V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT"

Transkripsi

1 V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan Indonesia. Ini tercermin dari produksi minyak kelapa sawit Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun seperti terlihat pada Gambar 8. Pada tahun 1988 produksi minyak kelapa sawit Indonesia baru mencapai 1.71 juta ton. Meningkatnya permintaan terhadap minyak kelapa sawit Indonesia terutama dari pasar internasional berpengaruh positif terhadap produksi minyak kelapa sawit yang pada tahun 2009 mencapai juta ton atau naik lebih dari 10 kali lipat dalam tempo 20 tahun. Produktivitas produksi minyak kelapa sawit Indonesia rata-rata masih 3 ton/ha/tahun. Jika produktivitas produksi minyak kelapa sawit Indonesia ini dapat ditingkatkan maka target produksi 40 juta ton pada tahun 2020 dapat dengan mudah tercapai. Gambar 8. Perkembangan Produksi Minyak Kelapa Sawit

2 95 Perkembangan produksi minyak kelapa sawit Indonesia dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi minyak kelapa sawit dunia sebagai minyak nabati seperti terlihat pada Tabel 9. Minyak kelapa sawit pada tahun 2009 telah menjadi minyak nabati utama dengan pangsa pasar 34 persen, meninggalkan minyak kedelai yang sebelumnya selalu memiliki pangsa pasar terbesar. Perkembangan ini tentu tidak terlepas dari banyaknya manfaat yang dihasilkan oleh minyak kelapa sawit dan produk turunannya. Tabel 9. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia (Juta Ton) Minyak Nabati Jumlah % Jumlah % Jumlah % Minyak Kedelai Minyak Sawit Minyak Canola Minyak Bunga Matahari Minyak Inti Sawit Minyak Nabati Lain Total Sumber : World Growth (2011) Produksi minyak kelapa sawit yang mencapai juta ton ini dihasilkan dari 608 pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas produksi total ton TBS/jam. Pabrik pengolahan kelapa sawit ini tersebar di 22 propinsi dengan jumlah terbanyak (140 buah) ada di propinsi Riau. Produksi minyak kelapa sawit ini sebesar 7.97 juta ton (37.08 persen) dihasilkan oleh perkebunan rakyat, 2.49 juta ton (11.60 persen) dihasilkan oleh perkebunan negara dan juta ton (51.32 persen) dihasilkan oleh perkebunan swasta. Jika diasumsikan harga minyak kelapa sawit sebesar Rp per kg maka kontribusi minyak kelapa sawit terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar Rp. 215 Trilyun atau sekitar empat-lima persen dari produk domestik bruto.

3 96 Untuk pasar domestik, permintaan terhadap minyak kelapa sawit juga cenderung naik namun tidak signifikan seperti terlihat pada Gambar 9. Pada tahun 1988 permintaan minyak kelapa sawit domestik sekitar 0.86 juta ton dan terus naik mencapai 4.45 juta ton pada tahun Setelah tahun 1998 permintaan minyak kelapa sawit domestik cenderung menurun bahkan mencapai hanya 1.48 juta ton pada tahun Gambar 9. Perkembangan Permintaan Minyak Kelapa Sawit Domestik Sejak tahun 2005 permintaan minyak sawit domestik kembali naik lagi menjadi 5.78 juta ton pada tahun 2007 dan pada tahun 2009 permintaan minyak kelapa sawit domestik mampu mencapai 6.02 juta ton seiring berkembangnya industri hilir minyak kelapa sawit termasuk biodiesel dari kelapa sawit. Ini berarti sejak berkembangnya biodiesel dari kelapa sawit dan industri hilir lainnya sejak tahun 2006 permintaan minyak kelapa sawit domestik naik lebih dari tiga kali lipat. Perkembangan industri hilir yang masih lambat dan permintaan minyak kelapa sawit domestik yang tidak signifikan kenaikannya membuat sebagian besar produksi minyak kelapa sawit Indonesia di ekspor seperti terlihat pada Gambar

4 Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia pada tahun 1988 baru sekitar 0.85 juta ton. Membaiknya permintaan pasar ekspor membuat ekspor minyak kelapa sawit Indonesia pada tahun 2009 meningkat menjadi juta ton atau naik hampir 16 kali lipat dibandingkan tahun Gambar 10. Perkembangan Ekspor Minyak Kelapa Sawit Perkembangan produksi minyak kelapa sawit yang meningkat drastis ini didorong oleh tingkat harga minyak kelapa sawit domestik yang semakin baik di Indonesia seperti terlihat pada Gambar 11. Gambar 11. Perkembangan Harga Minyak Kelapa Sawit Domestik

5 98 Pada tahun 1988 harga minyak kelapa sawit domestik masih sekitar Rp. 755 per kg.pada tahun 2006 harga minyak kelapa sawit domestik naik menjadi Rp per kg dan naik lagi menjadi Rp per kg pada tahun Sejak berkembangnya biodiesel dari kelapa sawit dan industri hilir lainnya pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 harga minyak kelapa sawit domestik meningkat sebesar persen. Perkembangan harga minyak kelapa sawit domestik yang cukup baik ini sangat dipengaruhi oleh harga ekspor minyak kelapa sawit untuk pasar internasional. Harga ekspor minyak kelapa sawit juga berkembang dengan baik seperti terlihat pada Gambar 12. Pada tahun 1988 harga ekspor minyak kelapa sawit US$ 436 per ton. Pada tahun 2006, seiring mulai berkembangnya biodiesel dari kelapa sawit di Indonesia harga ekspor minyak kelapa sawit naik menjadi US$ per ton dan menjadi US$ per ton pada tahun Selama periode empat tahun pertama pengembangan biodiesel di Indonesia harga ekspor minyak kelapa sawit naik sebesar persen. Gambar 12. Perkembangan Harga Ekspor Minyak Kelapa Sawit

