BAB III DATA KOMPUTASI

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM BILANGAN DAN SANDI

BAB VI SISTEM BILANGAN

RANGKAIAN ARITMETIKA 2

ASCII (American Standart Code for Information Intercharge)

CODING. Komunikasi Data

BAB IV SISTEM SANDI (CODING)

BAB IV SISTEM SANDI (CODING)

SISTEM BILANGAN Desimal, Biner, Oktal dan Heksadesimal

DATA KOMPUTASI & SISTEM BILANGAN

FPGA DAN VHDL TEORI, ANTARMUKA DAN APLIKASI

Penggunaan Sistem Bilangan dan Pengkodean -3-

RANGKAIAN ARITMETIKA 2

II. REPRESENTASI DATA

RANGKAIAN ARITMETIKA

Data Link Layer BAB 3

Pengantar Teknologi Informasi Dan Komunikasi

2.0 PERWAKILAN DATA PROGRAM LATIHAN GURU ASAS SAINS KOMPUTER TINGKATAN 1 BAHAGIAN PENDIDIKAN GURU KEMENTERIAN PENDIDIKAN MALAYSIA.

SISTEM BILANGAN 1.1 Sistem Bilangan Puluhan

Brigida Arie Minartiningtyas, M.Kom

Standard IEEE 754 & Big Endian Litle Endian

PRAKTEK KOMUNIKASI DATA PENGKODEAN KARAKTER

KOMPETENSI DASAR : MATERI POKOK : Sistem Bilangan URAIAN MATERI 1. Representasi Data

PENGKODEAN DATA. Komunikasi Data

BAB V b SISTEM PENGOLAHAN DATA KOMPUTER (Representasi Data) "Pengantar Teknologi Informasi" 1

PERTEMUAN MINGGU KE-3 REPRESENTASI DATA

DCH1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer

Type Data terdiri dari : - Data Tunggal : Integer, Real, Boolean dan Karakter. - Data Majemuk : String

MENGENAL DAN MEMPELAJARI BARCODE (Bagian I)

2.1 Desimal. Contoh: Bilangan 357.

Topik. Pengodean Data Teknik Pengodean

BAB II SISTEM BILANGAN DAN KODE BILANGAN

SISTEM BILANGAN, OPERASI ARITMATIKA DAN PENGKODEAN

Komputer menggunakan dan memanipulasi data untuk perhitungan aritmatik, pemrosesan data dan operasi logik. Data adalah bilangan biner dan informasi

BAB II ARITMATIKA DAN PENGKODEAN

KODE ASCII 7 BIT. American Standard Code for Information Iinterchange

Representasi Bilangan Digital (Bagian 2)

PERTEMUAN : 2 SISTEM BILANGAN

Sistem Digital (410206)

MODUL 2 SISTEM PENGKODEAN BILANGAN

Representasi Bilangan dan Operasi Aritmatika

BAB 1 PENGANTAR SISTEM KOMPUTER

MODUL 1 SISTEM BILANGAN

Struktur dan Organisasi Data 2 STRUKTUR DATA

Pokok Pokok Bahasan :

MAKALAH SISTEM BILANGAN BINER DAN SANDI (KODE) ELEKTRONIKA DIGITAL. (Untuk memenuhi tugas mata kuliah Elektronika Digital)

PENGANTAR KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI 1A

DASAR KOMPUTER REPRESENTASI DATA

BAB 1 TIPE DATA. Selain itu terdapat operasi MOD (Modulo) adalah sisa dari pembagian Contoh : 27 MOD 4 = 3

BAB 1 TIPE DATA. Struktur Data 1. Sederhana : Array dan Record 2. Majemuk terdiri atas Linier Non Linier

BAB 4 PENGENALAN BAHASA C

PENGANTAR KOMPUTER & SOFTWARE I REPRESENTASI DATA

Dr. novrina

A. SISTEM DESIMAL DAN BINER

Representasi Data Digital (Bagian 1)

LAYER FISIK TERKAIT LAYER FISIK: 1. SINKRONISASI 2. PHYSICAL ENCODING : NRZI, NRZ, MANCHESTER, AMI 3. GANGGUAN LAYER FISIK

SISTEM SANDI (KODE) Suatu rangkaian pengubah pesan bermakna (misal desimal) menjadi sandi tertentu (misal biner) disebut enkoder (penyandi).

Representasi Bilangan dan Operasi Aritmatika

BAB IV SISTEM BILANGAN DAN KODE-KODE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Proses enkripsi dimulai dengan mengubah file input gambar RGB menjadi

PENGANTAR KOMPUTER & SOFTWARE I REPRESENTASI DATA

REPRESENTASI dan ALUR PEMROSESAN DATA

Representasi Data. M. Subchan M

Bilangan Desimal bilangan yang memiliki basis 10. Bilangan tersebut adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 Bilangan Biner bilanganyang memilikibasis

Bab 10 Penyajian Data Integer dan Bilangan Floating Point 10.1 Pendahuluan

Sistem Bilangan dan Pengkodean -2-

Sistem Digital. Sistem Angka dan konversinya

Quis. 2. Sistem bilangan yang menggunakan basis 8 adalah: A. Biner D. Hexadesimal B. Oktal E. Sexagesimal C. Desimal

