Oleh : Hissyam I

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Oleh : Hissyam I"

Transkripsi

1 PERENCANAANN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLETT DAN RESTO 2 LANTAI Oleh : Hissyam I D3 TEKNIK SIPIL GEDUNG FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITASS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

2 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesatnya perkembangan dunia teknik sipil menuntut bangsa Indonesia untuk dapat menghadapi segala kemajuan dan tantangan. Hal itu dapat terpenuhi apabila sumber daya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang tinggi, Karena pendidikan merupakan sarana utama bagi kita untuk semakin siap menghadapi perkembangan ini. Dalam hal ini bangsa Indonesia telah menyediakan berbagai sarana guna memenuhi sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga Program D III Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret sebagai salah satu lembaga pendidikan dalam merealisasikan hal tersebut memberikan Tugas Akhir sebuah perencanaan gedung bertingkat dengan maksud agar dapat menghasilkan tenaga yang bersumber daya dan mampu bersaing dalam dunia kerja Maksud dan Tujuan Dalam menghadapi pesatnya perkembangan jaman yang semakin modern dan berteknologi, serta semakin derasnya arus globalisasi saat ini, sangat diperlukan seorang teknisi yang berkualitas. Khususnya dalam ini adalah teknik sipil, sangat diperlukan teknisi-teknisi yang menguasai ilmu dan keterampilan dalam bidangnya. Program D III Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta sebagai lembaga pendidikan bertujuan untuk menghasilkan ahli teknik yang berkualitas, bertanggungjawab, kreatif dalam menghadapi masa depan serta dapat mensukseskan pembangunan nasional di Indonesia. 1

3 2 Program D III Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta memberikan Tugas Akhir dengan maksud dan tujuan : 1. Mahasiswa dapat merencanakan suatu konstruksi bangunan yang sederhana sampai bangunan bertingkat. 2. Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan, pengertian dan pengalaman dalam merencanakan struktur gedung. 3. Mahasiswa diharapkan dapat memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam perencanaan suatu struktur gedung Kriteria Perencanaan 1. Spesifikasi Bangunan a. Fungsi Bangunan : Swalayan b. Luas Bangunan : 954 m 2 c. Jumlah Lantai : 2 lantai d. Tinggi Lantai : 4,0 m e. Konstruksi Atap : Rangka kuda-kuda baja f. Penutup Atap : Genteng g. Pondasi : Foot Plat 2. Spesifikasi Bahan a. Mutu Baja Profil : BJ 37 ( σ leleh = 2400 kg/cm 2 ) ( σ ijin = 1600 kg/cm 2 ) b. Mutu Beton (f c) : 25 MPa c. Mutu Baja Tulangan (fy) : Polos : 240 MPa. Ulir : 360 Mpa.

4 Peraturan-Peraturan Yang Berlaku a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI b. Peraturan Beton Bertulang Indonesia ( PBBI 1971 ). c. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung ( PPIUG 1983 ). d. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung SNI

5 BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun beban khusus yang bekerja pada struktur bangunan tersebut. Beban-beban yang bekerja pada struktur dihitung menurut Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983, beban - beban tersebut adalah : 1. Beban Mati (qd) Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian penyelesaian, mesin mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gedung itu.untuk merencanakan gedung ini, beban mati yang terdiri dari berat sendiri bahan bangunan dan komponen gedung adalah : a) Bahan Bangunan : 1. Beton bertulang kg/m 3 2. Pasir basah kg/m 3 3. Pasir kering kg/m 3 4. Beton biasa kg/m 3 b) Komponen Gedung : 1. Dinding pasangan batu merah setengah bata kg/m 3 2. Langit langit dan dinding (termasuk rusuk rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau pengaku),terdiri dari : - semen asbes (eternit) dengan tebal maximum 4 mm kg/m 2 - kaca dengan tebal 3 4 mm kg/m 2 3. Penutup atap genteng dengan reng dan usuk kg/m 2 4

6 6 4. Penutup lantai dari tegel, keramik dan beton (tanpa adukan) per cm tebal kg/m 2 5. Adukan semen per cm tebal kg/m 2 2. Beban Hidup (ql) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghuni atau penggunaan suatu gedung, termasuk beban beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah, mesin mesin serta peralatan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan pembebanan lantai dan atap tersebut. Khususnya pada atap, beban hidup dapat termasuk beban yang berasal dari air hujan (PPIUG 1983). Beban hidup yang bekerja pada bangunan ini disesuaikan dengan rencana fungsi bangunan tersebut. Beban hidup untuk bangunan gedung swalayan ini terdiri dari : Beban atap kg/m 2 Beban tangga dan bordes kg/m 2 Beban lantai untuk swalayan kg/m 2 Berhubung peluang untuk terjadi beban hidup penuh yang membebani semua bagian dan semua unsur struktur pemikul secara serempak selama unsur gedung tersebut adalah sangat kecil, maka pada perencanaan balok induk dan portal dari sistem pemikul beban dari suatu struktur gedung, beban hidupnya dikalikan dengan suatu koefisien reduksi yang nilainya tergantung pada penggunaan gedung yang ditinjau, seperti diperlihatkan pada tabel 2.1. Tabel 2.1 Koefisien reduksi beban hidup Penggunaan Gedung Koefisien Beban Hidup untuk Bab 2 Dasar Teori

7 6 PERUMAHAN: Rumah sakit / Poliklinik PENDIDIKAN: Sekolah, Ruang kuliah PENYIMPANAN : Gudang, Perpustakaan TANGGA : Perdagangan, penyimpanan Sumber : PPIUG 1983 Perencanaan Balok Induk 0,75 0,90 0,80 0,90 3. Beban Angin (W) Beban Angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara (kg/m 2 ). Beban Angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (hisapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang yang ditinjau. Besarnya tekanan positif dan negatif yang dinyatakan dalam kg/m 2 ini ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup dengan koefisien koefisien angin. Tekan tiup harus diambil minimum 25 kg/m 2, kecuali untuk daerah di laut dan di tepi laut sampai sejauh 5 km dari tepi pantai. Pada daerah tersebut tekanan hisap diambil minimum 40 kg/m 2. Untuk daerah didekat laut dan didaerah lain dimana terdapat kecepatan angin lebih besar dari pada daerah tertentu,maka tekanan tiup (P) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : 2 V P = ( kg/m 2 ) 16 Di mana V adalah kecepatan angin dalam m/det, yang harus ditentukan oleh instansi yang berwenang. Sedangkan koefisien angin ( + berarti tekanan dan berarti isapan ), untuk gedung tertutup : 1. Dinding Vertikal a) Di pihak angin ,9 b) Di belakang angin...- 0,4 2. Atap segitiga dengan sudut kemiringan α a) Di pihak angin : α < ,02 α - 0,4 Bab 2 Dasar Teori

8 6 65 < α < ,9 b) Di belakang angin, untuk semua α , Sistem Bekerjanya Beban Bekerjanya beban untuk bangunan bertingkat berlaku sistem gravitasi, yaitu elemen struktur yang berada di atas akan membebani elemen struktur di bawahnya, atau dengan kata lain elemen struktur yang mempunyai kekuatan lebih besar akan menahan atau memikul elemen struktur yang mempunyai kekuatan lebih kecil. Dengan demikian sistem bekerjanya beban untuk elemen elemen struktur gedung bertingkat secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut : beban pelat lantai didistribusikan terhadap balok anak dan balok portal, beban balok portal didistribusikan ke kolom dan beban kolom kemudian diteruskan ke tanah dasar melalui pondasi Provisi Keamanan Dalam pedoman beton PPIUG 1983, struktur harus direncanakan untuk memiliki cadangan kekuatan untuk memikul beban yang lebih tinggi dari beban normal. Kapasitas cadangan ini mencakup faktor pembebanan (U), yaitu untuk memperhitungkan pelampauan beban dan faktor reduksi ( ), yaitu untuk memperhitungkan kurangnya mutu bahan di lapangan. Pelampauan beban dapat terjadi akibat perubahan dari penggunaan untuk apa struktur direncanakan dan penafsiran yang kurang tepat dalam memperhitungkan pembebanan. Sedang kekurangan kekuatan dapat diakibatkan oleh variasi yang merugikan dari kekuatan bahan, pengerjaan, dimensi, pengendalian dan tingkat pengawasan. Tabel 2.2 Faktor Pembebanan U No. KOMBINASI BEBAN FAKTOR U 1. D 1,4 D 2. D, L, A,R 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) Bab 2 Dasar Teori

9 6 3. D,L,W, A, R 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 W + 0,5 (A atau R) 4. D, W 0,9 D ± 1,6 W 5. D,L,E 1,2 D + 1,0 L ± 1,0 E 6. D,E 0,9 D ± 1,0 E 7. D,F 1,4 ( D + F ) 8. D,T,L,A,R 1,2 ( D+ T ) + 1,6 L + 0,5 ( A atau R ) Sumber : SNI Keterangan : D = Beban mati L = Beban hidup W = Beban angin A = Beban atap R = Beban air hujan E = Beban gempa T = Pengaruh kombinasi suhu, rangkak, susut dan perbedaan penurunan F = Beban akibat berat dan tekanan fluida yang diketahui dengan baik berat jenis dan tinggi maksimumnya yang terkontrol. Tabel 2.3 Faktor Reduksi Kekuatan No Kondisi gaya Faktor reduksi ( ) Bab 2 Dasar Teori

10 Lentur, tanpa beban aksial Beban aksial, dan beban aksial dengan lentur : a. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur b. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur : Komponen struktur dengan tulangan spiral Komponen struktur lainnya Geser dan torsi Tumpuan beton 0,80 0,8 0,7 0,65 0,75 0,65 Sumber : SNI Karena kandungan agregat kasar untuk beton struktural seringkali berisi agregat kasar berukuran diameter lebih dari 2 cm, maka diperlukan adanya jarak tulangan minimum agar campuran beton basah dapat melewati tulangan baja tanpa terjadi pemisahan material sehingga timbul rongga-rongga pada beton. Sedang untuk melindungi dari karat dan kehilangan kekuatannya dalam kasus kebakaran, maka diperlukan adanya tebal selimut beton minimum. Beberapa persyaratan utama pada SNI adalah sebagai berikut : a. Jarak bersih antara tulangan sejajar yang selapis tidak boleh kurang dari d b atau 25 mm, dimana d b adalah diameter tulangan. b. Jika tulangan sejajar tersebut diletakkan dalam dua lapis atau lebih, tulangan pada lapisan atas harus diletakkan tepat diatas tulangan di bawahnya dengan jarak bersih tidak boleh kurang dari 25 mm. Tebal selimut beton minimum untuk beton yang dicor setempat adalah: a) Untuk pelat dan dinding = 20 mm b) Untuk balok dan kolom = 40 mm c) Beton yang berhubungan langsung dengan tanah atau cuaca = 50 mm Bab 2 Dasar Teori

11 Perencanaan Atap Perencanaan Kuda-Kuda 1. Pembebanan Pada perencanaan atap ini, beban yang bekerja adalah : a. Beban mati b. Beban hidup c. Beban angin 2. Asumsi Perletakan a. Tumpuan sebelah kiri adalah Sendi. b. Tumpuan sebelah kanan adalah Rol.. 3. Analisa struktur menggunakan program SAP Perencanaan tampang menggunakan peraturan PPBBI Perhitungan profil kuda-kuda a. Batang tarik ρmak Fn = σijin 2 2 ( l = 2400kg / cm ) 1600kg / cm 2 σ ijin = σ = 3 Fbruto = 1,15 x Fn ( < F Profil ) Dengan syarat σ terjadi 0,75 σ ijin ρmak σ terjadi = Fprofil c. Batang tekan Ag perlu = P mak Fy An perlu = 0,85.Ag Bab 2 Dasar Teori

12 6 h tw = 300 Fy K. l λc = rπ Fy E Apabila = λc 0,25 ω = 1 0,25 < λc < 1 ω 1,43 = 1,6-0,67λc λc 1,2 ω 2 = 1,25.λ c φ Rn = φ( 1,2. Fu. d. t) n P = φ Rn Fy Fcr = ω φ Pn = φ. Ag. Fy φ Pn > P Perhitungan Alat Sambung Alat sambung yang digunakan adalah baut. Dalam PPBBI 1984 pasal 8.2 butir 1 dijelaskan bahwa tegangan-tegangan yang diijinkan dalam menghitung kekuatan baut-baut adalah sebagai berikut : a.tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. σ ijin b.tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. σ ijin c.tebal pelat sambung Bab 2 Dasar Teori

13 6 δ d.kekuatan baut = 0,625 d P geser = 2. ¼. π. d 2. τ geser P desak = δ. d. τ tumpuan Untuk menentukan jumlah baut tiap sambungan menggunakan kekuatan baut terhadap tegangan geser atau desak yang memiliki hasil lebih kecil dengan cara beban maksimal yang ditahan oleh batang dibagi dengan kekuatan baut yang terkecil. Jarak antar baut ditentukan dengan rumus : 2,5 d S 7 d 2,5 d u 7 d 1,5 d S 1 3 d Dimana : d = diameter alat sambungan s = jarak antar baut arah Horisontal u = jarak antar baut arah Vertikal s1 = jarak antar baut dengan tepi sambungan 2.3. Perencanaan Tangga 1. Pembebanan : Beban mati Beban hidup : 200 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan Tumpuan bawah adalah Jepit. Tumpuan tengah adalah Sendi. Tumpuan atas adalah Jepit. 3. Analisa struktur menggunakan program SAP Perencanaan tampang menggunakan peraturan SNI Perhitungan untuk penulangan tangga : Bab 2 Dasar Teori

14 6 Mn = Mu Φ Dimana Φ = 0.8 fy M = f ' c Mn Rn = 2 b.d ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ρb = fc 600. β. fy fy ρ max = ρb ρ min < ρ < ρ maks tulangan tunggal ρ < ρ min dipakai ρ min = As = ρ ada. b. d M u M n = φ dimana, φ = 0, 80 f y m = 0,85xf ' M Rn = n 2 bxd c ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ρb = fc 600. β. fy fy ρ max = ρb ρ min < ρ < ρ maks tulangan tunggal ρ < ρ min dipakai ρ min = As = ρ ada. b. Bab 2 Dasar Teori

15 6 Luas tampang tulangan As = ρ xbxd 2.4. Perencanaan Plat Lantai 1. Pembebanan : Beban mati Beban hidup : 250 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan : jepit penuh 3. Analisa struktur menggunakan tabel PPIUG Perencanaan tampang menggunakan peraturan PBI Penulangan lentur dihitung analisa tulangan tunggal dengan langkah-langkah sebagai berikut : Mu Mn = Φ Dimana Φ = 0.8 fy M = f ' c Mn Rn = 2 b.d ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ρb = fc 600. β. fy fy ρ max = ρb ρ min < ρ < ρ maks tulangan tunggal ρ < ρ min dipakai ρ min = As = ρ ada. b. Luas tampang tulangan As = ρ xbxd Bab 2 Dasar Teori

16 Perencanaan Balok 1. Pembebanan : Beban mati Beban hidup : 250 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan : sendi sendi 3. Analisa struktur menggunakan program SAP Perencanaan tampang menggunakan peraturan SNI a. Perhitungan tulangan lentur : M u M n = φ dimana, φ = 0, 80 f y m = 0,85xf ' M Rn = n 2 bxd c ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ρb = fc 600. β. fy fy ρ max = ρb 1, 4 ρ min = fy ρ min < ρ < ρ maks tulangan tunggal 1, 4 ρ < ρ min dipakai ρ min = fy ρ > ρ max tulangan rangkap b. Perhitungan tulangan geser : = 0,75 Bab 2 Dasar Teori

17 6 V c = 1 6 x f ' cxbxd Vc = 0,75 x Vc Vu 0,5 Vc (perlu tulangan geser) Vu > Ф.Vc (perlu tulangan geser).vc Vu 3 Vc (perlu tulangan geser) 0,5. Ф.Vc < Vu < Ф.Vc (perlu tulangan geser) Vs perlu = Vu Vc ( pilih tulangan terpasang ) ( Av. fy. d) Vs ada = S ( pakai Vs perlu ) Tetapi jika terjadi Vu < Ø Vc, tidak perlu tulangan geser, tetapi hanya tulangan geser praktis Perencanaan Portal 1. Pembebanan : Beban mati Beban hidup : 250 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan Jepit pada kaki portal. Bebas pada titik yang lain 3. Analisa struktur menggunakan program SAP Perencanaan tampang menggunakan peraturan SNI Bab 2 Dasar Teori

18 6 a. Perhitungan tulangan lentur : M u M n = φ dimana, φ = 0, 80 f y m = 0,85xf ' M Rn = n 2 bxd c ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ρb = fc 600. β. fy fy ρ max = ρb ρ min 1,4 = fy ρ min < ρ < ρ maks tulangan tunggal 1, 4 ρ < ρ min dipakai ρ min = fy 1, 4 = 360 = 0,0038 b. Perhitungan tulangan geser : = 0,75 V c = 1 6 x f ' cxbxd Vc = 0,75 x Vc.Vc Vu 3 Vc ( perlu tulangan geser ) Vs perlu = Vu Vc ( pilih tulangan terpasang ) ( Av. fy. d) Vs ada = S ( pakai Vs perlu ) Bab 2 Dasar Teori

19 6 Tetapi jika terjadi Vu < Ø Vc, maka harus selalu dipasang tulangan geser minimum, kecuali untuk : 1. Pelat dan fondasi telapak. 2. Konstruksi pelat perusuk. 3. Balok dengan tinggi total yang tidak lebih dari nilai terbesar di antara 250 mm, 2,5 kali tebal sayap atau 0,5 kali lebar badan Perencanaan Kolom 1. Pembebanan : Beban aksial dan momen dari analisa struktur balok,plat lantai,dan atap akibat beban mati dan beban hidup 2. Analisa struktur menggunakan program SAP 2000 a. Perhitungan tulangan lentur kolom Pu Pn perlu = φ Dimana Ø = 0,75 Mu e = Pu e min = 0,1.h 600 cb = d fy. ab = β 1 x cb Pn b = 0,85.f c.ab.b Pu Pn perlu = ; 0,1. f ' c. Ag φ Pn perlu = φ Pu Pn perlu < Pn b analisis keruntuhan tarik Pn a = 0,85. f ' cb. As = h a Pnperlu e 2 2 fy ( d d' ) luas tulangan penampang minimum: Bab 2 Dasar Teori

20 6 As t = 1 % Ag Sehingga, As = As Ast As = 2 Menghitung jumlah tulangan AS n = 1 2. π.(16) 4 b. Perhitungan tulangan geser kolom Pu Vc = Ag f ' c. b. d 6 Ø Vc 0,5 Ø Vc Vu < 0,5 Ø Vc => tanpa diperlukan tulangan geser Perencanaan Pondasi 1. Pembebanan : Beban aksial dan momen dari analisa struktur portal akibat beban mati dan beban hidup 2. Perencanaan tampang menggunakan peraturan SNI p q ada = A qu q ijin = 1,3 cnc + qnq + 0,4 γ B Nγ = qu / SF q ada q ijin... (aman) a. Perhitungan tulangan lentur : Bab 2 Dasar Teori

21 6 Mu = ½. qu. t 2 f y m = 0,85xf ' M Rn = n 2 bxd c ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy fc 600 ρb =. β. fy fy ρ max = ρb ρ min < ρ < ρ maks tulangan tunggal 1, 4 ρ < ρ min dipakai ρ min = fy 1, 4 = 360 = 0,0038 As = ρ ada. b. d Luas tampang tulangan As = Jumlah tungan x Luas b. Perhitungan tulangan geser : = 0,75 V c = 1 6 x f ' cxbxd Vc = 0,75 x Vc.Vc Vu 3 Vc ( perlu tulangan geser ) Vs perlu = Vu Vc ( pilih tulangan terpasang ) ( Av. fy. d) Vs ada = S ( pakai Vs perlu ) Tetapi jika terjadi Vu < Ø Vc, maka harus selalu dipasang tulangan geser minimum, kecuali untuk : Bab 2 Dasar Teori

22 6 1. Pelat dan fondasi telapak. 2. Konstruksi pelat perusuk. 3. Balok dengan tinggi total yang tidak lebih dari nilai terbesar di antara 250 mm, 2,5 kali tebal sayap atau 0,5 kali lebar badan. Bab 2 Dasar Teori

23 BAB 3 PERENCANAAN ATAP 3.1. Rencana Atap JL TS TS TS JL SK 1 G KT KU KU KU KU L N G SK 1 L KT G JL G JD JD JL G G G G L N L Gambar 3.1. Rencana Atap Keterangan : KU = Kuda-kuda utama G = Gording KT = Kuda-kuda trapesium N = Nok SK = Setengah kuda-kuda utama L = Lisplank TS = Track Stank JL = Jurai Luar JD = Jurai Dalam 22

24 2323 Dasar Perencanaan Secara umum data yang digunakan untuk perhitungan rencana atap adalah sebagai berikut : a. Bentuk rangka kuda-kuda : seperti tergambar. b. Jarak antar kuda-kuda : 4 m c. Kemiringan atap (α) : 30 d. Bahan gording : baja profil lip channels ( ). e. Bahan rangka kuda-kuda : baja profil double siku sama kaki ( ). f. Bahan penutup atap : genteng. g. Alat sambung : baut-mur. h. Jarak antar gording : 1,875 m i. Bentuk atap : limasan. j. Mutu baja profil : Bj-37 ( σ ijin = 1600 kg/cm 2 ) ( σ leleh = 2400 kg/cm 2 ) 3.2. Perencanaan Gording Perencanaan Pembebanan Dicoba menggunakan gording dengan dimensi baja profil tipe lip channels/ kanal kait ( ) 150 x 75 x 20 x 4,5 pada perencanaan kuda- kuda dengan data sebagai berikut : a. Berat gording = 11 kg/m. f. t s = 4,5 mm b. I x = 489 cm 4. g. t b = 4,5 mm c. I y = 99,2 cm 4. h. Z x = 65,2 cm 3. d. h = 150 mm i. Z y = 19,8 cm 3. e. b = 75 mm

25 P y perpustakaan.uns.ac.id 2424 Kemiringan atap (α) = 30. Jarak antar gording (s) = 2,165 m. Jarak antar kuda-kuda utama = 4 m. Jarak antara KU dengan KT = 3,75 m. Pembebanan berdasarkan SNI , sebagai berikut : a. Berat penutup atap = 50 kg/m 2. b. Beban angin = 25 kg/m 2. c. Berat hidup (pekerja) = 100 kg. d. Berat penggantung dan plafond = 18 kg/m Perhitungan Pembebanan Beban Mati (titik) y x q x α q q y Berat gording = 11 kg/m Berat penutup atap = ( 2,165 x 50 ) = 93,75 kg/m Berat plafon = ( 1,5 x 18 ) = 27 kg/m q = 146,25 kg/m + q x = q sin α = 146,25 x sin 30 = 73,13 kg/m. q y = q cos α = 146,25 x cos 30 = 126,66 kg/m. M x1 = 1 / 8. q y. L 2 = 1 / 8 x 126,66 x (4,00) 2 = 228,198 kgm. M y1 = 1 / 8. q x. L 2 = 1 / 8 x 73,13 x (4,00) 2 = 146,26 kgm Beban hidup y x P x α

26 2525 P diambil sebesar 100 kg. P x = P sin α = 100 x sin 30 = 50 kg. P y = P cos α = 100 x cos 30 = 86,603 kg. M x2 = 1 / 4. P y. L = 1 / 4 x 86,603 x 4,00 = 86,603 kgm. M y2 = 1 / 4. P x. L = 1 / 4 x 50 x 4,00 = 50 kgm Beban angin TEKAN HISAP Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. Koefisien kemiringan atap (α) = 30. 1) Koefisien angin tekan = (0,02α 0,4) = 0,2 2) Koefisien angin hisap = 0,4 Beban angin : 1) Angin tekan (W 1 ) = koef. Angin tekan x beban angin x 1/2 x (s 1 +s 2 ) = 0,2 x 25 x ½ x (2,165+2,165) = 10,825 kg/m. 2) Angin hisap (W 2 ) = koef. Angin hisap x beban angin x 1/2 x (s 1 +s 2 ) = 0,4 x 25 x ½ x (2,165+2,165) = -21,65 kg/m. Beban yang bekerja pada sumbu x, maka hanya ada harga M x : 1) M x (tekan) = 1 / 8. W 1. L 2 = 1 / 8 x 9,375 x (4,00) 2 = 21,65 kgm. 2) M x (hisap) = 1 / 8. W 2. L 2 = 1 / 8 x -18,75 x (4,00) 2 = -43,3 kgm. Tabel 3.1. Kombinasi Gaya Dalam pada Gording Beban Beban Beban Angin Kombinasi Momen Mati Hidup Tekan Hisap Maksimum Minimum

27 2626 M x 253,32 86,603 21,65-43,3 459,57 407,91 M y 146, , , Kontrol Terhadap Tegangan Kontrol terhadap momen Maximum Mx = 459,57 kgm = kgcm. My = 255,512 kgm = 25551,2 kgcm. Asumsikan penampang kompak : M nx = Zx.fy = 65, = kgcm M ny = Zy.fy = 19, = kgcm Check tahanan momen lentur yang terjadi : Mx My + 1 φ. M φ. M b nx , ny 25551,2 + = 0,86 1..ok Kontrol terhadap momen Minimum Mx = 407,91 kgm = kgcm. My = 255,512 kgm = 25551,2 kgcm. Asumsikan penampang kompak : M nx = Zx.fy = 65, = kgcm M ny = Zy.fy = 19, = kgcm Check tahanan momen lentur yang terjadi : Mx My + 1 φ. M φ. M b nx ny ,2 + = 0,83 1..ok 0,

28 Kontrol Terhadap Lendutan Di coba profil : 150 x 75 x 20 x 4,5 E = 2,1 x 10 6 kg/cm 2 qy = 1,2665 kg/cm Ix = 489 cm 4 Px = 50 kg Iy = 99,2 cm 4 Py = 86,603 kg qx = 0,7313 kg/cm Z ijin 1 = 400 = 2, qx. L Px. L Zx = E. Iy 48. E. Iy 4 5.0,7313(400) = , = 1,56 cm ,2 Zy = qy. l Py. L E. Ix 48. E. Ix = 4 5.1,2665.(400) ,603.(400) = 0,55 cm Z = 2 Zx + Zy = ( 1,56) + (0,55) = 1,65 cm Z Z ijin 1,65 cm 2,22 cm aman! Jadi, baja profil lip channels ( ) dengan dimensi ,5 aman dan mampu menerima beban apabila digunakan untuk gording.

29 Perencanaan Jurai Gambar 3.2. Rangka Batang Jurai ` Perhitungan Panjang Batang Jurai Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.2. Panjang Batang pada Jurai Nomer Batang Panjang Batang (m) 1 2, , , , , , , , , , , ,423

30 , , , Perhitungan luasan jurai f 3 g 2 h h' 1 i i' j k l m a a' b b' c c' d d' e e' f' q r s g' n o p j f g h i i' a b c d d' e e' f' g' h' n o p k l m a' b' c' q r s Gambar 3.3. Luasan Atap Jurai Panjang j1 = ½. 2,165 = 1,082 m Panjang j1 = 1-2 = 2-3 = 3-4 = 4-5 = 5-6 = 6-7 = 7-8 = 8-9 = 1,082 m Panjang aa = 2,375 m Panjang a s = 4,250 m Panjang cc = 1,406 m Panjang c q = 3,281 m Panjang ee = 0,468 m Panjang e o = 2,334 m Panjang gg = g m = 1,397 m Panjang ii = i k = 0,468 m Luas aa sqc c = (½ (aa + cc ) 7-9) + (½ (a s + c q) 7-9) = (½( 2,375+1,406 ) 2. 1,082)+(½(4, ,281) 2. 1,082) = 12,239 m 2 Luas cc qoe e = (½ (cc + ee ) 5-7 ) + (½ (c q + e o) 5-7)

31 3030 = ( ½ (1,406+0,468) 2. 1,082)+(½ (3,281+2,334) 2. 1,082) = 8,101 m 2 Luas ee omg gff = (½ 4-5. ee ) + (½ (e o + g m) 3-5) + (½ (ff + gg ) 3-5) =(½ 1,082 0,468)+(½(2,334+1,397)1,082)+(½(1,875+1,379)1,0 82) = 4,042 m 2 Luas gg mki i = (½ (gg + ii ) 1-3) 2 = (½ (1, ,468) 2. 1,082) 2 = 2,018 m 2 Luas jii k = (½ ii j1) 2 = (½ 0,468 1,082) 2 = 0,506 m f 3 g 2 h h' 1 i i' j k l m a a' b b' c c' d d' e e' f' q r s g' n o p j f g h i i' a b c d d' e e' f' g' h' n o p k l m a' b' c' q r s Gambar 3.4. Luasan Plafon Jurai Panjang j1 = ½. 1,875 = 0,9 m Panjang j1 = 1-2 = 2-3 = 3-4 = 4-5 = 5-6 = 6-7 = 7-8 = 8-9 = 0,9 m Panjang bb = 1,875 m Panjang b r = 3,741 m Panjang cc = 1,406 m Panjang c q = 3,272 m Panjang ee = 0,468 m Panjang e o = 2,343 m Panjang gg = g m = 1,406 m Panjang ii = i k = 0,468 m

32 3131 Luas bb rqc c = (½ (bb + cc ) 7-8) + (½ (b r + c q) 7-8) = (½ (1, ,406) 0,9) + (½ (3, ,272) 0,9) = 4,632 m 2 Luas cc qoe e = (½ (cc + ee ) 5-7) + (½ (c q + e o) 5-7) = (½ (1,406+0,468) 2.0,9) + (½ (3,272 +2,343)2.0,9) = 6,740 m 2 Luas ee omg gff = (½ 4-5. ee ) + (½ (e o + g m) 3-5) + (½ (ff + gg ) 3-5) =(½ 0,9 0,468)+(½(2,343+1,406)0,9) +(½(1,875+1,406)0,9) = 3,374 m 2 Luas gg mki i = (½ (gg + ii ) 1-3) 2 = (½ (1,406+0,468) 2. 0,9 ) 2 = 3,373 m 2 Luas jii k = (½ ii j1) 2 = (½ 0,468 0,9) 2 = 0,421 m Perhitungan Pembebanan Jurai Data-data pembebanan : Berat gording = 11 kg/m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat plafon dan penggantung = 18 kg/m 2 Berat profil kuda-kuda = 25 kg/m P5 P4 8 P3 7 P

33 3232 Gambar 3.5. Pembebanan jurai akibat beban mati a. Beban Mati 1) Beban P1 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording bb r = 11 (1,875+3,741) = 64,776 kg b) Beban Atap = luasan aa sqc c berat atap = 12, = 611,95 kg c) Beban Plafon = luasan bb rqc c berat plafon = 4, = 83,376 kg d) Beban Kuda-kuda = ½ btg (1 + 5) berat profil kuda-kuda = ½ (2, ,864) 25 = 68,95 kg e) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 68,95 = 20,685 kg f) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 68,95 = 6,895 kg 2) Beban P2 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording dd p = 11 (0,937+2,812) = 28,983 kg b) Beban Atap = luasan cc qoe e berat atap = 8, = 405,05 kg

34 3333 c) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , , ,864 ) 25 = 120,937 kg d) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 120,937 = 36,281 kg e) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 120,937 = 12,094 kg 3) Beban P3 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording ff n = 11 (1,875+1,875) = 41,25 kg b) Beban Atap = luasan ee omg gff berat atap = 4, = 202,1 kg c) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , , ,864) 25 = 146,963 kg d) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 146,963 = 47,089 kg e) Beban Bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 146,963 = 15,696 kg 4) Beban P4 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording hh l = 11 (0,937+0,937) = 20,614 kg b) Beban Atap = luasan gg mki i berat atap = 2, = 100,9 kg c) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , , ,864) 25 = 164,338 kg d) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 164,338 = 49,301 kg e) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda

35 3434 = 10 % 164,338 = 16,434 kg 5) Beban P5 a) Beban Atap = luasan jii k berat atap = 0, = 25,3 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg (8+15) berat profil kuda-kuda = ½ (2, ,33) 25 = 89,925 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 89,925 = 26,977 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 89,925 = 8,992 kg 6) Beban P6 a) Beban Plafon = luasan jii k berat plafon = 0, = 7,578 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (4,33 + 4, ,652) 25 = 139,687 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 139,687 = 41,906 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 139,687 = 13,969 kg 7) Beban P7 a) Beban Plafon = luasan gg mki i berat plafon = 3, = 60,714 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , , ,652) 25 = 149,412 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda

36 3535 = 30 % 149,412 = 44,824 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 149,412 = 14,941 kg 8) Beban P8 a) Beban Plafon = luasan ee omg gff berat plafon = 3, = 60,732 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2,652+2, , ,864) 25 = 144,887 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 144,887= 43,466 kg d) Beban Bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 144,887 = 14,487 kg 9) Beban P9 a) Beban Plafon = luasan cc qoe e berat plafon = 6,74 18 = 121,32 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , ,652) 25 = 79,837 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 79,837 = 23,951 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 79,837 = 7,984 kg Tabel 3.3. Rekapitulasi Pembebanan Jurai Beban Input Beban Beban Beban Beban Plat Beban Jumlah Kudakuda 2000 SAP Beban Atap gording Bracing Penyambung Plafon Beban (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) ( kg ) P1 611,95 64,776 68,950 6,895 20,685 83, ,

37 3636 P2 405,05 28, ,937 12,094 36, , P3 202,1 41,25 146,963 15,696 47, , P4 100,9 20, ,338 16,434 49, , P5 25,3-89,925 8,992 26, , P ,687 13,969 41,906 7, , P ,412 14,941 44,824 60, , P ,887 14,487 43,466 60, , P ,837 7,984 23, ,32 233, b. Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P1 = P2 = P3 = P4 = P5 = 100 kg

38 3737 c. Beban Angin Perhitungan beban angin : W5 W4 8 W3 7 W1 W Gambar 3.6. Pembebanan Jurai akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. Koefisien angin tekan = 0,02α 0,40 = (0,02 30) 0,40 = 0,2 a) W1 = luasan koef. angin tekan beban angin = 12,239 0,2 25 = 61,195 kg b) W2 = luasan koef. angin tekan beban angin = 8,101 0,2 25 = 40,505 kg c) W3 = luasan koef. angin tekan beban angin = 4,042 0,2 25 = 20,21 kg d) W4 = luasan koef. angin tekan beban angin = 2,018 0,2 25 = 10,09 kg e) W5 = luasan koef. angin tekan beban angin = 0,506 0,2 25 = 2,53 kg

39 3838 Tabel 3.4. Perhitungan Beban Angin Jurai Beban Wx (Untuk Input Wy (Untuk Input Beban (kg) Angin W.Cos α (kg) SAP2000) W.Sin α (kg) SAP2000) W1 61,195 56, , W2 40,505 37, , W3 20,21 18, ,570 8 W4 10,09 9, ,780 4 W5 2,53 2, ,948 1 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang setengah kuda-kuda sebagai berikut : Tabel 3.5. Rekapitulasi Gaya Batang Jurai kombinasi Batang Tarik (+) (kg) Tekan (-) (kg) 1 746, , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Profil Jurai

40 3939 a. Perhitungan profil batang tarik P maks. = 931,92 kg F y F u Ag perlu = = 2400 kg/cm 2 (240 MPa) = 3600 kg/cm 2 (360 MPa) P mak = Fy 931,92 = 0,38 cm Dicoba, menggunakan baja profil Dari tabel baja didapat data-data = Ag = 4,80 cm 2 x = 1,51 cm An = 2.Ag-dt = = 9530 mm 2 L =Sambungan dengan Diameter = 3.12,7 =38,1 mm x = 15,1 mm U = 1 = 1- x L 15,1 = 0,604 38,1 Ae = U.An = 0, = 5756,12 mm 2 Check kekuatan nominal φ Pn = 0,75. Ae. Fu = 0, , = ,4 N = ,24 kg > 931,92 kg OK b. Perhitungan profil batang tekan P maks. = 1795,09 kg

41 4040 lk Ag perlu = = 2,864 m = 286,4 cm P mak 1795, 09 = = 0,75 cm 2 Fy 2400 Dicoba, menggunakan baja profil (Ag = 4,80 cm 2 ) Periksa kelangsingan penampang : b < = < t Fy 5 K.L λ = = r λ c = λ π Fy E = 10 < 12, ,4 1,51 = 189,66 = 189,66 3, ω = 2,09 λc 1,2 ω 2 = 1,25.λ c = 1,25. (2,09 2 ) Fy Fcr = = ω Pn = 2. Ag. Fcr P φpn = 5,46 = 2.4,80.439,56 = 4219,776 = 2400 = 439,56 5, ,09 0, ,776 = 0,50 < 1 OK 2 = 1,25.λ c Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur.

42 4141 Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 14 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = m.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu.d b. t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7406,64 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7406,64 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 1795,09 n = = = 0,242 ~ 2 buah baut P 7406,64 tumpu Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 3. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7 = 6,35 mm

43 4242 = 6 mm b. Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 14,7 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = n.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu. d b t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7406,64kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7406,64 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 931,92 n = = = 0,125 ~ 2 buah baut P 7406,64 geser Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7 = 6,35 mm

44 4343 = 60 mm Tabel 3.6. Rekapitulasi Perencanaan Profil Jurai Nomer Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Setengah Kuda-kuda

45 4444 Gambar 3.7. Rangka Batang Setengah Kuda-kuda Perhitungan Panjang Batang Setengah Kuda-kuda Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.7. Perhitungan Panjang Batang pada Setengah Kuda-kuda Nomer Batang Panjang Batang 1 1, , , , , , , , , , , , , , , Perhitungan luasan Setengah Kuda-kuda k

46 4545 Gambar 3.8. Luasan Atap Setengah Kuda-kuda Panjang ak = 7,5 m Panjang bj = 6,6 m Panjang ci = 4,7 m Panjang dh = 2,8 m Panjang eg = 0,9 m Panjang atap ab = jk = 2,166 m Panjang b c = c d = d e = 1,875 m Panjang e f = ½ 1,875 = 0,937 m Panjang atap a b = 1,938 m Panjang atap bc = cd = de = gh = hi = ij = 2,096 m Luas atap abjk = ½ x (ak + bj) x a b = ½ x (7,5 x 6,6) x 0,937 = 6,345 m 2 Luas atap bcij = ½ x (bj + ci) x b c = ½ x (6,6 + 4,7) x 1,875 = 10,594 m 2 Luas atap cdhi = ½ x (ci + dh) x c d

47 4646 = ½ x (4,7 + 2,8) x 1,875 = 7,031 m 2 Luas atap degh = ½ x (dh + eg) x d e = ½ x (2,8 + 0,9) x 1,875 = 3,469 m 2 Luas atap efg = ½ x eg x e f = ½ x 0,9 x 0,937 = 0,422 m 2 j k i h g f e e' d' c' b' a' d c b a Gambar 3.9. Luasan Plafonpp Panjang ak = 7,5 m Panjang atap a b = 1,938 m Panjang atap b c = c d = d e = 1,875 m Panjang atap e f = 0,937 m Panjang bj Panjang ci Panjang dh Panjang eg = 6,6 m = 4,7 m = 2,8 m = 0,9 m Panjang atap ab = jk = 2,166 m

48 4747 Panjang atap bc = cd = de = gh = hi = ij = 2,096 m Luas atap abjk = ½ x (ak + bj) x a b = ½ x (7,5 x 6,6) x 0,937 = 6,345 m 2 Luas atap bcij = ½ x (bj + ci) x b c = ½ x (6,6 + 4,7) x 1,875 = 10,594 m 2 Luas atap cdhi = ½ x (ci + dh) x c d = ½ x (4,7 + 2,8) x 1,875 = 7,031 m 2 Luas atap degh = ½ x (dh + eg) x d e = ½ x (2,8 + 0,9) x 1,875 = 3,469 m 2 Luas atap efg = ½ x eg x e f = ½ x 0,9 x 0,937 = 0,422 m Perhitungan Pembebanan Setengah Kuda-kuda Data-data pembebanan : Berat gording = 11 kg/m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil kuda - kuda = 25 kg/m a. Beban Mati P5 P4 8 P3 7 P1 5 P P9 P8 P7 P6

49 4848 Gambar Pembebanan Setengah Kuda-kuda akibat Beban Mati 1) Beban P1 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording = 11 7,5 = 82,5 kg b) Beban Atap = luasan abjk berat atap = 14, = 731,6 kg c) Beban Plafon = luasan abjk berat plafon = 6, = 114,21 kg d) Beban Kuda-kuda = ½ btg (1 + 5) berat profil kuda-kuda = ½ (1, ,165) 25 = 50,5 kg e) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 50,5 = 15,15 kg f) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 50,5 = 5,05 kg 2) Beban P2 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording = 11 x 5,625 = 61,875 kg b) Beban Atap = luasan bcij berat atap = 10, = 529,7 kg c) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2,165+1,083+2,165+2,165) 25 = 94,725 kg d) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda

50 4949 = 30 % 94,725 = 28,418 kg e) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 94,725 = 9,472 kg 3) Beban P3 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording = 11 x 3,75 = 41,25 kg b) Beban Atap = luasan cdhi berat atap = 7, = 351,55 kg c) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , , ,165) 25 = 116,988 kg d) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 116,988 = 35,096 kg e) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 116,988 = 11,699 kg 4) Beban P4 a) Beban Gording = berat profil gording panjang gording = 11 1,875 = 20,625 kg b) Beban Atap = luasan degh berat atap = 3, = 173,45 kg c) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2,165+3,248+3,750+2,165) 25 = 141,6 kg d) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 141,6 = 42,48 kg

51 5050 e) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 141,6 = 14,16 kg 5) Beban P5 a) Beban Atap = luasan efg berat atap = 0, = 21,1 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg (8 + 15) berat profil kuda-kuda = ½ (2, ,33) 25 = 81,187 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 81,187 = 24,356 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 81,187 = 8,119 kg 6) Beban P6 a) Beban Plafon = luasan efg berat plafon = 0, = 7,596 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (4,33 + 3,75 + 1,875) 25 = 124,437 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 124,437 = 37,331 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 124,437 = 12,444 kg

52 5151 7) Beban P7 a) Beban Plafon = luasan degh berat plafon = 3, = 62,442 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (1,875 +3, , ,875) 25 = 123,275 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 123,275 = 36,982 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 123,275 = 12,328 kg 8) Beban P8 a) Beban Plafon = luasan cdhi berat plafon = 7, = 126,558 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (2, , , ,875) 25 = 101,000 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 101,000 = 30,300 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 101,000 = 10,100 kg 9) Beban P9

53 5252 a) Beban Plafon = luasan bcij berat plafon = 10, = 190,692 kg b) Beban Kuda-kuda = ½ btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (1, , ,875) 25 = 60,412 kg c) Beban Plat Sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 60,412 = 18,124 kg d) Beban Bracing = 10% beban kuda-kuda = 10 % 60,412 = 6,041 kg

54 5353 Tabel 3.8. Rekapitulasi Pembebanan Setengah Kuda-kuda Input Beban Beban Beban Beban Beban Plat Beban Jumlah SAP Beban Atap gording Kuda-kuda Bracing Penyambung Plafon Beban 2000 (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) ( kg ) P1 731,6 82,5 50,5 5,05 15,15 114,21 975, P2 529,7 61,875 94,725 9,472 28, , P3 351,55 41,25 116,988 11,699 35, , P4 173,45 20, ,6 14,16 42,48-392, P5 21,1-81,187 8,119 24, , P ,437 12,444 37,331 7, , P ,275 12,327 36,982 62, , P ,00 10,10 30,30 126, , P ,412 6,041 18, , , a. Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P 1, P 2, P 3, P 4, P 5, = 100 kg

55 5454 b. Beban Angin Perhitungan beban angin : W5 W4 8 W3 7 W1 5 W Gambar Pembebanan Setengah Kuda-kuda akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. Koefisien angin tekan = 0,02α 0,40 = (0,02 30) 0,40 = 0,2 a) W1 = luasan koef. angin tekan beban angin = 14,632 0,2 25 = 73,16 kg b) W2 = luasan koef. angin tekan beban angin = 10,594 0,2 25 = 52,97 kg c) W3 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,031 0,2 25 = 35,155 kg d) W4 = luasan koef. angin tekan beban angin = 3,469 0,2 25 = 17,345 kg e) W5 = luasan koef. angin tekan beban angin = 0,422 0,2 25 = 2,11 kg Tabel 3.9. Perhitungan Beban Angin Setengah Kuda-kuda Beban Beban Wx Untuk Wy Untuk

56 5555 Angin (kg) W.Cos α Input W.Sin α Input (kg) SAP2000 (kg) SAP2000 W1 73,16 63, ,58 37 W2 52,97 45, , W3 35,155 30, , W4 17,345 15, ,672 9 W5 2,110 1, ,055 1 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang kuda-kuda utama sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi Gaya Batang Setengah Kuda-kuda Kombinasi Batang Tarik (+) ( kg ) Tekan (-) ( kg ) 1 659, , , , , , , , , , , , , , ,39

57 Perencanaan Profil Setengah Kuda- kuda a. Perhitungan profil batang tarik P maks. = 792,91 kg F y = 2400 kg/cm 2 (240 MPa) = 3600 kg/cm 2 (360 MPa) F u Ag perlu = P mak = Fy 792,91 = 0,3 cm Dicoba, menggunakan baja profil Dari tabel baja didapat data-data = Ag = 4,80 cm 2 x = 1,51 cm An = 2.Ag-dt = = 9530 mm 2 L =Sambungan dengan Diameter = 3.12,7 =38,1 mm x = 15,1 mm U = 1 = 1- x L 15,1 = 0,604 38,1 Ae = U.An = 0, = 5756,12 mm 2 Check kekuatan nominal φ Pn = 0,75. Ae. Fu = 0, , = ,4 N = ,24 kg > 792,91 kg OK b. Perhitungan profil batang tekan

58 5757 P maks. = 1518,58 kg lk Ag perlu = = 2,165 m = 216,5 cm P mak 1518,58 = = 0,63 cm 2 Fy 2400 Dicoba, menggunakan baja profil (Ag = 4,80 cm 2 ) Periksa kelangsingan penampang : b < = < t Fy 5 K.L λ = = r λ c = λ π Fy E = 10 < 12, ,4 1,51 = 189,66 = 189,66 3, ω = 2,09 λc 1,2 ω 2 = 1,25.λ c = 1,25. (2,09 2 ) Fy Fcr = = ω Pn = 2. Ag. Fcr P φpn = 5,46 = 2.4,80.439,56 = 4219,77 = 1518,58 0, , = 439,56 5,46 = 0,42 < 1 OK 2 = 1,25.λ c Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan

59 5858 Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 14 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = m.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu.d b. t) = 0,75 (2, ,7.9) = 74066,4kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7406,64 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 1518,58 n = = = 0,205 ~ 2 buah baut P 7406,64 tumpu Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7

60 5959 = 6,35 mm = 60 mm b. Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 14,7 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = n.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu. d b t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7406,64 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7406,64 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 792,91 n = = = 0,107 ~ 2 buah baut P 7406,64 geser Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7

61 6060 = 6,35 mm = 60 mm Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Setengah Kuda-kuda Nomer Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , ,7 3.3 Perencanaan Kuda-kuda Trapesium

62 6161 Gambar Rangka Batang Kuda-kuda Trapesium Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda Trapesium Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel Perhitungan Panjang Batang pada Kuda-kuda Trapesium Nomer Batang Panjang Batang (m) 1 1, , , , , , , , , , , , , , , , , ,165

63 , , , , , , , , , , , Perhitungan luasan kuda-kuda trapesium a b c d e f h g a b g h c d e f Gambar Luasan Atap Kuda-kuda Trapesium Panjang ah = 4,25 m

64 6363 Panjang bg Panjang cf Panjang de Panjang ab Panjang bc Panjang cd = 3,281 m = 2,343 m = 1,875 m = 1,937 m = 1,875 m = 0,937 m Luas abgh = ah + bg ab 2 4, ,281 = 1,937 2 = 7,288 m 2 bg + cf Luas bcfg = bc 2 3,281+ 2,343 = 1,875 2 = 5,272 m 2 cf + de Luas cdef = cd 2 2, ,875 = 0,937 2 = 1,976 m 2 a b c d e f g h a b c d e f g h

65 6464 Gambar Luasan Plafon Kuda-kuda Trapesium Panjang ah Panjang bg Panjang cf Panjang de Panjang ab Panjang bc Panjang cd = 3,750 m = 3,281 m = 2,343 m = 1,875 m = 0,937 m = 1,875 m = 0,937 m Luas abgh = ah + bg ab 2 3, ,281 = 0,937 2 = 3,163 m 2 bg + cf Luas bcfg = bc 2 3,281+ 2,343 = 1,875 2 = 5,272 m 2 cf + de Luas cdef = cd 2

66 6565 2, ,875 = 2 = 1,976 m 2 0, Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Trapesium Data-data pembebanan : Berat gording = 11 kg/m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil = 25 kg/m P3 P4 P5 P6 P7 P P8 P P P16 P15 P14 P13 P12 P11 P10 Gambar Pembebanan Kuda-kuda Trapesium akibat Beban Mati a. Beban Mati 1) Beban P1 = P9 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording

67 6666 = 11 3,75 = 41,25 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 7, = 364,4 kg c) Beban plafon = Luasan berat plafon = 3, = 56,93 kg d) Beban kuda-kuda = ½ Btg (1 + 9) berat profil kuda kuda = ½ (1, ,165) 25 = 50,5 kg e) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 50,5 = 15,15 kg f) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 50,5 = 5,05 kg 2) Beban P2 = P8 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 2,820 = 31,02 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 5, = 263,6 kg c) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (2, , , ,165) 25 = 94,725 kg d) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 94,725 = 28,417 kg e) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 94,725 = 9,472 kg 3) Beban P3 = P7 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 1,875 = 20,625 kg

68 6767 b) Beban atap = Luasan Berat atap = 1, = 98,8 kg c) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (2, , , ,875) 25 = 113,362 kg d) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 113,362 = 34,009 kg e) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 113,362 = 11,336 k f) Beban reaksi = reaksi jurai = 2630,62 kg 4) Beban P4 = P6 a) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , , ,875) 25 = 109,737 kg b) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 109,737 = 32,921 kg c) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 109,737 = 10,974 kg 5) Beban P5 a) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , ,875) 25 = 73,937 kg b) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 73,937 = 22,181 kg c) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 79,937 = 7,994 kg d) Beban reaksi = reaksi ½ kuda-kuda

69 6868 = 2599,35 kg 6) Beban P10 = P16 a) Beban plafon = Luasan berat plafon = 5, = 94,89 kg b) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , ,875) 25 = 60,412 kg c) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 60,412 = 18,124 kg d) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 60,412 = 6,041 kg 7) Beban P11 = P15 a) Beban plafon = Luasan berat plafon = 1, = 35,56 kg b) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , , ,875) 25 = 101 kg c) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 101 = 30,3 kg d) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 101 = 10,1 kg e) Beban reaksi = reaksi jurai = 2630,62 kg 8) Beban P12 = P14 a) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , , ,875) 25

70 6969 = 109,737 kg b) Beban plat sambung = 30% beban kuda-kuda = 30% 109,737 = 32,921 kg c) Beban bracing = 10% beban kuda-kuda = 10% 109,737 = 10,974 kg 9) Beban P13 a) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , ,165+2, ,875) 25 = 145,537 kg b) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 145,537 = 43,661 kg c) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 145,537 = 14,554 kg d) Beban reaksi = reaksi ½ kuda-kuda = 2599,35 kg Beban Tabel Rekapitulasi Pembebanan Kuda-kuda Trapesium Beban Beban Beban Beban Beban Plat Beban Kuda - Atap gording Bracing Penyambung Plafon kuda (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) Beban Reaksi (kg) Jumlah Beban (kg) Input SAP (kg)

71 7070 P1=P9 364,4 41,25 50,5 5,05 15,15 56,93-518, P2=P8 263,6 31,02 94,725 9,472 28, , P3=P7 98,8 20, ,362 11,336 34, , , P4=P ,737 10,974 39, , P ,937 7,394 22, , , P10=P ,412 6,041 18,124 94,89-179, P11=P ,1 30,3 35, , , P12=P ,737 10,974 32, , P ,537 14,554 43, , , Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P1, P2, P4, P5, P6, P8, P9 = 100 kg

72 7171 Beban Angin Perhitungan beban angin : W3 W4 W1 9 W W5 16 W Gambar Pembebanan Kuda-kuda Trapesium akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. 1) Koefisien angin tekan = 0,02α 0,40 = (0,02 35) 0,40 = 0,2 a) W1 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,288 0,2 25 = 36,44 kg b) W2 = luasan koef. angin tekan beban angin = 5,272 0,2 25 = 26,36 kg c) W3 = luasan koef. angin tekan beban angin = 1,976 0,2 25 = 9,88 kg 2) Koefisien angin hisap = - 0,40 a) W4 = luasan koef. angin tekan beban angin = 1,976-0,4 25 = -19,76 kg b) W5 = luasan koef. angin tekan beban angin = 5,272-0,4 25 = -52,72 kg c) W6 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,288-0,4 25 = -72,88 kg

73 7272 Tabel Perhitungan Beban Angin Kuda-kuda Trapesium Beban W Beban (kg) x (Untuk Input W y (Untuk Input Angin W.Cos α (kg) SAP2000) W.Sin α (kg) SAP2000) W 1 36,44 31, ,22 19 W 2 26,36 22, ,18 14 W 3 9,88 8, ,94 5 W 4-19,76-17, ,88-10 W 5-52,72-45, ,36-27 W 6-72,88-63, ,44-37 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang jurai sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi Gaya Batang Kuda-kuda Trapesium kombinasi Batang Tarik (+) (kg) Tekan (-) (kg) , , , , , , , , , , , , , , , ,56

74 , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Profil Kuda-kuda Trapesium a. Perhitungan Profil Batang Tarik P maks. = 23683,57 kg F y = 2400 kg/cm 2 (240 MPa) = 3600 kg/cm 2 (360 MPa) F u Ag perlu = P mak = Fy 23683,57 = 9,86 cm Dicoba, menggunakan baja profil Dari tabel baja didapat data-data =

75 7474 Ag = 15,5 cm 2 x = 2,54 cm An = 2.Ag-dt = = 2893 mm 2 L =Sambungan dengan Diameter = 4.12,7 = 50,8 mm x = 25,4 mm U x =1 L 25,4 = 1- = 0,5 50,8 Ae = U.An = 0, = 1446,5 mm 2 Check kekuatan nominal φ Pn = 0,75. Ae. Fu = 0, ,5.360 = N = 39055,5 kg > 23683,57 kg OK a. Perhitungan profil batang tekan P maks. = 26648,83 kg lk = 2,165 m = 216,5 cm Ag perlu = P mak 26648, 83 = = 11,10 cm 2 Fy 2400 Dicoba, menggunakan baja profil (Ag = 15,5 cm 2 ) Periksa kelangsingan penampang :

76 7575 b 2. t w < = < Fy K.L λ = = r λ c = = ω = λ π Fy E 85,23 3,14 = 5 < 12, ,5 2,54 = 85, = 0, ,25 < λc < 1,2 ω 1,43 = = 1,6-0,67λc Pn = 2. Ag. Fcr 2400 = 2.15,5. 1,473 = 50509,16 1,43 1,6 0,67.0,940 = 1,473 1,43 = 1,6-0,67λc P φpn = 26648,83 0, ,16 = 0,62 < 1 OK Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 14 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm

77 7676 Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = m.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu.d b. t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7406,64 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7406,64 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks ,83 n = = = 3,59 ~ 4 buah baut P 7406,64 tumpu Digunakan : 4 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 5d S 15t atau 200 mm Diambil, S 1 = 4.d b = 4. 12,7 = 50,8 mm = 55 mm b) 1,5 d S 2 (4t +100) atau 200 mm Diambil, S 2 = 1,5 d b = 1,5. 12,7 = 19,05 mm = 20 mm b. Batang tarik

78 7777 Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 14,7 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = n.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu. d b t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7406,64 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7604,64 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks ,57 n = = = 3,19 ~ 4 buah baut P 7406,64 tumpu Digunakan : 4 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 4d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7 = 6,35 mm = 60 mm Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Kuda-kuda Trapesium

79 7878 Nomer Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,7

80 , , Perencanaan Kuda-kuda Utama A (KKA) Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda A Gambar Rangka Batang Kuda-kuda Utama A Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel Perhitungan Panjang Batang pada Kuda-kuda Utama A No batang Panjang batang 1 1, , , , , , , , ,165

81 , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,083

82 Perhitungan Luasan Setengah Kuda-Kuda Utama A a b l k a l c d j i b k e f g h c j d i e f g h Gambar Luasan Atap Kuda-kuda Utama A Panjang al Panjang di Panjang eh Panjang fg Panjang ab Panjang ef = Panjang bk = Panjang cj = 3,875 m = 3,406 m = 2,468 m = 2,000 m = 1,937 m, bc = cd = de = 1,875 m = ½. 1,875 = 0,937 m Luas abkl = al ab = 3,875 1,937 = 7,505 m 2 Luas bcjk = bk bc = 3,875 1,875 = 7,265 m 2 cj + di Luas cdij = (cj ½ cd ) cd 2 3, ,406 = (3,875 ½. 1,875) ,875 2

83 8282 = 7,042 m 2 di + eh Luas dehi = de 2 3, ,468 = 1,875 2 = 5,506 m 2 eh + fg Luas efgh = ef 2 2, ,000 = 0,937 2 = 2,093 m 2 a b l k a l c d j i b k e f g h c j d i e f g h Gambar Luasan Plafon Kuda-kuda Utama A Panjang al Panjang di Panjang eh = Panjang bk = Panjang cj = 3,875 m = 3,406 m = 2,468 m

84 8383 Panjang fg = 2,000 m Panjang ab = 0,937 m Panjang bc = cd = de = 1,8 m Panjang ef = 0,9 m Luas abkl = al ab = 3,875 0,937 = 3,630 m 2 Luas bcjk = bk bc = 3,875 1,8 = 6,975 m 2 cj + di Luas cdij = (cj ½ cd ) cd 2 3, ,406 = (3,875 ½ 1,8) ,8 2 = 6,763 m 2 di + eh Luas dehi = de 2 3, ,468 = 1,8 2 = 5,286 m 2 eh + fg Luas efgh = ef 2 2, ,000 = 0,9 2 = 2,010 m Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Utama A Data-data pembebanan : Berat gording = 11 kg/m

85 8484 Jarak antar kuda-kuda utama = 3 m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil = 15 kg/m Gambar Pembebanan Kuda- kuda Utama A akibat Beban Mati a. Beban Mati 1) Beban P1 = P9 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 3,875 = 42,625 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 7, = 375,25 kg c) Beban plafon = Luasan berat plafon = 3, = 65,34 kg d) Beban kuda-kuda = ½ Btg (1 + 9) berat profil kuda kuda = ½ (1, ,165) 25 = 50,5 kg e) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 50,5 = 15,15 kg

86 8585 f) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 50,5 = 5,05 kg 2) Beban P2 = P8 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 3,875 = 42,625 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 7, = 363,25 kg c) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (2, , , ,165) 25 = 94,725 kg d) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 94,725 = 28,417 kg e) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 94,725 = 9,472 kg 3) Beban P3 = P7 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 3,875 = 42,625 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 7, = 352,1 kg c) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (2, , , ,165) 25 = 116,987 kg d) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 116,987 = 35,096 kg e) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 116,987 = 11,699 kg

87 8686 4) Beban P4 = P6 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 2,5 = 27,5 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 5, = 275,3 kg c) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (2, ,248 +3,75 + 2,165) 25 = 141,6 kg d) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 141,6 = 42,48 kg e) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 141,6 = 14,16 kg 5) Beban P5 a) Beban gording = Berat profil gording Panjang Gording = 11 1,5 = 16,5 kg b) Beban atap = Luasan Berat atap = 2, = 104,65 kg c) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (2, , ,165) 25 = 108,25 kg d) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 108,25 = 32,475 kg e) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 108,25 = 10,825 kg f) Beban reaksi = reaksi jurai + reaksi ½ kuda-kuda = 2630, ,35 = 5229,97 kg

88 8787 6) Beban P10 = P16 a) Beban plafon = Luasan berat plafon = 6, = 125,55 kg b) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , ,875) 25 = 60,412 kg c) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 60,412 = 18,124 kg d) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 60,412 = 6,041 kg 7) Beban P11 = P15 a) Beban plafon = Luasan berat plafon = 6, = 121,734 kg b) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , , ,875) 25 = 101 kg c) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 101 = 30,3 kg d) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 101 = 10,1 kg 8) Beban P12 = P14 a) Beban plafon = Luasan berat plafon = 5, = 95,148 kg b) Beban kuda-kuda = ½ Btg ( ) berat profil kuda kuda = ½ (1, , , ,875) 25

89 8888 = 123,275 kg c) Beban plat sambung = 30% beban kuda-kuda = 30% 123,275 = 36,982 kg d) Beban bracing = 10% beban kuda-kuda = 10% 123,275 = 12,327 kg 9) Beban P13 a) Beban plafon = (2 Luasan) berat plafon = 2 2, = 72,36 kg b) Beban kuda-kuda =½ Btg ( ) berat profil kuda-kuda = ½ (1, , , , ,875) 25 = 194,75 kg c) Beban plat sambung = 30 % beban kuda-kuda = 30 % 194,75 = 58,425 kg d) Beban bracing = 10 % beban kuda-kuda = 10 % 194,75 = 19,475 kg e) Beban reaksi = (2 reaksi jurai) + reaksi ½ kuda-kuda = (2 2630,62 kg) ,35 kg = 7860,59 kg Beban Tabel Rekapitulasi Beban Mati Kuda-kuda Utama A Beban Beban Beban Beban Beban Plat Beban Kuda - Atap gording Bracing Penyambung Plafon kuda (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) (kg) Beban Reaksi (kg) Jumlah Beban (kg) P1=P9 375,25 42,625 50,5 5,05 15,5 65,34-554, Input SAP (kg)

90 8989 P2=P8 363,25 42,625 94,725 9,472 28, , P3=P7 352,1 42, ,987 11,699 35, , P4=P6 275,3 27,5 141,60 14,16 42, , P5 104,65 16,5 108,25 10,825 32, , , P10=P ,412 6,041 18, ,55-210, P11=P ,1 30,3 121, , P12=P ,275 12,327 36,982 95, , P ,75 19,475 58,425 72, , , b. Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P1, P2, P3, P4, P6, P7, P8, P9 = 100 kg

91 9090 c. Beban Angin Perhitungan beban angin : W5 W6 W W7 W W8 23 W1 9 W W9 16 W Gambar Pembebanan Kuda-kuda Utama A akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. 1) Koefisien angin tekan = 0,02α 0,40 = (0,02 30) 0,40 = 0,2 a. W1 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,505 0,2 25 = 37,525 kg b. W2 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,265 0,2 25 = 36,325 kg c. W3 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,042 0,2 25 = 35,21 kg d. W4 = luasan koef. angin tekan beban angin = 5,506 0,2 25 = 27,53 kg e. W5 = luasan koef. angin tekan beban angin = 2,093 0,2 25 = 10,465 kg

92 9191 2) Koefisien angin hisap = - 0,40 a. W6 = luasan koef. angin tekan beban angin = 2,093-0,4 25 = -20,93 kg b. W7 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 5,506-0,4 25 = -55,06 kg c. W8 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,042-0,4 25 = -70,42 kg d. W9 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,265-0,4 25 = -72,65 kg e. W10 = luasan koef. angin tekan beban angin = 7,505-0,4 25 = -75,05 kg Tabel Perhitungan Beban Angin Kuda-kuda Utama Beban Wx (Untuk Input Wy (Untuk Input Beban (kg) Angin W.Cos α (kg) SAP2000) W.Sin α (kg) SAP2000) W 1 37,525 32, , W 2 36,325 31, , W 3 35,21 30, , W 4 27,53 23, , W 5 10,465 9, ,232 5 W 6-20,93-18, , W 7-55,06-47, ,53-27 W 8-70,42-60, ,21-36 W 9-72,65-62, , W 10-75,05-64, ,525-38

93 9292 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang kuda-kuda utama sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi Gaya Batang Kuda-kuda Utama A Batang kombinasi Tarik (+) kg Tekan(+) kg , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,88

94 , , , Perencanaan Profil Kuda- kuda Utama A a. Perhitungan Profil Batang Tarik P maks. = 12080,78 kg F y = 2400 kg/cm 2 (240 MPa) = 3700 kg/cm 2 (370 MPa) F u Ag perlu = P mak = Fy 20596,49 = 8,58 cm Dicoba, menggunakan baja profil Dari tabel baja didapat data-data = Ag = 9,40 cm 2 x = 2,12 cm An = 2.Ag-dt = = 1740 mm 2 L =Sambungan dengan Diameter = 3.12,7 =38,1 mm x = 21,2 mm U =1 = 1- x L 21,2 = 0,444 38,1 Ae = U.An = 0,

95 9494 = 772,56 mm 2 Check kekuatan nominal φ Pn = 0,75. Ae. Fu = 0, , = ,4 N = 21438,54 kg > 20683,49 kg OK b. Perhitungan profil batang tekan P maks. = 13974,92 kg lk = 2,165 m = 216,5 cm Ag perlu = P mak 13974, 92 = = 5,82 cm 2 Fy 2400 Dicoba, menggunakan baja profil (Ag = 9,40 cm 2 ) Periksa kelangsingan penampang : b < = < 2. t Fy w = 7,78 < 12,9 K.L 1.216,5 λ = = r 2,12 λ c = = ω = λ π Fy E 102,12 3,14 = 102, = 1,13.. 0,25 < λc < 1,2 ω 1,43 = = 1,6-0,67λc 1,43 1,6 0,67.1,13 = 1,697 1,43 = 1,6-0,67λc Pn = 2. Ag. Fcr

96 9595 P φpn 2400 = 2.9,40. 1,697 = 26588,097 = 20596,49 0, ,097 = 0,911 < 1 OK Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 14 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = m.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu.d b. t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7612,38 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7612,38 kg.

97 9696 Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks ,59 n = = = 3,13 ~ 4 buah baut P 7612,38 tumpu Digunakan : 4 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7 = 6,35 mm = 60 mm b. Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 13,7 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = n.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut :

98 9797 P n = 0,75 (2,4.fu. d b t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7612,38 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7612,38 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks ,49 n = = = 2,70 ~ 3 buah baut P 7612,38 geser Digunakan : 3 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7 = 6,35 mm = 60 mm Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama A Nomer Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , ,7

99 , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Kuda-kuda Utama B (KKB) Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda Utama B

100 9999 Gambar Panjang batang kuda-kuda B Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel Perhitungan Panjang Batang Pada Kuda-kuda Utama B No batang Panjang batang (m) 1 1, , , , , , , , , , , , , , , , ,464

101 , , , , Perhitungan Luasan Kuda-Kuda Utama B e d c b a f g h i j e d c b a f g h i j Gambar Luasan Atap Kuda-kuda Utama B Panjang ef,dg,ch,bi,aj Panjang fg Panjang gh Panjang hi Panjang ij = 3,00 m = 1,125 m = 2,063 m = 1,875 m = 1,937 m Luas efdg = ef x fg = 3 x 1,125= 3,375 m 2 Luas dghc = dg x gh = 3 x 2,063 = 6,189 m 2 Luas chib = ch x hi = 3 x 1,875 = 5,625 m 2 Luas bija = bi x ij

102 = 3 x 1,937 = 5,811 m 2 Gambar Luasan Plafon Kuda-kuda Utama B Panjang ef,dg,ch,bi,aj Panjang fg Panjang gh Panjang hi Panjang ij = 3,00 m = 1,125 m = 2,063 m = 1,875 m = 0,937 m Luas efdg = ef x fg = 3 x 1,125= 3,375 m 2 Luas dghc = dg x gh = 3 x 2,063 = 6,189 m 2 Luas chib = ch x hi = 3 x 1,875 = 5,625 m 2 Luas bija = bi x ij = 3 x 0,937 = 2,811 m Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Utama B Data-data pembebanan : Berat gording = 11 kg/m

103 Jarak antar kuda-kuda utama = 3,00 m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil = 25 kg/m P4 P1 P3 P P2 P P7 P12 P11 P10 P9 P8 Gambar Pembebanan Kuda - Kuda utama B akibat beban mati Perhitungan Beban a. Beban Mati 1) Beban P 1 = P 7 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording = 11 x 3 = 33 kg b) Beban atap = Luasan atap bija x Berat atap = 5,811 x 50 = 290,55 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg (7 + 1) x berat profil kuda kuda = ½ x (2, ,875) x 25 = 50,5 kg d) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 50,5 = 15,15 kg e) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 50,5 = 5,05 kg f) Beban plafon = Luasan x berat plafon = 2,811 x 18 = 50,6 kg

104 ) Beban P 2 =P 6 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording = 11 x 3 = 33 kg b) Beban atap = Luasan atap bchi x berat atap = 5,625 x 50 = 281,25 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2, , , ,165) x 25 = 94,72 kg d) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 94,72 = 28,42 kg e) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 94,72 = 9,47 kg 3) Beban P 3 =P 5 f) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording = 11 x 3 = 33 kg g) Beban atap = Luasan atap cdgh x berat atap = 6,189 x 50 = 309,45 kg h) Beban kuda-kuda = ½ x Btg( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2, , , ,122) x 25 = 125,625 kg i) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 125,625 = 37,68 kg j) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 125,625 = 12,56 kg 4) Beban P 4 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording = 11 x 3 = 33 kg b) Beban atap = Luasan atap defg x berat atap

105 = 3,375 x 50 = 168,75 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,598+2,598+3,464) x 25 = 108,25 kg d) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 108,25 = 32,47 kg e) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 108,25 = 10,83 kg 5) Beban P 8 = P 12 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1, , ,875) x 25 = 60,41 kg b) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 60,41 = 18,12 kg c) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 60,41 = 6,04 kg d) Beban Plafon = Luasan plafon x berat plafon = 5,625 x 18 = 101,25 kg 6) Beban P 9 = P 11 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,25 + 2, , ,875) x 25 = 105,68 kg b) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 105,68 = 31,7 kg c) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 105,68 = 10,57 kg d) Beban Plafon = Luasan plafon x berat plafon = 6,189 x 18 = 111,4 kg 7) Beban P 10

106 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,25+3,122+3,464 +3,122+2,25) x 25 = 177,6 kg b) Beban plat sambung = 30% x beban kuda-kuda = 0,3 x 177,6 = 53,28 kg c) Beban bracing = 10% x beban kuda-kuda = 0,1 x 177,6 = 17,76 kg d) Beban Plafon = Luasan plafon x berat plafon = 3,375 x 18 = 60,75 kg Beban Tabel Rekapitulasi Beban Mati Kuda kuda Utama B Beban Atap (kg) Beban gording (kg) Beban Kuda - kuda (kg) Beban Bracing (kg) Beban Plat Penyambung (kg) Beban Plafon (kg) Jumlah Beban (kg) Input SAP P 1 =P 7 290, ,5 5,05 15,15 50,6 444, P 2 =P 6 281, ,72 9,47 28,42-446, P 3 =P 5 309, ,625 12,56 37,68-518, P 4 168, ,25 10,83 32,47-353,3 353 P 8 =P ,41 6,04 18,12 101,25 185, P 9 =P ,658 10,57 31,7 111,4 259, P ,6 17,76 53,28 60,75 309, (kg) b. Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P 1, P 2, P 3, P 4, P 5, P 6, P 7 = 100 kg c. Beban Angin Perhitungan beban angin : 15 7 W1 W2 W3 W4 8 W W W7 12 W8

107 Gambar Pembebanan kuda-kuda utama B akibat beban angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. a. Koefisien angin tekan = 0,02α 0,40 = (0,02 x 30) 0,40 = 0,2 a) W 1 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 5,811 x 0,2 x 25 = 29,06 kg b) W 2 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 5,625 x 0,2 x 25 = 28,125 kg c) W 3 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 6,189 x 0,2 x 25 = 30,945 kg d) W 4 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 3,375 x 0,2 x 25 = 16,875 kg b. Koefisien angin hisap = - 0,40 a) W 5 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 3,375 x -0,4 x 25 = -33,75 kg

108 b) W 6 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 6,189 x -0,4 x 25 = -61,89 kg c) W 7 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 5,625 x -0,4 x 25 = -56,25 kg d) W 8 = luasan x koef. angin tekan x beban angin = 5,811 x -0,4 x 25 = -58,11 kg Tabel Perhitungan Beban Angin Kuda kuda Utama B Beban Wx (Untuk Input Wy (Untuk Input Beban (kg) Angin W.Cos α (kg) SAP2000) W.Sin α (kg) SAP2000) W 1 29,06 25, ,53 15 W 2 28,125 24, , W 3 30,945 26, , W 4 16,875 14, ,437 8 W 5-33,75-29, , W 6-61,89-53, , W 7-56,25-48, , W 8-58,11-50, , Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang kuda-kuda utama sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi Gaya Batang Kuda-kuda Utama B kombinasi Batang Tarik (+) Tekan(-) kg Kg ,07 -

109 , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Profil Kuda- kuda Utama B a. Perhitungan profil batang tarik P maks. = 5031,07 kg F y F u = 2400 kg/cm 2 (240 MPa) = 3700 kg/cm 2 (370 MPa)

110 Ag perlu = P mak = Fy 5031,83 = 2,096 cm Dicoba, menggunakan baja profil Dari tabel baja didapat data-data = Ag = 8,23 cm 2 x = 1,64 cm An = 2.Ag-dt = = 1510 mm 2 L =Sambungan dengan Diameter = 3.12,7 =38,1 mm x = 16,4 mm U =1 = 1- x L 16,4 = 0,569 38,1 Ae = U.An = 0, = 859,19 mm 2 Check kekuatan nominal φ Pn = 0,75. Ae. Fu = 0, , = ,2 N = 23842,52 kg > 5031,07 kg OK c. Perhitungan profil batang tekan P maks. = 5841,04 kg lk = 2,31 m = 231 cm Ag perlu = P mak 5841, 04 = = 2,43 cm 2 Fy 2400

111 Dicoba, menggunakan baja profil (Ag = 8,23 cm 2 ) Periksa kelangsingan penampang : b 2. t w < = < Fy 8 K.L λ = = r λ c = λ π Fy E = 6,87 < 12, ,64 = 140,85 = 140,85 3, ω = 1,55 λc 1,2 ω 2 = 1,25.λ c = 1,25. (1,55 2 ) Pn = 2. Ag. Fcr P φpn = 2.8,23. = = = ,04 0, = 0,521 < 1 OK 2 = 1,25.λ c Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 14 mm.

112 Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = m.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu.d b. t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7612,38 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7612,38 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 5841,04 n = = = 0,767 ~ 2 buah baut P 7612,38 tumpu Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5d S1 3d Diambil, S 1 = 2,5 d b = 2,5. 12,7 = 3,175 mm = 30 mm b) 2,5 d S 2 7d Diambil, S 2 = 5 d b = 1,5. 12,7 = 6,35 mm = 60 mm b. Batang tarik

113 Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut ( ) = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 13,7 mm. Tebal pelat sambung (δ) = 0,625. d b = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tahanan geser baut P n Tahanan tarik penyambung P n = n.(0,4.f ub ).An = 2.(0,4.825).¼. π. 12,7 2 = 8356,43 kg/baut = 0,75.f ub.an =7833,9 kg/baut Tahanan Tumpu baut : P n = 0,75 (2,4.fu. d b t) = 0,75 (2, ,7.9) = 7612,38 kg/baut P yang menentukan adalah P tumpu = 7612,38 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 5031,83 n = = = 0,661~ 2 buah baut P 7612,38 tumpu Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 3d S 15t atau 200 mm Diambil, S 1 = 3 d b = 3. 12,7 = 38,1 mm = 40 mm b) 1,5 d S 2 (4t +100) atau 200 mm Diambil, S 2 = 1,5 d b = 1,5. 12,7 = 19,05 mm = 20 mm

114 Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama B Nomer Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,7

115 BAB 4 PERENCANAAN TANGGA 4.1 Uraian Umum Tangga merupakan bagian dari struktur bangunan bertingkat yang sangat penting untuk penunjang antara struktur bangunan dasar dengan struktur bangunan tingkat atasnya. Penempatan tangga pada struktur suatu bangunan sangat berhubungan dengan fungsi bangunan bertingkat yang akan dioperasionalkan. Pada bangunan umum, penempatan haruslah mudah diketahui dan terletak strategis untuk menjangkau ruang satu dengan yang lainya, penempatan tangga harus disesuaikan dengan fungsi bangunan untuk mendukung kelancaran hubungan yang serasi antara pemakai bangunan tersebut Data Perencanaan Tangga Naik Bordess Gambar 4.1 Perencanaan Tangga ±4,00 Bab 4 Perencanaan Tangga ±2,

116 115 Gambar 4.2 Potongan Tangga Data-data perencanaan tangga: Tebal plat tangga = 12 cm Tebal bordes tangga = 15 cm Lebar datar = 500 cm Lebar tangga rencana = 140 cm Dimensi bordes = 200 x 300 cm Menentukan lebar antrede dan tinggi optrede Lebar antrede = 30 cm Jumlah antrede = 300 / 30 = 10 buah Jumlah optrede = = 11 buah Tinggi optrede = 200 / 11 = 18 cm Menentukan kemiringan tangga α = Arc.tg ( 200/300) = 33,69 o < 35 o (ok) 4.3. Perhitungan Tebal Plat Equivalen dan Pembebanan

117 Perhitungan Tebal Plat Equivalen y 30 C t' D B A teq 18 ht=12 Gambar 4.3 Tebal Equivalen BD BC = AB AC BD = AB BC AC = ( ) 2 ( ) 2 = 15,43 cm t eq = 2/3 x BD = 2/3 x 15,43 = 10,29 cm Jadi total equivalent plat tangga : Y = t eq + ht = 10, = 22,29 cm = 0,23 m Perhitungan Beban

118 117 a. Pembebanan tangga ( tabel 2. 1 PPIUG 1983 ) 1. Akibat beban mati (q D ) Berat tegel keramik(1 cm) = 0,01 x 1,4 x 2400 = 33,6 kg/m Berat spesi (2 cm) = 0,02 x 1,4 x 2100 = 58,8 kg/m Berat plat tangga = 0,23 x 1,4 x 2400 = 772,8 kg/m Berat sandaran tangga = 0,7 x 0,1 x 1000 x1 = 70 kg/m + q D = 935,2 kg/m 2. Akibat beban hidup (q L ) q L = 1,40 x 300 kg/m 2 = 420 kg/m 3. Beban ultimate (q U ) q U = 1,2. q D q L = 1,2. 935,2 + 1, = 1794,24 kg/m b. Pembebanan pada bordes ( tabel 2. 1 PPIUG 1983 ) 1. Akibat beban mati (q D ) Berat tegel keramik (1 cm) = 0,01 x 3 x 2400 = 72 kg/m Berat spesi (2 cm) = 0,02 x 3 x 2100 = 126 kg/m Berat plat bordes = 0,15 x 3 x 2400 = 1080 kg/m Berat sandaran tangga = 0,7 x 0,1 x 1000 x 2 = 140 kg/m + q D = 1418 kg/m 2. Akibat beban hidup (q L ) q L = 3 x 300 kg/ m 2 = 900 kg/m 3. Beban ultimate (q U ) q U = 1,2. q D q L = 1, ,6.900

119 118 = 3141,6 kg/m Perhitungan analisa struktur tangga menggunakan Program SAP 2000 tumpuan di asumsikan jepit, sendi, jepit seperti pada gambar berikut : Gambar 4.3 Rencana Tumpuan Tangga 4.4. Perhitungan Tulangan Tangga dan Bordes Perhitungan Tulangan Tumpuan b = 1400 mm h = 150 mm (tebal bordes) p (selimut beton) = 40 mm Tulangan Ø 12 mm d = h p ½ Ø tul = = 104 mm Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh Mu : M u = 2053,45 kgm = 2, Nmm 7 Mu 2, Mn = = = 2,57.10 Nmm φ 0,8

120 119 fy 240 m = = = 11, 29 0,85. fc 0, ,85. fc 600 ρb =. β. fy fy 0, =. β = 0,053 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,053 = 0,04 ρ min = 0,0025 Mn Rn = = 2 b.d 2, ( 104) 2 = 1,70 N/mm ρ ada = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = ,29 = 0, ,29.1, ρ ada < ρ max ρ ada > ρ min di pakai ρ ada = 0,007 As = ρ ada. b. d = 0,007 x 1400 x 104 = 1019,2 mm 2 Dipakai tulangan 12 mm = ¼. π x 12 2 = 113,04 mm ,2 Jumlah tulangan = = 9,01 10 buah 113, Jarak tulangan 1 m = = 100 mm 10 Dipakai tulangan mm 100 mm As yang timbul = 10. ¼.π. d 2

121 120 = 1130,4 mm 2 > As ( 1019,04 )...Aman! Perhitungan Tulangan Lapangan M u = 981,27 kgm = 0, Nmm 7 Mu 0, Mn = = = 1, Nmm φ 0,8 fy 240 m = = = 11, 29 0,85. fc 0, ,85. fc 600 ρb =. β. fy fy 0, =. β = 0,053 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,053 = 0,04 ρ min = 0,0025 Mn Rn = = 2 b.d ρ ada = 1 1 m 1, ( 104) 2 2.m.Rn fy = 0,81 N/mm 2 = ,29 = 0, ,29.0, ρ ada < ρ min ρ min < ρ max di pakai ρ min = 0,0025 As = ρ min. b. d = 0,0025 x 1400 x 104 = 364 mm 2 Dipakai tulangan 12 mm = ¼. π x 12 2 = 113,04 mm 2

122 121 Jumlah tulangan dalam 1 m = , Jarak tulangan 1 m = 4 = 3,22 4 tulangan = 250 mm Dipakai tulangan 4 12 mm 200 mm As yang timbul = 4. ¼ x π x d 2 = 452,16 mm 2 > As ( 364 )...aman! 4.5. Perencanaan Balok Bordes 20 qu balok m Data perencanaan: h = 300 mm b = 150 mm d`= 40 mm d = h d` = = 260 mm Pembebanan Balok Bordes Beban mati (q D ) Berat sendiri = 0,15 x 0,30 x 2400 = 108 kg/m Berat dinding = 0,15 x 2 x 1700 = 510 kg/m Berat plat bordes = 0,15 x 2400 = 360 kg/m q D = 978 kg/m

123 122 Akibat beban hidup (q L ) q L = 300 kg/m Beban ultimate (q U ) q U = 1,2. q D + 1,6. q L = 1, ,6.300 = 1653,6 kg/m Beban reaksi bordes q u = Re aksi bordes lebar bordes ,6 = 2 2 = 413,4 Kg/m Perhitungan tulangan lentur Tulangan tumpuan M u Mn = = 1860,3 kgm = 1, Nmm Mu 1, = = 2, Nmm φ 0,8 fy 240 m = = = 11, 29 0,85. fc 0, ,85.fc 600 ρb =. β. fy fy 0, =.0, = 0,053 ρ max = 0,75. ρb = 0,75 x = 0,04 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0058 fy 240 Mn Rn = = 2 b.d 2, ( 260) 2 = 2,3 N/mm

124 123 ρ ada = 1 1 m 1 2.m.Rn fy 1 =. 11,29 = 0, ,29.2, ρ ada < ρ max ρ ada > ρ min di pakai ρ ada = 0,01 As = ρ ada. b. d = 0,01 x 150 x 260 = 390 mm 2 Dipakai tulangan 12 mm = ¼. π x 12 2 = 113,04 mm Jumlah tulangan = = 3,45 4 buah 113,04 As yang timbul = 4. ¼.π. d 2 = 452,16 mm 2 > As ( 390 )... Aman! Dipakai tulangan 4 12 mm Perhitungan Tulangan Geser Balok Bordes Vu = 2480,4 kg = N Vc = 1 / 6. b.d. f'c. = 1/ Vc = N = 0,75. Vc = N 3 Vc = N Vu > Vc Jadi di perlukan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc = = 429 N Vs perlu = φvs 0, = = 572 N 0, 75

125 124 Av = 2. ¼ π (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av.fy. d 100, s = = = mm Vs perlu 429 S max = d/2 = 260 = 130 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan D mm 4.6. Perhitungan Pondasi Tangga Pu Mu Gambar 4.3 Pondasi Tangga Direncanakan pondasi telapak dengan kedalaman 1,25 m dan panjang 1,40m - Tebal = 250 mm - Ukuran alas = 1400 x 1250 mm - γ tanah = 1,7 t/m 3 = 1700 kg/m 3 - σ tanah = 3 kg/cm 2 = kg/m 2 - Pu = kg - h = 250 mm - d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s = ½.12 8 = 196 mm

126 Perencanaan kapasitas dukung pondasi Perhitungan kapasitas dukung pondasi Pembebanan pondasi Berat telapak pondasi = 1,4 x 1,25 x 0,25 x 2400 = 1050 kg Berat tanah = 2 (0,5 x 0,75) x 1 x 1700 = 1275 kg Berat kolom = (0,25 x 1,4 x 0,75) x 2400 = 630 kg Pu = kg V tot = 13659,3 kg Vtot Mtot σ yang terjadi = + A 1 2.b.L ,3 tan ah = ± 1,4.1,25 σ ,45 1/ 6.1,4. ( 1,25) 2 = 13437,63 kg/m 2 = 13437,63 kg/m 2 < kg/m 2 = σ yang terjadi < σ ijin tanah...ok! Perhitungan Tulangan Lentur Mu = ½. qu. t 2 = ½ 13437,63. (0,5) 2 Mn = = 1679,7 kg/m = 1, Nmm 7 1, = 2,098 x10 7 Nmm 0,8 fy 240 m = = = 11, 29 0, , ,85. f'c 600 ρb = β fy fy 0, =.0, = 0,053 Mn 2, Rn = = 2 b.d ( ) 2 = 0,390

127 126 ρ max = 0,75. ρb = 0,04 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0058 fy 240 ρ ada = 1 1 m 1 2m. Rn fy 1 =. 11,29 = 0, ,29.0, ρ ada < ρ max ρ ada < ρ min dipakai ρ min = 0,0058 Untuk Arah Sumbu Panjang As ada = ρ min. b. d = 0, = 1591,52 mm 2 digunakan tul 12 = ¼. π. d 2 = ¼. 3,14. (12) 2 = 113,04 mm ,52 Jumlah tulangan (n) = =14,08 ~ 15 buah 113, Jarak tulangan = = 93,33 mm = 90 mm 15 Sehingga dipakai tulangan D mm As yang timbul = 15 x 113,04 = 1695,6 > As..OK! Untuk Arah Sumbu Pendek As perlu =ρ min b. d = 0, = 1421 mm 2

128 127 Digunakan tulangan 12 = ¼. π. d 2 = ¼. 3,14. (12) 2 = 113,04 mm 2 Jumlah tulangan (n) = 1421 = 12,57 ~ 13 buah 113, Jarak tulangan = = 96,15 mm = 95 mm 13 Sehingga dipakai tulangan D12 95 mm As yang timbul = 13 x 113,04 = 1469,52 > As.OK!

129 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai BAB 5 PLAT LANTAI 5.1. Perencanaan Pelat Lantai G A H B E F J I G A G A A A B B F F F F E F B B A A A G B H F F F F F F B H A G C L C D K D Gambar 5.1. Denah Plat lantai 5.2. Perhitungan Pembebanan Plat Lantai I. Plat Lantai a. Beban Hidup ( ql ) Berdasarkan PPIUG untuk gedung 1983 yaitu : Beban hidup fungsi gedung untuk swalayan tiap 1 m = 250 kg/m 2 Bab 5 Plat Lantai 128

130 129 Tugas Akhir 129 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai b. Beban Mati ( qd ) tiap 1 m Berat plat sendiri = 0,12 x 2400 x 1 = 288 kg/m Berat keramik ( 1 cm ) = 0.01 x 2400 x 1 = 24 kg/m Berat Spesi ( 2 cm ) = 0,02 x 2100 x 1 = 42 kg/m Berat plafond + instalasi listrik = 25 kg/m Berat Pasir ( 2 cm ) = 0,02 x 1,6 x 1 = 32 kg/m qd = 411 kg/m c. Beban Ultimate ( qu ) Untuk tinjauan lebar 1 m pelat maka : qu = 1,2 qd + 1,6 ql = 1, , = 893,2 kg/m Perhitungan Momen a. Tipe pelat A 3,75 Lx 2,50 A Ly Lx = 3,75 = 1,5 2,5 Bab 5 Plat Lantai Ly Gambar 5.2. Plat tipe A Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.38 = 212,13 kgm Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.15 = 83,73 kgm Mtx = - 0,001.qu.Lx 2.x = ,2. (2,5) 2.79 = - 441,01 kgm Mty = - 0,001.qu.Lx 2.x = ,2. (2,5) 2.57 = - 318,20 kgm

131 130 Tugas Akhir 130 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai b. Tipe pelat B Lx 2,50 B Ly Lx = 3,75 = 1,5 2,5 Gambar 5.3. Plat tipe B Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.36 = 200,97 kgm Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.17 = 94,90 kgm Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.76 = - 424,27 kgm Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.57 = - 318,20 kgm 3,75 Ly c. Tipe pelat C Lx 3,00 C Ly 4,00 Gambar 5.4. Plat tipe C Bab 5 Plat Lantai

132 131 Tugas Akhir 131 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Ly Lx = 4,00 = 1,3 3 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2.(3) Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) = 281,25 kgm = 144,70 kgm = - 594,87 kgm = - 458,21 kgm d. Tipe plat D Lx 3,00 D Ly 4,00 Gambar 5.5. Plat tipe D Ly Lx = 4,00 = 1,3 3 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2.(3) Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2.(3) = 337,62 kgm = 217,04 kgm = - 739,56 kgm = - 562,71 kgm Bab 5 Plat Lantai

133 132 Tugas Akhir 132 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai e. Tipe pelat E Lx 2,50 E Ly 4,00 Ly Lx = 4,0 = 1,6 2,5 Gambar 5.6. Plat tipe E Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.46 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.25 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.99 Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.77 = 256,80 kgm = 139,56 kgm = - 552,66 kgm = - 429,85 kgm f. Tipe pelat F 2,50 Lx F Ly 4,00 Gambar 5.7. Plat tipe F Bab 5 Plat Lantai

134 133 Tugas Akhir 133 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Ly Lx = 4,0 = 1,6 2,5 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.37 = 206,55 kgm Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.16 = 89,32 kgm Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.79 Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.57 = - 441,01 kgm = - 318,20 kgm g. Tipe pelat G Lx 2,50 G 3,75 Ly Gambar 5.8. Plat tipe G Ly Lx = 3,75 = 1,5 2,5 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.43 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.25 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.77 = 240,05 kgm = 139,56 kgm = - 574,98 kgm = - 429,85 kgm Bab 5 Plat Lantai

135 134 Tugas Akhir 134 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai h. Tipe pelat H Lx 2,50 H Ly Lx = 3,75 = 1,5 2,5 3,75 Ly Gambar 5.9. Plat tipe H Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.43 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.26 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.96 Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.76 = 240,05 kgm = 145,14 kgm = - 535,92 kgm = - 424,27 kgm i. Tipe pelat I Lx 2,50 I Ly 4,00 Gambar Plat tipe I Bab 5 Plat Lantai

136 135 Tugas Akhir 135 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Ly Lx = 4,0 = 1,6 2,5 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.39 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.14 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.80 Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.57 = 217,72 kgm = 78,15 kgm = - 446,6 kgm = - 318,20 kgm j. Tipe pelat J Lx 2,50 J 4,00 Ly Gambar Plat tipe J Ly Lx = 4,0 = 1,6 2,5 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.51 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.23 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (2,5) 2.78 = 284,71 kgm = 128,40 kgm = - 597,33 kgm = - 435,43 kgm Bab 5 Plat Lantai

137 136 Tugas Akhir 136 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai k. Tipe pelat K Lx K Ly 4,00 Gambar Plat tipe K Ly Lx = 4,0 = 1,3 3,0 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.31 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.19 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.69 Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.57 = 249,20 kgm = 152,74 kgm = - 554,67 kgm = - 458,21 kgm l. Tipe pelat L Lx 3,00 L 4,00 Ly Gambar Plat tipe L Bab 5 Plat Lantai

138 137 Tugas Akhir 137 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Ly Lx = 4,00 = 1,3 3 Mlx = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.36 Mly = 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.28 Mtx = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.82 Mty = - 0,001.qu. Lx 2. x = ,2. (3) 2.72 = 289,40 kgm = 225,09 kgm = - 659,18 kgm = - 578,80 kgm 5.4. Penulangan Plat Lantai Tabel 5.1. Perhitungan Plat Lantai Tipe Plat Ly/Lx (m) Mlx (kgm) Mly (kgm) Mtx (kgm) Mty (kgm) A 3,75/2,5=1,5 212,13 83,73 441,01 318,20 B 3,75/2,5=1,5 200,97 94,90 424,27 318,20 C 4,0/3,0=1,3 281,25 144,70 594,87 458,21 D 4,0/3,0=1,3 337,62 217,04 739,56 562,71 E 4,0/2,5=1,6 256,80 139,56 552,66 429,85 F 4,0/2,5=1,6 206,55 89,32 441,01 318,20 G 3,75/2,5=1,5 240,05 139,56 574,98 429,85 H 3,75/2,5=1,5 240,05 145,14 535,92 424,27 I 4,0/2,5=1,6 217,72 78,15 446,6 318,20 J 4,0/2,5=1,6 284,71 128,40 597,33 435,43 k 4,0/3,0=1,3 249,20 152,74 554,67 458,21 L 4,0/3,0=1,3 289,40 225,09 659,18 578,80 Dari perhitungan momen diambil momen terbesar yaitu: Mlx = 337,62 kgm Mly = 225,09 kgm Mtx = - 739,56 kgm Mty = - 578,80 kgm Bab 5 Plat Lantai

139 138 Tugas Akhir 138 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Data : Tebal plat ( h ) = 12 cm = 120 mm Tebal penutup ( d ) = 20 mm Diameter tulangan ( ) = 10 mm b = 1000 fy = 240 Mpa f c = 25 Mpa Tinggi Efektif ( d ) = h - d = = 100 m Tinggi efektif h dy dx d' Gambar Perencanaan Tinggi Efektif dx dy = h d - ½ Ø = = 95 mm = h d Ø - ½ Ø = ½. 10 = 85 mm untuk plat digunakan 0,85. fc 600 ρb =. β. fy fy 0, =.0, = 0,0538 ρ max = 0,75. ρb = 0,0403 ρ min = 0,0025 ( untuk pelat ) Bab 5 Plat Lantai

140 139 Tugas Akhir 139 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 5.5. Penulangan lapangan arah x Mu = 337,62 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 6 3,37.10 = = 4, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 4, ( 95) 2 = 0,47 N/mm 2 fy 240 m = = = 11, 29 0,85. f ' c 0,85.25 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = ,29 = 0, ,29.0, ρ < ρ max ρ < ρ min, di pakai ρ min = 0,0025 As = ρ min. b. d = 0, = 237,5 mm 2 Digunakan tulangan D 10 = ¼. π. (10) 2 = 78,5 mm 2 237,5 Jumlah tulangan = = 3, 02 ~ 4 buah. 78,5 Jarak tulangan dalam 1 m = = 250 mm ~ 240 mm 4 Jarak maksimum = 2 x h = 2 x 120 = 240 mm As yang timbul = 4. ¼.π.(10) 2 = 314 > 237,5 (As) OK! Dipakai tulangan D mm Bab 5 Plat Lantai

141 140 Tugas Akhir 140 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 5.6. Penulangan lapangan arah y Mu = 225,09 kgm = 2, Nmm Mn = Mu 6 2, = = 2, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 2, ( 85) 2 = 0,389 N/mm 2 fy 240 m = = = 11, 29 i 0,85. f c 0,85.25 ρ perlu = 1 1 m 2. m. Rn 1 fy 1 =. 11,294 = 0, ,294.0, ρ < ρ max ρ < ρ min, di pakai ρ min = 0,0025 As = ρ min b. d = 0, = 212,51 mm 2 Digunakan tulangan 10 = ¼. π. (10) 2 = 78,5 mm 2 212,5 Jumlah tulangan = = 2, 71 ~ 4 buah. 78,5 Jarak tulangan dalam 1 m = = 250 mm ~ 240 mm. 4 Jarak maksimum As yang timbul = 2 x h = 2 x 120 = 240 mm = 4. ¼.π.(10) 2 = 314 > 212,51 (As).OK! Dipakai tulangan D mm Bab 5 Plat Lantai

142 141 Tugas Akhir 141 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 5.7. Penulangan tumpuan arah x Mu = 739,56 kgm = 7, Nmm Mn = Mu 7, = = 9, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 9, ( 85) 2 = 1,27 N/mm 2 fy 240 m = = = 11, 29 0,85. f ' c 0,85.25 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy 1 =. 11,29 = 0, ,29.1, ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,005 As = ρ perlu. b. d = 0, = 425 mm 2 Digunakan tulangan D 10 = ¼. π. (10) 2 = 78,5 mm 2 Jumlah tulangan = 5, 41 78,5 Jarak tulangan dalam 1 m 1 = 166, 66 6 Jarak maksimum = 2 x h = 2 x 120 = 240 mm As yang timbul = 6. ¼.π.(10) 2 = 471 > 425 (As).OK! Dipakai tulangan D mm Bab 5 Plat Lantai

143 142 Tugas Akhir 142 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 5.8. Penulangan tumpuan arah y Mu = 578,80 kgm = 5, Nmm Mn = Mu 5, = = 7, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 7, ( 95) 2 = 0,80 N/mm 2 fy 240 M = = = 11, 29 0,85. f ' c 0,85.25 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy 1 =. 11,29 = 0, ,29.0, ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,0034 As = ρ perlu. b. d = 0, = 323 mm 2 Digunakan tulangan 10 = ¼. π. (10) 2 = 78,5 mm 2 Jumlah tulangan = 323 = 4, 12 ~ 5 buah. 78,5 Jarak tulangan dalam 1 m = = 200 mm ~ 120 mm. 5 Jarak maksimum = 2 x h = 2 x 120 = 240 mm As yang timbul = 5. ¼.π.(10) 2 = 392,5 > 323 (As).OK! Dipakai tulangan D mm Bab 5 Plat Lantai

144 143 Tugas Akhir 143 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 5.9. Rekapitulasi Tulangan Dari perhitungan diatas diperoleh : Tulangan lapangan arah x D mm Tulangan lapangan arah y D mm Tulangan tumpuan arah x D mm Tulangan tumpuan arah y D mm TIPE PLAT Tabel 5.2. Penulangan Plat Lantai Berdasarkan hitungan Penerapan dilapangan Tulangan lapangan Tulangan tumpuan Tulangan lapangan Tulangan tumpuan Arah x (mm) Arah y (mm) Arah x (mm) Arah y (mm) Arah x (mm) Arah y (mm) Arah x (mm) Arah y (mm) A B C D E F G H I J K L Bab 5 Plat Lantai

145 144 Tugas Akhir 144 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Bab 5 Plat Lantai

146 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai BAB 6 BALOK ANAK 6.1. Perencanaan Balok Anak A A' B B' C D D' E Gambar 6.1 Area Pembebanan Balok Anak Keterangan: Balok anak : as A ( 1-5 ) Balok anak : as B ( 1 8 ) Balok anak : as D ( 3 6 ) Bab 6 Balok Anak 140

147 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Perhitungan Lebar Equivalen Untuk mengubah beban segitiga dan beban trapesium dari plat menjadi beban merata pada bagian balok, maka beban plat harus diubah menjadi beban equivalent yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut : Lebar Equivalen Tipe Trapesium Leq ½ Lx Leq = 1/6 Lx 3 4. Lx 2.Ly 2 Ly Lebar Equivalen Balok Anak Tabel 6.1. Hitungan Lebar Equivalen No. Ukuran Plat Lx Ly Leq (m 2 ) (m) (m) (trapesium) 1. 2,5 3,75 2,5 3,75 1, ,5 x 4,0 2,5 4,0 1, ,0 4,0 2,5 4,0 1, Pembebanan Balok Anak as A Pembebanan 1 Gambar 6.2 Lebar Equivalen Balok Anak as A Bab 6 Balok Anak

148 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 142 Perencanaan Dimensi Balok h = 1/12. Ly = 1/ = 333,3 mm = 350 mm b = 2/3. h = 2/3. 333,3 = 250 mm (h dipakai = 350 mm, b = 250 mm ) 1. Beban Mati (q D ) Pembebanan balok A ( 1 3 ) Berat sendiri = 0,25x(0,35 0,12) x 2400 kg/m 3 = 138 kg/m Beban plat = (2 x 1,06) x 411 kg/m 2 = 871,32 kg/m qd1 =1009,32 kg/m Pembebanan balok A ( 3 5 ) Berat sendiri = 0,25x(0,35 0,12) x 2400 kg/m 3 = 138 kg/m Beban plat = (2 x 1,09) x 411 kg/m 2 = 895,98 kg/m qd2 =1033,98 kg/m 2. Beban hidup (q L ) Beban hidup digunakan 250 kg/m 2 ql1 = (2 x 1,06) x 250 kg/m 2 = 530 kg/m ql2 = (2 x 1,09) x 250 kg/m 2 = 545 kg/m 3. Beban berfaktor (q U ) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,32 + 1,6.530 = 2059,18 kg/m qu2 = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,98 + 1,6.545 = 2112,77 kg/m Bab 6 Balok Anak

149 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Perhitungan Tulangan a. Tulangan Lentur Balok Anak Data Perencanaan : h = 350 mm Ø t = 16 mm b = 250 mm Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 360 Mpa = / f c = 25 MPa = 294 Tulangan Lentur Daerah Lapangan 0,85.f' c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, = 0,031 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 3485,07 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 7 3, = = 4, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d Bab 6 Balok Anak 4, ( 294) fy 360 m = = = 17 0,85.f'c 0, = 2,01 N/mm 2

150 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 144 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = , = 0,006 ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,006 As = ρ min. b. d = 0, = 441 mm 2 Digunakan tulangan D 16 = ¼. π. (16) 2 = 200,96 mm 2 Jumlah tulangan = 441 = 2, 19 ~ 3 buah. 200,96 Dipakai 3 D 16 As ada = 3. ¼. π = 602,88 mm 2 > As aman! As ada fy 602, a = = = 40,85 0,85 f' c b 0, Mn ada = As ada fy (d - a 2 ) 40,85 = 602, (294 - ) 2 = 5, Nmm Mn ada > Mn... aman! Jadi dipakai tulangan 3 D 16 Daerah Lapangan Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = kgm = 2, Nmm Mn = Mu 7 2, = = 3, Nmm φ 0,8 Bab 6 Balok Anak

151 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 145 Mn Rn = = 2 b.d 3, ( 294) fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 1,47 N/mm 2 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = , = 0,004 ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,004 As = ρ min. b. d = 0, = 294 mm 2 Digunakan tulangan D 16 = ¼. π. (16) 2 = 200,96 mm 2 Jumlah tulangan = 294 = 1, 46 ~ 2 buah. 200,96 Dipakai 2 D 16 As ada = 2. ¼. π = 401,91 mm 2 > As aman! As ada fy 401, a = = = 27,23 0,85 f' c b 0, Mn ada = As ada fy (d - a 2 ) 27,23 = 401, (294 - ) 2 = 4, Nmm Mn ada > Mn... aman! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Bab 6 Balok Anak

152 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 146 Tulangan Geser Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Vu = kg = 42809,2 N f c = 25 Mpa fy = 360 Mpa d = h p ½ Ø = ½ (12) = 304 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ = 63333,33 N Ø Vc = 0, ,33 N = N ½ Ø Vc = ½ N = N ½ Ø Vc < Vu < Ø Vc N < 42809,2 N < N Jadi di perlukan tulangan geser minimum Ø Vs = Vu ½ Ø Vc = 42809, = 19059,2 N φvs 19059,2 Vs perlu = = = 25412,26 N 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy. d 100, s = = = 288, 48 mm Vs perlu 25412, S max = d/2 = = 152 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Bab 6 Balok Anak

153 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Pembebanan Balok Anak as A Pembebanan 2 Gambar 6. 3 Lebar Equivalen Balok Anak as A Perencanaan Dimensi Balok : h = 1/12. Ly = 1/ = 312,5 mm = 350 mm b = 2/3. h = 2/3. 312,5 = 233,33 mm (h dipakai = 350 mm, b = 250 mm ) 1. Beban Mati (q D ) Pembebanan balok as A ( 6 8 ) Berat sendiri = 0,25 x (0,35 0,12) x 2400 kg/m 3 = 138 kg/m Beban Plat = (2 x 1,06) x 411 kg/m 2 = 871,32 kg/m qd = 1009,32 kg/m 2. Beban hidup (q L ) Beban hidup digunakan 250 kg/m 2 ql = (2 x 1,06) x 250 kg/m 2 = 530 kg/m 3. Beban berfaktor (q U ) q U = 1,2. q D + 1,6. q L = (1,2 x 1009,32) + (1,6 x 530 ) = 2059,18 kg/m Bab 6 Balok Anak

154 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Perhitungan Tulangan Tulangan Lentur Balok Anak Data Perencanaan : h = 350 mm Ø t = 16 mm b = 250 mm Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 360 Mpa = / f c = 25 MPa = 294 Tulangan Lentur Daerah Lapangan 0,85.f' c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, = 0,0313 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,0313 = 0,0234 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = kgm = 3, Nmm Mn = Mu 7 3, = = 4, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 4, ( 294) fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 1,9 N/mm 2 Bab 6 Balok Anak

155 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 149 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = , = 0,005 ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,005 As = ρ. b. d = 0, = 367,5 mm 2 Digunakan tulangan D 16 = ¼. π. (16) 2 = 200,96 mm 2 367,5 Jumlah tulangan = = 1, 82 ~ 2 buah. 200,96 Dipakai tulangan 2 D 16 As ada = 3. ¼. π = 602,88 mm 2 > As aman! As ada fy 602, a = = = 40,85 0,85 f' c b 0, Mn ada = As ada fy (d - a 2 ) 40,85 = 602, (294 - ) 2 = 5, Nmm Mn ada > Mn... aman! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Daerah Lapangan Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = kgm = 2, Nmm Mn = Mu 7 2, = = 2, Nmm φ 0,8 Bab 6 Balok Anak

156 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 150 Mn Rn = = 2 b.d 2, ( 294) fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 1,17 N/mm 2 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = , = 0,0033 ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ min = 0,0038 As = ρ. b. d = 0, = 279,3 mm 2 Digunakan tulangan D 16 = ¼. π. (16) 2 = 200,96 mm 2 279,3 Jumlah tulangan = = 1, 38 ~ 2 buah. 200,96 Dipakai tulangan 2 D 16 As ada = 2. ¼. π = 401,92 mm 2 > As aman! As ada fy 401, a = = = 27,23 0,85 f' c b 0, Mn ada = As ada fy (d - a 2 ) 27,23 = 401, (294 - ) 2 = 4, Nmm Mn ada > Mn... aman! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Bab 6 Balok Anak

157 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 151 Tulangan Geser Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Vu = kg = 39943,6 N f c = 25 Mpa fy = 360 Mpa d = h p ½ Ø = ½ (12) = 304 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ = 63333,33 N Ø Vc = 0, ,33 N = N ½ Ø Vc = ½ N = N ½ Ø Vc < Vu < Ø Vc N < 39943,6 N < N Jadi perlukan tulangan geser minimum Ø Vs = Vu - ½ Ø Vc = 39943, = 16193,6 N φvs 16193,6 Vs perlu = = = 21591,46 N 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy.d 100, s = = = 339, 5 mm Vs perlu 21591, S max = d/2 = = 152 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Bab 6 Balok Anak

158 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Pembebanan Balok Anak as B Pembebanan 3 Gambar 6.4 Lebar Equivalen Balok Anak as B Perencanaan Dimensi Balok h = 1/12. Ly = 1/ = 312,5 mm = 350 mm b = 2/3. h = 2/3. 312,5 = 250 mm (h dipakai = 350 mm, b = 250 mm ) 1. Beban Mati (q D ) Pembebanan balok A ( 1 3 ) Berat sendiri = 0,25x(0,35 0,12) x 2400 kg/m 3 = 138 kg/m Beban plat = (2 x 1,06) x 411 kg/m 2 = 871,32 kg/m qd1 =1009,32 kg/m Pembebanan balok A ( 3 6 ) Berat sendiri = 0,25x(0,35 0,12) x 2400 kg/m 3 = 138 kg/m Beban plat = (2 x 1,09) x 411 kg/m 2 = 895,98 kg/m qd2 =1033,98 kg/m 2. Beban hidup (q L ) Beban hidup digunakan 250 kg/m 2 ql1 = (2 x 1,06) x 250 kg/m 2 = 530 kg/m ql2 = (2 x 1,09) x 250 kg/m 2 = 545 kg/m Bab 6 Balok Anak

159 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Beban berfaktor (q U ) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,32 + 1,6.530 = 2059,18 kg/m qu2 = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,98 + 1,6.545 = 2112,77 kg/m Perhitungan Tulangan b. Tulangan Lentur Balok Anak Data Perencanaan : h = 350 mm Ø t = 16 mm b = 250 mm Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 360 Mpa = / f c = 25 Mpa = 294 Tulangan Lentur Daerah Lapangan ρb 0,85.f' c.β 600 = fy fy 0, = 0, = 0,031 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 2800,35 kgm = 2, Nmm Bab 6 Balok Anak

160 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 154 Mn = Mu 7 2, = = 3, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 3, ( 294) fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 1,62 N/mm 2 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = , = 0,0046 ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,0046 As = ρ. b. d = 0, = 338,1 mm 2 Digunakan tulangan D 16 = ¼. π. (16) 2 = 200,96 mm 2 338,1 Jumlah tulangan = = 1, 68 ~ 2 buah. 200,96 Dipakai 2 D 16 mm As ada = 3. ¼. π = 602,88 mm 2 > As aman! As ada fy 602, a = = = 40,85 0,85 f' c b 0, Mn ada = As ada fy (d - a 2 ) Bab 6 Balok Anak 40,85 = 602, (294 - ) 2 = 5, Nmm Mn ada > Mn... aman! Jadi dipakai tulangan 2 D 16

161 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 155 Daerah Lapangan Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = kgm = 2, Nmm Mn = Mu 7 2, = = 3, Nmm φ 0,8 Mn Rn = = 2 b.d 3, ( 294) fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 1,61 N/mm 2 ρ perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = , = 0,004 ρ < ρ max ρ > ρ min, di pakai ρ perlu = 0,004 As Bab 6 Balok Anak = ρ perlu. b. d = 0, = 294 mm 2 Digunakan tulangan D 16 = ¼. π. (16) 2 = 200,96 mm 2 Jumlah tulangan = 294 = 1, 46 ~ 2 buah. 200,96 Dipakai 2 D 16 mm As ada = 2. ¼. π = 401,91 mm 2 > As aman! As ada fy 401, a = = = 27,23 0,85 f' c b 0, Mn ada = As ada fy (d - a 2 ) 27,23 = 401, (294 - ) 2 = 4, Nmm

162 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 156 Mn ada > Mn... aman! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Tulangan Geser Dari perhitungan SAP 2000 diperoleh : Vu = kg = 37937,8 N f c = 25 Mpa fy = 360 Mpa d = h p ½ Ø = ½ (12) = 304 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ = 63333,33 N Ø Vc = 0, ,33 N = N ½ Ø Vc = ½ N = N ½ Ø Vc < Vu < Ø Vc N < 37937,8 N < N Jadi perlukan tulangan geser minimum Ø Vs = Vu - ½ Ø Vc = 37937, = 14187,8 N φvs 14187,8 Vs perlu = = = 18917,06 N 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy.d 100, s = = = 387, 5 mm Vs perlu 18917, S max = d/2 = = 152 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Bab 6 Balok Anak

163 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai BAB 7 PORTAL 7.1. Perencanaan Portal A B C D E F Gambar 7.1. Gambar Denah Portal Keterangan: Balok Portal : As A Balok Portal Melintang : As 2 Balok Portal : As B Balok Portal Melintang : As 3 Balok Portal : As C Balok Portal Melintang : As 4 Balok Portal : As D Balok Portal Melintang : As 5 Balok Portal : As E Balok Portal Melintang : As 6 Balok Portal : As F Balok Portal Melintang : As 7 Balok Portal : As 1 Balok Portal Melintang : As 8 Bab 7 Portal 157

164 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Dasar Perencanaan Secara umum data yang digunakan untuk perhitungan rencana portal adalah sebagai berikut : a. Bentuk denah portal : Seperti pada gambar b. Model perhitungan : SAP 2000 ( 3 D ) c. Perencanaan dimensi rangka : b (mm) x h (mm) Dimensi kolom : 400 mm x 400 mm Dimensi sloof : 200 mm x 300 mm Dimensi balok : 300 mm x 500 mm Dimensi ring balk : 200 mm x 250 mm d. Kedalaman pondasi : 2 m e. Mutu baja tulangan : U36 (fy = 360 MPa) f. Mutu baja sengkang : U24 (fy = 240 MPa) Perencanaan Pembebanan Secara umum data pembebanan portal adalah sebagai berikut: a. Beban Mati (q D ) Plat Lantai Berat plat sendiri = 0,12 x 2400 x1 = 288 kg/m Berat keramik ( 1 cm ) = 0,01 x 2400 x1 = 24 kg/m Berat Spesi ( 2 cm ) = 0,02 x 2100 x1 = 42 kg/m Berat plafond + instalasi listrik = 25 kg/m Berat Pasir ( 2 cm ) = 0,02 x 1600 x1 = 32 kg/m q D = 411 kg/m Dinding Berat sendiri dinding = 0,15 ( 4-0,5 ) x 1700 = 892,5 kg/m Atap Kuda kuda Utama = 13017,91 kg ( SAP 2000 ) Jurai = 2630,62 kg ( SAP 2000 ) Kuda Kuda Trapesium = 12959,87 kg ( SAP 2000 ) Bab 7 Portal

165 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai b. Beban hidup untuk swalayan (q L ) Beban hidup = 250 kg/m Perhitungan Luas Equivalen untuk Plat Lantai A B C D E F Luas equivalent segitiga :. lx 3 Luas equivalent trapezium : 1 lx. lx ly 2 Bab 7 Portal

166 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Tabel 7.1. Hitungan Lebar Equivalen No Ukuran Pelat (m 2 ) Ly (m) Lx (m) Leq (trapezium) Leq (segitiga) 1 3,75 x 2,5 3,75 2,5 1,06 0,83 2 4,0 x 2,5 4,0 2,5 1,09 0,83 3 4,0 x 3,0 4,0 3,0 1,22 1, Perhitungan Pembebanan Balok Perhitungan Pembebanan Balok Memanjang Pada perhitungan pembebanan balok, diambil satu perencanaan sebagai acuan penulangan Balok memanjang, perencanaan tersebut pada balok As B bentang 1-8 Pembebanan balok induk A 1-2, 2-3, 6-7, dan 7-8 Beban Mati (qd): Berat plat lantai = 411. ( 2 x 1,06 ) = 871,32 kg/m Berat dinding = 0,15 ( 4-0,5 ) x 1700 = 892,5 kg/m Jumlah = 1763,82 kg/m Beban hidup (ql) : 250.(1,06 ) = 265 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,82 ) + (1,6.265) = 2540,58 kg/m Bab 7 Portal

167 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Pembebanan balok induk B 3-4 dan 4-5 Beban mati (qd): Berat plat lantai = 411. ( 2 x 1,09 ) = 895,98 kg/m Jumlah = 895,98 kg/m Beban hidup (ql) : 250. (1,09 ) = 272,5 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1,2. 895,98 ) + (1,6. 272,5) = 1511,17 kg/m Pembebanan balok induk B 5-6 Beban mati (qd): Berat plat lantai = 411. ( 1,09 ) = 447,99 kg/m Jumlah = 447,99 kg/m Beban hidup (ql) : 250. (1,09 ) = 272,5 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1,2. 447,99 ) + (1,6. 272,5) = 973,58 kg/m Pembebanan balok induk E 3-4, 4-5, dan 5-6 Beban mati (qd): Berat plat lantai = 411. ( 2 x 1,22 ) = 1002,84 kg/m Berat dinding = 0,15 ( 4-0,5 ) x 1700 = 892,5 kg/m Jumlah = 1895,34 kg/m Beban hidup (ql) : 250. (1,22) = 305 kg/m Bab 7 Portal

168 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Beban berfaktor (qu2) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,34) + (1,6.305) = 2762,41 kg/m Table7.2. Rekapitulasi Hitungan Pembebanan Balok Portal Memanjang BALOK INDUK PEMBEBANAN BEBAN MATI (kg/m ) BEBAN HIDUP (kg/m ) plat lantai Jumlah (berat plat Balok berat bentang lantai+berat dinding) No. beban As No. beban jumlah dinding Leq Leq jumlah ,66 892, ,66 892, ,99 892, ,5 A ,99 892, , ,99 892, , ,66 892, ,66 892, ,32 892, , B , , ,32 892, ,32 892, , , C , , ,66 892, ,66 892, , ,5 D , , , , ,66 892, ,66 892, , E , , ,42 892, F ,42 892, ,42 892, Bab 7 Portal

169 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai No L eq segitiga ,83 1,33 L eq trapesium 1,06 1,09 1,22 Berat sendiri balok = 0,3 x (0,5-0,12) x 2400 = 273,6 kg/m Perhitungan Pembebanan Balok Melintang Pada perhitungan pembebanan balok, diambil satu perencanaan sebagai acuan penulangan Balok melintang. Perencanaan tersebut pada balok As 3 Bentang A-D Pembebanan balok induk 3 (A-B) Beban Mati (qd): Berat plat lantai = 411 x ( 2 x 0,83 ) = 682,26 kg/m Berat dinding = 0,15 (4-0,5 ) x 1700 = 892,5 kg/m Jumlah = 1574,76 kg/m Beban hidup (ql) = ,83 = 207,5 kg/m Pembebanan balok induk 3 (B-C) Beban Mati (qd): Berat plat lantai = 411 x ( 2 x 0,83 ) = 682,26 kg/m Jumlah = 682,26 kg/m Beban hidup (ql) = ,83 = 207,5 kg/m Pembebanan balok induk 3 (C-D) Beban Mati (qd): Berat plat lantai = 411 x 0,83 = 341,13 kg/m Berat dinding = 0,15 (4-0,35) x 1700 = 892,5 kg/m Jumlah = 1233,63 kg/m Beban hidup (ql) = ,83 = 207,5 kg/m Bab 7 Portal

170 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Pembebanan balok induk 3 (D-E) Beban mati (qd): Berat plat lantai = 411 x 1,33 = 546,63 kg/m Berat dinding = 0,15 (4-0,35) x 1700 = 892,5 kg/m Jumlah = 1439,13 kg/m Beban hidup (ql) : 250 x 1,33 = 332,5 kg/m Pembebanan balok induk 3 (E-F) Beban mati (qd): Berat plat lantai = 411 x 1,33 = 546,63 kg/m Berat dinding = 0,15 (4-0,35) x 1700 = 892,5 kg/m Jumlah = 1439,13 kg/m Beban hidup (ql) : 250 x 1,33 = 332,5 kg/m Table7.3. Rekapitulasi Hitungan Pembebanan Portal Melintang Balok As BALOK INDUK PEMBEBANAN BEBAN MATI (kg/m) BEBAN HIDUP (kg/m) bentang Jumlah (berat plat lantai plat lantai+berat berat No. dinding) beban No. dinding Leq beban jumlah Leq jumlah A-B ,13 892, ,5 1 B-C ,13 892, ,5 C-D ,13 892, ,5 A-B ,26 892, B-C , C-D , A-B , B-C , C-D , D-E ,63 892, ,5 E-F ,63 892, ,5 Bab 7 Portal

171 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai A-B , B-C , C-D , D-E , E-F , A-B , ,5 B-C , C-D , D-E , E-F , A-B ,13 892, ,5 B-C , C-D , D-E ,63 892, ,5 E-F ,63 892, ,5 A-B ,26 892, B-C , C-D , A-B ,13 892, ,5 8 B-C ,13 892, ,5 C-D ,13 892, ,5 No L eq segitiga 0,83 0,83 1,33 L eq trapesium 1,06 1,09 1, Perhitungan Pembebanan Ring Balk Beban ring balk Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 120 kg/m Bab 7 Portal

172 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Beban berfaktor (qu) = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,6. 0 = 144 kg/m 7.5. Perhitungan Pembebanan Sloof Memanjang Pada perhitungan pembebanan balok induk, diambil salah satu perencanaan sebagai acuan penulangan sloof memanjang. Perencanaan tersebut pada balok induk As D (1 8) 1. Pembebanan balok element As D (1-2) Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 144 kg/m Berat dinding = 0,15 (4 0,3 ) = 943,5 kg/m qd = 1087,5 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 kg/m Beban berfaktor (qu) qu = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,5) + (1,6. 250) = 1705 kg/m 2. Pembebanan balok element As D (3-4) 3. Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 144 kg/m qd = 144 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 kg/m Bab 7 Portal

173 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Beban berfaktor (qu) qu = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 144) + (1,6. 250) = 572,8 kg/m Tabel 7.4 Rekapitulasi Hitungan Pembebanan Sloof Memanjang Balok sloof Pembebanan Sloof qd Bentang Berat dinding Berat sendiri balok Jumlah ql qu A , ,8 B , , , , ,8 C , , , , D , , ,8 Bab 7 Portal

174 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai E , , , F Perhitungan Pembebanan Sloof Melintang Pada perhitungan pembebanan balok induk, diambil salah satu perencanaan sebagai acuan penulangan sloof memanjang. Perencanaan tersebut pada balok induk As 1 (A F) 1. Pembebanan balok element As 1 (A - D) Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 144 kg/m Berat dinding = 0,15 (4 0,3 ) = 943,5 kg/m qd = 1087,5 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 kg/m Beban berfaktor (qu) qu = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,5) + (1,6. 250) = 1705 kg/m 4. Pembebanan balok element As 1 (D - F) 5. Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 144 kg/m Berat dinding = 0,15 (4 0,3 ) = 943,5 kg/m qd = 1087,5 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 kg/m Bab 7 Portal

175 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Beban berfaktor (qu) qu = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,5) + (1,6. 250) = 1705 kg/m Tabel 7.5 Rekapitulasi Hitungan Pembebanan Sloof Melintang Balok induk Pembebanan Balok qd Bentang Berat dinding Berat sendiri balok Jumlah ql qu A B B C C D A B B C ,8 C D ,8 A B B C ,8 3 C D ,8 D E E F A B ,8 B C ,8 4 C D ,8 D E ,8 E F ,8 A B ,8 B C ,8 5 C D ,8 D E ,8 E F ,8 A B B C ,8 6 C D ,8 D E E F A B B C ,8 Bab 7 Portal

176 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai C D ,8 A B B C C D Perhitungan Tulangan Lentur Ring Balk Data perencanaan : h = 250 mm b = 200 mm p = 40 mm fy = 360 Mpa f c = 25 Mpa Ø t = 16 mm Ø s = 8 mm d = h - p - Ø s - ½.Ø t = ½.16 = 194 mm 0,85.f'c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, = 0,031 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 353. Mu = 701,88 kgm = 7, Nmm Bab 7 Portal

177 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Mn = Mu 7,01 10 = φ 0, 8 6 = 8, Nmm 6 Mn 8,76 10 Rn = = = 1, b.d fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,164 = = 0,0033 ρ < ρ min ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ min = 0,0038 As perlu = ρ. b. d = 0, = 147,44 mm 2 Digunakan tulangan D 16 As perlu 147,44 n = = ,96 π.16 4 = 0,733 2 tulangan 2 As = 1 1 π.16 = 3, = 200, As ada = 2 200,96 = 401,92 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Bab 7 Portal

178 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 353. Mu = 555,80 kgm = 5, Nmm Mn = Mu 5,55 10 = φ 0, 8 6 = 6, Nmm 6 Mn 6,94 10 Rn = = = 0, b.d fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,922 = = 0,0026 ρ < ρ min ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ min = 0,0038 As perlu = ρ min. b. d = 0, = 147,44 mm 2 Digunakan tulangan D 16 As perlu 147,44 n = = ,96 π.16 4 = 0,733 2 tulangan 2 As = 1 1 π.16 = 3, = 200, As ada = 2 200,96 = 401,92 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Bab 7 Portal

179 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Perhitungan Tulangan Geser Ring Balk Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 353: Vu f c fy d = 749,63 kg = 7496,3 N = 25 Mpa = 360 Mpa = 194 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ = 32333,33 N φ Vc = 0, ,33 = N ½ Ø Vc = ½ N = N 3 φ Vc = = N Syarat tulangan geser : Vu < ½ Ø Vc < Ø Vc : 7632,4 N <12125 N < N Jadi tidak diperlukan tulangan geser 194 S max = d/2 = = 97 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm 2 D16 2 D Ø8-100 Ø D16 2 D Tul. Tumpuan 200 Tul. Lapangan Bab 7 Portal

180 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Penulangan Balok Portal Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Memanjang Data perencanaan : h = 500 mm b = 300 mm p = 40 mm fy = 360 Mpa f c = 25 MPa Ø t = 19 mm Ø s = 10 mm d = h - p - Ø s - ½.Ø t = ½.19 = 440,5 mm 0,85.f'c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, = 0,031 ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 229 : Mu = 3747,46 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 3, = φ 0, 8 7 = 4, Nmm Rn 7 Mn 4,68 10 = = 2 2 b.d ,5 = 0, 804 Bab 7 Portal

181 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,804 = = 0,0023 ρ < ρ min ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ min = 0,0038 As perlu = ρ. b. d = 0, ,5 = 502,17 mm 2 Digunakan tulangan D 19 As perlu 502,17 n = = ,385 π.19 4 = 1,77 2 tulangan 2 As = 1 1 π.19 = 3, = 283,385 mm 4 4 As ada = 2 283,385 = 566,77 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D 19 Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 229. Mu = 2308,61 kgm = 2, Nmm Mn = Mu 2, = φ 0, 8 7 = 2, Nmm Rn 7 Mn 2, = = 2 2 b. d ,5 = 0, 495 Bab 7 Portal

182 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,495 = = 0,0014 ρ < ρ min ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ min = 0,0038 As perlu = ρ. b. d = 0, ,5 = 502,17 mm 2 Digunakan tulangan D 19 As perlu 502,17 n = = ,385 π.19 4 = 1,77 2 tulangan 2 As = 1 1 π.19 = 3, = 283,385 mm 4 4 As ada = 2 283,385 = 566,77 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D Perhitungan Tulangan Geser Portal Memanjang Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 229: Vu = 5546,31 kg = 55463,1 N f c = 25 Mpa fy = 360 Mpa d = 440,5 Bab 7 Portal

183 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ ,5 = N φ Vc = 0, = 82593,75 N ½ Ø Vc = 0, ,75 = 41296,87 N 3 φ Vc = ,75 = ,25 N Syarat tulangan geser : ½ Ø Vc < Vu < Ø Vc : 41296,87 N < 55463,1 N < 82593,75 N Jadi diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu ½ Ø Vc = 55463, ,87 = 14166,23 N φvs 14166,23 Vs perlu = = 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (10) 2 = 18888,31 N = 2. ¼. 3, = 157 mm 2 Av. fy. d ,5 S = = = 1318, 12 mm Vs perlu 18888,31 440,5 S max = d/2 = = 220,25 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Bab 7 Portal

184 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Potongan balok portal memanjang 2 D19 2 D Ø Ø D19 2 D Tul. Tumpuan 300 Tul. Lapangan Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Melintang Data perencanaan : h = 500 mm b = 300 mm p = 40 mm fy = 360 Mpa f c = 25 MPa Ø t = 19 mm Ø s = 10 mm d = h - p - Ø s - ½.Ø t = ½.19 = 440,5 mm 0,85.f' c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, = 0,031 Bab 7 Portal

185 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 278. Mu = 13309,39 kgm = 13, Nmm Mn = Mu 13, = φ 0, 8 7 = 16, Nmm 7 Mn 16,64 10 Rn = = = 2, b.d ,5 fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,85 = = 0,0085 ρ > ρ min ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ = 0,0085 As perlu = ρ. b. d = 0, ,5 = 1123,27 mm 2 Digunakan tulangan D 19 As perlu 1123,27 n = = ,385 π.19 4 = 3,964 4 tulangan Bab 7 Portal

186 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai As = 1 π 2 1 = , As = 4 283,385 = 1133,54 mm 2 = 283,385 mm As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 4 D 19 Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 278. Mu = 11375,55 = 11, Nmm Mn = Mu 11, = φ 0, 8 7 = 14, Nmm 7 Mn 14,22 10 Rn = = = 2, b.d ,5 fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,44 = = 0,0072 ρ > ρ min ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρperlu = 0,0072 As perlu = ρ. b. d = 0, ,5 = 951,48 mm 2 Digunakan tulangan D 19 As perlu 951,48 n = = ,385 π.19 4 = 3,357 4 tulangan Bab 7 Portal

187 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai As = 1 π 2 1 = , As ada = 4 283,385 = 1133,54 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 4 D 19 = 283,385 mm Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Melintang Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 278: Vu f c = 25 Mpa fy = 360 Mpa d = 440,5 = 13607,10 kg = ,0 N Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ ,5 = N φ Vc = 0, = 82593,75 N ½ Ø Vc = 0, ,75 = 41296,87 N 3 φ Vc = ,75 = ,25 N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc : 82593,75 N < ,0 N < ,25 N Jadi diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu Ø Vc = , ,75 = 53477,25 N φvs 53477,25 Vs perlu = = 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (10) 2 = N = 2. ¼. 3, = 157 mm 2 Av.fy.d ,5 S = = = 349, 17 mm Vs perlu Bab 7 Portal

188 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai S max = d/2 = 440,5 = 220,25 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Potongan portal melintang 4 D19 2 D Ø Ø D19 4 D Tul. Tumpuan 300 Tul. Lapangan 7.8. Penulangan Kolom Perhitungan Tulangan Lentur Kolom Data perencanaan : b = 400 mm Ø tulangan = 16 mm h = 400 mm Ø sengkang = 8 mm f c = 25 MPa s (tebal selimut) = 40 mm fy = 360 MPa Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya terbesar pada batang nomor 62, Pu = 43853,01 kg = ,1 N Mu = 2249,63 kgm = 2, Nmm d = h s ø sengkang ½ ø tulangan = ½.16 Bab 7 Portal

189 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai = 344 mm d = h d = = 56 mm 7 Mu 2, e = = = 51, 28mm Pu ,1 e min = 0,1.h = 0, = 40 mm cb =. d =.344 = fy ab = β 1 x cb = 0,85 x 215 = 182,75 Pn b = 0,85.f c.ab.b = 0, , = N Pu 5 Pn perlu = ; 0,1. f ' c. Ag = 0, = 4.10 φ karena Pu = ,1 N > 0,1. f ' c. Ag, maka ø : 0,65 Pu ,1 Pn perlu = = = , 70 N φ 0,65 Pn perlu < Pn b analisis keruntuhan tarik Pn ,70 a = = = 79, 37 0,85. f ' c. b 0, As = mm 2 Luasan memanjang minimum h a ,37 Pnperlu e , = = 782,908 fy ( d d' ) 360( ) As t = 1 % Ag =0, = 1600 mm 2 Sehingga, As = As N As = Ast 1600 = = 800 mm Bab 7 Portal

190 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Menghitung jumlah tulangan 782,908 n = 3, (16) = 4 tulangan 2 π 4 As ada = 4. ¼. π = 803,84 mm 2 > 782,908 mm 2 As ada > As perlu.. Ok! Jadi dipakai tulangan D Perhitungan Tulangan Geser Kolom Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya terbesar pada batang nomor 62 Vu = 836,65 kg = 8, N Pu = 43853,01 kg = , N Pu Vc = Ag f ' c. b. d , = = 34, N 6 Ø Vc = 0,75 Vc = 0,75 x 34,29 x10 4 = 25, N ½ Ø Vc = 12, N Vu < ½ Ø Vc => tanpa diperlukan tulangan geser. 1, N < 12, Dipakai sengkang praktis untuk penghubung tulangan memanjang : mm Bab 7 Portal

191 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Penulangan Kolom Ø D D16 4 D Penulangan Sloof Hitungan Tulangan Lentur Sloof Melintang Data perencanaan : h = 300 mm b = 200 mm p = 40 mm fy = 360 Mpa f c = 25 MPa Ø t = 16 mm Ø s = 8 mm d = h - p - Ø s - ½.Ø t = ½.16 = 244 mm 0,85.f' c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, = 0,031 Bab 7 Portal

192 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 201. Mu = 3879,47 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 3, = φ 0, 8 7 Mn 4,85 10 Rn = = = 4, b. d fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 4, Nmm ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17 = 0,012 ρ > ρ min , ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ = 0,012 As perlu = ρ. b. d = 0, = 585,6 mm 2 Digunakan tulangan D 16 As perlu 585,6 n = = ,96 π.16 4 = 2,91 3 tulangan Bab 7 Portal

193 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai As = 1 π 2 1 = , As ada = 3 200,96 = 602,88 mm 2 = 200,96 mm As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 3 D 16 Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 201. Mu = 3859,36 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 3, = φ 0, 8 7 = 4, Nmm 7 Mn 4,82 10 Rn = = = 4, b. d fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17 = 0,012 ρ > ρ min , ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ = 0,012 As perlu = ρ. b. d = 0, = 585,6 mm 2 Digunakan tulangan D 16 As perlu 585,6 n = = ,96 π.16 4 = 2,91 3 tulangan Bab 7 Portal

194 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai As = 1 π 2 1 = , = 200,96 As ada = 3 200,96 = 602,88 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 3 D Perhitungan Tulangan Geser Sloof Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 201: Vu = 4700,52 kg = 47005,2 N Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ = 40666,67 N φ Vc = 0, ,67 = N ½ Ø Vc = = N 3 φ Vc = = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3 Ø Vc : N < 47005,2 N < N Jadi diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu Ø Vc = 47005, = 16505,2 N φvs 16505,2 Vs perlu = = = 22006,94 N 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy. d 100, S = = = 267, 37 mm Vs perlu 22006,94 S max = d/2 = 244 = 122 mm 2 Bab 7 Portal

195 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai D16 3 D Ø Ø D16 3 D Tul. Tumpuan 200 Tul. Lapangan Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Potongan tulangan Sloof Hitungan Tulangan Lentur Sloof Memanjang Data perencanaan : h = 300 mm b = 200 mm p = 40 mm fy = 360 Mpa f c = 25 MPa Ø t = 16 mm Ø s = 8 mm d = h - p - Ø s - ½.Ø t = ½.16 = 244 mm 0,85.f' c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, Bab 7 Portal

196 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai ρ max = 0,031 = 0,75. ρb = 0,75. 0,031 = 0,0232 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 147. Mu = 2560,35 kgm = 2, Nmm Mn = Mu 2, = φ 0, 8 7 = 3, Nmm 7 Mn 3,2 10 Rn = = = 2, b. d fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0,85 25 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17 = 0,0080 ρ > ρ min , ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ = 0,0080 As perlu = ρ. b. d = 0, = 390,4 mm 2 Digunakan tulangan D 16 As perlu 390,4 n = = ,96 π.16 4 Bab 7 Portal

197 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai As = = 1,94 2 tulangan 1 π 2 1 = , As ada = 2 200,96 = 401,92 mm 2 = 200,96 mm As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 147. Mu = 2378,82 kgm = 2, Nmm Mn = Mu 2, = φ 0, 8 7 Mn 2,97 10 Rn = = = 2, b. d fy 360 m = = = 17 0,85.f' c 0, = 2, Nmm ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17 = 0,0074 ρ > ρ min , ρ < ρ max dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ = 0,0074 As perlu = ρ. b. d = 0, = 361,12 mm 2 Digunakan tulangan D 16 As perlu 361,16 n = = ,96 π.16 4 Bab 7 Portal

198 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai As = = 1,79 2 tulangan 1 π 2 1 = , As ada = 2 200,96 = 401,92 mm 2 = 200,96 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D Perhitungan Tulangan Geser Sloof Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 147: Vu = 3802,58 kg = 38025,8 N Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ = 40666,67 N φ Vc = 0, ,67 = N ½ Ø Vc = = N 3 φ Vc = = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3 Ø Vc : N < 38025,8 N < N Jadi diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu Ø Vc = 38025, = 7525,8 N φvs 7525,8 Vs perlu = = = 10034,4 N 0,75 0,75 Av = 2. ¼ π (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy. d 100, S = = = 586, 40 mm Vs perlu 10034,4 Bab 7 Portal

199 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai S max = d/2 = 244 = 122 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Potongan tulangan Sloof memanjang 2 D16 2 D Ø Ø D16 2 D Tul. Tumpuan 200 Tul. Lapangan Bab 7 Portal

200 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai BAB 8 PONDASI 8.1. Data Perencanaan 40 Tanah Urug lantai kerja t= 7 cm Pasir t= 5 cm Gambar 8.1. Perencanaan Pondasi Dari perhitungan SAP 2000 pada Frame 43 diperoleh : - Pu = 53900,76 kg/m - Mu = 423,01 kg/m Bab 8 Pondasi 194

201 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 195 Dimensi Pondasi : Pu σ tanah = A Pu A = σ tanah = 1,80 m ,76 = B = L = A = 1, 80 = 1,35 m ~ 1,5 m Direncanakan pondasi telapak dengan kedalaman 2,0 m ukuran 1,5 m 1,5 m - f, c = 25 Mpa - fy = 360 Mpa - σtanah = 3 kg/cm 2 = kg/m 2 - γ tanah = 1,7 t/m 3 = 1700 kg/m 3 - γ beton = 2,4 t/m 3 d = h p ½ tul.utama = = 242 mm 8.2. Perencanaan Kapasitas Dukung Pondasi Perhitungan kapasitas dukung pondasi Pembebanan pondasi Berat telapak pondasi = 1,5 1,5 0, = 1620 kg Berat kolom pondasi = 0,4 0,4 1, = 576 kg Berat tanah = (1,5 2 x 1,7) - (0,4 2 x1,7) x 1700 = 6040,1 kg Pu = 53900,76 kg P = 62136,86 kg Mu e = = P Bab 8 Pondasi 423, ,86 = 0,0068 kg < 1/6. B = 0,25

202 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 196 σ yang terjadi = = P Mu + A 1.b.L ,86 423,01 + 1,5 1,5 1 1,5 6 2 ( 1,5) 2 = 28368,4 kg/m 2 < kg/m 2 = σ tanah yang terjadi < σ ijin tanah...ok! Perhitungan Tulangan Lentur Mu = ½. σ. t 2 = ½ (28368,4) (0,55) 2 = 4290,72 kgm = 4, Nmm Mn = m = 4, ,8 fy 0,85.f'c 7 = 5, Nmm 360 = = 17 0, ,85.f' c.β 600 ρb = fy fy 0, = 0, ρ max = 0,75. ρb = 0,75. 0,0313 = 0,0234 1,4 1,4 ρ min = = = 0, 0038 fy 360 = 0, Mn 5,36 10 Rn = = 2 b. d ( ) 2 = 0,61 ρ = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = , Bab 8 Pondasi

203 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai 197 ρ = 0,0038 ρ < ρ max ρ < ρ min dipakai tulangan tunggal Digunakan ρ min = 0,0038 As perlu = ρ min. b. d = 0, = 1379,4 mm 2 Digunakan tul D 16 = ¼. π. d 2 Jumlah tulangan (n) = = ¼ 3,14 (16) 2 = 200,96 mm ,4 = 6,86 7 buah 200, Jarak tulangan = = 142,85 mm 7 Dipakai tulangan D As yang timbul = 7 200,96 = 1406,72 > As..Ok! Maka, digunakan tulangan D Bab 8 Pondasi

204 Tugas Akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai BAB 9 RENCANA ANGGARAN BIAYA 9.1. Rencana Anggaran Biaya (RAB) Rencana anggaran biaya (RAB) adalah tolak ukur dalam perencanaan pembangunan,baik rumah tinggal,ruko,swalayan,maupun gedung lainya. Dengan RAB kita dapat mengukur kemampuan materi dan mengetahui jenis-jenis material dalam pembangunan, sehingga biaya yang kita keluarkan lebih terarah dan sesuai dengan yang telah direncanakan Data Perencanaan Secara umum data yang digunakan untuk perhitungan rencana anggaran biaya (RAB) adalah sebagai berikut : a. Analisa harga satuan pekerjaan dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta b. Harga upah & bahan dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta 9.3. Perhitungan Volume Pekerjaan Pendahuluan A. Pekerjaan pembersihan lokasi Volume = panjang xlebar = 27 x 21 = 567 m 2 B. Pekerjaan pembuatan pagar setinggi 2m Volume = panjang = 100 m Bab 9 Rencana Anggaran Biaya 202

205 203 Tugas Akhir 203 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai C. Pekerjaan pembuatan bedeng dan gudang Volume = panjang x lebar = (3x4) + (3x3) = 21 m 2 D. Pekejaan bouwplank Volume = (panjang x 2) x (lebar x 2) = (27x2) + (21x2) = 96 m Pekerjaan Pondasi A. Galian pondasi Footplat Volume = (panjang x lebar x tinggi) x n = (1,5 x 1,5 x 2) x 38 = 171 m 3 Pondasi batu kali Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (0,8 x 0,7) x 138 = 77,28 m 3 Pondasi tangga Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (1,25 x 1,25) x 1,4 = 2,19 m 3 B. Urugan Pasir bawah Pondasi dan bawah lantai (t= 5cm) Footplat Volume = (panjang x lebar x tinggi) x n = (1,5 x 1,5 x 0,05) x 38 = 4,275 m 3 Pondasi batu kali Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (0,8 x 0,05) x 138 = 5,52 m 3 Pondasi tangga Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (1,25 x 0,05) x 1,4 = 0,0875 m 3 Lantai Volume = tinggi x luas lantai = 0,05 x 477 = 23,85 m 2 Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

206 204 Tugas Akhir 204 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai C. Urugan Tanah Galian Volume = V.tanah galian - batukali - lantai kerja - pasir urug = (171+77,28+2,19) 41,4 (2.57+3,31) - (4,275+5, ) = 193,31 m 3 D. Pondasi telapak(footplat) Footplat Volume = (panjang x lebar x tinggi) x n = { (1,5.1,5.0,3) + (0,4.0,4.1,5) + ( 2.½.1.0,2) } x 38 = 42,37 m 3 Footplat tangga Volume = panjang xlebar x tinggi = { (1,25.1.0,25) + (0,4.1,25.0,75) + ( 2.½.1.0,1)} = 0,80 m Pekerjaan Beton A. Beton Sloof sloof Volume = (panjang xlebar) x panjang = (0,2 x 0,3) x 264 = 15,84 m 3 B. Balok induk 30/50 Volume = (tinggi x lebar x panjang) = (0,5 x 0,3 x 276) = 41,4 m 3 C. Balok anak 25/35 Volume = (tinggi xlebar x panjang) = (0,35 x 0,25 x 81) = 7,1 m 3 D. Kolom utama Kolom40/40 Volume 1 = (panjang x lebar x tinggi) = (0,4 x 0,4 x4) x 38 = 24,32 m 3 Volume 2 = (panjang xlebarx tinggi) = (0,4 x 0,4 x 4) x 26 = 16,64 m 3 Total volume = 24, ,64 = 40,96 m 3 Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

207 205 Tugas Akhir 205 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai E. Ringbalk Volume = (tinggi x lebar) x panjang = (0,2 x 0,3) x 108 = 6,48 m 3 F. Plat lantai (t=12cm) Volume = luas lantai 2 x tebal = 477 x 0,12 = 57,24 m 3 G. Balok praktis 15/15 Volume = (tinggi x lebar) x panjang = (0,15 x 0,15) x 246 = 5,535 m 3 H. Tangga Volume = ((luas plat tangga x tebal) x 2) + plat bordes = (6 x 0,12) x 2) + (3 x 0,15) = 1,89 m Pekerjaan pemasangan Bata merah dan Pemlesteran A. Pasangan pondasi batu kosong Volume = panjang x lebar x tinggi = 138 x 0,8 x 0,15 = 16,6 m 3 B. Pasangan pondasi batu kali Volume = (0,3 + 0,7) x 0,5 x 0,6 x 138 = 41,4 m 3 C. Pasangan dinding bata merah Luas dinding = (118,5 x 4) + (127,25 x 4) = 983 m2 Volume = Luas dinding luas pintu jendela = ,52 = 856,48 m2 D. Pemlesteran dan pengacian Volume = volume dinding bata merah x 2 sisi = 856,48 x 2 = 1712,96 m 2 Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

208 206 Tugas Akhir 206 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai E. Lantai kerja (t=5 cm) Footplat Volume = (panjang x lebar x tinggi) x n = (1,5 x 1,5 x 0,05) x 38 = 4,275 m 3 Pondasi batu kali Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (0,8 x 0,05) x 138 = 5,52 m Pekerjaan Pemasangan Kusen dan Pintu A. Pemasangan kusen dan Pintu alumunium Volume = P1 + J1 + J2 + J3 + J4 + J6 + BV1 + BV2 = 0, , ,93 + 0, , , ,195 = 3,226 m3 B. Pemasangan kusen pintu kayu kamper Volume = P2 = 0,22 m 2 C. Pasang kaca polos (t=5mm) Luas tipe P1 = (2 x 2,5) = 5 m 2 J1 = (0,3 x 1,90) x 12 = 6,84 m 2 J2 = (0,5 x 1,95) x 24 = 23,4 m 2 J3 = (0,4 x 1,90) x 16 = 12,16 m 2 J4 = (2 x 1,5) x 16 = 48 m 2 J5 = (0,2 x 2,5) x 12 = 6 m 2 BV1 = (0,6 x 0,4) x 10 = 2,4 m 2 BV2 = (0,4 x 0,4) x 13 = 2,08 m 2 Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

209 207 Tugas Akhir 207 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Pekerjaan Atap A. Pekerjaan kuda kuda Setengah kuda-kuda (doble siku ) panjang profil under = 7,5 m panjang profil tarik = 8,66 m panjang profil kaki kuda-kuda = 10,83 m panjang profil sokong = 8,78 m Volume = 35,76 x 2 = 71,52 m Jurai kuda-kuda (doble siku ) panjang profil under = 10,61 m panjang profil tarik = 11,46 m panjang profil kaki kuda-kuda = 10,804 m panjang profil sokong = 10,48 m Volume = panjang x n = 43,35 x 6 = 260,1 m Kuda kuda Trapesium (doble siku ) panjang profil under = 15 m panjang profil tarik = 16,6 m panjang profil kaki kuda-kuda = 13 m panjang profil sokong = 15,79 m Volume = panjang x n = 60,39 x 2 = 120,78 m Kuda-kuda utama A (doble siku ) panjang profil under = 15 m panjang profil tarik = 17,32 m panjang profil kaki kuda-kuda = 17,32 m panjang profil sokong = 17,56 m Volume = panjang x n = 67,2 x 4 = 286,8 m Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

210 208 Tugas Akhir 208 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Kuda-kuda utama B (doble siku ) panjang profil under = 12 m panjang profil tarik = 6,93 m panjang profil kaki kuda-kuda = 3,46 m panjang profil sokong = 3,46 m Volume = panjang x n = 25,85 x 2 = 51,7 m Gording ( ,5) panjang profil gording = 168 m B. Pekerjaan pasang kaso 5/7 dan reng ¾ Volume = luas atap = 650,47 m 2 C. Pekerjaan pasang Listplank Volume = keliling atap = 73 m D. Pekerjaan pasang genting Volume = luas atap = 650,47 m 2 E. Pasang kerpus Volume = panjang = 75,84 m Pekerjaan Plafon A. Pembuatan dan pemasangan rangka plafon Volume = (panjang x lebar) x 2 = (27 x 15 x 2) + (12 x 6 x 2) = 954 m 2 B. Pasang plafon Volume = luas rangka plafon = 954 m 2 Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

211 209 Tugas Akhir 209 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai Pekerjaan keramik A. Pasang keramik 40/40 Volume = luas lantai = 954 (37,5 + 20) = 896,5 m 2 B. Pasang keramik 20/20 Volume = luas lantai = (7,5 x 5) = 37,5 m Pekerjaan sanitasi A. Pasang kloset duduk Volume = n = 8 unit B. Pasang wastafel Volume = n = 8 unit C. Pasang floordrain Volume = n = 16 unit Pekerjaan instalasi air A. Pekerjaan pengeboran titik air Volume = n = 1unit B. Pekerjaan saluran pembuangan Volume = panjang pipa = 26 m C. Pekerjaan saluran air bersih Volume = panjang pipa = 33 m Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

212 210 Tugas Akhir 210 Perencanaan Struktur Factory Outlet dan Resto 2 Lantai D. Pekerjaan pembuatan septictank dan rembesan Galian tanah = septictank + rembesan = (2,35 x 1,85) x 2 + (0,3 x 1,5 x 1,25) = 9,2575 m 3 Pemasangan bata merah Volume = panjang x tinggi = 8,4 x 2 = 1,68 m Pekerjaan instalasi Listrik A. Instalasi stop kontak Volume = n = 10 unit B. Titik lampu TL 36 watt Volume = n = 54 unit pijar 25 watt Volume = n = 32 unit C. Instalasi saklar Saklar single Volume = n = 9 unit Saklar double Volume = n = 14 unit Pekerjaan pengecatan A. Pengecatan dinding Volume = plesteran dinding x 2 = 3425,92 m 2 B. Pengecatan menggunakan Cat minyak (pada listplank) Volume = 73 x 0,2 = 14,6 m 2 Bab 9 Rencana Anggaran Biaya

213 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai BAB 10 REKAPITULASI Perencanaan Atap Hasil dari perencanaan atap adalah sebagai berikut : a. Jarak antar kuda-kuda : 4 m b. Kemiringan atap (α) : 30 c. Bahan gording : lip channels ( ) 150 x 75 x 20 x 4,5 d. Bahan rangka kuda-kuda : baja profil double siku sama sisi e. Bahan penutup atap : genteng f. Alat sambung : baut diameter 12,7 mm ( ½ inches)-mur g. Pelat pengaku : 8 mm h. Jarak antar gording : 1,875 m i. Bentuk atap : limasan j. Mutu baja profil : Bj-37 (σ ijin = 1600 kg/cm 2 ) (σ Leleh = 2400 kg/cm 2 ) Berikut adalah hasil rekapitulasi profil baja yang direncanakan 1. Setengah Kuda-kuda Bab 10 Rekapitulasi 211

214 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Setengah Kuda-kuda Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , Jurai Bab 10 Rekapitulasi

215 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Jurai Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , Kuda-kuda Utama A Bab 10 Rekapitulasi

216 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai 214 Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama A Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Kuda kuda utama B Bab 10 Rekapitulasi

217 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai 215 Tabel Rekapitulasi Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama B Nomer Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Tangga Tebal plat tangga = 12 cm Tebal bordes tangga = 15 cm Panjang datar = 500 cm Lebar tangga rencana = 140 cm Dimensi bordes = 200 x 300 cm Kemiringan tangga α = 33,69 0 Jumlah antrede = 10 buah Jumlah optrede = 11 buah Bab 10 Rekapitulasi

218 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai Penulangan Tangga 216 a. Penulangan tangga dan bordes Tumpuan = 12 mm 100 mm Lapangan = 12 mm 200 mm b. Penulangan balok bordes Dimensi balok 15/30 Lentur = 12 mm Geser = mm Perencanaan Plat Rekapitulasi penulangan plat Tulangan lapangan arah x D mm Tulangan lapangan arah y D mm Tulangan tumpuan arah x D mm Tulangan tumpuan arah y D mm Perencanaan Balok Anak Penulangan balok anak a. Tulangan balok anak as A Tumpuan = 3 D 16 mm Lapangan = 2 D 16 mm Geser = Ø mm b. Tulangan balok anak as A Tumpuan = 2 D 16 mm Lapangan = 2 D 16 mm Geser = Ø mm c. Tulangan balok anak as B - D Tumpuan = 2 D 16 mm Lapangan = 2 D 16 mm Geser = Ø mm Bab 10 Rekapitulasi

219 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai Perencanaan Portal a. Dimensi ring balok : 250 mm x 350 mm Lapangan = 2 D 16 mm Tumpuan = 2 D 16 mm Geser = mm b. Dimensi balok portal : 300 mm x 500 mm Balok portal memanjang : Lapangan = 2 D 19 mm Tumpuan = 2 D 19 mm Geser = mm Balok portal melintang : Lapangan = 4 D 19 mm Tumpuan = 4 D 19 mm Geser = mm 217 c. Dimensi kolom : 400 x 400 mm Tulangan = 4 D 16 mm Geser = mm d. Dimensi sloof : 200 mm x 300 mm Sloof memanjang : Lapangan = 2 D 16 mm Tumpuan = 2 D 16 mm Geser = mm Sloof melintang : Lapangan = 3 D 16 mm Tumpuan = 3 D 16 mm Geser = mm Bab 10 Rekapitulasi

220 Tugas akhir Perencanaan Struktur Factory Outlet Dan Resto 2 Lantai Perencanaan Pondasi Footplat - Kedalaman = 2,0 m - Ukuran alas = 1500 x 1500 mm - γ tanah = 1,7 t/m 3 = 1700 kg/m 3 - σ tanah = 3 kg/cm 2 = 3000 kg/m 3 - Tebal = 30 cm - Penulangan pondasi Tul. Lentur = D mm Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Struktur KEGIATAN LOKASI Tahun Anggaran REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA : PEMBANGUNAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN RESTO 2 LANTAI : SURAKARTA : Berdasarkan anggaran tahun 2010 NO. JENIS PEKERJAAN JUMLAH HARGA (Rp) A PEKERJAAN PERSIAPAN 23,087, B PEKERJAAN TANAH 16,549, C PEKERJAAN PONDASI 150,186, D PEKERJAAN BETON 720,463, E PEKERJAAN PASANGAN DINDING 80,719, F PEKERJAAN KUSEN DAN PINTU 10,506, G PEKERJAAN ATAP 224,077, H PEKERJAAN PLAFON 97,641, I PEKERJAAN KERAMIK 123,002, J PEKERJAAN PENGECATAN 47,824, K PEKERJAAN LAIN - LAIN 200,000, JUMLAH 1,694,060, JUMLAH TOTAL 1,700,000, Bab 10 Rekapitulasi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesatnya perkembangan dunia teknik sipil menuntut bangsa Indonesia untuk dapat menghadapi segala kemajuan dan tantangan. Hal itu dapat terpenuhi apabila sumber daya

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN 2 LANTAI digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan 3 BAB DASAR TEORI.1. Dasar Perencanaan.1.1. Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Dasar Perencanaan 2.1.1 Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun

Lebih terperinci

Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa 2 lantai TUGAS AKHIR. Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I

Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa 2 lantai TUGAS AKHIR. Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa lantai A- TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR SALON FITNES DAN SPA LANTAI Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I.85060 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan BAB DASAR TEORI.1. Dasar Perencanaan.1.1. Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun beban

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN CAFE 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN CAFE 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN CAFE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia konstruksi saat ini semakin berkembang pesat, meningkatnya berbagai kebutuhan manusia akan pekerjaan konstruksi menuntut untuk terciptanya inovasi dan kreasi

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN DAN TOKO BUKU 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR DAN ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN DAN TOKO BUKU 2 LANTAI TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Gedung Swalayan dan Toko Buku Lantai PERENCANAAN STRUKTUR DAN ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN DAN TOKO BUKU LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH DUA LANTAI

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH DUA LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH DUA LANTAI Disusun oleh: ANDI YUNIANTO NIM: I 8507035 PROGRAM D-III TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKRTA

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM 2 LANTAI TUGAS AKHIR perpustakaan.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN LANTAI Oleh: Fredy Fidya Saputra I.8505014 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET PROGRAM D III JURUSAN TEKNIK SIPIL SURAKARTA 009 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN SEKOLAHAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN SEKOLAHAN 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN SEKOLAHAN LANTAI Oleh : Dede Setiawan I8506704 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 011 MOTTOO...Sesungguhnya

Lebih terperinci

Tugas Akhir Perencanaan Struktur dan Rencana Anggaran Biaya Gedung Kuliah 2 Lantai

Tugas Akhir Perencanaan Struktur dan Rencana Anggaran Biaya Gedung Kuliah 2 Lantai 3 PERENCANAAN STRUKTUR Dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG KULIAH 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RSUD 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RSUD 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RSUD LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program Studi D3 Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH LANTAI Agus Supriyanto I.850033 D3 TEKNIK SIPIL GEDUNG FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET 011 iv v MOTTO Demi masa, sesungguhnya manusia

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GEMOLONG 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GEMOLONG 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GEMOLONG 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D3 Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO ELEKTRONIK 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO ELEKTRONIK 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO ELEKTRONIK LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program Studi Diploma III

Lebih terperinci

GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI

GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN CAFE DAN RESTO 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN CAFE DAN RESTO 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN CAFE DAN RESTO 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH 4 LANTAI DENGAN SISTEM DAKTAIL TERBATAS

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH 4 LANTAI DENGAN SISTEM DAKTAIL TERBATAS PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH 4 LANTAI DENGAN SISTEM DAKTAIL TERBATAS Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil disusun oleh : MUHAMMAD NIM : D

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR BOARDING HOUSE

PERENCANAAN STRUKTUR BOARDING HOUSE PERENCANAAN STRUKTUR BOARDING HOUSE TUGAS AKHIR Oleh : Antonius Mahatma P. I.8507007 PROGRAM DIII TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 010 BAB 3 Perencanaan

Lebih terperinci

BAB 1 LATAR BELAKANG.FIX.pdf BAB 2 DASAR TEORI.FIX.pdf

BAB 1 LATAR BELAKANG.FIX.pdf BAB 2 DASAR TEORI.FIX.pdf BAB 1 LATAR BELAKANG.FIX.pdf BAB 2 DASAR TEORI.FIX.pdf BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum Islamic Center sebagai pusat kegiatan keislaman, dimana semua kegiatan pembinaan berupa kegiatan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR Dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR Dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR Dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI TUGAS AKHIR Telah disetujui untuk dipertahankan di depan tim penguji sebagai persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya pada jurusan Teknik Sipil Dikerjakan

Lebih terperinci

BAB I. Perencanaan Atap

BAB I. Perencanaan Atap BAB I Perencanaan Atap 1. Rencana Gording Data perencanaan atap : Penutup atap Kemiringan Rangka Tipe profil gording : Genteng metal : 40 o : Rangka Batang : Kanal C Mutu baja untuk Profil Siku L : BJ

Lebih terperinci

TAMPAK DEPAN RANGKA ATAP MODEL 3

TAMPAK DEPAN RANGKA ATAP MODEL 3 TUGAS STRUKTUR BAJA 11 Bangunan gedung dengan struktur atap dibuat dengan struktur rangka baja. Bentang struktur bangunan, beban gravitasi, beban angin dan mutu bahan, dijelaskan pada data teknis berikut.

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM DUA LANTAI. Tugas akhir. Sudarmono I

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM DUA LANTAI. Tugas akhir. Sudarmono I PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM DUA LANTAI Tugas akhir Sudarmono I 85 07 061 Fakultas teknik jurusan teknik sipil Universitas sebelas maret 2010 MOTTO...Sesungguhnya Alloh tidak mengubah keadaan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSKESMAS DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSKESMAS DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSKESMAS DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR RUMAH DAN TOKO 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR RUMAH DAN TOKO 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR RUMAH DAN TOKO LANTAI TUAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh elar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR BUTIK 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR BUTIK 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR BUTIK LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL 2011

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL 2011 TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA 2 LANTAI Dikerjakan Oleh: CINTIA PRATIWI NIM. I 8508002 UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL 2011 LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN RESTO DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN RESTO DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN RESTO DUA LANTAI Oleh: Agus Catur kurniawan I.850608 PROGRAM DIII TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 011 MOTTO...Sesungguhnya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Isi Laporan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Isi Laporan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan semakin pesatnya perkembangan dunia teknik sipil di Indonesia saat ini menuntut terciptanya sumber daya manusia yang dapat mendukung dalam bidang tersebut.

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

PRESENTASI TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI D III TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010

PRESENTASI TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI D III TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010 PRESENTASI TUGAS AKHIR oleh : PROGRAM STUDI D III TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010 LATAR BELAKANG SMA Negeri 17 Surabaya merupakan salah

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTAURANT & TOKO 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTAURANT & TOKO 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTAURANT & TOKO 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program Studi D-III Teknik Sipil Jurusan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG MALL 3 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG MALL 3 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG MALL 3 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D3 Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN

PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM 2 LANTAI & RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM 2 LANTAI & RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM 2 LANTAI & RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan BAB III LANDASAN TEORI A. Pembebanan Dalam perancangan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku sehingga diperoleh suatu struktur bangunan yang aman secara konstruksi. Struktur

Lebih terperinci

DISUSUN OLEH JUNE ADE NINGTIYA I

DISUSUN OLEH JUNE ADE NINGTIYA I PERENCANAAN STRUKTUR HOTEL 2 LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH JUNE ADE NINGTIYA I 8507053 DIPLOMA TIGA JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

Lebih terperinci

ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS

ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS Analisa Dimensi dan Struktur Atap Menggunakan Metode Daktilitas Terbatas 1 - ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS M. Ikhsan Setiawan ABSTRAK Sttruktur gedung Akademi

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI. Diajukan Oleh : DANNY ARIEF M I

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI. Diajukan Oleh : DANNY ARIEF M I PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI Diajukan Oleh : DANNY ARIEF M I8506009 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET 00 i MOTTO Walaupun hidup

Lebih terperinci

BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan

BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan Dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan merupakan hasil dari perhitungan perencanaan struktur gedung Fakultas Teknik Informatika ITS Surabaya dengan metode SRPMM.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tujuan pendidikan Program Diploma III Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret adalah menciptakan Ahli madya yang terampil dan profesional serta kompeten

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR

BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR 3.. Denah Bangunan Dalam tugas akhir ini penulis merancang suatu struktur bangunan dengan denah seperti berikut : Gambar 3.. Denah bangunan 33 34 Dilihat dari bentuk

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KECAMATAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KECAMATAN 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya perpustakaan.uns.ac.id pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ( RAB ) TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ( RAB ) TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ( RAB ) TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN BAB IV ANALISA PERHITUNGAN 4.1 PERHITUNGAN METODE ASD 4.1.1 Perhitungan Gording Data perencanaan: Jenis baja : Bj 41 Jenis atap : genteng Beban atap : 60 kg/m 2 Beban hujan : 20 kg/m 2 Beban hujan : 100

Lebih terperinci

Tugas Besar Struktur Bangunan Baja 1. PERENCANAAN ATAP. 1.1 Perhitungan Dimensi Gording

Tugas Besar Struktur Bangunan Baja 1. PERENCANAAN ATAP. 1.1 Perhitungan Dimensi Gording 1.1 Perhitungan Dimensi Gording 1. PERENCANAAN ATAP 140 135,84 cm 1,36 m. Direncanakan gording profil WF ukuran 100x50x5x7 A = 11,85 cm 2 tf = 7 mm Zx = 42 cm 2 W = 9,3 kg/m Ix = 187 cm 4 Zy = 4,375 cm

Lebih terperinci

PERENCANAAN KANTOR KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN KANTOR KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN KANTOR KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

PERHITUNGAN PANJANG BATANG

PERHITUNGAN PANJANG BATANG PERHITUNGAN PANJANG BATANG E 3 4 D 1 F 2 14 15 5 20 A 1 7 C H 17 13 8 I J 10 K 16 11 L G 21 12 6 B 200 200 200 200 200 200 1200 13&16 0.605 14&15 2.27 Penutup atap : genteng Kemiringan atap : 50 Bahan

Lebih terperinci

fc ' = 2, MPa 2. Baja Tulangan diameter < 12 mm menggunakan BJTP (polos) fy = 240 MPa diameter > 12 mm menggunakan BJTD (deform) fy = 400 Mpa

fc ' = 2, MPa 2. Baja Tulangan diameter < 12 mm menggunakan BJTP (polos) fy = 240 MPa diameter > 12 mm menggunakan BJTD (deform) fy = 400 Mpa Peraturan dan Standar Perencanaan 1. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa untuk Gedung SNI - PPTGIUG 2000 2. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Gedung SKSNI 02-2847-2002 3. Tata Cara Perencanaan Struktur

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tugas Akhir Perencanaan Struktur Gedung Sekolah 2 Lantai Tinjauan Umum Perencanaan

BAB 1 PENDAHULUAN. Tugas Akhir Perencanaan Struktur Gedung Sekolah 2 Lantai Tinjauan Umum Perencanaan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Perencanaan Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas

BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas BAB V PEMBAHASAN 5.1 Umum Pada gedung bertingkat perlakuan stmktur akibat beban menyebabkan terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas pekerjaan dilapangan, perencana

Lebih terperinci

BAB III METODE DESAIN DAN PERENCANAAN RANGKA BALOK BAJA

BAB III METODE DESAIN DAN PERENCANAAN RANGKA BALOK BAJA BAB III METODE DESAIN DAN PERENCANAAN RANGKA BALOK BAJA 3.1 Diagram Alir Perencanaan Kuda kuda Mulai KUDA KUDA TYPE 1 KUDA KUDA TYPE 2 KUDA KUDA TYPE 3 PRE/DESIGN GORDING PEMBEBANAN PRE/DESIGN GORDING

Lebih terperinci

1. Rencanakan Tulangan Lentur (D19) dan Geser (Ø =8 mm) balok dengan pembebanan sbb : A B C 6 m 6 m

1. Rencanakan Tulangan Lentur (D19) dan Geser (Ø =8 mm) balok dengan pembebanan sbb : A B C 6 m 6 m Ujian REMIDI Semester Ganjil 013/014 Mata Kuliah : Struktur Beton Bertulang Hari/Tgl/ Tahun : Jumat, 7 Pebruari 014 Waktu : 10 menit Sifat Ujian : Tutup Buku KODE : A 1. Rencanakan Tulangan Lentur (D19)

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS PEMBEBANAN

BAB V ANALISIS PEMBEBANAN BAB V ANALISIS PEMBEBANAN Analisis pembebanan pada penelitian ini berupa beban mati, beban hidup, beban angin dan beban gempa. 3,5 m 3,5 m 3,5 m 3,5 m 3,5 m 3,5 m 4,5 m 3,25 m 4,4 m 4,45 m 4 m Gambar 5.1.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perhitungan Struktur Perhitungan struktur meliputi perencanaan atap, pelat, balok, kolom dan pondasi. Perhitungan gaya dalam menggunakan bantuan program SAP 2000 versi 14.

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM)

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM) PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM) Oleh : TRIA CIPTADI 3111 030 013 M. CHARIESH FAWAID 3111 030 032 Dosen

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung (SNI ) dan tata cara perencanaan gempa

BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung (SNI ) dan tata cara perencanaan gempa BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pembebanan Beban yang ditinjau dan dihitung dalam perancangan gedung ini adalah beban hidup, beban mati dan beban gempa. 3.1.1. Kuat Perlu Beban yang digunakan sesuai dalam

Lebih terperinci

Perencanaan Struktur Tangga

Perencanaan Struktur Tangga 4.1 PERENCANAAN STRUKTUR TANGGA Skema Perencanaaan Struktur Tangga Perencanaan Struktur Tangga 5Pembebanan Tangga START Dimensi Tangga Rencanakan fc, fy, Ø tulangan Penentuan Tebal Pelat Tangga dan Bordes

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL.. i. LEMBAR PENGESAHAN ii. KATA PENGANAR.. iii ABSTRAKSI... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang... 1

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL.. i. LEMBAR PENGESAHAN ii. KATA PENGANAR.. iii ABSTRAKSI... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang... 1 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.. i LEMBAR PENGESAHAN ii KATA PENGANAR.. iii ABSTRAKSI... DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR NOTASI. v vi xii xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang...... 1 1.2. Maksud dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA STRUKTUR

BAB IV ANALISA STRUKTUR BAB IV ANALISA STRUKTUR 4.1 Data-data Struktur Pada bab ini akan membahas tentang analisa struktur dari struktur bangunan yang direncanakan serta spesifikasi dan material yang digunakan. 1. Bangunan direncanakan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL JALAN MARTADINATA MANADO

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL JALAN MARTADINATA MANADO PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL JALAN MARTADINATA MANADO Claudia Maria Palit Jorry D. Pangouw, Ronny Pandaleke Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Sam Ratulangi Manado email:[email protected]

Lebih terperinci

LAMPIRAN I (Preliminary Gording)

LAMPIRAN I (Preliminary Gording) LAMPIRAN I (Preliminary Gording) L.1. Pendimensian gording Berat sendiri gording dapat dihitung dengan menggunakan atau dengan memisalkan berat sendiri gording (q), Pembebanan yang dipikul oleh gording

Lebih terperinci

1. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI ) 3. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI-1983)

1. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI ) 3. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI-1983) 7 1. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989) 2. Perencaaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Rumah dan Gedung SNI-03-1726-2002 3. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI-1983)

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai 8 BAB III LANDASAN TEORI A. Pembebanan Pada Pelat Lantai Dalam penelitian ini pelat lantai merupakan pelat persegi yang diberi pembebanan secara merata pada seluruh bagian permukaannya. Material yang digunakan

Lebih terperinci

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS) A. IDEALISASI STRUKTUR RAGKA ATAP (TRUSS) Perencanaan kuda kuda dalam bangunan sederhana dengan panjang bentang 0 m. jarak antara kuda kuda adalah 3 m dan m, jarak mendatar antara kedua gording adalah

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Bangunan Gedung SNI pasal

BAB III LANDASAN TEORI. Bangunan Gedung SNI pasal BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Analisis Penopang 3.1.1. Batas Kelangsingan Batas kelangsingan untuk batang yang direncanakan terhadap tekan dan tarik dicari dengan persamaan dari Tata Cara Perencanaan Struktur

Lebih terperinci

BAB 1 PERHITUNGAN PANJANG BATANG

BAB 1 PERHITUNGAN PANJANG BATANG BAB 1 PERHITUNGAN PANJANG BATANG A4 A5 A3 A6 T4 A1 T1 A2 D1 T2 D2 T3 D3 D4 T5 D5 T6 A7 D6 T7 A8 A 45 B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B 30 1.1 Perhitungan Secara Matematis Panjang Batang Bawah B 1 B 2 B 3 B 4 B

Lebih terperinci

CAHYA PUTRI KHINANTI Page 3

CAHYA PUTRI KHINANTI Page 3 BAB II PERHITUNGAN KAP A. Perhitungan Gording Gambar 2.1 Rencana Kap 1. Data Perhitungan Bentang kuda kuda = 10 m Jarak antar kuda-kuda = 4 m Kemiringan atap = 20 Berat penutup atap = 10 kg/m² (Seng Gelombang)

Lebih terperinci

JURNAL TUGAS AKHIR PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PERKULIAHAN FAPERTA UNIVERSITAS MULAWARMAN

JURNAL TUGAS AKHIR PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PERKULIAHAN FAPERTA UNIVERSITAS MULAWARMAN JURNAL TUGAS AKHIR PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PERKULIAHAN FAPERTA UNIVERSITAS MULAWARMAN Diajukan oleh : ABDUL MUIS 09.11.1001.7311.046 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1 Diagram Alir Mulai Data Eksisting Struktur Atas As Built Drawing Studi Literatur Penentuan Beban Rencana Perencanaan Gording Preliminary Desain & Penentuan Pembebanan

Lebih terperinci

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS) A. IDEALISASI STRUKTUR RAGKA ATAP (TRUSS) Perencanaan kuda kuda dalam bangunan sederhana dengan panjang bentang 0 m. jarak antara kuda kuda adalah 3 m dan m, jarak mendatar antara kedua gording adalah

Lebih terperinci

PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG KULIAH DIPLOMA III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG KULIAH DIPLOMA III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG KULIAH DIPLOMA III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Diajukan sebagai syarat untuk menempuh ujian akhir Jurusan Sipil Program Studi Diploma III Fakultas

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS PERHITUNGAN

BAB 3 ANALISIS PERHITUNGAN BAB 3 ANALISIS PERHITUNGAN 3.1 PERHITUNGAN RESERVOIR (ALT.I) Reservoir alternatif ke-i adalah reservoir yang terbuat dari struktur beton bertulang. Pada program SAP2000 reservoir yang dimodelkan sebagai

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN. Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi

BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN. Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN 4.1 Perencanaan Awal (Preliminary Design) Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi rencana struktur, yaitu pelat, balok dan kolom agar diperoleh

Lebih terperinci

Perhitungan Struktur Bab IV

Perhitungan Struktur Bab IV Permodelan Struktur Bored pile Perhitungan bore pile dibuat dengan bantuan software SAP2000, dimensi yang diinput sesuai dengan rencana dimensi bore pile yaitu diameter 100 cm dan panjang 20 m. Beban yang

Lebih terperinci

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder Dalam penggunaan profil baja tunggal (seperti profil I) sebagai elemen lentur jika ukuran profilnya masih belum cukup memenuhi karena gaya dalam (momen dan gaya

Lebih terperinci

PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR UNISMA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA

PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR UNISMA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA 25 PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR UNISMA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA Nana Suryana 1), Eko Darma 2), Fajar Prihesnanto 3) 1,2,3) Teknik Sipil Universitas Islam 45 Bekasi Jl. Cut Mutia

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1. Diagram Alir Perencanaan Struktur Atas Baja PENGUMPULAN DATA AWAL PENENTUAN SPESIFIKASI MATERIAL PERHITUNGAN PEMBEBANAN DESAIN PROFIL RENCANA PERMODELAN STRUKTUR DAN

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN Oleh : 1. AGUNG HADI SUPRAPTO 3111 030 114 2.RINTIH PRASTIANING ATAS KASIH 3111

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI)

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI) 1 PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI) Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai S-1 Teknik Sipil diajukan

Lebih terperinci

E. PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 3. PERENCANAAN TRAP TRIBUN DIMENSI

E. PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 3. PERENCANAAN TRAP TRIBUN DIMENSI 1.20 0.90 0.90 1.20 0.90 0.45 0. E. PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER. PERENCANAAN TRAP TRIUN DIMENSI 0.0 1.20 0.90 0.12 TRAP TRIUN PRACETAK alok L : balok 0cm x 45cm pelat sayap 90cm x 12cm. Panjang bentang

Lebih terperinci