14 PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Aspek Teknis Aspek teknis yang dilakukan adalah sebagai buruh harian lepas, yaitu penulis bekerja aktif dalam kegiatan harian teknis di lapangan yang menuntut aktivitas fisik. Kegiatan dimulai pukul 05.45-06.30 WIB yaitu apel pagi. Apel pagi selama satu bulan pertama sejak penulis magang, dilaksanakan di depan kantor afdeling (apel pagi gabungan), tetapi karena kurang efektif, maka apel pagi dipindah ke blok yang akan dilaksanakan kegiatan baik itu panen maupun rawat oleh masing-masing kemandoran. Dalam apel pagi yang diikuti oleh karyawan, verifikator, mandor, kepala afdeling dan kepala kebun, arahan diberikan oleh mandor dan kepala afdeling berupa evaluasi hasil pekerjaan hari sebelumnya (H-1), memberi solusi atas permasalahan yang terjadi baik dalam kegiatan pekerjaan maupun dalam fasilitas tinggal di afdeling, mengecek peralatan kerja dan atribut kerja, menentukan areal pekerjaan karyawan serta mengadakan senam pagi agar meningkatkan semangat kerja karyawan. Setelah apel pagi, semua karyawan memulai kegiatan di ancak yang telah ditetapkan. Selama menjadi KHL, aspek teknis yang dilakukan meliputi: penyisipan tanaman kelapa sawit, kegiatan rawat tanaman menghasilkan yang meliputi rawat path (jalan panen) dan TPH, rawat circle (piringan), rawat gawangan, pruning (pemangkasan) dan pemupukan, konservasi air dan tanah (rorak tadah hujan, rorak organik, penanaman Nephrolephis biserrata), pengendalian hama penyakit tanaman (HPT), panen dan transportasi TBS. Penyisipan Tanaman Kelapa Sawit Penyisipan merupakan kegiatan mengganti tanaman mati dengan tanaman baru. Penyisipan harus dilaksanakan maksimal satu tahun setelah penanaman. Penyisipan dimulai dari umur tanaman yang paling tua (maksimal TM II) dan seterusnya sampai yang paling muda. Penyisipan dimulai dari populasi yang paling tinggi untuk memperoleh blok yang cukup sesuai standar satuan pokok per hektar (SPH) dalam waktu singkat dan seterusnya hingga sisip hamparan.
15 Langkah-langkah penyisipan adalah sebagai berikut: 1. Persiapan sisip : persiapan untuk mempermudah penyisipan meliputi pengelompokan blok sisip berdasarkan jumlah kebutuhan pokok sisip, inventarisasi infrastruktur, penghitungan jumlah pokok sisip per baris. 2. Pemancangan : pemberian tanda tempat pokok yang akan disisip agar dalam pelaksanaan tanam dapat mengikuti mata lima. 3. Pengeceran : kegiatan pengeceran bibit di pinggir blok sisip untuk memudahkan dan mempercepat pelaksanaan sisip. 4. Pelaksanaan : kegiatan penyisipan sesuai dengan pancang yang telah di pasang atau ditancapkan. Umur bibit yang digunakan disarankan berumur 12 14 bulan. Kejadian di lapangan, bibit yang digunakan berumur lebih dari 12 bulan, yaitu sekitar 17 bulan, dan akar sudah keluar dari polybag, sehingga penulis mengalami hambatan dalam membuka polybag. Saat kegiatan magang, penulis hanya melakukan langkah ketiga dan keempat, sebab langkah pertama dan kedua telah dilaksanakan sebelum penulis melaksanakan kegiatan magang. Bibit sawit diecer di jalan poros (jalan pemisah antar blok) pada baris yang akan dilaksanakan penyisipan. Pada pelaksanaan penyisipan, penulis membawa bibit yang telah diecer ke lokasi yang terdapat pemancangan bambu. Pada pancangan tersebut, digali lubang tanam dengan ukuran 60 cm 60 cm 60 cm, lalu dilanjutkan dengan pemberian pupuk dasar berupa Rock Phospate (RP) dengan dosis 500 gram per lubang tanam. Setelah itu bibit sawit ditanam secara tegak dan tepat di tengah lubang tanam. Pembukaan plastik polybag harus dilakukan hati hati agar tanah tidak hancur. Selanjutnya, penimbunan dilakukan secara padat dengan cara diinjak. Permukaan penimbunan pada musim hujan harus cembung dan pada saat intensitas hujan rendah harus cekung agar air dapat tersedia bagi tanaman. Pengikatan dengan kawat kasa dilakukan setelah penyisipan selesai sehingga bibit tetap tegak dan mencegah hama babi.
16 Beberapa penyimpangan selama pelaksanaan diantaranya penanaman tidak tepat di tiang pancang karena lahan tersebut masih terdapat rumpukan kayu yang tidak mungkin untuk dilakukan penanaman, seharusnya top soil dan sub soil terpisah pada saat penggalian dan pada saat penanaman top soil lebih dahulu dimasukkan, tetapi hal ini tidak terjadi karena dilakukan di areal gambut. Penyimpangan juga terjadi saat pemberian pupuk dasar, yaitu tidak tepat 500 gr karena perencanaan sisip yang tidak baik. Pada saat penyisipan, pupuk tidak tersedia sebanyak yang dibutuhkan, sehingga banyak lubang tanam yang tidak diberikan pupuk dasar. Hal ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan produksi tanaman. Selain itu, pengikatan tanaman kelapa sawit tidak menggunakan kawat kasa, tetapi hanya menggunakan plastik polybag bekas tanaman kelapa sawit tersebut, sehingga penjagaan dari serangan hama tidak maksimal. Kegiatan penyisipan ini dilakukan oleh tenaga kerja borongan sehingga jam kerja tidak menjadi beban bagi buruh tersebut. Prestasi kerja penulis saat kegiatan penyisipan ini adalah 13 bibit tanaman. Norma kerja karyawan ialah 30 bibit tanaman, dan prestasi kerja rata rata karyawan berkisar antara 50-75 bibit per hari. Kegiatan Rawat Tanaman Menghasilkan Kegiatan rawat dilakukan untuk mendorong produktivitas tanaman dengan meminimalkan faktor penghambat pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman, memudahkan pekerjaan panen dan pemupukan. Rawat path (jalan panen) dan TPH. Jalan panen merupakan jalan di tengah-tengah barisan tanaman yang diperuntukkan bagi pemanen untuk mengangkut hasil panen. Standar jalan panen di Afdeling OP, Kebun Tanglo yaitu lebar jalan 1.2 1.5 m, bebas dari tunggul/ sisa-sisa kayu, gulma, anak kayu dan kacangan, pekerjaan dilakukan secara chemist/kimia, pekerjaan jalan panen dilakukan bersamaan dengan pekerjaan piringan dan TPH (CPT). Gulma yang hanya bisa disemprot dengan kimia yaitu anak kayu, pakis kawat, kentosan, gelagah, krisan dan gulma menjalar lainnya.
