Bilangan Prima dan Teorema Fundamental Aritmatika
|
|
|
- Hadian Setiawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Pembaharuan Terakhir: 28 Maret 2017 Pengantar Teori Bilangan (Bagian 5): Bilangan Prima dan Teorema Fundamental Aritmatika M. Zaki Riyanto Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 1 Bilangan Prima Setiap bilangan bulat positif pasti memiliki suatu pembagi positif, paling tidak bilangan tersebut memiliki paling sedikit dua pembagi positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri. Pada bagian ini akan dibahas suatu bilangan bulat positif yang memiliki tepat dua pembagi positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri. Bilangan dengan sifat seperti ini sangat penting peranannya dalam Teori Bilangan, juga dalam berbagai aplikasinya seperti pada kriptografi. Bilangan seperti ini nantinya dinamakan dengan bilangan prima. Definisi 1.1 (Bilangan Prima dan Bilangan Komposit). Suatu Bilangan bulat p > 1 disebut prima jika p memiliki tepat dua pembagi positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri. Bilangan bulat k > 1 disebut komposit jika k tidak prima. Dengan kata lain, k disebut komposit jika terdapat bilangan bulat a dan b dengan 1 < a, b < k sedemikian hingga k = ab. Contoh 1.1. Sepuluh bilangan prima pertama adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23 dan 29. Sedangkan sepuluh bilangan komposit pertama adalah 4, 6, 8, 9, 10, 12, 14, 15, 16 dan 18. Lemma 1.1. Untuk setiap bilangan bulat n > 1 selalu memiliki suatu pembagi prima, yaitu terdapat suatu bilangan prima p sedemikian hingga p n. Bukti: Lemma ini akan dibuktikan menggunakan kontradiksi. Andaikan terdapat bilangan bulat positif lebih dari 1 yang tidak memiliki pembagi prima. Misalkan n adalah 1
2 bilangan terkecil yang memenuhi sifat lebih dari 1 dan tidak memiliki pembagi prima. Karena n tidak memiliki pembagi prima dan n membagi habis n, maka n bukan bilangan prima atau komposit. Oleh karena itu, n dapat dinyatakan sebagai n = ab dengan 1 < a, b < n. Karena a < n, maka a memiliki pembagi prima, yaitu terdapat bilangan prima p sedemikian hingga p a. Diketahui a n, maka p n yaitu p adalah pembagi prima dari n. Kontradiksi dengan pernyataan bahwa n tidak memiliki pembagi prima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap bilangan bulat yang lebih dari 1 selalu memiliki suatu pembagi prima. Teorema 1.2. Ada tak terhingga banyak bilangan prima. Bukti: Andaikan ada berhingga banyak bilangan prima, misalkan p 1, p 2,..., p n adalah semua bilangan prima. Dibentuk M = p 1 p 2 p n + 1. Berdasarkan Lemma 1.1, maka M memiliki suatu pembagi prima, yaitu terdapat suatu bilangan prima p i sedemikian hingga p i M. Diketahui p i p 1 p 2 p n dan 1 = M p 1 p 2 p n, akibatnya p i 1. Hal ini tidak mungkin terjadi karena p i > 1. Oleh karena itu, yang benar adalah ada tak terhingga banyak bilangan prima. Teorema 1.3. Jika n adalah bilangan komposit, maka n memiliki suatu pembagi prima yang kurang dari n. Bukti: Diketahui n adalah bilangan komposit, maka n = ab dengan a dan b adalah bilangan bulat yang memenuhi 1 < a b < n. Andaikan b a > n, maka ab > ( n) 2 = n dan hal ini kontradiksi dengan n = ab. Akibatnya haruslah a n. Berdasarkan Lemma 1.1, maka a pasti memiliki suatu pembagi prima, yaitu terdapat bilangan prima p < n sehingga p a. Diperoleh bahwa p a dan a n, yang berarti p n. Teorema 1.4. Diberikan suatu bilangan prima p, maka untuk setiap bilangan bulat a dengan 1 a < p berlaku gcd(a, p) = 1, yaitu a dan p relatif prima. Bukti: Diketahui a adalah bilangan bulat dengan 1 a < p. Diketahui p adalah bilangan prima, maka p hanya memiliki dua pembagi positif yaitu 1 dan p. Diketahui a p, maka 1 a dan 1 p, dan jika d a dan d p, maka d 1. Hal ini berakibat bahwa gcd(a, p) = 1. Teorema 1.5. Diberikan suatu bilangan prima p, maka untuk setiap bilangan bulat a berlaku gcd(a, p) = 1 atau gcd(a, p) = p. 2
3 Bukti: Diberikan bilangan prima p dan bilangan bulat a. Menggunakan algoritma pembagian diperoleh bahwa a = pq + r, untuk suatu q, r Z dengan 0 r < p. Jika r = 0, yaitu p membagi habis a, maka a = pq. Diperoleh bahwa gcd(a, p) = gcd(pq, p) = p. Selanjutnya, jika r 0, maka a = pq+r dengan 1 r < p. Berdasarkan Lemma 1.1 pada bagian Algoritma Euclid dan Teorema 1.4 di atas, diperoleh bahwa gcd(a, p) = gcd(pq + r, p) = gcd(r, p) = 1. Dengan demikian, terbukti bahwa gcd(a, p) = 1 atau gcd(a, p) = p. 2 Teorema Fundamental Aritmatika Dalam kajian di Teori Bilangan, ada sebuah sifat yang sangat penting yang dimiliki oleh bilangan bulat yang berkaitan dengan bilangan prima. Sifat ini menyatakan bahwa setiap bilangan bulat yang lebih dari 1 dapat dinyatakan secara tunggal sebagai hasil kali dari sejumlah bilangan prima. Sebagai contohnya adalah 100 = = dan 150 = = Sifat ini dinamakan dengan Teorema Fundamental Aritmatika yang akan dibahas berikut. Sebelumnya diberikan terlebih dahulu beberapa lemma pendukungnya. Lemma 2.1. Diberikan a, b, c Z dengan a, b, c > 0. Jika gcd(a, b) = 1 dan a bc, maka a c. Bukti: Diketahui a bc, maka bc = am untuk suatu m Z. Diketahui gcd(a, b) = 1, maka menggunakan Teorema Bezout diperoleh bahwa terdapat m, n Z sedemikian hingga ma + nb = 1. Selanjutnya, kedua ruas dikalikan dengan c, diperoleh mac + nbc = c. Diketahui bc = am, maka c = mac + nam = a(mc + nm) yang berakibat bahwa a c. Lemma 2.2. Diberikan bilangan prima p dan a, b Z. Jika p ab, maka p a atau p b. Bukti: Diketahui p adalah bilangan prima. Diberikan a, b Z dengan p ab. Andaikan p tidak membagi habis a, maka gcd(a, p) = 1. Diketahui p ab, menggunakan Lemma 2.2 diperoleh bahwa p b. Untuk kasus p tidak membagi habis b dapat diperoleh bahwa p a. Dengan demikian, terbukti bahwa p a atau p b. 3
