F U N G S I. A. Variabel

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "F U N G S I. A. Variabel"

Transkripsi

1 F U N G S I Pemahaman akan konsep fungsi sangat penting dalam mempelajari disiplin ilmu ekonomi, mengingat telaah-telaah ekonomi banyak dinyatakan dengan matematika dan biasanya dapat dinyatakan dalam bentuk fungsi. Misalnya : fungsi permintaan, fungsi penawaran, fungsi produksi, fungsi konsumsi dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan fungsi adalah bentuk hubungan matematis yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Apabila dilihat banyak sedikitnya variabel maka fungsi itu dapat dinyatakan dalam beberapa kemungkinan yaitu : y = f (x) apabila fungsi hanya mempunyai dua variabel : x dan y saja y = f (x 1 ;x 2 ) apabila fungsi mempunyai tiga variabel : x 1, x 2 dan y y = f (x 1 ;x 2...x n ) apabila fungsi mempunyai banyak variabel Kalau kita membicarakan masalah fungsi maka paling tidak ada tiga macam unsur yang perlu diketahui, yaitu : variabel, bilangan konstan dan koefisien. A. Variabel Yang dimaksud dengan variabel adalah suatu besaran yang sifatnya tidak tetap dan masing-masing variabel biasanya saling mempengaruhi. Variabel juga dapat diartikan sebagai konsep yang dapat diamati dan diukur, misalnya : motivasi, prestasi belajar, sikap dan sebagainya. Tanda atau notasi dari variabel biasanya dituliskan dengan : x, y dan z. Pada dasarnya variabel dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : variabel kuantitatif dan variabel kualitatif. Variabel kuantitatif adalah yang sifatnya berubah-ubah dan nilainya dapat diukur. Secara sederhana variabel kuantitatif juga dapat diartikan sebagai variabel yang berbentuk angka (numerik), misalnya : berat dalam satuan kg., jarak dalam satuan meter, harga dalam satuan Rupiah dan sebagainya. Sedangkan variabel kualitatif adalah variabel yang sifatnya tidak tetap dan nilainya dapat diukur atau variabel yang berbentuk bukan angka (pernyataan) misalnya : rasa, kepuasan, selera, kesenangan dan lain-lain. Variabel kuantitatif juga dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : variabel kuantitatif kontinue dan variabel kuantitatif deskrit. Jayadi, STIE IPWIJA Page 1

2 Yang dimaksud dengan variabel kuantitatif kontinue adalah variabel kuantitatif yang dapat diukur sampai dengan sekecil-kecilnya bahkan sampai dengan bilangan pecahan. Misalnya : satuan berat (kg), satuan panjang (meter) satuan waktu (menit), satuan volume (m 3 ) dan lain sebagainya. Variabel jenis ini merupakan hasil dari pengukuran dengan menggunakan alat ukur tertentu, sehingga kemungkinan besar akan dihasilkan bilangan pecahan atau desimal. Yang dimaksud dengan variabel kuantitatif deskrit adalah variabel kuantitatif yang hanya dapat diukur dengan bilangan-bilangan bulat, dan paling kecil adalah satu dan tidak dapat dinyatakan dengan bilangan pecahan. Contoh : satuan barang, satuan orang, satuan ternak dan sebagainya. Variabel jenis ini merupakan hasil dari penghitungan, makanya akan dihasilkan bilangan paling kecil adalah satu. Berdasarkan kedudukan atau sifatnya dalam suatu fungsi variabel juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah variabel yang nilainya tidak terpengaruh oleh variabel lain, oleh karena itu variabel independen ini dapat juga disebut variabel bebas. Biasanya menggunakan notasi atau lambang X Variabel dependen adalah variabel yang nilainya berubah-ubah dan tergantung oleh variabel lain, oleh karena itu variabel dependen ini dapat disebut variabel tidak bebas = variabel tergantung = variabel terikat. Biasanya variabel dependen dituliskan dengan lambang Y. B. Bilangan Konstan Yang dimaksud dengan bilangan konstan adalah bilangan yang nilainya tidak berubah (tetap). Setiap fungsi tidak harus mempunyai bilangan konstan. Ada tidaknya bilangan konstan tergantung masalahnya, apakah permasalahan itu terdapat masalah yang nilainya tetap, seperti biaya tetap, harga tetap dan lain sebagainya. Walaupun sebuah persamaan atau sebuah fungsi tidak mengandung bilangan konstan, tidaklah mengurangi arti dari sebuah fungsi itu sendiri. Bilangan konstan dapat dibedakan menjadi dua pengertian yaitu : bilangan konstan absolut dan bilangan konstan parametris. Bilangan konstan absolut adalah bilangan konstan yang nilainya tetap disetiap fungsi, biasanya digunakan notasi : 1,2,3,4 dan seterusnya. Jayadi, STIE IPWIJA Page 2

3 Contoh : y = 2x + 5 y = 0,5x + 5 Bilangan atau angka 5 inilah yang dimaksud bilangan konstan absolut. Bilangan konstan parametris adalah bilangan konstan yang nilainya berubah-ubah untuk setiap fungsi, biasanya digunakan notasi : a,b,c dan seterusnya. Contoh : 1. y = 2x + a 2. y = 0,5x + a Apabila y = 30 dan x = 10; maka a pada persamaan (1) sama dengan 10, sedangkan nilai a pada persamaan nomor (2) sama dengan 25. C. Koefisien variabel Koefisien atau koefisien garis adalah bilangan konstan yang terletak di depan independen dan menjadi satu kesatuan, misalnya angka 2 pada 2x (pada persamaan 1) dan angka 0,5 pada 0,5x (pada persamaan 2). Kebiasaan ini sering disebut koefisien arah, karena angka ini menunjukkan arah dari suatu fungsi. Artinya condong dan tegaknya fungsi itu dalam gambar ditentukan oleh koefisien arah tersebut. Arah suatu garis ditunjukkan oleh gradien yang didefinisikan sebagai tangens dari sudut yang dibentuk oleh garis tersebut dengan sumbu x. Koefisien garis tak lain adalah hasil bagi selisih antara dua ordinat (y 2 - y 1 ) terhadap selisih antara dua absis (x 2 - x 1 ) atau dapat dirumuskan: y 2 - y 1 x 2 - x 1 Contoh suatu fungsi : dimana : Y = -0,5X + 5 Y = variabel dependen X = variabel independen -0,5 = koefisien arah 5 = bilangan konstan. Jayadi, STIE IPWIJA Page 3

4 Gambar : Y 5 Y = -0,5X X Jayadi, STIE IPWIJA Page 4

5 FUNGSI LINIER Hubungan sebab akibat antara berbagai variabel ekonomi, misalnya antara permintaan dan harga, antara investasi dengan tingkat bunga dapat dinyatakan dan dijelaskan dalam bentuk fungsi. Diantara berbagai macam hubungan fungsional yang ada, hubungan linier merupakan bentuk yang paling dasar dan paling sering digunakan dalam analisis ekonomi. Bentuk umum fungsi linier : y = a + bx Contoh : Buktikan bahwa titik A (3,9) terletak pada garis y = 3 + 2x Untuk menyelesaikan persoalan ini ada dua cara yang dapat ditempuh, yaitu: 1. Dengan memasukkan titik koordinat tersebut kedalam persamaan, maka harus memenuhi persamaan tersebut. Jadi : y = 3 + 2x 9 = (3) 9 = 9 2. Dengan menggambarkan persamaan tersebut melalui grafik. Karena pada dasarnya setiap fungsi dapat disajikan secara grafik pada bidang sepasang sumbu silang (sistem koordinat). Sesuai dengan namanya fungsi linier akan menghasilkan sebuah garis lurus (kurva linier) Kalau kita gambarkan dengan grafik, persamaan; y = 3 + 0,2x adalah : x y y x Jayadi, STIE IPWIJA Page 5

6 Setiap garis lurus mempunyai arah. Arah suatu garis lurus ditunjukkan oleh curam garis atau koefisien garis (gradien) dan didefinisikan sebagai tangens dari sudut yang dibentuk oleh garis tersebut dengan sumbu x. b = tg (besar sudut antar ) Dalam kasus-kasus tertentu, garis dari sebuah persamaan linier dapat berupa garis horisontal sejajar sumbu x atau garis vertikal sejajar sumbu y. Hal ini terjadi apabila koefisien garisnya sama dengan nol, sehingga ruas kanan persamaan hanya tinggal sebuah konstanta yang melambangkan penggal garis tersebut. Untuk garis yang sejajar dengan sumbu x koefisiennya sama dengan 0 b = tg 0 0 = 0 Untuk garis yang sejajar dengan sumbu y koefisiennya sama dengan tak terhingga b = tg 90 0 = y x = c a y = a 0 c x Cara Membentuk Persamaan Linier Sebuah persamaan linier dapat dibentuk melalui beberapa macam cara : a. Jika diketahui dua buah titik A dan B dengan koordinat masing-masing (x 1,y 1 ) dan (x 2,y 2 ), maka persamaan liniernya : y - y 1 x - x 1 = y 2 - y 1 x 2 - x 1 Contoh : Diketahui titik A (2,3) dan titik B (6,5), maka persamaan liniernya adalah : y - y 1 x - x 1 y - 3 x - 2 = = y 2 - y 1 x 2 - x Jayadi, STIE IPWIJA Page 6

7 y - 3 x - 2 = 2 4 4y - 12 = 2x - 4 4y = 2x + 8 y = 2 + 0,5x b. Jika diketahui sebuah titik A dengan koordinat (x 1,y 1 ) dan koefisien garisnya (lereng garis) b, maka persamaan liniernya : y - y 1 = b(x - x 1 ) Contoh : Diketahui titik A (2,3) dan koefisien garisnya adalah 0,5, maka persamaam liniernya adalah : y - 3 = 0,5(x - 2) y - 3 = 0,5x - 1 y = 2 + 0,5x c. Jika diketahui penggal garis pada salah satu sumbu dan koefisien garis, maka persamaan liniernya adalah : y = a + bx Contoh : Diketahui penggal dan koefisien garis y = f(x) masing-masing adalah 2 dan 0,5, maka persamaan liniernya adalah : y = 2 + 0,5x d. Jika diketahui penggal garis masing-masing sumbu, yakni penggal sumbu vertikal (ketika x = 0) dan penggal sumbu horisontal (ketika y = 0), maka persamaan liniernya adalah : y = a (a/c).x dimana : a = penggal vertikal b = penggal horisontal Contoh : Diketahui penggal garis sebuah garis pada sumbu vertikal dan sumbu horisontal masing-masing 2 dan -4, maka persamaan liniernya : y = a - a/c.x y = 2-2/(-4).x y = 2 + 0,5x Jayadi, STIE IPWIJA Page 7

8 Hubungan Dua Buah Garis Lurus Dua buah garis lurus mempunyai empat kemungkinan bentuk hubungan, yaitu : berimpit, sejajar, berpotongan dan tegak lurus. a. Dua buah garis lurus akan berimpit, jika persamaan garis satu merupakan kelipatan dari persamaan yang lain. Garis y 1 = a 1 + b1x akan berimpit dengan garis y 2 = a 2 + b 2 x, jika : y 1 = ny 2 a 1 = na 2 b 1 = nb 2 b. Dua buah garis lurus akan sejajar apabila koefisien garis yang satu sama dengan koefisien garis yang lain. Garis y1 = a 1 + b 1 x akan sejajar dengan garis y 2 = a 2 + b 2 x, jika : b 1 = b 2 dan a 1 a 2 c. Dua buah garis lurus akan berpotongan apabila koefisien garis yang satu tidak sama dengan koefisien garis yang lain. Garis y 1 = a 1 + b 1 x akan berpotongan dengan garis y 2 = a 2 + b 2 x, jika : b 1 b 2 d. Dua buah garis lurus akan tegak lurus jika koefisien garis yang satu merupakan kebalikan dari koefisien garis yang lain dengan tanda yang berlawanan. Garis y1 = a 1 + b 1 x akan tegak lurus dengan garis y 2 = a 2 + b 2 x, jika : b 1 = - 1/b 2 atau b 1.b 2 = -1 Mencari Akar-Akar Persamaan Linier Mencari akar-akar persamaan maksudnya adalah menghitung besarnya nilai variabel-variabel didalam persamaan yang bersangkutan. Dengan kata lain menghitung harga dari bilangan tak diketahui dalam persamaan tersebut. Ada tiga cara untuk mencari akar-akar persamaan linier : a. Cara Substitusi b. Cara Eliminasi c. Cara Determinan Jayadi, STIE IPWIJA Page 8

9 a. Cara Substitusi Menyelesaikan dua persamaan dengan cara menyelesaikan terlebih dahulu sebuah persamaan yang satu, kemudian mensubstitusikan kedalam persamaan lain : Contoh : Carilah nilai variabel-variabel x dan y dari dua persamaan berikut : 2x+3y = 21 dan x + 4y = 23. Jawab : x + 4y = 23 x = 23-4y 2x + 3y = 21 2(23-4y) + 3y = y + 3y = y = 21-5y = -25 y = 5 Untuk menghitung harga x dengan jalan memasukkan harga y kedalam salah satu persamaan : 2x + 3y = 21 atau x + 4y = 23 2x + 15 = 21 x + 20 = 23 2x = 6 x = 3 x = 3 b. Cara Eliminasi Menyelesaikan dua persamaan dengan cara menghilangkan untuk sementara (mengeliminasi) salah satu dari variabel tertentu yang ada, sehingga dapat dihitung nilai dari variabel yang lain. Contoh : Carilah nilai variabel-variabel x dan y dari dua persamaan berikut : 2x+3y = 21 dan x + 4y = 23. Jawab : 2x + 3y = 21 x 1 2x + 3y = 21 x + 4y = 23 x 2 2x + 8y = y = -25 y = 5 masukkan nilai y = 5 ke salah satu persamaan, misalnya persamaan 2 : x + 4y = 23 x + 20 = 23 x = 3 Jayadi, STIE IPWIJA Page 9

10 c. Cara Determinan Determinan secara umum dilambangkan dengan notasi : a b dimana a,b,d dan e mencerminakan bilangan tertentu d e Sebuah determinan terdiri atas beberapa baris dan kolom. Prinsip pengerjaan determinan adalah dengan mengalikan unsur-unsur secara diagonal. a b = ae - db d e Andaikan kita menghadapi dua persamaan dengan dua bilangan : ax + by = c dx + ey = f Penyelesaian untuk x dan y dapat dilakukan sebagai berikut : x = D x / D dan y = D y / D D = a b = ae - db d e D x = c b = ce - fb f e D y = a c = af - dc d f Contoh : Carilah nilai variabel-variabel x dan y dari dua persamaan berikut : 2x + 3y = 21 dan x + 4y = 23 Jawab : D = 2 3 = 2(4) - 1(3) = D x = 21 3 = 21(4) - 23(3) = D y = 2 21 = 2(23) - 1(21) = x = D x / D = 15/5 = 3 y = D y / D = 25/5 = 5 Jayadi, STIE IPWIJA Page 10