BAB V PERALATAN INPUT-OUTPUT

PERTEMUAN II Tipe Data, Variabel, Konstanta, Operator

Pengertian Data datum

PENGANTAR TEKNOLOGI INFORMASI

Arsitektur dan Organisasi Komputer

TEKNIK DIGITAL KODE BILANGAN

TI [2 SKS] OTOMASI INDUSTRI MINGGU KE-4 LOGIKA OTOMASI. disusun oleh: Mokh. Suef Yudha Prasetyawan Maria Anityasari. Jurusan Teknik Industri 1

KONVERSI BILANGAN BINNER, OKTAL, DESIMAL & HEXADESIMAL

REPRESENTASI DATA DATA REPRESENTATION

MODUL TEKNIK DIGITAL MODUL I SISTEM BILANGAN

Cara pertama adalah pada saat deklarasi variabel ditambahkan ke- yword const sebelum nama tipe data seperti

REPRESENTASI DATA. Arsitektur Komputer

ARSITEKTUR SISTEM KOMPUTER. Wayan Suparta, PhD Maret 2018

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

DCH1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer

SISTEM BILANGAN DIGITAL

SISTEM BILANGAN REPRESENTASI DATA

MODUL PRAKTIKUM ALGORITMA DAN STRUKTUR DATA PERTEMUAN 1

ELEMEN DASAR C++ C++ mempunyai cara untuk menyatakan karakter-karakter yang tidak mempunyai kode tombol (seperti karakter tombol) misalnya \n.

Bahasa C-M6 By Jamilah, Skom 1

Dasar Komputer & Pemrograman 2A

Sistem Bilangan. Rudi Susanto

PSEUDOCODE TIPE DATA, VARIABEL, DAN OPERATOR

Basis Bilangan. Disusun oleh: Tim dosen SLD Diedit ulang oleh: Endro Ariyanto. Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom

PENGERTIAN VARIABEL, KONSTANTA DAN TIPE DATA

3. Elemen Dasar C++ S. Indriani S. L., M.T L.,

MAKALAH. Mata Kuliah. Arsitektur dan Organisasi Komputer

Catatan Kuliah PAM 282 STRUKTUR DATA

SISTEM BILANGAN DAN FORMAT DATA

Algoritma & Pemrograman #3

DIKTAT RANGKAIAN DIGITAL

MODUL PEMOGRAMAN WEB II STMIK IM BANDUNG MODUL PEMOGRAMAN WEB II. Oleh: CHALIFA CHAZAR. Chalifa Chazar edu.script.id

Transkripsi:

1 BAB III DATA KOMPUTASI 3.1. Tipe Data Dua permasalahan penting dalam data komputasi adalah tipe data dan penyimpanannya dalam memori komputer. Setiap bahasa pemrograman mempunyai cara yang berbeda-beda dalam hal penggolongan tipe data dan penggunaan memori untuk masing-masing tipe data. Beberapa tipe data dasar yang digunakan dalam sistem komputer adalah integer, real, karakter, dan logika (boolean). Dalam memori komputer, setiap data akan disimpan dalam bentuk kode biner. 3.1.1. Data Integer Data tipe integer merupakan data untuk angka bulat atau data angka yang tidak mempunyai titik desimal. Data integer akan disimpan dengan ukuran 2 byte dalam memori atau 16 bit (1 byte = 8 bit). Untuk bilangan integer bertanda (signed integer) maka cacah data yang dapat disimpan sebanyak 2 15 macam. Dan salah satu bit, yaitu bit paling awal pada 16 bit tersebut digunakan untuk menyimpan tanda (positif atau negatif). Sedangkan untuk bilangan integer tak bertanda (unsigned integer) cacah data yang dapat disimpan sebanyak 2 16 macam. Contoh : Bilangan 10 dalam sistem bilangan desimal, jika disimpan dalam memori komputer harus dikonversi ke dalam bentuk biner, yaitu 0000 0000 0000 1010. Bilangan 5 dalam sistem bilangan desimal disimpan sebagai 0000 0000 0101. Sedangkan bilangan 15 akan disimpan dengan kode 0000 0000 0000 1111. 3.1.2. Data Real Data tipe real merupakan data angka pecahan atau mempunyai titik desimal. Dalam sistem komputer, bilangan real akan disimpan dalam ruang memori sebesar 4 byte atau 32 bit. Data real disimpan dalam format scientific number, yaitu: M x b E Keterangan, M : mantisa bulat b : basis bilangan E : eksponen Basis sistem komputer adalah biner (karena mesin komputer hanya mengenal kondisi biner), sehingga basis bilangan biner tersebut tidak perlu disimpan secara khusus. Format penyimpanan bilangan real dikenal sebagai format titik mengambang (floating point). Contoh : Bilangan desimal 12.5 dalam format scientific number dapat dituliskan sebagai 0.125x10 2. Di dalam memori komputer, bilangan tersebut akan disimpan dengan kode biner sebagai berikut : 1111 1011 1111 1111 1111 1110 1010 0101

2 Byte pertama menunjukkan eksponen dan 3 byte berikutnya menunjukkan mantisa. 3.1.3. Data karakter Data tipe karakter merupakan data berupa huruf atau kosong (null). Dalam memori komputer data karakter disimpan dalam 1 byte atau 8 bit. Dengan demikian macam data yang dapat disimpan adalah sebanyak 2 8 = 256 macam. Dengan cacah macam data sebanyak itu, maka semua macam karakter yang kita kenal selama ini (A.. Z, a.. z) termasuk karakter simbol khusus ($, *, &, ^, (, ), [, ], {, }, @,!,?, %, dll) akan dapat dikodekan dan disimpan menggunakan kombinasi 8 bit 0 dan 1, hingga seluruhnya berjumlah 256 karakter. 3.1.4. Data logika (boolean) Tipe data logika dikenal pula sebagai data tipe boolean. Tipe data logik hanya memiliki 2 macam data yaitu benar (true) dan salah (false). Data logik disimpan dalam 1 byte, yaitu 0000 0000 jika bernilai salah dan 0000 0001 jika bernilai benar. 3.1.5. Data Larik (Array) Larik merupakan salah satu tipe data terstruktur (structured data) yang mampu menampung sekumpulan data tipe sejenis dalam suatu variabel. Larik dapat tersusun atas sekumpulan rinci data integer, real, atau karakter. Masing-masing komponen penyusun larik / rinci data dalam larik disebut sebagai data elemen. Data tipe larik banyak dimanfaatkan dalam program aplikasi yang memanipulasi sekumpulan data. Dalam tipe data ini, dimungkinkan untuk melakukan operasi sebagaimana pada data tipe lainnya. Untuk melakukan operasi tersebut, setiap elemen larik harus diidentifikasi berdasarkan suatu indeks. Terdapat banyak kemungkinan variasi cacah indeks yang dapat digunakan pada larik. Banyaknya indeks tersebut tak pernah dibatasi. Satu-satunya batasan yang ada adalah kapasitas memori utama komputer yang digunakan. Pada dasarnya, data bertipe larik dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu larik dimensi satu dan larik dimensi banyak. Cara penamaan data tipe larik disesuaikan dengan cacah indeks dan sering dikenal sebagai vector. Berikut adalah suatu contoh larik data berdimensi satu yang tersusun atas 6 elemen data yang dinotasikan dengan simbol berupa karakter "A", yaitu : A 1, A 2, A 3, A 4, A 5, A 6 Larik dimensi banyak mempunyai cacah indeks minimal 2. Yang termasuk larik dimensi banyak antara lain adalah larik dimensi dua, larik dimensi tiga, larik dimensi empat dan lainnya. Cacah indeks dalam larik tidak pernah dibatasi kecuali oleh kapasitas / kemampuan memori utama. Khusus untuk larik dimensi dua, dalam matematika lebih dikenal dengan sebutan matrik. Berikut adalah suatu contoh larik data yang tersusun atas 10 elemen data yang dinotasikan dengan simbol berupa karakter "B", yaitu : BB1.1, B 1.2, B 1.3, B 1.4, B 1.5, B 2.1, B 2.2, B 2.3, B 2.4, B 2.5

3 Sebagaimana tipe data yang lainnya, data bertipe larik harus dideklarasikan terlebih dahulu pada awal program aplikasi. Dengan deklarasi tersebut, berarti kita memberikan sejumlah informasi penting kepada compiler tentang tipe data elemenelemen larik, batas bawah dan batas atas indeks elemen-elemen larik, dan cacah maksimal elemen dalam larik. Hal ini diperlukan dalam perhitungan dan operasioperasi manipulasi data pada langkah-langkah berikutnya dalam program aplikasi yang ditulis. 3.2. Sistem Bilangan Sistem bilangan digunakan untuk mewakili data angka/numeric dalam sistem komputer, baik integer maupun real. Sistem bilangan yang digunakan dalam sistem komputer meliputi sistem bilangan biner, oktal, desimal, dan heksadesimal. Sistem bilangan biner digunakan oleh bahasa mesin, sedangkan sistem bilangan oktal, desimal, dan heksadesimal digunakan dalam bahasa rakitan (Assembler) dan dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi. 3.2.1. Sistem Bilangan Biner Sistem bilangan biner menggunakan basis 2, yaitu menggunakan dua macam simbol bilangan, yaitu 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai setiap digit bilangan biner dapat dihitung dengan urutan nilai posisi 2 0, 2 1, 2 2, 2 3,, dst yang dihitung mulai dari digit paling kanan. Diketahui bilangan biner : 010101 Nilai bilangan biner tersebut dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 0 1 0 1 0 0*2 0 = 0 1*2 1 = 2 0*2 2 = 0 1*2 3 = 8 0*2 4 = 0 + 010102 = 10 desimal Jadi bilangan biner 010101 mempunyai nilai 10 (dalam sistem bilangan desimal). Tabel 3.1 merupakan beberapa contoh bilangan desimal dan nilai binernya. Tabel 3.1: Contoh bilangan desimal dan nilai binernya Desimal Biner Keterangan 0 0 0=0*2 0 1 1 1=1*2 1 2 10 2=1*2 1 +0*2 0 3 11 3=1*2 1 +1*2 0 4 100 4=1*2 2 +0*2 1 +0*2 0

4 5 101 5=1*2 2 +0*2 1 +1*2 0 6 110 6=1*2 2 +1*2 1 +0*2 0 7 111 7=1*2 2 +1*2 1 +1*2 0 8 1000 8=1*2 3 +0*2 2 +0*2 1 +0*2 0 25 11001 25=1*2 4 +1*2 3 +0*2 2 +0*2 1 +1*2 0 Pada dasarnya, untuk melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, serta pembagian dalam sistem bilangan biner, oktal, dan heksadesimal, dilakukan dengan cara yang sama dengan operasi pada bilangan desimal. Perbedaaanya adalah hanya terletak pada basis bilangan yang digunakan. Dasar penjumlahan dalam sistem biner adalah: 0 + 0 = 0 1 + 0 = 1 0 + 1 = 1 1 + 1 = 0, dengan menyimpan 1, untuk digit sebelah kirinya Dasar pengurangan dalam sistem biner adalah: 0-0 = 0 1-0 = 1 0-1 = 1, dengan meminjam 1, dari digit sebelah kirinya 1-1 = 0 Dasar perkalian dalam sistem biner adalah: 0 * 0 = 0 1 * 0 = 0 0 * 1 = 0 1 * 1 = 1 Dasar pembagian dalam sistem biner adalah: 0 : 0 = 0 1 : 1 = 1 Penjumlahan bilangan biner 1100 dan 1010, dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 1100 => 1*2 3 +1*2 2 +0*2 1 +0*2 0 = 8+4 = 12 (desimal) 1010 + => 1*2 3 +0*2 2 +1*2 1 +0*2 0 = 8+2 = 10 (desimal) 10110 => 1*2 4 +0*2 3 +1*2 2 +1*2 1 +0*2 0 = 16+4+2 = 22 (desimal) Jadi hasil penjumlahan bilangan biner 1100 dan 1010 adalah 10110. Secara manual, operasi pengurangan bilangan biner 1100 dan 1010, dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 1100 => 1*2 3 +1*2 2 +0*2 1 +0*2 0 = 8+4 = 12 (desimal) 1010 - => 1*2 3 +0*2 2 +1*2 1 +0*2 0 = 8+2 = 10 (desimal) 0010 => 0*2 3 +0*2 2 +1*2 1 +0*2 0 = 2 (desimal) Tetapi di dalam mesin komputer, operasi pengurangan tersebut dilaksanakan dengan menggunakan metode komplemen 1(1s complement/nines complement) dan

5 komplemen 2 (2s complement twoes complement). Penggunaan metode komplemen pada dasarnya adalah mengubah operasi pengurangan menjadi operasi penjumlahan dengan bilangan negatif. Operasi pengurangan dengan metode komplemen 1 dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Tetapkan sebuah bilangan biner yang keseluruhannya memiliki bit 1 dengan cacah digit yang sama dengan bilangan biner yang akan digunakan untuk mengurangi 2. Kurangkan hasil langkah pertama dengan bilangan biner yang digunakan untuk mengurangi 3. Kurangkan bilangan biner yang akan dikurangi dengan hasil langkah kedua 4. Jumlahkan bilangan biner yang akan dikurangi dengan hasil langkah ketiga 5. Pindahkan bit 1 paling kiri untuk ditambahkan pada bit paling kanan Operasi pengurangan bilangan biner 1100 dikurangi 1010, dengan metode komplemen 1 dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: Langkah 1: 1111 Langkah 2: 1010 0101 Langkah 3: 1100 0101 0011 Langkah 4: 1100 0101 + 10001 Langkah 5: 0001. 1+ 0010 => 0*2 3 +0*2 2 +1*2 1 +0*2 0 = 2 (desimal) Operasi pengurangan dengan metode komplemen 2 dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Tetapkan sebuah bilangan biner yang keseluruhannya memiliki bit 1 dengan cacah digit yang sama dengan bilangan biner yang akan digunakan untuk mengurangi 2. Kurangkan hasil langkah pertama dengan bilangan biner yang digunakan untuk mengurangi 3. Jumlahkan hasil langkah kedua dengan bit 1 pada bit paling kanan 4. Jumlahkan bilangan biner yang akan dikurangi dengan hasil langkah ketiga 5. Hapus bit 1 paling kiri Operasi pengurangan bilangan biner 1100 dikurangi 1010, dengan metode komplemen 2 dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: Langkah 1: 1111 Langkah 2: 1010

6 0101 Langkah 3: 0101. 1+ 0110 Langkah 4: 1100 0110 + 10010 Langkah 5: 0010 => 0*2 3 +0*2 2 +1*2 1 +0*2 0 = 2 Secara manual, perkalian bilangan biner 1100 dan 0010, dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 1100. 10 * 0000 => hasil perkalian 1100*0 = 0000 1100 + => hasil perkalian 1100*1 = 1100 11000 => 1*2 4 +1*2 3 +0*2 2 +0*2 1 +0*2 0 = 24 (desimal) Jadi hasil perkalian bilangan biner 1100 dan 0010 adalah 11000. Tetapi di dalam mesin komputer, operasi perkalian tersebut akan dilaksanakan dengan cara pengulangan penjumlahan sebanyak nilai pengalinya. Perkalian bilangan biner 1100 dengan 0010, akan dilakukan dengan cara menjumlahkan bilangan 1100 sebanyak 2 kali (=0010) atau menjumlahkan bilangan 1100 dengan 1100, yaitu sebagai berikut: 1100 1100 + 11000 Jadi hasil perkalian bilangan biner 1100 dan 0010 adalah 11000. Operasi pembagian bilangan biner 100 dibagi 10, dengan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 10 10 100 10 0 0 0 Jadi hasil pembagian bilangan biner 100 dibagi 10 adalah 10 (=2 desimal). 3.2.2. Sistem Bilangan Oktal Sistem bilangan biner menggunakan basis 8, yaitu menggunakan delapan macam simbol bilangan, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Nilai setiap digit bilangan oktal dapat

