Universitas Mercubuana

dokumen-dokumen yang mirip
PENYESUAIAN DAN KELONGGARAN TEKNIK TATA CARA KERJA II

Rating Factor Masing-masing Stasiun Kerja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara

By: Amalia, S.T., M.T. PENGUKURAN KERJA: FAKTOR PENYESUAIAN DAN ALLOWANCE

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

Tugas dari Presiden Direktur, antara lain : Adapun tanggung jawab dari Presiden Direktur adalah:

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II LANDASAN TEORI

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA

Pengukuran Kerja Langsung (Direct Work Measurement)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA. tutorial 8 STOPWATCH

BAB 2 LANDASAN TEORI

Perhitungan Waktu Baku Menggunakan Motion And Time Study

BAB II LANDASAN TEORI

WORK SAMPLING. Modul Work Sampling Praktikum Genap 2011/2012 I. TUJUAN PRAKTIKUM

PENGUKURAN WAKTU KERJA

pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem

BAB 2 LANDASAN TEORI

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II. Activity-Based Management. Activity Based Management (ABM) adalah suatu pendekatan di seluruh

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI

PENGUKURAN WAKTU. Nurjannah

BAB II LANDASAN TEORI

ERGONOMI & APK - I KULIAH 8: PENGUKURAN WAKTU KERJA

Dalam menjalankan proses ini permasalahan yang dihadapi adalah tidak adanya informasi tentang prediksi kebutuhan material yang diperlukan oleh produks

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk

TUGAS AKHIR MENGHITUNG WAKTU BAKU PADA PERUBAHAN KEMASAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP UPAH OPERATOR

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA. tutorial 7. work sampling

BAB 2 LANDASAN TEORI

Analisis Efisiensi Operator Pemanis CTP dengan Westing House System s Rating

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengukuran Waktu Work Sampling TEKNIK TATA CARA KERJA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

Lampiran-1: Tabel Westinghouse System's Rating A1 Superskill 0.13 A A B1 Excellent 0.08 B B C1 Good 0.03 C2 0.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI. pengukuran kerja ( work measurement ) yang meliputi teknik-teknik pengukuran waktu

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI

MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT)

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS

practicum apk industrial engineering 2012

BAB II ACTIVITY BASED MANAGEMENT

PENENTUAN WAKTU BAKU PRODUKSI KERUPUK RAMBAK IKAN LAUT SARI ENAK DI SUKOHARJO

practicum apk industrial engineering 2012

BAB 3 LANDASAN TEORI

WORK SAMPLING STUDI KASUS PEKERJAAN BERTENDER PADA SEBUAH CAFE TUTI SARMA SINAGA ST MEILITA TRYANA SEMBIRING, ST

BAB 2 LANDASAN TEORI

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB II LANDASAN TEORI

Lampiran Perhitungan Uji Keseragaman dan Kecukupan Data

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. selesai sesuai dengan kontrak. Disamping itu sumber-sumber daya yang tersedia

BAB II LANDASAN TEORI

Lampiran-1. Perhitungan Kapasitas Normal

Analisa Penetapan Upah Tenaga Kerja Berdasarkan Waktu Standar di PT. Semen Tonasa

III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN

Pengukuran Waktu (Time Study) Jam Henti

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI. Perkembangan organisasi dan perubahan struktur dalam organisasi

Nama : Johanes Susanto NIM : Tugas online #4 TKT313 Metodologi Penelitian. Work Sampling

LAMPIRAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ANALISA PROSES KERJA UNTUK MENENTUKAN KAPASITAS LINE PACKAGING FILTER PADA PT. SELAMAT SEMPURNA, Tbk.

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 4. PENGUMPULAN, PENGOLAHAN dan ANALISA DATA

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DI BPPT URIP MAKASAR PT. H. KALLA MELALUI OPTIMALISASI METODE KERJA, SOP, PERALATAN DAN SKILL

PERENCANAAN JUMLAH OPERATOR PRODUKSI DENGAN METODE STUDI WAKTU (STUDI KASUS PADA INDUSTRI PENGOLAHAN PRODUK LAUT)

ANALISIS PENGUKURAN KERJA

Lamp n (menit) x/n

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... ABSTRACT...