11 Jika kita menghadapi tiga persamaan, misalnya : ax + by + cz = k dx + ey + fz = l gx + hy + iz = m maka nilai x, y dan z dapat dicari dengan rumus : x = D x / D y = D y / D z = D z / D a b c D = d e f = aei + bfg + cdh gec dbi - ahf g h i k b c D x = l e f = kei + bfm + clh mec lbi - khf m h i a k c D y = d l f = ali + kfg + cdm glc dki - amf g m i a b k D z = d e l = aem + blg + kdh gek dbm - ahl g h m Soal Latihan : 1. Bentuklah persamaan linier yang garisnya melalui pasangan titik-titik berikut : a. (-1,4) dan (1,0) c. (0,0) dan (1,5) b. (-1,-2) dan (-5,-2) d. (1,4) dan (2,3) 2. Bentuklah persamaan linier yang garisnya melalui titik (-1,3) dan mem-punyai koefisien arah atau lereng sebesar : a. -1 c. 5 b. 2 d Berapa koefisien dan penggal garis (pada sumbu y) dari persamaan berikut: a. y = -x c. y = x b. y = -3-4x d. y = 6 + 4x Jayadi, STIE IPWIJA Page 11

12 4. Hitunglah nilai-nilai x dan y dari persamaan 8x = 4 + 4y dan 2x + 3y - 21 = 0 dengan cara : a. Substitusi b. Eliminasi c. Determinan 5. Selesaikan determinan-determinan berikut : a) b) c) Jayadi, STIE IPWIJA Page 12

13 FUNGSI PERMINTAAN DAN PENAWARAN Fungsi Permintaan Fungsi permintaan adalah persamaan yang menghubungkan antara variabel harga dan variabel jumlah barang/jasa yang diminta. Bentuk umum persamaan fungsi permintaan adalah : Q = a bp dimana : Q = jumlah unit barang yang diminta P = harga barang tersebut per unit a = konstan b = parameter/koefisien ( b > 0) Gambar fungsi permintaan : P a/b Q = a - bp 0 a Q Hukum Permintaan : Bila harga suatu barang naik, maka jumlah barang yang diminta akan turun (berkurang); sebaliknya bila harga barang turun maka jumlah barang yang diminta akan naik (bertambah). Apabila hukum permintaan itu dipenuhi, maka fungsi permintaan mempunyai koefisien yang nilainya negatif. Jayadi, STIE IPWIJA Page 13

14 Contoh Soal : 1. Sepuluh jam tangan merk Alba akan terjual kalau harganya (dalam ribuan) Rp. 80,- dan 20 jam tangan akan terjual bila harganya Rp. 60,-. Tunjukkan bentuk fungsi permintaan dan gambarkan grafiknya. J a w a b : 1. Diketahui : Q 1 = 10 dan P 1 = 80 Q 2 = 20 dan P 2 = 60 Dengan menggunakan rumus : y - y 1 x - x 1 = dengan mengganti X menjadi Q y 2 - y 1 x 2 - x 1 Y menjadi P P - P 1 Q - Q 2 P - 80 Q - 10 = = P 2 - P 1 Q 2 - Q Grafik persamaan garisnya adalah : P 100 P - 80 Q - 10 = P = -20Q P + 20Q = 1000 P + 2Q = 100 2Q = P Q = 50-0,5P Q = 50 0,5P 0 50 Q Jayadi, STIE IPWIJA Page 14

15 Fungsi Penawaran Fungsi penawaran adalah persamaan yang menghubungkan antara variabel harga dan variabel jumlah barang/jasa yang ditawarkan. Bentuk umum persamaan fungsi penawaran adalah : Q = -a + bp Gambar fungsi penawaran : P Q = -a + bp a/b -a 0 Q Hukum Penawaran : Bila harga suatu barang naik, maka jumlah barang yang ditawarkan akan bertambah; sebaliknya bila harga barang turun maka jumlah barang yang ditawarkan akan berkurang. Apabila hukum penawaran itu dipenuhi, maka fungsi penawaran mempunyai koefisien yang nilainya positif, karena gerakan harga searah dengan gerakan jumlah. Contoh Soal : 1. Suatu jenis barang tertentu fungsi penawarannya ditunjukkan oleh persamaan Q = 3P - 2 a. Pada tingkat harga Rp. 5 berapakah jumlah barang yang ditawarkan? b. Jika produsen bersedia menawarkan sebanyak 10, berapakah harga per unit barang tersebut? c. Berapakah harga terendah yang produsen mau menjual barangnya? d. Gambarkan grafik dari fungsi tersebut! Jawab : 1. Diketahui fungsi persamaan Q = 3P - 2 a. Bila P = 5 maka Q = 13 b. Bila Q = 10 maka P = 4 Jayadi, STIE IPWIJA Page 15

16 c. Pada saat produsen tidak bersedia menjual barangnya berarti Q = 0, maka P = 2/3. Jadi harga terendah agar produsen mau menjual barangnya harus pada tingkat harga yang lebih tinggi dari 2/3. d. Grafik fungsi linier P Q = 3P - 2 2/3-2 0 Q Latihan Soal : 1. Jika harga kamera Ricoh adalah Rp. 65,- (dalam ribuan) maka ada 125 kamera yang tersedia dipasar. Kalau harganya Rp. 75,- (dalam ribuan) maka dipasar akan tersedia 145 kamera. Tunjukkan persamaan penawarannya dan gambarkan grafiknya! 2. Suatu fungsi permintaan ditunjukkan oleh persamaan Q = 25-5P a. Berapa jumlah yang diminta bila harga permintaannya Rp. 3,-? b. Misalkan jumlah yang diminta adalah 18 unit, berapakah tingkat harga yang berlaku? c. Kalau barang tersebut adalah barang bebas (tidak mempunyai harga), berapakah jumlah yang diperlukan konsumen? d. Berapakah harga tertinggi yang mau dibayar oleh konsumen? e. Gambar grafik fungsi permintaan tersebut! Jayadi, STIE IPWIJA Page 16

17 KESEIMBANGAN PASAR (EQUILIBRIUM) Keseimbangan pasar terjadi apabila jumlah barang yang diminta di pasar sama dengan jumlah barang yang ditawarkan. Pada keadaan keseimbangan baik penjual maupun pembeli sepakat untuk menjual/membeli sejumlah barang pada tingkat harga yang disepakati bersama. Secara umum, keseimbangan akan berarti jika nilai Q (jumlah) dan P (harga) yang diperoleh positif atau nol. Secara matematik keseimbangan pasar dapat ditunjukkan : Q d = Q s Q d = jumlah permintaan Q s = jumlah penawaran E = titik keseimbangan P e = harga keseimbangan Q e = jumlah keseimbangan Secara grafik keseimbangan dapat digambarkan : P Q s P e E Q d 0 Q e Q Jayadi, STIE IPWIJA Page 17

18 Contoh : Fungsi permintaan akan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan P = 15 - Q, sedangkan penawarannya P = 3 + 0,5Q. Berapa harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan yang tercipta di pasar? Penyelesaian : Permintaan : P = 15 - Q -----> Q = 15 - P Penawaran : P = 3 + 0,5Q -----> Q = P Keseimbangan pasar : Q d = Q s 15 - P = P 21 = 3P P = 7 Q = 15 - P Q = 15-7 Q = 8 Jadi keseimbangan tercapai pada tingkat harga 7 dan jumlah 8. Dengan demikian titik keseimbangannya E (8,7) Gambar grafiknya : P 15 Q s 7 E (8,7) 3 Q d Q Keseimbangan Kasus Dua Macam Barang : Permintaan akan komoditas barang X ditunjukkan oleh persamaan Q dx = 10-4P x + 2P y sedangkan penawarannya Q sx = P x. Sementara permintaan akan komoditas barang Y dtunjukkan oleh persamaan Q dy = 9-3P x + 4P x sedangkan penawarannya Q sy = P y Jayadi, STIE IPWIJA Page 18

19 Berapa harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan yang tercipta di pasar untuk masingmasing barang tersebut. Penyelesaian : Keseimbangan pasar komoditas barang X : Q dx = Q sx 10-4P x + 2P y = P x -10P x + 2P y = P x - 2P y = ) Keseimbangan pasar komoditas barang Y : Q dy = Q sy 9-3P y + 4P x = P y 4P x - 10P y = ) Dengan cara eliminasi 1) dan 2) : 10P x - 2P y = 16 x 5 50P x - 10P y = 80 4P x - 10P y = -12 x 1 4P x - 10P y = P x = 92 P x = 2 P x = 2 dimasukkan ke persamaan 1) atau 2) : 10P x - 2P y = 16 10(2) - 2P y = 16-2P y = -4 P y = 2 Selanjutnya Q x dan Q y dapat dihitung dengan memasukkan nilai P x dan Py kedalam persamaan permintaan atau persamaan penawaran masing-masing komoditas. P x = 2 dimasukkan kedalam fungsi penawaran komoditas barang X : Q x = P x Q x = (2) Q x = 6 P y = 2 dimasukkan kedalam fungsi penawaran komoditas barang Y : Q y = P y Q y = (2) Q y = 11 Jadi, P x equilibrium = 2 P y equilibrium = 2 Q x equilibrium = 6 Q y equilibrium = 11 Jayadi, STIE IPWIJA Page 19

20 Soal Latihan : 1. Fungsi permintaan pasar atas suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Q = 20-3P, sedangkan penawarannya Q = P a. Berapa harga dan jumlah keseimbangan yang terjadi di pasar b. Tunjukkan tingkat keseimbangan tersebut dalam gambar. 2. Bila fungsi permintaan untuk suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Q = 10-3P dan penawarannya Q = 2P - 1. a. Berapa harga dan jumlah keseimbangannya b. Buatlah gambar fungsi keseimbangan tersebut. Jayadi, STIE IPWIJA Page 20

21 PENGARUH PAJAK DAN SUBSIDI TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR Pengaruh Pajak Terhadap Keseimbangan Pasar Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan harga jual barang tersebut naik. Sebab setelah dikenakan pajak, produsen akan berusaha mengalihkan (sebagian) beban pajak tersebut kepada konsumen, yaitu dengan jalan menawarkan harga jual yang lebih tinggi. Akibatnya harga keseimbangan yang tercipta di pasar menjadi lebih tinggi daripada harga keseimbangan sebelum pajak, dilain pihak jumlah keseimbangannya menjadi lebih sedikit. Sebelum ada pajak persamaan penawarannya P = a + bq Setelah dikenakan pajak sebesar t atas setiap unit barang, maka persamaan penawarannya menjadi P = a + bq + t Misalnya : P = 6 + 0,5Q t = 4 P = 6 + 0,5Q + 4 P = ,5Q Apabila persamaan penawaran berbentuk Q = f(p), kita dapat memasukkan unsur pajak tersebut secara langsung, tanpa harus mengubah dulu fungsi penawaran yang berbentuk Q = f(p) menjadi bentuk P = f(q). Dalam hal ini rumusnya adalah : Q = 1/b(P - t) - a/b Misalnya : Q = 2P - 12 t = 4 Q = 2(P - 4) - 12 Q = 2P Q = 2P - 20 Contoh 1: Fungsi permintaan akan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan P = 15 - Q, sedangkan persamaan penawarannya P = 3 + 0,5Q. Terhadap barang tersebut dikenakan pajak sebesar 3 per unit. a. Berapa harga dan jumlah keseimbangan sebelum pajak dan sesudah pajak? b. Tunjukkan dengan grafik! Jayadi, STIE IPWIJA Page 21

22 Penyelesaian : a. Sebelum pajak : Permintaan : P = 15 - Q -----> Q = 15 - P Penawaran : P = 3 + 0,5Q -----> Q = P Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = P 21 = 3P P = 7 Q = 15 - P Q = 8 titik keseimbangan (8,7) Setelah pajak : Permintaan (tetap) : P = 15 - Q -----> Q = 15 - P Penawaran (berubah): P = 3 + 0,5P + 3 P = 6 + 0,5Q 0,5Q = -6 + P ----> Q = P Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = P 27 = 3P P = 9 Q = 15 - P Q = 6 titik keseimbangan baru (6,9) b. Grafiknya : P 15 Q s = sesudah pajak E 9 7 E 6 Q s = sebelum pajak 3 Q d Q Jayadi, STIE IPWIJA Page 22

23 Contoh 2: Fungsi permintaan dan penawaran akan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Q d = 15 - P dan Q s = 2P - 6 Pajak yang dikenakan Rp. 3,- per unit. Berapa harga dan jumlah keseimbangan sebelum dan sesudah pajak? Penyelesaian : Sebelum Pajak : Permintaan : Q d = 15 - P Penawaran : Q s = 2P - 6 Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = 2P - 6-3P = - 21 P = 7 Q = 15-7 Q = 8 titik keseimbangan (8,7) Sesudah Pajak : Permintaan (tetap) : Q d = 15 - P Penawaran (berubah): Q s = 2P - 6 Q s = 2 (P - 3) - 6 Q s = 2P Q s = 2P - 12 Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = 2P P = -27 P = 9 Q = 15-9 Q = 6 titik keseimbangan baru (6,9) Catatan : Dalam kenyataan konsumen tidak menanggung seluruh beban pajak. Ini berarti ada sebagian pajak yang masih harus ditanggung oleh produsen. Beban Pajak yang ditangung oleh konsumen adalah selisih antara harga keseimbangan setelah ada pajak dengan harga keseimbangan sebelum ada pajak. Jayadi, STIE IPWIJA Page 23

