,00 Sumber : USDA, diolah Pusdatin Keterangan : *) Estimasi USDA (%) Kumulatif Kontribusi (%) Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 93

112 2015 OUTLOOK SUSU LAMPIRAN II Model dan Hasil Proyeksi Variabel Komoditas Susu a. Model Proyeksi Produksi Susu Regression Analysis: Produksi t versus Populasi t; Harga t-1; Konsumsi t The regression equation is Produksi t = ,44 Populasi t + 13,1 Harga t Konsumsi t Predictor Coef SE Coef T P Constant ,10 0,918 Populasi t 1,4401 0,3512 4,10 0,000 Harga t-1 13,09 18,42 0,71 0,483 Konsumsi t ,67 0,506 S = 74915,2 R-Sq = 89,0% R-Sq(adj) = 87,9% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 3 1,27672E+12 4,25575E+11 75,83 0,000 Residual Error 28 1,57144E Total 31 1,43387E+12 Source DF Seq SS Populasi t 1 1,24473E+12 Harga t Konsumsi t Unusual Observations Obs Populasi t Produksi t Fit SE Fit Residual St Resid ,55R ,59R ,08R R denotes an observation with a large standardized residual. 94 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

113 OUTLOOK SUSU 2015 Regression Analysis: Ln Prod versus Ln Pop; Ln Harga t-1; Ln Kons t The regression equation is Ln Prod = - 0,18 + 0,931 Ln Pop + 0,165 Ln Harga t-1-0,013 Ln Kons t Predictor Coef SE Coef T P Constant -0,179 2,028-0,09 0,930 Ln Pop 0,9306 0,1931 4,82 0,000 Ln Harga t-1 0, , ,27 0,031 Ln Kons t -0,0130 0,1025-0,13 0,900 S = 0, R-Sq = 92,3% R-Sq(adj) = 91,5% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 3 5,5907 1, ,77 0,000 Residual Error 28 0,4669 0,0167 Total 31 6,0576 Source DF Seq SS Ln Pop 1 5,4419 Ln Harga t-1 1 0,1485 Ln Kons t 1 0,0003 Unusual Observations Obs Ln Pop Ln Prod Fit SE Fit Residual St Resid 25 13,0 13, ,4024 0,0398-0,3325-2,71R 26 13,1 13, ,4937 0,0496-0,3944-3,31R R denotes an observation with a large standardized residual. Regression Analysis: Ln Prod versus Ln Pop; Ln Harga t-1 The regression equation is Ln Prod = - 0,12 + 0,924 Ln Pop + 0,171 Ln Harga t-1 Predictor Coef SE Coef T P Constant -0,120 1,938-0,06 0,951 Ln Pop 0,9240 0,1828 5,05 0,000 Ln Harga t-1 0, , ,04 0,005 S = 0, R-Sq = 92,3% R-Sq(adj) = 91,8% Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 95

114 2015 OUTLOOK SUSU Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 2 5,5905 2, ,54 0,000 Residual Error 29 0,4671 0,0161 Total 31 6,0576 Source DF Seq SS Ln Pop 1 5,4419 Ln Harga t-1 1 0,1485 Unusual Observations Obs Ln Pop Ln Prod Fit SE Fit Residual St Resid 25 13,0 13, ,4055 0,0310-0,3356-2,73R 26 13,1 13, ,4891 0,0335-0,3898-3,18R R denotes an observation with a large standardized residual. b. Model Proyeksi Populasi Sapi Trend Analysis for Populasi t Data Populasi t Length 32 NMissing 0 Fitted Trend Equation Yt = *t Accuracy Measures MAPE 9 MAD MSD Forecasts Period Forecast Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

115 OUTLOOK SUSU 2015 Populasi t Trend Analysis Plot for Populasi t Linear Trend Model Yt = *t Variable Actual Fits Forecasts Accuracy Measures MAPE 9 MAD MSD Index c. Model Proyeksi Harga Susu Kental Manis Trend Analysis for Harga t-1 Data Harga t-1 Length 32 NMissing 0 Fitted Trend Equation Yt = ,1*t + 6,86*t**2 Accuracy Measures MAPE 14 MAD 379 MSD Forecasts Period Forecast , , , ,1 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 97

116 2015 OUTLOOK SUSU Trend Analysis Plot for Harga t-1 Quadratic Trend Model Yt = ,1*t + 6,86*t**2 Harga t Variable Actual Fits Forecasts Accuracy Measures MAPE 14 MAD 379 MSD Index d. Model Proyeksi Ketersediaan Susu Trend Analysis for Ketersediaan Data Ketersediaan Length 23 NMissing 0 Fitted Trend Equation Yt = 1, ,0349*t + 0,00127*t**2 Accuracy Measures MAPE 8,97370 MAD 0,22021 MSD 0,07988 Forecasts Period Forecast 24 3, , , , Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

