IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia"

Transkripsi

1 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia Komoditi perkebunan Indonesia rata-rata masuk kedalam lima besar sebagai produsen dengan produksi tertinggi di dunia menurut Food and agriculture organization (FAO) pada tahun 2001, 2005 dan 2008, dimana hanya ada empat komoditi yang berada diluar dari lima besar. Berikut akan dipaparkan posisi yang diduduki komoditi perkebunan Indonesia didunia. 1. Cengkeh Cengkeh Indonesia berada pada posisi teratas, sebagai produsen cengkeh terbesar di dunia dalam tiga tahun tersebut dengan rata-rata produksi seberat ,6 ton. Posisi dua hingga kelima pada tahun 2001 diduduki Madagaskar, Tanzania, Komoro dan Sri Lanka. Tahun 2005 posisi dua hingga kelima produsen cengkeh terbesar diduduki Tanzania, Madagaskar, Sri Lanka dan Komoro. Tahun 2008 Madagaskar, Tanzania, Sri Lanka dan Komoro merupakan negara yang menduduki posisi dua hingga lima (FAO). 2. Kacang Mete Indonesia hanya berada pada posisi keenam sebagai produsen kacang mete di dunia dengan produksi rata-rata dalam tiga tahun tersebut seberat ,3 ton. Pada Tahun 2001 Indonesia berada di bawah Nigeria, India, Vietnam, Brazil dan Tanzania. Tahun 2005 dan 2008 Indonesia berada dibawah Vietnam, Nigeria, India, Pantai Gading dan Brazil (FAO). 3. Kakao Indonesia berada pada posisi dua pada tahun 2001 dan 2008, serta posisi tiga pada tahun 2005 sebagai negara produsen kakao tertinggi di dunia dengan produksi ratarata seberat ton. Dalam tiga tahun yang ada, Pantai Gading merupakan negara dengan produsen kakao tertinggi di dunia, sementara negara posisi tiga hingga lima pada tahun 2001 dan 2008 diduduki Ghana, Nigeria dan Brazil. Tahun 2005

2 38 posisi dua diduduki Ghana, sedangkan posisi empat dan lima diduduki Nigeria dan Brazil (FAO). 4. Karet Indonesia berada pada posisi satu pada tahun 2001 dan posisi dua pada tahun 2005 dan 2008 sebagai negara produsen karet terbesar di dunia dengan rata-rata produksi seberat ton. Tahun 2001 posisi dua hingga posisi lima diduduki Malaysia, Nigeria, Thailand dan Kolombia. Tahun 2005 dan 2008 posisi satu diduduki Thailand, sedangkan posisi tiga hingga posisi lima diduduki Malaysia, India dan Vietnam (FAO). 5. Kayu Manis Rata-rata produksi dalam tiga tahun yang ada seberat ,67 ton, Indonesia berada pada posisi satu sebagai produsen kayu manis terbesar di dunia, dimana dalam tiga tahun yang ada posisi dua hingga posisi lima selalu diduduki China, Sri Lanka, Vietnam dan Madagaskar (FAO). 6. Kelapa Sawit Indonesia memiliki rata-rata produksi CPO seberat ton dalam tiga tahun yang ada, dimana pada tahun 2001 dan 2005 Indonesia sebagai produsen CPO terbesar kedua dibawah Malaysia, sedangkan pada tahun 2008 Indonesia merupakan negara produsen CPO tertinggi dan berada di atas Malaysia. Tahun 2001 dan 2005 negara yang berada pada posisi tiga hingga posisi lima adalah Nigeria, Thailand dan Kolombia (FAO). 7. Kelapa Indonesia berada pada posisi satu sebagai negara produsen kelapa di dunia, dengan rata-rata produksi seberat ton dalam tahun 2001, 2005 dan Dalam tiga tahun tersebut pula posisi dua hingga posisi lima negara produsen kelapa diduduki Filipina, India, Brazil dan Sri Lanka (FAO). 8. Kopi Indonesia berada pada posisi keempat sebagai negara produsen kopi terbesar di dunia dengan produksi rata-rata dalam tiga tahun seberat ,7 ton. Posisi satu hingga posisi tiga dalam tiga tahun yang ada diduduki Brazil, Veitnam, serta

3 39 Kolombia. Sementara posisi kelima diduduki Meksiko pada tahun 2001 dan 2005 serta Peru pada tahun 2008 (FAO). 9. Lada Indonesia berada pada posisi enam pada tahun 2001 dan posisi dua pada tahun 2005 dan 2008 sebagai negara produsen lada terbesar di dunia dengan rata-rata produksi seberat ton dalam tiga tahun tersebut. Posisi satu hingga posisi lima pada tahun 2001 diduduki China, India, Kenya, Sri Lanka dan Turki. Tahun 2005 dan tahun 2008 posisi satu diduduki Vietnam sedangkan posisi tiga hingga posisi lima diduduki Brazil, India dan China (FAO). 10. Pala Tahun 2001 Indonesia berada pada posisi satu sebagai negara produsen pala terbesar didunia, sedangkan pada tahun 2005 Indonesia berada pada posisi empat dan pada tahun 2008 berada pada posisi tiga, dengan rata-rata produksi seberat ,67 ton. Tahun 2001 posisi dua hingga posisi lima diduduki Guatemala, India, Nepal dan Bhutan. Tahun 2005 posisi satu hingga posisi tiga diduduki Guatemala, India dan Bhutan, sedangkan Nepal berada dibawah Indonesia. Tahun 2008 Guatemala dan India berada pada posisi satu dan dua, sedangkan Nepal dan Bhutan berada dibawah Indonesia (FAO). 11. Teh Tahun 2001 Indonesia berada pada posisi keempat sebagai negara produsen teh terbesar di dunia, sedangkan pada tahun 2005 dan 2008 berada pada posisi tujuh dengan rata-rata produksi seberat ton. Posisi satu hingga posisi tiga pada tahun 2001 diduduki Brazil, Vietnam dan Kolombia, sedangkan Meksiko berada pada posisi kelima. Tahun 2005 dan 2008 posisi satu hingga posisi lima diduduki China, India, Kenya, Sri Lanka dan Turki (FAO). 12. Tembakau Tahun 2001 dan 2008 Indonesia berada pada posisi lima sebagai negara dengan produksi tembakau terbesar di dunia, sedangkan pada tahun 2005, Indonesia berada pada posisi keenam, rata-rata produksi yang dimiliki dalam tiga tahun tersebut adalah seberat ,7 ton. Tahun 2001 posisi satu hingga posisi empat diduduki China,

4 40 Brazil, Amerika Serikat dan India. Tahun 2005 posisi satu hingga posisi lima diduduki China, Brazil, India, Amerika Serikat dan Argentina. Tahun 2008 China, Brazil, India dan Amerika Serikat berada pada posisi satu hingga lima produsen tembakau terbesar didunia. 4.2 Perkebunan Indonesia Alam Indonesia yang sangat luas memberikan dampak yang baik bagi perkebunan Indonesia, sebab dari luasnya lahan tersebut, sektor perkebunan yang notabene harus memiliki lahan yang luas untuk bercocok tanam menjadi terbantu. Lahan yang luas belum tentu termanfaatkan secara optimal oleh sektor perkebunan Indonesia, karena produktivitas merupakan suatu tolak ukur bagaimana lahan tersebut dimanfaatkan. Secara keseluruhan rendahnya mutu komoditi perkebunan Indonesia menjadi sorotan, karena rata-rata perkebunan dikelola oleh perkebunan rakyat yang masih kurang penyuluhan pemerintah. Dalam subbab perkebunan Indonesia akan dipaparkan bagaimana luas areal, produksi dan daerah sentra produksi perkebunan Indonesia masing-masing komoditi Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Daerah Sentra Produksi Cengkeh Indonesia Pesatnya industri rokok kretek di Indonesia menyebabkan tanaman cengkeh yang dulunya merupakan komoditas ekspor berubah menjadi komoditas impor, sehingga pada tahun 1970 muncul program swasembada cengkeh, melalui perluasan areal. Program swasemabada tersebut berhasil pada tahun 1991, namun dengan melimpahnya produksi cengkeh menyebabkan harga komoditas tersebut turun. Permasalahan tersebut membuat pemerintah membuat kebijakan dengan mengatur tata niaga cengkeh melalui pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Program ini tidak berhasil dan petani menelantarkan areal pertanaman cengkeh ( Deptan, 2005) Sekitar tahun harga cengkeh di pasar dalam negeri melonjak cukup tajam. Kenyataan ini mengejutkan semua pihak, baik petani maupun pengusaha rokok