24 Beban pajak yang ditanggung oleh produsen adalah selisih antara besar pajak yang dikenakan dengan beban pajak yang ditanggung oleh konsumen. Besarnya pajak yang diterima pemerintah dapat dihitung dengan mengalikan jumlah unit barang yang dijual dengan besarnya pajak yang dikenakan untuk setiap unitnya. Sebagai Ilustrasi (Lihat Contoh 2) : Harga keseimbangan sebelum pajak : P 1 = 7 Jumlah keseimbangan sebelum pajak : Q 1 = 8 Dikenakan pajak sebesar t = 3, maka : Harga keseimbangan setelah pajak : P 2 = 9 Jumlah keseimbangan setelah pajak : Q 2 = 6 Beban pajak yang ditanggung oleh konsumen : P 2 - P 1 = 9-7 = 2 (67%) Beban pajak yang ditanggung oleh produsen : t - (P 2 - P 1 ) = 3-2 = 1 (33%) Pajak yang diterima oleh pemerintah adalah : t x Q 2 = 3 x 6 = 18 Pengaruh Pajak Proporsional Terhadap Keseimbangan Pasar Pajak proporsional adalah pajak yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari harga jual, bukan ditetapkan secara spesifik (misalnya Rp. 10,- per unit barang). Meskipun pengaruhnya serupa dengan pengaruh pajak spesifik, namun analisisnya sedikit berbeda. Jika persamaan penawaran semula adalah P = a + bq, maka dengan dikenakannya pajak proporsional sebesar t% dari harga jual, persamaan penawaran yang baru akan berbah menjadi P = [a / (1 t)] + [b / (1 t)]q. Andaikan kita memiliki data yang sama pada contoh 1, yakni permintaan P = 15 Q dan penawaran P = 3 + 0,5Q. Kemudian pemerintah mengenakan pajak sebesar 25% dari harga jual. Hitunglah harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan sebelum dan sesudah dikenakan pajak proporsional. Lihat kembali penyelesaian pada contoh 1, dimana harga keseimbangan sebelum pajak P = 7 dan jumlah keseimbangan sebelum pajak Q = 8. Setelah dikenakan pajak, persamaan penawarannya akan berubah, sementara permintaanya tetap. Penawaran sesudah pajak, dengan t = 25% atau 0,25, maka : P = 3 + 0,5Q = 0,25P 0,75P = 3 + 0,5Q 0,5Q = ,75Q ----> Q = ,5P Jayadi, STIE IPWIJA Page 24

25 Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = ,5P -2,5P = -21 P = 8,4 Q = 15 P Q = 15 8,4 Q = 6,6 Harga keseimbangan sebelum pajak : P 1 = 7 Jumlah keseimbangan sebelum pajak : Q 1 = 8 Dikenakan pajak proporsional sebesar t = 0,25, maka : Harga keseimbangan setelah pajak : P 2 = 8,4 Jumlah keseimbangan setelah pajak : Q 2 = 6,6 Jadi besar pajak yang dikenakan pemerintah setiap unit barang : t x P 2 = 0,25 x 8,4 = 2,1 Beban pajak yang ditanggung oleh konsumen : P 2 - P 1 = 8,4-6 = 1,4 (67%) Beban pajak yang ditanggung oleh produsen : t - (P 2 - P 1 ) = 2,1 1,4 = 0,7 (33%) Pajak yang diterima oleh pemerintah adalah : t x Q 2 = 2,1 x 6,6 = 13,86 Latihan Soal : 1. Penawaran sebuah barang dicerminkan oleh Q s = P, sedangkan permintaannya Q d = 11 - P. Pemerintah menetapkan pajak sebesar 3 setiap unit. a. Bagaimana harga dan keseimbangan sebelum dan sesudah pajak b. Gambarkan grafiknya. 2. Bila diketahui fungsi permintaan Q = 20-2P dan penawarannya adalah Q = P. a. Berapa harga dan jumlah keseimbangannya b. Bila besarnya pajak sebesar Rp. 2,- berapa harga dan jumlah keseimbangannya c. Berapa beban pajak yang ditanggung oleh konsumen dan produsen. d. Berapa penerimaan pemerintah dari pajak. Pengaruh Subsidi Terhadap Keseimbangan Pasar Subsidi merupakan kebalikan atau lawan dari pajak oleh karena itu subsidi sering juga disebut pajak negatif. Subsidi yang diberikan atas produksi/penjualan suatu barang menyebabkan harga jual barang tersebut menjadi lebih rendah. Dengan adanya subsidi, produsen merasa ongkos produksinya menjadi lebih kecil sehingga ia bersedia menjual barang lebih murah. Akibatnya harga keseimbangan yang tercipta dipasar lebih rendah daripada harga Jayadi, STIE IPWIJA Page 25

26 keseimbangan sebelum atau tanpa subsidi, dan jumlah keseimbangannya menjadi lebih banyak. Misalnya sebelum ada subsidi persamaan penawarannya P = a + bq Setelah diberikan subsidi sebesar s, maka persamaan penawarannya menjadi P = a + bq - s Misalnya : P = 6 + 0,5Q s = 4 P = 6 + 0,5Q - 4 P = 2 + 0,5Q Apabila persamaannya dalam bentuk Q = f(p) maka dapat langsung digunakan rumus Q = 1/b(P + s) - a/b Misalnya : Q = 2P - 12 s = 4 Q = 2(P + 4) - 12 Q = 2P Q = 2P - 4 Contoh : Fungsi permintaan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan P = 15 - Q sedangkan penawarannya P = 3 + 0,5Q. Pemerintah memberikan subsidi sebesar 1,5 setiap barang yang diproduksi. a. Berapa harga dan jumlah keseimbangan sebelum dan stetelah subsidi? b. Gambarkan grafiknya! c. Berapa besar subsidi yang dinikmati konsumen dan produsen? d. Berapa besar subsidi yang ditanggung pemerintah? Penyelesaian : a. Sebelum Subsidi : Permintaan : P = 15 - Q -----> Q = 15 - P Penawaran : P = 3 + 0,5Q -----> Q = P Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = P 21 = 3P P = 7 Q = 15-7 Q = 8 titik keseimbangan (8,7) Jayadi, STIE IPWIJA Page 26

27 Sesudah Subsidi : Permintaan (tetap) : P = 15 - Q -----> Q = 15 - P Penawaran (berubah): P = 3 + 0,5 Q - s P = 3 + 0,5Q - 1,5 P = 1,5 + 0,5 Q -----> Q = P Keseimbangan : Q d = Q s 15 - P = P -3P = -18 P = 6 Q = 15-6 Q = 9 titik keseimbangan baru (9,6) b. Grafiknya : P 15 E 7 6 E Q s = tanpa subsidi Q s = dengan subsidi 3 1,5 Q d Q Harga keseimbangan sebelum subsudi : P 1 = 7 Jumlah keseimbangan sebelum subsidi : Q 1 = 8 Harga keseimbangan setelah subsidi : P 2 = 6 Jumlah keseimbangan setelah subsidi : Q 2 = 9 Besarnya subsidi yang dinikmati oleh konsumen : P 1 P 2 = 7-6 = 1 (67%) Besarnya subsidi yang dinikmati oleh produsen : s - (P 1 P 2 ) = 1,5-1 = 0,5 (33%) Besarnya subsidi yang harus ditanggung pemerintah : s x Q 2 = 1,5 x 9 = 13,5 Jayadi, STIE IPWIJA Page 27

28 Latihan Soal : 1. Permintaan akan suatu komoditas dicerminkan oleh Q = 20-2P, sedangkan penawarannya Q = P. Pemerintah memberikan subsidi sebesar 2 atas setiap unit barang yang dijual. a. Bagaimana keseimbangan sebelum dan sesuah subsidi? b. Berapa bagian dari subsidi yang dinikmati konsumen dan berapa pula yang dinikmati produsen? 2. Bila ditentukan fungsi permintaan Q = 20-2P dan fungsi penawarannya Q = P. a. Berapa harga dan jumlah keseimbangannya? b. Bila pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp.2,- berapa harga dan jumlah keseimbangannya? c. Berapa bagian subsidi yang dinikmati konsumen dan berapa yang dinikmati produsen? d. Gambarkan grafiknya? Jayadi, STIE IPWIJA Page 28

29 FUNGSI BIAYA Konsep-konsep yang berhubungan dengan fungsi biaya : a. Biaya Tetap (FC=Fixed Cost) = k Adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada jumlah barang yang diproduksi/dihasilkan. Artinya berapapun unit barang yang dihasilkan biaya tetap senantiasa tidak berubah. Secara matematik biaya tetap merupakan sebuah konstanta, dan kurvanya berupa garis lurus sejajar dengan sumbu jumlah. b. Biaya Variabel (VC=Variable Cost) Adalah biaya yang besarnya tergantung pada jumlah barang yang dihasilkan. Artinya semakin banyak jumlah barang yang dihasilkan semakin besar pula biaya variabelnya. Secara matematik biaya variabel merupakan fungsi dari jumlah barang yang dihasilkan, kurvanya berupa sebuah garis lurus berlereng positif bermula dari titik pangkal c. Biaya Total (C=TC=Total Cost) Adalah biaya yang besarnya dengan menjumlahkan biaya tetap dengan biaya variabel C = FC + VC d. Biaya Marjinal (MC=Marginal Cost) Adalah biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit tambahan produk. MC = C/ Q e. Biaya Rata-Rata (AC=Average Cost) Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tiap unit produk atau keluaran, merupakan hasilbagi biaya total terhadap jumlah keluaran yang dihasilkan. AC = C/Q = AFC + AVC Biaya tetap rata-rata : AFC = FC/Q Biaya variabel rata-rata : AVC = VC/Q f. Penerimaan Total ( R=Revenue) Merupakan hasilkali jumlah barang yang terjual dengn harga jual per unit. R = Q x P Jayadi, STIE IPWIJA Page 29

30 Grafik fungsi biaya : C C = FC + VC VC k FC 0 Q Contoh 1 : Biaya tetap yang dikeluarkan oleh perusahaan sebesar Rp , sedangkan biaya variabelnya ditunjukkan oleh persamaan VC = 80 Q. a. Tunjukkan persamaan dan kurva biaya totalnya! b. Berapa biaya totalnya jika perusahaan memproduksi 600 unit barang? c. Bagaimana grafik fungsi biayanya? Penyelesaian : a. FC = VC = 80 Q C = FC + VC C = Q b. Jika Q = 600 C = C = c. Grafik fungsi biayanya : Jayadi, STIE IPWIJA Page 30

31 C C = Q VC = 80Q FC Q Contoh 2 : Harga jual produk yang dihasilkan sebuah perusahaan Rp. 450 per unit. a. Tunjukkan persamaan penerimaan total. b. Berapa besar penerimaannya bila terjual barang sebanyak 500 unit. Jawab : a. R = Q x P R = Q x 450 = 450Q b. Jika Q = 500 R = 450(500) = Jayadi, STIE IPWIJA Page 31

32 TITIK IMPAS (BREAK EVEN POINT, BEP) Konsep break event yaitu suatu konsep yang digunakan untuk menganalisis jumlah minimum produk yang harus dihasilkan atau terjual agar perusahaan tidak mengalami kerugian (impas). Penerimaan dan biaya merupakan variabel-variabel penting untuk mengetahui bisnis suatu perusahaan. Dengan diketahui penerimaan total ( R ) dan biaya total (C) dapat dianalisis apakah perusahaan mendapat keuntungan atau mengalami kerugian. Perusahaan untung jika Perusahaan rugi jika Perusahaan impas jika : 0 akan didapat R C atau R C = Positif : 0 akan didapat R C atau R C = Negatif : = 0 akan didapat R = C atau R C = Nol Secara grafik dapat ditunjukkan sebagai berikut : C,R R > 0 C Q = jumlah produk R = penerimaan total C = biaya total = 0 (BEP) = profit (= R - C) BEP = titik break even FC FC= biaya tetap < 0 0 Q Q Contoh 1 : Biaya total yang dikeluarkan perusahaan ditunjukkan persamaan C = Q dan penerimaan totalnya R = 200Q. a. Pada tingkat produksi berapa perusahaan pada posisi break event? b. Apa yang terjadi jika berproduksi sebanyak 300 unit? Jayadi, STIE IPWIJA Page 32

33 Jawab : a. = R - C b. Jika Q = 300, maka BEP : = 0 atau R = C R = 200(300) = Q = Q C = (300) = Q = = R - C Q = 200 = = Contoh 2 : 1. Biaya variabel rata-rata yang dikeluarkan produsen adalah 60% dari harga jual produknya, sedangkan biaya tetapnya Rp ,- Harga jual produk per unit Rp. 20,- a. Berapa jumlah produk yang dihasilkan agar produsen break event? b. Berap profitnya jika memproduksi 400 unit? Jawab : AVC = 60% x P = 60% x 20 = 12 FC = P = > VC = AVC x Q = 12 Q a.) R = P x Q = 20Q b). Jika Q = 400 C = FC + VC = Q = R C Syarat BEP -----> R = C = 20Q ( Q) Soal Latihan : 20Q = Q = 20(400) [ (400)] 8Q = = Q = 375 = Seorang pedagang memperoleh keuntungan sebesar Rp ,- dari menjual barang sebanyak 400 unit. Penerimaan totalnya sebesar Rp ,-, sedang biaya tetap total yang dibayarkan adalah Rp ,- b. Berapa rupiah harga per unit barang dagangannya? c. Tentukan fungsi Biaya Total dan Biaya Variabel Totalnya! d. Pada produksi berapa unit pedagang pada posisi break event? e. Berapa keuntungan/kerugiannya bila ia hanya menjual 200 unit? 2. Seorang produsen menjual produknya seharga Rp. 50,- per unit. Biaya variabel rata-rata setiap produk 40% dari harga jual. Biaya tetapnya Rp ,- a. Berapa unit produksi agar produsen break event? b. Berapa labanya jika produk yang terjual unit? c. Berapa unit produksi break event yang baru, jika harga julanya naik Rp. 75,-? d. Berapa labanya jika produk yang terjual unit? Jayadi, STIE IPWIJA Page 33

34 D E R E T Deret adalah rangkaian bilangan yang tersusun secara teratur dan memenuhi kaedah-kaedah tertentu. Pembagian Deret : A. Berdasarkan jumlah suku yang membentuknya : 1. Deret terbatas (berhingga) 2. Deret tak terbatas (tak Terhingga) B. Berdasarkan pola perubahan bilangan pada suku-sukunya : 1. Deret hitung 2. Deret ukur Deret Hitung Adalah deret yang perubahan suku-sukunya berdasarkan penjumlahan terhadap sebuah bilangan tertentu. Bilangan yang membedakan suku-suku dari deret hitung dinamakan pembeda Contoh : 1. 7, 12, 17, 22, 27, 32, (pembeda = 5) 2. 75, 70, 65, 60, 55, 50, (pembeda = -5) Suku ke-n dari Deret Hitung : Besarnya nilai suku tertentu (suku ke-n) dari sebuah deret hitung dapat dihitung dengan rumus S n = a + (n - 1)b Keterangan : a = suku pertama atau (S 1 ) b = pembeda n = indeks suku Berdasarkan contoh di atas hitunglah nilai suku ke-10 : 1). 7, 12, 17, 22, 27, 32 Diketahui : a = 7; b = 5; n = 10 S n = a + (n - 1)b S 10 = 7 + (10-1)5 = 52 Jayadi, STIE IPWIJA Page 34

35 2). 75, 70, 65, 60, 55, 50 Diketahui : a = 75; b = -5; n = 10 S n = a + (n - 1)b S 10 = 75 + (10-1)(-5) S 10 = 30 Jumlah n suku dari Deret Hitung : Jumlah sebuah deret hitung sampai dengan suku tertentu dapat dihitung dengan rumus n a. J n = S i i = 1 b. J n = n/2 2a + (n-1)b c. J n = n/2 (a + S n ) d. J n = na + n/2(n - 1)b Hitunglah jumlah deret hitung sampai dengan suku ke-10 : 1. 7, 12, 17, 22, 27, 32 J 10 = 10/2 2x7+(10-1)5 = 5 (14+45) = 295 J 10 = 10/2(7+52) = 5 (59) = 295 J 10 = 10x7 + 10/2(10-1)5 = = 295 Deret Ukur Adalah deret yang perubahan suku-sukunya berdasarkan perkalian terhadap sebuah bilangan tertentu. Bilangan yang membedakan suku-suku dari deret ukur dinamakan pengganda Contoh : 1). 5, 10, 20, 40, 80, 160 (pengganda = 2) 2). 512, 256, 128, 64, 32, 16 (pengganda = 0,5) Jayadi, STIE IPWIJA Page 35

36 Suku ke-n dari Deret Ukur : Besarnya nilai suku tertentu (suku ke-n) dari sebuah deret ukur dapat dihitung dengan rumus : S n = ap n-1 Keterangan : a = suku pertama p = pengganda n = indeks suku Hitunglah nilai suku ke 10 dan suku ke 15 dari deret ukur dalam contoh 1: 1). 5, 10, 20, 40, 80, 160 S 10 = 5( ) S 10 = 5 (2 9 ) = 5 (512) = 2560 S 15 = 5 (2 14 ) = 5 (16.384) = Jumlah n suku dari Deret Ukur : Jumlah sebuah deret ukur sampai dengan suku tertentu dapat dihitung dengan rumus : J n = a(p n - 1) jika : p > 1 p - 1 J n = a(1 - p n ) jika : p < p Hitunglah jumlah suku pertama sampai dengan suku ke 10 deret ukur dibawah ini : 1). 5, 10, 20, 40, 80, 160 2). 512, 256, 128, 64, 32, 16 a = 5 dan p = 2 a = 512 dan p = 0,5 J 10 = 5(2 10-1) J 10 = 512 (1-0,5 10 ) ,5 J 10 = 5 (1023) = J 10 = 512 (1023/1024) = ,5 Latihan Soal : 1. Dari sebuah deret hitung suku pertamanya 200 dan pembeda antar suku-sukunya 25, hitunglah : a. S 5 c. J 5 b. S 10 d. J 10 Jayadi, STIE IPWIJA Page 36

37 2. Hitunglah S 4, S 15 dan J 10 dari suatu deret hitung yang suku pertamanya 1000 dan pembeda antar sukunya Deret hitung X mempunyai nilai a = 180 dan b = -10, sedangkan deret hitung Y mempunyai nilai a = 45 dan b = 5. Pada suku keberapa kedua deret ini mempunyai nilai yang sama? 4. Dari sebuah deret ukur yang suku-sukunya 10, 30, 90, 270,..., hitunglah : a. S 6 d. J 6 b. S 10 e. J 10 c. S 15 f. J Apabila suku ke-3 dan suku ke-7 dari sebuah deret ukur masing-masing adalah 800 dan , berapa : a. Suku pertamanya (a) c. S 5 b. Penggandanya (p) d. J 5 6. Deret ukur X mempunyai nilai a = 512 dan p = 0,5, sedangkan deret ukur Y mempunyai nilai S 3 = 16 dan p = 4. Pada suku keberapa nilai suku-suku dari kedua deret ini sama? Jayadi, STIE IPWIJA Page 37

38 APLIKASI DERET DALAM BISNIS DAN BIDANG EKONOMI Prinsip-prinsip deret sering diterapkan dalam kasus-kasus di bidang Ekonomi dan Bisnis, misalnya : 1. Untuk penghitungan Perkembangan Usaha 2. Untuk penghitungan, Bunga Majemuk ----> Nilai Sekarang, Nilai Yang akan datang 3. Untuk Memperkirakan Pertumbuhan Penduduk Penerapan Deret Hitung Pada Perkembangan Usaha Jika perkembangan variabel-variabel tertentu dalam kegiatan usaha, misalnya produksi, biaya, pendapatan, penggunaan tenaga kerja berpola seperti deret hitung, maka prinsip-prisip deret dapat digunakan untuk menganalisis perkembangan variabel tersebut. Kasus 1. Suatu perusahaan genteng menghasilkan 5000 buah genteng pada bulan pertama produksinya. Perusahaan mampu menambah produksinya sebanyak 500 buah setiap bulan. a. Jika perkembangan produksinya konstan, berapa buah genteng yang dihasilkan pada bulan keenam? b. Berapa buah yang telah dihasilkan sampai dengan bulan tersebut? Penyelesaian : a = 5000 b = 500 n = 6 a. S n = a + (n - 1)b S 6 = (6-1)500 S 6 = = 7500 b. J n = n/2 (a + S n ) J 6 = 6/2 ( ) J 6 = 3 (12.500) = Jayadi, STIE IPWIJA Page 38

39 Kasus 2. Penerimaan PT. XYZ dari hasil penjualan barangnya Rp. 720 juta pada tahun kelima dan Rp. 980 juta pada tahun ketujuh. Apabila perkembangan penerimaan penjualan tersebut berpola seperti deret hitung, a. Berapa perkembangan penerimaannya per tahun? b. Berapa besar penerimaan pada tahun pertama? c. Pada tahun keberapa penerimaannya sebesar Rp. 460 juta? Penyelesaian : S 5 = 720 S 7 = 980 a. S 5 = a + (5-1)b 720 = a + 4b...1) S 7 = a + (7-1)b 980 = a + 6b...2) Dengan cara eliminasi persamaan 1 dan persamaan 2 : a + 4b = 720 a + 6b = b = -260 b = 130 Perkembangan penerimaan per tahun sebesar Rp. 130 juta b. a + 4b = 720 a + 4(130) = 720 a = = 200 Penerimaan pada tahun pertama sebesar Rp. 200 juta c. S n = a + (n - 1)b 460 = (n - 1) = n = 130n n = 3 Penerimaan sebesar Rp 460 juta diterima pada tahun ketiga. Jayadi, STIE IPWIJA Page 39

40 Penerapan Deret Ukur Pada Bunga Majemuk Model bunga majemuk merupakan penerapan deret ukur dalam kasus simpan pinjam dan kasus investasi. Dengan model ini dapat dihitung besarnya pengembalian kredit di masa datang (future value), maupun untuk mengukur nilai sekarang (present value) dari suatu investasi yang akan diterima di masa datang. Besarnya nilai (jumlah) di masa datang dapat dihitung dengan rumus : F n = P(1 + i) n F n = jumlah dimasa datang (jumlah ke-n) P = jumlah sekarang i = tingkat bunga per tahun (bunga dibayarkan sekali dalam setahun) n = jumlah tahun Apabila bunga dibayarkan lebih dari satu kali dalam setahun (misalnya m kali), maka jumlah di masa mendatang menjadi : F n = P(1 + i/m) mn m = frekuensi pembayaran bunga dalam setahun Catatan : Dalam dunia bisnis faktor 1 + i dan 1 + i/m dinamakan faktor bunga majemuk, yaitu suatu bilangan lebih besar dari satu yang dapat dipakai untuk menghitung jumlah di masa mendatang. Besarnya nilai sekarang dapat dihitung dengan menggunakan rumus : P = F / (1 + i) n P = F / (1 + i/m) mn Catatan : faktor 1/(1+i) n dan 1/(1+i/m) mn dinamakan faktor diskonto, atau discount factor, yaitu suatu bilangan lebih kecil dari satu yang dapat dipakai untuk menghitung nilai sekarang. Kasus 3. Seorang nasabah meminjam uang di bank sebesar Rp. 5 juta untuk jangka waktu 3 tahun, dengan tingkat bunga 2% per tahun. a. Berapa jumlah uang yang harus dikembalikan pada saat pelunasan? b. Seandainya bunga diperhitungkan tiap semester berapa jumlah yang harus dikembalikan? Jayadi, STIE IPWIJA Page 40

41 Penyelesaian : P = n = 3 i = 2% = 0,02 a. F n = P(1 + i) n F 3 = (1 + 0,02) 3 F 3 = (1,061208) = b. Jika bunga dibayarkan tiap semester, m = 2 F n = P(1 +i/m) mn F 3 = (1 + 0,01) 6 = (1,06152) = Kasus 4. Tabungan seorang mahasiswa akan menjadi sebesar Rp ,- tiga tahun yang akan datang. Jika tingkat bunga bank yang berlaku 10% per tahun, berapa tabungan mahasiswa tersebut pada saat sekarang? Penyelesaian : F = n = 3 i = 10% = 0,1 P = F / (1 + i) n P = / (1 +0,1) 3 P = / 1,33 P = Penerapan Deret Ukur Pada Pertumbuhan Penduduk Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi adalah penaksiran jumlah penduduk. Seperti yang dikatakan Malthus bahwa pertumbuhan penduduk dunia mengikuti pola deret ukur. Secara matematik untuk memperkirakan pertumbuhan penduduk dapat digunakan rumus : P t = P 1 R t-1 dimana R = 1 + r P t : jumlah pada tahun ke-t P 1 : jumlah pada tahun pertama r : persentase pertumbuhan per tahun t : indeks waktu (tahun) Jayadi, STIE IPWIJA Page 41

42 Kasus 5. Penduduk suatu kota berjumlah 1 juta jiwa pada tahun 1990, tingkat pertumbuhan 4% per tahun. a. Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut pada tahun 2005! b. Jika mulai tahun 2005 tingkat pertumbuhan menurun menjadi 2,5%, berapa jumlahnya 15 tahun kemudian? Penyelesaian : a. P 1 = r = 0,04 R = 1 + 0,04 = 1,04 Jumlah penduduk tahun 2005 : P 16 = (1,04) 15 P 16 = (1,800943) P 16 = b. P 1 = r = 0,025 R = 1 + 0,025 = 1,025 Jumlah penduduk 15 tahun kemudian : P 15 = (1,025) 14 P 15 = (1,412974) P 15 = Jayadi, STIE IPWIJA Page 42

43 DIFERENSIAL (TURUNAN) Notasi (Lambang) Diferensial Jika fungsi y = f(x), maka turunannya dapat dituliskan sebagai berikut : limit y = y = f (x) = y x = f x (x) = dy/dx = df(x)/dx x ---> 0 x Kaedah Diferensial 1. Diferensiasi Konstan Jika y = k ;dimana k adalah konstan, maka : dy/dx = 0 Contoh : y = 5 maka dy/dx = 0 y = -25 maka dy/dx = 0 y = 65 maka dy/dx = 0 2. Diferensiasi Fungsi Pangkat Jika y = x n ;dimana n adalah konstan, maka : dy/dx = nx n-1 Contoh : y = x 3 maka dy/dx = 3x 2 3. Diferensiasi Perkalian y = x 1/2 maka dy/dx = 1/2x -1/2 y = x -5 maka dy/dx = -5x -6 a. Diferensiasi Perkalian Konstan dengan Fungsi Jika y = kv ; dimana v = h(x), maka : dy/dx = k.dv/dx Contoh : y = 5x 3 maka dy/dx = 5(3x 2 ) = 15x 2 y = 5x maka dy/dx = 5 y = -2x -1 maka dy/dx = -2(-x -2 ) = 2x -2 b. Diferensiasi Perkalian Dua Fungsi Jika y = uv ; dimana u=g(x) dan v=h(x), maka : dy/dx = u.dv/dx + v.du/dx Contoh : y = (4x 2 )(x 3 ) maka dy/dx = (4x 2 )(3x 2 )+(x 3 )(8x) = 12x 4 +8x 4 =20x 4 y = x 2 (2x-1) maka dy/dx = x 2 (2) + (2x-1)(2x) = 2x 2 + 4x 2-2x = 6x 2-2x Jayadi, STIE IPWIJA Page 43

44 4. Diferensiasi Pembagian y = (x 2 +2)(x-3) maka dy/dx = (x 2 +2)(1) + (x-3)(2x) = x x 2-6x = 3x 2-6x +2 a. Diferensiasi Pembagian Konstan dengan Fungsi Jika y = k/v ;dimana v = h(x) maka : dy/dx = -k.dv/dx v 2 Contoh : y = 5/x 3 maka : dy/dx = -5(3x 2 ) = -15x 2 (x 3 ) 2 x 6 b. Diferensiasi Pembagian Fungsi dengan Fungsi Jika y =u/v ;dimana u = g(x) dan v = h(x), maka : dy/dx = v.du/dx - u.dv/dx v 2 Contoh : y = 4x 2 maka dy/dx = x 3 (8x) - 4x 2 (3x 2 ) = 8x 4-12x 4 = -4x 4 x 3 (x 3 ) 2 x 6 x 6 y = 2x - 1 maka dy/dx = x 2 (2) - (2x -1)(2x) = 2x 2-4x 2 + 2x x 2 (x 2 ) 2 x 4 5. Diferensiasi Penjumlahan (Pengurangan) Fungsi = 2x - 2x 2 Jika y = u + v atau y = u - v ; dimana u = g(x) dan v = h(x), maka : dy/dx = du/dx + dv/dx atau du/dx - dv/dx Contoh : y = 4x 2 + x 3 maka dy/dx = 8x + 3x 2 y = 2x + 3x 2 maka dy/dx = 2 + 6x y = x 3-3x 2 + 9x maka dy/dx = 3x 2-6x Diferensiasi Fungsi Berpangkat Jika y = u n ; dimana u = g(x) dan n adalah konstan, maka : dy/dx = nu n-1.du/dx atau y = nu n-1.u Contoh : y = (4x 3 + 5) 2 Misal : u = 4x maka : du/dx = 12x 2 dy/dx = 2(4x 3 + 5)( 12x 2 ) = 96x x 2 Jayadi, STIE IPWIJA Page 44 x 4

45 Latihan Soal : Tentukan turunan dari fungsi-fungsi di bawah ini : 1. y = 2x 3-4x 2 + 7x 5 2. y = 9-3x x y = (x 2-4)(2x - 6) 4. y = (3x 2 - x)(2 + x -1 ) 5. y = x 2-4 2x y = 4x -1/4-2x -1/2 + 10x 7. y = x 5-2x 4 +5x y = 3x(2x 3-5) 9. y = 2/x y = 5x 4 /x 3 Jayadi, STIE IPWIJA Page 45

46 TITIK EKSTRIM SUATU FUNGSI Titik ekstrim suatu fungsi ditentukan oleh turunan pertama dari fungsi tersebut, sedangkan turunan kedua berguna untuk mengetahui jenis titik ekstrim yang bersangkutan. Suatu fungsi mencapai titik ekstrim apabila : y = f (x) = dy/dx = 0 Jika y 0 maka titik ekstrimnya adalah titik maksimum (grafiknya terbuka ke bawah) Jika y > 0 maka titik ekstrimnya adalah titik minimum (grafiknya terbuka ke atas) Contoh : 1. y = -x 2 + 6x - 2 y = dy/dx = -2x + 6 y = -2 < 0 Karena y < 0 maka titik ekstrimya adalah titik maksimum Koordinat titik maksimum : Syarat titik maksimum : y = > -2x + 6 = 0-2x = -6 x = 3 untuk x = > y = -x 2 + 6x - 2 = -(3) 2 + 6(3) - 2 = = 7 Jadi koordinat titik maksimum (3,7) 2. y = x 2-4x + 8 y = dy/dx = 2x - 4 y = 2 > 0 Karena y > 0 maka titik ekstrimya adalah titik minimum Koordinat titik minimum: Syarat titik minimum : y = > 2x -4 = 0 2x = 4 x = 2 untuk x = > y = x 2-4x + 8 = (2) 2-4(2) + 8 = 12-8 = 4 Jadi koordinat titik minimum (2,4) Jayadi, STIE IPWIJA Page 46

47 Latihan Soal : Tentukan jenis titik ekstrim dan koordinat titik ekstrim fungsi berikut ini : 1. y = 0,5x 2-4x y = 3x 2-30x y = -4x x y = -5x x y = 1/3x 3-1/2x 2-6x Jayadi, STIE IPWIJA Page 47

48 APLIKASI DIFERENSIAL DALAM BIDANG EKONOMI 1. Elastisitas Suatu fungsi y = f(x) maka elastisitas y terhadap x merupakan rasio antara persentase perubahan y terhadap persentase perubahan x. E = % y = dy. x = y. x % x dx y y a. Elastisitas Permintaan Elastisitas permintaan adalah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga. Atau merupakan rasio antara persentase perubahan jumlah barang yang diminta terhadap persentase perubahan harga. Jika fungsi permintaan dinyatakan dengan Q d = f(p), maka elastisitas permintaannya : E d = % Q d = dq d. P = Q d. P % P dp Q d Q d Permintaan suatu barang dikatakan bersifat : elastik apabila E d > 1 inelastik apabila E d < 1 elastik uniter apabila E d = 1 Contoh 1: Fungsi permintaan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Q d = 25-3P 2. Tentukan elastisitas permintaannya pada tingkat harga P = 5. Jawab : Q d = 25-3P > Q d = dq d / dp = -6P E d = dq d. P = -6P. P = -6(5). 5 dp Q d 25-3P = -150 = 3 (elastik) -50 E d = 3 dapat diartikan bahwa dari kedudukan P = 5, jika harga barang naik (turun) sebesar 1% maka jumlah barang yang diminta akan berkurang (naik) sebanyak 3%. Jayadi, STIE IPWIJA Page 48

49 Contoh 2 : Permintaan akan suatu barang dicerminkan oleh Q d = 4 - P. Hitunglah elastisitas permintaannya pada tingkat harga P = 3 dan pada tingkat permintaan Q d = 3. Jawab : Q d = 4 - P -----> Q d = dq d / dp = -1 Pada P = 3, Q d = > E d = dq d. P = -1. 3/1 = -3 (elastik) dp Q d Pada Q d = 3, P = > E d = dq d. P = -1. 1/3 = -1/3 (inelastik) dp Q d Catatan : Dalam konsep elastisitas permintaan yang dipentingkan adalah besarnya hasil perhitungan, sedangkan tanda negatif dapat diabaikan, karena hal itu sekedar mencerminkan berlakunya hukum permintaan bahwa jumlah yang diminta bergerak berlawanan arah dengan harga. b. Elastisitas Penawaran Elastisitas penawaran adalah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang ditawarkan akibat adanya perubahan harga. Atau merupakan rasio antara persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan terhadap persentase perubahan harga. Jika fungsi penawaran dinyatakan dengan Q s = f(p), maka elastisitas penawarannya Es = % Q s = dq s. P = Q s. P % P dp Q s Q s Penawaran suatu barang dikatakan bersifat : elastik apabila E s > 1 inelastik apabila E s < 1 elastik uniter apabila E s = 1 Contoh : Fungsi penawaran suatu barang dicerminkan oleh Q s = P 2 Berapa elastisitas penawarannya pada tingkat P = 10 dan P = 15? Jayadi, STIE IPWIJA Page 49

50 Jawab : Q s = P > Q s= dq s / dp = 14P Pada P =10, -----> E s = dq s. P = 14P. P = = 2,8 (elastik) dp Q s P Pada P =15, -----> E s = dq s. P = 14P. P = = 2,3 (elastik) dp Q s P c. Elastisitas Produksi Elastisitas produksi adalah suatu koefisien yang menjelaskan bersarnya perubahan jumlah keluaran (output) yang dihasilkan akibat adanya perubahan masukan (input) yang digunakan. Atau merupakan rasio antara persentase perubahan jumlah keluaran terhadap persentase perubahan jumlah masukan. Jika fungsi produksi dinyatakan dengan P d = f(x)), maka elastisitas produksinya : E p = % P d = dp d. X dimana dp d /dx tak lain adalah turunan % X dx P d dari P d atau P d Contoh : Fungsi produksi suatu barang ditunjukkan oleh persamaan P d = 6X 2 - X 3. Hitunglah elastisitas produksinya pada tingkat penggunaan faktor produksi sebanyak 3 unit dan 7 unit. Jawab : P d = 6X 2 - X > P d = dp d /dx = 12X - 3X 2 E p = dp d /dx. X/P d = (12X - 3X 2 ). X (6X 2 - X 3 ) Pada X = > E p = (36-27). 3/(54-27) = 1 Pada X = > E p = (84-147). 7/( ) = 9 Latihan Soal : a. Permintaan suatu barang dicerminkan oleh fungsi Q d = 800-4P 2. Jelaskan bagaimana sifat permintaan akan barang tersebut pada tingkat harga P = 10 dan pada tingkat permintaan Q d = 224 unit b. Hitunglah elastisitas penawaran suatu barang pada tingkat harga P = 10 dan pada tingkat penawaran Q s = 193, jika fungsi penawarannya Q s = P 2. c. Fungsi produksi suatu barang dinyatakan dengan P d = 3X 2-2X 3. Hitunglah elastisitas produksinya pada tingkat penggunaan faktor produksi sebanyak 4 unit dan 10 unit. Jayadi, STIE IPWIJA Page 50

51 2. Biaya Marjinal ( Marginal Cost, MC) Biaya marjinal adalah biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit tambahan produk. Fungsi biaya marjinal merupakan turunan pertama dari fungsi biaya total. Jika fungsi biaya total dinyatakan dengan C = f(q), maka biaya marjinalanya : MC = C = dc / dq Biaya marjinal selalu mencapai titik ekstrim dalam keadaan titik minimum, jika : MC = 0 Contoh : Fungsi biaya total C = Q 3-3Q 2 + 4Q + 4 Berapa besar biaya total dan biaya marjinalnya? C = Q 3-3Q 2 + 4Q + 4 MC = C = 3Q 2-6Q + 4 MC = C = 6Q - 6 MC mimimum jika MC = 0 6Q - 6 = > Q = 1 Pada Q = > MC = 3(1) 2 + 6(1) + 4 = 1 C = 1 3-3(1) 2 + 4(1) + 4 = 6 3. Penerimaan Marjinal (Marginal Revenue, MR) Penerimaan marjinal ialah penerimaan tambahan yang diperoleh berkenaan bertambahnya satu unit keluaran yang diproduksi atau terjual. Fungsi penerimaan marjinal merupakan turunan pertama dari fungsi penerimaan total. Jika fungsi penerimaan toatal dinyatakan dengan R = f(q), maka penerimaan marjinalnya : MR = R = dr / dq Penerimaan marjinal selalu mencapai titik ekstrim, jika : MR = 0 Contoh : Fungsi permintaan suatu barang ditunjukkan oleh P = 16-2Q Hitung besar penerimaan totalnya. Jayadi, STIE IPWIJA Page 51

52 Jawab : R = P.Q = (16-2Q)Q = 16Q - 2Q 2 MR = R = 16-4Q Pada MR = > 16-4Q = 0 Q = 4 Jika Q = > P = 16-2(4) = 8 R = 16(4) - 2(4) 2 = = Keuntungan Maksimum Keuntungan maksimum atau nilai optimum dapat ditentukan dengan cara menetapkan turunan pertamanya sama dengan nol. Jika penerimaan total dinyatakan dengan R = r(q), sedangkan biaya total dinyatakan dengan C = r(q), maka : = R - C = r(q) - c(q) = f(q) maksimum jika = f (Q) = 0 Karena = R - C maka = R - C = MR - MC maksimum jika = > MR - MC = > MR = MC Selanjutnya untuk mengetahui keuntungan maksimum atau kerugian maksimum, perlu diuji melalui turunan kedua dari fungsi. Jika < > keuntungan maksimum Jika > > kerugian maksimum Contoh : Jika R = -2Q Q dan C = Q 3-59Q Q Hitung keuntungan maksimumnya. Jawab : = R - C = -2Q Q (Q 3-59Q Q ) = -2Q Q Q Q Q = -Q Q 2-315Q = -3Q Q -315 = -6Q Jayadi, STIE IPWIJA Page 52

53 Agar keuntungan maksimum : = 0-3Q Q -315 = 0 -Q Q = 0 (-Q + 3)(Q - 35) = 0, diperoleh Q 1 = 3 dan Q 2 = 35 Jika Q = > = -6(3) = 96 > 0 (rugi) Jika Q = > = -6(35) = -96 < 0 (untung) Jadi besarnya keuntungan maksimum ( ) = -(35) (35) 2-315(35) = = = Jayadi, STIE IPWIJA Page 53

54 KUMPULAN SOAL MATEMATIKA EKONOMI 1. Pabrik rokok Jarum menghasilkan sejuta bungkus rokok pada tahun pertama, dan 1,6 juta bungkus pada tahun ketujuh. Andaikata perkembangan produksinya konstan, a. Berapa tambahan produksinya setiap tahun? b. Berapa produksinya pada tahun kesebelas? c. Pada tahun keberapa produksinya 2,5 juta bungkus rokok? d. Berapa bungkus rokok yang telah dihasilkan sampai dengan tahun ke-enambelas? 2. Pabrik kecap National memproduksi botol kecap pada tahun keenam (ke-6) operasinya. Karena persaingan keras pabrik kecap merek lain, produksinya terus menurun secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi botol. a. Berapa botol penurunan produksinya per tahun? b. Pada tahun keberapa pabrik kecap National ini tidak berproduksi lagi (tutup)? c. Berapa botol kecap yang dihasilkan selama operasinya? 3. A meminjam uang lima juta rupiah pada B untuk jangka waktu dua tahun dengan bunga 15% per tahun. Berapa jumlah uang yang harus dibayarkan oleh A pada saat jatuh tempo, jika pembayaran bunganya dilakukan : a. Pada setiap akhir tahun b. Pada setiap akhir semester c. Mana yang lebih menguntungkan, bunga dibayarkan pada setiap akhir tahun ataukah pada setiap akhir semester? 4. Uang sebanyak Rp akan menjadi Rp apabila ditabung untuk jangka waktu 5 tahun. a. Berapa tingkat bunganya? b. Berapa jumlah uang tersebut seandainya ditabung selama sepuluh tahun? 5. Penduduk suatu negara tercatat 25 juta jiwa pada tahun Berapa penduknya pada tahun 2000 dan tahun 2010, jika tingkat pertumbuhannya 3% per tahun? 6. Fungsi permintaan sebuah barang ditunjukkan persamaan Q = 75-3P a. Gambarkan kurva permintaannya! b. Berapa jumlah yang diminta jika harganya 10? c. Berapa jumlah yang diminta jika harganya gratis? Jayadi, STIE IPWIJA Page 54

55 d. Berapa harga barang itu jika jumlah yang diminta 15? e. Berapa harga barang itu jika tidak ada permintaan? 7. Fungsi penawaran sebuah barang ditunjukkan persamaan Q = P a. Gambarkan kurva penawarannya! b. Berapa jumlah yang ditawarkan jika harganya 3? c. Berapa harga minimum agar produsen masih bersedia menjual barangnya? 8. Sebuah bola lampu Philips bila dijual seharga Rp. 300,- akan terjual sejumlah 1000 buah. Pada setiap kenaikan harga sebesar Rp.100,- jumlah penjualannya bertambah sebanyak 400 buah. a. Gambarkan fungsi penawaran bola lampu tersebut! b. Gambarkan kurva penawarannya! 9. Fungsi penawaran suatu barang diketahui Q = P a. Bagaimana fungsi penawarannya jika terdapat pajak sebesar 2? b. Bagaimana fungsi penawarannya jika terdapat subsidi sebesar 3? c. Gambarkan grafiknya! 10. Permintaan akan suatu komoditas diketahui berfungsi P = 17 - Q, sedangkan penawarannya P = 1/4Q + 3/4 a. Berapa harga dan jumlah keseimbanganya? b. Berapa subsidi harus diberikan agar komoditas tersebut menjadi gratis? 11. Biaya variabel rata-rata yang dikeluarkan oleh seorang produsen adalah 75% dari harga jual produknya, sedangkan biaya tetapnya keseluruhan Rp ,-. Harga jual produk per unit Rp. 40,- a. Berapa jumlah produk yang harus dihasilkan agar produsen break even? b. Berapa profitnya jika memproduksi 5000 unit? 12. Penerimaan total perusahaan dari memproduksi barang yang harga jual-nya Rp. 300,- per unit adalah Rp ,-. Biaya tetap totalnya Rp ,- sedangkan biaya variabelnya Rp. 200,- per unit Berapa unit barang harus diproduksi agar ia memperoleh keuntungan? 13. Biaya total yang dikeluarkan oleh sebuah pabrik ditunjukkan oleh persamaan C = Q 3-90Q Q a. Pada tingkat produksi berapa unit biaya marjinalnya minimum? b. Berapa besarnya biaya marjinal minimum tersebut? c. Berapa pula besarnya biaya total pada tingkat produksi tersebut? Jayadi, STIE IPWIJA Page 55

