BAB IX TEKNIK PERAMALAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IX TEKNIK PERAMALAN"

Transkripsi

1 Peramalan 93 BAB IX TEKNIK PERAMALAN Kepuusan persediaan yang dihasilkan dari pembelian cenderung bersifa jangka pendek dan hanya unuk produk yang khas. Peramalan yang mengarah pada kepuusan ini harus memenuhi kebuuhan yang sama seperi peramalan penjadwalan jangka pendek. Peramalan ini harus memiliki ingka keeliian yang inggi dan kekhasan produk individu. Unuk kepuusan persediaan dan penjadwalan karena banyaknya jenis yang erliba biasanya diperlukan juga membua sejumlah besar peramalan. Jadi unuk kepuusan semacam ini akan sering digunakan kompuerisasi sisem peramalan. Ada beberapa jenis kepuusan di dalam operasi dan dibuuhkan bermacam peramalan seperi diunjukkan pada abel 9.1. Tabel 9.1. Meode Peramalan dan Kegunaan T i m e H o r i z o n A c c u r a c y R e q u i r e d N u m b e r o f F o r e c a s s M a n a g e m e n L e v e l L o n g - r a n g e m a r k e i n g L o n g M e d i u m S i n g l e o r f e w T o p p r o g r a m s P r i c i n g d e c i s i o n s S h o r H i g h M a n y M i d d l e N e w p r o d u c i n r o d u c i o n M e d i u m M e d i u m S i n g l e T o p C o s e s i m a i n g S h o r H i g h M a n y L o w e r C a p i a l b u d g e i n g M e d i u m H i g h e s F e w T o p 9.1. Konsep Dasar Peramalan Peramalan merupakan bagian awal dari suau proses pengambilan suau kepuusan. Sebelum melakukan peramalan harus dikeahui erlebih dahulu apa sebenarnya persoalan dalam pengambilan kepuusan iu. Peramalan adalah pemikiran erhadap suau besaran, misalnya perminaan erhadap sau aau beberapa produk pada periode yang akan daang. Pada hakekanya peramalan hanya merupakan suau perkiraan

2 Peramalan 94 (guess), eapi dengan menggunakan eknik-eknik erenu, maka peramalan menjadi lebih sekedar perkiraan. Peramalan dapa dikaakan perkiraan yang ilmiah (educaed guess). Seiap pengambilan kepuusan yang menyangku keadaan di masa yang akan daang, maka pasi ada peramalan yang melandasi pengambilan kepuusan ersebu (Sofyan Assauri, 1984, hal. 1). Dalam kegiaan produksi, peramalan dilakukan unuk menenukan jumlah perminaan erhadap suau produk dan merupakan langkah awal dari proses perencanaan dan pengendalian produksi. Dalam peramalan dieapkan jenis produk apa yang diperlukan (wha), jumlahnya (how many), dan kapan dibuuhkan (when). Tujuan peramalan dalam kegiaan produksi adalah unuk meredam keidakpasian, sehingga diperoleh suau perkiraan yang mendekai keadaan yang sebenarnya. Suau perusahaan biasanya menggunakan prosedur iga ahap unuk sampai pada peramalan penjualan, yaiu diawali dengan melakukan peramalan lingkungan, diikui dengan peramalan penjualan indusri, dan diakhiri dengan peramalan penjualan perusahaan. Peramalan lingkungan dilakukan unuk meramalkan inflasi, pengangguran, ingka suku bunga, kecenderungan konsumsi dan menabung, iklim invesasi, belanja pemerinah, ekspor, dan berbagai ukuran lingkungan yang pening bagi perusahaan. Hasil akhirnya adalah proyeksi Produk Nasional Bruo, yang digunakan bersama indikaor lingkungan lainnya unuk meramalkan penjualan indusri. Kemudian, perusahaan melakukan peramalan penjualan dengan asumsi ingka pangsa erenu akan ercapai. 9.. Pendefenisian Tujuan Peramalan Tujuan peramalan diliha dengan waku: a. Jangka pendek (Shor Term) Menenukan kuanias dan waku dari iem dijadikan produksi. Biasanya bersifa harian aaupun mingguan dan dienukan oleh Low Managemen. b. Jangka Menengah (Medium Term) Menenukan kuanias dan waku dari kapasias produksi. Biasanya bersifa bulanan aaupun kuaral dan dienukan oleh Middle Managemen. c. Jangka Panjang (Long Term)

3 Peramalan 95 Merencanakan kuanias dan waku dari fasilias produksi. Biasanya bersifa ahunan, 5 ahun, 10 ahun, aaupun 0 ahun dan dienukan oleh Top Managemen Karakerisik Peramalan Yang Baik Peramalan yang baik mempunyai beberapa krieria yang pening, anara lain akurasi, biaya,dan kemudahan. Penjelasan dari krieria-krieria ersebu adalah sebagai beriku : 1. Akurasi. Akurasi dari suau hasil peramalan diukur dengan hasil kebiasaan dan kekonsisensian peramalan ersebu. Hasil peramalan dikaakan bias bila peramalan ersebu bila erlalu inggi aau rendah dibandingkan dengan kenyaaan yang sebenarnya erjadi. Hasil peramalan dikaakan konsisen bila besarnya kesalahan peramalan relaif kecil. Peramalan yang erlalu rendah akan mengakibakan kekuranga persediaan, sehingga perminaan konsumen idak dapa dipenuhi segera akibanya perusahaan dimungkinkan kehilangan pelanggan dan kehilangan keunungan penjualan. Peramalan yang erlalu inggi akan mengakibakan erjadinya penumpukan persediaan, sehingga banyak modal yang erserap sia sia. Keakuraan dari hasil peramalan ini berperan pening dalam menyeimbangkan persediaan yang ideal.. Biaya. Biaya yang diperlukan dalam pembuaan suau peramalan adalah erganung dari jumlah iem yang diramalkan, lamanya periode peramalan, dan meode peramalan yang dipakai. Keiga fakor pemicu biaya ersebu akan mempengaruhi berapa banayak daa yang dibuuhkan, bagaimana pengolahan daanya ( manual aau kompuerisasi), bagaimana penyimpanan daanya dan siapa enaga ahli yang diperbanukan. Pemilihan meode peramalan harus disesuaikan dengan dana yang ersedia dan ingka akurasi yang ingin didapa, misalnya iem-iem yang pening akan diramalkan dengan meode yang sederhana dan murah. Prinsip ini merupakan adopsi dari hukum Pareo ( Analisa ABC ).

4 Peramalan Kemudahan Penggunaan meode peramalan yang sederhana, mudah dibua, dan mudah diaplikasikan akan memberikan keunungan bagi perusahaan. Adalah percuma memakai meode yang canggih, eapi idak dapa diaplikasikan pada sisem perusahaan karena keerbaasan dana, sumber daya manusia, maupun peralaan eknologi Beberapa Sifa Hasil Peramalan. Dalam membua peramalan aau menerapkan suau peramalan maka ada beberapa hal yang harus diperimbangkan yaiu : 1. Ramalan pasi mengandung kesalahan, arinya peramal hanya bisa mengurangi keidakpasian yang akan erjadi, eapi idak dapa menghilangkan keidakpasian ersebu.. Peramalan seharusnya memberikan informasi enang beberapa ukuran kesalahan, arinya karena peramalan pasi mengandung kesalahan, maka adalah pening bagi peramal unuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang mungkin erjadi. 3. Peramalan jangka pendek lebih akura dibandingkan peramalan jangka panjang. Hal ini disebabkan karena pada peramalan jangka pendek, fakorfakor yang mempengaruhi perminaan relaif masih konsan sedangkan masih panjang periode peramalan, maka semakin besar pula kemungkinan erjadinya perubahan fakor-fakor yang mempengaruhi perminaan Teknik Peramalan Fakor-Fakor Yang Mempengaruhi Pemilihan Teknik Peramalan. Peramalan sebenarnya upaya unuk memperkecil resiko yang imbul akiba pengambilan kepuusan dalam suau perencanaan produksi. Semakin besar upaya yang dikeluarkan enu resiko yang dapa dihindari semakin besar pula. Namun upaya memperkecil resiko ersebu dibaasi oleh biaya yang dikeluarkan akiba mengupayakan hal ersebu. Fakor-Fakor yang harus diperimbangkan: 1. Horizon Peramalan Ada dua aspek dari horison waku yang berhubungan dengan masing masing meoda peramalan yaiu :