17 Sementara yang tidak boleh disemprot yaitu Nephrolephis biserrata, dan beneficial plant. CPT dilakukan secara borongan harian dengan target yang telah ditetapkan. Alat yang digunakan berupa knapsack sprayer dengan kapasitas 16 liter, nozzle merah, masker, topi, serta kendaraan pengangkut herbisida. Sebelum digunakan, knapsack sprayer dibersihkan menggunakan air parit sekaligus mengambil air tersebut untuk dimasukkan ke dalam tangki. Herbisida menurut cara kerjanya terbagi menjadi herbisida kontak dan herbisida sistemik. Herbisida kontak hanya mematikan bagian yang terkena semprotan (larutan), sehingga bagian di bawah tanah (akar rimpang) tidak terpengaruh, seperti gramoxone dengan bahan kimia aktif: paraquat. Gramoxone membunuh gulma daun lebar, pakis, gulma berlapis lilin dan krisan. Dosis yang digunakan 0.33 l/ha. Herbisida sistemik dapat membunuh semua bagian tanaman dengan jalan translokasi ke seluruh jaringan tumbuhan, seperti round up, dowpon M dengan bahan kimia aktif glyphosate. Gulma disemprot secara merata baik di pasar pikul, piringan, dan TPH (Gambar 2). Penyemprotan di piringan dilakukan tidak terlalu mendekati pokok kelapa sawit dan luas semprot harus berdiameter 2 m. Saat melakukan penyemprotan, tangkai semprot diangkat sebatas lutut (+ 40 cm) agar bidang semprot luas dan dapat mengenai gulma yang tinggi. Setiap karyawan bergerak secara bersama-sama di masing-masing pasar yang telah ditetapkan agar kegiatan semprot berlangsung dengan lancar. Setelah penyemprotan selesai, mandor rawat melalukan evaluasi satu minggu kemudian untuk memastikan hasil pekerjaan borongan penyemprot tersebut yang keberhasilannya ditandai bila gulma telah menguning dan mati. Norma kerja rawat path dan TPH 3 ha/hk, sedangkan prestasi kerja penulis 1 ha/hk.
18 Gambar 2. Rawat Path dan TPH Rawat circle (piringan). Selain dengan menggunakan kimia seperti penjelasan di atas, piringan juga dirawat secara manual yaitu garuk piringan. Piringan berfungsi mempermudah pemanen dalam melihat brondolan yang jatuh sehingga diketahui apakah buah tersebut sudah layak panen, sebagai tempat jatuhnya tandan buah, brondolan, dan tempat aplikasi pemupukan. Buruh rawat membersihkan piringan kelapa sawit dengan menggunakan cangkul, garuk dan sabit. Piringan harus bersih dari segala gulma dengan diameter 2-2.5 m dari pokok (Gambar 3). Garuk piringan dilaksanakan secara borongan dengan norma kerja 45 pokok/hk, prestasi kerja penulis 25 pokok/hk. Rotasi garuk piringan yaitu setiap empat bulan dalam setahun. Gambar 3. Garuk Piringan Rawat Gawangan. Rawat gawangan tanaman dilaksanakan dengan tujuan membuang semua jenis gulma yang merugikan baik secara teknis maupun ekonomis sehingga tanaman tidak mudah terserang penyakit/tular penyakit
19 melalui gulma, serta mempermudah proses pemanenan. Rawat gawangan dilakukan di areal gawangan hidup dan mati, tetapi gulma sering dan lebih banyak ditemukan pada gawangan mati, sehingga gawangan manual ini dilaksanakan pada gawangan mati. Rawat gawangan atau disebut dongkel anak kayu (DAK) merupakan pengendalian gulma dengan cara manual yaitu mencabut/membongkar gulma berkayu beserta akar-akarnya (Gambar 4). Jenis gulma berkayu yang terdapat pada afdeling tempat penulis melaksanakan kegiatan magang, yaitu Clidemia hirta, Mikania micrantha, Melastoma malabatrichum, Mimosa pudica, dan kentosan (anakan sawit liar). Pelaksanaan DAK adalah dengan membongkar semua gulma yang termasuk kelompok gulma berkayu dan menghindari pembabatan gulma, karena hal ini akan mengakibatkan tertinggalnya akar atau sebagian dari batang yang dapat tumbuh dan bertunas kembali. Setelah dibongkar, buruh harus membuang gulma tersebut ke jalan poros (jalan antar blok) dan jalan blok, hal ini untuk memudahkan mandor dalam mengkontrol hasil pekerjaan. Alat yang digunakan berupa sarung tangan dan parang panjang. Rawat gawangan dilakukan dengan sistem borongan. Perjanjian sistem borongan telah dibuat sebelum bekerja (perjanjian kerja). Norma kerja DAK adalah 1 HK/ha dan prestasi kerja penulis 0.4 ha/hk. Hal ini karena kondisi kerapatan gulma yang sangat tinggi pada saat pelaksanaan kegiatan. Gambar 4. Rawat Gawangan
Pruning (pemangkasan). Pruning pada tanaman kelapa sawit merupakan pekerjaan memotong pelepah daun tua yang dianggap sudah kurang produktif, pelepah sengkleh kering dan pelepah sakit. Pruning dilakukan terpisah dari waktu pemanenan. Pruning bertujuan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan vegetatif dan generatif, mempermudah pelaksanaan panen (melihat dan memotong buah masak), pemasukan cahaya yang lebih merata untuk proses asimilasi dan sirkulasi angin yang lebih baik, mendorong penyaluran zat hara yang diserap tanaman oleh daun-daun yang lebih produktif, mengurangi perintang penyerbukan secara alami dan mengurangi kehilangan brondolan di cabang/ ketiak pelepah. Pruning di Afdeling OP menggunakan sistem songgo dua karena umur tanaman yang telah lebih dari lima tahun. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan panen karena tanaman sudah cukup tinggi dan memberikan keleluasan perkembangan tandan untuk menghindari adanya tandan terjepit. Pada Tabel 4 disajikan standar jumlah pelepah pada tanaman kelapa sawit. Tabel 4. Standar Jumlah Pelepah pada Tanaman Kelapa Sawit Umur (Tahun) Jumlah Pelepah yang Harus Dipertahankan TBM III/ TM I 60 4-7 60-56 7-10 56 48 10-15 48 40 Sumber: Brevet Dasar-II PT. Sari Lembah Subur Alat yang digunakan dalam pruning berupa egrek serta kampak/tomasun. Pemotongan pelepah harus merupakan tapak kuda yang miring keluar, dan pemotongan pelepah harus rapat ke batang sawit dan kurang dari 5 cm. Hal ini berguna untuk menghindari tersangkutnya brondolan dan air tidak tertahan. Pelepah yang sudah dipangkas, dipotong menjadi dua sampai tiga bagian menggunakan kampak atau tomasun dan disusun rapi di gawangan mati dan membentuk huruf I. Bila lahan miring, maka pelepah disusun rapi di luar piringan dan memotong kontur lahan, hal ini berfungsi untuk mengurangi erosi dan membuat air tersedia bagi tanaman di saat curah hujan tinggi. Norma kerja untuk pruning ini 0.2 0.3 ha/hk. 20
21 Pemangkasan juga dilakukan di pinggir jalan blok dan jalan poros oleh karyawan teknik. Pemangkasan ini bertujuan untuk mencegah genangan air dan tidak menghalagi pengeringan tanah setelah hujan oleh matahari. Pemupukan. Pemupukan merupakan salah satu faktor pemeliharaan tanaman yang sangat penting dan sangat menentukan kesehatan, kejaguran dan produktivitas tanaman. Pemupukan juga bertujuan untuk menambah zat hara yang dibutuhkan oleh tanaman pada proses pertumbuhan vegetatif dan generatif sehingga dapat meningkatkan produksi TBS yang maksimal. Sebelum pemupukan terlebih dahulu dipersiapkan piringan yang akan dipupuk, sebab pupuk yang diberikan pada piringan yang kotor akan sia-sia karena akan dimanfaatkan oleh gulma. Persiapan selanjutnya adalah material pupuk dan tenaga dalam jumlah cukup, transport pengangkut pupuk dari gudang ke lapangan, serta alat-alat yang berkaitan dengan pemupukan (ember dan takaran yang telah dikalibrasi). Pupuk yang diberikan selama periode magang merupakan pupuk anorganik, yaitu pupuk buatan yang menggunakan bahan kimia (pupuk tunggal dan pupuk majemuk), berupa NPK, Borat, RP, dan dolomite, MOP serta Kiserit. Dosis rekomendasi pupuk di setiap blok didapatkan dari analisis tanah dan analisis daun (Leaf Sample Unit = LSU) yang telah dilakukan periode sebelumnya. Hasil analisis ini kemudian dikirim ke kantor pusat di Jakarta untuk menentukan dosis pupuk yang tepat per blok aplikasi. Secara teknis kegiatan pemupukan dimulai dari pengambilan pupuk di gudang besar, penguntilan di gudang until, pelaksanaan pemupukan dan pengumpulan goni. Pupuk yang akan diaplikasikan diambil dari gudang besar di kantor besar. Dua hari sebelum pupuk diaplikasikan oleh mandor rawat dengan membawa BPB (Bon Permintaan Barang), yang sebelumnya telah ditandatangani oleh mandor rawat, kepala afdeling, kepala kebun, kepala gudang dan administratur, yang kemudian diserahkan ke kepala gudang selanjutnya pupuk tersebut dibawa ke gudang until untuk di until. Penguntilan bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat pengeceran di blok aplikasi, mengurangi penggumpalan pupuk, serta dosis yang tepat untuk masing-masing pokok.
22 Setiap satu karung untilan diisi pupuk dengan berat 12.5-13 kg. Sebagai contoh, pupuk NPK dengann dosis 3.25 kg/pokok, setiap satu untilann seberat 13 kg digunakann untuk empat tanaman. Penguntilan pupuk ini dikerjakan oleh tenaga kerja wanita. Pada saat hari pelaksanaan pemupukan, pupuk diangkut dari gudangg until oleh mandor rawat, buruh angkut sekaligus ecer dengan menggunakan truk dan dikawal satpam. Sementara itu, tenaga pupuk (borongan) telah siap sedia di areal yang akan dipupuk yang sebelumnya telah menerima pengarahan oleh mandor rawat dan kepala afdeling serta pembagian alat. Alat yang digunakan penabur berupa ember, alat takar dan alat tabur (Gambar 5). Ecer pupuk merupakan penempatan pupuk pada tepi barisan sesuai dengan kebutuhannya. Pupuk tersebut kemudian diecer ke areal diikuti oleh mandor rawat (Gambar 6). a b Gambar 5. Alat- Alat Pemupukan a) Ember, Alat Takar, Alat Tabur; b) Alat Tabur Contoh cara pengeceran pupuk: Dosis Pupuk NPK = 3.25 kg/ pokok Jumlah 1 baris tanaman = 34 pokok Maka jumlah pupuk untuk 1 baris tanaman = 34 pokokk x 3.25 kg/pokok =110.5 kg Atau tiap 1 pasar pikul (2 baris) dibutuhkan = 221 kg Karena 1 until = 13 kg, maka 1 pasar pikul dibutuhkan 221 kg/ 13 kg = + 17 until. Jadi, satu sisi pasar pikul dijatuhkan delapan until dan di sisi seberangnya dijatuhkan sembilan until.
23 Gambar 6. Pengeceran Untilann Pupuk Pemupuk terdiri dari tiga orang, yaitu satu pelangsir dan dua penabur (Gambar 7). Pelangsir dilakukan oleh buruh pria dan penabur oleh buruh wanita. Pupuk yang telah diecer tersebut dilangsir ke tengah oleh pelangsir dengan mengangkat ke tengah baris pada pasar pikul dan tidak dibenarkan dengan menyeret untilan tersebut. Hal ini dilakukan agar penabur tidak bolak-balik goni dengan menggunakan gunting secara hati-hati agar goni tidak sobek, membuka goni mengambil pupuk di pinggir blok. Pelangsir juga bertugas membuka dilakukan di dalam blok bukan di jalan atau TPH. Setelah membuka goni, pelangsir menuangkan pupuk ke ember dengan hati-hati agar seminimal mungkin pupuk terbuang. Apabila pupuk tercecer maka harus dikumpulkan lalu diletakkan ke piringan. Setelah itu, pelangsir mengumpulkan karung bekas tersebutt dan meletakkan di ujung pasar. Gambar 7. Satu Pelangsir dan Dua Penabur
24 Pupuk diambil dari ember menggunakan takaran dan dimasukkan ke dalam alat tabur. Cara menabur ialah dengan menggoyang alat tabur sambil mengelilingi pokok tersebut sehingga jatuhnya pupuk menyebar ke seluruh piringan dan tidak menumpuk (Gambar 8). Bila pupuk masih menggumpal, harus dihancurkan terlebih dahulu. Untuk tanaman yang telah berumurr lebih dari tujuh tahun, urea ditabur di dalam piringan, sedangkan untuk jenis lain ditabur di patas (batas) piringan keluar mengitari pokok dengan jarak satu meter. Norma kerja penabur 400 kg/hk dilihat dari dosis pupuk, jenis pupuk dan topografi areal aplikasi. Gambar 8. Cara Menabur Pupuk Penaburan pupuk dilakukan pada curah hujan rendah, (100 200 mm/bulan) yaitu saat awal dan akhir musim hujan tetapi tidak pada musim kemarau dan pada saat pelaksanaan pemupukan tidak ada kegiatan lainnya baik, panen dan rawat. Pengawasan pemupukan perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya karena biaya pelaksanaan n pemupukan relatif besar (tenaga dan material) ), sehingga penyelewengan pemupukan dapat mengakibatkan kerugian yang besar. Pengawasan dilakukan pada saat berlangsungnya proses pemupukan meliputi cara menabur, dosis, kebersihan piringan, tuntas/tidaknya blok yang dipupuk. Pengawasan pemupukan dilakukan oleh satpam afdeling, mandor rawat, kepalaa afdeling, dan kepala kebun.
25 Sistem pengawasan yang diterapkan berupa sistem gang, yaitu setiap kebun tiap harinya hanya ada satu afdeling yang memupuk sehingga seluruh kepala afdeling dan mandor rawat dari setiap afdeling yang ada di wilayah kebun tersebut dapat ikut mengawasi jalannya pemupukan. Satpam bertugas untuk menjaga agar pupuk yang sudah diecer di areal aplikasi tidak hilang dicuri. Konservasi Air dan Tanah Konservasi air dan tanah bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, memperbaiki atau meningkatkan retensi air tanah dan unsur hara tanah, mengurangi tingkat erosi dan pencucian, serta meningkatkan KTK tanah. Hal ini berpengaruh pada produksi tanaman dalam waktu yang cukup lama. Di Afdeling OP, Kebun Tanglo, topografi bergelombang dan berbukit, jika turun hujan akan terjadi aliran permukaan yang cukup besar yang dapat mencuci pupuk yang diberikan pada tanaman sampai ke lembah (parit). Untuk mengatasi hal tersebut PT. SLS membuat parit irigasi, rorak tadah hujan, dan over flow. Rorak Tadah Hujan. Rorak tadah hujan berguna untuk menampung aliran air yang mengalir deras dari atas bukit. Arah pembuatan rorak di areal miring/lereng dibuat tegak lurus dengan arah lereng atau sejajar kontur dan terletak di gawangan mati, berukuran 3 m x 0.8 m x 0.8 m (Gambar 9). Rorak dibuat di antara empat pokok kelapa sawit dan di areal yang mungkin dilewati aliran air hujan. Alat yang digunakan berupa cangkul, dodos, dan meteran. Norma kerja pembuatan rorak ini yaitu 4 rorak/hk. Gambar 9. Rorak Tadah Hujan
26 Konservasi tanah yang dilakukan di perusahaan ini diantaranya adalah rorak organik dan penanaman Nephrolepis biserrata. Rorak Organik. Rorak ini dibuat untuk menempatkann pupuk organik (seperti pupuk kandang dan tandan kosong) agar pupuk tidak terbawa air pada lahan miring (Gambar 10). Rorak organik dibuat di antara dua pokok kemudian untuk rorak selanjutnya dikelang satu pokok dan dibuat di semua barisan pokok yang mendekati gawangan mati. Rorak berukuran 2 m x 0.6 m x 0.6 m. Norma kerja pembuatan rorak organik 10 rorak/hk. Gambar 10. Rorak organik + pupuk kandang Penanaman Nephrolepis biserrata. Tanaman ini berguna untuk meningkatkan kelembaban tanah disekitarnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan air tanaman. Bahan tanam merupakan Nephrolepis yang masih muda dan ditanam dengan jarak tanam 4 m x 4 m (satu titik), dalam satu titik terdapat 16 lubang yang ditanam masing-masing di antaraa dua pokok, di luar piringan dan pasar pikul. Norma kerja penanaman Nephrolepis biserrata 23 titik/hk. dua Nephrolepis muda (Gambar 11). Penanaman dilakukan Gambar 11. Nephrolepis biserrata
27 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) Pengendalian hama dan penyakit merupakan suatu usaha untuk menurunkan populasi hama dan penyakit tanaman sampai pada tingkat di bawah ambang batas ekonomi sehingga secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian. Pengendalian yang diterapkan dilaksanakan di Afdeling OP, berupa pengendalian secara fisik, yaitu dengan cara mematikan langsung, misalnya dengan membakar, yaitu pada tanaman yang terkena penyakit ganoderma (busuk pangkal batang), pengendalian hayati, yaitu menggunakan musuh alami (parasitoid, predator, dan pathogen) untuk mengendalikan tikus dengan menggunakan predator berupa Tito alba (burung hantu). Pengendalian hama terpadu yaitu menggunakan berbagai cara pengendalian yang dipadukan secara harmonis, seperti penanaman beneficial plants. Pengendalian Hama. Hama yang menyerang tanaman kelapa sawit Afdeling OP berupa ulat api dan ulat kantong, tetapi populasi hama ini jarang ditemukan pada saat periode magang berlangsung. Jenis ulat api dan ulat kantong yang paling banyak ditemukan Setora nitens, Thosea asigna, Susica malayana, Metisa plana, Mahasena corbetti. Jika pokok terserang hama tersebut, maka daun akan berlubang dan jika serangan berat, daun yang diserang akan tinggal lidinya. Pengendalian yang dilakukan berupa menerapkan Early Warning System (EWS). EWS dilaksanakan untuk mensensus ulat api dan kantong, sehingga hasilnya memberikan gambaran mengenai jenis ulat, intensitas, kategori dan luas serangannya. Setelah data diperoleh, penentuan saat dan cara pengendalian hama dapat dilakukan secara tepat dan dapat juga ditentukan alat dan jenis insektisida yang diperlukan. Secara teknis, EWS dilakukan melalui tahapan penentuan titik sampel (TS), baris sampel (BS), dan pokok sampel (PS). Titik sampel harus menyebar rata dan mewakili keseluruhan blok tersebut, satu TS harus mewakili 1 ha begitu juga dengan baris sampel.
28 Contoh: Luas 1 blok = 30 ha = 30 TS Jumlah pokok dalam baris = 32 pokok Jumlah baris dalam blok = 125 baris TS 1 merupakan pokok ke 3 pada baris ke 3 Interval TS = Interval BS = J = = 13 J = = 13 ; n = Jumlah titik sampel dalam baris ; m = Jumlah baris sampel dalam baris Interval TS adalah 13, sehingga letak TS pada pokok ke 3, 16 dan 29. Interval BS adalah 13, maka letak BS pada pokok ke 3, 16, 29, 42, 55 dan seterusnya. Pokok sampel (PS) yang diamati merupakan pokok yang berada di sekeliling TS dan mempunyai 2 lingkaran, yaitu lingkaran I (6 pokok) dan lingkaran II (12 pokok). Setiap PS hanya diambil satu pelepah dan merupakan pelepah ke-17 (diegrek ¾ dari panjang pelepah) atau yang diperkirakan gejala serangan ulat api terbanyak. PS yang diambil terlebih dahulu adalah yang terdapat pada lingkaran I, kemudian dilanjutkan ke lingkaran II. Pelepah yang telah diegrek diamati gejala serangannya, lalu dituliskan pada form oleh mandor rawat. Semua blok dalam satu afdeling harus selesai diamati dalam waktu 25 hari kerja. Pengendalian Penyakit. Penyakit yang ditemukan saat kegiatan magang berlangsung yaitu penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Ganoderma boninense, yang merugikan dengan tingkat kejadian mencapai 80 %. Gejala serangan yang ditemui di lapangan berupa daun patah dan menggantung (sengkleh), daun mengering dan mati. Selain itu, terdapat jamur (berbentuk setengah lingkaran) pada pangkal batang dan batang, dan lebih dari dua daun tombak yang belum membuka. Kebijakan sementara yang diterapkan di afdeling oleh asisten HPT PT. SLS yaitu bila karyawan menemukan pokok dengan gejala tersebut dan benar terserang, kemudian melaporkannya ke mandor HPT afdeling tersebut maka karyawan tersebut akan mendapat insentif sebesar Rp. 5 000 /pokok terserang.
29 Tanaman yang telah terserang segera ditumbangkan menggunakan chain saw (gergaji mesin) yang rapat ke tanah, bonggol yang tersisa dan perakaran yang melekat dibongkar menggunakan cangkul dan kapak, lalu diangkat ke atas permukaan tanah. Pokok yang ditumbangkan tersebut kemudian dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, beserta bonggolnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat pembakaran, serta untuk meminimalkan terkontaminasi ke pokok di sekitarnya. Bagian-bagian yang telah dibelah tersebut kemudian disatukan di titik tanam pokok tersebut, lalu dibakar sampai benarbenar hangus. Sekitar 1.5-2 m dari pokok infeksi tersebut (atau sesuai kanopi daun) dibuat parit isolasi yang mengelilingi titik tersebut dengan kedalaman 0.6-0.8 m. Tanah hasil galian parit tersebut diletakkan mendekati pokok serangan bukan di luar parit. Lalu parit tersebut ditaburi dengan belerang secara merata (+/- 3 kg) kemudiaan ditutup dengan tanah bekas galian selama satu minggu. Setelah satu minggu, parit dibuka sedalam 40 cm dan dibiarkan terbuka selama satu minggu. Setelah itu, ditaburkan cendawan antagonis ganoderma yaitu 150 gram Glicadium sp.atau Trichoderma sp. Kesatuan Contoh Daun (KCD). KCD merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pemupukan per unit/pokok tanam. Daun berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Dalam aplikasi KCD, karyawan harus mengetahui secara pasti phyllotaxis, karena akan berguna untuk menentukan letak daun ke-17. Pengambilan contoh daun yang tepat merupakan dasar rekomendasi pemupukan yang benar. Beberapa syarat dalam pengambilan pokok sampel pada proses KCD, antara lain: pokok yang tumbuhnya normal, pokok yang tidak terserang hama dan penyakit, tidak berada di dekat parit, jalan atau pokok mati, pokok terletak di kanan atau kiri pasar pikul, dan setiap KCD diambil 30 40 per pokok sampel. Cara penentuan pokok sampel pertama yaitu ada baris ke-5 dan pokok ke-5, untuk pokok ke-2 dan selanjutnya ditetapkan berdasarkan rumus (Tabel 5).