117 OUTLOOK SUSU 2015 Trend Analysis Plot for Ketersediaan Trend Analysis Plot for Ketersediaan Quadratic Trend Model Yt = 1, ,0349*t + 0,00127*t**2 Ketersediaan 3,5 3,0 2,5 Variable Actual Fits Forecasts Accuracy Measures MAPE 8,97370 MAD 0,22021 MSD 0, ,0 1, Index Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 99

118 2015 OUTLOOK SUSU 100 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

OUTLOOK Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016

OUTLOOK  Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK SUSU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU ISSN: 1907-1507 Ukuran Buku Jumlah Halaman

Lebih terperinci

ISS N OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015

ISS N OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015 OUTLOOK TEH ISSN 1907-1507 2015 OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK TEH ii Pusat

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS

ISSN OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS ISSN 1907-1507 OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK KAPAS

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN DAGING SAPI

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN DAGING SAPI OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN DAGING SAPI Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 Outlook Komoditas Daging Sapi 2015 «OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN DAGING

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK CABAI 2016 OUTLOOK CABAI

ISSN OUTLOOK CABAI 2016 OUTLOOK CABAI ISSN 1907-1507 Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian i ii ISSN : 1907-1507 Ukuran Buku : 10,12 inci x 7,17 inci (B5) Jumlah Halaman : 89 halaman Penasehat : Dr. Ir. Suwandi, M.Si. Penyunting : Dr.

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK JERUK 2016 OUTLOOK JERUK. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian

ISSN OUTLOOK JERUK 2016 OUTLOOK JERUK. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian ISSN 1907-1507 OUTLOOK JERUK 2016 OUTLOOK JERUK Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2016 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2016 OUTLOOK JERUK

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUB SEKTOR PETERNAKAN DAGING AYAM

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUB SEKTOR PETERNAKAN DAGING AYAM OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUB SEKTOR PETERNAKAN DAGING AYAM Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN DAGING AYAM ISSN : 1907-1507 Ukuran Buku

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA

ISSN OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA ISSN 1907-1507 OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK LADA ii

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI KAKAO

OUTLOOK KOMODITI KAKAO ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI KAKAO 2014 OUTLOOK KOMODITI KAKAO Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI TOMAT

OUTLOOK KOMODITI TOMAT ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI TOMAT 2014 OUTLOOK KOMODITI TOMAT Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2014

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK NENAS 2015 OUTLOOK NENAS

ISSN OUTLOOK NENAS 2015 OUTLOOK NENAS ISSN 1907-1507 OUTLOOK NENAS 2015 OUTLOOK NENAS Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK NENAS

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI KELAPA SAWIT

OUTLOOK KOMODITI KELAPA SAWIT OUTLOOK KOMODITI KELAPA SAWIT ISSN 1907-1507 2014 OUTLOOK KOMODITI KELAPA SAWIT Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK BAWANG MERAH 2015 OUTLOOK BAWANG MERAH. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian

ISSN OUTLOOK BAWANG MERAH 2015 OUTLOOK BAWANG MERAH. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian ISSN 1907-1507 OUTLOOK BAWANG MERAH 2015 OUTLOOK BAWANG MERAH Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015

Lebih terperinci

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan. Ubi Kayu

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan. Ubi Kayu Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Kayu PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN UBI KAYU ISSN : 1907 1507 Ukuran Buku

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI JAHE

OUTLOOK KOMODITI JAHE ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI JAHE 2014 OUTLOOK KOMODITI JAHE Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2014

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI PISANG

OUTLOOK KOMODITI PISANG ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI PISANG 2014 OUTLOOK KOMODITI PISANG Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lebih terperinci

PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN

PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis, antara lain

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK NENAS 2016 OUTLOOK NENAS

ISSN OUTLOOK NENAS 2016 OUTLOOK NENAS ISSN 197-157 216 Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 216 i 216 ii 216 ISSN : 197-157 Ukuran Buku : 1,12 inci x 7,17 inci (B5) Jumlah Halaman : 85 halaman Penasehat : Dr. Ir. Suwandi, MSi. Penyunting

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI TEBU

OUTLOOK KOMODITI TEBU ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI TEBU 2014 OUTLOOK KOMODITI TEBU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2014

Lebih terperinci

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan. Kacang Tanah

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan. Kacang Tanah Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Kacang Tanah PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2016 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN KACANG TANAH ISSN : 1907 1507 Ukuran

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 4 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

OUTLOOK TELUR Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016

OUTLOOK TELUR Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK TELUR Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK TELUR ISSN : 1907-1507 Ukuran Buku : 10,12 inci x 7,17 inci (B5) Jumlah Halaman : 58 halaman Penasehat : Dr. Ir. Suwandi, MSi Penyunting