5 Peramalan 97 a. Cakupan waku dimasa yang akan daang Unuk mana perbedaan dari meoda peramalan yang digunakan sebaiknya disesuaikan. b. Jumlah periode unuk mana ramalan diinginkan Beberapa eknik dan meoda hanya dapa disuaikan unuk peramalan sau aau dua periode di muka, sedangkan eknik dan meoda lain dapa dipergunakan unuk peramalan beberapa periode dimasa mendaang.. Tingka Keeliian Tingka keeliian yang dibuuhkan sanga era hubungannya dengan ingka perincian yang dibuuhkan dalam suau peramalan. Unuk beberapa pengambilan kepuusan mengharapkan variasi aau penyimpangan aas ramalan yang dilakukan anara 10 persen sampai dengan 15 persen bagi maksud maksud yang mereka harapkan, sedangkan unuk hal aau kasus lain mungkin menganggap bahwa adanya variasi aau penyimpangan aas ramalan sebesar 5 persen adalah cukup berbahaya. 3. Keersediaan Daa. Meode yang dipergunakan sanga besar manfaanya, apabila dikaikan dengan keadaan aau informasi yang ada aau daa yang dipunyai. Apabila dari daa yang lalu dikeahui adanya pola musiman, maka unuk peramalan sau ahun ke depan sebaiknya digunakan meode variasi musim. Sedangkan apabila dari daa yang lalu dikeahui adanya pola hubungan anara variable variable yang saling mempengaruhi, maka sebaiknya dipergunakan meode Sebab Akiba (causal) aau korelasi (correlaion). 4. Benuk Pola Daa. Dasar uama dari meoda peramalan adalah anggapan bahwa macam dari pola yang didapai didalam daa yang diramalkan akan berkelanjuan. Sebagai conoh, beberapa dere yang melukiskan suau pola musiman, demikian pula halnya dengan suau pola rend. Meoda peramalan yang lain mungkin lebih sederhana, erdiri dari suau nilai raa raa, dengan flukuasi yang acakan aau random yang erkandung. Oleh karena adanya perbedaan kemampuan meoda peramalan unuk mengidenifikasikan pola pola daa, maka perlu adanya usaha penyesuaian anara pola daa yang

6 Peramalan 98 elah diperkirakan erlebih dahulu dengan eknik dan meoda peramalan yang akan digunakan. 5. Biaya. Umumnya ada empa unsur biaya yang ercakup dalam penggunaan suau prosedur ramalan, yaiu biaya biaya pengembangan, penyimpanan (sorage) daa, operasi pelaksanaan dan kesempaan penggunaan eknik eknik dan meoda lainnya. Adanya perbedaan yang nyaa dalam jumlah biaya, mempunyai pengaruh aas dapa menarik idaknya penggunaan meode erenu unuk suau keadaan yang dihadapi. 6. Jenis dari model Sebagai ambahan perlu diperhaikan anggapan beberapa pola dasar yang pening dalam daa. Banyak meoda peramalan elah menganggap adanya beberapa model dari keadaan yang diramalkan. Model model ini merupakan suau dera dimana waku digambarkan sebagai unsur pening unuk menenukan perubahan perubahan dalam pola, yang mungkin secara sisemaik dapa dijelaskan dengan analisis regresi aau korelasi. Model yang lain adalah model sebab akiba aau causal model, yang menggambarkan bahwa ramalan yang dilakukan sanga erganung pada erjadinya sejumlah perisiwa yang lain, aau sifanya merupakan campuran dari model model yang elah disebukan diaas. Model model ersebu sanga pening diperhaikan, karena masing masing model ersebu mempunyai kemampuan yang berbeda neda dalam analisis keadaan unuk pengambilan kepuusan. 7. Mudah idaknya penggunaan dan aplikasinya Sau prinsip umum dalam penggunaan meoda ilmiah dari peramalan unuk menagemen dan analisis adalah meoda meoda yang dapa dimengeri dan mudah diaplikasikan yang akan dipergunakan dalam pengambilan kepuusan adan analisa. Prinsip ini didasarkan pada alasan bahwa, bila seorang manajer aau analisis beranggung jawab aas kepuusan yang diambilnya aau hasil analisa yang dilakukan, maka ia sudah enu idak menggunakan dasar yang idak dikeahuinya aau idak

7 Peramalan 99 diyakininya. Jadi, sebagai ciri ambahan dari eknik dan meoda peramalan adalah bahwa yang diperlukan unuk memenuhi kebuuhan dari keadaan ialah eknik dan meoda peramalan yang dapa disesuaikan dengan kemampuan dari manager aau analisis yang akan menggunakan meoda ramalan ersebu Kegunaan Pemilihan Teknik Peramalan. Meoda yang dipergunakan sanga besar manfaanya, apabila dikaikan dengan informasi aau daa yang dipunyai. Apabila dari daa yang lalu dikeahui adanya pola musiman, maka unuk peramalan saau ahun kedepan sebaiknya digunakan meoda variasi musim. Sedangkan apabila dari daa yang lalu dikeahui adanya pola hubungan anara variabel variabel yang saling mempengaruhi, maka sebaiknya dipergunakan meoda sebab akiba ( causal) aau korelasi (cross secion ).

8 Peramalan 100 Sebagaimana dikeahui bahwa meoda merupakan cara berpikir yang siemais dan pragmais aas pemecahan suau masalah. Dengan dasar ini, maka meoda peramalan merupakan cara memperkirakan apa yang akan eradi pada masa yang akan daang secara sisemais dan pragmais ; sehingga meoda peramalan sanga berguna unuk dapa memperkirakan secara sisemis dan pragmais aas dasar daa yang relevan pada masa yang lalu, dengan demikian meoda peramalan diharapkan dapa memberikan obyekifias yang lebih besar. Disamping iu meoda peramalan juga memberikan uruan pengerjaan dan pemecahan aas pendekaan suau masalah dalam peramalan ; sehingga bila digunakan pendekaan yang sama aas permasalahan dalam suau kegiaan peramalan, maka akan didapa dasar pemikiran dan pemecahan yang sama, karena argumenasinya sama. Selain iu, meoda peramalan memberikan cara pengerjaan yang eraur dan erarah, sehingga dengan demikian dapa dimungkinkannya penggunaan eknik eknik penganalisaan yang lebih maju. Dengan penggunaan eknik eknik ersebu, maka diharapkan dapa memberikan ingka kepercayaan dan keyakinan yang lebih besar, karena dapa diuji dan dibukikan penyimpangan aau deviasi yang erjadi secara ilmiah. Dari uraian ini, dapalah disimpulkan bahwa meoda peramalan sanga berguna, karena akan membanu dalam mengadakan pendekaan analisa erhadap ingkah laku aau pola dari daa yang lalu ; sehingga dapa memberikan cara pemikiran, pengerjaan dan pemecahan yang sisemais dan pragmais, sera memberikan ingka keyakinan yang lebih besar aas keepaan hasil ramalan yang dibua,aau yang disusun Klasifikasi Teknik Peramalan Dalam sisem peramalan, penggunaan berbagai model peramalan akan memberikan nilai ramalan yang berbeda dan deraja dari gala peramalan yang berbeda pula. Salah sau seni dalam melakukan peramalan adalah memilih model peramalan yang erbaik yang mampu mengidenifikasi dan menanggapi pola akifias hisoris dari daa.

