BAB II PENGOLAHAN KASUS

dokumen-dokumen yang mirip
III. RIWAYAT KESEHATANSEKARANG A.

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1 FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI KOMUNITAS I. BIODATA IDENTITAS PASIEN

I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Jenis Kelamin : Laki - laki. Status Perkawinan : Menikah

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TERAPI MUROTTAL

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI KOMUNITAS

PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT UMUM DR.PIRNGADI MEDAN

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT. Tanggal Masuk RS : 09 Desember 2014

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI KOMUNITAS

Lampiran 1 FORMAT PENGKAJIAN PASIEN I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Status perkawinan : sudah menikah

Lampiran 1 ASUHAN KEPERAWATAN KASUS. 1. Pengkajian I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Status Perkawinan : Kawin

BAB III TINJAUAN KASUS. Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Jawa, Indonesia

Format Pengkajian Klien di Lingkungan V Kelurahan Harjo Sari II kecamatan Amplas Kota Medan

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Lampiran Asuhan Keperawatan Kasus PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USUU BIODATA I. IDENTITIAS PASIEN Nama

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

Alamat : Jl. A. Hakim No. 28

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM RETENSIO PLACENTA

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Pukul Tindakan keperawatan Evaluasi. vital. nyeri, skala nyeri

Status Perkawinan : Menikah : Kristen Protestan Pendidikan :

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT. Simalungun

A. lisa Data B. Analisa Data. Analisa data yang dilakukan pada tanggal 18 April 2011 adalah sebagai. berikut:

BAB III TIJAUAN KASUS. Pada bab ini penulis akan membicarakan tentang tinjauan kasus dari pelaksanaan

BAB II PENGELOLAAN KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. O DENGAN CKD ON HD DI RUANG HEMODIALISA BLUD dr. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA

: Jl. Bajak IV Gg. Hidayah Golongan Darah : o Tanggal Pengkajian : 18 mei 2015 Diagnosa Medis : stroke

PENGKAJIAN PNC. kelami

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 28 April Tanggal lahir : 21 Agustus : 8 bulan 7 hari

Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Dx. Tindakan dan Evaluasi

BAB II PENGELOLAAN KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS. Pada bab ini akan penulis paparkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan pada klien

BAB III ANALISA KASUS

PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN KOMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG MELATI 1 RSDM MOEWARDI SURAKARTA

CATATAN PERKEMBANGAN. (wib) abdomen

OLEH : KELOMPOK 5 WASLIFOUR GLORYA DAELI

BAB III RESUME ASUHAN KEPERAWATAN

CATATAN PERKEMBANGAN

BAB III TINJAUAN KASUS

III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

Penting Untuk Ibu Hamil Dan Menyusui

BAB II PENGELOLAAN KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS. Lukman RS Roemani Semarang, data diperoleh dari hasil wawancara dengan

FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA AKADEMI KEPERAWATAN PANTI WALUYA MALANG

BAB III TINJAUAN KASUS

TUGAS SISTEM INTEGUMEN

KUESIONER PENELITIAN KONSUMSI SERAT DAN FAST FOOD SERTA AKTIVITAS FISIK ORANG DEWASA YANG BERSTATUS GIZI OBES DAN NORMAL

BAB III TINJAUAN KASUS. Dalam tinjauan kasus ini penulis menerapkan Asuhan Keperawatan

BAB II PENGELOLAAN KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS. RSUD dr. H. Soewondo Kendal pada tanggal 15 sampai dengan 18 April 2011.

BAB II RESUME KEPERAWATAN WIB, pasien dirawat dengan Fraktur Femur pada hari ke empat:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.K DENGAN DIAGNOSA MEDIK DISPEPSIA DIRUANG KENANGA WANITA RSU CIAMIS

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN

BAB II PENGELOLAAN KASUS. A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Nutrisi

BAB II PENGELOLAAN KASUS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutritute dalam bentuk. variabel tertentu ( Istiany, 2013).

DIIT SERAT TINGGI. Deskripsi

BAB III RESUME KEPERAWATAN. Asuhan Keperawatn Keluarga dilakukan pada tanggal 01 Januari 2008

BAB III RESUME KEPERAWATAN

DISUSUN OLEH : 1. ISABELLA 2. NURAIDAR 3. SEPTIAN 4. WAHYU NINGSIH LASE 5. YUTIVA IRNANDA 6. ELYANI SEMBIRING. FKep USU 1

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DINAS KESEHATAN PUSKESMAS LENEK Jln. Raya Mataram Lb. Lombok KM. 50 Desa Lenek Kec. Aikmel

BAB III TINJAUAN KASUS. Dalam bab ini penulis mengambil kasus pada keluarga An. E dengan salah satu

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan NO. DX Hari/Tanggal Pukul (wib) Tindakan Keperawatan 1 Senin/17 Juni

KASUS GIZI BURUK. 1. Identitas. a. Identitas Balita. : Yuni Rastiani. Umur : 40 bln ( ) Tempat Tanggal Lahir : Tasikmalaya,

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengumpulan atau Penyajian Data Dasar Secara Lengkap

BAB III TINJAUAN KASUS. Pada bab ini akan penulis paparkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU AKSEPTOR KB TERHADAP NY. Y DI BPS HERTATI

BAB II PENGELOLAAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN. Latar belakang pendidikan. : Perumahan Pantai Perak gang 3 no 21 Semarang. Tanggal masuk RS : 6 September 2013 Diagnosa medis

BAB II PENGELOLAAN KASUS

CATATAN PERKEMBANGAN IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR (PAGT) INSTALASI GIZI RSU HAJI SURABAYA

Kehamilan akan meningkatkan metabolisme energi karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya juga mengalami peningkatan selama masa kehamilan.

ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL CARE FISIOLOGI PADA Ny J UMUR KEHAMILAN 38 MINGGU 2 HARI DI PUSKESMAS PATTOPAKANG TANGGAL 9 DESEMBER 2013

BAB III TINJAUAN KASUS. Dalam bab ini penulis akan melaporkan tentang pemberian asuhan

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Dx Hari/tanggal Pukul Tindakan Keperawatan

Mengatur Berat Badan. Mengatur Berat Badan

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati

BAB I KONSEP DASAR. menderita deferensiasi murni. Anak yang dengan defisiensi protein. dan Nelson membuat sinonim Malnutrisi Energi Protein dengan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NN.S POST SEKSIO SESAREA DI RUANG ALAMANDA RSHS BANDUNG. Di Susun oleh : Nama : Venti Apriani Fatimah NPM :

BAB II PENGELOLAAN KASUS Konsep Dasar Perawatan Diri/Personal Hygiene Defenisi Perawatan Diri/Personal Hygiene

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny 60 DENGAN PERIODE ANTENATAL G 1 P 1002 UK MINGGU T/H DI PUSKESMAS IV DENPASAR SELATAN TANGGAL 16 MEI 2014

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian keperawatan dilakukan pada tanggal 30 Maret 2011 dengan hasil. Jenis kelamin : Perempuan

BAB III RESUME KEPERAWATAN. Pengkajian dilakukan pada hari masa tanggal jam WIB di ruang Barokah 3C PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Transkripsi:

BAB II PENGOLAHAN KASUS 2.1 Konsep Dasar Kebutuhan Nutrisi 2.1.1 Defenisi Nutrisi adalah zat-zat dan zat lain yang berhubungan denagn kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahanbahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya. Nutrisi dapat dikatakan sebagai ilmu tentang makanan, zat-zat gizi dan zat lain yang terkandung, aksi, reaksi, dan keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit (Wartonah, 2006). Sedangkan menurut Muttaqim (2011), nutrisi adalah jumlah total proses makhluk hidup menerima dan menggunakan zat (nutrient) yang penting bagi kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perbaikan jaringannya yang rusak. Sistem tubuh yang berperan dalam pemenuhan nutrisi adalah sistem pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ aksesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut, faring dan esophagus, lambung, usus besar, sampai usus halus bagian distal, sedangkan organ aksesoris terdiri atas hati, kantong empedu, dan pancreas. Ketiga organ ini membantu terlaksananya sistem pencernaan makanan secara kimiawi (Hidayat, 2009). 2.1.2 Status Nutrisi Pemecahan makanan, pencernaan, absorpsi, dan asupan makanan merupakan faktor penting dalam menentukan status nutrisi menurut Tarwoto dan Wartonah (2006), yaitu: 1. Keseimbangan energi Energi adalah kekuatan untuk bekerja. Manusia membutuhkan energi untuk terus-menerus berhubungan dengan lingkungannya. Keseimbangan energi dapat dihitung berdasarkan pemasukan energi di kurangai dengan pengeluaran energi. 4

a. Pemasukan Energi Pemasukan energi merupakan energi yang dihasilkan selama oksidasi makanan, makanan merupakan sumber utama energi manusia. b. Pengeluaran Energi Pengeluaran energi adalah energi yang digunakan oleh tubuh untuk mensupport jaringan dan fungsi-fungsi organ tubuh. Kebutuhan energi seseorang ditentukan oleh Basal Metabolism Rate (BMR) dan aktivitas. c. Basal Metabolism Rate (BMR) Basal metabolism rate adalah energi yang digunakan tubuh pada saat istirahat yaitu untuk kegiatan fungsi tubuh seperti pergerakan jantung, pernafasan, peristaltik usus, kegiatan kelenjar-kelenjar tubuh. Kebutuhan kalori basal dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, tinggi dan berat badan, kelainan endokrin, suhu lingkungan, keadaan sakit, keadaan hamil, keadaan stres dan ketegangan. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi Menurut Hidayat (2009), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan nutrisi yaitu: a. Pengetahuan Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan yang bergizi dapat mempengaruhi pola konsumsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi sehingga dapat terjadi kesalahan dalam memahami kebutuhan gizi. b. Prasangka Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Misalnya disaerah, tempe yang merupakan sumber protein yang paling murah, tidak dijadikan makan yang layak untuk dimakan karena masyarakat mengaggap bahwa mengonsumsi makanan tersebut dapat merendahkan derajat mereka. c. Kebiasaan Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan tertentu juga dpaat mempengaruhi status gizi. Misalnya, beberapa di daerah, terdapat larangan makan pisang dan papaya bagi para gadis 5