4 Lemma 2.3. Diberikan bilangan prima p dan a 1, a 2,..., a n Z. Jika p (a 1 a 2 a n ), maka p membagi salah satu dari a 1, a 2,..., a n, yaitu p a i, untuk suatu i dengan 1 i n. Bukti: Lemma ini akan dibuktikan menggunakan induksi matematika pada n. Untuk n = 1 maka jelas pernyataan benar yaitu p a 1. Untuk n = 2 juga benar, karena telah dibuktikan pada Lemma 2.2. Selanjutnya, diasumsikan pernyataan benar untuk n = k yaitu jika p (a 1 a 2 a k ), maka p a i, untuk suatu i dengan 1 i k. Akan ditunjukkan bahwa pernyataan benar untuk n = k + 1. Dimisalkan p (a 1 a 2 a k a k+1 ), atau dapat ditulis p ((a 1 a 2 a k )a k+1 ). Berdasarkan Lemma 2.2, diperoleh bahwa p (a 1 a 2 a k ) atau p a k+1. Berdasarkan asumsi induksi diperoleh bahwa p a i untuk suatu i dengan 1 i k atau p a k+1. Dengan kata lain, p a i untuk suatu i dengan 1 i k + 1. Teorema 2.4 (Teorema Fundamental Aritmatika). Setiap bilangan bulat positif lebih dari 1 dapat dinyatakan secara tunggal sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Dengan kata lain, untuk setiap bilangan bulat positif n > 1 dapat difaktorkan secara tunggal sebagai n = p 1 p 2 p s dengan p 1, p 2,..., p s adalah bilangan-bilangan prima dan p 1 p 2... p s. Selanjuntya, bentuk n = p 1 p 2 p s disebut dengan faktorisasi prima dari n. Bukti: Teorema ini akan dibuktikan menggunakan kontradiksi. Diandaikan bahwa ada bilangan bulat positif lebih dari 1 yang tidak dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilanganbilangan prima. Dipilih n adalah bilangan bulat positif lebih dari 1 yang terkecil yang tidak dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima, maka n bukan bilangan prima. Oleh karena itu, n = ab untuk suatu bilangan bulat a dan b dengan 1 < a, b < n. Akibatnya a dan b dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Diperoleh bahwa n = ab juga dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima, sehingga kontradiksi dengan pengandaian. Dengan demikian, terbukti bahwa setiap bilangan bulat positif lebih dari satu dapat dinyatakan sebagai hasil kali bilangan-bilangan prima. Selanjutnya, akan dibuktikan ketunggalan bentuk faktorisasi prima. Diberikan bilangan bulat positif n > 1. Diandaikan n memiliki dua bentuk faktorisasi prima yang berbeda, yaitu n = p 1 p 2 p s dan n = q 1 q 2 q t dengan p 1, p 2,..., p s, q 1, q 2,..., q t adalah bilanganbilangan prima dan p 1 p 2... p s dan q 1 q 2... q t. Selanjutnya, kedua bentuk faktorisasi prima dari n dibagi dengan pembagi prima yang sama dari keduanya, sehingga diperoleh p i1 p i2...p iu = q j1 q j2...q jv dimana ruas kiri tidak sama dengan ruas kanan dan u, v 1. Akibatnya, bilangan prima p i1 membagi habis q j1 q j2...q jv. Berdasarkan Lemma 2.3 diperoleh bahwa p i1 membagi habis salah 4
5 satu dari q j1, q j2,..., q jv, yaitu p i1 q jw untuk suatu 1 w v. Keadaan ini tidak mungkin terjadi, sebab p i1 dan q jw keduaya adalah bilangan prima yang berbeda, sehingga timbul kontradiksi. Dengan demikian, yang benar adalah faktorisasi prima dari n adalah bersifat tunggal. Akibat 2.5. Untuk setiap bilangan bulat positif n > 1, terdapat bilangan-bilangan prima p 1, p 2,..., p m dan bilangan-bilangan bulat e 1, e 2,..., e m 0 sedemikian hingga Bukti: Latihan. n = p e 1 m. 3 Aplikasi Faktorisasi Prima pada Perhitungan Pembagi Persekutuan Terbesar dan Kelipatan Persekutuan Terkecil Faktorisasi prima dari 100 adalah 100 = Faktorisasi prima dari 150 adalah 150 = Diketahui bahwa gcd(100, 150) = 50. Diketahui bahwa 100 = dan 150 = Dapat dilihat bahwa gcd(100, 150) = 50 = Dapat dilihat bahwa perhitungan pembagi persekutuan terbesar dari 100 dan 150 dapat dicari menggunakan hasil faktorisasi prima dari 100 dan 150. Sifat seperti ini berlaku secara umum untuk sebarang dua bilangan bulat positif lebih dari 1 seperti diberikan pada teorema di bawah ini. Teorema 3.1. Diberikan a, b Z dengan a, b > 1. Misalkan faktorisasi prima dari a dan b adalah a = p e 1 m dan b = p f 1 1 p f 2 2 p fm m, maka pembagi persekutuan terbesar dari a dan b adalah gcd(a, b) = p min(e 1,f 1 ) 1 p min(e 2,f 2 ) 2 p min(em,fm) m. Bukti: Latihan. Sebagai contohnya, diketahui 100 = dan 150 = Diperoleh bahwa gcd(100, 150) = 2 min(2,1) 3 min(0,1) 5 min(2,2) = = 50. Berikut ini diberikan pengertian dari kelipatan persekutuan terbesar (least common multiple) dari dua bilangan bulat. Definisi 3.1. Kelipatan persekutuan terkecil (least common multiple) dari dua bilangan bulat a dan b, dinotasikan dengan lcm(a, b), didefinisikan sebagai bilangan bulat positif terkecil yang habis dibagi oleh a dan b. Dengan kata lain, lcm(a, b) = l jika memenuhi: 5