6 Minyak Goreng Sawit Produksi minyak goreng kelapa sawit sebagai salah satu produk turunan dari kelapa sawit juga cukup baik. Seperti terlihat pada Gambar 13, pada tahun 1988 produksi minyak goreng kelapa sawit baru mencapai 2.84 juta ton. Walaupun produksi minyak goreng kelapa sawit sempat turun menjadi 1.86 juta ton pada tahun 1993, namun untuk seterusnya produksi minyak goreng kelapa sawit terus naik menjadi 8.48 juta ton pada tahun Dalam empat tahun terakhir produksi minyak goreng kelapa sawit naik sebesar persen. Sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar, Indonesia mampu memproduksi minyak goreng kelapa sawit yang mencapai 8.48 juta ton dimana sekitar 4.30 juta ton untuk memenuhi kebutuhan domestik. Produksi minyak goreng sawit ini dihasilkan dari 94 unit pabrik minyak goreng yang tersebar di seluruh Indonesia dengan konsentrasi terbanyak (13 unit) ada di Propinsi Sumatera Utara. Gambar 13. Perkembangan Produksi Minyak Goreng Kelapa Sawit Naiknya produksi minyak goreng kelapa sawit dipengaruhi oleh permintaan domestik terhadap minyak goreng kelapa sawit yang tercatat juga

7 100 cukup baik seperti terlihat pada Gambar 14. Pada tahun 1988 permintaan domestik minyak goreng kelapa sawit mencapai 1.14 juta ton ton. Pada tahun 2009 permintaan domestik minyak goreng kelapa sawit naik menjadi 4.34 juta ton. Selisih antara produksi minyak goreng kelapa sawit dengan permintaan domestik, sebagian besar diekspor. Gambar 14. Perkembangan Permintaan Domestik Minyak Goreng Kelapa Sawit Meningkatnya produksi minyak goreng kelapa sawit dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak goreng kelapa sawit yang juga cukup baik seperti terlihat pada Gambar 15. Gambar 15. Perkembangan Harga Minyak Goreng Kelapa Sawit

8 101 Pada tahun 1988 harga minyak goreng kelapa sawit berkisar Rp. 864 per kg. Pada tahun 2009 harga minyak goreng kelapa sawit naik menjadi Rp per kg. Kenaikan harga minyak goreng kelapa sawit ini dipengaruhi oleh kenaikan harga domestik minyak kelapa sawit. Gambar 16. Perkembangan Harga Minyak Goreng Kelapa Perkembangan produksi dan harga minyak goreng kelapa sawit yang baik ini dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak goreng kelapa yang merupakan produk substitusi seperti terlihat pada Gambar 16. Pada tahun 1988 harga minyak goreng kelapa berkisar di Rp. 987 per kg. Pada tahun 2009 harga minyak goreng kelapa naik menjadi Rp per kg. Harga minyak goreng kelapa ini masih jauh lebih tinggi dari harga minyak goreng kelapa sawit sehingga konsumen lebih memilih menggunakan minyak goreng kelapa sawit dibandingkan dengan minyak goreng kelapa Perkebunan Kelapa Sawit Perkembangan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan luas areal kebun kelapa sawit yang naik signifikan seperti

9 102 terlihat pada Gambar 17. Luas areal kebun kelapa sawit di Indonesia pada tahun 1988 baru sekitar ha. Pada tahun 2009 luas areal kebun kelapa sawit di Indonesia meningkat menjadi ha seiring dengan perkembangan komoditas kelapa sawit yang semakin baik. Gambar 17. Perkembangan Luas Areal Kebun Kelapa Sawit Sumber : Kementerian Pertanian (2010) Komposisi kepemilikan perkebunan kelapa sawit yang hektar terdiri dari perkebunan rakyat 3.20 juta hektar atau 43.7 persen, perkebunan negara 617 ribu hektar atau 8.4 persen dan perkebunan swasta 3.5 juta hektar atau 47.8 persen (Kementerian Pertanian, 2010). Gambar 18. Perkembangan Produksi TBS Kelapa Sawit Sumber : Kementerian Pertanian (2010)

10 103 Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit yang naik signifikan ikut mempengaruhi produksi tandan buah segar kelapa sawit di Indonesia seperti terlihat pada Gambar 18. Pada tahun 1988 produksi tandan buah segar kelapa sawit masih 8.15 juta ton. Pada tahun 2009 produksi tandan buah segar kelapa sawit ini naik menjadi juta ton. Perkembangan produksi tandan buah segar kelapa sawit ini dipengaruhi oleh perkembangan harga tandan buah segar kelapa sawit yang cukup baik seperti terlihat pada Gambar 19. Harga tandan buah segar kelapa sawit pada tahun 1988 sekitar Rp. 377 per kg. Pada tahun 1998 waktu krisis ekonomi, harga tandan buah segar kelapa sawit sempat naik tinggi menjadi Rp per kg namun kembali turun pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2009 harga tandan buah segar kelapa sawit sekitar Rp per kg. Gambar 19. Perkembangan Harga TBS Kelapa Sawit Sumber : Kementerian Pertanian (2010)

