BAB 3 GAMBAR PERSPEKTIF

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 3 GAMBAR PERSPEKTIF"

Transkripsi

1 BB 3 GMBR ERSEKTIF 1 engertian erspektif erspektif, kadang disebut proyeksi sentral adalah cara menggambarkan suatu benda dengan mempergunakan garis-garis yang berpusat pada satu titik. Dengan perspektif bisa dihasilkan gambar yang mirip dengan hasil penglihatan dalam kenyataan sehari-hari. erbedaan Gambar royeksi dan Gambar erspektif GMBR ROYEKSI Digambar dengan menggunakan garis-garis pararel untuk menunjukkan ukuran yang sama pada bidang tertentu Menampilkan bentuk 2 dimensi dari setiap sisi benda karena berfungsi untuk menunjukkan ukuran yang akurat dari sebuah benda dilihat dari berbagai sisi. GMBR ERSEKTIF Digambar dengan garis- garis yang berpusat pada satu atau dua titik untuk menunjukkan bentuk global/meyeluruh suatu benda. Menampilkan wujud 3 dimensi dari sebuah benda karena berfungsi untuk menampilkan bentuk menyeluruh dari secara proporsional. Supaya lebih mudah memahami pproses dan wujud gambar perspektif, potretlah bangun- bangun yang ada di sekitarmu dengan posisi sebagai berikut : 1. osisi mata/kamera lebih tinggi dari obyek a. Di depan obyek b. Di sisi kanan obyek c. Di sisi kiri obyek

2 2. osisi mata/kamera sejajar dengan tinggi obyek a. Di depan obyek b. Di sisi kanan obyek c. Di sisi kiri obyek 3. osisi mata/kamera lebih rendah dari tinggi obyek a. Di depan obyek b. Di sisi kanan obyek c. Di sisi kiri obyek Kemudian analisalah hasil foto- foto tadi. Contoh cara menganalisa foto : Garis- garis pada foto di atas berpusat pada 2 titik, maka disebut erspektif dengan 2 Titik Lenyap. Lakukanlah analisa foto seperti cara tersebut di atas untuk menenntukan berapa titik hilang yang ada pada hasil foto nda.

3 2 Langkah Menggambar erspektif 1. erspektif dengan M dan Dalam menggambar perspektif terdapat beberapa bidang bantu untuk mewujudkannya, diantara bidang-bidang tersebut ialah ; 1. Bidang Tanah 2. Bidang Mata 3. Bidang Gambar/tafreel. H H T T M gb.1 bidang bantu dalam gambar perspektif Keterangan gambar: M : mata HH : garis Horison, yaitu dihasilkan dari perpotongan bidang gambar dengan bidang mata ( GH = Garis Horison) TT : Garis tanah, yaitu dihasilkan dari perpotongan bidang gambar dengan bidang Tanah ( GT = Garis Tanah )

4 D GT 1 : Distansi, yaitu jarak mata dengan garis Horison. : royeksi M pada garis Horison. : Garis Tanah, yaitu perpotongan bidang tanah dengan bidang gambar. : terusan dari horison ke garis Tanah. gb.3. Selanjutnya bidang diputar sehingga M pindah letaknya keatas dan benda ikut pula berpindah ke bawah. GH H p T M H T M gb.2. osisi benda yang digambar (selalu terletak di bidang Tanah di belakang bidang gambar). H T H T M GT 1

5 M G H Out line dihapus untuk pengerjaan yang lebih leluasa G T 1 1 (3,2,0) HSIL ERSEKTIF M GH 1 HSIL ERSEKTIF GT 1 (3,2,0) 3 Letak dan Kedudukan Benda dalam Bidang erspektif Letak atau kedudukan sebuah benda, misalnya saja titik, letaknya bisa diubahubah sesuai dengan keinginan yang membuat soal. Letak atau kedudukan tersebut dapat dinyatakan oleh kordinat, yaitu dengan memberi harga pada

6 X,Y, dan Z. Misalnya dituliskan ( 3,2,0 ) artinya titk terletak X=3,Y=2 dan Z=0. erhjatikan keterangan berikut : 1. X menunjukkan posisi terhadap 1, apabila angka yang ditunjukkan adalah postif, maka posisinya ada di sebelah kanan 1, apabila negative ada di sebelah kiri 1 2. Y menunjukkan posisi terhadap Garis tanah, posisinya selalu dibawah garis tanah 3. Z menunjukkan tinggi benda yang selalu dihitung dari garis tanah dan ditarik tegak lurus ke atas sesuai tinggi yang diinginkan. (3,2,0 ) artinya ;posisi 3 langkah kekanan dari 1, 2 langkah turun dari Garis tanah, dan tingginya 0. ( posisi 0 tidak perlu dikerjakan, artinya benda tersebut melekat di tanah ) Letak yang dinyatakan dengan kordinat tersebut dapat pula diganti dengan kalimat 3 di kanan mata dan 2 di belakang bidang gambar. M G H G T 1 (3,2,0) Gambar kedudukan titik (3,2,0). OSISI ( 3,2,0) Selain letak benda yang dapat diubah dan diatur, letak ukuran tinggi horizon dan tinggi distansi (jauh orang memandang ) juga bisa diubah-ubah.

7 3.1 erspektif Titik Sebelum menginjak bentuk benda atau bidang, terlebih dulu perlu menguasai perspektif titik, karena titik adalah dasar utama dari semua benda. pabila perspektif titik bisa nda kuasai, maka nda akan mudah mengerjakan perspektif yang lain. Beberapa cara yang bisa nda tempuh untuk mencari perspektif titik. M GH 1 HSIL ERSEKTIF GT 1 1. Cara ke-satu -Titik yang akan dicari perspektifnya adalah titik. -Titik terletak (3,3,0), atau 3 di kanan, dan 3 dibelakang bidang bidang gambar. Langkah-langkah : (3,2,0) Tarik garis lurus dari ke Garis tanah, kemudian lanjutkan ke titik.langkah berikutnya dari titik yang dicari tersebut langsung tarik garis ke M di atas. Dari hasil penarikan tersebut didapat perpotongan garis antara yang ditarik dari titik ke garis tanah lalu diteruskan ke dengan garis yang ditarik dari titik ke M tadi. Dan perpotongan itulah merupakan hasil perspektif dari titik. Cobalah cara tersebut di atas untuk mencari perspektif titik B yang terletak ( 3,5,0).

8 2. Cara ke dua M GH GT 1 1 Keterangan gambar Titik yang akan dicari sama kedudukannya dengan contoh yang pertama. Langkah yang pertama: kita rebahkan atau putar tinggi Mata (M) pada garis horison (H) ke arah sebelah kiri (Dkr=Distansi kiri), kemudian tarik garis dari ujung M di atas Ke perpotongan busur dari M pada garis H tadi. Dari titik yang dicari, tarik garis ke garis T (tanah) yang sejajr dengan gartis yang ditarik dari M ke perpotongan busur pada garis H di atas tadi, lalu kedua garis sejajar tersebut dihubungkan. Langkah berikutnya seperti pada langkah pertama tadi yaitu dari titik yang dicari hubungkan dengan garis tegak lurus ke arah garis tanah, kemudian langsungkan ke, demikian kita akan mendapatkan garis yang berpotongan dengan garis yang pertama tadi. erpotongan tersebut adalah titik yang kita cari. Cobalah tersebut di atas untuk mencari perspektif dari titik yang terletak (3,5,0).

9 3. Cara ke tiga. M GH GT 1 1 Keterangan gambar: Seperti nampak pada gambar, cara yang ke tiga ini adalah mencari perpotongan antara garis yang ditarik dari titik yang dicari ke M di atas dengan perputaran diatansi, perpotongan dari kedua garis tersebut adalah titik yang dicari. Cobalah cara tersebut di atas untuk mencari perspektif dari titik yang terletak (3,5,0).

