BAB 2 GAMBARAN UMUM KONDISI KOTA JAYAPURA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 GAMBARAN UMUM KONDISI KOTA JAYAPURA"

Transkripsi

1 BAB 2 GAMBARAN UMUM KONDISI 2.1. Aspek Geografi Dan Demografi Analisis pada aspek geografi dan demografi mengambarkan mengenai lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah dan kerentanan wilayah terhadap bencana. Sedangkan gambaran kondisi demografi, antara lain mencakup perubahan penduduk, komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan dan masyarakat tertentu pada Kota Jayapura. a. Karateristik lokasi dan wilayah 1. Luas dan batas wilayah administrasi Kota Jayapura mempunyai luas 940 Km 2 (0.23 % dari luas daratan Provinsi Papua), terletak di tepian Teluk Humbolt atau Yos Sudarso pada ketinggian 0-<700 m di atas permukaan laut (dpl). Kota Jayapura secara administrasi berbatasan dengan: Sebelah Utara : Lautan Pasifik Sebelah Selatan : Kabupaten Keerom Sebelah Timur : Negara Papua New Guinea Sebelah Barat : Distrik Depapre Kabupaten Jayapura 2. Letak dan kondisi geografis Kota Jayapura berada pada posisi equatorial antara 130 o -141 o Bujur Timur dan 1 o 27-3 o 49 Lintang Selatan. Dengan kondisi atau kawasan meliputi, daerah pesisir, daratan rendah, perbukitan dan daerah pegunungan. 3. Topografi Kota Jayapura memiliki topografi yang relatif bervariasi, di mana terdapat sejumlah dataran rendah dan pantai, juga terdapat perbukitan dan gununggunung, di mana terdapat 40 persen di antaranya tidak layak huni karena merupakan daerah perbukitan yang terjal dengan tingkat kemiringan 40 derajat, berawa-rawa dengan statistik konservasi (hutan lindung). Kondisi lahan di Kota Jayapura, dibedakan menjadi 3 bagian yaitu daerah limitasi, daerah kendala dan daerah Potensi. Daerah Limitasi adalah daerah yang sama sekali tidak dapat dikembangkan atau diolah karena keterbatasan fisik alami, daerah ini memiliki kriteria: kemiringan lereng > 40 persen, keasaman tanah ph < 5 atau ph > 7, ketinggian tempat >1500 m dpl, curah hujan > 5000mm/tahun, daerah ini tergenang terus. Daerah Kendala adalah daerah yang sulit dikembangkan karena batasan fisik alami namun mengembangkannya diperlukan biaya besar dan teknologi yang maju, dengan kriteria: Kemiringan lereng persen, keasaman tanah ph 5,1-7, daerah ini tergenang secara periodik. Sementara itu, daerah potensi adalah daerah yang dapat dikembangkan tanpa ada hambatan kondisi fisik alami, dengan kriteria: Kemiringan lereng < 15 persen, keasaman tanah ph netral, curah hujan mm/tahun, daerah ini tidak tergenang. RPJMD Kota Jayapura Tahun

2 4. Geologi Kota Jayapura memiliki potensi bahan galian golongan B dan golongan C. golongan B diantaranya berupa pasir besi yang terdapat di waena, angkasa dan Base-G dengan luasan ± ha; dan nikel yang terdapat di sepanjang kaki pengunungan cycloop dengan luasan ± ha. Golongan C diantaranya adalah batu gamping/batu karang yang terbesar di daerah entrop, polimak, tanah hitam, koyo koso, koya barat, moso dan koya tengah; pasir dan batu (sirtu) tersebar di daerah pasir II, waena, padang bulan dan yoka dengan luas keseluruhan ± ha; bentonit terdapat di daerah Nafri dengan luasan ± 1000 ha, tanah liat/batu lempung terdapat di daerah Nafri, Koya Timur, Koya Barat, Koya Tengah, Holtekamp dan Koya Koso dengan luasan ± ha; dan pasir besi terdapat di daerah angkasa dan waena dengan luasan ± ha. Bahan galian ini tersebar sesuai dengan kondisi geologi (morfologi, stratigrafi dan struktur geologi) daerah Kota Jayapura. Eksploitasi bahan galian golongan B dan C di Kota Jayapura telah dilakukan oleh perorangan maupun perusahaan berbadan hokum, namun kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kota Jayapura dan pengelolaan lingkungan tambang belum optimal. Dengan jumlah usaha yang cukup banyak dan luas lahan yang dikelola cukup besar maka kegiatan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti : kerusakan dan pencemaran lingkungan sekitar daerah kegiatan, rusaknya daerah-daerah konservasi dan daerah tangkapan hujan, bencana geologi seperti banjir, gerakan tanah/longsor dan erosi/sedimentasi dan menurunnya kualitas dan muka air tanah sehingga menyebabkan berkurangnya debit air permukaan. Untuk meminimalisasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, maka perlu disusun suatu system pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian yang berwawasan lingkungan. 5. Hidrologi Untuk menjaga keberlanjutan ketersediaan air tanah di wilayah Kota Jayapura, maka perlu pengelolaan dan pemanfaatan alam secara optimal dan tidak menimbulkan dampak terhadap air tanah itu sendiri. Sumber air tanah di Kota Jayapura ada yang termasuk tipe uncounfined aquifer atau sumber air tanah dengan permukaan air tanah bebas. Air tanah pada sumber dangkal ini berasal dari aii meteoric (air hujan) yang mengisi formasi aquifer bagian pangkal dan fan. Di samping itu juga terhadap sumber air dalam dengan tipe confined aquifer. Penggunaan air bersih di Kota Jayapura digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (masak, minum, mandi, cuci, dll), untuk kebutuhan industri dan kebutuhan lain. Untuk keperluan tersebut, masyarakat pada umumnya menggunakan air sumur, mata air, dan sumber dari PDAM. Sedangkan untuk keperluan pengairan sawah digunakan sumber air yang berasal dari Ingar ataupun limpahan air yang berasal dari mata air. Sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumber air perlu dibatasi guna menjaga kelestariannya. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga serta membatasi pembangunan pada kawasan-kawasan lindung. RPJMD Kota Jayapura Tahun

3 Adapun sungai-sungai yang mengalir di Kota Jayapura terdiri dari : No. Nama Sungai Panjang (m) Lebar (m) Kedalaman (m) 1 Sungai APO 2, ,5 2 Sungai Anafree 3, ,6 3 Sungai Hanyaan 2,413 6,3 4 4 Sungai Entrop 1 0,935 8,5 3,5 5 Sungai Entrop 2 4,068 5,05 2,5 6 Sungai Entrop 3 1,706 2,5 2,5 7 Sungai Dok IX 2, ,5 8 Sungai Dok VII 1, ,5 9 Sungai Acai 2,245 12,5 4,5 10 Sungai Siborogonyi 11, ,5 11 Sungai Mati 2, ,5 12 Sungai Tami 45,5 43,5 6,5 13 Sungai Kojabu 13, Sungai Onabu 11,512 9,56 5,3 15 Sungai Hubari 6, Sungai Temani 11,566 9,56 5,421 Sementara itu terdapat sungai lintas kabupaten / Kota yang melintas Kabupaten /Kota, yaitu : No. Nama Sungai Daerah yang dilintasi 1 Sungai Tami Distrik Muara Tami dan Distrik Skyland 2 Sungai Kamwolker/ Waena / Kab. Kojabu Jayapura 3 Sungai Onabo Waena / Kab. Jayapura 4 Sungai Hubari Waena / Kab. Jayapura 5 Sungai Temani Waena / Kab. Jayapura Ukuran (besaran) ruas sungai di wilayah kabupaten/ Kota Jayapura Panjang (m) Lebar (m) Kedalaman (m) 45,5 43,5 6,5 13, ,512 9,56 5,3 6, ,566 9,56 5, Klimatologi Kota Jayapura beriklim tropis basah dengan suhu minimum 29 o C dan maksimum 31,8 o C, curah hujan rata-rata 146 mm/ht. Kelembaban udara ratarata 80,42 %. Variasi curah hujan antara mm/th dengan jumlah hari hujan rata-rata bervariasi antara hari hujan per tahun. Suhu tara-rata 29 o C-31,8 o C, musim hujan dan musim kemarau tidak teratur. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 79% - 81% di lingkungan perkotaan sampai daerah pinggiran kota keadaan iklim seperti ini sangat menunjang bidang pertanian dan peternakan. 7. Penggunaan lahan Kawasan lindung berfungsi utama melindungi kelestarian sumberdaya alam, sumberdaya buatan, serta nilai budaya dan sejarah bangsa. Di kawasan ini tidak diperkenanakan adanya aktifitas atau kegiatan budidaya yang dapat mengurangi atau merusak fungsi lindungnya, kecuali digunakan untuk meningkatkan fungsi lindungnya. Kawasan lindung di Kota Jayapura, baik dalam konteks internal RPJMD Kota Jayapura Tahun

4 wilayah maupun regional, harus membentuk suatu kesatuan yang secara sinergis memberikan perlindungan dari daerah hulu hingga hilir, tanpa di batasi oleh batasan-batasan administratif. Kriteria yang dipergunakan untuk menentukan kawasan lindung ini didasarkan pada Keppres No. 32 Tahun Berdasarkan kriteria tersebut, maka kawasan lindung yang terdapat di Kota Jayapura adalah hutan lindung, kawasan perlindungan setempat, suaka alam dan cagar budaya, serta kawasan rawan bencana. Untuk pengelolaan kawasan budidaya bertujuan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna sumberdaya serta untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang dan kelestarian lingkungan hidup. Sedangkan sasaran yang diinginkan dari pengelolaan kawasan budidaya adalah : 1. Terselenggaranya pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam untuk kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. 2. Terhindarinya konflik pemanfaatan sumberdaya dengan pengertian pemanfaatan ruang yang berdasarkan pada prioritas pemanfaatan bagi kehidupan yang memberikan keuntungan terbesar pada masyarakat. Pengelolaan kawasan budidaya dilakukan secara seksama dan berdaya guna bagi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan budidaya dengan mempertimbangkan aspek teknis serta aspek-aspek keruangan. Untuk itu, dalam penetapan kegiatan-kegiatan budidaya dibutuhkan pertimbangan teknis sektoral dan kriteria keruangan, yaitu ukuran yang digunakan untuk penentuan suatu kawasan yang ditetapkan untuk kegiatan budidaya. Kriteria teknis sektoral adalah ukuran untuk menentukan bahwa pemanfaatan ruang untuk suatu kegiatan dalam kawasan memenuhi ketentuan-ketentuan teknis, daya dukung, kesesuaian lahan, dan bebas bencana alam. Kawasan budidaya yang dikelola pemanfaatan ruangnya terdiri dari : 1. Kawasan hutan produksi terbatas, 2. Kawasan pertanian, 3. Kawasan pertambangan, 4. Kawasan peruntukan industry, 5. Kawasan pariwisata, dan 6. Kawasan permukiman RPJMD Kota Jayapura Tahun

5 Tabel 2.1. Penggunaan Lahan Pola Ruang Kondisi thn 2008 (ha) 2012 (ha) 2017 (ha) 2022 (ha) 2027 (ha) 2007 (ha) Kawasan Budidaya Perumahan Perumahan Kesehatan ; Taman dan lapangan olahraga Kantor pemerintahan Perdagangan dan jasa Pertanian, perkebunan dan peternakan Pelabuhan laut Terminal Hutan produksi terbatas Pemakaman Jumlah Kawasan Lindung Hutan lindung pegunungan djar Hutan lindung abepura Cagar alam pegunungan cycloop Taman wisata teluk yotefa Arahan hutan lindung dan sepadan Lahan cadangan Jumlah Total Sumber : Hasil Analisis, 2007 b. Potensi Pengembangan Wilayah Dilihat dari luas wilayah Distrik Muara Tami merupakan distrik terluas yakni km2 atau sekitar % dari total luas Kota Jayapura, jika dilihat jumlah penduduk tahun 2010 didiami jiwa, tidak sebanding luas wilayah Distrik Muara Tami, hal ini diakibatkan wilayah paling timur Kota Jayapura sekaligus merupakan daerah perbatasan yang sebagian besar masih di huni penduduk Eks transmigrasi. Kondisi demikian semakin memicu pemerintah Kota Jayapura untuk terus mengarahkan pembangunan ke wilayah timur mengingat potensi yang cukup besar utamanya budi daya perikanan, pertanian dan pariwisata dengan tujuan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar yang secara otomatis mempengaruhi pendapatan asli daerah. c. Wilayah Rawan Bencana Berdasarkan kondisi dan perkembangan saat ini Kota Jayapura berfungsi dan berperan sebagai pusat pengumpul, pusat pelayanan dan pusat pendistribusian segala kebutuhan penduduk baik wilayah kota sendiri (hinterland), maupun daerah daerah pedalaman, apabila dikaitkan dengan semua fungsi tersebut tentu tidak semuanya memberikan dampak posistif tetapi dampak negatif dengan semuanya itu terpusat dikota otomatis beban kota semakin tinggi hal ini mengakibatkan timbulnya beberapa masalah sosial, maupun masalah bencana antara lain bencana banjir yang setiap tahunnya terjadi hal ini akibat kurangnya tempat resapan air. Sementara kawasan rawan longsor terdapat diwilayah yang kondisi permukaan tanahnya mudah longsor karena terdapat zona bergerak akibat patahan atau pergeseran, sama halnya dengan bencana abrasi terdapat diwilayah pesisir pantai yang luasannya berkurang karena gerusan gelombang air laut saat ini terdapat 27,58 km panjang pantai yang rawan abrasi. Sedangkan rawan bencana kebakaran akibat jumlah RPJMD Kota Jayapura Tahun

6 penduduk tidak sebanding dengan area pemukiman yang terkesan sembrawut dan padat dan ditambah sarana jalan tidak tersedianya untuk sampai ketempat kejadian. d. Demografi Berdasarkan sensus penduduk Tahun 2010 penduduk Kota Jayapura berjumlah menjadi 256,705 jiwa. Laju pertumbuhan selama 5 tahun terakhir sebesar 2,44% per tahun, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi pada tahun 2010 yaitu 10.71%. Bila dihitung selama 10 tahun terakhir, ditemukan angka yang lebih tinggi, yakni 4,16%. Pertumbuhan penduduk tertinggi di Distrik Muara Tami, yakni 5,1% dan terendah di D i s t No Distrik r i k J a y a p u Jayapura Utara Jayapura Selatan Tabel 2.2. Pertumbuhan,Kepadatan Penduduk dan Rerata Rumah Tangga di Kota Jayapura per Distrik Tahun Jumlah Penduduk Kepada tan Jml RT Rerata Agt RT Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita , , Abepura , Muara Tami , Heram , Jumlah Sumber : BPS Kota Jayapura, r a Selatan, hanya 1,2%. Tingginya laju pertumbuhan itu lebih disebabkan oleh meningkatnya arus migrasi masuk. Adapun tingkat kepadatan penduduk Kota Jayapura pada tahun 2010 adalah 278 jiwa per km2, dengan tingkat kepadatan terendah di Distrik Muara Tami, yaitu 18 jiwa per km2, sedangkan tingkat kepadatan tertinggi di distrik Jayapura Selatan, yaitu 1,542 jiwa per km2. Menurut data hasil sensus tahun 2010, sex ratio penduduk Kota Jayapura sebesar 114, yang berarti bahwa penduduk laki-laki 14 % lebih banyak dibanding penduduk perempuan.adapun ratarata banyaknya rumah tangga yang menempati satu rumah tangga (2010) adalah 4 orang. Pendataan demografi berbasis kampung tahun 2008 yang tujuan untuk mengetahui penduduk Papua secara keseluruhan sekaligus jumlah penduduk yang etnis papua dan non papua dengan menggunakan beberapa indikator yang terukur dan akurat, dari hasil pendataan tersebut didapatkan hasil bahwa penduduk Papua secara keseluruhan berjumlah 106,568 jiwa, atau sekitar 43% dan non Papua jiwa atau 57 % dari jumlah penduduk Kota Jayapura jiwa dengan laju pertumbuhan 2,44% 2.2. Aspek Kesejahtraan Masyarakat aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Kontribusi Kota Jayapura dalam perekonomian Provinsi Papua adalah paling besar. Pada tahun 2009, pendapatan per kapita Kota Jayapura sebesar Rp. 10,74 juta per kapita. Sedangkan Provinsi Papua diperkirakan sebesar Rp.5,28 juta per kapita untuk tahun yang sama. Dibandingkan dengan pendapatan per kapita di tingkat Provinsi, maka Pendapatan perkapita Kota Jayapura tampak lebih tinggi. Meskipun ukuran pendapatan per kapita saat ini masih diperdebatkan dalam menghitung tingkat kesejah-teraan suatu RPJMD Kota Jayapura Tahun