remaja. Padahal, makanan tersebut merupakan sumber vitamin yang sangat baik, serta larangan makan ikan bagi anak-anak karena di anggap mengakibatkan cacingan, padahal ikan merupakan sumber protein yang sangat baik bagi anak-anak. d. Kesukaan Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan kurang variasi makanan, sehingga tubuh tidak memproleh zat-zat yang dibutuhkan secara cukup. Kesukaan dapat mengakibatkan merosotnya gizi pada remaja bila nilai gizinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saat ini banyak orang-orang yang mengonsumsi makanan cepat saji dan lain-lain yang di konsumsi secara berlebihan. Makanan tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan karena tidak memiliki asupan gizi yang baik. e. Ekonomi Status ekonomi dapat mempengaruhi perubahan satis gizi karena penyediaan makanan bergizi membutuhkan perdanaan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, masyarakat dengan kondisi perekonomian yang tinggi biasanya mempu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya dibandingkan masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah. 3. Komponen nutrisi a. Karbohidrat Menururut Tarwoto dan Wartonah (2006), Karbohidrat merupakan sumber energi utama. Hampir 80% energi dihasilkan dari karbohidrat. Sedangkan menurut Hidayat (2005), karbohidrat merupakan sumber energi yang tersedia dengan mudah disetiap makanan, karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab kekurangan karbohidrat sekitar 15% dari kalori yang ada maka dapat menyebabkan terjadi kelaparan dan berat badan menurun demikian sebaliknya apabila jumlah kalori yang tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah yang tinggi dapat menyebabkan terjadi peningkatan berat badan (obesitas). Dalam mendapatkan jumlah karbohidrat yang cukup maka 6

dapat diperoleh dari susu, padi-padian, buah-buahan, sirup, sukrosa, tepung, dan sayu-sayuran. Menurut Tarwoto dan Warnotah (2006), Karbohidrat mempunyai fungsi antara lain adalah sebagai berikut: 1) Sumber energi yang murah 2) Sumber energi utama bagi otak dan saraf. 3) Membuat cadangan tenaga bagi tubuh 4) Pengeturan metabolism lemak 5) Untuk efisiensi penggunaan protein 6) Memberikan rasa kenyang b. Protein Protein berfungsi sebagai pertumbuhan, mempertahankan dan mengganti jaringan tubuh. Adapun fungsi protein sebagai berikut: 1) Untuk keseimbangan cairan yaitu dengan meningkatkan tekanan osmotik koloid, keseimbangan asam. 2) Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan. 3) Pengaturan metabolisme dalam bentuk enzim dan hormon. 4) Sumber energi disamping karbohidrat dan lemak. 5) Dalam bentuk kromosom, protein berperan sebagai tempat penyimpanan dan meneruskan sifat-sifat keturunan dalam bentuk genes. c. Lemak Lemak merupakan sumber energi paling besar. Dimana fungsi lemak yaitu: 1) Memberikan kalori, dimana setiap 1 gram lemak dalam peristiwa oksidasi akan memberikan kalori sebanyak 9 kkal. 2) Melarutkan vitamin sehingga dapat diserap oleh dinding usus. 3) Memberikan asam-asam lemak esensisal. d. Mineral Mineral adalah elemen anorganik esensial untuk tubuh karena perannya sebagai katalis dalam rekasi biokimia. Secara umum fungsi dari mineral adalah : 1) Membangun jaringan tulang 7

2) Mengatur tekanan osmotik dalam tubuh 3) Memberikan elektrolit untuk keperluan otot-otot dan saraf 4) Membuat berbagai enzim e. Vitamin Vitamin adalah substansi organik, keberadaannya sangat sedikit pada makan dan tidak di dapat di dalam tubuh. Vitamin sangat berperan dalam proses metabolisme kerena fungsinya sebagai katalisator. Fungsi utama vitamin adalah untuk pertumbuhan, perkembangan dan pemeliharaan kesehatan. 4. Standar kecukupan gizi Menurut Dudek (1987), ada tiga cara untuk menghitung kebutuhan nutrisi seseorang: a. Untuk individu dewasa, penghitungan didasarkan pada kebutuhan kalori dasar atau basal dan tingkat aktivitas. Kebutuhan kalori basal (KKB) adalah hasil perkalian antara berat badan ideal (BBI) dan angka 10. Jadi rumus KKB adalah (BBI x 10). Sedangkan anak-anak dibawah usia 12 tahun umumnya memerlukan 1000 kalori ditambah 100 kalori dikali usia anak. Bila anak berusia 5 tahun, kebutuhan kalorinya sebesar 1000 + (100 x 5) = 1500 kalori. b. Berdasarkan tingkat aktivitas dan jumlah kalori untuk setiap berat badan ideal (BBI). c. Pedoman yang digunakan oleh United state dietarian association (USDA) untuk menghitung jumlah kalori per berat badan menurut jenis kelamin. Tabel 2.1. Kebutuhan Energi per hari Umur Berat Badan Tinggi Badan Energi (kkal) 0-6 bulan 5,5 60 560 7-12 bulan 8,5 71 800 1-3 tahun 12 89 1220 4-6 tahun 18 108 1720 7-9 tahun 23,5 120 1860 8

Pria 10-10tahun 13-15 tahun 16-19 tahun 20-59 tahun 60 tahun 30 40 53 56 56 135 152 160 162 162 1950 2200 2360 2400 1960 Wanita 10-12 tahun 13-15 tahun 16-19 tahun 20-59 tahun 60 tahun 32 40 53 50 50 139 153 154 154 154 1750 1900 1850 1900 1700 (Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip dari Solihin Pudjiadi, 2001) 5. Nilai Gizi Nutrisi Tabel 2.2. Tabel Nilai Gizi Nutrisi Energi Protein Lemak Karbohidra Kalsium Besi Vitamin A Tiamin Vitamin C (Almatsier, 2006) 1942 kkal 75 g 79 g 241 g 817 mg 28,5 mg 15369 RE 0,8 mg 205 mg 9

6. Menu Sehari Tabel 2.3. Menu Sehari Waktu dan Pukul Bahan Makanan Jumlah Beras 1 ¼ gelas bubur Telur ayam 1 butir Pagi Sayuran ½ gelas Gula pasir 1 sdm Margarin ½ sdm Maizena 4 sdm 10.00 WIB Gula pasir 2 ½ sdm Susu ½ Beras 1 ½ gls bubur Daging 1 ptg sdg Tempe 2 ptg sdg Siang Sayuran 1 gls Papaya 1 ptg sdg Gula pasir 1 sdm Margarin 1 sdm Roti 2 iris Margarin 1 sdm 16.00 WIB Telur 1 btr Gula pasir 1 sdm Beras 1 ¼ gls bubur Daging 1 ptg sdg Tempe 2 ptg sdg Malam Sayuran 1 gls Papaya 1 ptg sdg Margarin 1 sdm Susu 1 gls 20.00 WIB Gula pasir 1 sdm (Almatsier, 2006) 10

2.2 Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Dasar Nutrisi 2.2.1 Pengkajian Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang klien. Tujuan dari pengkajian adalah menetapkan dasar data tentang kebutuhan, masalah kesehatan, tujuan, nilai, dan gaya hidup yang dilakukan klien. (Potter & Perry, 2005). Menurut Hidayat (2009), Pengkajian pada masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah sebgai berikut: 1. Riwayat makanan Riwayat makanan meliputi informasi atau keterangan tentang pola makanan, tipe makanan yang dihindari ataupun diabaikan, makanan yang lebih disukai, yang dapat digunakan untuk membantu merencanakan jenis makanan untuk sekarang, dan rencana makanan untuk selanjutnya. 2. Kemampuan makan Beberapa hal yang perlu dikaji dalam hal kemampuan makan, antara lain kemampua mengunyah, menelan dan makan sendiri tanpa bantuan rang lain. 3. Pengetahuan tentang nutrisi Aspek lain yang sangat penting dalam pengkajian nutrisi adalah penentuan tingkat pengetahuan pasien tentang nutrisi. 4. Nafsu makan dan jumlah asupan. 5. Tingkat aktivitas. 6. Pengonsumsi obat. 7. Penampilan fisik. Penampilan dapat dilihat dari hasil pemeriksaan fisik terhadap aspek-aspek berkut: rambut yang sehat berciri mengkilat, kuat, tidak kering, dan tidak mengalami kebotakan bukan karena faktor usia, daerah diatas kedua pipi dan bawah kedua mata tidak berwarna gelap, daerah bibir tidak kering, pecah-pecah, ataupun mengalami pebengkakan, lidah berwarna merah gelap, tidak berwarna mera terang, dan tidak ada luka pada permukaannya, gusi tidak bengkak, tidak mudah berdarah, dan gusi yang mengelilingi gigi harus rapat serta erat tidak tertarik ke bawah sampai di bawah permukaan 11

gigi, gigi tidak berlubang dan tidak berwarna, kulit tubuh halus, tidak ada bersisik, tidak ada timbul bercak kemerahan, atau terjadi perdarahan yang berlebihan, kuku jari kuat dan berwarna merah muda. 8. Pengukuran antropometri - Berat badan ideal : (TB - 100) ± 10% - Lingkar pergelangan tangan - Lingkar lengan atas (MAC): Nilai normal: Wanita: 28,5 cm Pria : 28,3 cm - Lipatan kulit pada otot trisep (TSF): Nilai normal: Wanita: 16,5-18 cm Pria : 12,5-16,5 cm 9. Laboratorium - Albumin (N: 4-5,5 mg/100 ml) - Transferin (N: 170-25 mg/100 ml) - Hb (N: 12 mg%) - BUN (N: 10-20 mg/100 ml) - Ekskresi kreatinin untuk 24 jam (N: laki-laki: 0,6-1,3 mg/100 ml, wanita: 0,5-1,0 mg/100 ml). 2.2.2 Analisa Data Data dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya. Data fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatan lainnya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap klien (Potter & Perry, 2005) Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang pasien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhankebutuhan keperawatan dan kesehatan pasien. Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah yang dihadapi pasien. Selanjutnya data dasar 12

tersebut digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalahmasalah pasien. Pengumpulan data dimulai sejak pasien masuk ke rumah sakit. (Potter & Perry, 2005) Tujuan Pengumpulan Data : 1. Memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan pasien. 2. Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan pasien. 3. Untuk menilai keadaan pasien. 4. Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah berikutnya. Tipe Data : 1. Data Subjektif Data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak bisa ditentukan oleh perawat, mencakup persepsi, perasaan, ide pasien tentang status kesehatannya. Misalnya tentang Nutrisi. (Potter & Perry, 2005) 2. Data Objektif Data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, raba) selama pemeriksaan fisik. Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat badan, tingkat kesadaran. (Potter & Perry, 2005) 2.2.3 Rumusan Masalah Berdasarkan pengumpulan data yang selama pengkajian dimana perawat menyusun strategi keperawatan untuk mengurangi atau mencegah bahaya berhubungan dengan kurang nutrsi. Diagnosa keperawatan yang mungkin mucul pada kurang nutrisi (NANDA, 2011), yaitu: 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. 13

2.2.4 Perencanaan Pengkajian keperawatan dan perumusan diagnosa keperawatan menggali langkah perencanaan dari proses keperawatan. Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut. Selama perencanaan, dibuat prioritas. Selain berkolaborasi dengan klien dan keluarganya, perawat berkonsul dengan anggota tim perawat kesehatan lainnya, menelaah literatur yang berkaitan memodifikasi asuhan, dan mencatat informasi yang relevan tentang kebutuhan perawatan kesehatan klien dan penatalaksanaan klinik. (Potter & Perry, 2005) Diagnosa keperawatan : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Faktor yang berhubungan : - Penyakit kronis - Kesulitan mengunyah atau menelan - Kebutuhan metabolik tinggi - Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi - Hilang nafsu makan - Mual dan muntah (NANDA, 2011) 14

Tabel 2.4. Perencanaan Keperawatan No. Dx Perencanaan Keperawatan 1 Tujuan dan kriteria hasil : Pemasukan nutrisi yang adekuat Mempertahankan berat badan dalam batas normal Mentoleransi diet yang dianjurkan Memperlihatkan pola makan yang teratur Intervensi Rasional Mandiri 1. Ajarkan pola makan hidup 1. Mengurangi terjadinya implasi sehat pada pasien. lambung akibat makan tidak teratur dan mengurangi iritasi 2. Diskusikan bersama klien lambung. 2. Faktor-faktor seperti nyeri, kemungkinan penyebab kelamahan, penggunaan analgesik, hilangnya nafsu makan. dan imobilitas dapat menyebabkan anoreksia. Dengan mengidentifikasi penyebab dari anoreksia, kita bisa melakukan intervensi untuk menghilangkan atau meminimalkannya 3. Timbang berat badan 3. Pengawasan kehilangan / setiap hari. penambahan berat badan dan alat pengkajian kebutuhan nutrisi. 4. Bantu dan berikan 4. Menghindari terjadinya berat motivasi serta dukungan badan tidak ideal. kepada klien dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisinya. 5. Tawarkan makanan dalam 5. Distribusi total asupan kalori yang jumlah sedikit tetapi merata sepanjang hari membantu sering. mencegah distensi lambung 15

sehingga selera makan mungkin akan meningkat. 6. Pada kondisi menurunnya nafsu makan, batasi asupan cairan saat makan dan hindari mengkonsumsi cairan satu jam sebelum dan sesudah makan. 6. Pembatasan asupan cairan saat makan membantu mencegah distensi lambung Kolaborasi 1. Berikan obat analgesic sebelum makan atau sesuai dengan jadwal yang ditentukan. 2. Laporkan kepada dokter jika pasien menolak makan 1. Mengurangi terjadinya muntah dan nyeri yang dirasakn oleh pasien 2. Mencegah penurunan berat badan pasien. 16

2.3 Asuhan Keperawatan Kasus PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN USU 2.3.1 Pengkajian BIODATA IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Y Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 53 tahun Statur Perkawinan : Menikah Agama : Islam Pendidikan : SLTA Pekerjaan : Ibu rumah tangga Alamat : Jalan Sentosa, Gg. Alia No. 39 Medan Tanggal Masuk RS : 31 Mei 2014 No.Register : 00.92.75.91 Ruangan/Kamar : E. Terpadu / III Golongan darah : - Tanggal pengkajian : 02 Juni 2014 Tanggal operasi : - Diagnosa Medis : Gastritis I. KELUHAN UTAMA : Ny. Y mengeluh perut kembung selama 2 minggu terakhir, nyeri pada abdomen regio epigastrik dan hipokondria seperti rasa ditusuk-tusuk dan tidak menyebar, mual, muntah sebelum makan dan setelah makan jika terlamabat dengan frekuensi 3 kali dalam satu hari, volume 70 cc, berwarna kuning kehijauan serta terdapat cairan, selera makan menurun, setelah di timbang berat badan 43 kg dan mengalami penurunan berat badan 7 kg dari berat badan semula 50 kg. 17

II. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG A. Provocative/palliative 1. Apa penyebabnya Ny. Y mengatakan penyebabnya di karenakan sering makan tidak teratur, selera makan menurun dan sering mengkonsusmsi makanan cepat saji. 2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan Ny. Y mengatakan hal yang memperbaiki keadaan adalah disaat minum obat dan disertai dengan istirahat. B. Quantity/quality 1. Bagaimana dirasakan Ny. Y mengatakan nyeri pada daerah abdomen region epigastrik dan hipokondria kiri seperti rasa ditusuk-tusuk oleh sebab itu pasien sulit untuk melakukan aktifitasnya secara mandiri. 2. Bagaimana dilihat Ny. Y terlihat cemas dengan keadaannya dilihat dari raut wajah yaitu meringis dan konsentrasi menjawab pertanyaan dan terlihat lemah di atas tempat tidur. C. Region 1. Dimana lokasinya Pada abdomen regio epigastrik dan hipokondria kiri. 2. Apakah menyebar Tidak adanya penyebaran nyeri yang dirasakan Ny. Y. D. Severity Ny. Y mengatakan keadaan yang sekarang sangat mengganggu kebiasaannya sehari-hari, karena sulit untuk melakukan aktifitas. E. Time Nyeri tiba saat sebelum makan dan sewaktu makan terlambat. III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU A. Penyakit yang pernah dialami Klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang berat, hanya demam, pusing dan flu biasa saja. 18