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUB SEKTOR PETERNAKAN TELUR

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUB SEKTOR PETERNAKAN TELUR OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUB SEKTOR PETERNAKAN TELUR Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN TELUR ISSN : 1907-1507 Ukuran Buku : 10,12 inci

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 3 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VII Nomor 1 Tahun 2015 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 2 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI CENGKEH

OUTLOOK KOMODITI CENGKEH ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI CENGKEH 2014 OUTLOOK KOMODITI CENGKEH Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 1 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Jalar

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Jalar Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Jalar PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2016 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN UBI JALAR ISSN : 1907 1507 Ukuran Buku

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 4 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian. Selain itu sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor

Lebih terperinci

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Kayu

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Kayu Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Ubi Kayu PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2016 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN UBI KAYU ISSN : 1907 1507 Ukuran Buku

Lebih terperinci

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula.

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula. V. EKONOMI GULA 5.1. Ekonomi Gula Dunia 5.1.1. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia Peningkatan jumlah penduduk dunia berimplikasi pada peningkatan kebutuhan terhadap bahan pokok. Salah satunya kebutuhan pangan

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 2 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 3 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL, KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus

Lebih terperinci

OUTLOOK KAKAO. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian

OUTLOOK KAKAO. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian OUTLOOK ISSN 1907-1507 KAKAO 2016 OUTLOOK KAKAO Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2016 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2016 OUTLOOK KAKAO

Lebih terperinci

OUTLOOK KELAPA SAWIT Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2016

OUTLOOK KELAPA SAWIT Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK KELAPA ISSN SAWIT 1907-15072016 OUTLOOK KELAPA SAWIT Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2016 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2016

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pemenuhan protein hewani yang diwujudkan dalam program kedaulatan pangan.

I. PENDAHULUAN. pemenuhan protein hewani yang diwujudkan dalam program kedaulatan pangan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein hewani semakin meningkat sejalan dengan perubahan selera, gaya hidup dan peningkatan pendapatan. Karena, selain rasanya

Lebih terperinci

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan. Kacang Tanah

Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan. Kacang Tanah Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Kacang Tanah PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN KACANG TANAH ISSN : 1907 1507 Ukuran

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI MANGGA

OUTLOOK KOMODITI MANGGA ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI MANGGA 2014 OUTLOOK KOMODITI MANGGA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lebih terperinci

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Oleh : Feryanto W. K. Sub sektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian serta bagi perekonomian nasional pada

Lebih terperinci

PROSPEK TANAMAN PANGAN

PROSPEK TANAMAN PANGAN PROSPEK TANAMAN PANGAN Krisis Pangan Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan

Lebih terperinci

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA 83 V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA 5.1. Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur Indonesia Tebu merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tujuan penanaman tebu adalah untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang

I. PENDAHULUAN. oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta dengan ditandai oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang meningkat dan stabilitas ekonomi yang

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA Oleh : RIKA PURNAMASARI A14302053 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari peran sektor pertanian tersebut dalam perekonomian nasional sebagaimana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua Provinsi Papua terletak antara 2 25-9 Lintang Selatan dan 130-141 Bujur Timur. Provinsi Papua yang memiliki luas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka dimana lalu lintas perekonomian internasional sangat penting dalam perekonomian

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab V. GAMBARAN UMUM 5.1. Prospek Kakao Indonesia Indonesia telah mampu berkontribusi dan menempati posisi ketiga dalam perolehan devisa senilai 668 juta dolar AS dari ekspor kakao sebesar ± 480 272 ton pada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini dilihat dari kontribusi sektor

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI TEMBAKAU

OUTLOOK KOMODITI TEMBAKAU ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI TEBU 2014 OUTLOOK KOMODITI TEMBAKAU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK KOPI 2016 OUTLOOK KOPI

ISSN OUTLOOK KOPI 2016 OUTLOOK KOPI ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOPI 2016 OUTLOOK KOPI Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2016 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2016 OUTLOOK KOPI ii

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam BAB PENDAHULUAN. Latar Belakang Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 0 tahun terakhir terus menunjukkan

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK ANGGREK

ISSN OUTLOOK ANGGREK ISSN 1907-1507 OUTLOOK ANGGREK Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 OUTLOOK ANGGREK ISSN: 1907-1507 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 10,12 inci x 7,17

Lebih terperinci

Bab 4 P E T E R N A K A N

Bab 4 P E T E R N A K A N Bab 4 P E T E R N A K A N Ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Perkembangan populasi ternak utama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber daya hewan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beraneka ragam serta dapat

BAB I PENDAHULUAN. komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beraneka ragam serta dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya kelautan berperan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja dan pendapatan penduduk.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia Komoditi perkebunan Indonesia rata-rata masuk kedalam lima besar sebagai produsen dengan produksi tertinggi di dunia menurut Food and agriculture organization (FAO)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk menopang perekonomian nasional dan daerah, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi yang dialami

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas strategis di Indonesia karena kedelai merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah beras dan jagung. Komoditas ini mendapatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Dengan kondisi geografis

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Dengan kondisi geografis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Dengan kondisi geografis yang sangat mendukung, usaha peternakan di Indonesia dapat berkembang pesat. Usaha

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Dari total produksi, sekitar 67 persen kopinya diekspor sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan pangan nasional. Menurut Irwan (2005), kedelai mengandung protein. dan pakan ternak serta untuk diambil minyaknya.

