VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM"

Transkripsi

1 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM 7.1. Dampak Kenaikan Pendapatan Dampak kenaikan pendapatan dapat dilihat dengan melakukan simulasi jika terjadi peningkatan pendapatan di negara importir Amerika Serikat dan Jepang masing-masing sebesar 5 persen. Penentuan besaran kenaikan tersebut didasarkan pada rata-rata pertumbuhan pendapatan domestik bruto negara-negara importir per periode data. Perubahan yang terjadi pada arus perdagangan karet alam karena terjadinya peningkatan pendapatan diperlihatkan oleh Tabel 23. Tabel 23. Dampak Kenaikan Pendapatan 5 % di Negara Importir Negara (Ton) (%) Periode (%) Pasar (%) Permintaan Impor - Amerika Serikat Jepang Permintaan Ekspor AS - Indonesia Thailand Permintaan Ekspor Jepang - Indonesia Thailand Permintaan impor karet alam Amerika Serikat setelah terjadi kenaikan lima persen pada pendapatan domestik brutonya mengalami peningkatan sebesar ton atau mencapai 5.73 persen. Kenaikan permintaan impor dengan persentase yang lebih besar dari pada kenaikan pendapatan mencerminkan tingkat respon permintaan impor yang elastis terhadap perubahan pendapatan. 121

2 Peningkatan impor rata-rata karet alam Amerika Serikat per periode adalah sebesar 0.05 persen. Peningkatan yang terjadi pada pendapatan Amerika Serikat kemudian ditransmisikan pada permintaan ekspor karet alam ke masing-masing negara pengekspor melalui peningkatan permintaan impor karet alamnya. Permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Indonesia mengalami peningkatan sebesar 8.69 persen jika pendapatan Amerika Serikat meningkat sebesar 5 persen dengan pertumbuhan ekspornya sebesar 0.07 persen per periode. Permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Indonesia lebih responsif pada jangka panjang dari pada jangka pendek. Permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Thailand juga mengalami peningkatan sebesar persen. Peningkatan permintan ekspor karet alam yang terjadi untuk negara Thailand yang cukup besar dibandingkan Indonesia disebabkan oleh respon permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Thailand terhadap perubahan pada permintaan impor Amerika Serikat yang lebih besar dari pada Indonesia baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa Thailand mempunyai potensi untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor karet alamnya di pasar Amerika Serikat. Peningkatan pada permintaan impor karet alam Jepang akibat peningkatan pendapatan domestik brutonya sebesar 5 persen tidak begitu besar hanya 3.31 persen. Rendahnya peningkatan tersebut karena elatisitas pendapatan Jepang yang nilainya kurang dari satu baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang sehingga besarnya respon permintaan impor lebih kecil dari pada besarnya peningkatan pendapatan. Peningkatan yang terjadi pada pendapatan 122

3 Jepang kemudian ditransmisikan pada permintaan ekspor karet alam Jepang ke masing-masing negara pengekspor yaitu Indonesia dan Thailand melalui perubahan permintaan impor karet alam Jepang. Peningkatan permintaan ekspor karet alam Jepang dari Indonesia dan Thailand sebagai respon terhadap perubahan pendapatan Jepang masing-masing sebesar persen dan persen dengan pertumbuhan ekspor per periodenya sebesar 0.11 persen dan 0.09 persen. Fenomena ini menunjukkan bahwa permintaan ekspor karet alam responsif terhadap perubahan pendapatan domestik bruto. Respon permintaan ekspor karet alam Indonesia yang cukup besar menunjukan adanya potensi bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di Jepang. Pangsa pasar untuk masing-masing negara pengekspor karet alam ke Amerika Serikat setelah terjadi peningkatan pendapatan masih didominasi oleh ekspor karet alam Indonesia dengan besar pangsa pasar persen untuk Indonesia dan persen untuk Thailand. Sedangkan jika terjadi peningkatan pendapatan di Jepang maka pangsa ekspor Indonesia menjadi persen dan Thailand sebesar persen dimana pasar Jepang didominasi oleh ekspor karet alam asal Thailand. Jadi berdasarkan hasil simulasi dapat disimpulkan bahwa peningkatan pendapatan yang terjadi di negara-negara importir efektif untuk meningkatkan permintaan ekspor karet alam ke masing-masing negara eksportir Dampak Kenaikan Harga Karet Alam Dunia Dampak kenaikan harga karet alam dunia diketahui melalui simulasi peningkatan harga karet alam dunia sebesar 50 persen. Simulasi harga dan besaran 123

4 peningkatan tersebut didasarkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sinuraya (2000) dan Anwar (2005) serta situasi perkembangan harga rataan karet alam dunia. Perubahan arus perdagangan yang terjadi akibat peningkatan harga karet alam dunia diperlihatkan pada Tabel 24. Tabel 24. Dampak Kenaikan Harga Karet Alam Dunia Sebesar 50 % Negara (Ton) (%) Periode (%) Pasar (%) Permintaan Impor - Amerika Serikat Jepang Permintaan Ekspor AS - Indonesia Thailand Permintaan Ekspor Jepang - Indonesia Thailand Simulasi diawali dengan pengaruh perubahan harga karet alam dunia terhadap harga impor karet alam Amerika Serikat dan Jepang melalui persamaan penawaran impor karet alam kedua negara tersebut. Kemudian perubahan harga impor akan mempengaruhi permintaan impor karet alam Amerika Serikat dan Jepang yang selanjutnya ditransmisikan pada permintaan ekspor Amerika Serikat dan Jepang ke Indonesia dan Thailand melalui perubahan harga ekspor relatif karet alam di masing-masing pasar. Harga impor karet alam Amerika Serikat dan Jepang responsif terhadap peningkatan harga karet alam dunia karena nilai elastisitas harga dunia yang cukup besar. Namun pengaruh peningkatan harga impor karet alam terhadap permintaan impor Amerika Serikat dan Jepang tidak responsif karena elastisitas harga riilnya yang kurang dari satu. Tidak responsifnya permintaan impor 124