9 Peramalan 101 Pada umumnya peramalan dapa dibedakan dari beberapa segi erganung dari cara melihanya. Apabila diliha dari sifa penyusunannya, maka peramalan dapa dibedakan aas dua macam, yaiu : 1. Diliha dari Sifa Penyusunannya a. Peramalan yang subjekif, yaiu peramalan yang didasarkan aas perasaan aau inuisi dari orang yang menyusunnya. Dalam hal ini pandangan orang yang menyusunnya sanga menenukan baik idaknya hasil ramalan ersebu. b. Peramalan yang objekif, yaiu peramalan yang didasarkan aas daa yang relevan pada masa lalu, dengan menggunakan eknik eknik dan meode meode dalam penganalisaannya.. Diliha dari Jangka Waku Ramalan yang Disusun a. Peramalan jangka pendek, yaiu peramalan yang dilakukan unuk penyusunan hasil ramalan yang jangka wakunya sau ahun aau kurang. Peramalan ini digunakan unuk mengambil kepuusan dalam hal perlu idaknya lembur, penjadwalan kerja, dan lain-lain kepuusan konrol jangka pendek. b. Peramalan jangka menengah, yaiu peramalan yang dilakukan unuk penyusunan hasil ramalan yang jangka wakunya sau hingga lima ahun ke depan Peramalan ini lebih mengkhususkan dibandingkan peramalan jangka panjang, biasanya digunakan unuk menenukan aliran kas, perencanaan produksi, dan penenuan anggaran. c. Peramalan jangka panjang, yaiu peramalan yang dilakukan unuk penyusunan hasil ramalan yang jangka wakunya lebih dari lima ahun yang akan daang. Peramalan jangka panjang digunakan unuk pengambilan kepuusan mengenai perencanaan produk dan perencanaan pasar, pengeluaran biaya perusahaan, sudi kelayakan pabrik, anggaran, purchase order, perencanaan enaga kerja sera perencanaan kapasias kerja. 3. Berdasarkan sifa ramalan yang elah disusun, maka peramalan dapa dibedakan aas dua macam, yaiu :

10 Peramalan 10 a. Peramalan Kualiaif Yaiu peramalan yang didasarkan aas kwaliaif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibua sanga erganung pada orang yang menyusunnya. Hal ini pening karena hasil peramalan ersebu dienukan berdasarkan pemikiran yang bersifa inuisi, judgemen aau pendapa, dan pengeahuan sera pengalaman dari penyusunnya. Biasanya permalan secara kwaliaif ini didasarkan aas hasil penyelidikan, seperi Delphi,S curve, analogies dan peneliian benuk aau morphological research aau didasarkan aas ciri ciri normaive seperi decision marices aau decisions rees. b. Peramalan Kuaniaif Yaiu peramalan yang didasarkan aas daa kuniaif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibua sanga erganung pada meoda yang dipergunakan dalam peramalan ersebu. Dengan meoda yang berbeda akan diperoleh hasil peramalan yang berbeda, adapun yang perlu diperhaikan dari penggunaan meoda ersebu, adalah baik idaknya meoda yang dipergunakan, sanga dienukan oleh perbedaan aau penyimpangan anara hasil ramalan dengan kenyaaan yang erjadi. Meoda yang baik adalah meoda yang memberikan nilai nilai perbedaan aau penyimpangan yang mungkin. Peramalan kuaniaif hanya dapa digunakan apabila erdapa iga kondisi sebagai beriku: Adanya informasi enang keadaan yang lain. Informasi ersebu dapa dikuanifikasikan dalam benuk daa. Dapa diasumsikan bahwa pola yang lalu akan berkelanjuan pada masa yang akan daang. Pada Gambar 9.1, dapa diliha Taksonomi peramalan dibawah ini sebagai beriku :

11 Peramalan 103 Juru Opini Eksekuif Model Kualiaif Meode Delphi Gabungan Tenaga Penjualan Peramalan Survei Pasar Regresi Raa-raa Time Series Smoohing Moving Average Meode Kuaniaif Dekomposisi Regresi Linear Eksponenial Smoohing Kausal Koefisien Korelasi Pemodelan Ekonomik Gambar 9.1. Taksonomi Peramalan Meode Peramalan Kualiaif (Judgemen Mehode) Peramalan kualiaif umumnya bersifa subjekif, dipengaruhi oleh inuisi, emosi, pendidikan, dan pengalaman seseorang. Oleh karena iu, hasil peramalan dari sau orang dengan orang yang lain dapa berbeda. Meskipun demikian, peramalan dengan meode kualiaif idak berari hanya menggunakan inuisi, eapi juga bisa mengikuserakan model model saisik sebagai bahan masukan dalam melakukan judgemen (kepuusan), dan dapa dilakukan secara perseorangan maupun kelompok.

12 Peramalan 104 Beberapa meode peramalan yang digolongkan sebagai model kualiaif adalah sebagai beriku : 1. Meode Delphi, Sekelompok pakar mengisi kuesioner, Moderaor menyimpulkan hasilnya dan memformulasikan menjadi suau kuesioner baru yang diisi kembali oleh kelompok ersebu, demikian seerusnya. Hal ini merupakan proses pembelajaran (learning process) dari kelompok anpa adanya ekanan aau inimidasi individu. Meode ini dikembangkan perama kali oleh Rand Corporaion pada ahun 1950 an. Adapun ahapan yang dilakukan adalah: a. Tenukan beberapa pakar sebagai parisipan. Sebaiknya bervariasi dengan laar belakang disiplin ilmu yang berbeda. b. Melalui kuesioner (aau e mail ), diperoleh peramalan dari seluruh parisipan. c. Simpulkan hasilnya, kemudian disribusikan kembali kepada seluruh parisipan denan peranyaan yang baru. d. Simpulkan kembali revisi peramalan dan kondisi, kemudian dikembangkan dengan peranyaan yang baru. e. Apabila diperlukan, ulangi ahap 4. Seluruh hasil akhir didisribusikan kepada seluruh parisipan.. Dugaan manajemen ( managemen esimae ) aau Panel Consensus, dimana peramalan semaa-maa berdasarkan perimbangan manajemen, umumnya oleh manajemen senior. Meode ini akan cocok dalam siuasi yang sanga sensiif erhadap inuisi dari suau aau sekelompok kecil orang yang karena pengalamannya mampu memberikan opini yang kriis dan relevan. Teknik akan dipergunakan dalam siuasi dimana idak ada siuasi dimana idak ada laernaif lain dari model peramalan yang dapa dierapkan. Bagaimanapun meode ini mempunyai banyak keerbaasan, sehingga perlu dikombinasikan dengan meode peramalan yang lain. 3. Rise Pasar (marke research), merupakan meode peramalan berdasarkan hasil hasil dari survei pasar yang dilakukan oleh enaga-enaga pemasar produk aau yang mewakilinya. Meode ini akan menjaring informasi dari planggan aau pelanggan poenbsial (konsumen) berkaian dengan rencana

13 Peramalan 105 pembelian mereka dimasa mendaang. Rise pasar idak hanya akan membanu peramalan, eapi juga unuk meningkakan desain produk dan perencanaan unuk produk-produk baru. 4. Meode kelompok ersrukur (srucured group mehods), seperi meode Delphi, dan lain lain. Meode Delphi merupakan eknik peramalan berdasarkan pada proses konvergensi dari opini beberapa orang aau ahli secara inerakif anpa menyebukan ideniasnya. Grup ini idak beremu secara bersama dalam suau forum unuk berdiskusi, eapi mereka dimina pendapanya secara erpisah dan idak boleh secara berunding. Hal ini dilakukan unuk menghindari pendapa yang bias karena pengaruh kelompok. Pendapa yang berbeda secara signifikan dari ahli yang lain dalam grup ersebu akan dinyaakan lagi kepada yang bersangkuan, sehingga akhirnya diperoleh angka esimasi pada inerval erenu yang dapa dierima. Meode Delphi ini dipakai dalam peramalan eknologi yang sudah digunakan pada pengoperasian jangka panjang selain iu, meode ini juga bermanfaa dalam pengembangan produk baru, pengembangan kapasias produksi, penerobosan ke segmen pasar baru dan sraegi kepuusan bisnis lainnya. 5. Analogi hisoris (Hisorical Analogy), merupakan eknik peramalan berdasarkan pola daa masa lalu dari produk-produk yang dapa disamakan secara Analogi. Misalnya peramalan unuk pengembangan pasar elevisi muli sisem menggunakan model perminaan elevisi hiam puih aau elevisi berwarna biasa. Analogi hisoris cenderung akan menjadi erbaik unuk pengganian produk di pasar dan apabila erdapa hubungan subsiusi langsung dari produk dalam pasar iu Meode Peramalan Kuaniaif (Saisical Mehod) Pada dasarnya meoda peramalan kuaniaif ini dapa dibedakan aas dua bagian, yaiu : 1. Meoda peramalan yang didasarkan aas penggunaan analisa pola hubungan anara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel waku, yang merupakan dere waku aau ime series.