6 (i) a l dan b l (ii) Jika a c dan b c, maka l c. Sebagai contohnya adalah lcm(4, 6) = 12, lcm( 3, 5) = 15, lcm(6, 12) = 12 dan lcm(100, 150) = 300. Diketahui faktorisasi prima dari 100 adalah 100 = dan faktorisasi prima dari 150 adalah 150 = Dapat dilihat bahwa lcm(100, 150) = 300 = Teorema 3.2. Diberikan a, b Z dengan a, b > 1. Misalkan faktorisasi prima dari a dan b adalah a = p e 1 m dan b = p f 1 1 p f 2 2 p fm m, maka kelipatan persekutuan dari a dan b adalah lcm(a, b) = p max(e 1,f 1 ) 1 p max(e 2,f 2 ) 2 pm max(em,fm). Bukti: Latihan. Sebagai contohnya, diketahui 100 = dan 150 = Diperoleh bahwa lcm(100, 150) = 2 max(2,1) 3 max(0,1) 5 max(2,2) = = 300. Selanjutnya, berikut ini diberikan sifat-sifat yang menjelaskan hubungan antara pembagi persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil. Sebelumnya, diberikan lemma berikut. Lemma 3.3. Diberikan dua bilangan real x dan y, maka max(x, y) + min(x, y) = x + y. Bukti: Diberikan bilangan real x dan y. Jika x < y, maka max(x, y) + min(x, y) = y + x = x + y. Jika x = y, maka jelas max(x, y) + min(x, y) = x + y. Jika x > y, maka max(x, y) + min(x, y) = x + y. Teorema 3.4. Diberikan a, b Z dengan a, b > 1, maka ab = lcm(a, b)gcd(a, b). Bukti: Diberikan faktorisasi prima dari a dan b yaitu a = p e 1 m dan b = p f 1 1 p f 2 2 p fm m. Menggunakan Lemma 3.3 dapat diperoleh: lcm(a, b)gcd(a, b) = p max(e 1,f 1 ) 1 p max(e 2,f 2 ) 2 p max(em,fm) m p min(e 1,f 1 ) 1 p min(e 2,f 2 ) 2 pm min(em,fm) = p max(e 1,f 1 )+min(e 1,f 1 ) 1 p max(e 2,f 2 )+min(e 2,f 2 ) 2 pm max(em,fm)+min(em,fm) = p e 1+f 1 +f 2 2 pm em+fm = p e 1 m p f 1 1 p f 2 2 p fm m = ab. Dengan demikian, terbukti bahwa ab = lcm(a, b)gcd(a, b). 6
7 4 Soal-soal Latihan (1) Buktikan bahwa setiap bilangan prima yang tidak sama dengan 2 adalah bilangan ganjil. (2) Tentukan semua pembagi prima dari 10!. (3) Tentukan bilangan prima terkecil di antara 100 dan 200. (4) Tunjukkan bahwa setiap bilangan bulat lebih dari 11 dapat dinyatakan sebagai jumlahan dua bilangan komposit. (5) Diberikan a adalah bilangan bulat positif yang tidak memiliki pembagi prima p dengan 1 < p < a. Buktikan bahwa a adalah bilangan prima. (6) Tentukan faktorisasi prima dari 500, 5040 dan (7) Tentukan semua pembagi prima dari dan 10!. (8) Diberikan a dan b adalah bilangan bulat positif. Buktikan bahwa jika a 3 b 2, maka a b. (9) Diberikan bilangan prima p dan a Z. Jika p a 2, buktikan bahwa p a. (10) Diberikan bilangan prima p dan a, n Z dengan n 0. Jika p a n, buktikan bahwa p a. (11) Diberikan bilangan prima p dan bilangan bulat positif n, maka p a dikatakan tepat membagi n, dinotasikan dengan p a n jika p a n dan p a+1 tidak membagi habis n. Sebagai contohnya adalah , sebab 2 4 tidak membagi habis 40. (a) Buktikan bahwa jika p a m dan p b n, maka p a+b mn. (b) Buktikan bahwa jika p a m, maka p ab m b. (c) Buktikan bahwa jika p a m dan p b n dengan a b, maka p min(a,b) (m + n). (12) Diberikan bilangan bulat positif n > 1. Buktikan bahwa n 1 i=1 bukan bilangan bulat. i (13) Diberikan a, b, c Z. Buktikan bahwa lcm(a, b) c jika dan hanya jika a c dan b c. (14) Diberikan a, b, c Z dengan c ab. Buktikan bahwa c (gcd(a, c)gcd(b, c)). (15) Diberikan a, b, n Z dengan a, b, n > 0. Jika a dan b relatif prima, buktikan bahwa a n dan b n juga relatif prima. (16) Diberikan a, b Z dengan a, b > 0. Buktikan bahwa gcd(a, b) = gcd(a + b, lcm(a, b)). (17) Diberikan a, b, c Z dengan a, b, c > 0. Buktikan bahwa gcd(lcm(a, b), c) = lcm(gcd(a, c), gcd(b, c)). 7
8 (18) Diberikan a, b, c Z dengan a, b, c > 0. Buktikan bahwa lcm(gcd(a, b), c) = gcd(lcm(a, c), lcm(b, c)). (19) Tunjukkan bahwa ada tak terhingga banyak bilangan prima yang berbentuk 6n + 5, dengan n adalah bilangan bulat positif. (20) Sebuah toko komputer menjual flashdisk dengan harga di bawah harga normal Rp melalui potongan harga, tetapi dijual di atas Rp Jika toko komputer tersebut berhasil menjual sejumlah flashdisk dengan harga total Rp dan potongan harga berupa bilangan bulat, tentukan banyaknya flashdisk yang terjual. Pustaka [1] Rosen Kenneth, H., 2011, Elementary Number Theory and Its Applications, Sixth Edition, Pearson Education, USA. [2] Sukirman, 2006, Pengantar Teori Bilangan, Penerbit Hanggar Kreator, Yogyakarta. 8
Pembagi Persekutuan Terbesar dan Teorema Bezout
Latest Update: March 10, 2017 Pengantar Teori Bilangan (Bagian 3): Pembagi Persekutuan Terbesar dan Teorema Bezout M. Zaki Riyanto Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga
Keterbagian Pada Bilangan Bulat
Latest Update: March 8, 2017 Pengantar Teori Bilangan (Bagian 1): Keterbagian Pada Bilangan Bulat Muhamad Zaki Riyanto Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
BAB II KETERBAGIAN. 1. Mahasiswa bisa memahami pengertian keterbagian. 2. Mahasiswa bisa mengidentifikasi bilangan prima
BAB II KETERBAGIAN 2.1 Pendahuluan Pada pertemuan minggu ke-3, dan 4 ini dibahas konsep keterbagian, algoritma pembagian dan bilangan prima pada bilangan bulat. Relasi keterbagian pada himpunan semua bilangan
Pemfaktoran prima (2)
FPB dan KPK Konsep Habis Dibagi Definisi: Jika a suatu bilangan asli dan b suatu bilangan bulat, maka a membagi habis b (dinyatakan dengan a b) jika dan hanya jika ada sebuah bilangan bulat c demikian
1 TEORI KETERBAGIAN. Jadi himpunan bilangan asli dapat disajikan secara eksplisit N = { 1, 2, 3, }. Himpunan bilangan bulat Z didenisikan sebagai
