BAB-7 TRANSFORMASI 2D

dokumen-dokumen yang mirip
Transformasi Geometri Sederhana. Farah Zakiyah Rahmanti 2014

Transformasi Geometri Sederhana

Pengertian. Transformasi geometric transformation. koordinat dari objek Transformasi dasar: Translasi Rotasi Penskalaan

Titik hasil transformasi dapat diperoleh melalui rumus affine transformation.

BAB V TRANSFORMASI 2D

Geometri, Koordinat Homogen, dan Transformasi Affine. Computer Graphics #03#04#05

Esther Wibowo

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

Transformasi Datum dan Koordinat

Grafika Komputer. Evangs Mailoa

STANDAR KOMPETENSI. 5. Menggunakan konsep matriks, vektor, dan transformasi dalam pemecahan masalah KOMPETENSI DASAR

Materi Aljabar Linear Lanjut

SOAL-SOAL LATIHAN TRANSFORMASI GEOMETRI UJIAN NASIONAL

Grafika Komputer. Evangs Mailoa

GRAFIKA GAME. Aditya Wikan Mahastama. Rangkuman Transformasi Dua Dimensi UNIV KRISTEN DUTA WACANA TEKNIK INFORMATIKA GENAP 1213

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

King s Learning Be Smart Without Limits

MATEMATIKA. Sesi TRANSFORMASI 2 CONTOH SOAL A. ROTASI

20. TRANSFORMASI. A. Translasi (Pergeseran) ; T = b. a y. a y. x atau. = b. = b

GEOMETRI. Transformasi & Analitik Ruang UNIVERSITAS HASANUDDIN. M Saleh AF. Geometri Transformasi Dan Analitik Ruang LKPP.

19. TRANSFORMASI A. Translasi (Pergeseran) B. Refleksi (Pencerminan) C. Rotasi (Perputaran)

SILABUS. Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu membangun sebuah simulator 3D dengan memanfaatkan metode-metode pada Pemrograman Grafis.

Komposisi Transformasi

Aljabar Linear. & Matriks. Evangs Mailoa. Pert. 7-8

BAB 21 TRANSFORMASI GEOMETRI 1. TRANSLASI ( PERGESERAN) Contoh : Latihan 1.

MODUL MATEMATIKA SMA IPA Kelas 11

Operasi Eliminasi Gauss. Eliminasi Gauss adalah suatu cara mengoperasikan nilai-nilai di dalam

LAPORAN RESMI PENGOLAHAN CITRA DIGITAL MODUL 1 Operasi Aritmatika dan Geometri

TRANSFORMASI GEOMETRI

LATIHAN ULANGAN BAB. INTEGRAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tegak, perlu diketahui tentang materi-materi sebagai berikut.

TELAAH MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH I TRANSFORMASI GEOMETRI

Bab 3 (3.1) Universitas Gadjah Mada

Simetri. Operasi Simetri 13/03/2015. Pertemuan ke-5 Kristalografi (Simetri: Simbol & Operasinya) Nurun Nayiroh, M.Si

1 Mengapa Perlu Belajar Geometri Daftar Pustaka... 1

MATRIKS DAN TRANSFORTASI I. MATRIKS II. TRANSFORMASI MATRIKS & TRANSFORMASI. a b. a b DETERMINAN. maka determinan matriks A.

Bagian 2 Matriks dan Determinan

MODUL MATEMATIKA WAJIB TRANSFORMASI KELAS XI SEMESTER 2

Grafika Komputer Pertemuan Ke-13. Pada materi ini kita akan mempelajari proyeksi 3D. By: I Gusti Ngurah Suryantara, S.Kom., M.Kom

1. TRANSLASI OPERASI GEOMETRIS 2. ROTASI TRANSLASI 02/04/2016

Rika Oktaviani

Interpretasi Geometri Dari Sebuah Determinan

Matematika IPA (MATEMATIKA TKD SAINTEK)

VEKTOR GAYA. Gambar 1. Perkalian dan pembagian vektor

7. Himpunan penyelesaian. 8. Jika log 2 = 0,301 dan log 3 = 10. Himpunan penyelesaian

GEOMETRI ANALITIK PERTEMUAN2: GARIS LURUS PADA BIDANG KOORDINAT. sofyan mahfudy-iain Mataram 1