5 41 kretek yang merupakan satu-satunya konsumen komoditas tersebut. Harga cengkeh yang telah lama terpuruk yaitu dengan harga Rp2.500/kg Rp8.500/kg kini menjadi sekitar Rp70.000/kg. Kondisi ini menggambarkan dua fakta kontradiktif. Dari sisi produsen rokok kretek mengalami kesusahan akibat harga yang tinggi, sedangkan dari petani juga tidak bergembira dengan melambungnya harga cengkeh tersebut, karena bukan hasil dari panen petani, melainkan stok timbunan para pedagang besar 1. Luas areal cengkeh Indonesia dari tahun 2001 hingga 2006 mengalami fluktuasi, sementara pada tahun 2007 sampai 2009 mengalami peningkatan, seperti yang tertera pada Gambar 8. Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 8. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Cengkeh Indonesia Tahun Pertumbuhan rata-rata luas areal cengkeh Indonesia adalah sebesar 1,1 persen, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2003 dengan pertumbuhan sebesar 2,8 persen luas areal yang mana pada tahun 2002 luas areal cengkeh adalah Ha dan meningkat menjadi seluas Ha. Setelah mengalami pertumbuhan luas areal tertinggi pada tahun 2003, pertumbuhan yang paling rendah dan bahkan lagi-lagi negatif terjadi pada tahun 2004 dengan penurunan luas areal cengkeh sebesar 0,9 persen, yaitu menjadi seluas Ha. 1 Fahmi Ismail, 2002 diacu dalam Out Look Pertanian Perkebunan, 2008

6 42 Gambar 8 juga memperlihatkan volume produksi cengkeh Indonesia yang berfluktuasi dari tahun 2001 sampai Akibatnya pertumbuhan rata-rata volume cengkeh hanya sebesar 2,7 persen, dengan pertumbuhan produksi paling tinggi terjadi pada tahun 2009 dengan persentase sebesar 16,3 persen yaitu dari produksi cengkeh tahun 2008 seberat ton menjadi ton cengkeh. Pertumbuhan yang paling rendah bahkan negatif terjadi pada tahun 2006 dengan penurunan pertumbuhan sebesar 21,6 persen yaitu dari produksi cengkeh pada tahun 2005 seberat ton menjadi ton pada tahun Daerah yang menjadi sentra cengkeh Indonesia adalah provinsi Sulawesi Selatan dengan rata-rata pertumbuhan produksi dari tahun 2003 hingga 2009 sebesar 15,4 persen dan diikuti Maluku dengan rata-rata pertumbuhan produksi sebesar 1,3 persen, sedangkan diposisi ketiga ditempati Jawa Timur dengan pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 3,3 persen (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Daerah Sentra Produksi Kacang Mete Indonesia Luas areal kacang mete Indonesia memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 0,0007 persen. Persentase yang kecil tersebut terjadi akibat peningkatan yang kecil setiap tahunnya, luas areal pada tahun 2001 adalah seluas Ha dan pada tahun 2009 menjadi seluas Ha, dimana hanya terjadi peningkatan luas yang kecil selama delapan tahun tersebut seperti yang terlihat pada Gambar 9. Peningkatan pertumbuhan yang tertinggi terjadi pada tahun 2002, itu pun dengan persentase 0,01 persen, yaitu dari luas areal Ha pada tahun 2001 menjadi Ha pada tahun 2002, bahkan luas areal pada tahun 2002 tersebut lebih luas dibandingkan dengan luas areal kacang mete pada tahun 2009, namun untuk areal yang terluas adalah pada tahun 2005, yaitu seluas Ha. Sementara setelah pada tahun 2003 mengalami pertumbuhan yang paling tinggi, pada tahun 2004 luas areal mengalami pertumbuhan yang terendah bahkan negatif dimana luas areal kacang mete menjadi seluas Ha.

7 43 Perkembangan produksi kacang mete hampir sama dengan perkembangan produksi hasil perkebunan yang lain, yaitu berfluktuasi seperti yang tertera pada Gambar 9. Pada tahun 2001 produksi kacang mete adalah ton dan pada tahun 2009 meningkat menjadi ton dengan pertumbuhan rata-rata 0,06 persen. Pertumbuhan tertinggi volume produksi kacang mete terjadi pada tahun 2004 dengan pertumbuhan sebesar 0,2 persen, yaitu dari volume produksi ton pada tahun 2003 meningkat menjadi ton pada tahun Sementara penurunan pertumbuhan terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 0,09 persen dengan penurunan dari tahun 2008 yang memiliki volume seberat ton menjadi ton pada tahun Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 9. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kacang Mete Indonesia Tahun Daerah sentra kacang mete Indonesia adalah Sulawesi Tenggara, namun pertumbuhan rata-rata produksinya tidak mencerminkan sebagai daerah utama sentra kacang mete Indonesia, sebab memiliki pertumbuhan rata-rata yang negatif yaitu sebesar 0,8 persen. Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi kedua dengan memiliki selisih produksi rata-rata sebesar 30 ton dibandingkan dengan Sulawesi Tenggara, bahkan provinsi ini memiliki pertumbuhan produksi rata-rata yang cukup baik yaitu sebesar 7,5 persen (Ditjenbun). Luas Areal (Ha)

8 Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Daerah Sentra Produksi Kakao Indonesia Luas areal kakao Indonesia memiliki trend yang terjadi dari tahun 2001 hingga 2009 (Gambar 10). Walaupun hanya memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 0,08 persen, kestabilan peningkatan luas areal kakao sangat baik untuk ditiru perkebunan lain, walaupun sama-sama dikelola oleh perkebunan rakyat. Pertumbuhan tertinggi untuk luas areal kakao terjadi pada tahun 2006 dengan memiliki persentase pertumbuhan yang hampir sama dengan pertumbuhan pada tahun 2004 yaitu sebesar 1,3 persen. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2002 dengan pertumbuhan 0,05 persen. Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 10. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kakao Indonesia Tahun Volume produksi kakao Indonesia memiliki pertumbuhan yang positif dari tahun 2001 hingga Penurunan produksi kakao terjadi pada tahun 2004 dan 2007, sedangkan selain tahun tersebut mengalami peningkatan (Gambar 10). Pertumbuhan rata-rata produksi kakao sebesar 0,05 persen, produksi kakao dengan persentase pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2003 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,2 persen, dimana kenaikan yang terjadi dari seberat ton pada tahun 2002 menjadi ton pada tahun Untuk pertumbuhan terendah dan terjadi penurunan volume produksi terjadi pada tahun 2007, dari volume

9 45 produksi kakao seberat ton pada tahun 2006 menjadi hanya ton pada tahun 2007 dengan penurunan pertumbuhan sebesar 0,03 persen. Daerah sentra produksi kakao di Indonesia didominasi oleh produksi dari Pulau Sulawesi. Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang menjadi sentra utama kakao Indonesia, namun posisi ini terancam karena pertumbuhan rata-rata produksi kakao provinsi ini negatif yaitu sebesar 4,7 persen. Sulawesi Tengah yang menjadi ancaman bagi provinsi Sulawesi Selatan, sebab dengan rata-rata pertumbuhan produksi yang positif yaitu sebesar 3,6 persen dapat mengambil alih posisi puncak, bahkan posisi ketiga yang ditempati Sulawesi Tenggara juga bisa naik sebagai yang nomor satu dengan rata-rata pertumbuhan produksi yang positif sebesar 5,7 persen. Lampung merupakan provinsi dengan pertumbuhan rata-rata produksi tertinggi, yaitu lebih dari 9 persen (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Daerah Sentra Produksi Karet Indonesia Indonesia menargetkan menjadi negara penghasil karet terbesar di dunia tahun Upaya itu dilakukan dengan cara merevitalisasi perkebunan karet seluas 300 ribu hektar hingga tahun 2010 sekaligus mengganti tanaman karet yang rusak dan tua yang mencapai 400 ribu hektar (Deptan, 2008). Luas areal karet Indonesia sendiri dari tahun 2001 hingga 2003 mengalami penurunan dan pada tahun 2004 hingga 2009 terus meningkat, namun pertumbuhan luas areal karet masih positif namun dengan nilai pertumbuhan yang kecil yaitu sebesar 0,003 persen dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006 dan 2007 yang memiliki persentase pertumbuhan sebesar 0,02 persen. Penurunan luas pada tahun 2001 hingga 2003 merupakan penurunan pertumbuhan dengan persentase penurunan yang sama yaitu sebesar 0,008 persen. Pertumbuhan luas areal karet yang positif dari tahun 2001 seluas menjadi Ha pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 11. Lahan karet yang mengalami revitalisasi dan memiliki pertumbuhan yang terus meningkat dari tahun 2004 hingga tahun 2009, tidak bisa menjadi acuan bahwa produksi juga akan meningkat, itu terbukti dengan menurunnya produksi karet pada