56 14. Biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan ditunjukkan oleh AC = 0,5Q 2-15Q /Q. a. Hitunglah tingkat produksi yang memberikan biaya marjinal minimum dan besarnya biaya marjinal minimum tersebut. b. Hitung juga besarnya biaya total dan biaya rata-rata 15. Seorang produsen di pasar persaingan sempurna menjual barangnya seharga Rp. 90,- per unit. Biaya tetap total yang dikeluarkan sebesar Rp. 400,- sedangkan biaya variabel totalnya VC = 1,5Q 2-30Q. a. Berapa unit barang harus dihasilkan agar keuntungannya maksimum? b. Hitunglah keuntungan maksimum tersebut! 16. Bila fungsi permintaan adalah linier ditunjukkan oleh persamaan 2P + Q = 200 (P = harga dan Q = jumlah yang diminta), berapakah tingkat harga dan jumlah yang diminta bila pada tingkat harga tersebut elastisitasnya adalah 0,25. oooo000oooo Jayadi, STIE IPWIJA Page 56

57 DAFTAR PUSTAKA Alpha C. Chiang Dasar-Dasar Matematika Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga Dumairy Matematika Terapan Untuk Bisnis dan Ekonomi, Yogyakarta : BPFE Kalangi, J.B Matematika Ekonomi dan Bisnis. Jakarta : Penerbit : Saelmba Empat Sudarso Matematika Ekonomi, Jakarta : Penerbit Rineke Cipta Wahyu Hidayat Buku Materi Pokok Matematika Ekonomi I, Jakarta : Penerbit Karunika Universitas Terbuka Jayadi, STIE IPWIJA Page 57

1.Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar. 2.Pengaruh pajak-spesifik terhadap keseimbangan pasar

1.Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar. 2.Pengaruh pajak-spesifik terhadap keseimbangan pasar Fungsi linear sangat lazim diterapkan dalam ilmu ekonomi, baik dalam pembahasan ekonomi mikro maupun makro. Dua variabel ekonomi maupun lebih yang saling berhubungan acapkali diterjemahkan kedalam bentuk

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Modul Mata Kuliah MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA SURABAYA 014/015 Erik Valentino, S.Pd., M.Pd DAFTAR ISI BAB I Barisan dan Deret... BAB II Fungsi... 10 BAB III

Lebih terperinci

Aplikasi Fungsi. Fungsi Linier. Fungsi Kuadrat. 1. Fungsi penawaran 2. Fungsi permintaan 3. Fungsi penerimaan 4. Fungsi biaya

Aplikasi Fungsi. Fungsi Linier. Fungsi Kuadrat. 1. Fungsi penawaran 2. Fungsi permintaan 3. Fungsi penerimaan 4. Fungsi biaya Telkom University Aplikasi Fungsi Fungsi Linier 1. Fungsi penawaran, permintaan, dan keseimbangan pasar 2. Pengaruh pajak-spesifik thd keseimbangan pasar 3. Pengaruh pajak-proposional thd keseimbangan

Lebih terperinci

PENERAPAN FUNGSI DALAM EKONOMI. Fungsi Linier

PENERAPAN FUNGSI DALAM EKONOMI. Fungsi Linier PENERAPAN FUNGSI DALAM EKONOMI Fungsi Linier Penerapan Fungsi Linear Dalam Teori Ekonomi Mikro 1. Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar 2. Pengaruh pajak-spesifik terhadap keseimbangan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN FUNGSI LINEAR DALAM EKONOMI

PENGGUNAAN FUNGSI LINEAR DALAM EKONOMI PENGGUNAAN FUNGSI LINEAR DALAM EKONOMI Agar fungsi permintaan dan fungsi penawaran dapat digambarkan grafiknya, maka faktor-faktor selain jumlah yang diminta dan harga barang dianggap tidak berubah selama

Lebih terperinci

Aplikasi Fungsi Linear. Telkom University Alamanda

Aplikasi Fungsi Linear. Telkom University Alamanda Aplikasi Fungsi Linear Telkom University Alamanda Pembahasan Fungsi pada Keseimbangan Pasar 1. Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar 2. Pengaruh pajak spesifik terhadap keseimbangan

Lebih terperinci

Matematika Bisnis (Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar)

Matematika Bisnis (Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar) Company LOGO Matematika Bisnis (Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar) Dosen Febriyanto, SE., MM. www.febriyanto79.wordpress.com Fungsi Company name Pemahaman akan konsep fungsi sangat penting dalam

Lebih terperinci

BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA)

BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA) BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA) Secara umum, persamaan kuadrat dituliskan sebagai ax 2 + bx + c = 0 atau dalam bentuk fungsi dituliskan sebagai f(x) = ax 2 + bx + c, dengan a, b, dan c elemen bilangan

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Penggunaan Fungsi dalam Ekonomi Matematika adalah suatu alat untuk menyederhanakan penyajian dan pemahaman suatu masalah. Dengan menggunakan bahasa matematika, penyajian suatu

Lebih terperinci

Deret adalah rangkaian bilangan yang tersusun secara teratur dan memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Bilangan-bilangan yang merupakan unsur dan

Deret adalah rangkaian bilangan yang tersusun secara teratur dan memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Bilangan-bilangan yang merupakan unsur dan Bab 4 Dumairy Deret adalah rangkaian bilangan yang tersusun secara teratur dan memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Bilangan-bilangan yang merupakan unsur dan pembentuk sebuah deret disebut suku Dilihat dari

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Fungsi Dalam ilmu ekonomi, kita selalu berhadapan dengan variabel-variabel ekonomi seperti harga, pendapatan nasional, tingkat bunga, dan lainlain. Hubungan kait-mengkait

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Modul Mata Kuliah MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA SURABAYA 2014/2015 Erik Valentino, S.Pd., M.Pd DAFTAR ISI Kontrak Perkuliahan... 1 BAB I Barisan dan Deret... 4

Lebih terperinci

JENIS JENIS FUNGSI 2. Gambar. Jenis Fungsi. mengandung banyak suku (polinom) dalam variabel bebas y = a 0 + a 1 x + a 2 x a n x n

JENIS JENIS FUNGSI 2. Gambar. Jenis Fungsi. mengandung banyak suku (polinom) dalam variabel bebas y = a 0 + a 1 x + a 2 x a n x n Telkom University Alamanda JENIS JENIS FUNGSI1 JENIS JENIS FUNGSI 2 Jenis Fungsi Gambar 1. FUNGSI POLINOM mengandung banyak suku (polinom) dalam variabel bebas y = a 0 + a 1 x + a 2 x 2 + + a n x n 2.

Lebih terperinci

BAB IV FUNGSI. Modul Matematika Bisnis

BAB IV FUNGSI. Modul Matematika Bisnis BAB IV FUNGSI ILUSTRASI Pada tahun anggaran 2003 ini, pemerintah Indonesia menetapkan anggaran defisit, yaitu manakala pendapatan lebih rendah dibandingkan pengeluaran. Salah satu penyebab ketidakseimbangan

Lebih terperinci

Permintaan, Penawaran dan Keseimbangan Pasar

Permintaan, Penawaran dan Keseimbangan Pasar Permintaan, Penawaran dan Keseimbangan Pasar Selain berbentuk fungsi linier, permintaan dan penawaran dapat pula berbentuk fungsi non linier. Fungsi permintaan dan fungsi penawaran yang kuadratik dapat

Lebih terperinci

Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M.

Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M. Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M. Elastisitas Permintaan (price elasticity of demand) Elastisitas permintaan ialah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang diminta

Lebih terperinci

PENERAPAN EKONOMI FUNGSI NON LINIER

PENERAPAN EKONOMI FUNGSI NON LINIER PENERAPAN EKONOMI FUNGSI NON LINIER Pertemuan 3 LOGO Farah Alfanur Fungsi Penerimaan Fungsi Biaya Fungsi Penawaran Fungsi Permintaan 2 PERMINTAAN, PENAWARAN DAN KESEIMBANGAN PASAR Permintaan dan penawaran

Lebih terperinci

a b Penawaran : Jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu

a b Penawaran : Jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu G. Aplikasi Fungsi dalam Bisnis dan Ekonomi. Permintaan (Demand) dan Penawaran (Supply) Permintaan : Sejumlah barang yang diminta konsumen pada tingkat harga tertentu. Hukum Permintaan (Demand): Apabila

Lebih terperinci

Telkom University Alamanda

Telkom University Alamanda Telkom University Alamanda 2 Tujuan Mahasiswa diharapkan mampu: Memahami fungsi non-linear Menerapkan fungsi non-linear dalam ilmu ekonomi 3 Hubungan Non-Linear Ada 4 macam bentuk fungsi non-linear yang

Lebih terperinci

LAB. MANAJEMEN DASAR LITBANG PTA 16/17

LAB. MANAJEMEN DASAR LITBANG PTA 16/17 LAB. MANAJEMEN DASAR LITBANG PTA 16/17 MATEMATIKA EKONOMI 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat, hidayah, dan karunia yang diberikan-nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan

Lebih terperinci

MATEMATIKA BISNIS I. M Riza Radyanto, S.T, M.T. Akademi Keuangan dan Perbankan Widya Buana

MATEMATIKA BISNIS I. M Riza Radyanto, S.T, M.T. Akademi Keuangan dan Perbankan Widya Buana MATEMATIKA BISNIS I M Riza Radyanto, S.T, M.T Akademi Keuangan dan Perbankan Widya Buana 2013 BAB I FUNGSI Pengetahuan dan pemahaman akan konsep fungsi baik berbentuk persamaan maupun pertidaksamaan dalam

Lebih terperinci

Modul Matematika 2012

Modul Matematika 2012 Modul Matematika MINGGU V Pokok Bahasan : Fungsi Non Linier Sub Pokok Bahasan :. Pendahuluan. Fungsi kuadrat 3. Fungsi pangkat tiga. Fungsi Rasional 5. Lingkaran 6. Ellips Tujuan Instruksional Umum : Agar

Lebih terperinci

FUNGSI DAN PERSAMAAN LINEAR. EvanRamdan

FUNGSI DAN PERSAMAAN LINEAR. EvanRamdan FUNGSI DAN PERSAMAAN LINEAR TEORI FUNGSI Fungsi yaitu hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Unsur-unsur pembentukan fungsi yaitu variabel (terikat dan bebas), koefisien dan

Lebih terperinci

Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP. Website:

Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP.   Website: MATEMATIKA EKONOMI Program Studi Agribisnis Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP. Email : [email protected] Website: http://almasdi.unri.ac.id HUBUNGAN LINEAR a. Penggal dan Lereng Garis

Lebih terperinci

Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis

Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis 1. Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar sebelum dan sesudah pajak 2. Fungsi Biaya, Fungsi Penerimaann dan Analisis Pulang Pokok. 3. Fungsi

Lebih terperinci

HUBUNGAN FUNGSI NON-LINEAR DALAM PENERAPAN EKONOMI. Disusun Guna Memenuhi Tugas Matematika Ekonomi. Dosen Pengampu : Rombel 1 Oleh:

HUBUNGAN FUNGSI NON-LINEAR DALAM PENERAPAN EKONOMI. Disusun Guna Memenuhi Tugas Matematika Ekonomi. Dosen Pengampu : Rombel 1 Oleh: HUBUNGAN FUNGSI NON-LINEAR DALAM PENERAPAN EKONOMI Disusun Guna Memenuhi Tugas Matematika Ekonomi Dosen Pengampu : Wardono Rombel 1 Oleh: 1. Farah Anisah Zahra 4101413064. Rizky Rahman 4101413066 3. Hana

Lebih terperinci

Matematika Bisnis (Fungsi)

Matematika Bisnis (Fungsi) Company LOGO Matematika Bisnis (Fungsi) Dosen Febriyanto, SE., MM. Fungsi Company name Pemahaman akan konsep fungsi sangat penting dalam mempelajari disiplin ilmu ekonomi, karena telaah-telaah ekonomi

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Pengertian BARIS DAN DERET Baris dapat didefinisikan sebagai suatu fungsi yang wilayahnya merupakan himpunan bilangan alam. Setiap bilangan yang merupakan anggota suatu banjar

Lebih terperinci

Tugas Tersturtur Mata Kuliah Ekonomi Manajerial. Resume Bab Optimasi Ekonomi. Kelompok 2

Tugas Tersturtur Mata Kuliah Ekonomi Manajerial. Resume Bab Optimasi Ekonomi. Kelompok 2 Tugas Tersturtur Mata Kuliah Ekonomi Manajerial Resume Bab Optimasi Ekonomi Kelompok 2 1. Pupun Sofiyati 115030201111037 2. Isty Puji H 115030205111004 3. Della Herlita 115030207111046 Fakultas Ilmu Administrasi

Lebih terperinci

CONTOH SOAL MATEKBIS I

CONTOH SOAL MATEKBIS I CONTOH SOAL MATEKBIS I Materi : Deret Ukur dan Deret Hitung 1. Hitunglah S 5, S 14, J 9 dari sebuah deret hitung yang suku pertamanya 1000 dan pembeda antar sukunya : 50. Diketahui : a = 1000, b = 50 Ditanya

Lebih terperinci

Gambar 1. Kurva Permintaan

Gambar 1. Kurva Permintaan APLIKASI FUNGSI PADA MATEMATIKA EKONOMI. Fungsi Permintaan dan Penawaran Hukum permintaan menyatakan bahwa semakin tinggi harga barang (P) maka permintaan barang tersebut () akan menurun. Semakin rendah

Lebih terperinci

SILABI MATA KULIAH MATEMATIKA BISNIS 3 SKS

SILABI MATA KULIAH MATEMATIKA BISNIS 3 SKS SILABI MATA KULIAH MATEMATIKA BISNIS 3 SKS DESKRIPSI Mata kuliah ini membahas tentang gambaran suatu keadaan dan pendekatan permasalahan dalam masalah ekonomi mikro maupun makro. Hubungan antar variabel

Lebih terperinci

Matematika Ekonomi (Fungsi)

Matematika Ekonomi (Fungsi) Company LOGO Matematika Ekonomi (Fungsi) Dosen Febriyanto, SE., MM. Fungsi Pemahaman akan konsep fungsi sangat penting dalam mempelajari disiplin ilmu ekonomi, karena telaah-telaah ekonomi banyak bekerja

Lebih terperinci

M. PRAHASTOMI M. S. SISTEM PERSAMAAN LINEAR. A. a = 2 dan b = 4 B. a = 2 dan b = 4 C. a = 2 dan b = 4 D. E. a = 2

M. PRAHASTOMI M. S. SISTEM PERSAMAAN LINEAR. A. a = 2 dan b = 4 B. a = 2 dan b = 4 C. a = 2 dan b = 4 D. E. a = 2 SISTEM PERSAMAAN LINEAR M. PRAHASTOMI M. S. 0. MD-8-8 B C G E F A D H 6 7 8 6 Jika gradien garis AB = m, gradien garis CD = m, gradien garis EF = m dan gradien garis GH = m, maka... () m = () m = 0 ()

Lebih terperinci

A. KONSEP DASAR TURUNAN

A. KONSEP DASAR TURUNAN Materi Derivatif MODUL DERIVATIF A. KONSEP DASAR TURUNAN Turunan (derivatif) membahas tingkat perubahan suatu fungsi sehubungan dengan perubahan kecil dalam variabel bebas fungsi yang bersangkutan. Turunan

Lebih terperinci

(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8

(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8 . Turunan dari f ( ) = + + (E) 7 + +. Turunan dari y = ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( + ) ( + ) ( ) ( + ) (E) ( ) ( + ) 7 5 (E) 9 5 9 7 0. Jika f ( ) = maka f () = 8 (E) 8. Jika f () = 5 maka f (0) +

Lebih terperinci

BANK SOAL MATEMATIKA IPS

BANK SOAL MATEMATIKA IPS BANK SOAL MATEMATIKA IPS Tim Guru Matematika SMAN 1 Kendari KENDARI 2013 1. Bentuk sederhana dari adalah... A. B. E. Jawaban : E Bentuk sederhana dari : 2. Nilai x yang memenuhi persamaan adalah... A.

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS Fungsi Non Linear Fungsi non-linier merupakan bagian yang penting dalam matematika untuk ekonomi, karena pada umumnya fungsi-fungsi yang menghubungkan variabel-variabel ekonomi

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI ( FUNGSI LINIER, GRAFIK FUNGSI DAN SISTEM PERSAMAAN LINIER )

MATEMATIKA EKONOMI ( FUNGSI LINIER, GRAFIK FUNGSI DAN SISTEM PERSAMAAN LINIER ) MATEMATIKA EKONOMI ( FUNGSI LINIER, GRAFIK FUNGSI DAN SISTEM PERSAMAAN LINIER ) KELOMPOK 2 1. UMAR ATTAMIMI (01212043) 2. SITI WASI ATUL MUFIDA (01212096) 3. DEVI PRATNYA. P. (01212078) 4. POPPY MERLIANA

Lebih terperinci

III. FUNGSI POLINOMIAL

III. FUNGSI POLINOMIAL III. FUNGSI POLINOMIAL 3. Pendahuluan A. Tujuan Setelah mempelajari bagian ini diharapkan mahasiswa dapat:. menuliskan bentuk umum fungsi polinomial;. menghitung nilai fungsi polinomial; 3. menuliskan

Lebih terperinci

BAB 3.Penerapan Diferensial Fungsi Sederhana dalam Ekonomi

BAB 3.Penerapan Diferensial Fungsi Sederhana dalam Ekonomi BAB 3.Penerapan Diferensial Fungsi Sederhana dalam Ekonomi A. Elastisitas Elastisitas merupakan persentase perubahan y terhadap persentase perubahan x. 1.1 Elastisitas Permintaan Elastisitas Permintaan

Lebih terperinci

6 FUNGSI LINEAR DAN FUNGSI

6 FUNGSI LINEAR DAN FUNGSI 6 FUNGSI LINEAR DAN FUNGSI KUADRAT 5.1. Fungsi Linear Pada Bab 5 telah dijelaskan bahwa fungsi linear merupakan fungsi yang variabel bebasnya paling tinggi berpangkat satu. Bentuk umum fungsi linear adalah

Lebih terperinci

Materi Fungsi Linear Fungsi Variabel, koefisien, dan konstanta Variabel variabel bebas Koefisien Konstanta 1). Pengertian fungsi linier

Materi Fungsi Linear Fungsi Variabel, koefisien, dan konstanta Variabel variabel bebas Koefisien Konstanta 1). Pengertian fungsi linier Materi Fungsi Linear Admin 8:32:00 PM Duhh akhirnya nongol lagi... kali ini saya akan bahas mengenai pelajaran yang paling disukai oleh hampir seluruh warga dunia :v... MATEMATIKA, ya itu namanya. materi

Lebih terperinci

Hikmah Agustin, SP.,MM

Hikmah Agustin, SP.,MM Hikmah Agustin, SP.,MM Barisan : Susunan bilangan terurut menggunakan pola tertentu (rumus tertentu) Deret : Penjumlahan suku-suku barisan Barisan aritmatika adalah suatu barisan bilangan yang selisih

Lebih terperinci

sama dengan p q. Perhatikan tabel berikut. p q B B S S B S S B S S B B S S S B B S B S S S S B B S B B

sama dengan p q. Perhatikan tabel berikut. p q B B S S B S S B S S B B S S S B B S B S S S S B B S B B Soal nomor 1, dengan soal sebagai berikut: Jawab : D Pernyataan majemuk pada soal ini adalah suatu disjungsi. Misalkan p: Petani panen beras. q: Harga beras murah., pernyataan di atas dapat dinotasikan

Lebih terperinci

Derivatif/turunan dan penerapannya dalam fungsi ekonomi

Derivatif/turunan dan penerapannya dalam fungsi ekonomi Derivatif/turunan dan penerapannya dalam fungsi ekonomi Ahmad Sabri Universitas Gunadarma, Indonesia 2016 Diberikan y = f (x). Notasi (delta) merepresentasikan perubahan nilai dari sebuah variabel (dependen

Lebih terperinci

Teori Harga Fungsi Linear

Teori Harga Fungsi Linear Teori Harga Fungsi Linear Matematika Ekonomi LOGO Osa Omar Sharif Teori Permintaan Teori permintaan Menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan (jumlah barang yang diminta pembeli) dan harga.

Lebih terperinci

LBM Bina Mahunika Tahun 2013 MATEMATIKA EKONOMI ESPA4122

LBM Bina Mahunika Tahun 2013 MATEMATIKA EKONOMI ESPA4122 MATEMATIKA EKONOMI ESPA4122 PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG PALING TEPAT! 1. Seandainya himpunan Semesta S = {a,b,c,d,e}, A = {a,b,e}, B = {a,c,d} dan C = {b,e} maka... 2. Pada soal diatas maka adalah...

Lebih terperinci

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim h 0 f ( x h) f( x) h KELAS : XII IIS SEMESTER GANJIL SMA Santa Angela Bandung Tahun Pelajaran 017/018 XII IIS Semester 1 Tahun Pelajaran 017/018 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI

Lebih terperinci

B B S S B S S B S S B B S S S B B S B S S S S B B S B B

B B S S B S S B S S B B S S S B B S B S S S S B B S B B 1. Ingkaran pertanyaan: Petani panen beras atau harga beras murah. A. Petani panen beras dan harga beras mahal. B. Petani panen beras dan harga beras murah. C. Petani tidak panen beras dan harga beras

Lebih terperinci

PENERAPAN TURUNAN MAT 4 D. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG KURVA A. PENDAHULUAN B. DALIL L HÔPITAL C. PERSAMAAN PADA KINEMATIKA GERAK TURUNAN. MATERI78.

PENERAPAN TURUNAN MAT 4 D. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG KURVA A. PENDAHULUAN B. DALIL L HÔPITAL C. PERSAMAAN PADA KINEMATIKA GERAK TURUNAN. MATERI78. PENERAPAN TURUNAN MAT 4 D. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG KURVA A. PENDAHULUAN B. DALIL L HÔPITAL C. PERSAMAAN PADA KINEMATIKA GERAK TURUNAN. MATERI78.CO MAT 4 materi78.co.nr Penerapan Turunan A. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI Pertemuan 7 Elastisitas, Biaya Produksi dan Penerimaan, Maksimum dan Minimum Suatu Fungsi I Komang Adi Aswantara UT Korea Fall 2013

MATEMATIKA EKONOMI Pertemuan 7 Elastisitas, Biaya Produksi dan Penerimaan, Maksimum dan Minimum Suatu Fungsi I Komang Adi Aswantara UT Korea Fall 2013 MATEMATIKA EKONOMI Pertemuan 7 Elastisitas, Biaya Produksi dan Penerimaan, Maksimum dan Minimum Suatu Fungsi I Komang Adi Aswantara UT Korea Fall 2013 Elastisitas Elastisitas merupakan ukuran kepekaan

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN PASAR. EvanRamdan

KESEIMBANGAN PASAR. EvanRamdan KESEIMBANGAN PASAR PENGERTIAN KESEIMBANGAN PASAR Pasar suatu macam barang dikatakan berada dalam keseimbangan (equilibrium) apabila jumlah barang yang diminta di pasar tersebut sama dengan jumlah barang

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 008/009. Perhatikan premis premis berikut! - Jika saya giat belajar maka saya bisa meraih juara - Jika saya bisa meraih juara maka saya boleh

Lebih terperinci

Sistem Persamaan linier

Sistem Persamaan linier Sistem Persamaan linier 5.1 Sistem Persamaan Linier Dua Peubah (Variabel) Bentuk Umum: a 1 x + b 1 y = c 1 a 2 x + b 2 y = c 2 Dimana a 1, b 1, c 1, a 2, b 2, c 2 R. Himpunan pasangan berurutan (x, y)

Lebih terperinci

LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MODUL MATEMATIKA EKONOMI 2 ATA 2014/2015

LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MODUL MATEMATIKA EKONOMI 2 ATA 2014/2015 LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MODUL MATEMATIKA EKONOMI 2 ATA 2014/2015 NAMA : NPM : KELAS : FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat,

Lebih terperinci

BAB III FUNGSI LINEAR HUSNAYETTI. Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta

BAB III FUNGSI LINEAR HUSNAYETTI. Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta BAB III FUNGSI LINEAR HUSNAYETTI Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta PENGERTIAN Fungsi linear adalah suatu fungsi yang variabel bebasnya maksimal berpangkat satu Bentuk umum fungsi linear Y = a + b X Y = Variabel

Lebih terperinci

III. KERANGKA TEORITIS

III. KERANGKA TEORITIS III. KERANGKA TEORITIS 3.. Penurunan Fungsi Produksi Pupuk Perilaku produsen pupuk adalah berusaha untuk memaksimumkan keuntungannya. Jika keuntungan produsen dinotasikan dengan π, total biaya (TC) terdiri

Lebih terperinci

Page 1

Page 1 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 6/7. Bentuk sederhana dari ( + ) ( 5 ) adalah. A. C. 8 E. 8 + 5 B. + 5 D. 8 + ( + ) ( 5 ) ( + ) (. 5 ) ( + ) ( 5 ) + + 5 - + 8 8 - Jawabannya

Lebih terperinci

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI

MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim h 0 f ( x h) f( x) h KELAS : XI MIA SEMESTER : (DUA) SMA Santa Angela Bandung Tahun Pelajaran 06-07 XI MIA Semester Tahun Pelajaran 06 07 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul

Lebih terperinci

7 PENERAPAN FUNGSI DALAM

7 PENERAPAN FUNGSI DALAM 7 PENERAPAN FUNGSI DALAM BISNIS DAN EKONOMI Terdapat beberapa kegunaan fungsi dalam suatu analisis ekonomi. Penerapan aplikasi fungsi dalam ekonomi yang paling pokok adalah dalam analisis permintaan, analisis

Lebih terperinci

APLIKASI DERET UKUR PADA ILMU EKONOMI. EvanRamdan

APLIKASI DERET UKUR PADA ILMU EKONOMI. EvanRamdan APLIKASI DERET UKUR PADA ILMU EKONOMI Aplikasi Deret Ukur pada Ilmu Ekonomi 1. Bunga Majemuk Model bunga majemuk merupakan penerapan deret ukur dalam simpan pinjam. Bunga majemuk / bunga berbunga adalah

Lebih terperinci

FUNGSI. Riri Irawati, M.Kom 3 sks

FUNGSI. Riri Irawati, M.Kom 3 sks FUNGSI Riri Irawati, M.Kom 3 sks Agenda 1. Sistem Koordinat Kartesius. Garis Lurus 3. Grafik persamaan Tujuan Agar mahasiswa dapat : Menggunakan sistem koordinat untuk menentukan titik-titik dan kurva-kurva.

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI. Oleh: Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta

MATEMATIKA EKONOMI. Oleh: Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta MATEMATIKA EKONOMI Oleh: Husnayetti Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta DIFERENSIAL Diferensial mempelajari tentang tingkat perubahan rata-rata atau tingkat perubahan seketika dari suatu fungsi Metode Kalkulus

Lebih terperinci

Wardaya College. Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer. Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018

Wardaya College. Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer. Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018 Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 07/08 -. Jika diketahui x = 8, y = 5 dan z = 8, maka nilai dari x y z adalah.... (a) 0 (b) 00 (c) 500 (d) 750 (e)

Lebih terperinci

Notasi turunan. Penggunaan turunan. 6. Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah.

Notasi turunan. Penggunaan turunan. 6. Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah. Turunan fungsi adalah fungsi lain dari suatu fungsi sebelumnya misalkan fungsi f menjadi f' TURUNAN Notasi turunan y' atau f'(x) atau dy/dx fungsi naik Penggunaan turunan fungsi turun persamaan garis singgung

Lebih terperinci

BAB IV FUNGSI KUADRAT. HUSNAYETTI Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta

BAB IV FUNGSI KUADRAT. HUSNAYETTI Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta BAB IV FUNGSI KUADRAT HUSNAYETTI Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta DEFENISI FUNGSI KUADRAT Fungsi kuadrat adalah suatu fungsi yang variabel bebasnya maksimal berpangkat dua Bentuk umum fungsi kuadrat Y =

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 9/. Diberikan premis sebagai berikut : Premis : Jika harga BBM naik, maka harga bahan pokok naik. Premis : Jika harga bahan pokok naik maka

Lebih terperinci

SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 0/0. Akar-akar persamaan kuadrat x +ax - 40 adalah p dan q. Jika p - pq + q 8a, maka nilai a... A. -8 B. -4 C. 4 D. 6 E. 8 BAB III Persamaan

Lebih terperinci

KONSEP DASAR FUNGSI DAN GRAFIK. Oleh : Agus Arwani, SE, M.Ag

KONSEP DASAR FUNGSI DAN GRAFIK. Oleh : Agus Arwani, SE, M.Ag KONSEP DASAR FUNGSI DAN GRAFIK Oleh : Agus Arwani, SE, M.Ag KONSEP DASAR FUNGSI DAN GRAFIK Definisi : Fungsi f : A B adalah suatu aturan yang mengaitkan (memadankan) setiap dengan tepat satu A y B Notasi

Lebih terperinci

LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MATEMATIKA EKONOMI 2 NAMA : KELAS : NPM : PJ : KP : TUTOR : ASBAR :

LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MATEMATIKA EKONOMI 2 NAMA : KELAS : NPM : PJ : KP : TUTOR : ASBAR : LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MATEMATIKA EKONOMI 2 NAMA : KELAS : NPM : PJ : KP : TUTOR : ASBAR : ATA 2017/2018 SUSUNAN TIM LITBANG SUSUNAN TIM LITBANG MATEMATIKA EKONOMI 2 ATA 2017/2018 STAF PENANGGUNG

Lebih terperinci

MODUL MATA PELAJARAN MATEMATIKA

MODUL MATA PELAJARAN MATEMATIKA KERJASAMA DINAS PENDIDIKAN KOTA SURABAYA DENGAN FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA MODUL MATA PELAJARAN MATEMATIKA Bilangan dan Aljabar untuk kegiatan PELATIHAN PENINGKATAN MUTU GURU DINAS PENDIDIKAN

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI (Hubungan Linear)

MATEMATIKA EKONOMI (Hubungan Linear) LOGO www.febriyanto79.wordpress.com Add your company slogan MATEMATIKA EKONOMI (Hubungan Linear) Febriyanto, SE, MM. HUBUNGAN LINEAR Hubungan sebab-akibat antara berbagai variabel ekonomi - misalnya antara

Lebih terperinci

KULIAH MATEMATIKA TERAPAN

KULIAH MATEMATIKA TERAPAN KULIAH MATEMATIKA TERAPAN Pertemuan 7 PENERAPAN FUNGSI LINEAR Oleh: Dany Juhandi, S.P, M.Sc PENERAPAN FUNGSI LINEAR 1. Fungsi Permintaan 2. Fungsi Penawaran 3. Keseimbangan Pasar 4. Pengaruh Pajak terhadap

Lebih terperinci

Rencana Pembelajaran Semester (RPS) REVISI Mata Kuliah: Matematika Ekonomi/Keuangan/Bisnis

Rencana Pembelajaran Semester (RPS) REVISI Mata Kuliah: Matematika Ekonomi/Keuangan/Bisnis Rencana Pembelajaran Semester (RPS) REVISI Mata Kuliah: Matematika Ekonomi/Keuangan/Bisnis Minggu Ke- 1 Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan SA SM SM DA DM Matematika Bisnis (UPM) Matematika Ekonomi Matematika

Lebih terperinci

Penggunaan Fungsi dalam Ekonomi

Penggunaan Fungsi dalam Ekonomi Modul 4 Penggunaan Fungsi dalam Ekonomi M PENDAHULUAN Drs. Wahyu Widayat, M.Ec atematika adalah suatu alat untuk menyederhanakan penyajian dan pemahaman suatu masalah. Dengan menggunakan bahasa matematika,

Lebih terperinci

Catatan Kuliah MA1123 KALKULUS ELEMENTER I BAB III. TURUNAN

Catatan Kuliah MA1123 KALKULUS ELEMENTER I BAB III. TURUNAN BAB III. TURUNAN Kecepatan Sesaat dan Gradien Garis Singgung Turunan dan Hubungannya dengan Kekontinuan Aturan Dasar Turunan Notasi Leibniz dan Turunan Tingkat Tinggi Penurunan Implisit Laju yang Berkaitan

Lebih terperinci

fungsi Dan Grafik fungsi

fungsi Dan Grafik fungsi fungsi Dan Grafik fungsi Suatu fungsi adalah pemadanan dua himpunan tidak kosong dengan pasangan terurut (x, y) dimana tidak terdapat elemen kedua yang berbeda. Fungsi (pemetaan) himpunan A ke himpunan

Lebih terperinci

D. OPTIMISASI EKONOMI DENGAN KENDALA - Optimisasi dengan metode substitusi - Optimisasi dengan metode pengali lagrange

D. OPTIMISASI EKONOMI DENGAN KENDALA - Optimisasi dengan metode substitusi - Optimisasi dengan metode pengali lagrange OPTIMISASI EKONOMI Ari Darmawan, Dr. S.AB, M.AB Email: [email protected] A. PENDAHULUAN B. TEKNIK OPTIMISASI EKONOMI C. OPTIMISASI EKONOMI TANPA KENDALA - Hubungan Antara Nilai Total, Rata-rata

Lebih terperinci

disesuaikan dengan soal yaitu 2 atau 3 )

disesuaikan dengan soal yaitu 2 atau 3 ) SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 6/7. Bentuk sederhana dari ( + ) ( 5 ) adalah. A. C. 8 E. 8 + 5 B. + 5 D. 8 + ( + ) ( 5 ) ( + ) (. 5 ) ( + ) ( 5 ) + + 5 - + 8 8 - Jawabannya

Lebih terperinci

MATEMATIKA BISNIS. Model Perkembangan Usaha (Kaidah-Kaidah Deret Hitung) Sitti Rakhman, SP., MM. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

MATEMATIKA BISNIS. Model Perkembangan Usaha (Kaidah-Kaidah Deret Hitung) Sitti Rakhman, SP., MM. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen Modul ke: MATEMATIKA BISNIS Model Perkembangan Usaha (Kaidah-Kaidah Deret Hitung) Fakultas FEB Sitti Rakhman, SP., MM. Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id PENDAHULUAN Matematika salah satu ilmu

Lebih terperinci

MODUL MATEMATIKA EKONOMI 1 LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR

MODUL MATEMATIKA EKONOMI 1 LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR MODUL MATEMATIKA EKONOMI 1 LABORATORIUM MANAJEMEN DASAR NAMA : NPM : KELAS : MATA KULIAH : HARI/SHIFT : PJ : KP : TUTOR : ASBAR : FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK 2015 KATA PENGANTAR Puji syukur

Lebih terperinci

Oleh : Debrina Puspita Andriani, ST., M.Eng Teknik Industri Universitas Brawijaya

Oleh : Debrina Puspita Andriani, ST., M.Eng Teknik Industri Universitas Brawijaya 3 Oleh : Debrina Puspita Andriani, ST., M.Eng Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] www.debrina.lecture.ub.ac.id 1. Nilai Uang Dari Waktu 2. Perhitungan Bunga 1. Bunga Sederhana

Lebih terperinci

Setelah kita mengetahui hasil dari masing-masing persamaan, kemudian kita kembali gabungkan kedua persamaan tersebut :

Setelah kita mengetahui hasil dari masing-masing persamaan, kemudian kita kembali gabungkan kedua persamaan tersebut : Kumpulan Soal-Soal Diferensial 1. Tentukan turunan pertama dari y = (3x-2) 4 +(4x-1) 3 adalah... Jawab: misalnya : f (x) = y = (3x-2) 4 misal U = (3x-2) du/dx = 3 dy/dx = n.u n-1. du/dx = 4. (3x-2) 4-1.3

Lebih terperinci

Matematika Ekonomi KUADRAT DAN FUNGSI RASIONAL (FUNGSI PECAH) GRAFIK FUNGSI KUADRAT BERUPA PARABOLA GRAFIK FUNGSI RASIONAL BERUPA HIPERBOLA

Matematika Ekonomi KUADRAT DAN FUNGSI RASIONAL (FUNGSI PECAH) GRAFIK FUNGSI KUADRAT BERUPA PARABOLA GRAFIK FUNGSI RASIONAL BERUPA HIPERBOLA Fungsi Non Linier Diskripsi materi: -Harga ekstrim pada fungsi kuadrat 1 Fungsi non linier FUNGSI LINIER DAPT BERUPA FUNGSI KUADRAT DAN FUNGSI RASIONAL (FUNGSI PECAH) GRAFIK FUNGSI KUADRAT BERUPA PARABOLA

Lebih terperinci

BAB 1 PERSAMAAN. a) 2x + 3 = 9 a) 5 = b) x 2 9 = 0 b) = 12 c) x = 0 c) 2 adalah bilangan prima genap d) 3x 2 = 3x + 5

BAB 1 PERSAMAAN. a) 2x + 3 = 9 a) 5 = b) x 2 9 = 0 b) = 12 c) x = 0 c) 2 adalah bilangan prima genap d) 3x 2 = 3x + 5 BAB PERSAMAAN Sifat Sifat Persamaan Persamaan adalah kalimat matematika terbuka yang menyatakan hubungan sama dengan. Sedangkan kesamaan adalah kalimat matematika tertutup yang menyatakan hubungan sama

Lebih terperinci

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA 015 CALON TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 016 Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL Bidang Matematika Disusun oleh : 1. 015 = 5 13 31 Banyaknya faktor

Lebih terperinci

PROGRAM LINEAR. Dasar Matematis

PROGRAM LINEAR. Dasar Matematis PROGRAM LINEAR Dasar Matematis PROGRAM LINIER adalah suatu teknik optimalisasi dimana variabel-variabelnya linier. Metode ini dipakai pada saat kita dihadapkan pada beberapa pilihan dengan batasan-batasan

Lebih terperinci

TAHUN PELAJARAN 2003/2004 SMK. Matematika Non Teknik Pekerjaan Sosial (E4-3) PAKET 1 (UTAMA) SELASA, 11 MEI 2004 Pukul

TAHUN PELAJARAN 2003/2004 SMK. Matematika Non Teknik Pekerjaan Sosial (E4-3) PAKET 1 (UTAMA) SELASA, 11 MEI 2004 Pukul DOKUMEN NEGARA 0-04 E4--P9-0-4 SANGAT RAHASIA UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 00/004 SMK Matematika Non Teknik Pekerjaan Sosial (E4-) PAKET (UTAMA) SELASA, MEI 004 Pukul 07.0 09.0 DEPARTEMEN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

FUNGSI, SISTEM PERSAMAAN LINIER DAN MENGGAMBAR GRAFIK

FUNGSI, SISTEM PERSAMAAN LINIER DAN MENGGAMBAR GRAFIK FUNGSI, SISTEM PERSAMAAN LINIER DAN MENGGAMBAR GRAFIK TUGAS MATEMATIKA EKONOMI DISUSUN OLEH : DENY PRASETYA 01212074 IAN ANUGERAH 01212035 M. UMAR A 01212016 ARON GARDIKA 01212140 SAIFUL RAHMAN 01212020

Lebih terperinci

PELATIHAN OLIMPIADE EKONOMI PERSIAPAN OLIMPIADE SAINS PROVINSI. HARI/TANGGAL : Kamis/ 24 MEI JUMLAH SOAL : 50 butir

PELATIHAN OLIMPIADE EKONOMI PERSIAPAN OLIMPIADE SAINS PROVINSI. HARI/TANGGAL : Kamis/ 24 MEI JUMLAH SOAL : 50 butir PELATIHAN OLIMPIADE EKONOMI PERSIAPAN OLIMPIADE SAINS PROVINSI HARI/TANGGAL : Kamis/ 24 MEI 2012 WAKTU : 120 MENIT JUMLAH SOAL : 50 butir Pilihlah satu jawaban yang paling tepat pada soal di bawah ini!

Lebih terperinci

Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008

Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008 Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008. Diketahui premis premis : () Jika hari hujan, maka udara dingin. (2) Jika udara dingin, maka ibu memakai baju hangat. (3) Ibu tidak memakai baju hangat

Lebih terperinci

INTEGRAL APLIKASI EKONOMI

INTEGRAL APLIKASI EKONOMI INTEGRAL APLIKASI EKONOMI Pengertian Integral Integral merupakan operasi invers dari turunan. Jika turunan dari F(x) adalah F (x) = f(x), maka F(x) = f(x) dx. adalah lambang untuk notasi integral, dx adalah

Lebih terperinci

PERSAMAAN, FUNGSI DAN PERTIDAKSAMAAN KUADRAT

PERSAMAAN, FUNGSI DAN PERTIDAKSAMAAN KUADRAT LA - WB (Lembar Aktivitas Warga Belajar) PERSAMAAN, FUNGSI DAN PERTIDAKSAMAAN KUADRAT Oleh: Hj. ITA YULIANA, S.Pd, M.Pd MATEMATIKA PAKET C TINGKAT V DERAJAT MAHIR 1 SETARA KELAS X Created By Ita Yuliana

Lebih terperinci

Penggunaan Turunan dalam Ekonomi

Penggunaan Turunan dalam Ekonomi Modul 8 Penggunaan Turunan dalam Ekonomi Drs. Wahyu Widayat, M.Ec D PENDAHULUAN alam ilmu ekonomi konsep turunan pertama dari suatu fungsi dapat digunakan untuk mendapatkan ongkos marjinal, pendapatan

Lebih terperinci

BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA) a < 0 dan D = 0 a < 0 dan D < 0. a < 0 0 x 0 x

BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA) a < 0 dan D = 0 a < 0 dan D < 0. a < 0 0 x 0 x BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA) Secara umum, persamaan kuadrat dituliskan sebagai ax 2 + bx + c = 0 atau dalam bentuk fungsi dituliskan sebagai f(x) = ax 2 + bx + c. Sifat matematis dari persamaan kuadrat

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN IDENTIFIKASI MATA KULIAH Nama Mata Kuliah Kredit Waktu Pertemuan Tingkat Program Studi Jurusan Dosen : ekonomi : 3 SKS : 135 Menit : I : S1 : Akuntansi : Surtikanti, S.E.,M.Si

Lebih terperinci

Perusahaan, Produksi, dan Biaya

Perusahaan, Produksi, dan Biaya Perusahaan, Produksi, dan Biaya Perusahaan adalah kesatuan teknis, yang bertujuan untuk menghasilkan benda-benda atau jasa. Perusahaan ingin mencapai laba setinggi mungkin. Pengertian sehari-hari, laba

Lebih terperinci

CONTOH SOAL CONTOH SOAL CONTOH SOAL TENTUKAN JUMLAH DERET GEOMETRI TAK HINGGA BERIKUT

CONTOH SOAL CONTOH SOAL CONTOH SOAL TENTUKAN JUMLAH DERET GEOMETRI TAK HINGGA BERIKUT CONTOH SOAL CONTOH SOAL CONTOH SOAL TENTUKAN JUMLAH DERET GEOMETRI TAK HINGGA BERIKUT Contoh Soal 3.17 Tentukan jumlah deret geometri tak hingga berikut. 2 2 2 + + +... 3 9 Jawab: 1 Berdasarkan deret

Lebih terperinci