5 terhadap perubahan harga berakibat pada rendahnya perubahan permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat dan Jepang ke Indonesia dan Thailand. Peningkatan harga karet alam dunia menyebabkan terjadinya penurunan pada permintaan impor. Amerika Serikat mengalami penurunan permintaan impor karet alam sebesar 4.87 persen sedangkan permintaan impor karet alam Jepang penurunannya lebih kecil yaitu hanya 0.91 persen. Perbedaan tersebut disebabkan karena elastisitas harga impor karet alam Amerika Serikat yang lebih besar dari pada Jepang karena pasar karet alam Amerika Serikat yang sudah mulai jenuh. Konsisten dengan penurunan yang terjadi pada permintaan impor, permintaan ekspor karet alam ke negara-negara eksportir juga mengalami penurunan akibat meningkatnya harga dunia. Permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Indonesia turun sebesar 4.87 persen sedangkan ke Jepang juga turun dengan besar 5.35 persen. Besarnya penurunan tersebut menunjukkan bahwa permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Indonesia lebih kaku dari pada permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Thailand. Respon permintaan ekspor karet alam Jepang ke Thailand lebih kaku dari pada permintaan ekspor karet alam Jepang ke Indonesia terhadap perubahan harga karet alam dunia yang menunjukkan dominasi karet alam Thailand di pasar Jepang. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya penurunan permintaan ekspor karet alam Indonesia dari Jepang yang lebih besar dari pada Thailand. Penurunan permintaan ekspor karet alam Indonesia ke Jepang adalah sebesar 2.5 persen sedangkan Thailand hanya sebesar 0.67 persen. Pasar karet alam Amerika Serikat masih didominasi oleh karet alam Indonesia dengan menguasai persen pangsa pasar, sedangkan Thailand 125

6 hanya persen. Thailand masih mendominasi pasar karet alam Jepang dengan menguasai persen pangsa pasar sedangkan pangsa pasar ekspor karet alam Indonesia ke Jepang hanya sebesar persen saja. Pangsa pasar ekspor karet alam dari Thailand dan Indonesia di pasar Jepang mengalami penurunan sebagai akibat dari penurunan harga karet alam dunia Dampak Kenaikan Pendapatan dan Harga Karet Alam Dunia Kombinasi kenaikan pendapatan domestik bruto sebesar 5 persen yang terjadi pada negara-negara importir yaitu Amerika Serikat dan Jepang serta terjadinya kenaikan harga karet alam dunia sebesar 50 persen, dilakukan untuk melihat dampaknya terhadap permintaan impor dan permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat dan Jepang ke Indonesia dan Thailand terhadap shock yang terjadi secara bersamaan. Hasil simulasi terhadap permintaan impor dan permintaan ekspor ke masing-masing negara dapat diperlihatkan oleh Tabel 25. Tabel 25. Dampak Kenaikan Pendapatan 5 % dan Harga Karet Alam Dunia 50% Negara (Ton) (%) Periode (%) Pasar (%) Permintaan Impor - Amerika Serikat Jepang Permintaan Ekspor AS - Indonesia Thailand Permintaan Ekspor Jepang - Indonesia Thailand Amerika Serikat mengalami peningkatan permintaan impor karet alam sebesar ton atau 0.72 persen. Permintaan impor karet alam Jepang juga 126

7 mengalami peningkatan sebesar 2.36 persen. pertumbuhan permintaan impor per periode dari kedua negara tersebut konsisten dengan permintaan impornya yang juga meningkat dengan besaran 0.01 persen untuk pasar Amerika Serikat dan 0.03 persen untuk pasar Jepang. Permintaan ekspor karet alam dari Amerika Serikat ke Indonesia meningkat sebesar 2.19 persen dengan pertumbuhan per periode sebesar 0.01 persen. Peningkatan tersebut lebih rendah dari pada naiknya permintaan ekspor kareta alam Amerika Serikat ke Thailand. Peningkatan yang terjadi pada pendapatan dan harga karet alam dunia menyebabkan permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat ke Thailand naik 3.01 persen dengan pertumbuhan sebesar 0.03 per periode. Indonesia mengalami peningkatan permintaan ekspor karet alam dari Jepang, begitu pula yang terjadi dengan permintaan ekspor karet alam Thailand. Besarnya kenaikan permintaan ekspor karet alam Jepang untuk Indonesia adalah sebesar 6.61 persen sedangkan Thailand naik 7.81 persen. kenaikan tersebut lebih besar dari pada kenaikan yang terjadi pada permintaan ekspor karet alam dari Amerika Serikat karena kenaikan permintaan impor karet alam Jepang yang lebih besar dari pada Amerika Serikat yang disebabkan oleh nilai elastisitas harga impor riil karet alam Jepang yang lebih besar. Pangsa pasar ekspor karet alam secara umum mengalami peningkatan baik di pasar Amerika Serikat maupun Jepang namun peningkatan tersebut lebih rendah dari pada hasil simulasi pertama. Pasar karet alam Amerika Serikat masih didominasi Indonesia dengan pangsa sebesar persen sedangkan Thailand pangsanya sebesar persen. Sebaliknya pada pasar Jepang dominasi ekspor 127

