BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Kondisi Sekolah Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 09 dengan subyek penelitian siswa kelas V sebanyak 27 siswa. Lokasi SD Negeri Kutowinangun 09 Salatiga terletak di wilayah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga, provinsi Jawa Tengah. Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 09 Salatiga terletak di Jalan Canden Nomor 03 Dusun Karangduwet Desa Kutowinangun Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Jarak tempuh ke Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 09 Salatiga adalah ±2 km dari pusat kota, jarak ±5 km dari kantor Kecamatan Tingkir. Suasana sekolah masih asri dengan banyaknya tanaman pohon yang tumbuh di sekelilingnya. Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 09 Salatiga merupakan sekolah dasar yang berdiri bersebelahan dengan Sekolah Dasar Kutowinangun 08 Salatiga, sehingga sekolah ini merupakan sekolah kampus, dimana letak bangunan berhadapan dan bersebelahan dengan sekolah lain. Di sebelah utara terdapat perumahan warga, sebelah timur terdapat kebun warga sekitar, dan di sebelah selatan terdapat perumahan warga. Letak yang strategis membuat Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 09 Salatiga mudah dijangkau. Selain dekat dengan pemukiman penduduk, suasana yang tidak terlalu ramai kendaraan tentunya membuat siswa nyaman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Ruangan sekolah yang memiliki beberapa ruangan, yaitu enam ruang kelas yang terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 dan satu kantor guru. Ruang kelas sudah cukup baik dengan penerangan dan ventilasi yang cukup. Di setiap ruang kelas terkesan menarik karena terdapat hasil karya siswa yang memang di pajang di setiap jendela dan tertata rapi. Terdapat satu ruangan koperasi untuk memenuhi kebutuhan siswa dan satu ruang kelas untuk kegiatan belajar Pendidikan Agama Kristen. Di sekolah ini menyediakan tiga WC yang terdiri dua WC siswa dan satu WC guru. Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 09 Salatiga memiliki halaman 35
36 yang cukup luas dimana halaman tersebut dapat digunakan bersama dengan Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun 08 Salatiga, halaman tersebut digunakan untuk upacara dan berolahraga. Fasilitas belajar yang ada di sekolah ini cukup lengkap, adapun tiga komputer yang digunakan untuk memfasilitasi guru dalam mengetik data-data administrasi yang diperlukan, selain itu alat peraga seperti kit IPA, globe, rangka hewan dan manusia sudah ada. Sekolah ini memiliki satu layar LCD yang terletak di kelas 6 dan dua proyektor. Penunjang sarana belajar siswa dalam belajar seperti buku-buku sudah baik untuk membantu siswa dalam belajar. Bab IV ini akan dibahas tentang hasil penelitian meliputi deskripsi kondisi awal, deskripsi hasil siklus 1, deskripsi hasil perbaikan pada siklus 2, pembahasan hasil penelitian, dan hasil tindakan. 4.2 Deskripsi Kondisi Awal Berdasarkan observasi hasil belajar kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 Salatiga sebelum dilaksanakan penelitian pada semester II Tahun pelajaran 2015/2016, peneliti melakukan observasi dan wawancara kecil dengan guru dan hasilnya masih terdapat siswa yang kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA. Hal tersebut berdampak pada perolehan nilai ulangan harian siswa. Setiap tes formatif banyak siswa yang perolehan nilainya di bawah KKM yang ditetapkan sebesar 70 sehingga banyak siswa yang mengikuti program remedial. Hasil ulangan harian sebelum diadakan tindakan penelitian dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.
37 Tabel 4.2.1 Nilai Pra Siklus No Nilai Frekuensi Persentase 1 40-49 6 22% 2 50-59 7 26% 3 60-69 5 19% 4 70-79 6 22% 5 80-89 3 11% 6 90-100 0 0% Jumlah 27 100% Tabel 4.2.1 menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai 40 sampai 54 sebanyak 22% atau 6 siswa, yang mendapat nilai 55 sampai 64 sebanyak 26% atau sebanyak 7 siswa, yang mendapat nilai 65 sampai 74 sebanyak 5 siswa atau sebesar 19%. 75 sampai 84 sebanyak 22% atau 6 siswa, yang mendapat nilai 85 sampai 94 sebanyak 11% atau 3 siswa, dan yang mendapat nilai 95 sampai 100 sebanyak 0% atau sebanyak 0 siswa. Berdasarkan data hasil tes menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Data ketuntasan belajar kondisi awal dapat dilihat pada tabel 4.2.2 berikut. Tabel 4.2.2 Ketuntasan Belajar Siswa Hasil Tes Pra Siklus No Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa Jumlah Persentase 1 Tuntas 9 33% 2 Belum Tuntas 18 67% Jumlah 27 100% Tabel 4.2.2 ketuntasan belajar siswa hasil tes pra siklus dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari KKM 70 sebanyak 18 siswa. Dengan demikian ada 18 anak atau sebesar 67% yang belum mencapai ketuntasan belajar minimal (KKM). Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal ada 9 anak atau sebesar 33%. Perbandingan antara yang sudah tuntas dan yang belum tuntas dapat dilihat pada diagram lingkaran seperti gambar 4.2.3 berikut.