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly

TUGAS AKHIR. ANALISA PROSES KERJA UNTUK MENENTUKAN KAPASITAS MESIN PAINTING FILTER PADA PT. SELAMAT SEMPURNA, Tbk.

MODUL II WORK MEASUREMENT

BAB I PENDAHULUAN. dijalankan dengan prinsip keuntungan dalam bidang ekonomi. Pencapaian

BAB VI PENENTUAN JUMLAH TENAGA KERJA. Pada Stasiun Kerja Pemotongan dan Sortasi CV. Agrindo Suprafood. Menggunakan Studi Waktu

BAB 2 LANDASAN TEORI

IMPLEMENTASI METODE WORK SAMPLING GUNA MENGUKUR PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI CV.SINAR KROM SEMARANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Studi Gerak dan Waktu Studi gerak dan waktu terdiri atas dua elemen penting, yaitu studi waktu dan studi gerakan.

PENGUKURAN BEBAN KERJA TENAGA KERJA DENGAN METODE WORK SAMPLING (Studi Kasus di PT. XY Yogyakarta)

Transkripsi:

BAB II LANDASN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu Pengukuran waktu ditujukan untuk mendapatkanwaktu baku, penyelesaian suatu pekerjaan yaitu waktu yang dibutuh kan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang dikerjakan dengan system baik. Waktu baku yang diharapkan yaitu waktu standard, tidak terlalu cepat maupun lambat, karena pada umumnya hanya sebagian kecil yang melakukan pekerjaan dengan cepat atau lambat,apalagi yang berhubungan dengan mesin. Dan dijalankan dengan sistitem terbaik yaitu dengan melakukan pekerjaan yang memberi nilai tambah terhadap benda kerja maupun kegiatan yang mendukung dari kegiaan utama. 2.1.1 Klasifikasi pengukuran waktu Dalam pengukuran waktu kerja waktu yang diambil dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan jumlah waktu yang secara normal dibutuhkan oleh pekerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang disebut sebagai waktu baku.pengukuran waktu kerja terbagi menjadi dua bagian yaitu pengukuran waktu kerja secara langsung dilakukan ditempat dimana pekerjaan berlangsung.metode yang digunakan dalam pengukuran ini yaitu pengukuran dengan jam henti (stop watch time study) dan metode sampling (work sampling), sedan gkan untuk mengukuran yang kedua yaitu 6

pengukuran waktu kerja secara tidak langsung, pengukuran waktu kerja ini dilakukan tanpa harus berada ditempat pekerjaan berlangsung melainkan dengan membaca table-tabel waktu yang tersedia asalkan mengetahui jalannya pekerjaanmelalui elemen-elemen gerakan. Pada pengujian kali ini akan menggunakn pengukuran kerja secara langsung dengan menggunakan jam henti,cara ini merupakan cara yang paling banyak digunakan untuk pengukuran waktu kerja. 2.1.2 Pengukuran waktu kerja dengan jam henti Pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stop watch) diperkenalkan pertama kali oleh Freri derick W.Taylor sekitar abad ke 19. Metode ini sangat cocok diaplikasikan pada pekerjaan-pekerjaan yang singkat dan berulangulang (reventative). Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, waktu ini akan digunakan sebagai standard penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang akan menyelesaikan pekerjaan yang sama. Secara garis besar langkah-langkah untuk pengukuran waktu kerja dengan jam henti seperti uraian dibawah ini: a. Definisi pekerjaan yang akan diteliti untuk diukur waktunya dan diberitahukan maksud dan tujuan pengukuran ini kepada pekerja yang dipilih untuk diamati. b. Catat semua informasi yang berkaitan erat dengan semua pekerjaan seperti layout, karakteristik dan spesifikasi mesin atau peralatan kerja lain yang digunakan. 7

