BAB I PENDAHULUAN. proses inovasi (Mention, 2011). Inovasi menjadi tema sentral dalam dunia bisnis di

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. proses inovasi (Mention, 2011). Inovasi menjadi tema sentral dalam dunia bisnis di"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini, inovasi telah diakui secara luas sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi sehingga meningkatkan ketertarikan dalam mempelajari proses inovasi (Mention, 2011). Inovasi menjadi tema sentral dalam dunia bisnis di tengah lingkungan yang terus berubah. Perusahaan yang ingin bertahan dalam sebuah persaingan bisnis harus mampu melakukan inovasi dan mengelola sumberdaya yang dimiliki agar menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan tersebut. Pandangan berbasis sumberdaya (resource-based view) oleh Barney (1991) memberikan pemahaman bagaimana suatu perusahaan penting dalam mengelola sumberdaya yang dimiliki agar menjadi keunggulan kompetitif. Walaupun perspektif berbasis sumberdaya sering menjadi acuan, beberapa pakar berpendapat bahwa perspektif berbasis sumberdaya memiliki beberapa kelemahan. Misal, Möller et al. (2008) mengungkap bahwa sumberdaya ditransformasikan dan ditawarkan kepada pelanggan terlalu berorientasi pada sisi internal organisasi sehingga mengesampingkan aspek relasional. Selanjutnya, Teece et al. (1997) menjelaskan bahwa pandangan berbasis sumberdaya tidak mempertimbangkan bagaimana mengembangkan dan memelihara sumberdaya perusahaan sepanjang waktu. Beberapa peneliti mengungkap beragamnya jenis sumberdaya dalam perusahaan. Misal, Wernerfelt (1984) mengatakan yang termasuk sumberdaya ialah merek, teknologi, keahlian karyawan, kontrak dagang, mesin, prosedur yang efisien, modal pendanaan. Selain itu, Grant (1991) menambahkan kategori sumberdaya 1

2 perusahaan seperti modal peralatan dan paten. Sementara itu Barney (1995) membagi sumberdaya perusahaan yang terdiri atas finansial, fisik, manusia dan organisasional. Lebih lanjut, Madhavaram dan Hunt (2008) mengatakan bahwa jenis sumberdaya adalah termasuk 1. finansial, 2. fisik, 3. legal, 4. manusia, 5. organisasional, 6. informasional, dan 7. sumberdaya relasional. Jadi secara garis besar, sumberdaya dapat dikategorikan berupa manusia, legal, fisik, finansial, organisasional, informasional dan relasional. Menurut Barney (1991), tidak semua aspek dari sumberdaya perusahaan dapat menjadi sumberdaya yang strategis. Suatu sumberdaya dapat menjadi strategis jika dapat bernilai, langka, sulit diimitasi, dan tidak mudah digantikan (Barney, 1991; Amit dan Schoemaker, 1993; Collis dan Montgomery, 2008). Karakteristikkarakteristik tersebut akan menjadikan sumberdaya lebih strategis dalam meraih keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Barney, 1991; Hall, 1993; Amit dan Schoemaker, 1993; Villalonga, 2004). Hal ini sesuai dengan pendapat Grant (1991) bahwa sumberdaya menjadi keunggulan bersaing dan bernilai ketika memiliki karakteristik yang berdaya tahan, transparansi informasi, sulit ditransfer, dan tidak mudah direplikasi. Secara umum, sumberdaya perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumberdaya berwujud dan sumberdaya tak berwujud (Wernerfelt, 1984; Chatterjee dan Wernerfelt, 1991; Hall, 1992, 1993; Carmeli, 2004; Galbreath, 2005). Sumberdaya tak berwujud dapat dipertimbangkan memainkan peran penting pada perusahaan dalam penciptaan nilai dan kesuksesan bisnis (Carmeli, 2004; Steenkamp dan Kashyap, 2010). Hal ini karena sumberdaya tak berwujud memiliki karakteristik tidak fleksibel sehingga akan lebih sulit diimitasi dibanding sumberdaya 2

3 berwujud yang fleksibel (Chatterjee dan Wernerfelt, 1991). Lebih lanjut, sumberdaya tak berwujud dipandang sebagai faktor penting dalam kesuksesan jangka panjang dan daya saing perusahaan (Itami dan Roehl, 1991; Fernandez et al., 2000). Studi Galbreath (2005) dan argumen Hitt et al. (2001a) juga mengungkap bahwa sumberdaya tak berwujud lebih berkontribusi pada kesuksesan perusahaan dan lebih mungkin menghasilkan keunggulan bersaing dibanding sumberdaya berwujud. Berbeda dengan sumberdaya keuangan dan fisik, sumberdaya tidak berwujud akan sulit bagi pesaing untuk menirunya, yang membuatnya menjadi sumber yang kuat dalam meraih keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Kaplan dan Norton, 2004). Penelitian empiris selama ini yang mengacu pada sumberdaya tak berwujud lebih banyak mengaitkannya secara langsung dengan keunggulan bersaing berkelanjutan (lihat Villalonga, 2004), dan dampak langsung sumberdaya tak berwujud terhadap kinerja atau profitabilitas (lihat Kumlu, 2014; Ang dan Wight, 2009; Galbreath dan Galvin, 2006; Delgado-Gomez et al., 2004). Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tersebut dapat diraih ketika perusahaan melakukan inovasi (lihat Chen et al., 2009; Ordarini dan Parasuraman, 2009; Hung dan Chou, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa rangkaian inovasi memiliki anteseden dan konsekuensi. Studi Luoma-Aho dan Halonen (2010) mengungkap peran sentral aset tak berwujud pada proses inovasi. Oleh karena itu, peran sumberdaya tak berwujud akan memiliki dampak lebih spesifik pada inovasi terlebih dahulu dibanding pada kinerja dan keunggulan bersaing berkelanjutan. Pada konteks proses inovasi di industri manufaktur sangat terkait dengan ketersediaan sumberdaya yang bersifat fisik karena penyediaan produk fisik membutuhkan input yang berwujud sebagai bahan baku. Hal ini menjadi tantangan 3

4 dan kelemahan dalam inovasi produk fisik karena sumberdaya berwujud dapat habis dan bisa saja tidak terbaharukan. Selama satu dekade terakhir, terjadi peningkatan perhatian akademisi dan peneliti dalam bidang manajemen pengetahuan pada pengaruh sumberdaya tak berwujud dalam kapabilitas inovasi (Huang et al., 2011). Sejalan dengan fenomena tersebut, Gronross (2000) dalam Kandampully (2002) mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan berkompetisi pada basis jasa dan tidak lagi pada basis produk fisik. Lebih lanjut, saat ini inovasi sering dikaitkan dan didominasi oleh industri manufaktur dengan teknologi tinggi sehingga mengabaikan inovasi pada jasa (Gadrey et al., 1995; Drejer, 2004; Djellal et al., 2013). Padahal, sektor jasa dalam ekonomi global mengalami perkembangan sehingga studi jasa terkhusus inovasi jasa bergerak menjadi isu sentral (Spohrer dan Maglio, 2008). Walaupun demikian, saat ini penelitian yang berkonsentrasi pada inovasi dalam sektor jasa relatif langka (lihat Tabel 1.1). Hal ini merupakan paradoks mengingat meningkatnya layanan dalam ekonomi, baik dari segi tenaga kerja dan nilai tambah (Durst et al., 2015). Banyak inovasi pada produk manufaktur mengasumsikan cara kerja yang sama dalam konteks jasa, dan mengabaikan kekhususan sifat jasa (Ordarini dan Parasuraman, 2009; Drejer, 2004) sedangkan studi Rubalcaba et al. (2010) menunjukkan terdapat perbedaan pola inovasi antara sektor jasa dan manufaktur. Perbedaan inovasi pada industri manufaktur dan jasa akan berpotensi berefek pada proses bisnis, kapabilitas dan relasi perusahaan (Aas dan Pedersen, 2000). Oleh karena itu, sangat penting memahami bagaimana proses inovasi tersebut terjadi dalam sektor jasa. Selama ini, area penelitian inovasi pada perusahaan jasa lebih banyak fokus di konteks negara maju (misal Amerika, Eropa, dan Australia) dan masih sangat kurang 4

