JIIA, VOLUME 5 No. 2, MEI 2017

dokumen-dokumen yang mirip
III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan

III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

III. KERANGKA PEMIKIRAN

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

JIIA, VOLUME 2 No. 2, APRIL Yunica Safitri, Zainal Abidin, Novi Rosanti ABSTRACT

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

ANALISI KELAYAKAN FINANSIAL USAHA AGROINDUSTRI TAHU STUDI KASUS DI KELURAHAN LABUH BARU BARAT KECAMATAN PAYUNG SEKAKI KOTA PEKANBARU

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

HUMAN CAPITAL. Minggu 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB 2 DASAR TEORI. Studi mengenai aspek teknis dan produksi ini sifatnya sangat strategis, sebab

Kelayakan Finansial Budidaya Jamur Tiram di Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Labuhan Batu merupakan pusat perkebunan kelapa sawit di Sumatera

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Analisis kelayakan finansial perluasan tambak budidaya udang vaname di Cantigi Indramayu

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

KAJIAN AGRIBISNIS TAHU (Studi Kasus di Kabupaten Biak Numfor)

BAB III METODE PENELITIAN

KELAYAKAN INDUSTRI KERUPUK JAMUR TIRAM DI KABUPATEN BOGOR ABSTRACT

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORITIS

(T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja

1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud, Tujuan, Manfaat dan Sasaran 1.3. Ruang Lingkup Kegiatan 1.4. Sistematika Penulisan

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL BUDIDAYA IKAN NILA WANAYASA PADA KELOMPOK PEMBUDIDAYA MEKARSARI

ANALISIS FINANSIAL PENGOLAHAN SURIMI DENGAN SKALA MODERN DAN SEMI MODERN. Financial Analysis of Surimi Processing by Modern and Semi-Modern Scale

STUDI KELAYAKAN FINANSIAL PUPUK ORGANIK RESIDU BIOGAS DARI DIVERSIFIKASI USAHA TERNAK

PENERAPAN METODE TRIPLE EXPONENTIAL SMOOTHING UNTUK MENGETAHUI JUMLAH PEMBELI BARANG PADA PERUSAHAAN MEBEL SINAR JEPARA TANJUNGANOM NGANJUK.

BAB II LANDASAN TEORI. Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

Jurnal Edik Informatika Penelitian Bidang Komputer Sains dan Pendidikan Informatika V1.i1(64-69)

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH)

Analisis Finansial Usaha Penggemukan Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) Jantan di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali

x 4 x 3 x 2 x 5 O x 1 1 Posisi, perpindahan, jarak x 1 t 5 t 4 t 3 t 2 t 1 FI1101 Fisika Dasar IA Pekan #1: Kinematika Satu Dimensi Dr.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK. Oleh: Yoyo Zakaria Ansori

KELAYAKAN PENGUSAHAAN PALA DI JAWA BARAT

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Studi pada karyawan tetap PT PG Tulangan Sidoarjo)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

KLASIFIKASI DATA PRODUKSI PADI PULAU JAWA MENGGUNAKAN ALGORITMECLASSIFICATION VERSION 4.5 (C4.5)

Jurnal Edik Informatika. Peramalan Kebutuhan Manajemen Logistik Pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Al-Fitrah

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

Economic Rent Analysis of Timber Estate Log Production in Indonesia

KAJIAN KELAYAKAN FINANSIAL PENGEMBANGAN ANGKUTAN WISATA DI KOTA DENPASAR

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan dengan perkotaan, baik secara ekonomi maupun dalam hal

Transkripsi:

KELAYAKAN USAHA DAN NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI TEMPE (The Feasibiliy and Added Value of Tempe Agroindusry) Winani Puspa Arum, Sudarma Widjaya, Lina Marlina Jurusan Agribisnis, Fakulas Peranian, Universias Lampung, Jl. Prof. Dr. Soemanri Brodjonegoro No.1 Bandar Lampung 35145, Telp.085279850996, e-mail: winanipuspa77@gmail.com ABSTRACT The purpose of his research is o evaluae he feasibiliy and he added value of empe agroindusry. This research uses a case sudy mehod on Barkah s agroindusry (big producion scale) and Muklisin s agroindusry (medium producion scale) a Podomoro village and Hamsin s agroindusry (small producion scale) a Souh Pringsewu village in Pringsewu Subdisric, Pringsewu Regency. Research locaion is chosen purposively based on he quaniy of producion and same age of agroindusry. Analysis daa uses quaniaive and qualiaive descripive. The resul of his research showed ha empe agroindusry a various scales of producion (big, medium, small) in general was profiable and feasible o be developed. Tempe agroindusry in his research provided high enough added value, alhough sill using relaively simple echnology and limied capial. Key words: added value, agroindusry, feasibiliy, empe PENDAHULUAN Kedelai adalah salah sau komodias pangan uama disamping padi dan jagung. Kedelai memiliki ren konsumsi yang inggi dibanding jenis kacang lainnya. Konribusi kacang kedelai hampir 12 kali lipa dibanding raa-raa konsumsi kacang anah, dan hampir 6 kali lipa dibanding raa-raa konsumsi kacang hijau (Badan Keahanan Pangan 2012). Sebagian besar kedelai dikonsumsi oleh indusri makanan olahan. Produk kedelai yang paling dikenal oleh masyaraka adalah empe. Sebanyak 50 persen konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam benuk empe, 40 persen dalam benuk ahu, dan 10 persen dalam benuk produk lain (Komalasari 2008). Sekor indusri pengolahan ermasuk agroindusri empe juga menjadi salah sau sekor pening dalam pembangunan di Provinsi Lampung. Hal ini erliha dari konribusi agroindusri aau indusri pengolahan erhadap Produk Domesik Regional Bruo (PDRB) di mana indusri pengolahan menempai uruan ke dua seelah sekor peranian, perikanan dan kehuanan (Badan Pusa Saisik Provinsi Lampung 2015). Kabupaen Pringsewu merupakan kabupaen di Provinsi Lampung yang memiliki poensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal ini erliha dari jumlah UMKM Kabupaen Pringsewu yang menepai uruan keiga di Provinsi Lampung (Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung 2014) di mana UMKM pengolahan hasil peranian (agroindusri) erbanyak di Kabupaen Pringsewu adalah agroindusri empe, oleh sebab iu agroindusri empe memiliki poensi menjadi agroindusri andalan Kabupaen Pringsewu. Senra agroindusri empe di Kabupaen Pringsewu berada di Kecamaan Pringsewu (Dinas Koperasi, UMKM, Perindusrian dan Perdagangan Kabupaen Pringsewu 2014). Berdasarkan pra survei agroindusri empe milik Barkah, Muklisin, dan Hamsin merupakan agroindusri empe dengan jumlah produksi eringgi, menengah, dan erendah di Kecamaan Pringsewu yang jumlah produksi perharinya raa-raa konsan sera ahun berdiri keiga agroindusri ersebu sama yaiu 10 ahun sehingga dapa dikaakan keiga agroindusri ersebu sudah memiliki pengalaman yang cukup. Agroindusri empe adalah agroindusri unggulan di Kabupaen Pringsewu. Perminaan akan empe cukup besar. Perminaan pasar yang besar ini idak diimbangi dengan produksi yang maksimal khususnya pada agroindusri empe milik Barkah, Muklisin, dan Hamsin. Hal ini disebabkan karena erdapa kendala dalam menjalankan agroindusri empe. Kendala-kendala ersebu anara lain yaiu keerbaasan modal. Selama ini pengrajin empe masih menggunakan modal sendiri yang erbaas dan masih sulinya mendapakan modal pinjaman dari pihak lain. Keerbaasan modal ersebu membua jumlah produksi masih erbaas sera sarana dan prasarana 124

yang digunakan dalam proses produksi raa-raa masih bereknologi sederhana. Kendala selanjunya yaiu erkai keesediaan kedelai sebagai bahan baku pembuaan empe. Taryono (2014) menyaakan ingginya impor kedelai di Provinsi Lampung disebabkan karena produksi lokal idak mampu memenuhi semua perminaan dan kualias produksinya masih rendah jika dibandingkan dengan kedelai impor. Kedelai lokal memiliki ukuran buiran yang kurang besar dan kurang seragam, sera kadar airnya masih erlalu banyak sehingga kurang cocok unuk bahan dasar pembuaan empe. Semua produsen empe di Kecamaan Pringsewu ak erkecuali agroindusri empe Barkah, Muklisin, dan Hamsin menggunakan kedelai impor dalam proses produksi empe, oleh karena iu mereka sanga keerganungan dengan kedelai impor yang harga dan keersediaanya dipanau oleh pemerinah. Harga kedelai erkadang diawarkan erlalu inggi dan keersediaanya erbaas menyebabkan peluang pengrajin empe mendapakan keunungan semakin kecil sehingga berpoensi mengalami kerugian. Kerugian yang berkelanjuan menyebabkan agroindusri empe idak layak diusahakan aau dilanjukan. Permasalahan lainnya adalah rendahnya kualias sumberdaya manusia (SDM) dalam bidang manajerial yang disebabkan karena laar belakang pendidikan rendah sera kurangnya pelaihan yang pernah diikui erkai manajemen usaha. Pengrajin empe idak mempunyai pembukuan keuangan yang baku, belum memiliki pembagian ugas yang jelas, dan masih suli unuk memanajemen risiko seperi risiko menghasilkan produk gagal akiba cuaca hujan dan erhambanya proses produksi akiba mai lisrik. Hal ini menyebabkan biaya produksi yang dikeluaran kurang efekif. Permasalahan-permasalahan yang elah disebukan berdampak juga pada kurang sabilnya nilai ambah yang dihasilkan. Agroindusri empe milik Barkah, Muklisin, dan Hamsin memiliki prospek yang baik unuk dikembangkan, namun permasalahan yang ada menyebabkan adanya keraguan unuk melakukan pengembangan usaha. Oleh sebab iu peneliian ini berujuan unuk (1) mengkaji evaluasi kelayakan agroindusri empe dan (2) menganalisis nilai ambah yang dihasilkan agroindusri empe unuk meliha seberapa besar keunungan yang diperoleh sehingga peneliian ini dapa menjadi perimbangan dasar sebelum dilakukan pengembangan usaha. METODE PENELITIAN Peneliian ini dilaksanakan pada agroindusri empe milik Barkah dan agroindusri empe milik Muklisin yang erleak di Pekon (Desa) Podomoro sera agroindusri milik Hamsin yang erleak di Kelurahan Pringsewu Selaan, Kecamaan Pringsewu, Kabupaen Pringsewu. Penenuan lokasi dilakukan secara sengaja aau purposive. Perimbangan pemilihan empa didasarkan karena ahun berdiri keiga agroindusri yang sama yaiu ahun 2006, agroindusri elah berdiri selama 10 ahun sehingga diasumsikan elah memiliki pengalaman usaha yang cukup dan apabila dihiung kapasias produksi semua agroindusri empe di Kecamaan Pringsewu, agroindusri empe milik Barkah ermasuk agroindusri skala besar, agroindusri empe milik Muklisin ermasuk skala menengah, dan agroindusri milik Hamsin ermasuk skala kecil, sehingga pada peneliian ini juga akan dibandingkan bagaimana evaluasi kelayakan dan nilai ambah dari agroindusri empe dengan kaegori skala produksi besar (agroindusri Barkah) dengan raa-raa produksi 100 kg kedelai per hari, skala produksi menengah (agroindusri Muklisin) dengan raa-raa produksi 50 kg kedelai per hari, dan skala produksi kecil (agroindusri Hamsin) dengan raa-raa produksi 15 kg kedelai per hari. Daa yang dikumpulkan erdiri dari daa primer dan daa sekunder. Daa primer diperoleh melalui pengamaan dan wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner. Daa sekunder diperoleh dari sudi lieraur, pusaka lainnya, sera lembaga/insansi yang erkai seperi Badan Pusa Saisik Provinsi Lampung, Dinas Koperasi, UMKM, Perindusrian dan Perdagangan Kabupaen Pringsewu, sera beberapa insansi lain yang erkai. Meode analisis daa yang digunakan dalam peneliian adalah sebagai beriku: 1. Evaluasi Kelayakan Evaluasi kelayakan pada peneliian ini mengacu pada enam aspek menuru Kasmir dan Jakfar (2012) yaiu aspek keuangan, aspek pasar, aspek eknis, aspek organisasi dan manajemen, aspek sosial dan lingkungan, sera aspek hukum. Aspek keuangan dielii secara kuaniaif dengan krieria invesasi menuru Kadariah (2001) yang dihiung 125

selama 20 ahun aas dasar umur ekonomis invesasi erlama yang digunakan dalam produksi. a. Inernal Rae of Reurn (IRR) IRR yaiu nilai ingka suku bunga yang membua Ne Presen Value (NPV) dari suau proyek sama dengan nol, dengan rumus: NPV 1 IRR i1 i2 i1.... (1) NPV1 NPV2 Keerangan: i 1 = Tingka suku bunga eringgi yang masih memberi NPV posiif i 2 = Tingka suku bunga erendah yang masih memberi NPV negaive NPV 1 = NPV posiif NPV 2 = NPV negaif Krieria penilaian IRR: 1) Jika IRR > i usaha dinyaakan layak 2) Jika IRR < i usaha dinyaakan idak layak b. Ne Presen Value (NPV) NPV yaiu selisih anara kas penerimaan dengan arus kas pengeluaran dengan ingka suku bunga erenu. Rumusnya yaiu: NPV n 0 1 B C i Keerangan: B = Benefi (penerimaan) ahun C = Cos (biaya) pada ahun i = Tingka suku bunga n = Umur proyek (ahun) = Tahun (waku ekonomis)..... (2) Krieria penilaian NPV: 1) NPV > 0 dinyaakan layak 2) NPV < 0 dinyaakan idak layak 3) Jika NPV = 0 dinyaakan dalam posisi impas c. Gross Benefi Cos Raio (Gross B/C Raio) Gross B/C Raio adalah perbandingan penerimaan dari invesasi dengan biaya yang elah dikeluarkan, rumus yang digunakan adalah sebagai beriku: Gross B/C 0 i n n 0 B 1... (3) C 1 i Keerangan: B = Benefi (penerimaan) ahun C = Cos (biaya) pada ahun i = Tingka suku bunga n = Umur proyek (ahun) = Tahun (waku ekonomis) Krieria penilaian Gross B/C adalah: 1) Jika Gross B/C > 1 usaha layak 2) Jika Gross B/C < 1 usaha idak layak 3) Jika Gross B/C = 1 usaha dalam posisi impas d. Ne Benefi Cos Raio (Ne B/C Raio) Ne B/C Raio merupakan perbandingan anara presen value ne benefi yang bernilai posiif dengan presen value ne benefi yang bernilai negaif dengan rumus: Ne B/C n 0 n 0 B C 1 i 1 i...... (4) C B Keerangan: B = Benefi (penerimaan) ahun C = Cos (biaya) pada ahun i = Tingka suku bunga = Tahun (waku ekonomis) Krieria penilaian adalah: 1) Jika Ne B/C > 1 usaha layak 2) Jika Ne B/C < 1 usaha idak layak 3) Jika Ne B/C = 1 usaha dalam posisi impas e. Payback Period (PP) Payback Period digunakan unuk menganalisis lamanya waku pengembalian dari invesasi usaha. Payback Period dapa dirumuskan: PP = x ahun...... (5) Keerangan: K o = Invesasi awal Ab = Manfaa (benefi) yang diperoleh seiap periode 126

Krieria penilaian PP: 1) Jika Payback Period lebih pendek dari umur ekonomis usaha, usaha dinyaakan layak 2) Jika Payback Period lebih lama dari umur ekonomis usaha, usaha dinyaakan idak layak Aspek pasar, aspek eknis, aspek organisasi dan manajemen, aspek sosial dan lingkungan, sera aspek hukum dielii dengan menggunakan meode deskripif kualiaif. Aspek pasar menelii bauran pemasaran (produk, harga, lokasi dan disribusi sera promosi) agroindusri empe. Aspek eknis berujuan unuk menenukan lokasi sera eknologi yang digunakan oleh agroindusri (Novia, Zakaria, dan Lesari 2013). Aspek manajemen dan operasi menelii organisasi dan enaga kerja yang diperlukan dalam menjalankan agroindusri empe erkai fungsi-fungsi manajemen. Aspek sosial dan lingkungan menelii pengaruh agroindusri empe erhadap masyaraka dan lingkungan di sekiar agroindusri. Aspek hukum meliha enang dokumen yang dimiliki oleh agroindusri. 2. Analisis Nilai Tambah Nilai ambah yang dihasilkan dari proses produksi kedelai menjadi empe pada agroindusri empe dihiung dengan meode Hayami (Agusina, Ismono, dan Nugraha 2015) yang dapa diliha pada Tabel 1. Tabel 1. Prosedur perhiungan nilai ambah dengan meode Hayami No Variabel Nilai 1. Oupu (bungkus/hari) A 2. Bahan baku (kg/hari) B 3. Tenaga kerja (HOK/hari) C 4. Fakor konversi D = A/B 5. Koefisien enaga kerja E = C/B (HOK/kg) 6. Harga oupu (Rp/bungkus) F 7. Upah raa-raa enaga kerja G (Rp/HOK) Pendapaan dan keunungan 8. Harga bahan baku (Rp/kg) H 9. Sumbangan inpu lain (Rp/kg) I 10. Nilai oupu (Rp/kg) J = D x F 11. a. Nilai ambah (Rp/kg) K = J I H b. Rasio nilai ambah (%) L = (K/J) x 100% 12. a. Imbalan enaga kerja M = E x G (Rp/kg) b. Bagian enaga kerja (%) N = (M/K)x100% 13. a. Keunungan (Rp./kg) O = K M b. Tingka keunungan (%) P = (O/K) x100% Balas jasa unuk fakor produksi 14. Margin Q = J H a. Keunungan (%) R = O/Q x 100% b. Tenaga kerja (%) S = M/Q x 100% c. Inpu lain (%) T = I/Q x 100% Sumber : Hayami dalam Agusina, Ismono, dan Nugraha (2015) Keerangan: A = Oupu yang dihasilkan agroindusri empe B = Inpu/bahan baku yang digunakan unuk memproduksi empe C = Tenaga kerja unuk memproduksi empe dihiung dalam benuk HOK (Hari Orang Kerja) dalam sau periode analisis F = Harga produk yang berlaku pada sau periode analisis G = Jumlah upah raa-raa yang dierima oleh pekerja dalam seiap sau periode produksi yang dihiung berdasarkan per HOK H = Harga inpu bahan baku uama yaiu kedelai per kilogram pada saa periode analisis I = Sumbangan aau biaya inpu lainnya yang erdiri dari biaya bahan baku penolong, biaya penyusuan Krieria nilai ambah (NT) adalah : a. Jika NT > 0, berari pengembangan agroindusri empe memberikan nilai ambah (posiif) b. Jika NT < 0, berari pengembangan agroindusri empe idak memberikan nilai ambah (negaif) HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Produksi Tempe pada Agroindusri Tempe Langkah awal memproduksi empe yaiu membeli bahan baku dan bahan lainnya. Proses selanjunya yaiu sorasi dan pencucian. Kedelai yang sudah dicuci dan kondisinya sudah benar-benar bersih direbus. Kedelai direndam selama semalam dan didiamkan pada suhu ruang. Proses selanjunya yaiu pengupasan kuli ari kedelai dari bijinya. Agroindusri Barkah sudah menggunakan mesin giling kedelai, semenara agroindusri Muklisin dan Hamsin masih menggunakan cara radisional dengan diinjak-injak. Kedelai yang elah bersih dari kuli ari kemudian dicuci dan direbus kembali selama 30 meni, seelah iu diiriskan dan didinginkan. Proses berikunya pemberian ragi. Pemberian ragi diberikan dengan akaran 3 sendok makan ragi per 15 kg kedelai, seelah diberi ragi kedelai siap dikemas. Pengemasan empe pada agroindusri Barkah yaiu empe plasik kecil dan plasik besar, agroindusri Muklisin mengemas empe menjadi 3 macam yaiu empe daun, empe plasik kecil dan empe plasik besar, semenara agroindusri empe Hamsin hanya memproduksi empe plasik kecil. Kedelai yang elah dibungkus disusun rapi di rak fermenasi selama 24 sampai 48 jam, seelah proses fermenasi, empe siap dipasarkan. Evaluasi Kelayakan Agroindusri Tempe 1. Aspek Keuangan Keiga agroindusri empe sudah berdiri sejak ahun 2006. Umur ekonomis usaha pada peneliian 127

ini dieapkan 20 ahun berdasarkan pada umur ekonomis invesasi erlama yang digunakan dalam produksi, sehingga perhiungan aspek keuangan dimulai sejak ahun 2006 sampai ahun 2025. Pengeluaran biaya invesasi erbesar adalah agroindusri empe milik Barkah sebesar Rp66.797.000,00, kemudian agroindusri Hamsin Rp36.526.000,00 dan agroindusri Muklisin Rp16.062.000,00. Biaya invesasi agroindusri Muklisin merupakan yang erkecil karena agroindusri Muklisin belum memiliki invesasi bangunan. Penerimaan raa-raa erbesar yaiu agroindusri Barkah Rp368.022.390,00 per ahun, diikui agroindusri Muklisin sebesar Rp218.107.650,00 per ahun dan erkecil adalah agroindusri Hamsin Rp69.735.080,00 per ahun. Aspek keuangan dielii menggunakan krieria invesasi (IRR, NPV, Gross B/C, Ne B/C, dan PP). Krieria invesasi dielii pada ingka suku bunga Kredi Usaha Rakya (KUR) mikro Bank Rakya Indonesia pada Mei 2016 (9%). Hasil perhiungan krieria invesasi agroindusri empe pada peneliian ini dapa diliha pada Tabel 2. a) Inernal Rae of Reurn (IRR) Berdasarkan Tabel 2 hasil perhiungan nilai IRR agroindusri empe Barkah sebesar 40,67 persen, agroindusri Muklisin sebesar 56,18 persen, dan agroindusri Hamsin sebesar 38,38 persen. Hasil ersebu melebihi ingka suku bunga berlaku sehingga dapa disimpulkan usaha ini layak unuk dikembangkan menuru krieria IRR. b) Ne Presen Value (NPV) Nilai NPV yang diperoleh pada Tabel 2 yaiu Rp1.321.437.186 pada agroindusri Barkah, Rp676.558.948 pada agroindusri Muklisin, dan Rp205.794.400 pada agroindusri Hamsin. Nilai NPV bernilai posiif yang menunjukkan bahwa penerimaan bersih keiga agroindusri lebih besar dari oal biaya dikeluarkan, sehingga agroindusri empe pada peneliian ini layak diusahakan dan dikembangkan. c) Gross Benefi Cos Raio (Gross B/C) sau sehingga keiga agroindusri layak diusahakan dan dikembangkan. d) Ne Benefi Cos Raio (Ne B/C) Nilai Ne B/C yang diperoleh keiga agroindusri berari bahwa seiap Rp1,00 nilai invesasi yang dianamkan akan memberikan pendapaan sebesar Rp6,76 unuk agroindusri Barkah, Rp10,55 unuk agroindusri Muklisin dan Rp3,89 unuk agroindusri Hamsin. Nilai Ne B/C yang lebih dari sau membukikan bahwa keiga agroindusri layak unuk dikembangkan. e) Payback Periode (PP) Masa pengembalian biaya invesasi agroindusri Barkah dapa dikembalikan dalam jangka waku 7 ahun, 5 hari, sedangkan Muklisin dapa dikembalikan dalam jangka waku 10 ahun, 8 bulan dan 7 hari. Perhiungan PP kedua agroindusri lebih pendek dari umur ekonomis usaha, sehingga layak diusahakan. Masa pengembalian modal agroindusri Hamsin lebih dari umur ekonomis usaha sehingga disimpulkan agroindusri empe Hamsin idak layak dilanjukan menuru krieria PP. Berdasarkan perhiungan krieria invesasi, keiga agroindusri empe pada peneliian ini secara keseluruhan layak diusahakan dan dikembangkan karena menuru peneliian Rakhmawai (2014) enang analisis usaha agribisnis indusri empe kedelai rumah angga di Kabupaen Jember, agroindusri empe layak unuk diusahakan apabila hasil krieria NPV, B/C raio, dan IRR memenuhi krieria layak pada ingka suku bunga berlaku. Tabel 2. Krieria Invesasi Hasil perhiungan krieria invesasi agroindusri empe Agroindusri Tempe Barkah Muklisin Hamsin IRR (%) 40,67 56,18 38,38 NPV (Rp) 1.321.437.186 676.558.948 205.794.400 Gross B/C 1,22 1.17 1,14 Ne B/C 6,76 10,55 3,89 PP (ahun) 7,05 10,87 - Nilai Gross B/C yang diperoleh pada Tabel 2 menunjukkan bahwa seiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,22 pada agroindusri Barkah, Rp1,17 pada agroindusri Muklisin dan Rp1,14 pada agroindusri Hamsin. Nilai Gross B/C lebih dari 128

2. Aspek Pasar Perminaan empe raa-raa orang Indonesia sekiar 6,45 kg per ahun, karena iu produsen empe berusaha mencukupi perminaan ersebu, hal ini erbuki dengan pencapaian Indonesia sebagai negara produsen empe erbesar dunia (Komalasari 2008). Hal iu sejalan dengan kondisi pasar empe di Kecamaan Pringsewu, di mana perminaan empe di Kecamaan Pringsewu juga banyak karena iu jumlah produsen empe semakin meningka sehingga menjadikan agroindusri empe sebagai agroindusri erbanyak di Kabupaen Pringsewu. Berdasarkan kondisi iu dapa dikaakan bahwa agroindusri empe memiliki pasar yang baik. Produk yang paling banyak diminai konsumen adalah empe plasik kecil, karena harga dan ukurannya paling sesuai dengan perminaan konsumen pada umumnya. Raa-raa harga empe idak pernah berflukuasi. Sraegi yang sering dilakukan adalah mengecilkan ukuran produk saa harga bahan baku naik anpa menaikan harga produk. Cara pemasaran dengan berjualan di pasar, berkeliling dengan sepeda moor, dan menjual langsung di lokasi agroindusri. Kegiaan promosi dilakukan dari mulu ke mulu. 3. Aspek Teknis Lokasi agroindusri jaraknya erjangkau dari pasar yang menjual bahan baku dan fakor produksi lainnya, sera idak suli mencari enaga kerja di sekiar lokasi. Thamrin dan Nasuion (2014) mengaakan semakin inggi eknologi, semakin banyak empe yang dihasilkan dengan waku yang relaif singka. Agroindusri empe pada peneliian ini masih menggunakan eknologi sederhana karena erbaasnya modal, sehingga sediki suli menaikan kapasias produksi. Kapasias produksi pada agroindusri Barkah yaiu dapa mengolah kedelai 100 kg per hari, Muklisin 50 kg per hari, dan Hamsin 15 kg per hari. Keika harga kedelai meningka ajam aau saa keersediaanya langka, pengusaha empe memilih unuk menurunkan produksinya aau berheni memproduksi empe unuk semenara. Perminaan empe akan selalu ada karena selain semakin banyaknya indusri pengolahan yang berbahan dasar empe, empe juga berguna unuk memenuhi kebuuhan proein konsumen dengan harga yang relaif murah. 4. Aspek Organisasi dan Manajemen Kasmir dan Jakfar (2012) mengaakan bahwa rencana agroindusri akan lebih mudah ercapai apabila melakukan fungsi-fungsi manajemen. Fungsi-fungsi manajemen yang dierapkan pada keiga agroindusri empe belum diaplikasikan sebagaimana mesinya. Hal ini karena kurangnya pengeahuan dan pelaihan erkai manajemen usaha. Pembagian ugas dalam memproduksi empe masih umpang indih. Pemerinah sebenarnya sudah mencanangkan program unuk mengadakan pelaihan erkai manajemen usaha erhadap para pengusaha agroindusri ak erkecuali agroindusri empe. Minimnya penyebaran informasi membua sebagian pelaku agroindusri empe idak mengeahui pelaihan ersebu. Sebagian lainnya mengeahui informasi ersebu eapi idak mau mengikui pelaihan karena aku agroindusrinya akan dikenakan pajak, namun unuk saa ini agroindusri masih dapa berjalan meskipun belum menerapkan fungsifungsi manajemen sepenuhnya. 5. Aspek Sosial dan Lingkungan Dampak posiif bagi pengusaha empe yaiu keberadaan agroindusri empe mendaangkan penghasilan. Bagi pemerinah daerah yaiu agroindusri empe adalah agroindusri erbanyak di Kecamaan Pringsewu bahkan di Kabupaen Pringsewu, sehingga agroindusri empe mampu memberikan konribusi bagi perekonomian. Agroindusri empe ramah lingkungan. Hasil peneliian Anam (2015) menyaakan limbah agroindusri empe dimanfaakan sebagai pakan ernak. Hal ersebu juga berlaku pada keiga agroindusri empe pada peneliian ini di mana limbah pada digunakan unuk pakan ernak sedangkan limbah cairnya dibuang ke daerah persawahan sehingga idak mengganggu warga sekiar. Keberadaan agroindusri juga sanga bermanfaa unuk memenuhi perminaan masyaraka ak erkecuali unuk pengusaha yang memiliki usaha berbahan baku empe seperi keripik empe. 6. Aspek Hukum Keiga agroindusri belum memiliki izin usaha. Hal ini menyulikan unuk mendapakan pinjaman, subsidi bahan baku, dan pelaihan agroindusri yang lebih baik. Pemerinah melalui Dinas Koperasi, Perindusrian, dan Perdagangan Kabupaen Pringsewu sudah menyarankan agar 129

membua perizinan usaha, namun mereka eap idak bersedia karena aku dikenakan pajak usaha. Keiga agroindusri empe mungkin masih dapa berahan walaupun belum melegalkan usahanya saa ini, namun sebaiknya pemilik agroindusri melegalkan usahanya agar agroindusrinya dapa dikembangkan lebih maju lagi. Nilai Tambah Agroindusri Tempe Analisis nilai ambah empe keiga agroindusri empe pada peneliian ini dapa diliha di Tabel 3 Pada Tabel 3 dapa diliha jumlah empe yang dihasilkan dan jumlah bahan baku kedelai yang digunakan, diperoleh nilai konversi pada agroindusri Barkah sebesar 17 dan 15. Nilai konversi ersebu berari bahwa seiap sau kilogram kedelai yang diolah menghasilkan 17 bungkus empe plasik kecil dan sau kilogram lainnya menghasilkan 15 bungkus empe plasik besar. Agroindusri Muklisin memperoleh nilai konversi yaiu 10, 18, dan 15, arinya 10 bungkus empe daun, 18 bungkus empe plasik kecil, dan 15 bungkus empe plasik besar masing-masing berasal dari sau kilogram kedelai. Nilai konversi pada agroindusri Hamsin yaiu 17 arinya seiap sau kilogram kedelai dapa menghasilkan 17 bungkus empe plasik kecil. Koefisien enaga kerja agroindusri Barkah dan Hamsin lebih kecil dibanding Muklisin, hal ini menunjukkan peran enaga kerja pada agroindusri Muklisin dalam proses produksi empe lebih besar dibanding lainnya. Nilai ambah yaiu selisih nilai produk dengan harga bahan baku dan sumbangan inpu lain, idak ermasuk enaga kerja (Psikiari, Sudarma, dan Nurmayasari 2015). Nilai ambah proses produksi empe kecil per kilogram bahan baku agroindusri Barkah sebesar Rp3.577,00, pada agroindusri Muklisin sebesar Rp4.227,00 dan pada agroindusri Hamsin sebesar Rp3.428,00. Agroindusri empe Barkah memberikan peningkaan nilai ambah unuk empe plasik kecil sebesar 26,30 persen, agroindusri Muklisin sebesar 29,35 persen, dan agroindusri Hamsin sebesar 25,21 persen dari nilai produk. Nilai ambah dari proses produksi empe besar per kilogram kedelai agroindusri Barkah sebesar Rp5.257,00 dan agroindusri Muklisin sebesar Rp5.247,00. Peningkaan nilai ambah empe plasik besar pada agroindusri Barkah sebesar 35,04 persen sedangkan pada agroindusri Muklisin sebesar 34,98 persen dari nilai produk. Produk empe daun pada peneliian ini hanya dihasilkan agroindusri Muklisin yang memperoleh hasil nilai ambah per kilogram kedelai Rp10.847,00 dengan peningkaan nilai ambah dari nilai produk sebesar 54,23 persen. Berdasarkan perhiungan dapa disimpulkan bahwa produk empe daun yang diproduksi agroindusri Muklisin adalah produk yang memiliki nilai ambah di aas harga bahan baku dan merupakan produk dengan nilai ambah eringgi pada peneliian ini. Hasil dari peneliian Giska, Negara, dan Rahmana (2012) menunjukkan bahwa pengolahan kedelai menjadi ahu cina di agroindusri ahu di Koa Medan memberikan nilai ambah bagi produk olahannya sebesar Rp2.284,816 per kg, dengan rasio nilai ambah sebesar 22,83 persen. Berdasarkan hasil peneliian ersebu dapa disimpulkan bahwa nilai ambah pengolahan kedelai menjadi empe pada peneliian ini lebih inggi inggi dibandingkan dengan nilai ambah pengolahan kedelai menjadi ahu cina pada indusri ahu di Koa Medan. Nilai imbalan enaga kerja pada agroindusri Barkah unuk produk empe plasik kecil dan plasik besar masing-masing 33,55 persen dan 11,41 persen, nilai ersebu menunjukkan bahwa dalam seiap Rp100,00 nilai ambah yang diperoleh erdapa sebesar Rp33,55 dan Rp11,41 unuk imbalan enaga kerja. Pada agroindusri Muklisin nilai imbalan enaga kerja unuk empe daun, empe plasik kecil, dan empe plasik besar masing-masing yaiu 13,83 persen, 35,49 persen, 28,59 persen yang berari dalam seiap Rp100,00 nilai ambah yang diperoleh erdapa Rp13,83 pada empe daun, Rp35,49 pada empe plasik kecil, sera Rp28,59 pada empe plasik besar unuk imbalan enaga kerja. Imbalan enaga kerja agroindusri Hamsin yaiu 29,17 persen yang berari dalam seiap Rp100,00 nilai ambah yang diperoleh dari empe plasik kecil erdapa Rp29,17 unuk imbalan enaga kerja. Tingka keunungan merupakan perbandingan keunungan dan nilai ambah unuk sau kali proses produksi. Tingka keunungan yang diperoleh dari proses produksi empe pada agroindusri empe di peneliian ini sudah di aas 50 persen arinya ingka keunungannya cukup inggi. Marjin keunungan erbesar peneliian ini yaiu produk empe daun pada agroindusri Muklisin. 130

Tabel 3. Analisis nilai ambah agroindusri empe JIIA, VOLUME 5 No. 2, MEI 2017 Uraian Nilai Besar Menengah Kecil Oupu, inpu dan harga Oupu (bungkus/hari) A a 100 b 850 450 255 c 750 225 Bahan baku (kg/hari) B a 10 b 50 25 15 c 50 15 Tenaga kerja (HOK/hari) C 3 3 1 Fakor konversi D = A/B a 10 b 17 18 17 c 15 15 Koefisien enaga kerja (HOK/kg) E = C/B a 0,30 0,07 b 0,06 0,12 c 0,06 0,20 Harga oupu (Rp/bungkus) F a 2.000 b 800 800 800 c 1.000 1.000 Upah raa-raa enaga kerja (Rp/HOK) G a 5.000 15.000 b 20.000 12.500 c 10.000 7.500 Pendapaan dan nilai ambah Harga bahan baku (Rp/kg) H a 7.200 b 7.200 7.200 7.200 c 7.200 7.200 Sumbangan inpu lain (Rp/kg) I a 1.953 b 2.823,33 2.973 2.972 c 2.543,33 2.553 Nilai oupu (Rp/kg) J = D x F a 20.000 b 13.600 14.400 13.600 c 15.000 15.000 a. Nilai ambah (Rp/kg) K = J I H a 10.847 b 3.577 4.227 3.428 c 5.257 5.247 b. Rasio nilai ambah (%) L = (K/J)x100% a 54,23 b 26,30 29,35 25,21 c 35,04 34,98 a. Imbalan enaga kerja (Rp/kg) M = E x G a 1.500 b 1.200 1.500 1.000 c 600 1.500 b. Bagian enaga kerja (%) N = (M/K)x100% a 13,83 b 33,55 35,49 29,17 c 11,41 28,59 a. Keunungan (Rp/kg) O = K M a 9.347 b 2.337 2.727 2.428 c 4.657 3.747 b. Tingka keunungan (%) P = (O/K)x100% a 86,17 b 66,45 64,51 70,83 c 88,59 71,41 Balas jasa unuk fakor produksi Margin keunungan (Rp/kg) Q = J H a 12.800 b 6.400 7200 6.400 c 7.800 7.800 a. Keunungan (%) R = O/Q x 100% a 73,02 b 37,14 37,87 37,94 c 59,70 48,03 b. Tenaga kerja (%) S = M/Q x 100% a 11,72 b 18,75 20,83 15,63 c 7,69 19,23 c. Inpu lain (%) T = I/Q x 100% a 15,26 b 44,11 41,30 46,44 c 32,61 32,74 Keerangan : a. Tempe daun b. Tempe plasik kecil c. Tempe plasik besar 131

Hal ini menunjukkan proses pengolahan kedelai menjadi empe daun paling mengunungkan karena harga jualnya cukup inggi walaupun proses pengemasannya erkesan lebih rumi. Nilai marjin ersebu didisribusikan kepada keunungan agroindusri empe, imbalan enaga kerja, dan sumbangan inpu lain. Disribusi persenase keunungan yang paling inggi adalah produk empe daun pada agroindusri Muklisin. Hal iu dikarenakan agroindusri ini mampu menghasilkan nilai ambah yang cukup inggi dengan rasio nilai ambah di aas 50 persen. Raa-raa persenase disribusi enaga kerja agroindusri Barkah erendah dibanding lainnya. Hal ini karena penggunan mesin penggiling kedelai mampu mempersingka waku produksi empe dan menghema biaya enaga kerja. Persenase disribusi inpu lain yang paling besar adalah empe plasik kecil pada agroindusri Hamsin. Hasil perhiungan marjin keunungan dapa disimpulkan bahwa disribusi imbalan enaga kerja yang lebih kecil dibandingkan keunungan keiga agroindusri menunjukkan agroindusri empe pada peneliian ini merupakan agroindusri yang masih pada modal bukan pada karya. KESIMPULAN Agroindusri empe pada berbagai skala produksi (besar, menengah, kecil) secara keseluruhan mengunungkan dan layak unuk dikembangkan. Agroindusri empe pada peneliian ini memberikan nilai ambah yang cukup besar walaupun masih menggunakan eknologi yang ergolong sederhana dan modal erbaas. DAFTAR PUSTAKA Agusina DR, Ismono RH, dan Nugraha A. 2015. Harga pokok produksi, nilai ambah, dan prospek pengembangan agroindusri marning di Kecamaan Gedong Taaan Kabupaen Pesawaran. JIIA 3 (2) : 157-164. hp://jurnal. fp.unila.ac.id/index.php/jia/aricle/view/1034 /939. [1 Sepember 2016]. Anam C. 2015. Fakor-Fakor yang Mempengaruhi Produksi dan Prospek Pengembagan Agroindusri Tempe di Kecamaan Geneng. Skripsi. Jurusan Agribisnis Fakulas Peranian Universias Jember. Jember. Badan Keahanan Pangan Kemenrian Peranian RI. 2012. Roadmap Diversifikasi Pangan 2011-2015. bkp.peranian.go.id. [7 Januari 2016]. Bank Rakya Indonesia. 2016. Kredi Usaha Rakya BRI. hp://www.bri.co.id/. [6 Mei 2016]. BPS [Badan Pusa Saisik] Provinsi Lampung. 2015. PDRB aas Dasar Harga Konsan Menuru Lapangan Usaha Provinsi Lampung 2011-2014. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung. Dinas Koperasi, UMKM, Perindusrian dan Perdagangan Kabupaen Pringsewu. 2014. Daa Produk Indusri Kecil, Menengah Kabupaen Pringsewu. Dinas Koperasi, UKM, Perindusrian dan Perdagangan Kabupaen Pringsewu. Pringsewu. Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung. 2014. Rekap UMKM Provinsi Lampung 2014. Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung. Bandar Lampung. Giska, Negara S, dan Rahmana. 2012. Analisis nilai ambah dan sraegi pemasaran usaha indusri ahu di Koa Medan. Jurnal USU: 1-14.jurnal.usu.ac.id/index.php/ceress/aricle/do wnload/1737/981. [12 Juli 2016]. Kadariah. 2001. Evaluasi Proyek : Analisis Ekonomis. Lembaga Penerbian Fakulas Ekonomi Universias Indonesia. Jakara. Kasmir dan Jakfar. 2012. Sudi Kelayakan Bisnis Edisi Revisi. Kencana. Jakara. Komalasari WB. 2008. Prediksi penawaran dan perminaan kedelai dengan analisis dere waku. Jurnal informaika peranian 7 (2) : 1195-1209. www.libang.peranian.go.id/war a-ip/pdf-file/4.wiea_ipvol17-2-2008.pdf. [10 Sepember 2016]. Ilmu Peranian 9 (2) : 24-35. www.unwahas.ac.id>aricle>download. [29 Juli 2016]. Novia W, Zakaria WA, dan Lesari DAH. 2013. Analisis nilai ambah dan kelayakan pengembangan agroindusri beras siger. JIIA 1 (3) : 210-217. hp://jurnal.fp.unila.ac.id/ind ex.php/jia/aricle/view/562/524. [1 November 2015]. Psikiari A, Widjaya S, dan Nurmayasari I. 2015. Tingka pendapaan dan nilai ambah usahaani padi pada peani pesera program pascapanen di Kabupaen Lampung Timur. JIIA 3 (1) : 66-74. hp://jurnal.fp.unila.ac. id/index.php/jia/aricle/view/1019/924. [8 Sepember 2015]. Rakhmawai R. 2014. Analisis usaha agribisnis indusri empe kedelai rumah angga di Kabupaen Jember. Jurnal Ekonomi : 105-114. hp://jurnal.sie-mandala.ac.id/index. php/relasi/aricle/view/32/20. [10 Okober 2016]. 132

Taryono. 2014. Defisi Kedelai di Lampung Capai 85 jua kg. Tribun Lampung, 21 November. hp://lampung.ribunnews.com. [7 Januari 2016]. Thamrin M dan Nasuion RA. 2014. Prospek agribisnis indusri rumah angga empe di Koa Medan. Jurnal Umsu 18 (3) : 272-280. hp://jurnal.umsu.ac.id/index.php/agrium/ari cle/view/205. [15 Okober 2016]. 133