BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV METODE PENELITIAN

MODEL STRUKTUR TEGAKAN HUTAN TANAMAN AGATHIS (Agathis loranthifolia) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI JAWA BARAT HERLINA WATI

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI MODEL STRUKTUR TEGAKAN HUTAN TANAMAN Pinus merkusii Jungh et de Vriese TANPA PENJARANGAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT MUTIA ADIANTI

Distribusi Normal. Statistika (MAM 4137) Syarifah Hikmah JS

Distribusi Normal Distribusi normal, disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai

TATAP MUKA IV UKURAN PENYIMPANGAN SKEWNESS DAN KURTOSIS. Fitri Yulianti, SP. MSi.

PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130

DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. Distribusi Normal_M. Jainuri, M.Pd 1

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Spesies-spesies pohon tersebut disajikan dalam Tabel 3 yang menggambarkan

DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. 1 Pertemuan 3_Statistik Inferensial

UKURAN NILAI SENTRAL&UKURAN PENYEBARAN. Tita Talitha, MT

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

ANGKA BENTUK DAN MODEL VOLUME KAYU AFRIKA (Maesopsis eminii Engl) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, JAWA BARAT DIANTAMA PUSPITASARI

KURVA NORMAL. (Sumber: Buku Metode Statistika tulisan Sudjana)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Volume Pohon pada Jarak Tanam 3 m x 3 m. Bardasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, Pada sampel populasi untuk

HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM

STATISTICS. Oleh: Hanung N. Prasetyo DISTRIBUSI NORMAL WEEK 6 TELKOM POLTECH/HANUNG NP

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan juni sampai dengan Juli 2013 di zona pemanfaatan terbatas,

DISPERSI DATA. - Jangkauan (Range) - Simpangan/deviasi Rata-rata (Mean Deviation) - Variansi (Variance) - Standar Deviasi (Standart Deviation)

MAKALAH. Mata Kuliah STATISTIKA KHADEEJAH ASWI AKBAR PUTRI DESSY VIVIT L IGA ANDRIANITA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

Makalah Statistika Distribusi Normal

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BEBERAPA DISTRIBUSI PELUANG KONTINU. Normal, Gamma, Eksponensial, Khi-Kuadrat, Student dan F

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 4. BEBERAPA DISTRIBUSI PELUANG DISKRET

METODOLOGI. Lokasi dan Waktu

BAB VI DISTRIBUSI PROBABILITAS MENERUS

PENDUGAAN POTENSI BIOMASSA TEGAKAN DI AREAL REHABILITASI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT MENGGUNAKAN METODE TREE SAMPLING INTAN HARTIKA SARI

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON

BAB IV PEMBAHASAN. Sebelum melakukan analisis dengan penerapan simulasi Monte Carlo dan VaR,

MA5283 STATISTIKA Bab 3 Inferensi Untuk Mean

Probabilitas dan Statistika Distribusi Peluang Kontinyu 1. Adam Hendra Brata

Statistik Dasar. 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian. 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota

Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru 2 )Mahasiswa Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan. Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru ABSTRACT

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung dalam

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

KONSEP DASAR PROBABILITAS DAN DISTRIBUSI PROBABILITAS LELY RIAWATI, ST, MT.

Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting. Oleh Azimmatul Ihwah

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Hutan alam yang ada di Indonesia banyak diandalkan sebagai hutan produksi

BAB IV METODE PENELITIAN

Proses Pemulihan Vegetasi METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

Haryoso Wicaksono, S.Si., M.M., M.Kom. 26

II. TINJAUAN PUSTAKA Biomassa

Ilmu Komunikasi Marketing Communication & Advertising

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENS. Probability and Random Process. Topik 2. Statistik Deskriptif. Prima Kristalina Maret 2016

DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016

CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

TINGKAT KONSUMSI KAYU BAKAR MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat)


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

III. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

INVENTARISASI TEGAKAN TINGGAL WILAYAH HPH PT. INDEXIM UTAMA DI KABUPATEN BARITO UTARA KALIMANTAN TENGAH

PENYUSUN : TIM KONSULTAN PT. DUTA POLINDO CIPTA 1. M. Sugihono Hanggito, S.Hut. 2. Miftah Ayatussurur, S.Hut.

statistika untuk penelitian

Makalah Sebagai Salah Satu Tugas dalam Mata Kuliah ANALISIS STATISTIK. Oleh: 1. Trilius Septaliana KR ( ) 2. Aisyah ( )

Beberapa Distribusi Peluang. Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU DISTRIBUSI PROBABILITAS

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di blok Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura

KULIAH ANALISIS STATISTIK DATA SIMULASI Tipe-tipe simulasi berdasarkan analisis output:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Bukit Gunung Sulah Kelurahan Gunung Sulah

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. . Gambar 4 Kondisi tegakan akasia : (a) umur 12 bulan, dan (b) umur 6 bulan

STRUKTUR TEGAKAN DAN REGENERASI ALAMI HUTAN DI PULAU SIBERUT, SUMATERA BARAT ASTRIDA RM SIGIRO

Statistika Materi 5. Ukuran Penyebaran. (Lanjutan) Hugo Aprilianto, M.Kom

BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2 Bahan dan Alat 4.3 Metode Pengambilan Data Analisis Vegetasi

digunakan untuk menyelesaikan persamaan yang nantinya akan diperoleh dalam

Tugas Kelompok. Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif. Judul Makalah Revisi DISTRIBUSI PELUANG

II. TINJAUAN PUSTAKA WRPLOT View (Wind Rose Plots for Meteorological Data) WRPLOT View adalah program yang memiliki kemampuan untuk

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam hal ini adalah kayu dan modal produksi. Untuk itu maka terbentuk

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN REGENERASI ALAMI DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI SUSI SUSANTI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan jumlah spesies burung endemik (Sujatnika, 1995). Setidaknya

STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling

MODUL II DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT DAN KONTINU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Distribusi Probabilitas Kontinyu Teoritis

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM

Transkripsi:

17 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pemeriksaan Data Pengamatan struktur tegakan dilakukan dilima petak ukur dengan luasan masing-masing satu hektar. Sample atau contoh diambil menggunakan metode purposive sampling yakni metode pengambilan contoh dengan tujuan tertentu. Sebanyak 5 sampel diambil dengan luasan persample seluas 1 hektar, tersebar di seluruh tanaman agathis yang berada di HPGW. Metode pengambilan data dengan menggunakan metode jalur lebar 20 meter dan panjang 500 meter, setelah itu pelaksanaan inventarisasi agathis dengan mengukur diameter diatas 10 cm. Dalam setiap petak ukur, data hasil pengukuran dibagi menjadi tiga kelompok jenis, yaitu : kelompok jenis agathis, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis. Setiap kelompok ini dicobakan empat model famili sebaran, yaitu : famili sebaran normal, famili sebaran lognormal, famili sebaran gamma dan famili sebaran eksponensial negatif. Berikut peta lokasi petak ukur penelitian di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Gambar 2 Peta lokasi petak ukur penelitian di Hutan Pendidikan Gunung Walat.

18 Luasan stratum pada petak ukur 1 seluas 5,4 ha, petak 2 seluas 5,5 ha, petak 3 seluas 8,9 ha, petak 4 seluas 8,2 ha dan petak 5 seluas 6,3 ha. Total luasan stratum di lapangan diperoleh 34,3 ha. Petak ukur 3 terluas diantara petak ukur yang lain serta memiliki jumlah pohon agathis terbanyak berjumlah 219 pohon. Sedangkan petak ukur 1 memiliki luasan stratum terkecil, akan tetapi jumlah pohon agathis pada petak ukur ini terhitung banyak sejumlah 207 pohon, kondisi pada petak ukur 1 sangat rapat jika dibandingkan dengan petak ukur yang lain. Berdasarkan hasil pengukuran dari lima petak ukur didapatkan data dengan pembagian berdasarkan masing-masing kelompok jenis, yaitu : (1) Kelompok jenis agathis (Agathis loranthifolia) (2) Kelompok jenis lain meliputi kayu afrika (Maesopsis eminii), puspa (Schima wallichii), jamolok (Eugenia malaccensis), ki teja, pinus (Pinus merkusii), cempaka (Michelia alba), kopi (Coffea robusta), dara uncel, pasang, kiterasi, sempur (Dillenia exelsa), saga (Adenanthera pavonina) dan beberapa jenis tanaman liar yang tidak diketahui jenisnya, dan (3) Kelompok seluruh jenis terdiri dari seluruh jenis agathis dan jenis lain. Pada Tabel 1 menujukkan struktur tegakan dilihat dari kerapatan (Ind/ha) yang terdapat pada masing-masing petak ukur untuk kelompok jenis agathis, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis. Berdasarkan kelas diameter mulai dari 10 cm up hingga diameter 100 cm up pada masing-masing strata. Pada tabel tersebut dapat dilihat jumlah pohon pada masing-masing kelompok jenis serta jumlah keseluruhan pohon yang ada pada seluruh petak ukur penelitian. Jika dituangkan kedalam bentuk histogram, maka data kerapatan tegakan akan membentuk pola berbeda-beda untuk masing-masing kelompok jenis. Kerapatan tertinggi pada kelompok jenis agathis pada selang 50-59 cm, kelompok jenis lain pada selang 30-39 cm dan kerapatan tertinggi pada kelompok seluruh jenis berselang pada dimeter 30 sampai 59 cm. Berikut ini bentuk histogram kerapatan tegakan untuk masing-masing kelompok jenis (Gambar 2).

18 Tabel 1 Kerapatan tegakan pada masing-masing petak ukur menurut kelompok jenis dan tingkat pertumbuhannya Kelas Diameter (Cm) Agathis Petak Ukur 1 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 2 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 3 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 4 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 5 Jenis Lain Seluruh jenis 10-19 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 27 28 20-29 13 3 16 10 0 10 14 0 14 2 8 10 0 32 32 30-39 49 7 56 35 20 55 71 2 73 15 21 36 4 21 25 40-49 57 5 62 42 7 49 66 3 69 41 22 63 7 12 19 50-59 65 2 67 34 1 35 49 1 50 40 9 49 20 61 81 60-69 18 0 18 14 0 14 15 1 16 20 2 22 24 1 25 70-79 5 0 5 3 0 3 4 0 4 15 1 16 19 1 20 80-89 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 90-99 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 5 0 5 100 up 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 8 0 8 Total 207 18 225 138 28 166 219 7 226 136 63 199 92 100 192 19

20 (a) (b) (c)

21 (d) (e) Gambar 3 Histogram kerapatan tegakan (ind/ha) berdasarkan kelas diameter untuk kelompok jenis agathis, jenis lain dan seluruh jenis pada (a) PU 1, (b) PU 2, (c) PU 3, (d) PU 4 dan (e) PU 5. Menurut (Oliver & Larson 1990) struktur tegakan yang muncul setelah terjadinya gangguan-gangguan, berubah dalam pola yang sama seiring dengan perubahan waktu. Spesies pohon yang sama mendominasi suatu wilayah mengikuti sebuah jenis gangguan tertentu didalam sebuah area geografis, dan spesies yang sama tumbuh bersama dan merubah struktur tegakan dalam pola yang serupa mengikuti gangguan.

22 5.2. Pemilihan Model Keseragaman pertumbuhan pohon dalam tegakan merupakan salah satu syarat bagi terbentuknya hutan normal atau hutan seumur yang diharapkan memiliki respon pertumbuhan yang sama (Meyer et al. dalam Prihanto 1987) mengungkapkan bahwa bentuk lonceng terbalik merupakan bentuk khas bagi struktur tegakan hutan seumur, namun apabila model disajikan dalam bentuk famili sebaran maka masih ada berbagai kemungkinan famili sebaran mana yang terbaik bagi struktur tegakan yang bersangkutan. Kondisi tegakan tiap petak ukur yang tidak diketahui umur tanamannya memungkinkan bentuk struktur tegakan lonceng terbalik mengalami penyimpangan oleh karena itu dalam pendugaan parameternya dicobakan berbagai parameter sebaran. Parameter-parameter yang digunakan pada setiap model famili sebaran dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Parameter sebaran pada setiap model famili sebaran di masing-masing petak ukur PU Kel.Jenis Parameter Sebaran Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif μ σ μl σl α β θ PU1 Agathis 46.2768 11.0542 3.8044 0.2561 16.6917 2.7724 46.2768 Jenis lain 35.9873 10.2978 3.5295 0.3963 9.4784 3.7968 35.9873 Sel.Jenis 45.4515 11.3417 3.7824 0.2718 14.775 3.0763 45.4515 PU2 Agathis 45.9268 11.1596 3.7962 0.2534 16.3578 2.8076 45.9268 Jenis lain 37.2384 4.8820 3.6090 0.1310 59.9058 0.6218 37.2384 Sel.Jenis 44.4572 10.8738 3.7645 0.2472 16.8024 2.6459 44.4572 PU3 Agathis 44.3068 11.0442 3.7598 0.2529 16.1155 2.7493 44.3068 Jenis lain 45.7253 8.9753 3.8046 0.2019 27.9217 1.6376 45.7234 Sel.Jenis 44.3548 10.989 3.7613 0.2512 16.3225 2.7174 44.3548 PU4 Agathis 52.9505 12.9422 3.9393 0.2493 16.8014 3.1515 52.9505 Jenis lain 41.6591 10.3655 3.6982 0.2548 16.1148 2.5851 41.6591 Sel.Jenis 49.3732 13.2695 3.8629 0.2746 13.8553 3.5635 49.3732 PU5 Agathis 66.5321 17.5799 4.1593 0.2907 13.1813 5.0475 66.5321 Jenis lain 28.6815 12.7085 3.2603 0.4432 5.3693 5.3418 28.6815 Sel.Jenis 46.8245 24.2892 3.6911 0.5874 3.3765 13.8676 46.8245 Pemilihan model untuk mengetahui pola struktur tegakan di lapangan dilakukan dengan menggunakan metode kemungkinan maksimum dengan

23 memilih famili sebaran yang mempunyai nilai fungsi kemungkinan maksimum tertinggi sebagai model penduga terbaik bagi struktur tegakan yang bersangkutan. Hasil dari pengamatan yang dilakukan pada setiap petak ukur untuk masingmasing famili sebaran menunjukan komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (L) yang berbeda. Tabel 3 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(In L )) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur kelompok agathis PU Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) PU1 791,1017 1 795,1104 3 791,9515 2 1000,8000 4 PU2 528,7114 2 529,7503 3 528,2563 1 666,1327 4 PU3 836,7649 3 832,5640 2 832,0200 1 1049,3000 4 PU4 541,2027 3 539,3008 2 538,2101 1 675,8327 4 PU5 396,1207 3 386,0369 1 386,9812 2 435,6253 4 Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum; (2) Nomor urut terbesar. Tabel 4 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(In L )) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur jenis lain PU Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) PU1 67,5156 1 70,6400 3 69,1468 2 82,4970 4 PU2 84,1259 3 83,3698 1 83,5605 2 129,2855 4 PU3 25,2939 4 24,8643 1 24,9536 2 33,7583 3 PU4 236,7178 3 235,7450 2 235,4675 1 297,9597 4 PU5 396,1207 3 386,0369 1 386,9812 2 435,6253 4 Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum; (2) Nomor urut terbesar. Tabel 5 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(In L )) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur untuk seluruh jenis PU Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) PU1 865,6698 1 876,7145 3 869,8889 2 1080 4 PU2 631,6792 3 627,98 2 627,9064 1 795,8915 4 PU3 862,3793 3 858,0178 2 857,4777 1 1080 4 PU4 796,877 3 793,4196 2 791,9239 1 974,9823 4 PU5 884,9221 3 878,4858 2 873,7292 1 930,5099 4 Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum; (2) Nomor urut terbesar. Berdasarkan Tabel 3, 4, dan 5 diatas, nilai kemungkinan maksimum (L) pada masing-masing petak ukur pada berbagai famili sebaran disajikan dalam bentuk (-(In L)) sehingga penilaian akan terbalik dimana maksimum (L) akan

24 sama dengan minimum dari (-(In L)). Nilai kemungkinan maksimum tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Pada Tabel 3 kelompok jenis agathis diperoleh famili sebaran gamma memiliki nilai (-(In L)) tertinggi hampir disetiap petak ukur sedangkan famili sebaran eksponensial negatif pada jenis agathis memiliki nilai kemungkinan maksimum (-(In L)) terendah disetiap petak ukur contoh. Pada Tabel 4 diperoleh famili sebaran lognormal untuk kelompok jenis lain menduduki nilai tertinggi hampir diseluruh petak ukur sedangkan famili sebaran eksponensial negatif kembali menduduki peringkat terendah. Nilai kemungkinan maksimum (-(In L)) pada kelompok jenis lain (Tabel 5) sebaran gamma memiliki (-(In L)) tertinggi dan famili sebaran eksponensial negatif kembali menduduki peringkat terendah. Sehingga dapat dikatakan famili sebaran gamma merupakan model terbaik bagi struktur tegakan hutan kelompok jenis agathis dan kelompok seluruh jenis sedangkan famili sebaran lognormal merupakan model struktur tegakan terbaik untuk kelompok jenis lain. Prihanto (1987) mengungkapkan gambaran mengenai keempat sebaran yang dicobakan sebagai berikut : 1. Famili sebaran normal Famili sebaran normal memiliki model yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan famili sebaran lainnya. Selama ini struktur tegakan hutan tanaman (seumur) selalu dianggap mengikuti model famili sebaran normal. Pendugaan parameter famili sebaran ini relatif mudah dan sudah banyak dikenal. Dalam penerapan pemakainnya, famili sebaran normal memiliki peubah acak normal baku (z) dimana sebaran peluangnya dapat dicari melalui bantuan tabel. Tranformasi peubah acak x ke peubah normal baku z adalah z = (x-μ)/σ, sehingga : P(X a X X b ) = xb xa f(x) dx = zb za f(z) dz = ( zb - f (z) dz) - ( za - f(z)) dz Dimana zb - f(z) dz, untuk - z + dapat dicari pada tabel.

25 2. Famili sebaran Lognormal Model famili sebaran ini merupakan model konservasi peubah acak yang menyebar normal. Oleh karena itu, pendugaan parameter famili sebaran ini hampir sama dengan pendugaan parameter famili sebaran normal. Perbedaannya adalah terdapat pada transformasi peubah acak ke dalam bentuk In (logaritmik natural), sehingga dalam hal ini menurunkan kepraktisannya dibanding pada famili sebaran normal. 3. Famili sebaran gamma Famili sebaran gamma merupakan model yang paling rumit diantara empat famili sebaran yang diikutsertakan dalam pemilihan model ini. Kerumitannya disamping tidak praktis juga memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan. Sumber kesalahan dapat terjadi pada pendugaan parameter bentuk (α) yang menggunakan pendekatan empiris, perhitungan Γ (α), serta pengaruh pembulatan yang lebih besar karena banyaknya fungsi-fungsi yang harus dilalui dalam penyusunan model. 4. Famili sebaran eksponensial negatif Famili sebaran eksponensial negatif sebenarnya masih merupakan anggota famili sebaran gamma. Untuk parameter α=1, maka fungsi kepekatan sebaran gamma identik dengan fungsi kepekatan famili sebaran eksponensial negatif dengan ß sepadan dengan 1/. Oleh karena itu, L gamma selalu L eksponensial negatif. L gamma sama dengan L eksponenesial negatif pada saat parameter α=1, dan akan selalu lebih besar dari L eksponensial negatif untuk α tidak sama dengan 1. Pengikutsertaan famili sebaran eksponensial negatif dalam pemilihan model ini diharapkan dapat menggantikan famili sebaran gamma yang sangat rumit apabila famili sebaran gamma terpilih sebagai model terbaik dan selisih L gamma dan L eksponensial negatif relatif kecil. Hal ini mengingatkan bahwa famili sebaran eksponenesial negatif memiliki model yang sangat sederhana (berparameter tunggal) dan praktis dalam penyusunan modelnya. Tetapi pada kenyataannya, L eksponensial negatif jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan L gamma maupun kedua famili sebaran lainnya. Nilai L eksponensial negatif yang lebih kecil tersebut disebabkan oleh adanya pemaksaan besarnya parameter α=1. Parameter untuk famili sebaran

26 eksponensial negatif memiliki nilai yang sama dengan rata-rata. Walaupun demikian, bentuk kurva famili sebaran eksponensial negatif berbeda dengan famili sebaran normal. Bentuk famili sebaran normal menyerupai lonceng telungkup, sedangkan eksponensial negatif mempunyai bentuk J terbalik (Walpole 1992). Dari gambaran-gambaran tersebut dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif memiliki kualitas yang relatif sama sebagai penduga bagi struktur tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 1. (a) (b)

27 (c) Gambar 4 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 1. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 2. (a) (b)

28 (c) Gambar 5 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 2. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 3. (a) (b)

29 (c) Gambar 6 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 3. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 4. (a) (b)

30 (c) Gambar 7 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 4. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 5. (a) (b)

31 (c) Gambar 8 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 5. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada keseluruhan petak ukur. (a) (b)

32 (c) Gambar 9 Perbandingan data aktual dengan (Model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis pada keseluruhan petak ukur. Gambar diatas menunjukan struktur tegakan berdasarkan berbagai model famili sebaran (normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) untuk kelompok jenis agathis, kelompok jenis lain dan kelompok seluruh jenis pada berbagai petak ukur 1 hingga 5 serta model struktur tegakan untuk keseluruhan petak ukur. Tabel 6 dibawah ini merupakan perbedaan kerapatan pohon (ind/ha), kisaran diameter (cm) serta diameter rata-rata (cm) untuk masing-masing kelompok jenis. Tabel 6 Perbedaan kerapatan pohon (ind/ha), kisaran diameter (cm) dan diameter rata-rata (cm) untuk kelompok jenis agathis, jenis lain dan seluruh jenis Petak Ukur Kelompok Jenis Kerapatan Pohon (Ind/ha) Kisaran Diameter (Cm) Diameter rata rata (Cm) Agathis 207 21-79 46,3 1 Jenis Lain 18 11-56 35,9 Seluruh Jenis 225 11-79 45,5 Agathis 138 24-76 45,9 2 Jenis Lain 28 30-50 37,2 Seluruh Jenis 166 24-76 44,5 Agathis 219 22-78 44,3 3 Jenis Lain 7 36-64 45,7 Seluruh Jenis 226 22-78 44,4 Agathis 136 21-101 52,9 4 Jenis Lain 63 22-70 41,7 Seluruh Jenis 199 21-101 49,4 Agathis 92 18-108 66,5 5 Jenis Lain 100 11-70 28,7 Seluruh Jenis 192 11-108 46,8

33 Pada petak ukur 1 terlihat bentuk grafik, untuk keseluruhan kelompok jenis berbentuk seperti lonceng telungkup kecuali untuk famili sebaran eksponensial negatif membentuk pola J terbalik. Frekuensi kerapatan individu per hektar untuk kelompok jenis agathis tergolong rapat dengan total jenis sebanyak 207 individu per hektar. Kondisi medan di lapangan pada petak ukur 1 datar dengan tutupan tajuk rapat, kisaran diameter pohon agathis berkisar antara selang 21 cm sampai 79 cm dengan diameter rata-rata 46,3 cm. Kelompok jenis lain didominasi oleh puspa (Schima wallichii) pada kelas diameter 11 cm sampai 56 cm dengan luasan stratum 1 seluas 5,4 ha. Terlihat pada grafik petak ukur 1 untuk kelompok jenis agathis dan kelompok seluruh jenis memiliki kemiripan bentuk, sedangkan untuk kelompok jenis lain frekuensi tegakan pohon tidak memenuhi famili sebaran yang dicobakan, hal tersebut terjadi karena jumlah kelompok jenis lain di lapangan hanya sedikit karena tutupan tegakan agathis yang rapat mendominasi petak ukur 1, sehingga tumbuhan jenis lain yang tidak mampu bersaing akan mati mengakibatkan jumlah pohon jenis lain pada petak ukur 1 sedikit. Pada petak ukur 2 luasan stratum 5,5 ha didominasi kelompok jenis agathis dan jenis puspa (Schima wallichii) dengan total jumlah pohon 116 individu per hektar. Tutupan tajuk sedikit terbuka menyebabkan jenis lain mampu tumbuh di petak ukur ini, dengan kisaran diameter pada selang 30 cm sampai 50 cm dengan diameter rata-rata 37,2 cm. Bentuk grafik struktur tegakan pada kelompok jenis lain diameter mengekor disebelah kiri menandakan jumlah pohon berdiameter kecil cukup banyak di petak ini. Hal ini diduga perebutan pencarian makanan antara individu pohon. Famili sebaran eksponensial negatif kurang menggambarkan bentuk struktur tegakan di lapangan, apabila dibandingkan dengan sebaran lain (famili sebaran normal, lognormal dan gamma) yang memilki kemiripan dari segi bentuk. Petak ukur 3 memiki kerapatan agathis tertinggi diantara petak ukur yang lain karena lokasi penelitian datar memungkinkan jarak tanam agathis berdekatan. Diameter pohon berkisar 22 cm sampai 78 cm memenuhi petak ukur 3, bentuk struktur tegakan kelompok agathis dan kelompok seluruh jenis mencapai frekuensi famili sebaran yang dicobakan sedangkan untuk kelompok jenis lain frekuensi tegakan tertinggi pada dimeter 36,5 cm melebihi batas famili sebaran

34 yang dicobakan dalam penelitian ini. Petak ukur 3 didominasi diameter rata-rata 44,3 cm dengan tutupan lahannya rapat sehingga persaingan antar pohon untuk bertahan hidup pada petak ukur 3 ini tinggi. Petak ukur 4 bentuk grafik tegakan untuk masing-masing kelompok jenis hampir sama, kondisi kelerengan di lapangan landai sehingga jarak tanam agathis berjauhan memungkinkan ruang tumbuh untuk pohon lain berpotensi besar, oleh karena itu petak ukur 4 banyak didominasi jenis puspa (Schima wallichii) dengan diameter rata-rata 41,7 cm. Luas stratum seluas 8,2 ha dengan kondisi lingkungan mendekati kondisi penelitian, tajuk antara pohon agathis dan puspa kurang rapat menyebabkan cahaya matahari mampu menembus kanopi sehingga tumbuhan bawah cukup banyak. Petak ukur 5 merupakan lokasi petak ukur terakhir dalam penelitian dengan komposisi agathis dengan jenis lain sama rata mengakibatkan bentuk struktur tegakan untuk petak ukur ini mengekor ke sebelah kanan dengan diameter ratarata agathis 66,5 cm. Pinus (Pinus merkusii) kelompok jenis lain pesaing berat dalam pertumbuhan agathis di petak ukur 5 dengan lokasi cukup curam memungkinkan jarak tanam pohon berjauhan sehingga jumlah agathis pada petak ukur 5 sedikit jika dibandingkan dengan petak ukur yang lain. Selanjutnya grafik struktur tegakan untuk keseluruhan petak ukur pada Gambar 9 di atas pada kelompok jenis agathis terlihat keganjalan dari segi bentuk kurva famili sebaran eksponensial negatif berbeda dengan petak ukur lain, hal ini disebabkan data yang diperoleh di lapangan jumlah agathis berdiameter kecil hanya berjumlah satu individu pohon sehingga bentuk kurva seperti gambar di atas. Secara matematis kurva famili sebaran eksponensial negatif sudah mendekati bentuk sebarannya. Perbedaan pola struktur tegakan tersebut menurut (Oliver & Larson 1990) disebabkan oleh laju pertumbuhan yang berbeda-beda, akan menghasilkan sebuah pola yang berbeda diprediksi dimana individu yang mendominasi dapat menurunkan individu yang lainnya ke strata yang lebih rendah dengan mendominasi pertumbuhan tingginya secara pelan-pelan, dan secara fisik akan mengikis individu yang lain.

35 Hal tersebut yang mengakibatkan pola struktur tegakan pada berbagai petak ukur berbeda-beda karena dominasi oleh individu yang terkuat dan mampu bertahan hidup dan yang tidak mampu bersaing akan mati, sehingga pola struktur tegakannya akan berbeda-beda pada masing-masing petak ukur sesuai dengan persaingan individu dalam petak tersebut dan kondisi lingkungan. Perlakuan kondisi lingkungan di lapangan HPGW yang tidak ada perlakuan khusus apapun, menyebabkan persaingan murni alami antar individu pohon yang menyebabkan pola struktur tegakan berbeda-beda pada masing-masing petak ukur. Regenerasi dan pertumbuhan pohon berlangsung secara alami tanpa perlakuan apapun menyebabkan jumlah individu untuk luasan satu hektar berbeda-beda. Hal ini juga mempengaruhi bentuk pola struktur tegakan berbedabeda pada masing-masing petak ukur dan famili sebaran yang dicobakan dalam penelitian. 5.3. Analisis Nilai Koefesien Skewness Kemencengan atau kecondongan (skewness) adalah tingkat ketidaksimetrisan atau kejauhan simetri dari sebuah distribusi. Sebuah distribusi yang tidak simetris akan memiliki rata-rata, median, dan modus yang tidak sama besarnya (X Me Mo), sehingga distribusi akan terkonsentrasi pada salah satu sisi dan kurvanya akan menceng (Hasan 2001). Tabel 7 Nilai koefesien skewness untuk kelompok jenis agathis, jenis lain dan seluruh jenis pada masing-masing petak ukur Petak Ukur Kelompok Jenis SK Petak Ukur 1 Agathis 0,1093 Jenis Lain -0,3042 Seluruh Jenis 0,0573 Petak Ukur 2 Agathis 0,1784 Jenis Lain 0,5198 Seluruh Jenis 0,4078 Petak Ukur 3 Agathis 0,4188 Jenis Lain 0,8224 Seluruh Jenis 0,4222 Petak Ukur 4 Agathis 0,6362 Jenis Lain 0,4386 Seluruh Jenis 0,6074 Petak Ukur 5 Agathis 0,2440 Jenis Lain 0,8445 Seluruh Jenis 0,4375

36 Jika SK 0, maka data dikatakan menyebar simetris. Bila sebarannya menjulur ke kiri, nilai tengahnya lebih kecil daripada mediannya, sehingga nilai SK (-) negatif. Tetapi apabila sebarannya menjulur ke kanan, nilai tengahnya lebih besar daripada median sehingga SK (+) positif, secara umum nilai SK terletak antar -3 dan +3 (Walpole 1992). Bentuk atau sebaran segugus pengukuran paling baik ditayangkan melalui sebuah histogram. Suatu sebaran dikatakan setangkup atau simetrik bila sebaran itu dapat dilipat sepanjang suatu sumbu tegak sehingga kedua belahannya saling menutupi apabila suatu sebaran yang tidak setangkup terhadap suatu sumbu tegak dikatakan menjulur. Sebaran dikatakan menjulur kekanan atau menjulur positif apabila memiliki ekor kanan panjang dibandingkan dengan ekor kiri demikian juga sebaliknya (Walpole 1992). Dari hasil penelitian, terlihat kecenderungan kurva menuju kepada koefesien skewness positif SK > 0 yang berarti bahwa sebagian besar data mengumpul di ekor sebelah kiri kecuali pada petak ukur 1 untuk kelompok jenis lain, dimana SK diperoleh -0,3042 hal ini berarti data mengumpul di ekor sebelah kanan dengan nilai tengah data lebih besar daripada mediannya. Oleh karena itu untuk menjadikan tegakan hutan tersebut ke arah skewness nol perlu dilakukan tindakan, antara lain : usaha regenerasi dengan penanaman pada areal tidak produktif atau tanah kosong, usaha mempertahankan stabilitas kemampuan lahan, usaha-usaha peningkatan kualita dan kuantita dengan penjarangan, pengendalian hama dan penyakit, pengendalian terhadap kebakaran, gangguan iklim, dan terhadap gangguan dari manusia (Ikhsan 1987). Banyaknya data pada ekor kiri pada penelitian ini menandakan bahwa pohon menyebar dalam tegakan dengan jumlah pohon berdiameter kecil. Karena tegakan hutan di HPGW sepenuhnya dipelihara tanpa penjarangan dan penebangan, sehingga membuat kondisi tegakan berada pada petak ukur tersebut menjadi sangat rapat. Hal ini menyebabkan persaingan antar individu pohon dalam merebutkan air, unsur hara, cahaya matahari serta pertahanan terhadap gangguan-gangguan yang berasal dari manusia maupun hewan.