5 penelitian di negara berkembang (Thakur dan Hale, 2013). Lebih lanjut, Alam (2007) mengatakan adanya perbedaan budaya dan sosial ekonomi suatu negara, akan mempengaruhi pengembangan jasa pada suatu negara. Pasar yang sangat besar di negara berkembang terkhusus kawasan Asia menjadikannya sangat potensial dalam pengembangan produk (Ozer, 2006). Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, sangat relevan sebagai konteks penelitian inovasi pada perusahaan jasa. Dalam konteks Indonesia, dengan adanya perubahan dan globalisasi di segala bidang termasuk bidang pendidikan, sehingga meningkatkan persaingan di bidang bisnis jasa pendidikan pada lembaga non formal seperti bimbingan belajar (Artati, 2007). Oleh karena itu, penelitian inovasi bisnis jasa (seperti lembaga bimbingan belajar/lembaga kursus) di Indonesia menjadi relevan dilakukan. Penelitian ini memfokuskan tiga jenis sumberdaya tak berwujud yaitu sumberdaya manusia, sumberdaya organisasional (misal, budaya perusahaan), sumberdaya relasional (misal, jaringan atau relasi). Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan empat alasan. Pertama, sumberdaya manusia, budaya perusahaan, jaringan atau relasi sangat tergantung pada perilaku manusia dibanding jenis sumberdaya tak berwujud lainnya seperti paten atau merek yang cenderung berkaitan dengan regulasi dan aspek legal penggunaan paten (Hall, 1992; 1993). Kedua, sumberdaya tak berwujud akan lebih berfokus pada aspek berbagi pengetahuan (Diefanbach, 2006) atau dalam istilah Kaplan dan Norton (2004) disebut sebagai perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Ketiga, penggunaan paten dalam konteks Indonesia belum terdokumentasi dengan baik (Indarti dan Postma, 2013) sehingga dalam penelitian ini, paten tidak dimasukkan sebagai objek sumberdaya tak 5

6 berwujud. Keempat, sumberdaya tak berwujud dapat meningkat atau bertambah kuantitas/kualitasnya secara simultan dan tidak berkurang walaupun telah digunakan (Itami dan Roehl, 1991; Fernandez et al., 2000; Diefanbach, 2006). Menurut Hall (1992; 1993) sumberdaya tak berwujud dapat diklasifikasikan sebagai aset atau kemampuan/kompetensi, dimana jaringan termasuk aset sedangkan pengetahuan praktis (know-how) dan budaya termasuk kategori kemampuan atau kompetensi. Beberapa penelitian yang menggunakan sumberdaya tak berwujud lebih berfokus pada aspek manusia dengan istilah modal intelektual atau modal manusia (lihat Subramanian dan Youndt, 2005; Cabrito et al., 2014; Kianto et al., 2014). Akan tetapi menurut Seppanen dan Makinen (2010) penggunaan istilah aset, sumberdaya, kapabilitas dan bahkan kompetensi diperlakukan secara sinonim. Hal ini menjadikan tidak adanya konsensus di antara para pakar akan makna dan terminologi yang pasti tentang sumberdaya tak berwujud (Villalonga, 2004; Diefanbach, 2006; Steenkamp dan Kashyap, 2010). Merujuk pada Barney (1991) maka dalam penelitian ini menggunakan istilah sumberdaya dalam mengurai konstruk variabel penelitian. Variabel sumberdaya tak berwujud dalam penelitian ini dikonseptualisasikan sebagai variabel independen. Definisi sumberdaya tak berwujud secara sederhana adalah segala sesuatu yang non fisik atau non material (Galbreath, 2005; Diefenbach, 2006). Definisi lain menyebutkan sumberdaya tak berwujud sebagai sumberdaya yang berbasis pada pengetahuan atau informasi (Itami dan Roehl, 1991; Fernandez et al., 2000). Sumberdaya manusia meliputi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang dimiliki oleh karyawan (Fernandez et al., 2000; Youndt dan Snell, 2004; Huang et al., 2011). Sumberdaya organisasional terdiri atas budaya, rutinitas organisasi dan kerja tim dalam suatu organisasi (Fernandez et al., 2000; Kaplan dan Norton, 2004). 6

7 Sumberdaya relasional mencakup jaringan dan kolaborasi dengan pihak eksternal 1 (Tsai, 2001; Huggins, 2010; Kramer et al., 2011). Tipologi inovasi menurut Schumpeter dalam Gadrey et al. (1995) dikategorikan menjadi inovasi produk, proses, organisasional, pasar, dan bahan baku. Sementara itu Tidd (2001) membagi jenis inovasi menjadi produk, proses, dan layanan. Penelitian ini merujuk pada inovasi produk dan proses. Hal ini karena inovasi dalam bisnis jasa lebih berfokus pada inovasi produk dan proses, walaupun makna produk, proses dan layanan terkadang dapat saling menggantikan (Miles, 2010). Praktik sumberdaya manusia berperan penting dan mempengaruhi perilaku karyawan dalam mengembangkan kinerja (Chen dan Huang, 2009). Subramanian dan Youndt (2005) juga mengungkap bahwa individu dalam organisasi menemukan beragam keterampilan, memperoleh pengetahuan baru dan kemampuan dalam menciptakan cara berpikir baru yang merupakan sumber ide-ide baru dalam suatu organisasi. Beberapa penelitian empiris terdahulu juga menunjukkan bagaimana kaitan sumberdaya manusia terhadap inovasi dalam beragam istilah (lihat Tabel 1.1). Mayoritas studi menunjukkan pengaruh sumberdaya manusia terhadap inovasi memiliki efek positif (lihat Laursen dan Foss 2003; Hewitt-Dundas, 2006; Chen dan Huang, 2009). Studi Ordarini dan Parasuraman (2009) juga menunjukkan keterlibatan karyawan sangat penting dalam proses inovasi di sektor jasa. Hal ini mengindikasikan bahwa sumberdaya manusia berperan dalam inovasi perusahaan jasa. 1 Istilah kolaborasi pihak eksternal, jaringan, interaksi memiliki makna yang sama yaitu relasi, dan saling dipertukarkan penggunaannya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan mengistilahkannya sebagai sumberdaya relasional. 7

8 Tabel 1.1. Penelitian Terdahulu Yang Mengaitkan Sumberdaya Dan Inovasi Penulis Sumberdaya Inovasi Hasil / konteks Subramanian dan Youndt (2005) Manusia Modal Manusia Kapabilitas Inovasi Radikal Berkorelasi Negatif, menggunakan studi longitudinal pada industri R&D di Amerika Serikat. Nieves et al. (2014) Modal Manusia Jenis Inovasi Terdukung parsial hanya pada inovasi produk dan organisasional. Studi pada jasa Hotel di Spanyol. Laursen dan Foss (2003) Manajemen Sumberdaya Manusia Inovasi Berkorelasi Positif, pada perusahaan manufaktur di Denmark. Hewitt-Dundas, (2006) Hambatan Manusia Aktivitas Inovasi Berkorelasi Positif, pada perusahaan manufaktur di Irlandia. Chen dan Huang, (2009) Sumberdaya Manusia Stratejik Kinerja Inovasi Positif terdukung, pada Industri manufaktur dan berteknologi tinggi di Taiwan. Subramanian dan Youndt, (2005) Organisasional Modal Organisasional Kapabilitas Inovasi Inkremental Berkorelasi Positif, menggunakan studi longitudinal pada industri R&D di Amerika Serikat. Huang et al. (2011) Modal Organisasional Kapabilitas Inovasi Positif terdukung, pada industri Biofarmasi di Taiwan. Hewitt-Dundas, (2006) Hambatan Organisasional Aktivitas Inovasi Berkorelasi Positif, pada perusahaan manufaktur di Irlandia. Kaya dan Patton, (2011) Orientasi Pembelajaran Kinerja Inovasi Positif terdukung, pada industri manufaktur di Turki. Hogan dan Coote (2014) Norma Organisasi untuk Berinovasi Perilaku Inovatif Positif terdukung, pada perusahaan jasa hukum/pengacara di Australia. 8