c. Bagi operasi kerja kedalam elemen-elemen kerja detai-detailnya tapi masih dalam batas kemudahan untuk pengukuran waktunya. d. Amati dan catat waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan elemen-elemen kerja tersebut. e. Tetapkan jumlah siklus kerja yang harus diukur dan dicatat, teliti apakah jumlah siklus kerja yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat atau tetapkan rate of performance dari operator saat melakukan aktifitas kerja yang diukur dan dicatat waktunya tersebut. Rate of performance ini ditetapkan untuk setiap elemen kerja yang ada dan hanya ditunjukan untuk performance operator. Untuk ini elemen kerja yang dicatat secara penuh dilakukan oleh mesin maka performance dianggap normal (100% ). f. Sesuaikan waktu pengamatan berdasarkan performance kerja yang ditunjukan oleh operator tersebut sehingga akan diperoleh waktu kerja normal. g. Tetapkan waktu longgar (allowance time ) guna memberikan fleksibilitas. Waktu longgar yang akan diberikan ini berguna untuk menghadapi kondisi-kondisi selain pekerjaan yang ditetapkan seperti, kebutuhan personil yang versifat pribadi, faktor kelelahan, keterlambatan material dan lain-lain. h. Tetapkan waktu kerja baku (standard time) yaitu jumlah antara waktu normal dan waktu longgar. Aktifitas pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stop watch) umumnya 8

diaplikasikan pada industri manufakture yang memiliki karakteristik kerja yang berulang-ulang, terspesifikasi jelas dan menghasilkan out put yang relatif sama. Meskipun demikian pekerjaan ini dapat diaplikasikan untuk pekerjaanpekerjaan non manufacture seperti aktivitas kantor, gudang, jasa pelayanan lainnya asalkan kriteria-kriteria tersebut diatas dapat dipenuhi. 2.1.3 Langkah-langkah sebelum melakukan pengukuran waktu Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil pengukuran waktu yang baik seperti yang berhubungan dengan kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah pengukuran. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan dalam langkah-langkah berikut: 1. Penetapan tujuan pengukuran Dalam pengukuran waktu. Hal-hal yang penting yang harus diketahui dan ditetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran digunakan, berapa tingkat ketelitian dan keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut.misalnya jika waktu yang diperoleh dimaksudkan untuk dipakai sebagai dasar upah perangsang, maka ketelitian dan keyakinan tentang hasil pengukuran harus tinggi karena menyangkut prestasi dan pendapatan buruh disamping untungan perusahaan itu sendiri 2. Melakukan penelitian pendahuluan Dilakukannya suatu pengukuran waktu adalah untuk menentukan waktu yang pantas diberikan kepada karyawan untuk menyelesaikan sutu pekerjaan 9

yang sesuai dengan kondisi yang ada yang sesuai dengan tingkat kelonggaran yang diharapkan, sehingga dapat distandaradkan dan dijadikan pedoman untuk keperluan-keperluan selanjutnya. 3. Memilih operator Operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur adalah operator yang harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan, syarat-syarat tersebut adalah berkemampuan normal dan dapat diajak bekerja sama. Karena perbedaan keahlian diantara operator yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah populasinya lebih sedikit dibandingkan dengan operator yang berkemampuan rata-rata,karena waktu yang dicari adalah waktu pemyelesaian secara wajar sehingga yang dipilih yaitu operator yang berkemampuan rata-rata dan dapat bekerja sama,jika seorang operator tersebut memiliki kecurigaan terhadap maksud-maksud pengukuran tersebut sehingga oparator akan bekerja tidak wajar. Operator harus mengerti dan menyadari sepenuhnya proses pengukuran tersebut. 4. Melatih operator Walaupun operator yang baik telah didapat, kadang-kadang masih diperlukan bagi operator tersebut terutama jika kondisi dan cara kerja yang dipakai tidak sama dengan yang biasanya yang dilakukan operator. Hal ini terjadi jika pada saat penelitian pendahuluan kondisi kerja atau cara kerja 10

