UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
|
|
|
- Ida Sugiarto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS MODEL PREDATOR-PREY DUA SPESIES DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE III skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika oleh Putri Wijayanti JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014
2 ii
3 !!! LZOOWII IT NIN 'ueeuepun-eueprmred uernpred u nluele{ rames r$lrrus eruueueru "rpesreq e,es upur 'rut rsdprls urbibp pfeld pduprel p{nqje} rr q Irepntual rp upqede uep 'lul8eld $qeq rur rsduis B1qBq uu1e1e.ueur e,eg NYSITOT NYITSYf,I NYYIYANUf,d
4 \ PENGESAHAN! Skripsi yang berjudul: I Analisis Model Predator-Prey Dua Spesies dengan Fungsi Respon Holling Tipe III disusun oleh Putri Wijayanti 4ttt4t002 telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, universitas Negeri Semarang pada tanggal 12 Agustus ffi*m */t f tl!guj\e\r.. W yanto, M.Si. 012r Drs. ru.budiwaruya,m.si. NrP. r t I 003 Drs. Supriyono, M.Si. NIP bimbing s, S.Si, M.Sc. NIP I 1001 IV
5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil, kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik. Evelyn Underhill Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar Al-Baqarah: 153 Allah akan memberi kemudahan di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang memberi kemudahan pada orang lain yang berada dalam kesulitan Ary Ginanjar Agustian Persembahan: Bapak dan Ibu tersayang, terima kasih atas segala yang diberikan kepadaku. Kelima saudaraku serta seluruh keluargaku yang selalu menyemangatiku. Seluruh temanku Prodi Matematika angkatan Sahabat di kos Al-Ba its 1 yang setia menemani dan mendukungku. Teman-teman KKN Sabalong Samalewa. Sahabatku para panggawa GB s, yang selalu saling menyemangati. v
6 PRAKATA Segala puji hanya milik Allah SWT karena atas segala limpahan rahmat- Nya penyusun diberikan izin dan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Model Predator-Prey Dua Spesies dengan Fungsi Respon Holling Tipe III. Selanjutnya penyusun berterima kasih atas bantuan dan peran yang tidak dapat didefinisikan satu persatu pada tahapan penyelesaian skripsi ini, kepada: 1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Prof. Dr. Wiyanto, M.Si., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Arief Agoestanto, M.Si., Ketua Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang. 4. Muhammad Kharis, S.Si, M.Sc., selaku Dosen Pembimbing yang senantiasa meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi masukan serta motivasi selama penyususunan skripsi. 5. Tri Sri Noor Asih S.Si., M.Si., Dosen Wali yang telah memberikan arahan dan motivasi sepanjang perjalanan saya menimba ilmu di Universitas Negeri Semarang. 6. Seluruh pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu. vi
7 vii Hanya ucapan terima kasih dan doa, semoga apa yang telah diberikan tercatat sebagai amal baik dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penyusun menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak terdapat kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan penyusunan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan dan secara umum kepada semua pihak yang berkepentingan. Semarang, Agustus 2014 Penyusun
8 ABSTRAK Wijayanti, P Analisis Model Predator-Prey Dua Spesies dengan Fungsi Respon Holling Tipe III. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Muhammad Kharis, M.Si, M.Sc. Kata Kunci : Persamaan diferensial, model predator-prey, fungsi respon Holling tipe III, titik ekuilibrium. Persamaan diferensial muncul dalam banyak model di fenomena kehidupan nyata. Salah satunya yaitu interaksi predator-prey. Model predatorprey pertama kali dikenalkan adalah model Lotka-Voltera. Tetapi model ini belum memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh predator untuk mencerna makanannya. Pada penelitian ini membahas tentang analisis kestabilan model predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III, karena sesuai dengan tipe predator yang mencari mangsa lain ketika mangsa yang dimakannya mulai berkurang. Fungsi respon telah memperhitungkan waktu untuk memproses makanan pada saat predator mengkonsumsi makanannya. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model matematika pada sistem predator-prey, menentukan analisa model dan simulasi hasil analisa menggunakan program Maple. Metode penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menetukan masalah, merumuskan masalah, studi pustaka, analisis pemecahan masalah, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah model matematika untuk persaingan predatorprey dua spesies dengan fungsi respon Holling tipe III dengan suatu batas +, yaitu 1 dan. Berdasarkan model tersebut dapat diketahui titik ekuilibrium dan solusi di sekitar titik ekuilibrium. Dari persamaan di atas diperoleh titik-titik ekuilibriumnya yaitu 0,0, 1,0 dan,. Pada titik memberikan saddle point tak stabil. Pada titik memberikan node point yang bersifat stabil dengan asumsi < + dan memberikan saddle point yang bersifat tidak stabil dengan asumsi +. Sedangkan untuk titik dengan 1 memberikan sifat tidak stabil dan bersifat stabil untuk < 1 dengan 0 dan < 0, dimana merupakan determinan. viii
9 DAFTAR ISI Halaman PRAKATA... ABSTRAK... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... vi viii ix xi xii xiii BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Sistemika Penulisan TINJAUAN PUSTAKA Sistem Persamaan Diferensial Model Pertumbuhan Logistik Model Populasi Predator-Prey Fungsi Respon Nilai Eigen dan Vektor Eigen Matriks Jacobian ix
10 2.7 Titik Ekuilibrium Potret Phase dari Sistem Linear METODE PENELITIAN Menentukan Masalah Rumusan Masalah Studi Pustaka Analisis dan Pemecahan Masalah Penarikan Kesimpulan HASIL DAN PEMBAHASAN Unsur-Unsur yang Berpengaruh terhadap Model Model Matematika Predator Prey Titik Ekuilibrium Analisis Kestabilan Titik Ekuilibrium Simulasi Numerik SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x
11 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4.1 Daftar titik ekuilibrium, nilai parameter, dan sifat trayektori xi
12 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Trayektori untuk titik node Trayektori untuk titik nodal source Trayektori untuk sadle point Trayektori untuk star point Trayektori untuk improper node dengan < Trayektori untuk improper node dengan Trayektori untuk stabel spiral Trayektori untuk unstable spiral Trayektori untuk center point Trayektori untuk titik ekuilibrium 0,0 dan 1,0 dengan + dan Trayektori untuk titik ekuilibrium, dengan + dan +, serta titik dengan +, < 1, 0 dan Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, 1 dan Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, dan Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, 0 dan < xii
13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1 Hasil simulasi model dengan menggunakan maple xiii
14 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ekologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan lingkungan hidupnya Riberu, Hal ini menunjukan pada hakikatnya makhluk hidup di bumi ini tidak dapat hidup sendiri secara normal, tetapi akan saling berinteraksi dengan berbagai spesies yang ada. Makhluk hidup tunggal biasa disebut individu, dan populasi merupakan kumpulan individu sejenis yang berinteraksi pada tempat dan waktu yang sama. Berbagai populasi dari spesies yang berbeda dan hidup bersama disebut komunitas. Satu kelompok yang memiliki ciri khas tertentu dan terdiri dari beberapa komunitas yang berbeda dikenal dengan ekosistem Nurhamiyawan et al., Kompetisi dalam suatu ekosistem merupakan salah satu bentuk interaksi antar individu yang bersaing memperebutkan kebutuhan hidup yang sama. Pada individu hewan, kebutuhan hidup yang sering diperebutkan antara lain adalah makanan, sumber air, tempat berlindung atau bersarang dan pasangan untuk berkembang biak. Contoh kompetisi antar populasi hewan yaitu kambing dan sapi yang memakan rumput di wilayah yang sama atau harimau dan singa dalam berburu mangsa yang sama Nurhamiyawan et al.,
15 2 Model yang terdiri atas dua spesies berbeda dengan salah satu dari keduanya menyediakan makanan untuk yang lainnya merupakan salah satu model interaksi spesies antara mangsa dan pemangsa yang populer dalam pemodelan matematika. Interaksi antar populasi ini dinamakan relasi predator-prey, dengan prey sebagai spesies yang dimangsa dan predator sebagai spesies yang memangsa Du, Model predator-prey pertama kali dikenalkan oleh Lotka pada tahun 1925 dan Volterra pada tahun 1926, sehingga model ini juga disebut model Lotka-Volterra Boyce & DiPrima, Model Lotka Voltera belum memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh predator untuk mencerna makanannya serta pada kenyataan bahwa makanan dari prey terbatas. Kemudian pada tahun 1950 Holling memperkenalkan fungsi respon. Fungsi respon dalam ekologi adalah jumlah makanan yang dimakan oleh predator sebagai fungsi kepadatan makanan Hunsicker et al., Dalam hal ini fungsi respon dibagi atas tiga macam, yaitu fungsi respon tipe I, tipe II dan tipe III. Fungsi respon tipe I terjadi pada predator yang memiliki karakteristik pasif, atau lebih suka menunggu mangsanya, sebagai contoh predator-nya adalah laba-laba. Fungsi respon tipe II terjadi pada predator yang berkarakteristik aktif dalam mencari mangsa, sebagai contoh predator-nya adalah serigala. Ketika serigala berhasil menangkap mangsanya maka serigala juga memerlukan waktu untuk mencerna makanannya. Fungsi respon tipe III terjadi pada predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain ketika populasi prey yang dimakan mulai berkurang. Sebagai contoh pada rusa tikus mice deer yang bertindak sebagai predator dengan kepompong kupu-kupu sebagai prey. Ketika
16 3 jumlah kepompong meningkat maka populasi tikus rusa juga akan meningkat secara eksponensial, namun ketika jumlah kepompong mulai menurun maka tikus rusa cenderung untuk mencari populasi kepompong yang lebih tinggi. Di dalam ekologi, fungsi respon pada model predator-prey menyatakan tingkat asupan konsumen predator sebagai fungsi kepadatan makanan prey. Model predator-prey yang paling sederhana didasarkan pada model Lokta- Volterra. Model ini memiliki bentuk 1.1 Pada sistem Lokta-Volterra, fungsi respon mempunyai bentuk dan. Hal ini karena pada model ini waktu yang diperlukan predator untuk mencerna makanannya tidak diperhatikan. Tetapi, dalam kenyataannya ketika terjadi serangan prey oleh predator, maka secara realistik predator memerlukan waktu untuk mencerna makanannya Roat, Salah satu pengembangan lain dari model Lotka-Volterra adalah model yang dilakukan oleh Ruan et al. 2001, Liu & Chen 2003, serta Tian et al. 2011, dimana dalam model Lotka-Voltera diberikan penambahan fungsi respon tipe Holling II pada interaksi antara prey dan predator. Pada penelitian ini akan dibahas tentang analisis kestabilan model predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. Dipilihnya fungsi respon Holling tipe III karena memiliki permasalahan yang sesuai dengan jenis predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain ketika populasi prey yang dimakan mulai berkurang. Fungsi respon tipe Holling III ini telah memperhitungkan waktu untuk memproses
17 4 makanan pada saat predator mengkonsumsi makanannya. Hal ini ditandai dengan melambatnya tingkat serangan yang dilakukan predator terhadap prey. Melambatnya tingkat serangan karena pencarian makanan dan proses memakan merupakan dua perilaku yang saling eksklusif. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1 Bagaimana bentuk model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 2 Bagaimana analisa model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 3 Bagaimana simulasi solusi model matematika pada sistem predator-prey dengan menggunakan program Maple? 1.3 Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1 Untuk membentuk model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. 2 Untuk menganalisis model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. 3 Untuk mensimulasi solusi model predator-prey dengan menggunakan program Maple.