7 wilayah, namun paling tidak dari indikator ini dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan wilayah di Kota Jayapura masih lebih tinggi dibandingkan tingkat Provinsi Papua secara menyeluruh. Dan hal tersebut juga Gambar 2.2. mengindikasikan bahwa produktifitas ekonomi wilayah di Kota Jayapura jauh lebih baik dibandingkan kabupaten lain di Provinsi Papua. Selama ini sektor tersier menjadi pondasi 34,29 perekonomian wilayah Kota Jayapura. Kontribusinya dalam menciptakan PDRB 2,29 62,95 hingga tahun 2009 adalah sebesar 42.67% berada jauh di atas sektor sekunder sebesar 18.05%, dan sektor primer sebesar 7.78 %.Kota Jayapura dari tahun didominasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor 0,46 perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor Jasa Telepon Selular Perhotelan Jasa Air Bersih Jasa Penyiaran TV keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor bangunan.peranan keempat sektor tersebut sangat diandalkan dalam pembentukan PDRB Kota Jayapura.Bila dilihat peranan sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor listrik dan air minum serta jasa-jasa terlihat mengalami penurunan sejak tahun 2005 hingga Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, tampak adanya perkembangan perekonomian Kota Jayapura yang ditunjukkan dengan peningkatan PDRB (ADhB dan ADhK). Untuk PDRB (ADhB) pada tahun 2009, menjadi 5.62 trilyun rupiah lebih yang mengalami rata-rata perkembangan selama 5 tahun sebesar milyar rupiah atau %. Tetapi bila dibandingkan dengan Tahun 2005, maka perkembangannya menjadi 2,98 trilyun atau %. Sementara itu, untuk PDRB (ADhK 2000) mengalami rata-rata perkembangan selama 5 tahun terakhir sebesar 177,76 milyar rupiah atau %, di mana pada tahun 2009 dicapai PDRB (ADhK) sebesar 2,60 trilyun rupiah lebih dan pada tahun 2005 hanya sebesar 1,71 trilyun rupiah. Dibanding tahun 2005, maka perkembangannya pada tahun 2009 menjadi 888,81 milyar rupiah lebih (75.50 %). RPJMD Kota Jayapura Tahun

8 PDRB (ADH Berlaku) Perkembangan Laju Pertumbuhan PDRB (Konstan) Perkembangan Laju Pertumbuhan PDRB/perkapita (ADhB) Perkembangan Laju Pertumbuhan Laju Pertumbuhan Produk Regional (ADh K 2000) Sektor Primer Sektor Sekunder Sektor Tersier Investasi PMDN Investasi PMA Laju Investasi Tabel 2.4. Perkembangan Perekonomian Makro Kota Jayapura, Sat Tahun Rp 3,249, ,026, ,000, ,620, ,010, % % Rp % % Rp % % % % % % Rp Rp % 1,932,147, ,202, ,140 63, ,171, ,666, ,140 63, ,367, ,617, ,940 57, Tabel 2.5. Nilai Kontribusi Sektor Terhadap PDRB atas Harga Konstan Kota JayapuraTahun (Juta Rupiah) SEKTOR Pertanian 184, , , ,044 Pertmbangan Dan Penggalian 13,684 15,442 16,652 18,058 Industri Pengolahan 101, , , ,102 Listrik Dan Air Minum 18,707 19,190 20,089 20,897 Bangunan 441, , , ,775 Perdagangan, Hotel Dan Restoran 360, , , ,563 2,602, ,3199, ,280-3,369, ,204,602, ,205,008 - Indeks Gini ,23 0,23 Konsumsi Pemerintah Rp 412, , , , ,930 Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, a. Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 7,93 persen, dimana sektor bangunan merupakan sektor mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 19,99 persen, hal ini disebabkan potensi Kota Jayapura sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan yang semakin meningkat menuntut adanya peningkatan pembangunan, sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertum-buhan 15,55 persen menempati urutan kedua Pengangkutan Dan Komunikasi 401, , , ,791 yang Keuangan, sewa dan Jasa Perush. 242, , , ,724 Jasa-Jasa 423, , , ,766 mengalami Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, 2011 pertumbuhan terbesar. Perumbuhan negatif dialami sektor ke-uangan persewaan dan jasa perusahaan sebesar - 28,61 persen hal ini dikarenakan adanya penurunan nilai tambahan pada subsektor bank sebesar 44,33 persen. Secara series selama kurun waktu 4 tahun yaitu dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, sektor pengangkutan dan komunikasi mempunyai tren yang cukup baik karena pertumbuhannya selalu meningkat walaupun tidak terlalu tinggi sementara sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan pertumbuhannya sangat fluktuatif.dengan demikian, sektor bangunan dan pengangkutan, komunikasi sangat mendominasi struktur ekonomi Kota Jayapura, disusul sektor jasa, perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor-sektor lainnya.sementara pertumbuhan ekonomi terhadap harga berlaku Kota Jayapura yang berasal dari sektor bangunan 3,94 persen atau sebesar 1.897,785,195,19. Setelah itu yang kedua sektor jasa-jasa 3,27 persen atau sebesar 1.710,540,90 selanjutnya adalah sektor Pengankutan dan komunikasi 2,62 persen, sedangkan sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik dan air minum serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor dengan sumbangan terkecil masing masing sebesar 0,05 persen 0,03 persen dan -4,27 persen. RPJMD Kota Jayapura Tahun

9 Tabel 2.6.Nilai dan Kontribusi Sektor Terhadap PDRB atas Harga Berlaku Kota JayapuraTahun (juta rupiah) SEKTOR Pertanian 263, , , ,400 Pertmbangan Dan Penggalian 23,358 28,182 32,336 37,523 Industri Pengolahan 173, , , ,620 Listrik Dan Air Minum 26,217 27,536 29,045 30,764 Bangunan 717, ,148 1,322,98 1,897,78 Perdagangan, Hotel Dan Restoran 804, ,804 1,209,69 1,452,31 Pengangkutan Dan Komunikasi 867,252 1,047,37 1,256,54 1,552,47 Keuangan, sewa dan Jasa Perush. 446, ,264 1,046,67 765,959 Jasa-Jasa 692, ,359 1,387,47 1,710,54 Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, 2011 Nilai kontribusi dari masing masing sektor tahun 2010 mengalami kenaikan dibanding tahun 2009 hal ini dipengaruhi iklim perekonomian di Kota Jayapura cukup baik dan tingkat produktifitas penduduk dalam menghasilkan barang dan jasa cukup tinggi dan berkualitas sasaran ini perlu dicapai dalam pelaksanaan pembangunan agar kesejahtraan masyarakat meningkat, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 17,51 persen namun pertumbuhan itu tidak bisa dijadikan jaminan bahwa produktifitas penduduk tahun 2010 lebih besar dibandingkan tahun 2009 karena masih dipengaruhi oleh faktor inflasi. Tabel 2.7.Perkembangan Kontribusi Sektordalam PDRB atas Harga Berlaku(Hb) dan Harga Konstan (Hk) Kota JayapuraTahun SEKTOR Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Pertanian 8,88 4,54 8,52 5,22 8,59 4,77 9,81 7,88 Pertmbangan Dan Penggalian 16,48 6,29 20,65 12,85 14,74 7,84 16,04 8,44 Industri Pengolahan 17,30 6,61 12,41 5,96 12,98 7,08 13,95 7,81 Listrik Dan Air Minum 6,20 4,55 5,03 2,58 5,48 4,69 5,92 4,02 Bangunan 23,77 15,91 32,68 17,61 38,95 18,65 43,45 19,99 Perdagangan, Hotel Dan Restoran 22,04 9,09 23,76 9,51 21,48 11,14 20,06 10,70 Pengangkutan Dan Komunikasi 27,90 13,54 20,77 14,17 19,97 14,50 21,16 15,55 Keuangan, sewa dan Jasa Perush. 64,03 48,28 33,11 16,12 76,13 65,78-26,82-28,61 Jasa-Jasa 10,79 4,44 44,17 32,05 38,98 28,95 23,82 14,13 Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, 2011 Secara makro kegiatan ekonomi suatu daerah secara umum dapat diketahui dari kemanpuan daerah itu sendiri dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki untuk menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan bagi kebutuhan hidup masyarakatnya, yang diindikasikan dengan Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB ). Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan produksi rill dan pekembangan harga/inflasi karena dipengaruhi oleh perubahan jumlah produksi dan perubahan harga. Perekonomian Kota Jayapura menunjukkan tren positif, sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 yang cukup berarti baik dari PDRB atas dasar harga berlaku maupun PDRB atas dasar harga konstan, hal ini terlihat tabel 2.13 gambaran besarnya peranan masing-masing sektor ekonomi dalam menciptakan nilai tambah sehingga mencerminkan dan kontribusi dalam perekonomian Kota Jayapura, sektor perekonomian yang menjadi kontributor utama pada tahun 2010 adalah sektor bangunan yang manpu meningkatkan pertumbuhannya walaupun kecil dengan kontribusi sebesar 43,45 di ikuti oleh sektor jasa-jasa sebesar 23,82, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 21,16, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20,06, sementara sektor sektor lain kontribusinya masih relatif kecil terhadap perekonomian Kota Jayapura. RPJMD Kota Jayapura Tahun

10 Tabel 2.8.Pertumbuhan Kontribusi Sektordan PDRB atas Harga Berlaku(Hb) dan Harga Konstan (Hk)Kota JayapuraTahun SEKTOR Hb Hk Pertanian 9,81 7,88 Pertmbangan Dan Penggalian 16,04 8,44 Industri Pengolahan 13,95 7,81 Listrik Dan Air Minum 5,92 4,02 Bangunan 43,45 19,99 Perdagangan, Hotel Dan Restoran 20,06 10,70 Pengangkutan Dan Komunikasi 21,16 15,55 Keuangan, sewa dan Jasa Perusahaan -26,82-28,61 Jasa-Jasa 23,82 14,13 Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, 2011 Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 atas dasar harga berlaku sebesar 17,51 persen dari setiap sektor mencerminkan tingkat produktivitas penduduk tahun 2010 lebih besar dibandingkan tahun 2009, dalam menghasilkan barang dan jasa di suatu daerah pada suatu periode, untuk mengetahui pertumbuhan secara rill, maka digunakan PDRB atas dasar harga konstan, secara berturut turut penyumbang terbesar ada pada sektor bangunan 43,45 harga berlaku, 19,99 dari harga konstan, sementara kedua dan seterusnya sektor jasa-jasa, pengangkutan dan perdagangan,hotel dan restoran 20,06 dan harga konstan 10,70 Tabel 2.9. Perkembangan Kontribusi Sektordalam PDRB atas Harga Berlaku(Hb) dan Harga Konstan (Hk) Kota JayapuraTahun SEKTOR Pertanian 8,88 4,54 8,52 5,22 8,59 4,77 9,81 7,88 Pertmbangan Dan Penggalian 16,48 6,29 20,65 12,85 14,74 7,84 16,04 8,44 Industri Pengolahan 17,30 6,61 12,41 5,96 12,98 7,08 13,95 7,81 Listrik Dan Air Minum 6,20 4,55 5,03 2,58 5,48 4,69 5,92 4,02 Bangunan 23,77 15,91 32,68 17,61 38,95 18,65 43,45 19,99 Perdagangan, Hotel Dan Restoran 22,04 9,09 23,76 9,51 21,48 11,14 20,06 10,70 Pengangkutan Dan Komunikasi 27,90 13,54 20,77 14,17 19,97 14,50 21,16 15,55 Keuangan, sewa dan Jasa Perush. 64,03 48,28 33,11 16,12 76,13 65,78-26,82-28,61 Jasa-Jasa 10,79 4,44 44,17 32,05 38,98 28,95 23,82 14,13 Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, 2011 b. Laju Inflasi Laju inflasi terjadi akibat adanya kenaikan harga barang dan jasa yang ditunjukkan menurut uraian kelompok pengeluaran diantaranya bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olah raga, transportasi dan komunikasi serta dan jasa keuangan. Tahun 2010 inflasi mencapai 4,48 lebih tinggi dari tahun 2009 dikarenakan Kenaikan ini ditunjukkan oleh perubahan indeks pada kelompok tertentu Tabel 2.10.Nilai Inflasi Rata- Rata Kota JayapuraTahun Uraian Rata-Rata Pertumbuhan Inflasi Kota Jayapura 10,35 12,55 1,92 4,48 7,93 Sumber : BPS PDRB Kota Jayapura, 2011 RPJMD Kota Jayapura Tahun

11 Kesejahteraan Sosial a. Kesejahteraan Sosial Penanganan penyandang masalah sosial dalam 5 tahun terakhir ini, tampak semakin menunjukkan intensitasnya yang tinggi melalui pembinaan anak-anak terlantar, anak jalanan, korban narkoba, lansia, penyandang cacat, wanita tuna susila, pembinaan pelintas batas dan eks narapidana, pemberdayaan perempuan, penanggulangan dan rehabilitasi korban bencana, perlindungan bagi masyarakat miskin, dan rehabilitasi sosial daerah kumuh. Secara kualitatif, telah dicapai sasaran : (a) Berkurangnya penyandang masalah sosial; (b) Menurunnya angka penduduk miskin; (c) Terbantunya masyarakat miskin melalui bentuk stimulan; dan (d) Meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang keutamaan gender dan anti kekerasan rumah tangga. Selama 5 tahun terakhir semakin digalakkan kegiatan penyantunan penyandang cacat, tuna susila, anak nakal dan korban narkoba, anak jalanan, anak nakal, dan anak putus sekolah, Gamba r pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, dan memberi bantuan kepada Panti asuhan dalam kerangka kerjasama kemitraan membina PMS. Kemajuan yang berarti dicapai dalam hal penanganan masyarakat miskin. Pemerintah Kota Jayapura, memberikan berbagai stimulan kepada penduduk miskin untuk meningkatkan kapasitas berusaha. Berbagai langkah strategis yang ditempuh, antara lain memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat di tiap distrik dan kelurahan/kampung melalui program PNPM Mandiri Perkotaan (P2KP), PNPM Mandiri Respek dan DP2K serta Program Pemberdayaan Distrik. Dalam rangka peningkatan peran perempuan, Pemerintah Kota Jayapua telah menyelenggarakan berbagai program, di antaranya PSKS, Pelayanan KIE, P2TP2, peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang pengutamaan gender dan anti kekerasan rumah tangga yang telah dilaksanakan merupakan bentuk dukungan langsung kepada perempuan untuk aktivitas yang dilakukan sebagai petani, aktivis politik dan pegawai pemerintah. Dalam hal peningkatan partisipasi perempuan di berbagai sektor kehidupan, sesungguhnya telah mengalami peningkatan yang signifikan, tetapi jika dibanding dengan peranan pria di lembaga politik dan pemerintahan, tampak peran perempuan masih sangat rendah. Dalam bidang pemerintahan, hanya mencapai sekitar 28% dibanding dengan pria dalam tahun Demikian halnya dalam bidang politik dengan persentase hanya sebesar 7 %. RPJMD Kota Jayapura Tahun

12 Tabel... Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kota Jayapura Tahun 2010 No Jenis PMKS DISTRIK. Jayapura Utara Jayapura Selatan Abepura Heram Muara Tami Jumlah 1 Anak Balita Terlantar Anak Terlantar Penyandang Cacat Penyandang Cacat Eks Penderita Penyakit Kronis Wanita Rawan Sosial Ekonomi Lanjud Usia Terlatar Lanjud Usia Korban Tindak Kekerasan Anak Jalanan Anak Nakal Anak Putus Sekolah Anak Korban Tidak Kekerasan Tuna Susila Gelandangan Pengemis Bekas Narapidana Korban Penyalahgunaan Napza Penyandang HIV/AID Keluarga Fakir Miskin Keluarga Berumah Tidak Layak Huni Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Keluarga Rentan Korban Bencana Alam Korban Bencana Alam Sosial Lainnya Masyarakat yang Tinggal di Daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar Perintis Kemerdekaan Bencana Sosial Penduduk Perbatasan Anak,Wanita,dan Lanjud Usia yang Menjadi Korban Tindak Kekersan atau perlakuan salah Keluarga Pahlawan Nasional J u m l a h Sumber : Dinas Sosial Kota Jayapura, 2011 Dari data tersebut terlihat bahwa di tahun 2010 terdapat kurang lebih orang atau 2,26% dari jumlah penduduk Kota Jayapura yang masuk kategori penyandang permasalahan sosial, dengan rincian sebagaimana tabel tersebut diatas. Kondisi ini cukup memprihatinkan, karena masih terdpat waregan kota yang memerlukan perhatian serius untuk dibina menjadi lebih baik. Sementara itu panti asuhan yang terdapat di Kota Jayapura berjumlah 12 buah yang tersebar di semua distrik sebagaimana tergambar di tabel berikut : Tabel... Daftar Panti Asuhan Yang Ada di Jayapura tahun 2012 NO. NAMA PANTI ASUHAN ALAMAT NAMA KETUA PELAGI Jln. Abepura, Distrik Abepura Wenda Itaar 2 MUHAMMADYAH Jln.Gerilyawan Abepura, Distrik Abepura Ismail Malawat 3 R U T H Jln. Pantai Enggros, Distrik Abepura Andreas Endama 4 E L I S A Jln. Baru Tanah Hitam Abepura Yopi Mabel 5 LAHAI ROI II Jln. Kali Hanyaan Entrop, Distrik Jayapura Selatan Ruth Pidjer, SE 6 ROADHATUL JANNAH Jln. Baru Tembus Melati No. 14 Abepura Drs. H. Sukri 7 PUTRA BALIM YALIMO Jln. Yoka Waena, Distrik Heram Soleman Heselo 8 ASAEKO Jln. Malareks Perumas I, Distrik Heram Theis Wopari 9 HUMANIA Jln. Manalagi Ardipura III No. 8 Jayapura H u m a n 10 DORKAS Jln. Padang Bulan Abepura, Distrik Heram Mika Wally 11 KASIH SEJAHTERA Jln.Salak Koyan Timur, Distrik Muara Tami Pdt. Lince Lamba 12 AL FURQON Jln. Muspaco Kelapa Dua Entrop Rasman, S. Hi RPJMD Kota Jayapura Tahun

