DISUSUN OLEH JUNE ADE NINGTIYA I
|
|
|
- Ridwan Chandra
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERENCANAAN STRUKTUR HOTEL 2 LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH JUNE ADE NINGTIYA I DIPLOMA TIGA JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 iv
2 MOTTO...Sesungguhnya Alloh tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri... (Q.S. 13:11) Jadikanlah Sholat Dan Doa Sebagai Penolong Bagimu Ketika Wajah Ini Penat Memikirkan Dunia Maka Berwudhulah. Ketika Tangan Ini Letih Menggapai Cita-cita Maka Bertakbirlah. Ketika Pundak Tak Kuasa Memikul Amanah Maka Bersujudlah. Ikhlaskan Pada Allah Dan Mendekatlah PadaNya Doa Yang Tulus Dan Keberanian Akan Hal Yang Benar Akan Membawa Berkah Di Kemudian Hari Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik Segala Sesuatu Tak Ada Yang Tak Mungkin Di Dunia Ini Everything Will Be Reach If You Try Pray Patient Never Give Up Always Positive Thinking To Be Your Self And Principle In This Life iv
3 PERSEMBAHAN Alhamdulillah puji syukur kupanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Sang pencipta alam semesta yang telah memberikan limpahan rahmat, hidayah serta anugerah yang tak terhingga. Dibalik tabir pembuatan episode Tugas Akhir Serangkai Budi Penghargaan Bapak,Ibu, Dan Kakak Tercinta Terima Kasih Atas Doa, Materi Yang Telah Banyak Keluar Hanya Untukku Untuk Mewujudkan Satu Hari Ini. Fardhu Dan Tahajud Kalian Yang Selalu Membuat Aku Mampu Dan Bertahan Atas Semua Ini. Brother Terima Kasih Atas Semua Yang Telah Kau Berikan Untukku, Walaupun Lelah Selalu Menemaniku Sampai Selesai semua Ini. IloVu Nurul Raharjo My Partner Tugas Akhir, We Can Do It Good Job Girl Rekan-rekan Sipil Gedung khususnya angkatan 2007 Thanks To All My Friend : Sudarmono, Nurul Raharjo, Mbak Fit, Nuria, Adex (BFF Community), Jekek, Isam, Budi, Yayan, Pandu, Badrun, Catur, Dede, Agunk, Binar (PAB), Mbak Arum, Yuni, Igag, Rubi, Rangga, Ariz, Dwi, Ayak, Puji, Iwan, Tewhe, Aguz, andi, Siget, Damar, Yuli, Mamet, Haryono, Lukman, Cumi. Serta Temen-temen Teknik sipil Infrastuktur Perkotaan & Transportasi. The last, thank s to : Ir. Delan Soeharto, MT selaku dosen pembimbing yang memberi pengarahan beserta bimbingan atas terselesaikannya laporan Tugas Akhir ini Universitas Sebelas Maret Surakarta Dosen Karyawan serta Staff Teknik Sipil v
4 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul PERENCANAAN STRUKTUR HOTEL 2 LANTAI dengan baik. Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penyusun banyak menerima bimbingan, bantuan dan dorongan yang sangat berarti dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Segenap pimpinan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta stafnya. 2. Segenap pimpinan Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta stafnya. 3. Segenap pimpinan Program D-III Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta stafnya. 4. Ir. Delan Soeharto, MT., selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingannya selama dalam penyusunan tugas akhir ini. 5. Bapak dan ibu dosen pengajar yang telah memberikan ilmunya beserta karyawan di Fakultas Teknik UNS yang telah banyak membantu dalam proses perkuliahan. 6. Bapak, Ibu dan kakak yang telah memberikan dukungan dan dorongan baik moril maupun materiil dan selalu mendoakan penyusun. 7. Rekan rekan dari Teknik sipil semua angkatan yang telah membantu terselesaikannya laporan Tugas Akhir ini, dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan Tugas Akhir ini. vi
5 Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran maupun masukan yang membawa ke arah perbaikan dan bersifat membangun sangat penyusun harapkan. Semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya. Surakarta, Agustus 2010 Penyusun vii
6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN.... MOTTO... PERSEMBAHAN... KATA PENGANTAR.... DAFTAR ISI.... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR NOTASI DAN SIMBOL... Hal i ii iv v vi viii xiii xvi xvii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Maksud dan Tujuan Kriteria Perencanaan Peraturan-Peraturan Yang Berlaku... 2 BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan Sistem Bekerjanya Beban Provisi Keamanan Perencanaan Atap Perencanaan Tangga Perencanaan Plat Lantai Perencanaan Balok Anak Perencanaan Portal Perencanaan Pondasi viii
7 BAB 3 RENCANA ATAP 3.1. Rencana Atap Dasar Perencanaan Perencanaan Gording Perencanaan Pembebanan Perhitungan Pembebanan Kontrol Terhadap Tegangan Kontrol terhadap lendutan Perencanaan Setengah Kuda-Kuda Perhitungan Panjang Batang Setengah Kuda-Kuda Perhitungan Luasan Setengah Kuda-Kuda Perhitungan Pembebanan Setengah Kuda-kuda Perencanaan Profil Kuda-kuda Perhitungan Alat Sambung Perencanaan Jurai Perhitungan Panjang Batang Jurai Perhitungan Luasan Jurai Perhitungan Pembebanan Jurai Perencanaan Profil Jurai Perhitungan Alat Sambung Perencanaan Kuda-kuda Utama Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda A Perhitungan Luasan Setengah Kuda-kuda Utama A Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Utama A Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama A Perhitungan Alat Sambung Perencanaan Kuda-kuda Utama B Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda B Perhitungan Luasan Setengah Kuda-kuda Utama B Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Utama B Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama B Perhitungan Alat Sambung ix
8 BAB 4 PERENCANAAN TANGGA 4.1. Uraian Umum Data Perencanaan Tangga Perhitungan Tebal Plat Equivalent dan Pembebanan Perhitungan Tebal Plat Equivalent Perhitungan Beban Perhitungan Tulangan Tangga dan Bordes Perhitungan Tulangan Tumpuan Perhitungan Tulangan Lapangan Perencanaan Balok Bordes Pembebanan Balok Bordes Perhitungan Tulangan Lentur Perhitungan Tulangan Geser Perhitungan Pondasi Tangga Perencanaan Kapasitas Dukung Pondasi Perhitungan Tulangan Lentur Perhitungan Tulangan Geser BAB 5 PLAT LANTAI 5.1. Perencanaan Plat Lantai Perhitungan Beban Plat Lantai Perhitungan Momen Penulangan Plat Lantai Penulangan Tumpuan Arah x Penulangan Tumpuan Arah y Penulangan Lapangan Arah x Penulangan Lapangan Arah y Rekapitulasi Tulangan x
9 BAB 6 PERENCANAAN BALOK ANAK 6.1. Perencanaan Balok Anak Perhitungan Lebar Equivalent Lebar Equivalent Balok Anak Perhitungan Pembebanan Balok Anak Pembebanan Balok Anak As A-A Pembebanan Balok Anak As B-B Pembebanan Balok Anak As C-C Perhitungan Tulangan Balok Anak Perhitungan Tulangan Balok Anak As A-A Perhitungan Tulangan Balok Anak As B-B Perhitungan Tulangan Balok Anak As C-C BAB 7 PERENCANAAN PORTAL 7.1. Perencanaan Portal Menentukan Dimensi Perencanaan Portal Perhitungan Beban Equivalent Plat Lebar Equivalent Pembebanan Balok Portal Memanjang Pembebanan Balok Portal Melintang Penulangan Balok Portal Perhitungan Tulangan Lentur Rink Balk Perhitungan Tulangan Geser Rink Balk Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Memanjang Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Memanjang Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Melintang Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Melintang Penulangan Kolom Perhitungan Tulangan Lentur Kolom Perhitungan Tulangan Geser Kolom Penulangan Sloof 178 xi
10 7.5.1 Perhitungan Tulangan Lentur Sloof Perhitungan Tulangan Geser Sloof BAB 8 PERENCANAAN PONDASI 8.1. Data Perencanaan Perencanaan Kapasitas Dukung Pondasi Perhitungan Tulangan Lentur Perhitungan Tulangan Geser BAB 9 RENCANA ANGGARAN BIAYA 9.1. Rencana Anggaran Biaya (RAB) Data Perencanaan Perhitungan Volume Pekerjaan Pendahuluan Pekerjaan Pondasi Pekerjaan Beton Pekerjaan Pemasangan Bata Merah dan Pemlesteran Pekerjaan Pemasangan Kusen dan Pintu Pekerjaan Atap Pekerjaan Plafon Pekerjaan Keramik Pekerjaan Sanitasi Pekerjaan Instalasi Listrik Pekerjaan Pengecatan BAB 10 KESIMPULAN PENUTUP.. DAFTAR PUSTAKA. LAMPIRAN-LAMPIRAN xix xx xxi xii
11 DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 3.1 Denah Rencana Atap Gambar 3.2 Setengah Kuda-kuda Gambar 3.3 Jurai Gambar 3.4 Kuda-kuda Utama Gambar 3.5 Lip Channels in Front to Front Arrangement Gambar 3.6 Rangka Batang Setengah Kuda-kuda Gambar 3.7 Luasan Atap Setengah Kuda-kuda Gambar 3.8 Luasan Plafon Setengah Kuda-kuda Gambar 3.9 Pembebanan Setengah Kuda-kuda Akibat Beban Mati Gambar 3.10 Pembebanan Setengah Kuda-kuda Utama Akibat Beban Angin 30 Gambar 3.11 Rangka Batang Jurai Gambar 3.12 Panjang Batang Kuda-kuda Utama A Gambar 3.13 Luasan Atap Kuda-kuda Utama A Gambar 3.14 Luasan Plafon Kuda-kuda Utama A Gambar 3.15 Pembebanan Kuda-kuda Utama A Akibat Beban Mati Gambar 3.16 Pebebanan Kuda-kuda Utama A Akibat Beban Angin xiii
12 Gambar 3.17 Panjang Batang Kuda-kuda Utama B Gambar 3.18 Luasan Atap Kuda-kuda Utama B Gambar 3.19 Luasan Plafon Kuda-kuda Utama B Gambar 3.20 Pembebanan Kuda-kuda Utama B Akibat Beban Mati Gambar 3.21 Pembebanan Kuda-kuda Utama B Akibat Beban Angin Gambar 4.1 Detail Tangga Gambar 4.2 Tebal Equivalent Gambar 4.3 Pondasi Tangga Gambar 5.1 Denah Plat lantai Gambar 5.2 Plat Tipe A Gambar 5.3 Plat Tipe B Gambar 5.4 Plat Tipe C Gambar 5.5 Plat Tipe D Gambar 5.8 Perencanaan Tinggi Efektif Gambar 6.1 Area Pembebanan Balok Anak Gambar 6.2 Pembebanan Balok Anak As A-A Gambar 6.3 Pembebanan Balok Anak As B-B Gambar 6.4 Pembebanan Balok Anak as C-C Gambar 7.1 Denah Portal Gambar 7.2 Balok Portal As Gambar 7.3 Beban Mati Balok Portal As Gambar 7.4 Beban Hidup Balok Portal As Gambar 7.5 Balok Portal As Gambar 7.6 Beban Mati Balok Portal As Gambar 7.7 Beban Hidup Balok Portal As Gambar 7.8 Balok Portal As Gambar 7.9 Beban Mati Balok Portal As Gambar 7.10 Beban Hidup Balok Portal As Gambar 7.11 Balok Portal Z-Z Gambar 7.12 Beban Mati Balok Portal Z-Z Gambar 7.13 Beban Hidup Balok Portal Z-Z Gambar 7.14 Balok Portal As xiv
13 Gambar 7.15 Beban Mati Balok Portal As Gambar 7.16 Beban Hidup Balok Portal As Gambar 7.17 Balok Portal As Gambar 7.18 Beban Mati Balok Portal As Gambar 7.19 Beban Hidup Balok Portal As Gambar 7.20 Balok Portal As-A Gambar 7.21 Beban Mati Balok Portal As-A Gambar 7.22 Beban Hidup Balok Portal As-A Gambar 7.23 Balok Portal As-B Gambar 7.24 Beban Mati Balok Portal As-B Gambar 7.25 Beban Hidup Balok Portal As-B Gambar 7.26 Balok Portal As-C Gambar 7.27 Beban Mati Balok Portal As-C Gambar 7.28 Beban Hidup Balok Portal As-C Gambar 7.29 Balok Portal As-D Gambar 7.30 Beban Mati Balok Portal As-D Gambar 7.31 Beban Hidup Balok Portal As-D Gambar 8.1 Perencanaan Pondasi xv
14 DAFTAR TABEL Hal Tabel 2.1 Koefisien Reduksi Beban hidup... 4 Tabel 2.2 Faktor Pembebanan U... 7 Tabel 2.3 Faktor Reduksi Kekuatan ø... 7 Tabel 3.1 Kombinasi Gaya Dalam Pada Gording Tabel 3.2 Perhitungan Panjang Batang Pada Setengah Kuda-kuda Tabel 3.3 Rekapitulasi Pembebanan Setengah Kuda-kuda Tabel 3.4 Perhitungan Beban Angin Tabel 3.5 Rekapitulasi Gaya Batang Setengah Kuda-kuda Tabel 3.6 Rekapitulasi Perencanaan Profil Setengah Kuda-Kuda Tabel 3.7 Perhitungan Panjang Batang Pada Jurai Tabel 3.8 Rekapitulasi Pembebanan Jurai Tabel 3.9 Perhitungan Beban Angin Tabel 3.10 Rekapitulasi Gaya Batang Jurai Tabel 3.11 Rekapitulasi Perencanaan Profil Jurai Tabel 3.12 Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda Utama A Tabel 3.13 Rekapitulasi Beban Mati B Tabel 3.14 Perhitungan Beban Angin B Tabel 3.15 Rekapitulasi Gaya Batang pada Kuda-kuda Utama B xvi
15 Tabel 3.16 Rekapitulasi Perencanaan Profil Kuda-kuda Utama B DAFTAR NOTASI DAN SIMBOL A = Luas penampang batang baja (cm 2 ) B = Luas penampang (m 2 ) AS = Luas tulangan tekan (mm 2 ) AS = Luas tulangan tarik (mm 2 ) B = Lebar penampang balok (mm) C = Baja Profil Canal D = Diameter tulangan (mm) Def = Tinggi efektif (mm) E = Modulus elastisitas(m) e = Eksentrisitas (m) F c = Kuat tekan beton yang disyaratkan (Mpa) Fy = Kuat leleh yang disyaratkan (Mpa) g = Percepatan grafitasi (m/dt) h = Tinggi total komponen struktur (cm) H = Tebal lapisan tanah (m) I = Momen Inersia (mm 2 ) L = Panjang batang kuda-kuda (m) M = Harga momen (kgm) Mu = Momen berfaktor (kgm) xvii
16 N = Gaya tekan normal (kg) Nu = Beban aksial berfaktor P = Gaya batang pada baja (kg) q = Beban merata (kg/m) q = Tekanan pada pondasi ( kg/m) S = Spasi dari tulangan (mm) Vu = Gaya geser berfaktor (kg) W = Beban Angin (kg) Z = Lendutan yang terjadi pada baja (cm) = Diameter tulangan baja (mm) = Faktor reduksi untuk beton = Tulangan tarik (As/bd) xvii = Tegangan yang terjadi (kg/cm 3 ) = Faktor penampang xviii
17 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan semakin pesatnya perkembangan dunia teknik sipil di Indonesia saat ini menuntut terciptanya sumber daya manusia yang dapat mendukung kemajuannya dalam bidang ini. Dengan Sumber Daya Manusia yang berkualitas tinggi, bangsa Indonesia akan dapat memenuhi tuntutan ini. Bangsa Indonesia telah menyediakan berbagai sarana guna memenuhi Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Dalam merealisasikan hal ini Universitas Sebelas Maret Surakarta sebagai salah satu lembaga pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut memberikan Tugas Akhir sebuah perencanaan gedung bertingkat dengan maksud agar dapat menghasilkan tenaga yang bersumber daya dan mampu bersaing dalam dunia kerja Maksud Dan Tujuan Dalam menghadapi pesatnya perkembangan jaman yang semakin modern dan berteknologi, serta semakin derasnya arus globalisasi saat ini, sangat diperlukan seorang teknisi yang berkualitas. Dalam hal ini khususnya teknik sipil sangat diperlukan teknisi-teknisi yang menguasai ilmu dan keterampilan dalam bidangnya. Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta sebagai lembaga pendidikan mempunyai tujuan untuk menghasilkan ahli teknik yang berkualitas, bertanggungjawab, kreatif dalam menghadapi masa depan serta dapat menyukseskan pembangunan nasional di Indonesia. BAB 3 Perencanaan Atap
18 2 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Program Diploma Tiga Jurusan 1 Teknik Sipil memberikan Tugas Akhir dengan maksud dan tujuan: 1. Mahasiswa dapat merencanakan suatu konstruksi bangunan yang sederhana sampai bangunan bertingkat. 2. Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam merencanakan struktur gedung. 3. Mahasiswa diharapkan dapat memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam perencanaan suatu struktur gedung Kriteria Perencanaan 1. Spesifikasi Bangunan a. Fungsi bangunan : Hotel b. Luas bangunan : 1050 m 2 c. Jumlah lantai : 2 lantai d. Tinggi antar lantai : 4 m e. Penutup atap : Rangka kuda-kuda baja f. Pondasi : Foot Plat 2. Spesifikasi Bahan a. Mutu baja profil : BJ 37 b. Mutu beton (f c) : 25 MPa c. Mutu baja tulangan (fy) : Polos: 240 MPa. Ulir: 380 MPa Peraturan - Peraturan Yang Berlaku 1. Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung (SNI ). 2. Tata cara perencanaan struktur beton untuk bangunan gedung (SNI ). 3. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG 1989). BAB 3 Perencanaan Atap
19 3 BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun beban khusus yang bekerja pada struktur bangunan tersebut. Beban-beban yang bekerja pada struktur dihitung menurut, (SNI ). beban beban tersebut adalah: 1. Beban Mati (qd) Beban mati adalah beban dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap atau tidak berubah, termasuk segala unsur tambahan serta peralatan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gedung. Untuk merencanakan gedung ini, beban mati yang terdiri dari berat sendiri bahan bangunan dan komponen gedung adalah: a) Bahan Bangunan: 1. Beton Bertulang kg/m 3 2. Pasir kg/m 3 3. Beton kg/m 3 b) Komponen Gedung: 1. Langit-langit dan dinding (termasuk rusuk-rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau pengaku),terdiri dari: - semen asbes (eternit) dengan tebal maximum 4mm kg/m 2 - kaca dengan tebal 3-4 mm kg/m 2 2. Penutup atap genteng dengan reng dan usuk kg/m 2 3. Penutup lantai dari tegel, keramik dan beton (tanpa adukan) per cm tebal.24 kg/m2 4. Adukan semen per cm tebal kg/m 2 3 BAB 3 Perencanaan Atap
20 4 2. Beban Hidup (ql) Beban hidup adalah beban yang terjadi akibat penghuni atau pengguna suatu gedung, termasuk dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan pembebanan lantai dan atap tersebut. Khususnya pada atap, beban hidup dapat termasuk beban yang berasal dari air hujan (PPIUG 1983). Beban hidup yang bekerja pada bangunan ini disesuaikan dengan rencana fungsi bangunan tersebut. Beban hidup untuk bangunan ini terdiri dari: Beban atap kg/m 2 Beban tangga dan bordes kg/m 2 Beban lantai kg/m 2 Berhubung peluang untuk terjadi beban hidup penuh yang membebani semua bagian dan semua unsur struktur pemikul secara serempak selama unsur gedung tersebut adalah sangat kecil, maka pada perencanaan balok induk dan portal dari sistem pemikul beban dari suatu struktur gedung, beban hidupnya dikalikan dengan suatu koefisien reduksi yang nilainya tergantung pada penggunaan gedung yang ditinjau, seperti diperlihatkan pada tabel: Tabel 2.1. Koefisien Reduksi Beban Hidup Penggunaan Gedung a. PERUMAHAN/HUNIAN Penginapan, rumah tinggal, hotel b. PERTEMUAN UMUM Ruang Rapat, R. Serba Guna, Musholla c. PENYIMPANAN Perpustakaan, Ruang Arsip d. TANGGA Rumah sakit/poliklinik Sumber: PPIUG 1983 Koefisien Beban Hidup untuk Perencanaan Balok Induk 0,75 0,90 0,80 0,75 BAB 3 Perencanaan Atap
21 5 3. Beban Angin (W) Beban Angin adalah beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan adanya tiupan angin (perbedaan tekanan udara). (PPIUG 1983). Beban Angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (hisapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang yang ditinjau. Besarnya tekanan positif dan negatif yang dinyatakan dalam kg/m 2 ini ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup dengan koefisien-koefisien angin. Tekan tiup harus diambil minimum 25 kg/m 2, kecuali untuk daerah di laut dan di tepi laut sampai sejauh 5 km dari tepi pantai. Pada daerah tersebut tekanan hisap diambil minimum 40 kg/m 2. Sedangkan koefisien angin untuk gedung tertutup: 1. Dinding Vertikal a) Di pihak angin ,9 b) Di belakang angin...- 0,4 2. Atap segitiga dengan sudut kemiringan a) Di pihak angin : < ,02-0,4 65 < < ,9 b) Di belakang angin, untuk semua...- 0, Sistem Kerjanya Beban Bekerjanya beban untuk bangunan bertingkat berlaku sistem gravitasi, yaitu elemen struktur yang berada di atas akan membebani elemen struktur di bawahnya, atau dengan kata lain elemen struktur yang mempunyai kekuatan lebih besar akan menahan atau memikul elemen struktur yang mempunyai kekuatan lebih kecil. BAB 3 Perencanaan Atap
22 6 Dengan demikian sistem bekerjanya beban untuk elemen-elemen struktur gedung bertingkat dapat digambarkan pada diagram alur sebagai berikut : Atap Balok induk Balok anak Kolom Pondasi Gambar 2.1 Diagram Alur Beban Provisi Keamanan Dalam pedoman beton, SNI struktur harus direncanakan untuk memiliki cadangan kekuatan untuk memikul beban yang lebih tinggi dari beban normal. Kapasitas cadangan ini mencakup faktor pembebanan (U), yaitu untuk memperhitungkan pelampauan beban dan faktor reduksi (), yaitu untuk memperhitungkan kurangnya mutu bahan di lapangan. Pelampauan beban dapat terjadi akibat perubahan dari penggunaan untuk apa struktur direncanakan dan penafsiran yang kurang tepat dalam memperhitungkan pembebanan. Sedang kekurangan kekuatan dapat diakibatkan oleh variasi yang merugikan dari kekuatan bahan, pengerjaan, dimensi, pengendalian dan tingkat pengawasan. BAB 3 Perencanaan Atap
23 7 Tabel 2.2. Faktor Pembebanan U No. KOMBINASI BEBAN 1. D, L 2. D, L, W 3. D, W 4. D, Lr, E 5. D, E FAKTOR U 1,2 D +1,6 L 0,75 ( 1,2 D + 1,6 L + 1,6 W ) 0,9 D + 1,3 W 1,05 ( D + Lr E ) 0,9 ( D E ) Keterangan : D = Beban mati L = Beban hidup Lr = Beban hidup tereduksi W = Beban angin E = Beban gempa Tabel 2.3. Faktor Reduksi Kekuatan No GAYA Lentur tanpa beban aksial Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur Geser dan torsi Tumpuan Beton 0,80 0,80 0,65-0,80 0,60 0,70 Karena kandungan agregat kasar untuk beton struktural seringkali berisi agregat kasar berukuran diameter lebih dari 2 cm, maka diperlukan adanya jarak tulangan minimum agar campuran beton basah dapat melewati tulangan baja tanpa terjadi BAB 3 Perencanaan Atap
24 8 pemisahan material sehingga timbul rongga-rongga pada beton. Untuk melindungi dari karat dan kehilangan kekuatannya dalam kasus kebakaran, maka diperlukan adanya tebal selimut beton minimum. Beberapa persyaratan utama pada Pedoman Beton SNI adalah sebagai berikut: a. Jarak bersih antara tulangan sejajar yang selapis tidak boleh kurang dari d b atau 25 mm, dimana d b adalah diameter tulangan. b. Jika tulangan sejajar tersebut diletakkan dalam dua lapis atau lebih, tulangan pada lapisan atas harus diletakkan tepat diatas tulangan di bawahnya dengan jarak bersih tidak boleh kurang dari 25 mm. Tebal selimut beton minimum untuk beton yang dicor setempat adalah: a) Untuk pelat dan dinding = 20 mm b) Untuk balok dan kolom = 40 mm c) Beton yang berhubungan langsung dengan tanah atau cuaca = 50 mm 2.2. Perencanaan Atap 1. Pembebanan Pada perencanaan atap ini, beban yang bekerja adalah: a. Beban mati b. Beban hidup 2. Asumsi Perletakan a. Tumpuan sebelah kiri adalah Sendi. b. Tumpuan sebelah kanan adalah Rol. 3. Analisa tampang menggunakan peraturan PPBBI Perencanaan Tangga BAB 3 Perencanaan Atap
25 9 1. Pembebanan: a. Beban mati b. Beban hidup : 300 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan a. Tumpuan bawah adalah Jepit. b. Tumpuan tengah adalah Jepit. c. Tumpuan atas adalah Jepit Perencanaan Plat Lantai 1. Pembebanan: a. Beban mati b. Beban hidup : 250 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan : jepit penuh 2.5. Perencanaan Balok Anak 1. Pembebanan: a. Beban mati b. Beban hidup : 250 kg/m 2 2. Asumsi Perletakan : jepit 2.6. Perencanaan Portal 1. Pembebanan: a. Beban mati b. Beban hidup : 250 kg/m 2 BAB 3 Perencanaan Atap
26 10 2. Asumsi Perletakan a. Jepit pada kaki portal b. Bebas pada kaki portal yang lain 2.7. Perencanaan Pondasi Pembebanan: Beban aksial dan momen dari analisa struktur portal akibat beban mati dan beban hidup. BAB 3 Perencanaan Atap
27 1 BAB 3 PERENCANAAN ATAP 3.1. Rencana Atap ( Sistem Kuda-Kuda) KD A KD B KD B KD B KD A SK G N JR G G G Gambar 3.1. Rencana Atap Keterangan : KK A = Kuda-kuda utama A G = Gording KK B = Kuda-kuda utama B N = Nok SK = Setengah kuda-kuda JR = Jurai Gambar 3.2. Setengah Kuda-kuda BAB 3 Perencanaan Atap
28 2 Gambar 3.3. Jurai Gambar 3.4. Kuda-kuda Utama Dasar Perencanaan Secara umum data yang digunakan untuk perhitungan rencana atap adalah sebagai berikut : a. Jarak antar kuda-kuda : 5 m b. Kemiringan atap () : 30 c. Bahan gording : baja profil lip channels in front to front ( ) d. Bahan rangka kuda-kuda : baja profil double siku sama kaki ( ) e. Bahan penutup atap : genteng tanah liat f. Alat sambung : baut-mur. BAB 3 Perencanaan Atap
29 3 g. Jarak antar gording : 1,732 m h. Bentuk atap : limasan i. Mutu baja profil : Bj-37 ijin = 1600 kg/cm 2 Leleh = 2400 kg/cm 2 (SNI ) 3.2. Perencanaan Gording Perencanaan Pembebanan Dicoba menggunakan gording dengan dimensi baja profil tipe lip channels in front to front arrangement ( ) 125 x 100 x 20 x 3,2 pada perencanaan kudakuda dengan data sebagai berikut : a. Berat gording = 12,3 kg/m. f. t s = 3,2 mm b. I x = 362 cm 4. g. t b = 3,2 mm c. I y = 225 cm 4. h. Z x = 58,0 cm 3. d. h = 125 mm i. Z y = 45,0 cm 3. e. b = 100 mm Gambar 3.5. Lip Channels in Front to Front Arrangement BAB 3 Perencanaan Atap
30 4 Pembebanan berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG 1983), sebagai berikut : a. Berat penutup atap = 50 kg/m 2. b. Beban angin = 25 kg/m 2. c. Berat hidup (pekerja) = 100 kg. d. Berat penggantung dan plafond = 18 kg/m Perhitungan Pembebanan a. Beban Mati (titik) y x q x P q y Berat gording = = 12,3 kg/m Berat penutup atap = ( 1,732 x 50 ) = 86,6 kg/m Berat plafon = (1,5 x 18) = 27 q = 125,9 kg/m + q x = q sin = 125,9 x sin 30 = 62,95 kg/m. q y = q cos = 125,9 x cos 30 = 109,033 kg/m. M x1 = 1 / 8. q y. L 2 = 1 / 8 x 109,033 x ( 5 ) 2 = 340,73 kgm. M y1 = 1 / 8. q x. L 2 = 1 / 8 x 62,95 x ( 5 ) 2 = 196,72 kgm. BAB 3 Perencanaan Atap
31 5 b. Beban hidup y x P diambil sebesar 100 kg. P x = P sin = 100 x sin 30 = 50 kg. P y = P cos = 100 x cos 35 = 86,602 kg. M x2 = 1 / 4. P y. L = 1 / 4 x 86,602 x 5 = 108,253 kgm. M y2 = 1 / 4. P x. L = 1 / 4 x 50 x 5 = 62,5 kgm. P x P P y c. Beban angin TEKAN HISAP Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2 (PPIUG 1983) Koefisien kemiringan atap () = 30 1) Koefisien angin tekan = (0,02 0,4) = (0, ,4) = 0,2 2) Koefisien angin hisap = 0,4 Beban angin : 1) Angin tekan (W 1 ) = koef. Angin tekan x beban angin x 1/2 x (s 1 +s 2 ) = 0,2 x 25 x ½ x (1,732+1,732) = 8,66 kg/m. 2) Angin hisap (W 2 ) = koef. Angin hisap x beban angin x 1/2 x (s 1 +s 2 ) = 0,4 x 25 x ½ x (1,732+1,732) = -17,32 kg/m. Beban yang bekerja pada sumbu x, maka hanya ada harga M x : BAB 3 Perencanaan Atap
32 6 1) M x (tekan) = 1 / 8. W 1. L 2 = 1 / 8 x 8,66 x (5) 2 = 27,063 kgm. 2) M x (hisap) = 1 / 8. W 2. L 2 = 1 / 8 x -17,32x (5) 2 = -54,125 kgm. Tabel 3.1 Kombinasi gaya dalam pada gording B Beban Angin Mo Beba eban Te Hi men n Hidup Mati kan sap Mx 3 108, 27 - (kgm) 40,73 253,063 54,125 My 1 62,5 - - (kgm) 96,72 Kombinasi Min Maks imum imum ,0, ,2, Kontrol Terhadap Tegangan Kontrol terhadap tegangan Maximum Mx = 476,046 kgm = 47604,6 kgcm. My = 259,22 kgm = kgcm. σ = 2 Mx Zx 2 My Zy = ,6 58, ,0 = 1002,741 kg/cm 2 < σ ijin = 1600 kg/cm 2 ( ok!! ) Kontrol terhadap tegangan Minimum Mx = 394,858 kgm = 39485,8 kgcm. My = 259,22 kgm = kgcm. σ = 2 Mx Zx 2 My Zy = ,8 58, ,0 = 891,8 kg/cm 2 < σ ijin = 1600 kg/cm 2 ( ok!! ) Kontrol Terhadap Lendutan BAB 3 Perencanaan Atap
33 1 Di coba profil : 125 x 100 x 20 x 3,2 E = 2,1 x 10 6 kg/cm 2 Ix = 362 cm 4 Iy = 225 cm 4 qx = 0,6295 kg/cm qy = 1,09033 kg/cm Px = 50 kg Py = 86,602 kg 1 Zijin 500 2,78 cm qx. L Px. L Zx = 384. E. Iy 48. E. Iy ,6295.(500) 50.(500) = = 1,36021 cm , , ,5 Zy = qy. l Py. L 384. E. Ix 48. E. Ix = 4 5.1,09033.(500) , ,602.(500) , = 1,467 cm Z = 2 Zx Zy = ( 1,36021) (1,467) 2,001 cm Z Z ijin 2,001 cm 2,78 cm aman! Jadi, baja profil lip channels in front to front arrangement ( ) 125 x 100 x 20 x 3,2 aman dan mampu menerima beban apabila digunakan untuk gording. BAB 3 Perencanaan Atap
34 Perencanaan Setengah Kuda-kuda Gambar 3.6. Rangka Batang Setengah Kuda- kuda Perhitungan Panjang Batang Setengah Kuda-kuda Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.2 Perhitungan panjang batang pada setengah kuda-kuda Nomor Batang Panjang Batang Nomor Batang Panjang Batang 1 1, , , , , , , , , , , ,5 17 3, ,5 18 3, ,5 19 4, , Perhitungan luasan Setengah Kuda-kuda BAB 3 Perencanaan Atap
35 19 h' e' f' g' b' c' d' y z a' v w x s t u p q r m n o j k l g h i d e f a b c Gambar 3.7. Luasan Atap Setengah Kuda-kuda Panjang atap df = 7,5 m Panjang atap ac = 8,5 m Panjang atap h e = 5 x 1,732 = 8,66 m Panjang atap h b = (5 x 1,732) + 1,15 = 9,81 m Panjang atap h h = (4 x 1,732) + (0,5 x 1,732) = 7,794 m Panjang atap h n = (3 x 1,732) + (0,5 x 1,732) = 6,062 m Panjang atap h t = (2 x 1,732) + (0,5 x 1,732) = 4,33 m Panjang atap h n = 1,732 + (0,5 x 1,732) = 2,598 m Panjang atap h f = (0,5 x 1,732) = 0,866 m Panjang atap gi df. h' h = h' e = = 6,75 m 7,5 7,794 8,66 df. h' n 7,5 6,062 Panjang atap mo = h' e 8,66 BAB 3 Perencanaan Atap
36 20 = 5,25 m df. h' t 7,5 4,33 Panjang atap su = h' e 8,66 = 3,75 m df. h' z 7,5 2,598 Panjang atap ya = h' e 8,66 = 2,25 m df. h' f ' 7,5 0,866 Panjang atap su = h' e 8,66 = 0,75 m Luas atap acgi Luas atap gimo Luas atap mosu Luas atap suya gi ac = ( ) hb 2 6,75 8,5 = ( ) 2, 016 = 15,372 m 2 2 gi mo = ( ) nh 2 6,75 5,25 = ( ) 1, 732 = 10,392 m 2 2 mo su = ( ) tn 2 5,25 3,75 = ( ) 1, 732 = 7,794 m 2 2 su ya' = ( ) zt 2 3,75 2,25 = ( ) 1, 732 = 5,196 m 2 2 Luas atap ya e g BAB 3 Perencanaan Atap
37 21 Luas atap pmno ya' e' g' = ( ) f ' z 2 2,25 0,75 = ( ) 1, 732 = 2,598 m 2 2 =½. e g.h f =½. 0,75.0,866 = 0,325 m 2 h' e' f' g' b' c' d' y z a' v w x s t u p q r m n o j k l g h i d e f a b c Gambar 3.8. Luasan Plafon Setengah Kuda-Kuda Panjang atap df = 7,5 m Panjang atap ac = 8,5 m Panjang atap h e = 5 x 1,5 = 7,5 m Panjang atap h b = (5 x 1,5) + 1 = 8,5 m Panjang atap h h = (4 x 1,5) + (0,5 x 1,5) = 6,75 m Panjang atap h n = (3 x 1,5) + (0,5 x 1,5) = 5,25 m Panjang atap h t = (2 x 1,5) + (0,5 x 1,5) = 3,75 m Panjang atap h n = 1,5 + (0,5 x 1,5) BAB 3 Perencanaan Atap
38 22 = 2,25 m Panjang atap h f = 0,5 x 1,5 = 0,75 m Panjang plafon gi df. h' h = h' e = = 6,75 m 7,5 6,75 7,5 df. h' n 7,5 5,25 Panjang plafon mo = h' e 7,5 = 5,25 m df. h' t 7,5 3,75 Panjang plafon su = h' e 7,5 = 3,75 m df. h' z 7,5 2,25 Panjang plafon ya = h' e 7,5 = 2,25 m df. h' f ' 7,5 0,75 Panjang plafon su = h' e 7,5 = 0,75 m Luas plafon acgi Luas plafon gimo gi ac = ( ) hb 2 6,75 8,5 = ( ) 1, 75 = 13,344 m 2 2 gi mo = ( ) nh 2 6,75 5,25 = ( ) 1, 5= 9 m 2 2 Luas plafon mosu BAB 3 Perencanaan Atap
39 23 Luas plafon suya Luas plafon ya e g Luas plafon pmno mo su = ( ) tn 2 5,25 3,75 = ( ) 1, 5 = 6,75 m 2 2 su ya' = ( ) zt 2 3,75 2,25 = ( ) 1, 5= 4,5 m 2 2 ya' e' g' = ( ) f ' z 2 2,25 0,75 = ( ) 1, 5 = 2,25 m 2 2 = ½. e g.h f = ½. 0,75.0,75 = 0,2813 m Perhitungan Pembebanan Setengah Kuda-kuda Data-data pembebanan : Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil rangka kuda-kuda = 25 kg/m Berat profil gording = 11 kg/m P5 P6 P3 P4 P2 P1 P7 P8 P9 P10 P11 Gambar 3.9. Pembebanan Setengah Kuda-kuda akibat beban mati BAB 3 Perencanaan Atap
40 24 a) Perhitungan Beban Beban Mati 1) Beban P 1 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording ac = 12,3 x 8,5 = 104,55 kg b) Beban atap = Luas atap acgi x Berat atap = 15,372 x 50 = 768,6 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1, ,5) x 25 = 40,4 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 40,4 = 12,12 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 40,4 = 4,04 kg f) Beban plafon = Luas plafon acgi x berat plafon = 13,344 x 18 = 240,192 kg 2) Beban P 2 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording jl = 12,3 x 6 = 73,8 kg b) Beban atap = Luas atap atap gimo x berat atap = 10,392 x 50 = 519,6 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda BAB 3 Perencanaan Atap
41 25 = ½ x (1, , , ,732) x 25 = 75,775 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 75,775 = 22,733 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 75,775 = 7,578 kg 3) Beban P 3 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording pr = 12,3 x 4,5 = 55,35 kg b) Beban atap = Luas atap atap mosu x berat atap = 7,794 x 50 = 389,7 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1, , , ,291) x 25 = 93,588 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 93,588 = 28,08 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 93,588 = 9,3588 kg 4) Beban P 4 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording vx = 12,3 x 3 = 36,9 kg b) Beban atap = Luas atap atap suya x berat atap BAB 3 Perencanaan Atap
42 26 = 5,196 x 50 = 259,8 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1, , , ) x 25 = 113,275 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 113,275 = 33,983 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 111,275 = 11,328 kg 5) Beban P 5 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording b d; = 12,3 x 1,5 = 18,45 kg b) Beban atap = Luas atap atap ya e g x berat atap = 2,598 x 50 = 129,9 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1, , ,464) x 25 = 86,6 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 86,6 = 25,98 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 86,6 = 8,66 kg 6) Beban P 6 a) Beban atap = Luas atap atap h e g x berat atap = 0,325x 50 = 16,25 kg BAB 3 Perencanaan Atap
43 27 b) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1, , ,33) x 25 = 122,963 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 122,963 = 36,89 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 122,963 = 12,2963 kg 7) Beban P 7 a) Beban plafon = Luas atap plafon gimo x berat plafon = 9 x 18 = 162 kg b) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,5 + 0,866) x 25 = 48,325 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 48,325 = 14,498 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 48,325 = 4,833 kg 8) Beban P 8 a) Beban plafon = Luas atap plafon mosu x berat plafon = 6,75x 18 = 121,5 kg b) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,5 + 1, ,732) x 25 = 80,8 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 80,8 BAB 3 Perencanaan Atap
44 28 = 24,24 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 80,8 = 8,08 kg 9) Beban P 9 a) Beban plafon = Luas atap plafon suya x berat plafon = 4,5 x 18 = 81 kg b) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,5 + 2, ,598) x 25 = 98,613 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 98,613 = 14,498 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 98,613 = 9,8613 kg 10) Beban P 10 a) Beban plafon = Luas atap plafon ya e g x berat plafon = 2,25 x 18 = 40,5 kg b) Beban kuda-kuda = ½ xbtg( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1, , ,775) x 25 = 165,488 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 165,488 = 49,65 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 165,488 = 16,549 kg 11) Beban P 11 BAB 3 Perencanaan Atap
45 29 e) Beban plafon = Luas atap plafon h e g x berat plafon = 0,2813 x 18 = 5,0634 kg f) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 4,33) x 25 = 72,875 kg g) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 72,875 = 21,863 kg h) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 72,875 = 7,2875 kg Beban Tabel 3.3. Rekapitulasi Pembebanan Setengah Kuda-kuda Beban Atap (kg) Beban gording (kg) Beban Kuda - kuda (kg) Beban Bracing (kg) Beban Plat Penyambug (kg) Beban Plafon (kg) Jumlah Beban (kg) Input SAP 2000 ( kg ) P 1 768,6 104,55 40,4 4,01 12,12 240, , P 2 519,6 73,8 75,775 7,578 22, , P 3 389,7 55,35 93,588 9, ,08-576, P 4 259,8 36,9 113,275 11,328 33, , P 5 129,9 18,45 86,6 8,66 25,98-269, P 6 16,25-122,963 12, ,89-188, P ,325 4,833 14, , P ,8 8,08 24,24 121,5 234, P ,613 9, , , P ,488 16,549 49,65 40,5 272, P ,875 7, ,863 5, , Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P 1, P 2, P 3 = 100 kg BAB 3 Perencanaan Atap
46 30 Beban Angin Perhitungan beban angin : W5 W6 W3 W4 W2 W1 Gambar Pembebanan setengah kuda-kuda utama akibat beban angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2 (PPIUG 1983) 1) Koefisien angin tekan = 0,02 0,40 = (0,02 x 30) 0,40 = 0,2 a) W 1 = luas atap acgi x koef. angin tekan x beban angin = 15,372 x 0,2 x 25 = 76,86 kg b) W 2 = luas atap gimo x koef. angin tekan x beban angin = 10,392 x 0,2 x 25 = 51,96 kg c) W 3 = luas atap pmno x koef. angin tekan x beban angin = 7,794 x 0,2 x 25 = 38,97 kg d) W 4 = luas atap pmno x koef. angin tekan x beban angin = 5,196 x 0,2 x 25 = 25,98 kg e) W 5 = luas atap pmno x koef. angin tekan x beban angin = 2,598 x 0,2 x 25 = 12,99 kg f) W 6 = luas atap pmno x koef. angin tekan x beban angin = 0,325 x 0,2 x 25 = 1,625 kg BAB 3 Perencanaan Atap
47 31 Tabel 3.4. Perhitungan beban angin Beban Beban Wx (Untuk Input Wy (Untuk Input Angin (kg) W.Cos (kg) SAP2000) W.Sin (kg) SAP2000) W 1 76,86 66, ,43 39 W 2 51,96 44, ,98 26 W 3 38,97 33, , W 4 25,98 22, ,99 13 W 5 12,99 11, ,495 7 W 6 1,625 1,41 2 0,813 1 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang kuda-kuda utama sebagai berikut : Tabel 3.5. Rekapitulasi gaya batang setengah kuda-kuda kombinasi Batang Tarik (+) ( kg ) Tekan (-) ( kg ) , , , , , , , , , , , ,27 BAB 3 Perencanaan Atap
48 , , , , , , , Perencanaan Profil Kuda- kuda Perhitungan profil batang tarik P maks. = 2935,64 kg ijin = 1600 kg/cm 2 F netto P σ maks. ijin 2935, ,835 cm 2 F bruto = 1,15. F netto = 1,15. 1,835 cm 2 = 2,11 cm 2 Dicoba, menggunakan baja profil F = 2. 6,91 cm 2 = 13,82 cm 2 F = penampang profil dari tabel profil baja Kontrol tegangan yang terjadi : Pmaks. σ 0,85. F 2935,64 0,85.13,82 = 249,91 kg/cm 2 BAB 3 Perencanaan Atap
49 33 0,75 ijin 249,91 kg/cm kg/cm 2. aman!! Perhitungan profil batang tekan P maks. = 2584,62 kg lk = 3,77482 m = 377,482 cm Dicoba, menggunakan baja profil i x = 1,82 cm F = 2. 6,91 = 13,82 cm 2 λ lk i x 207,41 377,482 1,82 λ g π E 0,7.σ 111,02 leleh... dimana, σ leleh 2400 kg/cm 2 λ s λ λ g 1,87 207,41 111,02 Karena s 1 maka : 2 2,381. s Kontrol tegangan yang terjadi : Pmaks..ω σ F 2584, kg/cm ijin 2 = 8, ,88 kg/cm kg/cm 2.. aman!!! Perhitungan Alat Sambung BAB 3 Perencanaan Atap
50 34 Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 13,7 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, = 960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (1,27) = 2430,96 kg b) P desak =. d. tumpuan = 0,9. 1, = 2743,20 kg P yang menentukan adalah P geser = 2430,96 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 2584,62 n 1,06 ~ 2 buah baut P 2430,96 geser BAB 3 Perencanaan Atap
51 35 Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 2,5 d = 2,5. 1,27 = 3,175 cm = 3 cm b) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 1,27 = 6,35 cm = 6 cm Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 13,7 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, =960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (127) = 2430,96 kg b) P desak =. d. tumpuan BAB 3 Perencanaan Atap
52 36 = 0,9. 1, = 2473,2 kg P yang menentukan adalah P geser = 2430,96 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, P n P maks. geser 2935,64 1,21~ 2 buah baut 2430,96 Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 2,5 d = 2,5. 1,27 = 3,175 cm = 3 cm b) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 1,27 = 6,35 cm = 6 cm Tabel 3.6. Rekapitulasi perencanaan profil setengah kuda-kuda Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , ,7 BAB 3 Perencanaan Atap
53 , , , , , , , Perencanaan Jurai Gambar Rangka 15 Batang 16 Jurai Perhitungan Panjang Batang jurai Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.7. Perhitungan panjang batang pada jurai Nomor Batang Panjang Batang Nomor Batang Panjang Batang 1 2, ,87 2 2, ,29 3 2, ,73 4 2, ,74 5 2, ,6 6 2, ,35 7 2, ,46 8 2, ,06 9 2, , ,12 BAB 3 Perencanaan Atap
54 Perhitungan luasan jurai a h' e' b' y f' g' g'' v c' s d' d'' p P4 z m a' a'' j w g P3 x x' d t u u' P2 q r r' n P1 o o' k l l' h i i' e f f' b c c' Gambar Luasan Atap Jurai Panjang atap h g Panjang atap f c Panjang atap i c Panjang atap hi Panjang atap no Panjang atap tu Panjang atap za Panjang atap f g Panjang atap bc = g d = d a = a x = x u = u r = r o = o l = l i = i f = (0,5 x 1,732) = 0,87 m = 1,15 m = 0,87 + 1,15 = 2,02 m = 3,38 m = 2,63 m = 1,88 m = 1,13 m = 0,38 m = 4,25 m Luas atap abcihg hi bc = (2 x ( x i c ) 2 3,38 4,25 = ( 2 x ( x 2,02) 2 BAB 3 Perencanaan Atap
55 39 = 15,413 m 2 Luas atap ghionm hi no = (2 x ( x o i ) 2 3,38 2,63 = ( 2 x ( x 1,732) 2 = 10,41 m 2 Luas atap mnouts no tu = (2 x ( x u o ) 2 2,63 1,88 = ( 2 x ( x 1,732) 2 = 7,81 m 2 Luas atap stua zy tu za' = (2 x ( x a u ) 2 1,88 1,13 = ( 2 x ( x 1,732) 2 = 5,213 m 2 Luas atap yza g f e za' f ' g' = (2 x ( x g a ) 2 1,88 1,13 = ( 2 x ( x 1,732) 2 = 2,62 m 2 Luas atap e f g h = 2 x ( ½ x f g x h g ) = 2 x ( ½ x 0,38 x 0,87) = 0,331 m 2 Panjang Gording def BAB 3 Perencanaan Atap
56 40 = de + ef = 3,75+3,75 = 7,5 m Panjang Gording jkl = jk + kl = 3+3 = 6 m Panjang Gording pqr = pq + qr = 2,25+2,25 = 4,5 m Panjang Gording vwx = vw + wx = 1,5+1,5 = 3 m Panjang Gording b c d = b c + c d = 0,75+0,75 = 1,5 m a g d P1 h e h' e' b' y f' g' g'' v c' s d' d'' p P4 z m a' a'' j w P3 x x' t u u' P2 q r r' n o o' k l l' i i' f f' b c c' BAB 3 Perencanaan Atap
57 41 Gambar Luasan Plafon Jurai Panjang plafon h g = g d = d a = a x = x u = u r = r o = o l = l i = i f = (0,5 x 1,5) = 0,75 m Panjang plafon f c = 1 m Panjang plafon i c = 0,75+1 = 1,75 m Panjang plafon hi = 3,38 m Panjang plafon no = 2,63 m Panjang plafon tu = 1,88 m Panjang plafon za = 1,13 m Panjang plafon f g = 0,38 m Panjang plafon bc = 4,25 m Luas plafon abcihg hi bc = (2 x ( x i c ) 2 3,38 4,25 = ( 2 x ( x 1,75) 2 = 13,353 m 2 Luas plafon ghionm hi no = (2 x ( x o i ) 2 3,38 2,63 = ( 2 x ( x 1,5) 2 = 9,015 m 2 Luas plafon mnouts no tu = (2 x ( x u o ) 2 2,63 1,88 = ( 2 x ( x 1,5) 2 = 6,765 m 2 BAB 3 Perencanaan Atap
58 42 Luas plafon stua zy tu za' = (2 x ( x a u ) 2 1,88 1,13 = ( 2 x ( x 1,5) 2 = 4,52 m 2 Luas plafon yza g f e za' f ' g' = (2 x ( x g a ) 2 1,88 1,13 = ( 2 x ( x 1,5) 2 = 2,265 m 2 Luas plafon e f g h = 2 x ( ½ x f g x h g ) = 2 x ( ½ x 0,38 x 0,75) = 0,285 m Perhitungan Pembebanan Jurai Data-data pembebanan : Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil kuda-kuda Berat gording = 25 kg/m = 11 kg/m BAB 3 Perencanaan Atap
59 43 P6 P5 P2 P3 3 P P P7 P8 P9 P10 P11 Gambar Pembebanan Jurai Akibat Beban Mati a. Perhitungan Beban Beban Mati 1) Beban P 1 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording def = 12,3 x 7,5 = 92,25 kg b) Beban atap = Luas atap abcihg x Berat atap = 15,413 x 50 = 770,65 kg c) Beban plafon = Luas plafon abcihg x berat plafon = 13,353 x 18 = 240,354 kg d) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,29+2,12) x 25 = 55,125 kg e) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 55,125 = 16,538 kg f) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 55,125 = 5,513 kg 2) Beban P 2 BAB 3 Perencanaan Atap
60 44 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording jkl = 12,3 x 6 = 22 kg b) Beban atap = Luas atap ghionm x berat atap = 10,41 x 50 = 520,5 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,29+2,29+0,87+2,29) x 25 = 96,75 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 96,75 = 29,025 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 96,75 = 9,675 kg 3) Beban P 3 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording pqr = 12,3 x 4,5 = 55,35 kg b) Beban atap = Luas atap mnouts x berat atap = 7,81 x 50 = 390,5 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,29+2,29+1,73+2,74) x 25 = 113,125 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 113,125 = 33,938 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 113,125 = 11,313 kg BAB 3 Perencanaan Atap
61 45 4) Beban P 4 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording vwx = 12,3 x 3 = 36,9 kg b) Beban atap = Luas atap stua zy x berat atap = 5,213 x 50 = 260,65 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,29+2,29+2,6+3,35) x 25 = 131,625 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 131,625 = 39,488 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 131,625 = 13,163 kg 5) Beban P 5 a) Beban gording = Berat profil gording x Panjang Gording b c d = 12,3 x 61,5 = 18,45 kg b) Beban atap = Luas atap yza g f e x berat atap = 2,265 x 50 = 113,25 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg (4+5+17) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,29+2,29+3,46) x 25 = 100,5 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 100,5 = 30,15 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 100,5 BAB 3 Perencanaan Atap
62 46 = 10,05 kg 6) Beban P 6 a) Beban atap = Luas atap e f g h x berat atap = 0,331 x 50 = 25 kg b) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,29+4,06+4,33) x 25 = 133,5 kg c) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 133,5 = 13,35 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 133,5 = 40,05 kg 7) Beban P 7 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg (6+7+11) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,12+2,12+0,87) x 25 = 63,875 kg b) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 63,875 = 8,513 kg c) Beban plafon = Luas plafon ghionm x berat plafon = 9,015 x 18 = 162,27 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 63,875 = 19,163 kg 8) Beban P 8 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,12+2,12+2,29+1,73) x 25 = 103,25 kg b) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda BAB 3 Perencanaan Atap
63 47 = 0,1 x 103,25 = 10,325 kg c) Beban plafon = Luas plafon mnouts x berat plafon = 6,765 x 18 = 121,77 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 103,25 = 30,975 kg 9) Beban P 9 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,12+2,12+2,74+2,6) x 25 = 119,75 kg b) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 119,75 = 11,975 kg c) Beban plafon = Luas plafon stua zy x berat plafon = 4,52 x 18 = 81,36 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 119,75 = 35,925 kg 10) Beban P 10 a) Beban kuda-kuda = ½xBtg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,12+2,12+3,35+3,46+4,06) x 25 = 188,875 kg b) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 188,875 = 18,8875 kg c) Beban plafon = Luas plafon yza g f e x berat plafon = 2,265 x 18 = 40,77 kg BAB 3 Perencanaan Atap
64 48 d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 188,875 = 56,663 kg 11) Beban P 11 a) Beban kuda-kuda = ½xBtg (10+19) x berat profil kuda kuda = ½ x (2,12+4,33) x 25 = 80,625 kg b) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 80,625 = 8,063 kg c) Beban plafon = Luas plafon e f g h x berat plafon = 0,285 x 18 = 5,13 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 80,625 = 24,188 kg Tabel 3.8. Rekapitulasi Pembebanan Jurai Beban Beban Atap (kg) Beban gording (kg) Beban Kuda - kuda (kg) Beban Bracing (kg) Beban Plat Penyambug (kg) Beban Plafon (kg) Jumlah Beban (kg) BAB 3 Perencanaan Atap Input SAP 2000 ( kg ) P 1 770,65 92,25 55,125 5,513 16, , , P 2 520,5 73,8 96,75 9,675 29, , P 3 390,5 55,35 113,125 11,313 33, , P 4 260,65 36,9 131,625 13,163 39, , P 5 113,25 18,45 100,5 10,05 30,15-272,4 273 P 6 16,55-133,5 13,35 40,05-203, P ,875 6,388 19, ,27 251, P ,25 10,325 30, ,77 266, P ,75 11,975 35,925 81,36 249, P ,875 18, ,663 40,77 305,2 306
65 49 P ,625 8,063 24,188 5,13 118, Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P 1, P 2, P 3, P 4, P 5, P 6 = 100 kg Beban Angin Perhitungan beban angin : W6 W5 W4 5 W3 4 W W Gambar Pembebanan Jurai Akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. 1) Koefisien angin tekan = 0,02 0,40 = (0,02 x 30) 0,40 = 0,2 e) W 1 = luas atap abcihg x koef. angin tekan x beban angin = 15,413 x 0,2 x 25 = 77,065 kg f) W 2 = luas atap ghionm x koef. angin tekan x beban angin = 10,41 x 0,2 x 25 = 52,05 kg BAB 3 Perencanaan Atap
66 50 g) W 3 = luas atap mnop x koef. angin tekan x beban angin = 7,81 x 0,2 x 25 = 39,05 kg h) W 4 = luas atap mnop x koef. angin tekan x beban angin = 5,213 x 0,2 x 25 = 26,065 kg i) W 5 = luas atap mnop x koef. angin tekan x beban angin = 2,62 x 0,2 x 25 = 13,1 kg j) W 6 = luas atap mnop x koef. angin tekan x beban angin = 0,331 x 0,2 x 25 = 1,655 kg Tabel 3.9. Perhitungan beban angin Beban Angin Beban (kg) Wx W.Cos (kg) (Untuk Input SAP2000) Wy W.Sin (kg) (Untuk Input SAP2000) W 1 77,065 66, , W 2 45,08 45, , W 3 39,05 33, , W 4 26,065 22, , W 5 13,1 11, ,55 7 W 6 1,655 1, ,83 1 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang jurai sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi gaya batang jurai kombinasi Batang Tarik (+) ( kg ) Tekan (-) ( kg ) ,01 BAB 3 Perencanaan Atap
67 , , , , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Profil jurai Perhitungan profil batang tarik P maks. = 4456,67 kg ijin = 1600 kg/cm 2 F netto P σ maks. ijin 2,79 cm 4456, F bruto = 1,15. F netto = 1,15. 2,79 cm 2 = 3,2085 cm 2 BAB 3 Perencanaan Atap
68 52 Dicoba, menggunakan baja profil F = 2. 9,4 cm 2 = 18,8 cm 2 F = penampang profil dari tabel profil baja Kontrol tegangan yang terjadi : σ Pmaks. 0,85. F 4456,67 0,85.18,8 278,9 kg/cm 0,75 ijin 2 108,277 kg/cm kg/cm aman!! Perhitungan profil batang tekan P maks. = 3195,61 kg lk = 4,05783 m = 405,783 cm Dicoba, menggunakan baja profil i x = 2,12 cm F = 2. 9,40 = 18,8 cm 2 λ lk i x 405, ,41 2,12 λ g π E 0,7.σ 111,02 cm leleh... dimana, σ leleh 2400 kg/cm 2 λ s λ λ g 1, ,41 111,02 Karena s 1 maka : 2 2,381. s BAB 3 Perencanaan Atap
69 53 = 7,077 Kontrol tegangan yang terjadi : Pmaks..ω σ F 3195,61.7,077 18,8 1202,9432 kg/cm ijin , kg/cm 2.. aman!!! Perhitungan Alat Sambung Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 12,7 mm ( ½ inches) Diameter lubang = 13,7 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0, ,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, = 960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a. P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (1,27) BAB 3 Perencanaan Atap
70 54 = 2430,96 kg b. P desak =. d. tumpuan = 0,9. 1, = 2743,20 kg P yang menentukan adalah P geser = 2430,96 kg Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks. 3195,61 n 1,315 ~ 2 buah baut P 2430,96 geser Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 2,5 d = 2,5. 1,27 = 3,175 cm = 3 cm b) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 1,27 = 6,35 cm = 6 cm Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 12,7 mm ( ½ inches ) Diameter lubang = 13,7 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0,625 x 12,7 = 7,94 mm. Menggunakan tebal plat 8 mm Tegangan geser yang diijinkan BAB 3 Perencanaan Atap
71 55 Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, =960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (127) = 2430,96 kg b) P desak =. d. tumpuan = 0,9. 1, = 2473,2 kg P yang menentukan adalah P geser = 2430,96 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, P n P maks. geser 4456,67 1,833 ~ 2 buah baut 2430,96 Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : c. 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 2,5 d = 2,5. 1,27 = 3,175 cm = 3 cm d. 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 1,27 = 6,35 cm = 6 cm BAB 3 Perencanaan Atap
72 56 Tabel Rekapitulasi perencanaan profil jurai Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Kuda-kuda Utama (KK) Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda A BAB 3 Perencanaan Atap
73 57 Gambar Panjang Batang Kuda-Kuda Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : Tabel Perhitungan panjang batang pada kuda-kuda utama (KK) No batang Panjang batang No batang Panjang batang 1 1,5 20 1, ,5 21 0, ,5 22 1, ,5 23 1, ,5 24 2, ,5 25 2, , ,5 27 3, ,5 28 3, ,5 29 4, , , , , , , , , , , , , , , , , Perhitungan Luasan Setengah Kuda-Kuda Utama A BAB 3 Perencanaan Atap
74 58 i' e' b' h' f' g' c' d' y z a' v s p m j g d w t q n k h e x u r o l i f a b c Gambar Luasan Atap Kuda-kuda A Panjang atap h e Panjang atap eb Panjang atap h f Panjang atap f z Panjang atap hb Panjang atap h b Panjang atap h h Panjang atap h n Panjang atap h t Panjang atap h z Panjang atap i h = 5 x 1,732 = 8,66 m = 1,15 m = 0,5 x 1,732 = 0,866 m = zt = tn = nh = 1,732 m = (0,5 x 1,732) + 1,15 = 2,016 m = 8,66 + 1,15 = 9,81 m = (4 x 1,732) + (0,5 + 1,732) = 7,794 m = (3 x 1,732) + (0,5 + 1,732) = 6,062 m = (2 x 1,732) + (0,5 + 1,732) = 4,33 m = 1,732 + (0,5 + 1,732) = 2,598 m = 0,5 x 7,5 = 3,75 m Panjang ab = gh = mn = st = yz = e f = i h = 3,75 m Panjang hi = Panjang no = Panjang tu = ef. h' h h' e ef. h' n h' e ef. h' t h' e 3,75.6,75 = 3,375 m 7,5 3,75.5,25 = 2,625 m 7,5 3,75.3,75 = 1,875 m 7,5 BAB 3 Perencanaan Atap
75 59 Panjang za = Panjang f g = Panjang bc = ef. h' z h' e ef. h' f h' e ef. h' b h' e 3,75.2,25 7,5 = 1,125 m 3,75.0,75 = 0,375 m 7,5 3,75.8,5 = 4,25 m 7,5 Panjang atap ac = ab + bc = 3,75 + 4,25 = 8 m Panjang atap gi = gh + hi = 3,75 + 3,375 = 7,125 m Panjang atap mo = mn + no = 3,75 + 2,625 = 6,375 m Panjang atap su = st + tu = 3,75 + 1,875 = 5,625 m Panjang atap ya = yz + za = 3,75 + 1,125 = 4,875 m Panjang atap e g = e f + f g = 3,75 + 0,375 = 4,125 m Luas atap abcihg gi ac = x hb 2 7,125 8 = x 2,016 2 = 15,246 m 2 Luas atap ghionm mo gi = x nh 2 6,375 7,125 = x 1,732 2 = 11,691 m 2 BAB 3 Perencanaan Atap
76 60 Luas atap mnouts su mo = x tn 2 5,625 6,375 = 2 = 10,392 m 2 Luas atap stua zy ya' su = x zt 2 4,875 5,625 = 2 = 9,093 m 2 x 1,732 x 1,732 Luas atap yza g f e e' g' ya' = x f z 2 4,125 4,875 = x 1,732 2 = 7,794 m 2 Luas atap e f g h i i' h' e' g' = x h f 2 3,75 4,125 = x 0,866 2 = 3,41 m 2 ef. h' k kl = h' e panjang gording jl 3,75.6 7,5 = 3 = jk + kl BAB 3 Perencanaan Atap
77 61 qr = ef. h' q h' e = 3, = 6,75 m 3,75.4,5 = 2,75 7,5 panjang gording pr = pq + qr = 3,75 + 2,25 = 6 m vx = ef. h' w 3,75.3 = 1,5 h' e 7,5 panjang gording vx = vw + wx = 3,75 + 1,5 = 5,25 m c d = ef. h' c' 3,75.1,5 = 0,75 h' e 7,5 panjang gording b d = b c + c d = 3,75 + 0,25 = 4,5 m i' e' b' y h' f' g' c' z d' a' v s p m j g d w t q n k h e x u r o l i f a b c Gambar Luasan Plafon Kuda-Kuda A Panjang plafon h e = 5 x 1,5 = 7,5 m Panjang plafon eb = 1 Panjang plafon h f Panjang plafon f z = 0,5 x 1,5 = 0,75 m = zt = tn = nh = 1,5 m BAB 3 Perencanaan Atap
78 62 Panjang plafon hb Panjang plafon h b Panjang plafon h h Panjang plafon h n Panjang plafon h t Panjang plafon h z Panjang plafon i h = (0,5 x 1,5) + 1 = 1,75 m = 7,5 + 1 = 8,5 m = (4 x 1,5) + (0,5 + 1,5) = 6,75 m = (3 x 1,5) + (0,5 + 1,5) = 5,25 m = (2 x 1,5) + (0,5 + 1,5) = 3,75 m = 1,5 + (0,5 + 1,5) = 2,25 m = ab = gh = mn = st = yz = e f = 0,5 x 7,5 = 3,75 m Luas plafon abcihg gi ac = x hb 2 7,125 8 = x 1,75 2 = 13,2344 m 2 Luas plafon ghionm mo gi = x nh 2 6,375 7,125 = x 1,5 2 = 10,125 m 2 Luas plafon mnouts su mo = x tn 2 5,625 6,375 = 2 = 9 m 2 x 1,5 Luas plafon stua zy ya' su = x zt 2 4,875 5,625 = x 1,5 2 BAB 3 Perencanaan Atap
79 63 = 7,875 m 2 Luas plafon yza g f e e' g' ya' = x f z 2 4,125 4,875 = x 1,5 2 = 6,75 m 2 Luas plafon e f g h i i' h' e' g' = x h f 2 3,75 4,125 = x 0,75 2 = 2,953 m Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Utama A Data-data pembebanan : Berat gording = 12,3 kg/m Jarak antar kuda-kuda utama = 5 m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil = 25 kg/m P6 P5 P7 P4 P8 P3 P9 P2 P10 P1 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 Gambar Pembebanan Kuda- Kuda Utama A Akibat Beban Mati BAB 3 Perencanaan Atap
80 64 a. Perhitungan Beban Beban Mati 1) Beban P 1 = P 11 a) Beban gording = Berat profil gording x jarak kuda-kuda = 12,3 x 5 = 61,5 kg b) Beban atap = Luas atap abcihg x Berat atap = 15,246 x 50 = 762,3 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg (1 + 11) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,732) x 25 = 40,4 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 40,4 = 12,12 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 40,4 = 4,04 kg f) Beban plafon = Luas plafon abcihg x berat plafon = 13,2344 x 18 = 238,22 kg 2) Beban P 2 =P 10 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording jl = 12,3 x 6,25 = 56,84 kg b) Beban atap = Luas atap ghionm x berat atap = 11,691 x 50 = 584,55 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda BAB 3 Perencanaan Atap
81 65 = ½ x (1,732+1,732+0,866+1,732) x 25 = 75,775 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 75,775 = 22,733 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 75,775 = 7,578 kg 3) Beban P 3 =P 9 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording pr = 12,3 x 6 = 73,8 kg b) Beban atap = Luas atap mnouts x berat atap = 10,392 x 50 = 519,6 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+1,732+2,291) x 25 = 93,588 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 93,588 = 28,0763 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 93,588 = 9,359 kg 4) Beban P 4 =P 8 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording vx = 12,3 x 5,25 = 64,575 kg b) Beban atap = Luas atap stua zy x berat atap = 9,093 x 50 = 454,65 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda BAB 3 Perencanaan Atap
82 66 = ½ x (1,732+1,732+2,598+3) x 25 = 113,275 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 113,275 = 33,983 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 113,275 = 11,328 kg 5) Beban P 5 =P 7 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording b d = 12,3 x 4,5 = 55,35 kg b) Beban atap = Luas atap yza g f e x berat atap = 7,794 x 50 = 389,7 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+3,464+3,775) x 25 = 133,788 kg f) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 133,788 = 40,14 kg g) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 133,788 = 13,379kg 6) Beban P 6 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording h i = 12,3 x 3,375 = 41,513 kg b) Beban atap = (2 x Luas atap e f g h i ) x berat atap = (2 x 3,41) x 50 = 341 kg BAB 3 Perencanaan Atap
83 67 c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+4,33) x 25 = 97,425 kg h) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 97,425 = 29,228 kg i) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 97,425 = 9,743 kg a) Beban reaksi = (2 x reaksi jurai) + reaksi setengah kuda-kuda = (2 x 2184,64) ,26 = 6306,54 kg 7) Beban P 12 = P 20 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,5 + 0,866) x 25 = 48,325 kg b) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 48,325 = 14,498 kg c) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 48,325 = 4,8325kg d) Beban plafon = Luas plafon ghionm x berat plafon = 10,125 x 18 = 182,25 kg 8) Beban P 13 =P 19 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,5 + 1, ,732) x 25 = 80,8 kg b) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 80,8 BAB 3 Perencanaan Atap
84 68 = 24,24 kg c) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 80,8 = 8,08 kg d) Beban plafon = Luas plafon gmnouts x berat plafon = 9 x 18 = 162 kg 9) Beban P 14 =P 18 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1,5 + 2, ,598) x 25 = 98,613 kg b) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 98,613 = 29,584 kg c) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 98,613 = 9,8613 kg d) Beban plafon = Luas plafon stua zy x berat plafon = 7,875 x 18 = 141,75 kg 10) Beban P 15 =P 17 a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5 + 1, ,464) x 25 = 118,3 kg b) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 118,3 = 35,49 kg c) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 118,3 = 11,83 kg d) Beban plafon = Luas plafon yza g f e x berat plafon = 6,75 x 18 BAB 3 Perencanaan Atap
85 69 Beban 11) Beban P 16 = 121,5 kg a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5+1,5+3,775+4,33+3,775) x 25 = 186 kg b) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 186 = 55,8 kg c) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 186 = 18,6 kg d) Beban plafon = (2 x Luas plafon e f g h i ) x berat plafon = (2 x 2,953) x 18 = 106,308 kg e) Beban reaksi = (2 x reaksi jurai) + reaksi setengah kuda-kuda Tabel Rekapitulasi beban mati Beban Atap (kg) Beban gording (kg) Beban Kuda - kuda (kg) = (2 x 2967,05) ,13 = 8543,25 kg Beban Bracing (kg) Beban Plat sambung (kg) Beban Plafon (kg) Beban reaksi (kg) Jumlah Beban P 1 =P ,3 61,5 40,4 4,04 12,12 238, , P 2 =P ,55 83,025 75,775 7,578 22, , P 3 =P 9 519,6 73,8 93,588 9,359 28, , P 4 =P 8 454,65 64, ,275 11,328 33, , P 5 =P 7 389,8 55,35 133,788 11,379 40, , (kg) Input SAP P ,513 97,425 9,743 29, , P 12 =P ,325 4,833 14, , ,54 249, P 13 =P ,8 8,08 24, , P 14 =P ,613 9, , ,75-279, P 15 =P ,3 11,83 35,49 121,5-287, (kg) BAB 3 Perencanaan Atap
86 70 P ,6 55,8 106, , , Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P 1 s/d P 11 = 100 kg Beban Angin Perhitungan beban angin : Gambar Pembebanan Kuda-Kuda Utama Akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. 1) Koefisien angin tekan = 0,02 0,40 = (0,02 x 30) 0,40 = 0,2 a) W 1 = luas atap abcihg x koef. angin tekan x beban angin = 15,246 x 0,2 x 25 = 76,23 kg b) W 2 = luas atap ghionm x koef. angin tekan x beban angin = 11,691 x 0,2 x 25 = 58,455 kg c) W 3 = luas atap mnouts x koef. angin tekan x beban angin = 10,392 x 0,2 x 25 = 51,96 kg BAB 3 Perencanaan Atap
87 71 d) W 4 = luas atap stua zy x koef. angin tekan x beban angin = 9,093 x 0,2 x 25 = 45,465kg e) W 5 = luas atap yza g f e x koef. angin tekan x beban angin = 7,794 x 0,2 x 25 = 38,97 kg f) W 6 = luas atap e f g h i x koef. angin tekan x beban angin = 3,41 x 0,2 x 25 = 17,05 kg 2) Koefisien angin hisap = - 0,40 a) W 7 = luas atap e f g h i x koef. angin tekan x beban angin = 3,41 x -0,4 x 25 = -34,1 kg b) W 8 = luas atap yza g f e x koef. angin tekan x beban angin = 7,794 x -0,4 x 25 = -77,94 kg c) W 9 = luas atap stua zy x koef. angin tekan x beban angin = 9,093 x -0,4 x 25 = -90,93 kg d) W 10 = luas atap mnouts x koef. angin tekan x beban angin = 10,392 x -0,4 x 25 = -103,92 kg e) W 11 = luas atap ghionm x koef. angin tekan x beban angin = 11,691 x -0,4 x 25 = -116,91 kg f) W 12 = luas atap abcihg x koef. angin tekan x beban angin = 15,246 x -0,4 x 25 = -152,46 kg BAB 3 Perencanaan Atap
88 72 Tabel 3.14 Perhitungan beban angin Beban Angin Beban (kg) Wx W.Cos (kg) (Untuk Input SAP2000) Wy W.Sin (kg) (Untuk Input SAP2000) W 1 76,23 66, , W 2 58,455 50, ,23 30 W 3 51,96 44, ,98 26 W 4 45,465 39, , W 5 38,97 33, , W 6 17,05 14, ,525 9 W 7-34,1-29, ,05-18 W 8-77,94-67, , W 9-90,93-78, ,15-37 W ,92-89, ,2-46 W ,91-101, ,6-49 W ,46-132, ,23-77 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang kuda-kuda utama sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi gaya batang kuda-kuda utama kombinasi kombinasi Batang Tarik (+) Tekan (-) Batang Tarik (+) Tekan (-) ( kg ) ( kg ) ( kg ) ( kg ) , , , , , , , , , , , , , , , ,00 - BAB 3 Perencanaan Atap
89 , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Profil Kuda- kuda Utama A a. Perhitungan profil batang tarik P maks. = 27051,04 kg ijin = 1600 kg/cm 2 F netto P σ maks. ijin 16,907 cm F bruto = 1,15. F netto 27051, = 1,15. 16,907 cm 2 2 = 19,443 cm 2 Dicoba, menggunakan baja profil F = 2. 12,3 = 24,6 cm 2 F = penampang profil dari tabel profil baja Kontrol tegangan yang terjadi : BAB 3 Perencanaan Atap
90 74 σ Pmaks. 0,85 F 27051,04 0,85 24,6 490,59 kg/cm 2 0,75 ijin 1193,69 kg/cm kg/cm 2. aman!! b. Perhitungan profil batang tekan P maks. = 31140,32 kg lk = 1,73204 m = 173,204 cm Dicoba, menggunakan baja profil i x = 2,42 cm F = 2. 12,3 = 24,6 cm 2 λ lk i x 173,204 71,572 2,42 λ g π E 0,7.σ 111,02cm leleh... dimana, σ leleh 2400 kg/cm 2 λ s λ λ g 0,645 71, ,02 Karena 0,25 < s < 1,2 maka : = 1,43 1,6-0,67 s = 1,2245 Kontrol tegangan yang terjadi : BAB 3 Perencanaan Atap
91 75 σ Pmaks..ω F 31140,321, , ,054 kg/cm ijin 1550,054 kg/cm kg/cm 2.. aman!!! Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 25,4 mm ( 1 inches) Diameter lubang = 26,4 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0, ,4 = 15,875 mm. Menggunakan tebal plat 16 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, = 960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (2,54) = 9723,85 kg b) P desak =. d. tumpuan BAB 3 Perencanaan Atap
92 76 = 0,9. 2, = 9753,6 kg P yang menentukan adalah P geser = 9723,85 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, Pmaks ,32 n 3,2025 ~ 4 buah baut P 9723,85 geser Digunakan : 4 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 2,5 d = 2,5. 2,54 = 6,35 cm = 6 cm b) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 2,54 = 12,7 cm = 12 cm b. Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 25,4 mm ( 1 inches ) Diameter lubang = 26,4 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0,625 x 25,4 = 15,875 mm. Menggunakan tebal plat 16 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, = 960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan BAB 3 Perencanaan Atap
93 77 Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (2,54) = 9723,85 kg b) P desak =. d. tumpuan = 1,6. 2, = 9753,6 kg P yang menentukan adalah P geser = 9723,85 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, P n P maks. geser 27051,04 2,782 ~ 4 buah baut 9723,85 Digunakan : 4 buah baut Perhitungan jarak antar baut : a) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 1,73 d = 1,73. 2,54 = 4,394 cm = 4 cm b) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 2,54 = 12,7 cm = 12 cm Tabel Rekapitulasi perencanaan profil kuda-kuda A Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , ,4 BAB 3 Perencanaan Atap
94 , , , , , , , , , , , , Perencanaan Kuda-kuda Utama (KK B) Perhitungan Panjang Batang Kuda-kuda B Gambar Panjang Batang Kuda-Kuda Perhitungan panjang batang selanjutnya disajikan dalam tabel dibawah ini : BAB 3 Perencanaan Atap
95 79 Tabel Perhitungan panjang batang pada kuda-kuda utama (KK) No batang Panjang batang No batang Panjang batang 1 1,5 20 1, ,5 21 0, ,5 22 1, ,5 23 1, ,5 24 2, ,5 25 2, , ,5 27 3, ,5 28 3, ,5 29 4, , , , , , , , , , , , , , , , , Perhitungan Luasan Setengah Kuda-Kuda Utama B BAB 3 Perencanaan Atap
96 80 l k j i h g f e d c b a x w v u t s r q p o n m j' i' h' g' f' e' d' c' b' a' z y Gambar Luasan Atap Kuda-kuda B Panjang atap ac = (½ x 1,732) + 1,15 = 2,016 m Panjang atap ce Panjang kl = eg = gi = ik = 1,732 m = ½ x 1,732 = 0,866 m Luas atap amyznb = ay x ac = 5 x 2,016 = 10,08 m 2 Luas atap coa c qe = ca x ce = 5 x 1,732 = 8,66 m 2 Luas atap eqc e sg = ec x eg = 5 x 1,732 = 8,66 m 2 Luas atap gse g ui = ge x gi = 5 x 1,732 = 8,66 m 2 Luas atap iug iwk =ig x ik BAB 3 Perencanaan Atap
97 81 = 5 x 1,732 = 8,66 m 2 Luas atap amyznb = ki x kl = 5 x 0,866 = 4,33 m 2 l k j i h g f e d c b a x w v u t s r q p o n m j' i' h' g' f' e' d' c' b' a' z y Gambar Luasan Plafon Kuda-Kuda B Panjang atap ac = (½ x 1,75) + 1 = 1,75 m Panjang atap ce Panjang kl = eg = gi = ik = 1,5 m = ½ x 1,5 = 0,75 m Luas atap amyznb = ay x ac = 5 x 1,75 = 8,75 m 2 Luas atap coa c qe = ca x ce = 5 x 1,5 = 7,5 m 2 Luas atap eqc e sg = ec x eg BAB 3 Perencanaan Atap
98 82 Luas atap gse g ui Luas atap iug iwk Luas atap amyznb = 5 x 1,5 = 7,5 m 2 = ge x gi = 5 x 1,5 = 7,5 m 2 = ig x ik = 5 x 1,5 = 7,5 m 2 = ki x kl = 5 x 0,75 = 3,75 m Perhitungan Pembebanan Kuda-kuda Utama B Data-data pembebanan : Berat gording = 12,3 kg/m Jarak antar kuda-kuda utama = 5 m Berat penutup atap = 50 kg/m 2 Berat profil = 25 kg/m BAB 3 Perencanaan Atap
99 1 P6 P5 P7 P4 P8 P3 P9 P2 P10 P1 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 Gambar Pembebanan Kuda- Kuda Utama B Akibat Beban Mati b. Perhitungan Beban Beban Mati 1) Beban P 1 = P 11 a) Beban gording = Berat profil gording x jarak kuda-kuda = 12,3 x 4 = 61,5 kg b) Beban atap = Luas atap amyznb x Berat atap = 10,08 x 50 = 504 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg (1 + 11) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5+1,732) x 25 = 40,4 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 40,4 = 12,12 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 40,4 = 4,04 kg f) Beban plafon = Luas plafon amyznb x berat plafon = 8,75 x 18
100 2) Beban P 2 =P 10 Tugas Akhir 2 = 157,5 kg a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording db = 12,3 x 5 = 61,5 kg b) Beban atap = Luas atap coa c qe x berat atap = 8,66 x 50 = 433 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+0,866+1,732) x 25 = 75,775 kg d) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 75,775 = 22,733 kg e) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda 3) Beban P 3 =P 9 = 0,1 x 75,775 = 7,578 kg f) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording fd = 12,3 x 5 = 61,5 kg g) Beban atap = Luas atap eqc e sg x berat atap = 8,66 x 50 = 433 kg h) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+1,732+2,291) x 25 = 93,588 kg i) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 93,588 = 28,08 kg j) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda 4) Beban P 4 =P 8 = 0,1 x 93,588 = 9,359 kg
101 3 k) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording hf = 12,3 x 5 = 61,5 kg l) Beban atap = Luas atap gse g ui x berat atap = 8,66 x 50 = 433 kg m) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+2,598+3) x 25 = 113,275 kg n) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 113,275 = 33,983 kg o) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 113,275 = 11,328 kg 5) Beban P 5 =P 7 p) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording jh = 12,3 x 5 = 61,5 kg q) Beban atap = Luas atap iug iwk x berat atap = 8,66 x 50 = 433 kg r) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+3,464+3,775) x 25 = 133,788 kg s) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 133,788 = 40,1364 kg t) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 133,788 = 13,379 kg 6) Beban P 6 a) Beban gording = Berat profil gording x panjang gording lx
102 4 = 12,3 x 5 = 61,5 kg b) Beban atap = ( 2 x Luas atap kwi j kl ) x berat atap = ( 2 x 4,33 ) x 50 = 433 kg c) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,732+1,732+4,33) x 25 = 97,425 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 97,425 = 29,228 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda 7) Beban P 12 = P 20 = 0,1 x 97,425 = 9,743 kg a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg (1+2+21) x berat profil kuda kuda = ½ x ( 1,5+1,5+0,866 ) x 25 = 48,325kg b) Beban plafon = Luas plafon coa c qe x berat plafon = 7,5 x 18 = 135 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 48,325 = 14,498 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda 8) Beban P 13 = P 19 = 0,1 x 48,325 = 4,833 kg a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x ( 1,5+1,5+1,732+1,732 ) x 25 = 80,8 kg b) Beban plafon = Luas plafon eqc e sg x berat plafon
103 5 = 7,5 x 18 = 135 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 80,8 = 24,24 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda 9) Beban P 14 = P 18 = 0,1 x 80,8 = 8,08 kg a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x ( 1,5+1,5+2,291+2,598) x 25 = 98,613 kg b) Beban plafon = Luas plafon gse g ui x berat plafon = 7,5 x 18 = 135 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 98,613 = 29,584 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda 10) Beban P 15 = P 17 = 0,1 x 98,613 = 9,8613 kg a) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x ( 1,5+1,5+3+3,464) x 25 = 118,3 kg b) Beban plafon = Luas plafon iug i wk x berat plafon = 7,5 x 18 = 135 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 118,3 = 35,49 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda
104 6 = 0,1 x 118,3 = 11,83 kg 11) Beban P 16 f) Beban kuda-kuda = ½ x Btg ( ) x berat profil kuda kuda = ½ x (1,5+1,5+3,775+4,33+3,775) x 25 = 186 kg b) Beban plafon = ( 2 x luas plafon kwi j l ) x berat plafon = ( 2 x 3,75 ) x 18 = 135 kg c) Beban plat sambung = 30 x beban kuda-kuda = 0,3 x 186 = 55,8 kg d) Beban bracing = 10 x beban kuda-kuda = 0,1 x 186 = 18,6 kg Beban Tabel Rekapitulasi beban mati Beban Atap (kg) Beban gording (kg) Beban Kuda - kuda (kg) Beban Bracing (kg) Beban Plat sambung (kg) Beban Plafon (kg) Jumlah Beban P 1 =P ,5 40,4 4,04 12,12 157,5 779, P 2 =P ,5 75,775 7,578 22, , (kg) Input SAP P 3 =P ,5 93,588 9,359 28,08-625, P 4 =P ,5 113,275 11,278 33, , P 5 =P ,5 133,788 13,379 40, ,8 682 P ,5 97,425 9,743 29, ,9 631 P 12 =P ,325 4,833 14, , P 13 =P ,8 8,08 24, , P 14 =P ,613 9, , , P 15 =P ,3 11,83 35, , P ,6 55, ,4 396 (kg)
105 7 Beban Hidup Beban hidup yang bekerja pada P 1 s/d P 11 = 100 kg Beban Angin Perhitungan beban angin : Gambar Pembebanan Kuda-Kuda Utama Akibat Beban Angin Beban angin kondisi normal, minimum = 25 kg/m 2. 3) Koefisien angin tekan = 0,02 0,40 = (0,02 x 30) 0,40 = 0,2 a) W 1 = luas atap amyznb x koef. angin tekan x beban angin = 10,08 x 0,2 x 25 = 50,4 kg b) W 2 = luas atap coa c qe x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x 0,2 x 25 = 43,3 kg c) W 3 = luas atap eqc e sg x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x 0,2 x 25 = 43,3 kg
106 8 d) W 4 = luas atap gse g ui x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x 0,2 x 25 = 43,3 kg e) W 5 = luas atap iug i wk x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x 0,2 x 25 = 43,3 kg f) W 6 = luas atap kwi j kl x koef. angin tekan x beban angin = 4,33 x 0,2 x 25 = 21,65 kg 4) Koefisien angin hisap = - 0,40 a) W 7 = luas atap kwi j kl x koef. angin tekan x beban angin = 4,33 x -0,4 x 25 = -43,3 kg b) W 8 = luas atap iug i wk x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x -0,4 x 25 = -86,6 kg c) W 9 = luas atap gse g ui x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x -0,4 x 25 = -86,6 kg d) W 10 = luas atap eqc e sg x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x -0,4 x 25 = -86,6 kg e) W 11 = luas atap coa c qe x koef. angin tekan x beban angin = 8,66 x -0,4 x 25 = -86,6 kg f) W 12 = luas atap amyznb x koef. angin tekan x beban angin = 10,08 x -0,4 x 25 = -100,8 kg Tabel 3.14 Perhitungan beban angin Beban Beban (kg) Wx (Untuk Input Wy (Untuk Input
107 9 Angin W.Cos (kg) SAP2000) W.Sin (kg) SAP2000) W 1 50,4 43, ,2 26 W 2 43,3 37, ,65 22 W 3 43,3 37, ,65 22 W 4 43,3 37, ,65 22 W 5 43,3 37, ,65 22 W 6 21,65 18, ,83 11 W 7 86,8 3, ,65 22 W , ,3 44 W , ,3 44 W , ,3 44 W , ,3 44 W ,8 87, ,4 51 Dari perhitungan mekanika dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh gaya batang yang bekerja pada batang kuda-kuda utama sebagai berikut : Tabel Rekapitulasi gaya batang kuda-kuda utama kombinasi kombinasi Batang Tarik (+) Tekan (-) Batang Tarik (+) Tekan (-) ( kg ) ( kg ) ( kg ) ( kg ) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,28
108 , , , , , , , , , , , , , , , Perencanaan Profil Kuda- kuda Utama B a. Perhitungan profil batang tarik P maks. = 11162,45 kg ijin = 1600 kg/cm 2 F netto P σ maks. ijin 11162, ,98cm 2 F bruto = 1,15. F netto = 1,15. 6,98 cm 2 = 8,027 cm 2 Dicoba, menggunakan baja profil F = 2. 6,91 cm 2 = 13,82 cm 2 F = penampang profil dari tabel profil baja Kontrol tegangan yang terjadi : Pmaks. σ 0,85. F 11162,45 0,85.13,82 950,24 kg/cm 2
109 11 0,75 ijin 950,24 kg/cm kg/cm 2. aman!! b. Perhitungan profil batang tekan P maks. = 12866,68 kg lk = 1,73204 m = 173,204 cm Dicoba, menggunakan baja profil i x = 1,82 cm F = 2. 6,91 = 13,82 cm 2 λ lk i x 173,204 95,17 1,82 λ g π E 0,7.σ 111,02cm leleh... dimana, σ leleh 2400 kg/cm 2 λ s λ λ g 0,86 95,17 111,02 Karena s 1 maka : 1,43 1,6-0,67 s 1,43 1,6-0,67 0,86 = 1,397 Kontrol tegangan yang terjadi : Pmaks..ω σ F 12866,681,397 13, kg/cm 2
110 12 ijin 1300 kg/cm kg/cm 2.. aman!!! Perhitungan Alat Sambung a. Batang Tekan Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 25,4 mm ( 1 inches) Diameter lubang = 26,4 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0, ,4 = 15,875 mm. Menggunakan tebal plat 16 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, = 960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut : a) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (2,54) = 9723,85 kg b) P desak =. d. tumpuan = 0,9. 2, = 9753,6 kg P yang menentukan adalah P geser = 9723,85 kg. Perhitungan jumlah baut-mur,
111 13 Pmaks ,68 n 1,323 ~ 2 buah baut P 9723,85 geser Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : c) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 2,5 d = 2,5. 2,54 = 6,35 cm = 6 cm d) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 2,54 = 12,7 cm = 12 cm b. Batang tarik Digunakan alat sambung baut-mur. Diameter baut () = 25,4 mm ( 1 inches ) Diameter lubang = 26,4 mm. Tebal pelat sambung () = 0,625. d = 0,625 x 25,4 = 15,875 mm. Menggunakan tebal plat 16 mm Tegangan geser yang diijinkan Teg. Geser = 0,6. ijin = 0, = 960 kg/cm 2 Tegangan tumpuan yang diijinkan Teg. tumpuan = 1,5. ijin = 1, = 2400 kg/cm 2 Kekuatan baut :
112 14 c) P geser = 2. ¼.. d 2. geser = 2. ¼.. (2,54) = 9723,85 kg d) P desak =. d. tumpuan = 1,6. 2, = 9753,6 kg P yang menentukan adalah P geser = 9723,85 kg. Perhitungan jumlah baut-mur, P n P maks. geser 11162,45 1,15 ~ 2 buah baut 9723,85 Digunakan : 2 buah baut Perhitungan jarak antar baut : c) 1,5 d S 1 3 d Diambil, S 1 = 1,73 d = 1,73. 2,54 = 4,394 cm = 4 cm d) 2,5 d S 2 7 d Diambil, S 2 = 5 d = 5. 2,54 = 12,7 cm = 12 cm Tabel Rekapitulasi perencanaan profil kuda-kuda B Nomor Batang Dimensi Profil Baut (mm) , , , , , , , ,4
113 , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,4
114 1 BAB 4 PERENCANAAN TANGGA 4.1. Uraian Umum Tangga merupakan bagian dari struktur bangunan bertingkat yang penting sebagai penunjang antara struktur bangunan lantai dasar dengan struktur bangunan tingkat atasnya. Penempatan tangga pada struktur suatu bangunan berhubungan dengan fungsi bangunan bertingkat yang akan dioperasionalkan. Pada bangunan umum, penempatan tangga harus mudah diketahui dan strategis untuk menjangkau ruang satu dengan yang lainya, penempatan tangga harus disesuaikan dengan fungsi bangunan untuk mendukung kelancaran hubungan yang serasi antara pemakai bangunan tersebut Data Perencanaan Tangga Naik
115 Gambar 4.1. Detail tangga Data data tangga : Tinggi tangga = 400 cm Lebar tangga = 110 cm Lebar datar = 485 cm Tebal plat tangga = 12 cm Tebal plat bordes tangga = 12 cm Dimensi bordes bawah = 100 x 235 cm Dimensi bordes atas = 100 x 118 cm lebar antrade = 30 cm Tinggi optrade = 20 cm Jumlah antrede = 300 / 30 = 10 buah Jumlah optrade = = 11 buah = Arc.tg ( 200/300 ) = 34,5 0 = 34 0 < 35 0 (Ok) 4.3. Perhitungan Tebal Plat Equivalen dan Pembebanan Perhitungan Tebal Plat Equivalen
116 3 y 30 T eq C t D B A 20 Gambar 4.2. Tebal equivalen Ht = 12 cm BD BC = AB AC AB BC BD = AC 2030 = = 16,64 cm T eq = 2/3 x BD = 2/3 x 16,64 = 11,093 cm Jadi total equivalent plat tangga Y = t eq + ht = 11, = 23,093 cm = 0,23093 m Perhitungan Beban a. Pembebanan tangga ( SNI ) 1. Akibat beban mati (qd) Berat tegel keramik (1 cm) = 0,01 x 1,1 x 2,4 = 0,0264 ton/m Berat spesi (2 cm) = 0,02 x 1,1 x 2,1 = 0,0462 ton/m Berat plat tangga = 0,2309 x 1,1 x 2,4 = 0, ton/m
117 4 ton/m qd = 0, Akibat beban hidup (ql) ql= 1,1 x 0,300 ton/m = 0,33 ton/m 3. Beban ultimate (qu) qu = 1,2. qd ql = 1,2. 0, ,6. 0,33 = 1,34664 ton/m b. Pembebanan pada bordes ( SNI ) Bordes Bawah 1. Akibat beban mati (qd) Berat tegel keramik (1 cm) = 0,01 x 2,35 x 2,4 = 0,0564 ton/m Berat spesi (2 cm) = 0,02 x 2,35 x 2,1 = 0,0987 ton/m Berat plat bordes = 0,12 x 2,35 x 2,4 = 0, ton/m qd = 0,8319 ton/m 2. Akibat beban hidup (ql) ql = 2,35 x 0,300 ton/m = 0,705 ton/m 3. Beban ultimate (qu) qu= 1,2. qd ql = 1,2. 1, ,6. 0,90 = 2,7144 ton/m Bordes Atas 4. Akibat beban mati (qd) Berat tegel keramik (1 cm) = 0,01 x 1,18 x 2,4 = 0,02932 ton/m Berat spesi (2 cm) = 0,02 x 1,18 x 2,1 = 0,04956 ton/m Berat plat bordes = 0,12 x 1,18 x 2,4 = 0,33984 ton/m + qd = 0,41872 ton/m
118 5 5. Akibat beban hidup (ql) ql = 1.18 x 0,300 ton/m = 0,354 ton/m 6. Beban ultimate (qu) qu= 1,2. qd ql = 1,2. 0, ,6. 0,354 = 1,0689 ton/m 4.4. Perhitungan Tulangan Tangga dan Bordes Perhitungan Tulangan Tumpuan Dicoba menggunakan tulangan 12 mm h = 120 mm d = p + 1/2 tul = = 26 mm d = h d = = 94 mm Dari perhitungan SAP 2000 : M u = 1725,65 kgm = 1, Nmm 7 Mu 1, Mn = 2, Nmm 0,8 fy 240 m = 11, 3 0,85. fc 0, ,85.fc 600 b =.. fy 600 fy
119 6 0, =.0, = 0,05376 max = 0,75. b = 0,75. 0,05376 = 0,04032 min = 0, Mn 2, Rn = 2,21933 N/mm 2 2 b.d m.Rn ada = 1 1 m fy ,3.2,21933 = ,3 240 = 0,00979 min < ada < max Dipakai ada = 0,00979 As =. b. d = 0,00979 x 1100 x 94 = 1012,286 mm 2 Dipakai tulangan 12 mm = ¼. x 12 2 = 113,04 mm ,286 Jumlah tulangan = 8,96 9 buah 113, Jarak tulangan 1 m = = 111,1 mm 100 mm 9 Jarak maksimum tulangan = 2 h = 2 x 120= 240 Dipakai tulangan 12 mm 100 mm As yang timbul = 9. ¼.π. d 2 = 9 x 0,25 x 3,14 x (12) 2 = 1017,36 mm 2 > As (1012,286 mm 2 )... Aman! Perhitungan Tulangan Lapangan Dari perhitungan SAP 2000 : M u = 1000,33 kgm = 1, Nmm
120 7 7 1, Mn = 1, Nmm 0,8 fy 240 m = 11, 3 0,85. fc 0, ,85.fc 600 b =.. fy 600 fy 0, =.0, = 0,05376 max = 0,75. b = 0,75. 0,05376 = 0,04032 min = 0,0025 Mn Rn = 2 b.d , ,2865 N/mm m.Rn ada = 1 1 m fy ,3.1,2865 =. 1 1 = 0, ,3 240 min < ada < max Dipakai ada = 0,0055 As =. b. d = 0,0055 x 1100 x 94 = 568,7 mm 2 Dipakai tulangan 12 mm = ¼. x 12 2 = 113,04 mm 2 Jumlah tulangan dalam 1 m = 568,7 113,04 6 tulangan 1000 Jarak tulangan 1 m = = 166,67 mm 160 mm 6 Jarak maksimum tulangan = 2 h = 2 x 120 = 240 Dipakai tulangan 12 mm 160 mm As yang timbul = 6. ¼ x x d 2 = 5,031 = 678,24 mm 2 > As (568,7 mm 2 )...aman! 4.5. Perencanaan Balok Bordes
121 8 235 qu balok 93 2,35 m Data data perencanaan balok bordes: h = 235 mm b = 93 mm tul = 12 mm sk = 8 mm d = p - sk ½ tul = = 54 mm d = h d` = = 181 mm Pembebanan Balok Bordes 1. Beban mati (qd) Berat sendiri = 0,15 x 0,3 x 2400 = 108 kg/m Berat dinding = 0,15 x 2,35 x 1700 = 599,25 kg/m Berat plat bordes = 0,12 x 2400 = 288 kg/m qd = 995,25 kg/m 2. Beban Hidup (ql) =300 kg/m 3. Beban ultimate (qu) qu = 1,2. qd + 1,6.qL = 1,2. 995,25 + 1,6.300 = 1674,3 Kg/m 4. Beban reaksi bordes qu = Re aksibordes lebar bordes
122 9 = 1674,3 0,93 = 1800,323 kg/m Perhitungan tulangan lentur Dari perhitungan SAP 2000 : M u = 1310,05 kgm = 1, Nmm 7 Mu 1, Mn = = 1, Nmm φ 0,8 fy 240 m = 11, 3 0,85. fc 0, ,85.fc 600 b =.. fy 600 fy 0, =.0, = 0,05376 max = 0,75. b = 0,75. 0,05376 = 0, , 4 min = = 0,0058 fy Mn 1, Rn = 5, b. d 93.(181) 1 2.m.Rn ada = 1 1 m fy 1 = ,3 = 0,02631 min < ada < max Dipakai ada = 0, ,3.5, As = ada. b. d = 0,02631 x 93 x 181 = 442,88 mm 2 Dipakai tulangan 12 mm As = ¼.. (12) 2 = 113,097 mm 2 Jumlah tulangan = 442,88 113,097 N/mm = 3,918 4 buah
123 10 As yang timbul = 4. ¼.π. d 2 = 4. ¼. 3,14. (12) 2 = 452,16 mm 2 > As (442,88 mm 2 ) Aman! Dipakai tulangan 4 12 mm Perhitungan Tulangan Geser Dari perhitungan SAP 2000 : Vu = 2408,20 kg = N Vc = 1 / 6.b.d. f'c. = 1/ = 14027,5 N Vc = 0,6. Vc = 0, ,5 N = 8416,5 N 3 Vc = 3. Vc = ,5 N = 25249,5 N Vc < Vu < 3 Vc, jadi perlu tulangan geser. Vs = Vu - Vc = ,5 = 15665,5 N Vs perlu = = 15665,5 0,6 Av = 2. ¼. π. (8) 2 = 2. 0,25. 3, = 100,531 mm 2 S = Av. fy. d Vs perlu = = 26109,167 N 100, ,167 = 167,262 mm Smax = d/2 = 181/2 = 90,5 mm 90 mm Jadi, dipakai tulangan geser 8 90 mm Vs 0, Perhitungan Pondasi Tangga
124 11 Gambar 4.3. Pondasi Tangga Direncanakan pondasi telapak dengan kedalaman 1 m dan dimensi 1,5 x 1,5 m Tebal footplate = 250 mm Ukuran alas = 1500 x 1500 mm tanah = 1,7 t/m 3 = 1700 kg/m 3 tanah = 1,5 kg/cm 2 = kg/m 2 Dari perhitungan SAP 2000 : Pu = 20894,44 kg Mu = 1725,65 kg.m d = h d = = 184 mm 4.7. Perencanaan kapasitas dukung pondasi a. Perhitungan kapasitas dukung pondasi Pembebanan pondasi Berat telapak pondasi = 1,5 x 1,5 x 0,25 x 2400 = 1350 kg Berat tanah = 2 (0,80 x 1,5) x 1700 = 4080 kg Berat kolom = 0,3 x 0,3 x 0,75 x 2400 = 162 kg + Pu = 20894,44 kg P = 26486,44 kg
125 M e = P Tugas Akhir , ,44 = 0,065 kg < 1/6.B = 0,065 kg < 1/6.1,5 = 0,065 < 0,25... ok Mu yang terjadi = A 1.b.L ,44 tanah = 1,5.1, ,65 1/ 6.1,5. 1,5 2 = 14839,57 kg/m 2 = 14839,57 kg/m 2 < kg/m 2 = σ yang terjadi < ijin tanah...ok! Perhitungan Tulangan Lentur Mn = ½.. t 2 = ½ ,57. (0,75) 2 = 4173,63 kg/m Mn = 4, Nmm fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0, ,85. f'c 600 b = fy 600 fy 0, =.0, = 0, Mn 4, Rn = 2 b.d = 0,822 max = 0,75. b = 0,75. 0, = 0, ,4 1,4 min = 0,00368 fy perlu = 1 1 m =. 17, m. Rn fy ,8824.0,
126 13 = 0,00221 perlu < min dipakai min = 0,00368 As perlu = min. b. d = 0, = 1015,68 mm 2 digunakan tul D 12 = ¼.. d 2 = ¼. 3,14. (12) 2 = 113,04 mm 2 Jumlah tulangan (n) = 1015,68 =8,99 ~ 9 buah 113, Jarak tulangan = = 111,11 ~ 100 mm 9 As yang timbul = 9 x 113,04 = 1017,36 > As (1015,68 mm 2 )..Ok! Sehingga dipakai tulangan mm Perhitungan Tulangan Geser Vu = x A efektif = 14839,57 x (0,25 x 1,5) = 5564,84 N Vc = 1/ 6. f'c. b. d = 1 / = N Vc = 0,6. Vc = 0, = N 3 Vc = 3. Vc = = N Vu < Vc < 3 Ø Vc tidak perlu tulangan geser Dipakai tulangan geser minimum mm
127 1 BAB 5 PLAT LANTAI 5.1. Perencanaan Pelat Lantai Gambar 5.1 Denah Plat lantai 5.2. Perhitungan Pembebanan Pelat Lantai a. Beban Hidup ( ql ) Berdasarkan PPIUG untuk gedung 1983 yaitu : Beban hidup fungsi gedung untuk hotel = 250 kg/m 2 b. Beban Mati ( qd ) Berat plat sendiri = 0,12 x 2400 x1 = 288 kg/m Berat keramik ( 1 cm ) = 0,01 x 2400 x1 = 24 kg/m Berat Spesi ( 2 cm ) = 0,02 x 2100 x1 = 42 kg/m Berat Pasir ( 2 cm ) = 0,02 x 1600 x1 = 32 kg/m Berat plafond dan instalasi listrik = 25 kg/m + qd = 411 kg/m 112
128 2 c. Beban Ultimate ( qu ) Untuk tinjauan lebar 1 m pelat maka : qu = 1,2 qd + 1,6 ql = 1, , = 893,2 kg/m 5.3. Perhitungan Momen Perhitungan momen menggunakan tabel PBI 1971 a. Tipe pelat A Gambar 5.2 Plat tipe A Ly Lx 5 2,5 2 Mlx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 41 = 36,62 Mly = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 12 = 10,72 kg m kg m Mtx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 83 = 296,54 kg m Mty = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 57 = 203,65 kg m
129 3 Ly Lx 2,5 1,7 1,5 Gambar 5.3 Plat tipe B Mlx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (1,5) 2 x 38 = 76,37 Mly = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (1,5) 2 x 14 = 28,14 kg m kg m Mtx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (1,5) 2 x 81 = 162,79 kg m Mty = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (1,5) 2 x 57 = 114,55 kg m Ly Lx Gambar 5.4 Plat tipe C Mlx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 34 = 189,81 kg m Mly = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 18 = 100,49 kg m Mtx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 73 = 407,52 kg m Mty = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2,5) 2 x 57 = 318,2 kg m
130 4 Gambar 5.5 Plat tipe B2 Ly Lx 5 2,5 2 Mlx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2) 2 x 60 = 214,37 kg m Mly = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2) 2 x 18 = 64,31 kg m Mtx = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2) 2 x 120 = 428,74 kg m Mty = 0,001.qu.Lx 2.x = x 893,2 x (2) 2 x 79 = 282,25 kg m 5.4. Penulangan Plat Lantai Tabel 5.1. Perhitungan Plat Lantai Tipe Plat Ly/Lx (m) Mlx (kgm) Mly (kgm) Mtx (kgm) Mty (kgm) A 5/2,5 = 2 36,62 10,72 296,54 203,65 B 2,5/1,5 = 1,7 76,37 28,14 162,79 114,55 C 3,5/2,5 = 1,4 189,81 100,49 407,52 318,2 D 5/2 = 2,5 214,37 64,31 428,74 282,25 Dari perhitungan momen diambil momen terbesar yaitu: Mlx = 214,37 kgm Mly = 100,49 kgm Mtx = 428,74 kgm Mty = 318,2 kgm Data data plat :
131 5 Tebal plat ( h ) = 12 cm = 120 mm Diameter tulangan ( ) = 12 mm fy = 240 MPa f c = 25 MPa b = 1000 mm tebal penutup ( d ) = 20 mm h dy dx d' Gambar 5.8 Perencanaan Tinggi Efektif Tinggi efektif : dx = h d - ½Ø = = 94 mm dy = h d Ø - ½ Ø = ½. 12 = 82 mm 0,85. fc 600 b =.. f c = 25 Mpa < 30 Mpa = 0,85 fy 600 fy 0, =.0, = 0,054 max = 0,75. b = 0,75. 0,054 = 0,0405 min = 0,0025 (untuk plat) 5.5. Penulangan tumpuan arah x Mu = 428,74 kgm = 4, Nmm
132 Mn = Mn Rn = 2 b.dx Tugas Akhir 6 6 Mu 4, = 0,8 5, fy 240 m = 11, 3 0,85. f ' c 0, , Nmm 6 2 0,606 N/mm 2 perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy 1 =. 11,3 1 = 0, ,3.0, perlu < max perlu > min, di pakai perlu = 0,00256 As perlu = perlu. b. dx = 0, = 240,64 mm 2 Digunakan tulangan 12 As = ¼.. (12) 2 S = = 113,04 mm 2 As.b As perlu = = 469,75 mm 113, ,64 S max = 2 x h = 240 mm n = s b 1000 = 240 = 5 buah As yang timbul = 5. ¼.. (12) 2 = 339,12 mm 2 > As perlu.. ok! Dipakai tulangan mm
133 Penulangan tumpuan arah y Mu = 318,2 kgm = 3, Nmm Mn = Mu = 6 3, ,8 3, Nmm Mn Rn = 2 b.dy 3, fy 240 m = 11, 3 0,85. f ' c 0, ,592 N/mm 2 perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy 1 =. 11,3 1 = 0, ,3.0, perlu < max perlu > min, di pakai perlu = 0, As perlu = perlu. b. dy = 0, = 205,164 mm 2 Digunakan tulangan 12 As = ¼.. (12) 2 S = = 113,04 mm 2 As.b As perlu = = 550,97 mm 113, ,164 S max = 2 x h = 240 mm n = s b 1000 = 240
134 = 5 buah Tugas Akhir 8 As yang timbul = 5. ¼.. (12) 2 = 565,2 mm 2 > As perlu.. ok! Dipakai tulangan mm 5.7. Penulangan lapangan arah x Mu = 214,37 kgm = 2, Nmm Mn = Mu 6 2, = 2, Nmm 0,8 Mn Rn = 2 b.dx 2, fy 240 m = 11, 3 0,85. f ' c 0, ,303 N/mm 2 perlu = 1. 1 m 2m. Rn 1 fy = ,3 = 0, ,3.0, < max > min, di pakai perlu = 0,00127 As perlu = perlu. b. dx = 0, = 235 mm 2 Digunakan tulangan 12 As = ¼.. (12) 2 = 113,04 mm 2
135 9 S = As.b As perlu = 113, = 481,02 mm S max = 2 x h = 240 mm n = s b 1000 = 240 = 5 buah As yang timbul = 5. ¼.. (12) 2 = 565,2 mm 2 > As ok! Dipakai tulangan mm 5.8. Penulangan lapangan arah y Mu = 100,49 kgm = 1, Nmm Mn = Mu 6 1, = 1, Nmm 0,8 Mn Rn = 2 b.dy 1, fy 240 m = 11, 3 0,85. f ' c 0, ,187 N/mm 2 perlu = 1. 1 m 1 2m.Rn fy = ,3 = 0, ,3.0, < max > min, di pakai min = 0,0025 As perlu = perlu. b. dy = 0, = 205 mm 2
136 10 Digunakan tulangan 12 As = ¼.. (12) 2 S = = 113,04 mm 2 As.b As perlu = = 551,41 mm 113, S max = 2 x h = 240 mm n = s b 1000 = 240 = 5 buah As yang timbul = 5. ¼.. (12) 2 = 565,2 mm 2 > As perlu ok! Dipakai tulangan mm 5.9. Rekapitulasi Tulangan Dari perhitungan diatas diperoleh : Tulangan lapangan arah x mm Tulangan lapangan arah y mm Tulangan tumpuan arah x mm Tulangan tumpuan arah y mm Tabel 5.2. Penulangan Plat Lantai Tipe Plat Mlx (kgm) Momen Tulangan Lapangan Tulangan Tumpuan Mly Mtx Mty Arah x Arah y Arah x Arah y (kgm) (kgm) (kgm) (mm) (mm) (mm) (mm)
137 11 A 36,62 10,72 296,54 203, B 76,37 28,14 162,79 114, C 189,81 100,49 407,52 318, D 214,37 64,31 428,74 282,
138 BALOK ANAK Tugas Akhir 1 BAB Perencanaan Balok Anak Gambar 6.1 Area Pembebanan Balok Anak Keterangan : Balok Anak Balok Anak Balok Anak : As A-A : As B-B : As C-C Perhitungan Lebar Equivalen Untuk mengubah beban segitiga dan beban trapesium dari pelat menjadi beban merata pada bagian balok, maka beban pelat harus diubah menjadi beban equivalent yang besarnya dapat ditentukan sebagai berikut : a Lebar Equivalent Tipe I 123
139 2 Leg ½ Lx Leq = 1/6 Lx 3 4. Lx 2.Ly 2 Ly b Lebar Equivalent Tipe II Leg ½Lx Leq = 1/3 Lx Lx Lebar Equivalent Balok Anak a. Balok anak 1(A-A ) Lebar Equivalent Segitiga Dimana Lx = 0,75 Ly = 1,5 1 Leq a =.0, 75 3 = 0,25 m Lebar Equivalent Trapesium Dimana Lx = 1,25 Ly = 3,5 Leq b = 1.1, = 0,60 m 1,25 2.3,5 2 Lebar Equivalent Trapesium Dimana Lx = 1,25 Ly = 5 Leq c = Leq I 1 1,25.1, = 0,61 m 2 = Leq a + Leq b + Leq c = 1,46 m
140 3 b. Balok anak 2 (B-B ) Lebar Equivalent Trapesium Dimana Lx = 0,75 Ly = 2,5 Leq a = 1.0, = 0,36 m 0,75 2.2,5 2 Lebar Equivalent Segitiga Dimana Lx = 1,25 Ly = 2,5 1 Leq b =.1, 25 3 = 0,42 m Leq II = Leq a + Leq b = 0,78 m c. Balok anak 3 (C-C ) Lebar Equivalent Trapesium Dimana Lx = 2,5 Ly = 5 Leq III = 1 2,5.2, = 1,15 m Perhitungan Pembebanan Balok Anak Pembebanan Balok Anak as A-A' Data : Penentuan Dimensi Balok Anak h = 1/10. L = 1/ = 500 mm b = 1/15. L = 1/ = 340 mm
141 4 (h dipakai = 500 mm, b = 340 mm ). Gambar 6.2. Pembebanan Balok Anak As A-A a Beban Mati (qd) Pembebanan balok elemen A-A Berat sendiri = 0,34 x (0,5 0,12) x 2400 kg/m 3 = 310,08 kg/m Beban Plat = 1,46 x 411 kg/m 2 = 600,06 kg/m Beban Dinding = 0,15 x (4-0,5) x 1700 kg/m 3 = 892,5 kg/m qd = 1802,64 kg/m Beban Titik P = 2585 kg b Beban hidup (ql) Beban hidup digunakan 250 kg/m 2 ql = 1,46 x 250 kg/m 2 = 365 kg/m c Beban berfaktor (qu) qu = 1,2. qd + 1,6. ql = 1,2.1802,64 + 1,6.365 = 2747,17 kg/m Pembebanan Balok Anak as B-B Data : Penentuan Dimensi Balok Anak h = 1/10. L
142 5 = 1/ = 250 mm b = 1/15. L = 1/ = 170 mm (h dipakai =250 mm, b = 170 mm ). Gambar 6.3. Pembebanan Balok Anak As B-B a. Beban Mati (qd) Pembebanan balok elemen B-B Berat sendiri = 0,17 x (0,25 0,12) x 2400 kg/m 3 = 53,04 kg/m Beban Plat = 0,78 x 411 kg/m 2 = 320,58 kg/m Beban Dinding = 0,15 x (4-0,25) x 1700 kg/m 3 = 956,25 kg/m qd = 1329,87 kg/m b. Beban hidup (ql) Beban hidup digunakan 250 kg/m 2 ql = 0,78 x 250 kg/m 2 = 195 kg/m c. Beban berfaktor (qu) qu = 1,2. qd + 1,6. ql = 1,2.1329,87 + 1,6.195
143 6 = 1907,84 kg/m Pembebanan Balok Anak as C-C Data : Penentuan Dimensi Balok Anak h = 1/10. L = 1/ = 500 mm b = 1/15. L = 1/ = 340 mm (h dipakai = 500 mm, b = 340 mm ). Gambar 6.4 Pembebanan Balok Anak As C-C a. Beban Mati (qd) Pembebanan balok elemen C-C Berat sendiri = 0,34 x (0,5 0,12) x 2400 kg/m 3 = 310,08 kg/m Beban Plat = (2 x 1,15) x 411 kg/m 2 = 945,3 kg/m Beban Dinding = 0,15 x (4-0,5) x 1700 kg/m 3 = 892,5 kg/m qd = 2147,88 kg/m b. Beban hidup (ql) Beban hidup digunakan 250 kg/m 2 ql = (2 x 1,15) x 250 kg/m 2
144 7 = 575 kg/m c. Beban berfaktor (qu) qu = 1,2. qd + 1,6. ql = 1,2.2147,88 + 1,6.575 = 3497,46 kg/m 6.3. Perhitungan Tulangan Balok Anak Perhitungan Tulangan Balok Anak as A-A 1. Tulangan Lentur Balok Anak Data Perencanaan : h = 500 mm Ø t = 12 mm b = 340 mm` Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 380 Mpa = ½.12 8 f c = 25 MPa = 446 mm Daerah Lapangan 0,85.f' c.β 600 b = fy 600 fy 0, = 0, = 0,0291 max = 0,75. b = 0,75. 0,0291 = 0,0219 1,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 4140,35 kgm = 4, Nmm
145 8 Mn = Mu 4,14.10 = φ 0, 8 7 = 5, Nmm 7 Mn 5,18.10 Rn = 0, b.d fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy < min ,8824.0,77 = 1 1 0, , < max dipakai tulangan tunggal Digunakan min = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 558,04 mm 2 As perlu n = ,04 = 4,95 5 tulangan 113,04 Dipakai tulangan 5 D 12 mm As ada = 5. ¼ = 5. ¼. 3, = 565,2 mm 2 > As perlu Aman..!! Asada. fy a = 0,85, f ' c. b Mn ada = As ada. fy (d a/2) 565, , = 565,2.380 (446 29,727/2) = 9, Nmm Mn ada > Mn Aman..!! Jadi dipakai tulangan 5 D 12 mm 29,727
146 9 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 9163,61 kgm= 9, Nmm Mn = Mu 9,16.10 = φ 0, 8 7 = 11, Nmm 7 Mn 11,45.10 Rn = 1, b.d fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy > min ,8824.1,69 = 1 1 0, , < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,00464 As perlu =. b. d = 0, = 703,61 mm 2 As perlu n = ,61 = 6,22 7 tulangan 113,04 Dipakai tulangan 7 D 12 mm As ada = 7. ¼ = 7. ¼. 3, = 791,28 mm 2 > As perlu Aman..!! Asada. fy a = 0,85, f ' c. b Mn ada = As ada. fy (d a/2) 791, , = 791, (446 41,62/2) 41,62
147 10 = 12, Nmm Mn ada > Mn Aman..!! Jadi dipakai tulangan 8 D 12 mm 2. Tulangan Geser Balok anak Dari perhitungan SAP 2000 Diperoleh : Vu f c fy d = 10701,22 kg = ,2 N = 25 Mpa = 240 Mpa = h p ½ Ø = ½ (8) = 456 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ Ø Vc = N = 0, N = N 3 Ø Vc = = N Ø Vc < Vu < 3 Ø Vc diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc = , = 29492,2 V Vs Perlu = s 29492, , 67 0,6 0,6 Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy. d 100, S = 354, 21mm Vsperlu 49153, S max = h/2 = 250 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø Perhitungan Tulangan Balok Anak as B-B Data Perencanaan : h = 250 mm Ø t = 12 mm
148 11 b = 170 mm` Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 380 Mpa = ½.12 8 f c = 25 MPa = 196 mm Daerah Lapangan 0,85.f' c.β 600 b = fy 600 fy 0, = 0, = 0,0291 max = 0,75. b = 0,75. 0,0291 = 0,0219 1,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 473,92 kgm= 0, Nmm Mn = Mu 0,47.10 = φ 0, 8 7 = 0, Nmm 7 Mn 0,59.10 Rn = 0, b.d fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,8824.0,9 = 1 1 0, , < min
149 12 < max dipakai tulangan tunggal Digunakan min = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 122,618 mm 2 As perlu n = ,618 = 1,08 2 tulangan 113,04 Dipakai tulangan 2 D 12 mm As ada = 2. ¼ = 2. ¼. 3, = 226,08 mm 2 > As perlu Aman..!! Asada. fy a = 0,85, f ' c. b Mn ada = As ada. fy (d a/2) 226, , = 226, (196 23,781/2) = 1, Nmm Mn ada > Mn Aman..!! Jadi dipakai tulangan 2 D 12 mm 23,781 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 1077,08 kgm= 1, Nmm Mn = Mu 1,08.10 = φ 0, 8 7 = 1, Nmm 7 Mn 1,35.10 Rn = 2, b.d fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0,85.25
150 13 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy > min ,8824.2,07 = 1 1 0, , < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,00718 As perlu =. b. d = 0, = 191,26 mm 2 As perlu n = ,26 = 1,69 2 tulangan 113,04 Dipakai tulangan 2 D 12 mm As ada = 2. ¼ = 2. ¼. 3, = 226,08 mm 2 > As perlu Aman..!! Asada. fy a = 0,85, f ' c. b Mn ada = As ada. fy (d a/2) 226, , = 226, (196 23,78/2) = 2, Nmm Mn ada > Mn Aman..!! Jadi dipakai tulangan 2 D 12 mm 3. Tulangan Geser Balok anak Dari perhitungan SAP 2000 Diperoleh : Vu f c fy = 2585 kg = N = 25 Mpa = 240 Mpa 23,78
151 14 d = h p ½ Ø = ½ (8) = 206 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ Ø Vc = 29183,333 N = 0, ,33 N = N 3 Ø Vc = = N Ø Vc < Vu < 3 Ø Vc, diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc = = 8340 V 8340 Vs Perlu = s ,6 0,6 Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av. fy. d 100, S = 791, 12 mm Vsperlu S max = h/2 = 125 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø Perhitungan Tulangan Balok Anak as C-C Data Perencanaan : h = 500 mm Ø t = 12 mm b = 340 mm` Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 380 Mpa = ½.12 8 = 446 mm f c = 25 MPa Daerah Lapangan
152 15 0,85.f' c.β 600 b = fy 600 fy max 0, = 0, = 0,0291 = 0,75. b = 0,75. 0,0291 = 0,0219 1,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 4225,6 kgm= 4, Nmm Mn = Mu 4, = φ 0, 8 7 = 5, Nmm 7 Mn 5, Rn = 0, b.d fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy < min ,8824.0,781 = 1 1 0, , < max dipakai tulangan tunggal Digunakan min = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 558,035 mm 2 As perlu n =
153 16 558,035 = 4,937 5 tulangan 113,04 Dipakai tulangan 5 D 10 mm As ada = 5. ¼ = 5. ¼. 3, = 565,2mm 2 > As perlu Aman..!! Asada. fy a = 0,85, f ' c. b Mn ada = As ada. fy (d a/2) 565, , = 565,2.380 (446 29,727/2) = 9, Nmm Mn ada > Mn Aman..!! Jadi dipakai tulangan 5 D 12 mm 29,727 Daerah Tumpuan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh : Mu = 8451,2 kgm= 8, Nmm Mn = Mu 8, = φ 0, 8 7 = 10, Nmm 7 Mn 10, Rn = 1, b.d fy 380 m = 17, ,85. f ' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,8824.1,562 = 1 1 0, , > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,00428
154 17 As perlu =. b. d = 0, = 649,019 mm 2 As perlu n = ,019 = 5,74 6 tulangan 113,04 Dipakai tulangan 6 D 12 mm As ada = 6. ¼ = 6. ¼. 3, = 678,24 mm 2 > As perlu Aman..!! Asada. fy a = 0,85, f ' c. b Mn ada = As ada. fy (d a/2) 678, , = 678, (446 34,135/2) = 11, Nmm Mn ada > Mn Aman..!! Jadi dipakai tulangan 6 D 12 mm 34, Tulangan Geser Balok anak Dari perhitungan SAP 2000 Diperoleh : Vu f c fy d = 10141,44 kg = ,4 N = 25 Mpa = 240 Mpa = h p ½ Ø = ½ (8) = 456 mm Vc = 1/ 6. f' c.b.d = 1/ Ø Vc = N = 0, N = N 3 Ø Vc = = N Ø Vc < Vu < 3 Ø Vc
155 N < ,4 N < N diperlukan tulangan geser Ø Vs Vs perlu = = Vu - Ø Vc = , = 23894,4 N Vs 23894,4 = = N 0,6 0,6 Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,48 mm 2 Av.fy.d 100, s = 276, 128 mm Vs perlu s max = h/2 = 500 = 250 mm 2 Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm Tabel 6.1. Perhitungan Tulangan Lentur Balok Anak Daerah Tumpuan As Balok Anak A A B-B C-C b (mm) h (mm) d (mm) f c (Mpa) fy (Mpa) ρb 0,0291 0,0291 0,0291 ρ max 0,0219 0,0219 0,0219 ρ min 0, , ,00368 Mu (Nmm) 9, , , Mn (Nmm) 11, , , Rn (N/mm) 1,69 2,07 1,562 m 17,882 17,882 17,882 ρ 0, , ,00428 As Perlu (mm 2 ) 703,61 191,26 649,019
156 19 Luas D12 mm 113,04 113,04 113,04 Tul. Yang dipakai 7 D 12 mm 2 D 12 mm 6 D 12 mm As ada (mm 2 ) 791,28 226,08 678,24 Tabel 6.2. Perhitungan Tulangan Lentur Balok Anak Daerah Lapangan As Balok Anak A A B-B C-C b (mm) h (mm) d (mm) f c (Mpa) fy (Mpa) ρb 0,0291 0,0291 0,0291 ρ max 0,0219 0,0219 0,0219 ρ min 0, , ,00368 Mu (Nmm) 4, , , Mn (Nmm) 5, , , Rn (N/mm) 0,77 0,9 0,781 m 17,882 17,882 17,882 ρ 0, , ,00174 As Perlu (mm 2 ) 558,04 122, ,035 Luas Ø 12 mm 113,04 113,04 113,04 Tul. Yang dipakai 5 D 12 mm 2 D 12 mm 5 D 10 mm As ada (mm 2 ) 565,2 226,08 565,2 Tabel 6.3. Perhitungan Tulangan Geser Balok Anak As Balok Anak A A B-B C-C
157 20 b (mm) h (mm) d (mm) f c (Mpa) fy (Mpa) Vu (N) , ,4 Vc (N) , Ø Vc (N) Ø Vc (N) Tul. yg dipakai Ø mm Ø mm Ø mm
158 1 BAB 7 PORTAL 7.1. Perencanaan Portal Gambar 7.1 Denah Portal Menentukan Dimensi Perencanaan Portal Pembatasan Ukuran Balok Portal Berdasarkan SK SNI T tentang pembatasan tebal minimum dimensi balok sebagai berikut : L 5000 L ,1 mm 238,1 mm L 5000 L ,082mm 204,082mm 24,5 24,5 24,5 24,5 L 5000 L ,6mm 178,6mm L 5000 L ,55 mm 454, Beban atap Dari perhitungan SAP
159 2 Reaksi tumpuan setengah kuda kuda = 2780,63 kg Reaksi tumpuan jurai Reaksi kuda-kuda utama A Reaksi kuda-kuda utama B = 2890,28 kg = 17550,86 kg = 7752,41 kg Rencana Dimensi Portal Rink balk = 300 mm x 400 mm Kolom = 400 mm x 400 mm Balok arah memanjang = 400 mm x 500 mm Balok arah melintang = 400 mm x 500 mm Sloof = 200 mm x 300 mm Beban Balok Portal a. Beban rink balk Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,3. 0, = 288 kg/m Beban berfaktor (qu) = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,6. 0 = 345,6 kg/m b. Beban Sloof Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 144 kg/m Beban dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1164 kg/m Beban berfaktor (qu) qu = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, , = 1796,8 kg/m
160 Perhitungan Beban Equivalent Plat Lebar Equivalent 1 Plat type 1 Leq =. Lx 3 1 =.1,25 0, 42 m Lx Plat type 2 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly 1 0,75.0,753 4( ) 2 0,36 m ,5 1 Plat type 3 Leq =. Lx 3 1 =.0,75 0, 25 m Lx Plat type 4 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly 1 1,25.1,253 4( ) 2 0,6 m ,5 1 Lx Plat type 5 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly 1 1,25.1,25 3 4( ) 2 0,61 m Plat type 6 Leq =. Lx 3 1 =.1 0, 33 m Lx Plat type 7 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly ( ) 2 0,49 m
161 Pembebanan Balok Portal Memanjang 1. Pembebanan Balok Portal As-1 Gambar 7.2 Balok portal As-1 a. Pembebanan balok induk element A-B = B-C = F-G = G-H Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,36) = 320,58 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,36) = 195 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,38 ) + (1,6. 195) = 2358,46 kg/m b. Pembebanan balok induk element C-D = E-F Beban Mati (qd) qd = 1705,38 kg/m Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu2 = 1,2. qd + 1,6. ql qd = 1730,04 kg/m
162 5 = (1, ,04) + (1,6. 210) = 2412,05 kg/m c. Pembebanan balok induk element D-E Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu3 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1,2. 710,04 ) + (1,6. 210) = 1188,05 kg/m qd = 710,04 kg/m Gambar 7.3 Beban mati (qd) balok portal As-1
163 6 Gambar 7.4 Beban hidup (ql) balok portal As-1 2. Pembebanan Balok Portal As-2 Gambar 7.5 Balok portal As-2 a. Pembebanan balok induk element A-B = B-C = F-G = G-H Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1730,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0, ,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,04) + (1,6. 210) = 2412,05 kg/m b. Pembebanan balok induk element C-D = E-F
164 7 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,42. 4 = 690,48 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 2075,28 kg/m Beban hidup (ql) ql = = 420 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,28) + (1,6. 420) = 3162,34 kg/m c. Pembebanan balok induk element DE Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m + qd = 710,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. ( ,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 710,04) + (1,6. 210) = 1188,05 kg/m Gambar 7.6 Beban mati (qd) balok portal As-1
165 8 Gambar 7.7 Beban hidup (ql) balok portal As-1 3. Pembebanan Balok Portal As 3 Gambar 7.8 Balok portal As-3 a. Pembebanan balok induk element A-B = B-C = C-D = E-F = F-G = G-H Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1730,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,04) + (1,6.210) = 2412,05 kg/m
166 9 Gambar 7.9 Beban mati (qd) balok portal As-3 4. Pembebanan Balok Portal Z-Z Gambar 7.10 Beban hidup (ql) balok portal As-3 Gambar 7.11 Balok portal Z-Z a. Pembebanan balok induk element Z-Z Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,49 = 201,39 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1586,19 kg/m Beban hidup (ql) ql = ,49 = 122,5 kg/m
167 10 Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,19) + (1,6.122,5) = 2099,43 kg/m Gambar 7.12 Beban mati (qd) balok portal Z-Z Gambar 7.13 Beban hidup (ql) balok portal Z-Z 5. Pembebanan Balok Portal As 4 Gambar 7.14 Balok portal As-4
168 11 a. Pembebanan balok induk element AB = BC = CD = EF = FG = GH Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,36) = 320,58 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1705,38 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,36) = 195 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,38) + (1,6. 195) = 2358,46 kg/m b. Pembebanan balok induk element D-E Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,49 + 0,42 + 0,42) = 546,63 kg/m + qd = 911,43 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 (0,49 + 0,42 + 0,42) = 332,5 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 911,43) + (1,6. 332,5 ) = 1625,72 kg/m
169 12 Gambar 7.15 Beban mati (qd) balok portal As-4 Gambar 7.16 Beban hidup (ql) balok portal As-4 5. Pembebanan Balok Portal As 5 Gambar 7.17 Balok portal As-5 a. Pembebanan balok induk element C-D = D-E = E-F Beban Mati (qd)
170 13 Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m + qd = 710,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1,2. 710,04) + (1,6. 210) = 1188,05 kg/m Gambar 7.18 Beban mati (qd) balok portal As-5 Gambar 7.19 Beban hidup (ql) balok portal As Pembebanan Balok Portal Melintang
171 14 1. Pembebanan Balok Portal As-A = H Gambar 7.20 Balok portal As-A a. Pembebanan balok induk element 1-2 = 2-3 = 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1635,51 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250.0,61 = 152,5 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,51) + (1,6. 152,5) = 2206,61 kg/m Gambar 7.21 Beban mati (qd) balok portal As-A
172 15 Gambar 7.22 Beban hidup (ql) balok portal As-A 2. Pembebanan Balok Portal As-B = G Gambar 7.23 Balok portal As-B a. Pembebanan balok induk element 1-2 = 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (2. 0, ,6) = 904,2 kg/m Berat dinding = = 1020 kg/m + qd = 2289 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (2. 0, ,6) = 425 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ) + (1,6. 425) = 4172,4 kg/m b. Pembebanan balok induk element 23 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m
173 16 Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m + qd Beban hidup (ql) ql = ,61 = 152,5 kg/m = 615,51 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = 1,2. 615,51 + 1,6. 152,5 = 1167,82 kg/m Gambar 7.24 Beban mati (qd) balok portal As-B Gambar 7.25 Beban hidup (ql) balok portal As-B
174 17 3. Pembebanan Balok Portal As C = F Gambar 7.26 Balok portal As-C a. Pembebanan balok induk element 1-2 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,61) = 501,42 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1886,22 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,22) + (1,6. 305) = 2751,46 kg/m b. Pembebanan balok induk element 2-3 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,61) = 501,42 kg/m + qd = 866,22 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,61) = 305 kg/m
175 18 Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 866,22) + (1,6. 305) = 1527,46 kg/m c. Pembebanan balok induk element 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,6 + 0,25) = 600,06 kg/m Berat dinding = = 1020 kg/m + qd = 1984,86 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,6 + 0,25) = 365 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu3 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2.1984,86) + (1,6. 365) = 1304,07 kg/m d. Pembebanan balok induk element 4-5 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m + qd = 615,51 kg/m Beban hidup (ql) ql = ,61 = 152,5 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu4 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 615,51) + (1,6. 152,5) = 982,61 kg/m
176 19 Gambar 7.27 Beban mati (qd) balok portal As-C Gambar 7.28 Beban hidup (ql) balok portal As-C 4. Pembebanan Balok Portal As D = E Gambar 7.29 Balok portal As-D a. Pembebanan balok induk element 1-2 Beban Mati (qd)
177 20 Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,61) = 501,42 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,22) + (1,6. 305) = 2751,46 kg/m qd = 1886,22 kg/m b. Pembebanan balok induk element 2-3 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m + Beban hidup (ql) ql = ,61 = 152,5 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 615,51) + (1,6. 152,5) = 982,61 kg/m qd = 615,51 kg/m c. Pembebanan balok induk element 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,33 +0,61) = 386,34 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1771,14 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,33 +0,61) = 235 kg/m Beban berfaktor (qu2)
178 21 qu3 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,14) + (1,6. 235) = 2501,37 kg/m d. Pembebanan balok induk element 4-5 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 +0,61) = 501,42 kg/m + qd = 866,22 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 +0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu4 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 866,22) + (1,6. 305) = 1089,70 kg/m Gambar 7.30 Beban mati (qd) balok portal As-D
179 22 Gambar 7.31 Beban hidup (ql) balok portal As-D 7.3. Penulangan Balok Portal Perhitungan Tulangan Lentur Rink Balk a. Daerah Tumpuan Data perencanaan : h = 400 mm b = 300 mm p = 40 mm fy = 380 Mpa f c = 25 MPa Ø t = 16 mm Ø s = 8 mm d = h - p - Ø s - Ø t jrk min tul 1/2 Ø t = = 303 mm 0,85.f'c.β 600 b = fy 600 fy 0, , = = 0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0,02183
180 23 1,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 255 Mu = 14328,86 kgm = 14, Nmm Mn = Mu 14,33.10 = φ 0, 8 7 = 17, Nmm 7 Mn 17,91.10 Rn = 6, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17,882 =0, ,5.17, > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,0211 As perlu =. b. d = 0, = 1917,99 mm 2 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,99 200,96 = 9,5 10 tulangan As = 10 x 200,96 = 2009,6 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 10 D 16 mm b. Daerah Lapangan
181 24 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 400, Mu = 15910,64 kgm = 15, Nmm Mn = Mu 15,91.10 = φ 0, 8 7 = 19, Nmm 7 Mn 19,89.10 Rn = 7, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 m m.Rn fy = 1 17,882 = 0,0243 min < 1 1 Digunakan = 0,0243 As perlu =. b. d = 0, = 2208,87 mm ,882.7, Digunakan tulangan D 16 n = As perlu = 10 tulangan 2208,87 200,96 As = 10 x 200,96 = 2009,6 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 10 D 16 mm Perhitungan Tulangan Geser Rink Balk Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 255 Vu = 12841,91 kg = ,1 N
182 25 Vc = 1/6. f ' c. b. d Ø Vc = 1/ = N = 0, N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = , = 82969,1 N Vs 0, ,1 = 0,6 = ,83 N Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 52, 87 mm Vs perlu ,83 S max = d/2 = 303/2 =151,5 mm Jadi dipakai sengkang minimum dengan tulangan Ø 8 50 mm Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Memanjang Daerah Tumpuan Data perencanaan : h = 500 mm Ø t = 16 mm b = 400 mm Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 380 Mpa = ½ f c = 25 MPa = 444 mm
183 26 0,85.f'c.β 600 b = fy 600 fy 0, , = =0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 254 Mu = 15890,28 kgm = 15, Nmm Mn = Mu 15,89.10 = φ 0, 8 = 19, Nmm 7 Mn 15,89.10 Rn = 2, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882.2,52 = 1 1 0, , > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,0071 As perlu =. b. d = 0, = 1260,96 mm 2
184 27 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,96 200,96 As = 7 x 200,96 = 1406,72 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 7 D 16 mm = 6,27 7 tulangan Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 419 Mu = 12985,80 kgm = 12, Nmm Mn = Mu 12,99.10 = φ 0, 8 = 16, Nmm 7 Mn 16,24.10 Rn = 2, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882.2,06 = 1 1 0, , > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan min = 0,0057 As perlu =. b. d = 0, = 1012,32 mm 2 Digunakan tulangan D 16
185 n = Tugas Akhir 28 As perlu ,32 200,96 As = 6 x 200,96 = 1205,76 mm As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 6 D 16 mm = 5,04 6 tulangan Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Memanjang Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 251 Vu f c fy d = 14728,29 kg = ,9 N = 25 Mpa = 240 Mpa = 444 mm Vc = 1/6. f ' c. b. d = 1/ = N Ø Vc = 0, N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc, maka diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = , = 58482,9 N Vs 0, ,9 = 0,6 = 97471,5 N Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 109, 91 mm Vs perlu 97471,5 S max = d/2 = 444/2
186 29 =222 mm Jadi dipakai sengkang minimum dengan tulangan Ø mm Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Melintang Daerah Tumpuan Data perencanaan : h = 500 mm Ø t = 16 mm b = 400 mm Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p Ø s ½ Ø t fy = 380 Mpa = ½ 16 f c = 25 MPa = 444 mm 0,85.f'c.β 600 b = fy 600 fy 0, , = = 0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 374 Mu = 7998,73 kgm = Nmm Mn = Mu 8.10 = φ 0, 8 = Nmm Rn 7 Mn = 2 2 b.d , 27 7
187 30 fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882.1,27 = 1 1 0, , > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 653,57 mm 2 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,57 200,96 = 3,25 4 tulangan As = 4 x 200,96 = 803,84 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 4 D 16 mm Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 299 Mu = 5920,18 kgm = 5, Nmm Mn = Mu 5,92.10 = φ 0, 8 7 = 7, Nmm 7 Mn 7,4.10 Rn = 0, b.d
188 31 fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882. 0,94 = 1 1 0, , < min Digunakan min = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 653,57 mm 2 Digunakan tulangan Ø 16 n = As perlu ,57 200,96 As = 4 x 200,96 = 803,84 = 3,25 4 tulangan As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 4 D 16 mm Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Melintang Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 374 Vu f c fy d = 10656,35 kg =106563,5 N = 25 Mpa = 240 Mpa = 444 mm Vc = 1/6. f ' c. b. d = 1/ = N Ø Vc = 0, N = N 3 Ø Vc = N = N
189 32 Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc digunakan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = , = 17763,5 N Vs 0, ,5 = 0,6 = 29605,83 N Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 361, 84 mm Vs perlu 29605,83 S max = d/2 = 444/2 = 222 mm 200 mm Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm 7.4. Penulangan Kolom Perhitungan Tulangan Lentur Data perencanaan : b = 400 mm h = 400 mm f c = 25 MPa fy = 380 MPa ø tulangan =16 mm ø sengkang = 8 mm p (tebal selimut) = 40 mm Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya terbesar pada batang nomor 34 Pu = kg = N Mu = 274,03 kgm = 0, Nmm d = h s ø sengkang ½ ø tulangan = ½.16 = 344 mm
190 d = h d Tugas Akhir 33 = = 56 mm 7 Mu 0,27.10 e = 3, 82mm Pu e min = 0,1.h = 0, = 40 mm cb =. d , fy ab = β 1.cb = 0,85.210,612 = 179,02 Pn b = 0,85.f c.ab.b = 0, , = N Pn perlu = Pu 5 ; 0,1. f ' c. Ag 0, N karena Pu = N > 0,1. f ' c. Ag, maka Ø = 0,65 Pu Pn perlu = , 15N 0,65 Pn perlu < Pn b analisis keruntuhan tarik Pn ,15 a = 127, 96 0,85. f ' c. b 0, As = h a ,96 Pnperlu e , fy d d' As t = 1 % Ag =0, = 1600 mm 2 Menghitung jumlah tulangan 954,27 n = 4, (16) 5 tulangan 2 4 As ada = 5. ¼. π = 1004,8mm 2 > 978,15 mm 2 As ada > As perlu.. Ok! 954,27 mm 2
191 34 Jadi dipakai tulangan 5 D Perhitungan Tulangan Geser Kolom Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 36 Vu = 2178,43 kgm = 21784,3 N Vc = 1/6. f ' c.b.d Vc = 1/ = ,67 N = 0,6. Vc = N 0,5 Vc = N Vu < 0,5 Vc tidak perlu tulangan geser S max = d/2 = 444/2 = 222 mm 200 mm Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm 7.5. Penulangan Sloof Perhitungan Tulangan Lentur Sloof Daerah Tumpuan Data perencanaan : b = 200 mm d = h p Ø s - ½Ø t h = 300 mm = ½16 f c = 25 Mpa = 244 mm fy = 380 Mpa 0,85. f ' c 600 b fy 600 fy
192 35 0, , = 0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 214 Mu = 3445,6 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 3,45.10 = φ 0, 8 = 4, Nmm 7 Mn 4,31.10 Rn = 2 2 b. d = 3,62 fy 380 m = 17, 882 0,85 f ' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = ,882 = 0, ,882.3, > min < max Digunakan = 0,0105 As =. b. d = 0, = 512,4 mm 2
193 36 Digunakan tulangan Ø 16 n = 512,4 = 2,53 3 tulangan 1 2 (16 ) 4 As = 3 x 200,96 = 602,88 mm 2 As >As maka sloof aman Ok! Jadi dipakai tulangan 3 D 16 mm Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 196 Mu = 1726,58 kgm = 1, Nmm Mn = Mu 1,73.10 = φ 0, 8 = 2, Nmm 7 Mn 2,16.10 Rn = 2 2 b. d = 1,82 fy 380 m = 17, 882 0,85 f ' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17,882 = 0, ,882.1, > min < max Digunakan = 0,005 As =. b. d = 0, = 244,7 mm 2 Digunakan tulangan Ø 16
194 n = Tugas Akhir ,7 = 1,22 2 tulangan 1 2 (16 ) 4 As = 2 x 200,96 = 401,92 mm 2 As >As maka sloof aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 mm Perhitungan Tulangan Geser Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser pada batang nomor 298, Vu = 4037,92 kg = 40379,2 N Vc = 1/6. f ' c. b. d =1/ = 40666,67 N Ø Vc = 0, ,67 N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = 40379, = 15979,2 N Vs 0,6 = N 15979,2 = 0,6 Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 221, 05 mm Vs perlu 15979,2 S max = d/2 = 244/2 = 122 mm 120 mm Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm
195 38 BAB 7 PORTAL 8.1. Perencanaan Portal Gambar 7.1 Denah Portal Menentukan Dimensi Perencanaan Portal Pembatasan Ukuran Balok Portal Berdasarkan SK SNI T tentang pembatasan tebal minimum dimensi balok sebagai berikut : L 5000 L ,1 mm 238,1 mm L 5000 L ,082mm 204,082mm 24,5 24,5 24,5 24,5 L 5000 L ,6mm 178,6mm L 5000 L ,55 mm 454, Beban atap 143
196 39 Dari perhitungan SAP 2000 Reaksi tumpuan setengah kuda kuda = 2780,63 kg Reaksi tumpuan jurai = 2890,28 kg Reaksi kuda-kuda utama A = 17550,86 kg Reaksi kuda-kuda utama B = 7752,41 kg Rencana Dimensi Portal Rink balk = 300 mm x 400 mm Kolom = 400 mm x 400 mm Balok arah memanjang = 400 mm x 500 mm Balok arah melintang = 400 mm x 500 mm Sloof = 200 mm x 300 mm Beban Balok Portal a. Beban rink balk Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,3. 0, = 288 kg/m Beban berfaktor (qu) = 1,2. qd + 1,6. ql = 1, ,6. 0 = 345,6 kg/m b. Beban Sloof Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,2. 0, = 144 kg/m Beban dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1164 kg/m Beban berfaktor (qu) qu = 1,2. qd + 1,6. ql
197 40 = 1, , = 1796,8 kg/m 7.4. Perhitungan Beban Equivalent Plat Lebar Equivalent 1 Plat type 1 Leq =. Lx 3 1 =.1,25 0, 42 m Lx Plat type 2 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly 1 0,75.0,753 4( ) 2 0,36 m ,5 1 Plat type 3 Leq =. Lx 3 1 =.0,75 0, 25 m Lx Plat type 4 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly 1 1,25.1,253 4( ) 2 0,6 m ,5 1 Lx Plat type 5 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly 1 1,25.1,25 3 4( ) 2 0,61 m Plat type 6 Leq =. Lx 3 1 =.1 0, 33 m 2 3
198 41 1 Lx Plat type 7 Leq = 2 Lx 3 4( ) 6 2Ly ( ) 2 0,49 m Pembebanan Balok Portal Memanjang 1. Pembebanan Balok Portal As-1 Gambar 7.2 Balok portal As-1 a. Pembebanan balok induk element A-B = B-C = F-G = G-H Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,36) = 320,58 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,36) = 195 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,38 ) + (1,6. 195) = 2358,46 kg/m b. Pembebanan balok induk element C-D = E-F Beban Mati (qd) qd = 1705,38 kg/m Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1730,04 kg/m
199 42 Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu2 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,04) + (1,6. 210) = 2412,05 kg/m c. Pembebanan balok induk element D-E Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu3 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1,2. 710,04 ) + (1,6. 210) = 1188,05 kg/m qd = 710,04 kg/m
200 43 Gambar 7.3 Beban mati (qd) balok portal As-1 Gambar 7.4 Beban hidup (ql) balok portal As-1 2. Pembebanan Balok Portal As-2 Gambar 7.5 Balok portal As-2 a. Pembebanan balok induk element A-B = B-C = F-G = G-H Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1730,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0, ,42) = 210 kg/m
201 44 Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,04) + (1,6. 210) = 2412,05 kg/m b. Pembebanan balok induk element C-D = E-F Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,42. 4 = 690,48 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 2075,28 kg/m Beban hidup (ql) ql = = 420 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,28) + (1,6. 420) = 3162,34 kg/m c. Pembebanan balok induk element DE Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m + qd = 710,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. ( ,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 710,04) + (1,6. 210) = 1188,05 kg/m
202 45 Gambar 7.6 Beban mati (qd) balok portal As-1 Gambar 7.7 Beban hidup (ql) balok portal As-1 3. Pembebanan Balok Portal As 3 Gambar 7.8 Balok portal As-3 a. Pembebanan balok induk element A-B = B-C = C-D = E-F = F-G = G-H Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1730,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 (0,42 + 0,42) = 210 kg/m
203 46 Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,04) + (1,6.210) = 2412,05 kg/m Gambar 7.9 Beban mati (qd) balok portal As-3 4. Pembebanan Balok Portal Z-Z Gambar 7.10 Beban hidup (ql) balok portal As-3 Gambar 7.11 Balok portal Z-Z a. Pembebanan balok induk element Z-Z Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m
204 47 Berat pelat lantai = ,49 = 201,39 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1586,19 kg/m Beban hidup (ql) ql = ,49 = 122,5 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,19) + (1,6.122,5) = 2099,43 kg/m Gambar 7.12 Beban mati (qd) balok portal Z-Z Gambar 7.13 Beban hidup (ql) balok portal Z-Z 5. Pembebanan Balok Portal As 4
205 48 Gambar 7.14 Balok portal As-4 a. Pembebanan balok induk element AB = BC = CD = EF = FG = GH Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,36) = 320,58 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1705,38 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,36) = 195 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,38) + (1,6. 195) = 2358,46 kg/m b. Pembebanan balok induk element D-E Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,49 + 0,42 + 0,42) = 546,63 kg/m + qd = 911,43 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250 (0,49 + 0,42 + 0,42) = 332,5 kg/m
206 49 Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 911,43) + (1,6. 332,5 ) = 1625,72 kg/m Gambar 7.15 Beban mati (qd) balok portal As-4 Gambar 7.16 Beban hidup (ql) balok portal As-4 5. Pembebanan Balok Portal As 5
207 50 Gambar 7.17 Balok portal As-5 a. Pembebanan balok induk element C-D = D-E = E-F Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,42 + 0,42) = 345,24 kg/m + qd = 710,04 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,42 + 0,42) = 210 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1,2. 710,04) + (1,6. 210) = 1188,05 kg/m Gambar 7.18 Beban mati (qd) balok portal As-5
208 51 Gambar 7.19 Beban hidup (ql) balok portal As Pembebanan Balok Portal Melintang 1. Pembebanan Balok Portal As-A = H Gambar 7.20 Balok portal As-A b. Pembebanan balok induk element 1-2 = 2-3 = 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1635,51 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250.0,61 = 152,5 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2. qd + 1,6. ql = (1, ,51) + (1,6. 152,5) = 2206,61 kg/m
209 52 Gambar 7.21 Beban mati (qd) balok portal As-A Gambar 7.22 Beban hidup (ql) balok portal As-A 2. Pembebanan Balok Portal As-B = G Gambar 7.23 Balok portal As-B a. Pembebanan balok induk element 1-2 = 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (2. 0, ,6) = 904,2 kg/m Berat dinding = = 1020 kg/m + qd = 2289 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (2. 0, ,6) = 425 kg/m Beban berfaktor (qu1)
210 53 qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ) + (1,6. 425) = 4172,4 kg/m b. Pembebanan balok induk element 23 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m + qd Beban hidup (ql) ql = ,61 = 152,5 kg/m = 615,51 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = 1,2. 615,51 + 1,6. 152,5 = 1167,82 kg/m Gambar 7.24 Beban mati (qd) balok portal As-B
211 54 Gambar 7.25 Beban hidup (ql) balok portal As-B 3. Pembebanan Balok Portal As C = F Gambar 7.26 Balok portal As-C a. Pembebanan balok induk element 1-2 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,61) = 501,42 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + qd = 1886,22 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,22) + (1,6. 305) = 2751,46 kg/m
212 55 b. Pembebanan balok induk element 2-3 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,61) = 501,42 kg/m + qd = 866,22 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 866,22) + (1,6. 305) = 1527,46 kg/m c. Pembebanan balok induk element 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,6 + 0,25) = 600,06 kg/m Berat dinding = = 1020 kg/m + qd = 1984,86 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,6 + 0,25) = 365 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu3 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2.1984,86) + (1,6. 365) = 1304,07 kg/m d. Pembebanan balok induk element 4-5 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m + qd = 615,51 kg/m Beban hidup (ql)
213 56 ql = ,61 = 152,5 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu4 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 615,51) + (1,6. 152,5) = 982,61 kg/m Gambar 7.27 Beban mati (qd) balok portal As-C Gambar 7.28 Beban hidup (ql) balok portal As-C 4. Pembebanan Balok Portal As D = E
214 57 Gambar 7.29 Balok portal As-D a. Pembebanan balok induk element 1-2 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 + 0,61) = 501,42 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 + 0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu1) qu1 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,22) + (1,6. 305) = 2751,46 kg/m qd = 1886,22 kg/m b. Pembebanan balok induk element 2-3 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = ,61 = 250,71 kg/m + Beban hidup (ql) ql = ,61 = 152,5 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu2 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 615,51) + (1,6. 152,5) = 982,61 kg/m qd = 615,51 kg/m c. Pembebanan balok induk element 3-4 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m
215 58 Berat pelat lantai = 411. (0,33 +0,61) = 386,34 kg/m Berat dinding = 0, = 1020 kg/m + Beban hidup (ql) ql = 250. (0,33 +0,61) = 235 kg/m qd = 1771,14 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu3 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1, ,14) + (1,6. 235) = 2501,37 kg/m d. Pembebanan balok induk element 4-5 Beban Mati (qd) Beban sendiri balok = 0,4. (0,5 0,12) = 364,8 kg/m Berat pelat lantai = 411. (0,61 +0,61) = 501,42 kg/m + qd = 866,22 kg/m Beban hidup (ql) ql = 250. (0,61 +0,61) = 305 kg/m Beban berfaktor (qu2) qu4 = 1,2 qd + 1,6 ql = (1,2. 866,22) + (1,6. 305) = 1089,70 kg/m Gambar 7.30 Beban mati (qd) balok portal As-D
216 59 Gambar 7.31 Beban hidup (ql) balok portal As-D 7.5. Penulangan Balok Portal Perhitungan Tulangan Lentur Rink Balk a. Daerah Tumpuan Data perencanaan : h = 400 mm b = 300 mm p = 40 mm fy = 380 Mpa f c = 25 MPa Ø t = 16 mm Ø s = 8 mm d = h - p - Ø s - Ø t jrk min tul 1/2 Ø t = = 303 mm 0,85.f'c.β 600 b = fy 600 fy
217 60 0, , = = 0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 255 Mu = 14328,86 kgm = 14, Nmm Mn = Mu 14,33.10 = φ 0, 8 7 = 17, Nmm 7 Mn 17,91.10 Rn = 6, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17,882 =0, ,5.17, > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,0211 As perlu =. b. d = 0, = 1917,99 mm 2 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,99 200,96
218 61 = 9,5 10 tulangan As = 10 x 200,96 = 2009,6 mm 2 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 10 D 16 mm b. Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 400, Mu = 15910,64 kgm = 15, Nmm Mn = Mu 15,91.10 = φ 0, 8 7 = 19, Nmm 7 Mn 19,89.10 Rn = 7, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 m m.Rn fy = 1 17,882 = 0,0243 min < 1 1 Digunakan = 0,0243 As perlu =. b. d = 0, = 2208,87 mm ,882.7, Digunakan tulangan D 16 n = As perlu = 10 tulangan 2208,87 200,96 As = 10 x 200,96 = 2009,6 mm 2 As > As.aman Ok!
219 62 Jadi dipakai tulangan 10 D 16 mm Perhitungan Tulangan Geser Rink Balk Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 255 Vu = 12841,91 kg = ,1 N Vc = 1/6. f ' c. b. d Ø Vc = 1/ = N = 0, N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = , = 82969,1 N Vs 0, ,1 = 0,6 = ,83 N Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 52, 87 mm Vs perlu ,83 S max = d/2 = 303/2 =151,5 mm Jadi dipakai sengkang minimum dengan tulangan Ø 8 50 mm Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Memanjang Daerah Tumpuan
220 Data perencanaan : h = 500 mm b = 400 mm p = 40 mm Tugas Akhir 63 Ø t = 16 mm Ø s = 8 mm d = h - p - 1/2 Ø t - Ø s fy = 380 Mpa = ½ f c = 25 MPa = 444 mm 0,85.f'c.β 600 b = fy 600 fy 0, , = =0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 254 Mu = 15890,28 kgm = 15, Nmm Mn = Mu 15,89.10 = φ 0, 8 = 19, Nmm 7 Mn 15,89.10 Rn = 2, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882.2,52 = 1 1 0, , > min
221 64 < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,0071 As perlu =. b. d = 0, = 1260,96 mm 2 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,96 200,96 As = 7 x 200,96 = 1406,72 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 7 D 16 mm = 6,27 7 tulangan Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 419 Mu = 12985,80 kgm = 12, Nmm Mn = Mu 12,99.10 = φ 0, 8 = 16, Nmm 7 Mn 16,24.10 Rn = 2, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882.2,06 = 1 1 0, , > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan min = 0,0057
222 65 As perlu =. b. d = 0, = 1012,32 mm 2 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,32 200,96 As = 6 x 200,96 = 1205,76 mm As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 6 D 16 mm = 5,04 6 tulangan Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Memanjang Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 251 Vu f c fy d = 14728,29 kg = ,9 N = 25 Mpa = 240 Mpa = 444 mm Vc = 1/6. f ' c. b. d = 1/ = N Ø Vc = 0, N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc, maka diperlukan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = , = 58482,9 N Vs 0, ,9 = 0,6 = 97471,5 N Av = 2. ¼ (8) 2
223 66 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 109, 91 mm Vs perlu 97471,5 S max = d/2 = 444/2 =222 mm Jadi dipakai sengkang minimum dengan tulangan Ø mm Perhitungan Tulangan Lentur Balok Portal Melintang Daerah Tumpuan Data perencanaan : h = 500 mm Ø t = 16 mm b = 400 mm Ø s = 8 mm p = 40 mm d = h - p Ø s ½ Ø t fy = 380 Mpa = ½ 16 f c = 25 MPa = 444 mm 0,85.f'c.β 600 b = fy 600 fy 0, , = = 0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 374 Mu = 7998,73 kgm = Nmm
224 Mn = Tugas Akhir 67 Mu 8.10 = φ 0, 8 = Nmm 7 Mn Rn = 1, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882.1,27 = 1 1 0, , > min < max dipakai tulangan tunggal Digunakan = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 653,57 mm 2 Digunakan tulangan D 16 n = As perlu ,57 200,96 = 3,25 4 tulangan As = 4 x 200,96 = 803,84 As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 4 D 16 mm Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 299
225 68 Mu = 5920,18 kgm = 5, Nmm Mn = Mu 5,92.10 = φ 0, 8 7 = 7, Nmm 7 Mn 7,4.10 Rn = 0, b.d fy 380 m = 17, 882 0,85.f' c 0,85.25 = 1 1 m 1 2.m.Rn fy ,882. 0,94 = 1 1 0, , < min Digunakan min = 0,00368 As perlu =. b. d = 0, = 653,57 mm 2 Digunakan tulangan Ø 16 n = As perlu ,57 200,96 As = 4 x 200,96 = 803,84 = 3,25 4 tulangan As > As.aman Ok! Jadi dipakai tulangan 4 D 16 mm Perhitungan Tulangan Geser Balok Portal Melintang Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 374 Vu = 10656,35 kg =106563,5 N f c = 25 Mpa fy = 240 Mpa d = 444 mm
226 69 Vc = 1/6. f ' c. b. d = 1/ = N Ø Vc = 0, N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc digunakan tulangan geser Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = , = 17763,5 N Vs 0, ,5 = 0,6 = 29605,83 N Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2 Av.fy.d 100, S = 361, 84 mm Vs perlu 29605,83 S max = d/2 = 444/2 = 222 mm 200 mm Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm 7.4. Penulangan Kolom Perhitungan Tulangan Lentur Data perencanaan : b = 400 mm h = 400 mm f c = 25 MPa fy = 380 MPa ø tulangan =16 mm ø sengkang = 8 mm p (tebal selimut) = 40 mm Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya terbesar pada batang nomor 34
227 Pu Tugas Akhir 70 = kg = N Mu = 274,03 kgm = 0, Nmm d = h s ø sengkang ½ ø tulangan = ½.16 = 344 mm d = h d = = 56 mm 7 Mu 0,27.10 e = 3, 82mm Pu e min = 0,1.h = 0, = 40 mm cb =. d , fy ab = β 1.cb = 0,85.210,612 = 179,02 Pn b = 0,85.f c.ab.b = 0, , = N Pn perlu = Pu 5 ; 0,1. f ' c. Ag 0, N karena Pu = N > 0,1. f ' c. Ag, maka Ø = 0,65 Pu Pn perlu = , 15N 0,65 Pn perlu < Pn b analisis keruntuhan tarik Pn ,15 a = 127, 96 0,85. f ' c. b 0, As = h a ,96 Pnperlu e , fy d d' As t = 1 % Ag =0, = 1600 mm 2 Menghitung jumlah tulangan 954,27 mm 2
228 71 954,27 n = 4, (16) 5 tulangan 2 4 As ada = 5. ¼. π = 1004,8mm 2 > 978,15 mm 2 As ada > As perlu.. Ok! Jadi dipakai tulangan 5 D Perhitungan Tulangan Geser Kolom Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser terbesar pada batang nomor 36 Vu = 2178,43 kgm = 21784,3 N Vc = 1/6. f ' c.b.d Vc = 1/ = ,67 N = 0,6. Vc = N 0,5 Vc = N Vu < 0,5 Vc tidak perlu tulangan geser S max = d/2 = 444/2 = 222 mm 200 mm Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm 7.5. Penulangan Sloof Perhitungan Tulangan Lentur Sloof Daerah Tumpuan Data perencanaan : b = 200 mm d = h p Ø s - ½Ø t h = 300 mm = ½16 f c = 25 Mpa = 244 mm
229 72 fy = 380 Mpa 0,85. f ' c 600 b fy 600 fy 0, , = 0,02910 max = 0,75. b = 0,75. 0,02910 = 0, ,4 1,4 min = 0, fy 380 Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 214 Mu = 3445,6 kgm = 3, Nmm Mn = Mu 3,45.10 = φ 0, 8 = 4, Nmm 7 Mn 4,31.10 Rn = 2 2 b. d = 3,62 fy 380 m = 17, 882 0,85 f ' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = ,882 = 0, ,882.3, > min < max Digunakan = 0,0105
230 73 As =. b. d = 0, = 512,4 mm 2 Digunakan tulangan Ø ,4 n = = 2,53 3 tulangan 1 2 (16 ) 4 As = 3 x 200,96 = 602,88 mm 2 As >As maka sloof aman Ok! Jadi dipakai tulangan 3 D 16 mm Daerah Lapangan Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh momen terbesar pada batang nomor 196 Mu = 1726,58 kgm = 1, Nmm Mn = Mu 1,73.10 = φ 0, 8 = 2, Nmm 7 Mn 2,16.10 Rn = 2 2 b. d = 1,82 fy 380 m = 17, 882 0,85 f ' c 0, = 1 1 m 1 2.m.Rn fy = 1 17,882 = 0, ,882.1, > min < max Digunakan = 0,005
231 As =. b. d Tugas Akhir 74 = 0, = 244,7 mm 2 Digunakan tulangan Ø 16 n = 244,7 = 1,22 2 tulangan 1 2 (16 ) 4 As = 2 x 200,96 = 401,92 mm 2 As >As maka sloof aman Ok! Jadi dipakai tulangan 2 D 16 mm Perhitungan Tulangan Geser Dari Perhitungan SAP 2000 diperoleh gaya geser pada batang nomor 298, Vu = 4037,92 kg = 40379,2 N Vc = 1/6. f ' c. b. d =1/ = 40666,67 N Ø Vc = 0, ,67 N = N 3 Ø Vc = N = N Syarat tulangan geser : Ø Vc < Vu < 3Ø Vc Ø Vs = Vu - Ø Vc Vs perlu = = 40379, = 15979,2 N Vs 0,6 = N 15979,2 = 0,6 Av = 2. ¼ (8) 2 = 2. ¼. 3, = 100,531 mm 2
232 75 Av.fy.d 100, S = 221, 05 mm Vs perlu 15979,2 S max = d/2 = 244/2 = 122 mm 120 mm Jadi dipakai sengkang dengan tulangan Ø mm
233 Data Perencanaan BAB 8 PERENCANAAN PONDASI Pu Pu Mu Mu Gambar 8.1 Perencanaan Pondasi Untuk Footplat tipe 1 Direncanakan pondasi telapak dengan kedalaman 1,5 m ukuran 2,5 m x 2,5 m f, c = 25 Mpa fy = 380 Mpa σ tanah = 1,5 kg/cm 2 = kg/m 2 tanah = 1,7 t/m 3 = 1700 kg/m 3 γ beton = 2,4 t/m 2 Dari Perhitungan SAP 2000 footplat tipe 1 diperoleh pada batang nomor 34 : Pu = kg 182 Mu = 274,03 kgm Footplat tipe 2 diperoleh pada batang nomor 6 : Pu = 16739,53 kg Mu = 1622,42 kgm d = h p ½ tl - s =
234 2 = 332 mm 8.2. Perencanaan Kapasitas Dukung Pondasi Perhitungan kapasitas dukung pondasi Pembebanan pondasi Berat telapak pondasi =2,5 x 2,5 x 0,4 x 2400 = 6000 kg Berat tanah = {(2,5 2 x1,1) - (0,4 2 x1,1)}x1700 = 11388,3 kg Berat kolom = (0,4x0,4x1,1) x 2400 = 422,4 kg Pu = kg + P total = 88507,7 kg Ptot Mtot yang terjadi = A 1 2.b.L ,7 σ maksimum = 2,5.2,5 274,03 1/ 6.2,52,5 2 = 14266,46 kg/m ,7 σ minimum = 2,5.2,5 = 14056,005 kg/m 2 = σ tan ahterjadi 274,03 1/ 6.2,52,5 2 < ijin tanah...ok! Perhitungan kapasitas dukung pondasi Berat telapak pondasi = 1,5 x 1,5 x 0,4 x 2400 = 2160 kg Berat tanah = {(1,5 2 x1,1) - (0,4 2 x1,1)}x1700 = 4506,7 kg Berat kolom = (0,4x0,4x1,1) x 2400 = 422,4 kg Pu = 16739,53 kg + P total = 23828,63 kg
235 3 Ptot Mtot yang terjadi = A 1 2.b.L ,63 σ maksimum = 1,5.1,5 1622,42 1/ 6.1,5 1,5 2 = 13474,804 kg/m ,63 σ minimum = 1,5.1,5 1622,42 1/ 6.1,5 1,5 2 = 7706,2 kg/m 2 = σ tan ahterjadi < ijin tanah...ok! 8.3. Perhitungan Tulangan Lentur Mu = ½. qu. t 2 = ½. ( 14266,46 x 2,5). (1,25) 2 = 27864,18 kgm = 27, Nmm 7 27, Mn = 0,8 = 34, Nmm fy 380 m = 17, 882 0,85. f ' c 0, ,85. f'c 600 b = fy 600 fy 0, =.0, = 0,0291 Mn Rn = 2 b.d = 1,26 max = 0,75. b = 0, ,
236 4 min = 0, m. Rn perlu = 1 1 m fy ,882.1,26 =. 17, = 0,00342 perlu < min As perlu =. b. d = 0, = 3054,4 mm 2 digunakan tul 16 = ¼.. d 2 = ¼. 3,14. (16) 2 = 200,96 mm 2 Jumlah tulangan (n) = 3054,4 = 15,19 ~ 16 buah 200, Jarak tulangan = = 62,5 mm ~ 60 mm 16 Sehingga dipakai tulangan mm As yang timbul = 16 x 200,96 = 3215,36 mm 2 > As..ok! Untuk footplat tipe 2 diperoleh mm 8.4. Perhitungan Tulangan Geser Vu = x A efektif = 14266,46 x (0,4 x 2,5 ) = 14266,46 N Vc = 1/ 6. f'c. b. d = 1/ = ,67 N Vc = 0,6. Vc = 0, ,67 = N 3 Vc = N = N Vu < Vc < 3 Vc tidak perlu tulangan geser Untuk footplat tipe 1 dan 2 dipakai tulangan geser minimum Ø mm
237 5
238 1 BAB 9 RENCANA ANGGARAN BIAYA 9.1. Rencana Anggaran Biaya (RAB) Rencana anggaran biaya (RAB) adalah tolok ukur dalam perencanaan pembangunan, baik rumah tinggal, ruko, rukan, maupun gedung lainnya. Dengan RAB kita dapat mengukur kemampuan materi dan mengetahui jenis-jenis material dalam pembangunan, sehingga biaya yang kita keluarkan lebih terarah dan sesuai dengan yang telah direncanakan Data Perencanaan Secara umum data yang digunakan untuk perhitungan rencana anggaran biaya (RAB) adalah sebagai berikut : a. Analisa pekerjaan : Daftar analisa pekerjaan proyek kabupaten Sukoharjo b. Harga upah & bahan : Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta c. Harga satuan : terlampir 9.3. Perhitungan Volume Pekerjaan Pendahuluan A. Pekerjaan pembersihan lokasi Volume = panjang xlebar = 40 x 20 = 800 m 2 B. Pekerjaan pembuatan pagar setinggi 2m Volume = panjang = (2x42) + (2x22) = 128 m C. Pekerjaan pembuatan bedeng dan gudang Volume = panjang xlebar = (3x4) + (3x3) = 21 m D. Pekejaan bouwplank
239 2 Volume = (panjangx2) x(lebarx2) = (40x2) + (20x2) = 120 m Pekerjaan Pondasi A. Galian pondasi Footplat Volume = (panjang xlebar x tinggi) x n = (2,5x2,5x1,5)x40 = 375 m 3 Pondasi batu kali Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (0,7 x 0,65)x 251,5 = 114,43 m 3 Pondasi tangga Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (1,5x1)x 1,5 = 2,25 m 3 B. Urugan Pasir bawah Pondasi dan bawah lantai (t = 7 cm) Footplat Volume = (panjang xlebar x tinggi) x n = (2,5x2,5x0,07) x40 = 17,5 m 3 Pondasi batu kali Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (0,7x0,07)x 251,5 = 12,32 m 3 Pondasi tangga Volume = (lebar x tinggi) x panjang = (1,5x0,07)x 1,5 = 0,16 m 3 Lantai Volume = tinggi x luas lantai = 0,05 x 625 = 31,25 m 2 C. Lantai kerja (t = 3 cm) Footplat Volume = (panjang xlebar x tinggi) x n = (2,5x2,5x0,03)x 40 = 7,5 m 3 Pondasi batu kali Volume = (lebar x tinggi) x panjang
240 3 = (0,7x0,03)x 251,5 = 5,28 m 3 D. Urugan Tanah Galian Volume = V.tanah galian batu kali - lantai kerja - pasir urug = ( ,43) 77,65 - (7,5+5,28) - (17,5+8,8) = 372,7 m 3 E. Pondasi telapak Footplat Volume = (panjang xlebar x tinggi) x n = {(2,5x2,5x0,3)+(0,4x0,4x1,1)+( 2x½x1,05x0,1)}x 40 = 8,6 m 3 Footplat tangga Volume = panjang xlebar x tinggi = {(1,5x1,5x0,3)+(0,3x0,3x1,1)+( 2x½x0,6x0,1)} = 0,83 m Pekerjaan Beton A. Beton Sloof sloof Volume = (panjang x lebar) x panjang = (0,2x0,3) x 251,5 = 15,09 m 3 B. Balok induk 40/50 Volume = (tinggi x lebar)x panjang = (0,5x0,4)x 140 = 28 m 3 C. Balok anak I 50/34 Volume = (tinggi x lebar) x panjang = (0,5x0,34) x 110 = 18,7 m 3 D. Balok Anak II 25/17 Volume = tinggi xlebar x panjang = (0,25x0,17) x 25 = 1,06 m 3 E. Kolom utama Kolom 40/40 Volume = (panjang xlebarx tinggi) x n = (0,4x0,4x8)x 38
241 4 = 48,64 m 3 Kolom praktis 15/15 Volume = (panjang xlebarx tinggi) x n = (0,15x0,15x8)x 33 = 5,94 m 3 F. Ringbalk 40/30 Volume = (tinggi xlebar)x panjang = (0,4x0,3) x 140 = 16,8 m 3 G. Plat lantai (t =12 cm) Volume = luas lantai x tebal = 625 x 0,12 = 75 m 3 H. Plat kanopi (t = 12 cm) Volume = luas plat kanopi x tebal = (10x20)x 0,12 = 24 m 3 I. Tangga Volume = ((luas plat tangga x tebal)x 2) + plat bordes = (1,1 x 3 x 0,12) x2) + (235 x 0,93 x 1) x2 = 5,16 m Pekerjaan pemasangan Bata merah dan Pemlesteran A. Pasangan dinding bata merah Luas jendela = J1 + J2 + J3 + BV = (2x2,43) + (34x1,95) + (12x0,6) + (40x0,26) = 4, ,3 + 7,2 + 10,4 = 88,74 m 2 Luas Pintu = P1 + P2 + P3 + P4 = (2x14,55) + (2x5,45) + (16x2,38) + (18x2,13) = 29,1 + 10,9 + 38, ,34) = 116,42 m 2 Volume = tinggi x panjang (L.pintu+ l.jendela) = (8x226,5) (116, ,74) = 1606,84 m 2 B. Pemlesteran dan pengacian Volume = volume dinding bata merah x 2sisi
242 5 = 1606,84 x 2 = 3213,68 m Pekerjaan Pemasangan Kusen dan Pintu A. Pemasangan kusen dan Pintu Jumlah panjang = J1 + J2 + J3 + P1 + P2 + P2 + P3 + P4 = 12, , ,2 + 30, , ,4 = 473,64 m Volume = (tinggi x lebar)x panjang = (0,12 x 0,06) x 473,64 = 3,41 m 3 B. Pemasangan daun pintu dan jendela Luas daun pintu = P1 + P2 + P3 + P4 = (2,06x2,94)x2 + (2,06x2,44)x2 + (0,83x2,44)x16 + (0,73x2,44)x18 = 12, , , ,04 = 86,7 m 2 Luas daun jendela = J2 = 1,6 x 34 = 54,4 m 2 Volume = Luas daun pintu + Luas daun jendela = 86,7 + 54,4 = 141,1 m 2 C. Pasang kaca polos (t = 5mm) Luas tipe P1 = (0,85x2,76)x2 + (1,3x2,8)x2 = 23,94 m 2 P2 = ((0,85x2,26)x2)x2 = 7,68 m 2 P3 = (0,65x2,26)x16 = 23,5 m 2 J1 = (1,52x1,4)x2 = 4,26 m 2 J2 = (1,82x0,62)x34 = 38,37 m 2 J3 = (0,32x2,2)x12 = 8,7 m 2 Volume = luas P1 + P2 + P3 + J1 + J2 + J3 = 106,45 m 2 D. Pekerjaan Perlengkapan pintu Tipe p1 = 2 unit Tipe p2 = 2 unit Tipe p3 = 16 unit Tipe p4 = 18 unit
243 6 E. Pekerjaan Perlengkapan daun jendela Tipe j1 = 2 unit Tipe j2 = 34 unit Tipe j3 = 12 unit Pekerjaan Atap A. Pekerjaan kuda kuda Setengah kuda-kuda (doble siku ) panjang profil under = 12,99 m panjang profil tarik = 7,5 m panjang profil kaki kuda-kuda = 8,66 m panjang profil sokong = 10,79 m Volume = panjang = 39,94 x 2 = 79,88 m Jurai kuda-kuda (doble siku ) panjang profil under = 18,83 m panjang profil tarik = 10,6 m panjang profil kaki kuda-kuda = 11,2 m panjang profil sokong = 11,41 m Volume = panjang = 52,04 x 4 = 208,16 m Kuda-kuda B (doble siku ) panjang profil under = 19,48 m panjang profil tarik = 14,7 m panjang profil kaki kuda-kuda = 16,98 m panjang profil sokong = 19,06 m Volume = panjang x n = 70,22 x 3 = 210,66 m Kuda-kuda Utama A (doble siku ) panjang profil under = 19,48 m panjang profil tarik = 14,7 m panjang profil kaki kuda-kuda = 16,98 m panjang profil sokong = 19,06 m Volume = panjang x n = 70,22 x 2 = 140,44 m
244 7 Gording double lip channel ( ,2) panjang profil gording = 278,88 m Volume total profil kuda-kuda = 284,9 m Volume total profil kuda-kuda = 140,44 m Volume gording = 168,3 m B. Pekerjaan pasang kaso 5/7dan reng 2 / 3 Volume = luas atap = (17x37) = 629 m 2 C. Pekerjaan pasang Listplank Volume = keliling atap = (2x17) + (2x37) = 108 m D. Pekerjaan pasang genting Volume = luas atap = 17 x 37 = 629 m 2 E. Pasang bubungan genting/nok Volume = panjang = 20,15 m Pekerjaan Plafon A. Pembuatan dan pemasangan rangka plafon Volume = (panjang x lebar) x 2 = (35 x 15)x2 = 1050 m 2 B. Pasang plafon Volume = luas rangka plafon = 1050 m Pekerjaan keramik A. Pasang keramik 40/40 Volume = luas lantai 1 + luas lantai 2 = 455, ,72
245 8 = 903,78 m 2 B. Pasang keramik 20/20 (lantai kamar mandi) Volume = luas lantai 1 + luas lantai 2 = 38, ,73 = 70,08 m 2 C. Pasang keramik 20/25 (dinding kamar mandi) Volume = luas lantai 1 + luas lantai 2 = 72, = 183,6 m Pekerjaan sanitasi A. Pasang kloset duduk Volume = n = 18 unit B. Pasang bak fiber Volume = n = 18 unit C. Pasang wastafel Volume = n = 8 unit D. Pasang floordrain Volume = n = 18 unit E. Pasang tangki air 550l Volume = n = 4 unit Pekerjaan instalasi air A. Pekerjaan pengeboran titik air Volume = n = 1unit B. Pekerjaan saluran pembuangan Volume = panjang pipa = 158 m C. Pekerjaan saluran air bersih Volume = panjang pipa = 140 m D. Pekerjaan pembuatan septictank dan rembesan Galian tanah = septictank + rembesan
246 9 = (2,35x1,85)x2 + (0,4x1,5x1,25) = 9,445 m 3 Pemasangan bata merah Volume = panjang x tinggi = 8,4 x 2 = 1,68 m Pekerjaan instalasi Listrik A. Instalasi stop kontak Volume = n = 20 unit B. Titik lampu pijar 45 watt Volume = n = 15 unit pijar 25 watt Volume = n = 14 unit pijar 18 watt Volume = n = 20 unit C. Instalasi saklar Saklar single Volume = n = 36 unit Saklar double Volume = n = 10 unit Pekerjaan pengecatan A. Pengecatan dinding dalam dan plafon Volume dinding dalam = panjang x tinggi bidang cat)-(l.jendela+l. pintu) = ((226,5 x 8)-(183,6 + 88, ,42)) = 1423,24 m 2 volume plafon = luas plafon = 1050 m 2 Total volume = 1423, = 2473,24 m 2 B. Pengecatan dinding luar
247 10 Volume tampak depan dan samping = panjang x tinggi bidang cat) (L.jendela+L. pintu) = ((65 x 8) - (21, ,11)) = 498,47 m 2 Volume tampak belakang = panjang x tinggi bidang cat) (L.jendela+L. pintu) = ((40 x 8) - (10, ,55)) = 294,53 m 2 Total volume = 498, ,53 = 793 m 2 C. Pengecatan menggunakan Cat minyak (pada listplank) Volume = panjang x lebar papan = 108 x 0,15 = 16,2 m 2 D. Pengecatan menggunakan Cat melamik (pada kusen) Luas kusen = panjang x kayu 6/12 = 473,64 x 0,24 = 113,67 m 2 Luas daun pintu = 86,7 m 2 Luas daun jendela = 54,4 m 2 Total volume = 113, ,7 + 54,4 = 254,77 m 2
248 11 BAB 10 KESIMPULAN Dari hasil perencanaan dan perhitungan struktur bangunan yang telah dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Perencanaan struktur bangunan di Indonesia mengacu pada peraturan dan pedoman perencanaan yang berlaku di Indonesia. 2. Dalam merencanakan struktur bangunan, kualitas dari bahan yang digunakan sangat mempengaruhi kualitas struktur yang dihasilkan. 3. Perhitungan pembebanan digunakan batasan batasan dengan analisa statis equivalent. 4. Dari perhitungan diatas diperoleh hasil sebagai berikut : Perencanaan atap Kuda kuda utama A dipakai dimensi profil siku diameter baut 25,4 mm jumlah baut 4 Kuda kuda utama B dipakai dimensi profil siku diameter baut 25,4 mm jumlah baut 2 Setengah kuda kuda dipakai dimensi profil siku diameter baut 12,7 mm jumlah baut 2 Jurai dipakai dimensi profil siku diameter baut 12,7 mm jumlah baut 2 Perencanaan Tangga Tulangan lapangan yang digunakan Ø mm Tulangan geser yang digunakan Ø 8 90 mm Tulangan arah sumbu panjang yang digunakan pada pondasi Ø mm Tulangan arah sumbu pendek yang digunakan pada pondasi Ø mm Tulangan geser yang digunakan pada pondasi Ø mm Perencanaan plat lantai 200
249 12 Tulangan arah X Tulangan lapangan yang digunakan Ø mm Tulangan tumpuan yang digunakan Ø mm Tulangan arah Y Tulangan lapangan yang digunakan Ø mm Tulangan tumpuan yang digunakan Ø mm Perencanaan portal Perencanaan tulangan balok portal Arah Memanjang Tulangan tumpuan yang digunakan 7 D 16 mm Tulangan lapangan yang digunakan 6 D 16 mm Tulangan geser yang digunakan Ø mm Perencanaan tulangan balok portal Arah Melintang Tulangan tumpuan yang digunakan 4 D 16 mm Tulangan lapangan yang digunakan 4 D 16 mm Tulangan geser yang digunakan Ø mm Perencanaan Tulangan Kolom Tulangan tumpuan yang digunakan 5 D 16 mm Tulangan lapangan yang digunakan 5 D 16 mm Tulangan geser yang digunakan Ø mm Perencanaan Tulangan Ring Balk Tulangan tumpuan yang digunakan 10 D 16 mm Tulangan lapangan yang digunakan 11 D 16 mm Tulangan geser yang digunakan Ø 8 50 mm Perencanaan Tulangan Sloof
250 13 Tulangan tumpuan yang digunakan 3 D 16 mm Tulangan lapangan yang digunakan 2 D 16 mm Tulangan geser yang digunakan Ø mm Perencanaan pondasi portal Tulangan lentur yang digunakan D mm Tulangan geser yang digunakan Ø mm 5. Adapun Peraturan-peraturan yang digunakan sebagai acuan dalam penyelesaian analisis, diantaranya : a. Standar Nasional Indonesia Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI ), Direktorat Penyelidik Masalah Bangunan, Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Bandung. b. Standar Nasional Indonesia Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI ), Direktorat Penyelidik Masalah Bangunan, Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Bandung. c. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIUG), 1983, Cetakan ke-2, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Direktorat Jendral Cipta Karya Yayasan Lembaga Penyelidik Masalah Bangunan, Bandung. d. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Pembangunan Gedung, Departemen Pekerjaan Umum, Bandung. e. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI), 1984, Cetakan ke -2, Yayasan Lembaga Penyelidikan masalah bangunan. f. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI), 1971, N.1-2 Cetakan ke-7, Direktorat Penyelidik Masalah Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Bandung.
251 1 PENUTUP Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, dan hidayah-nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini dengan baik, lancar dan tepat pada waktunya. Tugas akhir ini dibuat berdasarkan atas teori-teori yang telah didapatkan dalam bangku perkuliahan maupun peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia. Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu bagi penyusun yang nantinya menjadi bekal yang berguna dan diharapkan dapat diterapkan dilapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang berhubungan di bangku perkuliahan. Dengan terselesaikannya Tugas Akhir ini merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi penyusun. Keberhasilan ini tidak lepas dari kemauan dan usaha keras yang disertai doa dan bantuan dari semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Penyusun sadar sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi kekurangan tersebut dapat dijadikan pelajaran yang berharga dalam penyusunan Tugas Akhir selanjutnya. Untuk itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya konstruktif dari pembaca. Akhirnya penyusun berharap semoga Tugas Akhir dengan judul Perencanaan Struktur Hotel 2 Lantai ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan semua Civitas Akademik Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta, serta para pembaca pada umumnya. Dan juga apa yang terkandung dalam Tugas Akhir ini dapat menambah pengetahuan dalam bidang konstruksi bagi kita semua. xix
252 1 DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2002, Standar Nasional Indonesia Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI ), Direktorat Penyelidik Masalah Bangunan, Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Bandung. Anonim, 2002, Standar Nasional Indonesia Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI ), Direktorat Penyelidik Masalah Bangunan, Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Bandung. Anonim, 1983, Peraturan Pembebanan Indonesia untuk bangunan Gedung (PPIUG), 1983, Cetakan ke-2, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Direktorat Jendral Cipta Karya Yayasan Lembaga Penyelidik Masalah Bangunan, Bandung. Anonim, 1984, Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI), 1984, Cetakan ke-2, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Direktorat Jendral Cipta Karya Yayasan Lembaga Penyelidik Masalah Bangunan, Bandung. xx
BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan
3 BAB DASAR TEORI.1. Dasar Perencanaan.1.1. Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun
Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa 2 lantai TUGAS AKHIR. Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I
Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa lantai A- TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR SALON FITNES DAN SPA LANTAI Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I.85060 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL
BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan
BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Dasar Perencanaan 2.1.1 Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SERBAGUNA 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SERBAGUNA 2 LANTAI TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program Studi DIII Teknik Sipil Jurusan
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI. Diajukan Oleh : DANNY ARIEF M I
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI Diajukan Oleh : DANNY ARIEF M I8506009 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET 00 i MOTTO Walaupun hidup
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO BUKU 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO BUKU 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program Studi Diploma III Teknik
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA DISTRO & CAFE 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA DISTRO & CAFE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Disusun sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN LANTAI Oleh: Fredy Fidya Saputra I.8505014 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET PROGRAM D III JURUSAN TEKNIK SIPIL SURAKARTA 009 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesatnya perkembangan dunia teknik sipil menuntut bangsa Indonesia untuk dapat menghadapi segala kemajuan dan tantangan. Hal itu dapat terpenuhi apabila sumber daya
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM DUA LANTAI. Tugas akhir. Sudarmono I
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM DUA LANTAI Tugas akhir Sudarmono I 85 07 061 Fakultas teknik jurusan teknik sipil Universitas sebelas maret 2010 MOTTO...Sesungguhnya Alloh tidak mengubah keadaan
PERENCANAAN KANTOR KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR
PERENCANAAN KANTOR KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO ELEKTRONIK 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO ELEKTRONIK LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program Studi Diploma III
GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI
digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia konstruksi saat ini semakin berkembang pesat, meningkatnya berbagai kebutuhan manusia akan pekerjaan konstruksi menuntut untuk terciptanya inovasi dan kreasi
BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan
BAB DASAR TEORI.1. Dasar Perencanaan.1.1. Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun beban
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RSUD 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RSUD LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program Studi D3 Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH DUA LANTAI
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH DUA LANTAI Disusun oleh: ANDI YUNIANTO NIM: I 8507035 PROGRAM D-III TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKRTA
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI TUGAS AKHIR
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ASRAMA MAHASISWA 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR Dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR Dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik
PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI TUGAS AKHIR Telah disetujui untuk dipertahankan di depan tim penguji sebagai persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya pada jurusan Teknik Sipil Dikerjakan
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM 2 LANTAI TUGAS AKHIR
perpustakaan.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Isi Laporan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan semakin pesatnya perkembangan dunia teknik sipil di Indonesia saat ini menuntut terciptanya sumber daya manusia yang dapat mendukung dalam bidang tersebut.
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH LANTAI Agus Supriyanto I.850033 D3 TEKNIK SIPIL GEDUNG FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET 011 iv v MOTTO Demi masa, sesungguhnya manusia
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN 2 LANTAI
digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GEMOLONG 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GEMOLONG 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D3 Teknik
PERENCANAAN STRUKTUR DAN ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN DAN TOKO BUKU 2 LANTAI TUGAS AKHIR
Perencanaan Struktur Gedung Swalayan dan Toko Buku Lantai PERENCANAAN STRUKTUR DAN ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN DAN TOKO BUKU LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA MASJID 2 LANTAI (Structure and Cost Budget of Two Storeys Mosque)
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA MASJID 2 LANTAI (Structure and Cost Budget of Two Storeys Mosque) TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG HOTEL 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA perpustakaan.uns.ac.id GEDUNG HOTEL 2 LANTAI TUGAS AKHIR DisusunSebagai Salah SatuSyaratMemperolehGelarAhliMadya (A.Md.) pada Program Studi DIII Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR BUTIK 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR BUTIK LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas
UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL 2011
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA 2 LANTAI Dikerjakan Oleh: CINTIA PRATIWI NIM. I 8508002 UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL 2011 LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSKESMAS DUA LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSKESMAS DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
BAB 1 PENDAHULUAN. Tugas Akhir Perencanaan Struktur Gedung Sekolah 2 Lantai Tinjauan Umum Perencanaan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Perencanaan Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
PERENCANAAN STRUKTUR BOARDING HOUSE
PERENCANAAN STRUKTUR BOARDING HOUSE TUGAS AKHIR Oleh : Antonius Mahatma P. I.8507007 PROGRAM DIII TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 010 BAB 3 Perencanaan
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI
digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SWALAYAN LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KECAMATAN 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KECAMATAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya perpustakaan.uns.ac.id pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN SEKOLAHAN 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN SEKOLAHAN LANTAI Oleh : Dede Setiawan I8506704 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 011 MOTTOO...Sesungguhnya
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM 2 LANTAI & RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM 2 LANTAI & RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG MALL 3 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG MALL 3 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D3 Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas
PERENCANAAN STRUKTUR RUMAH DAN TOKO 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR RUMAH DAN TOKO LANTAI TUAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh elar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
BAB I. Perencanaan Atap
BAB I Perencanaan Atap 1. Rencana Gording Data perencanaan atap : Penutup atap Kemiringan Rangka Tipe profil gording : Genteng metal : 40 o : Rangka Batang : Kanal C Mutu baja untuk Profil Siku L : BJ
PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR PERPUSTAKAAN DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH (DEKRANASDA) JL. KOLONEL SUGIONO JEPARA
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH (DEKRANASDA) JL. KOLONEL SUGIONO JEPARA Merupakan Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Jurusan
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG
HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA 5 LANTAI DI WILAYAH GEMPA 3
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA 5 LANTAI DI WILAYAH GEMPA 3 Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : FELIX BRAM SAMORA
ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS
Analisa Dimensi dan Struktur Atap Menggunakan Metode Daktilitas Terbatas 1 - ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS M. Ikhsan Setiawan ABSTRAK Sttruktur gedung Akademi
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ( RAB ) TUGAS AKHIR
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA ( RAB ) TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN CAFE 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLET DAN CAFE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI JEPARA
PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI JEPARA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : ALFANIDA AYU WIDARTI
BAB 1 LATAR BELAKANG.FIX.pdf BAB 2 DASAR TEORI.FIX.pdf
BAB 1 LATAR BELAKANG.FIX.pdf BAB 2 DASAR TEORI.FIX.pdf BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum Islamic Center sebagai pusat kegiatan keislaman, dimana semua kegiatan pembinaan berupa kegiatan
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTORAN DUA LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTORAN DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BPS PROVINSI JAWA TENGAH MENGUNAKAN BETON PRACETAK (Design of Structure of BPS Building Central Java Province using Precast Concrete) Diajukan
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTAURANT & TOKO 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RESTAURANT & TOKO 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program Studi D-III Teknik Sipil Jurusan
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik
PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI)
1 PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI) Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai S-1 Teknik Sipil diajukan
PERENCANAAN STRUKTUR dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR dan RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik
Oleh : Hissyam I
PERENCANAANN STRUKTUR GEDUNG FACTORY OUTLETT DAN RESTO 2 LANTAI Oleh : Hissyam I 8507048 D3 TEKNIK SIPIL GEDUNG FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITASS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar
1 HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL SEMARANG
TUGAS AKHIR 1 HALAMAN JUDUL PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas Teknik Program
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG. Oleh : BAYU ARDHI PRIHANTORO NPM :
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : BAYU
PERENCANAAN STRUKTUR PROYEK PEMBANGUNAN BANK DANAMON JL PEMUDA-JEPARA
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR PROYEK PEMBANGUNAN BANK DANAMON JL PEMUDA-JEPARA Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata1 (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas
PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI
digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III
TAMPAK DEPAN RANGKA ATAP MODEL 3
TUGAS STRUKTUR BAJA 11 Bangunan gedung dengan struktur atap dibuat dengan struktur rangka baja. Bentang struktur bangunan, beban gravitasi, beban angin dan mutu bahan, dijelaskan pada data teknis berikut.
PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN
PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1. Diagram Alir Perencanaan Struktur Atas Baja PENGUMPULAN DATA AWAL PENENTUAN SPESIFIKASI MATERIAL PERHITUNGAN PEMBEBANAN DESAIN PROFIL RENCANA PERMODELAN STRUKTUR DAN
PERHITUNGAN PANJANG BATANG
PERHITUNGAN PANJANG BATANG E 3 4 D 1 F 2 14 15 5 20 A 1 7 C H 17 13 8 I J 10 K 16 11 L G 21 12 6 B 200 200 200 200 200 200 1200 13&16 0.605 14&15 2.27 Penutup atap : genteng Kemiringan atap : 50 Bahan
BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Umum Pada gedung bertingkat perlakuan stmktur akibat beban menyebabkan terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas pekerjaan dilapangan, perencana
Semarang, Nopember Penyusun
KATA PENGANTAR Alhamdulillahi rabbil alamin, Puji Syukur ke Khadirat ALLAH SWT atas segala Nikmat, Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH 2 LANTAI TUGAS AKHIR
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas
PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN CAFE DAN RESTO 2 LANTAI
PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN CAFE DAN RESTO 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA MAHASIWA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA. Oleh : CAN JULIANTO NPM. :
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA MAHASIWA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : CAN
LEMBAR PENGESAHAN Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S-1)
LEMBAR PENGESAHAN Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S-1) PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG B POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG Oleh: Sonny Sucipto (04.12.0008) Robertus Karistama (04.12.0049) Telah diperiksa dan
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH UMUM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU
i PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH UMUM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Disusun oleh : RICHARD SUTRISNO Mahasiswa : 11973 / TS NPM : 04 02 11973 PROGRAM STUDI TEKNIK
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA. Oleh : KEVIN IMMANUEL KUSUMA NPM. :
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : KEVIN IMMANUEL
PERENCANAAN GEDUNG PASAR TIGA LANTAI DENGAN SATU BASEMENT DI WILAYAH BOYOLALI (DENGAN SISTEM DAKTAIL PARSIAL)
PERENCANAAN GEDUNG PASAR TIGA LANTAI DENGAN SATU BASEMENT DI WILAYAH BOYOLALI (DENGAN SISTEM DAKTAIL PARSIAL) Tugas Akhir untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S 1 Teknik Sipil diajukan
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL LARAS ASRI SALATIGA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU. Oleh :
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL LARAS ASRI SALATIGA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Oleh : HARDI WIBOWO No. Mahasiswa : 11515 / TS NPM : 03 02 11515 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN PEMBANGUNAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN DAN LAB. TERPADU FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA (Planning Laboratory
PERENCANAAN STRUKTUR UNIT GEDUNG A UNIVERSITAS IKIP VETERAN SEMARANG
PERENCANAAN STRUKTUR UNIT GEDUNG A UNIVERSITAS IKIP VETERAN SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas
1. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI ) 3. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI-1983)
7 1. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989) 2. Perencaaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Rumah dan Gedung SNI-03-1726-2002 3. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI-1983)
PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO
PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : Heroni Wibowo Prasetyo NPM :
BAB 8 RENCANA ANGGARAN BIAYA
BAB 8 RENCANA ANGGARAN BIAYA 8.1. Rencana Anggaran Biaya (RAB) Rencana anggaran biaya (RAB) adalah tolok ukur dalam perencanaan pembangunan,baik ruma htinggal,ruko,rukan maupun gedung lainya. Dengan RAB
PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI SURAKARTA
PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI SURAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu sarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : Yusup Ruli Setiawan NPM :
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN Oleh : 1. AGUNG HADI SUPRAPTO 3111 030 114 2.RINTIH PRASTIANING ATAS KASIH 3111
PERANCANGAN STRUKTUR APARTEMEN MEGA BEKASI TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU. Oleh : ARIEF BUDIANTO No. Mahasiswa : / TSS NPM :
PERANCANGAN STRUKTUR APARTEMEN MEGA BEKASI TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Oleh : ARIEF BUDIANTO No. Mahasiswa : 12183 / TSS NPM : 05 02 12183 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ATMA
BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan
BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan Dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan merupakan hasil dari perhitungan perencanaan struktur gedung Fakultas Teknik Informatika ITS Surabaya dengan metode SRPMM.
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik
STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7. Oleh : RACHMAWATY ASRI ( )
TUGAS AKHIR STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7 Oleh : RACHMAWATY ASRI (3109 106 044) Dosen Pembimbing: Budi Suswanto, ST. MT. Ph.D
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Oleh : DANY HERDIANA NPM : 02 02 11149 UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Fakultas
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik
PERBANDINGAN STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN STRUKTUR BAJA DARI ELEMEN BALOK KOLOM DITINJAU DARI SEGI BIAYA PADA BANGUNAN RUMAH TOKO 3 LANTAI
PERBANDINGAN STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN STRUKTUR BAJA DARI ELEMEN BALOK KOLOM DITINJAU DARI SEGI BIAYA PADA BANGUNAN RUMAH TOKO 3 LANTAI Wildiyanto NRP : 9921013 Pembimbing : Ir. Maksum Tanubrata,
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS HOTEL ARCS DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR PROGRAM SARJANA STRATA SATU
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS HOTEL ARCS DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR PROGRAM SARJANA STRATA SATU Disusun oleh: Ferryanto TM 93 02 07273 UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA FAKULTAS TEKNIK PROGRAM
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG TRANS NATIONAL CRIME CENTER MABES POLRI JAKARTA. Oleh : LEONARDO TRI PUTRA SIRAIT NPM.
PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG TRANS NATIONAL CRIME CENTER MABES POLRI JAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH BERSAMA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA JAKARTA
PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH BERSAMA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA JAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta
BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. 3.1 Diagram Alir Perancangan Struktur Atas Bangunan. Skematik struktur
BAB III METODOLOGI PERANCANGAN 3.1 Diagram Alir Perancangan Struktur Atas Bangunan MULAI Skematik struktur 1. Penentuan spesifikasi material Input : 1. Beban Mati 2. Beban Hidup 3. Beban Angin 4. Beban