18 5 1.4 Manfaat Penelitian 1 Bagi Peneliti Manfaat yang bisa diambil bagi peneliti adalah peneliti mampu mengembangkan ilmu yang telah dipelajari dalam mengkaji permasalahan tentang analisis dari sistem persamaan diferensial. Sehingga dapat semakin memantapkan pemahaman mengenai teori-teori yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan serta mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan nyata. 2 Bagi Jurusan Matematika FMIPA UNNES Menambah khasanah perbendaharaan jurnal, khususnya tentang pemodelan matematika. 3 Bagi Pembaca Menambah pengetahuan tentang model matematika dari salah satu model dalam matematika ekologi, yaitu model predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III dan bisa menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari. 1.5 Sistematika Penulisan Laporan penulisan skripsi ini menggunakan sistematika yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal pendahuluan, bagian isi inti, dan bagian akhir penutup 1 Bagian Awal Pendahuluan Skripsi terdiri dari halaman judul, abstraks, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.
19 6 2 Bagian Isi Inti Bagian ini terdiri dari lima bab yaitu BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II Tinjauan Pustaka, meliputi tinjauan tentang sistem persamaan diferensial, model pertumbuhan logistik, model populasi predator-prey, fungsi respon, nilai eigen dan vektor eigen, matriks jacobian, titik ekuilibrium dan potret phase dari sistem linear. BAB III Metode Penelitian, meliputi menentukan masalah, rumusan masalah, studi pustaka, analisis dan pemecahan masalah dan penarikan kesimpulan. BAB IV Hasil dan Pembahasan, berisi unsur-unsur yang berpengaruh terhadap model, model matematika predator-prey, titik ekuilibrium, analisis kestabilan titik ekuilibrium dan simulasi numerik yang diperoleh dengan program Maple 12. BAB V Penutup, berisi tentang simpulan dan saran. 3 Bagian Akhir Penutup Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka untuk memberi informasi tentang buku sumber, dan lampiran.
20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Persamaan Diferensial Persamaan differensial adalah persamaan yang memuat satu atau lebih turunan-turunan dari fungsi yang diketahui. Jika hanya terdapat fungsi tunggal yang akan ditentukan maka satu persamaan sudah cukup. Tetapi jika terdapat dua fungsi atau lebih yang tidak diketahui maka sebuah sistem persamaan diperlukan. Contohnya, persamaan Lotka-Voltera atau predator-prey yang merupakan contoh sistem persamaan dalam ekologi. Sistem persamaan tersebut mempunyai bentuk, +, 2.1 dimana populasi spesies prey, populasi spesies predator, laju kelahiran dari populasi prey, laju pemangsa terhadap mangsa, laju kematian dari populasi predator, dan laju pertumbuhan pemangsa dalam mengkonsumsi mangsa. Waluya,
21 8 2.2 Model Pertumbuhan Logistik Model ini merupakan penyempurnaan dari model eksponensial. Model eksponensial mempunyai kelemahan yaitu saat nilai 0 maka populasi tumbuh sampai tak terbatas, dengan merupakan laju pertumbuhan populasi. Hal ini mustahil, sehingga perlu adanya kajian lagi. Model ini diberikan dengan memberikan asumsi bahwa. Nilai ditentukan oleh kelahiran dan pengaruh kepadatan populasi keterbatasan luas lingkungan. Nilai dapat dirumuskan dengan 2.2 dimana menyatakan laju pertumbuhan populasi tanpa pengaruh lingkungan dan menyatakan pengaruh dari pertambahan kepadatan populasi semakin padat populasi maka persaingan antar individu meningkat. Model pertumbuhan logistik dirumuskan sebagai berikut. 2.3 Titik ekuilibrium dari model tersebut diperoleh dengan menyelesaikan persamaan 0 diperoleh nilai yang memenuhi adalah 0 dan. Populasi nol pasti menjadi titik ekuilibrium tetapi yang menarik adalah. Ini adalah populasi terbesar di mana lingkungan masih mendukung populasi tanpa adanya kehilangan individu anggota populasi individu mati. Nilai ini disebut carrying capacity dari lingkungan habitat. Teori ini memprediksi bahwa populasi berkaitan dengan Z.P.G zero population growth.
22 9 Solusi persamaan logistik di atas apabila diketahui nilai awal 0 adalah sebagai berikut. 2.4 Dengan metode integral fungsi rasional dalam kalkulus diperoleh bahwa dan 0 1 dan 0 0. Dari hasil di atas diperoleh +. Apabila disubstitusikan ke persamaan differensial 2.4 diperoleh +.
23 10 Dengan melakukan pengintegralan kedua ruas diperoleh ln 1 ln +. Dengan substitusi nilai 0 diperoleh Karena dan keduanya positif maka diperoleh
24 11. Karena dan mempunyai tanda yang sama maka persamaan di atas menjadi. Apabila dilanjutkan dengan beberapa tahap perhitungan lagi diperoleh
25 Untuk nilai diperoleh nilai yang mempengaruhi carrying capacity dari lingkungan Haberman, Model Populasi Predator-Prey Laju populasi prey dengan tidak adanya pemangsa tumbuh cepat mendekati eksponensial dan tak terbatas dalam bentuk sebagai berikut., 2.5 dengan populasi spesies prey angka pertumbuhan dari prey. Laju populasi prey menjadi fungsi logistik karena sumber daya alam yang terbatas, yang kemudian dapat menulisnya sebagaimana persamaan logistik sebelumnya yaitu sebagai berikut. 1, 2.6 dengan proporsi sisa banyaknya individu dalam populasi yang belum digunakan 1 dan carrying capacity adalah jumlah maksimum banyaknya individu dalam suatu populasi. Populasi pada tingkat kadang juga disebut
26 13 tingkat kejenuhan, karena untuk populasi besar lebih banyak kematian daripada kelahiran. Carrying capacity atau daya dukung adalah jumlah maksimum individu yang dapat didukung atau dilayani oleh sumber daya yang ada di dalam suatu ekosistem. Dengan kata lain, carrying capacity dapat disebut juga sebagai kemampuan lingkungan ekosistem dalam mendukung kehidupan semua makhluk yang ada di dalamnya secara berkelanjutan. Dalam hal ini, carrying capacity berhubungan erat dengan ketersediaan tanaman sebagai makanan prey. Kemudian ditunjukkan suatu persamaan dimana prey dan predator akan saling berinteraksi yaitu sebagai berikut. 2.7 dengan adalah laju penangkapan prey oleh predator dan adalah populasi spesies predator. Dalam hal ini prey berinteraksi dengan predator. Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat dibentuk model dinamika pertumbuhan populasi prey adalah sebagai berikut Dalam hal ini diasumsikan,, 0, yaitu mengingat setiap populasi memiliki potensi untuk berkembang biak. Pada persamaan di atas bersifat mengurangi jumlah populasi prey. Karena dalam hubungannya mangsa akan berinteraksi dengan predator. Akan tetapi sebaliknya pada model pertumbuhan predator maka respon ini akan bersifat menambah jumlah predator Timuneno et al., 2008.
27 Fungsi Respon Fungsi respon dalam ekologi adalah jumlah makanan yang dimakan oleh predator sebagai fungsi kepadatan makanan Hunsicker et al, Dalam hal ini fungsi respon dibagi atas tiga macam, yaitu fungsi respon Holling tipe I, tipe II dan tipe III. 1 Fungsi Respon Holling Tipe I Fungsi respon Holling tipe I merupakan hubungan antara kepadatan spesies prey dan tingkat konsumsi Altwegg, Tingkat konsumsi predator meningkat linear dengan kepadatan mangsa, tetapi akan konstan ketika predator berhenti memangsa. Fungsi respon tipe I terjadi pada predator yang memiliki karakteristik pasif, atau lebih suka menunggu mangsanya, sebagai contoh predator-nya adalah laba-laba. Adapun tingkat pertumbuhan prey pada fungsi respon Holling tipe I diberikan sebagai berikut Tsai & Pao, 2004., 2.9 di mana : fungsi respon Holling tipe I : tingkat konsumsi maksimum predator terhadap prey : populasi prey 2 Fungsi Respon Holling Tipe II Fungsi respon Holling tipe II menggambarkan rata-rata tingkat konsumsi dari predator, ketika predator menghabiskan suatu waktu untuk mencari mangsa prey. Fungsi respon tipe II terjadi pada predator yang berkarakteristik aktif
28 15 dalam mencari mangsa, sebagai contoh predator-nya adalah serigala. Fungsi ini akan meningkat jika tingkat konsumsi menurun dan akan konstan jika mencapai titik kejenuhan half saturation. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan prey pada fungsi respon Holling tipe II diberikan sebagai berikut Skalski & Gilliam, 2001., 2.10 di mana : fungsi respon Holling tipe II : tingkat konsumsi maksimum predator terhadap prey : waktu pencarian prey : populasi prey 3 Fungsi Respon Holling Tipe III Fungsi respon Holling tipe III juga menggambarkan tingkat pertumbuhan predator. Tetapi pada tipe ini dapat terlihat mengenai penurunan tingkat pemangsaan pada saat kepadatan prey rendah. Hal tersebut tidak dapat terlihat pada fungsi respon Holling tipe II. Fungsi respon tipe III terjadi pada predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain ketika populasi prey yang dimakan mulai berkurang. Karena predator yang cenderung akan mencari populasi prey yang lain, maka tingkat pertemuan antara predator dan prey adalah dua. Hal inilah yang menyebabkan variabel populasi prey menjadi, sehingga laju populasi menjadi lebih cepat. Adapun tingkat pertumbuhan prey pada fungsi respon Holling tipe III diberikan sebagai berikut Ndam & Kassem, 2009.