14 Peramalan 106. Meoda peramalan yang didasarkan aas penggunaan analisa pola hubungan anara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel lain yang mempengaruhinya, yang bukan waku yang disebu meode korelasi aau sebab akiba (causal mehod). Prosedur umum yang digunakan dalam peramalan secara kuaniaif adalah: 1. Definisikan ujuan peramalan.. Pembuaan diagram pencar. 3. Pilih minimal dua meode peramalan yang dianggap sesuai. 4. Hiung parameer parameer fungsi peramalan. 5. Hiung kesalahan seiap meode peramalan. 6. Pilih meode yang erbaik, yaiu yang memiliki kesalahan erkecil. 7. Lakukan verifikasi peramalan. Adapun langkah langkah peramalan secara kuaniaif dapa diliha pada gambar 9.. sebagai beriku :

15 Peramalan 107 Langkah I : Defenisikan Tujuan Peramalan Langkah II : Bua Diagram Pencar Langkah III : Pilih beberapa meode Pearamalan Langkah IV : Hiung Parameer- Parameer Langkah V : Hiung seiap kesalahan seiap meode Langkah VI : Pilih Meode dengan Kesalahan erkecil Langkah VII: Verifikasi Peramalan Gambar 9.. Langkah langkah Peramalan Secara Kuaniaif Meode Time Series. Meode ime series adalah meode yang dipergunakan unuk menganalisis serangkaian daa yang merupakan fungsi dari waku. Meode ini mengasumsikan beberapa pola aau kombinasi pola selalu berulang sepanjang waku, dan pola dasarnya dapa diidenifikasi semaa-maa aas dasar daa hisoris dari serial iu.

16 Peramalan 108 Dengan analisis dere waku dapa diunjukkan bagaimana perminaan erhadap suau produk erenu bervariasi erhadap waku. Sifa dari perubahan perminaan dari ahun ke ahun dirumuskan unuk meramalkan penjualan pada masa yang akan daang. Ada empa komponen uama yang mempengaruhi analisis ini, yaiu : a. Pola Siklis (Cycle) Penjualan produk dapa memiliki siklus yang berulang secara periodik. Banyak produk dipengaruhi pola pergerakan akivias ekonomi yang erkadang memiliki kecenderungan periodic. Komponen siklis ini sanga berguna dalam peramalan jangka menengah. Pola daa ini erjadi bila daa memiliki kecendrungan unuk naik aau urun erus-menerus. Pola daa dalam benuk rend ini digambarkan Biaya sebagai beriku: Gambar 9.3. Pola Siklis Waku b. Pola Musiman (Seasonal) Perkaaan musim menggambarkan pola penjualan yang berulang seiap periode. Komponen musim dapa dijabarkan ke dalam fakor cuaca, libur, aau kecenderungan perdagangan. Pola musiman berguna dalam meramalkan penjualan dalam jangka pendek. Pola daa ini erjadi bila nilai daa sanga dipengaruhi oleh musim, misalnya perminaan bahan baku jagung unuk makanan ernak ayam pada pabrik pakan ernak selama sau ahun. Selama musim

17 Peramalan 109 panen harga jagung akan menjadi urun karena jumlah jagung yang dibuuhkan ersedia dalam jumlah yang besar. Pola daa musiman dapa digambarkan sebagai beriku: Biaya Waku Gambar 9.4. Pola Musiman c. Pola Horizonal Pola daa ini erjadi apabila nilai daa berflukuasi di sekiar nilai raa-raa. Pola ini dapa digambarkan sebagai beriku (Sofyan Assauri, 1984, hal ): Biaya Gambar 9.5. Pola Horizonal Waku d. Pola Trend Pola daa ini erjadi bila daa memiliki kecenderungan unuk naik aau urun erus menerus. Pola daa dalam benuk rend ini dapa digambarkan sebagai beriku: Biaya Gambar 9.6. Pola Trend Waku

18 Peramalan 110 Dalam meramalkan biaya-biaya yang ermasuk di dalam biaya operasi dipergunakan Pola Trend karena biaya ersebu cenderung naik jika mesin/peralaan semakin ua aau semakin lama jangka waku pemakaiannya. Ada beberapa rend yang digunakan didalam penyelesaian masalah ini, yaiu : 1) Trend Linier Benuk persamaan umum (Sofyan Assauri, 1984, hal ): Y = a + b Sedangkan peramalannya mempunyai benuk persamaan: Y = a + b di mana: Y = Nilai ramalan pada periode ke- = Waku/periode Dengan menggunakan meode kuadra erkecil (Leas Square Mehod) maka harga konsana a dan b diperoleh dari persamaan di bawah ini: n Y b n Y Y b a n ) Trend Eksponensial aau Perumbuhan Benuk persamaan umum: Y = ae b Sedangkan peramalannya mempunyai benuk persamaan: Y = ae b Dengan menggunakan ransformasi logarima naural maka harga konsana a dan b diperoleh dari persamaan di bawah ini: n ln Y b n ln Y ln Y b ln a n

19 Peramalan 111 3) Trend Logarima Y = a + b log Sedangkan peramalannya mempunyai benuk persamaan: Y = a + b log Dengan menggunakan ransformasi logarima naural maka harga konsana a dan b diperoleh dari persamaan di bawah ini: n log.y b n log log log Y Y b log a n 4) Trend Geomerik Benuk persamaan umumnya adalah: Y = a b Sedangkan peramalannya mempunyai benuk persamaan: Y = a b Dengan menggunakan ransformasi logarima maka harga konsana a dan b diperoleh dari persamaan di bawah ini: n log.log Y b n log log Y log a n log log b log log Y 5) Trend Hyperbola Benuk persamaan umumnya adalah: a Y b Peramalannya mempunyai benuk persamaan: a Y b Dengan menggunakan ransformasi logarima maka harga konsana a dan b diperoleh dari persamaan di bawah ini: log b n.log Y log Y n

20 Peramalan 11 log Y log b log a n Adapun meode peramalan yang ermasuk model ime series adalah sebagai beriku: A. Meode Penghalusan (Smoohing). Meode smoohing digunakan unuk mengurangi keidakerauran musiman dari daa yang lalu, dengan membua raa raa erimbang dari sederean daa masa lalu. Keepaan peramalan dengan meode ini akan erdapa pada peramalan jangka pendek, sedangkan unuk peramalan jangka panjang kurang akura. Meode smoohing erdiri dari beberapa jenis, anara lain : 1. Meode Raa-raa Bergerak (Moving Average), erdiri aas : - Single Moving Average (SMA) Moving average pada suau periode merupakan peramalan unuk sau periode ke depan dari periode raa raa ersebu. Persoalan yang imbul dalam penggunaan meode ini adalah dalam menenukan nilai (periode peraa raaan). Semakin besar nilai maka peramalan yang dihasilkan akan semakin menjauhi pola daa. Secara maemais, rumus fungsi peramalan meode ini adalah : X... X X F N N dimana : XI = daa pengamaan periode i N = jumlah dere waku yang digunakan F+1 = nilai peramalan periode +1 - Linier Moving Average (LMA) Dasar dari meode ini adalah penggunaan moving average kedua unuk memperoleh penyesuaian benuk pola rend. Meode Linier moving Average adalah : a) Hiung single moving average dari daa dengan periode peraa-raaan erenu; hasilnya di noasikan dengan S.

