Dina Silvi Noviana ( ) 1
|
|
|
- Budi Sugiarto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KATA PENGANTAR Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat serta salam atas Nabi Muhammad SAW. Salam keselamatan atas kita semua dan rahmat serta barokahnya untuk kita. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, atas rahmat dan karunia akal sehingga penulis bisa menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul Modified Radius of Curvature Sebagai Usulan Metode Perhitungan Hasil Survei Pemboran Berarah ini. Tulisan ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung. Tugas Akhir ini merupakan studi literatur yang menyangkut Pemboran Berarah. Penulis, dengan izin Allah, banyak mendapatkan ilmu selama kuliah di Program Studi Teknik Perminyakan ITB, terutama saat melaksanakan Tugas Akhir, hal ini tak lepas dari segala dukungan dan do a dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis sangat ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada:. Allah yang telah menciptakan hamba-nya dengan segala potensi dan hakikatnya sebagai makhluk, yang dimuliakan, diberi beban, diberi kebebasan memilih dan diberi balasan. Supaya kalian jangan berduka dari apa yang luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-nya pada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Al Hadid: 3). Dr. -Ing. Ir. Rudi Rubiandini Ria S, selaku pembimbing Tugas Akhir, yang telah banyak memberi dukungan dan ilmu, 3. Keluarga penulis, Ibu Sri Utami, Bapak Waluyo, Mas Siswo Eko Pranyoto, Mas Siswo Dwi Prayitno, dan Mas Siswanto Tri Prasetyo, yang selalu memberi dukungan moril dan materi, kehangatan dan tempat kembali yang nyaman, 4. Mas Ucok WR Siagian, selaku Ketua Program Studi Teknik Perminyakan, 5. Seluruh staf pengajar TM ITB yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis, 6. Seluruh staf Tata Usaha TM ITB, yang selama 4 tahun lebih, telah membantu segala macam administrasi bagi penulis, 7. Teman-teman Cigadung dan seluruh keluarga Cigadung,
2 8. Seluruh manusia yang sedang membina dirinya menuju kebaikan dimanapun dan di masa kapanpun. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan. (QS Hud: 4-5), 9. Teman kost yang setia hidup berdampingan dengan penulis, 0. Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I/ITB dan seluruh penghuninya, tempat penulis mengambil banyak sekali pelajaran hidup dan segala hal dalam menghargai hidup,. Teman-teman di Keluarga Mahasiswa Muslim Minyak al Bithruluu yang tetap semangat dalam menjalani hari-hari,. Keluarga besar TM 05, terutama cemi-cemi dan teman-teman yang sering bertanya dan meneror, 3. Seluruh massa Patra, terutama para angkatan muda, yang membuat penulis bersemangat untuk mengejar ketinggalan, 4. Dan semua pihak yang terkait dalam pembuatan Tugas Akhir ini, dengan kerendahan hati penulis mohon maaf karena tidak bisa menuliskan satu per satu. Saran dan kritik dari pembaca, sangat penulis harapkan karena penulis sadar benar bahwa Tugas Akhir ini tidak sempurna. Penulis mohon maaf yang sebesarnya atas segala kekurangan tulisan ini. Jikalau ada kebaikan yang bisa pembaca ambil maka kesempurnaan dan kebaikan hanya berasal dari Allah. Bandung, Maret 00 Dina Silvi Noviana Dina Silvi Noviana (05036)
3 MODIFIED RADIUS OF CURVATURE SEBAGAI USULAN METODE PERHITUNGAN HASIL SURVEI PEMBORAN BERARAH Dina Silvi Noviana * Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S.** Sari Umumnya dalam perencanaan operasi pemboran, diusahakan untuk melakukan pemboran tegak lurus karena faktor ekonomi. Tapi dalam keadaan tertentu, pemboran vertikal tidak bisa dilaksanakan. Untuk itu kemudian muncul pemboran berarah. Dalam pemboran berarah, sangat sulit mempertahankan sudut kemiringan dan sudut arah lubang bor agar tetap mengarah pada titik sasaran. Untuk itu dilakukanlah survei agar dapat ditentukan koordinat-koordinat titik survei tersebut dan memudahkan untuk mengarahkan kembali ke sasaran bila terjadi penyimpangan. Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghitung koordinat titik hasil survei. Dari semua metode itu, Radius of Curvature bisa dikatakan adalah metode yang paling mendekati keadaan lubang sumur. Karena di dalam prakteknya, alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain menghasilkan lubang dengan belokan yang smooth, sehingga lebih tepat jika segmen lubang bor dianggap berupa busur lingkaran. Hanya saja, 5 dari 6 metode ini, termasuk Metode Radius of Curvature, belum memperhitungkan bahwa untuk menghindari kerusakan, alat survei tidak diletakkan di ujung bit tapi berada kira-kira ½- joint di atas bit. Metode Mercury, sebagai perbaikan Balanced Tangensial, adalah satu-satunya yang memperhitungkan letak alat survei ini. Secara logika hasil Metode Mercury lebih tidak akurat jika dibandingkan kalau ada suatu metode yang memperbaiki Radius of Curvature. Oleh karena itu, penulis membuat rumusan baru sebagai perbaikan terhadap Radius of Curvature dengan menambahkan koreksi panjang alat survei, sebagaimana Metode Mercury memperbaiki Balanced Tangensial. Modified Radius of Curvature ini akan lebih berguna saat pemboran sangat membutuhkan keakuratan posisi, misalnya saat zona produksi tipis atau jika ada zona berbahaya. Kata kunci: pemboran berarah, evaluasi hasil survei pemboran, Radius of Curvature, koreksi panjang alat survei pemboran Abstract In planning a drilling operations, it s commonly to straight hole drilling cause economics. But in some situatios, there is no alternative to drilling a directional well. And it s very difficult to make inclination and azimuth keep on to the target. So wells are surveyed to monitor the progress of the well. Actual directional data can be used to plot the course of the well and can then be compared with the planned course. Any deviation can be correctedand the well brought back to required direction 3). Various methods have been proposed for determining the well geometry from the measured survey data. Radius of curvature method is the one most accurate calcuations methods. Because this will then produce a smooth, circular arc. But just, 5 of 6 methods, includes radius of curvature didn t calculate that surveying instruments didn t located at bit. Therefore, I make a new formula as repair to Radius of Curvature, added length of surveying instruments, alike Mercury repair Balanced Tangensial. This Modified Radius of Curvature will be more good for very require accuracy of positions, for example flimsy production zona or if there is dangerous zona. Keyword : directional drilling, evaluation of drilling survey data, Radius of Curvature, corrective [of] drilling surveying instruments length *) Mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung **) Pembimbing, Dosen Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung Dina Silvi Noviana (05036)
4 PENDAHULUAN Latar Belakang Umumnya dalam perencanaan operasi pemboran, selalu diusahakan untuk melakukan pemboran tegak lurus karena faktor ekonomi. Tapi dalam keadaan tertentu, pemboran vertikal tidak bisa dilaksanakan. Dengan didukung oleh perkembangan teknologi pemboran, kemudian muncul metode-metode pemboran baru seperti pemboran berarah dan pemboran horizontal. Pada prinsipnya, pemboran berarah adalah suatu seni membelokkan lubang sumur untuk kemudian diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang tidak terletak vertikal di bawah mulut sumur. ) Pada pemboran berarah, sangat sulit mempertahankan sudut kemiringan dan sudut arah lubang bor agar tetap mengarah pada titik sasaran, sehingga dilakukanlah survei untuk dapat menentukan koordinat-koordinat titik survei sehingga mudah untuk mengarahkan kembali ke sasaran bila terjadi penyimpangan. Sedangkan operasi pemboran memerlukan modal besar, peralatan dan mesin yang mahal, jika terjadi kesalahan dalam mengarahkan ke target, tidak sedikit kerugian yang ditanggung. Ada enam metode yang sudah ada yang digunakan untuk menghitung koordinat titik hasil survei. Dari semua metode ini, Radius of Curvature bisa dikatakan adalah metode yang paling mendekati keadaan lubang sumur. Karena di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. ) Hanya saja, 5 dari 6 metode ini, termasuk Metode Radius of Curvature, belum memperhitungkan bahwa untuk menghindari kerusakan, alat survei tidak diletakkan di ujung bit tapi berada kira-kira ½- joint di atas bit. Metode Mercury, sebagai perbaikan Balanced Tangensial, adalah satu-satunya yang memperhitungkan letak alat survei ini. Secara logika hasilnya lebih tidak akurat jika dibandingkan kalau ada metode yang memperbaiki Radius of Curvature. Oleh karena itu, penulis merumuskan Modified Radius of Curvature sebagai perbaikan terhadap Radius of Curvature dengan menambahkan koreksi panjang alat survei, sebagaimana Metode Mercury memperbaiki Balanced Tangensial. Modified Radius of Curvature ini akan lebih berguna saat pemboran sangat membutuhkan keakuratan posisi, misalnya saat zona produksi tipis atau jika ada zona berbahaya. Tujuan Tujuan dari penulisan paper ini adalah menambahkan koreksi panjang alat survei pada Metode Radius of Curvature dalam perhitungan hasil survei pemboran berarah. Agar lebih tepat dalam mengevaluasi koordinat titik survei pemboran berarah. TEORI DASAR Di dalam pemboran, sebenarnya selalu diinginkan lubang yang vertikal karena dengan lubang yang vertikal, kecuali operasinya lebih mudah, juga umumnya biayanya lebih murah daripada pemboran berarah. Jadi pemboran berarah hanya dilakukan karena alasan-alasan dan keadaan yang khusus saja. Adapun alasan dilakukannya pemboran berarah ini adalah:. Alasan topografis. Pemboran berarah disini dilakukan apabila keadaan di permukaan tidak memungkinkan untuk mendirikan lokasi pemboran, misalnya: a. Formasi produktif terletak di bawah payapaya, sungai b. Formasi produktif terletak di bawah bangunan-bangunan, perkotaan (Gambar ). Alasan geologis Pemboran berarah disini dilakukan untuk menghindari kesulitan apabila dibor secara vertikal misalnya : a. Adanya kubah garam (salt dome), b. Adanya patahan, (Gambar ) 3. Alasan-alasan lain : a. Pemboran yang dilakukan dengan sistem gugusan sumur (cluster system) untuk menghemat luasnya lokasi pemboran. Dina Silvi Noviana (05036) 3
5 b. Mengatasi semburan liar (blow out) dengan relief well. (Gambar 3) c. Menghindari garis batas di permukaan. d. Menyimpang dari garis lurus. Sebagai gambaran sebenarnya, penampang horizontal suatu contoh sumur pemboran berarah dapat dilukiskan seperti terlihat pada Gambar 4 Gambar Formasi Produktif Terletak di Bawah Perkotaan, Bangunan ) Gambar Pemboran Berarah Karena Patahan ) Gambar 3 Relief Well ) Gambar 4 Penampang Horizontal Suatu Pemboran Berarah ) Titik dan garis patah di dalam Gambar 4 didapat setelah kita mengetahui koordinat titik tersebut dan titik ini disebut titik survey. Terlihat dalam gambar bahwa titik tersebut menyimpang dari garis AE (garis yang telah direncanakan). Sehingga dari titik tersebut kita membetulkan arah kembali ke arah semula. Demikian seterusnya dengan titik survey selanjutnya hingga dicapai sasaran. Berikut ini adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi hasil survei pemboran. Metode Tangential Prinsip dari metode ini adalah menggunakan sudut inklinasi dan azimuth dari titik awal interval untuk menghitung vertical, depth, departure dan posisi. Prinsip dari metode tangential tersebut ditunjukkan oleh gambar.9 VD MDcosI H E N MDsin I Dsin A Dcos MDsin I sin A A MDsin I cos dimana : MD : Pertambahan measured depth VD : Pertambahan TVD H : Pertambahan departure N : Pertambahan koordinat arah utara E : Pertambahan koordinat arah Timur A Dina Silvi Noviana (05036) 4
6 Gambar.9 Metode Tangential : (a) Vertikal; (b) Horizontal ) Metode Balanced Tangential Metode ini membagi dua interval dimana untuk bagian atas interval digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik awal interval dan untuk bagian bawah interval digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik akhir interval. MD D sin I MD D sin I D D MD D sin I sin MD VD cosi MD VD cosi I 3 Metode Angle Averaging Prinsip dari metode ini adalah menggunakan rata-rata sudut inklinasi dan rata-rata sudut azimuth dalam menghitung vertical depth, departure dan posisi. Perhitungan dengan menggunakan metode ini hampir sama dengan menggunakan metode tangential. D VD E N MDsin I I I cos I MD I I A A MDsin sin MDsin I A A I cos 4 Metode Radius of Curvature Metode ini menganggap bahwa lintasan yang melalui dua station berbentuk kurva yang mempunyai radius of curvature tertentu. Prinsip perhitungan dengan menggunakan metode ini ditunjukkan oleh Gambar.3 TVD H 360 I 360 I MD I MD I sin I cosi sin I cosi N 360 MD cosi 4 A cosi A I sin A I sin A E 360 MD cosi 4 A cosi A I cos A I cos A Gambar.30 Metode Balanced Tangential : (a) Vertikal; (b) Horizontal ) VD N E VD N MD VD cosi cos N D cos A D cos MD E sin I cos A sin I cos E D sin A D sin MD = sin I sin A sin I sin A I A A A Gambar.3 Metode Radius of Curvature ) Dina Silvi Noviana (05036) 5
7 5 Metode Minimum of Curvature Persamaan metode minimum of curvature hampir sama dengan persamaan metode balanced tangential, kecuali data survey dikalikan dengan faktor RF. dimana : RF DL DL = dog-leg angle CosDL cos I Radian tan DL derajat I sin I sin I cos MD TVD cosi cosi RF MD N sin I cos A sin I cos A MD E sin I sin A sin I sin A Metode Mercury A RF A RF Metode mercury adalah perbaikan dari metode balanced tangential dengan memasukkan faktor koreksi panjang dari alat survey yang dipergunakan. TVD N E MD STL MD STL MD STL sin I sin I cosi cosi STLcos cos A sin I cos A STL sin I cos sin A sin I sin A STL sin I sin dimana : STL adalah panjang peralatan survey. METODOLOGI PENELITIAN Penurunan Rumus Modified Radius of Curvature Dengan berbekal analisis matematis penurunan rumus dari Metode Balanced Tangential, Mercury dan Radius of Curvature, penulis kemudian menurunkan rumus Modified Radius of Curvature. Kemudian penulis membandingkan TVD yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dengan TVD I A A desain (Build-Hold dan Build Hold Drop) sebagai validasinya. HASIL DAN PEMBAHASAN Selama ini seluruh metode, kecuali Metode Mercury, menganggap titik yang dibaca oleh alat ukur berada pada ujung bit. Padahal pada kenyataannya, alat pengukur kedalaman dan sudut (Inklinasi dan Azimuth) tidak berada pada ujung dari bit, karena efek getaran di bit akan merusak alat pengukur. Oleh karena itu, Metode Mercury kemudian muncul sebagai perbaikan dari Metode Balanced Tangential dengan menambahkan koreksi panjang alat. Beranjak dari penjelasan dosen mengenai hal inilah yang kemudian membuat penulis tergerak untuk mengusulkan rumus baru yang menambahkan koreksi panjang alat survei dengan base Metode Radius of Curvature (karena metode ini yang paling mendekati keadaan sebenarnya). Dengan berbekal penurunan rumus dari Metode Mercury yang menggunakan base Metode Balanced Tangential, penulis kemudian menganalogkan pada Metode Radius of Curvature. Tidak ada buku referensi yang menyebutkan berapa jarak antara bit dan alat pengukur ini, tetapi penulis mencoba mencari informasi dari ahli pemboran di lapangan. Pada umumnya, jarak antara ujung bit dan alat pengukur ini adalah setengah sampai satu joint yang artinya 5-30 feet. Analisis secara matematis mengenai Modified Radius of Curvature bisa dilihat pada lampiran. Berikut ini adalah hasil dari Modified Radius of Curvature, a. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- )+ SLT.(sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i Dina Silvi Noviana (05036) 6
8 b. Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i c. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i ) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i d. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i)(sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i)(cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) + SLT.cos I i Pada tabel (lampiran), bisa dikatakan bahwa rumus ini akurat karena rata-rata galat antara Z(TVD) dari desain Buid-Hold dan Z(TVD) dari rumus ini adalah sebesar %. Rumus ini akan sangat berguna jika pemboran berarah membutuhkan akurasi yang sangat tepat misalnya saat ketebalan zone produktifnya tipis atau saat menghadapi zone yang berbahaya. Pada tabel, merupakan perbandingan antar Radius of Curvature dengan Modified Radius of Curvature. Penulis membandingkan dengan Metode Radius of Curvature karena metode ini yang paling mendekati kondisi lubang bor. Dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan desain, menghasilkan galat 0.087%. Bila diamati besarnya galat ini dipengaruhi oleh besarnya inklinasi. Oleh karena itu penulis mencoba memakai rumus ini pada desain Build-Hold dengan inklinasi maksimum 89, dan galat rata-rata yang dihasilkan sebesar 0.088% (lampiran tabel 3) KESIMPULAN. Kita harus mengetahui koordinat titik survei di dalam suatu pemboran berarah. agar dapat dilakukan koreksi sudut azimuth yang terbentuk. Dan kemudian bisa diarahkan kembali ke sasaran jika terjadi penyimpangan. Perhitungan hasil survei selama ini dilakukan dengan metode Tangential, Balanced Tangential, Angle Averaging, Radius of Curvature, Minimum of Curvature dan Mercury. Lima metode terakhir cocok digunakan bila alat-alat pembelok yang digunakan dapat membuat lubang dengan lengkungan yang halus seperti Turbo Drill, Dyna Drill dan lainlain sedangkan metode Tangential cocok digunakan jika alat yang digunakan seperti whipstock. 3. Dari keenam metode yang paling mendekati keadaan sebenarnya adalah Radius of Curvature karena dalam perhitungannya, segmen lubang bor dianggap sebagai busur lingkaran. Dan di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmensegmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. 4. Usulan metode baru dengan menambahkan koreksi panjang alat pada Radius of Curvature menghasilkan galat rata-rata paling besar sebesar 0.09% jika dibandingkan dengan perencanaan pemboran berarah (Build-Hold, Build- Hold-Drop) 5. Rumus ini akan sangat berguna jika pemboran berarah membutuhkan akurasi yang sangat tepat misalnya saat ketebalan Dina Silvi Noviana (05036) 7
9 zone produktifnya tipis atau saat menghadapi zone yang berbahaya 6. Modified Radius of Curvature ini memiliki 4 kondisi yang harus diperhatikan dengan rumusnya masing-masing. Berikut ini Modified Radius of Curvature yang dibuat oleh penulis a. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- )+ SLT.(sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i b. Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i c. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i ) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i d. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i)(sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i)(cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) + SLT.cos I i INDEX I i = sudut inklinasi yang terbentuk pada titik ke- i I i- = sudut inklinasi yang terbentuk sebelum titik ke- i A i = sudut azimuth yang terbentuk pada titik ke- i A i- = sudut azimuth yang terbentuk sebelum titik ke- i Xc i = posisi east (E) yang terukur alat pada titik ke- i Xc i- = posisi east (E) yang terukur alat sebelum titik ke-i Yc i = posisi north (N) yang terukur alat pada titik ke-i Yc i- = posisi north (N) yang terukur alat sebelum titik ke-i Zc i = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat pada titik ke-i Zc i- = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat sebelum titik ke-i Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat pada titik ke-i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat sebelum titik ke-i X i = posisi east (E) bit pada titik ke-i X i- = posisi east (E) bit sebelum titik ke-i Y i = posisi north (N) bit pada titik ke-i Y i- = posisi north (N) bit sebelum titik ke-i Z i = posisi vertikal (TVD) bit pada titik ke-i Z i- = posisi vertikal(tvd) bit sebelum titik ke-i M i = measured depth (MD) bit pada titik ke-i M i- = measured depth (MD) bit sebelum titik ke-i SLT = panjang alat survei dari bit DAFTAR PUSTAKA. Rubiandini R.S, Rudi: TM-3 Teknik Operasi Pemboran, Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung, L. Tobing, Sanjon: Metode Perencanaan Pada Pemboran Berarah dan Analisa Matematis Terhadap Titik Survey, Dina Silvi Noviana (05036) 8
10 Kolokium I Jurusan Teknik Perminyakan, ITB, Rabia, H., Oilwell Drilling Engineering : Principles and Practice, Graham & Trotman Inc., Yudiarto, Wing Bramono: Transformasi Survey Trajectory Pemboran Berarah Untuk Visualisasi Tiga Dimensi, Tugas Akhir Jurusan Teknik Perminyakan, ITB, Bourgoyne, Jr., A.T, Millheim, K.K., Chenevert, M.E., and Young, Jr., F.S., Applied Drilling Engineering, First Printing, Society of Petroleum Engineerings, Richardson, TX, 986. Dina Silvi Noviana (05036) 9
11 LAMPIRAN Analisis Matematis Metode Balanced Tangential ) Y (utara) C 0 (Xo,Yo, Zo) A X (timur) I S C (X, Y, Z ) Z (vertikal) Gambar Sketsa dua titik berurutan di dalam lubang bor (Metode Balanced Tangential) ) Pada gambar di atas dapat diperhatikan hal-hal sebagai berikut:. Titik Co memiliki koordinat Co (Xo, Yo, Zo) dan koordinat C adalah (X, Y, Z ). S adalah jarak dari Mo ke M (measured depth di titik Co sampai titik C ) 3. Kemiringan dan arah lubang bor pada Mo diberikan oleh Io dan Ao, pada M oleh I dan A Pada ketiga kondisi diatas, proses dianggap berulang dalam pembentukan titik-titik survey berikutnya, Mo, M, M, M 3 dan seterusnya. Apabila kita perhatikan suatu titik M di dalam lintasan S maka akan didapat gambar sebagai berikut, V x I M V m V m M A V y V h V x Gambar Penampang vertikal (kiri) dan penampang horizontal (kanan) suatu titik survei di dalam lubang bor ) Dina Silvi Noviana (05036) 0
12 Jadi pada metode ini diperkenalkan notasi vektor di dalam analisisnya, dimana Vm dikenal sebagai Measured Velocity Vz = cos I kita sebut dengan vertical velocity Vh = sin I kita sebut dengan horizontal velocity Vx = Vh. sin A = sin I. sin A kita sebut east velocity Vy = Vh. cos A = sin I. cos A kita sebut north velocity Jadi dapat kita definisikan pada titik Mo Vx = sin Io. sin Ao Vy = sin Io. cos Ao Vz = cos Io Dan pada titik M Vx = sin I. sin A Vy = sin I. cos A Vz = cos I Menurut Taylor H.L dan Mason C.M koordinat M dinyatakan oleh koordinat Mo dengan hubungan sebagai berikut ) : X = Xo + S γ s (U x + V x )/ Y = Yo + S γ s (U y + Vy)/ Z = Zo + S γ s (U z + V z )/ Dimana : X: East Y: North Z: TVD, true vertical depth S : jarak dari Mo ke M γ s : merupakan fungsi dari besarnya sudut perpotongan dua garis singgung yang melalui Mo dan M U x : east velocity pada titik M U y : north velocity pada titik M Dina Silvi Noviana (05036)
13 U z : vertical velocity pada titik M V x : east velocity pada titik Mo V y : north velocity pada titik Mo V z : vertical velocity pada titik Mo Dari persamaan 3. s/d 3.3 didapatkan Vx +Vy + Vz = sin Io. sin Ao + sin Io. cos Ao + cos Io = sin Io. (sin Ao+ cos Ao) + cos Io = sin Io. () + cos Io = Demikian pula untuk Ux +Uy + Uz = Dan juga berlaku hubungan: cos ψ = = dimana ψ adalah sudut antara garis singgung lubang bor pada Mo dan M cos ψ = = perhatikan pers 3.7 s/d 3.9, untuk mendapatkan lintasan sepanjang S maka γ s = ( ) = = (+ cos ψ) +. + = +. + = (+ ) = (+ cos ψ) γ s = = Sedangkan untuk metode Balanced Tangential, ψ diabaikan ψ = 0 sehingga γ s = = Kemudian disubstitusikan kembali ke pers 3.7 s/d 3.9 X i = X i- + Y i = Y i (sin I i- sin A i- + sin I i sin A i ) (sin I i- cos A i- + sin I i cos A i ) Z i = Z i (cos I i- + cos I i ) Dina Silvi Noviana (05036)
14 Analisis Matematis Metode Mercury ) Metode ini merupakan perbaikan dari Metode Balanced Tangential dengan memasukkan faktor koreksi panjang alat survei yang digunakan. Nama Mercury sendiri diperoleh dari nama daerah di negara bagian Nevada, Amerika Serikat, dimana umumnya metode ini digunakan di dalam survei pemboran berarah di daerah tersebut. Sebagai gambaran metode ini, perhatikan gambar berikut Mc i- M i- M i- I i- I i- M i Mc i I i I m M i Alat survei Gambar 3 Segmen lubang bor & alat survei/metode Mercury (kiri) dan tanpa alat survei/metode Balanced Tangential (kanan) Posisi alat survei di dalam lubang bor yang digunakan untuk mengukur I dan A pada suatu titik survei dapat dilihat pada gambar di atas. Peralatan alat ukur dan kompas, tidak akan mungkin terletak di ujung alat pemboran (bit), karena getaran yang sangat bisa merusak alat tersebut. Sehingga pada kenyataannya, posisi yang diukur oleh alat adalah Mc bukan posisi bit terakhir (M i ). Dengan demikian perlu adanya koreksi terhadap panjang alat survei. Untuk menganalisis hal tersebut, dari M i- ke M i kita bagi menjadi dua lintasan terlebih dahulu,. Lintasan M i- ke Mc i, pada lintasan ini dianggap berlaku rumusan analisis metode balanced tangential. Dina Silvi Noviana (05036) 3
15 . Lintasan Mc i ke M i, dianggap berlaku rumus tangential karena sepanjang lintasan ini tidak terjadi perubahan sudut I dan A yang diukur oleh alat survei. (Mc adalah titik tempat alat kompas pengukur berada) Rumusan analisis metode Balanced Tangential dapat ditulis sbb: C i = C i- + ( - )M Dimana C i = koordinat titik ke-i dalam X, Y, Z M = jarak lintasan (dari M i ke M i- ) C i- = koordinat titik M i- dala X, Y, Z Vm i = measured velocity pada titik ke-i Vm i- = measured velocity pada titik ke-i- Dan nilai Vm i dan Vm i- sebesar, sin I i sin A i dan sin I i- sin A i- dalam arah X (east) sin I i cos A i dan sin I i- cos A i- dalam arah Y (north) cos I i dan cos I i- dalam arah Z (vertical) Pada lintasan M i- ke M c berlaku metode balanced tangential sehingga Cc i - C i- = ( Cc i = C i- + ( - - )(Mc i M i- ) )(Mc i Mc i- - SLT) Ket: Cc i = koordinat titik ke-i yang terukur oleh alat (dalam X, Y, Z) Cc i- = koordinat titik ke- i- yang terukur oleh alat (dalam X, Y, Z) M i- = measured depth (MD) titik ke- i- Vm i = measured velocity pada titik ke-i Vm i- = measured velocity pada titik ke- i- Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat di titik ke- i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat di titik ke- i- SLT = panjang alat survei dari bit Sedangkan dalam lintasan Mc i ke M i berlaku metode tangential sehingga C i = Cc i + Vm i.slt Dina Silvi Noviana (05036) 4
16 Sehingga jika disubstitusikan 3.0 ke 3. maka didapatkan C i = C i- + ( - )(Mc i Mc i- - SLT) + SLT.Vm i Ubah M = M i - M i- dan Vm diubah ke dalam komponennya masing-masing (X, Y, Z) maka, X i = X i- + (Mc i - Mc i- SLT) ( - - ) + SLT.(sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (Mc i - Mc i- SLT) ( - - ) + SLT.( sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (Mc i - Mc i- SLT) ( - ) + SLT.cos I i Analisis Matematis Metode Radius of Curvature ) Metoda ini diperkenalkan oleh WILSON G.J pada tahun 968, yang merupakan perbaikan dari metoda tangential. Tidak seperti pada metoda tangential, perencanaan ini tidak menganggap interval-interval lubang bor merupakan garis-garis lurus. Di dalam metoda ini, segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran yang bersifat menyinggung di titik awal dan akhir suatu interval lubang bor yang mempunyai sudut kemiringan dan sudut arah tertentu. Karena di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. Di dalam perencanaannya pemboran berjalan pada suatu bidang datar dengan sudut arah tetap (Gambar 3.4) Z Y I dl X dz A ds dy Gambar 4 Sketsa dua titik survei yang berurutan pada lubang bor (Metode Radius of Curvature) ) dx Dina Silvi Noviana (05036) 5
17 Anggap bahwa M dapat dibagi menjadi bagian-bagian kecil dl yang tidak terbatas kecilnya, sehingga, = Anggap lengkungan i- sampai i merupakan lengkungan dengan perubahan sudut yang konstan = = konstan Cos I = Sehingga = cos I Kemudian 3.0 diintegrasikan sepanjang i- sampai i dz = cos I. di...3. Z i Z i- = (sin I i - sini i-)...3. Anggap lengkungan yang diproyeksikan di bidang horizontal berupa lengkungan yang konstan sehingga = = konstan sin I = Sehingga = Kemudian 3.4 diintegrasikan sepanjang i- sampai i ds = sin I. di S i S i- = (cos I i- - cosi i) Sedangkan sin A = cos A = = Dina Silvi Noviana (05036) 6
18 = sin A dx = sin A. da X i X i- = (cos A i- cos A i ) Lalu dari hasil substitusi didapat X i X i- = (cos I i- - cosi i) (cos A i- cos A i ) Sedangkan = = cos A dy = cos A. da Y i Y i- = (sin A i - sina i-) Kemudian disubstitusikan Y i Y i- = (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Akhirnya kita dapatkan semua persamaan berikut: X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) dengan I dan A dalam л radian Namun kita juga harus memperhatikan bahwa I dan A masih dalam radian sedangkan dalam prakteknya, satuan I dan A adalah, maka dalam perhitungan harus dikalikan л/80. Dan jika terjadi kasus dimana I i = I i- dan A i = A i-, persamaan di atas harus diturunkan. Menurut Teorema L Hospital: = = sin I i Dina Silvi Noviana (05036) 7
19 Demikian pula untuk = = cos I i Hal ini juga analog untuk A i = A i- = cos A i = sin A i Sehingga persamaan kita menjadi:. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) Z i = Z i- + (cos I i ) Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i) (sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) Dina Silvi Noviana (05036) 8
20 Penurunan Rumus Modified Radius of Curvature Mc i- M i- M i- I i- I i- M i Mc i I i I m M i Alat survei Gambar 5 Segmen lubang bor & alat survei (kiri) dan tanpa alat survei/metode Radius of Curvature (kanan) pada analisis Modified Radius of Curvature ini, dari M i- (X i-, Y i-, Z i- ) ke M i (X i, Y i, Z i ) kita bagi menjadi dua lintasan terlebih dahulu,. Lintasan M i- ke Mc i, pada lintasan ini berlaku rumusan analisis metode Radius of Curvature.. Lintasan Mc i ke M i, dianggap berlaku rumus tangential karena di sepanjang lintasan ini tidak terjadi perubahan sudut I dan A yang diukur oleh alat survei. Pada lintasan M i- s/d Mc i, M i- = Mc i- +SLT sehingga berlakulah rumus berikut. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 Xc i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) Yc i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Zc i = Z i- + (sin I i - sini i- ). Jika ΔI 0 dan ΔA=0 Xc i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) Dina Silvi Noviana (05036) 9