29 16, 2.11 di mana : fungsi respon Holling tipe III : tingkat konsumsi maksimum predator terhadap prey : tingkat kejenuhan : populasi prey 2.5 Nilai Eigen dan Vektor Eigen Definisi 2.1 Misalkan A matriks dan, 0. Vektor disebut vektor eigen / vektor karakteristik dari A jika, 2.12 untuk suatu. Bilangan yang memenuhi persamaan di atas disebut nilai eigen/nilai karakteristik. Vektor disebut vektor eigen yang bersesuaian dengan. Untuk mencari nilai dan vektor eigen dari suatu matriks A berordo adalah sebagai berikut. Misalkan A matriks dan, 0 merupakan vektor eigen dari matriks A, maka ada. Jelas 0. Tampak bahwa merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linear SPL homogen 0. Karena 0, maka sistem persamaan homogen 0 mempunyai penyelesaian non trivial. Ini hanya mungkin jika
30 17 det 0 dan adalah penyelesaian persamaan dari det 0. Det 0 ini disebut persamaan karakteristik dari matriks A. Lemma: Misalkan A matriks n x n. adalah nilai eigen dari matriks A jika dan hanya jika adalah akar persamaan karakteristik det 0. Sedangkan vektor eigen dari matriks A yang bersesuaian dengan adalah penyelesaian dari SPL homogen 0 Anton, Teorema 2.1 Misalkan det dan dan menganggap sistem linear Jika < 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik pelana saddle point pada titik asal. 2 Jika 0 dan 4 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik simpul node point pada titik asal. Titik tersebut stabil jika < 0 dan tidak stabil jika 0. 3 Jika 0 dan 4 < 0 dan 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik fokus focus point pada titik asal. Titik tersebut stabil jika < 0 dan tidak stabil jika 0. 4 Jika 0 dan 0 maka persamaan 2.13 mempunyai titik pusat center point pada titik asal.
31 18 Karena, maka titik asal sama dengan titik ekuilibrium. Catatan pada kasus 2, 4 0, 0 Perko, Matriks Jacobian Bentuk umum dari sistem persamaan diferensial non linier sebagai berikut.,, 2.14 dengan dan adalah variabel yang bergantung pada t. Persamaan 2.14 memiliki titik kesetimbangan pada,. Bila persamaan 2.14 merupakan sistem persamaan diferensial nonlinier, maka diperlukan linierisasi sistem dengan menggunakan matriks jacobian Bentuk matriks jacobian dari sistem persamaan 2.14 sebagai berikut.,,,,, 2.15 Purnamasari et al., Titik Ekuilibrium Titik ekuilibrium merupakan salah satu kunci konsep dalam sistem tak linear yang menentukan semua hasil dinamik. Sistem yang lebih umum dapat dinyatakan dalam bentuk berikut.,,,,,,
32 19 dengan,, dan,, adalah suatu fungsi umum dari, dan waktu t. Sistem tersebut dapat disederhanakan lagi menjadi sistem fungsi yang tak bergantung dengan waktu sistem autonomous seperti bentuk berikut.,,,, dengan F dan G adalah fungsi yang tak tergantung secara exsplisit dari waktu t. Kemudian sistem tersebut dianalisis dengan memikirkan konsep tentang ekuilibrium. Ekuilibrium akan terjadi apabila tidak ada gerakan dalam sistem tersebut, artinya x 0 dan y 0. Titik ekuilibrium akan memenuhi, 0,, 0, karena 0 dan 0. Hal ini akan menghasilkan titik ekuilibrium yang mungkin dapat ditemukan lebih dari satu titik ekuilibrium dengan mudah. Apabila titik ekuilibrium tersebut telah diperoleh, perilaku dari sistem dapat ditentukan dengan menentukan kestabilan dari titik-titik kritiknya Waluya,2006. Definisi 2.2 Titik disebut titik ekuilibrium dari jika 0 Perko, Titik ekuilibrium pada sistem dikatakan 1 Stabil lokal jika untuk setiap 0 terdapat 0 sedemikian sehingga untuk setiap solusi yang memenuhi < untuk setiap.
33 20 2 Stabil asimtotik lokal jika titik ekuilibrium stabil dan terdapat 0 sedemikian sehingga untuk setiap solusi yang memenuhi < berlaku lim. 3 Tidak stabil jika titik ekuilibrium tidak memenuhi a. Wiggins,2003. Jika untuk sembarang titik awal, solusi sistem persamaan diferensial berada dekat dengan titik ekuilibrium dan untuk t membesar konvergen ke, maka titik ekuilibrium dikatakan stabil asimtotik global. Kestabilan dari setiap titik-titik mungkin dengan menentukan kestabilan dekat titik-titik kritik satu demi satu. Diasumsikan +, +, dimana dan sangat kecil, sehingga keduanya sangat dengan titik kritik. Dengan substitusi akan diperoleh,,,, dengan dan konstan, maka 0. Mengingat kembali tentang formula deret Taylor. Perluasan deret Taylor di sekitar suatu titik adalah ! + 3! +
34 21 Dengan mengambil beberapa suku awal dari deret tersebut, maka sudah cukup baik untuk mengaproksimasi yang cukup kecil. Apabila diperluas maka diperoleh + + +, + + +, dimana semua suku yang lebih kecil dari,, dan. Sistem yang dilinearkan dapat ditulis dalam bentuk matriks. Sistem tersebut terlinearkan karena kembali dari sistem tak linear awal ke dalam sitem linear dekat titik kesetimbangan Waluyo, Potret Phase dari Sistem Linear Dipunyai persamaan-persamaan sebagai berikut. + dan dengan,, dan konstanta-konstanta. Misalkan 0, maka titik 0,0 adalah satu-satunya titik kritik dari sistem Penyelesaian dari sistem 2.16 berbentuk dan, dimana adalah nilai dari matriks, yaitu, merupakan akar persamaan karakteristik
35 22 Potret phase dari sistem 2.17 hampir seluruhnya tergantung pada nilainilai eigennya dan. 1 Jika nilai-nilai eigennya real tak sama dengan < < 0 ini disebut node: semua trayektori menuju ke tak nol yang berarti titik kritik nol adalah stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.1. Gambar 2.1 Trayektori untuk node point 2 Jika nilai-nilai eigennya real tak sama dengan 0 ini disebut nodal source: semua trayektori keluar dari titik kritiknya menjadi tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.2. Gambar 2.2 Trayektori untuk titik nodal source 3 Jika nilai-nilai eigennya real tak sama dengan < 0 < ini disebut sadle point: semua trayektori akan menjauhi ke tak hingga sepanjang vektor
36 23 eigen, ini mengakibatkan titik kritik akan selalu tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.3. Gambar 2.3 Trayektori untuk sadle point 4 Jika nilai-nilai eigennya sama dengan dua vektor eigen yang bebas linear, maka akan diperoleh apa yang dinamakan star point atau propernode: bila < 0 maka titik kritiknya akan stabil dan tak stabil untuk 0. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.4. Gambar 2.4 Trayektori untuk star point 5 Jika nilai-nilai eigennya sama dengan satu vektor eigen, maka akan diperoleh apa yang dinamakan improper node: bila < 0 maka titik kritiknya akan stabil dan arah trayektorinya akan menuju ke titik nol, sedangkan untuk 0 arah trayektorinya akan keluar meninggalkan titik
37 24 nol dan titik kritiknya akan tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.5 dan 2.6. Gambar 2.5 Trayektori untuk improper node dengan < 0 Gambar 2.6 Trayektori untuk improper node dengan 0 6 Jika nilai-nilai eigennya komplek ± ± dengan < 0, maka akan menghasilkan perilaku yang disebut stabel spiral: semua trayektori akan menuju titik nol dan titik kritiknya akan stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.7.
38 25 Gambar 2.7 Trayektori untuk stabel spiral 7 Jika nilai-nilai eigennya komplek ± ± dengan 0, maka akan menghasilkan perilaku yang disebut unstable spiral: semua trayektori akan keluar meninggalkan titik nol dan titik kritiknya akan tak stabil. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.8. Gambar 2.8 Trayektori untuk unstable spiral 8 Jika nilai eigennya imaginer murni, dalam kasus ini nilai eigennya dapat dinyatakan sebagai ± ± dalam hal ini solusi merupakan osilator stabil secara alami. Titik kritik dalam hal ini disebut center point. Trayektorinya berupa elips. Trayektori pada kasus ini dapat dilihat pada gambar 2.9.
39 26 Gambar 2.9 Trayektori untuk center point Teorema 2.3 Diberikan matriks jacobian dari suatu sistem non linear, dengan nilai eigen. 1 Jika semua bagian real eigen dari matriks bernilai negatif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut stabil asimtotik lokal. 2 Jika terdapat paling sedikit satu nilai eigen matriks yang bagian realnya positif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut tidak stabil Olsder, 1994.
40 27 BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut. 3.1 Menentukan Masalah Dalam tahap ini dilakukan pencarian sumber pustaka dan memilih bagian dalam sumber pustaka tersebut yang dapat dijadikan sebagai permasalahan yang akan dikaji. 3.2 Rumusan Masalah Masalah yang ditemukan kemudian dirumuskan ke dalam pertanyaan yang harus diselesaikan yaitu: 1 Bagaimana bentuk model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 2 Bagaimana analisa model matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III? 3 Bagaimana simulasi solusi model matematika pada sistem predator-prey dengan menggunakan program Maple? Rumusan masalah di atas mengacu pada beberapa pustaka yang ada. Selanjutnya dengan menggunakan pendekatan toeritik maka dapat ditemukan jawaban permasalahan sehingga tercapai tujuan penulisan skripsi.
41 Studi Pustaka Dalam langkah ini dilakukan kajian sumber-sumber pustaka dengan cara mengumpulkan data atau informasi yang berkaitan dengan masalah, mengumpulkan konsep pendukung yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah, sehingga didapatkan suatu ide mengenai bahan dasar pengembangan upaya pemecahan masalah. 3.4 Analisis dan Pemecahan Masalah Dari berbagai sumber pustaka yang sudah menjadi bahan kajian, diperoleh suatu pemecahan masalah di atas. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut. 1 Membuat pemodelan matematika pada sistem predator-prey dengan fungsi respon Holling tipe III. 2 Mencari solusi dari pemodelan matematika yang telah didapat. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a Menentukan titik ekuilibrium. Titik disebut titik ekuilibrium dari jika 0 Perko, b Menentukan matriks jacobian. Bentuk umum matriks jacobian adalah sebagai berikut.,,,,,, dengan, dan,. Purnamasari et al, 2008.
