Bilangan Prima dan Teorema Fundamental Aritmatika

dokumen-dokumen yang mirip
Pembagi Persekutuan Terbesar dan Teorema Bezout

Keterbagian Pada Bilangan Bulat

BAB II KETERBAGIAN. 1. Mahasiswa bisa memahami pengertian keterbagian. 2. Mahasiswa bisa mengidentifikasi bilangan prima

Pemfaktoran prima (2)

1 TEORI KETERBAGIAN. Jadi himpunan bilangan asli dapat disajikan secara eksplisit N = { 1, 2, 3, }. Himpunan bilangan bulat Z didenisikan sebagai

2 BILANGAN PRIMA. 2.1 Teorema Fundamental Aritmatika

Pengantar Teori Bilangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep yang mendasari konsep representasi

n suku Jadi himpunan bilangan asli dapat disajikan secara eksplisit N = { 1, 2, 3, }. Himpunan bilangan bulat Z didenisikan sebagai

R. Rosnawati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Lembar Kerja Mahasiswa 1: Teori Bilangan

BAB 2 LANDASAN TEORI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bagian ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya konsep

DAFTAR ISI 3 TEORI KONGRUENSI 39 4 TEOREMA FERMAT DAN WILSON 40

II. TINJAUAN PUSTAKA. bilangan yang mendukung proses penelitian. Dalam penyelesaian bilangan

LANDASAN TEORI. bilangan coprima, bilangan kuadrat sempurna (perfect square), kuadrat bebas

MODUL PERSIAPAN OLIMPIADE. Oleh: MUSTHOFA

Contoh-contoh soal induksi matematika

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB 4. TEOREMA FERMAT DAN WILSON

BAB 2 LANDASAN TEORI

Matematika Diskrit. Reza Pulungan. March 31, Jurusan Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan beberapa definisi teori pendukung dalam proses

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,

BAB I NOTASI, KONJEKTUR, DAN PRINSIP

LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA

ALTERNATIF MENENTUKAN FPB DAN KPK

Teori Bilangan (Number Theory)

Nama Mata Kuliah : Teori Bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 SKS

Materi Pembinaan Olimpiade SMA I MAGELANG TEORI BILANGAN

Teori Himpunan. Modul 1 PENDAHULUAN

FUNGSI-FUNGSI PADA TEORI BILANGAN DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN KALENDER. Sangadji *

Pengantar Teori Bilangan. Kuliah 4

MENENTUKAN KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK) DAN FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR (FPB) DENGAN METODE EBIK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,

Bab 2 Daerah Euclid. 2.1 Struktur Daerah Euclid

MAKALAH KRIPTOGRAFI CHINESE REMAINDER

Setelah mengikuti materi Bab ini mahasiswa diharapkan mampu: 2. Mendefinisikan factor persekutuan, kelipatan persekutuan, FPB, dan KPK.

Disajikan pada Pelatihan TOT untuk guru-guru SMA di Kabupaten Bantul

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang?

II. LANDASAN TEORI. Secara umum, apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada

Sistem Bilangan Real

Rizkun As Syirazi, Thresye, Nurul Huda Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat

TEORI BILANGAN Setelah mempelajari modul ini diharapakan kamu bisa :

KATA PENGANTAR. Yogyakarta, November Penulis

APOTEMA: Jurnal Pendidikan Matematika. Volume 2, Nomor 2 Juli 2016 p ISSN BILANGAN SEMPURNA GENAP DAN KEPRIMAAN BI LANGAN MERSENNE

DIKTAT KULIAH (2 sks) MX 127 Teori Bilangan

Metode pembuktian untuk proposisi yang berkaitan dengan bilangan bulat adalah induksi matematik.

BAB V BILANGAN BULAT

Induksi Matematika. Fitriyanti Mayasari

TEORI BILANGAN. Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan yang tidak mempunyai pecahan desimal, misalnya 8, 21, 8765, -34, 0.

MODUL 1. Teori Bilangan MATERI PENYEGARAN KALKULUS

METODE SOLOVAY-STRASSEN UNTUK PENGUJIAN BILANGAN PRIMA

BAB VI BILANGAN REAL

BAB 1. TEORI KETERBAGIAN. Materi mata kuliah: Teori Bilangan, pertemuan 1-4: Disiapkan oleh: Julan Hernadi

FAKTOR DAN KELIPATAN KELAS MARS SD TETUM BUNAYA

OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS MATERI : TEORI BILANGAN

II. SISTEM BILANGAN RIIL. Handout Analisis Riil I (PAM 351)

Pertemuan 4 Pengantar Teori Bilangan

BAHAN AJAR TEORI BILANGAN

Kongruen Lanjar dan Berbagai Aplikasi dari Kongruen Lanjar

BAHAN AJAR TEORI BILANGAN

BAHAN AJAR ANALISIS REAL 1. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

TEORI BILANGAN (3 SKS)

G a a = e = a a. b. Berdasarkan Contoh 1.2 bagian b diperoleh himpunan semua bilangan bulat Z. merupakan grup terhadap penjumlahan bilangan.

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... II HALAMAN PENGESAHAN... III KATA PENGANTAR... IV DAFTAR ISI... V BAB I PENDAHULUAN...

Jurnal Apotema Vol.2 No. 2 62

BAB I TEORI KETERBAGIAN DALAM BILANGAN BULAT

Arief Ikhwan Wicaksono, S.Kom, M.Cs

Shortlist Soal OSN Matematika 2015

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

2. Algoritma, Kompleksitas dan Teori Bilangan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Bilangan Totient sempurna (Perpect Totient Number atau PTN) adalah suatu

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

BIDANG MATEMATIKA SMA

1. Variabel, Konstanta, dan Faktor Variabel Konstanta Faktor

Teori bilangan. Nama Mata Kuliah : Teori bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 sks. Deskripsi Mata Kuliah. Tujuan Perkuliahan.

CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION

Integer (Bilangan Bulat)

Induksi 1 Matematika

Metode pembuktian untuk pernyataan perihal bilangan bulat adalah induksi matematik.

CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION

PENGUJIAN BILANGAN CARMICHAEL. (Skripsi) Oleh SELMA CHYNTIA SULAIMAN

BAB II LANDASAN TEORI

ALJABAR ABSTRAK ( TEORI GRUP DAN TEORI RING ) Dr. Adi Setiawan, M. Sc

BAB I INDUKSI MATEMATIKA

Induksi Matematika. Nur Hasanah, M.Cs

BAB III PENGEMBANGAN TEOREMA DAN PERANCANGAN PROGRAM

PENERAPAN FAKTOR PRIMA DALAM MENYELESAIKAN BENTUK ALJABAR (Andi Syamsuddin*)

JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

A. PRINSIP INDUKSI SEDERHANA

Diktat Kuliah. Oleh:

1 INDUKSI MATEMATIKA

Yurnalis 1. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia.

BAHAN AJAR TEORI BILANGAN. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN

PENDAHULUAN INDUKSI MATEMATIKA Di dalam Matematika, sebuah pernyataan atau argumen dan bahkan sebuah rumus sekalipun tidak hanya sekedar dibaca.

Transkripsi:

Pembaharuan Terakhir: 28 Maret 2017 Pengantar Teori Bilangan (Bagian 5): Bilangan Prima dan Teorema Fundamental Aritmatika M. Zaki Riyanto Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta muhamad.riyanto@uin-suka.ac.id http://zaki.sandimath.web.id 1 Bilangan Prima Setiap bilangan bulat positif pasti memiliki suatu pembagi positif, paling tidak bilangan tersebut memiliki paling sedikit dua pembagi positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri. Pada bagian ini akan dibahas suatu bilangan bulat positif yang memiliki tepat dua pembagi positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri. Bilangan dengan sifat seperti ini sangat penting peranannya dalam Teori Bilangan, juga dalam berbagai aplikasinya seperti pada kriptografi. Bilangan seperti ini nantinya dinamakan dengan bilangan prima. Definisi 1.1 (Bilangan Prima dan Bilangan Komposit). Suatu Bilangan bulat p > 1 disebut prima jika p memiliki tepat dua pembagi positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri. Bilangan bulat k > 1 disebut komposit jika k tidak prima. Dengan kata lain, k disebut komposit jika terdapat bilangan bulat a dan b dengan 1 < a, b < k sedemikian hingga k = ab. Contoh 1.1. Sepuluh bilangan prima pertama adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23 dan 29. Sedangkan sepuluh bilangan komposit pertama adalah 4, 6, 8, 9, 10, 12, 14, 15, 16 dan 18. Lemma 1.1. Untuk setiap bilangan bulat n > 1 selalu memiliki suatu pembagi prima, yaitu terdapat suatu bilangan prima p sedemikian hingga p n. Bukti: Lemma ini akan dibuktikan menggunakan kontradiksi. Andaikan terdapat bilangan bulat positif lebih dari 1 yang tidak memiliki pembagi prima. Misalkan n adalah 1

bilangan terkecil yang memenuhi sifat lebih dari 1 dan tidak memiliki pembagi prima. Karena n tidak memiliki pembagi prima dan n membagi habis n, maka n bukan bilangan prima atau komposit. Oleh karena itu, n dapat dinyatakan sebagai n = ab dengan 1 < a, b < n. Karena a < n, maka a memiliki pembagi prima, yaitu terdapat bilangan prima p sedemikian hingga p a. Diketahui a n, maka p n yaitu p adalah pembagi prima dari n. Kontradiksi dengan pernyataan bahwa n tidak memiliki pembagi prima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap bilangan bulat yang lebih dari 1 selalu memiliki suatu pembagi prima. Teorema 1.2. Ada tak terhingga banyak bilangan prima. Bukti: Andaikan ada berhingga banyak bilangan prima, misalkan p 1, p 2,..., p n adalah semua bilangan prima. Dibentuk M = p 1 p 2 p n + 1. Berdasarkan Lemma 1.1, maka M memiliki suatu pembagi prima, yaitu terdapat suatu bilangan prima p i sedemikian hingga p i M. Diketahui p i p 1 p 2 p n dan 1 = M p 1 p 2 p n, akibatnya p i 1. Hal ini tidak mungkin terjadi karena p i > 1. Oleh karena itu, yang benar adalah ada tak terhingga banyak bilangan prima. Teorema 1.3. Jika n adalah bilangan komposit, maka n memiliki suatu pembagi prima yang kurang dari n. Bukti: Diketahui n adalah bilangan komposit, maka n = ab dengan a dan b adalah bilangan bulat yang memenuhi 1 < a b < n. Andaikan b a > n, maka ab > ( n) 2 = n dan hal ini kontradiksi dengan n = ab. Akibatnya haruslah a n. Berdasarkan Lemma 1.1, maka a pasti memiliki suatu pembagi prima, yaitu terdapat bilangan prima p < n sehingga p a. Diperoleh bahwa p a dan a n, yang berarti p n. Teorema 1.4. Diberikan suatu bilangan prima p, maka untuk setiap bilangan bulat a dengan 1 a < p berlaku gcd(a, p) = 1, yaitu a dan p relatif prima. Bukti: Diketahui a adalah bilangan bulat dengan 1 a < p. Diketahui p adalah bilangan prima, maka p hanya memiliki dua pembagi positif yaitu 1 dan p. Diketahui a p, maka 1 a dan 1 p, dan jika d a dan d p, maka d 1. Hal ini berakibat bahwa gcd(a, p) = 1. Teorema 1.5. Diberikan suatu bilangan prima p, maka untuk setiap bilangan bulat a berlaku gcd(a, p) = 1 atau gcd(a, p) = p. 2

Bukti: Diberikan bilangan prima p dan bilangan bulat a. Menggunakan algoritma pembagian diperoleh bahwa a = pq + r, untuk suatu q, r Z dengan 0 r < p. Jika r = 0, yaitu p membagi habis a, maka a = pq. Diperoleh bahwa gcd(a, p) = gcd(pq, p) = p. Selanjutnya, jika r 0, maka a = pq+r dengan 1 r < p. Berdasarkan Lemma 1.1 pada bagian Algoritma Euclid dan Teorema 1.4 di atas, diperoleh bahwa gcd(a, p) = gcd(pq + r, p) = gcd(r, p) = 1. Dengan demikian, terbukti bahwa gcd(a, p) = 1 atau gcd(a, p) = p. 2 Teorema Fundamental Aritmatika Dalam kajian di Teori Bilangan, ada sebuah sifat yang sangat penting yang dimiliki oleh bilangan bulat yang berkaitan dengan bilangan prima. Sifat ini menyatakan bahwa setiap bilangan bulat yang lebih dari 1 dapat dinyatakan secara tunggal sebagai hasil kali dari sejumlah bilangan prima. Sebagai contohnya adalah 100 = 2 2 5 5 = 2 2 5 2 dan 150 = 2 3 5 5 = 2 3 5 2. Sifat ini dinamakan dengan Teorema Fundamental Aritmatika yang akan dibahas berikut. Sebelumnya diberikan terlebih dahulu beberapa lemma pendukungnya. Lemma 2.1. Diberikan a, b, c Z dengan a, b, c > 0. Jika gcd(a, b) = 1 dan a bc, maka a c. Bukti: Diketahui a bc, maka bc = am untuk suatu m Z. Diketahui gcd(a, b) = 1, maka menggunakan Teorema Bezout diperoleh bahwa terdapat m, n Z sedemikian hingga ma + nb = 1. Selanjutnya, kedua ruas dikalikan dengan c, diperoleh mac + nbc = c. Diketahui bc = am, maka c = mac + nam = a(mc + nm) yang berakibat bahwa a c. Lemma 2.2. Diberikan bilangan prima p dan a, b Z. Jika p ab, maka p a atau p b. Bukti: Diketahui p adalah bilangan prima. Diberikan a, b Z dengan p ab. Andaikan p tidak membagi habis a, maka gcd(a, p) = 1. Diketahui p ab, menggunakan Lemma 2.2 diperoleh bahwa p b. Untuk kasus p tidak membagi habis b dapat diperoleh bahwa p a. Dengan demikian, terbukti bahwa p a atau p b. 3

Lemma 2.3. Diberikan bilangan prima p dan a 1, a 2,..., a n Z. Jika p (a 1 a 2 a n ), maka p membagi salah satu dari a 1, a 2,..., a n, yaitu p a i, untuk suatu i dengan 1 i n. Bukti: Lemma ini akan dibuktikan menggunakan induksi matematika pada n. Untuk n = 1 maka jelas pernyataan benar yaitu p a 1. Untuk n = 2 juga benar, karena telah dibuktikan pada Lemma 2.2. Selanjutnya, diasumsikan pernyataan benar untuk n = k yaitu jika p (a 1 a 2 a k ), maka p a i, untuk suatu i dengan 1 i k. Akan ditunjukkan bahwa pernyataan benar untuk n = k + 1. Dimisalkan p (a 1 a 2 a k a k+1 ), atau dapat ditulis p ((a 1 a 2 a k )a k+1 ). Berdasarkan Lemma 2.2, diperoleh bahwa p (a 1 a 2 a k ) atau p a k+1. Berdasarkan asumsi induksi diperoleh bahwa p a i untuk suatu i dengan 1 i k atau p a k+1. Dengan kata lain, p a i untuk suatu i dengan 1 i k + 1. Teorema 2.4 (Teorema Fundamental Aritmatika). Setiap bilangan bulat positif lebih dari 1 dapat dinyatakan secara tunggal sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Dengan kata lain, untuk setiap bilangan bulat positif n > 1 dapat difaktorkan secara tunggal sebagai n = p 1 p 2 p s dengan p 1, p 2,..., p s adalah bilangan-bilangan prima dan p 1 p 2... p s. Selanjuntya, bentuk n = p 1 p 2 p s disebut dengan faktorisasi prima dari n. Bukti: Teorema ini akan dibuktikan menggunakan kontradiksi. Diandaikan bahwa ada bilangan bulat positif lebih dari 1 yang tidak dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilanganbilangan prima. Dipilih n adalah bilangan bulat positif lebih dari 1 yang terkecil yang tidak dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima, maka n bukan bilangan prima. Oleh karena itu, n = ab untuk suatu bilangan bulat a dan b dengan 1 < a, b < n. Akibatnya a dan b dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Diperoleh bahwa n = ab juga dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima, sehingga kontradiksi dengan pengandaian. Dengan demikian, terbukti bahwa setiap bilangan bulat positif lebih dari satu dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Selanjutnya, akan dibuktikan ketunggalan bentuk faktorisasi prima. Diberikan bilangan bulat positif n > 1. Diandaikan n memiliki dua bentuk faktorisasi prima yang berbeda, yaitu n = p 1 p 2 p s dan n = q 1 q 2 q t dengan p 1, p 2,..., p s, q 1, q 2,..., q t adalah bilanganbilangan prima dan p 1 p 2... p s dan q 1 q 2... q t. Selanjutnya, kedua bentuk faktorisasi prima dari n dibagi dengan pembagi prima yang sama dari keduanya, sehingga diperoleh p i1 p i2...p iu = q j1 q j2...q jv dimana ruas kiri tidak sama dengan ruas kanan dan u, v 1. Akibatnya, bilangan prima p i1 membagi habis q j1 q j2...q jv. Berdasarkan Lemma 2.3 diperoleh bahwa p i1 membagi habis salah 4

satu dari q j1, q j2,..., q jv, yaitu p i1 q jw untuk suatu 1 w v. Keadaan ini tidak mungkin terjadi, sebab p i1 dan q jw keduaya adalah bilangan prima yang berbeda, sehingga timbul kontradiksi. Dengan demikian, yang benar adalah faktorisasi prima dari n adalah bersifat tunggal. Akibat 2.5. Untuk setiap bilangan bulat positif n > 1, terdapat bilangan-bilangan prima p 1, p 2,..., p m dan bilangan-bilangan bulat e 1, e 2,..., e m 0 sedemikian hingga Bukti: Latihan. n = p e 1 m. 3 Aplikasi Faktorisasi Prima pada Perhitungan Pembagi Persekutuan Terbesar dan Kelipatan Persekutuan Terkecil Faktorisasi prima dari 100 adalah 100 = 2 2 5 2. Faktorisasi prima dari 150 adalah 150 = 2 3 5 2. Diketahui bahwa gcd(100, 150) = 50. Diketahui bahwa 100 = 2 2 3 0 5 2 dan 150 = 2 1 3 1 5 2. Dapat dilihat bahwa gcd(100, 150) = 50 = 2 1 5 2. Dapat dilihat bahwa perhitungan pembagi persekutuan terbesar dari 100 dan 150 dapat dicari menggunakan hasil faktorisasi prima dari 100 dan 150. Sifat seperti ini berlaku secara umum untuk sebarang dua bilangan bulat positif lebih dari 1 seperti diberikan pada teorema di bawah ini. Teorema 3.1. Diberikan a, b Z dengan a, b > 1. Misalkan faktorisasi prima dari a dan b adalah a = p e 1 m dan b = p f 1 1 p f 2 2 p fm m, maka pembagi persekutuan terbesar dari a dan b adalah gcd(a, b) = p min(e 1,f 1 ) 1 p min(e 2,f 2 ) 2 p min(em,fm) m. Bukti: Latihan. Sebagai contohnya, diketahui 100 = 2 2 3 0 5 2 dan 150 = 2 1 3 1 5 2. Diperoleh bahwa gcd(100, 150) = 2 min(2,1) 3 min(0,1) 5 min(2,2) = 2 1 3 0 5 2 = 50. Berikut ini diberikan pengertian dari kelipatan persekutuan terbesar (least common multiple) dari dua bilangan bulat. Definisi 3.1. Kelipatan persekutuan terkecil (least common multiple) dari dua bilangan bulat a dan b, dinotasikan dengan lcm(a, b), didefinisikan sebagai bilangan bulat positif terkecil yang habis dibagi oleh a dan b. Dengan kata lain, lcm(a, b) = l jika memenuhi: 5

(i) a l dan b l (ii) Jika a c dan b c, maka l c. Sebagai contohnya adalah lcm(4, 6) = 12, lcm( 3, 5) = 15, lcm(6, 12) = 12 dan lcm(100, 150) = 300. Diketahui faktorisasi prima dari 100 adalah 100 = 2 2 5 2 dan faktorisasi prima dari 150 adalah 150 = 2 3 5 2. Dapat dilihat bahwa lcm(100, 150) = 300 = 2 2 3 5 2. Teorema 3.2. Diberikan a, b Z dengan a, b > 1. Misalkan faktorisasi prima dari a dan b adalah a = p e 1 m dan b = p f 1 1 p f 2 2 p fm m, maka kelipatan persekutuan dari a dan b adalah lcm(a, b) = p max(e 1,f 1 ) 1 p max(e 2,f 2 ) 2 pm max(em,fm). Bukti: Latihan. Sebagai contohnya, diketahui 100 = 2 2 3 0 5 2 dan 150 = 2 1 3 1 5 2. Diperoleh bahwa lcm(100, 150) = 2 max(2,1) 3 max(0,1) 5 max(2,2) = 2 2 3 1 5 2 = 300. Selanjutnya, berikut ini diberikan sifat-sifat yang menjelaskan hubungan antara pembagi persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil. Sebelumnya, diberikan lemma berikut. Lemma 3.3. Diberikan dua bilangan real x dan y, maka max(x, y) + min(x, y) = x + y. Bukti: Diberikan bilangan real x dan y. Jika x < y, maka max(x, y) + min(x, y) = y + x = x + y. Jika x = y, maka jelas max(x, y) + min(x, y) = x + y. Jika x > y, maka max(x, y) + min(x, y) = x + y. Teorema 3.4. Diberikan a, b Z dengan a, b > 1, maka ab = lcm(a, b)gcd(a, b). Bukti: Diberikan faktorisasi prima dari a dan b yaitu a = p e 1 m dan b = p f 1 1 p f 2 2 p fm m. Menggunakan Lemma 3.3 dapat diperoleh: lcm(a, b)gcd(a, b) = p max(e 1,f 1 ) 1 p max(e 2,f 2 ) 2 p max(em,fm) m p min(e 1,f 1 ) 1 p min(e 2,f 2 ) 2 pm min(em,fm) = p max(e 1,f 1 )+min(e 1,f 1 ) 1 p max(e 2,f 2 )+min(e 2,f 2 ) 2 pm max(em,fm)+min(em,fm) = p e 1+f 1 +f 2 2 pm em+fm = p e 1 m p f 1 1 p f 2 2 p fm m = ab. Dengan demikian, terbukti bahwa ab = lcm(a, b)gcd(a, b). 6

4 Soal-soal Latihan (1) Buktikan bahwa setiap bilangan prima yang tidak sama dengan 2 adalah bilangan ganjil. (2) Tentukan semua pembagi prima dari 10!. (3) Tentukan bilangan prima terkecil di antara 100 dan 200. (4) Tunjukkan bahwa setiap bilangan bulat lebih dari 11 dapat dinyatakan sebagai jumlahan dua bilangan komposit. (5) Diberikan a adalah bilangan bulat positif yang tidak memiliki pembagi prima p dengan 1 < p < a. Buktikan bahwa a adalah bilangan prima. (6) Tentukan faktorisasi prima dari 500, 5040 dan 9999. (7) Tentukan semua pembagi prima dari 100.000 dan 10!. (8) Diberikan a dan b adalah bilangan bulat positif. Buktikan bahwa jika a 3 b 2, maka a b. (9) Diberikan bilangan prima p dan a Z. Jika p a 2, buktikan bahwa p a. (10) Diberikan bilangan prima p dan a, n Z dengan n 0. Jika p a n, buktikan bahwa p a. (11) Diberikan bilangan prima p dan bilangan bulat positif n, maka p a dikatakan tepat membagi n, dinotasikan dengan p a n jika p a n dan p a+1 tidak membagi habis n. Sebagai contohnya adalah 2 3 40, sebab 2 4 tidak membagi habis 40. (a) Buktikan bahwa jika p a m dan p b n, maka p a+b mn. (b) Buktikan bahwa jika p a m, maka p ab m b. (c) Buktikan bahwa jika p a m dan p b n dengan a b, maka p min(a,b) (m + n). (12) Diberikan bilangan bulat positif n > 1. Buktikan bahwa n 1 i=1 bukan bilangan bulat. i (13) Diberikan a, b, c Z. Buktikan bahwa lcm(a, b) c jika dan hanya jika a c dan b c. (14) Diberikan a, b, c Z dengan c ab. Buktikan bahwa c (gcd(a, c)gcd(b, c)). (15) Diberikan a, b, n Z dengan a, b, n > 0. Jika a dan b relatif prima, buktikan bahwa a n dan b n juga relatif prima. (16) Diberikan a, b Z dengan a, b > 0. Buktikan bahwa gcd(a, b) = gcd(a + b, lcm(a, b)). (17) Diberikan a, b, c Z dengan a, b, c > 0. Buktikan bahwa gcd(lcm(a, b), c) = lcm(gcd(a, c), gcd(b, c)). 7

(18) Diberikan a, b, c Z dengan a, b, c > 0. Buktikan bahwa lcm(gcd(a, b), c) = gcd(lcm(a, c), lcm(b, c)). (19) Tunjukkan bahwa ada tak terhingga banyak bilangan prima yang berbentuk 6n + 5, dengan n adalah bilangan bulat positif. (20) Sebuah toko komputer menjual flashdisk dengan harga di bawah harga normal Rp 99.000 melalui potongan harga, tetapi dijual di atas Rp 1.000. Jika toko komputer tersebut berhasil menjual sejumlah flashdisk dengan harga total Rp 8.137.000 dan potongan harga berupa bilangan bulat, tentukan banyaknya flashdisk yang terjual. Pustaka [1] Rosen Kenneth, H., 2011, Elementary Number Theory and Its Applications, Sixth Edition, Pearson Education, USA. [2] Sukirman, 2006, Pengantar Teori Bilangan, Penerbit Hanggar Kreator, Yogyakarta. 8