30 Tabel 5. Rumus Pokok Sampel Kesatuan Contoh Daun Luas areal KCD (ha) Rumus yang digunakan Jumlah pokok sampel 10 20 8 8 25 30 21 30 10 10 25 40 31 40 12 12 30 40 Saat pelaksanaan KCD, terlebih dahulu ditentukan pelepah ke-17. Setelah pelepah ke-17 dipastikan, dilakukan pengukuran tinggi batang. Tinggi batang diukur dengan meletakkan egrek (panjang egrek adalah 2 m) di anak daun terakhir pada pelepah ke-17, bila tinggi egrek tidak mencapai tanah, maka kekurangannya dibantu menggunakan meteran yang telah dipersiapkan sebelumnya (Gambar 13a). Tinggi tersebut dicatat dalam form. Langkah selanjutnya dengan mengegrek pelepah tersebut dengan jarak sekitar 2 m dari pangkal, melihat suntilnya dan mengambil 3 helai daun di antara suntil, sebelah kiri dan kanan (Gambar 12 a dan b). Kemudian daun tersebut dipotong 1/3 bagian pangkal dan 1/3 bagian ujungnya untuk dibuang (Gambar 12 c dan d), sedangkan yang digunakan sebagai contoh adalah 1/3 bagian tengah tanpa tulang daun. Helaian daun tersebut dianalisis defisiensi hara, dirajang dan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label yang mencantumkan nama PT, nama kebun atau afdeling, nomor blok, tahun tanam, tanggal pengambilan, nama petugas dan jabatan. Daun tersebut dibawa ke laboratorium HPT untuk diproses lebih lanjut. Pengambilan sampel dilakukan dua bulan setelah pemupukan, tidak pada musim kering dan tidak saat curah hujan tinggi, serta dilakukan sebelum pukul 12.00 waktu setempat dengan keadaan cuaca tidak turun hujan. Panen Panen adalah pengambilan buah kelapa sawit yang telah memenuhi kriteria matang panen dari pohonnya, selanjutnya bersama-sama brondolannya dikumpulkan untuk diangkut ke pabrik. Panen merupakan kegiatan inti dari operasional perkebunan kelapa sawit, karena merupakan sumber pendapatan perusahaan secara langsung melalui penjualan CPO dan PKO.
31 a b c d Gambar12. Gambar Pengambilan Kesatuan Contoh Daun a) Pengukurann Tinggi, b) Pengambilan 3 Helai Daun c) 1/3 Bagian Tengah Daun dan d) Tulang Daun Dibuang Oleh sebab itu panenn harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknyaa agar hasil yang dicapai bisa memenuhi target yang diinginkan baik kuantitas maupun kualitas. Perencanaan panen yang baik akan mendapatkan jumlah TBS yang tinggi, jumlah minyak dan kernel (rendemen) yang tinggi, mutu minyak yang tinggi, biaya panen yang efisien serta eksploitasi berjalan dengan baik sehingga mencapai umur produktif yang lama. Sebelum kegiatan panenn yang akan dilaksanakan berjalan lancar, terlebih dahulu persiapan panen dilakukan. Persiapan panenn meliputi pembuatan serta perawatan TPH, pembuatan serta perawatan pasar pikul, pembuatan titi panen, taksasi produksi, alat panen, dan tenaga kerja. Alat Panen. Dalam melakukan kegiatan potong buah (panen) kelapa sawit terdapat dua alat yang dijumpai, yaitu dodos dan egrek. Dodos digunakan untuk panen tanaman dengan umur muda dengan ketinggian 2-5 m, sedangkan egrek digunakann untuk tanaman dengan ketinggian lebih dari 5 m. Alat-alat panen yang
32 harus dibawa pemanen pada saat melaksanakan kegiatan potong buah antaraa lain: egrek beserta fiber untuk memotong TBS dengan ketinggian lebih dari 5 m, tomasun untuk memotong tangkai panjang yang melekat pada TBS yang telah dipanen, angkong untuk mempermudah mobilisasi TBS serta brondolan ke TPH pada areal datar, gancu untuk memuat TBS dari dan ke angkong, serta alat bantu mengangkat buah dengan dipanggul pada areal bergelombang, terpal sebagai alas TBS dan brondolan pada TPH, karung goni sebagai tempat untuk menampung brondolan, batu asah untuk mengasah egrek dan tomasun, sepatu boot karet untuk keselamatan dan keamanan pemenan dari duri TBS (Gambar 13). a b c d e Gambar 13. Alat-alat panen: a) Egrek, b) Tomasun, c) Angkong, d) Terpal, dan e) Karung Goni ex Pupuk
33 Sensus Produksi. Sensus produksi bertujuan untuk mengetahui besar produksi yang akan dicapai. Sensus produksi di PT. SLS terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: sensus buah empat bulanan, sensus produksi bulanan dan sensus produksi harian. Sensus buah empat bulanan dilakukan dengan menghitung seluruh buah yang ada (merah brondol, merah mentah, buah hitam mentah, buah kemiri dan kopi serta bunga yang telah terserbuki), dilaksanakan pada minggu terakhir pada bulan tersebut, dan digunakan untuk menghitung taksasi produksi, kebutuhan pemanen dan transportasi empat bulan ke depan. Sensus produksi bulanan dilakukan dengan menghitung buah-buah merah yang akan dipanen bulan depan. Sensus produksi harian didasarkan atas sensus buah masak sehari sebelumnya, dengan cara mengambil sampel pada areal yang akan dipanen esok hari. Buah yang dihitung merupakan buah yang diperkirakan matang esok harinya (minimal 1 brondol di piringan). Pada sistem ancak tetap perhitungan dilakukan untuk memperkirakan kebutuhan angkutan, sensus ini dilaksanakan oleh mandor. Peramalan produksi harian di afdeling akan tercermin dalam perolehan angka kerapatan panen (AKP) pada hari pelaksanaan panen. Pada kegiatan ini penulis hanya berkesempatan melakukan sensus buah empat bulanan (akhir Mei 2010) tetapi tidak semua blok, hanya beberapa blok saja, dan sensus produksi harian. Angka Kerapatan Panen (AKP). Angka kerapatan panen adalah perkiraan jumlah tandan matang yang dapat dipanen pada suatu areal atau blok. Penghitungan dilakukan satu hari sebelum TBS dipanen oleh mandor pada blok yang akan dipanen keesokan hari. Angka kerapatan panen dapat dihitung dengan rumus: AKP = Pada saat magang, produksi rendah sehingga angka kerapatan panen kecil yaitu 1:6. Nilai 1:6 artinya terdapat 1 tandan matang dalam 6 pokok. Tobing (1992) menyatakan bahwa kisaran nilai AKP 1:1 sampai 1:4 menunjukkan produksi tinggi, sedangkan kisaran nilai AKP 1:5 sampai 1:7 menunjukkan produksi rendah. AKP berguna untuk menentukan perkiraan produksi keesokan hari, penyediaan tenaga kerja serta angkutan panen.
34 Contoh: Nilai AKP = 1:6 Blok 1 dengan populasi 1 610 pokok dan BJR 18 kg/janjang Perkiraan produksi esok hari = 1 610 pokok x = 4 830 kg x 18 kg/janjang Kriteria Matang Panen. Kriteria matang panen adalah indikator yang dibuat untuk menetapkan apakah suatu buah dari pohon kelapa sawit sudah dapat dipanen atau belum. Buah yang termasuk kriteria matang panen adalah buah yang berwarna merah jingga dan telah membrondol secara alami minimal 10 brondolan di piringan dan berlaku untuk kondisi buah yang sehat dan normal. Kriteria yang berlaku adalah fraksi dua, yaitu terdapat dua brondolan per kilogram tandan yang dipanen tersebut (dua kali berat janjang rata-rata). Sistem Panen. Secara umum, sistem panen ini terbagi menjadi sistem ancak giring dan ancak tetap. Ancak panen adalah luasan tertentu dari areal tanaman dimana kegiatan panen dilaksanakan oleh satu pemanen. PT. SLS hanya menggunakan sistem ancak tetap. Ancak tetap merupakan ancak yang diberikan kepada pemanen untuk diselesaikan pada hari tersebut tanpa ada perpindahan dan akan dikerjakan terus menerus oleh pemanen yang sama pada setiap rotasi. Keuntungan menerapkan ancak tetap yaitu, ancak terjaga kondisi pohonnya, ancak terjaga bersih, buah memungkinkan terpanen tuntas, bila terdapat kesalahan maka pelacakan akan mudah serta pemanen memiliki rasa tanggung jawab karena merasa memiliki ancak tersebut. Kekurangannya bila musim panen rendah, pemanen sulit mendapatkan target janjang sehingga biaya panen akan tinggi, buah akan terlambat diangkut ke pabrik karena pemanen mengumpulkan hasil ke TPH bila panen sudah selesai, serta kemungkinan buah mentah dipanen tinggi. Ancak masing-masing pemanen luasnya 2.5-3 ha pada setiap seksi panen. Seksi panen adalah luas areal satu afdeling yang harus selesai dipanen dalam satu hari. Rotasi panen adalah interval waktu antara satu perlakuan panen dengan perlakuan panen berikutnya yang dinyatakan dalam hari. Rotasi panen di Afdeling OP adalah tujuh hari disebabkan keadaan normal proses pematangan buah dari
35 mentah menjadi membrondol adalah tujuh hari. Di afdeling ini, sistem panen yang diterapkan berdasarkan rotasi yaitu sistem 6/7, artinya areal dibagi menjadi 6 seksi dan dipanen selama 6 hari dalam 7 hari (seminggu). Kegiatan panen di Afdeling OP, Kebun Tanglo ditetapkan selama 25 hari efektif. Teknis Panen. Kegiatan dimulai saat apel pagi (pukul 05.45 WIB) antara pemanen, mandor panen dan kepala afdeling di lokasi blok yang akan dipanen. Mandor panen memberikan evaluasi hasil panen kemarin serta arahan dan peringatan untuk meningkatkan kualitas pemanen dan panennya. Mandor juga mengontrol kelengkapan pemanen serta kehadiran pemanen dan melaksanakan pembagian ancak panen. Pembagian ancak panen ini dilakukan bila ada pemanen yang tidak hadir, sehingga pemanen yang berada di berada di sebelah kiri dan kanan ancak tersebut wajib menyelesaikan ancak tersebut (pelebaran ancak), hal ini juga berlaku bila kerapatan buah rendah. Hasil dari pelebaran ancak tersebut merupakan hasil dari pemanen yang memanennya. Pemanen yang ancaknya dikerjakan oleh pemanen lain, akan diberikan tugas rawat yaitu prunning (penunasan pelepah kering). Setelah apel dilaksanakan, pemanen langsung menuju ke ancak masing-masing. Sebelum melakukan kegiatan potong buah, pemanen terlebih dahulu meletakkan terpal pada masing-masing TPH pada ancaknya. Kegiatan potong buah dimulai dengan pemotongan pelepah yang menyangga buah. Pelepah songgo 2 dipotong untuk memudahkan pemotongan buah, serta meminimalkan brondol tinggal di ketiak pelepah. Tetapi dalam pelaksanaannya jika buah masih dapat diturunkan tanpa memotong pelepah maka sebaiknya dilakukan (curi buah). Standar jumlah pelepah yang harus dipertahankan dapat dilihat pada Tabel 4. Egrek yang akan memotong pelepah dibuat menempel ke batang, lalu tangkai egrek dihentakkan ke bawah, sehingga pemotongan hanya dilakukan sekali. Pemotongan dengan hentakan dimaksudkan agar pelepah putus dan jatuh lepas ke bawah. Jika pelepah tidak jatuh lepas ke bawah tetapi meluncur di atas tangkai egrek maka pemanen harus segera mundur agar tidak tertimpa pelepah kelapa sawit yang jatuh. Bekas potongan di batang sawit harus membentuk tapak kuda yang kecil dan bukan tapak kuda panjang atau pantat monyet (masih adanya sebagian tandan yang tertinggal di ketiak pelepah).
36 Lalu pemanen merencek pelepah menjadi tiga bagian, menyusun rapi di gawangan mati membentuk huruf I. Tangkai buah dipotong dengan menggunakan tomasun tanpa melukai buah dan panjang maksimal yang tidak terpotong kurang dari 2 cm sehingga membentuk cangkem kodok (Gambar 14). Gambar 14. Buah dengan Tangkai Panjang Berbentuk Cangkem Kodok Pemanen kemudian mengutip brondolan yang tersebar di piringan, gawangann mati, pasar pikul, batang kelapa sawit dan yang tertinggal di ketiak pelepah kelapa sawit menggunakan karung, saat pengutipan brondolan, tidak dibenarkann sampah dan tanah terikut kedalamnya. TBS dan karung brondolan tersebut dimuat ke angkong menggunakan gancu dan dibawaa ke TPH yang sebelumnya telah dialasi terpal (Gambar 15). TBS disusun rapi di TPH serta karung berisi brondolan ditempatkan dengan benar. Bila kerapatan buah tinggi, yang menjadi pengutip brondolan adalah istri pemanen. Setelah itu, pemanen mencantumkan nomor pemanennya pada salah satu tangkai TBS dengan menggunakan brondol sawit. Prestasi kerja penulis pada kegiatan ini 38 TBS/ /HK. Setiap Pemanen diberikan target menurunkan minimal 10 TBS dan telah menempatkannya pada TPH sebelum pukul 08. 00 WIB, hal ini untuk mempercepat proses pengangkutan TBS ke pabrik untuk kloter pertama dan untuk mengefisienkan waktu panen pada hari tersebut. Penggunaan terpal sebagai alas di TPH agar memenuhi kriteria HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), serta mengurangi terjadinya pelukaan bergesekan dengan pasir/tanah.
37 Gambar 15. TBS dialasi Terpal Pengawasan Panen. Sistem kontrol panen ditekankan pada pengawasan pekerjaan panen baik proses maupun hasil. Pengawasan panenn dilakukan agar semua kegiatan berjalan dengan baik dan sesuai dengan prosedur serta meminimalkan losis yang terjadi. Pengawasan panen dilaksanakan oleh mandor panen, krani panen, verifikator, dan kepala afdeling. Mandor panen mengawasi penggunaan terpal sebagai alas, pengutipan brondolann di piringan, pemotongan pelepah dan caraa peletakannya, mutu buah yang dipanen, serta ketuntasann ancak. Mandor mengawasi per pemanen serta ancak per ancak. Krani panen mengawasi mutu buah yang harus dipanen (diangkut) serta memberi pinalty padaa buah di luar kriteria panen, jumlah TBS tiap pemanen, serta angkutan buah selama di lapangan sampai ke pabrik. Verifikator mengawasi jumlah TBS per pemanen yang turun pukul 08.00, kualitas buah di TPH, brondolann yang tidak terkutip, serta buah tinggal di pokok. Kepala Afdeling melaksanakan kontrol panen hari ini dan panenn hari sebelumnya secara sampling yaitu dengan memperhatikan piringan, buah tinggal (buah belum dipanen), brondol tinggal di TPH serta TBS yang belum terangkut (restan). Kepala afdeling juga melaksanakann kontrol di areal yang tergolong ancak berat seperti rawa-rawa, bukit terjal, daerah semak-semak, serta memastikan pengangkutan TBS sampai ke pabrik. Pemanen yang melakukan kesalahan harus memperbaiki kesalahannya pada hari yang sama, seperti masih ada buah tertinggal, dan brondol yang tidak dikutip. Bila tidak memungkinkan maka akan berpengaruh ke kelas pemanen, premi serta teguran yang diperoleh pemanenn tersebut.
38 Transportasi TBS. Pengangkutan merupakan kegiatan mengangkut TBS dari TPH ke pabrik. Transportasi TBS Afdeling OP bersifat kontrak, yaitu truk, supir dan pemuat berasal dari luar perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya dalam pemeliharaan kendaraan. Truk harus tiba pukul 07.00 WIB di kantor afdeling untuk menerima pengarahan dari krani panen. Kegiatan pengangkutan pertama dimulai pada pukul 09.00 WIB yang diikuti oleh krani panen. Selama perjalanan, krani panen mengarahkan supir truk ke TPH tempat TBS beserta brondolannya dengan memperhitungkan jarak, kondisi jalan, kapasitas truk dan lainnya, krani panen juga menghitung jumlah TBS di masing-masing TPH setiap pemanen serta kualitas buahnya. Pemuat bertugas memuat buah dari TPH ke truk dengan menggunakan tojok dan alat garuk, terkadang dibantu oleh krani panen. TPH yang telah terangkut TBS dan brondolannya harus bersih, tidak ada brondolan yang tinggal di sekitarnya. Krani panen juga mengambil terpal dan karung bekas brondolan tersebut serta melipatnya dengan rapi dan membawa ke kantor afdeling untuk digunakan keesokan harinya. Kapasitas truk yang digunakan di afdeling ini ialah 6-9 ton (Gambar 16). TBS harus terangkut semua pada hari tersebut dan tidak ada toleransi TBS yang menginap di TPH (restan). TBS di luar kriteria panen juga diangkut ke afdeling sehingga keesokan harinya dapat di ketrek. Setelah selesai, krani panen mengisi SPB yang berisi nama supir, plat truk, jam masuk afdeling, jam keluar afdeling, blok yang TBS-nya diangkut, tahun tanam blok tersebut serta jumlah janjang yang diangkut, lalu ditandatangani oleh krani panen serta kepala afdeling. Truk siap diberangkatkan ke pabrik kelapa sawit (PKS).
39 Gambar 16. Alat Transportasi Pengangkutan TBS Tanglo di Afdeling OP, Kebun Sistem Basis. Sistem basis merupakan jumlah berat TBS (kg) minimal yang harus diselesaikan pemanen dalam satu hari (7 jam kerja). Besarnya basis tiap blok berbeda-beda, hal ini ditentukan melalui berat janjang rata-rata (BJR) yang telah ditentukan oleh perusahaan. Perusahaan mengeluarkan data BJR masing-masing blok enam bulan sekali. Basis Afdeling OP, diratakan secara umum dilihat dari umur tanaman, kisaran BJR, serta keadaan topografi, sebesar 1 169 kg, kecuali pada hari Jumat hanya 80 % dari basis (5 jam kerja). Ancak tetap memberikan keuntungan bagi pemanen, karena bila pemanen dapat menyelesaikann ancak dengan baik (memenuhi sembilan kriteria panen) tetapi jumlah berat TBS tidak mencapai basis, maka pemanen akan mendapat gaji pokok yaitu Rp. 44 880 /HK. Tetapi bila pemanen melanggar salah satu dari sembilan kriteria panen, seperti memotong buah mentah, dan hanca tidak selesai maka upah pemanen akan diper (dijelaskan dalam contoh).
40 Contoh: Panen pada hari Senin adalah blok 01, Afd. OP, dengan BJR 18. Pemanen mendapat 50 janjang, maka: 50 jjg x 18 = 900 kg; basis borong adalah 1169 kg, karena pemanen melakukan pelanggaran, maka upah yang didapat adalah Jadi pemanen hanya mendapat upah sebesar Rp. 34 552. x Rp. 44 880 = Rp. 34 552. Premi Lebih Basis. Premi lebih basis adalah penghargaan yang diberikan kepada pemanen karena jumlah kg TBS yang diperoleh melebihi basis yang telah ditentukan dengan mutu buah sesuai dengan ketentuan panen. Menurut Semangun (2005), premi diberikan untuk merangsang karyawan bekerja dengan baik. Bila pemanen mendapat basis lebih dan menyelesaikan ancak dengan baik, maka akan mendapat premi penuh. Tetapi bila sembilan kriteria tidak terpenuhi, dan pemanen mendapat lebih basis, maka premi akan terhitung berdasarkan kelas pemanen baik kelas A, B ataupun C. Contoh: Panen pada hari senin di blok 1, Afd. OP, Kebun Tanglo, dengan BJR 18. Pemanen mendapat hasil 80 janjang, maka: 80 jjg x 18 = 1 440 kg; basis borong 1 169 kg, maka lebih basis yang didapatkan oleh pemanen = 1 440 kg 1 169 kg = 271 kg. Maka pemanen hanya mendapat premi lebih basis, jika kelas pemanen tersebut merupakan kelas A, maka premi lebih basis yang didapat adalah sebagai berikut: Premi kelas A (Rp. 37.13/ kg) = 271 kg x Rp. 37.13/kg = Rp. 10 062 Total upah yang diperoleh pemanen = Rp. 44 880 + Rp. 10 062 = Rp. 54 942. Reward Lebih Basis. Reward lebih basis adalah penghargaan yang diberikan kepada pemanen karena bobot TBS yang diperoleh melebihi basis dengan minimal 1.5 kali basis borong. Pemberian reward lebih basis ini diharapkan akan membantu meningkatkan semangat kerja pemanen serta mengikuti prosedur yang berlaku. Pemanen akan mendapat upahnya pada minggu pertama setiap bulan.
Contoh: Panen hari Senin di blok 1, Afdeling OP, dengan BJR 18. Pemanen mendapat hasil 130 janjang, maka 130 jjg x 18 = 2 340 kg; basis borong 1169 kg, maka lebih basis yang didapatkan pemanen = 2 340 kg 1169 kg = 1 171 kg. Premi lebih basis jika kelas pemanen merupakan kelas A, maka Premi kelas A (Rp. 37.13/kg) = 1 171 kg x Rp. 37. 13/ kg= Rp. 43 479. Dalam kasus ini, pemanen akan mendapat reward lebih basis dikarenakan hasil yang didapatkan pemanen tersebut dua kali basis ( = 2 xbasis), sehingga reward lebih basis yang didapat sebanyak Rp. 5 000. Jadi, total upah pemanen = Rp. 44 880 + 43 479 + 5 000 = Rp. 93 359. Aspek Manajerial Selama kegiatan magang, penulis tidak hanya bekerja sebagai KHL, tetapi juga sebagai pendamping mandor dan pendamping kepala afdeling dalam melaksanakan aspek manajerial di Afdeling OP. Aspek manajerial yang dilakukan selama magang meliputi pengawasan, penghitungan biaya operasional kegiatan, memberi arahan pada apel pagi, membuat administrasi, serta diskusi dengan mandor dan kepala afdeling. 41 Pendamping Mandor Mandor adalah karyawan yang bertugas untuk mengawasi BHL maupun SKU yang melaksanakan kegiatan di lapangan. Pekerjaan yang diawasi selama menjadi pendamping mandor yaitu dongkel anak kayu (DAK), rawat piringan, rorak tadah hujan, pemupukan, krani panen, dan panen. Mandor Panen. Secara umum, mandor mempunyai tugas untuk memastikan semua aktivitas kegiatan berjalan dengan baik, termasuk kegiatan panen dan rawat. Kegiatan yang dilakukan sehari-hari sebagai mandor panen: 1. Arahan pembagian apel kerja untuk pemanen (apel pagi). 2. Review harian produksi. 3. Kontrol lapangan: cek kelengkapan pemanen dan penentuan sampel tuntas.
42 4. Sensus buah untuk rotasi berikutnya. 5. Kontrol posisi buah/ restan: menjaga kualitas buah di TPH, buah tinggal. 6. Memastikan buah sudah terangkut semua. Serta kegiatan yang dilakukan secara berkala: 1. Kontrol/ verifikasi bersama setiap minggu. 2. Sensus buah bulanan. 3. Sensus buah semester. Tugas tambahan yang dilakukan, yaitu 1. Membantu satpam menjaga blok rawan pencurian/ buah restan. 2. Membantu mandor rawat dalam kontrol pekerjaan rawat. 3. Menjadi penengah apabila terjadi perselisihan pemanen. 4. Koordinasi informasi dengan petugas HPT bila ada gejala serangan hama. Mandor Rawat. Kegiatan yang dilakukan mandor rawat sehari-hari yaitu: 1. Apel pagi dalam rangka mendapatkan instruksi dari atasan mengenai kualitas pekerjaan. 2. Mempersiapkan alat dan material untuk keperluan kerja satu hari. 3. Melakukan kalibrasi (pengecekan) antara rencana dengan realisasi untuk hasil rawatan yang didapatkan dan material yang digunakan dan di laporkan ke krani afdeling. 4. Mengarahkan pekerja rawat dalam melakukan kegiatan rawat. 5. Menghitung hasil rawatan dalam satu hari. 6. Membuat laporan harian mengenai hasil rawatan dan material yang digunakan. 7. Mengarahkan, mengawasi dan mengecek pekerjaan rawat yang kemaren dan hari ini. Kegiatan yang dilakukan secara berkala: 1. Menghitung jumlah hasil kerja yang sudah dilakukan. 2. Menghitung pengecekan spesifikasi kerja semua item rawat. 3. Membuat laporan mingguan. 4. Mengecek dan memperbaiki alat-alat perawatan yang rusak. Pendamping Mandor Dongkel Anak Kayu (DAK). Selama menjadi pendamping mandor DAK, penulis memberi arahan lokasi pekerjaan, mengawasi
43 selama pekerjaan baik waktu dan hasil pekerjaan, mengecek setiap pokok serta gawangan mati yang telah dikerjakan dan menghitung jumlah pokok hasil kegiatan masing-masing karyawan. Penulis mengawasi selama 6 hari di blok 05 Afdeling OP, Kebun Tanglo. Kegiatan dilaksanakan selama tujuh jam mulai pukul 07.00-15.00 WIB dengan waktu istirahat selama satu jam pada pukul 12.00-13.00. Setelah kegiatan selesai dilaksanakan, penulis membuat laporan pekerjaan harian rawat (LPPH) yang berisi nama karyawan, luasan hasil pekerjaan (ha), serta upah dan premi yang didapat. Pendamping Mandor Rawat Piringan. Selama menjadi pendamping mandor rawat piringan, penulis memberi arahan lokasi, luasan piringan yang harus bersih dari gulma, serta pembagian karyawan per pasar, mengawasi selama pekerjaan dan hasil pekerjaan, mengecek setiap piringan yang telah dikerjakan dan menghitung jumlah pokok hasil kegiatan masing-masing karyawan. Penulis mengawasi kegiatan yang berlangsung selama empat hari di blok 18 dan 20 Afdeling OP. Kegiatan dilaksanakan selama tujuh jam mulai pukul 07.00-15.00 WIB dengan waktu istirahat selama satu jam pada pukul 12.00-13.00 Setelah kegiatan, penulis membuat laporan pekerjaan yang telah dilakukan baik hasil serta premi yang didapatkan karyawan tersebut. Penulis juga mengisi buku rencana rawat untuk keesokan harinya yang berisi nama kegiatan, blok kegiatan, karyawan yang dibutuhkan serta target hasil yang dikerjakan. Pendamping Mandor Rorak Tadah Hujan. Rorak tadah hujan dikerjakan secara borongan oleh karyawan yang berjumlah 11 orang. Sebelum kegiatan dilaksanakan, mandor memberikan arahan berupa dimensi rorak, lokasi rorak, upah yang diberikan per satuan rorak serta alat-alat yang digunakan. Penulis bersama mandor menentukan jumlah rorak yang dibuat dalam blok, budget yang dibutuhkan, dan target penyelesaiannya. Penulis mengawasi selama dua hari di blok 4 dan 5. Karyawan tidak melakukan kegiatan selama 7 jam kerja, tetapi sesuai target dan kesanggupan masing-masing karyawan. Setelah selesai, mandor melaksanakan pengecekan spesifikasi dan dimensi rorak tersebut, serta menghitung rorak yang telah dibuat oleh masing-masing karyawan.
44 Pendamping Mandor Pemupukan. Rencana pemupukan sebelumnya telah dibuat oleh kepala afdeling yang kemudian dilaporkan ke kepala kebun. Tujuh hari sebelum pelaksanaan pemupukan, mandor telah membuat bon permintaan barang (BPB) yang berisi tanggal pemupukan, blok, jenis pupuk, dosis pupuk per pokok serta jumlah kebutuhan pupuk seluruhnya. BPB tersebut ditandatangani oleh mandor, kepala afdeling, kepala kebun, administratur, dan kepala gudang. Pada hari yang sama, mandor membuat kebutuhan until per pasar sehingga mempermudah pada saat pengeceran, serta jumlah keseluruhan until yang dibutuhkan. Pada saat pelaksanaan, mandor mendata semua buruh pupuk yang datang serta melaksanakan pembagian per pasar dan memberi informasi upah yang akan diberikan per orang. Penulis mendapat kesempatan mengawasi pemupukan selama lima hari, diantaranya merupakan pupuk NPK, RP dan borat, yang dilaksanakan di blok 1, 4, 7, 8, 16, 3, 6, dan 12A. Penulis mengikuti beberapa pemupuk secara acak dan melihat serta memberi arahan agar pelaksanaan pemupukan berjalan dengan baik dan benar, sehingga kehilangan pupuk dapat teratasi. Setelah pemupukan selesai, karung dikumpulkan dan dikembalikan ke gudang besar dengan arahan mandor. Lalu mandor membuat laporan berita acara hasil kerja pemupukan yang kemudian akan diserahkan ke kantor besar. Krani Panen. Krani panen adalah karyawan yang membantu mandor panen dalam melaksanakan tugasnya. Krani panen secara umum mencatat hasil panen tiap pemanen di TPH dan membuat laporan angkutan TBS dan mengarahkan angkutan TBS. Kegiatan yang dilakukan sehari-hari, yaitu 1. Menginformasikan hasil produksi pemanen kemaren 2. Review harian dengan atasan dan asisten (laporan buah restan dan minta taksasi panen pada mandor panen). 3. Menentukan unit transport untuk keliling (krani panen ikut truk angkut TBS). 4. Menghitung jumlah produksi pemanen di TPH maupun yang diangkut, memastikan ketuntasan buah yang terangkut, mencek dan menghitung buah restan 5. Mencocokkan laporan pemanen dengan angkutan sebenarnya. 6. Membuat laporan angkutan TBS ke pabrik.
45 Kegiatan yang dilakukan secara berkala, diantaranya: 1. Rekap gaji pemanen (mingguan). 2. Melapor kondisi jalan/ jembatan yang rusak pada mandor/ kepala afdeling. 3. Melaporkan kondisi TPH yang tidak sesuai standar kepada kepala afdeling. 4. Meminta unit langsir pada transport. 5. Kontrol bersama mandor/ kepala afdeling. 6. Sensus buah bulanan bersama mandor/asisten. Pendamping Kepala Afdeling (Asisten) Kepala afdeling merupakan pimpinan tertinggi di afdeling. Seluruh kegiatan dalam pengelolaan kebun afdeling mulai perencanaan, pengelolaan, serta hasil menjadi tanggung jawab kepala afdeling. Kepala afdeling juga bertanggung jawab penuh terhadap kondisi kebun selama 24 jam baik kegiatan kebun maupun kemasyarakatan. Kepala afdeling bertugas membuat program kerja tahunan serta bulanan, budget yang dibutuhkan, jenis pekerjaan, blok dilaksanakan pekerjaan tersebut dan melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan serta hasil kegiatan tersebut. Kegiatan yang dilakukan kepala afdeling sehari-hari, yaitu: 1. Apel pagi. 2. Cek administrasi dan LPPH per kemandoran H-1. 3. Cek laporan perhitungan upah. 4. Cek lapangan atas kerja pemanen H-1. 5. Cek lapangan panen-rawat hari ini. 6. Review harian dengan mandor. 7. Cek pengangkutan buah/ restan buah. 8. Monitoring angkutan TBS. 9. Review harian dengan kepala kebun. Kegiatan yang dilakukan kepala afdeling secara berkala, antara lain: 1. Review dengan mandor. 2. Kontrol lapangan bersama (termasuk kualitas panen dan rawat serta sensus) 3. Rapat koordinasi dengan ADM di kantor besar. 4. Review bulanan dengan ADM dan Direktur Area.
46 5. Membuat rencana kerja bulan berikutnya. 6. Review dengan kepala kebun. 7. Sensus bunga dan buah (dilakukan 4 bulanan). Kepala afdeling juga menjalin hubungan dengan tokoh masyarakat sekitar, membantu pengamanan kebun dari pencurian buah yang dilakukan setiap saat, serta pemeliharaan aset seperti rumah pemanen.