21 Peramalan 113 b) Seelah semua single Average dihiung, hiung moving average kedua yaiu moving average dari S dengan periode peraaraaan yang sama. Hasilnya dinoasikan dengan : S c) Hiung komponen a dengan rumus : A = S + (S S ) d) Hiung komponen rend b dengan rumus : b = ( S ' S N 1 ' ' ) e) Peramalan unuk periode kedepan seelah adalah sebagai beriku : F+m = a + b. m - Double Moving Average Noasi yang diberikan adalah MA ( M x N), arinya M periode MA dan N periode MA. - Weighed Moving Average Daa pada periode erenu diberi bobo, semakin deka dengan saa sekarang semakin besar bobonya. Bobo dienukan berdasarkan pengalaman. Rumusnya adalah sebagai beriku : dimana : F w A 1 1 w A... w w1 = bobo yang diberikan pada periode 1 w = bobo yang diberikan pada periode wn = bobo yang diberikan pada periode n n = jumlah periode. Meode Exponenial Smoohing, erdiri aas : - Single Exponenial Smoohing Pengerian dasar dari meode ini adalah : nilai ramalan pada periode +1 merupakan nilai akual pada periode diambah dengan penyesuaian yang berasal dari kesalahan nilai ramalan yang erjadi pada periode ersebu. Nilai peramalan dapa dicari dengan menggunakan rumus beriku : F+1 =. X + (1 - ). F dimana : X = daa perminaan pada periode = fakor/konsana pemulusan n A n

22 Peramalan 114 F+1 = peramalan unuk periode - Double Exponenial Smoohing (DES), yang erbagi aas : a. Sau parameer (Brown s Linear Mehod), merupakan meode yang hampir sama dengan meode linear moving average, disesuaikan dengan menambahkan sau parameer. S S ' '' X S '' 1 S ' 1 1 S '' 1 dimana ' S merupakan single exponenial smoohing, sedangkan '' S merupakan double exponenial smoohing a ' S b ' ( S ( S 1 S ' '' S ' ) S '' ) S '' b. Dua Parameer (Hol s Mehod) Merupakan meode DES unuk ime series dengan rend linier. Terdapa konsana yaiu dan. Adapun rumusnya adalah sebagai beriku : S D 1 S G 1 1 G S S 1 1 G 1 dimana : S = inercep pada waku G = slope pada waku - Exponenial Smoohing dengan musiman Pola perminaan musiman dipengaruhi karakerisik daa masa lalu, anara lain naal dan ahun baru, lebaran, awal ahun ajaran sekolah, dsb. Terdapa dua kemungkinan dari pengaruh musiman. Perama dapa bersifa addicive, yaiu mengabaikan laju penjualan seiap minggu selama bulan desember, hanya dikaakan penjualan selama bulan desember meningka 00 uni.

23 Peramalan 115 Kedua, pengaruh musiman bersifa muliplicaive, laju penjualan seiap minggu selama bulan desember meningka dua kali lipa. B. Meode Proyeksi Kecenderungan dengan Regresi Meode kecenderungan dengan regresi merupakan dasar garis kecenderungan unuk suau persamaan, sehingga dengan dasar persamaan ersebu dapa diproyeksikan hal-hal yang akan dielii pada masa yang akan daang. Unuk peramalan jangka pendek dan jangka panjang, keepaan peramalan dengan meode ini sanga baik. Daa yang dibuuhkan unuk meode ini adalah ahunan, minimal lima ahun. Namun, semakin banyak daa yang dimiliki semakin baik hasil yang diperoleh. Benuk fungsi dari meode ini dapa berupa : a. Konsan, dengan fungsi peramalan (Y) : Y = a, dimana a = YI / N Y = nilai ambah N = jumlah periode b. Linier, dengan fungsi peramalan : Y = a + b Y b dimana : a = n n y () b = n (y) c. Kuadrais, dengan fungsi peramalan : dimana : Y = a + b + c Y b c a n ) ( n Y n Y Y n Y n 4 3 b c b

24 Peramalan 116 d. Eksponensial, dengan fungsi peramalan : Y = ae b dimana : ln a ln Y b n n ln Y ln Y b n ( ) e. Siklis, dengan fungsi peramalan : Ŷ a bsin c cos n n dimana : Y na b sin c cos n n Y sin a sin b sin c sin cos n n n n n Y cos a cos c cos b sin cos n n n n n C. Meode Dekomposisi. Yaiu hasil ramalan dienukan dengan kombinasi dari fungsi yang ada sehingga idak dapa diramalkan secara biasa. Model ersebu didekai dengan fungsi linier aau siklis, kemudian bagi aas kwaralan semenara berdasarkan pola daa yang ada.meode dekomposisi merupakan pendekaan peramalan yang erua. Terdapa beberapa pendekaan alernaif unuk mendekomposisikan suau dere berkala yang semuanya berujuan memisahkan seiap komponen dere daa seelii mungkin. Konsep dasar pemisahan bersifa empiris dan eap, yang mula mula memisahkan unsur musiman, kemudian rend, dan akhirnya unsur siklis. Adapun Langkah langkah perhiungannya adalah sebagai beriku : 1. Ramalkan fungsi Y biasa ( d = a + b ). Hiung nilai indeks. 3. Gabungkan nilai perolehan indeks kemudian ramalkan yang baru Meode Kausal Meode kausal mengasumsikan fakor yang diperkirakan menunjukkan adanya hubungan sebab akiba dengan sau aau beberapa

25 Peramalan 117 variabel bebas (independen). Sebagai conoh, jumlah pendapaan berhubungan dengan fakor-fakor seperi jumlah penjualan, harga jual, dan ingka promosi. Kegunaan dari meode kausal adalah unuk menemukan benuk hubungan anara variabel-variabel ersebu dan menggunakannya unuk meramalkan nilai dari variabel idak bebas (dependen). Pada model ini unuk meramalkan perminaan idak hanya memperhaikan waku, eapi juga memperhaikan fakor yang mempengaruhi, anara lain : a. Harga produk, jika harga produk naik maka perminaan naik b. Saluran disribusi, jika banyak saluran disribusi maka perminaan naik. Meode kausal erdiri aas beberapa meode, anara lain : a. Meode regresi dan korelasi Meoda regresi dan korelasi pada peneapan suau persamaan esimasi menggunakan eknik leas squares. Hubungan yang ada perama ama dianalisis secara saisik. Keepaan peramalan dengan menggunakan meoda ini sanga baik unuk peramalan jangka pendek, sedangkan unuk peramalan jangka panjang ernyaa keepaannya kurang begiu baik. Meoda ini banyak digunakan unuk peramalan penjualan, perencanaan keunungan, peramalan perminaan dan permalan keadaan ekonomi. Daa yang dibuuhkan unuk penggunaan meoda ini adalah daa kuaralan dari beberapa ahun lalu. b. Meode Ekonomerik Meoda ini didasarkan aas peramalan sisem persamaan regresi yang diesimasikan secara simulan. Baik unuk peramalan jangka pendek maupun peramalan jangka panjang, keepaan peramalan dengan meoda ini sanga baik. Meoda permalan ini selalu dipergunakan unuk peramalan penjualan menuru kelas produk, aau peramalan keadaan ekonomi masyaraka, seperi perminaan, harga dan penawaran. Daa yang dibuuhkan unuk penggunaan meoda peramalan ini adalah daa kuaralan beberapa ahun.

26 Peramalan 118 c. Meode Inpu-Oupu Meoda ini dipergunakan unuk menyusun proyeksi rend ekonomi jangka panjang. Model ini kurang baik keepaannya unuk peramalana jangka panjang. Model ini banyak dipergunakan unuk peramalan penjualan perusahaan, penjualan sekor indusri dan sub sekor indusri, produksi dari sekor dan sub sekor indusri. Daa yang dibuuhkan unuk penggunaan meoda aau model ini adalah daa ahunan selama sekiar sepuluh sampai lima belas ahun Krieria Performance Peramalan Seorang perencana enu menginginkan hasil perkiraan ramalan yang epa aau paling idak dapa memberikan gambaran yang paling mendekai sehingga rencana yang dibuanya merupakan rencana yang realisis. Keepaan aau keeliian inilah yang menjadi krieria performance suau meode peramalan. Keepaan aau keeliian ersebu dapa dinyaakan sebagai kesalahan dalam peramalan. Kesalahan yang kecil memberikan ari keeliian peramalan yang inggi, dengan kaa lain keakuraan hasil peramalan inggi, begiu pula sebaliknya. Besar kesalahan suau peramalan dapa dihiung dengan beberapa cara, anara lain adalah : 1. Mean Square Error (MSE) N X F MSE 1 dimana : N X = daa akual periode F = nilai ramalan periode N = banyaknya periode. Sandard Error of Esimae (SEE) : SEE N X 1 F N f

27 Peramalan 119 dimana : f = Deraja kebebasan Unuk daa Konsan, f = 1 Unuk daa Linier, f = Unuk daa Kwadrais, f = 3 Unuk daa Siklis, f = 3 3. Percenage Error (PE) : X F PE 100% X dimana nilai dari PE bisa posiip aaupun negaip. 4. Mean Absolue Percenage Error (MAPE) : N PE MAPE 1 N Menghiung kesalahan dari peramalan merupakan prosedur yang kelima dari perhiungan peramalan secara kuaniaif. Seelah didapa kesalahan (error) dari masing-masing meode peramalan, maka akan dilakukan pengujian erhadap dua meode yang memiliki error yang erkecil, guna mendapakan meode peramalan yang lebih baik unuk digunakan. Pengujian dilakukan dengan es disribusi F. Jika diasumsikan bahwa meode X adalah meode peramalan yang memiliki besar error yang paling kecil perama, dan meode Y adalah meode peramalan yang memiliki besar error yang paling kecil kedua, maka langkah-langkahnya pengujiannya adalah sebagai beriku : 1. Tenukan pernyaaan awal (H0) dan pernyaaan alernaif (H1) : H0 : Meode X lebih baik daripada meode Y H1 : Meode X idak lebih baik daripada meode Y, aau meode Y lebih baik daripada meode X.. Lakukan Tes Saisik, dengan rumus : dimana : S F 1 S S1 = besarnya error meode peramalan X S = besarnya error meode peramalan Y