10 4. Cara ke empat. M GH GT 1 1 gb.9 Keterangan gambar Cara yang ke empat, titik yang dicari didapat dari perpotongan perputaran kedua distansi (tinggi mata) ke garis horison. Coba cara tersebut di atas untuk mencari perspektif dari titik (3,5,0) KESIMULN da empat cara untuk mencari perspektif sebuah titik seperti yang sudah diuraikan di atas. ilihlah salah satu yang menurut nda paling efektif untuk nda gunakan menyelesaikan soal-soal gambar perspektif.

11 3.2 erspektif Garis Untuk mencari perspektif sebuah garis caranya yaitu dengan jalan mencari perspektif titik yang membatasi kedua ujung garis tersebut, kemudian hasilnya dihubungkan. M GH GT 1 B B Contoh : Ditentukan garis Q yang panjangnya 6 cm. terletak (-3,3,0). Titik Q terletak disebelah kanan M. Seperti nampak pada gambar,,hasil perspektif sebuah garis akan nampak lebih pendek dibandingkan dengan ukuran garis sebelumnya kemudian karena garis yang diketahui dan akan dicari perspektifnya sejajar dengan garis tanah, maka hasilnya pun sejajar dengan garis tanah tersebut.

12 M GH 1 B B GT Gambar garis perspektif yang letaknya membentuk sudut 30 derajat dengan garis tanah enyelesaian gambar di atas dapat dilakukan dengan jalan mencari perpotongan garis yang ditarik dari garis yang dicari ke garis tanah, kemudian hubungkan ke perpotongan garis yang ditarik dari M ke garis H ( garis tersebut sejajar dengan penghubung ke garis tanah ). 3.3 erspektif Bidang Karena titik dan garis sudah kita ketahui cara mencari perspektifnya, maka untuk perspektif bidang akan mudah menyeleseikannya, karena bidang terbentuk dari garisgaris.

13 Contoh perspektif bidang : M D 1 C B GH GT B Keterangan gambar Bidang segi empat di atas letaknya di tengah-tengah M, sepasang sisi panjangnya yaitu sisi B dan BC sejajar dengan garis tanah. Titik terletak (-3,1,0 ) titik B terletak di sebelah kanan M. Sisi BC panjangnya 3 cm. Contoh yang ke dua diketahui sebuah empat persegi panjang KLMN. Titik K(2,1,0). sisi KL panjangnya 5 cm dan sisi tersebut sejajar dengan garis tanah. titik B terletak di sebelah kanan M (mata), panjang sisi MN 4 cm.

14 M GH B GT 1 C C D D B Contoh yang ke tiga adalah perspektif bidang yang menggunakan sinar mata yaitu 30 derajat di sebelah kiri dan 60 derajat di sebelah kanan. Kebetulan dalam contoh ini kedudukan bidang yang akan dicari, salah satu sisinya membentuk sudut 30 derajat dengan garis tanah, sehingga penyelesaiannya lebih mudah.

15 M GH GT C D C 1 B D B Gambar perspektif bidang dengan sistem sinar mata (sistem dua titik hilang). 3.4 erspektif Benda Dalam pembahasan perspektif benda ini terdapat dua cara, yaitu : 1. Sistem yang menggunakan denah di bawah garis tanah 2. sistem tanpa denah, yaitu dengan menggunakan sistem TITIK UKUR (TU).

16 1. Sistem Denah. Sistem ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari perspektif titik,garis dan bidang pada pembahasan di atas. Dikatakan kelanjutannya karena pada perspektif ini tambahannya tinggal bagian tinggi saja, sedangkan bagian alasnya sama sekali tidak ada unsur-unsur yang baru. Lihat contoh berikut! M GH GT tinggi 1 B C C D D B Keterangan : Contoh gambar di atas adalah perspektif balok BCD-'B'C'D' letaknya di samping kanan dari titik M. Titik C nya terletak pada (2,1,0) sisi CD sejajar garis tanah dan panjangnya 5 cm, titik B ada di samping kanan dari titik M, sedangkan panjang sisi BC=4 cm. Tinggi balok tersebut 4,5 cm. erspektif balok tersebut hanya menggunakan satu titik hilang yaitu menuju di tengah, tinggi benda dibuat pada garis tanah yang menuju ke.

17 Contoh ke dua, balok yang menggunakan sistem dua titik hilang dengan sinar mata di sebelah kiri dan kanan sebesar 45 derajat, sedangkan kedudukan bendanya ada di tengah-tengah titik mata. M GH GT 1 Gambar balok dengan dua titik hilang.

18 Contoh yang ke tiga adalah sistem titik hilang dengan sinar mata 30 derajat di samping kiri dan 60 derajat di samping kanan, tinggi benda di buat pada garis tanah yang menuju ke titik bidang. M GH GT

19 2. erspektif tanpa denah Terdapat dua cara untuk menentukan letak sebuah titik pada perspektif tanpa denah ini, untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut! M GH DKn (2,3,0 ) GT Keterangan gambar : Soal di atas diketahui titik (2,3,0). Untuk mencari titik tersebut langkah pertama, simpanlah harga atau nilai 2 pada garis tanah ke kanan (positif), kemudian tarik garis dari angka dua tersebut langsung ke titik, lalu dari ujung nilai dua tadi dihitung angka tiga ( karena Y pada contoh soal ini mempunyai nilai 3), kemudian tarik garis ke atas yaitu ke perpotongan rebahan titik mata ( distansi kanan) hasil perpotongan ke dua garis tersebut adalah letak titik perspektif dari ( 1,2,0) tadi.

20 M GH GT 1 (2,3,0 ) 2 3 Cara ke dua untuk menentukan letak sebuauh titik Keterangan gambar : Cara yang ke dua kedudukan titik masih sama dengan contoh cara pertama yaitu (2,3,0) perbedaan hanya pada putaran distansinya yang dilakukan di sebelah kiri, dan untuk putaran yang ke kiri ini meletakkan harga Y nya dilanjutkan dari ujung harga X ke kanan.

21 Setelah bisa menentukan letak titik, maka sebuah garis juga bisa kita kerjakan, yaitu dengan mempergunakan titik ukur, untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini! ada gambar di atas adalah penyelesaian dari sebuah garis yang soalnya sebagai berikut: Sebuah garis B dengan sudut pandangnya 60 derajat di sebelah kanan, panjangnya 5 cm dan titik nya terletak pada (1,1,0). enyelesaian titik sama seperti pada gambar di atas, yang menjadi masalah adalah panjang garis. anjang garis ini dapat dibuat dengan jalan membuat TITIK UKUR yaitu diputar dari sinar mata ke garis tanah kemudian dihubungkan ke titik yang sudah didapat sampai memotong garis tanah di bawah, perpotongan tersebut merupakan titik O untuk pengukuran panjang garis. caranya dari O tersebut tarik ke kiri 5 cm, kemudian dari situ (dari ujung lima tersebut) kembali ditarik ke arah titik ukur, dari mulai garis tanah yang terpotong oleh dua garis yang menuju titik ukur tersebut merupakan tempat garis yang kita cari tersebut, namun untuk tepatnya kita tarik dari garis tanah melalui titik ke arah sudut pandang di atas,garis tersebut akan terpotong oleh kedua garis dari TU tadi, disitulah panjang garis B yang kita cari.

22 Untuk mencari bentuk bidang, asal sudah dapat menguasai bentuk garis tidak akan ada masalah. Namun untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar bidang BCD dengan sudut pandang 60 derajat di sebelah kiri untuk sisi B dan 30 derajat di sebelah kanan untuk sisi CD.