10 46 tahun 2008 dan 2009 yang sebelumnya dari tahun 2001 hingga 2007 mengalami peningkatan (Gambar 11). Pertumbuhan rata-rata volume produksi karet Indonesia positif dengan persentase sebesar 0,05 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan persentase pertumbuhan 0,1 persen, itu terjadi akibat volume produksi yang meningkat dari seberat ton pada tahun 2005 menjadi seberat ton pada tahun Penurunan pertumbuhan yang terbesar terjadi pada tahun 2009, dari volume produksi seberat ton pada tahun 2008 menjadi ton pada tahun Daerah sentra produksi karet Indonesia berada di kawasan Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Riau yang dilihat dari hasil produksi pada tahun 2004 hingga Rata-rata pertumbuhan 3,9 persen hasil produksi karet Sumatera Selatan atau rata-rata produksi ton, membuat provinsi tersebut berada di atas Sumatera Utara yang memiliki pertumbuhan rata-rata 1,6 persen dengan produksi rata-rata ton dan Riau dengan pertumbuhan rata-rata 5,2 persen dengan rata-rata produksi karet seberat ton (Ditjenbun). Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 11. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Karet Indonesia Tahun Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Produksi Kayu Manis Indonesia Hingga kini prospek kayu manis masih terbuka luas. Hal ini dibuktikan dari jumlah permintaan kayu manis baik kulit, minyak asiri dan oleoresin yang setiap

11 47 tahun mengalami peningkatan. Kebutuhan kayu manis bukan hanya di pasar mancanegara tetapi juga untuk pasar lokal. Jumlah kebutuhannya pun setiap tahun meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Oleh karena itu jumlah permintaan kayu manis cukup banyak setiap tahunnya. untuk memenuhi permintaan kayu manis tersebut, pemerintah telah menggalakkan upaya perluasan areal, baik melalui perkebunan rakyat maupun perkebunan besar. Namun sayangnya hingga kini status pengelolaan perkebunan kayu manis paling banyak adalah perkebunan rakyat (Rismunandar dan Paimin, 2001) Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 12. Perkembangan Luas Areal dan Volume Produksi Kayu Manis Indonesia Tahun Gambar 12 memperlihatkan luas areal kayu manis memiliki pertumbuhan rata-rata dari tahun 2001 hingga 2009 yang negatif, yaitu sebesar 3,3 persen. Dari tahun 2001 hingga 2003 kayu manis memiliki peningkatan perluasan dengan rata-rata Ha, namun kemudian terus turun hingga tahun 2008, dan pada tahun 2009 meningkat sebesar 0,6 persen. Pertumbuhan yang tertinggi terjadi pada tahun 2003 dengan pertumbuhan sebesar 1,9 persen. Sementara penurunan pertumbuhan yang signifikan terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 13,2 persen dimana dari total seluas Ha pada tahun 2005 menurun menjadi seluas Ha pada tahun Gambar 12 juga memperlihatkan bagaimana volume produksi kayu manis Indonesia mengalami peningkatan tertinggi dari tahun 2001 hingga tahun Berbeda dengan luas areal kayu manis yang memilik pertumbuhan negatif, rata-rata

12 48 volume produksi kayu manis Indonesia positif sebesar 13,9 persen atau ton, dengan pertumbuhan tertinggi yang terjadi pada tahun 2004, dimana pada tahun 2003 volume produksi adalah ton meningkat sangat tinggi hingga menjadi ton pada tahun Jika ada pertumbuhan volume produksi tertinggi maka ada volume produksi terendah, yang terjadi pada tahun 2006 karena terjadi penurunan pertumbuhan sebesar 6,3 persen. Pada tahun 2006 tersebut merupakan satu-satunya penurunan volume produksi kayu manis Indonesia yaitu dari tahun 2005 dengan volume produksi ton menurun menjadi ton pada tahun Daerah sentra produksi kayu manis Indonesia adalah Provinsi Jambi dengan produksi seberat ton, sedangkan posisi dua diduduki Sumbar dengan produksi total ton sedangkan posisi ketiga sebagai daerah sentra kayu manis diduduki Sumatera Utara dengan volume yang jauh dibawah kedua pesaing tersebut yaitu seberat ton (Ditjenbun, 2008) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Daerah Sentra Kelapa Sawit Indonesia Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran yang cukup penting dalam perekonomian Indonesia, karena merupakan andalan ekspor sehingga menghasilkan devisa diluar minyak dan gas. Selain itu pasar dalam negeri juga masih terbuka untuk menyerap produk kelapa sawit berupa CPO dan PKO untuk minyak goreng, lemak khusus dan sabun mandi (BPS, 2005). Disamping itu minyak kelapa sawit juga merupakan salah satu bahan yang dapat dijadikan sumber bahan bakar atau energi seperti biodiesel yang terbarukan untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi yang semakin tipis persediaannya ( Ditjen Perkebunan, 2006). Kebijakan pemerintah untuk mendukung perkembangan kelapa sawit Indonesia sampai tahun 2010 antara lain (Ditjenbun, 2006) : 1. Peningkatan produktivitaas dan mutu 2. Pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah 3. Pengembangan industri minyak goreng atau minyak makan terpadu

13 49 4. Fasilitasi dukungan penyediaan dana Dari kebijakan tersebut terlihat dampaknya, bagaimana luas areal kelapa sawit Indonesia yang terus meningkat dan tidak mengalami penurunan luas areal pada rentang tahun 2001 hingga Luas areal pada tahun 2001 adalah seluas Ha dan pada tahun 2009 menjadi seluas Ha, dengan rata-rata pertumbuhan luas areal sebesar 0,07 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2009 dengan pertumbuhan sebesar 0,1 persen dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2004 yang berada di bawah 0,001 persen. Peningkatan yang terus terjadi pada luas areal kelapa sawit terlihat jelas pada Gambar 13. Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 13. Perkembangan Luas Areal dan Volume Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun Indonesia memiliki volume produksi kelapa sawit yang meningkat dari tahun 2001 hingga 2007, kemudian turun pada tahun 2008 dan meningkat kembali pada tahun 2009 (Gambar 13), kondisi ini berbeda dengan luas areal yang terus meningkat. Penurunan pertumbuhan pada tahun 2008 adalah sebesar 0,007 persen, untuk pertumbuhan tertinggi volume produksi terjadi pada tahun 2006 dengan persentase pertumbuhan 0,4 persen, dimana pada tahun 2005 volume produksi seberat ton menjadi ton pada tahun Rata-rata volume produksi kelapa sawit Indonesia dari tahun 2001 hingga 2009 adalah seberat ton. Daerah yang menjadi sentra produksi kelapa sawit Indonesia yang dilihat dari volume produksi tahun 2003 hingga 2009 adalah provinsi Riau, dimana provinsi

14 50 tersebut memilliki pertumbuhan rata-rata 18,3 persen. Daerah Sumatera masih menjadi sentra kelapa sawit Indonesia, setelah Riau dengan produksi rata-rata tertinggi, diposisi kedua diduduki provinsi Sumatera Utara dengan pertumbuhan ratarata 3,2 persen dan daerah sentra produksi ketiga adalah Sumatera Selatan dengan pertumbuhan rata-rata yang lebih tinggi dari posisi kedua yaitu sebesar 15,3 persen (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Kelapa Indonesia Gambar 14 dapat terlihat bagaimana luas areal perkebunan kelapa Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun 2001 hingga Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 14. Perkembangan Luas Areal dan Volume Produksi Kelapa Indonesia Tahun Peningkatan luas areal kelapa hanya terjadi pada tahun 2003, 2005 dan 2009, akibatnya pertumbuhan rata-rata luas areal kelapa negatif yaitu dengan persentase 0,3 persen. Pertumbuhan negatif pada luas areal kelapa terjadi pada tahun 2004, yaitu dari Ha luas areal kelapa pada tahun 2003 menjadi seluas Ha pada tahun Sementara diantara tiga tahun yang mengalami peningkatan pertumbuhan tersebut, tahun 2003 merupakan luas areal yang memiliki pertumbuhan