9 Subramanian dan Youndt (2005) Relasional Modal Sosial Inovasi Inkremental dan Radikal Berkorelasi Positif, menggunakan studi longitudinal pada industri R&D di Amerika Serikat. Kramer et al. (2011) Modal Jaringan Inovasi Perusahaan Multinasional Berkontribusi terhadap daya inovasi dari perusahaan multinasional di Jerman dan Inggris. Zheng et al. (2013) Sumberdaya Jaringan Kinerja Inovasi Positif terdukung pada perusahaan manufaktur di China, dan korelasi menjadi meningkat ketika ditambah efek mediasi berbagi pengetahuan. Rusanen et al. (2014) Akses Sumberdaya Strategis Inovasi Jasa Studi kasus dengan longitudinal, mengungkap bahwa akses sumberdaya yang sulit ditransfer membutuhkan relasi yang kuat dan kolaborasi yang intens. Ahuja, (2000) Kolaborasi Jaringan Output Inovasi Studi longitudinal pada perusahaan di Amerika, posisi ikatan langsung dan tidak langsung berdampak positif pada inovasi. Sumber: Penulis, 2015 (diolah) 9

10 Sumberdaya organisasional termasuk norma, budaya dan rutinitas organisasi (Fernandez et al., 2000). Rutinitas organisasi dan prinsip-prinsip nilai akan membentuk budaya perusahaan (Fernandez et al., 2000). Nilai-nilai dalam budaya organisasi adalah hal yang penting bagi organisasi dalam mendukung atau mengevaluasi keputusan dan perilaku orang melakukan inovasi (Flamholtz, 2001; Hogan dan Coote, 2014). Proses inovasi terjadi dikarenakan adanya iklim pembelajaran dalam organisasi tersebut (Kaya dan Patton, 2011). Untuk itu dalam meraih kesuksesan inovasi, manajer harus didukung oleh perencanaan dan pemeliharaan budaya inovasi (Maier et al., 2014). Beberapa penelitian empiris juga menunjukkan dampak positif sumberdaya organisasional terhadap inovasi (lihat Tabel 1.1). Oleh karena itu, sumberdaya organisasional (seperti budaya dan rutinitas organisasi) memiliki peran vital dalam penciptaan inovasi. Johne dan Storey (1998) dalam Syson dan Perks (2004) mengatakan jaringan terutama yang mencakup proses interaksi adalah bagian integral dari penawaran jasa. Lebih lanjut Gallouj (2002) dan Miles (2010) juga menegaskan fitur kunci penyediaan jasa adalah interaksi. Hal ini membuat literatur inovasi sektor jasa menekankan fokus pada interaksi dan kolaborasi aktor serta pertemuan antar klien, sehingga akan berpotensi membawa masuk sumberdaya dalam proses inovasi (De Jong dan Vermeulen, 2003; Rusanen et al., 2014). Perusahaan dengan banyak jaringan mitra akan lebih mungkin untuk berinovasi serta mengakses, mengakuisisi, dan mengembangkan ide baru sebagai ikatan yang akan memberikan mereka sumberdaya, informasi, dan pengetahuan teknologi (Caloghirou et al., 2004; Zheng et al., 2013). Sejalan dengan hal itu, studi Dyer dan Singh (1998) juga menekankan hadirnya sumberdaya relasional dan kaitan antar perusahaan sebagai sumber 10

11 keunggulan kompetitif. Hal ini menunjukkan bahwa peran aspek relasional penting dalam menyerap sumberdaya atau pengetahuan dari eksternal dalam proses inovasi. Akan tetapi, besarnya ketersediaan sumberdaya eksternal atau jaringan 2 tidak berimplikasi mudah bagi perusahaan dalam mengaksesnya (Escribano et al., 2009). Studi Kramer et al. (2011) menunjukkan bahwa kekuatan modal jaringan tergantung pada kemampuan dan proses mengidentifikasi mitra, cara penciptaan dan pertukaran pengetahuan antar mereka. Cohen dan Levinthal (1990) melabeli kemampuan tersebut sebagai kemampuan menyerap (absorptive capacity). Kemampuan menyerap ini akan sangat tergantung pada basis atau ketersediaan pengetahuan dalam organisasi (Cohen dan Levinthal, 1990; Escribano et al., 2009). Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan relasional akan lebih besar daya aksesnya terhadap sumberdaya jika memiliki kemampuan menyerap yang besar pula. Mekanisme tersebut menjadikan kemampuan menyerap berperan sebagai pemoderasi hubungan antara jaringan eksternal dan inovasi. Dukungan beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan dominasi peran kemampuan menyerap sebagai pemoderasi dalam kaitannya dengan inovasi (lihat Tabel 1.2.). Walaupun demikian, studi Nieves et al. (2014) menunjukkan tidak adanya pengaruh antara kemampuan menyerap dan relasi eksternal pada inovasi. Sebaliknya, beberapa studi lainnya (seperti Tsai, 2001; Escribano et al., 2009; Yu, 2013; Hurmelinna-Laukkanen dan Olander, 2014) menunjukkan efek interaksi kemampuan menyerap dan jaringan eksternal signifikan dalam kinerja inovasi. Dalam penelitian ini, kemampuan menyerap diposisikan akan memiliki efek moderasi pada hubungan sumberdaya relasional dan inovasi. 2 Pada studi ini, sumberdaya eksternal dan jaringan dimaknai juga sebagai sumberdaya relasional. 11

12 Tabel 1.2. Penelitian Terdahulu Yang Menggunakan Absorptive Capacity (ACAP) Dalam Inovasi Peneliti Peran ACAP Kaitan Variabel Hasil Wang dan Han (2011) Pemoderasi Hubungan antara properti pengetahuan dan Peran ACAP signifikan memoderasi kinerja inovasi hubungan Tsai (2001) Pemoderasi Kaitan antara posisi jaringan dan inovasi Interaksi jaringan dan ACAP signifikan pada inovasi unit bisnis. Escribano et al. (2009) Pemoderasi Hubungan antara pengetahuan eksternal dan kinerja inovasi Peran ACAP signifikan memoderasi hubungan. Nieves et al. (2014) Pemoderasi Kaitan antara hubungan sosial eksternal manajer dan jenis inovasi (produk, proses, pemasaran) Peran ACAP tidak signifikan dan tidak menunjukkan bukti empiris suatu hubungan. Hurmelinna-Laukkanen dan Olander (2014) Pemoderasi Kaitan antara kemampuan menyesuaikan perusahaan dan kinerja inovasi Peran ACAP kompetitor memiliki efek memoderasi secara signifikan terhadap kinerja inovasi perusahaan. Kastopoulos et al. (2011) Pemediasi Hubungan arus masuk pengetahuan eksternal dan kinerja inovasi Peran ACAP memediasi secara total hubungan. Yu (2013) Pemoderasi Hubungan diversitas jaringan teknologi dan inovasi Peran ACAP signifikan memoderasi. Sumber: Penulis, 2015 (diolah) 12

13 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian sebelumnya, maka terdapat beberapa celah yang perlu diisi dalam penelitian empiris saat ini. Pertama, selama ini penelitian empiris yang menggunakan teori berbasis sumberdaya langsung mengaitkan dampaknya pada keunggulan bersaing berkelanjutan (lihat Villalonga, 2004; Chuang, 2004). Bagaimanapun, keunggulan bersaing yang berkelanjutan adalah jalan panjang yang harus dilalui perusahaan. Hal ini karena sebelum mencapai tujuan tersebut, sumberdaya perusahaan akan memiliki dampak pada kinerja perusahaan terlebih dahulu (lihat Delgado-Gomez et al., 2004; Galbreath dan Galvin, 2006; Ang dan Wight, 2009; Kumlu, 2014; Othman et al., 2015). Pelbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tersebut dapat diraih ketika perusahaan melakukan inovasi (lihat Chen et al., 2009; Ordarini dan Parasuraman, 2009; Hung dan Chou, 2013). Hal ini menandakan bahwa sumberdaya akan memiliki dampak langsung terlebih dahulu pada inovasi perusahaan. Dengan kata lain, keunggulan bersaing dapat dicapai ketika inovasi dilakukan perusahaan dengan memberdayakan sumberdaya yang dimiliki. Oleh karena itu, penelitian ini lebih spesifik mengaitkan sumberdaya dan inovasi perusahaan. Kedua, sumberdaya perusahaan secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumberdaya berwujud dan sumberdaya tak berwujud (Wernerfelt, 1984; Chatterjee dan Wernerfelt, 1991; Hall, 1992, 1993; Carmeli, 2004). Pada konteks inovasi produk dalam industri manufaktur sangat terkait dengan ketersediaan sumberdaya berwujud sebagai bahan baku. Hal ini menjadi tantangan dan kelemahan dalam inovasi karena sumberdaya berwujud dapat habis dan bisa tidak terbaharukan. 13