23 erspektif sebuah balok dengan sudut pandang 60 derajat untuk sisi B di sebelah kiri dan 30 derajat untuk sisi BC di sebelah kanan. Keterangan gambar Seperti pada perspektif yang menggunakan denah, pada perspektif tanpa denah juga untuk membuat tinggi suatu benda dapat ditentukan pada garis yang menuju titik hilang yaitu setinggi garis yang ditentukan. erhatikan gambar berikut ini : GH

24 GH B C D E F CONTOH LUKISN ERSEKTIF STU TITIK LENY Berdasarkan posisi Benda terhadap Titik Mata, dikenal 2 istilah : 1. erspektif Katak, yaitu ersepektif yang dibuat dengan posisi benda berada di atas Titik Mata, dalam gambar di atas adalah balok, B, C. 2. erspektif Burung, apabila posisi benda di bawah Titk Mata, dalam gambar di atas adalah balok D, E, F. Buatlah simulasi dengan menggambar erspektif menggunakan 2 ( dua ) titik hilang. erhatikan! posisi mata terhadap benda sangat mempengaruhi bentuk perspektif benda yang diinginkan. Bisa saja terjadi sebuah gambar persepektif yang di buat sudah benar, namun gambar perspektif yang dihasilkan kurang bagus. Oleh karena itu, untuk keperluan estetika perlu diperhitungkan posisi benda dan Titik Mata sehingga mendapatkan hasil persepektif yang baik.

25 3.5 Contoh-contoh Gambar erspektif Foto-foto bangun berikut ini menampilkan muatan perspektif. elajarilah dengan seksama bahwa pengambilan gambar dalam posisi tertentu akan menghasilkan jenis gambar erspektif yang tertentu pula! Contoh erspektif dengan satu Titik Hilang

26 Gereja Santa erawan Maria - Thomas hotowork Eksterior satu Titik Hilang

27 Interior dua Titik Hilang

28

29 Eksterior dua Titik Hilang

30 TUGS 2 4. erspektifkan titik ( -5, 1, 0 ) 5. Kerjakan soal- soal berikut masing- masing dalam bidang perspektif yang berbeda a. Kembangkan Titik di atas menjadi garis yang sejajar dengan GT, panjang = 7 cm. b. Kembangkan lagi menjadi sebuah persegi panjang 6. Kembangkan titik pada no 1 di atas menjadi sebuah balok, tinggi = 5 cm. 7. Buatlah perspektif dari minimal 3 benda dalam komposisi yang baik. osisi dan ukuran bebas. 8. Buatlah sketsa perspektif satu Titik Lenyap, obyek bebas. 9. Buatlah sketsa perspektif dua Titik Lenyap, obyek bebas. SIKOMOTORIK 2 : Buatlah sebuah Gambar erspektif sebagai Desain Karya Seni Rupa Terapan dengan ketentuan sebagai berikut : NO ITEM URIN 1. Bangun yang Seni Terapan dirancang 2. Jenis Karya Desain roduk ditampilkan dalam bentuk Gambar erspektif 3. Teknik erspektif ilih salah satu : a. erspektif Satu TL b. erspektif Dua TL 4. Teknik Warna ensil 2B, pilih salah satu teknik : a. Monochromatic b. olychromatic 5. Ukuran Kertas 3 6. Waktu 2 x pertemuan 2 x 45 menit)

31 NO LEMBR ENILIN SEK YNG DIUKUR BOBOT ENILIN 1 Tahap persiapan : pemilihan dan cara Max 25 menggunakan alat 2 Tahap roses roduksi Max 25 SKL Harmonisasi Max 50 JUMLH TOTL SKOR Skala enilaian : 1 = tidak baik. 2 = kurang baik, 3 = cukup baik, 4 = sangat baik. Total Skor : Bobot penilaian x skala Total Skor maksimal : 100 SOL- SOL ILIHN GND 1. Salah satu teknik gambar rancang bangun dikenal istilah gambar erspektif, yaitu. a. gambar yang dibuat dengan menggunakan ekspresi secara total. b. gambar rancang yang dibuat secara global/menyeluruh dengan memanfatkan titik hilang c. gambar yang dibuat dengan melihat model/obyek yang sesungguhnya d. gambar yang memiliki unsur cerita di dalamnya. e. gambar kerja yang dibuat secara detail baik dalam hal ukuran maupun bentuknya dilihat dari berbagai arah. 2. rinsip yang menghubungkan royeksi dan erspektif adalah a. Gambar proyeksi dibuat untuk mengetahui ukuran benda sedangkan persepektif untuk mengetahui bentuk benda secara keseluruhan b. Gambar perspektif dibuat untuk mengetahui ukuran benda sedangkan proyeksi untuk mengetahui bentuk benda secara keseluruhan c. Gambar proyeksi dibuat dengan satu warna sedangkan persepektif dengan banyak warna sesuai dengan konsep desain d. Gambar persepktif lebih penting dari gambar gambar proyeksi e. Gambar proyeksi lebih penting dari gambar gambar perspektif 3. osisi sebuah benda dalam gambar perspektif dinyatakan dalam kordinat (x,y,z).osisi Y adalah... a. posisi benda dihitung dari 1 ke bawah b. posisi benda dihitung dari 1 ke kanan atau kekiri c. posisi benda dihitung dari bidang tanah ke atas d. posisi benda dihitung dari bidang tanah ke bawah e. posisi benda dihitung dari bidang horison

32 4. Dalam gambar perspektif tinggi sebuah benda dinyatakan dalam... a. bidang perspektif ke distansi b. bidang horison c. bidang tanah ke atas d. bidang tanah ke bawah e. bidang tanah ke distansi 5. pabila kita menggambar benda yang tegak lurus dengan bidang tanah, maka hasil perspektifnya adalah... a. tetap tegak lurus dengan bidang tanah b. menjadi sejajar c. sejajar dengan distansi d. tidak tentu tergantung posisi benda e. tidak tentu tergantung ukuran benda 6. ernyataan berikut yang mendasari munculnya teori proyeksi adalah... a. supaya orang mengetahui sejarah terbentuknya desain yang dimaksud b. supaya orang memahami makna sebuah desain c. supaya orang dapat melihat dengan mudah ukuran-ukuran riil sebuah desain dari berbagai sisi d. supaya orang dengan mudah melihat gambaran keseluruhan bentuk desain secara proporsional e. supaya orang dengan mudah memahami material riil sebuah desain 7. Dalam menggambar perspektif kita kenal sebuah istilah horison, yaitu. a. jarak dari mata ke benda b. posisi penggambar terhadap benda c. tinggi mata dari permukaan tanah d. tinggi penggambar e. bayangan benda terhadap bidang gambar 8. Ukuran perspektif dalam sebuah gambar perspektif tampak pada... a. bidang tanah b. bidang distansi c. bidang perspektif d. bidang tafreel e. bidang horison 9. Makna dari ukuran perspektif dalam sebuah gambar perspektif adalah... a. ukuran yang menunjukkan bentuk pada suatu desain pada sisi tertentu b. ukuran yang menunjukkan perbandingan ukuran desain dengan ukuran sebenarnya c. ukuran yang menunjukkan ukuran yang sebenarnya dalam hitungan satuan ukuran yang berlaku d. ukuran yang menunjukkan besar kecilnya sebuah desain dengan memperhatikan bentuk desain dari berbagai sisi e. ukuran benda secara proporsional yang dekat tampak lebih besar dan yang jauh tampak lebih kecil

33 10. Gambar erspektif termasuk salah satu gambar mistar, artinya... a. Seluruh gambar perspektif diselesaikan dengan alat bantu mistar b. Seluruh hasil gambar perspektif harus bisa diukur secara akurat c. Seluruh gambar perspektif selalu menampilkan bentuk garis-garis d. Ketegasan bentuk garis adalah ciri khas gambar perspektif e. Finishing gambar perspektif selalu ditandai dengan sentuhan garis. 11. Untuk mengetahui jumlah kebutuhan material sebuah produk,maka bentuk desain yang dibutuhkan adalah... a. Gambar proyeksi b. Gambar perspektif c. Gambar illustrasi d. Gambar denah e. Gambar skala 12. Sedangkan untuk mengetahui bentuk proporsional sebuah produk secara keseluruhan, maka bentuk desain yang dibutuhkan adalah... a. Gambar proyeksi b. Gambar perspektif c. Gambar illustrasi d. Gambar denah e. Gambar skala 13. Bentuk ideal sebuah rancangan perpektif akan tampak lebih komunikatif dan indah apabila posisi benda... a. berada di bagian atas horison b. berada di bagian bawah horison c. bagian atas ataupun bawah benda tidak terlalu dekat dari horison d. benda berada tepat pada horison e. bagian alas benda tepat pada horison 14. Sebuah persegi panjang BCD terletak dalam posisi ( 5,6,1), B ( -5,6,1), C (- 5,1,1).Dimanakah D? a. (-5,1,6) b. (-5,6,-1)) c. (-5,1,1) d. (-1,6,1) e. (-5,6,1) 15. Untuk menghantarkan gambar perspektif, maka pada bidang tanah kita gambarkan... a. tampak atas benda yang akan diperspektifkan b. tampak samping benda yang akan diperspektifkan c. tampak depan benda yang akan diperspektifkan d. perspektif benda itu sendiri e. irisan benda yang akan diperspektifkan 16. erspektif dari sebuah kubus persegi empat adalah... a. bola b. ersegi panjang c. Lingkaran d. Ellips e. Belah ketupat

34 17. Benda -benda yang sejajar dengan Garis Tanah sebaiknya diperspektifkan dengan... a. Tiga titik hilang b. Dua titik Hilang c. Satu Titik hilang d. erspektif tanpa denah e. erspektif dengan denah 18. Seseorang yang sedang mempelajari Teknik Menggambar erspektif sebaiknya memulainya dengan menggambar erspektif dengan pertolongan... a. Tiga titik hilang b. Dua titik Hilang c. Satu Titik hilang d. erspektif tanpa denah e. erspektif dengan denah 19. Gambar erspektif termasuk salah satu gambar mistar, artinya... a. Seluruh gambar perspektif diselesaikan dengan alat bantu mistar b. Seluruh hasil gambar perspektif harus bisa diukur secara akurat c. Seluruh gambar perspektif selalu menampilkan bentuk garis-garis d. Ketegasan bentuk garis adalah ciri khas gambar perspektif e. Finishing gambar perspektif selalu ditandai dengan sentuhan garis. 20. pabila kita akan menggambar perspektif dengan sistem dua titik hilang maka kita gunakan pertolongan dari... a. Titik hilang pada garis horison b. Garis tanah c. M dan d. dan 1 e. Garis Horison 21. Ciri khas hasil perspektif dengan dua titik hilang adalah... a. posisi benda menjadi serong terhadap Garis tanah b. bentuk benda menjadi tinggi dan runcing c. posisi benda selalu tegak lurus terhadap horison d. bentuk benda menjadi melebar e. posisi benda selalu sejajar dengan Garis Tanah 22. Bentuk perspektif sebuah balok apabila posisi balok berada di atas garis horison adalah a. Bagian samping kanan balok tidak kelihatan b. Bagian samping kiri balok tidak kelihatan c. Seluruh bagian balok kelihatan d. Bagian atas balok tidak kelihatan e. Bagian bawah balok tidak kelihatan 23. osisi Bidang perspektif dalam gambar perspektif adalah... a. di bawah Garis Horison b. di antara Garis Horison dan Garis tanah c. di antara Diatansi kanan dan distansi kiri d. di atas garis Horison tak terhingga e. di bawah garis horison tak terhingga

35 24. Benda -benda yang sejajar dengan Garis Tanah sebaiknya diperspektifkan dengan... a. Tiga titik hilang b. Dua titik Hilang c. Satu Titik hilang d. erspektif tanpa denah e. erspektif dengan denah 25. Seseorang yang sedang mempelajari Teknik Menggambar erspektif sebaiknya memulainya dengan menggambar erspektif dengan pertolongan... a. Tiga titik hilang b. Dua titik Hilang c. Satu Titik hilang d. erspektif tanpa denah e. erspektif dengan denah

36 Catatan

GAMBAR PERSPEKTIF SATU TITIK HILANG

GAMBAR PERSPEKTIF SATU TITIK HILANG Minggu VI GAMBAR PERSPEKTIF SATU TITIK HILANG CAKUPAN ISI Pada minggu ini akan dibahas tentang gambar perspektif dengan satu titik hilang, yang mencakup jenis-jenisnya, fungsinya, metode menggambarnya

Lebih terperinci

KONSEP DASAR PERKAPALAN RENCANA GARIS C.20.02

KONSEP DASAR PERKAPALAN RENCANA GARIS C.20.02 KONSEP DASAR PERKAPALAN RENCANA GARIS C.20.02 BAGIIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIIKULUM DIIREKTORAT PENDIIDIIKAN MENENGAH KEJURUAN DIIREKTORAT JENDERAL PENDIIDIIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIIDIIKAN

Lebih terperinci

Bab. Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar. A. Kesebangunan Bangun Datar B. Kekongruenan Bangun Datar

Bab. Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar. A. Kesebangunan Bangun Datar B. Kekongruenan Bangun Datar ab 1 umber: Image Kesebangunan dan Kekongruenan angun atar i Kelas VII, kamu telah mempelajari bangun datar segitiga dan segiempat, seperti persegipanjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang,

Lebih terperinci

DIMENSI TIGA. 5. Tabung. Luas = 2 r ( r + t ) Vol = r 2 t. 6. Kerucut. Luas = r (r+s) ( s = pjg sisi miring ) Vol = 1/3. luas alas. tinggi. 7.

DIMENSI TIGA. 5. Tabung. Luas = 2 r ( r + t ) Vol = r 2 t. 6. Kerucut. Luas = r (r+s) ( s = pjg sisi miring ) Vol = 1/3. luas alas. tinggi. 7. INI IG endahuluan: ab imensi iga ini merupakan kelanjutan dari materi pelajaran bangun ruang sewaktu di dulu. aat di, hal yang dibahas adalah luas permukaan dan volume bangun ruang, sedangkan di ditambahkan

Lebih terperinci

Pertemuan ke 11. Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C

Pertemuan ke 11. Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C Pertemuan ke Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C B Empat persegi panjang d D E a c C B b B = CD dan B // CD D = BC dan D //

Lebih terperinci

Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan

Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan Kubus Tabung rusuk kubus = a volume = a³ panjang diagonal bidang = a 2 luas = 6a² panjang diagonal ruang = a 3 r = jari-jari t = tinggi volume = π r² t luas = 2πrt Prisma

Lebih terperinci

Jika persegi panjang ABCD di atas diketahui OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... A. 78 cm. C. 26 cm B. 52 cm. D. 13 cm Kunci : C Penyelesaian :

Jika persegi panjang ABCD di atas diketahui OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... A. 78 cm. C. 26 cm B. 52 cm. D. 13 cm Kunci : C Penyelesaian : 1. Jika persegi panjang ABCD di atas diketahui OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... A. 78 cm C. 26 cm B. 52 cm D. 13 cm 2. Gambar disamping adalah persegi panjang. Salah satu sifat persegi panjang adalah

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1)

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) H. SufyaniPrabawant, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 5 PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun ruang dan dibagi menjadi dua kegiatan belajar.

Lebih terperinci

4. Himpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear x + y = 5 dan x - 2y = -4 adalah... A.{ (1, 4) }

4. Himpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear x + y = 5 dan x - 2y = -4 adalah... A.{ (1, 4) } 1. Diketahui himpunan P = ( bilangan prima kurang dari 13 ) Banyak himpunan bagian dari P adalah... 5 25 10 32 P = {Bilangan prima kurang dari 13} = {2, 3, 5, 7, 11} n(p) = 5 2. Dari diagram Venn di bawah,

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN-BANGUN DATAR (1)

PEMBELAJARAN BANGUN-BANGUN DATAR (1) H. Sufyani Prabawanto, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 3 PEMBELAJARAN BANGUN-BANGUN DATAR (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun datar yang dibagi menjadi dua kegiatan

Lebih terperinci

BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG

BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG 1. KOORDINAT CARTESIUS DALAM RUANG DIMENSI TIGA SISTEM TANGAN KANAN SISTEM TANGAN KIRI RUMUS JARAK,,,, 16 Contoh : Carilah jarak antara titik,, dan,,. Solusi :, Persamaan

Lebih terperinci

Cara Pemetaan Energi Rumah. Berdasarkan Arah Kompas

Cara Pemetaan Energi Rumah. Berdasarkan Arah Kompas Cara Pemetaan Energi Rumah Berdasarkan Arah Kompas 1 Cara Pemetaan Energi Rumah Berdasarkan Arah Kompas Oleh : Aries Harijanto Pengelola: Indonesia Feng Shui Online Center (IFSOC) 2008. http://www.klikfengshui.com

Lebih terperinci

SOAL BANGUN RUANG. a. 1000 dm 3 b. 600 dm 3 c. 400 dm 3 d. 100 dm 3 e. 10 dm 3

SOAL BANGUN RUANG. a. 1000 dm 3 b. 600 dm 3 c. 400 dm 3 d. 100 dm 3 e. 10 dm 3 SOAL BANGUN RUANG Soal Pilihan Ganda 1. Diketahui kubus dengan panjang diagonal sisi 5 2 meter, luas permukaan kubus tersebut adalah a. 5 m 2 b. 25 m 2 c. 100 m 2 d. 150 m 2 e. 250 m 2 2. Dikeatui bak

Lebih terperinci

TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA

TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA Oleh: Muhammad Surur, S.Pd JEMBER 2012 TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT 1. KUDA-KUDA

Lebih terperinci

Pengukuran Diameter dan Tinggi Pohon

Pengukuran Diameter dan Tinggi Pohon Pengukuran Diameter dan Tinggi Pohon Pengukuran Diameter (DBH) Diameter atau keliling merupakan salahsatu dimensi batang (pohon) yang sangat menentukan luas penampang lintang batang pohon saat berdiri

Lebih terperinci

ORGANISASI RUANG. Berikut ini adalah jenis-jenis organisasi ruang : Organisasi Terpusat

ORGANISASI RUANG. Berikut ini adalah jenis-jenis organisasi ruang : Organisasi Terpusat ORGANISASI RUANG Berikut ini adalah jenis-jenis organisasi ruang : Organisasi Terpusat Sebuah ruang dominan terpusat dengan pengelompokan sejumlah ruang sekunder. Organisasi Linier Suatu urutan dalam satu

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 MATEMATIKA PROGRAM STUDI IPA

PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 MATEMATIKA PROGRAM STUDI IPA PEMBAHASAN UN SMA TAHUN PELAJARAN 009/00 MATEMATIKA PROGRAM STUDI IPA PEMBAHAS :. Sigit Tri Guntoro, M.Si.. Jakim Wiyoto, S.Si. 3. Marfuah, M.T. 4. Rohmitawati, S.Si. PPPPTK MATEMATIKA 00 . Perhatikan

Lebih terperinci

DINAMIKA GERAK. 2) Apakah yang menyebabkan benda yang sedang bergerak dapat menjadi diam?

DINAMIKA GERAK. 2) Apakah yang menyebabkan benda yang sedang bergerak dapat menjadi diam? DINAMIKA GERAK KEGIATAN TATAP MUKA A. Pendahuluan Mengapa buah nangka yang tergantung di pohon, bila sudah matang jatuh ke Bumi? Gerak apa yang dialami nangka yang jatuh itu? Ya benar, buah nangka yang

Lebih terperinci

LOMBA CERDAS CERMAT MATEMATIKA (LCCM) TINGKAT SMP DAN SMA SE-SUMATERA Memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Selatan 3 5 Mei 2011

LOMBA CERDAS CERMAT MATEMATIKA (LCCM) TINGKAT SMP DAN SMA SE-SUMATERA Memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Selatan 3 5 Mei 2011 LOMBA CERDAS CERMAT MATEMATIKA (LCCM) TINGKAT SMP DAN SMA SE-SUMATERA Memerebutkan Piala Gubernur Sumatera Selatan 3 5 Mei 0 PENYISIHAN II PERORANGAN LCCM TINGKAT SMP x. I. x x II. x x x 6 x III. x x 6

Lebih terperinci

MEMBERI UKURAN PADA GAMBAR KERJA

MEMBERI UKURAN PADA GAMBAR KERJA MENGGAMBAR TEKNIK DASAR MEMBERI UKURAN PADA GAMBAR KERJA A.20.07 BAGIIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIIKULUM DIIREKTORAT PENDIIDIIKAN MENENGAH KEJURUAN DIIREKTORAT JENDERAL PENDIIDIIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN

Lebih terperinci

a. Pedoman dikapal b. Menara suar c. Sudut baringan (relatiop)

a. Pedoman dikapal b. Menara suar c. Sudut baringan (relatiop) BAB VI ALAT BARING PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai alat navigasi yang umumnya hanya digunakan di kapal bersama-sama dengan pedoman magnit untuk mendapatkan posisi kapal, yaitu alat baring.

Lebih terperinci

Gaya. Gaya adalah suatu sebab yang mengubah sesuatu benda dari keadaan diam menjadi bergerak atau dari keadaan bergerak menjadi diam.

Gaya. Gaya adalah suatu sebab yang mengubah sesuatu benda dari keadaan diam menjadi bergerak atau dari keadaan bergerak menjadi diam. Gaya Gaya adalah suatu sebab yang mengubah sesuatu benda dari keadaan diam menjadi bergerak atau dari keadaan bergerak menjadi diam. Dalam mekanika teknik, gaya dapat diartikan sebagai muatan yang bekerja

Lebih terperinci

Menentukan Peralatan Bantu Kerja Dengan Mesin Frais

Menentukan Peralatan Bantu Kerja Dengan Mesin Frais MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN PROSES FRAIS Menentukan Peralatan Bantu Kerja Dengan Mesin Frais Kegiatan Belajar Oleh: Dwi Rahdiyanta Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Menentukan Peralatan

Lebih terperinci

3. Bagian-Bagian Atap Bagian-bagian atap terdiri atas; kuda-kuda, ikatan angin, jurai, gording, sagrod, bubungan, usuk, reng, penutup atap, dan

3. Bagian-Bagian Atap Bagian-bagian atap terdiri atas; kuda-kuda, ikatan angin, jurai, gording, sagrod, bubungan, usuk, reng, penutup atap, dan 3. Bagian-Bagian Atap Bagian-bagian atap terdiri atas; kuda-kuda, ikatan angin, jurai, gording, sagrod, bubungan, usuk, reng, penutup atap, dan talang. a. Gording Gording membagi bentangan atap dalam jarak-jarak

Lebih terperinci

Kompetensi Siswa Hakikat Fisika

Kompetensi Siswa Hakikat Fisika MENGUKUR Kompetensi Siswa 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama,

Lebih terperinci

SOAL UJIAN NASIONAL. PROGRAM STUDI IPA ( kode P 45 ) TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SOAL UJIAN NASIONAL. PROGRAM STUDI IPA ( kode P 45 ) TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SOAL UJIAN NASIONAL PROGRAM STUDI IPA ( kode P 4 ) TAHUN PELAJARAN 8/9. Perhatikan premis premis berikut! - Jika saya giat belajar maka saya bisa meraih juara - Jika saya bisa meraih juara maka saya boleh

Lebih terperinci

C 7 D. Pelat Buhul. A, B, C, D, E = Titik Buhul A 1 2 B E. Gambar 1

C 7 D. Pelat Buhul. A, B, C, D, E = Titik Buhul A 1 2 B E. Gambar 1 Konstruksi rangka batang atau vakwerk adalah konstruksi batang yang terdiri dari susunan batangbatang lurus yang ujungujungnya dihubungkan satu sama lain sehingga berbentuk konstruksi segitigasegitiga.

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung MODUL PELATIHAN KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung Pendahuluan Konsep rumah bambu plester merupakan konsep rumah murah

Lebih terperinci

MAT. 06. Geometri Dimensi Tiga

MAT. 06. Geometri Dimensi Tiga MAT. 06. Geometri Dimensi Tiga i Kode MAT. 06 Geometri Dimensi Tiga BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN

Lebih terperinci

Mendeskripsikan denah/tempat

Mendeskripsikan denah/tempat Mendeskripsikan denah/tempat Denah adalah gambar yang menunjukkan letak kota, jalan dan sebagainya. Denah adalah bagian kecil dari sebuah peta, sehingga denah mempunyai fungsi yang sama dengan peta. Namun

Lebih terperinci

3. Berdasarkan gambar soal nomor 2, alas balok tersebut berbentuk bangun datar... A. Persegi B. Persegi panjang C. Belah ketupat D.

3. Berdasarkan gambar soal nomor 2, alas balok tersebut berbentuk bangun datar... A. Persegi B. Persegi panjang C. Belah ketupat D. Bangun Ruang (1)_soal Kelas 4 SD 1. Jumlah titik sudut bangun ruang kubus ada.... A. 4 B. 8 C. 12 D. 16 2. Perhatikan gambar berikut! Rusuk yang sama panjang dengan AB adalah.... A. CD B. BC C. BF D. EH

Lebih terperinci

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN..

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. Kriiiing..kriiiing bel berbunyi, tanda jam pelajaran ke Sembilan sudah berbunyi, tanda masuk di dua jam terakhir. Aku berfikir

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

Pertemuan III,IV,V II. Metode Persamaan Tiga Momen

Pertemuan III,IV,V II. Metode Persamaan Tiga Momen Pertemuan III,IV,V II. etode Persamaan Tiga omen II. Uraian Umum etode Persamaan Tiga omen Analisa balok menerus, pendekatan yang lebih mudah adalah dengan menggunakan momen-momen lentur statis yang tak

Lebih terperinci

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG BAB I VEKTOR DALAM BIDANG I. KURVA BIDANG : Penyajian secara parameter Suatu kurva bidang ditentukan oleh sepasang persamaan parameter. ; dalam I dan kontinue pada selang I, yang pada umumnya sebuah selang

Lebih terperinci

MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON

MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON KODE MODUL KYU.BGN.214 (2) A Milik Negara Tidak Diperdagangkan SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK BANGUNAN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK INDUSTRI KAYU MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON DIREKTORAT

Lebih terperinci

Peristilahan Gambar. Oleh: Sanento Yuliman

Peristilahan Gambar. Oleh: Sanento Yuliman Peristilahan Gambar Oleh: Sanento Yuliman Yang pertama-tama perlu diingat dalam membicarakan gambar ialah bahwa kata gambar mempunyai lingkup pengertian yang luas. Yang tampak di layar televisi ketika

Lebih terperinci

Komite Akreditasi Nasional

Komite Akreditasi Nasional PEDOMAN 12-2004 Penggunaan Logo Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk digunakan oleh Lembaga Sertifikasi, Lembaga Inspeksi dan Laboratorium yang telah diakreditasi oleh KAN Komite Akreditasi Nasional

Lebih terperinci

STIKOM SURABAYA BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Identifikasi Masalah. Semakin banyaknya pertumbuhan menara telekomunikasi oleh para

STIKOM SURABAYA BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Identifikasi Masalah. Semakin banyaknya pertumbuhan menara telekomunikasi oleh para BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi Masalah Semakin banyaknya pertumbuhan menara telekomunikasi oleh para provider telekomunikasi tersebut menjadikan ancaman bagi keindahan tatanan suatu kota sehingga jika

Lebih terperinci

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN APA PENILAIAN? APA PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI? BAGAIMANA CARANYA? PENILAIAN: PROSES SISTIMATIS MELIPUTI PENGUMPULAN INFORMASI (ANGKA, DESKRIPSI VERBAL), ANALISIS, INTERPRETASI

Lebih terperinci

a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari jari r lintasannya Gambar 1

a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari jari r lintasannya Gambar 1 . Pengantar a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Gerak melingkar adalah gerak benda yang lintasannya berbentuk lingkaran dengan jari jari r Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH KELAS VII KURIKULUM

Lebih terperinci

Peta, Atlas, dan Globe

Peta, Atlas, dan Globe Bab 6 Sumber: Microsof Encarta, 2008 Peta, Atlas, dan Globe Setelah mempelajari bab ini kalian diharapkan dapat: menyebutkan pengertian peta, atlas dan globe membuat sketsa dan peta wilayah yang menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Semoga bermanfaat. Disusun : Memed Wachianto ( Guru Matematika SMK Negeri 10 Semarang ) Geogebra - 1

KATA PENGANTAR. Semoga bermanfaat. Disusun : Memed Wachianto ( Guru Matematika SMK Negeri 10 Semarang ) Geogebra - 1 KATA PENGANTAR Saat ini adalah era ICT (Information and Communication Technology). Seiring dengan itu saat ini SPSS dan MINITAB, yaitu software untuk statistika yang merupakan cabang dari matematika. Geogebra

Lebih terperinci

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik V. Medan Magnet Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik Di tempat tersebut ada batu-batu yang saling tarik menarik. Magnet besar Bumi [sudah dari dahulu dimanfaatkan

Lebih terperinci

MENUNJUKKAN SIFAT SIFAT AFFINITAS PERSPEKTIF DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM CABRI. Oleh Sugiyono Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY ABSTRAK

MENUNJUKKAN SIFAT SIFAT AFFINITAS PERSPEKTIF DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM CABRI. Oleh Sugiyono Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY ABSTRAK MENUNJUKKAN SIFAT SIFAT AFFINITAS PERSPEKTIF DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM CABRI Oleh Sugiyono Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY ABSTRAK Misalkan s suatu garis dalam bidang (Euclides), α menyatakan

Lebih terperinci

Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola

Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola BAB 6. Gerak Parabola Tujuan Umum Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola Tujuan Khusus Mahasiswa dapat memahami tentang

Lebih terperinci

Fungsi, Persamaaan, Pertidaksamaan

Fungsi, Persamaaan, Pertidaksamaan Fungsi, Persamaaan, Pertidaksamaan Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 004 di PPPG Matematika Oleh: Drs. Markaban, M.Si. Widyaiswara PPPG

Lebih terperinci

3 OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR

3 OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR Pada arena balap mobil, sebuah mobil balap mampu melaju dengan kecepatan (x + 10) km/jam selama 0,5 jam. Berapakah kecepatannya jika jarak yang ditempuh mobil tersebut 00

Lebih terperinci

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data Angka penting dan Pengolahan data Pendahuluan Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan eksperimen

Lebih terperinci

Pengenalan Bangun Datar dan Sifat-sifatnya di SD

Pengenalan Bangun Datar dan Sifat-sifatnya di SD gus Suharjana SD PKET FSILITSI PEMERDYN KKG/MGMP MTEMTIK Pengenalan angun Datar dan Sifat-sifatnya di SD Penulis: Drs. gus Suharjana, M.Pd. Penilai: Dra. Pujiati, M.Ed. Editor: Sri Purnama Surya, S.Pd.,

Lebih terperinci

4.1.3 PERALATAN PENDUKUNG SURVEY UKUR TANAH

4.1.3 PERALATAN PENDUKUNG SURVEY UKUR TANAH 4.1.3 PERALATAN PENDUKUNG SURVEY UKUR TANAH Program D3/D4 Teknik Sipil FTSP ITS ILMU UKUR TANAH 1 Materi ini menerangkan peralatan yang digunakan didalam praktikum ukur tanah Tujuan Instruksional Khusus:

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami

Lebih terperinci

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor Bab 5 Sumber: www.in.gr Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi komposisi dalam pemecahan masalah; menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi invers

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI LAPORAN TUGAS AKHIR

BAB III METODOLOGI LAPORAN TUGAS AKHIR BAB III METODOLOGI III.1 Persiapan Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Dalam tahap awal ini disusun hal-hal penting yang harus segera dilakukan

Lebih terperinci

1. Nilai Tempat Bilangan 10.000 s.d. 100.000 Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai

1. Nilai Tempat Bilangan 10.000 s.d. 100.000 Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai 1. Nilai Tempat Bilangan 10.000 s.d. 100.000 Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai tempat. Menggunakan sistem desimal (dari kata decem, bahasa

Lebih terperinci

PENGERTIAN. 3. Pengertian, adalah tanggapan atau gambaran akal budi yang abstrak, yang batiniah, tentang inti sesuatu.

PENGERTIAN. 3. Pengertian, adalah tanggapan atau gambaran akal budi yang abstrak, yang batiniah, tentang inti sesuatu. PENGERTIAN 1. Kegiatan akal budi yang pertama adalah menangkap sesuatu sebagaimana adanya. 2. Mengerti berarti menangkap inti sesuatu yang dapat dibentuk oleh akal budi. Apa yang dibentuk akal budi tersebut

Lebih terperinci

Konstruksi Rangka Pesawat Udara Untuk Keperluan Intern. Tidak Diperdagangkan

Konstruksi Rangka Pesawat Udara Untuk Keperluan Intern. Tidak Diperdagangkan Kode Bahan Ajar: KRPU- C3.1-XI Konstruksi Rangka Pesawat Udara Untuk Keperluan Intern Tidak Diperdagangkan EDISI : A REVISI : 00 Aircraft Drawing & CAD Sm. 3i KATA PENGANTAR Kurikulum 2013 adalah kurikulum

Lebih terperinci

Kegiatan Pembelajaran 2. Standar Kertas dan Tata Letak pada Gambar Teknik A. Deskripsi

Kegiatan Pembelajaran 2. Standar Kertas dan Tata Letak pada Gambar Teknik A. Deskripsi Kegiatan Pembelajaran 2. Standar Kertas dan Tata Letak pada Gambar Teknik A. Deskripsi Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima. Penyampaian informasi tidak hanya dapat

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Kembali SNI 03 1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 1. Ruang lingkup. 1.1. Standar ini ditujukan untuk

Lebih terperinci

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat Makna Keseluruhan dari Kesebangunan Diagram Siswa semakin dalam memahami konsep

Lebih terperinci

PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME

PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka

Lebih terperinci

v adalah kecepatan bola A: v = ωr. Dengan menggunakan I = 2 5 mr2, dan menyelesaikan persamaanpersamaan di atas, kita akan peroleh: ω =

v adalah kecepatan bola A: v = ωr. Dengan menggunakan I = 2 5 mr2, dan menyelesaikan persamaanpersamaan di atas, kita akan peroleh: ω = v adalah kecepatan bola A: v = ωr. ω adalah kecepatan sudut bola A terhadap sumbunya (sebenarnya v dapat juga ditulis sebagai v = d θ dt ( + r), tetapi hubungan ini tidak akan kita gunakan). Hukum kekekalan

Lebih terperinci

Geometri Dimensi Dua. Bab 4

Geometri Dimensi Dua. Bab 4 ab 4 Sumber: www.swissworld.org Geometri imensi ua Pada bab ini, nda akan diajak untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan menentukan kedudukan, jarak, dan bidang, di antaranya, dapat menggunakan

Lebih terperinci

PEMBACAAN DAN PEMAHAMAN GAMBAR TEKNIK

PEMBACAAN DAN PEMAHAMAN GAMBAR TEKNIK OPKR-10-009B PEMBACAAN DAN PEMAHAMAN GAMBAR TEKNIK BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri INSTRUKSI KERJA Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2014 DAFTAR REVISI Revisi ke 00 : Rumusan

Lebih terperinci

KU = kutub utara bumi KS = kutub selatan bumi

KU = kutub utara bumi KS = kutub selatan bumi BABV TEKANAN UDARA Pada prinsipnya, maka tekanan udara adalah sama dengan berat udara yang berada tegak lurus diatas tempat penilik yang bersangkutan, dengan demikian, maka dapatlah dimengerti bahwa, jika

Lebih terperinci

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan UNIT 5 PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Nyimas Aisyah Pendahuluan P embelajaran matematika di Sekolah Dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, menurut kurikulum 2006, bertujuan antara

Lebih terperinci

Kata-kata Motivasi ^^

Kata-kata Motivasi ^^ 1 Kata-kata Motivasi ^^ Barang siapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim) Tak ada rahasia untuk manggapai sukses Sukses itu dapat terjadi karena persiapan,

Lebih terperinci

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai Lampiran Petunjuk Pelaksanaan TKJI Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Petunjuk Pelaksanaan Tes 1. Lari 40 meter a. Tujuan Tes lari ini adalah untuk mengetahui atau mengukur kecepatan.

Lebih terperinci

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol 1. Metode Penerapan Kampanye Kecelakaan Nol Metode secara konkretnya, dikembangkan di tempat kerja untuk menerapkan prinsip menghargai manusia dalam

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 1 Limboto dan SMP

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 1 Limboto dan SMP 34 BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 1 Limboto dan SMP Negeri 2 Limboto, Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo dengan waktu penelitian

Lebih terperinci

ANALISIS KURIKULUM & BAHAN AJAR TK A SEMESTER II

ANALISIS KURIKULUM & BAHAN AJAR TK A SEMESTER II 1. Berlari sambil melompat (D.3.20). 2. Meniru gerakan binatang/senam fantasi (D.3.23) 3. Berdiri dengan tumit di atas satu kaki selama 10 detik (D.3.19). 4. Mereyap dan merangkak lurus ke depan (D.3.22).

Lebih terperinci

BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia

BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL Luas Daerah di Bidang Volume Benda Pejal di Ruang: Metode Cincin Metode Cakram Metode Kulit Tabung

Lebih terperinci

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi Standar Nasional Indonesia Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi ICS 79.040 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah

Lebih terperinci

Seluk Beluk Frequency Response sebuah Loudspeaker Part3 Frequency Response yang terdengar

Seluk Beluk Frequency Response sebuah Loudspeaker Part3 Frequency Response yang terdengar Dalam artikel ini, kita akan membandingkan seperti apakah Frequency Response (selanjutnya disingkat FR) yang terdengar oleh penonton berdasarkan penyebaran direct sound pressure level. Pengaruh ruangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendalami isi materi perkuliahan mulai dari objek-objek yang sederhana berupa objek

BAB I PENDAHULUAN. mendalami isi materi perkuliahan mulai dari objek-objek yang sederhana berupa objek BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menggambar di papan tulis adalah salah satu mata kuliah yang pokok yang harus diikuti oleh mahasiswa seni rupa selama masik kuliah di Jurusan Seni Rupa Universitas

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

Sumber: Art & Gallery

Sumber: Art & Gallery Sumber: Art & Gallery Standar Kmpetensi 0. Menentukan kedudukan, jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi dua Kmpetensi Dasar 0. Mengidentifikasi sudut 0. Menentukan

Lebih terperinci

1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh?

1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh? 1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh? 3. Sebutkan contoh perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah! 4. Perhatikan bangun ruang di

Lebih terperinci

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan.

Lebih terperinci

LATIHAN BACA RASA UNTUK FOTO-FOTO DI MODUL 1

LATIHAN BACA RASA UNTUK FOTO-FOTO DI MODUL 1 LATIHAN BACA RASA UNTUK FOTO-FOTO DI MODUL 1 TIPS CARA BACA RASA FOTO Lihat subyek dan apa yang dilakukannya Lihat ekspresi wajah, gerak tubuh Coba rasakan suasana, kejadian Lihat pencahayaan cuaca pada

Lebih terperinci

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data.

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data. BAB III PROSES MANUFAKTUR 3.1. Metode Proses Manufaktur Proses yang dilakukan untuk pembuatan mesin pembuat tepung ini berkaitan dengan proses manufaktur dari mesin tersebut. Proses manufaktur merupakan

Lebih terperinci

METODE PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN TEODOLIT

METODE PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN TEODOLIT METODE PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN TEODOLIT (Pendekatan Sistem Koordinat Geografik dan Ellipsoid) Oleh : Akhmad Syaikhu A. PERSIAPAN Untuk melakukan pengukuran arah kiblat suatu tempat atau kota dengan

Lebih terperinci

BAB V HUKUM NEWTON TENTANG GERAK

BAB V HUKUM NEWTON TENTANG GERAK BAB V HUKUM NEWTON TENTANG GERAK Ilmuwan yang sangat berjasa dalam mempelajari hubungan antara gaya dan gerak adalah Isaac Newton, seorang ilmuwan Inggris. Newton mengemukakan tiga buah hukumnya yang dikenal

Lebih terperinci

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya?

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya? rumus luas layang-layang dengan pendekaan luas segiiga 1. Memahami konsep luas segiiga 2. Memahami layang-layang dan unsur-unsurnya (pengerian layanglayang dan diagonal-diagonalnya) Langkah 1 Gb. 11.2

Lebih terperinci

Semarang, Februari 2007 Penulis

Semarang, Februari 2007 Penulis KATA PENGANTAR Pertama-tama kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-nya, kami telah dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul Analisa Keretakan

Lebih terperinci

UN SMA IPA 2010 Matematika

UN SMA IPA 2010 Matematika UN SMA IPA 00 Matematika Kode Soal P0 Doc. Name: UNSMAIPA00MATP0 Doc. Version : 0-0 halaman 0. Akar-akar persamaan kuadrat x² + (a - ) x + =0 adalah α dan β. Jika a > 0 maka nilai a =. 8 x 0. Diketahui

Lebih terperinci

Aliran berubah lambat laun. surut di muara saluran atau. air atau pasang surut air laut. berpengaruh sampai ke hulu dan atau ke hilir.

Aliran berubah lambat laun. surut di muara saluran atau. air atau pasang surut air laut. berpengaruh sampai ke hulu dan atau ke hilir. Aliran berubah lambat laun banyak terjadi akibat pasang surut di muara saluran atau akibat adanya bangunan-bangunan air atau pasang surut air laut terutama pada saat banjir akan berpengaruh sampai ke hulu

Lebih terperinci

Lomba Desain Rumah Kokoh

Lomba Desain Rumah Kokoh Lomba Desain Rumah Kokoh PROLOG Rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal oleh manusia selama jangka waktu tertentu (biasanya lama). Karena itu rumah haruslah kokoh. Kokoh disini tidak

Lebih terperinci

BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) KOMPETISI SAINS MADRASAH (KSM) 2014 SELEKSI KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA SURABAYA, 2014 SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN

BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN Kode FIS.05 v, t s BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 004 i Kode FIS.05 Penyusun

Lebih terperinci

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80 1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). Apabila koefisien kondutivitas Q, logam P kali koefisien konduktivitas logam Q, serta AC = 2 CB, maka suhu di C

Lebih terperinci

Lalu masukkan user name anda yang telah diberitahukan oleh administrator anda, misalnya seperti contoh dibawah ini.

Lalu masukkan user name anda yang telah diberitahukan oleh administrator anda, misalnya seperti contoh dibawah ini. 1. Penggunaan Aplikasi Untuk menjalankan aplikasi ini, anda dapat mengetik http://dosen.bundamulia.ac.id/ pada browser Internet Explorer. Setelah itu, maka akan tampil Menu Login seperti dibawah ini :

Lebih terperinci

Cahaya dan Alat Optik

Cahaya dan Alat Optik BAB 11 Cahaya dan Alat Optik A. Sifat-Sifat Cahaya B. Cermin dan Lensa C. Alat-Alat Optik Bab 11 Cahaya dan Alat Optik 351 sumber penghalang bayang-bayang cepat rambat besarnya bergantung medium dari memiliki

Lebih terperinci

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN. di peroleh hasil-hasil yang di susun dalam bentuk tabel sebagai berikut: 1.Pengujian pada jarak ½.l(panjang batang) =400 mm

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN. di peroleh hasil-hasil yang di susun dalam bentuk tabel sebagai berikut: 1.Pengujian pada jarak ½.l(panjang batang) =400 mm 38 IVHASIL DAN PEMBAHASAN A Hasil Berdasarkan pengujian defleksi yang di lakukan sebanyak tiga kali maka di peroleh hasil-hasil yang di susun dalam bentuk tabel sebagai berikut: 1Pengujian pada jarak ½l(panjang

Lebih terperinci

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN. Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN. Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN Panduan Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan Panduan Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan

Lebih terperinci

BABAK PENYISIHAN SELEKSI TINGKAT PROVINSI BIDANG KOMPETISI

BABAK PENYISIHAN SELEKSI TINGKAT PROVINSI BIDANG KOMPETISI LAMPIRAN 5 BABAK PENYISIHAN SELEKSI TINGKAT PROVINSI BIDANG KOMPETISI Laporan 2 Pelaksanaan OSN-PERTAMINA 2012 69 Olimpiade Sains Nasional Pertamina 2012 Petunjuk : 1. Tuliskan secara lengkap Nama, Nomor

Lebih terperinci

PERTAMA KALI YANG HARUS KAMU PAHAMI.

PERTAMA KALI YANG HARUS KAMU PAHAMI. PERTM KLI YNG HRUS KMU PHMI. 1. TURN DSR. Robot akan mengikuti garis dan berjalan lurus ketika sensor tengah masih mendeteksi garis. Ketika sensor tengah tidak mendeteksi garis robot akan berusaha bergerak

Lebih terperinci