8 di pegang Thailand dengan besar pangsa pasarnya adalah persen dan Indonesia hanya persen. Dampak kenaikan pendapatan dan harga karet alam dunia menunjukkan arah yang saling berlawanan. Hasil akhir simulasi tersebut menunjukkan peningkatan yang terjadi tidak hanya pada permintaan impor karet alam Amerika Serikat dan Jepang tetapi juga terjadi peningkatan pada permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat dan Jepang ke Indonesia dan Thailand yang menunjukkan bahwa dampak kenaikan pendapatan domestik bruto di negara-negara importir lebih besar dari pada dampak kenaikan harga karet alam dunia terhadap permintaan impor dan permintaan ekspor karet alam Amerika Serikat dan Jepang ke Indonesia dan Thailand. Jadi dapat disimpulkan bahwa peningkatan pendapatan lebih efektif dari pada peningkatan harga karet alam dunia untuk mempengaruhi permintaan impor dan permintaan ekspor karet alam Dampak Depresiasi Nilai Tukar Mata Uang Skenario simulasi yang diterapkan pada persamaan penawaran ekspor total karet alam Indonesia dan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang adalah jika terjadi depresiasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap US dollar sebesar 20 persen. Besaran tersebut didasarkan pada perkembangan kondisi perekonomian di Indonesia dan penelitian penelitian sebelumnya. Hasil simulasi diperlihatkan oleh Tabel 26. Tabel 26. Dampak Depresiasi Rupiah 20 % terhadap US Dollar Negara (Ton) (%) Periode (%) Ekspor (%) Penawaran Ekspor Indonesia Amerika Serikat Jepang

9 Depresiasi mata uang Rupiah terhadap US Dollar menyebabkan komoditas ekspor asal Indonesia relatif lebih murah dari pada produk negara lain yang tidak mengalami depresiasi terutama untuk produk dengan kandungan lokal yang tinggi. Jenis karet alam yang diekspor merupakan komoditas yang memiliki kandungan lokal yang sangat besar, sehingga depresiasi mata uang yang terjadi tidak mempengaruhi biaya produksinya malahan akan meningkatkan daya saing ekspor produk tersebut melalui penawaran harga yang lebih bersaing. Penawaran ekspor karet alam Indonesia secara keseluruhan maupun spesifik pada pasar karet alam Amerika Serikat responsif terhadap depresiasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap US dollar karena harga ekspor karet alam yang elastis pada jangka panjang. Penawaran ekspor karet alam Indonesia mengalami peningkatan sebesar 5.87 persen dengan pertumbuhan ekspor per periode 3.19 persen. Sedangkan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke pasar Amerika Serikat juga naik sebesar 4.89 persen. Berbeda untuk penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Jepang, depresiasi menyebabkan penurunan volume ekspor karet alam Indonesia karena elastisitas harganya yang negatif. Penurunan tersebut mengindikasikan adanya pergeseran jenis karet alam yang di ekspor oleh Indonesia ke Jepang. Jenis karet alam spesifikasi teknis (TSR) saat ini lebih diminati oleh pasar Jepang karena harganya yang lebih murah dan lebih siap pakai dari pada jenis sit asap (RSS). Pergesaran jenis karet alam yang diekspor ke Jepang menyebabkan seolah-oleh peningkatan harga berakibat pada turunnya volume ekspor karena peningkatan kuantitas ekspor diiringi oleh turunya nilai ekspor. 129

10 Pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang terhadap total ekspor karet alam Indonesia akibat depresiasi nilai mata uang Rupiah menunjukkan peningkatan. Ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat mencapai persen dari total ekspor karet alam Indonesia sedangkan ke Jepang hanya 9.94 persen saja. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor karet alam Indonesia yang utama. Jadi dapat disimpulkan bahwa depresiasi Rupiah secara umum memberikan dampak positif terhadap penawaran ekspor karet alam Indonesia Dampak Inflasi Simulasi dilakukan berupa pengenaan inflasi sebesar sepuluh persen pada perekonomian Indonesia. Nilai inflasi yang digunakan untuk simulasi besarnya didasarkan pada kondisi perekonomian Indonesia beberapa tahun terakhir. Dampak inflasi terhadap total penawaran ekspor karet alam Indonesia dan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke pasar Amerika Serikat dan Jepang dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27. Dampak Inflasi Sebesar 10% Negara (Ton) (%) Periode (%) Ekspor (%) Penawaran Ekspor Indonesia Amerika Serikat Jepang Berdasarkan teori, inflasi akan berdampak negatif terhadap penawaran ekspor karena harga domestik yang membaik. Hasil simulasi inflasi terhadap penawaran ekspor karet alam Indonesia menunjukan pengaruh yang sesuai dengan hipotesa dimana penawaran ekspor karet alam Indonesia turun sebesar 3.63 persen. Hasil yang konsisten juga terjadi pada penawaran ekspor karet alam 130

11 Indonesia untuk pasar Amerika Serikat dengan penurunan ekspor karet alam ke pasar tersebut sebesar 3.22 persen dengan pertumbuhan ekspor per periode yang negatif. Terjadi pertumbuhan total ekspor karet alam Indonesia per periode yang juga negatif. Sedangkan untuk pasar Jepang, kuantitas ekspor karet alam Indonesia mengalami peningkatan. Perubahan penawaran ekspor karet alam Indonesia yang tidak begitu besar dan pertumbuhan ekspor yang tetap positif terjadi karena rendahnya konsumsi karet alam dalam negeri dimana industri yang menghasilkan barang jadi karet belum berkembang sehingga peningkatan penawaran dalam negeri karena peningkatan harga dalam negeri karena inflasi tidak dapat terserap pasar domestik dengan baik. Pada pasar karet alam di negara-negara importir terjadi penurunan pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang terhadap total ekspor karet alam Indonesia. Pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat turun sebesar 6.18 persen menjadi persen dari total ekspor karet alam Indonesia. Sedangkan ekspor karet alam Indonesia ke Jepang sebesar 9.34 persen dari total ekspor, naik sebesar 1.79 persen. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpulkan bahwa penawaran ekspor karet alam Indonesia secara umum memberikan respon yang negatif terhadap kenaikan inflasi yang terjadi dalam perekonomian Dampak Pengenaan Pajak Ekspor Simulasi dengan pengenaan pajak ekspor sebesar 5 persen didasarkan pada asumsi bahwa perlu dilakukan pergeseran dan reorientasi strategi perdagangan 131

