BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Hengki Irawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 17 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pemeriksaan Data Pengamatan struktur tegakan dilakukan dilima petak ukur dengan luasan masing-masing satu hektar. Sample atau contoh diambil menggunakan metode purposive sampling yakni metode pengambilan contoh dengan tujuan tertentu. Sebanyak 5 sampel diambil dengan luasan persample seluas 1 hektar, tersebar di seluruh tanaman agathis yang berada di HPGW. Metode pengambilan data dengan menggunakan metode jalur lebar 20 meter dan panjang 500 meter, setelah itu pelaksanaan inventarisasi agathis dengan mengukur diameter diatas 10 cm. Dalam setiap petak ukur, data hasil pengukuran dibagi menjadi tiga kelompok jenis, yaitu : kelompok jenis agathis, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis. Setiap kelompok ini dicobakan empat model famili sebaran, yaitu : famili sebaran normal, famili sebaran lognormal, famili sebaran gamma dan famili sebaran eksponensial negatif. Berikut peta lokasi petak ukur penelitian di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Gambar 2 Peta lokasi petak ukur penelitian di Hutan Pendidikan Gunung Walat.
2 18 Luasan stratum pada petak ukur 1 seluas 5,4 ha, petak 2 seluas 5,5 ha, petak 3 seluas 8,9 ha, petak 4 seluas 8,2 ha dan petak 5 seluas 6,3 ha. Total luasan stratum di lapangan diperoleh 34,3 ha. Petak ukur 3 terluas diantara petak ukur yang lain serta memiliki jumlah pohon agathis terbanyak berjumlah 219 pohon. Sedangkan petak ukur 1 memiliki luasan stratum terkecil, akan tetapi jumlah pohon agathis pada petak ukur ini terhitung banyak sejumlah 207 pohon, kondisi pada petak ukur 1 sangat rapat jika dibandingkan dengan petak ukur yang lain. Berdasarkan hasil pengukuran dari lima petak ukur didapatkan data dengan pembagian berdasarkan masing-masing kelompok jenis, yaitu : (1) Kelompok jenis agathis (Agathis loranthifolia) (2) Kelompok jenis lain meliputi kayu afrika (Maesopsis eminii), puspa (Schima wallichii), jamolok (Eugenia malaccensis), ki teja, pinus (Pinus merkusii), cempaka (Michelia alba), kopi (Coffea robusta), dara uncel, pasang, kiterasi, sempur (Dillenia exelsa), saga (Adenanthera pavonina) dan beberapa jenis tanaman liar yang tidak diketahui jenisnya, dan (3) Kelompok seluruh jenis terdiri dari seluruh jenis agathis dan jenis lain. Pada Tabel 1 menujukkan struktur tegakan dilihat dari kerapatan (Ind/ha) yang terdapat pada masing-masing petak ukur untuk kelompok jenis agathis, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis. Berdasarkan kelas diameter mulai dari 10 cm up hingga diameter 100 cm up pada masing-masing strata. Pada tabel tersebut dapat dilihat jumlah pohon pada masing-masing kelompok jenis serta jumlah keseluruhan pohon yang ada pada seluruh petak ukur penelitian. Jika dituangkan kedalam bentuk histogram, maka data kerapatan tegakan akan membentuk pola berbeda-beda untuk masing-masing kelompok jenis. Kerapatan tertinggi pada kelompok jenis agathis pada selang cm, kelompok jenis lain pada selang cm dan kerapatan tertinggi pada kelompok seluruh jenis berselang pada dimeter 30 sampai 59 cm. Berikut ini bentuk histogram kerapatan tegakan untuk masing-masing kelompok jenis (Gambar 2).
3 18 Tabel 1 Kerapatan tegakan pada masing-masing petak ukur menurut kelompok jenis dan tingkat pertumbuhannya Kelas Diameter (Cm) Agathis Petak Ukur 1 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 2 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 3 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 4 Jenis Lain Seluruh jenis Agathis Petak Ukur 5 Jenis Lain Seluruh jenis up Total
4 20 (a) (b) (c)
5 21 (d) (e) Gambar 3 Histogram kerapatan tegakan (ind/ha) berdasarkan kelas diameter untuk kelompok jenis agathis, jenis lain dan seluruh jenis pada (a) PU 1, (b) PU 2, (c) PU 3, (d) PU 4 dan (e) PU 5. Menurut (Oliver & Larson 1990) struktur tegakan yang muncul setelah terjadinya gangguan-gangguan, berubah dalam pola yang sama seiring dengan perubahan waktu. Spesies pohon yang sama mendominasi suatu wilayah mengikuti sebuah jenis gangguan tertentu didalam sebuah area geografis, dan spesies yang sama tumbuh bersama dan merubah struktur tegakan dalam pola yang serupa mengikuti gangguan.