42 29 c Menentukan nilai eigen Misalkan A matriks dan, 0. Vektor disebut vektor eigen atau vektor karakteristik dari A jika, untuk suatu. Bilangan yang memenuhi persamaan di atas disebut nilai eigen atau nilai karakteristik. Vektor disebut vektor eigen yang bersesuaian dengan Anton, d Menganalisis titik ekuilibrium berdasarkan sifat nilai eigen. Diberikan matriks jacobian dari suatu sistem non linear, dengan nilai eigen. 1 Jika semua bagian real eigen dari matriks bernilai negatif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut stabil asimtotik lokal. 2 Jika terdapat paling sedikit satu nilai eigen matriks yang bagian realnya positif, maka titik ekuilibrium dari suatu sistem non linear tersebut tidak stabil Olsder, Membuat simulasi dengan menggunakan metode fungsi respon Holling tipe III untuk model matematika predator-prey. Simulasinya menggunakan data acak bukan data sekunder maupun primer. Progam yang digunakan untuk simulasi adalah Maple 12. Data yang diperlukan bersifat tekstual meliputi persamaan diferensial, pemodelan matematika, dan pembahasan keduanya dalam analisis model matematika. Dalam memahami data-data yang berupa teks dalam buku-buku literatur diperlukan suatu analisa.
43 Penarikan Kesimpulan Langkah terakhir dalam metode penelitian adalah penarikan kesimpulan yang diperoleh dari hasil langkah pemecahan masalah.
44 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Unsur-Unsur yang Berpengaruh terhadap Model Kelangsungan hidup spesies predator jelaslah sangat berpengaruh pada spesies prey dalam interaksi dua spesies. Jika jumlah spesies prey sadikit maka jumlah spesies predator akan mengalami penurunan, tetapi jika jumlah spesies prey banyak maka pertumbuhan spesies predator akan cepat karena tersedianya makanan yang cukup. Ada beberapa unsur-unsur yang berpengaruh terhadap model predator prey. Unsur-unsur yang mempengaruhi laju pertumbuhan kepadatan spesies prey adalah tingkat konsumsi maksimum predator, pola pertumbuhan populasi, dan tingkat kejenuhan predator. Sedangkan unsur-unsur yang mempengaruhi laju pertumbuhan kepadatan spesies predator adalah tingkat konsumsi maksimum, tingkat kematian dan tingkat kejenuhan predator. 4.2 Model Matematika Predator-Prey Model interaksi predator-prey dalam jaring makanan dua spesies terdiri dari produsen x primer yang disebut prey mangsa dan predator y pemangsa. Model ini didasarkan pada asumsi dasar sebagai berikut. 1. Jumlah pertumbuhan prey x memiliki pola pertumbuhan logistik. 2. Predator y mengikuti fungsi respon Holling tipe III. 31
45 32 Pada predator dilakukan pemanenan pada tingkat yang sebanding dengan 3. densitas. Predator memiliki tingkat kematian secara alami. 4. Berdasarkan asumsi di atas diperoleh model matematika predator-prey sebagai berikut dengan : kepadatan spesies prey saat waktu : kepadatan spesies predator saat waktu : tingkat konsumsi maksimum prey : tingkat konsumsi maksimum predator : koefisien laju pertumbuhan spesies prey, : tingkat kejenuhan predator : tingkat kematian predator, : laju pemanenan predator, : carrying capacity dari spesies prey, 0.
46 33 Diasumsikan 0 0 dan 0 0, yaitu mengingat setiap populasi memiliki potensi untuk berkembang biak. Didefinisikan,,, dan., Dari persamaan 1 pada sistem persamaan 4.1 diperoleh 1 1 1, 1, dengan 1. Dari persamaan 2 pada sistem persamaan 4.1 diperoleh 4.2,
47 34 1 2, dengan. 4.3 Jadi sistem 4.1 ekuivalen dengan sistem berikut dengan 0 0 dan Titik Ekuilibrium Titik ekuilibrium dapat diperoleh dengan beberapa tahapan dan salah satu tahapannya yaitu dengan membuat nol ruas kiri persamaan 1 dan 2 pada sistem persamaan 4.4. Diperoleh sistem persamaan sebagai berikut Untuk memperoleh titik ekuilibrium diperoleh satu persatu kemudian ada yang disubstitusikan pada persamaan-persamaan berikutnya. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut
48 35 Diperoleh atau Dapat ditulis kembali bahwa 0 atau dengan batasan 0. Langkah selanjutnya mensubstitusikan persamaan 4.6 ke persamaan 1 pada sistem Sehingga diperoleh 0. Jadi diperoleh titik ekuilibrium 4.8, 0,0.
49 36 Langkah selanjutnya untuk mencari titik ekuilibrium yang lainnya yaitu menyederhanakan persamaan 2 pada sistem persamaan Diperoleh atau atau
50 37 Diasumsikan Karena syarat +. 0, maka dipilih Kemudian substitusikan persamaan 4.6 ke persamaan 2 pada sistem persamaan Diperoleh atau Jadi, diperoleh titik ekuilibrium, 1,0. Titik ekuilibrium yang lain dapat diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan 4.7 ke persamaan 2 pada sistem persamaan
51 Karena syarat , dipilih + + atau Langkah selanjutnya substitusikan persamaan 4.13 pada persamaan 4.7. Jelas
52 Jadi, diperoleh titik ekuilibrium, Titik keseimbangan ada jika, Analisis Kestabilan Titik Ekuilibrium Untuk menganalisis kestabilan titik ekuilibrium model, dapat memanfaatkan sistem yang telah dilinearkan. Pelinearan sistem persamaan tersebut menggunakan matriks jacobian yang berordo 2 2, karena sesuai dengan sistem persamaan Sistem persamaan 4.5 beserta penyederhanaannya. 1..
53 40 Jelas Jelas Jelas Jelas
54 41 Pada analisis kestabilan model predator-prey dua spesies dengan fungsi respon Holling tipe III, titik ekuilibrium yang dianalisis adalah sebagai berikut: 1 Titik Ekuilibrium 0,0 Hasil substitusi 0,0 ke persamaan 4.16, 4.17, 4.18, dan 4.19 yaitu 0, ,0 0. 0,0 0. 0, Dari hasil substitusi di atas diperoleh matriks jacobian sebagai berikut: Setelah mendapatkan persamaan 4.20 langkah selanjutnya yaitu mencari persamaan karakteristik dengan tahapan sebagai berikut: det
55 42 Pada persamaan 4.21 diperoleh nilai eigen Oleh karena nilai disimpulkan 1 dan bernilai positif dan +. bernilai negatif, maka dapat 0,0 merupakan saddle point titik pelana. Semua trayektori akan menjauhi ke tak hingga sepanjang vektor eigen, ini mengakibatkan titik kritik akan selalu tidak stabil. 2 Titik Ekuilibrium 1,0 Untuk menganalisis kestabilan titik ekuilibrium tahapan-tahapannya sama seperti menganalisis kestabilan titik ekuilibrium mensubstitusikan titik ekuilibrium 1,0 ke persamaan 4.16, 4.17, 4.18, dan , ,0 1,0 0. 1,0, yaitu dengan Diperoleh matriks jacobian sebagai berikut Setelah mendapatkan matriks jacobian tersebut langkah selanjutnya adalah mencari persamaan karakteristik dengan tahapan sebagai berikut.
56 43 det Pada persamaan 4.23 diperoleh nilai eigen Nilai eigen bernilai negatif jika < 1 dan +. +, sehingga titik ekuilibrium 1,0 merupakan titik simpul node point. Hal ini menyebabkan trayektori di sekitar nilai eigen bersifat stabil. Nilai eigen +, sehingga titik ekuilibrium bernilai positif apabila 1,0 merupakan titik pelana saddle point. Hal ini menyebabkan trayektori di sekitar nilai eigen bersifat tidak stabil. 3 Titik Ekuilibrium, Untuk menganalisis kestabilan titik ekuilibrium tahapan-tahapannya sama seperti menganalisis kestabilan titik ekuilibrium mensubstitusikan titik, persamaan 4.16, 4.17, 4.18, dan 4.19., yaitu dengan ke
57 44, dan +., Dengan.