12 karet alam Indonesia dari bahan mentah menjadi produk olahan agar dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi devisa negara. Upaya tersebut perlu didukung oleh ketersediaan pasokan karet alam untuk industri domestik sehingga kemungkinan terjadi peningkatan terhadap konsumsi karet alam dalam negeri dapat diantisipasi dengan baik. Pajak ekspor merupakan salah satu kebijakan yang dapat dilakukan untuk menjamin ketersediaan karet alam bagi pasar domestik. Hasil simulasi ini diperlihatkan oleh Tabel 28. Tabel 28. Dampak Pajak Ekspor 5 % Negara (Ton) (%) Periode (%) Ekspor (%) Penawaran Ekspor Indonesia Amerika Serikat Jepang Penerapan pajak ekspor menyebabkan menurunnya penawaran ekspor karet alam Indonesia sebesar 1.59 persen. Akan tetapi terjadi peningkatan penawaran ekspor karet alam Indonesia untuk pasar Jepang sebesar 2.22 persen dengan pertumbuhan ekspor 0.08 persen per periode terkait dengan nilai elastisitas harga riil ekspor karet alam Indonesia ke Jepang yang negatif. Sedangkan untuk ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat mempunyai dampak yang konsisten dengan penawaran total ekspor karet alam Indonesia. Pajak ekspor menyebabkan penurunan ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dengan besaran 1.33 persen dan pertumbuhan ekspor karet alam yang negatif dengan besaran 0.01 persen. Pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat adalah sebesar persen. Dimana penerapan pajak ekspor sebesar 5 persen menyebabkan turunnya pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat. Sedangkan pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Jepang terhadap total ekspor karet alam 132

13 Indonesia menjadi 8.60 persen yang terkait dengan nilai elastisitas harga riil ekspor karet alam Indonesia ke Jepang yang bertanda negatif. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpulkan bahwa pajak ekspor kurang efektif untuk menahan ekspor karet alam Indonesia. Hal ini disebabkan adanya aturan pengenaan pajak terhadap konsumen karet alam dalam negeri berupa PPN sebesar 10 persen sehingga harga karet alam domestik yang dihadapi oleh produsen karet alam menjadi kurang menarik. Sedangkan impor karet alam dari beberapa negara ke Indonesia hanya dikenai pajak impor sebesar 5 persen yang menyebabkan konsumen karet alam domestik lebih memilih karet alam impor karena harga yang ditawarkan akan lebih murah dari pada harga karet alam domestik Kombinasi Depresiasi Rupiah terhadap US Dollar dan Inflasi Depresiasi nilai tukar yang terjadi pada suatu negara biasanya akan diikuti oleh inflasi di negara tersebut. Keduanya menurut hipotesa memberikan dampak yang bertolak belakang terhadap ekspor komoditas pertanian. Hasil simulasi kombinasi depresiasi nilai mata uang Rupiah dan inflasi terhadap total penawaran ekspor karet alam Indonesia dan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang ditunjukkan oleh Tabel 29. Tabel 29. Dampak Depresiasi Rupiah 20% terhadap US Dollar dan Inflasi 10% Negara (Ton) (%) Periode (%) Ekspor (%) Penawaran Ekspor Indonesia Amerika Serikat Jepang Dampak simulasi tersebut tersebut menunjukkan bahwa penawaran ekspor karet alam Indonesia mengalami peningkatan sebesar 2.02 persen dengan 133

14 pertumbuhan ekspor karet alam rata-rata per periode sebesar 3.16 persen. Penawaran ekspor karet alam Indonesia ke pasar Amerika Serikat juga mengalami peningkatan sebesar ton atau 1.51 persen. Sebaliknya terjadi penurunan penawaran ekspor karet alam Indonesia untuk pasar Jepang sebesar ton dengan pertumbuhan ekspor yang negatif. Pangsa pasar ekspor karet alam Indonesia ke pasar Amerika Serikat dan Jepang terhadap total ekspor karet alam Indonesia mengalami peningkatan. Pangsa ekspor ke Amerika Serikat sebesar persen. sedangkan pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Jepang sebesar 9.81 persen. Peningkatan ekspor karet alam yang terjadi karena kombinasi kebijakan ini lebih kecil dari dampak tunggal pada peningkatan yang terjadi karena depresiasi Rupiah terhadap US Dollar. Hasil simulasi kombinasi depresiasi Rupiah dan inflasi menunjukkan dampak positif terhadap total penawaran ekspor karet alam Indonesia dan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat. Sedangkan dampak negatif terjadi pada penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Jepang karena nilai elastisitas harganya yang negatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa respon penawaran ekspor karet alam Indonesia terhadap depresiasi Rupiah lebih besar dari pada responnya terhadap inflasi dalam perekonomian Indonesia Kombinasi Pajak Eskpor dan Inflasi Kombinasi simulasi kebijakan dilakukan untuk melihat dampak dua shock yang terjadi bersamaan terhadap total penawaran ekspor karet alam Indonesia, penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang. Simulasi yang dilakukan adalah dengan skenario jika dilakukan penerapan kebijakan pajak 134

15 ekspor sebesar 5 persen dimana terjadi inflasi dalam perekonomian sebesar 10 persen. Hasil simulasi ini diperlihatkan oleh Tabel 30. Tabel 30. Dampak Pajak Ekspor 5 % dan Inflasi 10 % Negara (Ton) (%) Periode (%) Ekspor (%) Penawaran Ekspor Indonesia Amerika Serikat Jepang Pada kombinasi simulasi ini berdasarkan hipotesa, penerapan pajak ekspor dan inflasi memiliki dampak yang searah. Terlihat bahwa dampak simulasi yang dilakukan menyebabkan penurunan penawaran ekspor karet alam Indonesia sebesar 5.16 persen dengan pertumbuhan ekspor per periodenya sebesar 3.08 persen. Dampak dengan arah yang sama terjadi untuk penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat yang juga turun dengan jumlah ton atau 4.52 persen. Sedangkan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Jepang berubah sebesar ton. Pangsa ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat terhadap total ekspor karet alam Indonesia konsisten dengan dampak simulasi ini terhadap penawaran ekspor total karet alam Indonesia yaitu persen. Sedangkan pangsa ekspor karet alam ke Jepang menjadi 9.69 persen dari total ekspor karet alam Indonesia. Penurunan tersebut menunjukkan dampak yang berlipat dari pajak ekspor dan inflasi sehingga penurunan tersebut lebih besar dari pada dampak tunggal dari simulasi pajak ekspor atau inflasi. 135