13 b. Keagamaan Kehidupan umat beragama di Kota Jayapura menunjukkan derajat kualitasnya yang semakin baik guna mendukung terciptaya tanah damai.seperti diketahui bahwa dilihat dari anutan agama masing-masing, maka umat beragama sesuai dengan keyakinannya masing-masing mengalami pertambahan dari tahun ke tahun yang menggembirakan.pertambahan tersebut bergerak simetris dengan pertumbuhan penduduk, baik karena pengaruh migrasi maupun kelahiran.tampak bahwa hingga tahun 2008, terjadi peningkatan jumlah penganut agama dengan persentase pertambahan tertinggi (75.75% penganut agama Budha).Tetapi jika dilihat dari angka nominal, maka pertambahan tertinggi adalah penganut agama protestan.peningkatan tersebut diikuti dengan Tabel Perkembangan Pembangunan Keagamaan Tahun 2005 dan % Pemeluk Agama Islam 83,934 95, Protestan 90, , Katolik 31,138 45, Hindu 1,878 1,569 (4.79) Budha 1,060 1, Tempat Peribadatan Mesjid Musholla Gereja Protestan Gereja Katolik Kopel Vihara Pura Cetya Rohaniawan Dibina Islam Protestan Katolik Hindu Budha Sumber : LKPJ Walikota Jayapura, 2005 & 2009 BPS Kota Jayapura, 2011 bertambahnya sarana peribadatan dengan persentase tertinggi pada gereja protestan, disertai dengan makin banyaknya rohaniawan yang dibina.secara kualitatif analisis tentang kualitas kehidupan beragama dalam men-ciptakan Kota Jayapura sebagai tanah damai dan meningkatkan kerukunan hidup beragama dapat dibuktikan secara konkrit.berbagai kegiatan yang dilakukan telah menyentuh kebutuhan masyarakat penganut agama masingmasing. Pembinaan, prasarana dan sarana gedung Gereja, Mesjid, Kuil, Vihara serta kelengkapan sarana pendukung keagamaan, kegiatan keagama-an, dan kehidupan keagamaan berjalan secara baik selama lima tahun terakhir ini. Dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama, Pemerintah Kota Jayapura memfasilitasi berbagai program dan kegiatan penting, termasuk di antaranya adalah menyelenggarakan kegiatan pertemuan tokoh-tokoh agama guna membangun kehidupan harmonis antar umat beragama. Hal ini didukung dengan Keputusan Walikota Jayapura Nomor : 28 Tahun 2007 tentang Pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Jayapura. Masyarakat telah dengan penuh kesadaran membangun toleransi dan kerukunan kehidupan beragama, baik dalam kerangka hubungan secara internal sesuai keyakinan masing-masing, maupun dalam hubungan yang bersifat lintas agama, serta dalam konteks hubungannya dengan pemerintah.wujud konkritnya dapat dilihat dari perilaku positif yang ditunjukkan oleh masyarakat pada perayaan hari-hari raya besar masingmasing, dengan saling menghormati dan bahkan saling berkunjung dan bersilahturami antar sesama. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keberadaan sektor tersier di Kota Jayapura lebih banyak berperan menjadi sektor komplemen bagi pengembangan sektor-sektor industri di luar Papua. Kota Jayapura memberi andil terhadap struktur ekonomi Provinsi Papua sekitar 33.62% jika diukur berdasarkan PDRB Non Tambang Harga Konstan 2000, jauh melampaui Kabupaten Merauke sebesar 16.67% dan Kabupaten Jayapura sebesar 9.77% untuk tahun yang sama. Terlebih lagi bila dibandingkan dengan daerah-daerah pedalaman dan pegunungan seperti Kabupaten Tolikara, Pegunungan Bintang dan Yahukimo, andil Kota Jayapura masih sangat jauh lebih besar. RPJMD Kota Jayapura Tahun

14 Seni Budaya dan Olahraga Selama kurun waktu 5 tahun terakhir, berbagai organisasi kepemudaan telah dibina dalam rangka terbentuknya generasi muda yang beriman dan bertaqwa. Pembinaan tersebut, diarahkan pada peningkatan kemampuan anggotanya, antara lain melalui pelaksanaan diklat kepemimpinan secara regular setiap tahun. Demikian halnya dengan pembinaan Pramuka untuk meningkatkan keterampilan anggotanya, penyelenggaraan Raimuna, dan Jambore Nasional. Hingga tahun 2009, tercatat tidak kurang dari 1,000 anggota pramuka yang aktif terlibat dalam berbagai event hingga ke tingkat nasional baik pada jenjang : siaga, penegak, dan pandega, maupun pembinanya. Keberhasilan pembinaan kepramukaan ditandai dengan adanya penghargaan pada tahun 2009 dan dari Ketua Kwartir Nasional dan dari Presiden RI (Dharma Bhakti Pramuka). Dalam hal pembinaan keolahragaan, telah dicapai prestasi olah raga dengan sangat memadai (terutama sepakbola), yang telah mampu menyandang predikat terbaik dan menyumbang atlit dalam Tabel Perkembangan Unit Kesenian dan Klub Olahraga Grup kesenian Gedung/Sanggar KlubOlahraga Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga, Kota Jayapura, berbagai event nasional/internasional. Berbagai penghargaan yang telah diperoleh atas prestasinya di berbagai cabang olahraga olahraga. Sebagaimana diketahui bahwa dalam 5 tahun ini, tercatat berbagai keberhasilan olahraga prestatif, misalnya : pada tahun 2006 di Kota Jayapura adalah Juara II Copa Dji Sam Soe Persipura Jayapura, Juara I pada Event Indonesia Super League (ISL) periode , Tabel Pembinaan dan Pengawasan Obyek Wisata Bilyard Ketangkasan Gelanggaang Renang Pemancingan Padang Golf Pondok Wisata Fitnes Salon Kecantikan Pangkas Rambut Pantai Agen Perjln Wisata Hotel Rest/Wrng-Makan Bar, Diskotik, Karauke Panti Pijat Souvenier / Cindramata Jasa Impreasariat Sumber : Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Diolah 8 besar Nasional Persipura Usia-23 Tahun, Juara II kejurda Bulutangkis di Timika, juara II perorangan Taruna Putra Piala Rudi Hartono di Timika, Juara II Umum kejurda Tinju Junior di Jayapura dan Juara umum Kejurda Bina Raga Senior/Yunior di Jayapura. Guna menjamin terselenggaranya kegiatan kepemudaan dan keolahragaan di Kota Jayapura, telah difasilitasi ketersediaan dan peningkatan mutu prasarana dan sarananya, antara lain dibangunnya Gedung Olah Raga (yang dapat difungsikan juga sebagai Gedung Perempuan) di Kotaraja, sejak tahun Selain itu dilakukan rehabilitasi lapangan sepakbola Trikora dan pembuatan pagar keliling, lapangan basket dan lapangan volli di Distrik Abepura, serta menyediakan alat-alat olahraga yang diperlukan. Untuk pembinaan pemuda di bidang kesenian, telah difasilitasi beberapa group kesenian dan peningkatan gedung dan sanggar seni. Hingga tahun 2010, terdapat 18 grup kesenian di Kota Jayapura yang dikelola oleh para pemuda. Jumlahnya meningkat dibanding tahun 2006 hanya terdapat sebanyak 14 grup. Adapun gedung dan sanggar seni yang terdapat di Kota Jayapura pada 2010 sebanyak 9 unit, meningkat dibanding tahun 2006 sebanyak 7 unit. RPJMD Kota Jayapura Tahun

15 Kota Jayapura memiliki potensi obyek wisata yang memadai, terutama jenis wisata pantai. Hingga saat ini obyek wisata pantai yang telah dikembangkan terdapat di Pantai Base-G, Pantai Dok II, dan Pantai Hamadi. Potensi lainnya yang masih perlu digarap terdapat di kawasan Nafri dan Skow. Selain itu, dikembangkan pula jenis wisata agro di kawasan Koya Barat dan Koya Timur (kolam pemancingan). Dalam rangka pengembangan kepariwisataan tersebut, telah dijalin kerjasama kemitraan dengan pihak masyarakat adat, swasta lokal dan nasional, antara lain ditandai dengan penyediaan lahan dan investasi bagi pembangunan dan rehabilitasi obyek wisata di Pantai Hamadi dan Pantai Base-G. Pengembangan pariwisata didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana kepariwisataan yang kian meningkat dari tahun ke tahun, termasuk akses jangkauan ke lokasi obyek pariwisata. Oleh karena itu, dilakukan pembinaan dan pengawasan kawasan pariwisata dan fasilitas penunjangnya secara optimal. Hingga tahun 2010, di Kota Jayapura telah berkembang berbagai prasarana penunjang seperti : Bilyard, Ketangkasan, Gelanggang Renang, Pemancingan, Padang Golf, Pondok Wisata, Fitnes, Salon Kecantikan, Pangkas Rambut, Agen Perjalanan Wisata, Hotel, Restoran/Warung Makan, Bar, Diskotik, Karauke, Panti Pijat, Toko Souvenier/Cindramata, dan Jasa Impreasariat. Sementara itu, seni dan budaya lokal sebagai salah satu komoditi pariwisata potensial terus dibina dan dikembangkan. Pembinaan dan pelestarian seni budaya lokal dengan mengutamakan seni budaya Port Numbay menunjukkan adanya kemajuan berarti.demikian halnya dengan kegiatan promosi budaya lokal; festival seni; dan pelestarian benda situs dan kawasan cagar budaya yang menunjukkan peningkatan dari tahun Semuanya ini didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengembangan pariwisata sebagai pendukung kehidupan aspek-aspek ekonomi, serta mulai digalangnya pelestarian terhadap nilai-nilai dan kultur masyarakat sebagai asset pariwisata Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah Kota Jayapura dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat. Aspek pelayanan umum ini menjelaskan tentang perkembangan kinerja yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kota Jayapura dalam bentuk urusan wajib dan urusan pilihan Urusan Pelayanan Wajib Urusan pelayanan wajib merupakan urusan pemerintah yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar. a. Pendidikan a.1. Angka Partisipasi Sekolah Derajat keberhasilan pembangunan pendidikan di Kota Jayapura, antara lain dapat ditelusuri dari perkembangan angka partisipasinya (APK dan APM). Data menunjukkan Tabel APM/APK Jenjang Pendidikan Dasar-Menengah,2010 Jumlah APM APK Penduduk Murid Seluruh Murid SD/MI/SDLB 7-12 THN 7-12 THN 31, ,834 25,954 SMP/MTS/SMP THN THN 12, LB 9,100 3,500 SLTA/MA THN THN 12, ,063 2,700 Sumber : Dinas P dan P Kota Jayapura, Diolah. bahwa dalam tahun 2010, pencapaian APM SD adalah SMP 92.67, SLTA 88.17, sementara APK SD , SLTP , dan APK SLTA Berkenaan dengan pencapaian prestasi kelulusan dan nilai rata-rata kelulusan, tampak terlihat bahwa dalam tahun 2010, proporsi kelulusan pada jenjang SD/MI mencapai 99.61% dan SMP/MTs %. Sementara pada jenjang SMA hanya 79.27% dan SMK 88.90%.Adapun nilai rata-rata kelulusan berdasarkan standar nasional di atas angka 6 pada semua jenjang pendidikan RPJMD Kota Jayapura Tahun

16 bahkan pada jenjang SMP hampir mencapai angka 7 (6.96) dan SMK 6.9. Capaian tersebut masih diikuti dengan angka putus sekolah yang tertinggi pada jenjang SMK, yakni 1.14 dan terendah pada jenjang SD, yakni Pendidikan non-formal (PLS), telah di kembangkan program kejar paket (A,B,C) dan program pemberantasan buta aksara. Adapun murid setara dengan Paket A,B, dan C, tersebar ke semua Distrik, dengan ketersediaan tutor yang cukup memadai. Adapun penduduk Kota Jayapura yang telah mengikuti program Paket (A,B,C) ini hingga 2010 sudah mencapai jumlah 8,794 orang atau sekitar 3.72 % dari total penduduk Kota Jayapura tahun Hal ini mengindikasikan adanya keberhasilan pemerintah Kota Jayapura dalam meningkatkan status dan kualifikasi pendidikan masyarakat menjadi lebih baik dalam 2 tahun terakhir. Dalam tahun 2010, jumlah peserta belajar pada paket A tercatat sebanyak 507 orang, Paket B sebanyak 833 orang, dan paket C sebanyak 1,040. Sementara angka PABF mencapai 839. Adapun angka melek huruf hingga tahun 2010 telah mencapai 99.27%, berarti masih terdapat 0.73% dari jumlah penduduk yang masih buta huruf. Aspek lainnya adalah angka rata-rata lama sekolah di Kota Jayapura adalah 10.86, yang berarti bahwa rata-rata penduduk kota Jayapura berpendidikan antara kelas 1 dan 2 SMTA. a.2. Ketersediaan sekolah / penduduk usia sekolah Tabel Jumlah dan Rasio Guru, Murid, dan Sekolah, Tahun 2010 Jumlah Rasio Jenjang Sekolah Murid Guru M/S G/S M/G TK 44 4, SD 92 31,419 1, SMP 34 12, SMU 21 8, SMK 12 4, Sumber : Dinas P dan P Kota Jayapura, 2011 Hingga Tahun 2010, di Kota Jayapura terdapat 92 unit SD/MI/SDLB, 34 unit SLTP, 21 unit SMA/MA, 12 unit SMK. Adapun jumlah siswa SD/MI/SDLB adalah siswa dan jumlah gurunya sebanyak orang, sedangkan jumlah siswa SMP/MTS/ SMPLB adalah siswa dan jumlah gurunya sebanyak 777 Orang jumlah siswa SMA/MA sebanyak siswa dan jumlah gurunya berjumlah 711 Orang, kemudian jumlah siswa SMK adalah siswa dan banyaknya guru yaitu 556 Orang. Dengan kondisi tersebut, dapat diketahui bahwa : (1) rasio murid terhadap sekolah adalah pada jenjang SD, dan pada jenjang SLTP, serta pada jenjang SMU dan pada jenjang SMK. Adapun rasio murid terhadap guru, jenjang SD, lebih tinggi dari pada jenjang SMP, SMU dan SMK, yaitu 104,40 dan terendah senilai 30,61 pada jenjang SMK. Sedangkan rasio guru terhadap sekolah tertinggi pada jenjang SMK, yaitu 44,33 dan terendah pada jenjang SD, yaitu 16,85. a.3. Sarana Pendukung (Laboratorium dan Perpustakaan) Tabel Persentase Rata-rata Pemilikan Lab. dan Perpustakaan sekolah, Tahun 2010 MIPA IPS Bahasa Komputer Multi*) Media Perpustakaan SD SMP SMU SMK Sumber : Dinas P dan P Kota Jayapura, 2011*) Banyaknya Unit Sekolah Terkait dengan penyediaan sarana laboratorium dan perpustakaan sekolah tampak masih sedikit dengan rata-rata sekolah yang memiliki laboratorium MIPA, Bahasa dan IPS yang rendah RPJMD Kota Jayapura Tahun

