UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

dokumen-dokumen yang mirip
UNNES Journal of Mathematics

BAB I PENDAHULUAN. hidup lainnya. Interaksi yang terjadi antara individu dalam satu spesies atau

BIFURKASI HOPF PADA MODIFIKASI MODEL PREDATOR-PREY LESLIE GOWER DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II

ANALISIS DINAMIKA MODEL KOMPETISI DUA POPULASI YANG HIDUP BERSAMA DI TITIK KESETIMBANGAN TIDAK TERDEFINISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kestabilan model predator-prey tipe Holling II dengan faktor pemanenan.

Simulasi Kestabilan Model Predator Prey Tipe Holling II dengan Faktor Pemanenan

Simulasi Model Mangsa Pemangsa Di Wilayah yang Dilindungi untuk Kasus Pemangsa Tergantung Sebagian pada Mangsa

ANALISIS DINAMIK MODEL PREDATOR-PREY PADA POPULASI ECENG GONDOK DENGAN ADANYA IKAN GRASS CARP DAN PEMANENAN

BAB II KAJIAN TEORI. dinamik, sistem linear, sistem nonlinear, titik ekuilibrium, analisis kestabilan

MODIFIKASI SISTEM PREDATOR-PREY: DINAMIKA MODEL LESLIE-GOWER DENGAN DAYA DUKUNG YANG TUMBUH LOGISTIK

MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL PADA INTERAKSI DUA POPULASI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KESTABILAN MODEL POPULASI SATU MANGSA-DUA PEMANGSA DENGAN PEMANENAN OPTIMAL PADA PEMANGSA

PEMANENAN OPTIMAL PADA MODEL REAKSI DINAMIK SISTEM MANGSA-PEMANGSA DENGAN TAHAPAN STRUKTUR. Yuliani, Marwan Sam

ANALISIS MODEL S-I-P INTERAKSI DUA SPESIES PREDATOR-PREY DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II

Created By Aristastory.Wordpress.com BAB I PENDAHULUAN. Teori sistem dinamik adalah bidang matematika terapan yang digunakan untuk

ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR Lia Listyana 1, Dr. Hartono 2, dan Kus Prihantoso Krisnawan,M.

ANALISIS DINAMIK SKEMA EULER UNTUK MODEL PREDATOR-PREY DENGAN EFEK ALLEE KUADRATIK

ANALISIS DINAMIK SISTEM PREDATOR-PREY MODEL LESLIE-GOWER DENGAN PEMANENAN SECARA KONSTAN TERHADAP PREDATOR

SKEMA NUMERIK PERSAMAAN LESLIE GOWER DENGAN PEMANENAN

ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR

BIFURKASI HOPF PADA SISTEM PREDATOR PREY DENGAN FUNGSI RESPON TIPE II

LANDASAN TEORI. Model ini memiliki nilai kesetimbangan positif pada saat koordinat berada di titik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Asumsi yang digunakan dalam sistem mangsa-pemangsa. Dimisalkan suatu habitat dimana spesies mangsa dan pemangsa hidup

PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN MODEL PADA PENYEBARAN HIV-AIDS

MODEL MATEMATIKA MANGSA-PEMANGSA DENGAN SEBAGIAN MANGSA SAKIT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

T 23 Center Manifold Dari Sistem Persamaan Diferensial Biasa Nonlinear Yang Titik Ekuilibriumnya Mengalami Bifurkasi Contoh Kasus Untuk Bifurkasi Hopf

Interaksi Antara Predator-Prey dengan Faktor Pemanen Prey

Penerapan Teknik Serangga Steril Dengan Model Logistik. Dalam Pemberantasan Nyamuk Aedes Aegypti. Nida Sri Utami

KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA

ANALISIS KESTABILAN MODEL INTERAKSI PEMANGSA DAN MANGSA PADA DUA HABITAT YANG BERBEDA ADE NELVIA

BAB II LANDASAN TEORI. eigen dan vektor eigen, persamaan diferensial, sistem persamaan diferensial, titik

KESTABILAN MODEL MANGSA PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON TIPE HOLLING II DAN WAKTU TUNDA

BAB I PENDAHULUAN. Ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara

MODEL LOGISTIK DENGAN DIFUSI PADA PERTUMBUHAN SEL TUMOR EHRLICH ASCITIES. Hendi Nirwansah 1 dan Widowati 2

Local Stability of Predator Prey Models With Harvesting On The Prey. Abstract

ANALISIS STABILITAS PENYEBARAN VIRUS EBOLA PADA MANUSIA

ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA HUTCHINSON DENGAN WAKTU TUNDA DAN PEMANENAN KONSTAN LILIS SAODAH

ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR

SEMINAR HASIL TUGAS AKHIR Jurusan Matematika FMIPA ITS

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BIFURKASI HOPF PADA MODEL SILKUS BISNIS KALDOR-KALECKI TANPA WAKTU TUNDA

ANALISIS TITIK EKUILIBRIUM DAN SOLUSI MODEL INTERAKSI PEMANGSA-MANGSA MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN

BIFURKASI HOPF MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA NI NYOMAN SURYANI

Karena v merupakan vektor bukan nol, maka A Iλ = 0. Dengan kata lain, Persamaan (2.2) dapat dipenuhi jika dan hanya jika,

BAB II LANDASAN TEORI. pada bab pembahasan. Materi-materi yang akan dibahas yaitu pemodelan

ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR SKRIPSI

KESTABILAN SISTEM PREDATOR-PREY LESLIE

Pengendalian Populasi Hama pada Model Mangsa-Pemangsa dengan Musuh Alaminya

ANALISIS KESTABILAN DAN LIMIT CYCLE PADA MODEL PREDATOR - PREY TIPE GAUSE SKRIPSI

ANALISIS STABILITAS SISTEM DINAMIK UNTUK MODEL MATEMATIKA EPIDEMIOLOGI TIPE-SIR (SUSCEPTIBLES, INFECTION, RECOVER)

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai definisi-definisi dan teorema-teorema

BAB II LANDASAN TEORI. selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung tujuan penulisan. Materi-materi

ANALISIS MODEL MANGSA PEMANGSA PADA PENANGKAPAN IKAN YANG DIPENGARUHI OLEH KONSERVASI

BAB I PENDAHULUAN. Besar Penelitian Tanaman Padi, tikus sawah merupakan hama utama penyebab

Penentuan Bifurkasi Hopf Pada Predator Prey

Kestabilan Titik Ekuilibrium Model SIS dengan Pertumbuhan Logistik dan Migrasi

BIFURKASI HOPF DALAM MODEL EPIDEMI DENGAN WAKTU TUNDAAN DISKRET

Analisis Kestabilan Model Penurunan Sumber Daya Hutan Akibat Industri

BIFURKASI PITCHFORK PADA SISTEM DINAMIK DIMENSI-n SKRIPSI

PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN LOKAL PADA PERUBAHAN POPULASI PENDERITA DIABETES MELITUS

Bab 16. Model Pemangsa-Mangsa

Model Mangsa-Pemangsa dengan Dua Pemangsa dan Satu Mangsa di Lingkungan Beracun

KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA

ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA HOLLING-TANNER TIPE II INTAN SELVYA

Syarat Cukup Osilasi Persamaan Diferensial Linier Homogen Orde Dua Dengan Redaman

IDENTIFIKASI PARAMETER PENENTU KESTABILAN MODEL PERTUMBUHAN LOGISTIK DENGAN WAKTU TUNDA

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS KESTABILAN LOKAL MODEL DINAMIKA PENULARAN TUBERKULOSIS SATU STRAIN DENGAN TERAPI DAN EFEKTIVITAS CHEMOPROPHYLAXIS

KESTABILAN MODEL SATU MANGSA DUA PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON TIPE HOLLING III DAN PEMANENAN

MODEL DINAMIK INTERAKSI DUA POPULASI (Dynamic Model Interaction of Two Population)

ANALISIS KESTABILAN MODEL DINAMIKA PENYEBARAN PENYAKIT FLU BURUNG

Agus Suryanto dan Isnani Darti

KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSPECTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sistem Hasil Kali Persamaan Diferensial Otonomus pada Bidang

PERAN PENTING LAJU PERUBAHAN KALOR PADA MODEL DINAMIK UNSUR UNSUR UTAMA IKLIM

IDENTIFIKASI TITIK TITIK BIFURKASI DARI MODEL TRANSMISI PENYAKIT MENULAR

MODEL NON LINEAR PENYAKIT DIABETES. Aminah Ekawati 1 dan Lina Aryati 2 ABSTRAK ABSTRACT

KESTABILAN POPULASI MODEL LOTKA-VOLTERRA TIGA SPESIES DENGAN TITIK KESETIMBANGAN ABSTRACT

MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI

ANALISIS KESTABILAN HELICOVERPA ARMIGERA

BIFURKASI HOPF PADA MODEL MANGSA PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA DAN TINGKAT PEMANENAN KONSTAN LOLA OKTASARI

PEMODELAN MATEMATIKA PENYEBARAN PENYAKIT VIRUS EBOLA DAN ANALISIS PENGARUH PARAMETER LAJU TRANSMISI TERHADAP PERILAKU DINAMISNYA TUGAS AKHIR SKRIPSI

KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI TUGAS AKHIR

PEMODELAN DINAMIKA KONSENTRASI TIMBAL DARI LIMBAH ELEKTRONIK PADA LINGKUNGAN HIDUP

DINAMIKA PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI SULAWESI UTARA MENGGUNAKAN MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL NONLINEAR SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTIOUS AND RECOVERED)

MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI TUGAS AKHIR. Oleh : SITI RAHMA

ANALISIS KESTABILAN PADA MODEL DUA MANGSA- SATU PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING DAN PEMANENAN

ANALISIS MODEL MANGSA-PEMANGSA HOLLING-TANNER TIPE II DENGAN MANGSA YANG TERLINDUNG DAN ADANYA PEMANENAN POPULASI EKA PUJIYANTI

PERILAKU SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL LOGISTIK DENGAN PEMBERIAN DELAY

BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH SCAVENGER (Pemakan Bangkai) TERHADAP KESTABILAN POPULASI MANGSA PEMANGSA PADA MODEL LOTKA VOLTERRA ELI WAHYUNI

KAJIAN PEMODELAN MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI UNGGAS. Dian Permana Putri, 2 Herri Sulaiman 1,2

Jurnal Euclid, vol.3, No.2, p.501 MODEL MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI MANUSIA

TUGAS AKHIR KAJIAN SKEMA BEDA HINGGA TAK-STANDAR DARI TIPE PREDICTOR-CORRECTOR UNTUK MODEL EPIDEMIK SIR

LAPORAN TUGAS AKHIR. Topik Tugas Akhir Kajian Matematika Murni

BAB II KAJIAN TEORI. representasi pemodelan matematika disebut sebagai model matematika. Interpretasi Solusi. Bandingkan Data

Transkripsi:

ANALISIS MODEL PREDATOR-PREY DUA SPESIES DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE III skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika oleh Putri Wijayanti 4111410027 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014

ii

!!! LZOOWII IT NIN 'ueeuepun-eueprmred uernpred u nluele{ rames r$lrrus eruueueru "rpesreq e,es upur 'rut rsdprls urbibp pfeld pduprel p{nqje} rr q Irepntual rp upqede uep 'lul8eld $qeq rur rsduis B1qBq uu1e1e.ueur e,eg NYSITOT NYITSYf,I NYYIYANUf,d

\ PENGESAHAN! Skripsi yang berjudul: I Analisis Model Predator-Prey Dua Spesies dengan Fungsi Respon Holling Tipe III disusun oleh Putri Wijayanti 4ttt4t002 telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, universitas Negeri Semarang pada tanggal 12 Agustus 2014. ffi*m */t f tl!guj\e\r.. W yanto, M.Si. 012r98803 1001 Drs. ru.budiwaruya,m.si. NrP. r 9680907 t993033 I 003 Drs. Supriyono, M.Si. NIP. 19521029198003 1002 bimbing s, S.Si, M.Sc. NIP. 1982101 I 1001 IV

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil, kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik. Evelyn Underhill Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar Al-Baqarah: 153 Allah akan memberi kemudahan di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang memberi kemudahan pada orang lain yang berada dalam kesulitan Ary Ginanjar Agustian Persembahan: Bapak dan Ibu tersayang, terima kasih atas segala yang diberikan kepadaku. Kelima saudaraku serta seluruh keluargaku yang selalu menyemangatiku. Seluruh temanku Prodi Matematika angkatan 2010. Sahabat di kos Al-Ba its 1 yang setia menemani dan mendukungku. Teman-teman KKN Sabalong Samalewa. Sahabatku para panggawa GB s, yang selalu saling menyemangati. v

PRAKATA Segala puji hanya milik Allah SWT karena atas segala limpahan rahmat- Nya penyusun diberikan izin dan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Model Predator-Prey Dua Spesies dengan Fungsi Respon Holling Tipe III. Selanjutnya penyusun berterima kasih atas bantuan dan peran yang tidak dapat didefinisikan satu persatu pada tahapan penyelesaian skripsi ini, kepada: 1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Prof. Dr. Wiyanto, M.Si., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Arief Agoestanto, M.Si., Ketua Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang. 4. Muhammad Kharis, S.Si, M.Sc., selaku Dosen Pembimbing yang senantiasa meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi masukan serta motivasi selama penyususunan skripsi. 5. Tri Sri Noor Asih S.Si., M.Si., Dosen Wali yang telah memberikan arahan dan motivasi sepanjang perjalanan saya menimba ilmu di Universitas Negeri Semarang. 6. Seluruh pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu. vi

vii Hanya ucapan terima kasih dan doa, semoga apa yang telah diberikan tercatat sebagai amal baik dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penyusun menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak terdapat kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan penyusunan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan dan secara umum kepada semua pihak yang berkepentingan. Semarang, Agustus 2014 Penyusun

ABSTRAK Wijayanti, P. 2014. Analisis Model Predator-Prey Dua Spesies dengan Fungsi Respon Holling Tipe III. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Muhammad Kharis, M.Si, M.Sc. Kata Kunci : Persamaan diferensial, model predator-prey, fungsi respon Holling tipe III, titik ekuilibrium. Persamaan diferensial muncul dalam banyak model di fenomena kehidupan nyata. Salah satunya yaitu interaksi predator-prey. Model predatorprey pertama kali dikenalkan adalah model Lotka-Voltera. Tetapi model ini belum memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh predator untuk mencerna makanannya. Pada penelitian ini membahas tentang analisis kestabilan model predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III, karena sesuai dengan tipe predator yang mencari mangsa lain ketika mangsa yang dimakannya mulai berkurang. Fungsi respon telah memperhitungkan waktu untuk memproses makanan pada saat predator mengkonsumsi makanannya. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model matematika pada sistem predator-prey, menentukan analisa model dan simulasi hasil analisa menggunakan program Maple. Metode penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menetukan masalah, merumuskan masalah, studi pustaka, analisis pemecahan masalah, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah model matematika untuk persaingan predatorprey dua spesies dengan fungsi respon Holling tipe III dengan suatu batas +, yaitu 1 dan. Berdasarkan model tersebut dapat diketahui titik ekuilibrium dan solusi di sekitar titik ekuilibrium. Dari persamaan di atas diperoleh titik-titik ekuilibriumnya yaitu 0,0, 1,0 dan,. Pada titik memberikan saddle point tak stabil. Pada titik memberikan node point yang bersifat stabil dengan asumsi < + dan memberikan saddle point yang bersifat tidak stabil dengan asumsi +. Sedangkan untuk titik dengan 1 memberikan sifat tidak stabil dan bersifat stabil untuk < 1 dengan 0 dan < 0, dimana merupakan determinan. viii

DAFTAR ISI Halaman PRAKATA... ABSTRAK... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... vi viii ix xi xii xiii BAB 1. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Rumusan Masalah... 4 1.3 Tujuan Penelitian... 4 1.4 Manfaat Penelitian... 5 1.5 Sistemika Penulisan... 5 2. TINJAUAN PUSTAKA... 7 2.1 Sistem Persamaan Diferensial... 7 2.2 Model Pertumbuhan Logistik... 8 2.3 Model Populasi Predator-Prey... 12 2.4 Fungsi Respon... 14 2.5 Nilai Eigen dan Vektor Eigen... 16 2.6 Matriks Jacobian... 18 ix

2.7 Titik Ekuilibrium... 18 2.8 Potret Phase dari Sistem Linear... 21 3. METODE PENELITIAN... 27 3.1 Menentukan Masalah... 27 3.2 Rumusan Masalah... 27 3.3 Studi Pustaka... 28 3.4 Analisis dan Pemecahan Masalah... 28 3.5 Penarikan Kesimpulan... 30 4. HASIL DAN PEMBAHASAN... 31 4.1 Unsur-Unsur yang Berpengaruh terhadap Model... 31 4.2 Model Matematika Predator Prey... 31 4.3 Titik Ekuilibrium... 34 4.4 Analisis Kestabilan Titik Ekuilibrium... 39 4.5 Simulasi Numerik... 48 5. SIMPULAN DAN SARAN... 56 5.1 Simpulan... 56 5.2 Saran... 57 DAFTAR PUSTAKA... 59 LAMPIRAN x

DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4.1 Daftar titik ekuilibrium, nilai parameter, dan sifat trayektori... 49 xi

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Trayektori untuk titik node... 22 2.2 Trayektori untuk titik nodal source... 22 2.3 Trayektori untuk sadle point... 23 2.4 Trayektori untuk star point... 23 2.5 Trayektori untuk improper node dengan < 0... 24 2.6 Trayektori untuk improper node dengan 0... 24 2.7 Trayektori untuk stabel spiral... 25 2.8 Trayektori untuk unstable spiral... 25 2.9 Trayektori untuk center point... 26 4.1 Trayektori untuk titik ekuilibrium 0,0 dan 1,0 dengan + dan +... 50 4.2 Trayektori untuk titik ekuilibrium, dengan + dan +, serta titik dengan +, < 1, 0 dan 0... 51 4.3 Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, 1 dan 0... 52 4.4 Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, dan 0... 53 4.5 Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, 0 dan < 0... 54 xii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1 Hasil simulasi model dengan menggunakan maple 12... 62 xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ekologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan lingkungan hidupnya Riberu, 2002. Hal ini menunjukan pada hakikatnya makhluk hidup di bumi ini tidak dapat hidup sendiri secara normal, tetapi akan saling berinteraksi dengan berbagai spesies yang ada. Makhluk hidup tunggal biasa disebut individu, dan populasi merupakan kumpulan individu sejenis yang berinteraksi pada tempat dan waktu yang sama. Berbagai populasi dari spesies yang berbeda dan hidup bersama disebut komunitas. Satu kelompok yang memiliki ciri khas tertentu dan terdiri dari beberapa komunitas yang berbeda dikenal dengan ekosistem Nurhamiyawan et al., 2013. Kompetisi dalam suatu ekosistem merupakan salah satu bentuk interaksi antar individu yang bersaing memperebutkan kebutuhan hidup yang sama. Pada individu hewan, kebutuhan hidup yang sering diperebutkan antara lain adalah makanan, sumber air, tempat berlindung atau bersarang dan pasangan untuk berkembang biak. Contoh kompetisi antar populasi hewan yaitu kambing dan sapi yang memakan rumput di wilayah yang sama atau harimau dan singa dalam berburu mangsa yang sama Nurhamiyawan et al., 2013. 1

2 Model yang terdiri atas dua spesies berbeda dengan salah satu dari keduanya menyediakan makanan untuk yang lainnya merupakan salah satu model interaksi spesies antara mangsa dan pemangsa yang populer dalam pemodelan matematika. Interaksi antar populasi ini dinamakan relasi predator-prey, dengan prey sebagai spesies yang dimangsa dan predator sebagai spesies yang memangsa Du, 2007. Model predator-prey pertama kali dikenalkan oleh Lotka pada tahun 1925 dan Volterra pada tahun 1926, sehingga model ini juga disebut model Lotka-Volterra Boyce & DiPrima, 2000. Model Lotka Voltera belum memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh predator untuk mencerna makanannya serta pada kenyataan bahwa makanan dari prey terbatas. Kemudian pada tahun 1950 Holling memperkenalkan fungsi respon. Fungsi respon dalam ekologi adalah jumlah makanan yang dimakan oleh predator sebagai fungsi kepadatan makanan Hunsicker et al., 2011. Dalam hal ini fungsi respon dibagi atas tiga macam, yaitu fungsi respon tipe I, tipe II dan tipe III. Fungsi respon tipe I terjadi pada predator yang memiliki karakteristik pasif, atau lebih suka menunggu mangsanya, sebagai contoh predator-nya adalah laba-laba. Fungsi respon tipe II terjadi pada predator yang berkarakteristik aktif dalam mencari mangsa, sebagai contoh predator-nya adalah serigala. Ketika serigala berhasil menangkap mangsanya maka serigala juga memerlukan waktu untuk mencerna makanannya. Fungsi respon tipe III terjadi pada predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain ketika populasi prey yang dimakan mulai berkurang. Sebagai contoh pada rusa tikus mice deer yang bertindak sebagai predator dengan kepompong kupu-kupu sebagai prey. Ketika

3 jumlah kepompong meningkat maka populasi tikus rusa juga akan meningkat secara eksponensial, namun ketika jumlah kepompong mulai menurun maka tikus rusa cenderung untuk mencari populasi kepompong yang lebih tinggi. Di dalam ekologi, fungsi respon pada model predator-prey menyatakan tingkat asupan konsumen predator sebagai fungsi kepadatan makanan prey. Model predator-prey yang paling sederhana didasarkan pada model Lokta- Volterra. Model ini memiliki bentuk 1.1 Pada sistem Lokta-Volterra, fungsi respon mempunyai bentuk dan. Hal ini karena pada model ini waktu yang diperlukan predator untuk mencerna makanannya tidak diperhatikan. Tetapi, dalam kenyataannya ketika terjadi serangan prey oleh predator, maka secara realistik predator memerlukan waktu untuk mencerna makanannya Roat, 2012. Salah satu pengembangan lain dari model Lotka-Volterra adalah model yang dilakukan oleh Ruan et al. 2001, Liu & Chen 2003, serta Tian et al. 2011, dimana dalam model Lotka-Voltera diberikan penambahan fungsi respon tipe Holling II pada interaksi antara prey dan predator. Pada penelitian ini akan dibahas tentang analisis kestabilan model predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. Dipilihnya fungsi respon Holling tipe III karena memiliki permasalahan yang sesuai dengan jenis predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain ketika populasi prey yang dimakan mulai berkurang. Fungsi respon tipe Holling III ini telah memperhitungkan waktu untuk memproses

4 makanan pada saat predator mengkonsumsi makanannya. Hal ini ditandai dengan melambatnya tingkat serangan yang dilakukan predator terhadap prey. Melambatnya tingkat serangan karena pencarian makanan dan proses memakan merupakan dua perilaku yang saling eksklusif. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1 Bagaimana bentuk model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 2 Bagaimana analisa model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 3 Bagaimana simulasi solusi model matematika pada sistem predator-prey dengan menggunakan program Maple? 1.3 Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1 Untuk membentuk model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. 2 Untuk menganalisis model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. 3 Untuk mensimulasi solusi model predator-prey dengan menggunakan program Maple.

5 1.4 Manfaat Penelitian 1 Bagi Peneliti Manfaat yang bisa diambil bagi peneliti adalah peneliti mampu mengembangkan ilmu yang telah dipelajari dalam mengkaji permasalahan tentang analisis dari sistem persamaan diferensial. Sehingga dapat semakin memantapkan pemahaman mengenai teori-teori yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan serta mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan nyata. 2 Bagi Jurusan Matematika FMIPA UNNES Menambah khasanah perbendaharaan jurnal, khususnya tentang pemodelan matematika. 3 Bagi Pembaca Menambah pengetahuan tentang model matematika dari salah satu model dalam matematika ekologi, yaitu model predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III dan bisa menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari. 1.5 Sistematika Penulisan Laporan penulisan skripsi ini menggunakan sistematika yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal pendahuluan, bagian isi inti, dan bagian akhir penutup 1 Bagian Awal Pendahuluan Skripsi terdiri dari halaman judul, abstraks, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.

6 2 Bagian Isi Inti Bagian ini terdiri dari lima bab yaitu BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II Tinjauan Pustaka, meliputi tinjauan tentang sistem persamaan diferensial, model pertumbuhan logistik, model populasi predator-prey, fungsi respon, nilai eigen dan vektor eigen, matriks jacobian, titik ekuilibrium dan potret phase dari sistem linear. BAB III Metode Penelitian, meliputi menentukan masalah, rumusan masalah, studi pustaka, analisis dan pemecahan masalah dan penarikan kesimpulan. BAB IV Hasil dan Pembahasan, berisi unsur-unsur yang berpengaruh terhadap model, model matematika predator-prey, titik ekuilibrium, analisis kestabilan titik ekuilibrium dan simulasi numerik yang diperoleh dengan program Maple 12. BAB V Penutup, berisi tentang simpulan dan saran. 3 Bagian Akhir Penutup Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka untuk memberi informasi tentang buku sumber, dan lampiran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Persamaan Diferensial Persamaan differensial adalah persamaan yang memuat satu atau lebih turunan-turunan dari fungsi yang diketahui. Jika hanya terdapat fungsi tunggal yang akan ditentukan maka satu persamaan sudah cukup. Tetapi jika terdapat dua fungsi atau lebih yang tidak diketahui maka sebuah sistem persamaan diperlukan. Contohnya, persamaan Lotka-Voltera atau predator-prey yang merupakan contoh sistem persamaan dalam ekologi. Sistem persamaan tersebut mempunyai bentuk, +, 2.1 dimana populasi spesies prey, populasi spesies predator, laju kelahiran dari populasi prey, laju pemangsa terhadap mangsa, laju kematian dari populasi predator, dan laju pertumbuhan pemangsa dalam mengkonsumsi mangsa. Waluya, 2006. 7

8 2.2 Model Pertumbuhan Logistik Model ini merupakan penyempurnaan dari model eksponensial. Model eksponensial mempunyai kelemahan yaitu saat nilai 0 maka populasi tumbuh sampai tak terbatas, dengan merupakan laju pertumbuhan populasi. Hal ini mustahil, sehingga perlu adanya kajian lagi. Model ini diberikan dengan memberikan asumsi bahwa. Nilai ditentukan oleh kelahiran dan pengaruh kepadatan populasi keterbatasan luas lingkungan. Nilai dapat dirumuskan dengan 2.2 dimana menyatakan laju pertumbuhan populasi tanpa pengaruh lingkungan dan menyatakan pengaruh dari pertambahan kepadatan populasi semakin padat populasi maka persaingan antar individu meningkat. Model pertumbuhan logistik dirumuskan sebagai berikut. 2.3 Titik ekuilibrium dari model tersebut diperoleh dengan menyelesaikan persamaan 0 diperoleh nilai yang memenuhi adalah 0 dan. Populasi nol pasti menjadi titik ekuilibrium tetapi yang menarik adalah. Ini adalah populasi terbesar di mana lingkungan masih mendukung populasi tanpa adanya kehilangan individu anggota populasi individu mati. Nilai ini disebut carrying capacity dari lingkungan habitat. Teori ini memprediksi bahwa populasi berkaitan dengan Z.P.G zero population growth.

9 Solusi persamaan logistik di atas apabila diketahui nilai awal 0 adalah sebagai berikut. 2.4 Dengan metode integral fungsi rasional dalam kalkulus diperoleh bahwa 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 dan 0 1 dan 0 0. Dari hasil di atas diperoleh +. Apabila disubstitusikan ke persamaan differensial 2.4 diperoleh +.

10 Dengan melakukan pengintegralan kedua ruas diperoleh 1 + 1 1 + 1 1 1 ln 1 ln +. Dengan substitusi nilai 0 diperoleh 1 1 + 1 1 1 1 1 + 1 1 + 1. Karena dan keduanya positif maka diperoleh 1 + 1 1 + +

11. Karena dan mempunyai tanda yang sama maka persamaan di atas menjadi. Apabila dilanjutkan dengan beberapa tahap perhitungan lagi diperoleh + + + + 1 1 1 + 1 + 1

12 1 + 1 1 +. Untuk nilai diperoleh nilai yang mempengaruhi carrying capacity dari lingkungan Haberman, 1977. 2.3 Model Populasi Predator-Prey Laju populasi prey dengan tidak adanya pemangsa tumbuh cepat mendekati eksponensial dan tak terbatas dalam bentuk sebagai berikut., 2.5 dengan populasi spesies prey angka pertumbuhan dari prey. Laju populasi prey menjadi fungsi logistik karena sumber daya alam yang terbatas, yang kemudian dapat menulisnya sebagaimana persamaan logistik sebelumnya yaitu sebagai berikut. 1, 2.6 dengan proporsi sisa banyaknya individu dalam populasi yang belum digunakan 1 dan carrying capacity adalah jumlah maksimum banyaknya individu dalam suatu populasi. Populasi pada tingkat kadang juga disebut

13 tingkat kejenuhan, karena untuk populasi besar lebih banyak kematian daripada kelahiran. Carrying capacity atau daya dukung adalah jumlah maksimum individu yang dapat didukung atau dilayani oleh sumber daya yang ada di dalam suatu ekosistem. Dengan kata lain, carrying capacity dapat disebut juga sebagai kemampuan lingkungan ekosistem dalam mendukung kehidupan semua makhluk yang ada di dalamnya secara berkelanjutan. Dalam hal ini, carrying capacity berhubungan erat dengan ketersediaan tanaman sebagai makanan prey. Kemudian ditunjukkan suatu persamaan dimana prey dan predator akan saling berinteraksi yaitu sebagai berikut. 2.7 dengan adalah laju penangkapan prey oleh predator dan adalah populasi spesies predator. Dalam hal ini prey berinteraksi dengan predator. Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat dibentuk model dinamika pertumbuhan populasi prey adalah sebagai berikut. 1. 2.8 Dalam hal ini diasumsikan,, 0, yaitu mengingat setiap populasi memiliki potensi untuk berkembang biak. Pada persamaan di atas bersifat mengurangi jumlah populasi prey. Karena dalam hubungannya mangsa akan berinteraksi dengan predator. Akan tetapi sebaliknya pada model pertumbuhan predator maka respon ini akan bersifat menambah jumlah predator Timuneno et al., 2008.

14 2.4 Fungsi Respon Fungsi respon dalam ekologi adalah jumlah makanan yang dimakan oleh predator sebagai fungsi kepadatan makanan Hunsicker et al, 2011. Dalam hal ini fungsi respon dibagi atas tiga macam, yaitu fungsi respon Holling tipe I, tipe II dan tipe III. 1 Fungsi Respon Holling Tipe I Fungsi respon Holling tipe I merupakan hubungan antara kepadatan spesies prey dan tingkat konsumsi Altwegg, 2006. Tingkat konsumsi predator meningkat linear dengan kepadatan mangsa, tetapi akan konstan ketika predator berhenti memangsa. Fungsi respon tipe I terjadi pada predator yang memiliki karakteristik pasif, atau lebih suka menunggu mangsanya, sebagai contoh predator-nya adalah laba-laba. Adapun tingkat pertumbuhan prey pada fungsi respon Holling tipe I diberikan sebagai berikut Tsai & Pao, 2004., 2.9 di mana : fungsi respon Holling tipe I : tingkat konsumsi maksimum predator terhadap prey : populasi prey 2 Fungsi Respon Holling Tipe II Fungsi respon Holling tipe II menggambarkan rata-rata tingkat konsumsi dari predator, ketika predator menghabiskan suatu waktu untuk mencari mangsa prey. Fungsi respon tipe II terjadi pada predator yang berkarakteristik aktif

15 dalam mencari mangsa, sebagai contoh predator-nya adalah serigala. Fungsi ini akan meningkat jika tingkat konsumsi menurun dan akan konstan jika mencapai titik kejenuhan half saturation. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan prey pada fungsi respon Holling tipe II diberikan sebagai berikut Skalski & Gilliam, 2001., 2.10 di mana : fungsi respon Holling tipe II : tingkat konsumsi maksimum predator terhadap prey : waktu pencarian prey : populasi prey 3 Fungsi Respon Holling Tipe III Fungsi respon Holling tipe III juga menggambarkan tingkat pertumbuhan predator. Tetapi pada tipe ini dapat terlihat mengenai penurunan tingkat pemangsaan pada saat kepadatan prey rendah. Hal tersebut tidak dapat terlihat pada fungsi respon Holling tipe II. Fungsi respon tipe III terjadi pada predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain ketika populasi prey yang dimakan mulai berkurang. Karena predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain, maka tingkat pertemuan antara predator dan prey adalah dua. Hal inilah yang menyebabkan variabel populasi prey menjadi, sehingga laju populasi menjadi lebih cepat. Adapun tingkat pertumbuhan prey pada fungsi respon Holling tipe III diberikan sebagai berikut Ndam & Kassem, 2009.

16, 2.11 di mana : fungsi respon Holling tipe III : tingkat konsumsi maksimum predator terhadap prey : tingkat kejenuhan : populasi prey 2.5 Nilai Eigen dan Vektor Eigen Definisi 2.1 Misalkan A matriks dan, 0. Vektor disebut vektor eigen / vektor karakteristik dari A jika, 2.12 untuk suatu. Bilangan yang memenuhi persamaan di atas disebut nilai eigen/nilai karakteristik. Vektor disebut vektor eigen yang bersesuaian dengan. Untuk mencari nilai dan vektor eigen dari suatu matriks A berordo adalah sebagai berikut. Misalkan A matriks dan, 0 merupakan vektor eigen dari matriks A, maka ada. Jelas 0. Tampak bahwa merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linear SPL homogen 0. Karena 0, maka sistem persamaan homogen 0 mempunyai penyelesaian non trivial. Ini hanya mungkin jika

17 det 0 dan adalah penyelesaian persamaan dari det 0. Det 0 ini disebut persamaan karakteristik dari matriks A. Lemma: Misalkan A matriks n x n. adalah nilai eigen dari matriks A jika dan hanya jika adalah akar persamaan karakteristik det 0. Sedangkan vektor eigen dari matriks A yang bersesuaian dengan adalah penyelesaian dari SPL homogen 0 Anton, 1987. Teorema 2.1 Misalkan det dan dan menganggap sistem linear 2.13 1 Jika < 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik pelana saddle point pada titik asal. 2 Jika 0 dan 4 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik simpul node point pada titik asal. Titik tersebut stabil jika < 0 dan tidak stabil jika 0. 3 Jika 0 dan 4 < 0 dan 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik fokus focus point pada titik asal. Titik tersebut stabil jika < 0 dan tidak stabil jika 0. 4 Jika 0 dan 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik pusat center point pada titik asal.

18 Karena, maka titik asal sama dengan titik ekuilibrium. Catatan pada kasus 2, 4 0, 0 Perko, 1991. 2.6 Matriks Jacobian Bentuk umum dari sistem persamaan diferensial non linier sebagai berikut.,, 2.14 dengan dan adalah variabel yang bergantung pada t. Persamaan 2.14 memiliki titik kesetimbangan pada,. Bila persamaan 2.14 merupakan sistem persamaan diferensial nonlinier, maka diperlukan linierisasi sistem dengan menggunakan matriks jacobian 2.15. Bentuk matriks jacobian dari sistem persamaan 2.14 sebagai berikut.,,,,, 2.15 Purnamasari et al., 2008. 2.7 Titik Ekuilibrium Titik ekuilibrium merupakan salah satu kunci konsep dalam sistem tak linear yang menentukan semua hasil dinamik. Sistem yang lebih umum dapat dinyatakan dalam bentuk berikut.,,,,,,

19 dengan,, dan,, adalah suatu fungsi umum dari, dan waktu t. Sistem tersebut dapat disederhanakan lagi menjadi sistem fungsi yang tak bergantung dengan waktu sistem autonomous seperti bentuk berikut.,,,, dengan F dan G adalah fungsi yang tak tergantung secara exsplisit dari waktu t. Kemudian sistem tersebut dianalisis dengan memikirkan konsep tentang ekuilibrium. Ekuilibrium akan terjadi apabila tidak ada gerakan dalam sistem tersebut, artinya x 0 dan y 0. Titik ekuilibrium akan memenuhi, 0,, 0, karena 0 dan 0. Hal ini akan menghasilkan titik ekuilibrium yang mungkin dapat ditemukan lebih dari satu titik ekuilibrium dengan mudah. Apabila titik ekuilibrium tersebut telah diperoleh, perilaku dari sistem dapat ditentukan dengan menentukan kestabilan dari titik-titik kritiknya Waluya,2006. Definisi 2.2 Titik disebut titik ekuilibrium dari jika 0 Perko, 1991. Titik ekuilibrium pada sistem dikatakan 1 Stabil lokal jika untuk setiap 0 terdapat 0 sedemikian sehingga untuk setiap solusi yang memenuhi < untuk setiap.

20 2 Stabil asimtotik lokal jika titik ekuilibrium stabil dan terdapat 0 sedemikian sehingga untuk setiap solusi yang memenuhi < berlaku lim. 3 Tidak stabil jika titik ekuilibrium tidak memenuhi a. Wiggins,2003. Jika untuk sembarang titik awal, solusi sistem persamaan diferensial berada dekat dengan titik ekuilibrium dan untuk t membesar konvergen ke, maka titik ekuilibrium dikatakan stabil asimtotik global. Kestabilan dari setiap titik-titik mungkin dengan menentukan kestabilan dekat titik-titik kritik satu demi satu. Diasumsikan +, +, dimana dan sangat kecil, sehingga keduanya sangat dengan titik kritik. Dengan substitusi akan diperoleh,,,, dengan dan konstan, maka 0. Mengingat kembali tentang formula deret Taylor. Perluasan deret Taylor di sekitar suatu titik adalah + + + 2! + 3! +

21 Dengan mengambil beberapa suku awal dari deret tersebut, maka sudah cukup baik untuk mengaproksimasi yang cukup kecil. Apabila diperluas maka diperoleh + + +, + + +, dimana semua suku yang lebih kecil dari,, dan. Sistem yang dilinearkan dapat ditulis dalam bentuk matriks. Sistem tersebut terlinearkan karena kembali dari sistem tak linear awal ke dalam sitem linear dekat titik kesetimbangan Waluyo,2006. 2.8 Potret Phase dari Sistem Linear Dipunyai persamaan-persamaan sebagai berikut. + dan + 2.16 dengan,, dan konstanta-konstanta. Misalkan 0, maka titik 0,0 adalah satu-satunya titik kritik dari sistem 2.16. Penyelesaian dari sistem 2.16 berbentuk dan, dimana adalah nilai dari matriks, yaitu, merupakan akar persamaan karakteristik + + 0 2.17

22 Potret phase dari sistem 2.17 hampir seluruhnya tergantung pada nilainilai eigennya dan. 1 Jika nilai-nilai eigennya real tak sama dengan < < 0 ini disebut node: semua trayektori menuju ke tak nol yang berarti titik kritik nol adalah stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.1. Gambar 2.1 Trayektori untuk node point 2 Jika nilai-nilai eigennya real tak sama dengan 0 ini disebut nodal source: semua trayektori keluar dari titik kritiknya menjadi tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.2. Gambar 2.2 Trayektori untuk titik nodal source 3 Jika nilai-nilai eigennya real tak sama dengan < 0 < ini disebut sadle point: semua trayektori akan menjauhi ke tak hingga sepanjang vektor

23 eigen, ini mengakibatkan titik kritik akan selalu tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.3. Gambar 2.3 Trayektori untuk sadle point 4 Jika nilai-nilai eigennya sama dengan dua vektor eigen yang bebas linear, maka akan diperoleh apa yang dinamakan star point atau propernode: bila < 0 maka titik kritiknya akan stabil dan tak stabil untuk 0. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.4. Gambar 2.4 Trayektori untuk star point 5 Jika nilai-nilai eigennya sama dengan satu vektor eigen, maka akan diperoleh apa yang dinamakan improper node: bila < 0 maka titik kritiknya akan stabil dan arah trayektorinya akan menuju ke titik nol, sedangkan untuk 0 arah trayektorinya akan keluar meninggalkan titik

24 nol dan titik kritiknya akan tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.5 dan 2.6. Gambar 2.5 Trayektori untuk improper node dengan < 0 Gambar 2.6 Trayektori untuk improper node dengan 0 6 Jika nilai-nilai eigennya komplek ± ± dengan < 0, maka akan menghasilkan perilaku yang disebut stabel spiral: semua trayektori akan menuju titik nol dan titik kritiknya akan stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.7.

25 Gambar 2.7 Trayektori untuk stabel spiral 7 Jika nilai-nilai eigennya komplek ± ± dengan 0, maka akan menghasilkan perilaku yang disebut unstable spiral: semua trayektori akan keluar meninggalkan titik nol dan titik kritiknya akan tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.8. Gambar 2.8 Trayektori untuk unstable spiral 8 Jika nilai eigennya imaginer murni, dalam kasus ini nilai eigennya dapat dinyatakan sebagai ± ± dalam hal ini solusi merupakan osilator stabil secara alami. Titik kritik dalam hal ini disebut center point. Trayektorinya berupa elips. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.9.

26 Gambar 2.9 Trayektori untuk center point Teorema 2.3 Diberikan matriks jacobian dari suatu sistem non linear, dengan nilai eigen. 1 Jika semua bagian real eigen dari matriks bernilai negatif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut stabil asimtotik lokal. 2 Jika terdapat paling sedikit satu nilai eigen matriks yang bagian realnya positif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut tidak stabil Olsder, 1994.

27 BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut. 3.1 Menentukan Masalah Dalam tahap ini dilakukan pencarian sumber pustaka dan memilih bagian dalam sumber pustaka tersebut yang dapat dijadikan sebagai permasalahan yang akan dikaji. 3.2 Rumusan Masalah Masalah yang ditemukan kemudian dirumuskan ke dalam pertanyaan yang harus diselesaikan yaitu: 1 Bagaimana bentuk model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 2 Bagaimana analisa model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 3 Bagaimana simulasi solusi model matematika pada sistem predator-prey dengan menggunakan program Maple? Rumusan masalah di atas mengacu pada beberapa pustaka yang ada. Selanjutnya dengan menggunakan pendekatan toeritik maka dapat ditemukan jawaban permasalahan sehingga tercapai tujuan penulisan skripsi.

28 3.3 Studi Pustaka Dalam langkah ini dilakukan kajian sumber-sumber pustaka dengan cara mengumpulkan data atau informasi yang berkaitan dengan masalah, mengumpulkan konsep pendukung yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah, sehingga didapatkan suatu ide mengenai bahan dasar pengembangan upaya pemecahan masalah. 3.4 Analisis dan Pemecahan Masalah Dari berbagai sumber pustaka yang sudah menjadi bahan kajian, diperoleh suatu pemecahan masalah di atas. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut. 1 Membuat pemodelan matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. 2 Mencari solusi dari pemodelan matematika yang telah didapat. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a Menentukan titik ekuilibrium. Titik disebut titik ekuilibrium dari jika 0 Perko, 1991. b Menentukan matriks jacobian. Bentuk umum matriks jacobian adalah sebagai berikut.,,,,,, dengan, dan,. Purnamasari et al, 2008.

29 c Menentukan nilai eigen Misalkan A matriks dan, 0. Vektor disebut vektor eigen atau vektor karakteristik dari A jika, untuk suatu. Bilangan yang memenuhi persamaan di atas disebut nilai eigen atau nilai karakteristik. Vektor disebut vektor eigen yang bersesuaian dengan Anton, 1987. d Menganalisis titik ekuilibrium berdasarkan sifat nilai eigen. Diberikan matriks jacobian dari suatu sistem non linear, dengan nilai eigen. 1 Jika semua bagian real eigen dari matriks bernilai negatif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut stabil asimtotik lokal. 2 Jika terdapat paling sedikit satu nilai eigen matriks yang bagian realnya positif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut tidak stabil Olsder, 1994. 3 Membuat simulasi dengan menggunakan metode fungsi respon Holling tipe III untuk model matematika predator-prey. Simulasinya menggunakan data acak bukan data sekunder maupun primer. Progam yang digunakan untuk simulasi adalah Maple 12. Data yang diperlukan bersifat tekstual meliputi persamaan diferensial, pemodelan matematika, dan pembahasan keduanya dalam analisis model matematika. Dalam memahami data-data yang berupa teks dalam buku-buku literatur diperlukan suatu analisa.

30 3.5 Penarikan Kesimpulan Langkah terakhir dalam metode penelitian adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari hasil langkah pemecahan masalah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Unsur-Unsur yang Berpengaruh terhadap Model Kelangsungan hidup spesies predator jelaslah sangat berpengaruh pada spesies prey dalam interaksi dua spesies. Jika jumlah spesies prey sadikit maka jumlah spesies predator akan mengalami penurunan, tetapi jika jumlah spesies prey banyak maka pertumbuhan spesies predator akan cepat karena tersedianya makanan yang cukup. Ada beberapa unsur-unsur yang berpengaruh terhadap model predator prey. Unsur-unsur yang mempengaruhi laju pertumbuhan kepadatan spesies prey adalah tingkat konsumsi maksimum predator, pola pertumbuhan populasi, dan tingkat kejenuhan predator. Sedangkan unsur-unsur yang mempengaruhi laju pertumbuhan kepadatan spesies predator adalah tingkat konsumsi maksimum, tingkat kematian dan tingkat kejenuhan predator. 4.2 Model Matematika Predator-Prey Model interaksi predator-prey dalam jaring makanan dua spesies terdiri dari produsen x primer yang disebut prey mangsa dan predator y pemangsa. Model ini didasarkan pada asumsi dasar sebagai berikut. 1. Jumlah pertumbuhan prey x memiliki pola pertumbuhan logistik. 2. Predator y mengikuti fungsi respon Holling tipe III. 31

32 Pada predator dilakukan pemanenan pada tingkat yang sebanding dengan 3. densitas. Predator memiliki tingkat kematian secara alami. 4. Berdasarkan asumsi di atas diperoleh model matematika predator-prey sebagai berikut. 1 2 1 4.1 dengan : kepadatan spesies prey saat waktu : kepadatan spesies predator saat waktu : tingkat konsumsi maksimum prey : tingkat konsumsi maksimum predator : koefisien laju pertumbuhan spesies prey, : tingkat kejenuhan predator : tingkat kematian predator, : laju pemanenan predator, 0 0 0 : carrying capacity dari spesies prey, 0.

33 Diasumsikan 0 0 dan 0 0, yaitu mengingat setiap populasi memiliki potensi untuk berkembang biak. Didefinisikan,,, dan., Dari persamaan 1 pada sistem persamaan 4.1 diperoleh 1 1 1, 1, dengan 1. Dari persamaan 2 pada sistem persamaan 4.1 diperoleh 4.2,

34 1 2, dengan. 4.3 Jadi sistem 4.1 ekuivalen dengan sistem berikut. 1 4.4 dengan 0 0 dan 0 0. 4.3 Titik Ekuilibrium Titik ekuilibrium dapat diperoleh dengan beberapa tahapan dan salah satu tahapannya yaitu dengan membuat nol ruas kiri persamaan 1 dan 2 pada sistem persamaan 4.4. Diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 1 2 1 0 0 4.5 Untuk memperoleh titik ekuilibrium diperoleh satu persatu kemudian ada yang disubstitusikan pada persamaan-persamaan berikutnya. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut. 1 + 1 0 + 0.

35 Diperoleh atau 1 4.6 0 0 + 1 + 1 + 4.7 Dapat ditulis kembali bahwa 0 atau dengan batasan 0. Langkah selanjutnya mensubstitusikan persamaan 4.6 ke persamaan 1 pada sistem 4.5. 0 0 0 + 0 Sehingga diperoleh 0. Jadi diperoleh titik ekuilibrium 4.8, 0,0.

36 Langkah selanjutnya untuk mencari titik ekuilibrium yang lainnya yaitu menyederhanakan persamaan 2 pada sistem persamaan 4.5. 0 Diperoleh atau 4.9 0 + 0 + + + + + + + + + 0. + + + + atau

37 Diasumsikan Karena syarat +. 0, maka dipilih. 4.10 Kemudian substitusikan persamaan 4.6 ke persamaan 2 pada sistem persamaan 4.5. 1 Diperoleh atau 0 1 0 1 0. 4.11 0 1 0 4.12 1. Jadi, diperoleh titik ekuilibrium, 1,0. Titik ekuilibrium yang lain dapat diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan 4.7 ke persamaan 2 pada sistem persamaan 4.5. + 0

38 1 + 1 + + Karena syarat 0 + 0 1 0 + + 0 0 0 + 0, dipilih + + atau + 0 + + 1 +.. 4.13 Langkah selanjutnya substitusikan persamaan 4.13 pada persamaan 4.7. Jelas

39. 4.14 Jadi, diperoleh titik ekuilibrium, Titik keseimbangan ada jika, + 0. +. 4.4 Analisis Kestabilan Titik Ekuilibrium Untuk menganalisis kestabilan titik ekuilibrium model, dapat memanfaatkan sistem yang telah dilinearkan. Pelinearan sistem persamaan tersebut menggunakan matriks jacobian yang berordo 2 2, karena sesuai dengan sistem persamaan 4.1. 4.15 Sistem persamaan 4.5 beserta penyederhanaannya. 1..

40 Jelas 12 12 12 Jelas 4.17 4.16.. Jelas Jelas 0. 4.18 +. 4.19

41 Pada analisis kestabilan model predator-prey dua spesies dengan fungsi respon Holling tipe III, titik ekuilibrium yang dianalisis adalah sebagai berikut: 1 Titik Ekuilibrium 0,0 Hasil substitusi 0,0 ke persamaan 4.16, 4.17, 4.18, dan 4.19 yaitu 0,0 1 20 0,0 0. 0,0 0. 0,0 1. + +. Dari hasil substitusi di atas diperoleh matriks jacobian sebagai berikut: 1 0 0 + 4.20 Setelah mendapatkan persamaan 4.20 langkah selanjutnya yaitu mencari persamaan karakteristik dengan tahapan sebagai berikut: det 0 0 0 1 0 1 1 0 0 + 0 0 + + + + 0. 0 4.21

42 Pada persamaan 4.21 diperoleh nilai eigen Oleh karena nilai disimpulkan 1 dan bernilai positif dan +. bernilai negatif, maka dapat 0,0 merupakan saddle point titik pelana. Semua trayektori akan menjauhi ke tak hingga sepanjang vektor eigen, ini mengakibatkan titik kritik akan selalu tidak stabil. 2 Titik Ekuilibrium 1,0 Untuk menganalisis kestabilan titik ekuilibrium tahapan-tahapannya sama seperti menganalisis kestabilan titik ekuilibrium mensubstitusikan titik ekuilibrium 1,0 ke persamaan 4.16, 4.17, 4.18, dan 4.19. 1,0 1 21 1,0 1,0 0. 1,0, yaitu dengan 1.. + +. Diperoleh matriks jacobian sebagai berikut. 1 0 +. 4.22 Setelah mendapatkan matriks jacobian tersebut langkah selanjutnya adalah mencari persamaan karakteristik dengan tahapan sebagai berikut.

43 det 0 0 0 +1 1 0 + 1 0 0 + 0 + + Pada persamaan 4.23 diperoleh nilai eigen Nilai eigen 4.23 0. bernilai negatif jika < 1 dan +. +, sehingga titik ekuilibrium 1,0 merupakan titik simpul node point. Hal ini menyebabkan trayektori di sekitar nilai eigen bersifat stabil. Nilai eigen +, sehingga titik ekuilibrium bernilai positif apabila 1,0 merupakan titik pelana saddle point. Hal ini menyebabkan trayektori di sekitar nilai eigen bersifat tidak stabil. 3 Titik Ekuilibrium, Untuk menganalisis kestabilan titik ekuilibrium tahapan-tahapannya sama seperti menganalisis kestabilan titik ekuilibrium mensubstitusikan titik, persamaan 4.16, 4.17, 4.18, dan 4.19., yaitu dengan ke

44, 12 12 2 dan +., 1 12 2 1+ 12 12 Dengan.

45, 2, + +

46 + 0. Diperoleh matriks jacobian sebagai berikut. 12 2. 0 Setelah mendapatkan matriks jacobian tersebut langkah selanjutnya adalah mencari persamaan karakteristik dengan tahapan sebagai berikut. det 0 0 0 12 2 12 2 12 2 1 + 1 + 2 + 2 1+ + Diperoleh persamaan karakteristik Dengan 0 0 0 1 + 2 + 2 2 + + 1+ + 1 2 0. 1 0 1 1 + + 1, 0

47, dan. Akar-akar persamaan karakteristik tersebut adalah sebagai berikut. dan Kasus Jelas 1 2 Ditunjukkan Tulis 4 Jadi 1 4 dengan 4 Ditunjukkan Jelas 0 < 0. Jelas 0. < 1 + 1 0 dan < 0. 0. 0. + 4. Jadi, titik ekuilibrium positif.. 0 0< < Jelas 4 0.. 0. untuk 1 bersifat tidak stabil karena bernilai

48 Kasus <1 Jelas Kasus 0 Jelas 0 dan 4 <. < 0 dan Jadi, titik ekuilibrium untuk ekuilibrium yang stabil, karena Kasus < 0 Jelas dan ekuilibrium <. 0 0 < < 0. < 1 dengan dan 0 merupakan titik bernilai negatif. ℂ. < 0 dan < 0. mempunyai bagian real negatif, sehingga mengakibatkan titik stabil. 4.5 Simulasi Numerik Untuk lebih memperjelas mengenai pembahasan model dilakukan simulasi untuk contoh penerapan di atas. Pada bagian ini akan dibahas tentang simulasi model predator-prey dua spesies dengan fungsi respon Holling tipe III. Program

49 yang digunakan dalam simulasi model predator prey ini adalah program Maple 12. Untuk menentukan solusinya dipilih nilai-nilai parameter yang diberikan sebagai berikut. Tabel 4.1 Daftar titik ekuilibrium, nilai parameter, dan sifat trayektori No Titik Syarat 1. 2. 3. 4. 5. 6. b m q 0,8 2 2 0,5 0,1 Tidak stabil 0,8 2 2 0,5 0,1 Stabil 0,9 0,9 0,4 0,5 0,1 Tidak stabil 0,8 1,5 1,3 0,5 0,1 Tidak stabil + 0,8 1,2 0,7 0,5 0,1 Stabil + 0.8 1.5 0.3 0,5 0,1 Stabil + + < Sifat a + + + + trayektori 1 <1 0 <1 <0

50 Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik 0,0 dapat ditunjukkan pada gambar 4.1 Gambar 4.1 Trayektori untuk titik ekuilibrium Trayektori tersebut menggunakan parameter dan 0.8, 2, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 1 2 1 Titik ekuilibrium 0.1. 4.25 0,0 dalam kondisi apapun selalu merupakan titik pelana saddle point. Hal ini mengakibatkan titik ekuilibrium tidak stabil karena semua trayektori menjahui titik menunjukkan bahwa titik ekuilibrium + 2, 0.6 0 0, 0 0. < 0,0 0,0 bersifat 0,0. Gambar 4.1 juga 1,0 dengan syarat + dan merupakan node point. Hal ini disebabkan karena semua trayektori

51 menuju titik 1,0 sehingga titik 1,0 bersifat stabil. Jadi pada titik ekuilibrium 1,0 terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik syarat + dan + dapat dilihat pada gambar 4.2. Gambar 4.2 Trayektori untuk titik ekuilibrium, + dan +, serta titik +, < 1, 0 dan 0. Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan 1,0 dengan 0.9, dengan dengan 0.9, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 1 2 1.. 0.6. 0.4,. 4.26 0 0, 0 0. Pada kondisi ini, titik ekuilibrium 1,0 merupakan saddle point, karena semua trayektori keluar dari titik 1,0 yang berarti titik ekuilibrium 1,0 tidak

52 stabil. Jadi pada kondisi ini, tidak terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Gambar 4.2 juga memenuhi trayektori untuk titik, < 1, 0 dan 0.9, 0.4, 0 yang menunjukkan bahwa titik ekuilibrium merupakan spiral stabil. Titik 0.9, dengan syarat + diperoleh dengan mensubstitusikan parameter 0.1, ke titik,, sehingga diperoleh, 0.5656854248, 0.3295206030 0.57,0.33. Jadi pada kondisi ini, titik ekuilibrium terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik syarat +, 1 dan dengan 0 dapat dilihat pada gambar 4.3. Gambar 4.3. Trayektori untuk titik ekuilibrium +, 1 dan 0 dengan syarat

53 Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan 0.8, 1.5, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 1 2 1... 1.3,. 4.27 0.6 0 0, 0 0. Pada kondisi ini, titik ekuilibrium 1.061445555, 0.222138610 1.06, 0.22 tidak memenuhi syarat 0 0. Hal ini mengakibatkan titik bukan merupakan solusi. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, dan 0 dapat dilihat pada gambar 4.4 Gambar 4.4 Trayektori untuk titik ekuilibrium < 1, dan 0 Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan dengan 0.8, 1.2, +, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 0.7,

54 1 2 1... 4.28 0.6. 0 0, 0 0. Titik diperoleh dengan mensubstitusikan parameter-parameter tersebut ke titik,, sehingga 0.7, 0.525. Pada kondisi ini, titik ekuilibrium karena semua trayektori menuju ke titik merupakan titik spiral, yang berarti titik ekuilibrium stabil. Jadi pada kondisi ini, terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik ekuilibrium dengan syarat < 0 dapat dilihat pada gambar 4.5 +, < 1, Gambar 4.5 Trayektori untuk titik ekuilibrium < 1, 0 dan < 0 dengan 0 +, dan

55 Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan 0.8, 1.5, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 1 2 1... 4.29 0.6. 0.3, dengan 0 0 dan 0 0. Titik ke titik diperoleh dengan mensubstitusikan parameter-parameter tersebut,, sehingga diperoleh 0.244948974, 0.629923461 0.25, 0.63. Pada kondisi ini, titik ekuilibrium merupakan titik center, karena semua trayektori menuju ke titik yang berarti titik ekuilibrium jumlah spesies predator dan prey. stabil. Jadi pada kondisi ini, terjadi kestabilan

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1 Model matematika untuk persaingan predator-prey dua spesies dengan suatu batas + adalah 1 dan. 2 Titik ekulibrium yang diperoleh dari model predator-prey dengan suatu nilai parameter adalah sebagai berikut: a Titik Ekuilibrium 0,0 Pada saat titik ekuilibrium 0,0 akan memberikan saddle point titik pelana yang bersifat tidak stabil. b Titik Ekuilibrium 1,0 Pada saat titik ekuilibrium 1,0 dengan < + memberikan node point titik simpul yang bersifat stabil. Sedangkan pada titik ekuilibrium 1,0 dengan + memberikan saddle point titik pelana yang menyebabkan trayektori tidak stabil. 56

57 c Titik Ekuilibrium, Didefinisikan, 4, 1 + 2 + 2 2 1 1 + 1, dan. Titik ekuilibrium untuk 1 bersifat tidak stabil. Titik ekuilibrium untuk < 1 dengan 0 bersifat stabil. Begitu pula untuk titik ekuilibrium dengan < 1 dan < 0 juga memberikan sifat stabil. 3 Hasil simulasi numerik menunjukan kestabilan yang sama dengan hasil analisa pada titik,, dan. 5.2 Saran Berkaitan dengan hasil-hasil penelitian, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu sebagai berikut: 1 Penelitian ini mengkaji masalah persaingan predator-prey dua spesies. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut untuk masalah lebih dari dua spesies.

58 2 Untuk menerangkan lebih jelas tentang model persaingan dua spesies perlu disajikan grafik-grafik solusi dari masalah tersebut dan intrepretasi secara mendalam dari grafik-grafik tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Altwegg, R. 2006. Functional Response and Prey Defence Level in an Experimental Predator Prey System. 8: 115 128. Anton, H. 1987. Aljabar Linear Elementer. Jakarta: Erlangga. Boyce, W.E. & DiPrima, R.C. 2000. Elementary Differential Equations and Boundary Value Problems. New York: Department of Mathematical Sciences Rensselaer Polytechnic Institute. Du, N. 2007. Dynamics of Predator-Prey Population with Modified Leslie-Gower and Holling-Type II Schemes. Acta Mathematica Vietnamica, 321: 99-111. Haberman, R. 1977. Mathematical Models, Mechanical Vibration, Population Dinamic, and Traffic Flow, An Introduction to Applied Mathematic. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Hunsicker, M. E., L. Ciannelli., K. M. Bailey., J.A. Buckel., J. W. White., J. S. Link., T. E. Essington., S. Gaichas., T. W. Anderson., R. D. Brodeur., K. S. Chan., K. Chen., G. Englund., K. T. Frank., V. Freitas., M. A. Hixon., T. Hurst., D. W. Jhonson., J. F. Kitchell., D. Reese., G. A. Rose., H. Sjodin., W. J. Sydeman., H. W. V. D Veer., K. Vollset., & S. Zador. 2011. Functional Responses and Scaling in Predator-Prey Interactions of Marine Fishes: Contemporary Issues and Emerging Concepts. Ecology Letters. Liu, X. & Chen. 2003. Complex Dynamics of Holling Type II Lotka-Volterra Predator-Prey System with Impulsive Perturbations on the Predator. Chaos, Solutions and Fractals, 16: 311-320. Ndam, J.N. & T.G. Kassem. 2009. A Mathematical Model for The Dynamics of Predator-Prey Interactions in A Three-Trophic Level Food Web. Continental J. Applied Sciences, 4: 32 43. Nurhamiyawan, E. N. L., Prihandono, & Helmi. 2013. Analisis Dinamika Model Kompetisi Dua Populasi yang Hidup Bersama di Titik Kesetimbangan Tidak Terdefinisi. Bimaster, 23:197-204. Olsder, G. J. 1994. Mathematic System Theory. The Netherlands: Delftse Uitgevers Maatscappij. Perko, L. 1991. Differential Equation and Dynamical System. New York: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 59

60 Purnamasari, D., Faisal., & Noor, A. J. 2009. Kestabilan Sistem Predator-Prey Leslie. Jurnal Matematika Murni dan Terapan, 32:51-59. Riberu, P. 2002. Pembelajaran Ekologi. Jurnal Pendidikan Penabur, 1: 125-132. Robinson, J. C. 2004. An Introductiont: Ordinary Differential Equation. Cambridge: University Press Cambridge. Ruan, S. 2009. On Nonlinear Dynamics of Predator-Prey Models with Discrete Delay. Math. Model Nat. Phenom, 4:140-188. Ruan, S. & D. Xiao. 2001. Global Analysis in a Predator-Prey System with Nonmonotonic Functional Response. SIAM J Appl Math, 614:1445 1472. Roat, M. 2012. Bifurkasi Hopf pada Sistem Predator Prey dengan Fungsi Respon Tipe II. Journal Universitas Negeri Yogyakarta, 33:1-2. Skalski, G. T. & J. F. Gilliam. 2001. Functional Responses with Predator Interference: Viable Alternatives to The Holling Type II Model. Ecology, 8211: 3083 3092. Tian, X. & R. Xu. 2011. Global Dynamics Of A Predator Prey System with Holling Type II Functional Response. Modelling and Control, 16 : 242 253. Tsai, C. H. & H. C. Pao. 2004. Global Stability for the Leslie-Gower Predator- Prey System with Time-Delay and Holling s Type Functional Response. Tunghai Science, 6: 43-72. Timuneno, Henry M., R. H. Utomo., dan Widowati. 2008. Model Pertumbuhan Logistik dengan Waktu Tunda. Jurnal Matematika, 111:43-51. Waluya, St. B. 2006. Diferensial Equation. Graha Ilmu: Yogyakarta. Wiggins, S. 2003. Introduction to Applied Nonlinear Dynamical System and Chaos. New York: Springer-Verlag. Xue, Y. & X. Duan. 2011. The Dynamic Complexity of a Holling Type-IV Predator-Prey System with Stage Structure and Double Delays. Hindawi Publishing Corporation. 28 Februari. Hlm. 2.

LAMPIRAN 61

Lampiran 1 Hasil simulasi model dengan menggunakan maple 12 1. Analisis dan Potret Fase Titik dengan ekuilibrium 0,0 dan 1,0 dengan + dan + 62

63 2. Analisis dan potret fase titik ekuilibrium, dengan + dan +, serta titik dengan +, < 1, 0 dan 0

64

65 3. Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan syarat +, 1 dan 0

66

67 4. Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, dan 0

68

69 5. Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, 0 dan < 0

70

71