sudah mengalami perubahan. Dalam hal ini operator harus dilatih terlebih dahulu karena sebelum diukur operator harus terbiasa dengan kondisi dan cara kerja yang telah ditetapkan. 5. Menguraikan pekerjaan atas elemen pekerjaan Pekerjaan yang akan diukur dipecah menjadi beberapa elemen,elemenlemen inilah yang diukur waktunya dan disebut sebagai waktu siklus, pentingnya penguraian elemen-elemen waktu tersebeut bertujuan: a. untuk menjelaskan catatan tentang tata cara kerja yang dilakukan, salah satu cara membakukan cara kerja adalah dengan membakukan pekerjaan berdasarkan elemen-elemennya. b. untuk memungkinkan melakukan penyesuaian bagi setiap elemen kerja, karena keterampilan dari operator belum tentu sama untuk semua bagian untuk setiap gerakan-gerakan kerjanya c. untuk memudahkan proses pengamatan jika terjadi elemen yang tidak baku yang mungkin dilakukan operator. d. Untuk memungkinkannya dikembangkannya data waktu standard. 6. Menyiapkan alat-alat pengukuran Setelah langkah-langkah tersebut diatas dilakukan dengan baik,langkah terakhir sebelum melakukan pengukuran yaitu menyiapkan alat-alat yang diperlukan. Alat-alat tersebut yaitu: 11

a. Jam henti (stop watch) b. Lembaran pengamatan c. Pena atau pensil d. Papan pengamatan 2.2 Pengujian Data Langkah langkah dalam melakukan pengujian data adalah sebagai berikut: 1. Tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan Jumlah pengukuran yang dilakukan akan ditentukan oleh pengukur yang disesuaikan dengan tingkat ketelitian yang dipergunakan dan disesuaikan pula keterbatasan waktu dan biaya. Tingkat ketelitian dan kepastian adalah suatu tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur. Tingkat ketelitian menunjukan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebnarnya. Sedangkan tingkat keyakinan menunjukan besarnya keyakinan pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi.tingkat ketelitian yang digunakan sebesar 5% dan tingkat keyakinan 95%. 2. Pengujian keseragaman data Data diambil pada masing-masing proses kemudian dilakukan pencatatan pada lembar atau form yang telah disediakan data yang diambil sebaiknya 12

mewakili seluruh proses dengan pengambilan data secara acak dan objektif. Data pengukuran diperoleh dilakuakn dilakuakn proses pengujian keseragaman data, data yang diuji harus berada dalam batas-batas kontrol,batas-batas kontrol yang ditetapkan yaitu batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol bawah (BKB) dari sebaran data tersebut, dalam penentuan batas kontol tersebut (BKA dan BKB) tergantung dari tingkat keyakinan dan ketelitian yang ditetapkan, data tersebut diharuskan berada dalam batas-batas kontrol karena semua data yang diperoleh dipergunarkan untuk perhitungan selanjutnya. Untuk menguji keseragaman data yang diperoleh,digunakan batas kontrol atas dan batas kontrol bawah yang berdasarkan pada tingkat ketelitian dan keyakinan yang ditetapkan,. Langkah-langkah yang dilakukan untuk pengujian keseragaman data adalah sebagai berikut: Menghitung harga Rata-rata dengan Rumus: = Dimana : = Rata-rata dari sample x = Data yang diambil N = Jumlah data yang diambil 13

Menghitung Standard Deviasi x x σ = i N 1 2 Dimana : = Banyaknya jumlah pengukuran yang diambil = Waktu penyelesaian saat pengukuran Keseragaman data batas control atas dan batas control bawah Batas Kontrol Atas (BKA) : + zσ Batas Kontrol Bawah (BKB) : - zσ Dimana: = Rata-rata sample σ= standard deviasi z= jumlah standard deviasi diadakan pengujian keseragaman data. Pengujian keseragaman data dilakukan dengan menetapkan batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol bawah (BKB) dari sebaran data tersebut. Penententuan batas kontrol atas dan batas kontrol bawah tergantung dari tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang ditetapkan. 3. Pengujian kecukupan data Untuk menentukan banyaknya pengukuran sehingga Pengukuran 14

dilakukan berulangkali sampai diperoleh jumlah data yang dibutuhkan dan untuk menentukan Jumlah pengamatan yang diperlukan pada tingkat kepercayaan dan derajat ketelitian tertentu dengan menggunakan rumus: = ( ) = Dimana : Z S = nilai yangdiperoleh dari tabel normal = Presentase tingkat ketetlitian N = Jumlah pengukuran yang diperlukan N = Jumlah data pengukuran yang diambil I =Data waktu pengamatan. Untuk selanjutnya tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang berbeda, rumusan diatas dapat ditentukan dan ditelusuri secara statistik. Jika din > N maka diperlukan pengujian tambahan sehingga memenuhi jumlah data yang diperlukan. Bila N < N maka data pengukuran pendahuluan sudah mencukupi untuk dilakukan penghitungan waktu standard. 2.3 Perhitungan Waktu Baku Waktu baku adalah waktu total yang diperlukan oleh operator untuk melakuakn pekerjaannya setelah ditambah factor kelonggaran, sebelum dilakukannya perhitungan waktu baku terlebih dahulu harus didapat waktu siklus dan waktu normal. Untuk menghitung waktu normal kita perlu 15