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN 203 IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Analisis terhadap faktor-faktor yang

Lebih terperinci

2. Penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang lebih

2. Penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dan Jepang lebih VIll. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan 1. Produksi karet alam Indonesia dipengaruhi oleh harga domestik, luas areal, upah tenaga kerja dan produksi karet alam bedakala, tetapi tidak responsif (inelastis)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan orientasi yaitu dari orientasi peningkatan produksi ke orientasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Perdagangan Internasional Menurut Oktaviani dan Novianti (2009) perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan negara lain

Lebih terperinci

1.1. Latar Belakang. dengan laju pertumbuhan sektor lainnya. Dengan menggunakan harga konstan 1973, dalam periode

1.1. Latar Belakang. dengan laju pertumbuhan sektor lainnya. Dengan menggunakan harga konstan 1973, dalam periode 1.1. Latar Belakang Pada umumnya perekonomian di negara-negara sedang berkembang lebih berorientasi kepada produksi bahan mentah sebagai saingan dari pada produksi hasil industri dan jasa, di mana bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberlangsungan suatu negara dan diyakini merupakan lokomotif penggerak dalam

BAB I PENDAHULUAN. keberlangsungan suatu negara dan diyakini merupakan lokomotif penggerak dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era globalisasi seperti sekarang ini setiap negara melakukan perdagangan internasional. Salah satu kegiatan perdagangan internasional yang sangat penting bagi keberlangsungan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Model Fungsi Respons Produksi Kopi Robusta. Pendugaan fungsi respons produksi dengan metode 2SLS diperoleh hasil

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Model Fungsi Respons Produksi Kopi Robusta. Pendugaan fungsi respons produksi dengan metode 2SLS diperoleh hasil VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Model Fungsi Respons Produksi Kopi Robusta Pendugaan fungsi respons produksi dengan metode 2SLS diperoleh hasil yang tercantum pada Tabel 6.1. Koefisien determinan (R 2 ) sebesar

Lebih terperinci

IX. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. 1) Simpulan

IX. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. 1) Simpulan IX. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 1) Simpulan 1) Perdagangan Tuna Indonesia di Pasar Dunia, Jepang, USA, dan Korea Selatan : a. Peringkat Indonesia sebagai eksportir tuna baik secara total maupun berdasarkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

PERNYATAAN ORISINALITAS...

PERNYATAAN ORISINALITAS... Judul : PENGARUH KURS DOLLAR AMERIKA SERIKAT, LUAS AREA BUDIDAYA, INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR, JUMLAH PRODUKSI TERHADAP EKSPOR UDANG INDONESIA TAHUN 2000-2015 Nama : I Kadek Widnyana Mayogantara NIM

Lebih terperinci

VII. DAMPAK BERBAGAI ALTERNATIF KEBIJAKkM-TERHADAP PERDAGANGAN MINYAK SAWlT INDONESIA

VII. DAMPAK BERBAGAI ALTERNATIF KEBIJAKkM-TERHADAP PERDAGANGAN MINYAK SAWlT INDONESIA VII. DAMPAK BERBAGAI ALTERNATIF KEBIJAKkM-TERHADAP PERDAGANGAN MINYAK SAWlT INDONESIA Tujuan dari simulasi model adalah untuk mengilustrasikan model ECM yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat digunakan

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN I Dari hasil analisa yang dilakukan terhadap berbagai data dan informasi yang dikumpulkan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Pangsa TSR Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam 219 VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1. Kesimpulan 8.1.1. Berdasarkan pengujian, diperoleh hasil bahwa guncangan ekspor nonagro berpengaruh positip pada kinerja makroekonomi Indonesia, dalam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Luas Areal Tanaman Perkebunan Perkembangan luas areal perkebunan perkebunan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pengembangan luas areal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Uang mempermudah manusia untuk saling memenuhi kebutuhan hidup dengan cara melakukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Kegiatan perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari peran sektor pertanian tersebut dalam perekonomian nasional sebagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kebijakan moneter merupakan kebijakan bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan yaitu

Lebih terperinci

VI. HASIL PENDUGAAN MODEL EKONOMI PUPUK DAN SEKTOR PERTANIAN

VI. HASIL PENDUGAAN MODEL EKONOMI PUPUK DAN SEKTOR PERTANIAN VI. HASIL PENDUGAAN MODEL EKONOMI PUPUK DAN SEKTOR PERTANIAN 6.1. Hasil Pendugaan Model Ekonomi Pupuk dan Sektor Pertanian Kriteria pertama yang harus dipenuhi dalam analisis ini adalah adanya kesesuaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Industri tekstil bukanlah merupakan sebuah hal baru dalam sektor

I. PENDAHULUAN. Industri tekstil bukanlah merupakan sebuah hal baru dalam sektor 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri tekstil bukanlah merupakan sebuah hal baru dalam sektor perdagangan di Indonesia. Istilah tekstil yang dikenal saat ini berasal dari bahasa latin, yaitu texere

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3 4.1 Perkembangan Harga Minyak Dunia Pada awal tahun 1998 dan pertengahan tahun 1999 produksi OPEC turun sekitar tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber daya pertanian seperti lahan, varietas serta iklim yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha perkebunan merupakan usaha yang berperan penting bagi perekonomian nasional, antara lain sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi petani, sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekspor. Ekspor merupakan barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri dan

BAB I PENDAHULUAN. ekspor. Ekspor merupakan barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi ekonomi dan perdagangan internasional merupakan dua arus yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Globalisasi ekonomi dapat membuka kegiatan perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk. meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk. meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan masyarakat demokratis, yang

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Permintaan Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dibeli oleh konsumen selama periode tertentu (Pappas & Hirschey

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian. Selain itu sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut perdagangan internasional. Hal ini dilakukan guna memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut perdagangan internasional. Hal ini dilakukan guna memenuhi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara di dunia ini melakukan perdagangan antar bangsa atau yang disebut perdagangan internasional. Hal ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan baik barang maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan negara karena setiap negara membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya

Lebih terperinci

IV. PERKEMBANGAN IMPOR BUAH-BUAHAN DI INDONESIA

IV. PERKEMBANGAN IMPOR BUAH-BUAHAN DI INDONESIA IV. PERKEMBANGAN IMPOR BUAH-BUAHAN DI INDONESIA 4.1. Tren Perdagangan Indonesia pada Komoditas Buah-Buahan Selama periode -2010, Indonesia terus meningkatkan aktivitas perdagangan internasional. Seperti

Lebih terperinci

BOKS RINGKASAN EKSEKUTIF PENELITIAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH JAWA TENGAH

BOKS RINGKASAN EKSEKUTIF PENELITIAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH JAWA TENGAH BOKS RINGKASAN EKSEKUTIF PENELITIAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH JAWA TENGAH Krisis finansial global yang dipicu oleh krisis perumahan di AS (sub prime mortgage) sejak pertengahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak ada hambatan. Hal tersebut memberi kemudahan bagi berbagai negara untuk

BAB I PENDAHULUAN. tidak ada hambatan. Hal tersebut memberi kemudahan bagi berbagai negara untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era globalisasi membuat perekonomian di berbagai negara menjadi terbuka. Keluar masuknya barang atau jasa lintas negara menjadi semakin mudah dan hampir tidak ada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah)

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam beberapa dekade terakhir, perekonomian Indonesia telah menunjukkan integrasi yang semakin kuat dengan perekonomian global. Keterkaitan integrasi ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka dimana lalu lintas perekonomian internasional sangat penting dalam perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam sistem perekonomian terbuka, perdagangan internasional merupakan komponen penting dalam determinasi pendapatan nasional suatu negara atau daerah, di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian dalam perdagangan internasional tidak lepas dari negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Apalagi adanya keterbukaan dan liberalisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertambah seiring dengan peningkatan pembangunan, untuk itu ekspor harus

BAB I PENDAHULUAN. bertambah seiring dengan peningkatan pembangunan, untuk itu ekspor harus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka dimana lalu lintas perekonomian internasional sangat penting dalam perekonomian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat

I. PENDAHULUAN. Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat dinyatakan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 1997 telah mengalami kontraksi dari tahun sebelumnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi bukanlah merupakan hal yang baru bagi kita. Globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi bukanlah merupakan hal yang baru bagi kita. Globalisasi digilib.uns.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi bukanlah merupakan hal yang baru bagi kita. Globalisasi merupakan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi dan gas alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang suatu negara sulit untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Dengan kemajuan teknologi yang sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki luas daerah perairan seluas 5.800.000 km2, dimana angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah perairan tersebut wajar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Perkembangan Jagung Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai

Lebih terperinci

permintaan karet alam Indonesia, khususnya analisis yang lebih mendalam dengan membedakan wilayah produksi dan

permintaan karet alam Indonesia, khususnya analisis yang lebih mendalam dengan membedakan wilayah produksi dan S tudi terdahulu yang menganalisis penawaran dan permintaan karet alam Indonesia, khususnya analisis yang lebih mendalam dengan membedakan wilayah produksi dan jenis pnogusahaan masih sangat terbatas.

Lebih terperinci

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 273 VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 7.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis deskripsi, estimasi, dan simulasi peramalan dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap kinerja perekonomian, kemiskinan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk kemudian didatangkan ke negara tersebut dengan tujuan untuk memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. untuk kemudian didatangkan ke negara tersebut dengan tujuan untuk memenuhi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Salah satu kegiatan yang berperan penting dalam perekonomian suatu negara adalah kegiatan perdagangan internasional. Sehingga perdagangan internasional harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membantu membiayai pembangunan nasional, sedangkan impor dilakukan untuk

BAB I PENDAHULUAN. membantu membiayai pembangunan nasional, sedangkan impor dilakukan untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang ikut serta dalam kerjasama internasional, maka dari itu perekonomian Indonesia tidak lepas dari yang namanya ekspor dan impor.

Lebih terperinci

VI. SIMPULAN DAN SARAN

VI. SIMPULAN DAN SARAN VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain: 1. Selama tahun 1999-2008, rata-rata tahunan harga minyak telah mengalami peningkatan

Lebih terperinci

BAB V. Kesimpulan dan Saran. 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik

BAB V. Kesimpulan dan Saran. 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik BAB V Kesimpulan dan Saran 5. 1 Kesimpulan 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto. Indonesia merupakan negara pengekspor energi seperti batu bara dan gas alam. Seiring

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aktivitas dalam perdagangan internasional seperti ekspor dan impor sangat

BAB I PENDAHULUAN. Aktivitas dalam perdagangan internasional seperti ekspor dan impor sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas dalam perdagangan internasional seperti ekspor dan impor sangat diperlukan terutama untuk negara-negara yang memiliki bentuk perekonomian terbuka.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KARET ALAM INDONESIA

IV. GAMBARAN UMUM KARET ALAM INDONESIA IV. GAMBARAN UMUM KARET ALAM INDONESIA 4.1 Sejarah Singkat Karet Alam Tahun 1943 Michele de Cuneo melakukan pelayaran ekspedisi ke Benua Amerika. Dalam perjalanan ini ditemukan sejenis pohon yang mengandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri

BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri Indonesia bertumpu kepada minyak bumi dan gas sebagai komoditi ekspor utama penghasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dijadikan andalan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dijadikan andalan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dijadikan andalan adalah subsektor perkebunan. Sebagai salah satu subsektor yang penting dalam sektor pertanian,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Dasar Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional adalah teori yang menganalisis dasardasar terjadinya perdagangan internasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Lada atau pepper (Piper nigrum L) disebut juga dengan merica, merupakan jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah menjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka, di mana lalu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terlepas dari kegiatan ekonomi internasional. Kegiatan ekonomi internasional

I. PENDAHULUAN. terlepas dari kegiatan ekonomi internasional. Kegiatan ekonomi internasional I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara penganut sistem perekonomian terbuka yang tidak terlepas dari kegiatan ekonomi internasional. Kegiatan ekonomi internasional yang dilakukan oleh

Lebih terperinci

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM Perekonomian empat sektor adalah perekonomian yg terdiri dari sektor RT, Perusahaan, pemerintah dan sektor LN. Perekonomian empat sektor

Lebih terperinci

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Moneter

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Moneter V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA 5.1. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Moneter Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja moneter difokuskan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle

I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini peranan minyak bumi dalam kegiatan ekonomi sangat besar. Bahan bakar minyak digunakan baik sebagai input produksi di tingkat perusahaan juga digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu negara, terutama untuk negara-negara yang sedang berkembang. Peningkatan kesejahteraan

Lebih terperinci

VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia

VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA 6.1. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia Permintaan terhadap karet alam dari tahun ke tahun semakin mengalami peningkatan. Hal ini dapat

Lebih terperinci

Kondisi Perekonomian Indonesia

Kondisi Perekonomian Indonesia KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Kondisi Perekonomian Indonesia Tim Ekonomi Kadin Indonesia 1. Kondisi perekonomian dunia dikhawatirkan akan benar-benar menuju jurang resesi jika tidak segera dilakukan

Lebih terperinci

DETERMINAN PERMINTAAN EKSPOR UDANG BEKU JAWA TIMUR KE AMERIKA SERIKAT PENDAHULUAN

DETERMINAN PERMINTAAN EKSPOR UDANG BEKU JAWA TIMUR KE AMERIKA SERIKAT PENDAHULUAN P R O S I D I N G 113 DETERMINAN PERMINTAAN EKSPOR UDANG BEKU JAWA TIMUR KE AMERIKA SERIKAT Erlangga Esa Buana 1 1 Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya E-mail: erlanggaesa@gmail.com PENDAHULUAN Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia Analisis pergerakan..., Adella bachtiar, FE UI, 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia Analisis pergerakan..., Adella bachtiar, FE UI, 2010. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi ekonomi mendorong perekonomian suatu negara ke arah yang lebih terbuka (openness). Perekonomian terbuka dalam arti terjadinya perdagangan internasional.

Lebih terperinci

IV. FLUKTUASI MAKROEKONOMI INDONESIA

IV. FLUKTUASI MAKROEKONOMI INDONESIA 49 IV. FLUKTUASI MAKROEKONOMI INDONESIA 4.1 Produk Domestik Bruto (PDB) PDB atas dasar harga konstan merupakan salah satu indikator makroekonomi yang menunjukkan aktivitas perekonomian agregat suatu negara

Lebih terperinci

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO RINGKASAN ISVENTINA. H14102124. Analisis Dampak Peningkatan Ekspor Karet Alam Terhadap Perekonomian Indonesia: Suatu Pendekatan Analisis Input-Output. Di bawah bimbingan DJONI HARTONO. Indonesia merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam pengembangan sektor pertanian sehingga sektor pertanian memiliki fungsi strategis dalam penyediaan pangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Penawaran Menurut Sukirno (2013) teori penawaran menerangkan tentang ciri hubungan antara harga sesuatu barang dan jumlah barang yang ditawarkan para

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini dilihat dari kontribusi sektor

Lebih terperinci

6. HASIL DAN PEMBAHASAN

6. HASIL DAN PEMBAHASAN 6. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas tentang kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan respon kebijakan untuk meminimisasi dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Mengingat sejak bulan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. negara yang mengimpor maupun mengekspor akan menimbulkan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. negara yang mengimpor maupun mengekspor akan menimbulkan suatu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi dalam bidang ekonomi, menyebabkan berkembangnya sistem perekonomian ke arah yang lebih terbuka antar negara. Perekonomian terbuka membawa suatu

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA. Setelah dilakukan pengolahan data time series bulanan tahun 2005 sampai

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA. Setelah dilakukan pengolahan data time series bulanan tahun 2005 sampai FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA 6.1 Pengujian Hipotesis Setelah dilakukan pengolahan data time series bulanan tahun 2005 sampai 2008, diperoleh hasil regresi sebagai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Dalam kajian pustaka ini terdapat berbagai hasil penelitian sebelumnya oleh peneliti lain, baik itu dalam penelitian pada umumnya maupun penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat. Hal ini sangat mempengaruhi negara-negara lain karena

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat. Hal ini sangat mempengaruhi negara-negara lain karena 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang masalah Pada tahun 2008 terjadi krisis global dan berlanjut pada krisis nilai tukar. Krisis ekonomi 2008 disebabkan karena adanya resesi ekonomi yang melanda Amerika

Lebih terperinci

PERDAGANGAN KARET SPESIFIKASI TEKNIS ANTARA THAILAND DAN CHINA ABDULHAKIM MADIYOH

PERDAGANGAN KARET SPESIFIKASI TEKNIS ANTARA THAILAND DAN CHINA ABDULHAKIM MADIYOH PERDAGANGAN KARET SPESIFIKASI TEKNIS ANTARA THAILAND DAN CHINA ABDULHAKIM MADIYOH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pembangunan yang berkelanjutan merupakan salah satu cara untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pembangunan yang berkelanjutan merupakan salah satu cara untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pembangunan yang berkelanjutan merupakan salah satu cara untuk memenuhi tujuan pemerintah yaitu mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat secara merata. Untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 41,91 (42,43) 42,01 (41,60) 1,07 (1,06) 12,49 (12,37) 0,21 (0,21) 5,07 (5,02) 20,93 (20,73) 6,10 (6,04) 0,15 (0,15) (5,84) 1,33 (1,35)

I. PENDAHULUAN 41,91 (42,43) 42,01 (41,60) 1,07 (1,06) 12,49 (12,37) 0,21 (0,21) 5,07 (5,02) 20,93 (20,73) 6,10 (6,04) 0,15 (0,15) (5,84) 1,33 (1,35) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu bidang produksi dan lapangan usaha yang paling tua di dunia yang pernah dan sedang dilakukan oleh masyarakat. Sektor pertanian adalah sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. Pada satu sisi Indonesia terlalu cepat melakukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. negeri, seperti tercermin dari terdapatnya kegiatan ekspor dan impor (Simorangkir dan Suseno, 2004, p.1)

BAB 1 PENDAHULUAN. negeri, seperti tercermin dari terdapatnya kegiatan ekspor dan impor (Simorangkir dan Suseno, 2004, p.1) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi internasional semakin pesat sehingga hubungan ekonomi antar negara menjadi saling terkait dan mengakibatkan peningkatan arus perdagangan barang,

Lebih terperinci

VI ANALISIS EKSPOR KEPITING INDONESIA

VI ANALISIS EKSPOR KEPITING INDONESIA VI ANALISIS EKSPOR KEPITING INDONESIA 6.1 Pengujian Asumsi Gravity model aliran perdagangan ekspor komoditas kepiting Indonesia yang disusun dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria pengujian asumsi-asumsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan

BAB I PENDAHULUAN. dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan ekonomi suatu negara pada dewasa ini tidak dapat dipisahkan dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan negara lain

Lebih terperinci

ANALISIS IMPOR SERAT DI INDONESIA. JURUSAPd ILMU-IIILMU SOSLAL EKONOMI P ERTmM FAKULTAS PERTAMAN INSTITUT PERTIUUW BOGOR 1997

ANALISIS IMPOR SERAT DI INDONESIA. JURUSAPd ILMU-IIILMU SOSLAL EKONOMI P ERTmM FAKULTAS PERTAMAN INSTITUT PERTIUUW BOGOR 1997 ANALISIS IMPOR SERAT DI INDONESIA S JURUSAPd ILMU-IIILMU SOSLAL EKONOMI P ERTmM FAKULTAS PERTAMAN INSTITUT PERTIUUW BOGOR 1997 RTNGKASAN ERN1 SUKMADINI ASIKIN. Analisis Impor Serat Kapas di Indonesia.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertanian merupakan kegiatan pengelolaan sumber daya untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku untuk industri, obat ataupun menghasilkan sumber energi. Pertanian merupakan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terpuruk. Konsekuensi dari terjadinya krisis di Amerika tersebut berdampak pada

BAB I PENDAHULUAN. terpuruk. Konsekuensi dari terjadinya krisis di Amerika tersebut berdampak pada 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kredit macet sektor perumahan di Amerika Serikat menjadi awal terjadinya krisis ekonomi global. Krisis tersebut menjadi penyebab ambruknya pasar modal Amerika

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor strategis dalam pembangunan perekonomian nasional seperti dalam hal penyerapan tenaga kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat

Lebih terperinci

VI. DAMPAK KEBIJAKAN MAKROEKONOMI DAN FAKTOR EKSTERNAL. Kebijakan makroekonomi yang dianalisis adalah kebijakan moneter, yaitu

VI. DAMPAK KEBIJAKAN MAKROEKONOMI DAN FAKTOR EKSTERNAL. Kebijakan makroekonomi yang dianalisis adalah kebijakan moneter, yaitu VI. DAMPAK KEBIJAKAN MAKROEKONOMI DAN FAKTOR EKSTERNAL 6.1. Dampak Kebijakan Makroekonomi Kebijakan makroekonomi yang dianalisis adalah kebijakan moneter, yaitu penawaran uang, dan kebijakan fiskal, yaitu

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi, BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diinginkan tersebut atau lebih dikenal dengan perdagangan internasional.

BAB I PENDAHULUAN. diinginkan tersebut atau lebih dikenal dengan perdagangan internasional. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suatu negara yang memiliki rasa ketergantungan dari negara lainnya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dirasa tidaklah mencukupi, apabila hanya mengandalkan sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang prospektif. Komoditas karet alam memiliki berbagai macam kegunaan

I. PENDAHULUAN. yang prospektif. Komoditas karet alam memiliki berbagai macam kegunaan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karet alam merupakan salah satu komoditi industri hasil tanaman tropis yang prospektif. Komoditas karet alam memiliki berbagai macam kegunaan terutama sebagai bahan baku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN. negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pasar modal memiliki peranan yang penting terhadap perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak kebutuhan lainnya yang menghabiskan biaya tidak sedikit. Guna. sendiri sesuai dengan keahlian masing-masing individu.

BAB I PENDAHULUAN. banyak kebutuhan lainnya yang menghabiskan biaya tidak sedikit. Guna. sendiri sesuai dengan keahlian masing-masing individu. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Pemenuhan kebutuhan pokok dalam hidup adalah salah satu alasan agar setiap individu maupun kelompok melakukan aktivitas bekerja dan mendapatkan hasil sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian dunia mulai mengalami liberalisasi perdagangan ditandai dengan munculnya General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1947 yang

Lebih terperinci