28 Peramalan Bandingkan hasil yang diperoleh dari langkah dengan hasil yang diperoleh dari abel disribusi F dengan harga (ingka keeliian) yang elah dieapkan. Jika F Hiung < F Tabel maka H0 dierima (berari meode peramalan dengan meode X lebih baik digunakan), dan jika sebaliknya maka H0 diolak (berari meode Y lebih baik digunakan). Seelah didapakan meode peramalan mana yang lebih baik, maka dilakukanlah verifikasi erhadap meode peramalan yang erbaik ersebu Proses Verifikasi Proses verifikasi digunakan unuk meliha apakah meode peramalan A B yang diperoleh represenaif erhadap C daa. Proses verifikasi dilakukan dengan menggunakan Moving Range Char (MRC). Dari char (pea) ini dapa erliha apakah sebaran masih dalam konrol aaupun sudah berada di luar konrol. Jika sebaran berada di luar konrol, maka fungsi/meode peramalan ersebu idak sesuai, arinya pola peramalan erhadap daa (Y-YF) ersebu idak represenaif. Proses verifikasi dengan menggunakan Moving Range Char (MRC)., dapa digambarkan pada gambar 9.7, dibawah ini : Y-Y F UCL =.66 MR /3 x.66 MR 1/3 x.66 MR Cenral line = MR -/3 x.66 MR -1/3 x.66 MR LCL = -.66 MR A B C Harga MR diperoleh dari : Gambar 9.7. Moving Range Char

29 Peramalan 11 N 1 MR MR N 1 dimana : aau : MR MR Y Y Y Y e e 1 F 1 F 1 Kondisi ou of conrol dapa diperiksa dengan menggunakan empa auran beriku : 1. Auran Sau Tiik Bila ada iik sebaran (Y-YF) berada di luar UCL dan LCL. Walaupun jika semua iik sebaran berada dalam baas konrol, belum enu fungsi/meode represenaif. Unuk iu penganalisaan perlu dilanjukan dengan membagi MRC dalam iga daerah, yaiu : A, B, dan C.. Auran Tiga Tiik Bila ada iga buah iik secara beruruan berada pada salah sau sisi, yang mana dua dianaranya jauh pada daerah A. 3. Auran Lima Tiik Bila ada lima buah iik secara beruruan berada pada salah sau sisi, yang mana empa dianaranya jauh pada daerah B. 4. Auran Delapan Tiik Bila ada delapan buah iik secara beruruan berada pada salah sau sisi, pada daerah C. Adapun gambar verifikasi meode peramalan dapa diliha pada gambar 9.8, sebagai beriku :

30 Peramalan 1 M R C O u o f C o n r o l? Y a T i d a k G u n a k a n f u n g s i y a n g d i p e r o l e h u n u k m e r a m a l k a n F u n g s i P e n y e b a b d i k e a h u i? Y a G e j a l a e r s e b u b u k a n b e r s i f a r a n d o m s e h i n g g a d a a m e n y i m p a n g T i d a k U l a n g i k e m b a l i G a n i d e n g a n f u n g s i b a r u M e n g h i u n g k e m b a l i p a r a m e e r f u n g s i e r s e b u d e n g a n m e n g h i l a n g k a n i i k - i i k o u o f c o n r o l s e h i n g g a d i p e r o l e h f u n g s i y a n g b a r u d e n g a n j u m l a h d a a y a n g b a r u ( d a a b e r k u r a n g ) Gambar 9.8 Proses Verifikasi Meode Peramalan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TIJAUA TEORITIS 2.1 Peramalan (Forecasing) 2.1.1 Pengerian Peramalan Peramalan dapa diarikan sebagai beriku: a. Perkiraan aau dugaan mengenai erjadinya suau kejadian aau perisiwa di waku yang akan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN TEORI 7 BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau siuasi aau kondisi yang diperkirakan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang erjadi pada waku yang akan daang sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan pada waku yang

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suau dugaan aau perkiraan enang erjadinya suau keadaan di masa depan. Akan eapi dengan menggunakan meodemeode erenu peramalan

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Air merupakan kebuuhan pokok bagi seiap makhluk hidup di dunia ini ermasuk manusia. Air juga merupakan komponen lingkungan hidup yang pening bagi kelangsungan hidup

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci

Perbandingan Metode Winter Eksponensial Smoothing dan Metode Event Based untuk Menentukan Penjualan Produk Terbaik di Perusahaan X

Perbandingan Metode Winter Eksponensial Smoothing dan Metode Event Based untuk Menentukan Penjualan Produk Terbaik di Perusahaan X JURAL SAIS DA SEI ITS Vol. 6, o.1, (2017) 2337-3520 (2301-928X Prin) A 1 Perbandingan Meode Winer Eksponensial Smoohing dan Meode Even Based unuk Menenukan Penjualan Produk Terbaik di Perusahaan X Elisa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju-laju

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian yang dilakukan mengenai analisis perencanaan pengadaan una berdasarkan ramalan ime series volume ekspor una loin beku di PT Tridaya Eramina

Lebih terperinci

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND Noeryani 1, Ely Okafiani 2, Fera Andriyani 3 1,2,3) Jurusan maemaika, Fakulas Sains Terapan, Insiu Sains & Teknologi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa BAB 2 TINJAUAN TEORITI 2.1. Pengerian-pengerian Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. edangkan ramalan adalah suau siuasi aau kondisi yang diperkirakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Pengangguran Pengangguran aau una karya merupakan isilah unuk orang yang idak mau bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Manajemen Perminaan 2.1.1. Konsep Dasar Manajemen Perminaan Pada dasarnya manajemen perminaan (demand managemen) didefinisikan sebagai suau fungsi pengelolaan dari semua perminaan

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI. Studi mengenai aspek teknis dan produksi ini sifatnya sangat strategis, sebab

BAB 2 DASAR TEORI. Studi mengenai aspek teknis dan produksi ini sifatnya sangat strategis, sebab 13 BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Aspek Teknis Sudi mengenai aspek eknis dan produksi ini sifanya sanga sraegis, sebab berkaian dengan kapasias proyek, lokasi, aa leak ala produksi, kajian aas bahan dan sumbernya,

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE TRIPLE EXPONENTIAL SMOOTHING UNTUK MENGETAHUI JUMLAH PEMBELI BARANG PADA PERUSAHAAN MEBEL SINAR JEPARA TANJUNGANOM NGANJUK.

PENERAPAN METODE TRIPLE EXPONENTIAL SMOOTHING UNTUK MENGETAHUI JUMLAH PEMBELI BARANG PADA PERUSAHAAN MEBEL SINAR JEPARA TANJUNGANOM NGANJUK. PENERAPAN METODE TRIPLE EXPONENTIAL MOOTHING UNTUK MENGETAHUI JUMLAH PEMBELI BARANG PADA PERUAHAAN MEBEL INAR JEPARA TANJUNGANOM NGANJUK. ii Rukayah*), Achmad yaichu**) ABTRAK Peneliian ini berujuan unuk

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Ramalan adalah sesuau kegiaan siuasi aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember ABSTRAK

Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember ABSTRAK PERBANDINGAN METODE DES (DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING) DENGAN TES (TRIPLE EXPONENTIAL SMOOTHING) PADA PERAMALAN PENJUALAN ROKOK (STUDI KASUS TOKO UTAMA LUMAJANG) 1 Fajar Riska Perdana (1110651142) 2 Daryano,

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Deskripsi Teori 3.1.1. Pengerian Peramalan Unuk membanu ercapainya suau kepuusan yang efisien unuk penjualan produknya, perusahaan memerlukan suau cara yang epa, sisemais dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju perumbuhan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah persediaan merupakan masalah yang sanga pening dalam perusahaan. Persediaan mempunyai pengaruh besar erhadap kegiaan produksi. Masalah persediaan dapa diaasi