mengetahui dibebankan besarnya factor penyesuaian, factor penyesuaian hanya kepada operator yang melakukan pekerjaan tersebut dan mesin tidak perlu. a. Menghitung waktu siklus = Dimana : x = Waktu penyelesaian proses / pekerjaan ke-i N = Banyaknya jumlah pengukuran yang diambil b. Menghitung Waktu Normal = Dimana: Ws = Waktu Siklus p = Faktor penyesuaian c. Menghitung Waktu Baku = (1 + ) Diaman: Wn = Waktu Normal i = Kelonggaran atau allowance yang diberikan buat operator 2.4 Menentukan Rating Faktor (Faktor Penyesuaian) Yang dimaksud rating factor adalah perbandingan prestasi kerja (performance) seorang pekerja dengan konsepnormal yang disepakati. 16

Bagian yang paling penting dan justru yang paling sulit didalam pelaksanaan pada saat pengukurankerja berlangsung, kecepatan usaha, tempo ataupun performance kerja kesemuanya akan menunjukan kecepatan gerakan operator pada saat bekerja. Aktivitas untuk emnilai dan mengevaluasi kecepatan kerja operator pada saat bekerja. Aktivitas untuk menilai atau mengevaluasi kecepatankerja operator disebut Rating Factore selama pengukuran berlangsung pengukur harus mengamati kewajarankerja yang ditunjukan operator. Ketidak wajaran bisa saja terjadi misalnya bekerja tanpa kesungguhan, sangat cepat seolah-olah diburu waktu, atau karena menjumpai kesulitan-kesulitan seperti kondisi ruangan yang buruk. Sebab-sebab seperti itu mempengaruhi kecepatan kerja yang berakibat terlalu singkat atau terlalu panjangnya waktu penyelesaian, hal ini jelas tidak diinginkan karena waktu standard yang dicari adalah waktu yang diperoleh dari kondisi dan cara kerja yang standard yang diselesaikan secara wajar, penilaian wajar dan tidak wajar dari performance seseorang dapat dilakukan dengan pendekatan diantaranya: A..Cara Persentase merupakan cara yang paling sederhana dimana faktor penyesuaian (p) ditentukan berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh pengukur. Harga p yang ditetapkanpengukur yang kemudian dikalikan dengan jumlah 17

siklus. Ketelitian dari cara ini kurang baik dan sangat ditentukan oleh subjectivitas pengukur. B.Cara schumard Schummard memberikan batasan penilaian melalui kelas-kelas performance kerja dimana setiap kelas mempunyai nilai sendiri-sendiri. Disini pengukuran diberikan patokan melalui kelas-kelas performance kerja dimana kinerja menghitung factor penyesuaian diantaranya adalah superfast, fast+, fast, fast -, exelence Seseorang dianggap bekerja normal diberi nilai 60, dimana performansi kerja yang lain dibandingkan untuk menghitung faktor penyesuaian. Misalnya faktor performance seorang operator adalah excellent, maka ia diberi nilai 80, maka faktor penyesuaiannya adalah = = 1.33 C. Cara Westinghose Dengan cara westinghose ini, rating performance ditentukan berdasarkan pada penilaian pada empat faktor (Wastinghose factore) yang dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja, yaitu: a. Faktor Keterampilan Untuk keperluan penyesuaian keterampilan dibagi menjadi 6 (enam) kelas dengan cirri-ciri sebagai berikut: 18

1. Super skill Secara bawaan cocock sekali dengan pekerjaanya Bekerja dengan sempurna Tampak seperti terlatih dengan baik Gerakan halus tapi sangat cepat sehingga sangat sulit untuk diikuti Kadang-kadang tidak berbeda dengan gerakanmesin Pindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlihat karena lancar Tidak terkesan ada gerakan-gerakan berfikir dan merencanakan 2. Exellent Skill tentang apa yang ikerjakan (sudah sangat otomatis) Percaya pada diri sendiri Tanpak cocok dengan pekerjaanya Terlihat telah terlatih baik Bekerja teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran - pengukuran atau pemeriksaan Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijlankan tanpa kesalahan Menggunakan peralatan dengan baik Bekerja cepat tanpa mengorbankan mutu Bekerja cepat tetapi halus Bekerja berirama dan terkoordinasi 19

3. Good Skill Kualitas hasil sangat baik Bekerja tampak lebih baik dari pada kebanyakan pekerja pada umumnya Dapat memberikan petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang keterampilannya rendah Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap Tidak memerlukan banyak pengawasan Tidak keragu-raguan Bekerja stabil Gerakan-gerakan terkoordinasi dengan baik Gerakan-gerakan cepat 4. Average Skill Tampak ada kepercayaan diri sendiri Gerakan-gerakan tidak cepat tetapi tidak lambat Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencanaan Tampak sebagai pekerja yang cakap Gerakan-gerakannya cukup menunjukan tidaknya keraguraguan Mengkoordinasikan tangan dan pikiran dengan cukup baik, tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaan Bekerja cukup teliti 20

Secara keseluruhan cukup memuaskan. 5. Fair Skill Tampak terlatih belum cukup baik Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya Terlihat adanya perencanaan sebelum melakukan gerakan Tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup Tampak seperti tidak cocok dengan pekerjaan tetapi telah ditempatkan pada posisi itu sejak lama Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin Sebagai waktu terbuang karena kesalahan sendiri Jika tidak bekerja dengan sungguh-sungguh maka outputnya akan sangat rendah Biasanya tidak ragu-ragu dalammenjalankan gerakannya. 6. Poor Skill Tidak bias mengkoordinasikan tangan dan pikiran Gerakan-gerakan kaku Kelihatan tidak yakin pada urutan-urutan gerakan Seperti tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaan. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerkan kerjanya 21

Sering melakukan kesalahan-kesalahan Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri Tidak bias mengambil inisiatif sendiri b. Usaha Untuk usaha atau Effort, cara estinghouse membagi atas kelas-kelas dengan cirri-ciri masing-masing.yang dimaksud usaha disini adalah kesungguhan yang ditunjukan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya. Berikut ini adalah enam kelas usaha dengan cirri-cirinya: 1. Exessive Effort Kecepatan sanagt berlebihan Usahanya sangat bersungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan keselamatan Kecepatan yang ditimbulkan tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja. 2. Excellent Effort Jelas terlihat kecepatan kerjanya sanagt tinggi Gerakan-gerakannya lebih ekonomis dari pada operator-operator biasanya Penuh perhatian pada pekerjaanya Banyak member saran-saran Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari 22

Bangga tas kelebihannya Gerakan-gerakan yangsalah terjadi sangat jarang sekali Bekerjanya sistematis Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak terlihat. 3. Good Effort Bekerja berirama Saat-saat menganggur sangat sedikit,bahkan kadang-kadang tidak ada Penuh perhatian pada pekerjaanya Senang pada pekerjaanya Kecepatanya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan senang Dapat memeberikan saran-saran untuk perbaikan kerja Menggunakan alat-alat yang tepat denganbaik Memelihara dengan baik kondisi peralatan 4. Average Effort Tidak sebaik Good, tapi lebih baik dari pada Poor Bekerja dengan stabil Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya Set up dilaksanakan denagn baik 23

Melakukan kegiatan kegiatan perencanaan 5. Fair Effort Saran-saran perbaikan diterima dengan kesal Kadang-kadang perhatian tidak ditunjukan pada pekerjaan Kurang sungguh-sungguh Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku Alat-alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaanya Terlampau hati-hati Sistematika kerjanya sedang-sedang saja Gerakan-gerakannya tidak terencana 6. Poor Effort Banyak membuang-buang waktu Tidak memperhatikan adanya minat kerja Tidak mau menerima saran-saran Tampak malas dan lambat bekerja Melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat-alat dan bahan-bahan Tempat kerjanya tidak diatur rapih Tidak peduli pada yang cocok/baik tidaknya peralatan yang dipakai 24

Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur Set up kerjanya terlihat tidakbaik c. Kondisi kerja Yang dimaksud dengan kondisi kerja yaitu kondisi fisik lingkungan seperti keadaan pencahayaan,temperature dan kebisingan ruangan. Kondisi kerja dibagimenjadi enam kelas antara lain: Ideal, Excellent, Good, Average, dan Poor. Kondisi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap pekerjaan, karena berdasarkan karakteristiknya, masing-masing pekerja membutuhkan kondisi ideal sendiri-sendiri. Oleh Karena itu penentuan tentang kondisi kerja perlu dimiliki agar penilaian terhadap kondisi kerja dalam rangka melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan seteliit mungkin. d. Konsistensi Foktor ini perlu diperhatikan karena angka-angka yang dicatat pada setiappengukuran waktu tidak pernah semuanya sama.waktu penyelesaiannya terhadap pekerjaan oleh pekerja berubah-ubah dari satu siklus.selama ini masih dalam batas kewajaran maka tidak akan timbuk masalah, tetapi jika variablenya tinngi maka perlu diperhatikan. seperti halnya dengan factor yang lainnya maka konsistensi juga dibagi menjadi enam kelas yaitu Perfect, Exellent, Good, Average, Fair, dan Poor. Seseorang yang bekerja perfect adalah yang secara teoritis mesin atau pekerjaan yang waktunya dikendalikan oleh mesin. Sebaliknya konsistensi yang poor terjadi bila waktu-waktu penyelesaian berselisih jauh dari rata- 25

rata secara acak. Konsiustensi average terjadi bila selisih antara waktu penyelesaian dengan rata-rata tidak beasar walaupun adanya satu letaknya jauh. D. Cara Objektif Cara objectif yaitu cara yang memperhatikan dua Faktor yaitu pertyama kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan, factor yang kedua merupakan factor yang dipandang secara bersama-sama menentukan berapa besarnya harga P untuk mendapatkan waktu normal. Kecepatn kerja adalah kecepatan dalam melakukan pekerjaan dalampengertian biasa. Jika operator bekerja dengan kecepatan wajar kepadanya diberi nilai satu, atau p 1 = 1, Jika kecepatan dianggap terlalu tinggi p 1 >1 dan sebaliknya jika kecepatannya rendah maka p 1 < 1. Untuk kesulitan kerja disediakan sebuah tabel yang menunjukan berbagai keadaan kesulitan kerja seperti apakah pekerjaan tersebut memerlukan banyak anggota badan apakah ada pedal kaki dan sebagainya. Jadi jika untuk suatu pekerjaan diperlukan gerakan-gerakan lengan bagian atas, siku, pergelangan tangan dan jari ( C ), tidak ada pedal kaki (F), kedua tangan bekerja bergantian (H), koordinasi mata dengan tangan sangat dekat (L), alat yang dipakai hanya memerlukan sedikit control (O), dan berat benda yang ditangani 2.3 Kg, maka: Bagian badan yang dipakai : C = 2 26

Pedal kaki : F = 0 Cara menggunakan kekuatantangan : H = 0 Koordinasi mata dengan tangan : L = 7 Peralatan : O = 1 Berat :B-5 = 13 Jumlah : 23 Sehingg p 2 = (1 + 0.23) atau p 2 = 1.23 Faktor penyesuaian dihitung dengan : = 2.5 Menentukan Kelonggaran (allowance) Kelonggaran haruslah diberikan kepada pekerja unruk menyelesaikan pekerjaanya dalam hal ini kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja, dan selama pengukuran tidak diamati,diukur, dicatat ataupun dihitung. Karenanya sesuai pengukuran dan setelah waktu baku normal didapat pelu ditambahkan kelonggaran kerja. 1. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi Yang termasuk kedalam kebutuhan-kebutuhan pribadi disini adalah hal-hal seperi minum sekadarnya untukmenghilanhkan rasa haus, 27

kekamar kecil, bercakap-cakap dengan teman kerja sekedar untuk menghilangkan ketegangan atau kejemuan dalam bekerja. Kebutuhan-kebutuhan ini jelas terlihat sebgai suatu yang mutlak; tidak bisa misalnya, seorang diharuskan terus bekerja dengan rasa dahaga, atau melarang bekerja untuk sama sekali tidak bercakapcakap sepanjang jam kerja. Larangan demikian tidaklah saja merugikan pekerja tetapi juga merugikan perusahaan karena dengan kondisi demikian pekerja tidak akan dapat bekerja dengan baik bahkan hampir dapat dipastikan produktivitasnya menurun. Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi seperti itu berbeda-beda dari suatu pekerjaan kepekerjaan yang lainnya karena tiap pekerjaan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri dengan tuntutan yang berbeda-beda. Penelitian yang khusus perlu dilakukan untuk menentukan besarnya kelonggaran ini secara tepat seperti sampling pekerjaan ataupun secara psikologis. Berdasarkan penelitian ternyata besarnya kelonggran ini bagi pekerja berbeda dengan pekerja wanita: misalnya untuk pekerjaan-pekerjaan ringan pada kondisi-kondisi normal pria memerlukan 0-2,5 % dan wanita 2-5% (Prosentase dari waktu normal) 2. Kelonggaran untuk Menghilangkan rasa Fatique Rasa fatique tercermin antara lain dari menurunnya hasilproduksi baik jumlah maupun kualitas. Karenanya salah satu cara untuk menentukan besarnya kelonggaran ini adalah dengan melakukan pengamatan 28

sepanjang hari kerja dan mencatat saat-saat dimana hasilproduksi menurun. Jika rasa fatiq. telah datang dan pekerja harus bekerja untuk menghasilkan performance normalnya, maka usaha yang dikeluarkan pekerja lebih besar dari normal dan ini akan menambah rasa fatique. Bila hal ini berlangsung terus pada akhirnya akan terjadi fatique total yaitu jika anggota badan yang bersangkutan sudah tidak dapat melakukan gerakan kerja sama sekali walaupun sangat dikehendaki. Hal demikian jarang terjadi karena berdasarkanpengalaman pekerja dapat mengatur kecepatan kerjanya sedemikian rup, sehingga lambatnya gerakan-gerakan kerja ditunjukan untuk menghilangkan rasa fatique. 3. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan Dalam melaksanakanpekerjaan, pekerja tidak akan lepas dari berbagai hambatan. Ada hambatan yang dapat dihindarkan seperti mengobrol yang berlebihan dan menganggur dengan sengaja dan pula hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena berada diluar kekuasaan pekerja untukmengendalikannya. Bagi hambatan yang pertama jelas tidak ada pilihan selain menghilangkannya, sedangkan bagi yang terahir walaupun harus diusahakan serendah mungkin, hambatan akan tetap ada dan karenanya harus diperhitungkan dalam perhitungan waktu baku. 29

Bebrapa contoh yang termasuk kedalam hambatanyang tak terhindarkan adalah: Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas Melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya. Mengasah peralatan potong Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang. Hambatan-hambatan karena pemakaian alat ataupun bahan Mesin mati karena matinya aliranlistrik. Besarnya hambatan untuk kejadian-kejadian seperti itu sangat bervareasi dari suatu pekerjaan kepekerjaan lain bahkan suatu stasiun kerja lain karena banyaknya seperti mesin, kondisi mesin, prosedur kerja ketelitian suplai alat dan bahan dansebagainya. Salah satu cara yang baik untuk menentukan besarnya kelonggaran bagi hambatan tak terhindarkan biasanya digunakan denganmelakukan sampling pekerjaan. 30

2.4 Kapsitas Produksi Kapasits produksi dipengaruhi oleh besarnya waktu baku dari suatu proses Kapasitas produksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya bahan baku, system kerja,jumlah mesin, pekerja dan alur proses kerja Penggunaan bahan baku,perlakuan terhadap material dan produk jadi maupun setengah jadi akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas produksi yang dicapai. waktu yang digunakan dalam hal ini yaitu tujuh jam kerja dan satu jam waktu istirahat. C t = Dimana : C t =Kapasitas produksi Wb = Waktu baku T h = Jumlah Jam kerja 31