15 51 tertinggi sekaligus menjadi areal perkebunan kelapa yang terluas diantara sembilan tahun tersebut yaitu seluas Ha. Volume produksi kelapa Indonesia pada tahun 2001 hingga 2009 memiliki pertumbuhan yang lambat yaitu 0,4 persen. Penurunan pertumbuhan hanya terjadi pada tahun 2002 dan 2004, dimana tahun 2004 merupakan penurunan pertumbuhan volume produksi yang paling besar yaitu 6,1 persen, akibat dari berkurangnya luas areal pada tahun tersebut, padahal tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2003 merupakan pertumbuhan volume produksi dan luas areal kelapa tertinggi dengan pertumbuhan volume produksi sebesar 5 persen. Penurunan pertumbuhan pada tahun 2004 seakan-akan membuat para pemilik perkebunan kelapa terbangun, sebab setelah itu volume produksi kelapa terus mengalami peningkatan hingga mencapai angka ton pada tahun 2009 (Gambar 14). Provinsi Riau selain kaya akan produksi kelapa sawitnya, juga memiliki volume produksi kelapa yang tinggi dibandingkan rata-rata produksi provinsi lainnya yang dilihat dari tahun 2003 hingga tahun Walaupun memiliki rata-rata pertumbuhan hanya sebesar 0,8 persen yang lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat yang memiliki rata-rata pertumbuhan 8,6 persen, Provinsi Riau masih memiliki rata-rata produksi yang lebih tinggi. Sulawesi Utara dan Jawa Timur bersaing dibawah Provinsi Riau dengan rata-rata pertumbuhan produksi kelapa yang sama-sama menurun sebesar 0,3 dan 0,5 persen (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Produksi Kopi Indonesia Tahun 2002, 2004 dan 2006 terjadi pertumbuhan luas areal kopi, sedangkan selain tahun tersebut luas areal kopi Indonesia mengalami penurunan (Gambar 15). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 4,4 persen, selain itu pada tahun 2002 juga menjadi tahun yang memiliki luas areal kopi yang paling luas dari tahun lainnya, yaitu seluas Ha. Sementara untuk pertumbuhan terendah bahkan negatif terjadi setelah tahun 2002 yang merupakan tahun dengan

16 52 pertumbuhan tertinggi yaitu penurunan sebesar 5,8 persen, menjadi Ha pada tahun Lusa Areal (Ha) dan Volume Ekspor (Ton) Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 15. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kopi Indonesia Tahun Pertumbuhan rata-rata yang negatif pada luas areal kopi Indonesia tidak terjadi dalam volume produksinya, karena memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 2,5 persen. Pada tahun 2002 yang merupakan luas areal yang terluas untuk areal kopi menjadikan volume produksi pada tahun ini juga sangat tinggi yaitu memiliki pertumbuhan sebesar 19,8 persen. Sementara untuk pertumbuhan terendah bahkan terjadi penurunan yaitu pada tahun 2004 yaitu sebesar 3,5 persen, walaupun disisi lain terjadi peningkatan luas areal pada tahun tersebut. Gambar 15 juga terlihat volume produksi dengan rata-rata senilai ton dari tahun 2001 hingga Rata-rata produksi kopi tertinggi di Indonesia berada pada Provinsi Sumatera Selatan, dengan rata-rata pertumbuhan yang negatif sebesar 0,6 persen provinsi tersebut harus bersaing dengan Lampung yang memiliki pertumbuhan rata-rata volume produksi yang lebih baik, yaitu sebesar 0,3 persen. Dilihat dari selisih produksi rata-rata dari tahun 2004 hingga 2009 kedua provinsi tersebut hanya berbeda kurang lebih 2000 ton. Bengkulu menjadi provinsi dengan rata-rata produksi terbesar ketiga Indonesia, dengan rata-rata produksi yang jauh dibawah Sumatera Selatan dan

17 53 Lampung. Pertumbuhan rata-rata produksi kopi Lampung juga lebih rendah dari pada Provinsi Sumatera Selatan yang negatif sebesar 2,6 persen (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Produksi Lada Indonesia Luas areal perkebunan lada Indonesia memiliki pertumbuhan yang lambat dari rentang waktu tahun 2001 hingga 2009 yaitu sebesar 0,07 persen. Pada tahun 2002 luas areal lada mencapai pertumbuhan tertingginya yaitu dari seluas Ha pada tahun 2001 menjadi seluas Ha pada tahun 2002, sementara tahun 2003 menjadi lahan yang terluas yang dimiliki Indonesia untuk perkebunan lada, dengan luas Ha (Gambar 16). Pada tahun 2004 sebenarnya telah terjadi penurunan luas areal tanaman lada, namun penurunan luas areal tertinggi terjadi pada tahun 2005 dengan persentase 4,7 persen. Tahun 2009 ditutup dengan Ha luas areal tanaman lada. Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 16. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Lada Indonesia Tahun Produksi lada pada satu dekade terkhir ini mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Dengan rata-rata pertumbuhan volume produksi sebesar 0,3 persen, pertumbuhan volume produksi pada tahun 2002 merupakan pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 9,8 persen, dimana hal tersebut diakibatkan luas areal yang

18 54 juga mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun tersebut. Sementara mengikuti luas areal yang mencapai luas tertinggi pada tahun 2003, volume produksi juga mencapai nilai yang tertinggi pada tahun tersebut dengan berat ton. Penurunan luas areal yang terjadi pada tahun 2004 menyebabkan volume produksi lada pada tahun tersebut mengalami penurunan pertumbuhan yang darstis bahkan negatif yaitu sebesar 15,1 persen. Fluktuasi volume produksi lada pada Gambar 16 menjadikan pertumbuhan volume produksi lambat seperti pertumbuhan luas areal komoditi lada. Memiliki rata-rata pertumbuhan 2,3 persen, Lampung menduduki posisi pertama sebagai daerah produksi sentra lada dengan rata-rata produksi ,5 ton. Dibawahnya ada Bangka Belitung, walaupun provinsi baru tersebut memiliki pertumbuhan produksi rata-rata yang negatif, yaitu 5,7 persen, namun memiliki produksi rata-rata yang masih tinggi. Kalimantan Timur berada diposisi tiga, walaupun memiliki rata-rata pertumbuhan produksi yang lebih baik yaitu 6,5 persen. Provinsi Sumatera Selatan merupakan provinsi yang memiliki rata-rata pertumbuhan produksi yang tinggi, yaitu sebesar 37,3 persen dan duduk diposisi kelima sebagai daerah sentra lada Indonesia (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Produksi Pala Indonesia Areal perkebunan pala memiliki pertumbuhan luas yang tinggi dibandingkan dengan luas areal perkebunan lain, yaitu sebesar lima persen dari rentang waktu 2001 hingga Penurunan luas areal pala dan bahkan negatif hanya terjadi pada tahun 2005 dan 2006, dimana pada tahun 2005 merupakan penurunan yang tertinggi yaitu 7,1 persen dan pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan yang negatif sebesar 0,8 persen, sementara untuk tahun sebelum dan sesudahnya mengalami pertumbuhan dan peningkatan luas areal. Tahun 2008 merupakan pertumbuhan yang tertinggi luas areal pala Indonesia yaitu sebesar 15,6 persen, namun untuk tahun yang memiliki perkebunan pala yang terluas terjadi pada tahun 2009 dengan luas Ha. Gambar 17 akan terlihat penurunan luas areal pada tahun 2005 dan 2006.

19 55 Berbeda dengan luas areal yang juga terlihat pada Gambar 17, pertumbuhan volume produksi mengalami pertumbuhan yang negatif yaitu 4,1 persen. Pertumbuhan yang negatif tersebut diakibatkan penurunan volume produksi yang drastis pada tahun 2004 yaitu dari volume produksi seberat ton pada tahun 2003 menjadi ton pada tahun 2004 atau menurun lebih dari 50 persen, sedangkan pada tahun tersebut luas areal pala mengalami pertumbuhan, kemudian diikuti tahun berikutnya dengan penurunan pertumbuhan yang negatif sebesar 20 persen lebih. Pertumbuhan volume produksi pala tertinggi pada tahun 2008 sebesar 23,3 persen tidak bisa membuat pertumbuhan rata-rata volume produksi pala menjadi positif. Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 17. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Pala Indonesia Tahun Daerah sentra pala Indonesia yang dilihat dari produksi tahun 2003 hingga 2007 adalah Provinsi Maluku Utara, dan provinsi ini pun mengalami rata-rata pertumbuhan produksi yang negatif yaitu 21,9 persen. Nanggroe Aceh Darussalam yang menempati posisi kedua sebagai daerah sentra pala juga memiliki rata-rata pertumbuhan produksi yang negatif yaitu sebesar 10,2 persen, hanya Sulawesi Utara sebagai daerah sentra cengkeh yang duduk diposisi tiga besar memiliki rata-rata pertumbuhan produksi yang positif yaitu sebesar 5,6 persen (Ditjenbun).

20 Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Produksi Teh Indonesia Perkembangan luas areal teh Indonesia dalam rentang waktu sembilan tahun ini menunjukan penurunan, yang membuat rata-rata pertumbuhannya pun negatif yaitu 2,4 persen. Dari tahun 2001 hingga 2009 tidak ada kemajuan dalam luas areal lahan perkebunan teh Indonesia, penurunan luas areal tertinggi terjadi pada tahun 2003 dengan 4,7 persen dan pada tahun 2008 kembali terjadi penurunan yang tinggi yaitu sekitar 4,5 persen. Gambar 18 akan memperlihatkan bagaimana luas areal pada tahun 2001 seluas Ha, menjadi seluas Ha pada tahun Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 18. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Teh Indonesia Tahun Gambar 18 juga memperlihatkan bagaimana perkembangan volume produksi yang memiliki rata-rata produksi ,6 ton. Walaupun sama seperti luas areal yang memiliki rata-rata penurunan luas areal, volume produksi juga memiliki volume yang rata-rata menurun, tetapi bedanya hal itu hanya dipengaruhi oleh tahun 2002 dan 2006, yang pada tahun tersebut volume produksi teh Indonesia mengalami penurunan yang drastis, penurunan satu persen pada tahun 2002 dan penurunan lebih dari 11 persen pada tahun 2006, yang mengakibatkan rata-rata volume produksi menurun 0,6 persen. Volume produksi teh Indonesia tertinggi dari rentang tahun 2001 hingga 2009 adalah pada tahun 2003 dengan volume produksi ton, dan tahun tersebut juga

21 57 merupakan pertumbuhan tertinggi volume produksi dengan 2,8 persen, walaupun disisi lain luas areal terus menurun. Provinsi penghasil teh terbesar di Indonesia hanya tersebar di tiga provinsi, Provinsi Jawa Barat merupakan penghasil teh utama Indonesia, walaupun demikian para pemilik perkebunan teh didaerah Jawa Barat harus terus meningkatkan produksinya, sebab rata-rata pertumbuhan produksinya negatif 0,6 persen. Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Tengah bersaing untuk menjadi daerah kedua sentra cengkeh Indonesia, Sumatera Utara memiliki rata-rata produksi seberat ton sedangkan Jawa Tengah berada dibawahnya dengan berat rata-rata ,2 ton (Ditjenbun) Perkembangan Luas Areal, Volume Produksi dan Sentra Produksi Tembakau Indonesia Perkembangan luas areal tembakau Indonesia mengalami fluktuatif dan cendrung menurun seperti yang terlihat pada Gambar 19. Luas Areal (Ha) dan Volume Tahun Luas Areal (Ha) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan Gambar 19. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Tembakau Indonesia Tahun Pada tahun 2001 luas areal pekebunan tembakau adalah seluas Ha, dan pada tahun 2009 hanya seluas , dengan pertumbuhan rata-rata yang

22 58 negatif yaitu 2,4 persen. Penurunan luas areal terjadi dalam lima tahun yaitu; 2002, 2004, 2005, 2006 dan 2008, sedangkan tahun lainnya mengalami peningkatan luas areal, walaupun belum bisa melebihi luas areal pada tahun 2001 yang merupakan luas areal terluas tembakau Indonesia rentang waktu sembilan tahun tersebut. Setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan dan yang penurunan yang paling drastis tahun 2004 yaitu 17,8 persen, pada tahun 2007 luas areal tembakau Indonesia mengalami peningkatan yang tajam yaitu 12,7 persen dan menurun kembali pada tahun 2008 dan meningkat pada tahun 2009, namun masih tidak mampu membuat rata-rata pertumbuhan luas areal tembakau menjadi positif. Mengikuti luas areal tembakau yang cendrung fluktuatif dan memiliki pertumbuhan yang negatif, volume produksi tembakau juga memiliki perkembangan yang sama dan nilai pertumbuhan yang sama-sama negatif seperti yang terlihat juga pada Gambar 19. Pada tahun 2003 merupakan tahun dengan volume terbesar tembakau Indonesia dari rentang tahun 2001 hingga Namun untuk pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 12,7 persen dimana pada saat itu terjadi pertumbuhan tertinggi juga untuk luas areal lahan. Untuk penurunan volume produksi tembakau Indonesia terjadi pada tahun yang sama dengan luas areal, kecuali tahun 2008 yang pada saat itu terjadi peningkatan produksi sebeasr 1,9 persen, kesamaan itu juga tergambar pada tahun 2003 dimana volume produksi juga mengalami penurunan yang paling drastis yaitu 17,8 persen. Setelah melihat bagaimana luas areal dan volume produksi tembakau Indonesia secara keseluruhan, daerah yang menjadi sentra produksi tembakau Indonesia adalah Provinsi Jawa Timur. Walaupun provinsi yang beribukotakan Surabaya ini menjadi nomor satu sebagai produksi tembakau, namun memiliki pertumbuhan produksi rata-rata yang negatif sebesar 0,7 persen. Posisi kedua diduduki Nusa Tenggara Barat memiliki rata-rata pertumbuhan yang lebih baik daripada Jawa Timur, yaitu sebesar 8,2 persen. Jawa Tengah yang berada di posisi ketiga juga memiliki rata-rata pertumbuhan yang lebih baik dari posisi satu namun masih ketinggalan dari posisi dua, rata-rata pertumbuhan produksi tembakau provinsi ini adalah sebesar 3,4 persen (Ditjenbun).

23 Perkembangan Volume Ekspor Perkebunan Indonesia ke Negara Importir Utama dan Dunia Volume ekspor Indonesia ke sebelas negara utama memiliki keadaan volume yang berbeda-beda. Ini diakibatkan karena permintaan akan suatu komoditi dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Faktor lain yang dapat menyebabkan perbedaan tersebut diakibatkan oleh kemampuan negara kita dalam memberikan supply akan komoditi tersebut, dan faktor-faktor lainnya seperti nilai ekspor yang tinggi, mutu hasil perkebunan maupun bencana alam. Perbedaan-perbedaan volume ekspor tersebut dapat dilihat dalam subbab-subbab komoditi perkebunan Perkembangan Volume Ekspor Cengkeh Volume ekspor cengkeh Indonesia ke sebelas negara utama pada tahun 2001 adalah sebesar 84,2 persen dari total volume ekspor cengkeh Indonesia ke dunia seberat Kg dan sisanya ke negara lain diluar sebelas negara utama. Singapura merupakan negara yang kita ekspor paling besar yaitu sebesar 34,9 persen atau sebesar Kg dari total volume ekspor cengkeh kita, Belanda dan India menjadi negara kedua dan ketiga terbesar ekspor cengkeh kita kenegara utama dengan persentase berturut-turut adalah 24,8 persen dan 15,8 persen. Ada tiga negara yang tidak impor cengkeh dari Indonesia pada tahun 2001 ini yaitu Australia, Belgia dan Jepang seperti yang terlihat pada Gambar 20. Gambar 20 tersebut juga dapat terlihat pada tahun 2005 terjadi penurunan volume ekspor kesebelas negara utama tersebut, dari total volume ekspor yang meningkat menjadi Kg, total hanya 54,2 persen yang diekspor kesebelas negara tersebut. Volume ekspor Indonesia ke India adalah sebesar 25,5 persen dari total ekspor, ini merupakan volume ekspor terbesar Indonesia ke negara utama pada tahun ini, sementara Singapura mengimpor dengan persentase sebesar 19,1 persen dari total ekspor Indonesia. Bedanya pada tahun 2005 ini Indonesia mengekspor cengkeh kesemua negara utama tersebut, walaupun volume ekspornya kecil, Belgia merupakan salah satunya, dengan impor cengkeh dari Indonesia sebesar 0,1 persen dari total ekspor Indonesia. Walaupun volume ekspor Indonesia ke dunia menurun pada tahun 2009 menjadi Kg,

24 60 namun terjadi peningkatan volume ekspor kita ke negara utama yaitu menjadi sebesar 62,2 persen. India masih menjadi negara terbesar pasar cengkeh Indonesia dengan hasil perkebunan cengkeh yang diekspor sebesar 43,6 prersen dari total ekspor cengkeh Indonesia ke dunia. Sama seperti tahun 2005, semua negara utama mengimpor cengkeh dari Indonesia dan Jerman menjadi negara yang terkecil, yaitu dibawah 0,01 persen dari total ekspor Indonesia. Gambar 32 akan terlihat bagaimana India selama dua tahun menjadi negara tujuan ekspor cengkeh Indonesia. Negara Tujuan United States Singapore Netherland Malaysia Japan India United Kingdom Germany China Belgium Australia Volume Ekspor dalam Kg Sumber : UNComtrade Gambar 20. Volume Ekspor Cengkeh Indonesia Tahun 2001, 2005 dan 2009 ke Sebelas Negara Importir Utama Perkembangan Volume Ekspor Kacang Mete Volume Ekspor kacang mete Indonesia ke dunia pada tahun 2001 adalah sebesar Kg dengan total sebesar 80,5 persennya diekspor ke negara utama dan sisanya ke negara lainnya. Indonesia mengekspor kacang mete terbesar pada tahun tersebut ke India 79,8 persen atau sebesar Kg dari total ekspor kacang mete Indonesia kedunia, sementara Australia, Belgia dan Inggris tidak mengimpor kacang mete dari Indonesia. Setelah Indonesia mengekspor ke India, sisanya negara kita hanya mengekspor di bawah nol persen untuk negara utama lainnya dari total volume ekspor kita. India masih menjadi negara tujuan ekspor kacang mete Indonesia pada tahun 2005 dengan persentase 78,1 persen dari total

25 61 volume ekspor sebesar Kg Indonesia kedunia. Pada tahun ini ekspor Indonesia ke negara utama menurun menjadi total sebesar 78,2 persen, dimana India yang menjadi tujuan utama, dan ada beberapa negara yang tidak impor dari Indonesia yaitu Australia, Belgia, Jerman, Inggris dan Belanda, sementara China dan Jepang tidak impor kacang mete pada tahun 2005 ini. Belgia, China, Inggris dan Belanda kembali tidak impor kacang mete dari Indonesia pada tahun 2009, disisi lain India masih sebagai negara tujuan ekspor kacang mete Indonesia. Volume ekspor sebesar Kg atau sebesar 63,9 persen kacang mete Indonesia diekspor ke India dari total ekspor Indonesia ke dunia sebesar Kg. Pada tahun ini ekspor Indonesia kenegara utama kembali menurun menjadi 64,5 persen dan sisanya diekspor kenegara lain. India yang menjadi negara tujuan ekspor kacang mete Indonesia pada tahun 2001, 2005 dan 2009 dapat terlihat jelas pada Gambar 21. Negara Tujuan United States Singapore Netherlands Malaysia Japan India United Kingdom Germany China Belgium Australia United Singapore Netherlands Malaysia Japan United Germany China Belgium Australia Volume Ekspor dalam Kg Sumber : UNComtrade Gambar 21. Volume Ekspor Kacang Mete Indonesia Tahun 2001, 2005 dan 2009 ke Sebelas Negara Importir Utama Perkembangan Volume Ekspor Kakao Total Indonesia mengekspor sebesar 87,7 persen ke negara importir utama dari total Kg ekspor kakao Indonesia ke dunia pada tahun Diantara sebelas negara utama, hanya Australia yang tidak impor kakao dari Indonesia, sementara negara yang menjadi tujuan utama ekspor kakao Indonesia yang

26 62 dilihat dari volume adalah Amerika Serikat dengan mengimpor 42,5 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia ke dunia pada tahun tersebut. Malaysia dan Singapura mengimpor sebesar 25,8 persen dan 11,8 persen dari total ekspor kakao Indonesia ke dunia. Negara lain seperti Belgia, Inggris, India, Jepang dan Belanda mengimpor dibawah nol persen dari total volume ekspor kakao Indonesia. Terjadi peningkatan volume ekspor kakao Indonesia kedunia pada tahun 2005 menjadi Kg, dari total volume tersebut ekspor kakao Indonesia ke negara utama sebesar 87,4 persen. Malaysia menjadi tujuan ekspor utama Indonesia pada tahun ini dengan mengekspor 42,5 persen dari total volume ekspor Indonesia (Gambar 22). Volume ekspor kakao Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura adalah sebesar Kg dan Kg, volume tersebut menjadikan negara tersebut sebagai tujuan ekspor kedua dan ketiga terbesar hasil kakao Indonesia, sementara Australia masih belum impor kakao dari Indonesia. Negara Tujuan United States Singapore Netherlands Malaysia Japan India United Kingdom Germany China Belgium Australia Sumber : UNComtrade Gambar 22. Volume Ekspor Kakao Indonesia Tahun 2001, 2005 dan 2009 ke Sebelas Negara Importir Utama Volume ekspor kakao Indonesia kembali meningkat pada tahun 2009 menjadi Kg, Malaysia masih menjadi negara tujuan ekspor kakao Indonesia dengan persentase Volume Ekspor dalam Kg 41,6 persen dari total 86,4 persen ekspor kakao Indonesia ke negara utama. Amerika Serikat dan Singapura juga masih menjadi

27 63 negara tujuan ekspor kakao Indonesia terbesar kedua dan ketiga dengan masingmasing memiliki volume impor Kg dan Kg kakao dari total ekspor ke dunia. Pada tahun 2009 ini Inggris yang tidak mengimpor kakao dari Indonesia, sementara Jerman dan China yang mengimpor dibawah 2 persen dan negara lainnya mengimpor di bawah nol persen dari total ekspor Indonesia ke dunia Perkembangan Volume Ekspor Karet Total Kg volume ekspor karet Indonesia ke seluruh dunia pada tahun 2001, sebesar 82,1 persennya diekspor ke negara utama. Amerika Serikat merupakan negara yang menjadi tujuan utama ekspor karet alam Indonesia yaitu sebesar 60,2 persen dari total ekspor Indonesia ke negara utama, tujuan ekspor karet alam Indonesia kenegara utama yang kedua adalah Jerman dengan persentase sebesar 6,7 persen dan tujuan kenegara utama yang ketiga adalah Inggris dengan 4 persen. Pada tahun ini negara utama yang tidak impor dari Indonesia hanya India. Volume ekspor karet alam Indonesia pada tahun 2005 menurun drastis menjadi Kg (Gambar 23). Dari sebelas negara utama ada tiga negara yang tidak mengimpor karet alam dari Indonesia yaitu Inggris, India dan Malaysia, sementara negara utama yang menjadi tujuan utama ekspor karet Indonesia adalah Amerika Serikat dengan persentase lebih dari 30 persen, China dengan persentase 22,5 persen dan Belanda dengan 7,8 persen dari total 75,5 persen ekspor karet alam Indonesia ke negara utama. Sedangkan negara utama lainnya mengekspor dibawah lima persen. Volume ekspor karet alam Indonesia ke dunia meningkat pada tahun 2009 menjadi Kg, dimana sebesar 73,3 persennya diekspor kenegara utama. China menjadi negara tujuan utama diantara sebelas negara lainnya dengan mengimpor 61,4 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia. Sementara Malaysia dan Amerika Serikat menjadi negara utama yang memiliki volume ekspor karet alam Indonesia terbesar kedua dan ketiga dengan persentase masing-masing 8,3 persen dan 2,5 persen dari total ekspor kedunia. Pada tahun ini ada empat negara utama yang tidak impor karet alam dari Indonesia, diantaranya hanya Inggris yang kembali tidak impor karet alam Indonesia

28 64 setelah tahun 2005, sedangkan negara utama yang tidak ekspor pada tahun 2009 adalah Australia, Belanda dan Singapura. Negara Tujuan United States Singapore Netherlands Malaysia Japan India United Kingdom Germany China Belgium Australia Volume Ekspor dalam Kg Sumber : UNComtrade Gambar 23. Volume Ekspor Karet Indonesia Tahun 2001, 2005 dan 2009 ke Sebelas Negara Importir Utama Perkembangan Volume Ekspor Kayu Manis Amerika Serikat negara utama yang menjadi tujuan utama ekspor kayu manis Indonesia, dari total Kg ekspor kayu manis Indonesia ke dunia sebesar 48,6 persennya diekspor ke Amerika Serikat, sementara total keseluruhan ekspor kayu manis ke negara utama adalah 78,2 persen dari total ekspor kayu manis Indonesia ke dunia pada tahun Belanda, Singapura, Jerman dan Malaysia berturut-turut berada dibawah Amerika serikat sebagai negara utama yang menjadi tujuan ekspor kayu manis Indonesia dengan persentase masing-masing 16 persen, 6 persen dan lebih dari dua persen untuk Jerman dan Malaysia, negara utama lain masih impor dibawah 2 persen dan nol persen, kecuali China yang tidak impor kayu manis dari Indonesia di tahun 2001 ini. Tahun 2005, volume ekspor kayu manis Indonesia ke pasar dunia mengalami peningkatan menjadi Kg (Gambar 24), dari total tersebut sebesar 71,8 persen diekspor kenegara utama, Amerika Serikat masih menjadi negara utama yang menjadi tujuan utama ekspor kayu manis Indonesia dengan persentase 40,8 persen. Negara utama seperti Belanda mengimpor sebesar 17

29 65 persen, Jerman 4,1 persen, Singapura 3,3 persen, Malaysia dan India di atas dua persen dari total ekspor kayu manis Indonesia kedunia. Sedangkan negara utama lainnya masih mengekspor dibawah nol persen. Penurunan volume ekspor kayu manis Indonesia terjadi pada tahun 2009, bahkan volume ekspor kayu manis pada tahun ini lebih rendah dari volume ekspor pada tahun Volume ekspor seberat Kg Indonesia kedunia, sebesar 60,2 persen masih diekspor ke negara utama. Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor kayu manis Indonesia dengan persentase sebesar 40,3 persen dari total ekspor kayu manis ke negara utama. Malaysia menjadi negara utama dengan volume ekspor tertinggi kedua, yaitu di atas lima persen dari total ekspor kayu manis Indonesia, dibawahnya ada Belanda dan Jerman dengan persentase diatas tiga persen, China, India dan Singapura yang diekspor Indonesia diatas 2 persen, sedangkan negara utama lainnya berada dibawah nol persen dari total volume ekspor kayu manis Indonesia kedunia. Negara Tujuan United States Singapore Netherlands Malaysia Japan India United Kingdom Germany China Belgium Australia Volume Ekspor dalam Kg Sumber : UNComtrade Gambar 24. Volume Ekspor Kayu Manis Indonesia Tahun 2001, 2005 dan 2009 ke Sebelas Negara Importir Utama Perkembangan Volume Ekspor Kelapa Sawit Volume ekspor CPO Indonesia kepasar dunia pada tahun 2001 adalah sebesar Kg, dimana lebih dari 86 persennya diekspor kenegara utama. India, Belanda dan Singapura merupakan tiga negara utama yang mengimpor paling besar

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di kawasan Asia Tenggara dan berada di sekitar garis khatulistiwa, sehingga memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis.

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian masih menjadi salah satu primadona Indonesia untuk jenis ekspor non-migas. Indonesia tidak bisa menggantungkan ekspornya kepada sektor migas saja sebab

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab V. GAMBARAN UMUM 5.1. Prospek Kakao Indonesia Indonesia telah mampu berkontribusi dan menempati posisi ketiga dalam perolehan devisa senilai 668 juta dolar AS dari ekspor kakao sebesar ± 480 272 ton pada

Lebih terperinci

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula.

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula. V. EKONOMI GULA 5.1. Ekonomi Gula Dunia 5.1.1. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia Peningkatan jumlah penduduk dunia berimplikasi pada peningkatan kebutuhan terhadap bahan pokok. Salah satunya kebutuhan pangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas.

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. Komoditas yang ditanami diantaranya kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, dan komoditas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menyumbang devisa negara yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menjadi pemasok hasil pertanian yang beranekaragam yaitu rempah-rempah

I. PENDAHULUAN. menjadi pemasok hasil pertanian yang beranekaragam yaitu rempah-rempah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang cukup besar di dunia. Pada masa zaman pemerintahan Hindia-Belanda, Indonesia merupakan negara terkenal yang menjadi pemasok hasil

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT

5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT 27 5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit yang menjadi salah satu tanaman unggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian dari waktu ke waktu semakin meningkat. Lada merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka, di mana lalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang berasal dari buah kelapa sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan. Minyak

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878. V. GAMBARAN UMUM 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia Luas lahan robusta sampai tahun 2006 (data sementara) sekitar 1.161.739 hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.874

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Subsektor perkebunan merupakan bagian dari sektor pertanian yang memegang peranan penting bagi perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan dari nilai devisa yang dihasilkan.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik

Lebih terperinci

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA 83 V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA 5.1. Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur Indonesia Tebu merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tujuan penanaman tebu adalah untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang. melimpah dan dikenal dengan sebutan negara agraris, sehingga pertanian

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang. melimpah dan dikenal dengan sebutan negara agraris, sehingga pertanian 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah dan dikenal dengan sebutan negara agraris, sehingga pertanian merupakan sektor yang penting dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Teh merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri teh mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyumbang devisa, kakao (Theobroma cacao) juga merupakan salah satu

I. PENDAHULUAN. penyumbang devisa, kakao (Theobroma cacao) juga merupakan salah satu I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang mengandalkan sektor migas dan non migas sebagai penghasil devisa. Salah satu sektor non migas yang mampu memberikan kontribusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Pada saat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam mengembangkan ekspor produk pertanian, khususnya komoditas dari subsektor perkebunan. Besarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Lada atau pepper (Piper nigrum L) disebut juga dengan merica, merupakan jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah menjadi

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN

BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN 5.1 Komoditas Perkebunan Komoditi perkebunan merupakan salah satu dari tanaman pertanian yang menyumbang besar pada pendapatan nasional karena nilai ekspor yang tinggi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 14/03/12/Thn. XIX, 01 Maret PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN JANUARI SEBESAR US$574,08 JUTA Nilai ekspor

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini dilihat dari kontribusi sektor

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya sebagian besar adalah petani. Sektor pertanian adalah salah satu pilar dalam pembangunan nasional Indonesia. Dengan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN 2012-2016 Murjoko Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret email: murjoko@outlook.com Abstrak Indonesia merupakan negara yang

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 02/01/12/Th.XIX, 04 Januari 2016 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA 1. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN NOVEMBER 2015 SEBESAR US$607,63 JUTA.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kopi Indonesia merupakan salah satu komoditas perkebunan yang telah di ekspor

BAB I PENDAHULUAN. Kopi Indonesia merupakan salah satu komoditas perkebunan yang telah di ekspor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi Indonesia merupakan salah satu komoditas perkebunan yang telah di ekspor ke pasar dunia. Dari total produksi kopi yang dihasilkan oleh Indonesia, sekitar 67% kopinya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor pertanian secara potensial mampu memberikan kontribusi

Lebih terperinci

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting di Indonesia yang berperan sebagai sumber utama pangan dan pertumbuhan ekonomi.

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan

BAB I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan perekonomian nasional dan menjadi sektor andalan serta mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 02/01/12/Thn. XX, 3 Januari 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN NOVEMBER SEBESAR US$723,68 JUTA Nilai

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA

ISSN OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA ISSN 1907-1507 OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK LADA ii

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 2 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM EKONOMI KELAPA SAWIT DAN KARET INDONESIA

V. GAMBARAN UMUM EKONOMI KELAPA SAWIT DAN KARET INDONESIA V. GAMBARAN UMUM EKONOMI KELAPA SAWIT DAN KARET INDONESIA Pada bab V ini dikemukakan secara ringkas gambaran umum ekonomi kelapa sawit dan karet Indonesia meliputi beberapa variabel utama yaitu perkembangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari peran sektor pertanian tersebut dalam perekonomian nasional sebagaimana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan berbagai jenis tanaman rempah rempah dan menjadi negara pengekspor rempah rempah terbesar di dunia. Jenis rempah rempah yang

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018

RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018 RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018 Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 30 Mei 2017 CAPAIAN INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN PERKEBUNAN NO.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melimpah. Memasuki era perdagangan bebas, Indonesia harus membuat strategi yang

BAB I PENDAHULUAN. melimpah. Memasuki era perdagangan bebas, Indonesia harus membuat strategi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Memasuki era perdagangan bebas, Indonesia harus membuat strategi yang tepat untuk

Lebih terperinci

KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016

KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016 KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN 2017 Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016 PERKEMBANGAN SERAPAN ANGGARAN DITJEN. PERKEBUNAN TAHUN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai Ekspor Sepuluh Komoditas Rempah Unggulan Indonesia

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai Ekspor Sepuluh Komoditas Rempah Unggulan Indonesia I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara penghasil rempah utama di dunia. Rempah yang dihasilkan di Indonesia diantaranya adalah lada, pala, kayu manis, vanili, dan cengkeh. Rempah-rempah

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL Gamal Nasir Direktorat Jenderal Perkebunan PENDAHULUAN Kelapa memiliki peran strategis bagi penduduk Indonesia, karena selain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dijadikan andalan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dijadikan andalan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dijadikan andalan adalah subsektor perkebunan. Sebagai salah satu subsektor yang penting dalam sektor pertanian,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 25/04/12/Thn.XVIII, 01 April 2015 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA 1. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR US$555,47 JUTA. Nilai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam mengembangkan

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam mengembangkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam mengembangkan kegiatan ekonomi pedesaan melalui pengembangan usaha berbasis pertanian. Pertumbuhan sektor pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberlangsungan suatu negara dan diyakini merupakan lokomotif penggerak dalam

BAB I PENDAHULUAN. keberlangsungan suatu negara dan diyakini merupakan lokomotif penggerak dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era globalisasi seperti sekarang ini setiap negara melakukan perdagangan internasional. Salah satu kegiatan perdagangan internasional yang sangat penting bagi keberlangsungan

Lebih terperinci

Tabel 1. Neraca Perdagangan Luar Negeri Sumatera Utara Untuk Beberapa Periode Tahun

Tabel 1. Neraca Perdagangan Luar Negeri Sumatera Utara Untuk Beberapa Periode Tahun BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 18/03/12/Thn.XVIII, 02 Maret 2015 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA 1. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN JANUARI 2015 SEBESAR US$627,93 JUTA. Nilai

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA MEI 2012

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA MEI 2012 BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 41/07/12/Th. XV, 01 Juli 2012 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA MEI 2012 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN MEI 2012 SEBESAR US$771,76 JUTA. Nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor perkebunan didalam perekonomian di Indonesia memiliki perananan yang cukup strategis, antara lain sebagai penyerapan tenaga kerja, pengadaan bahan baku untuk

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 3 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL, KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

BAB. I PENDAHULUAN Secara umum sektor pertanian pada Pembangunan Jangka

BAB. I PENDAHULUAN Secara umum sektor pertanian pada Pembangunan Jangka BAB. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Secara umum sektor pertanian pada Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP-I) dapat dinilai telah berhasil melaksanakan peran-peran konvensionalnya, seperti : a)

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 29/05/12/Thn.XVIII, 04 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA 1. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN MARET SEBESAR US$645,79 JUTA. Nilai ekspor melalui

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya hubungan saling ketergantungan (interdependence) antara

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya hubungan saling ketergantungan (interdependence) antara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian setiap negara di dunia. Hal ini didorong oleh semakin meningkatnya hubungan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam menyumbangkan pendapatan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No.15/03/12/Thn. XX, 01 Maret PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN JANUARI SEBESAR US$707,83 JUTA Nilai ekspor melalui

Lebih terperinci

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR KOMODITI TEH INDONESIA. selama tahun tersebut hanya ton. Hal ini dapat terlihat pada tabel 12.

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR KOMODITI TEH INDONESIA. selama tahun tersebut hanya ton. Hal ini dapat terlihat pada tabel 12. 54 V. PERKEMBANGAN PRODUKSI DAN EKSPOR KOMODITI TEH INDONESIA 5.1 Perkembangan Produksi Teh Indonesia Perkembangan produksi teh Indonesia selama 1996-2005 cenderung tidak mengalami perubahan yang begitu

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 43/08/12/Thn. XX, 01 Agustus PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN JUNI SEBESAR US$632,13 JUTA Nilai ekspor melalui

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan potensial untuk dikembangkan menjadi andalan ekspor. Menurut ICCO (2012) pada tahun 2011, Indonesia merupakan produsen biji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjang peningkatan ekspor nonmigas di Indonesia. Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjang peningkatan ekspor nonmigas di Indonesia. Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting dalam menunjang peningkatan ekspor nonmigas di Indonesia. Indonesia merupakan negara produsen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pembangunan pertanian periode dilaksanakan melalui tiga

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pembangunan pertanian periode dilaksanakan melalui tiga 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Musyawarah perencanaan pembangunan pertanian merumuskan bahwa kegiatan pembangunan pertanian periode 2005 2009 dilaksanakan melalui tiga program yaitu :

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 33/06/12/Thn. XX, 02 Juni PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN APRIL SEBESAR US$775,84 JUTA Nilai ekspor melalui

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. yang penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cukup

PENDAHULUAN. yang penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cukup 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack.) merupakan salah satu komoditas yang penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Indonesia merupakan produsen

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional memiliki peranan penting sebagai motor penggerak perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu negara terhadap arus

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. daratan menjadi objek dan terbukti penyerapan tenaga kerja yang sangat besar.

PENDAHULUAN. daratan menjadi objek dan terbukti penyerapan tenaga kerja yang sangat besar. PENDAHULUAN Latar Belakang Kekayaan Negara Indonesia merupakan sebuah anugerah yang tidak ternilai. Seluruh potensi alam yang terkandung baik di dalam perut bumi Indonesia maupun di daratan dan lautan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 23/05/12/Thn. XX, 02 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN MARET SEBESAR US$831,16 JUTA Nilai ekspor melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan Negara Agraris. Hal ini dapat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan Negara Agraris. Hal ini dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia terkenal dengan sebutan Negara Agraris. Hal ini dapat ditunjukkan dengan besarnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian dan perkebunan. Dari seluruh luas

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM RUMPUT LAUT. Produksi Rumput Laut Dunia

V. GAMBARAN UMUM RUMPUT LAUT. Produksi Rumput Laut Dunia 41 V. GAMBARAN UMUM RUMPUT LAUT 5.1. Perkembangan Produksi dan Ekspor Rumput Laut Dunia 5.1.1. Produksi Rumput Laut Dunia Indonesia dengan potensi rumput laut yang sangat besar berpeluang menjadi salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan negara karena setiap negara membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia adalah komoditas kopi. Disamping memiliki peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Perumusan Masalah Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima tahun ke depan (2010-2014), Kementerian Pertanian akan lebih fokus pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha perkebunan merupakan usaha yang berperan penting bagi perekonomian nasional, antara lain sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi petani, sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, yang ditunjukkan oleh luas

I. PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, yang ditunjukkan oleh luas 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, yang ditunjukkan oleh luas lahan yang digunakan untuk pertanian. Dari seluruh luas lahan yang ada di Indonesia, 82,71

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul Provinsi Sumatera. dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha.

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul Provinsi Sumatera. dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan antar negara akan menciptakan pasar yang lebih kompetitif dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Kondisi sumber daya alam Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyerapan tenaga kerja dengan melibatkan banyak sektor, karena

I. PENDAHULUAN. penyerapan tenaga kerja dengan melibatkan banyak sektor, karena I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor yang mampu menciptakan penyerapan tenaga kerja dengan melibatkan banyak sektor, karena pengusahaannya dimulai dari kebun sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi apabila barang yang dihasilkan oleh suatu negara dijual ke negara lain

BAB I PENDAHULUAN. terjadi apabila barang yang dihasilkan oleh suatu negara dijual ke negara lain BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perdagangan Internasional merupakan kegiatan pertukaran barang dan jasa antara masyarakat di suatu negara dengan masyarakat di negara lain. Indonesia termasuk salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat menjanjikan. Pada masa depan, minyak sawit diyakini tidak hanya mampu menghasilkan berbagai hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

BAB I PENDAHULUAN. interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkebunan dan industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor usaha yang mendapat pengaruh besar dari gejolak ekonomi global, mengingat sebagian besar (sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia, yaitu sebagai penghasil devisa, sumber pendapatan petani,

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 2 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG 67 VI. PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG Harga komoditas pertanian pada umumnya sangat mudah berubah karena perubahan penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu. Demikian pula yang terjadi pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka dimana lalu lintas perekonomian internasional sangat penting dalam perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang berlimpah, dimana banyak Negara yang melakukan perdagangan internasional, Sumberdaya yang melimpah tidak

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI KAKAO

OUTLOOK KOMODITI KAKAO ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI KAKAO 2014 OUTLOOK KOMODITI KAKAO Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. negara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan ini diperlukan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. negara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan ini diperlukan oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan kegiatan transaksi jual beli antar negara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan ini diperlukan oleh setiap negara untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melimpah, menjadikan negara ini sebagai penghasil produk-produk dari alam

I. PENDAHULUAN. melimpah, menjadikan negara ini sebagai penghasil produk-produk dari alam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, menjadikan negara ini sebagai penghasil produk-produk dari alam yang dapat diandalkan salah

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 4 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 1 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sejak lama melakukan perdagangan internasional. Peningkatan ekspor dari sisi jumlah maupun jenis barang ataupun jasa selalu diupayakan dengan

Lebih terperinci

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016 Ringkasan Eksekutif Perkembangan Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Bulan Oktober 2016 A. Pertumbuhan Ekspor Impor Industri Pengolahan 12.000 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 0 Perkembangan Nilai Ekspor

Lebih terperinci

KOPI ANDALAN EKSPOR INDONESIA

KOPI ANDALAN EKSPOR INDONESIA JURNAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN ISSN : 2337-9572 MARKET INTELLIGENCE KOPI ANDALAN EKSPOR INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN RI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Undang-undang No. 25/1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Di Sumatera

Lebih terperinci