17 b. Kesehatan Dalam rangka pembangunan kesehatan, Pemerintah Kota Jayapura, terus melakukan berbagai penyediaan ketenagaan, perbaikan prasarana pelayanan dan sarana medis, penyediaan obat-obatan, peningkatan gizi masyarakat, imunisasi, pemberantasan penyakit menular, dan peningkatan kualitas sanitasi lingkungan. Hingga tahun 2010, di Kota Jayapura terdapat 6 unit rumah sakit, 9 Puskesmas, 23 Puskesmas Pembantu, 11 Puskesmas Keliling, 158 Posyandu, dan 3 polindes. Adapun rasio puskesmas/pustu per 10,000 penduduk adalah 7,340. Rasio dokter per 100,000 penduduk pada tahun 2010 adalah 10.2 dan rasio paramedis per Tabel Jumlah Tenaga Medis dan Non Medis, Tahun 2010 No Spesifikasi Tenaga Jumlah 1 Dokter 20 2 Dokter Gigi 7 3 Sarjana Kesehatan 23 4 Bidan 65 5 Ahli Gizi 36 6 Sanitarian 29 7 Perawat Apoteker/Ass.Apt 11 9 Analis Laboratorium Tenaga Non-Medis 26 Jumlah 427 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Jayapura, 2011 penduduk adalah 125,42, serta rasio dokter per puskesmas/ pustu adalah 2.22 dan rasio paramedis per puskesmas adalah Dengan rasio dokter per 100,000 penduduk sebesar 10.2, berarti masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan rasio idealnya sebesar 40 (menurut Ditjen P2MPL, 2004). Adapun jumlah tenaga medis dan nonmedis binaan Pemerintah Kota Jayapura yang bekerja di berbagai Puskesmas dan pusat pelayanan administrasi kesehatan sebanyak 427 orang yang terdiri dari Dokter (umum dan gigi) sebanyak 31 orang, sarjana kesehatan 23 orang, bidan 65 orang, perawat 166 orang. Selain itu, dibantu pula oleh ahli gizi 36 orang, sanitarian 29 orang, apoteker 11 orang dan analis laboratorium sebanyak 40 orang. Dengan demikian, terdapat sekitar 94.9 % tenaga medis dan paramedic, dan sisanya (6.1 %) adalah tenaga non-medis. Selanjutnya, berkenaan dengan produk layanan kesehatan, maka dilihat dari anak balita yang diimunisasi pada tahun 2010, tercatat, masing-masing ada 84 % (campak dan BCG), 78 % (folio), 85 % (DPT/HB3), dan 58 % (TT1). Sedangkan cakupan Balita mendapat kapsul A2 dan cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe, masing-masing sebanyak 98 %, dengan angka kematian bayi sebesar 5.1. Adapun pola penyakit dan angka Tabel Jumlah Unit Pelayanan Kesehatan, 2010 No Jenis Jumlah Keterangan 1 Rumah Sakit 6 Aset Pemprov dan 2 Puskesmas 9 Swasta 3 Puskesmas Pembantu 23 Terdapat 1 unit 4 Puskesmas Keliling 11 Puskesmas Rawat 5 Polindes 3 Inap dilengkapi 6 Posyandu 158*) UGD di Distirk 7 Upaya Kesehatan Kerja 12*) Muaratami 8 Taman Obat Keluarga 14*) Sumber : Dinas Kesehatan Kota Jayapura, 2011 *) Data Tahun 2008 Tabel Persentase diimunisasi balita, dan cakupan layanan kapsul A2 dan Fe, AKB, Tahun Angka Kematian Bayi (AKB) 5.1 Persentase Imunisasi Campak 84 Persentase Imunisasi Polio4 78 Persentase Imunisasi BCG 84 Persentase Imunisasi DPT/HB3 85 Persentase Imunisasi TT1 58 Cakupan Balita mendapat kapsul A2 98 Cakupan Ibu hamil mendapat tablet Fe 98 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Jayapura, 2011 kesakitan penderita sakit untuk semua golongan umur dalam tahun 2010, didominasi oleh jenis penyakit ISPA dan terendah penyakit kulit dengan 18,451 kasus. RPJMD Kota Jayapura Tahun

18 Termasuk 10 besar jenis penyakit yang sering diderita adalah penyakit pulpa dan jaringan perianital, Tabel Penduduk berpengatahuan HIV/AIDS, dan Pengguna Kondom, Pengidap HIV/AIDS ( ) infeksi jaringan bawah Penduduk Pengguna Perbandingan Kondisi kulit, infeksi usus, Tahun Usia th Kondom Kota Jayapura Terinfeksi HIV/ Aids sistem otot dan HIV AIDS Mati Jml jaringan, gastritis, dan ,655 Jumlah ,318 Sumber : Komisi Penanggulangan AIDS Kota Jayapura, 2011 *) hingga 30 nopember 2011 penyakit mata. Tampak bahwa jenis penyakit ISPA dominan diderita oleh masyarakat yang dilayani di semua puskesmas yang ada. Jenis penyakit dominan lainnya adalah penyakit kulit, rongga mulut, malaria, sistem otot dan jaringan pengikat, tekanan darah tinggi, mata, tuberclosis, kusta dan cacar air. Adapula masyarakat yang menderita penyakit kelamin sebanyak 911 orang (termasuk penyakit saluran kencing). Selanjutnya, tercatat banyaknya kasus demam berdarah dalam tahun 2010 adalah 102 kasus. Adapun tingkat prevalensi malaria adalah 12.8, ISPA 28.9, TBC 0.8, dan HIV/Aids 4.4, sedangkan perkembangan Penderita HIV pada Tahun 2010 telah mencapai 272 kasus yang terdiri dari 35 kasus HIV, dan 212 kasus Aids serta 25 kematian. Sementara itu, penduduk usia tahun yang memiliki pengetahuan tentang HIV/Aids hanya sebanyak 68 orang pada tahun Dengan demikian, maka sejak tahun 2006 hinga tahun 2010, tercatat penderita dan pengidap penyakit HIV/Aids telah berjumlah 831 orang, di mana 90 orang di antaranya telah meninggal dunia. Dalam upaya pencegahannya, maka sejak tahun 2007 telah dilakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura untuk memasukkan Pendidikan HIV/Aids di dalam kurikulum pengajaran pada jenjang SLTP dan SLTA. c. Lingkungan Hidup Terwujudnya kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam dalam periode lima tahun menunjukkan beberapa kemajuan pesat terutama sekali yang berhubungan tingkat kesadaran masyarakat dalam memelihara lingkungan yang baik dari tahun ke tahun. Namun Tabel Kondisi Kawasan Lindung dan Lahan Kritis Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan Persentase luas kawasan tertutup pepohonan terhadap luas daratan Persentase lahan kritis terkendali Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Jayapura, 2011 seperti pada tahun 2010 hanya terdapat 0.02 persen saja. demikian, kondisi lahan kritis, bila dilihat dari tahun 2006 itu kurang lebih 0.05 persen, maka pada tahuntahun selanjutnya semakin menurun tingkat lahan kristis RPJMD Kota Jayapura Tahun

19 Hal ini menunjukkan bahwa program dan kegiatan yang dijalankan dalam upaya mengatasi lahan kritis berhasil baik, karena adanya dukungan dari masyarakat yang tinggi dalam menjaga dan memelihara lingkungan. Sedang rasio luas Gambar 2.5. kawasan lindung tampak stabil yang mengandung makna bahwa masyarakat telah memahami pentingnya kawasan lindung daratan sebagai proteksi terhadap eksistensi kehidupan habitat berdasarkan ekosistemnya dan sebagai pelindung terhadap terjadinya bahaya banjir dan longsor.tampak adanya kestabilan rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan dam 5 tahun terakhir ini, yakni berada pada kisaran persen. Artinya bahwa hingga tahun 2010, luas kawasan lindung di kota Jayapura sekitar 584,304 ha dari 940,000 ha luas wilayah Kota Jayapura atau sekitar 389, ha dari berdasarkan luas kawasan hutan, kawasan lindung, dan kawasan konservasi (626,088 ha) yang meliputi kawasan cagar alam cyclop, kawasan taman wisata Youtefa (bougenville), hutan lindung Abepura, dan hutan lindung pegunungan Djar. Lebih jauh lagi, kesadaran masyarakat yang memadai, ditunjukkan pada akses sanitasi yang layak.ada peningkatan akses sanitasi yang baik pada tahun 2007 (4,079) dibanding tahun 2006 (4,337). Artinya, bahwa pada tahun 2010, setiap 10,000 penduduk terdapat sekitar 4,337 penduduk yang dapat Tabel Alokasi Peruntukan Lahan Kota Jayapura No Jenis Luas 1 Hutan Lindung Cagar Alam Cyclop 22,500 ha Hutan Lindung Abepura 560,000 ha Hutan Lindung Peg. Djar 765,6.25 ha Hutan Lindung Bougenville 35, ha 2 Kawasan Resapan Air 10, ha 3 Kawasan Sekitar Mata Air Cagar Alam Cyclop 22,500 ha Hutan Lindung Abepura 560,000 ha Hutan Lindung Peg. Djar 765,6.25 ha Hutan Lindung Bougenville 35, ha 4 Kawasan Cagar Alam dan Cagar Budaya Taman Wisata Alam 1,675 ha 5 Kawasan Rawan Banjir 4, ha 6 Kawasan Rawan Longsor 1, ha 7 Kawasan Rawan Bencana Abrasi (km) km 8 Kawasan Pengembangan Budi Daya Hutan Produksi Terbatas 27, ha Kawasan Pertanian 10, ha Tanaman Pangan 4, ha Perkebunan 1, ha Tambak 5, ha 9 Kawasan Pertambangan Pasir Besi 26,8000 ha Batu Damping/Karang dan Pasir Batu 32,000 ha Bentonit 1,000 ha Tanah Liat 28,000 ha 10 Kawasan Kepariwisataan ha 11 Kawasan Permukiman 4, ha 12 Kawasan Perkantoran ha 13 Kawasan Perdagangan/jasa ha 14 Kawasan pemakaman 20 ha Sumber : Dokumen RTRW Bappeda Kota Jayapura, 2011 mengakses sanitasi yang layak. Angka tersebut lebih baik dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2006, di mana setiap 10,000 penduduk hanya terdapat 3,000 penduduk dengan akses sanitasi yang layak. RPJMD Kota Jayapura Tahun

20 Guna mendukung Gambar 2.6. percepatan pembangunan, maka pada 2006, Kota Jayapura dibagi ke dalam 6 BWK yaitu : BWK A, B, C, D, E dan F, yang dimaksudkan sebagai salah satu pendekatan pembinaan tata ruang kota yang lebih efektif dan efisien. Dalam tahun ini pula, dimulai penyusunan dokumen RTRW Kota Jayapura hingga dapat dituntaskan pada tahun 2008 dengan lahirnya Peraturan Daerah Nomor 05 Tahun Dokumen tersebut merupakan penyempurnaan dari RTRW berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 1995.Berdasarkan dokumen RTRW Kota Jayapura Tahun 2008, diketahui peruntukan lahan di Kota Jayapura, yang meliputi kawasanhutan lindung (Cagar Alam Cyclop, Hutan Lindung Abepura, hutan lindung Pegunungan Djar, hutan lindung Bougenville), kawasan resapan air dan kawasan sekitar mata air, kawasan cagar alam dan cagar budaya (taman wisata alam), kawasan rawan banjir, kawasan rawan longsor, kawasan rawan bencana abrasi, kawasan pengembangan budi daya (hutan produksi terbatas, kawasan pertanian), kawasan pertambangan (pasir besi, batu damping/karang dan pasir batu, bentonit, tanah liat), kawasan kepariwisataan, kawasan permukiman, kawasan perkantoran, kawasan perdagangan/jasa, serta kawasan pemakaman. Sesuai RTRW, maka untuk dapat mengendalikan dan melindungi lingkungan hidup kota Jayapura secara baik dan terarah dalam kerangka pembangunan, pemerintah Kota Jayapura berupaya secara konsisten mentaati RTRW yang berlaku. Pada tahun 2006 telah disusun dokumen RTRK dan RTBL kota Jayapura yang masingmasing tersedia lingkungan seluas 125 ha dan 75 ha. Pada tahun 2008 sisa lahan untuk RTRK dan RTBL tinggal masing-masing 5 ha. Hal ini berarti bahwa pengembangan lingkungan pada kawasan cepat berkembang lingkungan berjalan dengan pesat dan pengendaliannya berjalan dengan baik sehingga tidak merusak kondisi lingkungan yang telah ditata dengan baik. Adapun kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan perdagangan, kepariwisataan, perkantoran, dan pemakaman terbilang sangat terbatas. Sementara itu, kawasan yang berpotensi banjir cukup banyak dengan adanya kawasan resapan air seluas hampir 11 ha, tetapi di lain pihak memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan sumber mata air dengan adanya kawasan yang terletak di sekitar mata air, yaitu : di sekitar kawasan Cyclop, Abepura, Yotefa, dan pegunungan Djar. Gambar 2.18 Adapun luas wilayah produktif sekitar 5.98%, di Gamb antaranya wilayah industri sekitar 0.28%, tetapi kawasan banjir dan kawasan kekeringan lebih sedikit, masing-masing 0.08% dan 0.03%. Ketaatan penggunaan Gambar 2.7 lahan dengan berbagai peruntukannya mencapai 91.6%, sementara Izin Membangun per satuan bangunan mencapai 26.44%. Selanjutnya, dalam tahun 2008, telah tersusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Distrik Jayapura Selatan dan Distrik Muara Tami, dan pada tahun 2009 telah dilakukan pendataan dan analisis dalam rangka penyusunan RDTR Distrik Abepura dan Distrik Heram, serta RPJMD Kota Jayapura Tahun

21 penyusunan buku standar baku mutu lingkungan (air sungai) yang dilanjutkan dengan penyusunan rancangan peraturan daerahnya. Dalam rangka pengelolaan limbah domestik dan B3, Pemerintah Kota Jayapura telah membangun perangkap limbah di Kali Acai sebanyak 1(satu) unit, yang difungsikan untuk mengamankan Teluk Yotefa dari pencemaran, yang kemudian difungsikan sebagai penahan air yang menimbulkan potensi banjir. Selain itu, dilakukan pengendalian dan Perusakan Lingkungan Hidup melalui pemantauan kualitas lingkungan Pengelolaan B3 dan limbah B3 pada industri, rumah sakit, rumah tangga, termasuk pemantauan kualitas air di 5 distrik.mengenai persampahan, masih diperlukan upaya lebih lanjut dalam menanggulangi masalahnya. Meski persampahan selalu menjadi masalah serius terutama pada lokasi-lokasi tertentu dan permukiman yang padat penduduk, tetapi terus mengembangkan berbagai langkah strategis dalam rangka penanggulangannya.penyediaan prasarana dan sarana persampahan terus ditingkatkan, disertai pembangunan lokasi TPS di beberapa titik rawan, serta terus menghimbau keadaran masyarakat untuk selalu disiplin hidup bersih.untuk mengurangi resiko genangan air atau banjir, di-lakukan perluasan jaringan drainase di daerah pemukiman dan perkotaan.hingga tahun 2009, perluasan jaringan drainase di permukiman sekitar 35,000 m dan pada skala perkotaan sekitar 25,000 m. Dengan perluasan jaringan tersebut, luas kawasan 21,36 genangan air di wilayah permukiman dan perkotaan dapat ditekan secara perlahan, menjadi sekitar 215 ha pada tahun 2009, dari 56,38 9,21 sekitar 250 ha pada tahun Artinya 13,05 bahwa dalam lima tahun terakhir ini, Pertanian Pertamb&galian Industri Jasa Pemerintah Kota Jayapura telah dapat meminimalkan luas areal genangan air/banjir di Kota Jayapura sekitar 35 ha. d. Ketenagakerjaan Proporsi jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah penduduk pada tahun 2009, mengalami penurunan yang relative kecil dibandingkan dengan tahun 2006, yakni dari angka persentase sebanyak 49.78% menjadi 49.38%. Sementara itu, persentase pengangguran terbuka pada tahun 2009, menurun menjadi % daripada tahun 2006 sebanyak %, lebih rendah daripada angka pengangguran di tingkat Provinsi Papua yang mencapai % hingga Agustus 2009 (Sakernas, 2009). Sementara itu, struktur tenaga kerja di Kota Jayapura didominasi oleh sektor jasa. Selain berdasarkan PDRB, struktur ekonomi dapat juga diamati berdasarkan tenaga kerja, dimana pencari kerja yang ditempatkan secara sektoral pada tahun 2009 memberi kontribusi terhadap total tenaga kerja sebesar 56,38%, diikuti sektor pertanian sebesar 21,36%, sektor industri sebesar 13,05%, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,21%. Adapun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kota Jayapura, tidak lebih baik dibandingkan dengan TPAK tingkat Provinsi Papua. TPAK Kota Jayapura sebesar % lebih rendah dari pada angka TPAK Provinsi Papua (Sakernas, Agustus 2009), yakni sebesar Gambar %. Hingga tahun 2009, rasio pengangguran terbuka telah dapat ditekan menjadi dari angka pada tahun Artinya bahwa pada tahun 2009 Gambar RPJMD Kota Jayapura Tahun