58 45, 2, + +
59 Diperoleh matriks jacobian sebagai berikut Setelah mendapatkan matriks jacobian tersebut langkah selanjutnya adalah mencari persamaan karakteristik dengan tahapan sebagai berikut. det Diperoleh persamaan karakteristik Dengan , 0
60 47, dan. Akar-akar persamaan karakteristik tersebut adalah sebagai berikut. dan Kasus Jelas 1 2 Ditunjukkan Tulis 4 Jadi 1 4 dengan 4 Ditunjukkan Jelas 0 < 0. Jelas 0. < dan < Jadi, titik ekuilibrium positif.. 0 0< < Jelas untuk 1 bersifat tidak stabil karena bernilai
61 48 Kasus <1 Jelas Kasus 0 Jelas 0 dan 4 <. < 0 dan Jadi, titik ekuilibrium untuk ekuilibrium yang stabil, karena Kasus < 0 Jelas dan ekuilibrium <. 0 0 < < 0. < 1 dengan dan 0 merupakan titik bernilai negatif. ℂ. < 0 dan < 0. mempunyai bagian real negatif, sehingga mengakibatkan titik stabil. 4.5 Simulasi Numerik Untuk lebih memperjelas mengenai pembahasan model dilakukan simulasi untuk contoh penerapan di atas. Pada bagian ini akan dibahas tentang simulasi model predator-prey dua spesies dengan fungsi respon Holling tipe III. Program
62 49 yang digunakan dalam simulasi model predator prey ini adalah program Maple 12. Untuk menentukan solusinya dipilih nilai-nilai parameter yang diberikan sebagai berikut. Tabel 4.1 Daftar titik ekuilibrium, nilai parameter, dan sifat trayektori No Titik Syarat b m q 0, ,5 0,1 Tidak stabil 0, ,5 0,1 Stabil 0,9 0,9 0,4 0,5 0,1 Tidak stabil 0,8 1,5 1,3 0,5 0,1 Tidak stabil + 0,8 1,2 0,7 0,5 0,1 Stabil ,5 0,1 Stabil + + < Sifat a trayektori 1 <1 0 <1 <0
63 50 Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik 0,0 dapat ditunjukkan pada gambar 4.1 Gambar 4.1 Trayektori untuk titik ekuilibrium Trayektori tersebut menggunakan parameter dan 0.8, 2, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut Titik ekuilibrium ,0 dalam kondisi apapun selalu merupakan titik pelana saddle point. Hal ini mengakibatkan titik ekuilibrium tidak stabil karena semua trayektori menjahui titik menunjukkan bahwa titik ekuilibrium + 2, , 0 0. < 0,0 0,0 bersifat 0,0. Gambar 4.1 juga 1,0 dengan syarat + dan merupakan node point. Hal ini disebabkan karena semua trayektori
64 51 menuju titik 1,0 sehingga titik 1,0 bersifat stabil. Jadi pada titik ekuilibrium 1,0 terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik syarat + dan + dapat dilihat pada gambar 4.2. Gambar 4.2 Trayektori untuk titik ekuilibrium, + dan +, serta titik +, < 1, 0 dan 0. Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan 1,0 dengan 0.9, dengan dengan 0.9, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut , , 0 0. Pada kondisi ini, titik ekuilibrium 1,0 merupakan saddle point, karena semua trayektori keluar dari titik 1,0 yang berarti titik ekuilibrium 1,0 tidak
65 52 stabil. Jadi pada kondisi ini, tidak terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Gambar 4.2 juga memenuhi trayektori untuk titik, < 1, 0 dan 0.9, 0.4, 0 yang menunjukkan bahwa titik ekuilibrium merupakan spiral stabil. Titik 0.9, dengan syarat + diperoleh dengan mensubstitusikan parameter 0.1, ke titik,, sehingga diperoleh, , ,0.33. Jadi pada kondisi ini, titik ekuilibrium terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik syarat +, 1 dan dengan 0 dapat dilihat pada gambar 4.3. Gambar 4.3. Trayektori untuk titik ekuilibrium +, 1 dan 0 dengan syarat
66 53 Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan 0.8, 1.5, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut , , 0 0. Pada kondisi ini, titik ekuilibrium , , 0.22 tidak memenuhi syarat 0 0. Hal ini mengakibatkan titik bukan merupakan solusi. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, dan 0 dapat dilihat pada gambar 4.4 Gambar 4.4 Trayektori untuk titik ekuilibrium < 1, dan 0 Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan dengan 0.8, 1.2, +, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut. 0.7,
67 , 0 0. Titik diperoleh dengan mensubstitusikan parameter-parameter tersebut ke titik,, sehingga 0.7, Pada kondisi ini, titik ekuilibrium karena semua trayektori menuju ke titik merupakan titik spiral, yang berarti titik ekuilibrium stabil. Jadi pada kondisi ini, terjadi kestabilan jumlah spesies predator dan prey. Perilaku lengkap dari solusi sistem predator-prey untuk titik ekuilibrium dengan syarat < 0 dapat dilihat pada gambar 4.5 +, < 1, Gambar 4.5 Trayektori untuk titik ekuilibrium < 1, 0 dan < 0 dengan 0 +, dan
68 55 Trayektori tersebut menggunakan parameter 0.1 dan 0.8, 1.5, 0.5, sehingga diperoleh sistem persamaan sebagai berikut , dengan 0 0 dan 0 0. Titik ke titik diperoleh dengan mensubstitusikan parameter-parameter tersebut,, sehingga diperoleh , , Pada kondisi ini, titik ekuilibrium merupakan titik center, karena semua trayektori menuju ke titik yang berarti titik ekuilibrium jumlah spesies predator dan prey. stabil. Jadi pada kondisi ini, terjadi kestabilan
69 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1 Model matematika untuk persaingan predator-prey dua spesies dengan suatu batas + adalah 1 dan. 2 Titik ekulibrium yang diperoleh dari model predator-prey dengan suatu nilai parameter adalah sebagai berikut: a Titik Ekuilibrium 0,0 Pada saat titik ekuilibrium 0,0 akan memberikan saddle point titik pelana yang bersifat tidak stabil. b Titik Ekuilibrium 1,0 Pada saat titik ekuilibrium 1,0 dengan < + memberikan node point titik simpul yang bersifat stabil. Sedangkan pada titik ekuilibrium 1,0 dengan + memberikan saddle point titik pelana yang menyebabkan trayektori tidak stabil. 56
70 57 c Titik Ekuilibrium, Didefinisikan, 4, , dan. Titik ekuilibrium untuk 1 bersifat tidak stabil. Titik ekuilibrium untuk < 1 dengan 0 bersifat stabil. Begitu pula untuk titik ekuilibrium dengan < 1 dan < 0 juga memberikan sifat stabil. 3 Hasil simulasi numerik menunjukan kestabilan yang sama dengan hasil analisa pada titik,, dan. 5.2 Saran Berkaitan dengan hasil-hasil penelitian, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu sebagai berikut: 1 Penelitian ini mengkaji masalah persaingan predator-prey dua spesies. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut untuk masalah lebih dari dua spesies.
71 58 2 Untuk menerangkan lebih jelas tentang model persaingan dua spesies perlu disajikan grafik-grafik solusi dari masalah tersebut dan intrepretasi secara mendalam dari grafik-grafik tersebut.
72 DAFTAR PUSTAKA Altwegg, R Functional Response and Prey Defence Level in an Experimental Predator Prey System. 8: Anton, H Aljabar Linear Elementer. Jakarta: Erlangga. Boyce, W.E. & DiPrima, R.C Elementary Differential Equations and Boundary Value Problems. New York: Department of Mathematical Sciences Rensselaer Polytechnic Institute. Du, N Dynamics of Predator-Prey Population with Modified Leslie-Gower and Holling-Type II Schemes. Acta Mathematica Vietnamica, 321: Haberman, R Mathematical Models, Mechanical Vibration, Population Dinamic, and Traffic Flow, An Introduction to Applied Mathematic. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Hunsicker, M. E., L. Ciannelli., K. M. Bailey., J.A. Buckel., J. W. White., J. S. Link., T. E. Essington., S. Gaichas., T. W. Anderson., R. D. Brodeur., K. S. Chan., K. Chen., G. Englund., K. T. Frank., V. Freitas., M. A. Hixon., T. Hurst., D. W. Jhonson., J. F. Kitchell., D. Reese., G. A. Rose., H. Sjodin., W. J. Sydeman., H. W. V. D Veer., K. Vollset., & S. Zador Functional Responses and Scaling in Predator-Prey Interactions of Marine Fishes: Contemporary Issues and Emerging Concepts. Ecology Letters. Liu, X. & Chen Complex Dynamics of Holling Type II Lotka-Volterra Predator-Prey System with Impulsive Perturbations on the Predator. Chaos, Solutions and Fractals, 16: Ndam, J.N. & T.G. Kassem A Mathematical Model for The Dynamics of Predator-Prey Interactions in A Three-Trophic Level Food Web. Continental J. Applied Sciences, 4: Nurhamiyawan, E. N. L., Prihandono, & Helmi Analisis Dinamika Model Kompetisi Dua Populasi yang Hidup Bersama di Titik Kesetimbangan Tidak Terdefinisi. Bimaster, 23: Olsder, G. J Mathematic System Theory. The Netherlands: Delftse Uitgevers Maatscappij. Perko, L Differential Equation and Dynamical System. New York: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 59
73 60 Purnamasari, D., Faisal., & Noor, A. J Kestabilan Sistem Predator-Prey Leslie. Jurnal Matematika Murni dan Terapan, 32: Riberu, P Pembelajaran Ekologi. Jurnal Pendidikan Penabur, 1: Robinson, J. C An Introductiont: Ordinary Differential Equation. Cambridge: University Press Cambridge. Ruan, S On Nonlinear Dynamics of Predator-Prey Models with Discrete Delay. Math. Model Nat. Phenom, 4: Ruan, S. & D. Xiao Global Analysis in a Predator-Prey System with Nonmonotonic Functional Response. SIAM J Appl Math, 614: Roat, M Bifurkasi Hopf pada Sistem Predator Prey dengan Fungsi Respon Tipe II. Journal Universitas Negeri Yogyakarta, 33:1-2. Skalski, G. T. & J. F. Gilliam Functional Responses with Predator Interference: Viable Alternatives to The Holling Type II Model. Ecology, 8211: Tian, X. & R. Xu Global Dynamics Of A Predator Prey System with Holling Type II Functional Response. Modelling and Control, 16 : Tsai, C. H. & H. C. Pao Global Stability for the Leslie-Gower Predator- Prey System with Time-Delay and Holling s Type Functional Response. Tunghai Science, 6: Timuneno, Henry M., R. H. Utomo., dan Widowati Model Pertumbuhan Logistik dengan Waktu Tunda. Jurnal Matematika, 111: Waluya, St. B Diferensial Equation. Graha Ilmu: Yogyakarta. Wiggins, S Introduction to Applied Nonlinear Dynamical System and Chaos. New York: Springer-Verlag. Xue, Y. & X. Duan The Dynamic Complexity of a Holling Type-IV Predator-Prey System with Stage Structure and Double Delays. Hindawi Publishing Corporation. 28 Februari. Hlm. 2.
74 LAMPIRAN 61
75 Lampiran 1 Hasil simulasi model dengan menggunakan maple Analisis dan Potret Fase Titik dengan ekuilibrium 0,0 dan 1,0 dengan + dan + 62
76 63 2. Analisis dan potret fase titik ekuilibrium, dengan + dan +, serta titik dengan +, < 1, 0 dan 0
77 64
78 65 3. Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan syarat +, 1 dan 0
79 66
80 67 4. Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, dan 0
81 68
82 69 5. Trayektori untuk titik ekuilibrium dengan +, < 1, 0 dan < 0
83 70
84 71
UNNES Journal of Mathematics
UJM 4 (1) (2015) UNNES Journal of Mathematics http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujm ANALISIS MODEL PREDATOR-PREY DUA SPESIES DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE III Putri Wijayanti, M. Kharis Jurusan
BAB I PENDAHULUAN. hidup lainnya. Interaksi yang terjadi antara individu dalam satu spesies atau
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap mahluk hidup dituntut untuk senantiasa berinteraksi dengan mahluk hidup lainnya. Interaksi yang terjadi antara individu dalam satu spesies atau interaksi antara
BIFURKASI HOPF PADA MODIFIKASI MODEL PREDATOR-PREY LESLIE GOWER DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II
BIFURKASI HOPF PADA MODIFIKASI MODEL PREDATOR-PREY LESLIE GOWER DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika
ANALISIS DINAMIKA MODEL KOMPETISI DUA POPULASI YANG HIDUP BERSAMA DI TITIK KESETIMBANGAN TIDAK TERDEFINISI
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 02, No. 3 (2013), hal 197 204. ANALISIS DINAMIKA MODEL KOMPETISI DUA POPULASI YANG HIDUP BERSAMA DI TITIK KESETIMBANGAN TIDAK TERDEFINISI Eka
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kestabilan model predator-prey tipe Holling II dengan faktor pemanenan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dibahas mengenai dasar teori untuk menganalisis simulasi kestabilan model predator-prey tipe Holling II dengan faktor pemanenan. 2.1 Persamaan Diferensial Biasa
Simulasi Kestabilan Model Predator Prey Tipe Holling II dengan Faktor Pemanenan
Prosiding Matematika ISSN: 2460-6464 Simulasi Kestabilan Model Predator Prey Tipe Holling II dengan Faktor Pemanenan 1 Ai Yeni, 2 Gani Gunawan, 3 Icih Sukarsih 1,2,3 Prodi Matematika, Fakultas Matematika
Simulasi Model Mangsa Pemangsa Di Wilayah yang Dilindungi untuk Kasus Pemangsa Tergantung Sebagian pada Mangsa
Simulasi Model Mangsa Pemangsa Di Wilayah yang Dilindungi untuk asus Pemangsa Tergantung Sebagian pada Mangsa Ipah Junaedi 1, a), Diny Zulkarnaen 2, b) 3, c), dan Siti Julaeha 1, 2, 3 Jurusan Matematika,
ANALISIS DINAMIK MODEL PREDATOR-PREY PADA POPULASI ECENG GONDOK DENGAN ADANYA IKAN GRASS CARP DAN PEMANENAN
ANALISIS DINAMIK MODEL PREDATOR-PREY PADA POPULASI ECENG GONDOK DENGAN ADANYA IKAN GRASS CARP DAN PEMANENAN Skripsi disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi
BAB II KAJIAN TEORI. dinamik, sistem linear, sistem nonlinear, titik ekuilibrium, analisis kestabilan
BAB II KAJIAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai nilai eigen dan vektor eigen, sistem dinamik, sistem linear, sistem nonlinear, titik ekuilibrium, analisis kestabilan sistem dinamik, kriteria Routh-Hurwitz,
MODIFIKASI SISTEM PREDATOR-PREY: DINAMIKA MODEL LESLIE-GOWER DENGAN DAYA DUKUNG YANG TUMBUH LOGISTIK
SEMIRATA MIPAnet 2017 24-26 Agustus 2017 UNSRAT, Manado MODIFIKASI SISTEM PREDATOR-PREY: DINAMIKA MODEL LESLIE-GOWER DENGAN DAYA DUKUNG YANG TUMBUH LOGISTIK HASAN S. PANIGORO 1, EMLI RAHMI 2 1 Universitas
MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL PADA INTERAKSI DUA POPULASI
MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL PADA INTERAKSI DUA POPULASI Supandi, Saifan Sidiq Abdullah Fakultas PMIPATI Universitas PGRI Semarang [email protected] Abstrak Persaingan kehidupan di alam dapat dikategorikan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengakibatkan perkembangan pengetahuan tentang sistem dinamik juga pesat. Salah satu pengembangan sistem dinamik dalam kehidupan
KESTABILAN MODEL POPULASI SATU MANGSA-DUA PEMANGSA DENGAN PEMANENAN OPTIMAL PADA PEMANGSA
Seminar Nasional Matematika dan Aplikasinya 21 Oktober 2017 Surabaya Universitas Airlangga KESTABILAN MODEL POPULASI SATU MANGSA-DUA PEMANGSA DENGAN PEMANENAN OPTIMAL PADA PEMANGSA Muhammad Ikbal 1) Syamsuddin
PEMANENAN OPTIMAL PADA MODEL REAKSI DINAMIK SISTEM MANGSA-PEMANGSA DENGAN TAHAPAN STRUKTUR. Yuliani, Marwan Sam
Jurnal Dinamika, September 2015, halaman 25-38 ISSN 2087-7889 Vol. 06. No. 2 PEMANENAN OPTIMAL PADA MODEL REAKSI DINAMIK SISTEM MANGSA-PEMANGSA DENGAN TAHAPAN STRUKTUR Yuliani, Marwan Sam Program StudiMatematika,
ANALISIS MODEL S-I-P INTERAKSI DUA SPESIES PREDATOR-PREY DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II
ANALISIS MODEL S-I-P INTERAKSI DUA SPESIES PREDATOR-PREY DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING TIPE II skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika oleh
Created By Aristastory.Wordpress.com BAB I PENDAHULUAN. Teori sistem dinamik adalah bidang matematika terapan yang digunakan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teori sistem dinamik adalah bidang matematika terapan yang digunakan untuk memeriksa kelakuan sistem dinamik kompleks, biasanya dengan menggunakan persamaan diferensial
ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR Lia Listyana 1, Dr. Hartono 2, dan Kus Prihantoso Krisnawan,M.
1 Abstrak ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR Lia Listyana 1, Dr. Hartono 2, Kus Prihantoso Krisnawan,M.Si 3 1 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas
ANALISIS DINAMIK SKEMA EULER UNTUK MODEL PREDATOR-PREY DENGAN EFEK ALLEE KUADRATIK
ANALISIS DINAMIK SKEMA EULER UNTUK MODEL PREDATOR-PREY DENGAN EFEK ALLEE KUADRATIK (DYNAMICAL ANALYSIS OF EULER SCHEME FOR PREDATOR- PREY WITH QUADRATIC ALLEE EFFECT) Vivi Aida Fitria 1, S.Nurul Afiyah2
ANALISIS DINAMIK SISTEM PREDATOR-PREY MODEL LESLIE-GOWER DENGAN PEMANENAN SECARA KONSTAN TERHADAP PREDATOR
Jurnal Euler, ISSN: 2087-9393 Januari 2014, Vol.2, No.1, Hal.1-12 ANALISIS DINAMIK SISTEM PREDATOR-PREY MODEL LESLIE-GOWER DENGAN PEMANENAN SECARA KONSTAN TERHADAP PREDATOR Hasan S. Panigoro 1 Diterima:
SKEMA NUMERIK PERSAMAAN LESLIE GOWER DENGAN PEMANENAN
Skema Numerik ersamaan Leslie Gower dengan emanenan SKEMA NUMERIK ERSAMAAN LESLIE GOWER DENGAN EMANENAN Trija Fayeldi Jurusan endidikan Matematika Universitas Kanjuruhan Malang Email: trija_fayeldi@yahoocom
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR Oleh: Drs. M. Setijo Winarko, M.Si Drs. I Gusti Ngurah Rai Usadha, M.Si Subchan, Ph.D Drs. Kamiran, M.Si Noveria
BIFURKASI HOPF PADA SISTEM PREDATOR PREY DENGAN FUNGSI RESPON TIPE II
BIFURKASI HOPF PADA SISTEM PREDATOR PREY DENGAN FUNGSI RESPON TIPE II SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
LANDASAN TEORI. Model ini memiliki nilai kesetimbangan positif pada saat koordinat berada di titik
LANDASAN TEORI Model Mangsa Pemangsa Lotka Volterra Bagian ini membahas model mangsa pemangsa klasik Lotka Volterra. Model Lotka Volterra menggambarkan laju perubahan populasi dua spesies yang saling berinteraksi.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Asumsi yang digunakan dalam sistem mangsa-pemangsa. Dimisalkan suatu habitat dimana spesies mangsa dan pemangsa hidup
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Asumsi yang digunakan dalam sistem mangsa-pemangsa Dimisalkan suatu habitat dimana spesies mangsa dan pemangsa hidup berdampingan. Diasumsikan habitat ini dibagi menjadi dua
PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN MODEL PADA PENYEBARAN HIV-AIDS
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 04, No. 2 (2015), hal 101 110 PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN MODEL PADA PENYEBARAN HIV-AIDS Dwi Haryanto, Nilamsari Kusumastuti,
MODEL MATEMATIKA MANGSA-PEMANGSA DENGAN SEBAGIAN MANGSA SAKIT
Vol 10 No 2, 2013 Jurnal Sains, Teknologi dan Industri MODEL MATEMATIKA MANGSA-PEMANGSA DENGAN SEBAGIAN MANGSA SAKIT Mohammad Soleh 1, Siti Kholipah 2 1,2 Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan setiap makhluk hidup tidak dapat terlepas dengan yang namanya interaksi. Interaksi merupakan suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih
T 23 Center Manifold Dari Sistem Persamaan Diferensial Biasa Nonlinear Yang Titik Ekuilibriumnya Mengalami Bifurkasi Contoh Kasus Untuk Bifurkasi Hopf
T 23 Center Manifold Dari Sistem Persamaan Diferensial Biasa Nonlinear Yang Titik Ekuilibriumnya Mengalami Bifurkasi Contoh Kasus Untuk Bifurkasi Hopf Rubono Setiawan Prodi Pendidikan Matematika, F.KIP
Interaksi Antara Predator-Prey dengan Faktor Pemanen Prey
NATURALA Journal of Scientific Modeling & Computation Volume No. 03 58 ISSN 303035 Interaksi Antara PredatorPrey dengan Faktor Pemanen Prey Suzyanna Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Abstrak
Penerapan Teknik Serangga Steril Dengan Model Logistik. Dalam Pemberantasan Nyamuk Aedes Aegypti. Nida Sri Utami
Penerapan Teknik Serangga Steril Dengan Model Logistik Dalam Pemberantasan Nyamuk Aedes Aegypti Nida Sri Utami Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS Lina Aryati Jurusan Matematika FMIPA UGM ABSTRAK
KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA
KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA Rustam Jurusan Matematika Universitas Sembilanbelas November Kolaka Email: [email protected]/[email protected]
ANALISIS KESTABILAN MODEL INTERAKSI PEMANGSA DAN MANGSA PADA DUA HABITAT YANG BERBEDA ADE NELVIA
ANALISIS KESTABILAN MODEL INTERAKSI PEMANGSA DAN MANGSA PADA DUA HABITAT YANG BERBEDA ADE NELVIA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012
BAB II LANDASAN TEORI. eigen dan vektor eigen, persamaan diferensial, sistem persamaan diferensial, titik
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini, akan dijelaskan landasan teori yang akan digunakan dalam bab selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung dan memperkuat tujuan penelitian. Landasan teori yang dimaksud
KESTABILAN MODEL MANGSA PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON TIPE HOLLING II DAN WAKTU TUNDA
KESTABILAN MODEL MANGSA PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON TIPE HOLLING II DAN WAKTU TUNDA STABILITY OF PREDATOR PREY MODEL WITH HOLLING TYPE II FUNCTIONAL RESPONSE AND TIME DELAY Budyanita Asrun, Syamsuddin
BAB I PENDAHULUAN. Ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara organisme dengan organisme lain serta dengan lingkungannya. Pada dasarnya organisme tidak dapat
MODEL LOGISTIK DENGAN DIFUSI PADA PERTUMBUHAN SEL TUMOR EHRLICH ASCITIES. Hendi Nirwansah 1 dan Widowati 2
MODEL LOGISTIK DEGA DIFUSI PADA PERTUMBUHA SEL TUMOR EHRLICH ASCITIES Hendi irwansah 1 dan Widowati 1, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang 5075
Local Stability of Predator Prey Models With Harvesting On The Prey. Abstract
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika 99 Local Stability of Predator Prey Models With Harvesting On The Prey Oleh : Saiful Marom Pendidikan Matematika FKIP Universitas Pekalongan Abstract In this paper considered
ANALISIS STABILITAS PENYEBARAN VIRUS EBOLA PADA MANUSIA
ANALISIS STABILITAS PENYEBARAN VIRUS EBOLA PADA MANUSIA Mutholafatul Alim 1), Ari Kusumastuti 2) 1) Mahasiswa Jurusan Matematika, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 1) [email protected]
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA HUTCHINSON DENGAN WAKTU TUNDA DAN PEMANENAN KONSTAN LILIS SAODAH
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA HUTCHINSON DENGAN WAKTU TUNDA DAN PEMANENAN KONSTAN LILIS SAODAH DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR
TUGAS AKHIR ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN MANGSA YANG TERINFEKSI DI LINGKUNGAN TERCEMAR ( S TA B I L I T Y A N A LY S I S O F A P R E D AT O R - P R E Y M O D E L W I T H I N F E C T
SEMINAR HASIL TUGAS AKHIR Jurusan Matematika FMIPA ITS
SEMINAR HASIL TUGAS AKHIR Jurusan Matematika FMIPA ITS Pengendalian Populasi Hama pada Model Mangsa-Pemangsa dengan Musuh Alaminya Nabila Asyiqotur Rohmah 1209 100 703 Dosen Pembimbing: Dr Erna Apriliani,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens), biasa disebut hama WBC. Hama ini merupakan hama umum tanaman padi di Indonesia, yaitu sudah lebih dari 80 tahun menjadi
BIFURKASI HOPF PADA MODEL SILKUS BISNIS KALDOR-KALECKI TANPA WAKTU TUNDA
BIFURKASI HOPF PADA MODEL SILKUS BISNIS KALDOR-KALECKI TANPA WAKTU TUNDA NURRACHMAWATI 1) DAN A. KUSNANTO 2) 1) Mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut
ANALISIS TITIK EKUILIBRIUM DAN SOLUSI MODEL INTERAKSI PEMANGSA-MANGSA MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN
ANALISIS TITIK EKUILIBRIUM DAN SOLUSI MODEL INTERAKSI PEMANGSA-MANGSA MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN TESIS diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan Disusun
BIFURKASI HOPF MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA NI NYOMAN SURYANI
BIFURKASI HOPF MODEL MANGSA-PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA NI NYOMAN SURYANI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
Karena v merupakan vektor bukan nol, maka A Iλ = 0. Dengan kata lain, Persamaan (2.2) dapat dipenuhi jika dan hanya jika,
BAB II KAJIAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai definisi-definisi dan teorema-teorema dari nilai eigen, vektor eigen, dan diagonalisasi, sistem persamaan differensial, model predator prey lotka-voltera,
BAB II LANDASAN TEORI. pada bab pembahasan. Materi-materi yang akan dibahas yaitu pemodelan
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai landasan teori yang akan digunakan pada bab pembahasan. Materi-materi yang akan dibahas yaitu pemodelan matematika, teorema Taylor, nilai eigen,
ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR SKRIPSI
ANALISIS BIFURKASI PADA MODEL MATEMATIS PREDATOR PREY DENGAN DUA PREDATOR SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
KESTABILAN SISTEM PREDATOR-PREY LESLIE
Jurnal Matematika Murni dan Terapan Vol. 3 No. Desember 009: 51-59 KESTABILAN SISTEM PREDATOR-PREY LESLIE Dewi Purnamasari, Faisal, Aisjah Juliani Noor Program Studi Matematika Universitas Lambung Mangkurat
Pengendalian Populasi Hama pada Model Mangsa-Pemangsa dengan Musuh Alaminya
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol 2, No 1, (2013) 2337-3520 (2301-928X Print) 1 Pengendalian Populasi Hama pada Model Mangsa-Pemangsa dengan Musuh Alaminya Nabila Asyiqotur Rohmah, Erna Apriliani Jurusan
ANALISIS KESTABILAN DAN LIMIT CYCLE PADA MODEL PREDATOR - PREY TIPE GAUSE SKRIPSI
ANALISIS KESTABILAN DAN LIMIT CYCLE PADA MODEL PREDATOR - PREY TIPE GAUSE SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Bidang Matematika Pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
ANALISIS STABILITAS SISTEM DINAMIK UNTUK MODEL MATEMATIKA EPIDEMIOLOGI TIPE-SIR (SUSCEPTIBLES, INFECTION, RECOVER)
Jurnal Euclid, Vol.4, No.1, pp.646 ANALISIS STABILITAS SISTEM DINAMIK UNTUK MODEL MATEMATIKA EPIDEMIOLOGI TIPE-SIR (SUSCEPTIBLES, INFECTION, RECOVER) Herri Sulaiman Program Studi Pendidikan Matematika
BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai definisi-definisi dan teorema-teorema
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai definisi-definisi dan teorema-teorema yang akan menjadi landasan untuk pembahasan pada bab III nanti, di antaranya model matematika penyebaran penyakit,
BAB II LANDASAN TEORI. selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung tujuan penulisan. Materi-materi
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas tentang landasan teori yang digunakan pada bab selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung tujuan penulisan. Materi-materi yang diuraikan berupa definisi-definisi
ANALISIS MODEL MANGSA PEMANGSA PADA PENANGKAPAN IKAN YANG DIPENGARUHI OLEH KONSERVASI
ANALISIS MODEL MANGSA PEMANGSA PADA PENANGKAPAN IKAN YANG DIPENGARUHI OLEH KONSERVASI Eka Yuniarti 1, Abadi 1 Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Surabaya Jurusan Matematika, Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. Besar Penelitian Tanaman Padi, tikus sawah merupakan hama utama penyebab
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan salah satu spesies hewan pengerat yang mengganggu aktivitas manusia terutama petani. Menurut Balai Besar Penelitian
Penentuan Bifurkasi Hopf Pada Predator Prey
J. Math. and Its Appl. ISSN: 9-65X Vol., No., Nov 5, 5 Penentuan Bifurkasi Hopf Pada Predator Prey Dian Savitri Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya d [email protected] Abstrak
Kestabilan Titik Ekuilibrium Model SIS dengan Pertumbuhan Logistik dan Migrasi
Kestabilan Titik Ekuilibrium Model SIS dengan Pertumbuhan Logistik Migrasi Mohammad soleh 1, Parubahan Siregar 2 1,2 Jurusan Matematika Fakultas Sains Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
BIFURKASI HOPF DALAM MODEL EPIDEMI DENGAN WAKTU TUNDAAN DISKRET
Vol. 5, No., Juni 009: 54-60 BIFUKASI HOPF DALAM MODEL EPIDEMI DENGAN WAKTU TUNDAAN DISKET ubono Setiawan Mahasiswa S Jurusan Matematika Universitas Gadah Mada Email : [email protected] Abstrak Di
Analisis Kestabilan Model Penurunan Sumber Daya Hutan Akibat Industri
J. Math. and Its Appl. E-ISSN: 2579-8936 P-ISSN: 1829-605X Vol. 15, No. 1, Maret 2018, 31-40 Analisis Kestabilan Model Penurunan Sumber Daya Hutan Akibat Industri Indira Anggriani 1, Sri Nurhayati 2, Subchan
BIFURKASI PITCHFORK PADA SISTEM DINAMIK DIMENSI-n SKRIPSI
BIFURKASI PITCHFORK PADA SISTEM DINAMIK DIMENSI-n SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh
PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN LOKAL PADA PERUBAHAN POPULASI PENDERITA DIABETES MELITUS
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 04, No. 3 (2015), hal 135-142 PEMODELAN MATEMATIKA DAN ANALISIS KESTABILAN LOKAL PADA PERUBAHAN POPULASI PENDERITA DIABETES MELITUS Marisa Effendi,
Bab 16. Model Pemangsa-Mangsa
Bab 16. Model Pemangsa-Mangsa Pada Bab ini akan dipelajari model matematis dari masalah dua spesies hidup dalam habitat yang sama, yang dalam hal ini keduanya berinteraksi dalam hubungan pemangsa dan mangsa.
Model Mangsa-Pemangsa dengan Dua Pemangsa dan Satu Mangsa di Lingkungan Beracun
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 05 Model Mangsa-Pemangsa dengan Dua Pemangsa dan Satu Mangsa di Lingkungan Beracun Irham Taufiq, Imam Solekhudin, Sumardi 3 Fakultas Keguruan dan
KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA
KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA STABILITY OF BIOECONOMICS MODELS PREY PREDATOR SYSTEM FISHERIES RESOURCES WITH HARVESTING
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA HOLLING-TANNER TIPE II INTAN SELVYA
ANALISIS KESTABILAN MODEL MANGSA-PEMANGSA HOLLING-TANNER TIPE II INTAN SELVYA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 PERNYATAAN MENGENAI
Syarat Cukup Osilasi Persamaan Diferensial Linier Homogen Orde Dua Dengan Redaman
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2016 T - 10 Syarat Cukup Osilasi Persamaan Diferensial Linier Homogen Orde Dua Dengan Redaman Maulana Malik, Sri Mardiyati Departemen Matematika
IDENTIFIKASI PARAMETER PENENTU KESTABILAN MODEL PERTUMBUHAN LOGISTIK DENGAN WAKTU TUNDA
IDENTIFIKASI PARAMETER PENENTU KESTABILAN MODEL PERTUMBUHAN LOGISTIK DENGAN WAKTU TUNDA Rina Ratianingsih 1 1 Jurusan Matematika FMIPA UNTAD Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu Abstrak Model pertumbuhan logistik
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Persamaan diferensial Persamaan diferensial adalah suatu persamaan yang di dalamnya terdapat turunan-turunan. Jika terdapat variabel bebas tunggal, turunannya merupakan
ANALISIS KESTABILAN LOKAL MODEL DINAMIKA PENULARAN TUBERKULOSIS SATU STRAIN DENGAN TERAPI DAN EFEKTIVITAS CHEMOPROPHYLAXIS
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 02, No. 3 (2013), hal 173 182. ANALISIS KESTABILAN LOKAL MODEL DINAMIKA PENULARAN TUBERKULOSIS SATU STRAIN DENGAN TERAPI DAN EFEKTIVITAS CHEMOPROPHYLAXIS
KESTABILAN MODEL SATU MANGSA DUA PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON TIPE HOLLING III DAN PEMANENAN
KESTABILAN MODEL SATU MANGSA DUA PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON TIPE HOLLING III DAN PEMANENAN STABILITY OF ONE PREY TWO PREDATOR MODEL WITH HOLLING TYPE III FUNCTIONAL RESPONSE AND HARVESTING Didiharyono,
MODEL DINAMIK INTERAKSI DUA POPULASI (Dynamic Model Interaction of Two Population)
Jurnal Barekeng Vol. 5 No. 1 Hal. 9 13 (211) MODEL DINAMIK INTERAKSI DUA POPULASI (Dynamic Model Interaction of Two Population) FRANCIS Y. RUMLAWANG 1, TRIFENA SAMPELILING 2 1 Staf Jurusan Matematika,
ANALISIS KESTABILAN MODEL DINAMIKA PENYEBARAN PENYAKIT FLU BURUNG
Buletin Ilmiah Math. Stat. Dan Terapannya (Bimaster) Volume 03, No. 3 (2014), hal 235-244 ANALISIS KESTABILAN MODEL DINAMIKA PENYEBARAN PENYAKIT FLU BURUNG Hidayu Sulisti, Evi Noviani, Nilamsari Kusumastuti
Agus Suryanto dan Isnani Darti
Pengaruh Waktu Tunda pada Model Pertumbuhan Logistik Agus Suryanto dan Isnani Darti Jurusan Matematika - FMIPA Universitas Brawijaya [email protected] www.asuryanto.lecture.ub.ac.id Prodi Pendidikan Matematika
KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSPECTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI
KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSPECTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI Mohammad soleh 1, Leni Darlina 2 1,2 Jurusan Matematika Fakultas Sains Teknologi Universitas Islam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada Bab I Pendahuluan ini dijelaskan mengenai latar belakang yang mendasari penelitian yang kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah
Sistem Hasil Kali Persamaan Diferensial Otonomus pada Bidang
Sistem Hasil Kali Persamaan Diferensial Otonomus pada Bidang SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
PERAN PENTING LAJU PERUBAHAN KALOR PADA MODEL DINAMIK UNSUR UNSUR UTAMA IKLIM
PERAN PENTING LAJU PERUBAHAN KALOR PADA MODEL DINAMIK UNSUR UNSUR UTAMA IKLIM A.I. Jaya 1 1 Jurusan Matematika FMIPA UNTAD Kampus BumiTadulakoTondo Palu Abstrak Model dinamik interkasi unsur unsure utama
IDENTIFIKASI TITIK TITIK BIFURKASI DARI MODEL TRANSMISI PENYAKIT MENULAR
IDENTIFIKASI TITIK TITIK BIFURKASI DARI MODEL TRANSMISI PENYAKIT MENULAR R. Ratianingsih Jurusan Matematika FMIPA UNTAD Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
MODEL NON LINEAR PENYAKIT DIABETES. Aminah Ekawati 1 dan Lina Aryati 2 ABSTRAK ABSTRACT
MODEL NON LINEAR PENYAKIT DIABETES Aminah Ekawati 1 dan Lina Aryati 2 1 Kopertis Wilayah XI 2 Program Studi Matematika FMIPA UGM ABSTRAK Model matematika penyakit diabetes yang dibentuk berupa persamaan
KESTABILAN POPULASI MODEL LOTKA-VOLTERRA TIGA SPESIES DENGAN TITIK KESETIMBANGAN ABSTRACT
KESTABILAN POPULASI MODEL LOTKA-VOLTERRA TIGA SPESIES DENGAN TITIK KESETIMBANGAN Ritania Monica, Leli Deswita, Rolan Pane Mahasiswa Program Studi S Matematika Laboratorium Matematika Terapan, Jurusan Matematika
MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI
MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI Mohammmad Soleh 1, Siti Rahma 2 Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl HR Soebrantas No 155 KM 15 Simpang Baru Panam Pekanbaru muhammadsoleh@uin-suskaacid
ANALISIS KESTABILAN HELICOVERPA ARMIGERA
ANALISIS KESTABILAN HELICOVERPA ARMIGERA (HAMA PENGGEREK BUAH) DAN PAEDERUS FUSCIPES SP (TOMCAT) DENGAN MODEL MANGSA-PEMANGSA DAN RESPON FUNGSIONAL MICHAELIS MENTEN DENGAN METODE BEDA HINGGA MAJU SKRIPSI
BIFURKASI HOPF PADA MODEL MANGSA PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA DAN TINGKAT PEMANENAN KONSTAN LOLA OKTASARI
BIFURKASI HOPF PADA MODEL MANGSA PEMANGSA DENGAN WAKTU TUNDA DAN TINGKAT PEMANENAN KONSTAN LOLA OKTASARI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PEMODELAN MATEMATIKA PENYEBARAN PENYAKIT VIRUS EBOLA DAN ANALISIS PENGARUH PARAMETER LAJU TRANSMISI TERHADAP PERILAKU DINAMISNYA TUGAS AKHIR SKRIPSI
PEMODELAN MATEMATIKA PENYEBARAN PENYAKIT VIRUS EBOLA DAN ANALISIS PENGARUH PARAMETER LAJU TRANSMISI TERHADAP PERILAKU DINAMISNYA TUGAS AKHIR SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI TUGAS AKHIR
KESTABILAN TITIK EQUILIBRIUM MODEL SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTED, RECOVERED) PENYAKIT FATAL DENGAN MIGRASI TUGAS AKHIR Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains pada Jurusan Matematika
PEMODELAN DINAMIKA KONSENTRASI TIMBAL DARI LIMBAH ELEKTRONIK PADA LINGKUNGAN HIDUP
Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 6, No. 0 (07), hal 0. PEMODELAN DINAMIKA KONSENTRASI TIMBAL DARI LIMBAH ELEKTRONIK PADA LINGKUNGAN HIDUP Uray Rina, Mariatul Kiftiah, Naomi Nessyana
DINAMIKA PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI SULAWESI UTARA MENGGUNAKAN MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL NONLINEAR SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTIOUS AND RECOVERED)
DINAMIKA PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI SULAWESI UTARA MENGGUNAKAN MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL NONLINEAR SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTIOUS AND RECOVERED) Amir Tjolleng 1), Hanny A. H. Komalig 1), Jantje D. Prang
MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI TUGAS AKHIR. Oleh : SITI RAHMA
MODEL SEIR PENYAKIT CAMPAK DENGAN VAKSINASI DAN MIGRASI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada Jurusan Matematika Oleh : SITI RAHMA 18544452 FAKULTAS SAINS
ANALISIS KESTABILAN PADA MODEL DUA MANGSA- SATU PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING DAN PEMANENAN
Seminar Nasional Matematika dan Aplikasinya 21 Oktober 2017 Surabaya Universitas Airlangga ANALISIS KESTABILAN PADA MODEL DUA MANGSA- SATU PEMANGSA DENGAN FUNGSI RESPON HOLLING DAN PEMANENAN Armin 1) Syamsuddin
ANALISIS MODEL MANGSA-PEMANGSA HOLLING-TANNER TIPE II DENGAN MANGSA YANG TERLINDUNG DAN ADANYA PEMANENAN POPULASI EKA PUJIYANTI
ANALISIS MODEL MANGSA-PEMANGSA HOLLING-TANNER TIPE II DENGAN MANGSA YANG TERLINDUNG DAN ADANYA PEMANENAN POPULASI EKA PUJIYANTI DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT
PERILAKU SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL LOGISTIK DENGAN PEMBERIAN DELAY
39 Jurnal Scientific Pinisi, Volume 3, Nomor 1, April 2017, hlm. 39-47 PERILAKU SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL LOGISTIK DENGAN PEMBERIAN DELAY Syafari dan Tanyel Sinaga Jurusan Matematika FMIPA-Unimed Email:
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Persamaan diferensial Persamaan diferensial merupakan persamaan yang melibatkan turunanturunan dari fungsi yang tidak diketahui (Waluya, 2006). Contoh 2.1 : Diberikan persamaan
PENGARUH SCAVENGER (Pemakan Bangkai) TERHADAP KESTABILAN POPULASI MANGSA PEMANGSA PADA MODEL LOTKA VOLTERRA ELI WAHYUNI
PENGARUH SCAVENGER (Pemakan Bangkai) TERHADAP KESTABILAN POPULASI MANGSA PEMANGSA PADA MODEL LOTKA VOLTERRA ELI WAHYUNI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS
KAJIAN PEMODELAN MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI UNGGAS. Dian Permana Putri, 2 Herri Sulaiman 1,2
KAJIAN PEMODELAN MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI UNGGAS 1 Dian Permana Putri, Herri Sulaiman 1, FKIP, Pendidikan Matematika, Universitas Swadaya Gunung Jati
Jurnal Euclid, vol.3, No.2, p.501 MODEL MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI MANUSIA
Jurnal Euclid, vol.3, No.2, p.501 MODEL MATEMATIKA TERHADAP PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE-H5N1 PADA POPULASI MANUSIA Dian Permana Putri 1, Herri Sulaiman 2 FKIP, Pendidikan Matematika, Universitas
TUGAS AKHIR KAJIAN SKEMA BEDA HINGGA TAK-STANDAR DARI TIPE PREDICTOR-CORRECTOR UNTUK MODEL EPIDEMIK SIR
TUGAS AKHIR KAJIAN SKEMA BEDA HINGGA TAK-STANDAR DARI TIPE PREDICTOR-CORRECTOR UNTUK MODEL EPIDEMIK SIR STUDY OF A NONSTANDARD SCHEME OF PREDICTORCORRECTOR TYPE FOR EPIDEMIC MODELS SIR Oleh:Anisa Febriana
LAPORAN TUGAS AKHIR. Topik Tugas Akhir Kajian Matematika Murni
LAPORAN TUGAS AKHIR Topik Tugas Akhir Kajian Matematika Murni ANALISIS DINAMIK PADA MODEL EPIDEMI SIR UNTUK MENGETAHUI LAJU PENYEBARAN PENYAKIT INFLUENSA TIPE A TUGAS AKHIR Diajukan Kepada Fakultas Keguruan
BAB II KAJIAN TEORI. representasi pemodelan matematika disebut sebagai model matematika. Interpretasi Solusi. Bandingkan Data
A. Model Matematika BAB II KAJIAN TEORI Pemodelan matematika adalah proses representasi dan penjelasan dari permasalahan dunia real yang dinyatakan dalam pernyataan matematika (Widowati dan Sutimin, 2007:
