Proses Decoding Kode Reed Muller Orde Pertama Menggunakan Transformasi Hadamard

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

KONSTRUKSI LEXICOGRAPHIC UNTUK MEMBANGUN KODE HAMMING (7, 4, 3)

Table of Contents. Table of Contents 1

Makalah Teori Persandian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan

BAB II TEORI KODING DAN TEORI INVARIAN

BEBERAPA KARAKTERISTIK KRIPTOSISTEM KUNCI PUBLIK BERDASARKAN MATRIKS INVERS TERGENERALISASI

KODE LEXICOGRAPHIC UNTUK MEMBANGUN KODE HAMMING (7, 4, 3) DAN PERLUASAN KODE GOLAY BINER (24, 12, 8)

Semi Modul Interval [0,1] Atas Semi Ring Matriks Fuzzy Persegi

Kode Sumber dan Kode Kanal

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Linear Block Code

BAB I PENDAHULUAN. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan media telephone, handphone,

BAB II KAJIAN TEORI. definisi mengenai grup, ring, dan lapangan serta teori-teori pengkodean yang

Tugas Teori Persandian. Step-by-Step Decoding

Encoding dan Decoding Kode BCH (Bose Chaudhuri Hocquenghem) Untuk Transmisi Data

ANALISIS KEAMANAN KRIPTOSISTEM KUNCI PUBLIK BERDASARKAN MATRIKS INVERS TERGENERALISASI

Kode, GSR, dan Operasi Pada

BAB I PENDAHULUAN. digital sebagai alat yang penting dalam teknologi saat ini menuntut adanya sistem

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB II KAJIAN TEORI. Himpunan merupakan suatu kumpulan obyek-obyek yang didefinisikan. himpunan bilangan prima kurang dari 12 yaitu A = {2,3,5,7,11}.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE HAMMING PENDAHULUAN. By Galih Pranowo ing

BAB 1 PENDAHULUAN. mempermudah aktivitas sehari-hari. Penggunaan komunikasi dan media komputer

APLIKASI MATRIKS INVERS TERGENERALISASI PADA KRIPTOGRAFI

Matriks adalah susunan segi empat siku-siku dari objek yang diatur berdasarkan baris (row) dan kolom (column). Objek-objek dalam susunan tersebut

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Block Coding KOMUNIKASI DATA OLEH : PUTU RUSDI ARIAWAN ( )

BAB III PEMBAHASAN. Teori Pengkodean (Coding Theory) adalah ilmu tentang sifat-sifat kode

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN

BAB II LANDASAN TEORI. yang biasanya dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: =

Himpunan Ω-Stabil Sebagai Daerah Faktorisasi Tunggal

PEDOMAN PENGGUNAAN SIMULATOR PENYANDIAN DAN PENGAWASANDIAN SISTEM KOMUNIKASI BERBASIS PERANGKAT LUNAK VISUAL C#

Aljabar Linear Elementer

Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks

Sandi Blok. Risanuri Hidayat Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi FT UGM

PENYANDIAN SUMBER DAN PENYANDIAN KANAL. Risanuri Hidayat

Sifat Dan Karakteristik Kode Reed Solomon Beserta Aplikasinya Pada Steganography

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. 7. Menuliskan kode karakter dimulai dari level paling atas sampai level paling bawah.

MATEMATIKA INFORMATIKA 2 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS GUNADARMA FENI ANDRIANI

SISTEM PENGKODEAN. IR. SIHAR PARLINGGOMAN PANJAITAN, MT Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara

REALISASI ERROR-CORRECTING BCH CODE MENGGUNAKAN PERANGKAT ENKODER BERBASIS ATMEGA8535 DAN DEKODER MENGGUNAKAN PROGRAM DELPHI

KOREKSI KESALAHAN. Jumlah bit informasi = 2 k -k-1, dimana k adalah jumlah bit ceknya. a. KODE HAMMING

BAB II DETERMINAN DAN INVERS MATRIKS

IMPLEMENTASI SANDI HILL UNTUK PENYANDIAN CITRA

Analisis Fungsional. Oleh: Dr. Rizky Rosjanuardi, M.Si Jurusan Pendidikan Matematika UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. operasi matriks, determinan dan invers matriks), aljabar max-plus, matriks atas

Ruang Vektor Euclid R n

BEBERAPA SIFAT HASIL KALI KRONECKER RANTAI MARKOV BERDIMENSI HINGGA

Ruang Vektor Euclid R 2 dan R 3

MATRIKS. Notasi yang digunakan NOTASI MATRIKS

Deteksi dan Koreksi Error

BAB 5 RUANG VEKTOR A. PENDAHULUAN

MENGHITUNG DETERMINAN MATRIKS MENGGUNAKAN METODE SALIHU

Matriks - 1: Beberapa Definisi Dasar Latihan Aljabar Matriks

Studi dan Implementasi Algoritma kunci publik McEliece

Perancangan Dan Simulasi Punctured Convolutional Encoder Dan Viterbi Decoder Dengan Code Rate 2/3 Menggunakan Raspberry Pi

Generalized Inverse Pada Matriks Atas

SYARAT PERLU LAPANGAN PEMISAH. Bambang Irawanto Jurusan Matematika FMIPA UNDIP. Abstact. Keywords : extension fields, elemen algebra

Implementasi Encoder dan decoder Hamming pada TMS320C6416T

Pembagi Bersama Terbesar Matriks Polinomial

MATRIKS BUJUR SANGKAR AJAIB ORDE GENAP KELIPATAN EMPAT MENGGUNAKAN METODE DURER

DETEKSI DAN KOREKSI MULTI BIT ERROR DENGAN PARTITION HAMMING CODE

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pertemuan 2 & 3 DEKOMPOSISI SPEKTRAL DAN DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR

1.1. Definisi, Notasi, dan Operasi Vektor 1.2. Susunan Koordinat Ruang R n 1.3. Vektor di dalam R n 1.4. Persamaan garis lurus dan bidang rata

DESAIN ENCODER-DECODER BERBASIS ANGKA SEMBILAN UNTUK TRANSMISI INFORMASI DIGITAL

SIFAT DAN KARAKTERISTIK KODE REED SOLOMON BESERTA APLIKASINYA PADA STEGANOGRAPHY

Fast Correlation Attack pada LILI-128

Aljabar Linear Elementer MA SKS. 07/03/ :21 MA-1223 Aljabar Linear 1

MATRIKS DAN OPERASINYA. Nurdinintya Athari (NDT)

Error Correcting Code Menggunakan Kode Low Density Parity Check (LDPC) Kristy Purba ( ) ABSTRAK

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ALJABAR LINIER JURUSAN : TEKNIK KOMPUTER JUMLAH SKS : Definisi, Notasi, dan Operasi Vektor 2.

Aplikasi Aljabar Lanjar untuk Penyelesaian Persoalan Kriptografi dengan Hill Cipher

II. LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan

MEMBANGUN PERLUASAN KODE GOLAY BINER (24,12,8) MELALUI KODE KUADRATIK RESIDU BINER

KONSTRUKSI KODE BCH SEBAGAI KODE SIKLIK Indrawati, Loeky Haryanto, Amir Kamal Amir.

BAB II PENGKODEAN. yang digunakan untuk melakukan hubungan komunikasi. Pada sistem komunikasi analog, sinyal

IDEAL PRIMA DAN IDEAL MAKSIMAL PADA GELANGGANG POLINOMIAL

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 1 dan 2

ALJABAR LINIER MAYDA WARUNI K, ST, MT ALJABAR LINIER (I)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : ALJABAR LINIER KODE / SKS : IT / 2 SKS

JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 4. No. 2, 65-70, Agustus 2001, ISSN : SYARAT PERLU LAPANGAN PEMISAH

7. NILAI-NILAI VEKTOR EIGEN. Nilai Eigen dan Vektor Eigen Diagonalisasi Diagonalisasi Ortogonal

PENERAPAN KONSEP MATRIKS DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Convolutional Coding

UNIVERSITAS PGRI SEMARANG

ENCODING DAN DECODING KODE HAMMING SEBAGAI KODE TAK SIKLIK DAN SEBAGAI KODE SIKLIK Lilik Hardianti, Loeky Haryanto, Nur Erawaty

Minggu II Lanjutan Matriks

Aljabar Linier. Kuliah 2 30/8/2014 2

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI: S1 SISTEM INFORMASI Semester : 1

Matriks Simplektik dan Hubungannya Pada Sistem Linier Hamiltonian. Simplectic Matrix and It Relations to Linear Hamiltonian System

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 27

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Kode Konvolusi pada Modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) Menggunakan WARP

KAJIAN KODE HAMMING DAN SIMULASINYA MENGGUNAKAN SAGE

DIAGONALISASI MATRIKS KOMPLEKS

Deteksi dan Koreksi Error

Transkripsi:

Vol 3, No 2, 22-27 7-22, Januari 207 22 Proses Decoding Kode Reed Muller Orde Pertama Menggunakan Transformasi Hadamard Andi Kresna Jaya Abstract The first order Reed Muller, that is written R(,r), is obtained by construction variation from dual of extended Hamming code. Error from message or image through satellite transmission use R(,r) code will be easier to detected with decoding process. One of the efficient process decoding is Hadamard transformation. A vector message, binary vector tuple-2 n, is transformed by Hadamard transformation and output transformation is R real vector tuple-2 n with entries and -. Then R is transformed with Hadamard Matrix can be Rˆ real vector. Key Word: Kode Reed Muller orde pertama (R(,r)), matriks Hadamard, proses decoding, simbol pengecek, transformasi Hadamard, vektor pesan.. Pendahuluan Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pertukaran informasi sebanyak-banyaknya dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam teknologi informatika, informasi/pesan dikirim berupa data melalui encoder, saluran transmisi dan decoder. Pesan yang terkirim melalui encode berupa barisan karakter biner (0 dan ) di saluran transmisi dapat saja mengalami gangguan yang menyebabkan kesalahan pada penerimaan pesan. Pada decoder pesan yang diterima diuraikan kembali menjadi pesan asli setelah dideteksi dan dikoreksi kesalahannya. Kode merupakan hasil proses encoding dari semua pesan-pesan yang siap dikirimkan, sedangkan vektor di dalam Kode disebut kata kode. Kata kode umumnya terdiri dari gabungan dua sub vektor yaitu pesan asli dan simbol cek tambahan. Misalnya dalam bentuk pesan awal : m m m m Lm 0 2 k dengan proses encoding, menjadi : c c c c Lc 0 2 k ck ck + Lcn dimana pesan asli pada kata kode c tersebut adalah c0cc2 L c k m0mm2 Lmk dan ckck + Lcn sebagai simbol cek tambahan. Tulisan ini membahas tentang konstruksi kode R(,r) dan proses decodingnya menggunakan transformasi Hadamard dan memperlihatkan algoritma sederhana dari proses decoding tersebut. Kode ini pertama kali diterapkan oleh pesawat Mariner IX untuk pengiriman gambar hitam putih pada tahun 972. Staf Pengajar pada Jurusan Matematika F.MIPA Universitas Hasanuddin Makassar 53

Andi Kresna Jaya 23 22 23 8 54 2. Kode linier C(n,k,d) dan kode dualnya C (n,n-k,d) Kode linier C(n,k,d) adalah sub ruang berdimensi k dari ruang biner berdimensi n (GF(2 n )). Sedangkan d merupakan minimum jarak Hamming atau minimum banyaknya posisi koordinat untuk dua buah vektor kode (kata kode). Untuk menghitung jarak Hamming sebuah kode yang mempunyai m kata kode, harus dilihat semua jarak dari pasangan kata kodenya. Misalkan Kode C adalah sub ruang berdimensi k dari ruang vektor GF(2 n ) di mana k<n. C { C, C2, C3, L, Cm Ci cc2c3 Lcn, c j GF( 2), i,2,3, L, m, j,2,3, L, n} min d( C, C ) C C i k { } d, i k i k Kode linier tersebut sesungguhnya merupakan range dari transformasi linier dari himpunan pesan asli yang diuraikan dalam bentuk biner sebagai ruang GF(2 k ) ke ruang biner GF(2 n ). Bentuk transformasi ini bisa disajikan sebagai matriks G berukuran k n, sehingga kata kode c di C(n,k,d) diperoleh sebagai hasil perkalian vektor pesan m dengan matriks G, untuk setiap vektor pesan m dalam GF(2 k ). Matriks G dikenal sebagi matriks perentang untuk kode linier C(n,k), yang barisbarisnya merupakan vektor-vektor basis dari C(n,k). Matriks perentang dalam bentuk baku dapat ditulis sebagai : G [ I A] k M di mana : I k adalah entri-entri pada matriks identitas orde k. A adalah matriks berukuran k ( n k) yang entri-entrinya 0 dan. Bentuk matriks perentang tidak tunggal karena dengan operasi baris elementer pada G menghasilkan suatu matriks yang juga merupakan perentang yang lain untuk kode C(n,k,d). Kata kode c diperoleh sebagai hasil perkalian vektor pesan m dengan matriks G, untuk setiap m GF( 2 k ), yaitu : k n E : GF(2 ) GF(2 ) m a c mg Misalkan vektor pesan m ( 0 ) di GF(2 3 ) maka dengan matriks G diperoleh 0000 00 mg ( 0 ) 000 (0) Selain kode C(n,k), dalam ruang GF(2 n ) terdapat juga sub ruang yang merupakan komplemen ortogonal dari kode C yaitu kode linier (n,n-k). Disebut komplemen ortogonal karena perkalian dot (kali dalam) antara vektor di C dan komplemennya adalah 0 (skalar nol). Kode linier yang merupakan komplemen dari C(n,k) dinyatakan sebagai kode dual C n C b GF 2 b c 0, c C. dan ditulis dalam bentuk himpunan { ( ) } Yang menarik di sini adalah matriks perentang dari C merupakan matriks pengecek untuk C, demikian pula sebaliknya. Secara khusus, jika G [ I A ] adalah k M

Andi Kresna Jaya 24 24 9 55 matriks perentang C, maka matriks perentang untuk kode dualnya berbentuk T H A M I. [ ] n k 3. Konstruksi kode R(,r) dari Kode Hamming (2 r, 2 r r,3) Pandang kode linier dengan matriks pengeceknya adalah H. Kode ini akan dikonstruksi menjadi kode baru baik dengan penambahan atau pengurangan simbol pengecek maupun simbol pesan. Kode linier C(n,k) disebut juga kode Hamming(n,k) jika n 2 m dan k n m dengan matriks pengecek H adalah matriks berukuran k n sedemikian sehingga kolom-kolomnya adalah semua vektor tak nol dalam ruang GF(2 m ). Kode Hamming merupakan kode linier C(n,k,d) dimana n2 r dan kn r dengan matriks pengeceknya adalah matriks berukuran r n sedemikian sehingga kolomkolomnya adalah semua vektor dalam GF(2 r ) yang tidak nol. Konstruksi kode baru dari kode Hamming (2 r, 2 r r,3) dapat dilihat pada diagram berikut: perluasan pemotongan Kode Perluasan Hamming (2 r, 2 r r,d+) pemendekan pemanjangan Kode Hamming (2 r, 2 r r,d) penghilangan pembesaran Sub Kode Hamming (2 r, 2 r 2 r,d ) Diagram. Variasi kode dari kode Hamming Misalkan H r adalah matriks pengecek kode Hamming. H r memuat 2 r vektor kolom terurut r yang tidak nol. Kode dualnya adalah kode linier (2 r -,r) dengan matriks perentangnya adalah matriks pengecek kode Hamming. Konstruksi kode dual Hamming mempunyai kata kode yang berbobot 2 r -, kecuali vektor nol. Konstruksi kode baru dari kode dual Hamming dengan penambahan simbol pesan akan diperoleh kode Reed Muller orde pertama. Dual dari variasi konstruksi kode Hamming pada diagram di atas merupakan konstruksi dari dual kode Hamming. Diagram konstruksinya dapat dilihat pada diagram berikut: pemendekan pemanjangan Kode R(,r) (2 r, r+,d ) perluasan pemotongan Kode dual Hamming (2 r, r,d) pembesaran penghilangan Kode puncture R(,r) (2 r, r+,d +) Diagram 2. Variasi kode dari kode dual Hamming

Andi Kresna Jaya 25 25 20 56 Kode Reed Muller orde pertama R(,r) adalah kode linier (2 r,r+,2 r- ) yang merupakan sub ruang vektor dengan matriks perentang adalah: ˆ H r Hr L 0 0 M 0 Hr :0 H r adalah matriks pengecek kode Hamming atau matriks perentang kode dual Hamming. Matriks perentang untuk kode reed muller orde pertama memuat vektor-vektor kolom yang tidak nol berdimensi r +. 4. Proses Decoding Kode Reed Muller Orde Pertama 4.. Proses Decoding Konvensional Proses decoding adalah proses menerjemahkan vektor kode yang diterima menjadi pesan dalam bentuk aslinya setelah dikoreksi dan dideteksi kesalahannya. Misalnya setiap vektor c yang dikirimkan oleh transmiter diterima sebagai vektor r oleh receiver. Strategi penguraian vektor pesan yang diterima secara umum bisa digambarkan sebagai berikut: Misalkan vektor pesan yang diterima adalah r dimana r sama dengan sebuah vektor hasil encoding c, maka vektor r tidak akan dikoreksi tapi langsung diterjemahkan sebagai m sebagai bentuk pesan awal sebelum diubah menjadi c pada encoding, walaupun sebenarnya vektor kode yng dikirimkan belum tentu c. Jika r tidak sama dengan salah satu dari vektor kode, maka vektor r akan dikoreksi menjadi satu dan hanya satu vektor kode c di C yang paling dekat dengan r. Selanjutnya c diuraikan kembali menjadi m. Jika lebih dari satu vektor kode berjarak sama dengan vektor r, kesalahan hanya dapat terdeteksi tanpa dilakukan koreksi. 4.2. Proses Decoding Dengan Transformasi Hadamard Untuk memahami proses decoding dengan menggunakan transformasi Hadamard ini diperlukan matriks Hadamard. Matriks Hadamard (dinotasikan H n ) adalah matriks bujur sangkar ordo-n dengan entri dan - dan berlaku H n. H T n n. I n. Matriks Hadamard ordo 2n dengan n2 r - dapat dikonstruksi dari hasil kali kronecker dari r buah matriks Hadamard H 2. Selanjutnya akan dibentuk vektor R terurut 2 r sebagai vektor dengan entri dan yang diperoleh dari r vektor biner terurut 2 r. Untuk setiap komponen vektor r yang diasosiasikan dengan suatu vektor biner terurut-r yang berbeda. Suatu vektor u terurut-r mendefinisikan skalar r(u) adalah komponen dari r yang berasosiasi dengan u sehingga komponen pada posisi yang sama di R adalah R(u) (-) r(u).

Andi Kresna Jaya 2 26 26 57 Pada posisi yang sama dari vektor R yang diasosiasikan dengan u vektor terurut-r, transformasi Hadamard dilakukan untuk mendapatkan vektor Rˆ yang komponennya diasosiasikan dengan vektor u dinyatakan dengan rumus: Rˆ( u) r v GF (2 ) ( ) u. v R( v) Komponen dari vektor Rˆ yang terbesarlah yang akan menentukan pada posisi mana dari vektor r yang akan dikoreksi. Berikut ini adalah ilustrasi proses decoding untuk R(,r5). Misalnya diberikan matriks perentang untuk R(,5) adalah: ~ H 5 00000 000000 000000 00000000 0000000000 00000 0000 000000 0000 000000 00000 000000 0000 0000 0 v v v v v 2 3 4 5 - Jika kata kode yang diterima adalah vektor dengan panjang 32, yang berbentuk r (000000000000), maka vektor hasil transformasinya adalah Rˆ (-8,8,8,24,-8,8,8,-8,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0). Karena komponen terbesar pada posisi keempat berasosiasi dengan kolom keempat dari matriks perentang, maka hasil decoding adalah c (00000000000000 00). Hasil akhir decoding adalah m (0000). - Jika kata kode yang diterima adalah vektor dengan panjang 32, yang berbentuk r (00000000000000), maka hasil transformasinya adalah Rˆ (4,4,-4,-8,8,0,2,-4,-4,-4,0,8,0,0,-4,-4,-4,4,0,0,0,-6,-4,2,4,2,0,8,0,0,4,8). Karena komponen terbesar lebih dari satu, yaitu pada posisi ke-7 dan ke-24, proses decoding hanya mendeteksi bahwa telah terjadi kesalahan ganda pada kata kode yang diterima. - Jika kata kode yang diterima adalah vektor dengan panjang 32 adalah r (0000000000000000), maka vektor hasil transformasinya adalah (0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,0,-32,0,0,0,0,0,0,0). Karena komponen terbesar pada posisi 25 berasosiasi dengan kolom ke-25 dari matriks perentang, maka hasil decoding adalah r (0000000000000000). Hasil akhir decoding adalah m (000). 5. Penutup Kode Reed Muller R(,r) diperoleh dari konstruksi kode dual Hamming dengan proses penambahan simbol pesan atau merupakan kode dual perluasan hamming yang merupakan bentuk kode linier C(2 r, r+, 2 r- ). Proses decoding kode R(,r) untuk sembarang kata pesan yang diterima akan ditransformasi linier dua kali. Pertama dengan mengubah vektor biner tersebut menjadi vektor riil, kemudian vektor riil itu ditransformasi lagi dengan menggunakan transformasi

27 Andi Kresna Jaya 2722 58 Hadamard. Vektor yang diperoleh dari transformasi Hadamard inilah yang memberi informasi letak kesalahan pada kata pesan semula. Jika vektor hasil transformasi hadamard itu mempunyai komponen lebih dari satu, maka vektor pesan hanya diketahui mengalami kesalahan pada posisi-posisi tersebut tapi tidak dapat dilakukan koreksi terhadap pesan yang diterima. Kemampuan mengoreksi kesalahan tersebut serupa dengan proses decoding menggunakan sifat koset dari grup kode ataupun dengan strategi maksimum decoding. Untuk itu disarankan penelitian lebih lanjut mengenai proses decoding untuk ketiga cara ini. Daftar Pustaka [] Hillman Abraham, Gerald A., 994, Abstract Algebra, A First Undergraduate Course. PWS Publishing Co. [2] J.B. Fraleigh., 994, A First Course in Abstract Algebra, Addison Wesley. [3] F.J. Mac Williams, N.J.A. Sloane, 993, The theory of Error Correcting Codes. Volume 6. North Holland mathematics Library.