6 Pemilihan Model Keseragaman pertumbuhan pohon dalam tegakan merupakan salah satu syarat bagi terbentuknya hutan normal atau hutan seumur yang diharapkan memiliki respon pertumbuhan yang sama (Meyer et al. dalam Prihanto 1987) mengungkapkan bahwa bentuk lonceng terbalik merupakan bentuk khas bagi struktur tegakan hutan seumur, namun apabila model disajikan dalam bentuk famili sebaran maka masih ada berbagai kemungkinan famili sebaran mana yang terbaik bagi struktur tegakan yang bersangkutan. Kondisi tegakan tiap petak ukur yang tidak diketahui umur tanamannya memungkinkan bentuk struktur tegakan lonceng terbalik mengalami penyimpangan oleh karena itu dalam pendugaan parameternya dicobakan berbagai parameter sebaran. Parameter-parameter yang digunakan pada setiap model famili sebaran dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Parameter sebaran pada setiap model famili sebaran di masing-masing petak ukur PU Kel.Jenis Parameter Sebaran Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif μ σ μl σl α β θ PU1 Agathis Jenis lain Sel.Jenis PU2 Agathis Jenis lain Sel.Jenis PU3 Agathis Jenis lain Sel.Jenis PU4 Agathis Jenis lain Sel.Jenis PU5 Agathis Jenis lain Sel.Jenis Pemilihan model untuk mengetahui pola struktur tegakan di lapangan dilakukan dengan menggunakan metode kemungkinan maksimum dengan
7 23 memilih famili sebaran yang mempunyai nilai fungsi kemungkinan maksimum tertinggi sebagai model penduga terbaik bagi struktur tegakan yang bersangkutan. Hasil dari pengamatan yang dilakukan pada setiap petak ukur untuk masingmasing famili sebaran menunjukan komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (L) yang berbeda. Tabel 3 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(In L )) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur kelompok agathis PU Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) PU1 791, , , , PU2 528, , , , PU3 836, , , , PU4 541, , , , PU5 396, , , , Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum; (2) Nomor urut terbesar. Tabel 4 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(In L )) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur jenis lain PU Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) PU1 67, , , , PU2 84, , , , PU3 25, , , , PU4 236, , , , PU5 396, , , , Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum; (2) Nomor urut terbesar. Tabel 5 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(In L )) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur untuk seluruh jenis PU Normal Lognormal Gamma Eks.Negatif (1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) PU1 865, , , PU2 631, , , , PU3 862, , , PU4 796, , , , PU5 884, , , , Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum; (2) Nomor urut terbesar. Berdasarkan Tabel 3, 4, dan 5 diatas, nilai kemungkinan maksimum (L) pada masing-masing petak ukur pada berbagai famili sebaran disajikan dalam bentuk (-(In L)) sehingga penilaian akan terbalik dimana maksimum (L) akan
8 24 sama dengan minimum dari (-(In L)). Nilai kemungkinan maksimum tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Pada Tabel 3 kelompok jenis agathis diperoleh famili sebaran gamma memiliki nilai (-(In L)) tertinggi hampir disetiap petak ukur sedangkan famili sebaran eksponensial negatif pada jenis agathis memiliki nilai kemungkinan maksimum (-(In L)) terendah disetiap petak ukur contoh. Pada Tabel 4 diperoleh famili sebaran lognormal untuk kelompok jenis lain menduduki nilai tertinggi hampir diseluruh petak ukur sedangkan famili sebaran eksponensial negatif kembali menduduki peringkat terendah. Nilai kemungkinan maksimum (-(In L)) pada kelompok jenis lain (Tabel 5) sebaran gamma memiliki (-(In L)) tertinggi dan famili sebaran eksponensial negatif kembali menduduki peringkat terendah. Sehingga dapat dikatakan famili sebaran gamma merupakan model terbaik bagi struktur tegakan hutan kelompok jenis agathis dan kelompok seluruh jenis sedangkan famili sebaran lognormal merupakan model struktur tegakan terbaik untuk kelompok jenis lain. Prihanto (1987) mengungkapkan gambaran mengenai keempat sebaran yang dicobakan sebagai berikut : 1. Famili sebaran normal Famili sebaran normal memiliki model yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan famili sebaran lainnya. Selama ini struktur tegakan hutan tanaman (seumur) selalu dianggap mengikuti model famili sebaran normal. Pendugaan parameter famili sebaran ini relatif mudah dan sudah banyak dikenal. Dalam penerapan pemakainnya, famili sebaran normal memiliki peubah acak normal baku (z) dimana sebaran peluangnya dapat dicari melalui bantuan tabel. Tranformasi peubah acak x ke peubah normal baku z adalah z = (x-μ)/σ, sehingga : P(X a X X b ) = xb xa f(x) dx = zb za f(z) dz = ( zb - f (z) dz) - ( za - f(z)) dz Dimana zb - f(z) dz, untuk - z + dapat dicari pada tabel.
9 25 2. Famili sebaran Lognormal Model famili sebaran ini merupakan model konservasi peubah acak yang menyebar normal. Oleh karena itu, pendugaan parameter famili sebaran ini hampir sama dengan pendugaan parameter famili sebaran normal. Perbedaannya adalah terdapat pada transformasi peubah acak ke dalam bentuk In (logaritmik natural), sehingga dalam hal ini menurunkan kepraktisannya dibanding pada famili sebaran normal. 3. Famili sebaran gamma Famili sebaran gamma merupakan model yang paling rumit diantara empat famili sebaran yang diikutsertakan dalam pemilihan model ini. Kerumitannya disamping tidak praktis juga memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan. Sumber kesalahan dapat terjadi pada pendugaan parameter bentuk (α) yang menggunakan pendekatan empiris, perhitungan Γ (α), serta pengaruh pembulatan yang lebih besar karena banyaknya fungsi-fungsi yang harus dilalui dalam penyusunan model. 4. Famili sebaran eksponensial negatif Famili sebaran eksponensial negatif sebenarnya masih merupakan anggota famili sebaran gamma. Untuk parameter α=1, maka fungsi kepekatan sebaran gamma identik dengan fungsi kepekatan famili sebaran eksponensial negatif dengan ß sepadan dengan 1/. Oleh karena itu, L gamma selalu L eksponensial negatif. L gamma sama dengan L eksponenesial negatif pada saat parameter α=1, dan akan selalu lebih besar dari L eksponensial negatif untuk α tidak sama dengan 1. Pengikutsertaan famili sebaran eksponensial negatif dalam pemilihan model ini diharapkan dapat menggantikan famili sebaran gamma yang sangat rumit apabila famili sebaran gamma terpilih sebagai model terbaik dan selisih L gamma dan L eksponensial negatif relatif kecil. Hal ini mengingatkan bahwa famili sebaran eksponenesial negatif memiliki model yang sangat sederhana (berparameter tunggal) dan praktis dalam penyusunan modelnya. Tetapi pada kenyataannya, L eksponensial negatif jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan L gamma maupun kedua famili sebaran lainnya. Nilai L eksponensial negatif yang lebih kecil tersebut disebabkan oleh adanya pemaksaan besarnya parameter α=1. Parameter untuk famili sebaran
