BAN 10 BENTUK NORMAL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 7 PENYEDERHANAAN

BAB 6 ALJABAR BOOLE. 1. Definisi Dasar MATEMATIKA DISKRIT

BAB 6 ALJABAR BOOLE. 1. Definisi Dasar. Teorema 1 MATEMATIKA DISKRIT

BAB I PENGANTAR LOGIKA MATEMATIKA

BAB 6 EKUIVALENSI LOGIS

BAB 11 RESOLUSI. 1. Pendahuluan. 2. Resolving argumen

Perangkai logika / operator digunakan untuk mengkombinasikan proposisi-proposisi atomik menjadi proposisi majemuk. Untuk menghindari kesalahan tafsir

Definisi 2.1. : Sebuah pernyataan yang bernilai benar atau salah disebut dengan proposisi (proposition)

KALKULUS PERNYATAAN. Totologi & Kontradiksi. Tingkat Kekuatan Operator. Tabel Kebenaran 9/30/2013. Nur Insani, M.Sc

REPRESENTASI PENGETAHUAN. Pertemuan 6 Diema Hernyka Satyareni, M. Kom

LOGIKA Ponco Wali Pranoto PTI FT UNY create: Ratna W.

Teknik Penyederhanaan untuk Menyederhanakan Teknik Resolusi

yang paling umum adalah dengan menspesifikasikan unsur unsur pembentuknya (Definisi 2.1 Menurut Lipschutz, Seymour & Marc Lars Lipson dalam

LOGIKA. Ratna Wardani Pendidikan Teknik Informatika. 10/28/2008> Pertemuan-1-2 1

EKUIVALENSI LOGIS. Dr. Julan HERNADI & (Asrul dan Enggar) Pertemuan 3 FONDASI MATEMATIKA. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unmuh Ponorogo


PERTEMUAN TAUTOLOGI, KONTRADIKSI, DAN CONTINGENT

Mata Kuliah Arsitektur Komputer Program Studi Sistem Informasi 2013/2014 STMIK Dumai -- Materi 08 --

MATERI 1 PROPOSITIONAL LOGIC

FM-UDINUS-PBM-08-04/R0

STMIK Banjarbaru EKUIVALENSI LOGIKA. 10/15/2012 H. Fitriyadi & F. Soesianto

FM-UDINUS-BM-08-05/R0

BAB 4 PROPOSISI MAJEMUK

BAB 9 TABLO SEMANTIK. 1. Pendahuluan. 2. Tablo semantik

Matematika Industri I

BAB 5 TAUTOLOGI. 1. Pendahuluan. 2. Evaluasi validitas argumen

Logika Proposisi. Pertemuan 2 (Chapter 10 Schaum, Set Theory) (Chapter 3/4 Schaum, Theory Logic)

ALJABAR BOOLEAN R I R I I R A W A T I, M. K O M L O G I K A M A T E M A T I K A 3 S K S

Pertemuan 2. Proposisi Bersyarat

SINTAKS DAN SEMANTIK PADA LOGIKA PROPOSISI. Matematika Logika Semester Ganjil 2011/2012

IMPLEMENTASI STRATEGI PERLAWANAN UNTUK PEMBUKTIAN VALIDITAS ARGUMEN DENGAN METODE REDUCTIO AD ABSURDUM

REPRESENTASI PENGETAHUAN UTHIE

LOGIKA PROPOSISI 3.1 Proposisi logika proposisional. Contoh : tautologi yaitu proposisi-proposisi yang nilainya selalu benar. Contoh 3.

Konvers, Invers dan Kontraposisi

BAB 4 PROPOSISI. 1. Pernyataan dan Nilai Kebenaran

BAB I PENDAHULUAN. a. Apa sajakah hukum-hukum logika dalam matematika? b. Apa itu preposisi bersyarat?

PERTEMUAN 2 TABEL KEBENARAN DADANG MULYANA. TABEL KEBENARAN (TB) digunakan untuk menyajikan hubungan antara nilai kebenaran sejumlah proposisi.

Modul ke: Logika Matematika. Proposisi & Kuantor. Fakultas FASILKOM BAGUS PRIAMBODO. Program Studi SISTEM INFORMASI.

BAB 8 STRATEGI PEMBALIKAN

BAB 3 TABEL KEBENARAN

Matematika Logika Aljabar Boolean

Representasi Kalimat Logika ke dalam Matriks Trivia

Pertemuan ke-5 ALJABAR BOOLEAN III

BAB 4. Aljabar Boolean

Dian Wirdasari, S.Si.,M.Kom

LOGIKA MATEMATIKA LOGIKA. Altien Jonathan Rindengan, S.Si, M.Kom

PERTEMUAN Logika Matematika

Logika. Arum Handini Primandari, M.Sc. Ayundyah Kesumawati, M.Si.

Representasi Pengetahuan

PIRANTI LUNAK PEMBUKTIAN PERNYATAAN LOGIKA PROPOSISI DENGAN METODE RESOLUSI MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN PROSEDURAL

BAB III DASAR DASAR LOGIKA

Logika Matematika Aljabar Boolean

Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Gadjah Mada 1

Selamat datang di Perkuliahan LOGIKA MATEMATIKA Logika Matematika Teori Himpunan Teori fungsi

Logika Matematika Diskret (TKE132107) Program Studi Teknik Elektro, Unsoed

Dasar-dasar Logika. (Review)

Berpikir Komputasi. Sisilia Thya Safitri, MT Citra Wiguna, M.Kom. 3 Logika Proposisional (I)

PROPOSISI MAJEMUK. dadang mulyana

BAB V REPRESENTASI PENGETAHUAN

LOGIKA & PEMBUKTIAN. Anita T. Kurniawati, MSi LOGIKA

LOGIKA INFORMATIKA. Bahan Ajar

DASAR DASAR LOGIKA. Kalimat Deklaratif (Proposisi) adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya.

Review Sistem Digital : Aljabar Boole

BAB I LOGIKA MATEMATIKA

MODUL PERKULIAHAN EDISI 1 MATEMATIKA DISKRIT

LOGIKA. Arum Handini Primandari

PENGERTIAN. Proposisi Kalimat deklaratif yang bernilai benar (true) atau salah (false), tetapi tidak keduanya. Nama lain proposisi: kalimat terbuka.

PROPOSISI MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 1

Aljabar Boolean. Rudi Susanto

LOGIKA MATEMATIKA (Pendalaman Materi SMA)

Algoritma & Pemrograman 2C Halaman 1 dari 7 ALJABAR BOOLEAN

Berdasarkan tabel 1 diperoleh bahwa p q = q p.

Logika Matematika BAGUS PRIAMBODO. Silogisme Silogisme Hipotesis Penambahan Disjungsi Penyederhanaan Konjungsi. Modul ke: Fakultas FASILKOM

MAKALAH SISTEM DIGITAL

BAB 1 : DASAR-DASAR LOGIKA

MULTIMEDIA PEMBELAJARAN LOGIKA INFORMATIKA PADA MATERI POKOK TABEL KEBENARAN

LOGIKA MATEMATIKA. MATEMATiKA DISKRET S1-SISTEM INFORMATIKA STMIK AMIKOM. proposisi conjungsi tautologi inferensi

Logika Predikat (Kalkulus Predikat)

Unit 5 PENALARAN/LOGIKA MATEMATIKA. Wahyudi. Pendahuluan

REPRESENTASI PENGETAHUAN

MODUL 3 OPERATOR LOGIKA

Definisi Aljabar Boolean

LOGIKA PROPOSISI. Bagian Keempat : Logika Proposisi

- Mahasiswa memahami dan mampu membuat kalimat, mengevaluasi kalimat dan menentukan validitas suatu kalimat

FPMIPA UPI ILMU KOMPUTER I. TEORI HIMPUNAN

Unit 6 PENALARAN MATEMATIKA. Clara Ika Sari Budhayanti. Pendahuluan. Selamat belajar, semoga Anda sukses.

Bahan Kuliah. Priode UTS-UAS DADANG MULYANA. dadang mulyana 2012 ALJABAR BOOLEAN. dadang mulyana 2012

BAB I1 : DASAR-DASAR LOGIKA

BAB 2 PENYEDERHANAAN RANGKAIAN DENGAN PETA KARNAUGH SUM OF PRODUCT (SOP) DAN PRODUCT OF SUM (POS)

Definisi Aljabar Boolean

1.3 Pembuktian Tautologi dan Kontradiksi. Pernyataan majemuk yang selalu bernilai benar bagaimanapun nilai proposisi

Silogisme Hipotesis Ekspresi Jika A maka B. Jika B maka C. Diperoleh, jika A maka C

Proposition Logic. (Logika Proposisional) Bimo Sunarfri Hantono

BAB III REPRESENTASI PENGETAHUAN

DASAR-DASAR LOGIKA. Pertemuan 2 Matematika Diskrit

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012

Gambar 28 : contoh ekspresi beberapa logika dasar Tabel 3 : tabel kebenaran rangkaian gambar 28 A B C B.C Y = (A+B.C )

Kalkulus Proposisi. Author-IKN. MUG2B3/ Logika Matematika

Logika Logika merupakan dasar dari semua penalaran (reasoning). Penalaran didasarkan pada hubungan antara proposisi atau pernyataan (statements).

Implementasi Teori Logika dan Graf dalam Menentukan Efisiensi Rangkaian Listrik

Transkripsi:

BAN 10 BENTUK NORMAL 1. Pendahuluan Ekspresi logika mempunyai berbagai bentuk, mulai dari yang rumit sampai dengan yang sederhana. Bentuk yang rumit adalah bentuk dengan banyak jenis perangkai, variabel proposisional, dan tanda kurung, sedangkan bentuk yang sederhana karena hanya memiliki sedikit jenis perangkai, sedikit variabel proposisional, dan tanda kurung sehingga mudah dibaca. Bentuk ekspresi logika yang standar disebut bentuk normal, sedangkan bentuk normal ada dua jenis yakni bentuk normal konjungtif dan bentuk normal disjungtif. 2. Bentuk normal Bentuk normal (Norm Form) adalah bentuk standar untuk ekspresi logika. Yaitu semua bentuk ekspresi logika bisa disederhanakan dengan menggunakan perangkai dasar (alamiah), yakni perangkai,, dan, dengan proposisi dasar yang dikomposisikan dalam bentuk rumus atomik atau atom-atom. Literal adalah atom atau negasi dari atom. Jadi: 1. A dan A adalah atom atau literal 2. p 2 adalah literal 3. p 2 adalah literal 4. Literal yang berisi satu atom disebut literal positif, misal: p 2 5. Literal yang berisi satu negasi dari satu atom disebut literal negatif, misal: p 2 Bentuk normal perlu dipahami karena kebanyakan aplikasi logika, misalnya merancang rangkaian elektronika atau sirkuit menggunakan bentuk normal, khususnya bentuk normal disjungtif. Bentuk normal disebut juga bentuk kanonikal. P = (A B) ( C A) Q = ((A B) ( C A)) Jadi jika P Q, maka:

(A B) ( C A) ((A B) ( C A)) Jadi dapat dipastikan jika (A B) ( C A) akan sama nilai kebenarannya dengan ((A B) ( C A)), dengan semua nilai kebenaran dari A, B, dan C. Dan dapat dibuktikan dengan hukum-hukum logika. Latihan: Ubahlah menjadi bentuk normal : A B (A B) (B A) 3. CNF Bentuk Normal Konjungtif (Conjunctive Normal Form atau CNF) adalah bentuk normal yang memakai perangkai konjungsi dari disjungsi. Suatu ekspresi logika (wff) berbentuk normal konjungtif (CNF) bila ia merupakan konjungsi dari disjungsi literal-literal. Bentuknya seperti berikut: A 1 A 1.. A i.. A n Dimana setiap A i berbentuk: λ 1 λ 1.. λ j.. λ m Dimana setiap λ 1 berbentuk literal. 1. (p 2 p 5 p 3 ) ( p 2 p 1 p 3 ) (p 1 p 2 p 3 p 7 p 4 ) 2. ( p 1 p 3 ) ( p 2 p 1 p 3 ) 3. (p 2 p 3 p 4 p 7 ) p 2 4. p 10 Bentuk CNF pada no 1, 2,3, dan 4 di atas tetap dapat disebut bentuk normal konjungtif. Untuk nomor 4 diterima sebagai default. 4. DNF Bentuk Normal Disjungtif (Disjunctive Normal Form atau DNF) adalah bentuk normal yang memakai perangkai disjungsi dari konjungsi. Suatu ekspresi logika (wff) berbentuk normal konjungtif (CNF) bila ia merupakan konjungsi dari disjungsi literal-literal. Bentuknya seperti berikut: A 1 A 1.. A i.. A n Dimana setiap A i berbentuk:

λ 1 λ 1.. λ j.. λ m Dimana setiap λ 1 berbentuk literal. 1. (p 2 p 5 p 3 ) ( p 2 p 1 p 3 ) (p 1 p 2 p 3 p 7 p 4 ) 2. ( p 1 p 3 ) ( p 2 p 1 p 3 ) 3. (p 2 p 3 p 4 p 7 ) p 2 4. p 10 Bentuk CNF pada no 1, 2,3, dan 4 di atas tetap dapat disebut bentuk normal konjungtif. Untuk nomor 4 diterima sebagai default. 5. Bentuk normal dan tabel kebenaran Untuk membuat DNF dari suatu ekspresi logika yang dibuat dengan tabel kebenaran yaitu dengan mengambil nilai-nilai T dari ekspresi logika tersebut. (A B) ( A C) Tabel kenarannya: A B C A B (A B) A C A C (A B) ( A C) T T T T F F F F T T T F T F F T T F T F T F T F F F F T F F F T F T T T F T T F T T F T T F T F F T T T T T F F T F T T F T T F F F F T T T T T 1 X Y 2 3 4 5 6 Dari tabel kebenaran di atas, hanya mengambil nilai dari (A B) ( A C) yang bernilai T, yakni ada 6. Lihat nomor urut di sisi kanan, kemudian jadikan DNF seperti berikut seperti urutan nomor: (A B C) (A B C) ( A B C) ( A B C) ( A B C) ( A B C) Bentuk normal di atas disebut full disjungtif normal form (FDNF).

Sedang untuk CNF sebenanya sama, yakni mengambil nilai F dari tabel kebenaran dan membuatnya menjadi full conjungtif normal form (FCNF), dengan catatan nilai variabel-variabel proposisionalnya terbalik dari pasangan pada tabel kebenaran. T menjadi F dan F menjadi T. Lihat pada tabel kebenaran pada sisi kanan, yakni ada dua baris X dan Y. Selanjutnya, CNF akan disusun seperti berikut: ( A B C) ( A B C) Teknik di atas pada DNF, sebenarnya menggunakan yang disebut minterm, yang menggunakan pasangan variabel proposisional yang berada di tabel kebenaran dan yang memiliki nilai T. Minterm adalah konjungsi dari literal-literal dengan variabel yang hanya dinyatakan satu kali. Contoh minterm: 1. (A B C) 2. ( A B C) 3. ( A B C) Contoh bukan minterm: 1. (A A C) 2. ( A B B) 3. ( A C) 4. B 6. Klausa Pada bentuk CNF, seperti pada definisi, dapat diubah menjadi bentuk berikut: C 1 C 1.. C i.. C n Dimana setiap C i berbentuk: λ 1 λ 1.. λ j.. λ m Dimana setiap λ j berbentuk literal. C i disebut klausa (clause). Klausa adalah konjungsi dari literal-literal. Setiap klausa dapat berisi sekurangkurangnya satu literal, misalnya A dan A, dan setiap literal disebut klausa unit. Contoh klausa unit: 1. (p 2 p 5 p 3 )

2. ( p 1 p 3 ) 3. p 2 4. p 10 7. Mengubah ke CNF Untuk mengubah suatu ekspresi logika menjadi bentuk CNF, ada 5 langkah yang digunakan, dimana tidak semua langkah harus dipakai, tetapi hanya langkah yang relevan saja, dan tidak harus urut, karena tergantung keadaan. Langkah-langkah ersebut adalah: Langkah 1: Gunakan ekuivalensi A B (A B) (B A) untuk menghilangkan perangkai Langkah 2: Gunakan ekuivalensi A B A B untuk menghilangkan perangkai Langkah 3: Gunakan hukum De Morgan (A B) A B dan (A B) A B untuk mendorong masuk tanda negasi ke dalam tanda kurung agar mendapatkan klausa yang berisi literalliteral. Langkah 4: Gunakan hukum negasi ganda A A untuk menghilangkan tanda negasi. Langkah 5: Gunakan hukum distributif A (B C) (A B) (A C) untuk mengubahnya menjadi CNF 1. Hilangkan perangkai dan dari ekspresi logika berikut ini: (A C) (B (A C)) (A C) (B (A C))) ((B (A C)) (A C)) ( (A C) ( B ( A C))) ( ( B ( A C)) (A C)) (( A C) ( B ( A C))) ( B ( A C)) (A C)) (( A C) ( B ( A C))) ( B ( A C)) (A C)) (( A C) ( B ( A C))) (B (A C)) (A C)) (( A C) ( B A C)) (B (A C)) (A C)) Bentuk logika di atas masih bisa disederhanakan lagi tapi cukup sampai disitu, karena hanya untuk menghilangkan perangkai dan.

2. (A C) ( B C) ( A C) ( B C) ( A C) ( B C) (A C) (B C) 3. Ubahlah ( A ( B C)) D menjadi CNF ( A ( B C)) D (( A ( B C)) D) (D ( A ( B C))) ( ( A ( B C)) D) ( D ( A ( B C))) (( A ( B C)) D) ( D ( A ( B C))) ((A (B C)) D) ( D ( A (B C))) ((A ( B C)) D) ( D ( A (B C))) ((A B) (A C)) D) ( D A) ( D (B C))) ((A B) D) ((A C) D)) (( D A) ( D (B C))) (A B D) (A C D)) (( D A) ( D B C) 8. CNF dan komplementasi Dualitas adalah kembaran suatu ekspresi. Jika memiliki perangkai akan diganti, demikian sebaliknya, dan jika bernilai T akan diganti bernilai F, sedemikian sebaliknya. A A T A A F Konsep dualitas berhubungan erat dengan komplementasi dan dengan konsep ini akan dibat CNF dari tabel kebenaran. Komplemen dapat dibaca sebagai pasangan pelengkapnya. Misalkan, ada ekspresi A, maka komplemen dari A adalah A, demikian sebaliknya. Negasikan P = (A B) C dengan komplemen Jawaban: Langkah 1: Cari dualitas dari P, yakni: (A B) C Hanya mengganti perangkai, tetapi literalnya tidak diubah Langkah 2: Lakukan komplementasi dengan mencarikomplemennya. Caranya dengan menghapus semua literal dan diganti dngan komplemennya dan menghasilkan ( A B) C

Jika masih ragu, maka pembuktiannya dilakukan dengan cara berikut: P ((A B) C) ( ( A B) C) (( A B) C) ( A B) C Dengan kata lain sebenarnya komplementasi adalah negasinya, jika P = A, maka komplemennya P = A. jika P = (A B), maka komplemennya P = (A B) atau ( A B) berdasarkan hukum DE Morgan s. jika ada dua ekspresi logika ekuivalensecara logis maka komplemennya pasti juga ekuivalen secara logis. Jadi komplementasi adalah penegasian suatu ekspresi dengan memakai komplemennya. Komplementasi dapat digunakan untuk mencari CNF dari suatu eksprei atau fungsi R. Maka buatlah dahulu DNF dari R, jika hasil DNF adalah P, maka P = R dan komplemen dari P adalah negasinya yang pasti ekuivalen secara logis dengan R. Tabel kebenaran dari suatu ekspresi atau fungsi R: A B C R 1 2 3 4 5 6 7 8 T T T T T T F T T F T F T F F F F T T T F T F T F F T F F F F T Berdasarkan tabel tersebut, R adalah bernilai benar atau pada tabel kebenaran di atas adalah pada nilai-nilai F yang berada pada baris 2, 5, dan 6 dengan pasangan nilainya seperti berikut: Baris-2: A = F B = F C = T Baris-5: A = T B = F C = F Baris-6: A = T B = F C = T Maka ekspresi DNF yang diperoleh adalah:

( A B C) (A B C) (A B C) Selanjutnya, lakukan langkah-langkah berikut: Langkah 1: Cari dualitasnya, maka hasilnya: ( A B C) (A B C) (A B C) Langkah 2: Lakukan komplementasi dengan memberi komplemennya pada setiap literalnya, sehingga hasilnya: (A B C) ( A B C) ( A B C) Atau boleh dicocokkan dengan melakukan cara menegasi DNF yang diperoleh untuk mendapatkan CNF, yakni: (( A B C) (A B C) (A B C)) ( ( A B C) (A B C) (A B C)) ( A B C) ( A B C) ( A B C)) (A B C) ( A B C) ( A B C) Latihan soal: 1. Ubahlah bentuk-bentuk logika berikut ini menjadi bentuk CNF: a. (A C) (B C) b. (A ( B C)) C 2. Ubahlah bentuk-bentuk logika berikut ini menjadi bentuk DNF: a. ((A B) C) B b. (A B) ((A C) B) 3. Ubahlah bentuk-bentuk logika berikut ini menjadi bentuk CNF dan DNF: a. A (B C) b. (((A B) C) B) 4. Gunakan tabel kebenaran untuk mendapatkan FDNF dan FCNF dari ekspresi-ekspresi berikut: a. (A B) (C (C A)) b. ((A B) C) (C A)