21 Yc i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) Zc i = Z i- + (sin I i - sini i- ) 3. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 Xc i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) Yc i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) Zc i = Z i- + (cos I i ) 4. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 Xc i = X i- + (sin I i) (sin A i ) Yc i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) Zc i = Z i- + (cos I i ) Pada lintasan M c ke M i- berlaku rumus Balanced Tangential, perhatikan lagi gambar berikut dan gambar 4. I M V H V x V z V m M A V y V H Gambar 6 Penampang vertikal (kiri) dan penampang horizontal (kanan) suatu titik survei di dalam lubang bor ) Mari kita perhatikan lagi penurunan rumus dari metode Tangential, dan gambar. Vz = cos I, kita sebut dengan vertical velocity Vh = sin I, kita sebut dengan horizontal velocity Vx = Vh. sin A = sin I. sin A, kita sebut east velocity Vy = Vh. cos A = sin I. cos A, kita sebut north velocity Maka pada lintasan M c ke M i ini berlaku persamaan X i = X c + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y c + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z c + SLT.cos I i Dina Silvi Noviana (05036) 0
22 Sehingga jika kita gabungkan dari lintasan M i- sampai dengan M i, maka. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- )+ SLT.(sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i. Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i 3. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i 4. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) + SLT.cos I i dengan I i I i- A i A i- = sudut inklinasi yang terbentuk pada titik ke- i = sudut inklinasi yang terbentuk sebelum titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk pada titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk sebelum titik ke- i Dina Silvi Noviana (05036)
23 Xc i = posisi east (E) yang terukur alat pada titik ke- i Xc i- = posisi east (E) yang terukur alat sebelum titik ke- i Yc i = posisi north (N) yang terukur alat pada titik ke- i Yc i- = posisi north (N) yang terukur alat sebelum titik ke- i Zc i = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat pada titik ke- i Zc i- = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat sebelum titik ke- i Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat pada titik ke- i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat sebelum titik ke- i X i X i- Y i Y i- Z i Z i- M i = posisi east (E) bit pada titik ke- i = posisi east (E) bit sebelum titik ke- i = posisi north (N) bit pada titik ke- i = posisi north (N) bit sebelum titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit pada titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit sebelum titik ke- i = measured depth (MD) bit pada titik ke- i M i- = measured depth (MD) bit sebelum titik ke- i SLT = panjang alat survei dari bit Contoh Perencanaan Pemboran Berarah dengan Metode Build-Hold dengan data yang diketahui, BUR yang digunakan /00 ft, KOP 600, TVD target 450 ft, N target sebesar ft, E target ft, panjang alat survei atau SLT=5 ft. TVD desain bisa dihitung dengan menggunakan software directional drilling. Sedangkan evaluasi pemboran menggunakan perhitungan dan menghasilkan data berikut Mc i- = 0 Mc i = 85, I i- = 0 dan I i = 0 maka secara langsung dapat ditetapkan Z i = M c +SLT = 85+5 = Mc i- = 85 Mc i = 85, Z i- = 00, I i- = 0 dan I i = 0 (ΔI = 0) maka berlaku rumus Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i Dengan plug in number, Z i = 00 + cos cos 0 Z i = 00 Dina Silvi Noviana (05036)
24 @ Mc i- = 585 Mc i = 685, Z i- = 600, I i- = 0 dan I i = maka berlaku rumus Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i Z i = (sin sin 0) + 5.cos = ft Tabel Perbandingan Z yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain M (MD desain) I (Inklinasi) Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih Dina Silvi Noviana (05036) 3 Galat %
25 Rata-rata Dengan kasus yang sama, penulis membandingkan dengan Radius of Curvature. Tabel Perbandingan Z yang dihasilkan Modified ROC dan ROC MD terbaca oleh alat I Z dengan ROC Z dengan Modified ROC selisih kesalahan Dina Silvi Noviana (05036) 4
26 Rata-rata Contoh Tabel berikut adalah hasil perhitungan Z (TVD) yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain, dengan kasus Metode Build Hold: Bur / 00 feet Dina Silvi Noviana (05036) 5
27 KOP 600 TVD 4500 N 3000 E 4000 Tabel 3 Perbandingan Z yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain Build-Hold M (MD) desain I Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih galat Dina Silvi Noviana (05036) 6
28 Dina Silvi Noviana (05036) 7
29 Rata-rata Contoh 3 Hasil Perhitungan Z (TVD) yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain, dengan kasus Metode Build Hold Drop: Bur Bur KOP 000 TVD 8000 N 500 E 500 / 00 feet / 00 feet Tabel 4 Perbandingan Z yang dihasilkan Modified Radius of Curvatur dan M (MD) desain I desain Build-Hold-Drop Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih galat Dina Silvi Noviana (05036) 8
30 Dina Silvi Noviana (05036) 9
31 E Rata-rata Dina Silvi Noviana (05036) 30
32 BAB I PENDAHULUAN Umumnya dalam perencanaan operasi pemboran, selalu diusahakan untuk melakukan pemboran tegak lurus karena faktor ekonomi. Tapi dalam keadaan tertentu, pemboran vertikal tidak bisa dilaksanakan. Dengan didukung oleh perkembangan teknologi pemboran, kemudian muncullah metode-metode pemboran baru seperti pemboran berarah dan pemboran horizontal. Pada prinsipnya, pemboran berarah adalah suatu seni membelokkan lubang sumur untuk kemudian diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang tidak terletak vertikal di bawah mulut sumur. ) Alasan-alasan dilakukannya pemboran berarah umumnya berupa alasan topografi dan geologis. Dalam melakukan pemboran selalu terjadi masalah-masalah yang diakibatkan oleh bentuk lubang bor. Terlebih lagi, pemboran berarah yang dengan sengaja menginginkan lubang bornya miring. Banyak kesulitan yang mungkin akan terjadi pada saat pemboran berarah berlangsung, sedangkan operasinya sendiri memerlukan modal besar, organisasi yang efektif, dasar pengetahuan yang kuat, peralatan dan mesin yang mahal serta sumber daya manusia yang terampil dan bertanggungjawab. Tidak hanya itu, dalam pemboran berarah, sangat sulit mempertahankan sudut kemiringan dan sudut arah lubang bor agar tetap mengarah pada titik sasaran. Untuk itu, sejak awal harus dilakukan perencanaan yang tepat dan untuk mengetahui dimana letak bit pada suatu saat tertentu, dilakukanlah survei. Dengan adanya data survei ini, dapat ditentukan koordinat-koordinat titik survei tersebut dan akan memudahkan untuk mengarahkan kembali ke sasaran bila terjadi penyimpangan. Ada beberapa metode yang digunakan untuk merencanakan dan menghitung koordinat titik hasil survei. Dalam Bab II akan diuraikan mengenai prinsip pemboran berarah, yang tidak terlepas dari alasan dilakukan pemboran berarah, tipe-tipenya, kemiringan, pengarahan lubang bor, metode perencanaan dan analisis hasil survei. Dari semua metode analisis hasil survei, Metode Radius of Curvature bisa dikatakan adalah metode yang paling mendekati keadaan lubang sumur. Karena di dalam prakteknya, memang alatalat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. ) Hanya saja, 5 dari 6 metode ini, termasuk Metode Radius
33 of Curvature, belum memperhitungkan bahwa untuk menghindari kerusakan, alat survei tidak diletakkan di ujung bit tapi berada kira-kira ½- joint di atas bit. Metode Mercury, sebagai perbaikan Balanced Tangensial, adalah satu-satunya yang memperhitungkan letak alat survei ini. Secara logika hasilnya lebih tidak akurat jika dibandingkan kalau memperbaiki Radius of Curvature. Oleh karena itu penulis termotivasi untuk membuat rumusan baru sebagai perbaikan terhadap Metode Radius of Curvature dengan menambahkan koreksi panjang alat survei, sebagaimana Metode Mercury memperbaiki Metode Balanced Tangential. Dalam pembuatan Metode Modified Radius of Curvature ini, penulis mencari referensi dari Tugas Akhir para lulusan Teknik Perminyakan sebelumnya, untuk menganalisis secara matematis penurunan rumus yang berhubungan dengan pembuatan Modified Radius of Curvature ini, diantaranya Metode Balanced Tangential, Mercury dan Radius of Curvature, yang dibahas pada Bab III. Dan pembuatan Metode Modified Radius of Curvature sendiri dibahas pada Bab IV Pembahasan. Dengan segala keterbatasan, penulis memberikan kesimpulan dan beberapa saran pada Bab V.
34 3 BAB II PRINSIP PEMBORAN BERARAH. Pendahuluan ) Pemboran berarah adalah suatu seni membelokkan lubang sumur untuk kemudian diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang tidak terletak vertikal di bawah mulut sumur. Di dalam membor suatu formasi, sebenarnya selalu diinginkan lubang yang vertikal, karena dengan lubang yang vertikal, kecuali operasinya lebih mudah, juga umumnya biayanya lebih murah dari pada pemboran berarah. Jadi pemboran berarah hanya dilakukan karena alasan-alasan dan keadaan yang khusus saja. Adapun alasan-alasan dilakukannya pemboran berarah ini adalah : A. Alasan topografis. Pemboran berarah disini dilakukan apabila keadaan di permukaan tidak memungkinkan untuk mendirikan lokasi pemboran, misalnya: a. Formasi produktif terletak di bawah paya-paya, sungai (Gambar.) b. Formasi produktif terletak di bawah bangunan-bangunan, perkotaan (Gambar.) Gambar. Formasi Produktif di Bawah Paya-Paya, Sungai )
35 4 Gambar. Formasi Produktif Terletak di Bawah Perkotaan, Bangunan ) B. Alasan geologis Pemboran berarah disini dilakukan untuk menghindari kesulitan apabila dibor secara vertikal misalnya : a) Adanya kubah garam (salt dome), (Gambar.3) b) Adanya patahan, (Gambar.4) Gambar.3 Pemboran Terarah Karena Salt Dome )
36 5 Gambar.4 Pemboran Berarah Karena Patahan ) C. Alasan-alasan lain : a. Pemboran yang dilakukan dengan sistem gugusan sumur (cluster system) untuk menghemat luasnya lokasi pemboran. Misalnya di lepas pantai (Gambar.5). Di permukaan dibuat beberapa sumur, kemudian di bawah permukaan lubang sumur tersebut menyebar. Sistem ini juga dapat dilakukan pada pemboran di daratan. Gambar.5 Pemboran Dengan Cluster System ) b. Mengatasi semburan liar (blow out) dengan relief well. (Gambar.6) c. Menghindari garis batas di permukaan. (Gambar.7) d. Menyimpang dari garis lurus. (Gambar.8)
37 6 Gambar.6 Relief Well ) Gambar.7 Menghindari Garis Batas di Permukaan ) Gambar.8 Pemboran Menyimpang dari Garis Lurus )
38 7.. Tipe Pemboran Berarah ) Gambaran umum dari suatu sumur pemboran berarah dan bagian-bagian yang penting dapat dilihat pada (Gambar.9) Gambar.9 Gambaran Umum Pemboran Berarah dan Bagian-Bagiannya ) Pada dasarnya dikenal 3 macam pemboran berarah (Gambar.0), yaitu: Gambar.0 Tipe Belok Pemboran Berarah )... Tipe belok di tempat dangkal (Shallow Deviation Type). Di sini titik belok (kick of point) terletak di kedalaman yang tidak begitu jauh dari permukaan tanah (dangkal).... Tipe belok di tempat dalam (Deep Deviation Type). Di sini titik belok terletak jauh di dalam permukaan tanah...3. Tipe kembali ke vertikal (Return to Vertikal Type). Mula-mula sama seperti tipe belok di tempat dangkal, tetapi kemudian dikembalikan ke vertikal.
39 8 Adapun pemilihan tipe pemboran di atas didasarkan pada lokasi koordinat di permukaan dan jarak antara lokasi permukaan dengan sasaran (formasi produktif) apabila faktor-faktor lain tidak berpengaruh. Misalnya apabila jarak sasaran tidak begitu jauh dari sumbu vertikal yang melalui mulut sumur, maka kita memilih tipe belok di tempat dalam. Lain halnya apabila jarak sasarannya jauh dari sumbu vertikal tadi, kita akan memilih tipe belok di tempat dangkal..3 Kemiringan Lubang Bor ) Di dalam pemboran berarah, pada kedalaman titik belok tertentu, lubang bor diarahkan ke suatu sasaran yang dikehendaki dengan sudut kemiringan yang tertentu. Miringnya lubang bor ini mendatangkan banyak kesulitan antara lain :. Fatigue failure pada drill pipe.. Key seating atau terjepitnya sebagian drill string karena goresan antara drill string dengan dinding lubang bor seperti terlihat pada Gambar. 3. Berkurangnya umur drill pipe karena tension (tegangan) yang terjadi pada tool joint (sambungan). Kesulitan-kesulitan di atas disebabkan oleh perubahan sudut kemiringan yang terlalu mendadak diantara dua titik di dalam lubang bor. Untuk mengatasi kesulitan- kesulitan tersebut, perlu ditetapkan perbedaan sudut maksimum yang diizinkan diantara dua titik survei (sudut dog leg). Gambar. Key Seating )
40 9.3. Alat-Alat Pembuat Sudut (Deflection Tool) Setelah kedalaman titik belok ditentukan, maka mulai dari titik tersebut kita mengarahkan lubang bor ke sasaran tertentu dengan membelokkan lubang bor dengan sudut kemiringan tertentu. Alat-alat pembelok ini adalah : Badger bit Spud bit Knuckle joint Whipstock Turbodrill Dyna drill Setelah mencapai sudut tertentu (4 o misalnya) maka digunakan bottomhole assembly baik untuk menambah atau memantapkan sudutnya. a. Badger Bit. Badger bit dan operasi alatnya dapat dilihat pada Gambar.. Prinsip kerja dari alat ini adalah adanya salah satu nozzle pada bit yang ukurannya lebih besar dari yang lainnya. Hal ini akan mengakibatkan semburan lumpur yang lebih besar sehingga lubang akan membelok ke arah dimana ukuran nozzle lebih besar. Gambar. Badger Bit )
41 0 b. Spud Bit Jenis alat ini dapat dilihat pada Gambar.3. Alat ini merupakan bit tanpa roller, bentuknya seperti baji dan mempunyai nozzle. Cara kerjanya sama dengan badger bit hanya disini ditambah dengan tumbukan. Gambar.3 Spud Bit di Lubang Bor ) c. Knuckle Joint Knuckle joint adalah suatu drill string yang diperpanjang dengan sendi peluru, sehingga memungkinkan putaran bersudut antara drill string dan bitnya. Gambar.4 menunjukkan operasi suatu knuckle joint, dimana sebelumnya dibuat terlebih dahulu pilot hole yang kemudian dibor kembali dengan bit yang dirangkaikan dengan reamer. Gambar.4 Knuckle Joint )
42 d. Whipstock Adalah suatu alat yang terbuat dari besi tuang yang berbentuk baji dengan saluran yang melengkung tempat bergeraknya bit. Operasi dari whipstock dapat dilihat dari Gambar.5. Dengan alat ini akan diperoleh lengkungan sebesar sampai 7 derajat. Gambar.5 Whipstock dan Operasi Alatnya ) e. Turbodrill. Turbodrill adalah down hole mud turbin yang dapat memutar bit tanpa harus memutar rangkaian bor (drill string). Kecepatan putaran sangat tergantung kepada volume lumpur dan tekanan sirkulasi di permukaan. Adanya bent sub pada turbodrill (Gambar.6) menyebabkan dapat membeloknya lubang sumur. Gambar.6 Bent Sub Pada Turbodrill )
43 f. Dyna Drill. Dyna Drill adalah down hole mud motor. Alat ini dibuat oleh Dyna Drill Coy. Seperti juga Turbodrill, Dyna Drill akan memutar bit tanpa harus memutar drill string. Adanya bent sub pada Dyna Drill menghasilkan lengkungan yang halus (smooth). Alat ini dapat dilihat pada gambar.7. Di dalam pemakaiannya, Dyna Drill tergantung kepada kecepatan sirkulasi lumpur dan beda tekanan pompa. Gambar.7 Bent Sub Pada Dyna Drill ).4 Pengarahan Lubang Bor ) Sewaktu membelokkan lubang bor dengan alat-alat pembelok, lubang bor harus selalu ke arah dimana sudut tersebut dapat mencapai sasaran. Pengarahan ini dapat dilakukan pada titik belok atau setelah titik belok apabila ternyata lubang yang dibuat telah menyimpang dari sasaran yang dikehendaki.
44 3 Alat-Alat Survey Selama operasi pemboran berarah, setiap telah dicapai titik-titik di kedalaman tertentu kita mengukur sudut kemiringan dan sudut arah lubang bor (melakukan survey). Dari pengukuran ini dapat diketahui penyimpangan sudut dari sasaran yang direncanakan sehingga dari setiap titik pengukuran ini kita dapat mengoreksi penyimpangan bila arah dan kemiringan telah menyimpang dan mengarahkan kembali ke sasaran semula. Tujuan dilakukan survey pada directional drilling adalah : a. Untuk memonitor lintasan sumur sehingga dapat dibandingkan dengan lintasan yang direncanakan. b. Untuk mencegah collision dengan existing well di sekitarnya. c. Untuk menentukan orientasi yang diperlukan untuk menempatkan alat pembelok (deflection tool) pada arah yang tepat. d. Untuk menentukan lokasi yang tepat dari dasar sumur (koordinat dasar sumur). e. Untuk menghitung dog-leg severity. Peralatan yang digunakan terbagi atas dua macam yaitu Single Shot dan Multi Shot, dimana Single Shot hanya dapat mencatat pengukuran sekali sedangkan Multi Shot dapat berkali- kali. Sebuah kompas dan unit pencatat sudut yang berbentuk cakram dipotret bersama- sama oleh sebuah kamera. Hasil pemotretan ini akan menghasilkan penyimpangan dari vertikal, karena adanya fluida yang bebas bergerak, sedang arah dicatat pada unit pencatat (unit ini terdiri dari 3 macam : 0- o, 0-0 o dan 5-90 o ). Gambar.8 Contoh Alat Survey )
45 4.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemiringan dan Arah Lubang Bor ) Lubang bor yang dihasilkan di bawah permukaan menyimpang dari sudut yang diinginkan. Hal ini disebabkan lubang bor yang terjadi berbengkok-bengkok dengan sendirinya, disebut Crooked Hole (lubang bor pada pemboran terarah disebut Slant hole). Penyebab Crooked Hole ini terdiri dari faktor yang bekerja bersama-sama yaitu faktor formasi dan faktor mekanis..5. Faktor Formasi Pada formasi yang berlapis-lapis dengan bidang perlapisan yang miring maka lubang bor akan cenderung untuk tegak lurus pada bidang perlapisan. Penembusan bit pada formasi akan meninggalkan suatu baji kecil yang dapat bertindak sebagai whipstock kecil (miniature whipstock) yang dapat membelokkan lubang sumur (Gambar.9). Teori ini disebut Miniature Whipstock Theory. Gambar.9 Miniature Whipstock Theory ).5. Faktor Mekanis Faktor-faktor ini menyangkut : Drill collar yang tidak cukup kekar sehingga mudah melengkung. Beban pada bit yang berlebihan sehingga drill collar melengkung. Perubahan bottom hole assembly akan memberikan bentuk lubang yang berlainan..6. Metode Perencanaan ) Di dalam merencanakan suatu pemboran terarah dikenal dua cara yaitu Metode Tangential dan Metode Radius Of Curvature. Metode yang disebutkan pertama merupakan metode yang tertua yang dikenal sejak dimulainya pemboran terarah. Sedangkan metode yang terakhir diperkenalkan oleh WILSON pada tahun 968 yang merupakan perbaikan dari metode Tangential.
46 5.6. Perencanaan Dengan Metode Tangential. Dari Gambar.0, setelah titik belok ditentukan (titik ), build up section (-) dibuat dengan mengubah sudut kemiringan sampai dicapai sudut maksimum yang diinginkan. Tangen section (-3) dibuat dengan mempertahankan sudut kemiringan maximum sampai kedalaman tertentu. Drop off Section (3-4) dibuat dengan mengembalikan sudut maksimum ke nol derajat dan bagian back to vertical (4-5) dibuat dengan mempertahankan sudut kemiringan nol derajat. Pada perencanaan dengan metode Tangential, dianggap bahwa interval-interval lubang berupa garis-garis patah (lurus untuk masing-masing interval) baik untuk build up maupun drop off section. Jadi dengan kata lain dianggap bahwa setiap interval yang diambil mempunyai sudut kemiringan yang sama pada awal, maupun pada akhir interval. Disini apabila diambil interval kecil-kecil (misal diambil MD setiap 00 ft) garis lengkung MD dianggap garis lurus, makin kecil kita mengambil intervalnya (misal 5 ft) perhitungan akan semakin teliti. Gambar.0 Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metode Tangential) ) TVD MDcos I... H MDsin I... dimana : TVD H MD = True vertical depth (kedalaman tegak) pada suatu interval lubang bor, ft. = Drift (throw) atau penyimpangan horizontal pada interval tersebut, ft. = Measure depth pada interval tersebut, ft
47 6 I = Besarnya sudut kemiringan pada interval tersebut, derajat. Sudut = A adalah sudut arah yang tetap besarnya. Berdasarkan persamaan-persamaan. dan. dapat dibuat suatu program komputer perencanaan pemboran terarah dan dapat ditentukan TVD dan H untuk setiap harga I per MD tertentu (misalnya o /00ft, 4 o /00 ft) hingga dicapai sudut maksimum yang diinginkan..6. Perencanaan Dengan Metode Radius Of Curvature a. Perhitungan Secara Segmental Metode ini diperkenalkan oleh WILSON.G.J pada tahun 968, yang merupakan perbaikan dari metode tangential. Tidak seperti pada metode tangential, perencanaan ini tidak menganggap interval-interval lubang bor merupakan garis-garis lurus. Di dalam metode ini, segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran yang bersifat menyinggung di titik awal dan akhir suatu interval lubang bor yang mempunyai sudut kemiringan dan sudut arah tertentu. Karena di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. Di dalam perencanaannya pemboran berjalan pada suatu bidang datar dengan sudut arah tetap (Gambar.). Gambar. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metode ROC) ) Apabila suatu bagian kecil interval lubang bor dm didalam gambar. kita perhatikan, maka akan didapatkan segmen kecil lubang bor. 80 I x...(.3) dimana:
48 7 I = Sudut kemiringan, derajat x = Suatu sudut di dalam radial tetapi juga : l b M...(.4) dimana : b = Kecepatan sudut kemiringan, /ft. M = Jarak suatu titik M dari KOP, sehingga substitusi persamaan (.4) ke (.3) didapat : x b 80 M...(.5) Dari gambar., apabila dm yang diambil sangat kecil, akan didapatkan : dz cos x dm...(.6) Substitusi ke persamaan 5 didapatkan : dz cos b diintegrasi menjadi : Z Z M dm sin b M sin b b M atau : Z Z 80 sin I sin I...(.7) b untuk titik di KOP, I 0, sehingga : Z Z 80 sin I...(.8) b Arah horizontal sepanjang build up section (=H) dapat dilihat dari gambar., apabila interval dm sangat kecil maka : dh sin x dm...(.9) Kemudian persamaan ini disubstitusi ke persamaan (5). dh sin b M x dm...(.0) 80 Apabila diintegrasi akan didapatkan : H H 80 cosi cosi...(.) b
49 8 Untuk KOP, I 0, sehingga : H H 80 cos b I...(.) Perlu diingat bahwa : I I MD MD...(.3) b Persamaan-persamaan di atas tetap berlaku untuk drop off section. Apabila digunakan program komputer untuk perencanaan, maka dapat dipakai persamaan-persamaan.7,. dan.3, untuk menghitung TVD, MD dan Drift-nya. b. Build-and-Hold Trajectory dimana : Gambar. Build-and-Hold Type Well Path Untuk X 3 < r 4 ) D : TVD kick of point, feet D : TVD buildup section, feet D 3 : TVD dasar sumur, feet X 3 : Horizontal departure, feet q : Rate of inclination angle buildup, /feet Radius of curvature, r, adalah : r = 80...(.4) q
50 9 Maximum inclination angle, diperoleh dari atau,...(.5) Dengan memperhatikan segitiga OAB, maka tan BA AO r D 3 x3...(.6a) D dan arctan r D 3 x3 D...(.6b) Dengan memperhatikan segitiga OBC, maka r sin...(.7) OB dan L OB x3 D3 D r Substitusi OB ke dalam persamaan 6-7 memberikan sin r x 3 r...(.8) D 3 D Sudut inklinasi maximum untuk build-and-hold dimana x3 r adalah : arcsin r x 3 r r x3...(.9) D 3 D arctan D 3 D Panjang busur, DC, adalah L 80 r atau DC L DC...(.0) B Panjang CB dapat ditentukan dari segitiga BCO
51 0 tan CO r L CB L CB dan L CB r tan Total measured depth,, untuk TVD dari adalah D'OC, dimana r D M D...(.) q tan Horizontal departure dari buildup section dapat diperoleh dengan memperhatikan segitiga x r r cos r cos...(.) Untuk menghitung measured depth dan horizontal departure serta TVD sepanjang build up section digunakan persamaan : D N D r sin '...(.3) Dan x N r r cos ' r ( cos ')...(.4) TVD pada akhir build up section adalah D D sin...(.5) r Measured depth sepanjang build up section adalah : D MN D...(.6) q Measured depth pada setiap TVD D' ditentukan dari segitiga PP'C : D MP D CP...(.7) q Dimana CP' CP dan CP ' D' D D' D r sin cos Oleh karena itu, D' D r sin CP...(.8) cos Substitusi persamaan 8 ke dalam persamaan 7, menghasilkan :
52 D' D r sin D MP D...(.9) q cos Horizontal departure pada titik P adalah : x ' x P' P...(.30) dimana P ' P CP' tan Menggabungkan persamaan 30, persamaan, dan CP' menghasilkan : x r cos D' D sin tan...(.3) ' r Penurunan persamaan di atas berlaku jika x 3 r Cara lain untuk menghitung sudut inklinasi maksimum arctan D r 3 D x 3 arccos D 3 r D sin arctan D r 3 D x 3 Untuk kasus x 3 r, persamaan untuk menghitung sudut inklinasi maksimum adalah: 80 arctan D x 3 3 D r arccos D 3 r D sin arctan D x 3 3 D r c. Build-Hold-and-Drop ( Sª) Trajectory Lintasan jenis ini ditunjukkan oleh gambar.3 untuk r x3 dan r r x4, dan gambar.4 untuk r x3 dan r r x4. Sudut inklinasi maksimum untuk kondisi r r x4 arctan D4 r r D x 4 arccos r D 4 r D sin arctan D4 r r D x 4...(.3)
53 Gambar.3 Build-Hold-and Drop Untuk r < X 3 and r + r > X 4 ) Gambar.4 Build-Hold-Drop-Hold (Modified-S) dimana r < X 3 dan r + r < X 4 )
54 3 Sedang sudut inklinasi maksimum untuk kondisi r r x4, 80 arctan D x 4 4 D r r arccos r D 4 r D sin arctan D x 4 4 D r r...(.33) d. Build, Hold, Partial Drop, and Hold (Modified Sª Trajectory) Panjang kurva L CA adalah: L CA ' q dan L CB sin '...(.34) r untuk CO' B, maka dapat ditulis : s BA r r cos ' r cos '...(.35) Persamaan.3 dapat ditulis dengan mensubstitusi D sin ' untuk D 4 dan 5 r x 5 r cos ' untuk x 4. Untuk tipe 'S' ini, perhitungan MD dan H dapat dilakukan seperti pada tipe Build-Hold. Gambar.5 Build, Hold, Partial Drop dimana r < X 3 dan r + r < X 4 )
55 4.6.3 Perencanaan X-Y Trajectory Gambar.6 dan.7 menunjukkan trajektori vertical dan horizontal dari directional well, dimana : L A A A D sin cos M...(.36) M L = Panjang Utara/Selatan A A A D sin sin M...(.37) M = Panjang Timur/Barat TVD dapat dihitung dengan D A A D M cos...(.38) dimana adalah pertambahan measured depthª. Gambar.6 Trajektori Vertikal )
56 5 Gambar.7 Trajektori Horizontal ).7 Metode Analisis Pemboran Berarah ) Di dalam perencanaan suatu pemboran berarah, lubang bor yang direncanakan dibuat pada bidang datar dengan sudut arah dan perubahan sudut kemiringan tertentu. Tetapi seperti yang telah diterangkan pada sub-bab yang lalu, lubang bor tidak akan terletak pada satu bidang disebabkan pengaruh dari banyak faktor. Baik sudut kemiringan maupun sudut arah lubang bor akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang telah direncanakan. Sehingga pada praktek suatu pemboran berarah, setelah dicapai kedalaman-kedalaman pemboran tertentu (biasanya setiap ft kedalaman), dilakukan pengukuran sudut kemiringan dan sudut arah (dilakukan survey). Apabila terjadi penyimpangan, lubang bor tadi diarahkan kembali ke arah yang telah ditetapkan semula. Sebagai gambaran sebenarnya, penampang horizontal suatu contoh sumur pemboran berarah dapat dilukiskan seperti terlihat pada Gambar.8 Gambar.8 Penampang Horizontal Suatu Pemboran Berarah )
57 6 Titik dan garis patah di dalam Gambar.8 didapat setelah kita mengetahui koordinat titik tersebut dan titik ini disebut titik survey. Terlihat dalam gambar bahwa titik tersebut menyimpang dari garis AE (garis yang telah direncanakan). Sehingga dari titik tersebut kita membetulkan arah kembali ke arah semula. Demikian seterusnya dengan titik survey selanjutnya hingga dicapai sasaran. Hal yang sama terjadi pula pada penampang vertikalnya, sudut kemiringan yang terjadi akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang telah direncanakan. Dari uraian di atas, masalah yang terpenting adalah menentukan koordinat titik-titik survey setepat mungkin disamping perencanaan pemborannya. Karena dengan diketahuinya titik-titik survey ini, maka kita dapatkan hal-hal berikut : a. Mengetahui kedalaman vertikal (True vertikal depth) pada titik-titik tertentu di dalam lubang sumur. b. Mengetahui penyimpangan dari sasaran, sehingga pada setiap titik survey dapat dikoreksi arah dan kemiringan lubang bor, mengarahkan kembali ke sasaran semula bila terjadi penyimpangan. c. Dari hal a dan b di atas, dengan kata lain dapat diketahui sejauh mana lubang bor kita meleset atau berhasil mencapai sasaran. Ada beberapa metode yang dapat menentukan koordinat titik-titik survey ini. Berturut-turut akan dibicarakan metode yang terdahulu hingga yang terbaru ditemukan, dimana masing-masing metode mempunyai limitasi-limitasi tertentu di dalam menganalisa persoalan. Perlu diingatkan bahwa metode yang ditemukan kemudian merupakan perbaikan dari metode yang mendahuluinya. Dalam rangka menganalisa persoalan, semua metode yang akan dibicarakan mendasarkan perhitungannya kepada pengukuran 3 besaran yaitu kedalaman sumur (MD=M), perubahan sudut kemiringan (I) dan sudut arah (A) yang dicatat oleh alat-alat survey..7. Metode Tangential Prinsip dari metode ini adalah menggunakan sudut inklinasi dan azimuth dari titik awal interval untuk menghitung vertical, depth, departure dan posisi. Prinsip dari metode tangential tersebut ditunjukkan oleh gambar.9 VD H MDcosI MDsin I
58 7 E N Dsin A Dcos A MDsin I sin A MDsin I cos dimana : MD : Pertambahan measured depth VD : Pertambahan TVD H : Pertambahan departure N : Pertambahan koordinat arah utara E : Pertambahan koordinat arah Timur A Gambar.9 Metode Tangential : (a) Vertikal; (b) Horizontal ).7. Metode Balanced Tangential Metode ini membagi dua interval dimana untuk bagian atas interval digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik awal interval dan untuk bagian bawah interval digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik akhir interval. MD D sin I MD D sin I D D MD D sin I sin I MD VD cosi MD VD cosi
59 8 Gambar.30 Metode Balanced Tangential : (a) Vertikal; (b) Horizontal ) VD N E N VD MD VD cosi cos N D cos A D cos MD sin I cos A sin I cos A E E D sin A D sin I A A MD sin I sin A sin I sin A =.7.3 Metode Angle Averaging Prinsip dari metode ini adalah menggunakan rata-rata sudut inklinasi dan rata-rata sudut azimuth dalam menghitung vertical depth, departure dan posisi. Perhitungan dengan menggunakan metode ini hampir sama dengan menggunakan metode tangential. D MDsin I I VD MDcos I I E I I A A MDsin sin N MDsin I A A I cos.7.4 Metode Radius of Curvature
60 9 Metode ini menganggap bahwa lintasan yang melalui dua station berbentuk kurva yang mempunyai radius of curvature tertentu. Prinsip perhitungan dengan menggunakan metode ini ditunjukkan oleh Gambar.3 TVD 360 I MD I sin I sin I H 360 I MD I cosi cosi N 360 MD cosi 4 A cosi A I sin A I sin A E 360 MD cosi 4 A cosi A I cos A I cos A Gambar.3 Metode Radius of Curvature ).7.5 Metode Minimum of Curvature Gambar.3 Metode Minimum of Curvature )
61 30 Persamaan metode minimum of curvature hampir sama dengan persamaan metode balanced tangential, kecuali data survey dikalikan dengan faktor RF. RF DL Radian tan DL derajat dimana : DL = dog-leg angle CosDL cos I I (sin I sin I ) cos A A MD TVD cosi cosi RF MD N sin I cos A sin I cos A RF MD E sin I sin A sin I sin A RF Metode Mercury Metode mercury adalah perbaikan dari metode balanced tangential dengan memasukkan faktor koreksi panjang dari alat survey yang dipergunakan. TVD MD STL cosi cosi STLcos I N MD STL sin I cos A sin I cos A STL sin I cos A E MD STL sin I sin A sin I sin A STL sin I sin A dimana : STL adalah panjang peralatan survey.
62 3 BAB III ANALISIS MATEMATIS METODE BALANCED TANGENTIAL, MERCURY DAN RADIUS OF CURVATURE 3. Analisis Matematis Metode Balanced Tangential ) Y (utara) C 0 (Xo,Yo, Zo) A X (timur) I S Z (vertikal) C (X, Y, Z ) Gambar 3. Sketsa dua titik berurutan di dalam lubang bor (Metode Balanced Tangential) ) Pada gambar di atas dapat diperhatikan hal-hal sebagai berikut:. Titik Co memiliki koordinat Co (Xo, Yo, Zo) dan koordinat C adalah (X, Y, Z ). S adalah jarak dari Mo ke M (measured depth di titik Co sampai titik C ) 3. Kemiringan dan arah lubang bor pada Mo diberikan oleh Io dan Ao, pada M oleh I dan A Pada ketiga kondisi diatas, proses dianggap berulang dalam pembentukan titik-titik survey berikutnya, Mo, M, M, M 3 dan seterusnya. Apabila kita perhatikan suatu titik M di dalam lintasan S maka akan didapat gambar sebagai berikut,
63 3 V x I M V m V H V m M A V y Gambar 3. Penampang vertikal (kiri) dan penampang horizontal (kanan) suatu titik survei di dalam lubang bor ) V x Jadi pada metode ini diperkenalkan notasi vektor di dalam analisisnya, dimana Vm dikenal sebagai Measured Velocity Vz = cos I kita sebut dengan vertical velocity Vh = sin I kita sebut dengan horizontal velocity Vx = Vh. sin A = sin I. sin A kita sebut east velocity Vy = Vh. cos A = sin I. cos A kita sebut north velocity Jadi dapat kita definisikan pada titik Mo Vx = sin Io. sin Ao Vy = sin Io. cos Ao Vz = cos Io Dan pada titik M Vx = sin I. sin A Vy = sin I. cos A Vz = cos I Menurut Taylor H.L dan Mason C.M koordinat M dinyatakan oleh koordinat Mo dengan hubungan sebagai berikut ) : X = Xo + S γ s (U x + V x )/ Y = Yo + S γ s (U y + Vy)/ Z = Zo + S γ s (U z + V z )/ Dimana :
64 33 X: East Y: North Z: TVD, true vertical depth S : jarak dari Mo ke M γ s : merupakan fungsi dari besarnya sudut perpotongan dua garis singgung yang melalui Mo dan M U x : east velocity pada titik M U y : north velocity pada titik M U z : vertical velocity pada titik M V x : east velocity pada titik Mo V y : north velocity pada titik Mo V z : vertical velocity pada titik Mo Dari persamaan 3. s/d 3.3 didapatkan Vx +Vy + Vz = sin Io. sin Ao + sin Io. cos Ao + cos Io = sin Io. (sin Ao+ cos Ao) + cos Io = sin Io. () + cos Io = Demikian pula untuk Ux +Uy + Uz = Dan juga berlaku hubungan: cos ψ = = dimana ψ adalah sudut antara garis singgung lubang bor pada Mo dan M cos ψ = = perhatikan pers 3.7 s/d 3.9, untuk mendapatkan lintasan sepanjang S maka γ s = ( ) = = (+ cos ψ) +. + = +. + = (+ ) = (+ cos ψ) γ s = = Sedangkan untuk metode Balanced Tangential, ψ diabaikan ψ = 0 sehingga
65 34 γ s = = Kemudian disubstitusikan kembali ke pers 3.7 s/d 3.9 X i = X i- + Y i = Y i (sin I i- sin A i- + sin I i sin A i ) (sin I i- cos A i- + sin I i cos A i ) Z i = Z i (cos I i- + cos I i ) Analisis Matematis Metode Mercury ) Metode ini merupakan perbaikan dari Metode Balanced Tangential dengan memasukkan faktor koreksi panjang alat survei yang digunakan. Nama Mercury sendiri diperoleh dari nama daerah di negara bagian Nevada, Amerika Serikat, dimana umumnya metode ini digunakan di dalam survei pemboran berarah di daerah tersebut. Sebagai gambaran metode ini, perhatikan gambar berikut Mc i- M i- M i- I i- I i- M i Mc i I i I m M i Alat survei Gambar 3.3 Segmen lubang bor & alat survei/metode Mercury (kiri) dan tanpa alat survei/metode Balanced Tangential (kanan)
66 35 Posisi alat survei di dalam lubang bor yang digunakan untuk mengukur I dan A pada suatu titik survei dapat dilihat pada gambar di atas. Peralatan alat ukur dan kompas, tidak akan mungkin terletak di ujung alat pemboran (bit), karena getaran yang sangat bisa merusak alat tersebut. Sehingga pada kenyataannya, posisi yang diukur oleh alat adalah Mc bukan posisi bit terakhir (M i ). Dengan demikian perlu adanya koreksi terhadap panjang alat survei. Untuk menganalisis hal tersebut, dari M i- ke M i kita bagi menjadi dua lintasan terlebih dahulu,. Lintasan M i- ke Mc i, pada lintasan ini dianggap berlaku rumusan analisis metode balanced tangential.. Lintasan Mc i ke M i, dianggap berlaku rumus tangential karena sepanjang lintasan ini tidak terjadi perubahan sudut I dan A yang diukur oleh alat survei. (Mc adalah titik tempat alat kompas pengukur berada) Rumusan analisis metode Balanced Tangential dapat ditulis sbb: C i = C i- + ( - )M Dimana C i = koordinat titik ke-i dalam X, Y, Z M = jarak lintasan (dari M i ke M i- ) C i- = koordinat titik M i- dala X, Y, Z Vm i = measured velocity pada titik ke-i Vm i- = measured velocity pada titik ke-i- Dan nilai Vm i dan Vm i- sebesar, sin I i sin A i dan sin I i- sin A i- dalam arah X (east) sin I i cos A i dan sin I i- cos A i- dalam arah Y (north) cos I i dan cos I i- dalam arah Z (vertical) Pada lintasan M i- ke M c berlaku metode balanced tangential sehingga Cc i - C i- = ( Cc i = C i- + ( - - )(Mc i M i- ) )(Mc i Mc i- - SLT) Ket: Cc i = koordinat titik ke-i yang terukur oleh alat (dalam X, Y, Z) Cc i- = koordinat titik ke- i- yang terukur oleh alat (dalam X, Y, Z)
67 36 M i- = measured depth (MD) titik ke- i- Vm i = measured velocity pada titik ke-i Vm i- = measured velocity pada titik ke- i- Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat di titik ke- i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat di titik ke- i- SLT = panjang alat survei dari bit Sedangkan dalam lintasan Mc i ke M i berlaku metode tangential sehingga C i = Cc i + Vm i.slt Sehingga jika disubstitusikan 3.0 ke 3. maka didapatkan C i = C i- + ( - )(Mc i Mc i- - SLT) + SLT.Vm i Ubah M = M i - M i- dan Vm diubah ke dalam komponennya masing-masing (X, Y, Z) maka, X i = X i- + (Mc i - Mc i- SLT) ( - - ) + SLT.(sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (Mc i - Mc i- SLT) ( - - ) + SLT.( sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (Mc i - Mc i- SLT) ( - ) + SLT.cos I i Analisis Matematis Metode Radius of Curvature ) Metoda ini diperkenalkan oleh WILSON G.J pada tahun 968, yang merupakan perbaikan dari metoda tangential. Tidak seperti pada metoda tangential, perencanaan ini tidak menganggap interval-interval lubang bor merupakan garis-garis lurus. Di dalam metoda ini, segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran yang bersifat menyinggung di titik awal dan akhir suatu interval lubang bor yang mempunyai sudut kemiringan dan sudut arah tertentu. Karena di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. Di dalam perencanaannya pemboran berjalan pada suatu bidang datar dengan sudut arah tetap (Gambar 3.4)
68 37 Z Y I dl X dz A ds dy dx Gambar 3.4 Sketsa dua titik survei yang berurutan pada lubang bor (Metode Radius of Curvature) ) Anggap bahwa M dapat dibagi menjadi bagian-bagian kecil dl yang tidak terbatas kecilnya, sehingga, = Anggap lengkungan i- sampai i merupakan lengkungan dengan perubahan sudut yang konstan = = konstan Cos I = Sehingga = cos I Kemudian 3.0 diintegrasikan sepanjang i- sampai i dz = cos I. di...3. Z i Z i- = (sin I i - sini i-)...3. Anggap lengkungan yang diproyeksikan di bidang horizontal berupa lengkungan yang konstan sehingga = = konstan
69 38 sin I = Sehingga = Kemudian 3.4 diintegrasikan sepanjang i- sampai i ds = sin I. di S i S i- = (cos I i- - cosi i) Sedangkan sin A = cos A = = = sin A dx = sin A. da X i X i- = (cos A i- cos A i ) Lalu dari hasil substitusi didapat X i X i- = (cos I i- - cosi i) (cos A i- cos A i ) Sedangkan = = cos A dy = cos A. da Y i Y i- = (sin A i - sina i-) Kemudian disubstitusikan Y i Y i- = (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Akhirnya kita dapatkan semua persamaan berikut:
70 39 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) dengan I dan A dalam л radian Namun kita juga harus memperhatikan bahwa I dan A masih dalam radian sedangkan dalam prakteknya, satuan I dan A adalah, maka dalam perhitungan harus dikalikan л/80. Dan jika terjadi kasus dimana I i = I i- dan A i = A i-, persamaan di atas harus diturunkan. Menurut Teorema L Hospital: Demikian pula untuk = = sin I i = = cos I i Hal ini juga analog untuk A i = A i- = cos A i = sin A i Sehingga persamaan kita menjadi:. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- )
71 40 3. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) Z i = Z i- + (cos I i ) Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i) (sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) dengan I i = sudut inklinasi yang terbentuk pada titik ke- i, dalam I i- = sudut inklinasi yang terbentuk sebelum titik ke- i, dalam A i = sudut azimuth yang terbentuk pada titik ke- i, dalam A i- = sudut azimuth yang terbentuk sebelum titik ke- i, dalam X i X i- Y i Y i- Z i Z i- M i = posisi east (E) bit pada titik ke- i = posisi east (E) bit sebelum titik ke- i = posisi north (N) bit pada titik ke- i = posisi north (N) bit sebelum titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit pada titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit sebelum titik ke- i = measured depth (MD) bit pada titik ke- i M i- = measured depth (MD) bit sebelum titik ke- i
72 4 BAB IV PEMBAHASAN 4. Usulan Rumus Baru Modified Radius of Curvature yang Menambahkan Faktor Panjang Alat Survei pada Metode Radius of Curvature Pada bab-bab sebelumnya, penulis menjelaskan anggapan-anggapan yang digunakan dalam metode perhitungan hasil survei pemboran berarah. Ada metode yang menganggap segmen lubang bor berupa garis lurus, ada yang menganggap juga garis lurus tetapi membagi dua segmen tiap interval survei, ada yang menganggap garis lurus dengan merata-ratakan sudut pada perhitungannya dan ada yang menganggap sebagai busur lingkaran. Dan dari enam metode perhitungan hasil survei yang telah ada, Metode Radius of Curvature, yang menganggap segmen lubang bor adalah busur lingkaran, adalah metode yang paling mendekati keadaan asli, karena di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran ). Selama ini seluruh metode, kecuali Metode Mercury, menganggap titik yang dibaca oleh alat ukur berada pada ujung bit. Padahal pada kenyataannya, alat pengukur kedalaman dan sudut (Inklinasi dan Azimuth) tidak berada pada ujung dari bit, karena efek getaran di bit akan merusak alat pengukur. Oleh karena itu, Metode Mercury kemudian muncul sebagai perbaikan dari Metode Balanced Tangential dengan menambahkan koreksi panjang alat. Tidak ada buku referensi yang menyebutkan berapa jarak antara bit dan alat pengukur ini, tetapi penulis mencoba mencari informasi dari ahli pemboran di lapangan. Pada umumnya, jarak antara ujung bit dan alat pengukur ini adalah setengah sampai satu joint yang artinya 5-30 feet. Beranjak dari penjelasan dosen mengenai hal inilah yang kemudian membuat penulis tergerak untuk mengusulkan rumus baru dengan base Metode Radius of Curvature karena metode ini yang paling mendekati keadaan sebenarnya. Dengan berbekal penurunan rumus dari Metode Mercury yang menggunakan base Metode Balanced Tangential, penulis kemudian menganalogkan pada Metode Radius of Curvature. Pada penurunan Modified Radius of Curvature ini, penulis menggunakan beberapa
73 4 simbol yang agak berbeda dari yang sudah biasa kita kenal untuk mempermudah penulisan. Berikut ini adalah penjelasan simbol yang digunakan penulis. I i I i- A i A i- Xc i = sudut inklinasi yang terbentuk pada titik ke- i = sudut inklinasi yang terbentuk sebelum titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk pada titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk sebelum titik ke- i = posisi east (E) yang terukur alat pada titik ke- i Xc i- = posisi east (E) yang terukur alat sebelum titik ke- i Yc i = posisi north (N) yang terukur alat pada titik ke- i Yc i- = posisi north (N) yang terukur alat sebelum titik ke- i Zc i = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat pada titik ke- i Zc i- = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat sebelum titik ke- i Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat pada titik ke- i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat sebelum titik ke- i X i X i- Y i Y i- Z i Z i- M i = posisi east (E) bit pada titik ke- i = posisi east (E) bit sebelum titik ke- i = posisi north (N) bit pada titik ke- i = posisi north (N) bit sebelum titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit pada titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit sebelum titik ke- i = measured depth (MD) bit pada titik ke- i M i- = measured depth (MD) bit sebelum titik ke- i SLT = panjang alat survei dari bit Vm i = measured velocity pada titik ke-i Vm i- = measured velocity sebelum titik ke- i Vz = vertical velocity Vh = horizontal velocity Vx = east velocity Vy = north velocity
74 43 Mc i- M i- M i- I i- I i- M i Mc i I i I m M i Alat survei Gambar 4. Segmen lubang bor & alat survei (kiri) dan tanpa alat survei/metode Radius of Curvature (kanan) Dalam gambar di atas, bisa kita perhatikan bahwa pada Metode Radius of Curvature (kanan), Mc i diidentifikasi sebagai M i (Mc i = M i,roc ) inilah alasan utama perlu adanya koreksi terhadap panjang alat survei. Perbedaan sudut inklinasi yang terbaca oleh alat dan di bit dianggap diabaikan karena tidak terlalu signifikan. Sebagai contoh, saat kita memiliki bur = / 00 ft, maka perbedaan inklinasi di bit dan inklinasi yang terbaca oleh alat hanya sebesar = 0.3 Dan dari gambar 4. di atas, dari Mc i ke M i tidak terjadi perubahan sudut I dan A yang diukur oleh alat survei sehingga I i dan A i pada Metode Radius of Curvature sama dengan I m dan A m (I i = I m dan A i = A m ). Seperti analisis metode Mercury, pada analisis Modified Radius of Curvature ini, dari M i- (X i-, Y i-, Z i- ) ke M i (X i, Y i, Z i ) kita bagi menjadi dua lintasan terlebih dahulu,. Lintasan M i- ke Mc i, pada lintasan ini berlaku rumusan analisis metode Radius of Curvature.. Lintasan Mc i ke M i, dianggap berlaku rumus tangential karena di sepanjang lintasan ini tidak terjadi perubahan sudut I dan A yang diukur oleh alat survei. Pada lintasan M i- s/d Mc i, M i- = Mc i- +SLT sehingga berlakulah rumus berikut. Jika ΔI 0 dan ΔA 0
75 44 Xc i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) Yc i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- ) Zc i = Z i- + (sin I i - sini i- ). Jika ΔI 0 dan ΔA=0 Xc i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) Yc i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) Zc i = Z i- + (sin I i - sini i- ) 3. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 Xc i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) Yc i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) Zc i = Z i- + (cos I i ) 4. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 Xc i = X i- + (sin I i) (sin A i ) Yc i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) Zc i = Z i- + (cos I i ) Pada lintasan M c ke M i- berlaku rumus Balanced Tangential, perhatikan lagi gambar berikut dan gambar 4. I M V H V x V z V m M A V y V H Gambar 4. Penampang vertikal (kiri) dan penampang horizontal (kanan) suatu titik survei di dalam lubang bor )
76 45 Mari kita perhatikan lagi penurunan rumus dari metode Tangential pada sub 3., dan gambar 4. diatas. Vz = cos I, kita sebut dengan vertical velocity Vh = sin I, kita sebut dengan horizontal velocity Vx = Vh. sin A = sin I. sin A, kita sebut east velocity Vy = Vh. cos A = sin I. cos A, kita sebut north velocity Maka pada lintasan M c ke M i ini berlaku persamaan X i = X c + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y c + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z c + SLT.cos I i Sehingga jika kita gabungkan dari lintasan M i- sampai dengan M i, maka. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i)(cos A i- - cosa i )+SLT.(sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- )+ SLT.(sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i. Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i 3. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i
77 46 4. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) + SLT.cos I i dengan I i I i- A i A i- Xc i = sudut inklinasi yang terbentuk pada titik ke- i = sudut inklinasi yang terbentuk sebelum titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk pada titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk sebelum titik ke- i = posisi east (E) yang terukur alat pada titik ke- i Xc i- = posisi east (E) yang terukur alat sebelum titik ke- i Yc i = posisi north (N) yang terukur alat pada titik ke- i Yc i- = posisi north (N) yang terukur alat sebelum titik ke- i Zc i = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat pada titik ke- i Zc i- = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat sebelum titik ke- i Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat pada titik ke- i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat sebelum titik ke- i X i X i- Y i Y i- Z i Z i- M i = posisi east (E) bit pada titik ke- i = posisi east (E) bit sebelum titik ke- i = posisi north (N) bit pada titik ke- i = posisi north (N) bit sebelum titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit pada titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit sebelum titik ke- i = measured depth (MD) bit pada titik ke- i M i- = measured depth (MD) bit sebelum titik ke- i SLT = panjang alat survei dari bit
78 47 4. Validasi Rumus Untuk meyakinkan benar tidaknya rumus evaluasi titik survei pemboran berarah ini, penulis membandingkannya terhadap perencanaan pemboran berarah. Namun ada kendala yang terjadi, yaitu penulis hanya bisa membandingkan TVD saja sedangkan North dan East tidak bisa dibandingkan karena tidak ada data azimuth per kedalaman saat perencanaan pemboran, yang ada hanya NE target saja. Jadi validasi NE hanya sebatas asumsi dengan melihat validasi TVD dan hanya dengan membandingkan dengan metode yang lain. MD i pada perencanaan senilai dengan MD yang terukur saat evaluasi ditambah panjang alat survei. Misalnya saja, saat perencanaan MD i =00 tapi pada evaluasi pemboran MD masih berada pada (00-SLT) karena MD tersebutlah yang terbaca oleh alat survei. Berikut ini hasil validasi yang telah penulis lakukan, Contoh kasus : Perencanaan Pemboran Berarah dengan Metode Build-Hold dengan data yang diketahui, BUR yang digunakan /00 ft, KOP 600, TVD target 450 ft, N target sebesar ft, E target ft, panjang alat survei atau SLT=5 ft. Tabel 4. Hasil perhitungan desain pemboran dengan Build-Hold (menggunakan software Directional Drilling) MD desain I TVD desain
79 Sedangkan evaluasi pemboran menggunakan perhitungan dan menghasilkan data berikut Mc i- = 0 Mc i = 85, I i- = 0 dan I i = 0 maka secara langsung dapat ditetapkan Z i = M c +SLT = 85+5 = Mc i- = 85 Mc i = 85, Z i- = 00, I i- = 0 dan I i = 0 (ΔI = 0) maka berlaku rumus
80 49 Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i Dengan plug in number, Z i = 00 + cos cos 0 Z i = Mc i- = 585 Mc i = 685, Z i- = 600, I i- = 0 dan I i = maka berlaku rumus Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i Z i = (sin sin 0) + 5.cos = ft Tabel 4. Hasil perhitungan dengan menggunakan usulan Modified Radius of Curvature M (MD terbaca oleh alat) I (Inklinasi) Z (TVD)
81 Besarnya MD desain = MD yang terbaca oleh alat + panjang alat, atau M i = Mc i +SLT maka Z dari perhitungan pada tabel 4. dan 4. dapat disejajarkan dan dibandingkan. Dan pada tabel berikut ini perbandingan dan galat yang dihasilkan oleh Modified Radius of Curvature ini. Tabel 4.3 Perbandingan Z yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain M (MD desain) I (Inklinasi) Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih Galat %
82
83 Rata-rata Dari tabel di atas, bisa dikatakan bahwa rumus ini akurat karena rata-rata galat antara Z (TVD) dari desain Buid-Hold dan Z (TVD) dari rumus ini adalah sebesar %. Dengan menggunakan kasus yang sama dengan kasus, penulis melakukan perbandingan dengan Metode Radius of Curvature karena metode ini yang paling mendekati kondisi lubang bor. Dengan cara perhitungan yang sama dengan contoh kasus, hasilnya bisa dilihat pada tabel 4.4. Rumus ini akan sangat berguna jika pemboran berarah membutuhkan akurasi yang sangat tepat misalnya saat kita memiliki zone produktif yang tipis atau saat menghadapi zone yang berbahaya. Tabel 4.4 Perbandingan Z yang dihasilkan Modified ROC dan ROC MD terbaca oleh alat I Z dengan ROC Z dengan Modified ROC selisih kesalahan
84 Rata-rata 0.087
85 54 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kesimpulan. Kita harus mengetahui koordinat titik survei di dalam suatu pemboran berarah untuk dapat melakukan koreksi sudut yang terbentuk. Dan kemudian bisa diarahkan kembali ke sasaran jika terjadi penyimpangan. Perhitungan hasil survei selama ini dilakukan dengan metode Tangential, Balanced Tangential, Angle Averaging, Radius of Curvature, Minimum of Curvature dan Mercury. Lima metode terakhir cocok digunakan bila alat-alat pembelok yang digunakan dapat membuat lubang dengan lengkungan yang halus seperti Turbo Drill, Dyna Drill dan lain-lain sedangkan metode Tangential cocok digunakan jika alat yang digunakan seperti whipstock. 3. Radius of Curvature adalah metode yang paling mendekati keadaan sebenarnya karena dalam perhitungannya, segmen lubang bor dianggap sebagai busur lingkaran. Dan di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran. 4. Usulan metode baru dengan menambahkan koreksi panjang alat pada Radius of Curvature menghasilkan galat rata-rata paling besar sebesar 0.09% saat dibandingkan dengan perencanaan pemboran berarah (Build-Hold dan Build-Hold-Drop) 5. Rumus ini akan sangat berguna jika pemboran berarah membutuhkan akurasi yang sangat tepat misalnya saat ketebalan zone produktifnya tipis atau saat menghadapi zone yang berbahaya 6. Modified Radius of Curvature ini memiliki 4 kondisi yang harus diperhatikan dengan rumusnya masing-masing. Berikut ini Modified Radius of Curvature yang dibuat oleh penulis a. Jika ΔI 0 dan ΔA 0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i )
86 55 Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i - sina i- )+ SLT.(sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i b. Jika ΔI 0 dan ΔA=0 X i = X i- + (cos I i- - cosi i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (cos I i- - cosi i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (sin I i - sini i- ) + SLT.cos I i c. Jika ΔI=0 dan ΔA 0 X i = X i- + (sin I i) (cos A i- - cosa i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (sin A i - sina i- ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + cos I i + SLT.cos I i d. Jika ΔI=0 dan ΔA=0 X i = X i- + (sin I i) (sin A i ) + SLT. (sin I i sin A i ) Y i = Y i- + (sin I i) (cos A i ) + SLT. (sin I i cos A i ) Z i = Z i- + (cos I i ) + SLT.cos I i dengan I i I i- A i A i- Xc i = sudut inklinasi yang terbentuk pada titik ke- i = sudut inklinasi yang terbentuk sebelum titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk pada titik ke- i = sudut azimuth yang terbentuk sebelum titik ke- i = posisi east (E) yang terukur alat pada titik ke- i Xc i- = posisi east (E) yang terukur alat sebelum titik ke- i Yc i = posisi north (N) yang terukur alat pada titik ke- i Yc i- = posisi north (N) yang terukur alat sebelum titik ke- i Zc i = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat pada titik ke- i
87 56 Zc i- = posisi vertikal (TVD) yang terukur alat sebelum titik ke- i Mc i = measured depth (MD) yang terukur alat pada titik ke- i Mc i- = measured depth (MD) yang terukur alat sebelum titik ke- i X i X i- Y i Y i- Z i Z i- M i = posisi east (E) bit pada titik ke- i = posisi east (E) bit sebelum titik ke- i = posisi north (N) bit pada titik ke- i = posisi north (N) bit sebelum titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit pada titik ke- i = posisi vertikal (TVD) bit sebelum titik ke- i = measured depth (MD) bit pada titik ke- i M i- = measured depth (MD) bit sebelum titik ke- i SLT = panjang alat survei dari bit
88 57 5. Saran. Rumus ini dibuat dengan beberapa keterbatasan, salah satunya saat melakukan validasi. Oleh karena itu menurut penulis, dibutuhkan survei khusus untuk membuktikan rumus ini, jika memungkinkan dengan meletakkan alat pengukur di ujung alat.. Karena rumus ini menggunakan base Radius of Curvature, jadi metode ini cukup rumit karena rumus ini harus memperhatikan kondisi ΔI dan ΔA, sehingga harus ada 4 kondisi dengan rumusnya masing-masing. Oleh karena itu penulis menyarankan untuk membuat penurunan rumus baru dengan base Metode Minimum Curvature, dengan pertimbangan kemudahan dan keakuratan hasil evaluasinya hampir menyamai Radius of Curvature.
89 58 DAFTAR PUSTAKA. Rubiandini R.S, Rudi: TM-3 Teknik Operasi Pemboran, Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung, L. Tobing, Sanjon: Metode Perencanaan Pada Pemboran Berarah dan Analisa Matematis Terhadap Titik Survey, Kolokium I Jurusan Teknik Perminyakan, ITB, Rabia, H., Oilwell Drilling Engineering : Principles and Practice, Graham & Trotman Inc., Yudiarto, Wing Bramono: Transformasi Survey Trajectory Pemboran Berarah Untuk Visualisasi Tiga Dimensi, Tugas Akhir Jurusan Teknik Perminyakan, ITB, Bourgoyne, Jr., A.T, Millheim, K.K., Chenevert, M.E., and Young, Jr., F.S., Applied Drilling Engineering, First Printing, Society of Petroleum Engineerings, Richardson, TX, 986.
90 59 LAMPIRAN A Hasil Perhitungan Z (TVD) yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain, dengan kasus Metode Build Hold: Bur.5 / 00 feet KOP 500 TVD 0000 N 3000 E 4000 M (MD) desain I Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih galat
91
92
93 rata-rata
94 63 LAMPIRAN B Hasil Perhitungan Z (TVD) yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain, dengan kasus Metode Build Hold Drop: Bur / 00 feet Bur / 00 feet KOP 000 TVD 8000 N 500 E 500 M (MD) desain I Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih galat
95
96 E Rata-rata
97 66 LAMPIRAN C Hasil Perhitungan Z (TVD) yang dihasilkan Modified Radius of Curvature dan desain, dengan kasus Metode Build Hold: Bur / 00 feet KOP 600 TVD 4500 N 3000 E 4000 M (MD) desain I Z (TVD) Modified ROC Z (TVD) desain selisih galat
98
99 Rata-rata
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: PERBANDINGAN LINTASAN PEMBORAN BERARAH DENGAN BERBAGAI METODE PERHITUNGAN PADA SUMUR G-12 LAPANGAN G
PERBANDINGAN LINTASAN PEMBORAN BERARAH DENGAN BERBAGAI METODE PERHITUNGAN PADA SUMUR G-12 LAPANGAN G Grace BS, Widrajat AK, Harin Widiyatni Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian Dan Energi
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: PENGARUH KICK OFF POINT TERHADAP PERENCANAAN LINTASAN PEMBORAN BERARAH PADA SUMUR W, X, Y, Z
PENGARUH KICK OFF POINT TERHADAP PERENCANAAN LINTASAN PEMBORAN BERARAH PADA SUMUR W, X, Y, Z Fernandi Kesuma Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti Email
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: EVALUASI LINTASAN PEMBORAN BERARAH PADA SUMUR Z LAPANGAN XYY PETROCHINA INTERNATIONAL
EVALUASI LINTASAN PEMBORAN BERARAH PADA SUMUR Z LAPANGAN XYY PETROCHINA INTERNATIONAL Varian Erwansa, Faisal E Yazid, Abdul Hamid Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Trisakti Email: [email protected]
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
EVALUASI LINTASAN PEMBORAN BERARAHDENGAN METODE MINIMUM OF CURVATURE PADASUMUR X LAPANGAN Y PETROCHINA INTERNATIONAL Abdul Hamid,Aan Setiawan Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Trisakti E-mail:
BAB I. PENDAHULUAN...1 BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN...9
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv KATA PENGANTAR...v RINGKASAN... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR...x DAFTAR TABEL...
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: PERENCANAAN LINTASAN PEMBORAN BERARAH SUMUR F PADA LAPANGAN PANAS BUMI DARAJAT
PERENCANAAN LINTASAN PEMBORAN BERARAH SUMUR F PADA LAPANGAN PANAS BUMI DARAJAT Ferianto Frans Wibowo Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian Dan Energi Universitas Trisakti E-mail :[email protected]
Desain Sumur Directional dan Hasil Evaluasi Trajectory Pemboran Sumur Geothermal Field X
Desain Sumur Directional dan Hasil Evaluasi Trajectory Pemboran Sumur Geothermal Field X Bambang Yudho Suranta, Faishal Hafizh 2,2 STEM Akamigas, Jl.Gajah Mada No.38, Cepu Email: [email protected] ABSTRAK
Evaluasi Penggunaan Rig 550 HP Untuk Program Hidrolika Pada Sumur X Lapangan Y
Evaluasi Penggunaan Rig 550 HP Untuk Program Hidrolika Pada Sumur X Lapangan Y Ryan Raharja, Faisal E.Yazid, Abdul Hamid Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti Abstrak Pada operasi pemboran
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: PERENCANAAN LINTASAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN PADA LUBANG 8-1/2, SUMUR FA-12, LAPANGAN A
PERENCANAAN LINTASAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN PADA LUBANG 8-1/2, SUMUR FA-12, LAPANGAN A Maruti Tiffany Adila, Widrajdat Aboekasan Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti Abstrak Dalam pemboran
TEORI DASAR PEMBORAN BERARAH. yaitu; Pemboran Vertikal, Pemboran Berarah, dan Pemboran Horizontal.
TEORI DASAR PEMBORAN BERARAH Kegiatan pemboran merupakan hal pertama yang dilakukan sebelum minyak bumi atau gas dapat diproduksikan. Pemboran dilakukan dengan tujuan untuk membuat saluran antara reservoir
FAKTOR KOREKSI TERHADAP PERHITUNGAN d EKSPONEN AKIBAT ADANYA PERUBAHAN TIPE BIT DAN UKURAN BIT
PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001 Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001 FAKTOR KOREKSI TERHADAP PERHITUNGAN d EKSPONEN AKIBAT ADANYA PERUBAHAN TIPE BIT DAN UKURAN BIT Rudi Rubiandini R.S., Tumpal Ebenhaezar
PENGARUH TEMPERATUR DAN TEKANAN TERHADAP DESAIN PARAMETER HIDROLIKA PADA MANAGED PRESSURE DRILLING JENIS CONSTANT BOTTOM HOLE PRESSURE TUGAS AKHIR
PENGARUH TEMPERATUR DAN TEKANAN TERHADAP DESAIN PARAMETER HIDROLIKA PADA MANAGED PRESSURE DRILLING JENIS CONSTANT BOTTOM HOLE PRESSURE TUGAS AKHIR PENGARUH TEMPERATUR DAN TEKANAN TERHADAP DESAIN PARAMETER
Dr. Ramadoni Syahputra Jurusan Teknik Elektro FT UMY
SISTEM-SISTEM KOORDINAT Dr. Ramadoni Syahputra Jurusan Teknik Elektro FT UMY Sistem Koordinat Kartesian Dalam sistem koordinat Kartesian, terdapat tiga sumbu koordinat yaitu sumbu x, y, dan z. Suatu titik
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: Evaluasi Perencanaan Desain Casing Pada Sumur SELONG-1 Di Lapangan Selong
Evaluasi Perencanaan Desain Casing Pada Sumur SELONG-1 Di Lapangan Selong Hendri Kurniantoro, Mu min Prijono Tamsil Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti Abstrak Perencanaan casing merupakan
Kata Kunci : Pemboran berarah, directional drilling, evaluasi pemboran
Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN: 2541-0849 e-issn: 2548-1398 Vol. 2, No 8 Agustus 2017 EVALUASI PEMBORAN BERARAH SUMUR X PT MEDCO E&P INDONESIA Mugita Ayu Andriareza dan Hanibal Nuril Hakim
B.1. Menjumlah Beberapa Gaya Sebidang Dengan Cara Grafis
BAB II RESULTAN (JUMLAH) DAN URAIAN GAYA A. Pendahuluan Pada bab ini, anda akan mempelajari bagaimana kita bekerja dengan besaran vektor. Kita dapat menjumlah dua vektor atau lebih dengan beberapa cara,
LATIHAN SOAL ILMU UKUR TAMBANG. Oleh: YULI KUSUMAWATI, S.T., M.T.
LATIHAN SOAL ILMU UKUR TAMBANG Oleh: YULI KUSUMAWATI, S.T., M.T. Contoh 1. Hitunglah bearing dari data pengukuran poligon berikut ini: BS IS Sudut kanan Jarak datar Bearing FS 6 7 8 9 10 6 7 8 9 10 11-280
Bagian 4 Terapan Differensial
Bagian 4 Terapan Differensial Dalam bagian 4 Terapan Differensial, kita akan mempelajari materi bagaimana konsep differensial dapat dipergunakan untuk mengatasi persoalan yang terjadi di sekitar kita.
5.1 Menggambar grafik fungsi
5. Aplikasi Turunan 5. Menggambar graik ungsi Inormasi yang dibutuhkan: A. Titik potong dengan sumbu dan sumbu y B. Asimtot ungsi Deinisi 5.: Asimtot ungsi adalah garis lurus yang didekati oleh graik ungsi.
a menunjukkan jumlah satuan skala relatif terhadap nol pada sumbu X Gambar 1
1. Koordinat Cartesius Sistem koordinat Cartesius terdiri dari dua garis yang saling tegak lurus yang disebut sumbu Sumbu horizontal disebut sumbu X dan sumbu vertikal disebut sumbu Y Tiap sumbu mempunyai
c. 2 cara yang digunkan untuk memindahkan titik dari permukaan tanah;
Penyelesaian : 1. Yang dimaksud dengan : a. Ilmu ukur tanah ialah suatu ilmu yang mempelajari sebagian bentuk permukaan bumi, bentuk mana dilakukan dengan cara mengukur tanah. Proses perhitungan dan menggambarkan
TURUNAN FUNGSI TRIGONOMETRI
SOAL-JAWAB MATEMATIKA PEMINATAN TURUNAN FUNGSI TRIGONOMETRI Soal Jika f ( ) sin cos tan maka f ( 0) Ingatlah rumus-rumus turunan trigonometri: y sin y cos y cos y sin y tan y sec Karena maka f ( ) sin
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
EVALUASI PERENCANAAN CASING PEMBORAN SECARA TEKNIS DAN EKONOMIS PADA SUMUR NP 03-X DI LAPANGAN NP PERTAMINA UTC Abstrak Novi Pahlamalidie Jurusan Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti Email: [email protected]
5. Aplikasi Turunan MA1114 KALKULUS I 1
5. Aplikasi Turunan MA4 KALKULUS I 5. Menggambar grafik fungsi Informasi yang dibutuhkan: A. Titik potong dengan sumbu dan sumbu y B. Asimtot fungsi C. Kemonotonan Fungsi D. Ekstrim Fungsi E. Kecekungan
TKS-4101: Fisika. KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA
J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA TKS-4101: Fisika KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB 1 Gerak 2 dimensi lintasan berada dalam
TINJAUAN PUSTAKA. (statistik) dinamakan galat baku statistik, yang dinotasikan dengan
TINJAUAN PUSTAKA Penduga Titik dan Selang Kepercayaan Penduga bagi parameter populasi ada dua jenis, yaitu penduga titik dan penduga selang atau disebut sebagai selang kepercayaan. Penduga titik dari suatu
BAB V PENERAPAN DIFFERENSIASI
BAB V PENERAPAN DIFFERENSIASI 5.1 Persamaan garis singgung Bentuk umum persamaan garis adalah = m + n, dimana m adalah koeffisien arah atau kemiringan garis dan n adalah penggal garis. Sekarang perhatikan
DIKTAT KULIAH KALKULUS PEUBAH BANYAK (IE-308)
DIKTAT KULIAH (IE-308) BAB 6 INTEGRAL GARIS Diktat ini digunakan bagi mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha Ir. Rudy Wawolumaja M.Sc JURUSAN TEKNIK INDUSTRI -
Kurikulum 2013 Antiremed Kelas 11 Matematika
Kurikulum 03 Antiremed Kelas Matematika Turunan Fungsi dan Aplikasinya Soal Doc. Name: K3ARMATPMT060 Version: 05-0 halaman 0. Jika f(x) = 8x maka f (x). (A) 8x (B) 8x (C) 6x (D) 6x (E) 4x 0. Diketahui
Pengukuran Tachymetri Untuk Bidikan Miring
BAB XII Pengukuran Tachymetri Untuk Bidikan Miring Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi yang sepihak adalah sebanding. Kebanyakan pengukuran tachymetri
KALKULUS I MUG1A4 PROGRAM PERKULIAHAN DASAR DAN UMUM (PPDU) TELKOM UNIVERSITY V. APLIKASI TURUNAN
KALKULUS I MUGA4 PROGRAM PERKULIAHAN DASAR DAN UMUM (PPDU) TELKOM UNIVERSITY V. APLIKASI TURUNAN MENGGAMBAR GRAFIK FUNGSI A. Titik potong dengan sumbu dan sumbu y B. Asimtot ungsi Deinisi : Asimtot ungsi
KINEMATIKA GERAK 1 PERSAMAAN GERAK
KINEMATIKA GERAK 1 PERSAMAAN GERAK Posisi titik materi dapat dinyatakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suatu bidang datar maupun dalam bidang ruang. Vektor yang dipergunakan untuk menentukan posisi disebut
PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Tugas Akhir Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung Oleh : NOVRI TRI
5. Aplikasi Turunan 1
5. Aplikasi Turunan 5. Menggambar graik ungsi Inormasi yang dibutuhkan: A. Titik potong dengan sumbu dan sumbu y B. Asimtot ungsi Deinisi 5.: Asimtot ungsi adalah garis lurus yang didekati oleh graik ungsi.
BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. B. Tujuan Praktikum
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pengukuran merupakan penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran atau dapat dikatakan juga bahwa pengukuran adalah
Tanah Homogen Isotropis
Tanah Homogen Isotropis adalah tanah homogen yang mempunyai nilai k sama besar pada semua arah (kx = kz = ks). ks kx x z kz s Tanah Homogen Anisotropis adalah tanah homogen yang memiliki nilai k tidak
DIKTAT KULIAH KALKULUS PEUBAH BANYAK (IE-308)
DIKTAT KULIAH (IE-308) BAB 5 INTEGRAL LIPAT Diktat ini digunakan bagi mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha Ir. Rudy Wawolumaja M.Sc JURUSAN TEKNIK INDUSTRI -
Bab 1 : Skalar dan Vektor
Bab 1 : Skalar dan Vektor 1.1 Skalar dan Vektor Istilah skalar mengacu pada kuantitas yang nilainya dapat diwakili oleh bilangan real tunggal (positif atau negatif). x, y dan z kita gunakan dalam aljabar
PERSAMAAN BERNOULLI I PUTU GUSTAVE SURYANTARA P
PERSAMAAN BERNOULLI I PUTU GUSTAVE SURYANTARA P ANGGAPAN YANG DIGUNAKAN ZAT CAIR ADALAH IDEAL ZAT CAIR ADALAH HOMOGEN DAN TIDAK TERMAMPATKAN ALIRAN KONTINYU DAN SEPANJANG GARIS ARUS GAYA YANG BEKERJA HANYA
TKS-4101: Fisika. KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA
J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA TKS-4101: Fisika KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB 1 Gerak 2 dimensi lintasan berada dalam
AFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii SOAL - SOAL... 2 PEMBAHASAN... 19
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii SOAL - SOAL... UTS Genap 009/00... UTS Ganjil 009/00... UTS Genap 008/009... 5 UTS Pendek 008/009... 6 UTS 007/008... 8 UTS 006/007... 9 UTS 005/006...
Kalkulus II. Institut Teknologi Kalimantan
Tim Dosen Kalkulus II Tahun Persiapan Bersama Institut Kalkulus Teknologi II Kalimantan January 31, () 2018 1 / 71 Kalkulus II Tim Dosen Kalkulus II Tahun Persiapan Bersama Institut Teknologi Kalimantan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan eksplorasi sumber daya alam umumnya memerlukan biaya sangat mahal. Oleh karena itu biasanya sebelum melakuka kegiatan eksplorasi dilakukan survey awal, survey
DIKTAT KULIAH KALKULUS PEUBAH BANYAK (IE-308)
DIKTAT KULIAH (IE-308) BAB 3 TURUNAN PARSIAL Diktat ini digunakan bagi mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha Ir. Rudy Wawolumaja M.Sc JURUSAN TEKNIK INDUSTRI -
K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Matematika
K3 Revisi Antiremed Kelas Matematika Turunan - Latihan Soal Doc. Name: RK3ARMATWJB080 Version: 06- halaman 0. Jika f(x) = 8x maka f'(x) =. (A) 8x (B) 8x (C) 6x (D) 6x (E) 4x 0. Diketahui y = sin ( π x),
1. Reservoir berada di bawah perkotaan, lalu lintas yang ramai, tempat-tempat bersejarah ataupun lahan perkebunan (pertanian).
Pemboran berarah (directional drilling) adalah metode pemboran yang mengarahkan lubang bor menurut suatu lintasan tertentu ke sebuah titik target yang terletak tidak vertikal di bawah mulut sumur. Untuk
PERTEMUAN X PERSAMAAN MOMENTUM
PERTEMUAN X PERSAMAAN MOMENTUM Zat cair yang bergerak dapat menimbulkan gaya. Gaya yang ditimbulkan oleh zat cair dapat dimanfaatkan untuk : - analisis perencanaan turbin - mesin-mesin hidraulis - saluran
MODUL KULIAH PENGENALAN KOMPUTER TEKNIK PERMINYAKAN (TM
MODUL KULIAH PENGENALAN KOMPUTER TEKNIK PERMINYAKAN (TM 208) Disusun Oleh: Ir. Joko Pamungkas, MT JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN UPN VETERAN YOGYAKARTA 2005 KATA PENGANTAR Puji Syukur kami panjatkan kepada
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
PENGEMBANGAN PEMODELAN 3D PRODUK BERBASIS FEATURE BERDASARKAN ALGORITMA FEATURE PENGURANGAN TUGAS SARJANA Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Oleh Faizal Wahyu Prabowo
Bab 1 Vektor. A. Pendahuluan
Bab 1 Vektor A. Pendahuluan Dalam mata kuliah Listrik Magnet A, maupun mata kuliah Listrik Magnet B sebagaii lanjutannya, penyajian konsep dan pemecahan masalah akan banyak memerlukan pengetahuan tentang
UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN
DOKUMEN NEGARA UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kompetensi Keahlian : Teknik Survei dan Pemetaan Kode Soal : 1014 Alokasi
UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN
DOKUMEN NEGARA UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kompetensi Keahlian : Teknik Survei dan Pemetaan Kode Soal : 1014 Alokasi
Dinamika Rotasi, Statika dan Titik Berat 1 MOMEN GAYA DAN MOMEN INERSIA
Dinamika Rotasi, Statika dan Titik Berat 1 MOMEN GAYA DAN MOMEN INERSIA Dalam gerak translasi gaya dikaitkan dengan percepatan linier benda, dalam gerak rotasi besaran yang dikaitkan dengan percepatan
FUNGSI dan LIMIT. 1.1 Fungsi dan Grafiknya
FUNGSI dan LIMIT 1.1 Fungsi dan Grafiknya Fungsi : suatu aturan yang menghubungkan setiap elemen suatu himpunan pertama (daerah asal) tepat kepada satu elemen himpunan kedua (daerah hasil) fungsi Daerah
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
EVALUASI BEBAN TORSI DAN DRAG PADA SUMUR BERARAH MILA DI LAPANGAN LEPAS PANTAI LAUT JAWA BAGIAN BARAT DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE DSWE Albreta Emilia, Mumin, Simorangkit Program Studi Teknik Perminyakan
SRI REDJEKI KALKULUS I
SRI REDJEKI KALKULUS I KLASIFIKASI BILANGAN RIIL n Bilangan yang paling sederhana adalah bilangan asli : n 1, 2, 3, 4, 5,. n n Bilangan asli membentuk himpunan bagian dari klas himpunan bilangan yang lebih
BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 DATA Data yang digunakan dalam penelitian Tugas Akhir ini adalah data-data yang dikumpulkan dari kegiatan Core Orienting di lokasi proyek Grasberg Contact Zone. Data
BAB VI KESIMPULAN. 1. Pada pengukuran densitas lumpur terjadi penurunan nilai densitas yang di
BAB VI KESIMPULAN Bedasarkan percobaan untuk mengetahui pengaruh temperatur tinggi terhadap sifat rheologi lumpur surfaktan maka dapat diambil kesimpulan bebagai berikut : 1. Pada pengukuran densitas lumpur
DIKTAT KULIAH KALKULUS PEUBAH BANYAK (IE-308)
DIKTAT KULIAH (IE-308) BAB 7 INTEGRAL PERMUKAAN Diktat ini digunakan bagi mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha Ir. Rudy Wawolumaja M.Sc JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
PANDUAN PRAKTIKUM NAVIGASI DARAT
PANDUAN PRAKTIKUM NAVIGASI DARAT Disampaikan Pada Acara Kunjungan Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) I Bandung Ke Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia Pada Hari Sabtu Tanggal 5 Juli
dapat dihampiri oleh:
BAB V PENGGUNAAN TURUNAN Setela pada bab sebelumnya kita membaas pengertian, sifat-sifat, dan rumus-rumus dasar turunan, pada bab ini kita akan membaas tentang aplikasi turunan, diantaranya untuk mengitung
ANALISIS VEKTOR. Aljabar Vektor. Operasi vektor
ANALISIS VEKTOR Aljabar Vektor Operasi vektor Besaran yang memiliki nilai dan arah disebut dengan vektor. Contohnya adalah perpindahan, kecepatan, percepatan, gaya, dan momentum. Sementara itu, besaran
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: EVALUASI METODE CASING DRILLING PADA TRAYEK CASING 13-3/8 DI SUMUR SP-23
EVALUASI METODE CASING DRILLING PADA TRAYEK CASING 13-3/8 DI SUMUR SP-23 Syandi Putra, Widradjat Aboekasan Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti Abstrak Dalam upaya meningkatkan perolehan
ORIENTASI PADA PRA PLOTTING PETA BERSISTEM KOORDINAT LOKAL TERHADAP SISTEM KOORDINAT FIX (TETAP)
Orientasi pada Pra Plotting... ORIENTASI PADA PRA PLOTTING PETA BERSISTEM KOORDINAT LOKAL TERHADAP SISTEM KOORDINAT FIX (TETAP) Yuwono 1), AdiKurniawan 2) 1) Jurusan Teknik Geomatika, ITS, 2) Jurusan Teknik
(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8
. Turunan dari f ( ) = + + (E) 7 + +. Turunan dari y = ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( + ) ( + ) ( ) ( + ) (E) ( ) ( + ) 7 5 (E) 9 5 9 7 0. Jika f ( ) = maka f () = 8 (E) 8. Jika f () = 5 maka f (0) +
Pertemuan 1. Membuat Sudut Siku-Siku. Pengukuran Guna Pembuatan Peta dengan Alat-alatalat Sederhana Can be accessed on: http://haryono_putro.staff.gunadarma.ac.id/ Email: [email protected]
JENIS-JENIS GARIS DAN ALAT-ALAT GAMBAR. Jenis-jenis Garis
JENIS-JENIS GARIS DAN ALAT-ALAT GAMBAR Jenis-jenis Garis Jenis-jenis garis yang dipergunakan dalam gambar teknik ditentukan oleh gabungan bentuk dan tebal garis. Tiap jenis dipergunakan menurut peraturan
DESAIN CASING PADA SUMUR BERARAH DENGAN MEMPERHITUNGKAN FRIKSI. Oleh Marcel* Prof. Dr.-Ing. Ir.Rudi Rubiandini R. S.**
DESAIN CASING PADA SUMUR BERARAH DENGAN MEMPERHITUNGKAN FRIKSI Oleh Marcel* Prof. Dr.-Ing. Ir.Rudi Rubiandini R. S.** Sari Desain casing pada pemboran berarah berbeda dari pemboran sumur vertikal, meskipun
UJIAN PERTAMA KALKULUS/KALKULUS I SEMESTER PENDEK 2004 SABTU, 17 JULI (2 JAM)
Tentukan (jika ada) UJIAN PERTAMA KALKULUS/KALKULUS I SEMESTER PENDEK 2004 SABTU, 17 JULI (2 JAM) 1. Dengan menggunakan de nisi turunan, tentukan f 0 () bila f() = 2 + 4. 2. Tentukan: (a) d d (p + sin
Suryadi Siregar Metode Matematika Astronomi 2
Suryadi Siregar Metode Matematika Astronomi Bab 4 Integral Garis dan Teorema Green 4. Integral Garis Definisi : Misal suatu lintasan dalam ruang dimensi m pada interval [a,b]. Andaikan adalah medan vektor
Soal dan Solusi Materi Elektrostatika
P Soal dan Solusi Materi Elektrostatika 1. Tentukan medan listrik pada jarak z di atas salah satu ujung kawat sepanjang L yang membawa muatan berdistribusi seragam dengan rapat muatan, seperti gambar berikut
GERAK MELINGKAR. = S R radian
GERAK MELINGKAR. Jika sebuah benda bergerak dengan kelajuan konstan pada suatu lingkaran (disekeliling lingkaran ), maka dikatakan bahwa benda tersebut melakukan gerak melingkar beraturan. Kecepatan pada
Cahaya Rosyidan*, Irfan Marshell,Abdul Hamid
EVALUASI HILANG SIRKULASI PADA SUMUR M LAPANGAN B AKIBAT BEDA BESAR TEKANAN HIDROSTATIS LUMPUR DENGAN TEKANAN DASAR LUBANG SUMUR Cahaya Rosyidan*, Irfan Marshell,Abdul Hamid Teknik Perminyakan-FTKE, Universitas
TUGAS AKHIR. Oleh: LUSY MARYANTI PASARIBU NIM :
PENGEMBANGAN KORELASI KUMULATIF PRODUKSI MINYAK SUMURAN BERDASARKAN DATA PRODUKSI DAN SIFAT FISIK BATUAN LAPANGAN DALAM KONDISI WATER CONING DENGAN BANTUAN SIMULASI RESERVOIR TUGAS AKHIR Oleh: LUSY MARYANTI
Catatan Kuliah FI2101 Fisika Matematik IA
Khairul Basar atatan Kuliah FI2101 Fisika Matematik IA Semester I 2015-2016 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Bab 6 Analisa Vektor 6.1 Perkalian Vektor Pada bagian
ba - bb j Gambar Pembacaan benang jarak pada bak ukur
ba - bb Yang diukur pada pengukuran waterpas terbuka tak terikat titik tetap adalah a. Jarak antartitik ukur Jarak antartitik ukur dapat dicari dengan persamaan : j = (ba bb) x 100 Keterangan: ba = benang
aintis Volume 12 Nomor 1, April 2011, 22-28
Jurnal aintis Volume 1 Nomor 1, April 011, -8 ISSN: 1410-7783 Perhitungan Laju Alir Minyak Setiap Lapisan pada Sumur Commingle Distribution Of Calculated Rate Oil Flow To Commingle Well Ali Musnal Jurusan
f(-1) = = -7 f (4) = = 3 Dari ketiga fungsi yang didapat ternyata yang terkecil -7 dan terbesar 11. Rf = {y -7 y 11, y R}
1. Persamaan (m - 1)x 2-8x - 8m = 0 mempunyai akar-akar real, maka nilai m adalah... -2 m -1-2 m 1-1 m 2 Kunci : C D 0 b 2-4ac 0 (-8)² - 4(m - 1) 8m 0 64-32m² + 32m 0 m² - m - 2 0 (m - 2)(m + 1) 0 m -1
D. 90 meter E. 95 meter
1. Persamaan kuadrat yang akar-akarnya 5 dan -2 adalah... A. x² + 7x + 10 = 0 B. x² - 7x + 10 = 0 C. x² + 3x + 10 = 0 Kunci : E Rumus : (x - x 1 ) (x - x 2 ) = 0 dimana x 1 = 5, dan x 2 = -2 (x - 5) (x
syarat tertentu yang diberikan. Atau bisa juga diartikan sebagai lintasan dari sebuah
2 Tempat Kedudukan dan Persamaan 2.1. Tempat Kedudukan Tempat kedudukan (locus) adalah himpunan titik-titik yang memenuhi suatu syarat tertentu yang diberikan. Atau bisa juga diartikan sebagai lintasan
Medan Magnet oleh Arus Listrik
Medan Magnet oleh Arus Listrik Agus Suroso Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi, Institut Teknologi Bandung Agus Suroso (FTETI-ITB) Medan Magnet oleh Arus Listrik 1 / 24 Materi 1 Hukum Biot-Savart
BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION
BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION Bab ini akan menjelaskan tentang penanganan jaringan untuk komunikasi antara dua sumber yang berpasangan.
8. Nilai x yang memenuhi 2 log 2 (4x -
1. Agar F(x) = (p - 2) x² - 2 (2p - 3) x + 5p - 6 bernilai positif untuk semua x, maka batas-batas nilai p p > l 2 < p < 3 p > 3 1 < p < 2 p < 1 atau p > 2 2. Fungsi kuadrat yang mempunyai nilai maksimum
BAB VI INTEGRAL LIPAT
BAB VI INTEGRAL LIPAT 6.1 Pendahuluan Pada kalkulus dan fisika dasar, kita melihat sejumlah pemakaian integral misal untuk mencari luasan, volume, massa, momen inersia, dsb.nya. Dalam bab ini kita ingin
DISAIN WAKTU BUKA SUMUR UJI BACK PRESSURE PADA SUMUR MINYAK SEMBUR ALAMI UNTUK MEMBERIKAN HASIL PERMEABILITAS YANG LEBIH AKURAT
JTM Vol. XVI No.4/2009 DISAIN WAKTU BUKA SUMUR UJI BACK PRESSURE PADA SUMUR MINYAK SEMBUR ALAMI UNTUK MEMBERIKAN HASIL PERMEABILITAS YANG LEBIH AKURAT Deddy Surya Wibowo 1, Tutuka Ariadji 1 Sari Metode
BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1.
BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menentukan solusi persamaan gerak jatuh bebas berdasarkan pendekatan
KINEMATIKA PARTIKEL 1. KINEMATIKA DAN PARTIKEL
FISIKA TERAPAN KINEMATIKA PARTIKEL TEKNIK ELEKTRO D3 UNJANI TA 2013-2014 1. KINEMATIKA DAN PARTIKEL Kinematika adalah bagian dari mekanika yg mempelajari tentang gerak tanpa memperhatikan apa/siapa yang
Rizal Fakhri, , Sem1 2007/2008 1
SUATU ANALISA KINERJA GAS LIFT PADA SUMUR MIRING DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR Gas lift Performance Analysis In Inclined Well Using Simulator Oleh: Rizal Fakhri* Sari Adanya kemiringan pada suatu sumur
2.2 kinematika Translasi
II KINEMATIKA PARTIKEL Kompetensi yang akan diperoleh setelah mempelajari bab ini adalah pemahaman dan kemampuan menganalisis serta mengaplikasikan konsep kinematika partikel pada kehidupan sehari-hari
PENGGUNAAN METODE ANALISIS SINYAL DALAM INTERPRETASI DATA MAGNET DI PERAIRAN SELAT SUNDA UNTUK MENENTUKAN ARAH DAN POSISI PIPA BAWAH LAUT
PENGGUNAAN METODE ANALISIS SINYAL DALAM INTERPRETASI DATA MAGNET DI PERAIRAN SELAT SUNDA UNTUK MENENTUKAN ARAH DAN POSISI PIPA BAWAH LAUT Oleh: Subarsyah dan Budhi Nhirwana Pusat Penelitian dan Pengembangan
16. INTEGRAL. A. Integral Tak Tentu 1. dx = x + c 2. a dx = a dx = ax + c. 3. x n dx = + c. cos ax + c. 4. sin ax dx = 1 a. 5.
6. INTEGRAL A. Integral Tak Tentu. dx = x + c. a dx = a dx = ax + c. x n dx = n+ x n+ + c. sin ax dx = a cos ax + c 5. cos ax dx = a sin ax + c 6. sec ax dx = a tan ax + c 7. [ f(x) ± g(x) ] dx = f(x)
Gambar Sket posisi sudut di sebelah kanan arah jalur ukuran polygon terbuka terikat
5. Menghitung sudut horisontal Dari data hasil pengukuran pada tabel 5.9, akan dihitung: Sudut di sebelah kiri dari jalur ukuran seperti gambar 5.68, dengan persamaan sebagai berikut: = M - B B = M1 -
APLIKASI TURUNAN ALJABAR. Tujuan Pembelajaran. ) kemudian menyentuh bukit kedua pada titik B(x 2
Kurikulum 3/6 matematika K e l a s XI APLIKASI TURUNAN ALJABAR Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut.. Dapat menerapkan aturan turunan aljabar untuk
1/32 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) KINEMATIKA. menu. Mirza Satriawan. Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta
1/32 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) KINEMATIKA Mirza Satriawan Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta email: [email protected] Definisi KINEMATIKA Kinematika adalah cabang ilmu fisika yang
BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN
BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN.. Tegangan Dalam mekanika bahan, pengertian tegangan tidak sama dengan vektor tegangan. Tegangan merupakan tensor derajat dua, sedangkan vektor, vektor apapun, merupakan tensor
Jawaban Soal OSK FISIKA 2014
Jawaban Soal OSK FISIKA 4. Sebuah benda bergerak sepanjang sumbu x dimana posisinya sebagai fungsi dari waktu dapat dinyatakan dengan kurva seperti terlihat pada gambar samping (x dalam meter dan t dalam
GAMBAR TEKNIK PROYEKSI ISOMETRI. Gambar Teknik Proyeksi Isometri
GAMBAR TEKNIK PROYEKSI ISOMETRI Gambar Teknik i halaman ini sengaja dibiarkan kosong Gambar Teknik ii Daftar Isi Daftar Isi... iii... 1 1 Pendahuluan... 1 2 Sumbu, Garis, dan Bidang Isometri... 2 3 Skala
PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA DENGAN METODE CIRCULAR USGS 1983 DI PT. PACIFIC PRIMA COAL SITE LAMIN KAB. BERAU PROVINSI KALIMATAN TIMUR
PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA DENGAN METODE CIRCULAR USGS 1983 DI PT. PACIFIC PRIMA COAL SITE LAMIN KAB. BERAU PROVINSI KALIMATAN TIMUR Anshariah 1, Sri Widodo 2, Ahyar A. Sahadu 1 1. Jurusan Teknik Pertambangan
Respect, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 205. Analisis Penampang. Pertemuan 4, 5, 6
Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 05 SKS : SKS nalisis Penampang Pertemuan 4, 5, 6 TU : Mahasiswa dapat menghitung properti dasar penampang, seperti luas, momen statis, momen inersia TK : Mahasiswa
Studi Optimasi Kinerja Sucker Rod Pump Pada Sumur A-1, A-2,Z-1, Dan Z-2 Menggunakan Perangkat Lunak Prosper
Studi Optimasi Kinerja Sucker Rod Pump Pada Sumur A-1, A-2,Z-1, Dan Z-2 Menggunakan Perangkat Lunak Prosper Syahrinal Faiz, Djoko Sulistyanto, Samsol ST Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti
