Bab 3 Fungsi Elementer

dokumen-dokumen yang mirip
Fungsi Elementer (Bagian Kedua)

CATATAN KULIAH FUNGSI KOMPLEKS. oleh Dr. Wuryansari Muharini Kusumawinahyu, M.Si.

SISTEM BILANGAN KOMPLEKS

Bab 2 Fungsi Analitik

MATEMATIKA TEKNIK II BILANGAN KOMPLEKS

Bilangan dan Fungsi Kompleks

Bab II Fungsi Kompleks

FUNGSI VARIABEL KOMPLEKS. Oleh: Endang Dedy

Teknik Pengintegralan

FT UNIVERSITAS SURABAYA VARIABEL KOMPLEKS SUGATA PIKATAN. Bab V Aplikasi

Bab I. Bilangan Kompleks

Bab 1 Sistem Bilangan Kompleks

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK

BAB VII. FUNGSI TRANSEDEN. Perhatikan adanya kesenjangan tentang turunan berikut.

BILANGAN KOMPLEKS. Dimana cara penyelesaiannya dengan menggunakan rumus abc, yang menghasilkan dua akar sekaligus ..(4)

7. RESIDU DAN PENGGUNAAN. Contoh 1 Carilah titik singular dan tentukan jenisnya dari fungsi berikut a. f(z) = 1/z

Fungsi Analitik (Bagian Pertama)

Fungsi dan Grafik Diferensial dan Integral

Fungsi Analitik (Bagian Keempat)

Kalkulus 2. Teknik Pengintegralan ke - 1. Tim Pengajar Kalkulus ITK. Institut Teknologi Kalimantan. Januari 2018

Darpublic Nopember

FUNGSI-FUNGSI INVERS

BILANGAN KOMPLEKS. Muhammad Hajarul Aswad Pendidikan Matematika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo. Aswad

BUKU DIKTAT ANALISA VARIABEL KOMPLEKS. OLEH : DWI IVAYANA SARI, M.Pd

Bil Riil. Bil Irasional. Bil Bulat - Bil Bulat 0 Bil Bulat + maka bentuk umum bilangan kompleks adalah

FUNGSI HIPERBOLIK Matematika

A B A B. ( a ) ( b )

Fungsi dan Grafik Diferensial dan Integral

FUNGSI Matematika Industri I

Sistem Bilangan Kompleks (Bagian Kedua)

BAB VI. FUNGSI TRANSENDEN

MATEMATIKA TEKNIK 1 3 SKS TEKNIK ELEKTRO UDINUS

FUNGSI LOGARITMA ASLI

Bab 16. LIMIT dan TURUNAN. Motivasi. Limit Fungsi. Fungsi Turunan. Matematika SMK, Bab 16: Limit dan Turunan 1/35

Fungsi F disebut anti turunan (integral tak tentu) dari fungsi f pada himpunan D jika. F (x) = f(x) dx dan f (x) dinamakan integran.

Fungsi Gamma. Pengantar Matematika Teknik Kimia. Muthia Elma

Fungsi dan Grafik Diferensial dan Integral

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aljabar dapat didefinisikan sebagai manipulasi dari simbol-simbol. Secara

Fungsi Analitik (Bagian Kedua)

BAB I DERIVATIF (TURUNAN)

MODUL 1. Teori Bilangan MATERI PENYEGARAN KALKULUS

Matematika Dasar FUNGSI DAN GRAFIK

Fungsi Analitik (Bagian Ketiga)

Bab1. Sistem Bilangan

BAB I BILANGAN KOMPLEKS

TURUNAN FUNGSI (DIFERENSIAL)

digunakan untuk menyelesaikan integral seperti 3

MODUL ANALISIS VARIABEL KOMPLEKS

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

BAB II KAJIAN TEORI. pada penulisan bab III. Materi yang diuraikan berisi tentang definisi, teorema, dan

FUNGSI LOGARITMA ASLI

Fungsi F disebut anti turunan (integral tak tentu) dari fungsi f pada himpunan D jika. F (x) = f(x) dx dan f (x) dinamakan integran.

ANALISA KOMPLEKS. 1. Bilangan Kompleks Bentuk umum bilangan kompleks yang digunakan pada persamaan (1) berikut. z = a + ib (1)

0. Pendahuluan. 0.1 Notasi dan istilah, bilangan kompleks

FUNGSI TRIGONOMETRIK

TEKNIK PENGINTEGRALAN

Bilangan Kompleks. Anwar Mutaqin. Program Studi Pendidikan Matematika UNTIRTA

ANALISIS AKIBAT INTEGRAL CAUCHY Ricky Antonius, Helmi, Yudhi INTISARI

Gambar 1. Gradien garis singgung grafik f

FUNGSI. Berdasarkan hubungan antara variabel bebas dan terikat, fungsi dibedakan dua: fungsi eksplisit dan fungsi implisit.

Fungsi dan Grafik Diferensial dan Integral

MATEMATIKA TEKNIK 1 3 SKS TEKNIK ELEKTRO UDINUS

MA3231 Analisis Real

KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL

FUNGSI dan LIMIT. 1.1 Fungsi dan Grafiknya

DERIVATIVE (continued)

Aturan dasar pengintegralan Integral fungsi rasional Integral parsial Integral trigonometri Substitusi yang merasionalkan Strategi pengintegralan

KALKULUS 1 HADI SUTRISNO. Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan. Hadi Sutrisno/P.Matematika/STKIP PGRI Bangkalan

BAB IV DIFFERENSIASI

FUNGSI TRIGONOMETRI, FUNGSI EKSPONENSIAL, dan FUNGSI LOGARITMA

Matematika I: Turunan. Dadang Amir Hamzah. Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I / 61

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I

Pertemuan ke 8. GRAFIK FUNGSI Diketahui fungsi f. Himpunan {(x,y): y = f(x), x D f } disebut grafik fungsi f.

Hendra Gunawan. 4 September 2013

Pertemuan 1 dan 2 KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL

BAB I DERIVATIF (TURUNAN)

KALKULUS BAB II FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN. DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA Universitas Indonesia

INTISARI KALKULUS 2. Penyusun: Drs. Warsoma Djohan M.Si. Open Source. Not For Commercial Use

Ringkasan Materi Kuliah Bab II FUNGSI

DASAR-DASAR MATLAB. Seperti bahasa pemrograman lainnnya, MATLAB JUGA memiliki metode dan symbol tersendiri dalam penulisan syntax-nya.

Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan

Pembahasan Soal SIMAK UI 2012 SELEKSI MASUK UNIVERSITAS INDONESIA. Disertai TRIK SUPERKILAT dan LOGIKA PRAKTIS. Matematika IPA

: D C adalah fungsi kompleks dengan domain riil

SOAL DAN PEMBAHASAN TRIGONOMETRI SUDUT BERELASI KUADRAN I

FUNGSI DAN GRAFIK FUNGSI

Bab III. Integral Fungsi Kompleks

PENGARUH JUMLAH SUKU FOURIER PADA PENDEKATAN POLAR UNTUK SISTEM GEOMETRI KARTESIAN

Sistem Bilangan Kompleks

Definisi 4.1 Fungsi f dikatakan kontinu di titik a (continuous at a) jika dan hanya jika ketiga syarat berikut dipenuhi: (1) f(a) ada,

MODUL RESPONSI MAM 4222 KALKULUS IV

VARIABEL KOMPLEKS SUMANANG MUHTAR GOZALI KBK ALJABAR & ANALISIS

BAB II FUNGSI ANALITIK

BAB III KONDUKSI ALIRAN STEDI - DIMENSI BANYAK

BILANGAN KOMPLEKS. Dimana cara penyelesaiannya dengan menggunakan rumus abc, yang menghasilkan dua akar sekaligus ..(4)

MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world

Fourier Analysis & Its Applications in PDEs - Part I

4. Deret Fourier pada Interval Sebarang dan Aplikasi

Transkripsi:

Bab 3 Fungsi Elementer Bab 3 ini direncanakan akan disampaikan dalam 3 kali pertemuan, dengan perincian sebagai berikut: (1) Pertemuan I: Fungsi Eksponensial dan sifat-sifatnya, Fungsi Trigonometri. () Pertemuan II: Fungsi Hiperbolik, Fungsi logaritma, cabang-cabang fungsi logaritma dan sifat-sifatnya. (3) Pertemuan III: Pangkat Kompleks, Invers fungsi trigonometri dan fungsi hiperbolik. Di dalam bab ini akan dipelajari beberapa jenis fungsi elementer. Berangkat dari fungsi-fungsi elementer dengan variabel dan nilai real sebagaimana telah dipelajari di dalam mata kuliah kalkulus, akan didefinisikan fungsi-fungsi sejenis dengan variabel dan nilai kompleks, sehingga fungsi-fungsi real tersebut menjadi kejadian khususnya. Sebagai permulaan, terlebih dahulu akan didefinisikan fungsi eksponensial kompleks. Setelah itu, akan dikembangkan fungsi-fungsi lain dengan menggunakan fungsi eksponensial tersebut. 3.1 Fungsi Eksponensial Di dalam kalkulus, fungsi eksponensial mempunyai rumus f(x) = e x, x R (3.1) Oleh karena itu, sebagaimana telah diterangkan pada awal bab ini, fungsi eksponensial kompleks harus dapat direduksi menjadi rumus (3.1), yaitu apabila z = x + i.0, maka f(z) = e x, (3.) untuk setiap x R. Karena f(x) = e x analitik pada R dan d(ex ) = e x untuk dx setiap x R, maka fungsi eksponensial kompleks juga harus mempunyai sifat f merupakan fungsi utuh, dan f (z) = f(z), (3.3) 61

untuk setiap z C. Selanjutnya, akan ditentukan fungsi f(z) sehingga (3.) dan (3.3) dipenuhi. Misalkan fungsi yang dimaksud adalah f(z) = u(x, y)+iv(x, y). Karena (3.3), maka u x (x, y) = u(x, y) dan v x (x, y) = v(x, y) untuk setiap (x, y) R. Hal ini mengakibatkan adanya fungsi real g(y) dan h(y) sehingga u(x, y) = e x g(y) dan v(x, y) = e x h(y) (3.4) Sekali lagi, menurut (3.3) f fungsi utuh, artinya f analitik di setiap (x, y) R. Oleh karena itu, u dan v harmonik pada R. Jadi, untuk setiap (x, y) R berlaku persamaan differensial Laplace u xx + u yy = 0 dan v xx + v yy = 0 (3.5) Selanjutnya, dari (3.4) dan (3.5), diperoleh g (y) + g(y) = 0 dan h (y) + h(y) = 0 (3.6) Masing-masing persamaan diferensial di dalam (3.6) mempunyai penyelesaian g(y) = A 1 cos y + B 1 sin y dan h(y) = A cos y + B sin y Dengan demikian u(x, y) = e x (A 1 cos y + B 1 sin y) dan v(x, y) = e x (A cos y + B sin y) Karena di setiap (x, y) R, berlaku persamaan Cauchy-Riemann, maka B = A 1 dan A = B 1, sehingga f(z) = e x (A 1 cos y + B 1 sin y) + ie x (A cos y + B sin y) = e x (A 1 cos y + B 1 sin y) + ie x ( B 1 cos y + A 1 sin y) Untuk z = x, maka dari persamaan terakhir diperoleh e x = e x (A 1 ) + ie x ( B 1 ) A 1 = 1 dan B 1 = 0 6

Jadi, f(z) = e x (cos y + i sin y). Berdasarkan uraian di atas, selanjutnya dapat diturunkan definisi untuk fungsi eksponensial kompleks. Definisi 3.1.1 Untuk sebarang z C, didefinisikan e z = e x (cos y + i sin y) (3.7) Untuk diperhatikan, apabila z = iθ, maka persamaan (3.7) menjadi e iθ = cos θ + i sin θ, (3.8) Persamaan (3.8) disebut rumus Euler. Dengan demikian, setiap bilangan kompleks z 0 dapat pula dinyatakan ke dalam bentuk eksponensial z = re iθ, dengan r = z dan θ = arg z. Selanjutnya, berdasarkan keterangan pada Bagian 1.4, maka untuk sebarang θ 1, θ berlaku e iθ 1 e iθ = (cos θ 1 + i sin θ 1 )(cos θ + i sin θ ) Dengan cara yang sama, diperoleh pula = (cos(θ 1 + θ ) + i sin(θ 1 + θ ) = e i(θ 1+θ ) e iθ 1 e iθ = ei(θ 1 θ ) Dengan mengingat rumus Euler, maka (3.7) dapat pula ditulis sebagai sehingga e z = e x. Jadi, dari (3.9), diperoleh e z = e x e iy, (3.9) e z = e x dan arg(e z ) = y + kπ, k Z Karena e z = e x selalu positif, maka e z 0, 63

untuk setiap z C. Perhatikan bahwa berdasarkan (3.8), e iπ = 1. Jadi, berbeda dengan fungsi eksponential real yang selalu bernilai positif, maka fungsi eksponential kompleks bisa bernilai negatif ataupun kompleks. Berdasarkan (3.8) pula, e πi = 1, sehingga e z+πi = e z, untuk setiap z C. Jadi, fungsi eksponential merupakan fungsi periodik dengan periode πi. Sebagai contoh, dapat dibuktikan bahwa e +3πi = e Berdasarkan ekspresi (3.9) di atas, sifat-sifat eksponensial menjadi mudah untuk dipahami. Sifat 3.1. Untuk sebarang z, z 1, z C dan n Z, berlaku e z 1 e z = e z 1+z (3.10) e z 1 e z = e z 1 z (3.11) (e z ) n = e nz (3.1) Bukti: Misalkan z 1 = x 1 + iy 1 dan z = x + iy. Karena x 1, x, y 1, y R, maka e z 1 e z = e x 1 e iy 1 e x e iy = e x 1 e x e iy 1 e iy = e x 1+x e i(y 1+y ) = e z 1+z, dan e z 1 e = ex1 e iy1 z e x e iy = ex1 e iy 1 e x e = iy ex 1 x e i(y 1 y ) = e z 1 z Untuk persamaan (3.1), dimisalkan z = x + iy. Berdasarkan rumus Euler dan rumus de Moivre, maka untuk n Z, diperoleh (e z ) n = (e x ) n (e iy ) n = e nx e iny = e nz. Diberikan g(w) = ln r + iθ dengan w = re iθ. Berdasarkan persamaan (3.9), maka diperoleh e g(w) = w 64

Hal ini berarti bahwa g(w) = ln r + iθ merupakan invers dari f(z) = e z, dan sebaliknya. Contoh 3.1.3 Jika e z =, maka z = ln +i(n+1)π, karena = e i(n+1)π. Latihan 1. Tunjukkan f(z) = z ze z merupakan fungsi utuh.. Tentukan semua nilai z sehingga a. e z = 1 b. e z = 1 i 3 c. e 1 z = d. e z+ = 1 e z 3. Tunjukkan bahwa e z+i + e iz e x + e xy. 4. Tunjukkan e z = e z untuk setiap z C. 5. Tunjukkan bahwa f(z) = e z tidak analitik di mana-mana. 6. Selidiki kapan f(z) = e z analitik. 7. Tunjukkan (e z ) n = e nz untuk setiap n Z. 3. Fungsi Trigonometri Pada bagian sebelumnya telah diterangkan rumus Euler, yaitu e ix = cos x + i sin x untuk setiap x R. Selanjutnya, berdasarkan rumus Euler ini, berturut-turut diperoleh e ix e ix = i sin x dan e ix + e ix = cos x (3.13) 65

Berawal dari persamaan (3.13) di atas, maka fungsi sinus dan cosinus dengan perubah kompleks didefinisikan sebagai berikut sin z = eiz e iz, cos z = eiz + e iz i (3.14) Mudah ditunjukkan bahwa sin( z) = sin z dan cos( z) = cos z Dari (3.14) terlihat bahwa sin z dan cos z masing-masing merupakan kombinasi linear fungsi utuh e iz dan e iz. Oleh karena itu, mudah dipahami bahwa sin z dan cos z keduanya merupakan fungsi utuh. Dari (3.14) dapat pula ditunjukkan bahwa d(sin z) = cos z dan d(cos z) = sin z Dalam kalkulus telah dikenal fungsi sinus hiperbolikus dan cosinus hiperbolikus, yaitu sinh y = ey e y dan cosh y = ey + e y (3.15) untuk setiap y R. Berdasarkan hal ini dan persamaan (3.14), maka mudah ditunjukkan bahwa sin(iy) = i sinh y dan cos(iy) = cosh y (3.16) Dapat diperlihatkan bahwa identitas-identitas trigonometri juga berlaku untuk perubah kompleks. Untuk itu, terlebih dahulu akan ditunjukkan bahwa sin z 1 cos z = sin(z 1 + z ) + sin(z 1 z ) (3.17) Berdasarkan (3.14) dan sifat-sifat fungsi eksponensial, maka sin z 1 cos z = ( eiz 1 e iz 1 i )( eiz + e iz ) = ei(z 1+z ) e i(z 1+z ) + ei(z 1 z ) e i(z 1 z ) i i = sin(z 1 + z ) + sin(z 1 z ) 66

Selanjutnya, berdasarkan (3.17) dapat ditunjukkan rumus-rumus identitas berikut ini: sin(z 1 + z ) = sin z 1 cos z + cos z 1 sin z, (3.18) cos(z 1 + z ) = cos z 1 cos z sin z 1 sin z, (3.19) sin z + cos z = 1, (3.0) sin z = sin z cos z, cos z = cos z sin z, (3.1) sin(z + π ) = cos z, dan cos(z + π ) = sin z. (3.) Diberikan sebarang z = x + iy. z 1 = x dan z = iy, maka berdasarkan (3.16) diperoleh Apabila dalam (3.18) dan (3.19) diambil sin z = sin x cosh y + i cos x sinh y, dan (3.3) cos z = cos x cosh y i sin x sinh y. (3.4) Selanjutnya, mengingat sin x + cos x = 1 dan cosh x sinh x = 1 untuk setiap x R, maka dari (3.3) dan (3.4) dapat diturunkan identitas sin z = sin x + sinh y, dan cos z = cos x + sinh y. (3.5) Karena sinh y tidak terbatas, maka berdasarkan (3.5) sin z dan cos z juga tak terbatas. Jadi, berbeda dengan sinus dan cosinus perubah real, yang nilai mutlaknya tidak lebih dari 1, maka sinus dan cosinus perubah kompleks nilai mutlaknya bisa lebih dari 1. Contoh 3..1 Selesaikan sin z = i. Penyelesaian: Berdasarkan (3.3), sin z = i sin x cosh y + i cos x sinh y = i Selanjutnya, dengan menyamakan bagian real dan bagian imaginer kedua ruas persamaan di atas diperoleh sin x cosh y = 0 dan cos x sinh y = 67

Karena cosh y 0, maka dari sin x cosh y = 0, diperoleh sin x = 0. Akibatnya, x = kπ atau x = (k + 1)π (3.6) Jika x = kπ, maka cos x = 1. Sehingga, dari cos x sinh y =, diperoleh sinh y = ey e y = e y e y 1 = 0 (e y 1) = Selanjutnya, karena e y 1 0, maka e y 1 =, atau y = ln(1 + (3.7) Kemungkinan lain, yaitu apabila x = (k +1)π, maka cos x = 1. Akibatnya, dari cos x sinh y =, diperoleh sinh y = ey e y = e y + e y 1 = 0 (e y + 1) = Selanjutnya, karena e y + 1 > 0, maka e y + 1 =, atau y = ln( 1 + ) = ln(1 + ) (3.8) Dari 3.6, 3.7, dan 3.8, diperoleh z = kπ ± i ln(1 + ), k Z. Kiranya pembaca dengan mudah akan dapat menunjukkan bahwa sin z = 0 z = kπ, k Z dan cos z = 0 z = (k + 1 )π, k Z 68

Fungsi-fungsi trigonometri yang lain didefinisikan berdasarkan fungsi sinus dan cosinus, yaitu sebagai berikut: tan z = sin z cos z, sec z = cos z cot z = sin z 1 cos z, csc z = 1 sin z Mudah dipahami bahwa tan z dan sec z analitik kecuali di titik-titik di mana cos z = 0, yaitu z = (k + 1 π, k Z. Demikian pula, cot z dan csc z analitik kecuali di titik-titik z = kπ, k Z. Selanjutnya, dengan memperhatikan turunan sin z dan cos z, diperoleh d tan z = sec z, d cot z = csc z dan d sec z = sec z tan z, d csc z = csc z cot z Latihan 1. Selesaikan persamaan-persamaan di bawah ini. a. cos z = b. sin z = 1 c. cos z = cosh d. tan z =. Tunjukkan rumus-rumus identitas (3.18), (3.19), (3.0), (3.1), dan (3.). 3. Tunjukkan bahwa a. 1 + tan z = sec z b. 1 + cot z = csc z 4. Selidiki di mana f(z) = sin z analitik. 5. Tunjukkan u(x, y) harmonik, a. u(x, y) = sin x cosh y b. u(x, y) = cos x cosh y 69

Selanjutnya, tentukan v(x, y) agar f(z) = u(x, y) + iv(x, y) merupakan fungsi utuh. 6. Tunjukkan a. sinh y sin z cosh y b. sinh y cos z cosh y 3.3 Fungsi Hiperbolik Fungsi hiperbolik dengan variabel kompleks didefinisikan sejalan dengan fungsi hiperbolik dengan variabel real, yaitu sebagai berikut sinh z = ez e z dan cosh z = ez + e z Kedua fungsi tersebut di atas merupakan fungsi utuh (mengapa?) dan d sinh z = cosh z dan d cosh z = sinh z Selanjutnya, dengan memperhatikan definisi sin z dan cos z sebagaimana diberikan pada Bagian 3., maka diperoleh sinh(iz) = i sin z, cosh(iz) = cos z (3.9) sin(iz) = i sinh z, cos(iz) = cosh(iz) (3.30) Dengan menggunakan identitas-identitas pada 3.9 dan 3.30, mudah ditunjukkan rumus-rumus identitas sinh( z) = sinh z, cosh( z) = cosh z (3.31) cosh z sinh z = 1 (3.3) sinh(z 1 + z ) = sinh z 1 cosh z + cosh z 1 sinh z (3.33) cosh(z 1 + z ) = cosh z 1 cosh z + sinh z 1 sinh z (3.34) 70

dan apabila z = x + iy, maka berdasar 3.33 dan 3.34, diperoleh sinh z = sinh x cos y + i cosh x sin y (3.35) cosh z = cosh x cos y + i sinh x sin y (3.36) Akibatnya, sinh z = sinh x + sin y (3.37) cosh z = sinh x + cos y (3.38) Contoh 3.3.1 Tentukan semua akar-akar cosh z = i Penyelesaian: Dengan memperhatikan 3.36, cosh z = i cosh x cos y + i sinh x sin y = i sehingga diperoleh cosh x cos y = 0 dan sinh x sin y = 1 Dari cosh x cos y = 0, diperoleh cos y = 0. Hal ini dikarenakan cosh x 0. Akibatnya, y = π + kπ atau y = 3π + kπ (3.39) untuk k Z. Apabila y = π +kπ, maka sin y = 1. Sehingga dari sinh x sin y = 1, diperoleh sinh x = 1 ex e x = 1 e x e x 1 = 0 (e x 1) = Selanjutnya, karena e x 1 0, maka e x 1 = atau x = ln(1 + ) (3.40) 71

Apabila y = 3π + kπ, maka sin y = 1. Sehingga dari sinh x sin y = 1, diperoleh sinh x = 1 ex e x = 1 e x + e x 1 = 0 (e x + 1) = Selanjutnya, karena e x + 1 > 0, maka e x + 1 = atau x = ln(1 + ) (3.41) Selanjutnya, dari 3.39, 3.40, dan 3.41, diperoleh atau z = ln(1 + ) + i( π + kπ), z = ln(1 + ) + i( 3π + kπ), k Z k Z Cara lain untuk menyelesaikan persamaan cosh z = i adalah langsung menggunakan definisi. Lengkapnya adalah sebagai berikut. cosh z = i ez + e z = i e z ie z + 1 = 0 (e z i) = = cis(π) Selanjutnya, dengan memperhatikan akar kompleks, diperoleh atau e z i = cis( π + kπ ), k = 0, 1 e z = i + cis( π + kπ ), k = 0, 1 Selanjutnya, dengan memperhatikan uraian pada Bagian 3.1, diperoleh atau z = ln(1 + ) + i( π + kπ), z = ln(1 + ) + i( 3π + kπ), k Z k Z. 7

Fungsi-fungsi hiperbolik yang lain didefinisikan sebagai berikut. tanh z = sinh z cosh z, coth z = 1 tanh z sech z = 1 cosh z,, csch z = 1 sinh z Latihan 1. Tentukan d tanh z dan d coth z.. Tunjukkan rumus-rumus identitas 3.31, 3.3, 3.33, dan 3.34. 3. Bilangan c C disebut zeros dari f(z) jika f(c) = 0. Tentukan semua zeros dari sinh z dan cosh z. 4. Tentukan titik-titik singular dari tanh z. 5. Tentukan akar-akar dari a. cosh = 4 b. sinh z = i 6. Selidiki di himpunan mana f(z) = sinh(e z ). 3.4 Fungsi Logaritma Sebagaimana telah dijelaskan pada Bagian 3.1, untuk sebarang bilangan kompleks tak nol z = ρe iφ, π < φ π, persamaan e w = z mempunyai solusi w = ln ρ + i(φ + nπ), n Z Apabila logarirma kompleks log w didefinisikan sebagai log z = ln ρ + i(φ + nπ), n Z (3.4) 73

maka diperoleh e log z = z. Kenyataan ini memberikan inspirasi untuk pendefinisan fungsi logaritma kompleks. Untuk sebarang variabel tak nol z = ρe iφ, π < φ π, fungsi log z didefinisikan sebagai log z = ln ρ + i(φ + nπ), n Z (3.43) Nilai utama dari log z dicapai pada saat n = 0 dan ditulis dengan Log z. Jadi, Log z = ln ρ + iφ, π < φ π Contoh 3.4.1 Karena 1 = e i0, maka log 1 = ln 1 + i(0 + nπ), n Z sedangkan Log 1 = 0. Secara sama, dan Log( ) = ln + iπ. log( ) = ln + i(n + 1)π Untuk sebarang variabel kompleks tak nol z = re iθ, maka argumen z, yaitu θ, dapat dituliskan sebagai θ = Arg(z) + nπ, n Z. Selanjutnya, 3.43 dapat disajikan sebagai log z = ln r + iθ (3.44) atau log z = ln r + iargz (3.45) Karena arg(z) merupakan fungsi bernilai banyak, maka log z juga bernilai banyak. Selanjutnya, untuk sebarang α R diperhatikan salah satu nilai log z, yaitu log z = ln r + iθ, r > 0, α < θ α + π (3.46) 74

Bagian real dan imaginer dari log z adalah u(r, θ) = r dan v(r, θ) = θ (3.47) yang masing-masing kontinu pada α < θ < α + π. Selanjutnya, u r, u θ, v r, dan v θ ada dan kontinu pada α < θ < α + π dan pada domain tersebut berlaku persamaan Cauchy-Riemann u r = 1 r v θ dan u θ = rv r Jadi, f(z) analitik pada α < θ < α + π dan Khususnya dlogz f (z) = 1 re iθ = 1 z = 1 z, π < θ < π Gambar 3.1 Selanjutnya, diperhatikan fungsi log z sebagaimana diberikan pada persamaan (3.46) untuk z {re iα : r > 0}. Bagian imaginer dari log z tersebut, yaitu v(r, θ) = θ tidak kontinu di θ = α, sebab lim θ α v(r, θ) lim θ α + v(r, θ). Oleh karena itu, f tidak ada untuk setiap z {re iα : r > 0}. Jadi, fungsi log z sebagaimana diberikan pada persamaan (3.46) analitik kecuali untuk z {re iα : r > 0}. 75

Cabang suatu fungsi bernilai banyak f(z) adalah fungsi bernilai tunggal F (w) yang analitik pada suatu domain D dimana untuk setiap w D, F (w) merupakan salah satu nilai dari f(z). Fungsi F (w) disebut cabang utama dari f(z) jika F (w) cabang dari f(z) dan π < argw < π. Jadi, untuk sebarang bilangan real α, fungsi log z, log z = ln r + iθ, r > 0, α < θ < α + π, masing-masing merupakan cabang dari fungsi log z, z 0. Sedangkan Logz = ln r + iθ, π < θ < π adalah cabang utama dari log z. Selanjutnya, akan diteliti sifat-sifat dasar dari fungsi logaritma. sebarang z = x + iy, maka e z = e x.e iy Diberikan Selanjutnya, dengan memperhatikan (3.43), diperoleh log(e z ) = ln e x + i(y + nπ) = x + i(y + nπ) = z + (nπ)i, n Z Khususnya, Loge z = z dan Untuk sebarang z 1, z C, dengan mudah dapat ditunjukkan bahwa log(z 1 z ) = log z 1 + log z (3.48) log( z 1 z ) = log z 1 log z (3.49) Pembaca perlu berhati-hati dalam memahami makna persamaan (3.48) dan (3.49). Sebagaimana maksud arg(z 1 z ) = argz 1 + argz maka persamaan (3.48) harus dibaca atau diartikan bahwa sebarang nilai log(z 1 z ) sama dengan suatu nilai log z 1 ditambah suatu nilai log z. Persamaan (3.49) dibaca secara sama. 76

Contoh 3.4. Diberikan z 1 = z = 1, maka z 1 z = 1. Berturut-turut diperoleh log z 1 = log z = (n + 1)πi dan log z 1 z = nπi Selanjutnya, untuk sebarang n Z, nπi dapat dituliskan sebagai nπi = (k 1 + 1)πi + (k + 1)πi, (3.50) untuk suatu k 1, k Z. Ruas kiri pada (3.50) berarti sebarang nilai log z 1 z, sedangkan ruas kanan berarti suatu nilai log z 1 ditambah suatu nilai log z. Latihan 1. Hitunglah a. log(1 i) b. log( 1 + i 3) c. Log(1 + i) d. log(3 + i 3). Tentukan semua z sehingga log z = 1 πi. 3. Selidiki apakah log z = log z. Jelaskan jawaban Saudara. 4. Jika D sebarang domain yang tak memuat 0, tunjukkan u(x, y) = ln(x +y ) harmonik pada D. Selanjutnya, tentukan fungsi f(z) = u(x, y) + iv(x, y) yang analitik pada D. 5. Tentukan Re{log(z + 1)}. 3.5 Pangkat Kompleks Di dalam kalkulus telah dikenal bentuk pangkat x c, untuk sebarang c > 0 dan c 1. Selanjutnya, karena ln x c = c ln x, maka dapat dituliskan x c = e c ln x (3.51) Sejalan dengan persamaan (3.51), didefinisikan bentuk pangkat kompleks. Untuk sebarang z 0 dan untuk sebarang c C, didefinisikan z c = e c log z (3.5) 77

Contoh 3.5.1 Berdasarkan (3.5), berturut-turut diperoleh i = e log i = e (n+1)πi = 1 (1 i) i = e i log(1 i) = e i(ln +i(8n 1) π 4 ) = e (8n 1) π 4 +i ln Diberikan sebarang z = re iθ. Untuk sebarang α R, log z = ln r + iθ, r > 0, α < θ < α + π merupakan fungsi bernilai tunggal dan analitik pada domain yang diberikan, yaitu {z : r > 0, α < θ < α + π}. Selanjutnya, karena z c = e c log z maka menggunakan aturan rantai diperoleh c = ec log z. c z = czc 1 Diberikan sebarang bilangan kompleks tak nol c C. Sebagaimana (3.5), Contoh 3.5. Berdasarkan (3.53), Karena f(z) = e z c z = e z log c (3.53) z = e z log z(ln +nπi) = e g(z) = c z juga merupakan fungsi utuh dan merupakan fungsi utuh, maka mudah dipahami bahwa dc z = cz log c Latihan 1. Tunjukkan a. i (+i) = e (4n+1) π, n Z b. (1 i) i = e (8n 1) π 4 i ln, n Z 78

. Hitunglah a. (1 + i) i b. (1 i) (1 i) 3. Tentukan cabang utama dari z i. 4. Tunjukkan ( 1 + i 3) 1 = ± dengan cara. 5. Jika z 0 dan a R, tunjukkan bahwa untuk nilai utamanya berlaku z a = a a. 3.6 Invers Fungsi Trigonometri dan Invers Fungsi Hiperbolik Invers dari sin z ditulis dengan sin 1 z. Secara sama, cos 1 z, tan 1 z, cot 1 z, sec 1 z, dan csc 1 z berturut-turut menyatakan invers dari cos z, tan z, cot z, sec z, dan csc z. Misalkan sin 1 z = w, maka z = sin w = eiw e iw i (3.54) atau ekuivalen dengan Apabila (3.55) diselesaian untuk e iw, maka diperoleh (e iw ) ize iw 1 = 0 (3.55) e iw = iz + (1 z ) 1 atau w = i log{iz + (1 z ) 1 } (3.56) Jadi berdasarkan (3.56), sin 1 z = i log{iz + (1 z ) 1 } (3.57) 79

Contoh 3.6.1 Tentukan akar-akar dari sin z = i. Penyelesaian: Berdasarkan persamaan (3.57, z = i log{ii + (1 + 4) 1 } = i log{ ± 5} Karena log{ 5} = ln{ + 5} + i(n + 1)π dan log{ + 5} = ln{ + 5} + inπ = ln{ + 5} + inπ maka z = i{( 1) n+1 ln{ + 5} + inπ}, n Z. Selanjutnya, dengan cara yang sama mudah ditunjukkan bahwa cos 1 z = i log{z + i(1 z ) 1 } dan tan 1 z = i log i + z i z Turunan fungsi-fungsi sin 1 z, cos 1 z, dan tan 1 z diperoleh dengan mengingat turunan fungsi logaritma dan aturan rantai. d sin 1 z = 1 (1 z ) 1 d cos 1 z d tan 1 z = 1 (1 z ) 1 = 1 1 + z 80

Invers fungsi-fungsi hiperbolik dapat diperoleh sebagaimana invers fungsifungsi trigonometri. sinh 1 z = log{z + (z + 1) 1 } cosh 1 z = log{z + (z 1) 1 } tanh 1 z = 1 log 1 + z 1 z 81

Latihan 1. Selesaikan persamaan-persamaan berikut. a. cos z = i b. sinh z = c. tan z = 1 d. sin z = cos z. Turunkan rumus-rumus untuk cos 1 z, tan 1 z, sinh 1 z, cosh 1 z, dan tanh 1 z 3. Selesaikan cos(z + 1) = dengan cara. 8