1 TEORI KETERBAGIAN Bilangan 0 dan 1 adalah dua bilangan dasar yang digunakan dalam sistem bilangan real. Dengan dua operasi + dan maka bilangan-bilangan lainnya didenisikan. Himpunan bilangan asli (natural
2 BILANGAN PRIMA. 2.1 Teorema Fundamental Aritmatika
Bilangan prima telah dikenal sejak sekolah dasar, yaitu bilangan yang tidak mempunyai faktor selain dari 1 dan dirinya sendiri. Bilangan prima memegang peranan penting karena pada dasarnya konsep apapun
Pengantar Teori Bilangan
Pengantar Teori Bilangan Kuliah 2 2/2/2014 Yanita, FMIPA Matematika Unand 1 Materi Kuliah 2 Teori Pembagian dalam Bilangan Bulat Algoritma Pembagian Pembagi Persekutuan Terbesar 2/2/2014 2 Algoritma Pembagian
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep yang mendasari konsep representasi
5 II. TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep yang mendasari konsep representasi penjumlahan dua bilangan kuadrat sempurna. Seperti, teori keterbagian bilangan bulat, bilangan prima, kongruensi
n suku Jadi himpunan bilangan asli dapat disajikan secara eksplisit N = { 1, 2, 3, }. Himpunan bilangan bulat Z didenisikan sebagai
Contents 1 TEORI KETERBAGIAN 2 1.1 Algoritma Pembagian............................. 3 1.2 Pembagi persekutuan terbesar......................... 6 1.3 Algoritma Euclides............................... 11
R. Rosnawati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY
R. Rosnawati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Induksi Matematika Induksi matematika adalah : Salah satu metode pembuktian untuk proposisi perihal bilangan bulat Induksi matematika merupakan teknik
Lembar Kerja Mahasiswa 1: Teori Bilangan
Lembar Kerja Mahasiswa 1: Teori Bilangan N a m a : NIM/Kelas : Waktu Kuliah : Kompetensi Dasar dan Indikator: 1. Memahami pengertian faktor dan kelipatan bilangan bulat. a) Menuliskan denisi faktor suatu
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Sejak tiga abad yang lalu, pakar-pakar matematika telah menghabiskan banyak waktu untuk mengeksplorasi dunia bilangan prima. Banyak sifat unik dari bilangan prima yang menakjubkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bagian ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya konsep
II. TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya konsep bilangan bulat, bilangan prima,modular, dan kekongruenan. 2.1 Bilangan Bulat Sifat Pembagian
DAFTAR ISI 3 TEORI KONGRUENSI 39 4 TEOREMA FERMAT DAN WILSON 40
DAFTAR ISI 1 TEORI KETERBAGIAN 1 1.1 Algoritma Pembagian............................. 2 1.2 Pembagi persekutuan terbesar........................ 5 1.3 Algoritma Euclides.............................. 12
II. TINJAUAN PUSTAKA. bilangan yang mendukung proses penelitian. Dalam penyelesaian bilangan
II. TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini diberikan beberapa definisi mengenai teori dalam aljabar dan teori bilangan yang mendukung proses penelitian. Dalam penyelesaian bilangan carmichael akan dibutuhkan definisi
LANDASAN TEORI. bilangan coprima, bilangan kuadrat sempurna (perfect square), kuadrat bebas
II. LANDASAN TEORI Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan prima, bilangan coprima, bilangan kuadrat sempurna (perfect square), kuadrat bebas (square free), keterbagian,
MODUL PERSIAPAN OLIMPIADE. Oleh: MUSTHOFA
MODUL PERSIAPAN OLIMPIADE Oleh: MUSTHOFA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2007 1 TEORI BILANGAN Dalam teori bilangan, semesta pembicaraan
Contoh-contoh soal induksi matematika
Contoh-contoh soal induksi matematika Buktikan bahwa 2 n > n + 20 untuk setiap bilangan bulat n 5. (i) Basis induksi : Untuk n = 5, kita peroleh 2 5 > 5 + 20 adalah suatu pernyataan yang benar. (ii) Langkah
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
HANDOUT TEORI BILANGAN MUSTHOFA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011 1 RELASI KETERBAGIAN Dalam teori bilangan, semesta pembicaraan
BAB 4. TEOREMA FERMAT DAN WILSON
BAB 4. TEOREMA FERMAT DAN WILSON 1 Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah, Ponorogo June 11, 2012 Metoda Faktorisasi Fermat (1643) Biasanya pemfaktoran n melalui tester, yaitu faktor
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Sebelum kita membahas mengenai uji primalitas, terlebih dahulu kita bicarakan beberapa definisi yang diperlukan serta beberapa teorema dan sifat-sifat yang penting dalam teori bilangan
Matematika Diskrit. Reza Pulungan. March 31, Jurusan Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Matematika Diskrit Reza Pulungan Jurusan Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada Yogyakarta March 31, 2011 Teori Bilangan (Number Theory) Keterbagian (Divisibility) Pada bagian ini kita hanya akan berbicara
TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan beberapa definisi teori pendukung dalam proses
II. TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan diberikan beberapa definisi teori pendukung dalam proses penelitian untuk penyelesaian persamaan Diophantine dengan relasi kongruensi modulo m mengenai aljabar dan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,
3 II. TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna, square free, keterbagian bilangan bulat, modulo, bilangan prima, ideal, daerah integral, ring quadratic.