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Tahapan Pemecahan Masalah Tahapan pemecahan masalah berfungsi unuk memudahkan dalam mencari jawaban dalam proses peneliian yang dilakukan agar sesuai dengan arah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

Jurnal EKSPONENSIAL Volume 5, Nomor 2, Nopember 2014 ISSN

Jurnal EKSPONENSIAL Volume 5, Nomor 2, Nopember 2014 ISSN Peramalan Dengan Meode Smoohing dan Verifikasi Meode Peramalan Dengan Grafik Pengendali Moving Range () (Sudi Kasus: Produksi Air Bersih di PDAM Tira Kencana Samarinda) Forecasing wih Smoohing and Verificaion

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Sumber Daya Alam (SDA) yang ersedia merupakan salah sau pelengkap ala kebuuhan manusia, misalnya anah, air, energi lisrik, energi panas. Energi Lisrik merupakan Sumber

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami 11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Keahanan pangan (food securiy) di negara kia ampaknya cukup rapuh. Sejak awal ahun 1990-an, jumlah produksi pangan eruama beras, cenderung mengalami penurunan sehingga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Dalam pelaksanaan pembangunan saa ini, ilmu saisik memegang peranan pening baik iu di dalam pekerjaan maupun pada kehidupan sehari-hari. Ilmu saisik sekarang elah melaju

Lebih terperinci

(T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF

(T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF Seminar Nasional Saisika 12 November 2011 Vol 2, November 2011 (T.6) PENDEKATAN INDEKS SIKLUS PADA METODE DEKOMPOSISI MULTIPLIKATIF Gumgum Darmawan, Sri Mulyani S Saf Pengajar Jurusan Saisika FMIPA UNPAD

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

Jurnal Edik Informatika. Peramalan Kebutuhan Manajemen Logistik Pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Al-Fitrah

Jurnal Edik Informatika. Peramalan Kebutuhan Manajemen Logistik Pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Al-Fitrah Jurnal Edik Informaika Peneliian Bidang Kompuer Sains dan Pendidikan Informaika V.i(5-4) Peramalan Kebuuhan Manajemen Logisik Pada Usaha Depo Air Minum Isi Ulang Al-Firah Henny Yulius, Islami Yei Universias

Lebih terperinci

SISTEM PREDIKSI PENJUALAN GAMIS TOKO QITAZ MENGGUNAKAN METODE SINGLE EXPONENTIAL SMOOTHING. Oleh: Salman Alfarisi

SISTEM PREDIKSI PENJUALAN GAMIS TOKO QITAZ MENGGUNAKAN METODE SINGLE EXPONENTIAL SMOOTHING. Oleh: Salman Alfarisi S. Alfarisi / Journal of Applied Business and Economics Vol. 4 No. 1 (Sep 2017) 80-95 SISTEM PREDIKSI PENJUALAN GAMIS TOKO QITAZ MENGGUNAKAN METODE SINGLE EXPONENTIAL SMOOTHING Oleh: Salman Alfarisi Program

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penilaian perkembangan kinerja keuangan PT. Goodyear Indonesia Tbk dilakukan dengan maksud unuk mengeahui sejauh mana perkembangan usaha perusahan yang

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Peramalan Penjualan Barang Pada UD Achmad Jaya Dengan Metode Triple Exponential Smoothing

Perancangan Sistem Peramalan Penjualan Barang Pada UD Achmad Jaya Dengan Metode Triple Exponential Smoothing Jurnal Ilmiah Teknologi dan Informaika ASIA (JITIKA) Vol.10, No.2, Agusus 2016 ISSN: 0852-730X Perancangan Sisem Peramalan Penjualan Barang Pada UD Achmad Jaya Dengan Meode Triple Exponenial Smoohing Tria

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah Dalam sisem perekonomian suau perusahaan, ingka perumbuhan ekonomi sanga mempengaruhi kemajuan perusahaan pada masa yang akan daang. Pendapaan dan invesasi merupakan

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI. peramalan, jenis-jenis peramalan, langkah-langkah peramalan, pemilihan teknik dan

BAB 3 LANDASAN TEORI. peramalan, jenis-jenis peramalan, langkah-langkah peramalan, pemilihan teknik dan BAB 3 LANDASAN TEORI 3. Peramalan Pada sub bab ini akan dibahas mengenai pengerian peramalan, kegunaan meode peramalan, jenis-jenis peramalan, langkah-langkah peramalan, pemilihan eknik dan meode peramalan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2. Pengerian Peramalan Di dalam melakukan suau kegiaan dan analisis usaha aau produksi di bidang manufakur aau perekonomian, suau peramalan aau yang lebih kia kenal dengan forecasing

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

Bab II LANDASAN TEORI

Bab II LANDASAN TEORI 5 Bab II LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Menuru Sofjan Assauri (1984, p1), kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang, kia kenal dengan apa yang disebu peramalan (forecasing).

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau

BAB II LANDASAN TEORI. Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Persediaan Persediaan dapa diarikan sebagai barang-barang yang disimpan unuk digunakan aau dijual pada masa aau periode yang akan daang. Persediaan erdiri dari bahan

Lebih terperinci

PROYEKSI BISNIS. Dadad Zainal, S.E., M.Kom Fakultas Ekonomi Universitas Wiyana Mukti

PROYEKSI BISNIS. Dadad Zainal, S.E., M.Kom Fakultas Ekonomi Universitas Wiyana Mukti PROYEKSI BISNIS Dadad Zainal, S.E., M.Kom Fakulas Ekonomi Universias Wiyana Muki PENDAHULUAN Teknik Proyeksi Bisnis merupakan suau cara/pendekaan u menenukan ramalan (perkiraan) mengenai sesuau di masa

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN EMBAHASAN 4.1 Karakerisik dan Obyek eneliian Secara garis besar profil daa merupakan daa sekunder di peroleh dari pusa daa saisik bursa efek Indonesia yang elah di publikasi, daa di

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Peneliian Keinginan Kelompok Tani Duma Lori yang erdapa di Desa Konda Maloba dan masyaraka sekiar akan berdirinya penggilingan gabah di daerahnya, elah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Produksi Akivias produksi sebagai suau bagian dari fungsi organisasi perusahaan yang beranggung jawab erhadap pengolahan bahan baku menjadi produksi jadi yang dapa dijual. Terdapa

Lebih terperinci

Minggu 4 RATA-RATA BERGERAK DAN EXPONENTIAL SMOOTHING. Peramalan Data Time Series

Minggu 4 RATA-RATA BERGERAK DAN EXPONENTIAL SMOOTHING. Peramalan Data Time Series Minggu 4 RATA-RATA BERGERAK DAN EXPONENTIAL SMOOTHING Bab ini memperkenalkan model berlaku unuk daa ime series dengan musiman, ren, aau keduana komponen musiman dan ren dan daa sasioner. Meode peramalan

Lebih terperinci

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN Modul 1 Sekilas Pandang Drs. Irlan Soelaeman, M.Ed. S PENDAHULUAN uau hari, saya dan keluarga berencana membawa mobil pergi ke Surabaya unuk mengunjungi salah seorang saudara. Sau hari sebelum keberangkaan,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Poensi sumberdaya perikanan, salah saunya dapa dimanfaakan melalui usaha budidaya ikan mas. Budidaya ikan mas yang erus berkembang di masyaraka, kegiaan budidaya

Lebih terperinci

Jurnal Edik Informatika Penelitian Bidang Komputer Sains dan Pendidikan Informatika V1.i1(64-69)

Jurnal Edik Informatika Penelitian Bidang Komputer Sains dan Pendidikan Informatika V1.i1(64-69) Jurnal Edik Informaika Peneliian Bidang Kompuer Sains dan Pendidikan Informaika Peramalan Penjualan Pada Usaha Kecil Menengah (UKM) Roi Sania Dengan Menggunakan Program POM QM Henny Yulius 1, Yadi Prawinaa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Peneliian Jenis peneliian kuaniaif ini dengan pendekaan eksperimen, yaiu peneliian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi erhadap objek peneliian sera adanya konrol.