7 dihitung dengan urutan nilai posisi 8 0, 8 1, 8 2, 8 3,, dst yang dihitung mulai dari digit paling kanan. Diketahui bilangan oktal : 20 Nilai bilangan oktal tersebut dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 2 0 0*2 0 = 0 2*8 1 = 16 + 20 = 10 desimal 8 Jadi bilangan oktal 20 mempunyai nilai 16 (dalam sistem bilangan desimal). Tabel 3.2 merupakan beberapa contoh bilangan desimal dan nilai oktalnya. Operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dalam sistem bilangan oktal dilakukan dengan cara yang sama dengan sistem bilangan desimal. Perbedaannya adalah basis yang digunakan 8. Sistem bilangan oktal banyak digunakan dalam bahasa rakitan. Tabel 3.2: Contoh bilangan desimal dan nilai oktalnya Desimal Oktal Keterangan 0 0 0=0*8 0 1 1 1=1*8 0 2 2 2=2*8 0 3 3 3=3*8 0 4 4 4=4*8 0 5 5 5=5*8 0 6 6 6=6*8 0 7 7 7=7*8 0 8 10 8=1*8 1 +0*8 0 9 11 9=1*8 1 +1*8 0 25 31 25=3*8 1 +1*8 0 3.2.3. Sistem Bilangan Desimal Sistem bilangan desimal menggunakan basis 10, yaitu menggunakan sepuluh macam simbol bilangan, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Sistem bilangan desimal merupakan sistem bilangan yang telah kita gunakan dalam perhitungan sehari-hari 3.2.4. Sistem Bilangan Heksadesimal Sistem bilangan heksadesimal menggunakan basis 16, yaitu menggunakan enam macam simbol bilangan, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0, A, B, C, D, E, dan F. Nilai setiap digit bilangan heksadesimal dapat dihitung dengan urutan nilai posisi 16 0, 16 1, 16 2, 16 3,, dst yang dihitung mulai dari digit paling kanan.

8 Diketahui bilangan heksadesimal : 20 Nilai bilangan heksadesimal tersebut dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: 2 0 0*16 0 = 0 2*16 1 = 32 + 20 = 32 desimal 16 Jadi bilangan heksadesimal 20 mempunyai nilai 32 (dalam sistem bilangan desimal). Tabel 3.3 merupakan contoh bilangan desimal dan nilai heksadesimalnya. Tabel 3.3: Contoh bilangan desimal dan nilai heksadesimalnya Desimal Heksadesimal Keterangan 0 0 0=0*16 0 1 1 1=1*16 0 2 2 2=2*16 0 3 3 3=3*16 0 4 4 4=4*16 0 5 5 5=5*16 0 6 6 6=6*16 0 7 7 7=7*16 0 8 8 8=8*16 0 9 9 9=9*16 0 10 A 10=A*16 0 11 B 11=B*16 0 12 C 12=C*16 0 13 D 13=D*16 0 14 E 14=E*16 0 15 F 15=F*16 0 16 10 16=1*16 1 +0*16 0 17 11 17=1*16 1 +1*16 0 18 12 18=1*16 1 +2*16 0 19 13 19=1*16 1 +3*16 0 25 19 25=1*16 1 +9*16 0 Operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dalam sistem bilangan heksadesimal dilakukan dengan cara yang sama dengan sistem bilangan desimal. Perbedaannya adalah basis yang digunakan 16. 3.3. Character Set Dalam memori komputer, data karakter juga harus disimpan dalam kode biner. Kode biner yang digunakan untuk data karakter disebut character set. Character set yang digunakan meliputi kode BCD, SBCDIC, EBCDIC, ASCII-7 bit, dan ASCII-8 bit.

9 3.3.1. Kode BCD BCD adalah kependekan dari Binary Coded Decimal. Kode BCD digunakan pada mesin komputer generasi pertama dimana 1 byte dikodekan sebagai 4 bit. Kode BCD hanya digunakan untuk mengkodekan 10 kode digit desimal mulai 0 hingga 9. Kombinasi tersebut, sebenarnya memungkinkan digunakan untuk mengkodekan sebanyak 2 4 kode, tetapi hanya digunakan 10 macam saja. Tabel 3.4 menunjukkan kode BCD 4 bit dan nilai yang dikodekannya. Tabel 3.4: Kode BCD 4 bit dan nilai yang dikodekannya Kode BCD Nilai Desimal 0000 0 0001 1 0010 2 0011 3 0100 4 0101 5 0110 6 0111 7 1000 8 1001 9 3.3.2. Kode SBCDIC SBCDIC adalah kependekan dari Standard Binary Coded Decimal Interchange Code. Kode SBCDIC digunakan pada mesin komputer generasi kedua dimana 1 byte dikodekan sebagai 6 bit. Kode yang bisa disimpan dalam kode SBCDIC sebanyak 2 6 atau 64 macam, yaitu: 1. Kode 10 digit desimal mulai 0 hingga 9 2. Kode 26 karakter A hingga Z 3. Kode 28 karakter khusus terpilih Posisi bit dalam kode SBCDIC dari kiri ke kanan dikelompokkan sebagai berikut: 1. Dua bit pertama (bit 1 dan 2) disebut alpha bit position, terdiri: a. Satu bit pertama diberi nama bit A b. Satu bit kedua diberi nama bit B 2. Empat bit berikutnya (bit ke-3, 4, 5, 6) disebut numeric bit position, terdiri: a. Satu bit (bit ke-3) disebut bit 8 b. Satu bit (bit ke-4) disebut bit 4 c. Satu bit (bit ke-5) disebut bit 2 d. Satu bit (bit ke-6) disebut bit 1 Tabel 3.5 menunjukkan kode SBCDIC dan nilai yang dikodekannya. Tabel 3.5: Kode SBCDIC 6 bit dan nilai yang dikodekannya Kode SBCDIC Karakter yang Kode SBCDIC Karakter yang Alpha bit position dikodekan Numeric bit position AB8421 AB8421 dikodekan 001010 0 100001 J 000001 1 100010 K 000010 2 100011 L

10 000011 3 100100 M 000100 4 100101 N 000101 5 100110 O 000110 6 100111 P 000111 7 101000 Q 001000 8 101001 R 001001 9 010010 S 110001 A 010011 T 110010 B 010100 U 110011 C 010101 V 110100 D 010110 W 110101 E 010111 X 110110 F 011000 Y 110111 G 011001 Z 111000 H 111001 I 3.3.3. Kode EBCDIC EBCDIC (dibaca: eb-si-dik) adalah kependekan dari Extended Binary Coded Decimal Interchange Code. Kode SBCDIC digunakan pada mesin komputer generasi ketiga yang menggunakan kode 1 byte sebagai 8 bit, misal IBM S/360. Kode EBCDIC memungkinkan digunakan untuk menyimpan hingga sebanyak 2 8 atau 256 macam karakter, namun tidak seluruhnya digunakan. Karakter yang dikodekan dalam kode EBCDIC meliputi: 1. Kode 10 digit desimal mulai 0 hingga 9 2. Kode 26 karakter kapital (upper case) A hingga Z 3. Kode 18 karakter kecil (lower case) a hingga r 4. Kode 25 karakter khusus Posisi bit dalam kode EBCDIC dari kiri ke kanan dikelompokkan sebagai berikut: 1. Empat bit pertama (bit ke-1, 2, 3, 4) disebut zone bits atau high order bits 2. Empat bit berikutnya (bit ke-4, 5, 6, 7, 8) disebut numeric bit position atau low order bits Tabel 3.6 menunjukkan kode EBCDIC dan nilai yang dikodekannya. Posisi bit 5678 Tabel 3.6: Kode EBCDIC 8 bit dan nilai yang dikodekannya Posisi bit 1234 0100 0101 0110 0111 1000 1001 1010 1011 1100 1101 1110 1111 0000 Spasi --- 0 0001 / a j A J 1 0010 b k B K S 2 0010 c l C L T 3 0011 d m D M U 4 0100 e n E N V 5 0101 f o F O W 6 0111 g p G P X 7 1000 h q H Q Y 8

11 1001 i r I R Z 9 1010 C! : 1011. $, # 1100 < * % @ 1101 ( ) - 1110 + ; > = 1111 -? 3.3.4. Kode ASCII-7 Bit ASCII (dibaca: as-ki) adalah kependekan dari American Standard Code for Information Interchange atau American Standard Comittee on Information Interchange. Kode ASCII-7 bit digunakan pada mesin komputer generasi sekarang termasuk komputer mikro yang menggunakan kode 1 byte sebagai 7 bit. Kode ASCII standard 7 bit dikembangkan oleh ANSI (American National Standards Institute) memungkinkan digunakan untuk menyimpan hingga sebanyak 2 7 atau 128 macam karakter, digunakan 127 kode. Karakter yang dikodekan dalam kode ASCII 7 bit meliputi: 1. Kode 10 digit desimal mulai 0 hingga 9 2. Kode 26 karakter kapital (upper case) A hingga Z 3. Kode 26 karakter kecil (lower case) a hingga z 4. Kode 34 karakter kontrol 5. Kode 32 karakter khusus Kode ASCII 7 bit dikelompokkan menjadi 2, yaitu: 1. Control characters, merupakan karakter untuk kendali transmisi data, terdiri: a. Transmission control SOH : Start Of Heading STX : Start Of Text EOT : End Of Text ENQ : EnQuiry ACK : ACKnowledge DLE : Data Link Escape NAK : Negative AcKnowledge SYN : SYNchronous idle ETB : End of Transmission Block b. Format error BS : BackSpace HT : Horizontal Tabulation LF : Line Feed VT : Vertical Tabulation FF : Form Feed CR : Carriage Return c. Device control DC1 : Device Control 1 DC2 : Device Control 2 DC3 : Device Control 3 DC4 : Device Control 4 d. Information separator US : Unit Separator

12 RS : Record Separator GS : Group Separator FS : File Separator 2. Information characters, merupakan karakter yang mewakili data Tabel 3.7 menunjukkan kodeascii 7 bit dan nilai yang dikodekannya. Tabel 3.7: Kode ASCII 7 bit, nilai biner, dan nilai yang dikodekan Biner Desimal Karakter Tampak di layar Keterangan 0000000 0 NULL Null 0000001 1 SOH Start of heading 0000010 2 STX Start of text 0000011 3 ETX End of text 0000100 4 EOT End of text 0000101 5 ENQ Enquiry 0000110 6 ACK Acknowledge 0000111 7 BEL Bell 0001000 8 BS Backspace 0001001 9 HT Horizontal tabulation 0001010 10 LF Line feed 0001011 11 VT Vertical tabulation 0001100 12 FF Form feed 0001101 13 CR Carriage return 0001110 14 SO Shift out 0001111 15 SI Shift in 0010000 16 DLE Data link escape 0010001 17 DC1 Device control 1 0010010 18 DC2 Device control 2 0010011 19 DC3 Device control 3 0010100 20 DC4 Device control 4 0010101 21 NAK Negative acknowledge 0010110 22 SYN Synchronous idle 0010111 23 ETB End of transmission block 0011000 24 CAN Cancel 0011001 25 EM End of medium 0011010 26 SUB Substitute 0011011 27 ESC Escape 0011100 28 FS File separator 0011101 29 GS Group separator 0011110 30 RS Record separator 0011111 31 US Unit separator 0100000 32 SP Spasi Space 0100001 33!! Exlamation point 0100010 34 Quotation mark 0100011 35 # # Number sign 0100100 36 $ $ Dollar sign 0100101 37 % % Percent sign 0100110 38 & & Ampersand 0100111 39 apostrophe 0101000 40 ( ( Opening parenthesis

0101001 41 ) ) Closing parenthesis 0101010 42 * * Asterik 0101011 43 + + Plus 0101100 44,, Comma 0101101 45 - - Hypen (minus) 0101110 46.. Period (decimal) 0101111 47 / / Slant 0110000 48 0 0 Nol 0110001 49 1 1 Satu 0110010 50 2 2 Dua 0110011 51 3 3 Tiga 0110100 52 4 4 Empat 0110101 53 5 5 Lima 0110110 54 6 6 Enam 0110111 55 7 7 Tujuh 0111000 56 8 8 Delapan 0111001 57 9 9 Sembilan 0111010 58 : : Colon 0111011 59 ; ; Semicolon 0111100 60 < < Less than 0111101 61 = = Equal 0111110 62 > > Greater than 0111111 63?? Question mark 1000000 64 @ @ Commercial at 1000001 65 A A Uper case A 1000010 66 B B Uper case B 1000011 67 C C Uper case C 1000100 68 D D Uper case D 1000101 69 E E Uper case E 1000110 70 F F Uper case F 1000111 71 G G Uper case G 1001000 72 H H Uper case H 1001001 73 I I Uper case I 1001010 74 J J Uper case J 1001011 75 K K Uper case K 1001100 76 L L Uper case L 1001101 77 M M Uper case M 1001110 78 N N Uper case N 1001111 79 O O Uper case O 1010000 80 P P Uper case P 1010001 81 Q Q Uper case Q 1010010 82 R R Uper case R 1010011 83 S S Uper case S 1010100 84 T T Uper case T 1010101 85 U U Uper case U 1010110 86 V V Uper case V 1010111 87 W W Uper case W 1011000 88 X X Uper case X 13

14 1011001 89 Y Y Uper case Y 1011010 90 Z Z Uper case Z 1011011 91 [ [ Openning bracket 1011100 92 \ \ Reverse slant 1011101 93 ] ] Closing bracket 1011110 94 ^ ^ Circumflex, up arrow 1011111 95 UND _ Underscore 1100000 96 GRA Grave accent 1100001 97 LCA a Lower case a 1100010 98 LCB b Lower case b 1100011 99 LCC c Lower case c 1100100 100 LCD d Lower case d 1100101 101 LCE e Lower case e 1100110 102 LCF f Lower case f 1100111 103 LCG g Lower case g 1101000 104 LCH h Lower case h 1101001 105 LCI i Lower case I 1101010 106 LCJ j Lower case j 1101011 107 LCK k Lower case k 1101100 108 LCL l Lower case l 1101101 109 LCM m Lower case m 1101110 110 LCN n Lower case n 1101111 111 LCO o Lower case o 1110000 112 LCP p Lower case p 1110001 113 LCQ q Lower case q 1110010 114 LCR r Lower case r 1110011 115 LCR s Lower case s 1110100 116 LCT t Lower case t 1110101 117 LCU u Lower case u 1110110 118 LCV v Lower case v 1110111 119 LCW w Lower case w 1111000 120 LCX x Lower case x 1111011 121 LCY y Lower case y 1111010 122 LCZ z Lower case z 1111011 123 LBR { Left brace 1111100 124 VLN Vertical line 1111101 125 RBR } Right brace 1111110 126 TIL ~ Tilde 1111111 127 DEL Delete (rubout) 3.3.5. Kode ASCII-8 Bit ASCII 8 bit digunakan pada mesin komputer generasi sekarang yang menggunakan kode 1 byte sebagai 8 bit, misal IBM PC. Kode ASCII 8 bit memungkinkan untuk menyimpan karakter khusus yang belum terwakili dalam kode ASCII 7 bit, seperti,,,, dan lain-lain. Karakter yang dikodekan dalam kode ASCII 8 bit meliputi: 1. Kode 10 digit desimal mulai 0 hingga 9 2. Kode 26 karakter kapital (upper case) A hingga Z 3. Kode 26 karakter kecil (lower case) a hingga z

15 4. Kode 34 karakter kontrol 5. Kode 32 karakter khusus Tabel 3.8 menunjukkan kode ASCII 8 bit dan nilai yang dikodekannya. Tabel 3.8: Kode ASCII 8 bit, nilai biner, dan nilai yang dikodekannya Biner Desimal Karakter Tampak di layar Keterangan 0000000 0 NULL Null 0000001 1 SOH Start of heading 0000010 2 STX Start of text 0000011 3 ETX End of text 0000100 4 EOT End of text 0000101 5 ENQ Enquiry 0000110 6 ACK Acknowledge 0000111 7 BEL Bell 0001000 8 BS Backspace 0001001 9 HT Horizontal tabulation 0001010 10 LF Line feed 0001011 11 VT Vertical tabulation 0001100 12 FF Form feed 0001101 13 CR Carriage return 0001110 14 SO Shift out 0001111 15 SI Shift in 0010000 16 DLE Data link escape 0010001 17 DC1 Device control 1 0010010 18 DC2 Device control 2 0010011 19 DC3!! Device control 3 0010100 20 DC4 Device control 4 0010101 21 NAK Negative acknowledge 0010110 22 SYN - Synchronous idle 0010111 23 ETB End of transmission block 0011000 24 CAN Cancel 0011001 25 EM End of medium 0011010 26 SUB Substitute 0011011 27 ESC Escape 0011100 28 FS File separator 0011101 29 GS Group separator 0011110 30 RS Record separator 0011111 31 US Unit separator 0100000 32 SP Spasi Space 0100001 33!! Exlamation point 0100010 34 Quotation mark 0100011 35 # # Number sign 0100100 36 $ $ Dollar sign 0100101 37 % % Percent sign 0100110 38 & & Ampersand 0100111 39 apostrophe 0101000 40 ( ( Opening parenthesis 0101001 41 ) ) Closing parenthesis 0101010 42 * * Asterik

0101011 43 + + Plus 0101100 44,, Comma 0101101 45 - - Hypen (minus) 0101110 46.. Period (decimal) 0101111 47 / / Slant 0110000 48 0 0 Nol 0110001 49 1 1 Satu 0110010 50 2 2 Dua 0110011 51 3 3 Tiga 0110100 52 4 4 Empat 0110101 53 5 5 Lima 0110110 54 6 6 Enam 0110111 55 7 7 Tujuh 0111000 56 8 8 Delapan 0111001 57 9 9 Sembilan 0111010 58 : : Colon 0111011 59 ; ; Semicolon 0111100 60 < < Less than 0111101 61 = = Equal 0111110 62 > > Greater than 0111111 63?? Question mark 1000000 64 @ @ Commercial at 1000001 65 A A Uper case A 1000010 66 B B Uper case B 1000011 67 C C Uper case C 1000100 68 D D Uper case D 1000101 69 E E Uper case E 1000110 70 F F Uper case F 1000111 71 G G Uper case G 1001000 72 H H Uper case H 1001001 73 I I Uper case I 1001010 74 J J Uper case J 1001011 75 K K Uper case K 1001100 76 L L Uper case L 1001101 77 M M Uper case M 1001110 78 N N Uper case N 1001111 79 O O Uper case O 1010000 80 P P Uper case P 1010001 81 Q Q Uper case Q 1010010 82 R R Uper case R 1010011 83 S S Uper case S 1010100 84 T T Uper case T 1010101 85 U U Uper case U 1010110 86 V V Uper case V 1010111 87 W W Uper case W 1011000 88 X X Uper case X 1011001 89 Y Y Uper case Y 1011010 90 Z Z Uper case Z 16

1011011 91 [ [ Openning bracket 1011100 92 \ \ Reverse slant 1011101 93 ] ] Closing bracket 1011110 94 ^ ^ Circumflex, up arrow 1011111 95 UND _ Underscore 1100000 96 GRA Grave accent 1100001 97 LCA a Lower case a 1100010 98 LCB b Lower case b 1100011 99 LCC c Lower case c 1100100 100 LCD d Lower case d 1100101 101 LCE e Lower case e 1100110 102 LCF f Lower case f 1100111 103 LCG g Lower case g 1101000 104 LCH h Lower case h 1101001 105 LCI i Lower case I 1101010 106 LCJ j Lower case j 1101011 107 LCK k Lower case k 1101100 108 LCL l Lower case l 1101101 109 LCM m Lower case m 1101110 110 LCN n Lower case n 1101111 111 LCO o Lower case o 1110000 112 LCP p Lower case p 1110001 113 LCQ q Lower case q 1110010 114 LCR r Lower case r 1110011 115 LCR s Lower case s 1110100 116 LCT t Lower case t 1110101 117 LCU u Lower case u 1110110 118 LCV v Lower case v 1110111 119 LCW w Lower case w 1111000 120 LCX x Lower case x 1111011 121 LCY y Lower case y 1111010 122 LCZ z Lower case z 1111011 123 LBR { Left brace 1111100 124 VLN Vertical line 1111101 125 RBR } Right brace 1111110 126 TIL ~ Tilde 1111111 127 DEL Delete (rubout) 17