BAB I NOTASI, KONJEKTUR, DAN PRINSIP
BAB I NOTASI, KONJEKTUR, DAN PRINSIP Kompetensi yang akan dicapai setelah mempelajari bab ini adalah sebagai berikut. (1) Dapat memberikan sepuluh contoh notasi dalam teori bilangan dan menjelaskan masing-masing
LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA
Nama Siswa Kelas : : LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA Latihan 1 1. A. NOTASI SIGMA 1. Pengertian Notasi Sigma Misalkan jumlah n suku pertama deret aritmatika adalah S n = U 1 + U 2 + U 3 + + U
ALTERNATIF MENENTUKAN FPB DAN KPK
ALTERNATIF MENENTUKAN FPB DAN KPK Welly Desriyati 1, Mashadi 2, Sri Gemawati 3 1 Mahasiswa Program Studi Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau [email protected]
Teori Bilangan (Number Theory)
Bahan Kuliah ke-3 IF5054 Kriptografi Teori Bilangan (Number Theory) Disusun oleh: Ir. Rinaldi Munir, M.T. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung 2004 3. Teori Bilangan Teori bilangan
Nama Mata Kuliah : Teori Bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 SKS
Nama Mata Kuliah : Teori Bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 SKS Program Studi : Pendidikan Matematika Semester : IV (Empat) Oleh : Nego Linuhung, M.Pd Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan
Materi Pembinaan Olimpiade SMA I MAGELANG TEORI BILANGAN
Materi Pembinaan Olimpiade SMA I MAGELANG TEORI BILANGAN Oleh. Nikenasih B 1.1 SIFAT HABIS DIBAGI PADA BILANGAN BULAT Untuk dapat memahami sifat habis dibagi pada bilangan bulat, sebelumnya perhatikan
Teori Himpunan. Modul 1 PENDAHULUAN
Modul 1 Teori Himpunan Drs. Sukirman, M.Pd. M PENDAHULUAN odul ini memuat pembahasan teori himpunan dan himpunan bilangan bulat. Teori himpunan memuat notasi himpunan, relasi dan operasi dua himpunan atau
FUNGSI-FUNGSI PADA TEORI BILANGAN DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN KALENDER. Sangadji *
FUNGSI-FUNGSI PADA TEORI BILANGAN DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN KALENDER Sangadji * ABSTRAK FUNGSI-FUNGSI PADA TEORI BILANGAN DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN KALENDER. Dalam makalah ini dibahas fungsi-fungsi
Pengantar Teori Bilangan. Kuliah 4
Pengantar Teori Bilangan Kuliah 4 Materi Kuliah Bilangan Prima dan Distribusinya Teorema Fundamental Aritmatika Saringan Eratosthenes 22/2/2014 Yanita, FMIPA Matematika Unand 2 Bilangan Prima dan Komposit
MENENTUKAN KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK) DAN FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR (FPB) DENGAN METODE EBIK
MENENTUKAN KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL (KPK) DAN FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR (FPB) DENGAN METODE EBIK Nuryadi, S.Pd, M.Pd. 1 A. PENDAHULUAN Pendidikan hendaknya mampu membentuk cara berpikir dan berprilaku
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aljabar merupakan salah satu bagian dalam matematika yang mencakup berbagai materi yang dipelajari baik pada tingkat sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi.
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,
II. TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna, square free, keterbagian bilangan bulat, modulo, bilangan prima, daerah integral, ring bilangan bulat
Bab 2 Daerah Euclid. 2.1 Struktur Daerah Euclid
Bab 2 Daerah Euclid Pada bab ini akan dijelaskan mengenai daerah Euclid beserta struktur lain yang terkait nya. Beberapa struktur aljabar tersebut selanjutnya akan digunakan untuk melihat struktur gelanggang
MAKALAH KRIPTOGRAFI CHINESE REMAINDER
MAKALAH KRIPTOGRAFI CHINESE REMAINDER Disusun : NIM : 12141424 Nama : Ristiana Prodi : Teknik Informatika B SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN ILMU KOMPUTER EL RAHMA YOGYAKARTA 2016 1. Pendahuluan
Setelah mengikuti materi Bab ini mahasiswa diharapkan mampu: 2. Mendefinisikan factor persekutuan, kelipatan persekutuan, FPB, dan KPK.
BAB II KETERBAGIAN PENDAHULUAN A. Deskripsi Singkat Mata Kuliah Mata kuliah ini dimaksudkan untuk memberikan kemampuan pada mahasiswa untuk belajar bukti matematika. Materi dalam mata kuliah ini sangat
Disajikan pada Pelatihan TOT untuk guru-guru SMA di Kabupaten Bantul
Disajikan pada Pelatihan TOT untuk guru-guru SMA di Kabupaten Bantul Training of Trainer (TOT) Olimpiade Matematika Tingkat Sekolah Menengah Atas Untuk Guru-guru Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bantul
3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang?
Pada bab ini dipelajari aritmatika modular yaitu aritmatika tentang kelas-kelas ekuivalensi, dimana permasalahan dalam teori bilangan disederhanakan dengan cara mengganti setiap bilangan bulat dengan sisanya
II. LANDASAN TEORI. Secara umum, apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada
II. LANDASAN TEORI Pada bilangan ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya konsep bilangan sempurna, bilangan bulat, bilangan prima,faktor bilangan bulat dan kekongruenan. 2.1
Sistem Bilangan Real
TUGAS I ANALISIS REAL I Sistem Bilangan Real Tugas 1 Analisis Real I Disusun oleh : Nariswari Setya D. Kartini Marvina Puspito M0108022 M0108050 M0108056 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
Rizkun As Syirazi, Thresye, Nurul Huda Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat
ISSN: 978-44 Vol. No. (Juni 07) Hal. 30-37 SIFAT-SIFAT FUNGSI PHI EULER DAN BATAS PRAPETA FUNGSI PHI EULER Rizkun As Syirazi, Thresye, Nurul Huda Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Lambung
TEORI BILANGAN Setelah mempelajari modul ini diharapakan kamu bisa :
TEORI BILANGAN Setelah mempelajari modul ini diharapakan kamu bisa : 1 Menggunakan algoritma Euclid untuk menyelesaikan masalah. 2 Menggunakan notasi kekongruenan. 3 Menggunakan teorema Fermat dan teorema
KATA PENGANTAR. Yogyakarta, November Penulis
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT atas anugrah yang diberikan sehingga penulisan Buku Diktat yang dilengkapi dengan Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) dan
APOTEMA: Jurnal Pendidikan Matematika. Volume 2, Nomor 2 Juli 2016 p ISSN BILANGAN SEMPURNA GENAP DAN KEPRIMAAN BI LANGAN MERSENNE
APOTEMA: Jurnal Pendidikan Matematika Volume 2 Nomor 2 Juli 2016 p 63-75 ISSN 2407-8840 BILANGAN SEMPURNA GENAP DAN KEPRIMAAN BI LANGAN MERSENNE Moh Affaf Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI BANGKALAN
DIKTAT KULIAH (2 sks) MX 127 Teori Bilangan
DIKTAT KULIAH ( sks) MX 17 Teori Bilangan (Revisi Terakhir: Juli 009 ) Oleh: Didit Budi Nugroho, S.Si., M.Si. Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana KATA
Metode pembuktian untuk proposisi yang berkaitan dengan bilangan bulat adalah induksi matematik.
Induksi Matematika Metode pembuktian untuk proposisi yang berkaitan dengan bilangan bulat adalah induksi matematik. Contoh: 1. Buktikan bahwa jumlah n bilangan bilangan bulat positif pertama adalah n(n
BAB V BILANGAN BULAT
BAB V BILANGAN BULAT PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibicarakan sistem bilangan bulat, yang akan dimulai dengan memperluas sistem bilangan cacah dengan menggunakan sifat-sifat baru tanpa menghilangkan
Induksi Matematika. Fitriyanti Mayasari
Induksi Matematika Fitriyanti Mayasari Pendahuluan Induksi Matematika merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuktikan pernyataan-pernyataan yang menegaskan bahwa suatu p(n) adalah benar
TEORI BILANGAN. Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan yang tidak mempunyai pecahan desimal, misalnya 8, 21, 8765, -34, 0.
TEORI BILANGAN Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan yang tidak mempunyai pecahan desimal, misalnya 8, 21, 8765, -34, 0. Sifat Pembagian pada Bilangan Bulat Misalkan a dan b adalah dua buah bilangan
MODUL 1. Teori Bilangan MATERI PENYEGARAN KALKULUS
MODUL 1 Teori Bilangan Bilangan merupakan sebuah alat bantu untuk menghitung, sehingga pengetahuan tentang bilangan, mutlak diperlukan. Pada modul pertama ini akan dibahas mengenai bilangan (terutama bilangan
METODE SOLOVAY-STRASSEN UNTUK PENGUJIAN BILANGAN PRIMA
Buletin Ilmiah Mat Stat dan Terapannya (Bimaster) Volume 04, No 1 (2015), hal 85 94 METODE SOLOVAY-STRASSEN UNTUK PENGUJIAN BILANGAN PRIMA Sari Puspita, Evi Noviani, Bayu Prihandono INTISARI Bilangan prima
BAB VI BILANGAN REAL
BAB VI BILANGAN REAL PENDAHULUAN Perluasan dari bilangan cacah ke bilangan bulat telah dibicarakan. Dalam himpunan bilangan bulat, pembagian tidak selalu mempunyai penyelesaian, misalkan 3 : 11. Timbul
BAB 1. TEORI KETERBAGIAN. Materi mata kuliah: Teori Bilangan, pertemuan 1-4: Disiapkan oleh: Julan Hernadi
BAB 1. TEORI KETERBAGIAN Materi mata kuliah: Teori Bilangan, pertemuan 1-4: Disiapkan oleh: Julan Hernadi February 3, 2015 2 DAFTAR ISI 1 TEORI KETERBAGIAN 1 1.1 Pendahuluan...............................
FAKTOR DAN KELIPATAN KELAS MARS SD TETUM BUNAYA
FAKTOR DAN KELIPATAN KELAS MARS SD TETUM BUNAYA A. KELIPATAN A. KELIPATAN Kelipatan suatu bilangan dapat diperoleh: 1. penjumlahan berulang, dan 2. penjumlahan bilangan dengan bilangan asli Contoh: Tentukanlah
OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS MATERI : TEORI BILANGAN
OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS MATERI : TEORI BILANGAN Disajikan pada Pembimbingan Kompetisi Guru-Guru Matematika dalam pemecahan soal-soal OSN di lingkungan Sekolah Menengah Atas Kota
II. SISTEM BILANGAN RIIL. Handout Analisis Riil I (PAM 351)
II. SISTEM BILANGAN RIIL Handout Analisis Riil I (PAM 351) Sifat Aljabar (Aksioma Lapangan) dari Bilangan Riil Bagian ini akan membicarakan struktur aljabar bilangan riil dengan terlebih dahulu memberikan
Pertemuan 4 Pengantar Teori Bilangan
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM Jl. Meranti, Kampus IPB Dramaga, Telp./Fax 0251-8625481/8625708 Email: [email protected], https://www.fmipa.ipb.ac.id Pertemuan
BAHAN AJAR TEORI BILANGAN
BAHAN AJAR TEORI BILANGAN PENYUSUN NURYADI, S.PD.SI, M.PD. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2014 FKIP UMB-Yogyakarta Page 1 KETERBAGIAN
Kongruen Lanjar dan Berbagai Aplikasi dari Kongruen Lanjar
Kongruen Lanjar dan Berbagai Aplikasi dari Kongruen Lanjar Mario Tressa Juzar (13512016) 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
BAHAN AJAR TEORI BILANGAN
BAHAN AJAR TEORI BILANGAN PENYUSUN NURYADI, S.PD.SI, M.PD. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2014 FKIP UMB-Yogyakarta Page 1 KETERBAGIAN
BAHAN AJAR ANALISIS REAL 1. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN
BAHAN AJAR ANALISIS REAL 1 DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN. 0212088701 PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO 2015 1 KATA PENGANTAR
Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL
SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 202 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 203 Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL BAGIAN PERTAMA Disusun oleh : BAGIAN PERTAMA. Tanpa mengurangi keumuman misalkan
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A
Fakultas : FMIPA Program Studi : Pendidikan Matematika Mata Kuliah/Kode : Teori Bilangan MAT 212 Jumlah SKS : Teori= 2 sks; Praktek= - Semester : Genap Mata Kuliah Prasyarat/kode : Logika dan Himpunan,
TEORI BILANGAN (3 SKS)
BAHAN AJAR: TEORI BILANGAN (3 SKS) O l e h Drs. La Misu, M.Pd. (Dipakai dalam Lingkungan Sendiri) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
G a a = e = a a. b. Berdasarkan Contoh 1.2 bagian b diperoleh himpunan semua bilangan bulat Z. merupakan grup terhadap penjumlahan bilangan.
2. Grup Definisi 1.3 Suatu grup < G, > adalah himpunan tak-kosong G bersama-sama dengan operasi biner pada G sehingga memenuhi aksioma- aksioma berikut: a. operasi biner bersifat asosiatif, yaitu a, b,
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... II HALAMAN PENGESAHAN... III KATA PENGANTAR... IV DAFTAR ISI... V BAB I PENDAHULUAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... II HALAMAN PENGESAHAN... III KATA PENGANTAR... IV DAFTAR ISI... V BAB I PENDAHULUAN... 1 A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1 B. PEMBATASAN MASALAH... 2 C.
Jurnal Apotema Vol.2 No. 2 62
Jurnal Apotema Vol.2 No. 2 62 Sudjana. 2005). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito. Sugianto, D. 2014). Perbedaan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Sta Ditinjau Dari Kemampuan Penalaran
BAB I TEORI KETERBAGIAN DALAM BILANGAN BULAT
BAB I TEORI KETERBAGIAN DALAM BILANGAN BULAT. Pendahuluan Well-Ordering Principle Jika S himpunan bagian dari himpunan bilangan bulat positif yang tidak kosong, maka S memiliki sebuah unsur terkecil. Unsur
Arief Ikhwan Wicaksono, S.Kom, M.Cs
Arief Ikhwan Wicaksono, S.Kom, M.Cs [email protected] masawik.blogspot.com @awik1212 Kalkulus (Bahasa Latin: calculus, artinya "batu kecil", untuk menghitung) adalah cabang ilmu matematika
Shortlist Soal OSN Matematika 2015
Shortlist Soal OSN Matematika 2015 Olimpiade Sains Nasional ke-14 Yogyakarta, 18-24 Mei 2015 ii Shortlist OSN 2015 1 Aljabar A1 Fungsi f : R R dikatakan periodik, jika f bukan fungsi konstan dan terdapat
MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan
MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016 Hendra Gunawan 9-10 METODE KONTRADIKSI & METODE KONTRAPOSISI (c) Hendra Gunawan (2015) 2 Metode Pembuktian Lainnya Pada bab-bab sebelumnya kita telah
2. Algoritma, Kompleksitas dan Teori Bilangan
2. Algoritma, Kompleksitas dan Teori Bilangan 2.1 Algoritma dan Fungsi Kompleksitas Algoritma adalah sekumpulan berhingga dari instruksi-instruksi untuk melakukan perhitungan/ komputasi atau memecahkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Bilangan Totient sempurna (Perpect Totient Number atau PTN) adalah suatu
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Fungsi Euler Definisi 4.1 Bilangan Totient sempurna (Perpect Totient Number atau PTN) adalah suatu bilangan bulat yang sama dengan jumlah dari iterasi Totientnya. yaitu jika
SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA
SELEKSI TINGKAT PROPINSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 01 MATEMATIKA SMA/MA PETUNJUK UNTUK PESERTA: 1. Tes terdiri dari dua bagian. Tes bagian pertama terdiri dari 0 soal isian singkat dan tes
BIDANG MATEMATIKA SMA
MATERI PENGANTAR OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG MATEMATIKA SMA DISUSUN OLEH: TIM PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA Juli 009 KATA PENGANTAR Olimpiade Sains Nasional (OSN)
1. Variabel, Konstanta, dan Faktor Variabel Konstanta Faktor
ALJABAR BENTUK ALJABAR adalah suatu bentuk matematika yang dalam penyajiannya memuat huruf-huruf untuk mewakili bilangan yang belum diketahui Bentuk aljabar dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah
Teori bilangan. Nama Mata Kuliah : Teori bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 sks. Deskripsi Mata Kuliah. Tujuan Perkuliahan.
Nama : Teori bilangan Kode /SKS : MAT- / 2 sks Program Studi : Pendidikan Matematika Semester : IV (Empat) TEORI BILANGAN Oleh : RINA AGUSTINA, M.Pd. NEGO LINUHUNG, M.Pd Mata kuliah ini masih merupakan
CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION
CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION 5.1 MATHEMATICAL INDUCTION Jumlah n Bilangan Ganjil Positif 1 = 1 1 + 3 = 4 1 + 3 + 5 = 9 1 + 3 + 5 + 7 = 16 1 + 3 + 5 + 7 + 9 = 25 Tebakan: Jumlah dari n bilangan ganjil
Integer (Bilangan Bulat)
Integer (Bilangan Bulat) Learning is not child's play, we cannot learn without pain. Aristotle 1 Tipe Data Integer Pada Bahasa Pemrograman Signed (bertanda +/- ) Unsigned (bulat non- negadf) Contoh: Misal
Induksi 1 Matematika
Induksi 1 Matematika Metode pembuktian untuk pernyataan perihal bilangan bulat adalah induksi matematik. Contoh : p(n): Jumlah bilangan bulat positif dari 1 sampai n adalah n(n + 1)/2. Buktikan p(n) benar!
Metode pembuktian untuk pernyataan perihal bilangan bulat adalah induksi matematik.
Induksi Matematik 1 Metode pembuktian untuk pernyataan perihal bilangan bulat adalah induksi matematik. Contoh : p(n): Jumlah bilangan bulat positif dari 1 sampai n adalah n(n + 1)/2. Buktikan p(n) benar!
CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION
CHAPTER 5 INDUCTION AND RECURSION 5.1 MATHEMATICAL INDUCTION Jumlah n Bilangan Ganjil Positif 1 = 1 1 + 3 = 4 1 + 3 + 5 = 9 1 + 3 + 5 + 7 = 16 1 + 3 + 5 + 7 + 9 = 25 Tebakan: Jumlah dari n bilangan ganjil
PENGUJIAN BILANGAN CARMICHAEL. (Skripsi) Oleh SELMA CHYNTIA SULAIMAN
PENGUJIAN BILANGAN CARMICHAEL Skripsi Oleh SELMA CHYNTIA SULAIMAN JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG 2016 ABSTRAK PENGUJIAN BILANGAN CARMICHAEL Oleh SELMA
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Bilangan 2.1.1 Keterbagian Jika a dan b Z (Z = himpunan bilangan bulat) dimana b 0, maka dapat dikatakan b habis dibagi dengan a atau b mod a = 0 dan dinotasikan dengan
ALJABAR ABSTRAK ( TEORI GRUP DAN TEORI RING ) Dr. Adi Setiawan, M. Sc
ALJABAR ABSTRAK ( TEORI GRUP DAN TEORI RING ) Dr. Adi Setiawan, M. Sc PROGRAM STUDI MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2011 0 KATA PENGANTAR Aljabar abstrak
BAB I INDUKSI MATEMATIKA
BAB I INDUKSI MATEMATIKA 1.1 Induksi Matematika Induksi matematika adalah suatu metode yang digunakan untuk memeriksa validasi suatu pernyataan yang diberikan dalam suku-suku bilangan asli. Dalam pembahasan
Induksi Matematika. Nur Hasanah, M.Cs
Induksi Matematika Nur Hasanah, M.Cs Induksi matematik merupakan teknik pembuktian yang baku di dalam matematika. Induksi matematik dapat mengurangi langkah pembuktian bahwa semua bilangan bulat termasuk
BAB III PENGEMBANGAN TEOREMA DAN PERANCANGAN PROGRAM
BAB III PENGEMBANGAN TEOREMA DAN PERANCANGAN PROGRAM 3.1 Pengembangan Teorema Pada penelitian dan perancangan algoritma ini, akan dibahas mengenai beberapa teorema uji primalitas yang telah ditemukan baru
PENERAPAN FAKTOR PRIMA DALAM MENYELESAIKAN BENTUK ALJABAR (Andi Syamsuddin*)
PENERAPAN FAKTOR PRIMA DALAM MENYELESAIKAN BENTUK ALJABAR (Andi Syamsuddin*) A. Faktor Prima Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan faktor prima sebuah bilangan adalah pembagi habis dari sebuah bilangan
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol., No., (203) -6 Kajian Ukuran Keirasionalan pada Bilangan Real Taurusita Kartika Imayanti dan Sunarsini Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA
SELEKSI TINGKAT PROPINSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 MATEMATIKA SMA/MA PETUNJUK UNTUK PESERTA: 1. Tes terdiri dari dua bagian. Tes bagian pertama terdiri dari 20 soal isian singkat dan
A. PRINSIP INDUKSI SEDERHANA
INDUKSI MATEMATIK Induksi matematik adalah merupakan teknik pembuktian yang baku di dalam Matematika. Induksi matematik digunakan untuk membuktikan pernyataan yang khusus menyangkut bilangan bulat positif.
Diktat Kuliah. Oleh:
Diktat Kuliah TEORI GRUP Oleh: Dr. Adi Setiawan UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2015 Kata Pengantar Aljabar abstrak atau struktur aljabar merupakan suatu mata kuliah yang menjadi kurikulum nasional
1 INDUKSI MATEMATIKA
1 INDUKSI MATEMATIKA Induksi Matematis Induksi matematis merupakan teknik pembuktian yang baku di dalam matematika. Melalui induksi matematis maka dapat mengurangi langkah-langkah pembuktian bahwa semua
Yurnalis 1. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia.
SIFAT MULTIPLICATIVE PADA HIIMPUNAN SISA Yurnalis 1 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia
BAHAN AJAR TEORI BILANGAN. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN
BAHAN AJAR TEORI BILANGAN DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN. 0212088701 PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO 2015 KATA PENGANTAR ب
PENDAHULUAN INDUKSI MATEMATIKA Di dalam Matematika, sebuah pernyataan atau argumen dan bahkan sebuah rumus sekalipun tidak hanya sekedar dibaca.
PENDAHULUAN INDUKSI MATEMATIKA Di dalam Matematika, sebuah pernyataan atau argumen dan bahkan sebuah rumus sekalipun tidak hanya sekedar dibaca. Karena hampir semua rumus dan hukum yang berlaku tidak tercipta