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Disini tujuan akhir yang ingin dicapai penulis adalah pembuatan suatu aplikasi

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Disini tujuan akhir yang ingin dicapai penulis adalah pembuatan suatu aplikasi BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Disini ujuan akhir yang ingin dicapai penulis adalah pembuaan suau aplikasi program yang digunakan unuk membanu perusahaan dalam menenukan jumlah produksi demand. Disini ada

Lebih terperinci

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional. JURNAL ILMIAH RANGGAGADING Volume 7 No. 1, April 7 : 3-9 ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Sudi kasus pada CV Cia Nasional. Oleh Emmy Supariyani* dan M. Adi Nugroho *Dosen

Lebih terperinci

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF Pada bab ini akan dibahas mengenai sifa-sifa dari model runun waku musiman muliplikaif dan pemakaian model ersebu menggunakan meode Box- Jenkins beberapa ahap

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan 40 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Baasan Operasional Konsep dasar dan baasan operasional pada peneliian ini adalah sebagai beriku: Indusri pengolahan adalah suau kegiaan ekonomi yang melakukan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. bahasa Yunani Sustema yang berarti satu kesatuan yang atas komponen atau

BAB II LANDASAN TEORI. bahasa Yunani Sustema yang berarti satu kesatuan yang atas komponen atau BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sisem Aplikasi Menuru Jogiano (2004), sisem berasal dari bahasa lain Sysema dan bahasa Yunani Susema yang berari sau kesauan yang aas komponen aau elemen-elemen yang dihubungkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Propinsi Sumaera Uara merupakan salah sau propinsi yang mempunyai perkembangan yang pesa di bidang ransporasi, khususnya perkembangan kendaraan bermoor. Hal ini dapa

Lebih terperinci

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis JURNAL SAINS DAN NI POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Prin) D-224 Peramalan Penjualan Sepeda Moor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis Desy Musika dan Seiawan Jurusan Saisika,

Lebih terperinci

Analisis Model dan Contoh Numerik

Analisis Model dan Contoh Numerik Bab V Analisis Model dan Conoh Numerik Bab V ini membahas analisis model dan conoh numerik. Sub bab V.1 menyajikan analisis model yang erdiri dari analisis model kerusakan produk dan model ongkos garansi.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian Demografi Keadaan penduduk sanga era kaiannya dengan demografi. Kaa demografi berasal dari bahasa Yunani yang berari Demos adalah rakya aau penduduk,dan Grafein adalah

Lebih terperinci

PEMODELAN PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN

PEMODELAN PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN Seminar Nasional Saisika IX Insiu Teknologi Sepuluh Nopember, 7 November 2009 PEMODELAN PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN Brodjol Suijo Jurusan Saisika ITS Surabaya ABSTRAK Pada umumnya daa ekonomi bersifa ime

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

Bab 5 Penaksiran Fungsi Permintaan. Ekonomi Manajerial Manajemen

Bab 5 Penaksiran Fungsi Permintaan. Ekonomi Manajerial Manajemen Bab 5 Penaksiran Fungsi Perminaan 1 Ekonomi Manajerial Manajemen Peranyaan Umum Tenang Perminaan Seberapa besar penerimaan perusahaan akan berubah seelah adanya peningkaan harga? Berapa banyak produk yang

Lebih terperinci

APLIKASI PERAMALAN PENENTUAN JUMLAH PERMINTAAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK BORDIR PADA KOTA TASIKMALAYA

APLIKASI PERAMALAN PENENTUAN JUMLAH PERMINTAAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK BORDIR PADA KOTA TASIKMALAYA APLIKASI PERAMALAN PENENTUAN JUMLAH PERMINTAAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK BORDIR PADA KOTA TASIKMALAYA Lies Sunarminyasui 1, Salman Alfarisi 2, Firia Sari Hasanusi 3 1,2,3 Program Sudi Teknik Informaika,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Salah sau masalah analisis persediaan adalah kesulian dalam menenukan reorder poin (iik pemesanan kembali). Reorder poin diperlukan unuk mencegah erjadinya kehabisan

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI. 3.1 Pengertian dan Kegunaan Peramalan (Forecasting)

BAB 3 LANDASAN TEORI. 3.1 Pengertian dan Kegunaan Peramalan (Forecasting) BAB 3 LANDAAN TEORI 3.1 Pengerian dan Kegunaan Peramalan (Forecasing) Dalam melakukan analisis dibidang ekonomi, sosial dan sebagainya, kia memerlukan suau perkiraan apa yang akan erjadi aau gambaran enang

Lebih terperinci

PENENTUAN KONSTANTA PEMULUSAN YANG MEMINIMALKAN MAPE DAN MAD MENGGUNAKAN DATA SEKUNDER BEA DAN CUKAI KPPBC TMP C CILACAP

PENENTUAN KONSTANTA PEMULUSAN YANG MEMINIMALKAN MAPE DAN MAD MENGGUNAKAN DATA SEKUNDER BEA DAN CUKAI KPPBC TMP C CILACAP Prosiding Seminar Nasional Maemaika dan Terapannya 2016 p-issn : 2550-0384; e-issn : 2550-0392 PENENTUAN KONSTANTA PEMULUSAN YANG MEMINIMALKAN MAPE DAN MAD MENGGUNAKAN DATA SEKUNDER BEA DAN CUKAI KPPBC

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI.1 Definisi Peramalan Peramalan adalah suau kegiaan dalam memperkirakan aau kegiaan ang melipui pembuaan perencanaan di masa ang akan daang dengan menggunakan daa masa lalu dan daa masa

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani. III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Usahaani belimbing karangsari adalah kegiaan menanam dan mengelola anaman belimbing karangsari unuk menghasilkan produksi, sebagai sumber

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK. Oleh: Yoyo Zakaria Ansori

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK. Oleh: Yoyo Zakaria Ansori MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS LEMBARAN KERJA SECARA KELOMPOK Oleh: Yoyo Zakaria Ansori Peneliian ini dilaarbelakangi rendahnya kemampuan memecahkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang

BAB II LANDASAN TEORI. pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang 24 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pusaka 2.1.1 Pengumpulan Daa Saisik deskripif adalah meode meode yang berkaian dengan pengumpulan dan penyajian suau gugus daa sehingga memberikan informasi yang berguna.

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI PERAMALAN STOK BARANG DI CV. ANNORA ASIA MENGGUNAKAN METODE DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING

SISTEM INFORMASI PERAMALAN STOK BARANG DI CV. ANNORA ASIA MENGGUNAKAN METODE DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING Jurnal Informaika Polinema ISSN: 2407-070X SISTEM INFORMASI PERAMALAN STOK BARANG DI CV. ANNORA ASIA MENGGUNAKAN METODE DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING Mansyur, Erfan Rohadi Program Sudi Teknik Informaika,

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Teori Risiko Produksi Dalam eori risiko produksi erlebih dahulu dijelaskan mengenai dasar eori produksi. Menuru Lipsey e al. (1995) produksi adalah suau kegiaan yang mengubah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kapasias Produksi Kapasias adalah kemampuan pembaas dari uni produksi (enaga kerja, mesin, uni sasiun kerja, proses produksi, perencanaan produksi, dan organisasi produksi) unuk

Lebih terperinci

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi Bab II Dasar Teori Kelayakan Invesasi 2.1 Prinsip Analisis Biaya dan Manfaa (os and Benefi Analysis) Invesasi adalah penanaman modal yang digunakan dalam proses produksi unuk keunungan suau perusahaan.

Lebih terperinci

Pengantar Teknik Industri

Pengantar Teknik Industri Sisem Produksi/Operasi Penganar Teknik Indusri Perencanaan & Peengendalian Produksi/Operasi Sisem produksi/operasi adalah suau akivias unuk mengolah aau mengaur penggunaan sumber daya yang ada dalam proses

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Labuhan Batu merupakan pusat perkebunan kelapa sawit di Sumatera

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Labuhan Batu merupakan pusat perkebunan kelapa sawit di Sumatera BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Kabupaen Labuhan Bau merupakan pusa perkebunan kelapa sawi di Sumaera Uara, baik yang dikelola oleh perusahaan negara / swasa maupun perkebunan rakya. Kabupaen Labuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Pemikiran Teoriis Pengerian proyek menuru Arifin yang dikuip dari Mariyanne (2006) adalah suau akivias di mana dikeluarkannya uang dengan harapan unuk mendapakan hasil

Lebih terperinci