38 Gambar Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus 67% 33% Tuntas Tidak Tuntas Gambar 4.2.3 Gambar Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus Apabila hasil nilai pra siklus dianalisa berdasarkan nilai tertinggi, nilai terendah, dan nilai rata-rata akan tampak seperti pada tabel 4.2.4 berikut. Tabel 4.2.4 Perolehan Nilai Tes Pra Siklus No Uraian Nilai 1 Nilai Tertinggi 91 2 Nilai Terendah 41 3 Nilai Rata-Rata 67 Berdasarkan pada hasil observasi awal, hasil ulangan harian yang ditunjukkan pada tabel 4.2.4 disebabkan karena cara guru dalam mengajar IPA masih menggunakan model konvensional, dimana metode ceramah masih mendominasi proses kegiatan pembelajaran. Kurangnya pemanfaatan sumber pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran, sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik yang berakibat siswa bosan, tidak aktif, kurang memperhatikan pelajaran, dan malas mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran berlangsung sehingga siswa mengerjakan soal dengan sesuka hati. Dari data hasil belajar siswa yang masih rendah pada pelajaran IPA pada kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 Salatiga, peneliti bekerja sama dengan guru
39 kelas V untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Mengingat lokasi sekitar sekolah sangat menunjang kegiatan ini. Penelitian dilaksanakan 2 siklus dengan 3 kali pertemuan di setiap siklusnya. Sebelum melakukan tindakan pemanfaatan lingkungan, dilakukannya uji validitas, uji reliabilitas dan tingkat kesukaran soal terlebih dahulu agar setiap soal yang diberikan sesuai dengan perkembangan psikologis anak. Tabel 4.2.5 Hasil Validitas Instrumen Tes Aktivitas Item Soal Valid Tidak Valid Siklus I 1, 2, 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, dan 30. 1, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 19, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30 2, 3, 14, 16, 17, 20, 23, 29 Siklus II 1, 2, 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27,28, 29, dan 30. 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 12, 13, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30 3, 9, 10, 14, 15, 23 Berdasarkan tabel 4.2.5 dapat terlihat soal atau instrumen valid dan tidak valid (Arikunto, 2007: 207) untuk soal di siklus I dan siklus II yang sudah di uji validitasnya melalui SPSS 23. Pada siklus I dari soal 30 terdapat 22 soal yang valid dan 8 soal yang tidak valid. Sedangkan pada siklus II dari 30 soal terdapat 24 soal yang valid dan 6 soal yang tidak valid. Setelah diuji kevaliditasan soal selanjutnya di uji tingkat reliabilitas. Reliabilitas untuk soal siklus I dan II bisa ditunjukkan pada tabel 4.2.6 berikut. Tabel 4.2.6 Hasil Uji Reliabilitas Reliabilitas Cronbach s Alpha N of items Siklus I 810 30 Siklus II 876 30
40 Berdasarkan tabel 4.2.6 penghitungan dapat dibaca bahwa Cronbach s Alpha pada soal siklus I sebesar 810 dari 30 item yang diuji. Sedangkan untuk Cronbach Alpha soal siklus II sebesar 876 dari 30 item yang diuji. Setelah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas soal. Selanjutnya dilakukan uji taraf kesukaran soal dengan hasil pada tabel 4.2.7 di bawah ini: Tabel 4.2.7 Analisis Soal Taraf Kesukaran Analisis Soal Soal Mudah Jumlah Soal Sedang Jumlah Siklus I 1, 4, 5, 8, 9, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20 12 soal 2, 3, 6, 7, 10, 11, 12, 17 8 soal Siklus II 1, 2, 4, 5, 6, 7, 10, 12, 16, 17, 18, 19, 20 13 soal 3, 8, 9, 11, 13, 14, 15 7 soal Analisis taraf kesukaran untuk soal yang digunakan pada tes akhir siklus yaitu untuk soal tes akhir siklus I soal mudah berjumlah 12, soal sedang 8. Sedangkan untuk soal tes yang dilakukan pada akhir siklus II dengan soal mudah berjumlah 13, soal sedang berjumlah 7. 4.3 Deskripsi Hasil Siklus I 4.3.1 Perencanaan Tindakan Siklus I terdiri dari 3 pertemuan, setiap pertemuan berlangsung 70 menit. Dengan rincian sebagai berikut: a. Pertemuan I Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahap observasi yang sudah dilakukan di SD Negeri Kutowinangun 09 berkerjasama dengan guru kelas V dengan melakukan diskusi mengenai materi pembelajaran yang akan disajikan serta bentuk pembelajaran yang akan dilakukan. Pembelajaran yang akan dilakukan adalah pemanfaatan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang digunakan pada kegiatan pembelajaran khususnya pada kelas V semester II pada mata pelajaran IPA. Sebelum melakukan kegiatan mengajar
41 pada pertemuan I, guru menyiapkan segala sesuatu yang dapat menunjang proses pembelajaran siswa. Guru merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pokok bahasan daur air dan peristiwa alam dengan tujuan pembelajaran: melalui pengamatan air kran, air limbah, air sumur, dan air hujan siswa dapat menunjukkan bagaimana pentingnya air bagi kehidupan dengan benar. Adapun rancangan pembelajaran dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar sebagai berikut: 1) Siswa dibagi menjadi 5 kelompok besar. 2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakan sesuai petunjuk. 3) Semua anggota kelompok berdiskusi untuk mengerjakan lembar kerja dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. 4) Setiap kelompok melaporkan hasil pengamatannya di depan kelas dan kelompok lain menanggapi Pada akhir pembelajaran guru melakukan evaluasi dengan menggunakan tes uraian. Siswa mengerjakan kemudian dikumpulkan kepada guru. b. Pertemuan II Perencanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan II sebagai tindak lanjut dari hasil belajar siswa dan adanya kekurangan atau kelemahan pada pertemuan I. Perencanaan siklus I pertemuan II mendiskusikan bagaimana perbedaan air bersih dan air tercemar di lingkungan sekolah dan siswa mengungkapkan alasannya secara ilmiah (Nana Sudjana, 2010: 45) Sebelum guru mengajar pada pertemuanke II, guru mempersiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran siawa kelas V pada mata pelajaran IPA. Selanjutnya guru merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pokok bahasan daur air dan peristiwa alam dengan tujuan pembelajaran: melalui observasi berbagai jenis air di sekolah siswa mampu menunjukkan pengaruh air tersebut terhadap makhluk hidup, makhluk hidup yang dipakai adalah bibit tanaman dan ikan mas. Kemudian guru merencanakan menyajikan pengalaman belajar yang bersifat memotivasi siswa yaitu pemanfaatan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
42 1) Siswa dibagi menjadi 5 kelompok. 2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakan sesuai petunjuk. 3) Semua anggota kelompok berdiskusi untuk mengerjakan lembar kerja dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. 4) Setiap kelompok melaporkan hasil pengamatanya di depan kelas dan kelompok lain menanggapi. Pada akhir pembelajaran guru melakukan evaluasi dengan menggunakan lembar kerja kelompok kemudian dikumpulkan kepada guru. c. Pertemuan III Perencanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan III sebagai penyempurnaan dan tindak lanjut dari pertemuan I dan II dari kekurangan yang terjadi pada pertemuan I dan II akan diperbaiki pada pertemuan III ini. Pada pertemuan III ini membahas pentingnya air bagi kehidupan dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya. Sebelum mengajar praktikan menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya RPP pertemuan ke III, lembar kerja siswa, lembar observasi kinerja guru, dan aktivitas siswa, yang digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan, buku pembelajaran, serta ruang atau lokasi yang akan digunakan sama dengan pertemuan I dan II yaitu di ruang kelas V. Kemudian guru merencanakan menyajikan pengalaman belajar yang bersifat memotivasi siswa untuk selalu semangat, senang dan tertarik pada pemanfaatan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. 1) Siswa dibagi menjadi 5 kelompok besar 2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakan sesuai petunjuk. 3) Semua anggota kelompok berdiskusi untuk mengerjakan lembar kerja dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. 4) Setiap kelompok melaporkan hasil pengamatanya di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.
43 Pada akhir pembelajaran guru melakukan evaluasi dengan menggunakan tes formatif berbentuk pilihan ganda. Siswa mengerjakan kemudia dikumpulkan kepada guru. 4.3.2 Pelaksanaan Tindakan Siklus I a. Pertemuan I Tindakan dilaksanakan sesuai dengan rencana yaitu: guru membuka pelajaran dengan mengucap salam, absensi oleh guru, guru mengontrol kondisi siswa apakah siap menerima pelajaran dengan cara merapikan meja dan kursi agar rapi sehingga tercipta suasana yang nyaman dan tentunya menanyakan keadaan siswa. Tahap ini guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang kegunaan air di rumah dan sekolah. Pertanyaan ini bertujuan agar siswa dapat berpikir kritis dan menemukan sendiri apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh guru. Guru menjelaskan secara garis besar apa yang akan dipelajari dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Hal ini agar siswa mendapat pola pikir dan pandangan sebelum kerja kelompok. Setelah guru bertanya jawab dengan siswa guru tak lupa untuk menyampaikan KKM yang harus dicapai yaitu nilai 70 dengan tujuan agar siswa termotivasi untuk meraih nilai yang lebih. Kemudian pada tugas kelompok ini melakukan pengamatan pada lingkungan sekitar sekolah. Siswa melakukan kegiatan berdasarkan prosedur dari guru. Dengan bimbingan guru siswa mengamati kegiatan tersebut dari awal sampai akhir. Melalui pengamatan yang dilakukan, siswa melakukan observasi terhadap air kran atau ledeng di sekolah. Meliputi air kran yang terletak di setiap kelas dan air sumur yang berada di samping sekolah. Siswa juga mengamati bagaimana karakteristik jenis air tersebut dan sumber airnya. Lalu siswa mencatat hal-hal penting pada lembar kerja kelompok yang diberikan oleh guru. Setelah semua kegiatan dan materi terlaksana siswa dan guru masuk ke kelas dan membahas hasil pengamatan tersebut per kelompok. Setiap kelompok mewakilkan dua anak untuk maju ke depan membacakan
44 hasil pengamatannya. Setelah itu guru dan siswa menyimpulkan apa yang dipelajari dari awal hingga akhir kegiatan. Dalam kegiatan belajar mengajar ini diamati oleh pengamat atau guru kolaborasi dalam penelitian. Beliau mengamati dan mencatat hasil pengamatannya ke dalam lembar pengamatan yang disediakan sebelumnya. b. Pertemuan II Pelaksanaan tindakan siklus I pada pertemuan II sebagai tindak lanjut dan perbaikan proses pembelajaran dan pemahaman siswa, maka pada pelaksanaan pertemuan II ini guru menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, lembar kerja kelompok, lembar observasi, alat dan bahan percobaan. Pada awal pembelajaran guru mengajak siswa untuk berdoa, salam dan sapa, absensi siswa oleh guru dan dilanjutkan dengan apersepsi yang dilakukan oleh guru dengan memberikan pertanyaan yang memancing keingintahuan siswa. Guru mengajak siswa untuk berpikir ke arah sumber air darimana saja. Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang materi guru meminta beberapa siswa untuk maju ke depan kelas dan mendeskripsikan keadaan air di rumahnya dan untuk apa saja air tersebut beserta kegiatan manusia yang mempengaruhi. Hal ini bertujuan agar siswa berani mengemukakan pendapatnya sesuai pemikiran masing-masing di depan kelas (Nana Sudjana, 2010: 45) agar siswa terlatih berbicara dan berpendapat di depan teman dan guru. Setelah itu guru membagi kelompok besar berjumlah 5 kelompok, setelah itu guru membagikan lembar kerja dimana setiap kelompok akan mendapatkan satu lembar kerja. Dengan bimbingan guru siswa diajak ke lingkungan sekitar yang digunakan sebagai sumber belajar untuk mengetahui pentingnya air dan kegiatan manusia yang mempengaruhinya. Siswa dilatih untuk bekerja sama dan berkomunikasi yang baik dengan antar anggota kelompok terutama adalah berdiskusi. Siswa saling membagi tugas dan melaksanakan prosedur kerja dalam lembar kerja. Dengan bimbingan
45 guru, setiap kelompok mengambil air dari air kran atau ledeng yang ditaruh di dalam gelas bening. Lalu salah satu siswa mencuci tangannya dengan menggunakan sabun dan bekas cucian tersebut di tuangkan ke dalam gelas bening lainnya sebagai air limbah cuci tangan. Setiap kelompok telah mendapatkan dua ekor ikan dan dua bibit tanaman sebagai subyek percobaan. Ikan dan bibit tanaman digunakan sebagai makhluk hidup. Dan ikan tersebut dimasukkan ke dalam masing-masing gelas bening. Setiap kelompok wajib mengamati apa yang terjadi pada ikan tersebut. Lalu menuliskannya ke dalam lembar kerja. Bibit tanaman yang mereka miliki disiram dengan jenis air, yaitu air ledeng dan air limbah cuci tangan dan menaruh bibit tersebut di pinggiran pot sekolah. Setelah itu siswa masuk ke dalam kelas, dan membacakan hasil laporannya di depan kelas dan kelompok lain saling menanggapi. Kelompok dengan hasil perolehan nilai tertinggi akan diberi penghargaan berupa reward (hadiah) oleh guru dengan kriteria: kerjasama, komunikasi, hasil diskusi dan kerapian. Setelah itu lembar kerja dikumpulkan untuk dianalisa oleh guru. c. Pertemuan III Pelaksanaan tindakan siklus I pada pertemuan III sebagai tindak lanjut, penyempurnaan dan perbaikan proses pembelajaran dan pemahaman siswa yang berupa hasil belajar pada pertemuan I dan II, maka pada pelaksanaan pertemuan III ini guru menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar evaluasi, lembar observasi siswa dan guru. Pada awal pembelajaran guru mengajak siswa untuk berdoa, salam dan sapa kemudian absensi siswa oleh guru dan dilanjutkan dengan pemberian pertanyaan yang mengarah kepada materi pelajaran. Guru meminta setiap siswa untuk bergabung ke dalam kelompok seperti yang sudah dibentuk. Lalu lembar kerja kelompok dibagikan dan siswa diminta untuk mengamati kembali apa yang terjadi pada bibit tanaman setelah 24 jam disiram dengan dua jenis air yang berbeda. Siswa menuliskan hal-hal yang penting ke dalam lembar kerja kelompok. Kemudian guru bersama siswa membahas hasil diskusi, setiap
46 kelompok menyampaikan hasil laporannya, kelompok lain boleh menanggapi dan guru menyimpulkan hasil dari pengamatan tersebut dan siswa merangkumnya ke dalam buku catatan masing-masing. Kemudia guru memberikan tes formatif dari serangkaian kegiatan selama 3 pertemuan, dan siswa mengerjakan soal evaluasi sesuai kemampuan masing-masing. 4.3.3 Hasil Tindakan a. Penilaian Praktik Pembelajaran Untuk mengukur keberhasilan penerapan pembelajaran menggunakan media lingkungan sebagai sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, menggunakan Lembar Penilaian Praktik Pembelajaran. Aspek yang diukur meliputi tiga aspek yaitu kemampuan menyajikan pembelajaran yang dapat diterima peserta didik, melibatkan peserta didik dalam pembelajaran, mengembangkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah berdasarkan pengamatan dan pemanfaatan media lingkungan sekitar. Hasil pengamatan praktik pembelajaran disajikan pada tabel 4.3.3.1 sebagai berikut: Tabel 4.3.3.1 Data Hasil Observasi Kinerja Guru Siklus I No Aspek Hasil Penilaian Observasi Guru Ya Tidak 1 Kegiatan Awal 3-2 Kegiatan Inti 14-3 Penutup 3 - Jumlah 20 0 Persentasi 100% 0% Keterangan: 1. Pernyataan Ya diartikan sebagai guru telah melaksanakan sintaks 2. Pernyataan Tidak diartikan sebagai guru tidak melaksanakan sintaks Dari tabel 4.3.3.1 data hasil observasi kinerja guru dapat dilihat pada hasil penilaian observasi menunjukkan perolehan skor dari
47 pertemuan I, II, dan III telah terlaksana yaitu berjumlah 20 sintaks atau 100% terlaksana dengan baik. Sintaks yang telah dilaksanakan oleh guru antara lain: guru memberikan apersepsi/motivasi awal sebelum pembelajaran, kesesuaian apersepsi dengan pokok bahasan yang akan dibahas, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menunjukkan penguasaan materi pembelajaran, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok belajar, guru menyajikan informasi kepada siswa dengan belajar kelompok, guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai, guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai, media yang digunakan lebih variatif dan inovatif serta dapat menarik perhatian siswa, guru melibatkan siswa dalam penggunaan media, sumber belajar yang dipilih mudah ditemukan dan siswa mampu melakukannya,media yang dipilih guru dapat meningkatkan semangat belajar dan pemahaman siswa terhadap materi, guru melibatkan siswa secara langsung dan tidak langsung dalam pemanfaatan sumber belajar, adanya interaksi yang positif antara guru dengan siswa, guru membimbing kelompok-kelompok belajar dalam berdiskusi, gru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari dan setiap kelompok mempresentasikannya, guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar, guru mengajak siswa untuk merefleksi dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, guru menyimpulkan hasil pembelajaran dengan melibatkan siswa, dan guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya. Dari hasil pengamatan tersebut maka pemanfaatan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar oleh kolaborator yaitu guru mata pelajaran IPA kelas V sudah cukup baik. Dan selanjutnya sebagai perbaikan siklus I akan dilanjutkan pada siklus II. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai yang diperolehnya dalam aspek kognitif, siswa yang mendapat nilai tinggi belum tentu mengikuti pelajaran dengan keadaan tenang dan tidak menggangu teman yang lain. Tetapi juga dapat dilihat dari keadaan dan aktifitas siswa saat berada di
48 kelas, mulai dari tingkah laku sekecil apapun semua tergambar dalam lembar observasi siswa dalam tabel 4.3.3.2 sebagai berikut: Tabel 4.3.3.2 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I No Aspek Hasil Penilaian Observasi Guru Ya Tidak 1 Kegiatan Awal 4-2 Kegiatan Inti 12 2 3 Penutup 1 1 Jumlah 17 3 Persentasi 85% 15% Keterangan: 1. Pernyataan Ya diartikan sebagai siswa telah melaksanakan sintaks 2. Pernyataan Tidak diartikan sebagai siswa tidak melaksanakan sintaks Dari tabel 4.3.3.2 data hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada hasil penilaian observasi menunjukkan perolehan skor dari pertemuan I, II, dan III telah terlaksana yaitu berjumlah 17 sintaks atau 85% terlaksana dengan baik dan 3 sintaks yang belum dilaksanakan. Sintaks yang telah dilaksanakan oleh siswa antara lain: siswa menempati tempat duduknya masing-masing, siswa siap dengan alat tulisnya untuk menerima pelajaran, siswa mampu menjawab pertanyaan apersepsi dengan baik, siswa mendengarkan secara seksama saat dijelaskan kompetensi yang akan dicapai, adanya interaksi positif antara siswa dengan guru, adanya interaksi yang positif antara siswa dengan siswa, siswa terlibat aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa berani mengungkapkan pendapatnya ketika guru memberikan kesempatan, siswa aktif memperhatikan dan mencatat penjelasan materi yang diberikan guru, siswa termotivasi dan antusias selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, siswa merasa senang selama mengikuti proses pembelajaran, siswa merasa tertarik mempelajari materi pembelajaran yang disampaikan dengan menggunakan media pembelajaran, siswa merasa tertarik mempelajari materi dengan sumber belajar yang telah ditentukan guru. Siswa terlibat aktif dalam pemanfaatan media dan sumber belajar selama
49 proses belajar mengajar. Siswa merasa terbimbing saat mengalami kesulitan, siswa mampu menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan oleh guru, dan siswa membuat rangkuman materi. Adapun deskripsi tentang hasil belajar IPA pada siklus I sebagai berikut: a) Hasil Belajar IPA Hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 didapat dengan mengadakan tes evaluasi diakhir siklus yaitu pada pertemuan ketiga. Dari hasil tes tersebut diketahui terjadi peningkatan hasil belajar IPA, namun masih terdapat siswa yang tidak tuntas atau mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 pada materi pokok daur air dan peristiwa alam dan berikut disajikan pada tabel 4.3.3.3 yaitu tentang distribusi frekuensi nilai IPA, siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 tahun pelajaran 2015/2016. Hasil belajar IPA dapat dilihat pada tabel 4.3.3.3 sebagi berikut: Tabel 4.3.3.3 Distribusi Frekuensi Nilai IPA Siswa Kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 Tahun Pelajaran 2015/2016 Siklus I No Nilai Frekuensi Persentase Keterangan 1 40-49 1 4% Tidak tuntas 2 50-59 - - Tidak tuntas 3 60-69 5 20% Tidak tuntas 4 70-79 3 12% Tuntas 5 80-89 8 32% Tuntas 6 90-100 8 32% Tuntas Jumlah 25 100% Nilai rata-rata 79,2 Nilai tertinggi 95 Nilai terendah 45 Dilihat dari tabel 4.3.3.3 distribusi frekuensi nilai mata pelajaran IPA dapat dikatakan bahwa hasil belajar IPA siswa kelas V mengalami
50 peningkatan dari hasil belajar pra siklus, ditandai dengan nilai rata-rata yang meningkat dari 67 menjadi 79,2 sedangkan persentase ketuntasan juga meningkat menjadi 76% yang didapat oleh 19 siswa. Siswa yang mendapat nilai dibawah KKM atau dikatakatan tidak tuntas mengalami penurunan yaitu menjadi 24% yang didapat oleh 6 siswa, untuk nilai tertinggi menjadi 95 sedangkan untuk nilai terendah masih di angka 45 yang semula hanya 41. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mengalami ketuntasan di atas KKM lebih banyak daripada jumlah siswa yang tidak tuntas, namun indikator kinerja hasil belajar IPA yang peneliti tentukan belum tercapai sehingga perlu diadakan perbaikan pembelajaran siklus selanjutnya yaitu siklus 2 dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus 1 (Ali, 2007: 67). Berdasarkan tabel 4.3.3.4 dapat dinyatakan dalam gambar yaitu sebagai berikut: 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Tuntas Tidak Tuntas Gambar 4.3.3.4 Diagram Nilai IPA Siswa Kelas V SDN Kutowinangun 09 Tahun Pelajaran 2015/2016 Siklus 1 4.3.4 Refleksi Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran pada siklus I dari pertemuan I, II dan III maka selanjutnya diadakan refleksi atas segala
51 kegiatan dalam proses pembelajaran. Hasil refleksi diambil dari hasil observasi dan tes evaluasi yang dilaksanakan pada siklus I. Refleksi ini digunakan sebagai bahan perbaikan dengan membandingkan hasil tindakan dalam proses pembelajaran sudah sesuai dengan indikator kinerja. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh berdasarkan observasi pada siklus I maka penjelasan sebagai berikut: a) Penilaian Praktik Pembelajaran Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lembar hasil observasi, dapat dilihat bahwa masih terdapat beberapa kekurangan. Kekurangankekurangan ini disebabkan guru dan siswa belum terbiasa menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Guru masih kesulitan dalam penggunaan lingkungan sekitar sekolah. Sedangkan siswa masih kurang memperhatikan pembelajaran yang dilakukan serta kurang terbiasa dalam bekerja secara kelompok dalam pengamatan untuk penanaman konsep pembelajaran IPA. Secara keseluruhan pemanfaatan lingkungan sekitar khususnya lingkungan alam sebagai media dalam pembelajaran IPA yang diterapkan oleh guru kelas V sudah cukup baik. Selanjutnya, sebagai perbaikan siklus I akan dilanjutkan pada siklus II. b) Hasil Belajar IPA Dari tabel distribusi frekuensi nilai mata pelajaran IPA dapat dikatakan bahwa pada siklus 1 hasil belajar IPA siswa kelas V mengalami peningkatan dari hasil belajar pra siklus, ditandai dengan nilai rata-rata yang meningkat menjadi 79,2. Siswa yang mendapat nilai dibawah KKM atau dikatakatan tidak tuntas mengalami penurunan yaitu menjadi 24% yang didapat oleh 6 siswa, pemberian soal-soal latihan dan penanaman konsep IPA yang benar terbukti dapat meningkatkan hasil belajar, agar peningkatan lebih optimal berdasarkan hasil pengamatan, siswa lebih cenderung mudah memahami penjelasan dari teman atau tutor sebaya.
52 Secara keseluruhan hasil refleksi yang diperoleh pada proses pembelajaran siklus I mengalami beberapa hambatan, yaitu sebagai berikut: 1) Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar belum terbiasa dilaksanakan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa masih mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan. 2) Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar oleh kolaborator belum sesuai dengan rencana pembelajaran yang peneliti susun, karena faktor alam yang dimanfaatkan tergantung dengan cuaca seperti pemanfaatan cahaya matahari dan air hujan. 3) Siswa yang belum memahami konsep dan takut bertanya pada guru, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. 4) Pemanfaatan media lingkungan seperti aspal jalan sangat rawan digunakan, karena ramainya kendaraan yang lalu lalang, guru kesulitan dalam mengontrol siswa secara menyeluruh yang bisa saja membahayakan keselamatan siswa. Dari hambatan-hambatan tersebut, maka peneliti mengadakan analisis dan konsultasi dengan guru IPA kelas V tentang kondisi siswa serta pembelajaran yang telah berlangsung hingga didapatkan penyelesaian hambatan-hambatan sebagai berikut: a) Dalam proses pembelajaran memerlukan pengarahan yang maksimal dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan siswa. b) Buatlah keaktifan siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran sehingga ketrampilan belajar siswa lebih maju dan berkembang. c) Penerapan tutor sebaya pada pada proses menyelesaikan masalah sehingga siswa lebih berani mengungkapkan pendapat dan menyelesaikan suatu permasalahan. d) Tinjaulah lokasi yang akan dimanfaatkan sebagai sumber belajar sebelumnya agar semua dapat terlaksana sesuai dengan rencana. e) Pilihlah media lingkungan alam yang aman sebagai sumber belajar.
53 4.4 Deskripsi Hasil Siklus II 4.4.1 Tahap Perencanaan a. Pertemuan I Pembelajaran Siklus II merupakan tindak lanjut dan perbaikan pada pembelajaran siklus 1. Pembelajaran siklus 2 dilaksanakan dengan memanfaatkan lingkungan alam sebagai sumber belajar disertai hasil refleksi pada siklus 1. Pembelajaran pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya. Sebelum mengajar pada pertemuan I, maka praktikan menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP), Daftar Absensi Siswa, Lembar Kerja Siswa, Lembar Observasi Siswa, Lembar Penilaian Praktik Pembelajaran, buku pembelajaran, serta ruang/lokasi yang akan digunakan saat pembelajaran berlangsung yaitu di kelas V. Pelajaran di buka dengan salam dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru memberikan apersepsi dengan mengingat kembali pentingnya air bagi kehidupan. Guru menjelaskan tentang sumber air dan daur air. Siswa mengerjakan lembar kerja dalam kelompok. Guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan dengan melibatkan teman sebangku. Menyampaikan hasil diskusi dengan bimbingan guru. Pada kegiatan ini, guru hanya memfasilitasi siswa untuk berpendapat dan mempertanggungjawabkan jawaban yang telah disampaikan. Setelah selesai pembahasan akan ditarik kesimpulan hasil pembelajaran mengenai proses terjadinya daur air, kemudian guru akan memberikan pemantapan dan tindak lanjut kepada siswa. b. Pertemuan II Perencanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan II sebagai tindak lanjut pada pertemuan I maka pada perencanaan pertemuan II masih sama dengan dengan pertemuan I tapi yang membedakan adalah materi yang akan dipelajari yaitu tahap pada siklus air atau daur air. Sebelum mengajar pada pertemuan II, maka peneliti menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP), Daftar
54 Presensi Siswa, Lembar Kerja Siswa, Lembar Observasi Siswa,Lembar Penilaian Praktik Pembelajaran, buku pembelajaran, serta ruang/lokasi yang akan digunakan saat pembelajaran berlangsung yaitu di kelas V. Peneliti merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pertemuan I dengan materi daur air dan kegiatan manusia yan dapat mempengaruhinya berupa pengamatan pada proses terjadinya daur air. Pelajaran di buka dengan salam dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru memberikan apersepsi dengan mengingat kembali macam sumber air dan pentingnya air bagi kehidupan. Guru menjelaskan konsep daur air dan faktor yang mempengaruhinya. Siswa mengerjakan lembar kerja dalam kelompok. Guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan dengan melibatkan teman sebangku. Menyampaikan hasil diskusi dengan bimbingan guru. Pada kegiatan ini, guru hanya memfasilitasi siswa untuk berpendapat dan mempertanggungjawabkan jawaban yang telah disampaikan. Setelah selesai pembahasan akan ditarik kesimpulan hasil pembelajaran mengenai proses terjadinya daur air, kemudian guru akan memberikan pemantapan dan tindak lanjut kepada siswa. c. Pertemuan III Perencanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan II sebagai tindak lanjut pada pertemuan I maka pada perencanaan pertemuan II masih sama dengan dengan pertemuan I tapi yang membedakan adalah materi yang akan dipelajari yaitu proses terjadinya daur air. Sebelum mengajar pada pertemuan III, maka peneliti menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP), Daftar Presensi Siswa, Lembar Kerja Siswa, Lembar Observasi Siswa,Lembar Penilaian Praktik Pembelajaran, buku pembelajaran, serta ruang/lokasi yang akan digunakan saat pembelajaran berlangsung yaitu di kelas V. Peneliti merancang pada pertemuan ketiga dengan sebuah percobaan sederhana melalui kain, kertas, dan tisu siswa dapat menganalisa proses terjadinya air. Siswa juga diminta untuk membandingkan terjadinya daur air dengan percobaan air panas yang dituang ke dalam panci. Kemudian siswa
55 diminta untuk melaporkan hasil pengamatannya dan hasilnya diminta untuk dicatat dalam lembar kerja kelompok. Setelah semua materi tersampaikan kemudian mengadakan tes evaluasi bagi siswa, tetapi terlebih dahulu guru mengulas materi yang telah dipelajari pada pertemuan I dan pertemuan II secara singkat. Memberi kesempatan bertanya kepada siswa tentang hal-hal yang belum diketahui tentang materi. Guru mengadakan tes formatif yang kedua. Bagi siswa yang sudah selesai dapat mengumpulkan lembar jawab dan kembali ke tempat duduk. Kegiatan diakhiri dengan mengadakan tindak lanjut. 4.4.2 Tahap Pelaksanaan Praktek pembelajaran pada siklus II dilaksanakan melalui 3 pertemuan dengan rincian sebagai berikut: a. Pertemuan I Pelajaran di buka dengan salam oleh kolaborator (guru) dan dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru memberikan apersepsi dengan mengingat kembali pentingnya air bagi kehidupan. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok kemudian membagikan lembar kerja kelompok, dengan bimbingan guru siswa diajak ke lingkungan sekitar yang digunakan sebagai sumber belajar dengan melakukan kegiatan 1 untuk mencari beberapa kegiatan manusia yang mempengaruhi daur air, siswa diminta untuk mendiskusikan dalam kelompok, siswa melakukan pengamatan sambil diskusi untuk mengerjakan lembar kerja kelompok diakhir pelajaran guru membahas hasilnya dan semua kelompok aktif mengikuti. b. Pertemuan II Pelaksanaan tindakan pertemuan II sebagai tindak lanjut pada pertemuan I, maka pada awal pembelajaran guru mengajak siswa untuk berdoa, salam, kemudian mengadakan absensi oleh guru kemudian menentukan tujuan yang berdasarkan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Setelah menentukan tujuan pembelajaran kemudian peneliti menetapkan kegiatan pembelajaran
56 yang meliputi guru membagi siswa menjadi 5 kelompok kemudian membagikan lembar kerja kelompok, dengan bimbingan guru siswa diajak ke lingkungan sekitar yang digunakan sebagai sumber belajar dengan melakukan kegiatan 2 yaitu dengan menggunakan kain basah dan tisu yang basah lalu dijemur di bawah sinar matahari selama 15 menit dan pengamatan pada tanah di halaman sekolah yang nantinya siswa akan menganalisa bahwa ada hubungannya dengan proses terjadinya daur air. Lalu pengamatan selanjutnya adalah dengan menggunakan air panas yang dituangkan ke dalam panci yang memiliki tutup transparan sehingga siswa dapat mengamati apa yang terjadi pada air panas tersebut. Kemudian siswa mencatat hasilnya pada lembar kerja kelompok dan di akhir pelajaran guru membahas hasilnya dan semua kelompok aktif mengikuti. Setelah selesai pembahasan akan ditarik kesimpulan hasil pembelajaran kemudian guru akan memberikan pemantapan dan tindak lanjut kepada siswa. c. Pertemuan III Pembelajaran pada siklus II pertemuan III sebagai tindak lanjut dari pertemuan I dan II yang peneliti gunakan untuk mengadakan tes evaluasi bagi siswa tentang materi yang telah dipelajari pada pertemuan I dan pertemuan II. Peneliti merancang pertemuan III untuk mengadakan tes evaluasi bagi siswa, tetapi terlebih dahulu guru mengulas materi yang telah dipelajari pada pertemuan I dan pertemuan II secara singkat. Setelah selesai pembahasan akan ditarik kesimpulan hasil pembelajaran kemudian guru memberi kesempatan siswa untuk aktif bertanya sebelum melakukan tes evaluasi. Sehingga saat tes evaluasi berlangsung siswa tidak merasa kesulitan mengerjakan soal. Tak lupa guru memberi penghargaan (reward) bagi siswa yang aktif selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
57 4.4.3 Hasil Tindakan a. Penilaian Praktik Pembelajaran Hasil tindakan diperoleh dari hasil observasi pada kegiatan pembelajaran yang telah diterapkan oleh guru. Untuk mengukur keberhasilan penerapan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, menggunakan Lembar Penilaian Praktik Pembelajaran. Hasil pengamatan praktik pembelajaran disajikan pada tabel 4.4.3.1. Data Hasil Observasi Kinerja Guru sebagai berikut: Tabel 4.4.3.1 Data Hasil Observasi Kinerja Guru Siklus II No Aspek Hasil Penilaian Observasi Guru Ya Tidak 1 Kegiatan Awal 3-2 Kegiatan Inti 14-3 Penutup 3 - Jumlah 20 0 Persentasi 100% 0% Keterangan: 1. Pernyataan Ya diartikan sebagai guru telah melaksanakan sintaks 2. Pernyataan Tidak diartikan sebagai guru tidak melaksanakan sintaks Dari tabel 4.4.3.1 data Hasil Observasi Praktik Pembelajaran dapat dilihat pada hasil penilaian observasi dari keseluruhan kegiatan pada pertemuan I dan II guru sudah melaksanakan semua sintak. Mulai dari guru memberikan apersepsi sampai guru memberikan kesempatan siswa untuk aktif bertanya. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai yang diperolehnya dalam aspek kognitif, siswa yang mendapat nilai tinggi belum tentu mengikuti pelajaran dengan keadaan tenang dan tidak menggangu teman yang lain. Tetapi juga dapat dilihat dari keadaan dan aktifitas siswa saat berada di
58 kelas, mulai dari tingkah laku sekecil apapun semua tergambar dalam lembar observasi siswa dalam tabel 4.4.3.2 sebagai berikut: Tabel 4.4.3.2 Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I No Aspek Hasil Penilaian Observasi Guru Ya Tidak 1 Kegiatan Awal 4-2 Kegiatan Inti 13 1 3 Penutup 1 1 Jumlah 17 3 Persentasi 90% 10% Keterangan: 1. Pernyataan Ya diartikan sebagai siswa telah melaksanakan sintaks 2. Pernyataan Tidak diartikan sebagai siswa tidak melaksanakan sintaks Dari tabel 4.4.3.2 dapat terlihat keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran dengan menggunakan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Dapat dilihat bahwa aktivitas siswa meningkat daripada siklus I. Jumlah sintak yang terlaksana sudah mencapai 90% meningkat 5% dari siklus I. Sedangkan sintaks yang belum terlaksana hanya 10%. Hal ini dapat terjadi karena siswa mulai terbiasa menggunakan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. b. Hasil Belajar IPA Hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 didapat dengan mengadakan tes evaluasi diakhir siklus yaitu pada pertemuan ketiga. Dari hasil tes tersebut diketahui terjadi peningkatan hasil belajar IPA, namun masih terdapat siswa yang tidak tuntas atau mendapatkan nilai dibawah KKM. Hasil belajar pada IPA siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 dengan kompetensi dasar mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya sebagai berikut:
59 Tabel 4.4.3.3 Distribusi Frekuensi Nilai IPA Siswa Kelas V SDN Kutowinangun 09 Tahun Pelajaran 2015/2016 Siklus II No Nilai Frekuensi Persentase Keterangan 1 40-49 - - Tidak tuntas 2 50-59 - - Tidak tuntas 3 60-69 - - Tidak tuntas 4 70-79 1 4% Tuntas 5 80-89 11 44% Tuntas 6 90-100 13 52% Tuntas Jumlah 25 100% Nilai rata-rata 84,8 Nilai tertinggi 100 Nilai terendah 75 Dilihat dari tabel 4.4.3.3 distribusi frekuensi hasil belajar IPA siswa kelas V mengalami peningkatan dari hasil belajar siklus 1, ditandai dengan nilai rata-rata yang meningkat menjadi 84,8 sedangkan persentase ketuntasan juga meningkat menjadi 100% yang didapat oleh 25 siswa. Sudah tidak ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM=70, untuk nilai tertinggi menjadi 100 sedangkan untuk nilai terendah mejadi 75. Untuk lebih jelasnya data disajikan dalam bentuk diagram 4.4.3.4 sebagai berikut:
60 12 10 8 6 4 Tuntas Tidak Tuntas 2 0 40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-100 Gambar 4.4.3.4 Diagram Nilai IPA Siswa Kelas V SDN Kutowinangun 09 Tahun Pelajaran 2015/2016 Siklus II Dari hasil tersebut baik nilai rata-rata maupun persentase ketuntasan telah mencapai indikator kinerja yang peneliti tentukan. Berdasarkan hasil pengamatan melalui lembar observasi siswa telah mencapai indikator kinerja, dapat dikatakan tujuan penelitian telah tercapai. 4.4.4 Refleksi Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran pada siklus II dari pertemuan I, II dan III maka selanjutnya diadakan refleksi atas segala kegiatan dalam proses pembelajaran. Hasil refleksi diambil dari hasil observasi dan tes evaluasi yang dilaksanakan pada siklus II. Refleksi ini digunakan sebagai bahan perbaikan dengan membandingkan hasil tindakan dalam proses pembelajaran sudah sesuai dengan indikator kinerja. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh berdasarkan observasi pada siklus II maka penjelasan sebagai berikut: a. Penilaian Praktik Pembelajaran Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lembar hasil observasi, dapat dilihat bahwa masih terdapat beberapa kekurangan. Kekurangan-kekurangan ini disebabkan guru dan siswa belum terbiasa menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Guru masih kesulitan
61 dalam penggunaan lingkungan sekitar sekolah. Media yang digunakan juga harus sesuai dengan materi yang diajarkan, jadi tidak sembarang materi dapat diterapkan pemanfatan lingkungan ini. Sedangkan siswa masih kurang memperhatikan pembelajaran yang dilakukan serta kurang terbiasa dalam bekerja secara kelompok dalam pengamatan untuk penanaman konsep pembelajaran IPA. Siswa masih kerap bermain dan bercanda sehingga belajar kelompok disalah artikan oleh siswa sebagai bermain. Secara keseluruhan pemanfaatan lingkungan sekitar khususnya lingkungan alam sebagai media dalam pembelajaran IPA yang diterapkan sudah cukup baik sesuai dengan apa yang rencanakan sebelumnya. b. Hasil Belajar IPA Sesuai pada tabel 4.4.3.3 distribusi frekuensi nilai mata pelajaran IPA bahwa hasil belajar IPA siswa kelas V mengalami peningkatan dari hasil belajar siklus I, ditandai dengan nilai rata-rata yang meningkat menjadi 84,8 sedangkan persentase ketuntasan juga meningkat menjadi 100% yang didapat oleh 25 siswa. Dari hasil tersebut baik nilai rata-rata maupun persentase ketuntasan telah mencapai indikator kinerja yang peneliti tentukan, berdasarkan hasil pengamatan melalui lembar observasi siswa telah mencapai indikator kinerja, dengan kata lain tujuan penelitian telah tercapai. Berdasarkan pengamatan dari observer maka secara keseluruhan hasil refleksi pada pembelajaran siklus II mengalami hambatan yaitu tentang pemanfaatan lingkungan alam sebagai sumber belajar yang belum terbiasa dilaksanakan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa masih sulit dikembangkan dan kurang memadainya lingkungan yang diperlukan selain itu cuaca juga mempengaruhinya, namun hal tersebut dapat diselesaikan dengan pengarahan dan bimbingan yang maksimal dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan siswa oleh guru.
62 4.5 Hasil Analisis Data Pada bagian hasil analisis data, peneliti membandingkan data yang diperoleh pada pra siklus, siklus I, Siklus II, baik data yang diperoleh dari hasil pengamatan keaktifan siswa maupun hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 yang didapat melalui tes evaluasi. a. Hasil Belajar IPA Data yang digunakan untuk menyatakan hasil belajar IPA adalah nilai yang didapat oleh siswa pada tes evaluasi yang diadakan pada tiap akhir siklus. Hasil belajar IPA siswa kelas V disajikan pada daftar nilai IPA (terlampir), dan berikut disajikan tabel distribusi frekuensi nilai tes IPA pada pra siklus, siklus I dan siklus II. Tabel 4.5.1 Distribusi Frekuensi Nilai IPA Pra Siklus, Siklus I, Siklus II Nilai Pra Siklus Siklus I Siklus II Frek % Frek % Frek % Keterangan 40-49 6 22% 1 4% - - Tidak Tuntas 50-59 7 26% - - - - Tidak Tuntas 60-69 5 19% 5 20% - - Tidak Tuntas 70-79 6 22% 3 12% 1 4% Tuntas 80-89 3 11% 8 32% 11 44% Tuntas 90-100 - - 8 32% 13 52% Tuntas Rata-rata 67 79,2 84,8 Dari tabel 4.5.1 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah siswa yang tuntas di atas KKM dalam mata pelajaran IPA terbukti untuk klasifikasi tuntas, sebelum diadakan tindakan yang tuntas sebanyak 9 siswa, sehingga yang tidak tuntas 18 siswa. Sedangkan hasil tes pada siklus I menunjukkan yang tuntas mengalami peningkatan menjadi 19 siswa dan yang tidak tuntas 6 siswa, untuk siklus II
63 jumlah siswa yang tuntas juga mengalami peningkatan menjadi 25 siswa atau seluruh siswa sudah mencapai nilai di atas KKM. Nilai rata-rata dari tiap siklus juga mengalami peningkatan, pada siklus 1 nilai rata-rata sebesar 79,2, yang semula hanya 67 sedangkan pada siklus II nilai rata-rata menjadi 84,8 hal ini menunjukkan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan telah mencapai indikator kinerja yang peneliti tentukan (Ali, 2007: 45-48). Ini membuktikan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar alam sebagai sumber belajar dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Kutowinangun 09 Salatiga. Peningkatan hasil belajar IPA tiap siklus dapat disajikan pada gambar 4.5.2 sebagai berikut: 30 25 25 20 15 10 5 18 9 19 6 Tuntas Tidak Tuntas 0 0 Pra Siklus Siklus I Siklus II Gambar 4.5.2 Diagram Linear Pengelompokkan Nilai Pra Siklus, Siklus I, Siklus II 4.6 Pembahasan Pemanfaatan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar pada pembelajaran IPA oleh kolaborator mampu meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V semester II SD Negeri Kutowinangun 09 Kecamatan Tingkir Kota Salatiga, tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Ika Erviana dalam skripsinya Upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar
64 siswa kelas V SD Nglangitan 1 Kabupaten Blora semester II tahun pelajaran 2010/2011 yaitu peningkatan tersebut dibuktikan dengan meningkatnya persentase dari tiap-tiap kategori aktivitas siswa pada lembar observasi siswa, baik pada observasi siklus I maupun siklus II. Pada penelitian ini data pra siklus rata-rata nilai hasil belajar siswa adalah 67 dan pada siklus I meningkat menjadi 79,2. Indikator kinerja hasil belajar yang peneliti tentukan telah tercapai pada pembelajaran siklus II. Menurut Ali (2007: 67) mengatakan bahwa penelitian berhasil apabila persentase ketuntasan mencapai 85% dengan memperoleh nilai >70. Nilai rata-rata hasil tes IPA pada siklus II mencapai 84,8 untuk persentase ketuntasan juga telah tercapai yaitu menjadi 100%. Sebanyak 25 siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70 dari 25 siswa. Adapun hambatan utama yang dihadapi sejalan dengan hasil penelitian Hendro Wibowo dalam skripsinya Peningkatan ketuntasan hasil belajar mata pelajaran IPA melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar siswa kelas VI SDN 01 Sugihan Kecamatan Tengaran Tahun ajaran 2009/2010 yaitu pemanfaatan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar adalah siswa belum terbiasa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPA, hal ini dianggap oleh siswa tidak sebagai pembelajaran namun sebuah hiburan di luar kelas namun hal tersebut dapat diselesaikan dengan pengarahan dan bimbingan yang maksimal (Nana Sudjana 2010: 98) dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan siswa oleh guru, sehingga siswa mengalami pembelajaran bermakna sesuai dengan pembelajaran yang berbasis alam. Guru juga dapat menyajikan suatu pembelajaran yang terpola, runtut serta dapat mengatur jalannya proses pembelajaran dengan disesuaikan kebutuhan siswa karena pemanfaatan lingkungan menuntut guru untuk memanfaatkan sesuatu yang ada di lingkungan sekitar (Piaget, dalam Trianto, 2010: 70). Sehingga siswa terlibat secara langsung dalam pembelajaran, tidak terpaku di kelas mendengarkan guru menyampaikan materi. Tetapi sebaliknya, dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar sebagai sumber belajar siswa mampu mengamati dan menganalisa secara langsung bahkan mampu menyampaikan pendapatnya guna mempertahankan hasil pengamatannya.
65 Berdasarkan perolehan nilai yang didapatkan pada siklus I dan siklus II didapatkan bahwa pemanfaatan lingkungan alam dalam pembelajaran IPA pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya lebih mudah dipahami sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.