22 tersebut, masih ada sebanyak 42,798 orang berstatus pengangguran terbuka (termasuk penduduk yang bukan angkatan kerja). Angka tersebut, masih lebih baik dibandingkan dengan angka pengangguran di tingkat Provinsi Papua (20.92%). Berarti, terjadi penurunan jumlah pengangguran tidak signifikan sejak tahun 2006, yakni dari % menjadi % pada tahun Dari segi daya serap tenaga kerja, maka hingga tahun 2009, tampak ditunjukkan elastisitas serapan yang stabil di sektor Perdagangan dan Hotel, Keuangan, Asuransi, jasa perusahaan, Jasa Kemasyarakatan, sosial dan perorangan, sementara sektor pertanian terjadi perbaikan tingkat elastisitas dari 0.36 pada tahun 2006 menjadi 1.00 pada tahun Demikian halnya dengan sektor pertambangan dan galian, di mana pada tahun 2006, tercatat derajat elastisitasnya hanya 0.01 yang mengalami perubahan drastis pada tahun 2010 menjadi Dari aspek lainnya, banyaknya pencari kerja yang terdaftar mengalami penurunan dari 21,938 orang pada tahun 2006 menjadi hanya 19,963 pada tahun 2010 atau terjadi penurunan sekitar 6.7%, dan bila dibanding dengan tahun 2009, penurunan tersebut menjadi sekitar 6.76%. Sementara itu, tercatat bahwa pada tahun 2010, jumlah angkatan kerja di Kota Jayapura, mencapai 48,26% yang terdiri dari angkatan kerja yang sudah bekerja sebesar 40.38% dan angkatan kerja yang tidak bekerja sebesar 7.88 %. Sedang penduduk yang bukan angkatan kerja, terdapat sekitar %, yang terdiri dari penduduk yang sedang bersekolah sebanyak 18.49%, mengurus rumah tangga sebesar %, dan lainnya sebesar %. Rasio penduduk bekerja terhadap penduduk yang tidak bekerja semakin Gambdapat ditingkatkan, sehingga dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi dan status sosial masyarakat. Dengan proporsi jumlah penduduk yang bekerja %, dan TPAK sebesar 57.26, berarti bahwa masih terdapat sekitar 9% dari jumlah penduduk usia kerja (15-46 tahun) yang tidak bekerja. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pasar kerja didominasi oleh penduduk yang terdidik.hal ini menunjukkan adanya relevansi terhadap keberhasilan pembangunan pendidikan formal pada jenjang pendidikan menengah di Kota Jayapura. Tetapi, di sisi lain belum berhasil menampung tenaga kerja terdidik tersebut dalam lapangan kerja formal dan non-formal. Meningkatnya partisipasi aktif swasta dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan mutu tenaga kerja merupakan suatu indikasi positif dalam rangka pengembangan kemitraan menurunkan angka pengangguran dan peningkatan mutu tenaga kerja.peranan swasta selama 5 tahun terakhir telah ditunjukkan dengan adanya peningkatan serapan tenaga terja dan pembinaan mutu tenaga kerja secara signifikan.dalam hal penyerapan tenaga kerja dicatat adanya partum-buhan serapan dengan rata-rata sekitar 14.33% dalam 5 tahun terakhir.persentase pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2009, yakni sebesar 23% RPJMD Kota Jayapura Tahun

23 yang jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya 5.26%. Selanjutnya, dari segi rasio jumlah tenaga kerja yang dibina terhadap serapan tenaga kerja, menunjukkan bahwa persentase tertinggi terjadi pada tahun 2008 (7.39%) yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2009 (6.83%). Hal ini bermakna positif bagi peranan swasta dalam membentuk kader sumberdaya manusia yang makin handal dalam memasuki era pasar bebas. Guna meningkatkan kesejahteraan pekerja/karyawan, pemerintah telah menetapkan dan memberlakukan standar upah minimum bagi semua institusi dan perusahaan.pada tahun 2005 upah minimum diberlakukan senilai rupiah per bulan, dan meningkat jadi pada tahun 2009.Artinya, ada kenaikan standar upah sebesar 73.73% dalam 5 tahun terakhir.kenaikan tersebut mempertimbangkan tingkat rata-rata pertumbuhan ekonomi Kota Jayapura.Meski diakui bahwa upah minimum tersebut belum setara dengan kebutuhan hidup layak.adanya kesenjangan antara standar upah dan kebutuhan hidup layak disebabkan oleh terjadinya inflasi yang mencerminkan kenaikan harga kebutuhan pokok di Kota Jayapura, selain masih adanya keterbatasn kemampuan pengusaha dalam penyediaan upah kerja. Tingkat kesenjangan tersebut cenderung masih tinggi antara 32.30% sampai 49.79% yang menggambarkan masih rendahnya daya beli tenaga kerja. Tetapi, walaupun demikian secara perlahan dan pasti, kesenjangan tersebut telah dapat ditekan dari semula 49.79% pada tahun 2009 menjadi 44.48% pada tahun e. Koperasi dan UKM Dalam rangka pengembangan UKM, dilakukan berbagai langkah strategis dalam hal penyediaan fasilitas usaha dan pembinaan manajemen usahanya, termasuk pembinaan keterampilan berusaha. Pada tahun 2006, tercatat sebanyak 673 unit usaha kecil, 219 unit Tabel Jumlah Unit Usaha dan Investasi, Tahun Perusahaan Jumlah Investasi Perusahaan Kecil Perusahaan Menengah Perusahaan Besar T O T A L ,754,060,115 Sumber : Dinas Perindagkop Kota Jayapura, 2011 usaha menengah, dan 13 unit usaha besar. Terlihat bahwa total nilai investasi perusahaan kecil terbilang besar dibandingkan dengan total nilai investasi perusahaan besar. Tetapi jika dilihat rata-rata per unitnya, nilai investasi perusahaan kecil, ternyata lebih sedikit, yakni Rp. 132,920, dibanding nilai investasi perusahaan besar senilai Rp. 609,463, Berkenan dengan perizinan usaha, dijelaskan bahwa hingga 2009, izin Tabel Banyaknya usaha Baru dan Perizinan Banyaknya usaha baru Banyaknya perpanjangan izin usaha Banyaknya perubahan badan usaha Banyaknya perubahan usaha dan KBLI Banyaknya penerbitan SITU Banyaknya penerbitan SIUP Banyaknya penerbitan TDP Sumber, Dinas Perindagkop Kota Jayapura, 2011 yang dikeluarkan mengalami sedikit peningkatan. Pada tahun ini terdapat sebanyak 2324 unit SITU (Surat Izin Tempat Usaha), dibandingkan tahun 2008 sebanyak 2,263 unit. Sedangkan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan sebanyak 1,292 unit pada tahun yang sama. Adapun dalam tahun 2008, terdapat perpanjangan izin usaha sebanyak 85 unit, perubahan badan usaha sebanyak 165 unit, perubahan usaha dan KBLI sebanyak 65 unit, dan penerbitan TDP (Tanda Daftar Perusahaan) sebanyak 980 unit. Pada tahun 2008 ini, tercatat adanya pengajuan izin untuk usaha baru sebanyak 665 unit. Dengan kondisi seperti itu, perhatian pemerintah Kota Jayapura hingga Tahun 2009 ini, dalam hal memfasilitasi perizinan usaha dan regulasinya, dinilai sangat memadai, walau pada tahun dipandang kurang memadai hingga memadai. RPJMD Kota Jayapura Tahun

24 Penilaian yang sama terhadap perizinan dan regulasi tentang investasi usaha. Tentang perizinan usaha dan investasi, Pemerintah Kota Jayapura berhasil melakukan reformasi tata pengurusan, di mana proses Tabel Jumlah Usaha Skala Kecil, Menengah, Besar dan Jumlah Tenaga Kerjanya Usaha Tenaga Kerja Home Industri Perusahaan Kecil ,940 2,460 Perusahaan Menengah Perusahaan Besar P T C T O T A L 1,066 3,072 4,020 Sumber : Dinas Perindag Kota Jayapura, penanganannya menjadi lebih mudah dan cepat, walaupun ke depan masih memerlukan penyempurnaannya.dalam hal penyerapan tenaga kerja, kapasitas pengusaha lokal cukup kontributif.hal ini terbukti dari daya serapan tenaga kerja dilihat dari skala usaha (kecil, menengah, dan besar) yang meningkat tajam pada tahun 2006, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam tahun 2006, terdata tenaga kerja yang terserap sebanyak 4,020 orang, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 3,072 orang atau %. Jumlah serapan terbesar terdapat pada perusahaan berskala kecil yang mengalami pertambahan, yakni dari 1,940 orang pada tahun 2005 menjadi 2,460 orang pada tahun 2006 atau naik sebesar %.Hal ini menunjukkan peranan perusahaan kecil dalam membantu menurunkan angka pengangguran dengan daya serapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang berskala menengah dan besar. Sementara itu, jika dilihat per sektor, diperoleh gambaran bahwa dalam tahun 2008, terdapat 3 sektor dominan dalam penyerapan tenaga kerja, yakni : pertanian; listrik, gas; dan air, serta industri. Sangat disayangkan karena tidak diperoleh data yang lengkap sebagai pembanding Tetapi dari fakta yang ada menunjukkan bahwa hingga tahun 2008, terdapat konsistensi antara minat pencari kerja dengan ketersediaan lapangan kerja di 3 sektor tersebut. Di sektor perdagangan dan hotel, tanpak adanya perubahan daya serap yang tidak linier, melainkan menujukkan pergerakan menurun pada tahun 2006 dan 2008, tetapi meningkat pada tahun Dibandingkan dengan tahun 2005, maka penurunan daya serapan tenaga kerja di sektor perdagangan dan hotel mencapai 47.46%. Dalam bidang perkoperasian, jumlah koperasi yang dibina dalam 5 tahun terakhir ini, mencapai 239 unit, 5 unit di antaranya dengan status KUD (Koperasi Unit Desa), dan Tabel Jumlah Koperasi dan Nilai Prekreditan Petani Jumlah dan jenis koperasi Capaian KUD (unit) 2. Non KUD (unit) 3. Nilai perkreditan petani , nd nd nd nddan nelayan oleh lembaga bank KUK (Rp. Juta) Sumber : BPS Kota Jayapura (nd = no data) sebagian besar lainnya adalah koperasi profesi. Dilihat nilai perkeditan (KUK) petani dan nelayan yang diselenggarakan oleh lembaga perbankan mengalami sedikit penurunan hingga tahun 2006 menjadi sebesar 233 juta rupiah lebih dari tahun sebelumnya senilai 235 juta rupiah lebih. Terkait dengan itu, telah dilakukan pembinaan manajemen pengelolaan usaha simpan pinjam KSP/USP koperasi bagi 83 KSP/USP dan UKM berupa fasilitasi bantuan sarana usaha serta permodalan usaha bagi 10 koperasi dan 25 pengusaha kecil, pengawasan terhadap barang yang beredar, dengan pengambilan sampel makanan dan minuman serta sosialisasi undang-undang perlindungan konsumen, serta pengendalian harga dan penyaluran bahan pokok. RPJMD Kota Jayapura Tahun

25 Urusan Pelayanan Pilihan Urusan pilihan merupakan urusan pemerintah yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi, kekhususan dan potensi unggulan yang ada di Kota Jayapura. a. Pertanian Kota Jayapura memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang masih luas di bagian wilayah sebelah timur, tepatnya di kawasan Distrik Muara Tami. Kawasan tersebut juga Tabel Rata-rata Produksi Pertanian (ton/ha) Jenis Padi Jagung Umbi-umbian Kacang-kacangan Sayur-sayuran Buah-buahan Sumber : BPS Kota Jayapura,2011 memiliki bendungan Tami yang mampu mengairi sawah sebanyak ha. Tetapi hingga tahun 2008, sektor pertanian belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Walaupun demikian, melalui berbagai langkah ekstensifikasi dengan menambah areal persawahan seluas menjadi seluas 1,278 ha, telah menghasilkan produksi padi sebanyak 8,307 ton dengan rata-rata produksi per ha sebanyak 6,5 ton, kacang tanah sebanyak 264 ton/ha, jagung sebanyak 558 ton/ha. Areal pengembangan pertanian masih sangat terbatas dibandingkan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Keerom. Dari ± 94,000 ha luas wilayah Kota Jayapura, hanya tersedia lahan persawahan sekitar 5,000 ha, tanaman pangan dan hortikultra sekitar 500 ha, perkebunan sekitar 1500 ha, kolam tambak 150 ha, serta hutan seluas ± 13,529 ha. Untuk memenuhi kebutuhan petani dalam meningkatkan kapasitas produksi pertanian tanaman pangan, telah disediakan irigasi sekunder dengan kapasitas 10,000 m dan irigasi primer dengan kapasitas 24,000 m hingga tahun 2009, dengan kapasitas terpakai rata-rata 5,000 m dalam 5 tahun terakhir. Tabel Kondisi Jaringan Irigasi untuk Pertanian Jangkauan jaringan irigasi terhadap lahan pertanian (ha) Pemeliharaan irigasi (m ) Panjang jaringan irigasi dan luas lahan pertanian ( %) Jaringan irigasi dalam keadaan baik (%) Sumber : Dinas PU Kota Jayapura, 2011 Adapun jangkauan jaringan irigasi terhadap luas lahan pertanian pada tahun 2005 adalah ha sedikit meningkat pada tahun 2009 menjadi ha, sedang persentase jaringan irigasi terhadap luas lahan pertanian hingga tahun 2009 telah mencapai 54 %. Adapun rasio jaringan irigasi dalam keadaan baik, pada tahun 2005 hanya sekitar 60 % kemudian menjadi 75 % pada tahun Untuk peternakan, Produksi rata-rata terjadi penurunan pada jenis ternak sapi tapi mengalami peningkatan pada Tabel Rata-rata Produksi Peternakan (ton) jenis ternak kambing, babi, Jenis unggas, dan ruminansia. Sapi 131, , , , ,314 Peningkatan rata-rata produksi Kambing 5,252 6,040 5,850 5,875 3,838 Babi 66,275 74,228 90,780 95, ,980 daging ternak babi, unggas, Unggas dan ruminansia secara Ruminansia 522, , , , ,275 konsisten hingga tahun 2009, Sumber : BPS Kota Jayapura dan Diskanla Kota Jayapura 2011 seiring dengan makin meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap protein hewani. Dalam hal ini, ditemukan banyak usaha ternak rakyat yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat, terutama untuk jenis sapi, kambing, babi, dan unggas. RPJMD Kota Jayapura Tahun

26 Tabel Banyaknya Pengusaha Ternak Unggas dan Ruminansia Pengusaha Ternak non lokal Ternak lokal Unggas Ruminansia Sumber : Dinas Pertanian Kota Jayapura, 2011 Dengan partisipasi masyarakat, maka terjadi perkembangan populasi ternak melalui usaha-usaha diversifikasi usaha. Guna memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Jayapura akan konsumsi daging hewan yang bermutu, Pemerintah Kota Jayapura memfasilitasi pemanfaatan RPH (Rumah Potong Hewan), berdasarkan Peraturan Daerah Nomor : 11 Tahun 2004 yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Walikota Jayapura Nomor : 41 Tahun Adapun banyaknya kelompok usaha ternak unggas dan ruminansia, baik lokal maupun non-lokal terus meningkat secara perlahan dalam 5 tahun terakhir ini. Tampak bahwa terjadi pertumbuhan jumlah peternak mandiri, baik untuk ternak lokal maupun non lokal yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah peternak dari 14 unit pada tahun 2005 menjadi 33 unit pada tahun 2009 atau pertumbuhan sebanyak hampir 75 %. Selain itu, dapat pula diketahui bahwa peternak mandiri untuk ternak lokal masih lebih banyak dibandingkan dengan non-lokal. Dalam rangka meningkatkan jaminan perlindungan hutan dan kawasan konservasi, maka pada tahun 2005, dilaksanakan pembersihan lahan dengan sistem jalur dan penanaman 20,000 pohon serta pengadaan pupuk di Camp Wolker Waena, pengembangan agribisnis anggrek. Adapun perkembangan capaian umum dalam 5 tahun terakhir ini, diindikasikan oleh : (1) makin meningkatnya luas areal hutan lindung dan kawasan konservasi yang dikelola, yakni dari hanya 10 ha pada tahun 2005 menjadi 25 ha pada tahun 2009; (2) Luas areal rehabilitasi lahan menurun dari 500 ha pada tahun 2005 menjadi menurun 50% menjadi 205 ha pada tahun Dapat diartikan bahwa terjadi penurunan luas lahan yang rusak; (3) rasio luas wilayah hutan lindung dan kawasan konservasi mencapai % sejak tahun 2005 hingga tahun 2009; (4) rasio hutan produksi kayu dan pelestariannya tampak semakin membaik di mana pada tahun 2005 rasionya lebih tinggi (4.95) kemudian menurun drastis pada tahun 2009 menjadi Sedang produksi rata-rata subsektor kehutanan hingga tahun 2007 mengalami penurunan produksi pada jenis kayu gergajian tetapi terjadi kenaikan pada jenis kayu hasil ikutan. Tabel Rata-rata Produksi Kehutanan (m 3 ) Jenis Kayu Bulat Kayu Gergajian Hasil Ikutan 63,726 12,862 28, ,25 418,20 37,240 12,194,29 7,492,76 40,720 Sumber : BPS Kota Jayapura,2011. RPJMD Kota Jayapura Tahun

