BAB II MAKALAH PENELITIAN PERTAMA

dokumen-dokumen yang mirip
PENGGUNAAN PROGRAM INTEGER 0-1 UNTUK PENYUSUNAN JADUAL PEMBELAJARAN BAGI SISWA DAN GURU DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3 LINEAR PROGRAMMING

PENERAPAN MODEL LINEAR GOAL PROGRAMMING UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENJADWALAN KEGIATAN PERKULIAHAN MENGGUNAKAN GOAL PROGRAMMING: STUDI KASUS DI PROGRAM STUDI S1 MATEMATIKA FMIPA IPB PENDAHULUAN

OPTIMASI PENUGASAN GURU PADA KEGIATAN PEMBELAJARAN DI SMKN 2 SURABAYA DENGAN MENGGUNAKAN INTEGER PROGRAMMING

PEMANFAATAN SOLVER EXCEL UNTUK OPTIMASI PENJADWALAN MATA PELAJARAN

Bab 2 LANDASAN TEORI

II LANDASAN TEORI. suatu fungsi dalam variabel-variabel. adalah suatu fungsi linear jika dan hanya jika untuk himpunan konstanta,.

PEMODELAN PENJADWALAN MATA PELAJARAN DENGAN INTEGER PROGRAMMING

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf Definisi 1 (Graf, Graf Berarah dan Graf Takberarah) 2.2 Linear Programming

BAB 2 LANDASAN TEORI

Yustinus Hari Suyanto Dosen Pembimbing Dr. Subiono M.S

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

Struktur Kurikulum 2013 MI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN , hal 9. 1 Subagyo D., Asri M., Handoko H.T., Dasar-dasar Operation Research, BPFE, Yogyakarta,

APLIKASI PROGRAM INTEGER PADA PERUMAHAN BUMI SERGAI DI SEI RAMPAH

Teknik Riset Operasional Semester Genap Tahun Akademik 2015/2016 Teknik Informatiaka UIGM

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM PENYELESAIAN MASALAH PADA INTEGER PROGRAMMING

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

Aplikasi Integer Linear Programming (Ilp) untuk Meminimumkan Biaya Produksi pada Siaputo Aluminium

Program Linear Fuzzy dengan Koefisien dan Konstanta Kendala Bilangan Fuzzy

Bab 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Modul 8. PENELITIAN OPERASIONAL INTEGER PROGRAMMING. Oleh : Eliyani PROGRAM KELAS KARYAWAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

sejumlah variabel keputusan; fungsi yang akan dimaksimumkan atau diminimumkan disebut sebagai fungsi objektif, Ax = b, dengan = dapat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

MAKSIMALISASI PROFIT DALAM PERENCANAAN PRODUKSI

APLIKASI PEWARNAAN GRAF PADA PENJADWALAN PERKULIAHAN DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNWIDHA KLATEN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

PENENTUAN ALOKASI BEBAN KERJA DOSEN MENGGUNAKAN PEMODELAN LEXICOGRAPHIC LINEAR GOAL PROGRAMMING

BAB 2 LANDASAN TEORI

Aplikasi Fuzzy Goal Programming (Studi Kasus: UD. Sinar Sakti Manado) Application Of Fuzzy Goal Programming (Case Study: UD. Sinar Sakti Manado)

PENYELESAIAN MASALAH PEMROGRAMAN LINIER BILANGAN BULAT MURNI DENGAN METODE REDUKSI VARIABEL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Bab 2 LANDASAN TEORI

Oleh: Dwi Agustina Sapriyanti (1) Khusnul Novianingsih (2) Husty Serviana Husain (2) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

III MODEL PENJADWALAN

KOMBINASI PERSYARATAN KARUSH KUHN TUCKER DAN METODE BRANCH AND BOUND PADA PEMROGRAMAN KUADRATIK KONVEKS BILANGAN BULAT MURNI

IV STUDI KASUS. spesialisasi pengobatan tertentu dan penggunaan ruang operasi seluruh spesialisasi pengobatan selama satu minggu.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Optimasi Pengalokasian Produksi Barang Jadi dengan Menggunakan Solver Add-Ins. Ratna Puspita Indah STMIK Duta Bangsa Surakarta ABSTRAK

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... LEMBAR PERNYATAAN... HALAMAN PERSEMBAHAN... HALAMAN MOTTO... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL...

OPTIMALISASI JADWAL KUNJUNGAN EKSEKUTIF PEMASARAN DENGAN GOAL PROGRAMMING

PENERAPAN BRANCH AND BOUND ALGORITHM DALAM OPTIMALISASI PRODUKSI ROTI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Integer Programming (Pemrograman Bulat)

BAB I PENDAHULUAN. Adanya nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran. merupakan salah satu muatan penting Kurikulum Tingkat Satuan

LAMPIRAN. Fasilitas Akademik Sekolah

BAB 3 METODE PENELITIAN

a. untuk (n+1) genap: terjadi ekstrem, dan jika (ii) f (x ) > 0, maka f(x) mencapai minimum di titik x.

PENJADWALAN MATA KULIAH DENGAN MEMECAH PERTEMUAN BERDASAR PEMROGRAMAN LINEAR INTEGER

BAB III PEMBAHASAN. linear yang dinyatakan dengan fungsi tujuan dan fungsi kendala yang memiliki

OPTIMIZATION THE NUMBER OF GENTRY FILLING OIL (BBM) USING A LINEAR PROGRAMMING APPROACH TO FULFILL THE DEMAND (Case Study : PT.

APLIKASI INTEGER PROGRAMMING UNTUK PEMERATAAN PENGGUNAAN TENAGA KERJA PROYEK

PROGRAM FRAKSIONAL LINIER DENGAN KOEFISIEN INTERVAL. Annisa Ratna Sari 1, Sunarsih 2, Suryoto 3. Jl. Prof. H. Soedarto, S.H. Tembalang Semarang

OPTIMASI PEMOTONGAN BALOK KAYU DENGAN POLA PEMOTONGAN SATU DIMENSI MENGGUNAKAN TEKNIK PEMBANGKIT KOLOM (COLUMN GENERATION TECHNIQUE) SKRIPSI

STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM SMA PATRA MANDIRI 1 PLAJU

OPTIMALISALI KASUS PEMROGRAMAN LINEAR DENGAN METODE GRAFIK DAN SIMPLEKS

Laporan Studi Jadwal Kelas PROGRAM STUDI HARI JAM MULAI JAM SELESAI KELAS KODE MK NAMA MK RUANG JML PESERTA Matematika SENIN 07:30:00 09:15:00 A

PEMROGRAMAN KOMPUTER KODE MODUL: TIN 202 MODUL III LINEAR PROGRAMMING DAN VISUALISASI

BAB 2 LANDASAN TEORI

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI: S1 SISTEM INFORMASI Semester : 4

SILABUS MATA KULIAH Program Studi : Teknik Industri Kode Mata Kuliah : TKI -202 Nama Mata Kuliah : Model Deterministik Jumlah SKS : 2 Semester : III

MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN SEKURITI DENGAN MODEL GOAL PROGRAMMING ABSTRACT ABSTRAK

Berikut merupakan alur penyelesaian masalah nyata secara matematik. pemodelan. penyelesaian

JADWAL PRKULIAHAN SEMESTER GENAP STKIP SINGKAWANG TAHUN AKADEMIK 2015/2016 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

BAB II MAKALAH Makalah 1 :

III. KERANGKA PEMIKIRAN

OPTIMALISASI PRODUKSI MENGGUNAKAN MODEL LINEAR PROGRAMMING (Studi Kasus : Usaha Kecil Menengah Kue Semprong)

Penerapan Pemrograman Dinamis dalam Perencanaan Produksi

kita menggunakan variabel semu untuk memulai pemecahan, dan meninggalkannya setelah misi terpenuhi

JADWAL PELAJARAN KELAS X-MIPA T.P. 2017/2018

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 PROGRAM LINEAR

BAB 2. PROGRAM LINEAR

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM MENENTUKAN JUMLAH PRODUKSI OPTIMUM PADA CV. XYZ. Angeline, Iryanto, Gim Tarigan

INFORMASI UJIAN NASIONAL DAN UJIAN SEKOLAH SMA TAHUN 2016 SMA NEGERI 23 PROVINSI DKI JAKARTA

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT / 2 SKS]

Riset Operasi Bobot: 3 SKS

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAGIAN III OPTIMASI DENGAN SOLVER

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Reduksi Pola Pemotongan Kertas pada Cutting Stock Problem (CSP) Satu Dimensi

PENGOPTIMALAN PERSEDIAAN DENGAN METODE SIMPLEKS PADA PT. XYZ

RISET OPERASIONAL MINGGU KE-2. Disusun oleh: Nur Azifah., SE., M.Si. Linier Programming: Formulasi Masalah dan Model

IMPLIKASI UU DAN PP THD PENGEMBANGAN KURIKULUM PUSAT KURIKULUM - BALITBANG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL. Puskur Balitbang 1

Transkripsi:

BAB II MAKALAH PENELITIAN PERTAMA Makalah ini telah diseminarkan pada: Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains VII Pemberdayaan Manusia dan Alam yang Berkelanjutan Melalui Sains, Matematika dan Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, 22 September 2012

PENGGUNAAN PROGRAM INTEGER 0-1 UNTUK PENYUSUNAN JADUAL PEMBELAJARAN BAGI SISWA DAN GURU DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Elizabeth Fidela Felicia 1), Lilik Linawati 2), Tundjung Mahatma ) 1,2,) Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 50711 1) ef.felizia@gmail.com, 2) lina.uksw@yahoo.com, ) t.mahatma@gmail.com ABSTRAK Penyusunan jadual mata pelajaran di lembaga pendidikan merupakan pekerjaan rutin yang dilakukan pada setiap pergantian semester. Dalam penyusunan jadual perlu diperhatikan segala aspek dan komponen jadual. Permasalahan penyusunan jadual menggunakan Program Integer 0-1 telah banyak dikaji, misalkan penyusunan jadual karyawan atau penjadualan tempat olahraga. Pada penelitian ini akan diterapkan Program Integer untuk penyusunan jadual mata pelajaran dan jadual mengajar guru pada Sekolah Menengah Atas yang mempunyai banyak kelas paralel dan guru. Kendala dan aturan yang harus dipatuhi meliputi hal-hal seperti waktu penyajian mata pelajaran, jumlah jam mata pelajaran sesuai kurikulum, penggunaan ruang tertentu, guru memenuhi jam wajib mengajarnya atau penetapan banyaknya jam mengajar maksimal perhari. Sekolah Menegah Atas yang diteliti mempunyai 9 kelas paralel setiap tingkatannya (kelas X,XI,XII), 22 mata pelajaran dan 9 guru. Dalam membuat model dan penyelesaian dari data yang ada melibatkan sangat banyak variabel keputusan yang dirumuskan sebagai yaitu guru mata pelajaran i atau mata pelajaran yang diajarkan yang mengajar di kelas j pada waktu k, bernilai 1 jika guru i terjadual pada kelas j dan waktu k, dan bernilai 0 jika guru i tidak terjadual di kelas j pada waktu k. Demikian pula terdapatnya banyak kendala menimbulkan matriks tabulasi yang sangat besar, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam pemrosesan data. Oleh sebab itu proses perhitungan akan dilakukan secara bertahap dengan membuat model berdasarkan tingkatan dan jurusan pada sekolah. Model Program Integer yang tersusun diselesaikan menggunakan program Matlab 7.1, dan kemudian hasilnya disusun menjadi jadual mata pelajaran untuk siswa dan jadual mengajar untuk guru. Keywords: Program Integer, Penjadualan, Jadual Pelajaran PENDAHULUAN Dalam suatu lembaga pendidikan penyusunan jadual pembelajaran merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap pergantian semester. Penyusunan jadual pembelajaran di Sekolah Menengah Atas harus memperhatikan berbagai aspek seperti kurikulum, guru, ruang dan aturan lain yang harus dipatuhi yang kesemuanya ini akan menjadi batasan atau kendala dalam penyusunan jadual. Pada setiap kelas jumlah jam penyajian setiap mata pelajaran pada setiap minggu harus sesuai dengan kurikulum. Kemudian dilihat dari sisi guru, terdapat dua jenis guru yaitu guru honorer (guru tidak tetap) dan guru tetap. Guru honorer akan lebih diprioritaskan karena memiliki waktu mengajar yang terbatas tidak seperti guru tetap yang bisa ditempatkan kapan saja. Setiap guru juga memiliki jam mengajar wajib yang harus dipenuhi. Penetapan jumlah jam mengajar maksimal guru juga perlu diperhatikan agar jam P1

mengajar seorang guru bisa teralokasi merata sehingga tidak terjadi penumpukan jam mengajar pada satu hari sedangkan pada hari lain tidak. Selain dari sisi guru, perlu diperhatikan juga penyusunan jadual yang baik dari sisi siswa, seperti alokasi mata pelajaran eksakta dan non-eksakta terjadual secara merata setiap harinya. Keterbatasan ruang seperti laboratorium bahasa serta lapangan olah raga 2

juga perlu diatur dalam penggunaannya agar tidak terjadi tumpang tindih panggunaan ruang. Banyaknya guru dan kelas paralel tiap tingkatan dan jurusan juga menambah kompleksitas dalam pembuatan jadual. Permasalahan penjadualan telah banyak dikaji seperti penjadualan pengiriman produk dari produsen kepada konsumen menggunakan Program Integer dengan tujuan agar barang bisa terdistribusi secara teratur dan tidak terjadi penumpukan barang yang terlalu lama di gudang [5]. Penjadualan dengan Program Integer juga digunakan untuk menyusun jadual mata kuliah di suatu universitas [2] dan pengatasan permasalahan penjadualan ujian [1]. Dalam penelitian ini Program Integer 0-1 akan diterapkan untuk penyusunan jadual mata pelajaran bagi siswa dan jadual mengajar bagi guru pada sekolah yang mempunyai banyak kelas paralel dengan memperhatikan berbagai aspek yang telah disebut diatas. PROGRAM INTEGER Program Integer atau program bilangan bulat pada dasarnya adalah Program Linear yang mana variabel keputusannya berupa bilangan bulat tanpa meninggalkan optimalitas penyelesaian []. Terdapat tiga jenis model Program Integer berdasarkan penyelesaian variabel keputusannya [6][7] yaitu: a) Model Total Integer, dalam model ini semua variabel keputusannya bernilai integer. b) Model Integer 0-1, model ini juga dikenal dengan sebutan Program Integer Biner, karena semua variabel keputusannya bernilai 0 atau 1, atau dapat diartikan sebagai tidak atau ya. c) Model Integer Campuran, pada model ini tidak semua variabel keputusan harus bernilai integer, tapi dapat bernilai real. Secara umum model Program Integer [] dirumuskan sebagai berikut: Menentukan: untuk meminimumkan/memaksimumkan: yang memenuhi kendala: (, =, ) ; i = 1,2,...,m bernilai integer untuk semua atau beberapa dengan: = variabel keputusan j konstanta variabel keputusan j = konstanta kendala i variabel keputusan j kapasitas kendala i `Dalam menyelesaikan sebuah model Program Integer digunakan metode yang sama dengan penyelesaian model Program Linear yaitu dengan menggunakan metode simpleks. Tetapi dalam penggunaan metode simpleks nilai dari variabel keputusan yang dihasilkan bisa saja bernilai noninteger. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk membuat penyelesaian yang noninteger menjadi penyelesaian integer. Salah satu metode yang bisa digunakan yaitu Branch and Bound. Branch and Bound merupakan suatu teknik untuk mencari penyelesaian optimum yang tidak terbatas hanya pada permasalahan Program Integer saja tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai macam permasalahan yang berbeda[7]. Seperti pada Integer Goal Programming prinsip dasar dari metode Branch and Bound yaitu memecah daerah fisibel pada suatu masalah Program Linier Relaksasi menjadi subproblem yang lebih kecil. Yang dimaksud dengan Program Linier Relaksasi adalah model program linear yang diperoleh dengan menghilangkan kendala integernya dan diasumsikan variabel keputusannya bernilai real. Subproblem ini selanjutnya dievaluasi secara matematis sampai diperoleh penyelesaian yang optimum yaitu jika semua penyelesaian sudah integer. Penerapan metode Branch and Bound pada masalah Program Integer digunakan bersamasama dengan metode simpleks. Selain metode Branch and Bound terdapat pula metode lain yang dapat digunakan seperti Cutting Plane dan Enumerasi [6]. MODEL PROGRAM INTEGER 0-1 UNTUK PENJADUALAN Penyusunan jadual merupakan bagian penting dari kegiatan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu penting untuk bisa mendapatkan susunan jadual yang baik yang P2

mengatasi berbagai kendala yang ada agar proses belajar mengajar bisa berjalan lancar. Penyusunan jadual bisa menjadi sangat rumit ketika terdapat banyak guru serta kelas di seluruh tingkatan. Untuk menyusunan jadual dalam bentuk model Program Integer ditentukan terlebih dulu variabel keputusannya. Dalam mendefinisikan variabel keputusan perlu diperhatikan beberapa parameter penentu jadual tersebut. Parameter yang pertama adalah guru atau mata pelajaran. Pada parameter ini dapat diasumsikan bahwa guru melekat pada mata pelajaran atau sebaliknya. Jika ditetapkan bahwa guru melekat pada mata pelajaran maka parameternya adalah banyaknya anggota himpunan mata pelajaran. Parameter kedua adalah ruang atau kelas. Pada umumnya di sekolah-sekolah ruang kelas yang digunakan oleh para siswa kelas tertentu adalah tetap, sehingga parameter yang digunakan adalah banyaknya anggota himpunan kelas-kelas yang ada. Sedangkan parameter ketiga adalah waktu penyajian mata pelajaran setiap harinya dalam seminggu. Misalkan setiap hari terdapat delapan jam pelajaran pada hari sampai dengan dan lima jam pelajaran pada hari, sehingga terdapat himpunan jam pelajaran yang anggotanya sebanyak 5. Berdasarkan parameter-parameter yang sudah ditetapkan maka didefinisikan variabel keputusan yang bernilai nol atau satu sebagai berikut: 1) Penyajian jumlah jam setiap mata pelajaran dalam satu minggu harus sesuai dengan kurikulum. 2) Mata pelajaran tertentu atau dianggap berat boleh disajikan maksimal 5 jam pelajaran setiap hari. ) Setiap jam pelajaran di setiap kelas hanya boleh terjadual untuk satu mata pelajaran saja. ) Jumlah jam mengajar guru setiap hari merata dalam seminggu 5) Setiap mata pelajaran hanya boleh disajikan maksimal dua jam pelajaran dalam sehari. 6) Setiap mata pelajaran atau guru tidak boleh terjadual pada hari dan jam yang sama di kelas yang berbeda 7) Setiap guru harus memenuhi jam wajib mengajarnya setiap minggu. dengan: I = himpunan mata pelajaran J = himpunan kelas K = himpunan jam pelajaran Karena dalam penelitian ini akan disusun jadual belajar mengajar yang memenuhi berbagai aturan dan kendala yang ada dan bertujuan untuk meminimumkan total waktu penyajian, maka dirumuskan fungsi sebagai berikut: Meminimumkan: dengan fungsi kendalanya sebagai berikut: 8) Kendala non negatif. untuk semua i,j,k dengan: I J K e = himpunan mata pelajaran atau guru mata pelajaran = himpunan kelas = himpunan jam pelajaran = jam penyajian mata pelajaran i pada kelas j per minggu sesuai kurikulum = himpunan jam pelajaran pada hari e =,,,,, P

= rata-rata jam mengajar guru mata pelajaran i dalam sehari = banyaknya jam wajib bagi guru i PENERAPAN MODEL PROGRAM INTEGER 0-1 UNTUK PENJADUALAN Pada penerapan model Program Integer 0-1 untuk penjadualan belajar mengajar akan digunakan data sekunder dari sebuah Sekolah Menengah Atas di Semarang. Sekolah ini mengelola tiga tingkatan kelas yaitu kelas X, kelas XI dan kelas XII. Pada kelas X terdapat sembilan kelas paralel serta pada kelas XI dan XII terdapat masing-masing tiga jurusan yaitu jurusan IPA yang terdiri dari empat kelas paralel yang disebut sebagai kelas IPA 1, kelas IPA 2, kelas IPA dan kelas IPA, juga terdapat jurusan IPS terdiri dari empat kelas paralel yaitu IPS 1, kelas IPS 2, kelas IPS dan kelas IPS dan jurusan Bahasa hanya terdapat satu kelas, sehingga keseluruhan terdapat 27 kelas. Untuk mengajar seluruh kelas yang dikelola, sekolah memiliki total 9 guru sebagai tenaga pengajar dengan status 5 orang guru tidak tetap atau bisa disebut guru honorer dan orang guru tetap. Guru honorer memiliki batasan waktu mengajar yang berbeda dan tidak dapat diubah. Seperti contoh guru Bahasa Mandarin yang mengajar di kelas XII IPA dan XII IPS hanya memiliki waktu mengajar di hari saja. Banyaknya mata pelajaran yang disajikan di setiap kelas yaitu 19 mata pelajaran di kelas X, 15 mata pelajaran di kelas XI dan 1 mata pelajaran di kelas XII dengan pengalokasian mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yaitu menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Waktu untuk kegiatan belajar mengajar dimulai dari hari sampai dengan hari yang setiap harinya dimulai pukul 06.50 dan berakhir pukul 1.25 dan hari yang dimulai pada pukul 06.50 dan berakhir pukul 11.00. Satu jam pelajaran pelajaran adalah 0 menit pada jam pelajaran ganjil dan 5 menit pada jam pelajaran genap. Dalam satu hari terdapat delapan jam pelajaran pada hari hingga dan lima jam pelajaran pada hari dan terdapat x15 menit untuk istirahat. Jadi total jam pelajaran selama satu minggu adalah 5 jam pelajaran. Ke 27 kelas yang telah disebut diatas masing-masing menempati ruang kelas secara tetap, selain itu terdapat pula ruang lain yang juga digunakan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Ruangan tersebut antara lain Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer dan lapangan Olah Raga. Untuk Laboratorium Bahasa dan Laboratorium Komputer hanya terdapat satu ruangan saja sedangkan lapangan Olah Raga terdapat dua lapangan yang bisa digunakan secara paralel oleh dua kelas bersamaan. Untuk menentukan variabel keputusan dengan parameternya guru/mata pelajaran, kelas dan jam pelajaran berdasarkan data diatas yaitu guru/mata pelajaran sebanyak 9 orang, kelas sebanyak 27 dan 5 jam pelajaran maka dapat dihitung banyaknya variabel keputusan yaitu 59.55 buah. Melihat banyaknya variabel keputusan yang harus dikelola maka dapat dibayangkan kompleksitas dalam penyusunan dan penyelesaian model penjadualan ini. Oleh karena itu untuk mengurangi kompleksitas tersebut perlu penyederhanaan permasalahan agar mempermudah dan mengurangi jumlah variabel keputusan. Penyederhanaan yang dilakukan dalam rangka penyusunan model Program Integer 0-1 dalam penjadualan ini adalah: 1. Parameter guru dianggap melekat mata pelajaran sehingga dalam hal ini yang diperhatikan sebagai indeks pada variabel keputusan adalah banyaknya mata pelajaran. Jika ada seorang guru mengajar dua mata pelajaran berarti yang diperhitungkan adalah mata pelajarannya. 2. Melakukan pengelompokan kelas berdasarkan tingkatan dan jurusan karena setiap jurusan mempunyai mata pelajaran yang sama, sehingga terdapat sembilan kelompok kelas yang mana setiap kelompok kelas akan disusun model dan penyelesaiannya secara terpisah. Adapun sembilan kelompok kelas tersebut adalah: 1. Kelas XII IPA (terdapat kelas) 2. Kelas XII IPS (terdapat kelas). Kelas XII Bahasa (terdapat 1 kelas). Kelas XI IPA (terdapat kelas) 5. Kelas XI IPS (terdapat kelas) 6. Kelas XI Bahasa (terdapat 1 kelas) 7. Kelas X paralel 1- P

8. Kelas X paralel -6 9. Kelas X paralel 7-9 Urutan kelompok kelas tersebut sekaligus sebagai urutan penyelesaian penjadualan.. Dengan pengelompokan kelas, maka parameter mata pelajaran juga akan berkurang sesuai dengan mata pelajaran yang terlibat dalam kelompok kelas tersebut. Sebagai contoh dalam kelompok kelas IPS tidak akan ada mata pelajaran Biologi, hal ini berarti sudah mengurangi variabel keputusan yang berhubungan dengan parameter mata pelajaran.. Sebagian besar mata pelajaran disajikan dua jam pelajaran dalam satu kali pertemuan. Oleh karena itu dalam model ini didefinisikan bahwa dua jam pelajaran sebagai satu penyajian pelajaran sehinga dalam sehari terdapat kali penyajian atau dalam seminggu terdapat 22 jam penyajian mata pelajaran. Untuk mata pelajaran dengan alokasi satu jam pelajaran akan dikelola secara berpasangan atau dialokasikan pada satu jam terakhir pada hari (secara manual). Bagi setiap kelompok kelas akan disusun model Program Integer 0-1 dan diselesaikan masing-masing secara terpisah. Dalam penyusunan setiap model pada kelompok kelas berikutnya perlu memperhatikan penyelesaian pada kelompok sebelumnya, karena ada kemungkinan bahwa seorang guru pada waktu-waktu tertentu telah terjadual di kelas sebelumnya sehingga pada waktu-waktu tersebut tidak boleh dijadualkan lagi pada kelompok kelas yang lain. Berdasarkan penyederhanaan diatas maka dapat didefinisikan variabel keputusan dalam model penjadualan ini sebagai berikut: model untuk kelompok kelas XI IPA. Dengan cara yang sama disusun model untuk kelompok kelas yang lain. Fungsi tujuan yang akan diminimumkan adalah I = {2,,11,12,1,19,20,21,22,27,28,,2,,7,8,50,51,71,7,79} J = {10,11,12,1} K = {1,2,...22} kendala: 1) Penyajian jumlah jam setiap mata pelajaran dalam satu minggu harus sesuai dengan kurikulum. 2) Mata pelajaran tertentu atau dianggap berat boleh disajikan maksimal 2 jam pelajaran setiap hari. ) Setiap jam pelajaran di setiap kelas hanya boleh terjadual untuk satu mata pelajaran saja. ) Jumlah jam mengajar guru setiap hari merata dalam seminggu. 5) Setiap mata pelajaran hanya boleh disajikan maksimal satu jam pelajaran dalam sehari. dengan: I J K = himpunan mata pelajaran = himpunan kelas = himpunan jam pelajaran Daftar indeks I,J,K pada masing-masing kelompok kelas yang dicantumkan pada Lampiran 1. Berikut ini disajikan salah satu perumusan model Program Integer 0-1 yaitu 6) Setiap mata pelajaran atau guru tidak boleh terjadual pada hari dan jam yang sama di kelas yang berbeda dengan: = jam penyajian mata pelajaran pada kelas XI IPA per minggu sesuai kurikulum, P5

= rata-rata jam mengajar guru mata pelajaran i dalam sehari, = {1,2,,}, = {5,6,7,8}, = {9,10,11,12}, = {1,1,15,16}, = {17,18,19,20}, = {21,22}. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Model Program Integer 0-1 yang telah dirumuskan diselesaikan menggunakan MATLAB 7.1[] dan Microsoft Excel 2007 untuk mengelola data input dan output-nya, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Menyiapkan matriks input menggunakan Ms. Excel sesuai dengan model yang telah dirumuskan pada bagian penerapan model Program Integer 0-1. Matriks input yang diperlukan adalah vektor koefisien fungsi objektif, matriks koefisien kendala dan vektor konstanta sisi kanan (RHS). 2. Menyelesaikan model menggunakan MATLAB dengan perintah[] sebagai berikut: xlsread('filename', sheet, 'range') Fungsi untuk membaca matriks input dari Excel (.xls) bintprog(f, A, b, Aeq, beq) Fungsi untuk menyelesaikan permasalahan Program Integer 0-1 xlswrite('filename', M, sheet, 'range') Fungsi untuk menuliskan matriks output ke Excel (.xls) dengan: f = vektor koefisien fungsi objektif, A = matriks koefisien untuk kendala Pertidaksamaan, b = vektor konstanta sisi kanan (RHS), Aeq = matriks koefisien untuk kendala Persamaan, beq = vektor konstanta sisi kanan (RHS) M = vektor hasil penyelesaian Program Integer 0-1, filename = nama file (.xls) tempat menyimpan data input, sheet = lembar kerja tempat, menulis data input, range = area/wilayah pada sheet yang ditentukan sebagai data input atau output. Untuk menyelesaikan model Program Integer 0-1 perintah-perintah diatas diimplementasikan pada Matlab dalam bentuk fungsi m-file berikut: function [hasil,fval,exitflag,output]= funghsl(nmfile, sheet, fobj,ma, mb, maeq, mbeq, sheet2, range); f= []; A= []; b= []; Aeq= []; beq= []; hasil= []; f = xlsread(nmfile, sheet, fobj); A = xlsread(nmfile, sheet, ma); b = xlsread(nmfile, sheet, mb); Aeq = xlsread(nmfile, sheet, maeq); beq = xlsread(nmfile, sheet, mbeq); [hasil,fval,exitflag,output]= bintprog(f,a,b,aeq,beq) hasil=hasil'; s= xlswrite(nmfile, hasil, sheet2,range); Kemudian fungsi tersebut disimpan dengan nama funghsl.m dan untuk menjalankan file pada command window dilakukan dengan perintah: >> funghsl(nmfile, sheet, f, A, b, Aeq, beq, sheet2, range). Langkah terakhir adalah membaca hasil penyelesaian model pada Excel dan menyusunnya kedalam bentuk jadual pelajaran bagi siswa dan jadual mengajar bagi guru. Hasil konversi penyelesaian model Program Integer 0-1 menjadi bentuk jadual belajar siswa dan jadual mengajar guru seperti tersaji pada Tabel 2 dan Tabel yang dicantumkan pada Lampiran 2 dan. Dari daftar tabel jadual pelajaran siswa dan jadual mengajar guru bisa dilihat bahwa setiap aturan dan batasan tiap-tiap kendala dapat dipenuhi. Setiap mata pelajaran terjadual pada masing-masing kelas dan tidak terdapat tumpang tindih mata pelajaran di suatu jam pelajaran serta dua atau lebih mata pelajaran yang diampu oleh seorang guru tidak terjadual pada hari dan jam pelajaran yang sama di kelas yang berbeda. Penyelesaian masalah jadual pelajaran yang dikerjakan secara bertahap menurut P6

tingkatan kelas dan jurusan memiliki kelemahan yaitu ada kesulitan untuk menyelesaikan jadual pada kelompok kelas terakhir yaitu kelas X paralel 7-9. Ada kemungkinan bahwa jam mengajar yang diharapkan tidak sesuai sengan jam pelajaran yang tersedia di kelas-kelas yang bersangkutan, sehingga pengalokasian jadual mengajar tidak bisa merata pada beberapa guru. Seperti yang terjadi pada seorang guru yang mengampu mata pelajaran Sosiologi (i = 7) dan Komputer (i = 75). Pada jadual mengajarnya di hari guru yang bersangkutan tidak mengajar, sedangkan pada hari lain mengajar empat hingga enam jam pelajaran sehari. KESIMPULAN Dalam penelitian ini penyelesaian masalah penjadualan belajar mengajar pada suatu Sekolah Menegah Atas dapat diformulasikan dan diselesaikan menggunakan Program Integer 0-1. Dalam penyelesaian masalah penjadualan ini terdapat kesulitan dalam mengelola variabel keputusan yang sangat banyak sehingga penyelesaian dilakukan secara bertahap berdasarkan kelompok kelas. Karena terdapat guru-guru yang saling berkaitan pada setiap tahap maka terdapat kendala yang tidak dapat terpenuhi yaitu pengalokasian jadual mengajar guru tidak merata pada beberapa guru di kelompok kelas terakhir. Sedangkan untuk kelompok kelas lainnya jadual mengajar guru dan jadual belajar dapat teralokasi sesuai harapan. DAFTAR PUSTAKA [1] Mushi,A.R. 200. Mathematical Programming Formulations For The Examinations Timetable Problem: The Case of The University Of Dar Es Salaam, African Journal of Science and Technology (AJST) Science and Engineering Series Vol. 5, No. 2, pp - 0. [2] Khairunnisa. 2008. Pemodelan Konstruksi Jadwal Perkuliahan dan Implementasinya. (http://math.ipb.ac.id, diakses 25 Agustus 2012) [] Santosa, Budi. 2008. Matlab untuk Statistika dan Teknik Optimasi. Yogyakarta: Graha Ilmu. [] Siswanto. 2007. Operation Research Jilid 1. Jakarta: Erlangga. [5] Sriyanto, Estie Susanti. 2006. Optimasi Penjadwalan Pengiriman Produk Jadi menggunakan Pendekatan Binary Integer Programming (Studi Kasus di PT. Tiga Pilar Sejahtera Surakarta). Vol 2, no I, (http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgti/ article/view/2206, diakses 25 Agustus 2012). [6] Taha, Hamdy A. 2007. Operation Research: An Introduction Eight Edition. Pearson Prentice Hall. [7] Taylor III, Bernard W. 2006. Intoduction of Management Science Ninth Edition. Prentice Hall. P7

A. Lampiran 1 Tabel 1. Daftar Indeks I,J,K pada Kelompok Kelas Kel. Kelas 1 2 5 6 7 8 9 I {1,,9,10,1,18,2,27,2,6,7,8,9, 0,,5,52,5,62,7,76,78, } {1,,9,10,11,12,1,18,2,27,,5,55, 56,57,58,6,6,66, 67,7} {1,,9,10,11,12,1,16,17,18,2,27,6, 7,62,68,69,70,7,77} {2,,11,12,1,19,20,21,22,27,28,,2,,7,8,50,51,71,7,79} {2,,7,8,1,15,21,22,26,28,29,55,59, 60,61,6,6,66,67,72} {2,,5,6,7,8,1,16,19,20,27,0,1,68, 69,71,72,77} {2,,5,6,1,2,25,26,0,1,1,6,9, 5,65,71,72,7,77} {2,,5,6,1,2,25,26,0,1,2,,1, 6,9,5,65,71,72,7,77,80} {1,,5,6,7,8,19,20,26,2,,1,6,9, 5,65,71,72,7,75,77,79} J {19,20,21,22] {2,2,25,26} {27} {10,11,12,1} {1,15,161,17} {18} {1,2,} {,5,6} {7,8,9} K (untuk semua Kelompok Kelas) B. Lampiran 2 Tabel 2. Jadual Pelajaran Siswa SENIN Waktu 1 06.50-07.0 B.Indonesia Biologi B.Inggris Kimia 2 07.0-08.25 08.0-09.20 Matematika Fisika Biologi Marsudirini 09.20-10.05 Fisika Matematika Marsudirini Biologi 5 10.20-11.00 Agama B.Inggris Komputer B.Inggris 6 11.00-11.5 7 12.00-12.5 B.Inggris B.Indonesia Matematika Fisika 8 12.5-1.25 SENIN Waktu 1 06.50-07.0 Matematika KWN Kimia Biologi 2 07.0-08.25 08.0-09.20 Kimia Marsudirini Matematika Fisika 09.20-10.05 Marsudirini Kimia Fisika Matematika 5 10.20-11.00 Biologi Fisika Agama B.Indonesia 6 11.00-11.5 7 12.00-12.5 B.Inggris/ B.Inggris/ Agama B.Indonesia 8 12.5-1.25 19-20 22 RABU Waktu 1 06.50-07.0 Komputer Fisika Biologi Kimia 2 07.0-08.25 08.0-09.20 Lab.B.Inggris Matematika/ Biologi B. Indonesia 09.20-10.05 Matematika/28 5 10.20-11.00 Lab.B.Inggris Matematika Sejarah Agama 6 11.00-11.5 Matematika Lab.B.Inggris 7 12.00-12.5 Kimia Komputer Fisika Sejarah 8 12.5-1.25 P8

KAMIS Waktu 1 06.50-07.0 Matematika Kimia Sejarah Biologi 2 07.0-08.25 08.0-09.20 Mandarin B.Jawa Biologi OR 09.20-10.05 B.Jawa Mandarin 5 10.20-11.00 Pend. Seni B.Indonesia OR Matematika 6 11.00-11.5 7 12.00-12.5 Mandarin B.Jawa Fisika Pend.Seni 8 12.5-1.25 B.Jawa Mandarin JUMAT Waktu 1 06.50-07.0 Biologi OR Matematika Fisika 2 07.0-08.25 08.0-09.20 Lab.B.Inggris OR Kimia B.Inggris 09.20-10.05 Matematika 5 10.20-11.00 Fisika Sejarah Kimia KWN 6 11.00-11.5 7 12.00-12.5 B.Indonesia Matematika KWN Komputer 8 12.5-1.25 SABTU Waktu 1 06.50-07.0 Kimia Matematika Pend.Seni B.Indonesia 2 07.0-08.25 08.0-09.20 Biologi Kimia KWN Fisika 09.20-10.05 B.Inggris Pend.Seni 5 10.20-11.00 Biologi Kimia P9

C. Lampiran Tabel. Jadual Mengajar Guru Kode Guru Mata Pelajaran 2 Kewarganegaraan Agama 11-12 Bahasa Indonesia 1 Sejarah 19-20 B.Inggris 22 B.Inggris 2 Lab. B. Inggris 27 OR 28 Matematika Matematika 2- Fisika 7-8 Kimia 50-51 Biologi 71 Komputer 7 Pendidikan Seni 77 B. Mandarin 79 Sejarah 80 B.jawa Kemarsudirinian Hari 5-5 Kelas Hari - - -5-6 - 6 - - - - - 5-5 7 8 7 8 Kelas P10