10 26 eksponensial negatif memiliki nilai yang sama dengan rata-rata. Walaupun demikian, bentuk kurva famili sebaran eksponensial negatif berbeda dengan famili sebaran normal. Bentuk famili sebaran normal menyerupai lonceng telungkup, sedangkan eksponensial negatif mempunyai bentuk J terbalik (Walpole 1992). Dari gambaran-gambaran tersebut dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif memiliki kualitas yang relatif sama sebagai penduga bagi struktur tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 1. (a) (b)
11 27 (c) Gambar 4 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 1. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 2. (a) (b)
12 28 (c) Gambar 5 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 2. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 3. (a) (b)
13 29 (c) Gambar 6 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 3. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 4. (a) (b)
14 30 (c) Gambar 7 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 4. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada petak ukur 5. (a) (b)
15 31 (c) Gambar 8 Perbandingan data aktual dengan (model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis di petak ukur 5. Berikut adalah gambar perbandingan data aktual dengan model-model famili sebarannya pada keseluruhan petak ukur. (a) (b)
16 32 (c) Gambar 9 Perbandingan data aktual dengan (Model famili sebaran normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) pada (a) kelompok agathis, (b) jenis lain dan (c) seluruh jenis pada keseluruhan petak ukur. Gambar diatas menunjukan struktur tegakan berdasarkan berbagai model famili sebaran (normal, lognormal, gamma dan eksponensial negatif) untuk kelompok jenis agathis, kelompok jenis lain dan kelompok seluruh jenis pada berbagai petak ukur 1 hingga 5 serta model struktur tegakan untuk keseluruhan petak ukur. Tabel 6 dibawah ini merupakan perbedaan kerapatan pohon (ind/ha), kisaran diameter (cm) serta diameter rata-rata (cm) untuk masing-masing kelompok jenis. Tabel 6 Perbedaan kerapatan pohon (ind/ha), kisaran diameter (cm) dan diameter rata-rata (cm) untuk kelompok jenis agathis, jenis lain dan seluruh jenis Petak Ukur Kelompok Jenis Kerapatan Pohon (Ind/ha) Kisaran Diameter (Cm) Diameter rata rata (Cm) Agathis ,3 1 Jenis Lain ,9 Seluruh Jenis ,5 Agathis ,9 2 Jenis Lain ,2 Seluruh Jenis ,5 Agathis ,3 3 Jenis Lain ,7 Seluruh Jenis ,4 Agathis ,9 4 Jenis Lain ,7 Seluruh Jenis ,4 Agathis ,5 5 Jenis Lain ,7 Seluruh Jenis ,8
17 33 Pada petak ukur 1 terlihat bentuk grafik, untuk keseluruhan kelompok jenis berbentuk seperti lonceng telungkup kecuali untuk famili sebaran eksponensial negatif membentuk pola J terbalik. Frekuensi kerapatan individu per hektar untuk kelompok jenis agathis tergolong rapat dengan total jenis sebanyak 207 individu per hektar. Kondisi medan di lapangan pada petak ukur 1 datar dengan tutupan tajuk rapat, kisaran diameter pohon agathis berkisar antara selang 21 cm sampai 79 cm dengan diameter rata-rata 46,3 cm. Kelompok jenis lain didominasi oleh puspa (Schima wallichii) pada kelas diameter 11 cm sampai 56 cm dengan luasan stratum 1 seluas 5,4 ha. Terlihat pada grafik petak ukur 1 untuk kelompok jenis agathis dan kelompok seluruh jenis memiliki kemiripan bentuk, sedangkan untuk kelompok jenis lain frekuensi tegakan pohon tidak memenuhi famili sebaran yang dicobakan, hal tersebut terjadi karena jumlah kelompok jenis lain di lapangan hanya sedikit karena tutupan tegakan agathis yang rapat mendominasi petak ukur 1, sehingga tumbuhan jenis lain yang tidak mampu bersaing akan mati mengakibatkan jumlah pohon jenis lain pada petak ukur 1 sedikit. Pada petak ukur 2 luasan stratum 5,5 ha didominasi kelompok jenis agathis dan jenis puspa (Schima wallichii) dengan total jumlah pohon 116 individu per hektar. Tutupan tajuk sedikit terbuka menyebabkan jenis lain mampu tumbuh di petak ukur ini, dengan kisaran diameter pada selang 30 cm sampai 50 cm dengan diameter rata-rata 37,2 cm. Bentuk grafik struktur tegakan pada kelompok jenis lain diameter mengekor disebelah kiri menandakan jumlah pohon berdiameter kecil cukup banyak di petak ini. Hal ini diduga perebutan pencarian makanan antara individu pohon. Famili sebaran eksponensial negatif kurang menggambarkan bentuk struktur tegakan di lapangan, apabila dibandingkan dengan sebaran lain (famili sebaran normal, lognormal dan gamma) yang memilki kemiripan dari segi bentuk. Petak ukur 3 memiki kerapatan agathis tertinggi diantara petak ukur yang lain karena lokasi penelitian datar memungkinkan jarak tanam agathis berdekatan. Diameter pohon berkisar 22 cm sampai 78 cm memenuhi petak ukur 3, bentuk struktur tegakan kelompok agathis dan kelompok seluruh jenis mencapai frekuensi famili sebaran yang dicobakan sedangkan untuk kelompok jenis lain frekuensi tegakan tertinggi pada dimeter 36,5 cm melebihi batas famili sebaran
18 34 yang dicobakan dalam penelitian ini. Petak ukur 3 didominasi diameter rata-rata 44,3 cm dengan tutupan lahannya rapat sehingga persaingan antar pohon untuk bertahan hidup pada petak ukur 3 ini tinggi. Petak ukur 4 bentuk grafik tegakan untuk masing-masing kelompok jenis hampir sama, kondisi kelerengan di lapangan landai sehingga jarak tanam agathis berjauhan memungkinkan ruang tumbuh untuk pohon lain berpotensi besar, oleh karena itu petak ukur 4 banyak didominasi jenis puspa (Schima wallichii) dengan diameter rata-rata 41,7 cm. Luas stratum seluas 8,2 ha dengan kondisi lingkungan mendekati kondisi penelitian, tajuk antara pohon agathis dan puspa kurang rapat menyebabkan cahaya matahari mampu menembus kanopi sehingga tumbuhan bawah cukup banyak. Petak ukur 5 merupakan lokasi petak ukur terakhir dalam penelitian dengan komposisi agathis dengan jenis lain sama rata mengakibatkan bentuk struktur tegakan untuk petak ukur ini mengekor ke sebelah kanan dengan diameter ratarata agathis 66,5 cm. Pinus (Pinus merkusii) kelompok jenis lain pesaing berat dalam pertumbuhan agathis di petak ukur 5 dengan lokasi cukup curam memungkinkan jarak tanam pohon berjauhan sehingga jumlah agathis pada petak ukur 5 sedikit jika dibandingkan dengan petak ukur yang lain. Selanjutnya grafik struktur tegakan untuk keseluruhan petak ukur pada Gambar 9 di atas pada kelompok jenis agathis terlihat keganjalan dari segi bentuk kurva famili sebaran eksponensial negatif berbeda dengan petak ukur lain, hal ini disebabkan data yang diperoleh di lapangan jumlah agathis berdiameter kecil hanya berjumlah satu individu pohon sehingga bentuk kurva seperti gambar di atas. Secara matematis kurva famili sebaran eksponensial negatif sudah mendekati bentuk sebarannya. Perbedaan pola struktur tegakan tersebut menurut (Oliver & Larson 1990) disebabkan oleh laju pertumbuhan yang berbeda-beda, akan menghasilkan sebuah pola yang berbeda diprediksi dimana individu yang mendominasi dapat menurunkan individu yang lainnya ke strata yang lebih rendah dengan mendominasi pertumbuhan tingginya secara pelan-pelan, dan secara fisik akan mengikis individu yang lain.
19 35 Hal tersebut yang mengakibatkan pola struktur tegakan pada berbagai petak ukur berbeda-beda karena dominasi oleh individu yang terkuat dan mampu bertahan hidup dan yang tidak mampu bersaing akan mati, sehingga pola struktur tegakannya akan berbeda-beda pada masing-masing petak ukur sesuai dengan persaingan individu dalam petak tersebut dan kondisi lingkungan. Perlakuan kondisi lingkungan di lapangan HPGW yang tidak ada perlakuan khusus apapun, menyebabkan persaingan murni alami antar individu pohon yang menyebabkan pola struktur tegakan berbeda-beda pada masing-masing petak ukur. Regenerasi dan pertumbuhan pohon berlangsung secara alami tanpa perlakuan apapun menyebabkan jumlah individu untuk luasan satu hektar berbeda-beda. Hal ini juga mempengaruhi bentuk pola struktur tegakan berbedabeda pada masing-masing petak ukur dan famili sebaran yang dicobakan dalam penelitian Analisis Nilai Koefesien Skewness Kemencengan atau kecondongan (skewness) adalah tingkat ketidaksimetrisan atau kejauhan simetri dari sebuah distribusi. Sebuah distribusi yang tidak simetris akan memiliki rata-rata, median, dan modus yang tidak sama besarnya (X Me Mo), sehingga distribusi akan terkonsentrasi pada salah satu sisi dan kurvanya akan menceng (Hasan 2001). Tabel 7 Nilai koefesien skewness untuk kelompok jenis agathis, jenis lain dan seluruh jenis pada masing-masing petak ukur Petak Ukur Kelompok Jenis SK Petak Ukur 1 Agathis 0,1093 Jenis Lain -0,3042 Seluruh Jenis 0,0573 Petak Ukur 2 Agathis 0,1784 Jenis Lain 0,5198 Seluruh Jenis 0,4078 Petak Ukur 3 Agathis 0,4188 Jenis Lain 0,8224 Seluruh Jenis 0,4222 Petak Ukur 4 Agathis 0,6362 Jenis Lain 0,4386 Seluruh Jenis 0,6074 Petak Ukur 5 Agathis 0,2440 Jenis Lain 0,8445 Seluruh Jenis 0,4375
20 36 Jika SK 0, maka data dikatakan menyebar simetris. Bila sebarannya menjulur ke kiri, nilai tengahnya lebih kecil daripada mediannya, sehingga nilai SK (-) negatif. Tetapi apabila sebarannya menjulur ke kanan, nilai tengahnya lebih besar daripada median sehingga SK (+) positif, secara umum nilai SK terletak antar -3 dan +3 (Walpole 1992). Bentuk atau sebaran segugus pengukuran paling baik ditayangkan melalui sebuah histogram. Suatu sebaran dikatakan setangkup atau simetrik bila sebaran itu dapat dilipat sepanjang suatu sumbu tegak sehingga kedua belahannya saling menutupi apabila suatu sebaran yang tidak setangkup terhadap suatu sumbu tegak dikatakan menjulur. Sebaran dikatakan menjulur kekanan atau menjulur positif apabila memiliki ekor kanan panjang dibandingkan dengan ekor kiri demikian juga sebaliknya (Walpole 1992). Dari hasil penelitian, terlihat kecenderungan kurva menuju kepada koefesien skewness positif SK > 0 yang berarti bahwa sebagian besar data mengumpul di ekor sebelah kiri kecuali pada petak ukur 1 untuk kelompok jenis lain, dimana SK diperoleh -0,3042 hal ini berarti data mengumpul di ekor sebelah kanan dengan nilai tengah data lebih besar daripada mediannya. Oleh karena itu untuk menjadikan tegakan hutan tersebut ke arah skewness nol perlu dilakukan tindakan, antara lain : usaha regenerasi dengan penanaman pada areal tidak produktif atau tanah kosong, usaha mempertahankan stabilitas kemampuan lahan, usaha-usaha peningkatan kualita dan kuantita dengan penjarangan, pengendalian hama dan penyakit, pengendalian terhadap kebakaran, gangguan iklim, dan terhadap gangguan dari manusia (Ikhsan 1987). Banyaknya data pada ekor kiri pada penelitian ini menandakan bahwa pohon menyebar dalam tegakan dengan jumlah pohon berdiameter kecil. Karena tegakan hutan di HPGW sepenuhnya dipelihara tanpa penjarangan dan penebangan, sehingga membuat kondisi tegakan berada pada petak ukur tersebut menjadi sangat rapat. Hal ini menyebabkan persaingan antar individu pohon dalam merebutkan air, unsur hara, cahaya matahari serta pertahanan terhadap gangguan-gangguan yang berasal dari manusia maupun hewan.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN.1. Karakteristik Data Pengamatan karakteristik tegakan hutan seumur puspa dilakukan pada dua plot di Hutan Pendidikan Gunung Walat dengan luas masing-masing plot berukuran 1
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2011 dengan lokasi penelitian berada di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi.
MODEL STRUKTUR TEGAKAN HUTAN TANAMAN AGATHIS (Agathis loranthifolia) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI JAWA BARAT HERLINA WATI
MODEL STRUKTUR TEGAKAN HUTAN TANAMAN AGATHIS (Agathis loranthifolia) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI JAWA BARAT HERLINA WATI DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
14 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN.1. Hasil Penelitian.1.1 Pertumbuhan diameter S. leprosula Miq umur tanam 1 4 tahun Hasil pengamatan dan pengukuran pada 4 plot contoh yang memiliki luas 1 ha (0 m x 0 m) dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum tentang Schima wallichii Jenis pohon puspa atau Schima wallichii Korth., termasuk ke dalam famili Theaceae. Terdiri dari empat subspecies, yaitu Schima wallichii
STUDI MODEL STRUKTUR TEGAKAN HUTAN TANAMAN Pinus merkusii Jungh et de Vriese TANPA PENJARANGAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT MUTIA ADIANTI
STUDI MODEL STRUKTUR TEGAKAN HUTAN TANAMAN Pinus merkusii Jungh et de Vriese TANPA PENJARANGAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT MUTIA ADIANTI DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN
Distribusi Normal. Statistika (MAM 4137) Syarifah Hikmah JS
Distribusi Normal Statistika (MAM 4137) Syarifah Hikmah JS Outline Kurva normal Luas daerah di bawah kurva normal Penerapan sebaran normal DISTRIBUSI NORMAL model distribusi kontinyu yang paling penting
Distribusi Normal Distribusi normal, disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai
Distribusi Normal Distribusi normal, disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai analisis statistika. Distribusi normal baku adalah distribusi
TATAP MUKA IV UKURAN PENYIMPANGAN SKEWNESS DAN KURTOSIS. Fitri Yulianti, SP. MSi.
TATAP MUKA IV UKURAN PENYIMPANGAN SKEWNESS DAN KURTOSIS Fitri Yulianti, SP. MSi. UKURAN PENYIMPANGAN Pengukuran penyimpangan adalah suatu ukuran yang menunjukkan tinggi rendahnya perbedaan data yang diperoleh
PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130
PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130 Data 1. Besaran Statistika berbicara tentang data dalam bentuk besaran (dimensi) Besaran adalah sesuatu yang dapat dipaparkan secara jelas dan pada prinsipnya dapat
DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. Distribusi Normal_M. Jainuri, M.Pd 1
DISTRIBUSI NORMAL Pertemuan 3 1 Distribusi Normal Pertama kali diperkenalkan oleh Abraham de Moivre (1733). De Moivre menemukan persamaan matematika untuk kurva normal yang menjadi dasar dalam banyak teori
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Spesies-spesies pohon tersebut disajikan dalam Tabel 3 yang menggambarkan
32 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Keanekaragaman Spesies Pohon Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa di Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura WAR terdapat 60 spesies pohon
DISTRIBUSI NORMAL. Pertemuan 3. 1 Pertemuan 3_Statistik Inferensial
DISTRIBUSI NORMAL Pertemuan 3 1 Pertemuan 3_Statistik Inferensial Distribusi Normal Pertama kali diperkenalkan oleh Abraham de Moivre (1733). De Moivre menemukan persamaan matematika untuk kurva normal
UKURAN NILAI SENTRAL&UKURAN PENYEBARAN. Tita Talitha, MT
UKURAN NILAI SENTRAL&UKURAN PENYEBARAN Tita Talitha, MT DISTRIBUSI FREKWENSI PENGERTIAN distribusi frekwensi adalah suatu tabel dimana banyaknya kejadian / frekwensi didistribusikan ke dalam kelas-kelas
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaturan hasil saat ini yang berlaku pada pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia menggunakan sistem silvikultur yang diterapkan pada IUPHHK Hutan Produksi dalam P.11/Menhut-II/2009.
ANGKA BENTUK DAN MODEL VOLUME KAYU AFRIKA (Maesopsis eminii Engl) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, JAWA BARAT DIANTAMA PUSPITASARI
ANGKA BENTUK DAN MODEL VOLUME KAYU AFRIKA (Maesopsis eminii Engl) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, JAWA BARAT DIANTAMA PUSPITASARI DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN
KURVA NORMAL. (Sumber: Buku Metode Statistika tulisan Sudjana)
KURVA NORMAL (Sumber: Buku Metode Statistika tulisan Sudjana) Distribusi Normal (Distribusi GAUSSE) Kurva Normal Suatu alat statistik yang sangat penting untuk menaksir dan meramalkan peristiwa-peristiwa
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Letak dan Ciri-ciri Lintasan Sepeda Gunung Letak lintasan sepeda gunung di HPGW disajikan dalam Gambar 5. Ciricirinya disajikan dalam Tabel 9. Tabel 9 Keadaan plot penelitian
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Distribusi Normal Salah satu distribusi frekuensi yang paling penting dalam statistika adalah distribusi normal. Distribusi normal berupa kurva berbentuk lonceng setangkup yang
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Volume Pohon pada Jarak Tanam 3 m x 3 m. Bardasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, Pada sampel populasi untuk
34 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Volume Pohon pada Jarak Tanam 3 m x 3 m Bardasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, Pada sampel populasi untuk jarak tanam 3 m x 3 m terdapat 3 plot dengan jumlah
HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM
PENDUGAAN POTENSI TEGAKAN HUTAN PINUS (Pinus merkusii) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM START MENGGUNAKAN UNIT CONTOH LINGKARAN KONVENSIONAL
STATISTICS. Oleh: Hanung N. Prasetyo DISTRIBUSI NORMAL WEEK 6 TELKOM POLTECH/HANUNG NP
STATISTICS WEEK 6 Oleh: Hanung N. Prasetyo DISTRIBUSI NORMAL Pengantar: Dalam pokok bahasan disini memuat beberapa distribusi kontinyu yang sangat penting di bidang statistika. diantaranya distribusi normal.
III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan juni sampai dengan Juli 2013 di zona pemanfaatan terbatas,
16 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan juni sampai dengan Juli 2013 di zona pemanfaatan terbatas, Resort Way Kanan, Satuan Pengelolaan Taman Nasional 1 Way Kanan,
DISPERSI DATA. - Jangkauan (Range) - Simpangan/deviasi Rata-rata (Mean Deviation) - Variansi (Variance) - Standar Deviasi (Standart Deviation)
DISPERSI DISPERSI DATA Ukuran penyebaran suatu kelompok data terhadap pusat data. - Jangkauan (Range) - Simpangan/deviasi Rata-rata (Mean Deviation) - Variansi (Variance) - Standar Deviasi (Standart Deviation)
MAKALAH. Mata Kuliah STATISTIKA KHADEEJAH ASWI AKBAR PUTRI DESSY VIVIT L IGA ANDRIANITA
MAKALAH Mata Kuliah STATISTIKA KHADEEJAH ASWI AKBAR 13050394007 PUTRI DESSY VIVIT L 13050394053 IGA ANDRIANITA 13050394055 S1 Pendidikan Tata Boga 2013 JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sebaran rayap tanah di berbagai vegetasi Hutan Pendidikan Gunung Walat memiliki luas wilayah 359 ha, dari penelitian ini diperoleh dua puluh enam contoh rayap dari lima
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di IUPHHK HA PT. Salaki Summa Sejahtera, Pulau Siberut, Propinsi Sumatera Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Nopember
Makalah Statistika Distribusi Normal
Makalah Statistika Distribusi Normal Disusun Oleh: Dwi Kartika Sari 23214297 2EB16 Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Gunadarma 2015 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Data adalah bentuk jamak dari datum, yang dapat diartikan sebagai informasi yang diterima yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau dalam bentuk lisan dan tulisan
BEBERAPA DISTRIBUSI PELUANG KONTINU. Normal, Gamma, Eksponensial, Khi-Kuadrat, Student dan F
BEBERAPA DISTRIBUSI PELUANG KONTINU Normal, Gamma, Eksponensial, Khi-Kuadrat, Student dan F Distribusi Normal Distribusi yang terpenting dalam bidang statistika, penemu : DeMoivre (733) dan Gauss Bergantung
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelompok Umur Pertumbuhan populasi tiram dapat dilihat berdasarkan sebaran kelompok umur. Analisis sebaran kelompok umur dilakukan dengan menggunakan FISAT II metode NORMSEP.
BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 4. BEBERAPA DISTRIBUSI PELUANG DISKRET
Pertemuan 7. BAHAN AJAR STATISTIKA DASAR Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 4. BEBERAPA DISTRIBUSI PELUANG DISKRET 4. Pendahuluan 4.2 Distribusi seragam diskret 4.3 Distribusi binomial dan multinomial
METODOLOGI. Lokasi dan Waktu
METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau, pada 3 tipe penggunaan lahan gambut yaitu; Hutan Alam, Kebun Rakyat dan Areal HTI Sagu, yang secara geografis
BAB VI DISTRIBUSI PROBABILITAS MENERUS
BAB VI DISTRIBUSI ROBABILITAS MENERUS 6. Distribusi Uniform (seragam) Menerus Distribusi seragam menerus merupakan distribusi yang paling sederhana. Karaketristik distribusi ini adalah fungsi kepadatannya
PENDUGAAN POTENSI BIOMASSA TEGAKAN DI AREAL REHABILITASI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT MENGGUNAKAN METODE TREE SAMPLING INTAN HARTIKA SARI
PENDUGAAN POTENSI BIOMASSA TEGAKAN DI AREAL REHABILITASI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT MENGGUNAKAN METODE TREE SAMPLING INTAN HARTIKA SARI DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemanenan Hutan Pemanenan merupakan kegiatan mengeluarkan hasil hutan berupa kayu maupun non kayu dari dalam hutan. Menurut Suparto (1979) pemanenan hasil hutan adalah serangkaian
I. PENDAHULUAN. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli
` I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi. Kawasan ini dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON
S T A T I S T I K A Oleh : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 Wijaya : Statistika 0 I. PENDAHULUAN Statistika adalah
BAB IV PEMBAHASAN. Sebelum melakukan analisis dengan penerapan simulasi Monte Carlo dan VaR,
BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisa Harga Saham BBCA Sebelum melakukan analisis dengan penerapan simulasi Monte Carlo dan VaR, penulis akan menganalisa pergerakan harga saham BBCA. Data yang diperlukan dalam
MA5283 STATISTIKA Bab 3 Inferensi Untuk Mean
MA5283 STATISTIKA Bab 3 Inferensi Untuk Mean Orang Cerdas Belajar Statistika Silabus Silabus dan Tujuan Peubah acak kontinu, distribusi dan Tabel normal, penaksiran titik dan selang, uji hipotesis untuk
Probabilitas dan Statistika Distribusi Peluang Kontinyu 1. Adam Hendra Brata
Probabilitas dan Statistika Distribusi Peluang Kontinyu 1 Adam Hendra Brata Variabel Acak Kontinyu - Variabel Acak Kontinyu Suatu variabel yang memiliki nilai pecahan didalam range tertentu Distribusi
Statistik Dasar. 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian. 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data
Statistik Dasar 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data 3. Ukuran Tendensi Sentral, Ukuran Penyimpangan 4. Momen Kemiringan 5. Distribusi Normal t Dan
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan
Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru 2 )Mahasiswa Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan. Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru ABSTRACT
PENENTUAN HUBUNGAN TINGGI BEBAS CABANG DENGAN DIAMETER POHON MERANTI PUTIH (Shorea bracteolata Dyer) DI AREAL HPH PT. AYA YAYANG INDONESIA, TABALONG, KALIMANTAN SELATAN Oleh/by EDILA YUDIA PURNAMA 1) ;
II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung dalam
4 II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung dalam menentukan momen, kumulan, dan fungsi karakteristik dari distribusi log-logistik (α,β). 2.1 Distribusi Log-Logistik
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
27 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kualitas Pembukaan Wilayah Hutan (PWH) 5.1.1 Kerapatan Jalan (WD) Utama dan Jalan Cabang Berdasarkan pengukuran dari peta jaringan jalan hutan PT. Inhutani I UMH Sambarata
KONSEP DASAR PROBABILITAS DAN DISTRIBUSI PROBABILITAS LELY RIAWATI, ST, MT.
KONSEP DASAR PROBABILITAS DAN DISTRIBUSI PROBABILITAS LELY RIAWATI, ST, MT. EKSPERIMEN suatu percobaan yang dapat diulang-ulang dengan kondisi yang sama CONTOH : Eksperimen : melempar dadu 1 kali Hasilnya
Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting. Oleh Azimmatul Ihwah
Distribusi Diskrit dan Kontinu yang Penting Oleh Azimmatul Ihwah Distribusi Diskrit Fungsi probabilitas dari variabel random diskrit dapat dinyatakan dalam formula matematik tertentu yang dinamakan fungsi
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Luas HPGW secara geografis terletak diantara 6 54'23'' LS sampai -6 55'35'' LS dan 106 48'27'' BT sampai 106 50'29'' BT. Secara administrasi pemerintahan HPGW
BAB I PENDAHULUAN. Hutan alam yang ada di Indonesia banyak diandalkan sebagai hutan produksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan alam yang ada di Indonesia banyak diandalkan sebagai hutan produksi untuk mencukupi kebutuhan kayu perkakas dan bahan baku industri kayu. Guna menjaga hasil
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1. Waktu dan Tempat BAB IV METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terfokus di Desa Tompobulu dan kawasan hutan sekitarnya. Penelitian dilaksanakan
Proses Pemulihan Vegetasi METODE. Waktu dan Tempat Penelitian
4 praktek perambahan masyarakat lokal melalui aktivitas pertanian atau perladangan berpindah dan mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Hal ini sesuai dengan karakteristik usaha kehutanan yang
Haryoso Wicaksono, S.Si., M.M., M.Kom. 26
Distribusi probabilita kontinu, yaitu apabila random variabel yang digunakan kontinu. Probabilita dihitung untuk nilai dalam suatu interval tertentu. Probabilita di suatu titik = 0. Probabilita untuk random
II. TINJAUAN PUSTAKA Biomassa
3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Biomassa Biomassa merupakan bahan organik dalam vegetasi yang masih hidup maupun yang sudah mati, misalnya pada pohon (daun, ranting, cabang, dan batang utama) dan biomassa
Ilmu Komunikasi Marketing Communication & Advertising
Modul ke: Fakultas 06Ilmu Komunikasi UKURAN DISPERSI (PENYEBARAN) Memberikan informasi tentang sebaran nilai pada data tersebut dan dapat membandingkan sebaran data dari dua distribusi nilai Dra. Yuni
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik manajemen risiko menjadi mengemuka setelah terjadi banyak kejadian tidak terantisipasi yang menyebabkan kerugian perusahaan. Depresi tajam dan cepat terhadap
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
38 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil 5.1.1 Curah hujan Grafik curah hujan selama pengamatan (2 Desember 2010-31 Januari 2011) disajikan dalam Gambar 10. Gambar 10 Curah hujan selama pengamatan. Berdasarkan
PENS. Probability and Random Process. Topik 2. Statistik Deskriptif. Prima Kristalina Maret 2016
Program Pasca Sarjana Terapan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Probability and Random Process Topik 2. Statistik Deskriptif Prima Kristalina Maret 2016 1 Outline [2][1] 1. Penyajian Data o Tabel
DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016
DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016 DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU Berbeda dengan variabel random diskrit, sebuah variabel random kontinyu adalah variabel yang dapat
CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL
DISTRIBUSI NORMAL CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL Berbentuk lonceng simetris terhadap x = μ distribusi normal atau kurva normal disebut juga dengan nama distribusi Gauss, karena persamaan matematisnya ditemukan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Tegakan Sebelum Pemanenan Kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) dilakukan untuk mengetahui potensi tegakan berdiameter 20 cm dan pohon layak tebang.
TINGKAT KONSUMSI KAYU BAKAR MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat)
TINGKAT KONSUMSI KAYU BAKAR MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat) BUDIYANTO DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian tentang Perkembangan Tegakan Pada Hutan Alam Produksi Dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) dilaksanakan di areal
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan bejana berjungkit sebagai alat pengukuran memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan pengggunaan alat pengkuran konvensional. Kelebihan alat ini memberikan kemudahan
METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di dalam areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT. Sari Bumi Kusuma, Unit S. Seruyan, Kalimantan Tengah. Areal hutan yang dipilih untuk penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di IUPHHK-HA PT MAM, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua pada bulan Mei sampai dengan Juli 2012. 3.2. Bahan dan Alat Penelitian
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN.. Sebaran Pohon Contoh Pemilihan pohon contoh dilakukan secara purposive sampling (pemilihan contoh terarah dengan pertimbangan tertentu) dengan memperhatikan sebaran diameter
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
35 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Curah Hujan Data curah hujan yang terjadi di lokasi penelitian selama 5 tahun, yaitu Januari 2006 hingga Desember 2010 disajikan dalam Gambar 5.1. CH (mm) 600 500 400
III. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
15 III. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 3.1 Lokasi dan Sejarah Pengelolaan Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) terletak 2,4 km dari poros jalan Sukabumi - Bogor (desa Segog). Dari simpang Ciawi berjarak
INVENTARISASI TEGAKAN TINGGAL WILAYAH HPH PT. INDEXIM UTAMA DI KABUPATEN BARITO UTARA KALIMANTAN TENGAH
INVENTARISASI TEGAKAN TINGGAL WILAYAH HPH PT. INDEXIM UTAMA DI KABUPATEN BARITO UTARA KALIMANTAN TENGAH Oleh/by MUHAMMAD HELMI Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat
PENYUSUN : TIM KONSULTAN PT. DUTA POLINDO CIPTA 1. M. Sugihono Hanggito, S.Hut. 2. Miftah Ayatussurur, S.Hut.
PENYUSUNAN PROFIL KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI GUNUNG ASEUPAN Dalam Rangka Konservasi Dan Rehabilitasi Kerusakan Sumberdaya Alam Propinsi Banten PENYUSUN : TIM KONSULTAN PT. DUTA
statistika untuk penelitian
statistika untuk penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2013 Freeaninationwallpaper.blogspot.com Apa itu Statistika? Statistika adalah ilmu yang mempelajari cara pengumpulan,
Makalah Sebagai Salah Satu Tugas dalam Mata Kuliah ANALISIS STATISTIK. Oleh: 1. Trilius Septaliana KR ( ) 2. Aisyah ( )
MOMEN, KEMIRINGAN DAN KERUNCINGAN, DISTRIBUSI NORMAL, DISTRIBUSI T, DISTRIBUSI F, DISTRIBUSI BINOMIAL, DISTRIBUSI POISSON, UJI NORMALITAS DAN HOMOGENITAS, UJI F DAN t, HIPOTESIS, DAN ANOVA Makalah Sebagai
Beberapa Distribusi Peluang. Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Beberapa Distribusi Peluang Kontinu Bahan Kuliah II2092 Probabilitas dan Statistik Oleh: Rinaldi Munir Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB 1 Distribusi Seragam Kontinu Distribusi Seragam kontinu
DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU DISTRIBUSI PROBABILITAS
DISTRIBUSI PROBABILITAS Berbeda dengan variabel random diskrit, sebuah variabel random kontinyu adalah variabel yang dapat mencakup nilai pecahan maupun mencakup range/ rentang nilai tertentu. Karena terdapat
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di blok Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura
12 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di blok Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura Wan Abdul Rachman yang memiliki luasan 1.143 ha. Secara geografis terletak
KULIAH ANALISIS STATISTIK DATA SIMULASI Tipe-tipe simulasi berdasarkan analisis output:
KULIAH ANALISIS STATISTIK DATA SIMULASI Tipe-tipe simulasi berdasarkan analisis output: 1. Terminating simulation 2. Nonterminating simulation: a. Steady-state parameters b. Steady-state cycle parameters
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Risiko adalah kerugian karena kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Misalnya, kejadian sakit mengakibatkan kerugian sebesar biaya berobat dan upah yang hilang karena
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Bukit Gunung Sulah Kelurahan Gunung Sulah
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bukit Gunung Sulah Kelurahan Gunung Sulah Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung (Gambar 2) pada bulan Juli sampai dengan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. . Gambar 4 Kondisi tegakan akasia : (a) umur 12 bulan, dan (b) umur 6 bulan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ini dilakukan pada lokasi umur yang berbeda yaitu hutan tanaman akasia (A. crassicarpa) di tegakan berumur12 bulan dan di tegakan berumur 6 bulan. Jarak
STRUKTUR TEGAKAN DAN REGENERASI ALAMI HUTAN DI PULAU SIBERUT, SUMATERA BARAT ASTRIDA RM SIGIRO
STRUKTUR TEGAKAN DAN REGENERASI ALAMI HUTAN DI PULAU SIBERUT, SUMATERA BARAT ASTRIDA RM SIGIRO DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
Statistika Materi 5. Ukuran Penyebaran. (Lanjutan) Hugo Aprilianto, M.Kom
Statistika Materi 5 Ukuran Penyebaran (Lanjutan) Hugo Aprilianto, M.Kom UKURAN PENYEBARAN RELATIF yaitu mengubah ukuran penyebaran dari berbagai satuan menjadi ukuran relatif atau persen. Penggunaan ukuran
BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2 Bahan dan Alat 4.3 Metode Pengambilan Data Analisis Vegetasi
BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April sampai bulan Juni tahun 2009, pada areal hutan produksi perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan
digunakan untuk menyelesaikan persamaan yang nantinya akan diperoleh dalam
II. LANDASAN TEORI Pada bab ini akan diberikan konsep dasar yang akan digunakan dalam pembahasan hasil penelitian ini, antara lain : 2.1 Fungsi Gamma Fungsi gamma merupakan suatu fungsi khusus. Fungsi
Tugas Kelompok. Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif. Judul Makalah Revisi DISTRIBUSI PELUANG
Tugas Kelompok Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif Judul Makalah Revisi DISTRIBUSI PELUANG Kajian Buku Pengantar Statistika Pengarang Nana Sudjana Tugas dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
II. TINJAUAN PUSTAKA WRPLOT View (Wind Rose Plots for Meteorological Data) WRPLOT View adalah program yang memiliki kemampuan untuk
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. WRPLOT View (Wind Rose Plots for Meteorological Data) WRPLOT View adalah program yang memiliki kemampuan untuk mempresentasikan data kecepatan angin dalam bentuk mawar angin sebagai
S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA
S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 IV. PENDUGAAN PARAMETER Populasi Sampling Sampel N n Rata-rata : μ Simp.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam hal ini adalah kayu dan modal produksi. Untuk itu maka terbentuk
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Sistem Dinamika Potensi Pendapatan Hutan dapat dikatakan sebagai alat produksi sekaligus hasil produksi. Hutan sebagai alat produksi artinya hutan menghasilkan yang boleh
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di hutan hujan tropika yang berlokasi di PT. Austral Byna, Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Penelitian dilaksanakan
KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN REGENERASI ALAMI DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI SUSI SUSANTI
KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN REGENERASI ALAMI DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI SUSI SUSANTI DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Berdasarkan bobot yang digunakan, hasil kontur yang dihasilkan akan berbeda untuk masing-masing metode interpolasi. Bentuk konturnya ditampilkan pada Gambar 6 sampai
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik manajemen risiko menjadi mengemuka setelah terjadi banyak kejadian yang menyebabkan kerugian pada perusahaan. Depresi tajam dan cepat terhadap rupiah (krisis
BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan jumlah spesies burung endemik (Sujatnika, 1995). Setidaknya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara yang memiliki kekayaan spesies burung dan menduduki peringkat pertama di dunia berdasarkan jumlah spesies burung
STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling
STATISTIKA EKONOMI I Chapter 4 Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial Chapter 5 Teori Sampling Rengganis Banitya Rachmat [email protected] 4. Distribusi Probabilitas Normal dan Binomial
MODUL II DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT DAN KONTINU
DISTRIBUSI PELUANG DISKRIT DAN KONTINU A. TUJUAN PRAKTIKUM Melalui praktikum Modul II ini diharapkan praktikan dapat: 1. Mengenal jenis dan karakteristik dari beberapa distribusi peluang. 2. Menguji dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) adalah sistem silvikultur yang digulirkan sebagai alternatif pembangunan hutan tanaman
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengambilan Plot Contoh di Lapangan Berdasarkan jumlah pohon yang ditemukan di lapangan, jumlah pohon yang diperoleh dari 38 plot lokasi BKPH Dagangan ada sebanyak 372
Distribusi Probabilitas Kontinyu Teoritis
Distribusi Probabilitas Kontinyu Teoritis Suprayogi Dist. Prob. Teoritis Kontinyu () Distribusi seragam kontinyu (continuous uniform distribution) Distribusi segitiga (triangular distribution) Distribusi
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
29 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Parameter Demografi 5.1.1 Ukuran dan Komposisi Kelompok Pengamatan kelompok monyet ekor panjang di HPGW dilaksanakan pada pagi hari dan sore hari. Ukuran kelompok terbanyak
KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM
KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM Muhdi Staf Pengajar Program Studi Teknologi Hasil Hutan Departemen Kehutanan USU Medan Abstract A research was done at natural tropical