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan Ny. Y mengatakan jika sakit Ny. Y pergi ke puskesmas di sekitar rumah. C. Pernah dirawat/dioperasi Ny. Y mengatakan tidak pernah dirawat/dioperasi. D. Lama dirawat Ny. Y mengatakan tidak pernah dirawat maupun dioperasi. E. Alergi Ny. Y mengatakan tidak ada alergi terhadap obat, makanan, binatang maupun lingkungan. F. Imunisasi Ny. Y mengatakan dia tidak pernah mendapatkan imunisasi dikarenakan sewaktu Ny. Y masih kecil belum ada program imunisasi. IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU A. Orang Tua Ny. Y mengatakan bapak dari klien menderita gastritis, sedangkan ibu dari klien menderita gastritis. B. Saudara Kandung Ny. Y mengatakan saudara kandung memilki penyakit yang sama dengan dirinya. C. Penyakit keturunan yang ada Ny. Y mengatakan keluarga tidak memiliki riwayat penyakit keturunan. D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa Jika ada, hubungan keluarga : tidak ada Gejala : tidak ada Riwayat pengobatan/perawatan : tidak ada E. Anggota keluarga yang meninggal Ny. Y mengatakan anggota keluarganya sudah meninggal 3 orang dikarenakan penyakit gastritis yang dialami mereka. F. Penyebab meninggal Penyebab ke-3 anggota keluarga meninggal karena gastritis. 19

V. RIWAYAT KEADAAN PSIKOLOGI A. Persepsi Pasien tentang penyakitnya Pasien mengatakan keadaan sekarang yang dialami adalah akibat kurang teratur makan serta tidak menjaga makanan dengan baik. B. Konsep Diri Gambaran Diri : Pasien mengatakan sedih dengan keadaannya yang sekarang Ideal Diri : Pasien mengatakan dia akan dapat segera sembuh Harga Diri : Pasien tidak merasa malu dengan kondisinya sekarang Peran Diri : Pasien merupakan seorang ibu dari anak-anaknya Identitas : Pasien ingin cepat sembuh dan segera pulang C. Keadaan Emosi Keadaan emosi dapat terkontrol. D. Hubungan Sosial Orang yang berarti : Ny. Y mengatakan orang yang berarti adalah keluarganya. Hubungan dengan keluarga : Ny. Y menjalin hubungan baik dengan keluarga. Hubungan dengan orang lain : Ny. Y dapat berinteraksi dengan orang yang ada di sekitarnya. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Tidak ada hambatan dalam berhubungan dengan keluarga serta tetangga sering menjenguk klien selama di rawat di rumah sakit. E. Spiritual Nilai dan keyakinan Ny. Y memeluk agama Islam dan percaya dengan Tuhannya. Kegiatan ibadah Ny. Y beribadah sesuai ketentuan agamanya, dan selama dirumah sakit Ny. Y tidak melakukan shalat dia hanya berdoa untuk kesembuhannya. 20

VI. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan umum Keadaan umum : Compos mentis B. Tanda-tanda vital Suhu tubuh : 36,5 C Tekanan darah : 140/80 mmhg Nadi : 74x/menit Pernafasan : 18x/menit Skala nyeri : 5 TB : 154 cm BB : 43 kg (sebelum 50 kg) C. Pemeriksaan Head to toe Kepala dan rambut Bentuk : Bulat simetris Ubun-ubun : Keras dan tertutup Kulit kepala : Bersih Rambut Penebaran dan keadaan rambut : Rambut bersih dan rapi Bau : Tidak ada bau Warna kulit : Sawo matang Wajah Warna kulit : Sawo matang Struktur wajah : Lengkap Mata Kelengkapan dan kesimetrisan : Lengkap dan simetris Palpebra : Normal Konjungtiva dan sclera : Konjungtiva tampak pucat dan skelra berwarna Pupil : Ukuran pupil 3mm, reflek cahaya (+), isokor antara kanan dan kiri Kornea dan iris : Transparan,halus, bersih dan jernih 21

Visus : Klien dapat membaca pada jarak 5 meter, klien dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter Tekanan bola mata : Tidak dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata Hidung Tulang hidung dan posisi septum nasi: Simetris dan tidak ada kelainan Lubang hidung cuping hidung : Ukuran normal Cuping hidung : Tidak ada tanda kelainan Telinga Bentuk telinga : Normal, simetris Ukuran telinga : Normal Lubang tlinga : Bersih, tidak ada kotoran Ketajaman pendengaran : Normal Mulut dan faring Keadaan bibir : Kering Keadaan gusi dan gigi : Bersih Keadaan lidah : Berwarna merah muda Leher Posisi trachea / thyroid : Normal, teraba pada kedua sisi Suara : Normal Kelenjar limfa : Tidak ada pembesaran kelelenjar getah bening Vena jugularis : Tidak tampak ketika berbicara Denyut nadi karotis : Teraba Pemeriksaan integument Kebersihan : Kulit bersih, dan tonus otot baik Kehangatan : 36,5 0 C Warna : Sawo matang Turgor : Kembali cepat < 2 detik Kelembaban : Keadaan kulit lembab 22

Kelainan pada kulit : Tidak ada kelainan Pemeriksaan thoraks/dada Inspeksi thoraks (normal, burrel chest, funnel chest, pigeon chest, flail chest, kifos koliasis) : Normal Pernafasa (frekwensi,irama) : Frekwensi 18x/menit, irama vesikuler Tanda kesulitan bernafas : Tidak ada tanda kelainan Pemeriksaan paru Palpasi getaran suara: Fremitus taktil simetris kiri dan kanan Perkusi: Pada saat dilakukan pengkajian terdengar resonan Auskultasi: Suara nafas vesikuler, suara ucapan jelas dan tidak terdapat suara tambahan Pemeriksaan Payudara Ukuran dan bentuk : Simetris Warna payudara dan areola : Areola berwarna hitam Kondisi payudara dan putting : Normal, tidak dijumpai kelainan Produksi asi : Tidak ada Aksila dan Clavicula : Tidak ada kelainan Pemeriksaan abdomen Inspeksi (bentuk, benjolan) : Abdomen simetris dan tidak terdapat benjolan Auskultasi : Peristaltic 7x/ menit Palpasi : Sewaktu di palpasi terdapat nyeri tekan pada abdomen region epigastrik dan hipokondria kiri. Perkusi (suara abdomen) : Timpani. Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya Genitalia (rambut pubis, lubang uretra) : terdapat rambut pubis dan lubang uretara dan tidak ada kelainan Anus dan perineum (lubang anus, kelainan pada anus, perineum): normal, terdapat lubang anus dan tidak ada kelainan. 23

VII. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI I. Pola makan dan minum Frekuensi makan/hari : 5 kali / hari Selera makan : Pasien mengatakan selera makan menurun Nyeri ulu hati : Terdapat nyeri ulu hati Alergi : Tidak ada alergi makanan mual dan muntah : Terdapat mual dan muntah Waktu pemberian makanan : Tidak tetap, karena pasien tidak bisa manajemen waktu untuk makan Jumlah dan jenis makanan : Pasien hanya menghabiskan makanan 1/3 porsi diet. Waktu pemberian cairan/minuman: Pasien terpasang cairan infuse RL 20 tetes / menit, minum apabila haus Masalah makan dan minum (kesulitan menelan, mengunyah) : ada kesulitan untuk makan II. Perawatan diri/personal hygiene Kebersihan tubuh : Pasien selama di rumah sakit Ny. Y mengatakan tidak mandi seperti sebersih biasanya karena di bantu oleh keluarga. Kebersihan gigi dan mulut : Bersih Kebersihan kuku kaki dan tangan : Bersih III. Pola kegiatan/aktivitas Uraian aktivitas pasien untuk mandi, makan, eliminasi, ganti pakaian dilakukan secara sebahagian: Saat ini pasien dalam melakukan kegiatan membutuhkan bantuan keluarga atau perawat. Uraikan aktivitas ibadah pasien selama dirawat/sakit: Untuk saat ini pasien tidak ada melakukan kegiatan ibadah 24

IV. Pola eliminasi 1. BAB Pola BAB : 1 x / 2 hari Karakter feses : Lembek Riwayat perdarahan : Tidak ada pendarahan BAB terakhir : 2 hari yang lalu Diare : Tidak ada diare Penggunaan laksatif : Tidak ada penggunaan laksatif 2. BAK Pola BAK : 4-6 kali / hari Karakter urine : Normal nyeri/rasa terbakar/kesulitan BAK : Tidak ada kesulitan BAK Riwayat penyakit ginjal/kandung kemih : Tidak ada Penggunaan diuretic : Tidak ada penggunaan diuretik Upaya mengatasi masalah : Tidak ada 2.3.2 ANALISA DATA No. Data Penyebab 1. DS : Klien mengatakan selera Asam Lambung meningkat makan menurun, nyeri pada ulu hati, serta mual dan Inflamasi mukosa lambung muntah. Mual dan muntah serta nyeri DO : kepala Menolak untuk makan Keadaan umum lemah Nyeri abdomen bagian kiri Frekuensi makan 5x/hari atas serta ulu hati aktivitas dibantu oleh kelurga dan perawat Selera makan menurun Masalah Keperawatan Ketidakseimban gan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 25

BB : 43 kg (sebelum sakit 50 kg) IMT : 18,1 (normal 18,5-22,9) TB : 154 cm Konjugtiva pucat Jumlah makanan yang di konsumsi dalam 1 hari 1/3 porsi diet Makanan (diet) tidak habis Hasil pemeriksaan fisik: Inspeksi : konjungtiva pucat Aukultasi : peristaltik 7 x/menit Perkusi : timpani Palpasi : nyeri pada abdomen regio epigastrik dan hipokondria kiri. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 2.3.3 RUMUSAN MASALAH MASALAH KEPERAWATAN 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS) 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik ditandai dengan klien tidak selera makan, berat badan klien menurun, klien tampak lemah, kulit dan bibir kering dan pucat. 26

2.3.4 PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL No. Dx Perencanaan Keperawatan 1 Tujuan dan kriteria hasil: - Pemasukan nutrisi yang adekuat - Mempertahankan berat badan dalam batas normal - Mentoleransi diet yang dianjurkan - Memperlihatkan pola makan yang teratur Intervensi Rasional Mandiri 1. Ajarkan pola makan hidup sehat pada pasien. 2. Diskusikan bersama klien kemungkinan penyebab hilangnya nafsu makan. 3. Timbang berat badan setiap hari. 4. Bantu dan berikan motivasi serta dukungan kepada klien dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisinya. 5. Tawarkan makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering. 1. Mengurangi terjadinya implasi lambung akibat makan tidak teratur dan mengurangi iritasi lambung. 2. Faktor-faktor seperti nyeri, kelamahan, penggunaan analgesik, dan imobilitas dapat menyebabkan anoreksia. Dengan mengidentifikasi penyebab dari anoreksia, kita bisa melakukan intervensi untuk menghilangkan atau meminimalkannya 3. Pengawasan kehilangan / penambahan berat badan dan alat pengkajian kebutuhan nutrisi. 4. Menghindari terjadinya berat badan tidak ideal. 5. Distribusi total asupan kalori yang merata sepanjang hari 27

6. Pada kondisi menurunnya nafsu makan, batasi asupan cairan saat makan dan hindari mengkonsumsi cairan satu jam sebelum dan sesudah makan. membantu mencegah distensi lambung sehingga selera makan mungkin akan meningkat. 6. Pembatasan asupan cairan saat makan membantu mencegah distensi lambung Kolaborasi 1. Berikan obat analgesic sebelum makan atau sesuai dengan jadwal yang ditentukan. 2. Laporkan kepada dokter jika pasien menolak makan 1. Mengurangi terjadinya muntah dan nyeri yang dirasakn oleh pasien 2. Mencegah penurunan berat badan pasien. 28

2.3.5 PELAKSANAAN KEPERAWATAN Hari / Implementasi Keperawatan tanggal Rabu/ Mengajarkan pola makan hidup 04 juni sehat pada pasien seperti 2014 mengajarkan tepat waktu dalam makan dan mengkonsusi makanan yang diberikan dari rumah sakit. Mendiskusikan bersama klien kemungkinan penyebab hilangnya nafsu makan seperti nyeri. Menimbang berat badan setiap hari Membantu dan berikan motivasi serta dukungan kepada klien dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisinya. Menawarkan makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering. Mengajarkan pasien pada kondisi menurunnya nafsu makan, batasi asupan cairan saat makan dan hindari mengkonsumsi cairan satu jam sebelum dan sesudah makan. Evaluasi S : Klien mengatakan nafsu makan masih menurun, mual dan muntah sebelum dan sesudah makan. O : Klien tampak lesu, porsi makanan tidak habis, berat badan 43 kg. RR : 18 x/menit, HR : 74 x/menit. A : Masalah belum teratasi. - Pasien masih mengalami penurunan nafsu makan. P : intervensi dilanjutkan - Kaji kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi - Anjurkan untuk menaikkan berat badan. 29

Kamis / 05 juni 2014 Mengajarkan pola makan hidup sehat pada pasien seperti mengajarkan tepat waktu dalam makan dan mengkonsusi makanan yang diberikan dari rumah sakit. Mendiskusikan bersama klien kemungkinan penyebab hilangnya nafsu makan. Menimbang berat badan setiap hari Membantu dan berikan motivasi serta dukungan kepada klien dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisinya. Menawarkan makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering. Mengajarkan pasien pada kondisi menurunnya nafsu makan, batasi asupan cairan saat makan dan hindari mengkonsumsi cairan satu jam sebelum dan sesudah makan. S : Klien mengatakan nafsu makan meningkat mual dan muntah sebelum makan dan sesudah makan. O : Klien tampak lesu, porsi makan suadah habis lebih dari ½ porsi diet, berat badan 43 kg, RR : 22 x/menit, HR : 80 x/menit. A : Masalah sebagian teratasi. - Nafsu makan pasien meningkta. - Klien masih tampak lesu P : Intervensi dilanjutkan - Kaji kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi - Anjurkan untuk menaikkan berat badan. 30

Jumat/ 07 juni 2014 Mengajarkan pola makan hidup sehat pada pasien seperti mengajarkan tepat waktu dalam makan dan mengkonsusi makanan yang diberikan dari rumah sakit. Menimbang berat badan setiap hari. Membantu dan berikan motivasi serta dukungan kepada klien dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisinya. Mengajarkan makan dalam jumlah sedikit tetapi sering. S : Klien mengatakan nafsu makan meningkat, mual dan muntah tidak terdapat. O : Klien tampak rileks, porsi makanan diet habis, berat badan 43 kg. RR : 22 x/menit, HR : 80 x/menit. A : Masalah sebagian teratasi. - Nafsu makan pasien meningkat. - Klien tampak rileks. P : intervensi dihentikan 31