Penerapan Transformasi Lanjar pada Proses Pengolahan Gambar

Operasi Geometri (2) Kartika Firdausy UAD blog.uad.ac.id/kartikaf. Teknik Pengolahan Citra

INDIKATOR 10 : Menyelesaikan masalah program linear 1. Pertidaksamaan yang memenuhi pada gambar di bawah ini adalah... Y

Drawing, Viewport, dan Transformasi. Pertemuan - 02

SILABUS. 1. Melakukan penggambaran titik dengan warna tertentu pada layar monitor.

III HASIL DAN PEMBAHASAN

Penerapan Pemodelan Matematika untuk Visualisasi 3D Perpustakaan Universitas Mercu Buana

ANALISIS STRUKTUR METODE MATRIX. Pertemuan ke-3 SISTEM RANGKA BATANG (PLANE TRUSS)

Modul ini adalah modul ke-7 dalam mata kuliah Matematika. Isi modul ini

Diferensial Vektor. (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Bab 2 Output Primitif

TRANSFORMASI LINIER (Kajian Fungsi antar Ruang Vektor)

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

BAB IV TRANSFORMASI LINEAR. sebuah vektor yang unik di dalam W dengan sebuah vektor di dalam V, maka kita mengatakan F

21. SOAL-SOAL TRANSFORMASI GOMETRI

DIKTAT MATEMATIKA II

Matematika EBTANAS Tahun 1991

SILABUS. Mengenal matriks persegi. Melakukan operasi aljabar atas dua matriks. Mengenal invers matriks persegi.

Pengantar Grafika 3D E D I T A N

Vektor. Vektor memiliki besaran dan arah. Beberapa besaran fisika yang dinyatakan dengan vektor seperti : perpindahan, kecepatan dan percepatan.

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

M A T R I K S 4. C. Penerapan Matriks pada Transformasi 11/21/2015. Peta Konsep. C. Penerapan Matriks pada Transformasi. (1) Pergeseran (Translasi)

TRANSFORMASI AFFIN PADA BIDANG

BESARAN VEKTOR. Gb. 1.1 Vektor dan vektor

PAKET 4 LATIHAN UJIAN NASIONAL SMA/MA TAHUN 2009 MATA PELAJARAN MATEMATIKA

A. Aras Komputasi. 1. Aras Titik. 1. Aras Titik. 1. Aras Titik. 1. Aras Titik 3/18/2017

ISTIYANTO.COM. memenuhi persamaan itu adalah B. 4 4 C. 4 1 PERBANDINGAN KISI-KISI UN 2009 DAN 2010 SMA IPA

Antiremed Kelas 12 Matematika

TRANSFORMASI. Bab. Di unduh dari : Bukupaket.com. Translasi Refleksi Rotasi Dilatasi A. KOMPETENSI DASAR DAN PENGALAMAN BELAJAR

Soal UN 2009 Materi KISI UN 2010 Prediksi UN 2010

Matematika Ujian Akhir Nasional Tahun 2004

KISI KISI LOMBA KOMPETENSI SISWA SMK TINGKAT PROVINSI JAWA TIMUR 2014

Matematika EBTANAS Tahun 1999

KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN MATEMATIKA PEMINATAN TP 2015 / 2016

SOAL: MATEMATIKA Kelas : XII Mipa

BAB 1 BESARAN VEKTOR. A. Representasi Besaran Vektor

OSN Guru Matematika SMA (Olimpiade Sains Nasional)

dimana a 1, a 2,, a n dan b adalah konstantakonstanta

SOAL DAN PEMBAHASAN REFLEKSI DAN DILATASI

SIMETRI BAHAN BELAJAR MANDIRI 3

2009 ACADEMY QU IDMATHCIREBON

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH TAHUN 2016

Perspective & Imaging Transformation

10 Grafik Sudut Deviasi Bangun Datar

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Computer Graphics PENGANTAR GRAFIKA 3D

PERSAMAAN GARIS LURUS

PR ONLINE MATA UJIAN: MATEMATIKA IPA (KODE: A05) Petunjuk A digunakan untuk menjawab soal nomor 1 sampai dengan nomor 40.

1. Akar-akar persamaan 2x² + px - q² = 0 adalah p dan q, p - q = 6. Nilai pq =... A. 6 B. -2 C. -4 Kunci : E Penyelesaian : D. -6 E.

Matematika EBTANAS Tahun 1986

SISTEM TRANSFORMASI LUKISAN OBJEK DUA DIMENSI DAN TIGA DIMENSI PADA GRAFIKA KOMPUTER DENGAN MENGGUNAKAN MATRIKS TRANSFORMASI

( ) 2. Nilai x yang memenuhi log 9. Jadi 4x 12 = 3 atau x = 3,75

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

STATIKA I. Reaksi Perletakan Struktur Statis Tertentu : Balok Sederhana dan Balok Majemuk/Gerbe ACEP HIDAYAT,ST,MT. Modul ke: Fakultas FTPD

Transkripsi:

BAB-7 TRANSFORMASI 2D Kita dapat melakukan transformasi terhadap objek, pada materi ini akan dibahas transformasi 2D yaitu translasi, skala, rotasi. By: I Gusti Ngurah Suryantara, S.Kom., M.Kom 7.1. PENDAHULUAN Transformasi merupakan suatu metode untuk mengubah lokasi suatu titik pembentuk objek, sehingga objek tersebut mengalami perubahan. Perubahan objek dengan mengubah koordinat dan ukuran suatu objek disebut dengan transformasi geometri. Pada materi kali ini kita akan membahas transformasi dasar, matriks transformasi, transformasi lain. 7.2. TRANSFORMASI DASAR Dalam transformasi dasar pada 2D yang akan kita bahas adalah: translasi, skala, dan rotasi. 7.2.1. Translasi Translasi berarti memindahkan objek sepanjang garis lurus dari suatu lokasi koordinat tertentu kelokasi yang lain tanpa mengubah bentuk objek. Bila suatu objek terbentuk dari beberapa titik maka bila melakukan translasi akan dikenakan terhadap setiap titik pembentuk objek tersebut. Untuk melakukan translasi dapat menggunakan rumus: x = x + t x y = y + t y atau dapat juga dilakukan dengan transofrmasi affine yang menggunakan matrik identitas yaitu: M = 1 0 0 1 Menjadi: (Q x, Q y ) = (P x + tr x, P y + tr y ) Setiap titik akan digeser sejauh tr x dalam sumbu x dan tr y dalam sumbu y. Contoh: Diketahui titik-titik pembentuk objek segitiga yaiu A(10,10), B(30,10), C(10,30) dengan transformasi vector (10,20) lakukan trnslasi terhadap objek segitiga tersebut: 89

Titik A x A = x A + t x y A = y A + t y = 10 + 10 = 10 + 20 = 20 = 30 A (20,30) Titik B x B = x B + t x y B = y B + t y = 30 + 10 = 10 + 10 = 40 = 20 B (40,20) Titik C x C = x C + t x y C = y C + t y = 10 + 10 = 30 + 20 = 20 = 50 C (20,50) Gambar 7.1. Translasi sebuah segitiga dari suatu posis ke posisi yang lain 7.2.2.Skala Skala digunakan untuk mengubah ukuran suatu objek, bila pada translasi operasi yang digunakan adalah penjumlahan sedangkan pada skala operasi yang digunakan adalah perkalian. Untuk melakukan skala dapat menggunakan rumus: x = x * t x y = y * t y 90

s x dan s y merupakan nilai dari scaling factor terhadap sumbu x dan sumbu y. Bila menggunakan transformasi affin matriknya adalah: S x 0 M = 0 S y Menjadi: (Q x, Q y ) = (P x * S x, P y * S y ) Contoh: Diketahui objek segitiga dengan titik A(10,10), B(30,10), C(10,30) di skala dengan scaling factor (3,2). Titik A x A = x A * t x y A = y A * t y = 10 * 3 = 10 * 2 = 30 = 20 A (30,20) Titik B x B = x B * t x y B = y B * t y = 30 * 3 = 10 * 2 = 90 = 20 B (90,20) Titik C x C = x C * t x y C = y C * t y = 10 * 3 = 30 * 2 = 30 = 60 C (30,60) Gambar Asal Gambar Hasil...? Gambar 7.2. Skala pada objek segitiga 91

7.2.3.Rotasi Rotasi merupakan pemutaran terhadap suatu objek, rotasi dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Nilai matriks untuk melakukan rotasi adalah: R = Cosө Sinө -Sinө Cosө Rotasi suatu titik terhadap pivot point (x p, y p ) menggunakan bentuk trigonometri, secara umum dapat ditulis sebagi berikut: = p + ( p) Cosө - (- p) Sinө = p + ( p) Sinө + ( p) Cosө Contoh: Diketahui titik-titik pembentuk objek segitiga yaiu A(10,10), B(30,10), C(10,30) dengan sudut rotasi 30 0 terhadap titik pusat koordinat cartesian (10,10). Jawab Titik A A = p + ( A p )Cos 30 0 ( A - P )Sin 30 0 = 10 + (10-10) * 0.9 (10-10) * 0.5 = 10 A = P + ( A P )Sin 30 0 + ( A P )Cos 30 0 = 10 + (10 10) * 0.5 + (10 10) * 0.9 = 10 A (10,10) Titik B B = p + ( A p )Cos 30 0 ( A - P )Sin 30 0 = 10 + (30-10) * 0.9 (10-10) * 0.5 = 28 B = P + ( A P )Sin 30 0 + ( A P )Cos 30 0 = 10 + (30 10) * 0.5 + (10 10) * 0.9 = 20 B (28,20) Titik C C = p + ( A p )Cos 30 0 ( A - P )Sin 30 0 = 10 + (10-10) * 0.9 (30-10) * 0.5 = 0 C = P + ( A P )Sin 30 0 + ( A P )Cos 30 0 = 10 + (10 10) * 0.5 + (30 10) * 0.9 = 28 C (0,28) 92

Gambar Asal Gambar Hasil...? Gambar 7.3. Rotasi objek segitiga dengan sudut rotasi 30 0 7.3. MATRIK TRANSFORMASI Dalam matrik transformasi ini kita akan membahas jenis transformasi homogenius dan komposit transformasi. 7.3.1. Transformasi Homogenius Transforamsi juga dapat dilakukan dengan menggunakan matrik transformasi yang menggabungkan translasi, skala dan rotasi kedalam satu model matrik yang disebut dengan transformasi homogenius. Keuntungan yang didapat dari transformasi homogenius adalah kita tidak perlu membuat prosedur yang khusus terhadap jenis transforamsi akan tetapi cukup dengan malakukan perkalian matrik. Matrik transformasi homogenius seperti berikut: Translasi: 1 0 Tr x M = 0 1 Tr y Skala: S x 0 0 M = 0 S y 0 Rotasi: Cosө -Sinө 0 M = Sinө Cosө 0 Transformasi dilakukan dengan cara: [ 1] = [ 1] * M 93

7.3.2. Komposit Transformasi Matrik Setiap sekuen dari transformasi dapat dibuat sebagai composite transformastion matrix dengan menghitung produk matrik transformasi masing-masing. Kolom menggambarkan posisi koordinat, composite transformation diperoleh dengan melakukan perkalian matrik dari kanan ke kiri. Translasi Bila dua transformasi vektor (t x1, t y1 ) dan (t x2, t y2 ) digunakan pada koordinat posisi P, maka lokasi trasformasi akhir P dapat diditung: P = T( t x2, t y2 ). T( t x1, t y1 ). P = T (t x2, t y2 ). T( t x1, t y1 ). P Dimana P dan P merupakan koordinat homogen vektor kolom, maka perhitungan perkalian kedua matrik dapat diperoleh. Composit transformation matrix untuk translasi adalah: 1 0 t x1 1 0 t x2 1 0 t x1 + t x2 0 1 t y1. 0 1 t y2 = 0 1 t y1 + t y2 Atau T(t x2, t y2 ). T(t x1, t y1 ) = T(t x1 + t x2, t y1 + t y2 ) Skala Bila dua faktor skala (S x1, S y1 ) dan (S x2, S y2 ) digunakan pada suatu objek, maka composite transformation matrix menjadi: S x1 0 0 S x1 0 0 S x1.s x2 0 0 0 S y2 0. 0 S y1 0 = 0 S y1.s y2 0 Atau S(S x2, S y2 ). S(S x1, S y1 ) = T(S x1 + S x2, S y1 + S y2 ) 94

Rotasi Bila rotasi terhadap titik P dilakukan dua kali dengan sudut ө 1 dan ө 2, maka koordinat titik P dapat diperoleh dengan: P = R(ө 2 ). R(ө 1 ). P = R(ө 2 ). R(ө 1 ).P Dengan melakukan kedua perkalian matrik rotasi, maka diperoleh bentuk tambahan: R(ө 2 ). R(ө 1 ) = R(ө 1 + ө 2 ) Sehingga koordinat rotasi terakhir diperoleh dengan: P = R(ө1+ ө2). P Skala Menurut Arah Tertentu Parameter S x dan S y digunakan untuk skala menurut arah sumbu x dan y. Skala dapat dilakukan menurut sumbu yang diputar yaitu S 1 dan S 2 seperti pada Gambar 4.4 dapat dilakukan dengan matrik. S 1 Cos 2 ө + S 2 Sin 2 ө (S 2 S 1 )Cosө Sinө 0 (S 2 S 1 )Cosө Sinө S 1 Sin 2 ө + S 2 Cos 2 ө 0 Contoh: Sebuah objek segiempat dengan titik A(0,0), B(2,0), C(2,2) dan D(0,2) diskala dengan parameter ө = 45 0, S 1 =1 dan S 2 =2. S 1 Cos 2 ө + S 2 Sin 2 ө (S 2 S 1 )Cosө Sinө 0 = (S 2 S 1 )Cosө Sinө S 1 Sin 2 ө + S 2 Cos 2 ө 0. 1 1 1. ½ + 2. ½ (2-1). ½ 0 = (2-1). ½ 1. ½ +2. ½ 0. 1 1½ ½ 0 = ½ 1½ 0. 1 = 1,5 * + ½ * = ½ * + 1,5 * 95

Titik A A = 1,5 * 0 + 0,5 * 0 = 0 A = 0,5 * 0 + 1,5 * 0 = 0 A (0,0) Titik B B = 1,5 * 0 + 0,5 * 0 = 3 B = 0,5 * 2 + 1,5 * 0 = 1 B (3,1) Titik C C = 1,5 * 2 + 0,5 * 2 = 4 C = 0,5 * 2 + 1,5 * 2 = 4 C (4,4) Titik D D = 1,5 * 0 + 0,5 * 2 = 1 D = 0,5 * 0 + 1,5 * 2 = 3 D (1,3) Gambar 7.4. Objek segiempat yang dikenaka sekala menurut arah tertentu 96

7.4. TRANSFORMASI LAIN Selain transforamsi dasar yang sudah kita bahas, bentuk tansformasi lain adalah refleksi (pencerminan) dan Shear. 7.4.1. Refleksi Refleks adalah transformasi yang membuat mirror dari suatu objek. Sumbu refleksi dapat dipilih pada bidang xy. Refleksi terhadap garis y=0, yaitu sumbu x dapat dinyatakan dengan matrik. 1 0 0 0-1 0 Gambar 7.5 memperlihatkan refleksi terhadap sumbu x. C Objek asli A B 0 A B Setelah direfleksi C Gambar 7.5 Refleksi terhadap sumbu x Refleksi terhadap sumbu y membalikkan koordinat dengan nilai y tetap. Matrik transformasi dapat dinyatakan dengan: -1 0 0 0 1 0 Gambar 7.6 menunjukkan suatu objek yang direfleksi terhadap sumbu y atau garis x=0. Setelah direfleksi C C Objek asli B A A B 0 Gambar 7.6 Refleksi terhadap sumbu y 97

Refleksi terhadap sumbu x dan y sekaligus dilakukan dengan pertama-tama direfleksi terhadap sumbu x. Hasilnya kemudian direfleksi terhadap sumbu y, hal ini sama dengan memutar objek 180 0. Transformasi ini dapat dinyatakan dalam bentuk matrik: -1 0 0 0-1 0 0 B A Objek setelah direfleksi C C A Objek asli B Gambar 7.7 Refleksi terhadap axis x dan y Refleksi suatu objek terhadap garis y = x seperti pada Gambar 7.8 dapat dilakukan dalam bentuk matriks sebagai berikut: 0 1 0 1 0 0 B = Objek setelah direfleksi A C 0 C A Objek asli B Gambar 7.8 Refleksiterhadap garis y = x 98

Refleksi suatu objek terhadap garis y = -x seperti pada gambar 4.9 dapat dinyatakan dalam bentuk matriks sebagai berikut: 0-1 0-1 0 0 = - C A Objek asli B B A Objek setelah direfleksi C 0 Gambar 7.9 Refleksiterhadap garis y = x 7.4.2. Shear Shear merupakan bentuk transformasi yang membuat distorsi dari bentuk suatu objek. Seperti menggeser sisi tertentu. Dua shear yang umum adalah shear menurut sumbu x, dan shear terhadap sumbu y. Matriks transformasi shear terhadap sumbu x: Dengan koordinat transformasi = + sh x., = 1 sh x 0 0 1 0 D(0,1) C(1,1) D (2,1) C (3,1 ) A(0,0) B(1,0) A (0,0) B (1,0) Gambar 7.10 Shear terhadap sumbu x dengan nilai sh x =2 99

Paramter shx dapat dinyatakan dengan sembarang nilai, posisi koordinat digeser menurut arah horisontal. Pada Gambar 7.10 nilai shx adalah 2. Shear juga dapat dilakukan menurut garis tertentu yang sejajar dengan sumbu x dengan bentuk matrik: 1 sh x -sh x. y ref 0 1 0 Dengan posisi koordinat transformasi = x + sh x (y y ref ), = Gambar 8.11 merupakan contoh shear dengan paramter shear shx = ½ dan y ref = -1. D(0,1) C(1,1) D (1,1) C (2,1) A(0,0) B(1,0) A (½,0) B (3/2,0) ref = -1 ref = -1 Gambar 7.11 Shear dengan shx = ½ dan yref = -1 Shear suatu objek yang dilakukan terhadap sumbu y menggunakan matrik trasnformasi: 1 0 0 Sh y 1 0 Dengan koordinat transformasi =, = sh y. + Parameter sh y dapat dinyatakan dengan sembarang bilangan. Posisi koordinat kemudian digeser menurut arah vertikal. Contoh pada Gambar 7.12 menunjukkan shear dengan memberikan nilai sh y dengan 2. 100

C (1,3) D(0,1) C(1,1) D (0,1) B (1,2) A(0,0) B(1,0) A (0,0) Gambar 7.12 Shear menurut arah sumbu y Shear juga dapat dilakukan terhadap garis tertentu yang sejajar dengan sumbu y dengan bentuk martrik sebagai berikut: 1 0 0 Sh y 1 -sh y. x ref Dengan posisi koordinat transformasi =, = sh y ( ref ) + Gambar 8.13 memperlihatkan shear dengan paramter shear ½ terhadap garis ref = -1 C (1,2) D (0,3/2) D(0,1) C(1,1) B (1,1) A (0, ½) ref = -1 0 A(0,0) B(1,0) ref = -1 0 Gambar 7.13 Shear mnurut garis x=-1 101

7.6. LATIHAN 1. Diketahui objek segiempat dengan titik A(10,10), B(10,20), C(20,20) dan D(20,10) lakukan tranaslasi terhadap obje tersebut, bila nilai translation factor (20,45). 2. Deiketahui objek segiempat dengan titik A(10,10), B(10,20), C(20,20) dan D(20,10) dilakukan skala dengan scaling factor (2,3). 3. Diketahui objek segiempat dengan titik A(10,10), B(10,20), C(20,20) dan D(20,10) dirotasi dengan sudut rotasi 45 0 terhadap titik pusat koordinat cartesian (10,10). 7.7. MATERI PRAKTIKUM 1. Butalah program untuk melakukan transformasi dasar (translasi, skala, rotasi) pada suatu objek. 2. Buatlah program untuk pencerminan. 3. Buatlah program untuk shear. 102