14 Sementara itu, studi Galbreath (2005) juga mengungkap bahwa sumberdaya tak berwujud lebih berkontribusi pada kesuksesan perusahaan dibanding sumberdaya berwujud. Disamping itu, sumberdaya tak berwujud memiliki karakteristik yang tidak fleksibel, sulit diperdagangkan dan sulit diimitasi oleh pesaing dibanding sumberdaya berwujud (Chatterjee dan Wernerfelt, 1991; Teece, 1998; Kaplan dan Norton, 2004). Atas dasar tersebut, pada penelitian ini hanya memfokuskan dampak sumberdaya tak berwujud pada inovasi. Ketiga, meskipun inovasi secara luas diakui sebagai mesin pertumbuhan dan daya saing, penelitian tentang inovasi dalam sektor jasa tertinggal dibandingkan dengan penelitian tentang inovasi di sektor manufaktur (Miles, 2010; Thakur dan Hale, 2013). Saat ini penelitian yang berkonsentrasi pada inovasi dalam jasa relatif langka (lihat Tabel 1.1). Hal ini merupakan paradoks mengingat meningkatnya sektor jasa dalam ekonomi, baik dari segi tenaga kerja dan nilai tambah (Durst et al., 2015). Lebih lanjut, selama ini inovasi sering dikaitkan dan didominasi oleh industri manufaktur yang berteknologi tinggi sehingga mengabaikan inovasi pada aspek jasa (Drejer, 2004; Miles, 2010; Djellal et al., 2013). Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk menguji dampak sumberdaya tak berwujud pada inovasi perusahaan jasa. Keempat, area penelitian inovasi pada perusahaan jasa selama ini lebih banyak dalam konteks negara maju (seperti Amerika, Eropa, Australia) sedangkan di negara berkembang masih sangat jarang (Thakur dan Hale, 2013). Bagaimanapun, terdapat perbedaan budaya, sosial ekonomi dan sistem bisnis yang mungkin akan mempengaruhi proses inovasi tersebut. Hal ini menjadikan penelitian inovasi pada 14

15 perusahaan jasa di negara berkembang seperti Indonesia sangat relevan untuk dilakukan. Kelima, dalam kaitan antara pengaruh sumberdaya relasional dan inovasi, sebagian besar studi menunjukkan peran penting kemampuan menyerap (Caloghirou et al., 2004; Escribano et al., 2009). Akan tetapi, diantara para peneliti berbeda-beda dalam meletakkan posisi peran kemampuan menyerap tersebut. Studi Kastopoulos et al. (2011) memposisikan peran kemampuan menyerap sebagai pemediasi pengaruh sumberdaya relasional pada kinerja inovasi. Pada sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan peran kemampuan menyerap sebagai pemoderasi (lihat Tsai, 2001; Escribano et al., 2009; Yu, 2013; Hurmelinna-Laukkanen dan Olander, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa peran kemampuan menyerap dalam kaitannya dengan sumberdaya relasional dan inovasi masih belum jelas. 1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan empat pertanyaan penelitian yaitu sebagai berikut: 1. Apakah sumberdaya manusia berpengaruh positif terhadap inovasi di perusahaan jasa? 2. Apakah sumberdaya organisasional berpengaruh poisitif terhadap inovasi di perusahaan jasa? 3. Apakah sumberdaya relasional berpengaruh positif terhadap inovasi di perusahaan jasa? 4. Apakah peran kemampuan menyerap memoderasi secara positif kaitan sumberdaya relasional pada inovasi di perusahaan jasa? 15

16 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menguji pengaruh sumberdaya manusia terhadap inovasi perusahaan jasa. 2. Untuk menguji pengaruh sumberdaya organisasional terhadap inovasi di perusahaan jasa. 3. Untuk menguji pengaruh sumberdaya relasional terhadap inovasi di perusahaan jasa. 4. Untuk menguji peran kemampuan menyerap sebagai pemoderasi positif pengaruh antara sumberdaya relasional pada inovasi di perusahaan jasa. 1.5 Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai dan manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis dan metodologikal; diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan teoritikal dan menambah model pengembangan sumberdaya tak berwujud dalam kaitannya dengan inovasi jasa. Disamping itu, akan memperluas pemahaman tentang peran teori berbasis sumberdaya dan peran kemampuan mengabsorpsi pada proses penciptaan inovasi perusahaan jasa. 2. Manfaat Praktis; a) Bagi praktisi; akan membantu perusahaan untuk menentukan dan mengelola jenis sumberdaya tak berwujud yang signifikan dan penting dimanfaatkan dalam proses penciptaan inovasi perusahaan jasa. b) Bagi peneliti; penelitian ini dapat memperjelas dan memperluas konsepkonsep serta pola hubungan antara sumberdaya dan peran kemampuan 16

17 mengabsorpsi dalam kaitannya dengan proses inovasi terkhusus pada perusahaan jasa. 1.6 Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan tesis ini terdiri dari 5 (lima) bab, yang terdiri dari pendahuluan, landasan teori, metoda penelitian, hasil penelitian dan pembahasan serta simpulan dan saran penelitian. Bab I menguraikan ulasan mengenai latar belakang yang mendasari pentingnya dilakukan penelitian ini dan pembahasan penelitian sebelumnya serta gap penelitian yang menjadi dasar permasalahan dalam penelitian ini. Bab ini juga membahas manfaat penelitian baik secara teoritikal maupun secara praktikal. Pada bagian akhir bab ini, juga disusun sistematika penulisan tesis sebagai bentuk alur laporan dari penelitian ini. Pada Bab II penelitian ini mendiskusikan tentang landasan teori yang mencakup pembahasan teori berbasis sumberdaya dan tinjauan literatur dari setiap variabel yang digunakan pada penelitian ini. Teori berbasis sumberdaya menjadi sebuah pendekatan utama dalam mengurai sumberdaya perusahaan terkhusus variabel independen penelitian ini yaitu variabel sumberdaya tak berwujud. Disamping itu, terdapat juga penjelasan tentang inovasi pada perusahaan jasa serta peran variabel kemampuan menyerap dalam kaitannya antara sumberdaya relasional dan inovasi perusahaan jasa. Pada bagian akhir bab ini juga menguraikan ulasan mengenai pengembangan hipotesis dan menyajikan model penelitian yang digunakan pada penelitian ini. 17

18 Selanjutnya, dalam Bab III penelitian ini menggambarkan tentang metodologi penelitian yang digunakan. Bagian ini melingkupi pembahasan desain penelitian, alasan pemilihan populasi dan kriteria sampel, jenis data penelitian yang terdiri dari sumber data dan teknik pengumpulan data yang digunakan. Selain itu, terdapat juga penjelasan mengenai definisi operasional dan pengukuran variabel, uji instrumen yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik analisis data, uji hipotesis dan pengolahan data menggunakan model regresi pemoderasi melalui analisis regresi linear berganda berjenjang (hierarchical linear multiple regression). Hasil pengujian dideskripsikan pada Bab IV yang menyajikan hasil pengumpulan data, karakteristik dan profil responden, hasil uji instrumen penelitian yang terdiri dari hasil uji validitas dan hasil uji reliabilitas, statistik deskriptif, hasil analisis data dan hasil uji hipotesis (hasil analisis regresi). Selanjutnya, juga terdapat ulasan mengenai pembahasan hasil penelitian yang terdiri dari diskusi hasil pengujian hipotesis 1, hipotesis 2, hipotesis 3, dan hipotesis 4 yang dianalisa berdasarkan landasan teori. Akhirnya, pada Bab V penelitian ini menguraikan ulasan mengenai simpulan penelitian dan keterbatasan penelitian. Temuan-temuan yang terdapat dalam penelitian ini menjadi saran penelitian mendatang dan implikasi penelitian yang terdiri dari implikasi teoritikal dan implikasi manajerial atau praktikal. 18

BAB I PENDAHULUAN. inovasi (Zander dan Kogut, 1995; Elche-Hotelano, 2011). Kemampuan perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. inovasi (Zander dan Kogut, 1995; Elche-Hotelano, 2011). Kemampuan perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kompetisi di dalam industri mendorong perusahaan harus mampu melakukan inovasi (Zander dan Kogut, 1995; Elche-Hotelano, 2011). Kemampuan perusahaan melakukan inovasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga berdampak pada perusahaan yang beroperasi. Perusahaan yang ada

BAB I PENDAHULUAN. sehingga berdampak pada perusahaan yang beroperasi. Perusahaan yang ada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era informasi dan globalisasi seperti sekarang ini menyebabkan lingkungan bisnis mengalami perubahan yang sangat pesat dengan ketatnya tingkat persaingan. Bersamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasionalisasi perusahaan di Indonesia. Bagian pertama membahas latar

BAB I PENDAHULUAN. internasionalisasi perusahaan di Indonesia. Bagian pertama membahas latar BAB I PENDAHULUAN Bab pertama pada tesis ini menjelaskan topik penelitian yaitu konsep internasionalisasi perusahaan di Indonesia. Bagian pertama membahas latar belakang penelitian yang didasarkan pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi ini adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kualitas, kapabilitas dan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Simpulan yang dapat ditarik pada penelitian ini adalah: perhatian pada pengikut (House, 1996). Visi, hope/faith, dan altruistic love

BAB V PENUTUP. Simpulan yang dapat ditarik pada penelitian ini adalah: perhatian pada pengikut (House, 1996). Visi, hope/faith, dan altruistic love BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Simpulan yang dapat ditarik pada penelitian ini adalah: a. Kepemimpinan spiritual berpengaruh positif signifikan pada harga diri karyawan. Path-goal leadership theory membantu

Lebih terperinci

Pengaruh desain organisasi terhadap proses inovasi perusahaan

Pengaruh desain organisasi terhadap proses inovasi perusahaan LOGO Pengaruh desain organisasi terhadap proses inovasi perusahaan Studi Kasus PT. Angkasa Pura I (Persero) Dian Farida Nur Hayati NPM. 0806431093 PENDAHULUAN PT. Angkasa Pura I (Persero) adalah BUMN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bisnisnya supaya dapat survive menghadapi persaingan yang ada. Perubahan cara

BAB I PENDAHULUAN. bisnisnya supaya dapat survive menghadapi persaingan yang ada. Perubahan cara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Era globalisasi saat ini pertumbuhan perekonomian dunia telah berkembang. Perusahaan-perusahaan harus dengan cepat mengubah cara strategi bisnisnya supaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan di bidang sains dan teknologi menjadi salah satu faktor

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan di bidang sains dan teknologi menjadi salah satu faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan di industri teknologi pada saat ini sudah sangat ketat. Kemajuan di bidang sains dan teknologi menjadi salah satu faktor utama pesatnya perkembangan inovasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mampu membaca situasi yang terjadi agar dapat mengelola fungsi-fungsi

BAB I PENDAHULUAN. mampu membaca situasi yang terjadi agar dapat mengelola fungsi-fungsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin meningkatnya persaingan bisnis di era globalisasi saat ini tidak terlepas dari pengaruh berkembangnya lingkungan ekonomi, social politik, serta kemajuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi menjadi salah satu isu utama yang mendorong perusahaan menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk senantiasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan sering diteliti dalam literatur akuntansi dan bisnis. Dalam akuntansi,

BAB I PENDAHULUAN. dan sering diteliti dalam literatur akuntansi dan bisnis. Dalam akuntansi, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pengendalian organisasi merupakan fungsi manajemen yang penting dan sering diteliti dalam literatur akuntansi dan bisnis. Dalam akuntansi, sejumlah peneliti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saing yang lebih tinggi, dan pertumbuhan inovasi yang luar biasa mendorong

BAB I PENDAHULUAN. saing yang lebih tinggi, dan pertumbuhan inovasi yang luar biasa mendorong BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perekonomian dunia berkembang dengan begitu pesatnya, yang antara lain ditandai dengan kemajuan di bidang teknologi informasi, tingkat daya saing

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan biaya menambah pelanggan baru (Chang et al., 2012:24) Produk bersaing atas merek memudahkan pembeli mengidentifikasi

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan biaya menambah pelanggan baru (Chang et al., 2012:24) Produk bersaing atas merek memudahkan pembeli mengidentifikasi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia bisnis kini berkembang mengikuti arus perubahan global, sehingga mendorong kompetisi perdagangan yang semakin pesat. Perusahaan berupaya mempertahankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang baik (Bastian, 2001).Tingkatan kinerja organisasi dapat dilihat dari sejauh mana

BAB I PENDAHULUAN. yang baik (Bastian, 2001).Tingkatan kinerja organisasi dapat dilihat dari sejauh mana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kinerja organisasi merupakan sebuah alat ukur untuk menilai dan mengevaluasi berhasil atau tidak tujuan organisasi. Kinerja didefinisikan sebagai suatu gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumber daya organisasi menurut Wernerfelt (1984) berfokus pada aset

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumber daya organisasi menurut Wernerfelt (1984) berfokus pada aset BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya organisasi menurut Wernerfelt (1984) berfokus pada aset yang dimiliki oleh organisasi. Aset yang dimaksud adalah aset berwujud dan aset tidak berwujud.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tinggi di antara perusahaan, akibatnya pengetahuan dan keterampilan karyawan

BAB I PENDAHULUAN. tinggi di antara perusahaan, akibatnya pengetahuan dan keterampilan karyawan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perubahan paradigma dari persaingan global saat ini menjadi persaingan tinggi di antara perusahaan, akibatnya pengetahuan dan keterampilan karyawan dituntut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. fase diyakini sebagai titik di mana ide ini pertama kali diadopsi, yaitu titik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. fase diyakini sebagai titik di mana ide ini pertama kali diadopsi, yaitu titik BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2. 1. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. 1 Perilaku Kerja Inovatif Teori inovasi sering menggambarkan proses inovasi yang terdiri dari dua fase utama: inisiasi dan implementasi.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Riset pemasaran sangat penting untuk dilakukan sehingga perusahaan

BAB 1 PENDAHULUAN. Riset pemasaran sangat penting untuk dilakukan sehingga perusahaan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Riset pemasaran sangat penting untuk dilakukan sehingga perusahaan dapat mengetahui posisi merek di pasar, mengetahui selera atau kepuasan konsumen ataupun mengurangi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan bersaing untuk berhasil menguasai pasar produk yang dijualnya.

BAB I PENDAHULUAN. akan bersaing untuk berhasil menguasai pasar produk yang dijualnya. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Persaingan selalu ada kapanpun di dalam dunia bisnis, seluruh perusahaan akan bersaing untuk berhasil menguasai pasar produk yang dijualnya. Berdasarkan hasil-hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didefenisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi

BAB I PENDAHULUAN. didefenisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam konteks teori perilaku konsumen, kepuasan lebih banyak didefenisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengambilalihan kepemilikan perusahaan (acquisition), penggabungan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengambilalihan kepemilikan perusahaan (acquisition), penggabungan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengambilalihan kepemilikan perusahaan (acquisition), penggabungan perusahaan (merger), kerjasama strategis (strategic alliance), atau kombinasi diantaranya merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Informasi yang disajikan harus dapat dipahami, dapat dipercaya, relevan, dan

BAB I PENDAHULUAN. Informasi yang disajikan harus dapat dipahami, dapat dipercaya, relevan, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi merupakan suatu kegiatan yang mengandung risiko dan ketidakpastian. Risiko yang melekat pada suatu kegiatan investasi menyebabkan pentingnya penyajian informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 22,7 juta perusahaan di Indonesia usaha mikro dan kecil mendominasi dari sisi

BAB I PENDAHULUAN. 22,7 juta perusahaan di Indonesia usaha mikro dan kecil mendominasi dari sisi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sensus Ekonomi 2006 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, dari total 22,7 juta perusahaan di Indonesia usaha mikro dan kecil mendominasi dari sisi unit usaha (persentase

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. melakukan inovasi dan mengembangkan diferensiasi produknya. Teknologi

BAB 1 PENDAHULUAN. melakukan inovasi dan mengembangkan diferensiasi produknya. Teknologi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era teknologi seperti ini, kompetisi untuk memenangkan persaingan pasar mengalami percepatan yang luar biasa. Perusahaan dituntut untuk selalu melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak pernah lepas dari kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak pernah lepas dari kehidupan 15 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak pernah lepas dari kehidupan berorganisasi, karena pada kodratnya manusia merupakan makhluk sosial yang cenderung

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Bab ini menyajikan simpulan hasil penelitian, kontribusi penelitian, keterbatasan,

BAB V PENUTUP. Bab ini menyajikan simpulan hasil penelitian, kontribusi penelitian, keterbatasan, BAB V PENUTUP Bab ini menyajikan simpulan hasil penelitian, kontribusi penelitian, keterbatasan, dan saran bagi penelitian mendatang. Simpulan dipaparkan untuk menjelaskan pemahaman perilaku konsumen secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nasabah yang meningkat, menjadi alasan tingginya eskalasi persaingan antar bank.

BAB I PENDAHULUAN. nasabah yang meningkat, menjadi alasan tingginya eskalasi persaingan antar bank. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini bisnis perbankan di Indonesia berkembang dengan pesat. Salah satunya disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan fungsi bank dalam aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan lingkungan pemasaran mengalami perubahan yang dramatis

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan lingkungan pemasaran mengalami perubahan yang dramatis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ide utama konsep pemasaran adalah mengerahkan segala kapabilitas perusahaan untuk menciptakan, menyampaikan, dan mengkomunikasikan nilainilai konsumen secara

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. konsep pemasaran (Kohli & Jaworski, 1990). Orientasi pasar adalah budaya

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. konsep pemasaran (Kohli & Jaworski, 1990). Orientasi pasar adalah budaya BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Orientasi Pasar Orientasi pasar merupakan salah satu konsep utama dalam literatur pemasaran karena mengacu pada sejauh mana perusahaan mengimplementasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan, pesatnya

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan, pesatnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Seiring dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan, pesatnya teknologi kedokteran serta kondisi sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat

Lebih terperinci

Stres Affects Job Performance Moderated By Affective Organizational Commitment. Novita Maya Sari ABSTRACT

Stres Affects Job Performance Moderated By Affective Organizational Commitment. Novita Maya Sari ABSTRACT Stres Affects Job Performance Moderated By Affective Organizational Commitment Novita Maya Sari ABSTRACT This research is a replication of part of the study Hunter and Thatcher (2007) which aims to test

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Konsep Supply Chain Management (SCM) telah menerima banyak perhatian dalam literatur marketing (pemasaran), logistic (logistik), dan purchasing (pembelian).

Lebih terperinci

BAB I PEGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Organisasi yang sukses adalah organisasi yang paling efisien menanggapi

BAB I PEGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Organisasi yang sukses adalah organisasi yang paling efisien menanggapi BAB I PEGANTAR 1.1 Latar Belakang Masalah Organisasi yang sukses adalah organisasi yang paling efisien menanggapi lingkungannya. Lingkungan menghubungkan domain dari pemasaran dan pengembangan strategi

Lebih terperinci

Survey Bisnis Keluarga 2014 Indonesia

Survey Bisnis Keluarga 2014 Indonesia www.pwc.com/id Survey Bisnis Keluarga 2014 Indonesia November 2014 Terima kasih.. Atas partisipasi dalam survey dan kehadirannya Agenda Latar belakang Family business survey 2014 Sekilas temuan utama Gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi semakin ketat. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kemajuan dan perkembangan teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. organisasi/korporat (corporate social responsibilities ), workforce diversities,

BAB I PENDAHULUAN. organisasi/korporat (corporate social responsibilities ), workforce diversities, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sumberdaya manusia merupakan salah satu aspek krusial yang menentukan keberhasilan misi dan visi suatu perusahaan, oleh karena itu keberadaannya mutlak dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia saat ini mengalami perubahan lingkungan yang sangat cepat.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia saat ini mengalami perubahan lingkungan yang sangat cepat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia saat ini mengalami perubahan lingkungan yang sangat cepat. Keinginan publik yang semakin meningkat, kompetisi yang semakin banyak, tingkat inflasi

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS. maka terlebih dahulu diuraikan kerangka proses berpikir seperti digambarkan pada

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS. maka terlebih dahulu diuraikan kerangka proses berpikir seperti digambarkan pada BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konseptual Sebelum diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan kerangka konseptual, maka terlebih dahulu diuraikan kerangka proses berpikir seperti digambarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan yang cukup besar. Hingga saat ini

BAB I PENDAHULUAN. terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan yang cukup besar. Hingga saat ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan bisnis ritel di indonesia khususnya swalayan menunjukkan angka yang cukup signifikan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pasar produk dari perusahaan Indonesia. Di sisi lain, keadaan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. pasar produk dari perusahaan Indonesia. Di sisi lain, keadaan tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era globalisasi menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, era globalisasi memperluas

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teori strategi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sumber daya yang tak terlihat (intangible resources) seperti pengetahuan, keahlian, motivasi, budaya, teknologi, kompetensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didasarkan pada tenaga kerja (labor based business) menuju bisnis yang didasarkan

BAB I PENDAHULUAN. didasarkan pada tenaga kerja (labor based business) menuju bisnis yang didasarkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, menyebabkan persaingan bisnis semakin ketat. Kemampuan perusahaan dalam penguasaan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bersaing dengan kompetitornya. manfaat bersaing adalah sesuatu yang dapat didukung. Hopwood (1976);

BAB I PENDAHULUAN. dalam bersaing dengan kompetitornya. manfaat bersaing adalah sesuatu yang dapat didukung. Hopwood (1976); BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Menurut Porter (1980), pelaku bisnis dituntut untuk berlombalomba melakukan strategi kompetisi dengan fokus penciptaan pada sesuatu yang berbeda untuk melayani

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG. dunia bisnis saat ini semakin kompetitif. Hal ini berlaku untuk segala jenis

BAB I LATAR BELAKANG. dunia bisnis saat ini semakin kompetitif. Hal ini berlaku untuk segala jenis BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Pada era saat ini perusahaan dituntut untuk lebih bergerak dinamis, inovatif, dan mampu memanfaatkan segala peluang yang ada karena persaingan di dunia bisnis saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dunia bisnis merupakan dunia yang sarat akan perubahan. Hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Dunia bisnis merupakan dunia yang sarat akan perubahan. Hal tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia bisnis merupakan dunia yang sarat akan perubahan. Hal tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan bisnis yang juga senantiasa berubah setiap saat, entah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beroperasi secara efektif dan efisien serta tetap memiliki usaha bisnis yang

BAB I PENDAHULUAN. beroperasi secara efektif dan efisien serta tetap memiliki usaha bisnis yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini keadaan perekonomian dunia sudah memasuki era globalisasi, dimana sangat dirasakan persaingan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagian input, proses, output. Tanpa ketiga itu sistem informasi tidak dapat berjalan. nantinya akan kita sajikan bagi masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. bagian input, proses, output. Tanpa ketiga itu sistem informasi tidak dapat berjalan. nantinya akan kita sajikan bagi masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem informasi adalah kumpulan informasi di dalam sebuah basis data menggunakan model dan media teknologi informasi digunakan di dalam pengambilan keputusan bisnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi saat ini, persaingan usaha semakin kompetitif dan kreatif. Untuk dapat bertahan dalam persaingan usaha yang ketat, pihak manajemen dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. corporate governance ini diharapkan ada regulasi serta aturan mengenai

BAB I PENDAHULUAN. corporate governance ini diharapkan ada regulasi serta aturan mengenai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Corporate governance saat ini merupakan kebutuhan vital bagi seluruh pelaku bisnis dan menjadi tuntutan bagi masyarakat dengan adanya corporate governance ini diharapkan

Lebih terperinci

LEMBAR HAK CIPTA... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PERNYATAAN... ABSTRAK...

LEMBAR HAK CIPTA... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PERNYATAAN... ABSTRAK... DAFTAR ISI LEMBAR HAK CIPTA... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PERNYATAAN... ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi yang begitu pesat pada era globalisasi saat ini

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi yang begitu pesat pada era globalisasi saat ini BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi yang begitu pesat pada era globalisasi saat ini menyebabkan seluruh elemen masyarakat, terlebih bagi para pelaku industri, tidak bisa lepas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Suatu organisasi dikatakan berhasil apabila visi, misi dan tujuannya tercapai. Untuk dapat mencapainya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aktif lembaga keuangan khususnya sektor perbankan. Sebagai bagian dari suatu

BAB I PENDAHULUAN. aktif lembaga keuangan khususnya sektor perbankan. Sebagai bagian dari suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian Indonesia tentunya tidak terlepas dari peran aktif lembaga keuangan khususnya sektor perbankan. Sebagai bagian dari suatu sistem keuangan,

Lebih terperinci

ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2

ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2 ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors 1 N/A Perencanaan Visi, Misi, Nilai 2 1.d.2 Daftar pemegang kepentingan, deskripsi organisasi induk, situasi industri tenaga kerja, dokumen hasil evaluasi visi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan ekonomi yang didorong oleh informasi dan pengetahuan menyebabkan meningkatnya perhatian terhadap modal intelektual (Petty and Guthrie,2000;Bontis,2001).

Lebih terperinci

I. DESKRIPSI MATA KULIAH

I. DESKRIPSI MATA KULIAH SILABUS Fakultas : Ekonomi Program studi : Manajemen Mata Kuliah & Kode : Riset SDM (MNJ6347) Jumlah sks : Teori : 3 SKS Praktik : - Semester : VII Mata Kuliah Prasyarat & Kode: Manajemen Sumber Daya Manusia

Lebih terperinci

MANAJEMEN RISIKO crmsindonesia.org

MANAJEMEN RISIKO crmsindonesia.org S U R V E Y N A S I O N A L MANAJEMEN RISIKO 2016 crmsindonesia.org Daftar Pustaka 3 Indonesia 6 Potret 7 9 dan Kompetisi Regional dan Tren Manajemen Risiko di Indonesia Adopsi Manajemen Risiko di Indonesia

Lebih terperinci

BAB V. PENUTUP. DeLone & McLean (2003) dengan memformulasikan teori dan literatur yang

BAB V. PENUTUP. DeLone & McLean (2003) dengan memformulasikan teori dan literatur yang BAB V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan spesifikasi ulang model DeLone & McLean (2003) dengan memformulasikan teori dan literatur yang berhubungan dengan sistem informasi

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. kognitif dan kinerja tenaga penjualan B2B pada perusahaan terbaik Indonesia versi

BAB V PENUTUP. kognitif dan kinerja tenaga penjualan B2B pada perusahaan terbaik Indonesia versi BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Tujuan utama penelitian ini adalah menguji pemasaran internal pada moral kognitif dan kinerja tenaga penjualan B2B pada perusahaan terbaik Indonesia versi Furtune 2012. Pengujian

Lebih terperinci

Renny Indaryanti Akip F UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I PENDAHULUAN. terjadinya perubahan yang begitu cepat didalam bisnis.

Renny Indaryanti Akip F UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I PENDAHULUAN. terjadinya perubahan yang begitu cepat didalam bisnis. Analisis hubungan kinerja pemasaran dan proses pengembangan produk dan pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ) Renny Indaryanti Akip F.0201091 UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Disarikan dari Forest, J. J.F & Altbach, P.G (ed) International Handbook of Higher Education. Dordrecht: Springer.

Disarikan dari Forest, J. J.F & Altbach, P.G (ed) International Handbook of Higher Education. Dordrecht: Springer. Disarikan dari Forest, J. J.F & Altbach, P.G (ed). 2007. International Handbook of Higher Education. Dordrecht: Springer. Rahmania Utari Keuangan, penggunaan teknologi komunikasi dan informasi, kompetisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanyaan, tujuan dan manfaat penelitian. Pada latar belakang dijelaskan urgensi,

BAB I PENDAHULUAN. pertanyaan, tujuan dan manfaat penelitian. Pada latar belakang dijelaskan urgensi, BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, pertanyaan, tujuan dan manfaat penelitian. Pada latar belakang dijelaskan urgensi, faktor dan alasan pemilihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau organisasi publik, diperlukan pengelolaan pengetahuan, di samping

BAB I PENDAHULUAN. atau organisasi publik, diperlukan pengelolaan pengetahuan, di samping BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam upaya meningkatkan kemampuan bersaing bagi organisasi bisnis atau organisasi publik, diperlukan pengelolaan pengetahuan, di samping pengelolaan keterampilan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak perusahaan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak perusahaan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak perusahaan yang berkembang. Hal ini menyebabkan kompetisi yang terjadi, baik di antara perusahaan maupun di antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 2010 Japan Credit Rating Agency Ltd. merevisi naik peringkat

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 2010 Japan Credit Rating Agency Ltd. merevisi naik peringkat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada tahun 2010 Japan Credit Rating Agency Ltd. merevisi naik peringkat kredit dan investasi Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Selanjutnya pada tahun 2011 Fitch

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Fenomena persaingan yang ada dalam era globalisasi akan semakin. mengarahkan sistem perekonomian Indonesia ke mekanisme pasar yang

BAB I PENDAHULUAN. Fenomena persaingan yang ada dalam era globalisasi akan semakin. mengarahkan sistem perekonomian Indonesia ke mekanisme pasar yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era globalisasi menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, era globalisasi memperluas

Lebih terperinci

14. ENTERPRISE AND GLOBAL MANAGEMENT OF INFORMATION TECHNOLOGY (Summary) Oleh: Gustiyan Taufik Mahardika P

14. ENTERPRISE AND GLOBAL MANAGEMENT OF INFORMATION TECHNOLOGY (Summary) Oleh: Gustiyan Taufik Mahardika P 14. ENTERPRISE AND GLOBAL MANAGEMENT OF INFORMATION TECHNOLOGY (Summary) Oleh: Gustiyan Taufik Mahardika P056111501.48 BAGIAN I. MENGELOLA TEKNOLOGI INFORMASI SI (Sistem Informasi) dan TI (Teknologi Informasi)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan bisnis di Indonesia menjadikan negeri ini

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan bisnis di Indonesia menjadikan negeri ini 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pesatnya perkembangan bisnis di Indonesia menjadikan negeri ini sebagai tujuan dari investasi para investor baik yang berasal dari Indonesia maupun luar negeri. Hampir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Konservatisme merupakan suatu sikap hati-hati yang dikerjakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Konservatisme merupakan suatu sikap hati-hati yang dikerjakan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Konservatisme adalah suatu tema yang paling menonjol dalam penelitian akuntansi. Safiq (2010) menjelaskan bahwa konservatisme adalah salah satu prinsip utama

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pemisahan antara kepemilikan saham dan manajemen di perusahaanperusahaan besar sangat diperlukan. Sebagian besar perusahaan itu memiliki ratusan atau ribuan pemegang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN. secara signifikan terhadap sikap mahasiswa S1, mahasiswa S2, dan akuntan

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN. secara signifikan terhadap sikap mahasiswa S1, mahasiswa S2, dan akuntan BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk menguji adanya perbedaan sikap yang signifikan antara mahasiswa S1, mahasiswa S2, dan akuntan terhadap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan perubahan agar organisasi dapat bertahan dan berjalan dengan efektif

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan perubahan agar organisasi dapat bertahan dan berjalan dengan efektif BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kreativitas individual dan organisasional diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan agar organisasi dapat bertahan dan berjalan dengan efektif (Woodman, Sawyer,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan para kompetitornya dengan menerapkan strategi atau metode pemasaran

BAB I PENDAHULUAN. dengan para kompetitornya dengan menerapkan strategi atau metode pemasaran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi seperti saat ini, persaingan di dunia bisnis menjadi semakin ketat. Globalisasi telah menyebabkan berbagai jenis perusahaan baru yang bermunculan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua orang pernah minum kopi, namun yang berbeda hanya. masalah waktu dan tempat pada saat meminumnya. Dahulu, minum kopi

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua orang pernah minum kopi, namun yang berbeda hanya. masalah waktu dan tempat pada saat meminumnya. Dahulu, minum kopi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hampir semua orang pernah minum kopi, namun yang berbeda hanya masalah waktu dan tempat pada saat meminumnya. Dahulu, minum kopi hanyalah kebiasaan yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya pergeseran paradigma dari penekanan paradigma physical capital

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya pergeseran paradigma dari penekanan paradigma physical capital BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan di dunia bisnis pada era modern saat ini, menuntut perusahaan untuk lebih inovatif, dalam menggunakan teknologi baru dan keterampilan karyawan dibandingkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akibat dari globalisasi, para pelaku kegiatan bisnis antar negara membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. akibat dari globalisasi, para pelaku kegiatan bisnis antar negara membutuhkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi telah membuat batasan negara sudah semakin tidak tampak sehingga mendorong terjadinya kegiatan bisnis di luar batas negara. Sebagai akibat dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era pasar global yang salah satunya ditandai dengan kemajuan teknologi,

BAB I PENDAHULUAN. Era pasar global yang salah satunya ditandai dengan kemajuan teknologi, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era pasar global yang salah satunya ditandai dengan kemajuan teknologi, menyebabkan terjadi ketidakpastian dan ambiguitas, perubahan pasar yang semakin kompleks, usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berguna bagi keputusan bisnis ( FASB, 1978). Informasi yang umumnya

BAB I PENDAHULUAN. berguna bagi keputusan bisnis ( FASB, 1978). Informasi yang umumnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pelaporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi yang berguna bagi keputusan bisnis ( FASB, 1978). Informasi yang umumnya digunakan sebagai pertimbangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi merupakan penyelenggara proses pendidikan tinggi yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era ekonomi sekarang, banyak perusahaan mengembangkan nilai-nilai yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada era ekonomi sekarang, banyak perusahaan mengembangkan nilai-nilai yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era ekonomi sekarang, banyak perusahaan mengembangkan nilai-nilai yang tidak berdasarkan sumber daya berwujud melainkan berdasarkan intangible assets (Bontis,

Lebih terperinci

PERANAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASIONAL UNTUK PENCAPAIAN KEUNGGULAN KOMPETITIF

PERANAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASIONAL UNTUK PENCAPAIAN KEUNGGULAN KOMPETITIF PERANAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASIONAL UNTUK PENCAPAIAN KEUNGGULAN KOMPETITIF Santosa Tri Prabawa STIE Wijaya Mulya Surakarta ABSTRAK Kinerja organisasional dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama (Jones, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama (Jones, 2013). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Organisasi merupakan wadah bagi sekelompok orang yang bekerja secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama (Jones, 2013). Dalam suatu organisasi terdapat tugas-tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. canggih maka dunia usaha juga mengalami perkembangan yang luar biasa.

BAB I PENDAHULUAN. canggih maka dunia usaha juga mengalami perkembangan yang luar biasa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang semakin canggih maka dunia usaha juga mengalami perkembangan yang luar biasa. Muncul perusahaan-perusahaan baru

Lebih terperinci

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum (WEF) 1 Tulus Tambunan Kadin Indonesia Tanggal 8 Oktober 2008 World Economic Forum (WEF), berkantor pusat di Geneva (Swis), mempublikasikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan dunia, Indonesia merupakan negara berkembang yang telah berkonsentrasi dalam tahap pembangunan berkelanjutan menghadapi persaingan dunia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saat ini menjadikan setiap organisasi untuk terus dapat berjuang demi

BAB I PENDAHULUAN. saat ini menjadikan setiap organisasi untuk terus dapat berjuang demi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dengan adanya persaingan yang semakin tajam di berbagai bidang bisnis saat ini menjadikan setiap organisasi untuk terus dapat berjuang demi mempertahankan kinerjanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Birokrasi yang berbelit dan kurang akomodatif terhadap gerak ekonomi mulai

BAB I PENDAHULUAN. Birokrasi yang berbelit dan kurang akomodatif terhadap gerak ekonomi mulai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya perekonomian suatu bangsa menuntut penyelenggara negara untuk lebih profesional dalam memfasilitasi dan melayani warga negaranya. Birokrasi yang berbelit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kendaraan pribadi, oleh karena itu perusahaan otomotif menawarkan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kendaraan pribadi, oleh karena itu perusahaan otomotif menawarkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan industri otomotif yang semakin meningkat menyebabkan pesatnya pertumbuhan industri kendaraan roda empat (mobil) di Indonesia. Mobilitas masyarakat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pesaing yang ada sekarang dan para pesaing potensial, yang setiap saat bisa menjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. pesaing yang ada sekarang dan para pesaing potensial, yang setiap saat bisa menjadi 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sistem informasi yang baik, bernilai dan berkualitas adalah sangat penting bagi sebuah perusahaan, terutama berkaitan dengan posisi persaingannya terhadap para pesaing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya persaingan kompetensi antar individu menyebabkan banyak

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya persaingan kompetensi antar individu menyebabkan banyak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Meningkatnya persaingan kompetensi antar individu menyebabkan banyak karyawan di masa kini berpindah-pindah tempat kerja. Alasan-alasan karyawan berpindah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuannya mewujudkan organisasi yang profesional, efektif, efisien,

BAB I PENDAHULUAN. kemampuannya mewujudkan organisasi yang profesional, efektif, efisien, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mahkamah Agung (MA) saat ini tengah menghadapi suatu perubahan lingkungan seperti yang tersurat dalam Cetak Biru Pembaharuan Peradilan tahun 2010-2035. MA sebagai salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan lingkungan bisnis saat ini begitu pesat, kondisi ini

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan lingkungan bisnis saat ini begitu pesat, kondisi ini BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan lingkungan bisnis saat ini begitu pesat, kondisi ini memberikan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan untuk dapat bertahan dalam menjalankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak pasca Perang Dunia II fenomena ekonomi politik nasional ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Sejak pasca Perang Dunia II fenomena ekonomi politik nasional ditandai dengan BAB I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sejak pasca Perang Dunia II fenomena ekonomi politik nasional ditandai dengan munculnya aktor-aktor non-negara yang ikut memainkan peran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau bidang usaha namun juga terjadi lintas sektor. Setiap badan usaha harus

BAB I PENDAHULUAN. atau bidang usaha namun juga terjadi lintas sektor. Setiap badan usaha harus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Persaingan bisnis tidak saja terjadi antar perusahaan dalam suatu industry atau bidang usaha namun juga terjadi lintas sektor. Setiap badan usaha harus memiliki keunggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengadopsi Total Quality Management (TQM) kerena TQM membutuhkan usaha

BAB I PENDAHULUAN. mengadopsi Total Quality Management (TQM) kerena TQM membutuhkan usaha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menghadapai era persaingan global, setiap perusahaan harus menghadapi persaingan ketat dengan perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia. Meningkatnya intensitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi, banyak bidang dalam dunia usaha mengalami perkembangan serta pertumbuhan usaha yang cepat. Kecepatan perkembangan dan pertumbuhan ini memicu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan banyaknya produk yang ditawarkan oleh pihak pemasar kepada

BAB I PENDAHULUAN. dengan banyaknya produk yang ditawarkan oleh pihak pemasar kepada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan dunia pemasaran dewasa ini sangat pesat, yang ditunjukkan dengan banyaknya produk yang ditawarkan oleh pihak pemasar kepada konsumen. Kemudahan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perhatian dari peneliti di berbagai negara (Chen et al. 2005; Firer dan Williams,

BAB I PENDAHULUAN. perhatian dari peneliti di berbagai negara (Chen et al. 2005; Firer dan Williams, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan selisih antara nilai pasar dan nilai buku perusahaan mendapat perhatian dari peneliti di berbagai negara (Chen et al. 2005; Firer dan Williams, 2003).

Lebih terperinci

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat Memperoleh derajat S-2 Magister Sains Akuntansi

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat Memperoleh derajat S-2 Magister Sains Akuntansi HUBUNGAN ANTARA KEADILAN PROSEDURAL DAN KINERJA MANAJERIAL DENGAN PARTISIPASI ANGGARAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (Penelitian terhadap Manajer Perusahaan Manufaktur di Jawa Tengah) TESIS Diajukan sebagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengembangkan strategi keunggulan bersaing. Perusahaan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. mengembangkan strategi keunggulan bersaing. Perusahaan dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan yang berhasil memenangkan persaingan atau kompetisi dalam dunia bisnis dengan perusahaan lainnya merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan

Lebih terperinci