11 Bahan Bakar Biodiesel Olein dan Stearin Bahan Baku Biodiesel Olein dan stearin merupakan bahan baku untuk menghasilkan biodiesel dari kelapa sawit. Produksi olein pada tahun 1988 masih sekitar 375 ribu ton dan terus naik menjadi 2.59 juta ton pada tahun Gambar 20. Perkembangan Produksi Olein Seiring berkembangnya biodiesel dari kelapa sawit, produksi olein meningkat drastis menjadi 3800 ribu ton pada tahun 2006 dan naik lagi menjadi 3880 ribu ton pada tahun 2009 seperti terlihat pada Gambar 20. Selama empat tahun pertama sejak biodiesel dari kelapa sawit dikembangkan, terjadi kenaikan produksi olein sebesar persen. Produksi stearin juga memiliki karakter yang mirip dengan olein. Produksi stearin pada tahun 1988 masih sekitar 83 ribu ton dan terus naik menjadi 573 ribu ton pada tahun Berkembangnya biodiesel mendorong produksi stearin meningkat menjadi 838 ribu ton pada tahun 2006 dan menjadi 856 ribu ton pada tahun 2009 seperti terlihat pada Gambar 21. Selama empat tahun pertama sejak

12 105 biodiesel dari kelapa sawit dikembangkan, terjadi kenaikan produksi stearin sebesar persen. Gambar 21. Perkembangan Produksi Stearin Bahan Bakar Biodiesel Bahan bakar biodiesel mulai berkembang dan dikembangkan secara komersial di Indonesia sejak tahun Kapasitas produksi biodiesel pada tahun 2006 masih sekitar ton seperti terlihat pada Gambar 22. Perkembangan Produksi Biodiesel di Indonesia Ton Gambar 22. Perkembangan Kapasitas Produksi Biodiesel di Indonesia Sumber : Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (2010) Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap biodiesel dari kelapa sawit maka kapasitas produksinya setiap tahun terus meningkat dari ribu ton pada tahun 2007, menjadi 1.58 juta ton pada tahun 2008 dan meningkat lagi menjadi

13 juta ton pada tahun Secara fasilitas produksi, biodiesel dari kelapa sawit sudah sangat siap untuk dikembangkan dan berkembang di Indonesia. Mengingat harga biodiesel dalam negeri tidak menguntungkan dan adanya perbedaan perlakuan subsidi sehingga produksi biodiesel Indonesia sebagian besar untuk saat ini masih ditujukan untuk pasar ekspor. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan pada tahun 2010 jumlah ekspor biodiesel Indonesia tercatat ribu ton dengan nilai US$493 juta. Secara volume sejak tahun 2006 terjadi kenaikan ekspor biodiesel sebesar persen, sementara secara nilai kenaikannya sebesar persen. Meskipun biodiesel dari kelapa sawit saat ini tidak sampai 5 persen dari produksi biodiesel dunia, permintaan biodiesel dari kelapa sawit pada masa depan cenderung meningkat mengingat semakin banyak negara yang sudah mengadopsi kebijakan yang mendorong penggunaan bahan bakar hayati dan biodiesel sebagaimana terlihat pada Tabel 10. Diperkirakan ekspor biodiesel dari kelapa sawit Indonesia akan terus mengalami peningkatan yang signifikan pada tahuntahun mendatang. Tabel 10. Target Produksi Bahan Bakar Hayati dan Biodiesel Sejumlah Negara Negara Target Status Brasil 2% pada 2008, 5% sebelum 2013 Sudah dilaksanakan Kanada 2% sebelum 2010 Menunjukkan niat China 15% bahan bakar hayati sebelum 2020 Tidak ada kebijakan nyata Uni Eropa 5.75% sebelum 2010, 10% sebelum 2020 Sudah dilaksanakan India Menyiapkan undang-undang Indonesia 2-5% sebelum 2010 Sudah diusulkan Jepang 5% pada 2009 Menyiapkan undang-undang Korea 5% Sudah dilaksanakan Malaysia 5% Sudah dilaksanakan Thailand 10% sebelum 2012 Sudah dilaksanakan Amerika Serikat 28.4 milyar liter bahan bakar hayati sebelum 2012 Sudah dilaksanakan Sumber : World Growth (2011)

14 Bahan Bakar Diesel Produksi minyak diesel dari kilang-kilang pengolahan minyak mentah Indonesia berkembang cukup baik seperti terlihat pada Gambar 23. Pada tahun 1988 produksi minyak diesel Indonesia sekitar 7.12 juta kiloliter. Gambar 23. Perkembangan Produksi Minyak Diesel Sumber : Pertamina (2010) Walaupun produksi minyak diesel pada tahun 1992 sempat turun menjadi 6.49 juta kiloliter namun produksi minyak diesel Indonesia terus naik dan mencapai puncaknya pada tahun 2004 dengan produksi mencapai juta kiloliter. Pada tahun 2009 produksi minyak diesel kembali meningkat menjadi juta kiloliter. Selama empat tahun terakhir produksi minyak diesel meningkat sebesar persen. Naiknya jumlah kendaraan bermotor dan peralatan serta mesin-mesin yang menggunakan minyak diesel membuat konsumsi minyak diesel naik signifikan di Indonesia seperti terlihat pada Gambar 24. Pada tahun 1988 konsumsi minyak diesel Indonesia baru sekitar juta kiloliter. Pada tahun 2009 konsumsinya meningkat menjadi juta kiloliter seiring bertambahnya pengguna minyak diesel. Selama empat tahun terakhir konsumsi minyak diesel meningkat sebesar persen.

15 108 Gambar 24. Perkembangan Konsumsi Minyak Diesel Sumber : Pertamina (2010) Meningkatnya konsumsi minyak diesel di Indonesia yang jauh melebihi produksi yang dihasilkan dari kilang-kilang dalam negeri membuat impor minyak diesel terus meningkat seperti terlihat pada Gambar 25. Perkembangan impor minyak diesel tergantung pada selisih produksi dan permintaan. Pada tahun 1988 impor minyak diesel masih sekitar 3.88 juta kiloliter. Impor minyak diesel mencapai puncaknya pada tahun 2005 dengan jumlah impor sebanyak juta kiloliter. Pada tahun 2009 impor minyak diesel turun menjadi 9.26 juta kiloliter. Selama empat tahun terakhir impor minyak diesel berkurang sebesar persen. Gambar 25. Perkembangan Impor Minyak Diesel Sumber : Pertamina (2010)

16 109 Harga minyak diesel pada tahun 1988 sekitar Rp. 200 per liter seperti terlihat pada Gambar 36. Seiring harga minyak mentah yang terus naik, harga minyak diesel juga terus naik dan mencapai puncaknya pada tahun 2007 dengan harga Rp per liter. Pada tahun 2009 harga minyak diesel kembali turun menjadi Rp per liter. Selama empat tahun terakhir harga minyak diesel rata naik sebesar persen. Gambar 26. Perkembangan Harga Minyak Diesel Sumber : Pertamina (2010) 5.3 Kontribusi Kelapa Sawit Terhadap Perekonomian Sebaran Produksi Kelapa Sawit di Indonesia Perkebunan kelapa sawit sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia sebagaimana terlihat pada Gambar 27. Dari total luas perkebunan kelapa sawit yang 7.32 juta hektar, sebagian besar berada di Sumatera dimana sebanyak 1.54 juta hektar berada di Propinsi Riau atau sekitar persen dari luas perkebunan kelapa sawit nasional dengan produksi minyak kelapa sawit mencapai 4.68 juta ton. Wilayah Kalimantan juga sedang berkembang pesat perkebunan kelapa sawitnya dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan Tengah dengan luas

17 110 perkebunan kelapa sawit sebesar ribu hektar dan produksi minyak kelapa sawit sebanyak 1.38 juta ton. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan, wilayah Kalimantan akan mampu mengambil alih pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. NAD Luas: Ha CPO : Ton Sumatera Utara Luas: Ha CPO : Ton Sumatera Barat Luas: Ha CPO : Ton Riau Luas: Ha CPO : Ton Kalimantan Barat Luas: Ha CPO : Ton Kalimantan Tengah Luas: Ha CPO : Kalimantan Timur Luas: Ha CPO : Ton Sulawesi Tengah Luas: Ha CPO : T Papua Luas: Ha CPO : Ton Jambi Luas: Ha CPO : Ton Bengkulu Luas: Ha CPO : Ton Sumatera Selatan Luas: Ha CPO : Ton Bangka- Belitung Luas: Ha CPO : Ton Lampung Luas: Ha CPO : Ton Banten Luas: Ha CPO : Ton Kalimantan Selatan Luas: Ha CPO : Ton Jawa Barat Luas: Ha CPO : Ton Sulawesi Selatan Luas: Ha CPO : Ton Sulawesi Barat Luas: Ha CPO : Ton Papua Barat Luas: Ha CPO : Ton Gambar 27. Sebaran Produksi Kelapa Sawit Indonesia Sumber : Kementerian Pertanian, Kontribusi Kelapa Sawit Terhadap Lapangan Kerja Kelapa Sawit mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja. Dengan total luas perkebunan kelapa sawit 7.3 juta hektar, jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor hulu mencapai 1.95 juta orang di perkebunan negara dan swasta serta 1.7 juta petani di perkebunan rakyat. Pabrik kelapa sawit yang berjumlah 470 unit mampu menyerap tenaga kerja

18 111 sebanyak orang sehingga perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit secara keseluruhan mampu menciptakan lapangan kerja sebanyak 3.72 juta orang (TAMSI-DMSI, 2010). Pada sektor industri menengah dan hilir, jumlah pekerja yang terserap mencapai orang. Ini menunjukkan bahwa dari hulu sampai hilir industri minyak kelapa sawit mampu menciptakan lapangan kerja bagi 3.75 juta orang (TAMSI-DMSI, 2010). Karena penanaman dan panen kelapa sawit bersifat padat karya sehingga industri ini berperan cukup besar dalam penyediaan lapangan kerja di banyak wilayah. TAMSI-DMSI (2010) bahkan memperkirakan industri kelapa sawit di Indonesia mungkin dapat menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 6 juta jiwa dan mengentaskan mereka dari kemiskinan Kontribusi Kelapa Sawit Terhadap Pengurangan Kemiskinan Kontribusi industri kelapa sawit terhadap pengurangan kemiskinan dapat dilihat pada Tabel 11 yang membandingkan antara lima propinsi penghasil minyak kelapa sawit terbesar dengan lima propinsi penghasil minyak kelapa sawit terkecil. Propinsi Riau selaku penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia memiliki PDRB per kapita sebesar Rp juta per tahun. Ini berarti setiap penduduk Propinsi Riau rata-rata memiliki pendapatan sebesar Rp juta per tahun atau Rp. 3.9 juta per bulan. Propinsi Sulawesi Tenggara sebagai propinsi penghasil minyak kelapa sawit terkecil memiliki PDRB per kapita sebesar Rp juta per tahun. Ini berarti setiap penduduk Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki pendapatan ratarata sebesar Rp juta per tahun atau Rp per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Propinsi Riau sebagai penghasil minyak kelapa

19 112 sawit terbesar jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan penduduk propinsi Sulawesi Tenggara yang hanya menghasilkan sedikit minyak kelapa sawit. Tabel 11. Produksi Minyak Kelapa Sawit dan Kemiskinan di Indonesia Per Propinsi Tahun 2007 Propinsi PDB Regional (Trilyun Rp.) Populasi (juta) % Miskin Produksi Minyak Kelapa Sawit (Ribu Ton) Petani Swasta Pemerintah Total Kecil Riau Sumatera Utara Sumatera Selatan Jambi Sumatera Barat Papua Barat Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Lampung Bengkulu Indonesia Sumber : Badan Pusat Statistik (2010) Kontribusi terhadap pengurangan kemiskinan ini ditegaskan lagi dalam persentase jumlah penduduk miskin. Untuk lima propinsi penghasil minyak kelapa sawit terbesar persentase jumlah penduduk miskinnya di bawah persentase penduduk miskin nasional kecuali Sumatera Selatan. Untuk lima propinsi penghasil minyak kelapa sawit terkecil persentase jumlah penduduk miskin jauh di atas persentase penduduk miskin nasional. Ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit mampu meningkatkan pendapatan penduduk dan menurunkan jumlah penduduk miskin dimana industri itu berada.

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari peran sektor pertanian tersebut dalam perekonomian nasional sebagaimana

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT, BAHAN BAKAR DIESEL DAN PRODUK TURUNAN KELAPA SAWIT

GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT, BAHAN BAKAR DIESEL DAN PRODUK TURUNAN KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT, BAHAN BAKAR DIESEL DAN PRODUK TURUNAN KELAPA SAWIT 5.1. Perkebunan Kelapa Sawit Luas Area Kelapa Sawit di Indonesia senantiasa meningkat dari waktu ke waktu. Perk

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT

5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT 27 5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit yang menjadi salah satu tanaman unggulan

Lebih terperinci

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG 67 VI. PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG Harga komoditas pertanian pada umumnya sangat mudah berubah karena perubahan penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu. Demikian pula yang terjadi pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat. Konsumsi minyak nabati dunia antara

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat. Konsumsi minyak nabati dunia antara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selama lebih dari 3 dasawarsa dalam pasar minyak nabati dunia, terjadi pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat. Konsumsi minyak nabati dunia antara tahun 1980 sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang berasal dari buah kelapa sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan. Minyak

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia Komoditi perkebunan Indonesia rata-rata masuk kedalam lima besar sebagai produsen dengan produksi tertinggi di dunia menurut Food and agriculture organization (FAO)

Lebih terperinci

PELUANG DAN PROSPEK BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA

PELUANG DAN PROSPEK BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA PELUANG DAN PROSPEK BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA MUFID NURDIANSYAH (10.12.5170) LINGKUNGAN BISNIS ABSTRACT Prospek bisnis perkebunan kelapa sawit sangat terbuka lebar. Sebab, kelapa sawit adalah komoditas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

oleh nilai tukar rupiah terhadap US dollar dan besarnya inflansi.

oleh nilai tukar rupiah terhadap US dollar dan besarnya inflansi. HMGRIN Harga Margarin (rupiah/kg) 12393.5 13346.3 7.688 VII. KESIMPULAN, IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan Dari hasil pendugaan model pengembangan biodiesel terhadap produk turunan kelapa sawit

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik

Lebih terperinci

Lampiran 1. Lanjutan. Keterangan : *) sementara **) sangat sementara. Sumber : Ditjenbun dan PPKS, 2006

Lampiran 1. Lanjutan. Keterangan : *) sementara **) sangat sementara. Sumber : Ditjenbun dan PPKS, 2006 Lampiran. Lanjutan LUAS AREA (HA) PRODUKSI CPO (TON) PRODUKSI PKO (TON) TAHUN PR PBN PBS JUMLAH PR PBN PBS JUMLAH PR PBN PBS 990 29,338 372,246 463,093,26,677 376,950,247,56 788,506 2,42,62 75,390 249,43

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia

Gambar 1.1. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit telah menjadi komoditas andalan sebagai sumber devisa negara non migas, penciptaan lapangan kerja dan pelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang didukung oleh sektor pertanian. Salah satu sektor pertanian tersebut adalah perkebunan. Perkebunan memiliki peranan yang besar

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011 BADAN PUSAT STATISTIK No.21/04/Th.XIV, 1 April PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR FEBRUARI MENCAPAI US$14,40 MILIAR Nilai ekspor Indonesia mencapai US$14,40

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memperhatikan kelestarian sumber daya alam (Mubyarto, 1994).

BAB I PENDAHULUAN. memperhatikan kelestarian sumber daya alam (Mubyarto, 1994). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum sektor pertanian dapat memperluas kesempatan kerja, pemerataan kesempatan berusaha, mendukung pembangunan daerah dan tetap memperhatikan kelestarian

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Minyak nabati merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan minyak pangan dunia. Tahun 2008 minyak nabati menguasai pangsa 84.8% dari konsumsi minyak pangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian dan perkebunan merupakan sektor utama yang membentuk

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian dan perkebunan merupakan sektor utama yang membentuk 114 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertanian dan perkebunan merupakan sektor utama yang membentuk perekonomian bagi masyarakat Indonesia. Salah satu sektor agroindustri yang cendrung berkembang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN UMUM MINYAK NABATI DUNIA DAN MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA

II. TINJAUAN UMUM MINYAK NABATI DUNIA DAN MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA II. TINJAUAN UMUM MINYAK NABATI DUNIA DAN MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA 2.1. Tinjauan Umum Minyak Nabati Dunia Minyak nabati (vegetable oils) dan minyak hewani (oil and fats) merupakan bagian dari minyak

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA KELOMPOK I KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA TOPIK : PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI AGRO DAN KIMIA MELALUI PENDEKATAN KLASTER KELOMPOK INDUSTRI HASIL HUTAN DAN PERKEBUNAN, KIMIA HULU DAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berbagai teori pembangunan ekonomi, mulai dari teori ekonomi klasik (Adam Smith, Robert Malthus dan David Ricardo) sampai dengan teori ekonomi modern (W.W. Rostow dan

Lebih terperinci

Tinjauan Pasar Minyak Goreng

Tinjauan Pasar Minyak Goreng (Rp/kg) (US$/ton) Edisi : 01/MGR/01/2011 Tinjauan Pasar Minyak Goreng Informasi Utama : Tingkat harga minyak goreng curah dalam negeri pada bulan Januari 2011 mengalami peningkatan sebesar 1.3% dibandingkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 48/05/Th. XVIII, 15 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR APRIL MENCAPAI US$13,08 MILIAR Nilai ekspor Indonesia April mencapai US$13,08

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Tahun BAB I PENDAHULUAN Penelitian menjelaskan bagaimana sistem informasi manajemen rantai pasok minyak sawit mentah berbasis GIS dirancang. Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang penelitian, perumusan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional. Selain sebagai sumber utama minyak nabati, kelapa sawit

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang Masalah

1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Crude palm oil (CPO) merupakan produk olahan dari kelapa sawit dengan cara perebusan dan pemerasan daging buah dari kelapa sawit. Minyak kelapa sawit (CPO)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam realita ekonomi dan sosial masyarakat di banyak wilayah di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. dalam realita ekonomi dan sosial masyarakat di banyak wilayah di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak masa kolonial sampai sekarang Indonesia tidak dapat lepas dari sektor perkebunan. Bahkan sektor ini memiliki arti penting dan menentukan dalam realita ekonomi

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM INDUSTRI KELAPA SAWIT INDONESIA

V. GAMBARAN UMUM INDUSTRI KELAPA SAWIT INDONESIA 55 V. GAMBARAN UMUM INDUSTRI KELAPA SAWIT INDONESIA 5.1 Pemanfaatan Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang multi guna, karena seluruh bagian tanaman tersebut dapat dimanfaatkan dalam

Lebih terperinci

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting di Indonesia yang berperan sebagai sumber utama pangan dan pertumbuhan ekonomi.

Lebih terperinci

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model Boks 1 Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model I. Latar Belakang Perkembangan ekonomi Riau selama beberapa kurun waktu terakhir telah mengalami transformasi.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai penghasil produk-produk hulu pertanian yang mencakup sektor perkebunan, hortikultura dan perikanan. Potensi alam di Indonesia memungkinkan pengembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat diunggulkan, baik di pasar dalam negeri maupun di pasar ekspor. Kelapa

BAB I PENDAHULUAN. sangat diunggulkan, baik di pasar dalam negeri maupun di pasar ekspor. Kelapa BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sektor yang cukup berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sejak krisis ekonomi dan moneter melanda semua sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam menyumbangkan pendapatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. salah satu bagian penting dalam pembangunan pertanian serta merupakan bagian

I. PENDAHULUAN. salah satu bagian penting dalam pembangunan pertanian serta merupakan bagian I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sub sektor perkebunan khususnya kelapa sawit merupakan salah satu bagian penting dalam pembangunan pertanian serta merupakan bagian integral pembangunan nasional.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai. meningkatkan perekonomian adalah kelapa sawit. Gambar 1.

BAB I PENDAHULUAN. pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai. meningkatkan perekonomian adalah kelapa sawit. Gambar 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai wilayah dan kondisi tanahnya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional, salah satu alat dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional, salah satu alat dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional, salah satu alat dan sumber pembiayaan yang sangat penting adalah devisa. Devisa diperlukan untuk membiayai impor dan membayar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas penting di Malaysia

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas penting di Malaysia 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas penting di Malaysia sehingga industri kelapa sawit diusahakan secara besar-besaran. Pesatnya perkembangan industri kelapa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang patut. diperhitungkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang patut. diperhitungkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang patut diperhitungkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Negara Indonesia yang merupakan negara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka, di mana lalu

Lebih terperinci

PROSPEK TANAMAN PANGAN

PROSPEK TANAMAN PANGAN PROSPEK TANAMAN PANGAN Krisis Pangan Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas.

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. Komoditas yang ditanami diantaranya kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, dan komoditas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang penting di

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang penting di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang penting di Indonesia, baik dilihat dari devisa yang dihasilkan maupun bagi pemenuhan kebutuhan akan minyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sawit nasional karena kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN. sawit nasional karena kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang saat ini sedang marak dikembangkan di Indonesia. Pemerintah terus mendorong pertumbuhan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Profil Kelapa Sawit Kelapa sawit memainkan peranan penting bagi pembangunan sub sektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit memberikan manfaat dalam peningkatan pendapatan petani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis sektor pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa

I. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa berpotensi besar dalam menghasilkan produk pertanian dan jasa yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab ini terdiri dari latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah penelitian, dan sistematika penulisan laporan dari penelitian yang dilakukan. 1. 1

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya pembangunan ekonomi jangka panjang yang terencana dan dilaksanakan secara bertahap. Pembangunan adalah suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. strategis dalam perekonomian Indonesia. Bahkan komoditi teh juga menjadi

BAB I PENDAHULUAN. strategis dalam perekonomian Indonesia. Bahkan komoditi teh juga menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teh merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Bahkan komoditi teh juga menjadi sektor usaha unggulan yang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Produksi CPO di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Produksi CPO di Indonesia II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Produksi CPO di Indonesia Menurut Martha Prasetyani dan Ermina Miranti, sejak dikembangkannya tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 60-an, luas areal perkebunan

Lebih terperinci

KETERANGAN TW I

KETERANGAN TW I 1 2 2 KETERANGAN 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 - TW I Distribusi/Share Terhadap PDB (%) 3.69 3.46 3.55 3.48 3.25 3.41 4.03 Distribusi/Share Terhadap Kategori Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur 57 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta Provinsi DKI Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 7 meter diatas permukaan laut dan terletak antara

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL Gamal Nasir Direktorat Jenderal Perkebunan PENDAHULUAN Kelapa memiliki peran strategis bagi penduduk Indonesia, karena selain

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics

IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Perkembangan Harga Minyak Bumi Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi dunia. Oleh karenanya harga minyak bumi merupakan salah satu faktor penentu kinerja ekonomi global.

Lebih terperinci

PELUANG INVESTASI BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA. Makalah. Disusun Oleh : Imam Anggara

PELUANG INVESTASI BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA. Makalah. Disusun Oleh : Imam Anggara PELUANG INVESTASI BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA Makalah Disusun Oleh : Imam Anggara 11.12.5617 11.S1SI.04 STMIK AMIKOM Yogyakarta 2012-03-16 KATA PENGANTAR Makalah ini mengangkat judul tentang Peluang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam BAB PENDAHULUAN. Latar Belakang Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 0 tahun terakhir terus menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia adalah komoditas kopi. Disamping memiliki peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS SUMBER PERTUMBUHAN MINYAK SAWIT YANG BERKELANJUTAN

PRODUKTIVITAS SUMBER PERTUMBUHAN MINYAK SAWIT YANG BERKELANJUTAN PRODUKTIVITAS SUMBER PERTUMBUHAN MINYAK SAWIT YANG BERKELANJUTAN Oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih, MEc Komisaris Utama PT. Pupuk Indonesia Holding Ketua Dewan Pembina Palm Oil Agribusiness Strategic Policy

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

BAB I PENDAHULUAN. interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkebunan dan industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor usaha yang mendapat pengaruh besar dari gejolak ekonomi global, mengingat sebagian besar (sekitar

Lebih terperinci

JAMBI AGRO INDUSTRIAL PARK

JAMBI AGRO INDUSTRIAL PARK Sumber: Studi Kelayakan (FS) Kawasan Agro Industri Jambi (JAIP) JAMBI AGRO INDUSTRIAL PARK (JAIP) telah menjadi komitmen Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten terkait pengembangan Kawasan

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas strategis di Indonesia karena kedelai merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah beras dan jagung. Komoditas ini mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Bio Oil Dengan Bahan Baku Tandan Kosong Kelapa Sawit Melalui Proses Pirolisis Cepat

BAB I PENDAHULUAN. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Bio Oil Dengan Bahan Baku Tandan Kosong Kelapa Sawit Melalui Proses Pirolisis Cepat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Selama ini Indonesia menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) sebagai sumber daya energi primer secara dominan dalam perekonomian nasional.pada saat ini bahan bakar minyak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mencapai US$ per ton dan mendekati US$ per ton pada tahun 2010.

I. PENDAHULUAN. mencapai US$ per ton dan mendekati US$ per ton pada tahun 2010. 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebelum dan sesudah krisis ekonomi tahun 1998, harga minyak sawit (Crude Palm Oil=CPO) dunia rata-rata berkisar US$ 341 hingga US$ 358 per ton. Namun sejak tahun 2007

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki rencana pengembangan. bisnis perusahaan untuk jangka waktu yang akan datang.

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki rencana pengembangan. bisnis perusahaan untuk jangka waktu yang akan datang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Business Assignment Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki rencana pengembangan bisnis perusahaan untuk jangka waktu yang akan datang. Pengembangan bisnis ini diharapkan dapat memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi yang bergulir dengan cepat dan didukung oleh kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi yang bergulir dengan cepat dan didukung oleh kemajuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses globalisasi yang bergulir dengan cepat dan didukung oleh kemajuan teknologi tertentu di bidang komunikasi dan informasi telah mengakibatkan menyatunya pasar

Lebih terperinci

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

VII. KESIMPULAN DAN SARAN VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan 1. Pengaruh harga dunia minyak bumi dan minyak nabati pesaing terhadap satu jenis minyak nabati ditransmisikan melalui konsumsi (ket: efek subsitusi) yang selanjutnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis.

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian masih menjadi salah satu primadona Indonesia untuk jenis ekspor non-migas. Indonesia tidak bisa menggantungkan ekspornya kepada sektor migas saja sebab

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian dari waktu ke waktu semakin meningkat. Lada merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris, memiliki kekayaan alam yang sangat beragam, baik kekayaan hayati maupun non hayati, yang apabila dikelola dengan tepat, kekayaan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam perekonomian suatu negara. Terjalinnya hubungan antara negara satu

BAB I PENDAHULUAN. dalam perekonomian suatu negara. Terjalinnya hubungan antara negara satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional merupakan sektor yang besar pengaruhnya dalam perekonomian suatu negara. Terjalinnya hubungan antara negara satu dengan negara yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3 4.1 Perkembangan Harga Minyak Dunia Pada awal tahun 1998 dan pertengahan tahun 1999 produksi OPEC turun sekitar tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Teh merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri teh mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak dikembangkannya tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 60-an,

BAB I PENDAHULUAN. Sejak dikembangkannya tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 60-an, 60 BAB I PENDAHULUAN 3.1. Latar Belakang Sejak dikembangkannya tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 60-an, luas areal perkebunan kelapa sawit mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bila pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah energi yang dimiliki Indonesia pada umumnya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan energi di sektor industri (47,9%), transportasi (40,6%), dan rumah tangga (11,4%)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit Indonesia CPO Turunan CPO Jumlah. Miliar)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit Indonesia CPO Turunan CPO Jumlah. Miliar) 1 I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Komoditas kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan sangat penting dalam penerimaan devisa negara, pengembangan perekonomian

Lebih terperinci

VIII. SIMPULAN DAN SARAN

VIII. SIMPULAN DAN SARAN VIII. SIMPULAN DAN SARAN 8.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran

Lebih terperinci

Analisis kebijakan industri minyak sawit Indonesia: Orientasi ekspor dan domestik Edid Erdiman

Analisis kebijakan industri minyak sawit Indonesia: Orientasi ekspor dan domestik Edid Erdiman Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI - Tesis (Membership) Analisis kebijakan industri minyak sawit Indonesia: Orientasi ekspor dan domestik Edid Erdiman Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/themes/green/detail.jsp?id=73776&lokasi=lokal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan dapat berkontribusi terhadap pembangunan dan ekonomi nasional. Penduduk di Indonesia

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang. Gambar 1 Produksi dan ekspor CPO tahun 2011 (Malaysian Palm Oil Board (MPOB))

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang. Gambar 1 Produksi dan ekspor CPO tahun 2011 (Malaysian Palm Oil Board (MPOB)) 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Isu perubahan iklim secara global (global climate change) telah mengakibatkan tumbuhnya kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tandan buah segar (TBS) sampai dihasilkan crude palm oil (CPO). dari beberapa family Arecacea (dahulu disebut Palmae).

BAB I PENDAHULUAN. tandan buah segar (TBS) sampai dihasilkan crude palm oil (CPO). dari beberapa family Arecacea (dahulu disebut Palmae). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang pada saat ini telah menjadi komoditas pertanian unggulan di negara Indonesia. Tanaman kelapa sawit dewasa ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka dimana lalu lintas perekonomian internasional sangat penting dalam perekonomian

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 DAMPAK KEBIJAKAN PAJAK PERTANIAN TERHADAP PRODUKSI, PERDAGANGAN, DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 DAMPAK KEBIJAKAN PAJAK PERTANIAN TERHADAP PRODUKSI, PERDAGANGAN, DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 DAMPAK KEBIJAKAN PAJAK PERTANIAN TERHADAP PRODUKSI, PERDAGANGAN, DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI Oleh : Sri Nuryanti Delima H. Azahari Erna M. Lokollo Andi Faisal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun luar negeri. Sebagian besar produksi kopi di Indonesia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. maupun luar negeri. Sebagian besar produksi kopi di Indonesia merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan di Indonesia karena memiliki peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagian

Lebih terperinci

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI Indikator yang lazim digunakan untuk mendapatkan gambaran kondisi pemakaian energi suatu negara adalah intensitas energi terhadap penduduk (intensitas energi per kapita)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian merupakan sektor yang penting dalam pembangunan Indonesia, yaitu sebagai dasar pembangunan sektor lainnya. Sejalan dengan itu, sektor pertanian

Lebih terperinci

Oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih, MEc

Oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih, MEc Oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih, MEc Komisaris Utama PT. Pupuk Indonesia Holding Ketua Dewan Pembina Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute-PASPI P e n d a h u l u a n Sejak 1980 CPO mengalami

Lebih terperinci

Visi, Misi Dan Strategi KALTIM BANGKIT

Visi, Misi Dan Strategi KALTIM BANGKIT Awang Faroek Ishak Calon Gubernur 2008-2013 1 PETA KABUPATEN/KOTA KALIMANTAN TIMUR Awang Faroek Ishak Calon Gubernur 2008-2013 2 BAB 1. PENDAHULUAN Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan propinsi terluas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Bagi perekonomian Indonesia, sektor pertanian merupakan sektor yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Bagi perekonomian Indonesia, sektor pertanian merupakan sektor yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi perekonomian Indonesia, sektor pertanian merupakan sektor yang penting karena secara tradisional Indonesia merupakan negara agraris yang bergantung pada sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE

BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE 4.1. Kerjasama Ekonomi ASEAN Plus Three Kerjasama ASEAN dengan negara-negara besar di Asia Timur atau lebih dikenal dengan istilah Plus Three

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

Metodologi Pemeringkatan Perusahaan Kelapa Sawit

Metodologi Pemeringkatan Perusahaan Kelapa Sawit Fitur Pemeringkatan ICRA Indonesia April 2015 Metodologi Pemeringkatan Perusahaan Kelapa Sawit Pendahuluan Sektor perkebunan terutama kelapa sawit memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Minyak goreng sawit adalah salah satu jenis minyak makan yang berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. Minyak goreng sawit adalah salah satu jenis minyak makan yang berasal dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak goreng sawit adalah salah satu jenis minyak makan yang berasal dari minyak sawit (Crude Palm Oil) yang dihasilkan dari tanaman kelapa sawit. Salah satu produk

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Disamping itu ada pula para ahli yang berpendapat bahwa kelapa sawit terbentuk pada saat

BAB 1 PENDAHULUAN. Disamping itu ada pula para ahli yang berpendapat bahwa kelapa sawit terbentuk pada saat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit (elaeis guineensis) menurut para ahli secara umum berasal dari Afrika. Disamping itu ada pula para ahli yang berpendapat bahwa kelapa sawit terbentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan perusahaan besar adalah kelapa sawit. Industri kelapa sawit telah tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan perusahaan besar adalah kelapa sawit. Industri kelapa sawit telah tumbuh BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persaingan antar perusahaan semakin ketat dalam suatu industri termasuk pada agroindustri. Salah satu produk komoditi yang saat ini sangat digemari oleh perusahaan

Lebih terperinci