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan pangan nasional. Menurut Irwan (2005), kedelai mengandung protein. dan pakan ternak serta untuk diambil minyaknya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kedelai merupakan komoditas strategis di Indonesia, karena kedelai merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah beras dan jagung. Komoditas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Teh merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri teh mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki luas daerah perairan seluas 5.800.000 km2, dimana angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah perairan tersebut wajar

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Subsektor perkebunan merupakan bagian dari sektor pertanian yang memegang peranan penting bagi perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan dari nilai devisa yang dihasilkan.

Lebih terperinci

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR KOMODITI TEH INDONESIA. selama tahun tersebut hanya ton. Hal ini dapat terlihat pada tabel 12.

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR KOMODITI TEH INDONESIA. selama tahun tersebut hanya ton. Hal ini dapat terlihat pada tabel 12. 54 V. PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR KOMODITI TEH INDONESIA 5.1 Perkembangan Produksi Teh Indonesia Perkembangan produksi teh Indonesia selama 1996-2005 cenderung tidak mengalami perubahan yang begitu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan komoditas pertanian serta sebagian besar penduduknya adalah petani. Sektor pertanian sangat tepat untuk dijadikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor yang sangat strategis dalam peningkatan. memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Ketidakmampuan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor yang sangat strategis dalam peningkatan. memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Ketidakmampuan tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat strategis dalam peningkatan perekonomian Indonesia walaupun kontribusi sangat sedikit tetapi sangat menentukan kesejahteran masyarakat

Lebih terperinci

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Hadirin sekalian yang saya hormati, Sambutan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Pada acara Kunjungan Industri di PT. Sarihusada Generasi Mahardika (SGM) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah Jakarta, 17 September 2015 Yth. Saudara Rahmat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan orientasi yaitu dari orientasi peningkatan produksi ke orientasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam sistem perekonomian terbuka, perdagangan internasional merupakan komponen penting dalam determinasi pendapatan nasional suatu negara atau daerah, di

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertanian merupakan kegiatan pengelolaan sumber daya untuk menghasilakan bahan pangan, bahan baku untuk industri, obat ataupun menghasilkan sumber energi. Secara sempit

Lebih terperinci

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG 67 VI. PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG Harga komoditas pertanian pada umumnya sangat mudah berubah karena perubahan penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu. Demikian pula yang terjadi pada

Lebih terperinci

Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras

Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras Analisis Kebijakan 1 Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras Ada dua pendapat mengenai faktor penyebab kenaikan harga beras akhirakhir ini yaitu : (1) stok beras berkurang;

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia karena pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dimana dalam pemenuhannya menjadi tanggung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dilihat dari

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dilihat dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dilihat dari ketersediaan sumberdaya yang ada di Indonesia, Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk perikanan Indonesia. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Amerika Serikat lebih besar daripada

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

BPS PROVINSI JAWA BARAT

BPS PROVINSI JAWA BARAT BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT NOVEMBER 2016 No. 04/01/32/Th.XIX, 03 Januari 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR NOVEMBER 2016 MENCAPAI USD

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Minyak nabati merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan minyak pangan dunia. Tahun 2008 minyak nabati menguasai pangsa 84.8% dari konsumsi minyak pangan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. [Januari, 2010] Jumlah Penduduk Indonesia 2009.

BAB I. PENDAHULUAN.  [Januari, 2010] Jumlah Penduduk Indonesia 2009. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian di Indonesia. Subsektor peternakan sebagai bagian dari pertanian dalam arti luas merupakan

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017

PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017 BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No. 25/05/32/Th.XIX, 02 Mei 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET 2017 MENCAPAI USD 2,49 MILYAR

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Perdagangan Internasional Menurut Oktaviani dan Novianti (2009) perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan negara lain

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM 7.1. Dampak Kenaikan Pendapatan Dampak kenaikan pendapatan dapat dilihat dengan melakukan simulasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penciptaan pengetahuan (knowledge creation) memiliki arti yang penting dan strategis bagi suatu organisasi (Soo et al. 2002a). Penciptaan pengetahuan merupakan proses

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN 203 IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Analisis terhadap faktor-faktor yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Kegiatan perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dan beraneka ragam. Hal ini tampak pada sektor pertanian yang meliputi komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,

Lebih terperinci