27 b. Kelautan dan Perikanan Untuk pengembangan areal budidaya perikanan, dengan kategori : kolam seluas ha, keramba air tawar 4, ha, dan karamba air laut. Pada Gambar dasarnya, lahan tersebut sangat potensial untuk pengembangan agribisnis dan agrowisata. Terjadi kenaikan produksi secara tajam pada tahun 2007 dan 2008 pada jenis perikanan laut, tetapi justru terjadi penurunan tidak signifikan pada jenibs perikanan darat dan umum.adapun capaian rata-rata produksinya dijelaskan di subsektor pertanian cenderung terjadi stagnan hingga tahun Tabel Rata-rata Produksi Perikanan (ton) Tercatat bahwa kebanyakan (59.95 % pada tahun 2008) yang menggunakan perahu dayung dan bahkan masih terdapat sekitar 3.50% yang tidak menggunakan perahu, baik ukuran kecil, sedang, maupun besar. Banyaknya pengguna perahu dayung malah semakin meningkat dan pengguna motor Jenis Laut 4, , , ,144.2 Darat 9,253 7,103 7,160 7,160 Umum Sumber : BPS Kota Jayapura, 2011 tempel makin menurun hingga tahun Tetapi jika dilihat secara persentase tersebut Gambar cenderung makin menurun Gambar 2.7. dibanding tahun sebelumnya (60.41 % pada tahun 2005). Sedangkan pengguna kapal motor hanya bertambah 2 unit dari tahun 2005 hingga 2008 dan malahan pada tahun 2006 dan 2007 hanya 9 unit yang digunakan. Adapun rata-rata penggunaan Gambar armada tangkap bagan, rata-rata 18 unit per hari, alat tangkap pancing tonda rata-rata 30 unit per hari, dan alat tangkap jaring permukaan rata-rata 12 unit per hari. Sementara itu, jenis alat tangkap yang digunakan, pada umumnya jenis pancing (ratarata di atas 77 %) hingga tahun Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga perikanan (laut dan darat), lebih menyukai alat tangkap yang sederhana dan tidak rumit. Adapun banyaknya rumah tangga perikanan yang terdata sebanyak 8,805 pada tahun 2005 dan berkurang menjadi hanya 7,609 pada tahun Jika dibedakan antara banyaknya rumah tangga perikanan budidaya dan rumah tangga perikanan laut, maka tampak didominasi oleh rumah tangga perikanan laut. Terbukti bahwa pada tahun 2005 banyaknya rumah tangga perikanan budidaya hanya 214, sedangkan rumah tangga perikanan laut sebanyak 904. Komposisi rasio sedemikian itu, terjadi secara konsisten hingga tahun Sementara itu, banyaknya nelayan yang rata-rata aktif per RPJMD Kota Jayapura Tahun

28 hari di berbagai pasar ikan di Kota Jayapura, tampak lebih banyak yang berasal dari Papua, di banding dengan non-papua. Secara rasio, dapat dikatakan bahwa orang Papua yang aktif dalam sehari rata-rata 4 kali lebih banyak dibanding non-papua. Hal ini terjadi sejak tahun 2007 hingga tahun 2009, sedangkan pada tahun 2006, rasio tersebut hanya mencapai rata-rata 3 kali lipat. Patut dicermati bahwa pada tahun 2007, terjadi lonjakan jumlah nelayan Papua yang aktif dari 698 orang pada tahun 2006 menjadi 1,011 orang, tetapi nelayan non-papua tampak konstan antara 206 pada tahun 2006 sampai 285 orang pada tahun 2009.Potensi perikanan laut terbesar adalah jenis ikan cakalang, rata-rata di atas 3000 ton per tahun yang di pasarkan melalui pusat-pusat perdagangan ikan di Hamadi dan Tanjung Ria. Untuk kepentingan itu, telah disediakan PPI/TPI Hamadi sejak tahun 1995 dengan tipe D seluas 1 ha, dengan kondisi fasilitas dasar (lahan 1 ha, dermaga, dan reklamasi dalam kondisi baik), sedangkan fasilitas fungsional (Lantai gedung TPI dan tangki BBI 2 unit, menara air dan reservoir, genset dan rumah genset, pabrik es mini dan coldstorage, dalam keadaan rusak). Jenis produksi pengolahan di subsektor perikanan adalah ikan asap dan ikan asing. Tercatat bahwa dalam tahun 2006 Tabel Jumlah Armada dan Alat Tangkap Jenis Armada Tangkap Tanpa Perahu Perahu dayung(k,s,b) Motor Tempel ( HP) Kapal Motor (5-30 GT) Alat Tangkap Pukat Jaring Pancing Alat Lainnya Sumber : Diskanla Kota Jayapura, 2011 jumlah UPI (unit pengolahan ikan) sebanyak 87 unit yang mampu menghasilkan sebanyak 37 ton. Pada tahun 2009, jumlah unit dan kapasitas produksi berkembang drastis menjadi 135 unit dengan kapasitas produksi sebanyak 84 ton. Pada dasarnya, banyaknya unit pengolahan terus mengalami peningkatan tiap tahun yang diikuti dengan peningkatan kapasitas produksinya. Demikian halnya dengan rata-rata pedagang ikan per hari yang aktif di berbagai pasar tradisional seperti di Tanjung Ria, Hamadi, Entrop, dan Youtefa, mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Rata-ratanya per hari pada tahun 2006 adalah 45 orang, kemudian meningkat menjadi 65 orang pada tahun Kondisi tersebut menunjukkan bahwa setiap ada penambahan unit pengolahan ikan, selalu diikuti dengan adanya peningkatan produksi dan peningkatan jumlah pedagang ikan. Jenis produksi dominan adalah ikan asap, di mana terdapat 75 unit pengolahan dengan produksi sebanyak 25 ton pada tahun 2006 yang kemudian tumbuh menjadi 121 unit pada tahun 2005 dengan produksi sebanyak 70 ton. Dapat diketahui pula bahwa rata-rata produksi unit pengolahan ikan asap per tahun per 1 unit pengolahan adalah % pada tahun Angka rata-rata tersebut, terus meningkat pada tahun berikutnya hingga mencapai % pada tahun c. Perindustrian dan Perdagangan Pertumbuhan unit usaha industri di Kota Jayapura mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tahun 2009 sebanyak 631 unit, dengan rata-rata persentase penurunan sebesar 3,39% per tahun hingga tahun Pada tahun 2005, industri kecil dengan investasi di bawah 200 juta rupiah memiliki share yang besar yaitu 3,22%, sedangkan industri besar dan menengah memiliki share hanya 0,37%. Hal ini memiliki makna yang strategis bagi pengembangan industri berbasis ekonomi kerakyatan di Kota Jayapura. Demikian halnya dengan industri menengah berskala investasi lebih dari 200 juta rupiah hingga 1 milyar rupiah, mengalami partumbuhan yang signifikan sebesar 115,48%.Pada Tahun 2008, sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 3,88 persen sedikit melambat dari Tahun 2007 yang tumbuh sebesar 4,74 %, di mana industri besar/sedang tumbuh sebesar 0,43 %, sedangkan industri kecil kerajinan rumah tangga sebesar 8,03 %. Tetapi, bila dilihat kontribusi sektor ini terhadap pembentukan PDRB berdasarkan harga berlaku, maka tampak adanya penurunan yang cenderung bersifat linier, baik untuk industri berskala besar/sedang maupun industri berskala kecil. Pada tahun 2005 RPJMD Kota Jayapura Tahun

29 diperoleh capaian kontribusi sebesar 4.81 %, tetapi menurun tajam pada tahun 2008 menjadi hanya 3.80 %. Kondisi tersebut sekaligus menggambarkan terjadinya perubahan kontribusi yang makin menurun dilihat dari skala industrinya. Banyaknya usaha dan nilai investasi industri (kecil, menengah, dan besar) di Kota Jayapura mengalami fluktuasi yang tidak stabil. Dibanding dengan tahun 2007, maka pada tahun 2008 terjadi kenaikan sebanyak 137 unit (27.73 %, tetapi mengalami penurunan nilai investasi sebesar %, dan nilai produksinya justru meningkat sebesar %. Jenis industri unggulan yang dikelola dalam Tahun 2007 dan 2008, mencakup 4 jenis, yaitu : industri kimia dan agro, industri hasil hutan dan hasil tambang, industri logam mesin dan elektronika, serta industri sandang kulit dan aneka. Tabel Perkembangan Industri Pengolahan Jumlah Usaha (unit) Investasi (juta rp) 26,312 28,469 55,030 38,744 Nilai Produksi (juta rp) 222, , , ,135 Sumber : BPS Kota Jayapura Jenis-jenis industri yang dikelola mengalami perkembangan antara 22.29% hingga 34.62%. Hal ini cukup menggembirakan bagi pertumbuhan sektor industri di masa datang. Industri kimia dan argo mengalami peningkatan sebesar %, industri hasil hutan dan hasil tambang mengalami peningkatan sebesar %, industri logam mesin dan elektronika sebesar %, dan industri sandang kulit dan aneka sebesar %. Sedangkan dilihat dari nilai investasi, tampak adanya sedikit peningkatan.untuk diketahui bahwa hingga tahun 2009, belum ada jenis-jenis produk industri andalan yang memiliki trade-mark khas Kota Jayapura, sementara produk yang dihasilkan masih kalah bersaing di tingkat lokal (termasuk usaha batik), apalagi di tingkat regional dan nasional. Adapun jenis-jenis industri yang dihasilkan dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat, antara lain: usaha kripik pisang dan ubi-ubian; usaha kue sagu, usaha ikan asar; usaha abon ikan, usaha pakan ikan; usaha manik-manik; usaha perbengkelan; usaha perkayuan, usaha batako, usaha batik. Usaha intensif yang dilakukan adalah meningkatkan pembinaan mutu produk industri serta mencari peluang pasar melalui kegiatan promosi dan pameran di tingkat lokal, provinsi, dan nasional. Hingga tahun 2009, efektivitas penggunaan kawasan pengembangan perda-gangan dan jasa tersebut kian meningkat, terutama di kawasan Abepura (Jalan Raya Abepura, Jalan Baru Kotaraja), Kamp Key, Kamp Cina, dan Jalan Sentani, Waena dengan hadirnya pusat-pusat perbelanjaan baru, seperti : mall, supermarket, hypermarket, rumah toko, dan jenis pertokoan lainnya. Di kawasan Jayapura Utara, umumnya dipusatkan di Dok II pantai hasil reklamasi, selain di lumba-lumba Dok V, dan Tanjungria, sedangkan di Kawasan Jayapura Selatan, pusat perdagangan dan jasa difokuskan di wilayah Entrop Kelapa-II dan Pusat Kota yang melingkar di Jalan Ahmad Yani, Jalan Percetakan, Jalan Irian, selain di Hamadi dan Ardipura. Lokasi utama yang digunakan sebagai pusat perdagangan dan jasa di kawasan tersebut, masih tetap mempertahankan kesesuaiannya dengan RTRW yang berlaku. Selama 5 tahun terakhir, realisasi peruntukan pusat perdagangan dan jasa sesuai RTRW mencapai 325 ha yang meningkat sebesar % dibandingkan tahun Berarti bahwa telah terjadi peningkatan efektivitas penggunaan lahan perdagangan dan jasa sebagaimana ditetapkan di dalam RTRW dengan rata-rata pertumbuhan sekitar % per tahun. Sementara itu, rasio luas pusat pertokoan terhadap luas wilayah kota, tidak mengalami perubahan berarti, kecuali pada tahun , di mana rata-rata setiap 125 ha terdapat 1 unit pertokoan, yang meningkat dari tahun menjadi rata-rata 150 ha terdapat 1 unit pertokoan. RPJMD Kota Jayapura Tahun

30 Tabel Perkembangan Kondisi Hutan dan Lahan ( ) Luas areal Pengelolaan dan pemanfaatan hutan lindung dan kawasan konservasi (ha) Luas areal rehabilitasi lahan (ha) Rasio luas wilayah hutan lindung dan kawasan konservasi Rasio antara produksi kayu dan penanaman pohon Sumber : Dinas Pertanian Kota Jayapura, 2011 Dalam hal penataan pusatpusat perdagangan dan Pasar, juga disesuaikan dengan peruntukan RTRW yang berlaku. Pusat-pusat perdagangan bersar yang utama terletak dalam kompleks perdagangan seperti di kawasan Ruko Dok II, kawasan Entrop-PTC (Papua Trade Centre), dan Kawasan Kotaraja. Selain penataan yang dilakukan dari aspek kebersihan dan keindahan, juga dari aspek kelayakan lokasi (AMDAL) dan tata bangunan yang dinyatakan dengan penerbitan IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Hingga tahun 2009, rasio luas pusat perbelanjaan seperti mall terhadap luas wilayah Kota Jayapura, mencapai 0.88 %. Artinya, total Tabel Kondisi Usaha Pasar areal yang digunakan untuk JumlahUsaha Jumlah Kios JumlahLos kegiatan perdagangan besar Pasar Hamadi Pasar Entrop seperti sebanyak ha. Pasar Youtefa Rasio tersebut meningkat tajam T o t a l dibandingkan tahun 2006 yang Sumber : Dinas Pasar Kota Jayapura, 2011 hanya sekitar ha. Sementara itu, rasio luas pasar besar terhadap luas wilayah kota, pada tahun 2009 mencapai angka 152,6 yang meningkat dari angka 90.7 pada tahun Sebagaimana diketahui bahwa usaha pasar pada tahun 2006, tercatat sebanyak 5,746 yang sebagian terbesar berada di Pasar Youtefa. Adapun jumlah los pasar pada tahun ini sebanyak 2,006 terbanyak di Pasar Youtefa. Pasar Hamadi sebagai pasar sentral telah berfungsi kembali setelah mengalami renovasi sejak tahun Demikian halnya Pasar Dok IX Tanjung Ria, yang terus mengalami penataan phisik. Selain pasar besar, difasilitasi penyediaan dan penataan pasar penyanggah pasar Sehito di Distrik Muara Tami untuk menampung kegiatan ekonomi kerakyatan dalam kerangka pemberdayaan ekonomi masyarakat. Demikian juga di Waena, Kotaraja, Perumanas IV, Dok VIII, Angkasa.Peranan pasar penyanggah selama ini sangat penting dalam mengakomodasi para pedagang tradisional pada simpulsimpul ekonomi terkecil di masyarakat. d. Pariwisata 2.4. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan potensi, kekhususan, dan unggulan daerah.suatu daya saing (competitiveness) merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya yang berdekatan, nasional dan internasional. RPJMD Kota Jayapura Tahun

31 Kemampuan Ekonomi Daerah Walaupun tingkat kesejahteraan penduduk cukup tinggi, tetapi tingkat kesenjangan pendapatan antar penduduk di Kota Jayapura saat ini tergolong rendah,di mana angka gini rasio Kota Jayapura di tahun 2008 hanya sebesar 0.23 (menurut kriteria Oshima jika gini rasio terletak pada interval 0 < gini rasio < 0,35 dikatakan ketimpangan rendah). Pada saat bersamaan pertumbuhan ekonomi Kota Jayapura juga tercatat sangat tinggi, melampaui angka Gambar 2.15 Perkembangan 10%dan sekaligus Jumlah KK dibarengi dengan Miskin ketimpangan Tahun 2006 dan 2009 pendapatan yang rendah.namun Sumber : demikian masih perlu Dinas dicatat bahwa Kesejahteraan Sosial Kota pertumbuhan ekonomi Jayapura, yang dihasilkan tersebut 2010 belum menunjukkan kualitas yang baik.hal ini terjadi karena pemerataan pendapatan yang berhasil diciptakan merupakan pemerataan dalam tingkat kemiskinan. Dimana jika merujuk kepada data Dinas Sosial Kota Jayapura tahun 2010, tercatat bahwa rumah tangga miskin di Kota Jayapura adalah KK pada tahun 2009, menurun menjadi 17,774 KK pada tahun Angka ini apabila dibandingkan dengan total rumah tangga sebanyak KK maka tingkat kemiskinan di Kota Jayapura adalah sebesar 31.95%.Penurunan jumlah kemiskinan terjadi pada semua kategori (hampir miskin, miskin, dan miskin sekali).penurunannya terbilang drastis khususnya pada kategori hampir miskin dan kategori miskin. Jika pada tahun-tahun berikut, ada intervensi program yang lebih intensif bagi perbaikan tingkat pendapatan penduduk, maka kemiskinan dapat dientaskan, mengingat jumlah KK yang dengan kategori hampir miskin memiliki jumlah jauh lebih besar pada tahun 2006 (48.89%) dan 2009 (50.51 %). Dalam hal ini, Pemerintah Kota Jayapura selalu berupaya memberi stimulan kepada semua penduduk miskin. Distrik yang paling tinggi rumah tangga miskinnya adalah Distrik Abepura, berdasarkan data penyaluran Raskin tahun 2007, tercatat rumah tangga miskin di Distrik Abepura adalah sebanyak 22,42%. disusul Distrik Jayapura Selatan sebesar 10,91%, Distrik Muara Tami sebesar 7,80%, dan paling rendah di Distrik Jayapura Utara hanya sebesar 6,50%.Hal ini mengindikasikan bahwaprogram pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan di Kota Jayapura mengalami kemajuan yang cukup berarti Fasilitas dan Infrastruktur wilayah Sarana prasarana perkotaan merupakan aspek yang sangat penting dalam mengelola kawasan perkotaan. Ketersediaan sarana dan prasarana perkotaan sangat menentukan dalam pengembangan suatu kota. Sarana perkotaan meliputi sarana pendidikan, kesehatan, permukiman, perdagangan, sarana perhubungan darat, serta sarana rekreasi dan olah raga. Prasarana perkotaan meliputi prasarana permukiman; prasarana perhubungan; prasarana jaringan, yang terdiri dari jaringan drainase perkotaan, jaringan irigasi, serta jaringan utilitas lainnya; serta prasarana persampahan dilihat dari segi aksesibilias, kualitas maupun cakupan pelayanannya, kondisi sarana dan prasarana di Kota Jayapura saat ini sudah cukup baik dan mulai tersebar secara merata di setiap Distrik. RPJMD Kota Jayapura Tahun

32 a. Perumahan dan Permukiman Pada umumnya Penduduk Kota Jayapura memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan rumah yang sehat dan layak.hal ini ditandai dengan meningkatnya kesadaran penduduk untuk membangun rumah yang dilengkapi dengan dokumen izin membangun yang sah. Pada tahun 2005, proporsi rumah penduduk dibangun dengan IMB hanya sekitar 406 unit telah berkembang menjadi 539 unit pada tahun 2009 (kenaikan 24.68%). Di lain pihak, ada peningkatan proporsi rumah tangga yang telah memiliki atau menyewa rumah sendiri dari 83.03% pada tahun 2008 menjadi 91.67% pada tahun Hingga tahun 2008 Tabel Kondisi Tata Permukiman dan Perumahan rumah penduduk yang berlantai bukan tanah Banyaknya pembangunan rumah telah mencapai 90% dan yang mengurus IMB Proporsi rumah tangga yang ,67 telah memenuhi syarat memiliki/menyewa rumah sehat mencapai Persentase rumah penduduk %, sedangkan berlantai bukan tanah Persentase rumah yang tidak penuhi proporsi luas wilayah syarat sehat permukiman yang Persentase luas permukiman yang tertata mencapai 99.90% tertata Terpeliharanya KDB daerah hingga tahun permukiman Adapun KDB (Koefisien Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Jayapura, 2010 Dasar Bangunan) daerah permukiman yang tertata meningkat signifikan menjadi 520 pada tahun 2009 dari hanya 352 pada tahun Angka tersebut dapat dikatakan memadai karena telah berada di atas rata-rata pertumbuhan sebesar 448 selama 5 tahun terakhir.pembangunan kawasan permukiman diarahkan ke Distrik Jayapura Selatan, Heram, Abepura, dan Muara Tami, dengan perkiraan kebutuhan lahan hingga tahun 2027 seluas 4, ha untuk 1163,505 unit rumah. Untuk mendukung penataan pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Jayapura, maka berdasarkan RTRW Kota Jayapura Tahun 2008, dipertimbangkan membatasi pengembangan permukiman dan perumahan secara sporadis sebagai upaya konservasi air. Hal tersebut, selanjutnya dipedomani dalam penyusunan advice zoning dan advice planning pengembangan perumahan dan permukiman secara memadai. Bahkan di dalam dokumen RTRW, dijelaskan pengaturan tentang alokasi luas lahan untuk ukuran rumah besar, sedang dan kecil dengan perbandingan 1 : 3 : 6, di mana luas lahan, masing-masing : untuk rumah besar adalah 600 m 2, rumah sedang seluas 400 m 2, dan rumah kecil seluas 200 m 2. b. Air Bersih Dalam rangka peningkatan pelayanan dasar, Pemerintah Kota Jayapura telah memberikan kontribusi yang bermakna bagi tersedianya air bersih dengan memelihara sumber air minum sehingga debit air yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini didasarkan pada Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor : 12 Tahun 2007 Tentang Pengawasan Kualitas Air. Antara lain dilakukan melalui penataan sistem utilitas lingkungan dan penatagunaan tanah dan air secara maksimal dengan mempertimbangkan fakor keseimbangan ekologis dan kelestarian alam. Adapun sumber air tanah di Kota Jayapura, sebagian besar termasuk tipe uncounfined aquifer (sumber air tanah dengan permukaan air tanah bebas).kebutuhan akan air bersih oleh masyarakat yang bermukim di Kota Jayapura sangat meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk, pada tahun 2008 masyarakat masih menggunakan Air Ledeng RPJMD Kota Jayapura Tahun

33 untuk kebutuhan air bersih sangat banyak yaitu 68,91 %. Sedangkan kebutuhan air bersih dengan menggunakan Air dalam kemasan dan Mata air adalah alternative terbanyak kedua. Sedang untuk kebutuhan air bersih yang paling rendah adalah bersumber pada peman-faatan air sungai. Adapun kapasitas produksi air minum hingga tahun 2009 sebanyak 14,389 m3 dengan rasio pelanggan terhadap jumlah penduduk adalah 11,08. Tabel Pesentase Rumah Tangga Per Sumber Air Minum, 2008 No Sumber Air Minum Air Dalam Kemasan 8,82 2 Leding 68,91 3 Pompa 5,53 4 Sumur 3,63 5 Mata Air 8,41 6 Air Sungai 0,24 7 Air Hujan 3,26 8 Lainnya 1,2 TOTAL 100,00 Sumber : PSDP Kota Jayapura Atas kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura dalam mengoptimalkan pelayanan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), maka hingga tahun 2009 dapat dilayani kebutuhan rumah tangga dalam penyediaan air bersih. Hingga tahun 2009, kapasitas produksi air minum yang dikelola oleh PDAM sebanyak 14,389 m 3 dengan rasio pelanggaan terhadap jumlah penduduk baru mencapai sekitar %. Rasio tersebut, masih tergolong rendah. Tetapi jika dibandingkan dengan konsumsi rumah tangga, maka terlihat persentasenya menjadi jauh lebih besar, yakni sekitar %. Tampak bahwa sebagian besar rumah tangga mengkonsumsi air bersih dan layak minum yang diperoleh dari air kemasan dan air leding yang disediakan oleh PDAM. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa masih terdapat rumah tangga (22.27 %) yang menggunakan air yang bersumber dari air tanah dengan menggunakan : pompa air, sumur tanah, mata air, air hujan, dan jenis lainnya. Selanjutnya, Pemerintah Kota telah memfasilitas penyediaan air minum dengan menggunakan pipa gips dengan kapasitas 7,816 m, breoncaptering 3 unit, reservoir 11 unit, hydrant umum 52 unit, sumur bor 21 unit dan disertai dengan pengaman intake sebanyak 10 unit. Atas kerjasama dengan UNICEF, dalam tahun 2008/2009, Pemerintah Kota Jayapura, telah menyelesaikan 100 % kegiatan pengelolaan Air Minum dan Penyehatan lingkungan (AMPL-BM) di Kelurahan Gurabesi dan Kelurahan Hamadi serta kegiatan lain yang berhubungan dengan air dan lingkungan. Selain itu, diselenggarakan pula kegiatan rehabilitasi sarana dan prasarana air minum dalam bentuk pemasangan pipa gip 6.478,84 M, Broncaptering, Reservoar, HU di Kelurahan Wahno, Bukit Barisan, Buper ke Kampung Buton, Enggros, Sumber Air Hedam, Holtekamp, Gurabesi, Tanjung Ria dan Polimak. c. Pelayanan Listrik Dalam rangka peningkatan pelayanan Gambar 2.20 Gambar listrik di Kota Jayapura, maka Pemerintah Kota Jayapura terus mendorong kerjasama dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk menyediakan penerangan listrik bagi rumah tangga. Hingga tahun 2009, daya terpasang meningkat sebesar % di atas rata-rata pertumbuhan yang diikuti dengan meningkatkan persentase rumah tangga pengguna yang mencapai %. Kondisi tersebut, berbanding terbalik dengan perubahan jumlah rumah tangga yang menggunakan sumber energi penerangan non PLN, lilin, minyak tanah, dan kayu bakar. Artinya, kebutuhan penggunaan listrik PLN yang dilayani meningkat seiring meningkatnya daya terpasang. Meningkatnya rumah tangga pengguna listrik PLN sebagai konsekwensi dari pertumbuhan permukiman baru, terutama di sekitar Distrik Jayapura Selatan, Distrik Abepura, Distrik Heram. Tetapi, masih ada 1.42% rumah Gambar RPJMD Kota Jayapura Tahun

34 tangga yang belum terlayani. Dengan makin meningkatnya kebutuhan rumahtangga yang dilayani, disertai dengan kebutuhan pusat-pusat perdagangan dan perhotelan yang makin bertumbuh kian pesat, sementara kapasitas terpasang tak memadai, maka karena adanya keterbatasan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Yarmokh dan Waena pihak PLN telah menempuh kebijakan pemadaman bergilir sambil berupaya menuntaskan tuntasnya rencana penambahan daya dengan kapasitas mesin pembangkit yang baru, termasuk rencana memfungsikan PLTU di Holtecamp dan PLTA di Skouw. Peran pemerintah Kota dalam penyediaan prasarana dan sarana penerangan terutama pada penyediaan dana penunjuang untuk meningkatkan dan memelihara penerangan jalan umum dan penerangan di sejumlah prasarana umum seperti pasar dan terminal.penyedia pelayanan listrik di Kota Jayapura terutama berasal dari PLN Cabang Jayapura, dan sumber-sumber pembangkit lain yang dimiliki oleh perusahaan rumah tangga.dari data tahun 2007 terlihat bahwa pembangkit tenaga listrik yang terbanyak terdapat di Pusat Kota Yarmoch yaitu ada 14 pembangkit listrik, dengan pelanggan. Secara keseluruhan PLN kota Tabel Banyaknya Pembangkit Tenaga Listrik Per Wilayah, 2010 Lokasi Sumber Penerangan Pembangkit Tenaga Listrik Pelanggan Tabel Perkembangan Daya Terpasang PLN dan Persentase Pengguna Penerangan Capaian Daya terpasang (KVA) RT pengguna : Listrik PLN Listrik non PLN Penerangan lilin BBMTanah Kayu Bakar Sumber : BPS Kota Jayapura, 2010 Daya Terpasang Jayapura-Waena Jayapura Yarmooch JUMLAH Sumber : Kantor PLN Wilayah X Cabang Jayapura Jayapura memiliki pelanggan dengan daya terpasang adalah Adapun kebutuhan penerangan bagi masyarakat Kota Jayapura yang menggunakan listrik PLN sangat meningkat. Hal ini terlihat dari persentase sumber penerangan, adalah sebanyak 98,58% menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan, walau masih ada juga masyarakat yang, menggunakan sumber lain seperti; Listrik Non PLN (0,26%), Solar Cell, Lilin (0,39%) Bahan Bakar Minyak Tanah (0,67%), dan Kayu Bakar (0,01%). Selama 5 tahun terakhir telah diupayakan pembangunan dan pemanfatan prasarana dan sarana pembangkit energi, seperti pembangunan JTM (Jaringan Tegangan Gambar 2.18 Menengah) di Distrik Muara Tami, atas kerjsama dengan PLN untuk membangun PLTU di Holtecamp dan PLTA di Skouw. Dengan kapasitas sebesar 3,676 kwh pada tahun 2008, meningkat menjadi 5,731 kwh pada tahun Sementara itu, dibandingkan antara panjang jaringan dengan luas wilayah Kota Jayapura, tampak mengalami pertambahan sebanyak hampir 12 % dari tahun 2005 hingga Hal tersebut berarti bahwa setiap peningkatan kapasitas listrik selalu diikuti secara konsisten dengan bertambahan panjang jaringan yang dibangun.adapun produksi PLN yang dibangkitkan mengalami peningkatan dari 181,574 kwh pada tahun 2005 menjadi 258,066 kwh pada tahun 2007, tetapi sedikit menurun pada tahun 2008 menjadi 225,698 kwh. Pergerakan grafik pertumbuhan yang sama terjadi untuk produksi PLN yang dialirkan dan dijual. Artinya, terjadinya penurunan kapasitas produksi PLN yang dibangkitkan dan dialirkan sejak RPJMD Kota Jayapura Tahun

35 tahun Bila dicermati, tampak adanya penurunan kapasitas layanan terjadi pada semua jenis sasaran, termasuk untuk penerangan jalan menjadi hanya 0.09% pada tahun 2008 dari semula 2,9% pada tahun Kondisi yang sama terjadi pada layanan PLN untuk kebutuhan sosial. Sebaliknya, justru terjadi kenaikan pada jenis layanan usaha, kantor pemerintah, industri, dan untuk kebutuhan rumah tangga. Penerangan lampu jalan umum dan lampu hias, telah terpasang sebagai aksesoris kota pada titik-titik penting di sepanjang jalan utama pada jalur dari pusat kota ke arah Pasir- 2 dan ke arah Abepura dan Waena. Atas kerjasama dengan PLN direalisasikan pengerjaannya dengan volume yang telah mencapai 6.74 %.Tetapi pada titik-titik tertentu di kawasan rawan kejahatan belum seluruhnya dapat terjangkau. Tidak kurang dari 1,000 titik LPJU dan lampu hias yang telah dibangun hingga tahun 2009 meliputi seluruh wilayah Kota Jayapura hingga ke Muara Tami. Pengembangan ketenagalistrikan dalam program listrik masuk kampung, telah diadakan dan dipasang Mesin Genset di beberapa kampung di Distrik Muara Tami dan Waena. Hingga tahun 2009, tidak kurang dari 200 KK yang telah menikmati penerangan dari Mesin Genset di Distrik Muara Tami dan Waena dengan kapasitas terpasang antara 1,500 watt sampai 5,000 watt yang dialirkan kepada unit-unit rumah tangga. Gambar Terkait dengan pertambangan, Hingga saat ini potensi yang dapat dikelola, masih sangat terbatas. Eksplorasi kandungan sumberdaya alam bawah tanah dan laut, belum dilakukan secara intensif dan menyeluruh. Adapun potensi tambang dipermukaan tanah berupa galian C, berupa : (1) Pasir Besi seluas 26,000 ha, yang tersebar di sekitar kawasan Waena, Angkasa, Base G, Kaki Pegunungan Cyclop; (2) Batu Gamping/ Karang dan Pasir Batu seluas 32,000 ha di sekitar kawasan Entrop, Polimak, Tanah Hitam, Koya Koso, Koya Barat, Koya Tengah, dan Moso; (3) Bentonit seluas 1,000 ha terdapat di wilayah Nafri, Koya Barat, Koya Timur, Koya Tengah, Holtecamp, dan Koya Koso; dan (4) Tanah Liat seluas 28,000 ha di Holtecamp dan Koya Koso. Pengendalian penambangan, diusahakan melalui program pembinaan dan pengawasan penambangan bahan galian C dan pendulang liar; penertiban kegiatan pertambangan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan : misalnya di kawasan nafri, padang bulan, dan entrop, serta penyusunan peta daerah rawan bencana alam geologi. RPJMD Kota Jayapura Tahun

36 d. Transportasi Untuk meningkatkan pelayanan transportasi dalam kota dan antar wilayah di Kota Jayapura,ditunjang Tabel Status dan Kondisi Jalan dan Jembatan dengan ketersediaan Sat Capaian infrastruktur perhubungan. Terdapat 3 jalan negara sepanjang 50 km, jalan provinsi sepanjang km, dan jalan kota sepanjang m. Panjang jalan Jalan Negara Km Jalan Provinsi Km 38,50 38,50 38,50 38,50 38,50 Jalan Kota Km 369,74 369,74 369,74 369,74 369,74 Kondisi jalan Kota Baik Km 322,45 318,45 314,45 326,45 337,04 Rusak sedang Km 58,79 56,79 37,79 33,05 31,15 Rusak berat Km 11,50 11,50 17,50 10,24 9,24 Permukaan jalan Aspal Km 282,32 283,02 283,72 286,12 297,32 Kerikil KM Km 62,05 62,05 61,7 63,03 62,03 Tanah dan lainnya Km 37,46 37,46 36,76 33,03 31,03 Sumber : BPS dan Dinas Perhubungan Kota Jayapura, Diolah. Panjang jalan tersebut belum mengalami penambahan ruas jalan efektif dari tahun 2005 hingga tahun Tetapi, kini Pemerintah Kota Jayapura telah membuka dan membangun jalan Tabel Media Informasi Pembangunan yang Digunakan alternatif pada ruas jalan yang menghubungkan ruas jalan Paldam- Website Kodam ke Kantor Walikota, dan jalur Madding Map Media Cetak Populer Skyland-Kotaraja-Camp Wolker Waena ke Nasional Buper Waena sepanjang 12.3 km. Lokal Beberapa ruas jalan yang menghubungkan Tabloid Bulanan Warta Kota Jayapura wilayah antar dan inter Media Elekronik kampung/kelurahan masih terdapat Radio Siaran kondisi jalan dengan permukaan tanah Televisi Lokal Sumber : Dinas Kominfo Kota Jayapura, 2011 dan kerikil. Hingga tahun 2009, masih terdapat sekitar km yang berupa permukaan tanah dan 63,03 km berkerikil. Pada tahun 2005, telah tertersedia 5 lokasi terminal angkutan darat, yaitu : terminal lama seluas 3,750 m 2, terminal entrop seluas 18,112 m 2, terminal Abepura seluas 1,751 m 2, terminal Yotefa Kotaraja seluas 11,851 m 2, dan tempat parkir di Taman Mesran seluas 5,000 m 2 yang masih difungsikan efektif hingga tahun 2009, kecuali terminal di Pasar Entrop yang sementara dipindahkan ke depan PTC Entrop. Selain itu, Pemerintah masih memberikan konsesi sementara terhadap areal pemberhentian sementara di Expo Waena, Padang Bulan, dan di depan Kantor Pos Abepura untuk mengatasi keterbatasan lahan untuk Mobil Plat Hitam Tabel Banyaknya Kendaraan yang Beroperasi Ukuran Kecil 7,977 9,701 9,328 8,803 10,821 Ukuran Sedang Ukuran Besar 2,296 2,215 2,120 1,996 2,283 Jumlah 11,107 12,721 12,236 11,541 13,977 Mobil Plat Kuning Ukuran Kecil 3,840 3,489 3,408 10,768 10,941 Ukuran Sedang 1,350 1,303 1,261 1,754 1,767 Ukuran Besar Jumlah 5,283 4,879 4,749 12,741 12,966 Mobil Plat Merah Ukuran Kecil 2,042 1,977 2,018 1,886 1,660 Ukuran Sedang Ukuran Besar Jumlah 2,178 2,175 2,202 2,072 1,873 TOTAL 18,568 19,775 19,187 26,354 28,816 Sepeda Motor*) Sumber : UPPD SAMSAT Jayapura, Diolah. *) BPS Kota Jayapura, 2009 membangun terminal tetap di sekitar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di pusat kota Jayapura, Abepura, dan Waena. Keberadaan lokasi pemberhentian sementara di expo Waena dimaksudkan sebagai terminal transit bagi penumpang dari arah sentani untuk RPJMD Kota Jayapura Tahun

37 meminimalisasi kemacetan arus lalu lintas di kawasan Abepura. Adapun jembatan yang terus dibangun dan dipelihara hingga tahun 2009, telah mencapai 17 unit yang tersebar hingga ke wilayah Distrik Muara Tami. Berkenaan dengan areal perparkiran, tampak tidak memadai, selain keterbatasan lahan parkir, juga disebabkan oleh masih kurangnya kedisiplinan pemakai kendaraan. Hal ini menjadi salah satu sumber kemacetan arus lalu lintas, sekalipun telah diantisipasi dengan membagi arus lalu lintas menjadi 2 arah di Abepura dan Jalan Sam Ratulangi Jayapura. Peningkatan aksessibilitas Gambar transportasi dalam rangka peningkatan pelayanan publik, dikaitkan dengan optimalisasi fungsi dan utilitas perkotaan. Dikaitkan dengan beban kota yang semakin sarat, maka Pemerintah Kota Jayapura memberikan perhatian serius terhadap pemeliharaan parasana dan sarana tranportasi. Secara periodik dilakukan pemeliharaan jalan pada ruas utama dan antar kampung/kelurahan dengan total keseluruhan sepanjang 10,913m, misalnya di kelurahan Imbi, Bhayangkara, Argapura Bawah (masing-masing sepanjang 500m), Jeruk Nipis sepanjang 238 m, Vim Tanah Hitam sepanjang 375 m, di detroit sepanjang 400 m, jalan kesehatan 750 m. Demikian juga di Jaya Asri, Komplek Klinik Hewan m, dan Jalan ke BTN Pemda; Kampung Waena sepanjang 300 m, jalan masuk ke BTN Kamp Key, hingga jalan lingkungan di Koya Barat, Koya Timur. Di distrik Muara Tami, umumnya merupakan jalan kota dan provinsi yang telah di aspal. Sedangkan jalur transportasi antara kampung masih terdapat sebagian kecil jalan berupa tanah keras dan kerikil. Adapun jumlah kendaraan yang beroperasi, mengalami peningkatan tiap tahunratarata kenaikan per tahun adalah 12.56% atau 55.19% dibandingkan antara tahun 2005, dan 2009.Sebagian besar terdiri dari mobil berukuran kecil, seperti: sedan, jeep, minibus. Mobil pribadi (plat hitam) lebih banyak dibanding dengan mobil usaha (plat kuning) dan mobil dinas (plat merah) dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2008 dan 2009, ditunjukkan adanya peningkatan yang tajam jumlah kendaraan umum yang beroperasi, baik jenis microbus, maupun jenis jeep/kijang dan bus besar. Hingga tahun 2009, di Kota Jayapura, memiliki tingkat kepadatan yang sangat tinggi, di mana dibanding antara panjang jalan yang ada (dalam kondisi baik dan rusak) dengan jumlah kendaraan (mobil), maka dicapai rasio sebesar %. Artinya bahwa setiap km panjang jalan, terdapat 1 unit mobil. Jika kendaraan roda-2 (sepeda motor), maka rasionya menjadi 5.25 %, di mana setiap 5.25 km panjang jalan, terdapat 1 unit mobil atau sepeda motor. Hal ini menunjukkan kecenderungan yang makin mengarah kepada kepadatan yang tinggi, apalagi jika hanya memperhitungkan panjang RPJMD Kota Jayapura Tahun

38 jalan utama yang ada di sekitar wilayah pertumbuhan sepanjang jalur dari Waena- Abepura-Hamadi-Pusat Kota-Tanjung Ria tanpa mempertimbangkan akses jalan antar kampung menuju ke Distrik Muara Tami. Untuk meningkatkan pelayanan transportasi laut, dilakukan pendataan dan pembinaan terhadap : 9 unit perusahaan pelayaran, 16 unit perusahaan EMKL, 5 unit perusahaan bongkar-muat, pelayanan jasa kapal Gambar (penambangan ke dermaga, pemandu kapal, kapal tunda), jasa barang (di dermaga dan di gudang), serta pelayanan jasa alat bongkar muat (mekanik dan non-mekanik). Selain itu, dilakukan deteksi penggunaan dermaga untuk kepentingan sendiri (DUKS) yang dikelola oleh pihak Pertamina dan perusahaan perikanan. Adapun pelabuhan utama untuk kepentingan bongkar-muat barang dan penumpang sebanyak 2 unit di Weref dan Porasko. Pemerintah Kota Jayapura telah menjajagi kerjasama Tri-Party dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura dan PT Pelindo Makassar untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelabuhan di Kota. Hal ini dilakukan karena makin meningkatnya volume bongkar-muat peti kemas. Selain itu, atas kerjasama dengan pihak PLN, dirancang pembangunan pelabuhan tertutup di Holtecamp untuk melayani kebutuhan bongkar muat batu bara dan sumber energi lainnya. Adapun frekwensi kapal barang dan kapal penumpang yang berlabuh di pelabuhan Weref dan Porasko cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2005 tercatat sebanyak 745 kali, tetapi pada tahun 2008 hanya 501 kali atau penurunan sebesar (32.75 %). Hal ini disebabkan oleh menurunnya frekwensi kedatangan kapal penumpang dan kapal pesiar. Sebagaimana diketahui bahwa PT. Pelni, seringkali melakukan penyesuaian rute kapal penumpang yang berakibat berkurangnya kapal penumpang yang berkunjung ke Kota Jayapura. Sementara la-yanan kapal perintis ke berbagai kabupaten di Papua melalui pelabuhan Porasko, terus meningkat. Terkait dengan fungsi pelabuhan Weref sebagai pelabuhan bongkar-muat, dalam kurun waktu , mengalami penurunan. Pada tahun 2005, bahan makanan, bahan strategis, dan bahan migas, yang dibongkar mengalami penurunan pada tahun Penurunan drastis terjadi pada bahan migas yang mencapai %. Hal itu disebabkan berkurangnya permintaan masyarakat terhadap bahan pokok dari luar serta meningkatnya volume produksi pertanian, peternakan, dan perikanan di Kota Jayapura. Sementara penurunan volume bongkaran bahan migas, lebih disebabkan oleh terjadinya krisis BBM dalam tahun 2006 sampai tahun e. Telekomunikasi dan Informatika Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa pos hingga ke pedalaman, atas kerjasama dengan PT Pos Indonesia, telah difasilitasi Kantor Pos Pembantu sebanyak 1(satu) unit di Distrik Muara Tami, sehingga masyarakat di wilayah itu dapat mengakses komunikasi surat-menyurat, paket barang, dan bahkan di bidang keuangan : bantuan langsung tunai, pembayaran rekening listrik dan telepon, serta jasa keuangan lainnya. Rasio rata-rata layanan jasa pos per 10,000 penduduk sebesar Artinya, Kantor Pos yang tersedia 1 unit tersebut rata-rata tahun melayani sebanyak RPJMD Kota Jayapura Tahun

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Kota Bukittinggi Posisi Kota Bukittinggi terletak antara 100 0 20-100 0 25 BT dan 00 0 16 00 0 20 LS dengan ketinggian sekitar 780 950 meter

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI Kota Bandung merupakan Ibu kota Propinsi Jawa Barat yang terletak diantara 107 36 Bujur Timur, 6 55 Lintang Selatan. Ketinggian tanah 791m di atas permukaan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN LEBAK 2016

RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN LEBAK 2016 LAMPIRAN I SURAT EDARAN BUPATI LEBAK Nomor : 050/03-Bapp/I/2015 Tanggal : 29 Januari 2015 Tentang : Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Kerja Perangkat (Renja-SKPD) Tahun 2016 RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Mengingat bahwa RPJMD merupakan pedoman dan arahan bagi penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya, maka penentuan strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK...

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... I II VII VIII X BAB I PENDAHULUAN BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI... 4 B. KEPENDUDUKAN / DEMOGRAFI...

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU - 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BENGKULU, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015, sebagaimana ditetapkan dengan

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

PEM ERINTAH KOTA JAYAPURA

PEM ERINTAH KOTA JAYAPURA PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Daftar Isi BAB 1 PENDAHULUAN... 3 1.1 LATAR BELAKANG... 3 1.2 LANDASAN GERAK... 4 1.3 MAKSUD DAN TUJUAN... 6 1.4 METODOLOGI...

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN IV.1 Gambaran Umum Kecamatan Biringkanaya IV.1.1 Keadaan Wilayah Kecamatan Biringkanaya merupakan salah satu dari 14 Kecamatan di kota Makassar dengan luas wilayah 48,22

Lebih terperinci

Latar belakang: Landasan hukum Landasan filosofi Definisi Tata ruang Kerangka materi Asas dan Tujuan Ruang lingkup Isi Rencana Proses

Latar belakang: Landasan hukum Landasan filosofi Definisi Tata ruang Kerangka materi Asas dan Tujuan Ruang lingkup Isi Rencana Proses TATA RUANG ~ TATA GUNA TANAH/ LAHAN (Buku Pedoman Teknik Tata Ruang ) Latar belakang: Landasan hukum Landasan filosofi Definisi Tata ruang Kerangka materi Asas dan Tujuan Ruang lingkup Isi Rencana Proses

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha 69 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemakaian Air Bersih 5.1.1 Pemakaian Air Untuk Domestik Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel di wilayah usaha PAM PT. TB, menunjukkan bahwa pemakaian air bersih

Lebih terperinci

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota Johannes Parlindungan Disampaikan dalam Mata Kuliah Pengantar PWK Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB IV SOSIAL BUDAYA A. PENDIDIKAN

BAB IV SOSIAL BUDAYA A. PENDIDIKAN A. PENDIDIKAN BAB IV SOSIAL BUDAYA Pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting dalam pembangunan, karena dengan pendidikan masyarakat akan semakin cerdas yang selanjutnya akan membentuk Sumber Daya

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Tanjung Karang Pusat sebelumnya merupakan bagian dari wilayah

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Tanjung Karang Pusat sebelumnya merupakan bagian dari wilayah 39 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kecamatan Tanjung Karang Pusat sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Tanjung Karang Barat dengan pusat pemerintahannya berkedudukan di Bambu Kuning

Lebih terperinci

KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006

KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006 Katalog BPS : 1403.5371040 KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006 Pantai Lasiana BADAN PUSAT STATISTIK KOTA KUPANG KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006 No. Publikasi : 5371.0504 Katalog BPS

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LAMPIRAN I KEPUTUSAN GUBERNUR NOMOR 188.44 / 0549 / KUM / 2012 TENTANG PENYEMPURNAAN PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DAN INDIKATOR KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL JAKARTA A PERAN PEREMPUAN Perempuan sangat berperan dalam pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Strategi pembangunan daerah adalah kebijakan dalam mengimplementasikan program Kepala Daerah, sebagai payung pada perumusan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUBJENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUBJENIS USAHA 1. Daya Tarik Wisata No. PM. 90/ HK. 2. Kawasan Pariwisata No. PM. 88/HK. 501/MKP/ 2010) 3. Jasa Transportasi Wisata

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1. Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi a. Karakteristik Wilayah

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS SOSIAL PROVINSI BALI PERIODE 2013-2018

INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS SOSIAL PROVINSI BALI PERIODE 2013-2018 INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS SOSIAL PROVINSI BALI PERIODE 2013-2018 Tugas Pokok Dinas Provinsi Bali Fungsi Dinas Provinsi Bali : Membantu Gubernur Bali dalam menyelenggarakan Pemerintahan di Bidang Kesejahteraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa transmigrasi merupakan bagian integral

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

BUPATI KARANGASEM KEPUTUSAN BUPATI KARANGASEM NOMOR 130 /HK/2013 TENTANG

BUPATI KARANGASEM KEPUTUSAN BUPATI KARANGASEM NOMOR 130 /HK/2013 TENTANG BUPATI KARANGASEM KEPUTUSAN BUPATI KARANGASEM NOMOR 130 /HK/2013 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PADA KANTOR PELAYANAN PERIZINAN TERPADU KABUPATEN KARANGASEM BUPATI KARANGASEM, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga sebagai sarana transportasi, sebagai sarana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Tujuan Pembangunan Jangka Menengah Aceh Tengah tahun 2012 2017 adalah TERWUJUDNYA KEMAKMURAN DAN TERHALAUNYA KEMISKINAN MENUJU MASYARAKAT ACEH TENGAH SEJAHTERA 2017.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

- 26 - PEMERINTAH. 3. Penetapan rencana. 3. Penetapan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai

- 26 - PEMERINTAH. 3. Penetapan rencana. 3. Penetapan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai - 26 - C. PEMBAGIAN URUSAN AN PEKERJAAN UMUM 1. Sumber Daya Air 1. Pengaturan 1. Penetapan kebijakan nasional sumber daya air. 2. Penetapan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi,

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa keracunan makanan dan minuman, proses

Lebih terperinci

B. GAMBARAN UMUM DAERAH

B. GAMBARAN UMUM DAERAH BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Pembentukan Kabupaten Bangka ditetapkan dengan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dan Kota Praja di Sumatera Selatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013-2018 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI A. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Beberapa permasalahan yang masih dihadapi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah Kabupaten Sumbawa di era desentralisasi, demokrasi dan globalisasi ini, strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO BAB I PENDAHULUAN A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO 1. Kondisi Geografi Secara geografis Kabupaten Wonosobo terletak antara 7. 11 dan 7. 36 Lintang Selatan (LS), 109. 43 dan 110. 04 Bujur Timur (BT).

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN PENGEMBANGAN WILAYAH GEDEBAGE MENJADI PUSAT SEKUNDER (Kantor Litbang bekerjasama dengan LPM UNPAR) TAHUN 2003

RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN PENGEMBANGAN WILAYAH GEDEBAGE MENJADI PUSAT SEKUNDER (Kantor Litbang bekerjasama dengan LPM UNPAR) TAHUN 2003 RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN PENGEMBANGAN WILAYAH GEDEBAGE MENJADI PUSAT SEKUNDER (Kantor Litbang bekerjasama dengan LPM UNPAR) TAHUN 2003 A. LATAR BELAKANG Pesatnya laju pertumbuhan pembangunan dan tingginya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : Menetapkan :

Lebih terperinci

BAB V Area Beresiko Sanitasi

BAB V Area Beresiko Sanitasi BAB V Area Beresiko Sanitasi 6 BAB 5 Area Beresiko Sanitasi Buku Putih Sanitasi sangat penting bagi kabupaten dalam menetapkan prioritas wilayah pengembangan sanitasi yang meliputi pengelolaan air limbah,

Lebih terperinci

RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010

RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010 RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010 Drs. Alexius Akim, MM. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat RAKOR GUBERNUR KALBAR

Lebih terperinci

DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I

DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I 1 DERAJAT KESEHATAN (AHH, AKB DAN AKI) 2 STATUS GIZI KURANG DAN GIZI BURUK PADA BALITA 3 JUMLAH RUMAH SAKIT BERDASARKAN KEPEMILIKAN DAN PELAYANAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI DINAS DAERAH KOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN)

dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) adalah proses

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci